1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pada 1 September 2019, terdapat peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Peristiwa tersebut diawali oleh demonstrasi sebuah organisasi masyarakat yang menduga telah terjadi perusakan bendera Merah Putih oleh mahasiswa asal Papua (katadata.co.id, 2019, para. 1).
Kalimat bernada rasial yang diteriakkan sejumlah demonstran kemudian memicu unjuk rasa di kota-kota besar di Papua dan Papua Barat. Mereka mengangkat perdebatan yang selama ini terpendam: masalah rasisme terselubung di antara masyarakat Indonesia. Kita perlu mengakui bahwa selama ini sebagian masyarakat di Jawa masih memperlakukan penduduk asli Papua secara berbeda. Kurangnya pemahaman menyeluruh terhadap budaya masyarakat Papua kerap menghasilkan stereotip negatif yang merugikan posisi masyarakat asli Papua (katadata.co.id, 2019, para. 2).
Setelah masa Reformasi, pemerintah Indonesia sebenarnya telah berusaha untuk mendiverifikasi pendekatannya terhadap Papua sehingga kehadiran pemerintah di sana tidak didominasi oleh pendekatan militeristik. Pemerintah menyadari bahwa terulangnya isu pelanggaran HAM di masa lalu akan menjadi kelemahan yang menyudutkan posisi pemerintah di wilayah Papua (katadata.co.id, 2019, para. 7).
Oleh karena itu, pemerintah mulai membatasi ruang gerak TNI di titik-titik rawan, serta melibatkan kepolisian untuk menjaga kemanan dan keterlibatan
2
di wilayah perkotaan. Untuk menumbuhkan simpati masyarakat Papua, pemerintah juga melakukan berbagai upaya yang menggunakan pendekatan kesejahteraan dan sosial - budaya terhadap masyarakat asli Papua. (katadata.co.id, 2019, para. 8).
Sayangnya, sampai sekarang upaya yang dilakukan pemerintah belum diiringi dengan pemahaman masyarakat di Jawa mengenai pentingnya inklusi masyarakat Papua dalam bingkai Indonesia. Hal tersebut terlihat dari bagaimana upaya merebut ‘hati dan pikiran’ masyarakat asli Papua masih didominasi dengan pendekatan institusional yang bersifat atas ke bawah (top down approach) melalui program-program langsung pemerintah pusat di daerah Papua (katadata.co.id, 2019, para. 11).
Akibatnya, kebutuhan untuk menggalang simpati masyarakat asli Papua hanya berada di level pemerintah namun tidak dipahami secara mendalam di level masyarakat di Pulau Jawa. Tindak diskriminasi rasial terhadap masyarakat asli Papua di Surabaya merupakan salah satu contoh nyata yang memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat belum memahami konsekuensi dari aksi mereka (katadata.co.id, 2019, para. 12).
Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan Negara Papua Nugini atau East New Guinea.
Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan yang ingin memisahkan diri dengan Indonesia dan membentuk negara sendiri (Wikipedia, 2019, para. 1)
3
Sejak 1970-an di Papua terdapat gerakan pro kemerdekaan yang meminta referendum ulang. Hasil referendum Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 yang diikuti oleh 1.022 delegasi Papua pilihan pemerintahan di Jakarta mengesahkan masuknya Papua sebagai bagian Indonesia tetapi banyak warga pro-kemerdekaan Papua merasa Pepera dilaksanakan di bawah tekanan militer (theconversation.com, 2017. para. 4)
Menentukan strategi yang paling tepat untuk mengatasi masalah keamanan di tanah Papua dengan mengakhiri aksi-aksi kekerasan oleh siapa saja dan dengan motif apapun tidak mudah. Di dalam buku Papua Road Map yang diterbitkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2009 telah dituliskan akar masalah Papua yang meliputi:
1. Peminggiran, diskriminasi, termasuk minimnya pengakuan atas kontribusi dan jasa Papua bagi Indonesia.
2. Tidak optimalnya pembangunan infrastruktur sosial di Papua, khususnya pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat dan rendahnya keterlibatan pelaku ekonomi asli Papua.
3. Proses integrasi politik, ekonomi, dan sosial budaya yang belum tuntas.
4. Siklus kekerasan politik yang belum tertangani, bahkan meluas. 5. Pelanggaran HAM yang belum dapat diselesaikan, khususnya
kasus Wasior, Wamena, dan Paniai.
