• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS PRAKTIK MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN YANG MELANGGAR PERJANJIAN UTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TESIS PRAKTIK MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN YANG MELANGGAR PERJANJIAN UTANG"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

PRAKTIK MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN

YANG MELANGGAR PERJANJIAN UTANG

NI MADE DEWI LESTARI

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2011

(2)

i

TESIS

PRAKTIK MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN

YANG MELANGGAR PERJANJIAN UTANG

NI MADE DEWI LESTARI NIM 0991661007

PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI AKUNTANSI

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2011

(3)

ii

PRAKTIK MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN

YANG MELANGGAR PERJANJIAN UTANG

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Akuntansi

Program Pasca Sarjana Universitas Udayana

NI MADE DEWI LESTARI NIM 0991661007

PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI AKUNTANSI

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2011

(4)

iii

Lembar Pengesahan

TESIS INI TELAH DISETUJUI

TANGGAL 5 AGUSTUS 2011

Pembimbing Utama,

Dr. Gerianta Wirawan Yasa, SE.,M.Si NIP. 19650123 199393 1 002

Pembimbing Pendamping

I Ketut Sujana SE.,M.Si., Ak NIP. 19640518 199212 1 004

Mengetahui,

Ketua Program Magister Akuntansi Program Pasca Sarjana

Universitas Udayana

Dr. I Ketut Budhiartha, SE., M.Si., Ak NIP. 195591202 198702 1001

Direktur

Program Pasca Sarjana Universitas Udayana

Prof. Dr. dr A A Raka Sudewi, Sp.S(K) NIP. 19590215 198510 2 001

(5)

iv

Tesis Ini Telah Diuji pada

Tanggal 5 Agustus 2011

Panitia Penguji tesis Berdasarkan SK Rektor

Universitas Udayana, No.: 1395/UN14.4/HK/2011., Tanggal 4 Agustus 2011

Ketua : Dr. Gerianta Wirawan Yasa, SE.,M.Si

Anggota :

1. I Ketus Sujana, SE.,M.Si.,Ak

2. Dr. Drs. I Made Sukartha, M.Si.,Ak

3. Dr. I Dewa Nyoman Badera, SE.,M.Si

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya tulis yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiean saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang diberikan oleh universitas batal saya terima.

Denpasar, 5 Agustus 2011

Yang membuat pernyataan,

(7)

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa atas Asung Kerta Wara Nugrahanya, tesis yang berjudul “Praktik Manajemen Laba Pada Perusahaan Yang Melanggar Perjanjian Utang” ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Gerianta Wirawan Yasa, S.E.,M.Si, sebagai Pembimbing I beserta Bapak I Ketus Sujana, S.E.,M.Si.,Ak., sebagai Pembimbing II, para penguji tesis ini, yaitu Bapak Dr. Drs. I Made Sukartha, M.Si.,Ak., Bapak Dr. I Dewa Nyoman Badera, S.E.,M.Si., dan Bapak Dr. I Wayan Suartana, S.E.,M.Si.,Ak., yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, member saran dan masukan serta memberikan dorongan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Ucapan yang sama juga penulis tujukan kepada Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Made Bakta, Sp.PD (KHOM) atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister pada Universitas Udayana. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya juga ditujukan kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang dijabat oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K), atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program Magister pada Program Pascasarjana Universitas Udayana. Pada kesempatan yang baik ini, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. I Ketut Budhiartha, S.E.,M.Si.,Ak., selaku Ketua Program Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Universitas Udayana. Ucapan yang sama juga penulis tujukan kepada Ketua Jurusan Akuntansi, Bapak Dr. Made Gede Wirakusuma, S.E.,M.Si.

Kepada rekan-rekan mahasiswa angkatan IV MAKSI Universitas Udayana, terima kasih atas dukungan, semangat dan kerjasama rekan-rekan yang telah memotivasi penulis, baik dalam perkuliahan maupun dalam penyelesaian tesis ini. Penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta, terutama Bapak I

(8)

vii

Wayan Sumandra dan Ibu Ni Kadek Subari, serta adik-adikkku atas doa, dorongan dan motivasinya kepada penulis selama penulis menempuh perkuliahan dan menyelesaikan tesis ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Gede Wedantara yang selalu membantu dan mendukung penulis untuk segera menyelesaikan studi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu proses penyelesaian penelitian ini. Penulis meminta maaf kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan ini atas segala kekurangan dan kekhilafan penulis. Semoga tesis ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu akuntansi.