Kejadian di Tembagapura bisa jadi menunjuk pada hubungan antara bisnis dan keamanan di Papua yang melibatkan berbagai aktor yang cenderung saling memanfaatkan. Perusahaan seperti Freeport kerap mengeluarkan dana khusus
4
untuk memastikan operasi usaha mereka aman, terkadang dengan meminta bantuan TNI dan Polri (theconversation.com, 2017. para, 6).
Kasus “penyanderaan” Tembagapura (Banti dan Kimbeli) masih simpang siur, tetapi dia bisa jadi bukan sekedar berlatar belakang ekonomi seperti perebutan wilayah penambangan, namun juga bertujuan politis, seperti yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka. Polisi menyatakan bahwa “penyanderaan” berkaitan dengan perebutan lahan tailing antar warga pendatang dengan orang asli Papua (theconversation.com, 2017. para, 7).
Dinamika di Papua sangat lekat dengan isu dan kepentingan politik. Konflik kepentingan selama ini telah menciptakan kecurigaan, bahkan rasa tidak percaya (distrust) yang semakin dalam antara pemerintah dengan orang Papua. Distrust semakin menguatkan justifikasi sepihak yang diskriminatif dan hitam putih. Misalnya klaim aktivis pro-kemerdekaan bahwa Papua adalah “koloni Indonesia”, dan sebaliknya stigmatisasi Papua sebagai separatis oleh para nasionalis. Upaya pemerintah untuk memperbaiki situasi dan kondisi di Papua kerap dicap sebagai peminggiran oleh aktivis HAM dan sebagian warga Papua. Pemerintah beserta investor juga dikritik telah merampas tanah adat masyarakat Papua (theconversation.com, 2017. para, 12).
Sebaliknya, ketidakpuasan masyarakat Papua atas kebijakan nasonal yang belum menyejahterakan orang Papua secara optimal kerap dijadikan indikasi resistensi terhadap pemerintah, termasuk bagian dari keinginan untuk memisahkan diri secara politik oleh banyak orang Indonesia yang menggunakan jargon nasionalisme (theconversation.com, 2017, para. 13).
5
Saat ini, internet sudah merupakan suatu hal yang selalu berdampingan dengan masyarakat. Di Indonesia, pengguna aktif internet mencapai 143 juta dari 265 juta jiwa penduduk atau setara dengan 54% dari total penduduk (Kominfo, 2018). Penggunaan internet yang melonjak pesat salah satunya dikarenakan masuknya Indonesia ke dalam revolusi industri 4.0 yang dimana revolusi industri ini terkenal dengan “Internet of Things” yang artinya kita akan terintegrasi melalui internet setiap saat (Rauf, 2018). Menurut data yang diambil dari We Are Social, di Indonesia internet tidak hanya diakses melalui perangkat laptop saja. Terdapat beberapa platform yang digunakan oleh pengguna untuk mengakses internet yaitu Mobile phone, Smartphone, Tablet device, Device for Streaming Internet Content from TV, E-reader device, & Wearable Tech Device. Dengan penggunaan perangkat paling banyak di Mobile phone.
Gambar 1.1 Infografik Penggunaan Gawai di Indonesia
Sumber: We Are Social
Jika dulu hanya digunakan sebagai mesin pencari, saat ini kegunaannya lebih dari itu, internet juga digunakan sebagai alat untuk bersosialisasi dengan
6
manusia lain. Terdapat banyak sekali media-media yang diciptakan untuk mempermudah sosialisasi antara manusia dan manusia lain. Dikarenakan tingginya pengguna media sosial, banyak media sosial yang saling berlomba untuk mendapatkan konsumen yang paling banyak dengan menambahkan fitur-fitur yang menarik dengan tujuan untuk menarik konsumen. Dari data yang diambil dari We Are Social, terdapat 5 media sosial dengan pengguna paling banyak di Indonesia. Media sosial yang paling banyak diakses adalah Youtube, diikuti leh Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Line.
Gambar 1.2 Infografik Media Sosial Paling Banyak Digunakan di Indonesia
Sumber: We Are Social
Dengan banyaknya pengguna media sosial di dunia saat ini maka banyak perusahaan yang akhirnya menggunakan media sosial untuk memasarkan produknya. Tidak sedikit akhirnya para perusahaan beralih dari media konvensional ke media digital untuk memasarkan produknya dikarenakan biaya yang lebih rendah dan target konsumen pun lebih dapat terbidik. Data Nielsen Digital AD kurun waktu Juli 2018 - Juni 2019 menunjukkan bahwa perusahaan
7
memberikan porsi belanja di iklan di media digital sebesar 6% atau sekitar Rp 9,3 triliun (Republika, 2019).