Denpasar, Agustus 2011 Penulis,

(9)

viii ABSTRAK

PRAKTIK MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN YANG MELANGGAR PERJANJIAN UTANG

Penelitian ini melakukan pengujian secara empiris manajemen laba pada perusahaan yang melanggar kontrak perjanjian utang. Terdapat dua isu utama dalam penelitian ini. Pertama, perusahaan pelanggar perjanjian utang melakukan manajemen laba yang meningkatkan laba pada perioda sebelum melanggar kontrak utang. Kedua, manajemen laba pada perusahaan pelanggar kontrak utang lebih besar daripada perusahaan kontrol.

Discretionary accrual yang menjadi proksi manajemen laba dihitung

menggunakan model Kang dan Sivaramakrishnan. Selain itu, dilakukan uji sensitivitas untuk menguji apakah manajemen laba tetap terdeteksi pada perusahaan yang melanggar perjanjian utang jika proksi manajemen laba yang digunakan berbeda. Untuk menguji itu dilakukan dengan menggunakan model yang berbeda yaitu model Jones (1995) modifikasian. Sampel penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel penelitian terdiri dari 34 perusahaan pelanggar kontrak utang dan 34 perusahaan bukan pelanggar kontrak utang sebagai sampel pembanding. Alat uji yang digunakan yaitu Mann Whitney-test, karena residual data tidak berdistribusi normal.

Hasil analisis menunjukkan bahwa perusahaan pelanggar perjanjian utang melakukan manajemen laba dengan cara meningkatkan jumlah akrual diskresioner sebelum perioda pelanggaran perjanjian utang. Selanjutnya, manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan pelanggar perjanjian utang lebih besar dibanding perusahaan bukan pelanggar perjanjian utang pada perioda yang sama.

Kata kunci: manajemen laba, pelanggaran perjanjian utang, debt covenant hypothesis, discretionary accrual.

(10)

ix ABSTRACT

EARNINGS MANAGEMENT PRACTICES ON COMPANY WHO VIOLATING DEBT COVENANT

This research empirically tested earnings management in firms violating debt covenant. There are two main issues in this study. First, firms violating debt covenant would do earnings management to increase their earnings prior to their violation period. Second, earnings management in firms violating debt covenant greater offenders than the control firms.

Discretionary accruals as a proxy of earnings management is calculated using the model of Kang and Sivaramakrishnan. In addition, sensitivity test done to test whether earnings management still detectable in firms violating debt covenant if the proxy of earnings management that used differently. To test was done using a different model of The Modified Jones (1995). The sample of this research is manufacturing companies listed in the Indonesia Stock Exchange (BEI). The sample includes 34 firms violating debt covenant and 34 firms control. Method of statistic used is the Mann-Whitney test, because the residuals are not normally distributed data.

The analysis result show that the firms violating debt covenant in which management increase earnings prior period debt covenant violations. Furthermore, earnings management in firms violating debt covenant greater offenders than the the control firms in the same period.

Keywords: earnings management, debt covenant violation, debt covenant hypothesis, discretionary accrual.

(11)

x DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM………... i

PRASYARAT GELAR………. LEMBAR PERSETUJUAN……… PENETAPAN PANITIA PENGUJI……… UCAPAN TERIMA KASIH………... ii iii iv v ABSTRAK……… viii ABSTRACT………. xi DAFTAR ISI………... x

DAFTAR TABEL………... xii

DAFTAR GAMBAR……….. xiii

DAFTAR LAMPIRAN………... xiv

BAB I PENDAHULUAN……….… 1

1.1 Latar Belakang……….. 1

1.2 Rumusan Masalah………... 6

1.3 Tujuan Penelitian………..……… 6

1.4 Manfaat Penelitian……… 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA……… 8

2.1 Agency Theory………. 8

2.2 Teori Signal………... 12

2.3 Manajemen Laba………... 13

2.4 Kredit……… 20

2.5 Manajemen Laba dan Perjanjian Utang……… 21

2.6 Penelitian Sebelumnya……….. 24

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITAN………... 30

3.1 Kerangka Berpikir………. 30

3.2 Konsep Penelitian……….… 35

3.3 Hipotesis Penelitian……….. 36

BAB IV METODA PENELITIAN……… 41

4.1 Rancangan Penelitian……… 41

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian……… 43

4.3 Data Penelitian……….. 43

4.3.1 Jenis Data……… 43

4.3.2 Sumber Data………... 44

(12)

xi

4.4 Definisi Operasional dan Pengukuran

Variabel……….

46

4.5 Teknik Pengumpulan Data... 49

4.6 Prosedur Penelitian... 49

4.7 Teknik Analisis Data... 50

4.7.1 Pengujian Hipotesis Penelitian………... 50

4.7.2 Pengujian Sensitivitas………. 52

BAB V HASIL PENELITIAN………... 55

5.1 Sampel Penelitian………. 55

5.2 Statistik Deskriptif……… 56

5.3 Pembahasan Hasil Penelitian……… 58

5.3.1 Pengujian hipotesis 1……….. 58

5.3.2 Pengujian hipotesis 2……….. 60

5.4 Hasil Uji Sensitivitas……… 62

BAB VI PEMBAHASAN……….. 65

6.1 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis Pertama (H1)…………. 65

6.2 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis Kedua (H2)…………... 66

6.3 Pembahasan Hasil Uji Sensitivitas………... 67

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN……… 69

7.1 Simpulan Penelitian……….. 69

7.2 Saran ……… 69

DAFTAR PUSTAKA………. 71

(13)

xii

DAFTAR TABEL

2.1 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya………... 27

5.1 Seleksi Sampel………. 55

5.2 Statistik Deskriptif Manajemen Laba………... 57

5.3 Hasil Uji One Sample Kolmogorov Smirnov Test Akrual Diskresioner Unsur Kenaikan Pendapatan dan Kenaikan

Biaya………... 59 5.4 Hasil Uji Mann Whitney Test Akrual Diskresioner Unsur Kenaikan

Pendapatan dan Kenaikan Biaya……….. 59

5.5 Hasil Uji One Sample Kolmogorov Smirnov Test Manajemen Laba Model Kang dan Sivaramakhrisnan Pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang dan Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak

Utang………. 60

5.6 Hasil Uji Mann Whitney Test Manajemen Laba Model Kang dan Sivaramakhrisnan Pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang dan

Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak

Utang……….….. 61

5.7 Hasil Uji One Sample Kolmogorov Smirnov Test Manajemen Laba Model Jones Modifikasi Pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang

dan Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak Utang……….…. 63

5.8 Hasil Uji Mann Whitney Test Manajemen Laba Model Jones Modifikasi Pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang dan

Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak Utang……….. 64

6.1 Ringkasan Hasil Uji Mann Whitney Test Manajemen Laba Pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang dan Perusahaan Bukan

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

3.1 Kerangka Berpikir……… 34

3.2 Konsep Penelitian……… 36

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Perusahaan yang Melanggar Perjanjian Utang Periode

2003-2010………... 76

Lampiran 2 Daftar Perusahaan Pembanding………... 77

Lampiran 3. Statistik Deskriptif Manajemen Laba………... 78 Lampiran 4. One-sample kolmogorov-smirnov test akrual diskresioner

unsur pendapatan dan biaya pada perusahaan yang melanggar

kontrak utang……… 79

Lampiran 5. Mann-Whitney Test akrual diskresioner unsur pendapatan dan

biaya pada perusahaan yang melanggar kontrak

utang……….………. 80

Lampiran 6. One-sample kolmogorov-smirnov test Manajemen Laba Model

Kang dan Sivaramakhrisnan pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang dan Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak

Utang……… 81

Lampiran 7. Mann-Whitney Test Manajemen Laba Model Kang dan

Sivaramakhrisnan pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang

dan Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak

Utang……….. 82

Lampiran 8. One-sample kolmogorov-smirnov Manajemen Laba Model

Jones Modifikasi pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang

dan Perusahaan Bukan Pelanggar Kontrak

Utang………... 83

Lampiran 9. Mann-Whitney Test Manajemen Laba Model Jones Modifikasi

pada Perusahaan Pelanggar Kontrak Utang dan Perusahaan

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teori keagenan memandang perusahaan sebagai nexus of contracts yaitu

organisasi yang terikat kontrak dengan beberapa pihak seperti kontrak dengan

pemegang saham, supplier, karyawan (termasuk manajer) dan pihak-pihak lain

yang terkait (Scott, 2000). Perusahaan juga memiliki ikatan kontrak dengan

kreditur jika perusahaan tersebut melibatkan utang sebagai salah satu

pendanaannya. Sebagian besar perusahaan menggunakan utang sebagai sumber

pendanaan karena dapat meningkatkan kinerja manajer akibat kekhawatiran

kehilangan pekerjaan dan jika kinerjanya meningkat, pemegang saham bersedia

membayar harga saham perusahaan lebih mahal (Jensen dan Meckling, 1976).