Dari hasil data tersebut dapat diketahui bahwa negara Indonesia merupakan pengguna internet aktif. Selain sebagai pengguna internet aktif, portal berita online di Indonesia juga mengalami suatu perkembangan dari tahun ke tahun. Hal itu terlihat dari pernyataan Margianto dan Syaefullah (dalam Ahmad, 2017, p.2) bahwa perkembangan portal berita online di Indonesia diawali pada 1994 oleh Republika yang menciptakan Republika online. Selanjutnya, Tempo Grup mendirikan Tempointeraktif.com. Portal media online Tempo ini berdiri karena majalah tempo sempat dibredel oleh pemerintahan orde baru. Seiring dengan berjalannya waktu banyak bermunculan portal berita online seperti Kompas.com pada 22 Agustus 1997 yang memindahkan konten yang ada di media cetak ke media digital. Kemudian selang satu tahun pada Juli 1998 berdirilah Detik.com yang merupakan portal berita otonom (Margianto & Syaefullah, 2014, p. 16).
Bentuk konten berita dalam media online memiliki tiga tahap perkembangan. Pertama, portal berita online hanya memindahkan ulang konten yang terdapat di media cetaknya ke dalam bentuk online. Kedua, portal berita online membuat pengembangan kreatif dengan menambahkan gambar dan infografis untuk mendukung artikel pemberitaan. Lalu terdapat hyperlinks di dalam artikel guna memudahkan pengunjung situs dalam mencari topik – topik yang saling berhubungan. Pada tahap ketiga, pada artikel pemberitaan portal berita online terdapat tambahan video audio yang memiliki relasi pada topik pemberitaan. Tahap ketiga ini disebut dengan model multimedia online
8
journalism. Topik pemberitaannya dikemas dengan berbagai format, yaitu berupa teks, audio, video, dan infografis (Pavlik, 2001, p. 43).
Dari sejarah perkembangan media online di Indonesia yang pertama kali dipelopori oleh Detik.com, menurut Margianto dan Syaefullah (2012, p. 18) menyebutkan bahwa awal perkembangan media online di Indonesia yang dipelopori oleh Detik.com yang berdiri pada tahun 1998. Dijelaskan juga media yang saat itu di bawah naungan Agrakom (sekarang diakuisisi oleh Trans Corporation) adalah media online pertama yang lahir tanpa ada induk media konvensional dan berdiri setara otonom. Setelah Detik.com, mulailah bermunculan beberapa media online serupa, seperti Satunet.com, Astaga.com, Lippostar.com dan Kopitime.com karena pada saat itu akses internet masih sulit dan mahal maka hanya para pemodal besar yang mendominasinya.
Situs berita digital media baru Detik.com hadir tanpa ada induk media konvensional dan saat ini berdiri secara otonom. Hal ini terlihat media digital baru Detik.com mencoba untuk menyajikan berita melalui konten dan layanan secara digital. Menurut Fariz (2012, p. 1) media digital kini sudah menjadi gaya hidup pada setiap kalangan, di samping itu penggunaan media digital telah banyak membantu setiap orang dalam melakukan rutinitas, termasuk dalam berkomunikasi, baik dalam individu maupun dalam komunikasi massa.
Seiring dengan perkembangan zaman, internet telah berkembang secara pesat. Penyebabnya karena internet saat ini semakin murah dan mudah untuk diakses. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia telah melampaui 132,7 juta pengguna. Secara konten, berita menduduki peringkat ketiga sebagai jenis yang paling
9
diminati oleh pembaca yaitu sebanyak 127,9 juta pengakses konten (APJII, 2016, P. 6 – 22)
Penelitian terkait khalayak di media sudah dimulai sejak abad ke-20 dan awal mulanya peneliti berfokus hanya pada penggambaran khalayak dan menentukan media mana yang bisa memberikan dampak langsung kepada khalayak. Namun seiring berkembangnya zaman, khalayak lebih memfokuskan diri kepada apa yang orang-orang lakukan dengan media (Baran & Davis, 2010, p. 285).