Perusahaan yang memiliki kontrak utang maupun kontrak yang lain pasti

berkeinginan untuk meminimalkan berbagai kos kontrak yang terkait dengan

kontrak-kontraknya (contracting theory), seperti kos negosiasi, kos pengawasan

kinerja kontrak, kemungkinan negosiasi ulang, dan kos perkiraan jika bangkrut

atau kegagalan lain (Scott, 2000). Oleh karena itu, diperlukan suatu alat untuk

menilai kinerja perusahaan sebagai upaya untuk melindungi kepentingan kedua

belah pihak yang terikat kontrak (meminimalkan konflik kepentingan). Alat

tersebut berupa suatu informasi yang dihasilkan secara internal oleh perusahaan.

Laporan keuangan disusun berdasarkan akuntansi berbasis akrual (accrual

(17)

2

dasar pengambilan keputusan adalah laba yang dihasilkan perusahaan

(Subramanyam, 1996). Laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan merupakan

laba yang dihasilkan dengan metoda akrual (IAI, 2009). Menurut Dechow (1994),

laba akrual dianggap sebagai ukuran yang lebih baik atas kinerja perusahan

dibandingkan arus kas operasi karena akrual mengurangi masalah waktu dan

ketidaksepadanan (mismatching) yang terdapat dalam penggunaan arus kas dalam

jangka pendek.

Adanya fleksibilitas yang senantiasa terbuka dalam implementasi Prinsip

Akuntansi yang Berlaku Umum (Generally Accepted Accounting Principles)

menyebabkan manajemen dapat memilih kebijakan akuntansi dari berbagai

pilihan kebijakan yang ada, sehingga pada gilirannya fleksibilitas tersebut

memungkinkan dilakukannya pengelolaan laba (earnings management) oleh

manajemen perusahaan (Subramanyam, 1996). Informasi laba sebagai bagian dari

laporan keuangan, sering menjadi target rekayasa melalui tindakan oportunitis

manajemen untuk memaksimumkan kepuasannya tapi di sisi lain dapat merugikan

pemegang saham, kreditur dan investor (Nuryaman, 2009). Strategi ini

dikategorikan menjadi pilihan kebijakan/metoda akuntansi dan discretionary

accruals (kebijakan pengestimasian akuntansi). Discretionary accruals

merupakan strategi yang lebih sulit dideteksi sehingga pendeteksiannya

memerlukan penginvestigasian data dan analisis lebih rinci (Achmad et al.,

2007).

Kebijakan utang merupakan salah satu alternatif pendanaan perusahaan

(18)

3

utangnya akan mendapatkan penilaian kinerja yang baik dari kreditur. Hal ini

karena perjanjian utang digunakan oleh pemberi pinjaman komersial sebagai

sistem peringatan awal untuk memberikan sinyal masalah-masalah keuangan

peminjam (Herawati dan Baridwan, 2007). Kontrak utang sering kali

memasukkan perjanjian yang bersifat membatasi tindakan peminjam dan

menentukan pengawasan untuk memastikan bahwa syarat-syarat kontrak utang

terpenuhi.

Perjanjian utang dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk, kadang

mengacu sebagai perjanjian negatif dan positif. Perjanjian negatif umumnya

menunjukkan aktivitas tertentu yang mengakibatkan substitusi aset atau masalah

pembayaran kembali. Contoh perjanjian utang negatif mencakup larangan

terhadap merger, batasan peminjaman tambahan, batasan pembayaran dividen dan

excess cash sweeps. Perjanjian positif mensyaratkan peminjam melakukan

tindakan tertentu, seperti menjaminkan aset atau memenuhi benchmark tertentu

(biasanya rasio-rasio keuangan) yang mengindikasikan kesehatan keuangan.

Contoh umum perjanjian utang positif mencakup tingkat rasio current, leverage,

probabilitas dan net worth minimal atau maksimum. Jadi perjanjian utang baik

bentuk negatif maupun positif dapat digunakan untuk membatasi konflik

kepentingan yang potensial terjadi antara kreditur dan shareholders perusahaan.

Ketika suatu perjanjian dilanggar maka sebaliknya, perusahaan akan

mendapatkan penilaian kinerja yang buruk dari kreditur. Pelanggaran terhadap

batasan-batasan yang termuat dalam perjanjian utang merupakan hal yang

(19)

4

amat merugikan. Pelanggaran perjanjian cenderung dapat memberikan beban

yang berat bagi perusahaan. Perusahaan pelanggar perjanjian utang secara

potensial menghadapi berbagai pinalti keuangan, seperti kemungkinan percepatan

jatuh tempo utang, peningkatan dalam tingkat bunga, negosiasi ulang masa utang

(Beneish dan Press, 1995).

Teori keagenan menyatakan bahwa agen biasanya bersikap oportunis dan

tidak menyukai risiko (risk averse). Karena itu, perusahaan khususnya manajer

perusahaan yang mendekati atau telah melanggar perjanjian utang akan berusaha

untuk mementingkan kepentingannya sendiri dan menghindari risiko yang ada.

Debt-covenant hypothesis menyatakan jika semua hal lain tetap sama, semakin

dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang berbasis akuntansi,

lebih mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang

memindahkan laba yang dilaporkan dari perioda masa datang ke perioda saat ini.

Alasannya bahwa laba bersih yang dilaporkan naik akan mengurangi probabilitas

kegagalan teknis (Scott, 2000). Jadi, sangat dimungkinkan manajer perusahaan

mempengaruhi angka-angka akuntansi pada laporan keuangan, khususnya angka

laba bottom line.

Berdasarkan hipotesis debt covenant, perusahaan dengan tingkat leverage

yang tinggi termotivasi untuk melakukan manajemen laba agar terhindar dari

pelanggaran penjanjian utang. Pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to

equity tinggi, manajer perusahaan cenderung menggunakan metoda akuntansi

yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan dengan rasio debt to

(20)

5

dari pihak kreditur bahkan perusahaan terancam melanggar perjanjian utang.

Widyaningdyah (2001) menemukan hubungan positif antara leverage dengan

manajemen laba.

Sweeney (1994) mengevaluasi perubahan metoda akuntansi dari 130

perusahaan yang melanggar perjanjian kredit. Perubahan metoda akuntansi yang

teridentifikasi adalah perubahan depresiasi, perubahan LIFO, FIFO, perubahan

umur ekonomis aktiva, dan perubahan dalam alokasi biaya overhead. Penelitian

ini memberikan bukti bahwa manajer perusahaan merespon pemilihan metoda

akuntansi yang menaikkan laba dalam hal menghindari pelanggaran perjanjian

utang.

Temuan-temuan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pola

manajemen laba yang dilakukan manajemen perusahaan tergantung pada motivasi

dilakukannya manajemen laba. Beberapa studi sebelumnya telah menemukan

indikasi bahwa manajer perusahaan yang mengalami tekanan keuangan,

khususnya perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang akan menanggapi

dengan pilihan kebijakan akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan

yaitu DeFond dan Jiambalvo (1994); Sweeney (1994); Peltier-Rivest (1999);

Jaggi dan Lee (2001); dan Rosner (2003) untuk menghindari atau menangguhkan

kos pelanggaran. Beberapa studi lain menyatakan bahwa manajer lebih mungkin

melakukan manajemen laba yang menurunkan laba untuk menyoroti kesulitan

keuangan perusahan yaitu DeAngelo et al. (1994); dan Saleh dan Ahmed (2005)

agar memperoleh jangka waktu yang lebih baik dalam negosiasi ulang kontrak

(21)

6

hipotesis perjanjian utang. Hipotesis dalam penelitian ini didasari pada motivasi

manajemen berdasarkan the debt covenant hypothesis. Pada perusahaan yang

melanggar perjanjian utang, sebelum melanggar perjanjian utang manajer

termotivasi menggunakan metoda akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan

atau laba untuk menghindari masalah teknis pelanggaran perjanjian utang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah:

1) Apakah manajemen perusahaan yang melanggar perjanjian utang

melakukan manajemen laba melalui discretionary accruals yang

meningkatkan laba?

2) Apakah manajemen laba perusahaan yang melanggar perjanjian utang

lebih besar daripada manajemen laba perusahaan yang tidak melanggar

perjanjian utang?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui secara empiris:

1) Manajemen perusahaan yang melanggar perjanjian utang melakukan

manajemen laba melalui discretionary accruals yang meningkatkan laba.

2) Manajemen laba perusahaan yang melanggar perjanjian utang lebih besar

daripada manajemen laba perusahaan yang tidak melanggar perjanjian

(22)

7 1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan

memberikan manfaat:

1) Praktisi

Penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan mengenai praktik

manajemen laba perusahaan yang melanggar perjanjian utang pada industri

manufaktur yang terdaftar di BEI dan dapat menjadi bahan pertimbangan

para investor dalam melakukan penilaian yang tepat terhadap perusahaan.

2) Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai

motivasi manajemen melakukan praktik manajemen laba, serta dapat

dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya.