Mulai tahun 1970-an sampai dengan tahun 1980-an, para peneliti empiris dan kajian budaya lebih menerapkan fokus kepada khalayak media, dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman terkait apa yang dilakukan oleh orang-orang selaku khalayak terhadap media dan kesehariannya. Namun peneliti empiris menelaah kembali asumsi terkait efek terhadap khalayak dan berpendapat bahwa khalayak tidak seluruhnya pasif seperti yang diperkirakan oleh peneliti lainnya (Baran & Davis, 2010, p. 287).
Selain berfokus kepada khalayak media, penelitian resepsi juga memiliki kontribusi dalam bidang ilmiah. Meskipun analisis resepsi mulai tahun 1970-an berfokus pada pemaknaan khalayak tetapi hal tersebut bisa menjadi celah dalam penelitian resepsi hingga saat ini masih ditemukan peneliti yang hanya mengutamakan apa yang dimaknai oleh khalayak saja.
Standar yang digunakan untuk mengukur khalayak menggunakan analisis resepsi yaitu dengan memberikan makna terhadap teks media yang akan dianalisis oleh setiap individu selaku penerima makna. Kemunculan pemaknaan didasari
10
oleh penciptaan khalayak yang menonton atau membaca teks dalam media massa (Hadi, 2008, p. 76).
Studi penerimaan berfokus kepada bagaimana khalayak dari berbagai kategori dan latar belakang memaknai bentuk konten tertentu dan bisa juga dikatakan sebagai analisis penerimaan. Kemudian Stuart Hall melalui pandangannya terkait penafsiran, mencetuskan sebuah pendekatan terhadap penelitian khalayak dengan ciri utama berfokus pada isi atau konten (Baran & Davis, 2010, p. 302-303).
Mengacu pada konsep pemaknaan Stuart Hall (seperti dikutip dalam Griffin, 2005, p. 370) manusia mempelajari artian atau makna terhadap sesuatu hal itu melalui wacana, komunikasi, dan budaya. Selain mempelajari makna yang terkandung dalam sebuah wacana, seseorang juga harus mencari tahu dari mana wacana tersebut muncul. Kemudian dibutuhkan validasi sumber utama yang telah mencetuskan sebuah wacana.
Maka kekurangan dari penelitian-penelitian ilmiah yang sebelumnya sudah dilakukan, masih banyaknya peneliti yang kurang berkontribusi untuk mencari tahu dari mana asal sumber wacana dibuat. Karena tidak terlalu banyak peneliti yang membahas tentang asal usul pembuatan makna sehingga untuk memperjelas makna melalui wacana, peneliti mengambil celah dalam penelitian ini untuk mendalami pemaknaan melalui pembuat makna yang dikombinasikan dengan penerimaan makna dari khalayak.
Selain menerapkan pemaknaan, ciri khas pemaknaan khalayak Hall mencakup proses encoding (menyampaikan pesan) dan decoding (menerima
11
pesan). Bersama dengan para pendukung studi budaya, Hall memberi tempat untuk para akademis agar dapat secara langsung melihat seperti apa cara media melakukan representasi terhadap budaya yang tidak memproduksi kesetaraan sosial dan membungkam pihak – pihak yang tidak berdaya (Griffin, 2005, p. 371).
Dalam penelitian ini, keinginan utama peneliti adalah membandingkan antara apa yang disampaikan oleh pembuat makna (encoding) dan penerima makna (decoding) untuk mencari tahu lebih dalam dan menjawab terkait seperti apa pemaknaan yang dapat diterima oleh khalayak selaku pembaca terhadap apa yang ingin dicapai oleh pembuat makna melalui media pemberitaan Papua ini. Sehingga ciri khas pemaknaan dari Stuart Hall dapat terjawab secara ilmiah melalui dua sisi yaitu dari penjelasan wacana yang disampaikan oleh encoder dan hasil pemaknaan yang disampaikan oleh decoder.
Permasalahan utama dalam penelitian ini berkaitan dengan penggambaran dan penerimaan khalayak terhadap pemberitaan Papua ini. Seperti apa pengertian yang di sampaikan beserta dengan pemaknaan yang disampaikan oleh khalayak mengenai pemberitaan Papua. Pemaknaan yang disampaikan dapat di analisa berdasarkan apa yang disampaikan oleh encoder dapat diterima dengan baik atau sebaliknya oleh encoder tersebut.