3) Regulator

Hasil penelitian ini dapat menguatkan kebijakan-kebijakan dalam

meminimalkan praktik manajemen laba melalui evaluasi peraturan-peraturan

yang telah dikeluarkan dengan menambahkan kewajiban pengungkapan

(23)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Agency Theory

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa teori keagenan

mendeskripsikan pemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai

agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk

bekerja demi kepentingan pemegang saham. Untuk itu manajemen diberikan

sebagian kekuasaan untuk membuat keputusan bagi kepentingan terbaik

pemegang saham. Oleh karena itu, manajemen wajib mempertanggungjawabkan

semua upayanya kepada pemegang saham. Karena unit analisis dalam teori

keagenan adalah kontrak yang melandasi hubungan antara prinsipal dan agen,

maka fokus dari teori ini adalah pada penentuan kontrak yang paling efisien yang

mendasari hubungan antara prinsipal dan agen. Untuk memotivasi agen maka

prinsipal merancang suatu kontrak agar dapat mengakomodasi kepentingan

pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak keagenan. Kontrak yang efisien adalah kontrak

yang memenuhi dua faktor, yaitu :

1) Agen dan prinsipal memiliki informasi yang simetris artinya baik agen

maupun prinsipal memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama

sehingga tidak terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan untuk

(24)

9

2) Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil yang

berarti agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang

diterimanya.

Pada kenyataannya informasi simetris itu tidak pernah terjadi, karena manajer

berada di dalam perusahaan sehingga manajer mempunyai banyak informasi

mengenai perusahaan, sedangkan prinsipal sangat jarang atau bahkan tidak pernah

datang ke perusahaan sehingga informasi yang diperoleh sangat sedikit. Hal ini

menyebabkan kontrak efisien tidak pernah terlaksana sehingga hubungan agen

dan prinsipal selalu dilandasi oleh asimetri informasi. Agen sebagai pengendali

perusahaan pasti memiliki informasi yang lebih baik dan lebih banyak

dibandingkan dengan prinsipal. Di samping itu, karena verifikasi sangat sulit

dilakukan, maka tindakan agen pun sangat sulit untuk diamati. Dengan demikian,

membuka peluang agen untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri

(oportunistis) dengan melakukan tindakan yang tidak semestinya atau sering

disebut dysfunctional behavior. Dapat berupa memanfaatkan aset perusahaan

untuk kepentingan pribadi, perekayasaan kinerja perusahaan, maupun mangkir

kerja.

Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak antara prinsipal dengan

agen, pada intinya adanya pemisahan antara kepemilikan (investor) dan

pengelolaan (manajer/agen). Adanya pemisahan kepemilikan oleh prinsipal

dengan pengendalian oleh agen dalam suatu organisasi cenderung menimbulkan

konflik keagenan diantara prinsipal dan agen. Jensen dan Meckeling (1976) dan

(25)

10

dengan angka-angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik diantara

pihak-pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan yang dilaporkan oleh agen

sebagai pertanggungjawaban kinerjanya, digunakan oleh prinsipal untuk menilai,

mengukur, dan mengawasi sampai sejauh mana agen bekerja untuk meningkatkan

kesejahteraannya dan sebagai dasar pemberian kompensasi kepada agen. Biaya

keagenan yang timbul akibat adanya konflik kepentingan ini adalah biaya

pengawasan (monitoring costs), biaya penjaminan (bonding costs), dan rugi

residual (residual loss). Untuk mengurangi biaya keagenan dapat ditempuh

beberapa mekanisme yaitu melalui kepemilikan saham perusahaan bagi manajer,

penggabungan sumber pendanaan dari pinjaman dan ekuitas, serta pembagian

dividen (Crutchley dan Hansen, 1989 dalam Yasa, 2010).

Masalah keagenan dapat timbul antara berbagai pihak di dalam perusahaan

yaitu: (1) antara manajer dengan pemegang saham, (2) antara pemegang saham

dan kreditur, dan (3) antara manajer dengan konsumen. Masalah keagenan antara

manajer dengan pemegang saham timbul karena pemegang saham bertujuan untuk

memaksimumkan kekayaannya dengan melihat nilai sekarang dari arus kas yang

dihasilkan oleh investasi perusahaan, sedangkan manajer bertujuan pada

peningkatan pertumbuhan dan ukuran perusahaan. Mekanisme penggunaan utang

di dalam struktur modal merupakan salah satu upaya pemegang saham untuk

mengatasi masalah keagenan yang timbul karena pemisahan antara pengelolaan

dan kepemilikan perusahaan. Implikasi positif dari penggunaan utang adalah

(26)

11

dengan covenant yang disepakati. Konsep yang melandasi penggunaan utang

sebagai peredam masalah keagenan adalah (Jensen dan Meckeling, 1976):

1) Penggunaan utang sebagai pembiayaan eksternal akan memperkecil

penerbitan saham sehingga proporsi saham terhadap utang di dalam struktur

modal akan semakin kecil

2) Penggunaan utang akan mencegah manajer untuk menggunakan free cash

flow secara berlebihan bagi kepentingan pribadinya karena perusahaan harus

menyediakan arus kas bagi pembayaran bunga pinjaman secara regular dan

tetap jumlahnya.