Karena hal itu penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis resepsi, di mana analisis resepsi ini menjelaskan bagaimana penonton khalayak yang berbeda-beda memaknai isi media, sehingga nantinya akan lebih bisa mengambil perspektif pada khalayak daripada media itu sendiri. Analisis ini juga melihat pengaruh konstektual dalam penggunaan media dan interpretasi serta
12
pemaknaan dari seluruh pengalaman khalayak (McQuail, 2001, p. 502) dan yang menjadi bagian terpenting dari resepsi pada penelitian khalayak diantaranya adalah:
1. Teks media dibaca melalui persepsi khalayaknya, yang membentuk makna dan kesenangan dari teks media yang ditawarkan.
2. Proses penggunaan media adalah inti objek tujuannya.
3. Penggunaan media adalah secara tipikal di suatu situasi spesifik dan di orientasi pada tugas sosial yang melibatkan partisipan dalam komunitas interpretative.
4. Khalayak untuk media genre tertentu kadang tertentu dari komunitas interpretative yang terpisah dan membagi bentuk sama dari discosure dan kerangka berpikir untuk membuat arti dari media.
5. Khalayak tidak pernah pasif karena terkadang yang satu bisa lebih berpengalaman dengan yang lain.
6. Metode yang digunakan harus kualitatif dan mendalam, melihat isi, resepsi, dan konteks secara bersamaan.
Kekuatan dari teori resepsi adalah memfokuskan perhatian pada individual dalam proses komunikasi massa, menghargai kemampuan dari pengkonsumsi media dan menyadari makna dari teks media yang berbeda-beda (Arsyad, 2008, p. 15).
The Gecko Project adalah suatu inisiatif jurnalisme investigasi yang didirikan untuk mengekspos tindak korupsi yang mendorong pencaplokan lahan dan kehancuran hutan-hutan tropis. Inisiatif ini bertujuan untuk menarik perhatian terhadap dampak dari kesepakatan-kesepakatan lahan besar, terutama untuk
13
produksi pangan, terhadap beberapa permasalahan dunia yang paling mendesak: perubahan iklim, keruntuhan keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, dan hak-hak masyarakat adat dan komunitas-komunitas pedesaan lainnya. Salah satu berita yang penulis pilih dari The Gecko Project ini adalah berita mengenai Papua dengan judul Kesepakatan Rahasia Hancurkan Surga Papua.
Pada Desember 2012, persisnya di sebuah konferensi pers yang dilangsungkan di sela-sela forum bisnis Islam di Malaysia, seorang lelaki bernama Chairul Anhar membuat pernyataan yang berani. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya telah memegang izin terhadap empat ribu kilometer persegi tanah untuk perkebunan sawit di Indonesia. Luasannya mencapai enam kali Provinsi DKI Jakarta dan lokasinya terletak di pulau raksasa yang membuat silau mata para investor dunia, yaitu Pulau Papua. Di sanalah terdapat tambang emas terbesar di dunia, cadangan minyak dan gas yang melimpah, serta kawasan hutan yang terluas di kawasan Asia-Pasifik. Namun, bisnis dan hubungan Chairul dengan proyek tersebut tidak semulus yang ia sampaikan.
Alurnya susah untuk dijelaskan dan digambarkan. Izin kawasan di Provinsi Papua telah diperoleh melalui perusahaan cangkang (shell company), yaitu badan usaha yang tidak memiliki operasi bisnis, aset yang signifikan maupun rekam jejak dan perusahaan-perusahaan itu pun layaknya tameng yang menyembunyikan aktor sebenarnya yang mendapat manfaat dari proyek itu. Pada saat berlangsungnya konferensi pers itu, Chairul sebetulnya hanya memiliki klaim kecil atas tanah terkait Proyek Tanah Merah.
14
Tetapi dia juga ikut dalam berbagai kepentingan dan menggandeng banyak pihak untuk bersama-sama mendulang harta sekaligus menyalakan sumbu yang dapat berujung pada bencana lingkungan yang kemudian berangsur-angsur terungkap. Di seluruh kawasan Asia Tenggara, lansekap seperti yang diungkapkan Bruce itu telah mengalami kehancuran secara terus - terusan selama separuh abad terakhir ini. Pertama-tama adalah penebangan kayu yang memecah kawasan hutan dan merusak ketangguhan hutan.
Hal itulah yang menciptakan akses atau jalan yang menjadi celah untuk beragam tindakan yang semakin menghancurkan hutan. Hutan yang telah rusak pun menjadi kian rentan terhadap kebakaran hingga akhirnya memunculkan perkebunan-perkebunan. Hutan primer menyimpan cadangan karbon yang sangat besar sekaligus menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna. Papua merupakan provinsi yang memiliki luasan hutan paling besar di Indonesia.
Luas kabupaten itu mencapai 27 ribu kilometer persegi dan sebagian besarnya adalah hutan yang masih utuh dan asli. Ada beragam satwa endemik yang hanya hidup di Papua. Sebagian hewan yang berevolusi di sana sangatlah ikonik, salah satunya burung cenderawasih. Bruce berpendapat bahwa ada banyak spesies lain yang belum diidentifikasi secara ilmiah atau belum pernah dilihat oleh orang-orang luar. “Mereka mungkin menyimpan bermacam hal yang belum diketahui dan kelak bisa sangat berguna bagi umat manusia di masa depan jika kita dapat mengenali dan memahami mereka.” Masyarakat adat di Pulau Papua terdiri dari ratusan suku yang memiliki ragam bahasa masing-masing. Mereka mempunyai hubungan yang erat dengan hutan sebagai bagian dari kehidupan
15
mereka selama ribuan tahun. Identitas dan kebudayaan mereka terhubung pada wilayah adat yang terikat dengan alam.
Ketika Yusak mulai berkuasa pada 2005, terdapat banyak komunitas adat yang menggantungkan sumber penghidupan mereka dari aktivitas berburu, mengumpulkan buah, dan mengolah sagu sebagai makanan pokok. Apa yang mereka lakukan itu memiliki dampak yang sangat kecil terhadap perubahan kondisi hutan. Mungkin, kekuatan yang paling berpengaruh dan saat ini dimiliki oleh seorang bupati, adalah kewenangan untuk mengeluarkan izin-izin untuk perkebunan besar. Perkebunan semacam itu dapat menarik investasi bagi kabupaten dengan kondisi ekonomi yang rendah dan pendapatan asli daerah (PAD) yang terbatas.
Akan tetapi, jika tidak dikelola dengan hati-hati, kehadiran berbagai perusahaan tersebut dapat menyebabkan munculnya kepentingan-kepentingan yang saling tumpang tindih antara urusan masyarakat adat atau lingkungan dan ideologi pembangunan yang cenderung eksploitatif dan destruktif.
Meto merupakan salah satu desa yang tanahnya berada di bawah bayang-bayang Proyek Tanah Merah. Sejak tahun 2012, tentara dan polisi sudah mondar-mandir di desa-desa sekitar proyek. Kadang-kadang, mereka menghilang di balik rimbun hutan untuk melakukan survei yang misterius. Mereka tidak tahu di mana persisnya batas-batas proyek.
Pada suatu minggu pagi di bulan April 2013, masyarakat adat Auyu di Desa Meto tengah berdoa di gereja ketika tiba-tiba terdengar deru mesin perahu cepat yang berangsur-angsur mendekat. Warga pun berjalan menghampiri sumber
16
suara itu untuk melihat siapa yang bertamu ke desa. Sekumpulan pria berbadan tegap itu buru-buru memerintahkan warga di desa lain untuk segera ikut berkumpul di dermaga.
Tujuan dari kunjungan mereka kali itu adalah untuk membagi-bagikan amplop berisi uang tunai. Warga Desa Meto dan desa-desa lain di sekitarnya mengatakan bahwa upaya mereka telah dihalangi untuk mencari tahu dan menyampaikan aspirasi terkait Proyek Tanah Merah. Menurut warga yang kami wawancarai serta informasi yang dikumpulkan oleh Franky serta pastor dan pendeta setempat, penduduk desa diiming-imingi berbagai janji agar mau mendukung proyek.
Satu minggu kemudian, warga desa diminta untuk berkumpul di gedung sekolah di Desa Getentiri yang terletak di sebelah tenggara Proyek Tanah Merah. Awalnya, warga pikir mereka akan diberikan kesempatan untuk memetakan tanah mereka, menemukan kawasan mana yang kira-kira tumpang tindih dengan proyek, dan menyampaikan pandangan atau pendapat.
Polisi dan komandan militer pun bersiaga di dalam ruang pertemuan. Ketika warga berkumpul di dalam gedung sekolah dan menunggu rapat dimulai, seorang penduduk desa melempar gurau dengan mengatakan bahwa mereka perlu makan dan rokok jika ingin mengadakan diskusi penting. “Kebetulan di depan itu ada anggota polisi yang berdiri,” ungkap seorang lelaki dari Meto kepada kami.