Walaupun utang dapat mengatasi masalah keagenan antara manajer dengan pemegang saham, tetapi masalah baru timbul antara manajer-pemegang saham dengan kreditur karena (Jensen dan Meckling, 1976): (1) keputusan investasi dan operasi tetap pada manajer-pemegang saham. Bisa terjadi dana yang berasal dari kreditur bukan digunakan untuk investasi dengan net present value positif tetapi digunakan untuk pembayaran dividen sehingga perusahaan default, (2) manajer-pemegang saham melakukan investasi pada proyek yang berisiko tinggi karena memberikan ekspektasi imbal hasil yang tinggi pula. Jika proyek berhasil maka utang secara penuh dibayar dan imbal hasil yang tersisa seluruhnya menjadi milik pemegang saham. Tetapi jika gagal maka utang tidak dibayar atau perusahaan default. Akhirnya yang menderita kerugian lebih besar adalah kreditur karena jika sukses hanya menerima hasil tetap sedangkan jika gagal harus menderita kerugian yang sama besar dengan pemegang saham.

(27)

12

Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena

informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik

untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi

kelangsungan hidup suatu perusahaan. Informasi yang lengkap, akurat dan tepat

waktu sangat diperlukan oleh investor dan kreditur sebagai alat analisis untuk

mengambil keputusan investasi dan kredit. Apabila pengumuman tersebut

mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu

pengumuman tersebut diterima oleh pasar.

Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan harga saham pada

waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi

tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis

informasi tersebut sebagai sinyal baik (good news) atau sinyal buruk (bad news).

Jika pengumuman informasi tersebut sebagai sinyal baik bagi investor, maka

terjadi perubahan dalam harga saham, harga saham menjadi naik. Sementara, jika

pengumuman tersebut merupakan sinyal baik bagi kreditur, perusahaan mampu

memenuhi persyaratan perjanjian kredit maka manajer perusahaan mendapatkan

penilaian kinerja yang baik oleh kreditur. Pengumuman informasi akuntansi

memberikan sinyal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa

mendatang (good news) sehingga kreditur tertarik untuk melakukan pemberian

kredit.

Teori signal menjelaskan alasan perusahaan untuk memberikan informasi

laporan keuangan pada pihak eksternal terkait dengan adanya asimetri informasi

(28)

13

perusahaan memiliki lebih banyak informasi serta mengetahui prospek perusahaan

di masa yang akan datang. Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan,

informasi kebijakan perusahaan maupun informasi lain yang dilakukan secara

sukarela oleh manajemen perusahaan. Teori signal mengemukakan tentang

bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan signal-signal kepada

pengguna laporan keuangan. Signal ini berupa informasi mengenai apa yang

sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Signal

dapat berupa promosi atau informasi lainnya yang menyatakan bahwa perusahaan

tersebut lebih baik daripada perusahaan lainnya (Machfoedz, 1999 dalam Yasa,

2010).

Laporan keuangan seharusnya memberikan informasi yang berguna bagi

investor dan kreditur karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar

ketidakpastiannya, yang akan digunakan untuk membuat keputusan investasi,

kredit dan keputusan sejenis. Laporan keuangan dan rasio akuntansi dapat

menjadi signal kondisi perusahaan dan menggambarkan kemungkinan yang

terjadi sehubungan dengan utang yang dimiliki perusahaan.

2.3. Manajemen Laba

Laporan keuangan yang disusun berdasarkan akuntansi akrual

memberikan keunggulan karena informasi laba perusahaan dan pengukuran

komponennya mempunyai indikasi yang lebih baik dibandingkan informasi yang

dihasilkan dari akuntansi berbasis kas (Financial Accounting Standard Board

(FASB), 1978). Dalam pelaksanaannya, Standar Akuntansi memperbolehkan

(29)

14

kebijakan ini menimbulkan peluang bagi manajer untuk mengelola laba (Sari dan

Bandi, 2010).

Secara singkat Scott (2003) mendefinisikan bahwa manajemen laba adalah

tindakan yang dilakukan melalui pilihan kebijakan akuntansi untuk memperoleh

tujuan tertentu, misalnya untuk memenuhi kepentingan sendiri atau meningkatkan

nilai pasar perusahaan mereka. Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai

pelaporan keuangan yang tidak netral yang didalamnya manajer secara intensif

melakukan campur tangan untuk menghasilkan beberapa keuntungan pribadi.