Akhirnya, dia (penduduk desa) dipukul sampai setengah mati di dalam ruangan itu.”Warga desa pun ditelantarkan dengan janji-janji palsu serta dihantui
17
oleh ancaman dan kekerasan. Terus, kita sudah tidak tahu mereka pergi ke mana, dan (perkebunan) ini kira-kira ada di mana,” komentar seorang warga.
Dikutip dari wri-indonesia.org (wri-indonesia.org, 2019) dijelaskan bahwa tingkat kehilangan tutupan pohon di Papua mencapai puncaknya pada tahun 2015. Sejak itu para pemimpin daerah mulai mengambil tindakan. Pada tahun 2015, Papua Barat menjadi provinsi konservasi pertama di dunia dan komitmen ini masih dipegang oleh Gubernur yang menjabat saat ini pada tahun 2018. Sementara itu, tetangganya, Provinsi Papua, juga telah menargetkan untuk mempertahankan 90 persen tutupan hutan di seluruh provinsi seiring dengan upaya untuk mencapai tujuan pembangunan rendah karbon.
Sejalan dengan komitmen politik para pemimpin provinsi terhadap pelestarian hutan, tingkat kehilangan hutan tahunan mengalami penurunan pada tahun 2016 dan 2017. Namun, bukan berarti tidak ada risiko yang mengancam hutan primer Papua. Masih ada elemen-elemen pemerintah yang tidak sepenuhnya mendukung konservasi. Agenda pembangunan infrastruktur pemerintah nasional di provinsi-provinsi ini tampaknya masih melibatkan pembukaan hutan.
Gambar 1.3 Annual Forest Cover Loss in Papua Island, Indonesia
18
Beberapa peristiwa deforestasi terjadi di dalam batasan konsesi legal. Namun terkadang, pemilik konsesi ini beroperasi di luar izin yang telah disetujui, bahkan kadang dalam zona perlindungan gambut.
Tingkat kehilangan hutan di Papua Barat melonjak pada tahun 2015, jauh di atas tahun-tahun sebelumnya. Dari semua kejadian pada tahun 2015, hanya 3 persen yang diakibatkan oleh perambahan ilegal.
Gambar 1.4 Forest Cover in Different Forest Legal Class
Source : World Resources
Sebagian besar deforestasi di Provinsi Papua dan Papua Barat tejadi di kawasan Hutan Produksi dan Area Penggunaan Lain sehingga dapat disebut sebagai deforestasi yang direncanakan.Tetapi, praktik ini tetap saja merusak keberagaman ekosistem hutan secara permanen.
19
Gambar 1.5 Forest Cover in Different Forest Legal Class, Papua Position
Source : World Resources
Meskipun tingkat kehilangan hutan di lahan gambut masih lebih rendah dibandingkan lahan non-gambut, lahan gambut melepaskan karbon dalam jumlah yang lebih besar. Akibatnya emisi yang dihasilkan dari kehilangan hutan di lahan gambut bisa saja lebih besar dari jenis hutan lain apabila kita tidak segera mengubah kebijakan pengembangan untuk mengatasi masalah ini.
Jika Pemerintah Indonesia dapat menjaga setidaknya 70 persen wilayah Papua di Indonesia (29 juta hektar) sebagai kawasan konsevasi dan memulihkan lahan di dalam kawasan lindung, pemerintah dapat menghindari 2,8 – 3,3 gigaton emisi karbon dioksida.
Dikutip dari keepo.me (keepo.me, 2019) dikatakan bahwa di tanah Papua pembungkaman kebebasan pers sedang terjadi. Padahal dalam undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, bahwa kemerdekaan pers adalah salah satu perwujudan kedaulatan dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang demokratis. Kebebasan
20
pers di tanah Papua sedang dibungkam oleh pemerintah Indonesia padahal hal tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Kita melihat bahwa Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 secara konsisten dijalankan di luar Papua.
Di penghujung tahun 2014, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) memberikan rilisan terkait kebebasan pers di Papua. Menurut mereka, sejak 1969 hingga kini, jurnalis asing tidak bisa bebas meliput di Papua. “Kebebasan pers di Papua buruk sehingga berita yang diakses dari sana terkadang tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan,” tulis AJI di siaran pers mereka.
Di Indonesia, khususnya di Papua masih banyak penyelewengan tanggung jawab dari jurnalis. Independensi media di Papua sedang dikikis oleh otoritas pemerintah Indonesia maupun pemerintah daerah karena penayangan berita tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia, persoalan sosial, politik di Papua jarang, ditayangkan melalui media-media nasional cetak atau elektronik. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui kondisi sebenarnya di Papua.
Selain itu, pada tahun 2013 Gubernur Papua mengatakan bahwa media www.Tabloidjubi.com adalah Media Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Pernyataan ini, bila dianalisis akan bermuara pada pembungkaman kebebasan pers di tanah Papua, setelah ruang demokrasi menyampaikan pendapat dibungkam.
Pemberitaan tentang kondisi Papua jarang di terbitkan di media-media cetak dan media-media elektonik di luar Papua. Dalam keadaan itu, wartawan
21
sering mendapat teror oleh pihak aparat keamanan dan melarang wartawan mengambil gambar dan menyebarkan di media masa.
Penelitian ini berdasarkan pada teori resepsi menggunakan model encoding/decoding Stuart Hall yang menekankan bahwa makna yang ini disampaikan wartawan melalui berita belum tentu sama dengan makan yang diterima audiens. Model encoding/decoding menganggap audiens dibentuk dan dikondisikan melalui budaya dan berperan penting sebagai kelompok dibanding individu (Ross&Nightingale, 2003, p. 36).
Hall (1991, p. 125-127) juga menjabarkan bahwa audiens dapat mengadopsi satu dari tiga posisi hipotesis dalam pemaknaan teks oleh pembaca, yakni dominant (hegemonic) reading, negotiated reading dan oppositional (counter hegemonic) reading. Teori encoding/decoding adalah bentuk pertama yang secara utuh menjelaskan teori resepsi (Ott & Mack, 2014, p. 248).
Audiens dalam penelitian ini difokuskan ke generasi milenial yakni orang-orang yang lahir di antara tahun 1983-1999. Menurut data We Are Social (2019), pengguna media sosial tertinggi di Indonesia berada di kisaran umur 18 hingga 34 tahun. Menurut Lancester & Stillman (2002 dalam Putra, 2016, p. 128), generasi milenial memiliki sikap yang realistis dan sangat menghargai perbedaan. Oleh karena itu, hipotesis dari penelitian ini adalah generasi milenial setuju dengan pesan yang disampaikan oleh media internasional atau masuk kategori dominant reading sesuai dengan teori resepsi yang dikemukakan oleh Stuart Hall.
22 1.2 Rumusan Masalah
Setelah melihat latar belakang masalah di atas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
- Bagaimana pemaknaan khalayak terhadap pemberitaan mengenai papua pada media Geckoproject.id?
1.3 Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan yang perlu terjawab dalam penelitian ini:
1. Apakah konsep pemaknaan dan nilai-nilai dari encoder dapat tersampaikan kepada decoder yang memaknai pemberitaan mengenai Papua?
2. Seperti apa proses penerimaan pesan yang disampaikan melalui pemberitaan Papua?
3. Seperti apa pemaknaan khalayak terhadap penggambaran Papua melalui pemberitaan?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini untuk menjawab pertanyaan penelitian:
1. Untuk mendeskripsikan seperti apa proses encoding dan decoding melalui pemberitaan Papua.
2. Untuk mendeskripsikan seperti apa penerimaan pesan yang dapat disampaikan oleh khalayak melalui pemberitaan Papua.
3. Mendalami konsep pemaknaan terhadap nilai-nilai yang didapatkan oleh khalayak melalui pemberitaan Papua.
23 1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penelitian bagi mahasiswa jurusan jurnalistik selanjutnya yang ingin membuat penelitian ilmiah terkait pemaknaan khalayak yang melibatkan peran antara pembuat makna (encoder) dan penerima makna (decoder). Selain itu, penelitian diharapkan dapat memberikan pandangan dan wawasan secara luas mengenai masyarakat Papua. Semua proses, kejadian yang sudah dialami oleh masyarakat Papua, mencerminkan dengan bagaimana mereka bertindak, berfikir, dan merespon suatu hal. Hal ini berbeda dengan masyarakat yang dimana diterima dan diperlakukan dengan adil di Negara nya sendiri, masyarakat Papua tidak mendapatkan itu karena hanya dipandang dengan sebelah mata.
1.5.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan kontribusi dan motivasi terhadap pemikiran pihak profesional media online serta cara pandang khalayak terhadap pemaknaan melalui media The Gecko Project.id.
1.6 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian yang dialami oleh peneliti selama membuat penelitian adalah terbatasnya waktu yang dimiliki oleh peneliti, dari pengumpulan data hingga menyusun proposal.