Manajer dapat melakukan campur tangan dengan memodifikasi tentang

bagaimana mereka menginterpretasikan berbagai standar akuntansi keuangan dan

data akuntansi (Healy dan Wahlen, 1999). Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (menurunkan) laba yang dilaporkan saat kini dari suatu unit yang menjadi tanggung jawab manajer tanpa mengkaitkan dengan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang (Fischer dan Rosenzweig, 1995). Praktik manajemen laba menyebabkan reliabilitas dari laba tereduksi, karena di

dalam manajemen laba terdapat pembiasan pengukuran laba sehingga pelaporan

laba menjadi tidak seperti yang seharusnya dilaporkan.

Perilaku manajemen laba dapat dijelaskan melalui Positive Accounting

Theory (PAT) dan Agency Theory. Tiga hipotesis PAT yang dapat dijadikan dasar

pemahaman tindakan manajemen laba yang dirumuskan oleh Watts dan

Zimmerman (1986) adalah:

(30)

15

Para manajer yang bekerja pada perusahaan yang menerapkan rencana bonus

akan berusaha mengatur laba yang dilaporkannya dengan tujuan dapat

memaksimalkan jumlah bonus yang akan diterimanya. Manajer perusahaan

akan lebih memilih metoda akuntansi yang dapat menggeser laba dari masa

depan ke masa kini sehingga dapat menaikkan laba saat ini. Hal ini

dikarenakan manajer lebih menyukai pemberian upah yang lebih tinggi untuk

masa kini. Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba

terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba

berada di bawah bogey, tidak ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan

jika laba berada di atas cap, manajer tidak akan mendapat bonus tambahan.

Jika laba bersih berada di bawah bogey, manajer cenderung memperkecil laba

dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada perioda berikutnya,

demikian pula jika laba berada di atas cap. Jadi hanya jika laba bersih berada

di antara bogey dan cap, manajer akan berusaha menaikkan laba bersih

perusahaan.

2) The Debt to Equity Hypothesis (Debt Covenant Hypothesis)

Hipotesis ini menyatakan bahwa semakin dekat suatu perusahaan kepada

waktu pelanggaran perjanjian utang maka para manajer akan cenderung

untuk memilih metoda akuntansi yang dapat memindahkan laba perioda

mendatang ke perioda berjalan dengan harapan dapat mengurangi

kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran kontrak utang. Pada

perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity tinggi, manajer perusahaan

(31)

16

pendapatan atau laba. Perusahaan dengan rasio debt to equity yang tinggi

akan mengalami kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak

kreditur bahkan perusahaan terancam melanggar perjanjian utang.

3) The Political Cost Hypothesis (Size Hypothesis)

Hipotesis ini menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan dengan skala besar

dan industri strategis cenderung untuk menurunkan laba guna mengurangi

tingkat visibilitasnya terutama saat perioda kemakmuran yang tinggi. Upaya

ini dilakukan dengan harapan memperoleh kemudahan serta fasilitas dari

pemerintah. Biaya politik muncul dikarenakan profitabilitas perusahaan yang

tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen.

Beberapa penelitian lain juga menjelaskan motivasi dalam melakukan

manajemen laba diantaranya adalah motivasi pasar modal karena adanya insentif

bagi manajer untuk memanipulasi laba dengan tujuan mempengaruhi kinerja

harga saham dalam jangka pendek. Beberapa faktor yang dapat memotivasi

manajer melakukan manajemen laba (Scott, 2000), yaitu:

1) Rencana bonus (Bonus scheme)

Para manajer yang bekerja pada perusahaan yang menerapkan rencana bonus

akan berusaha mengatur laba yang dilaporkannya dengan tujuan dapat

memaksimalkan jumlah bonus yang akan diterimanya.

2) Kontrak utang jangka panjang (Debt covenant).

Semakin dekat suatu perusahaan kepada waktu pelanggaran perjanjian utang

maka para manajer akan cenderung untuk memilih metoda akuntansi yang

(32)

17

harapan dapat mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran

kontrak utang.

3) Motivasi politik (Political motivation)

Perusahaan-perusahaan dengan skala besar dan industri strategis cenderung

untuk menurunkan laba guna mengurangi tingkat visibilitasnya terutama saat

perioda kemakmuran yang tinggi. Upaya ini dilakukan dengan harapan

memperoleh kemudahan serta fasilitas dari pemerintah.

4) Motivasi perpajakan (Taxation motivation)

Perpajakan merupakan salah satu motivasi mengapa perusahaan mengurangi

laba yang dilaporkan. Tujuannya adalah dapat meminimalkan jumlah pajak

yang harus dibayar.

5) Pergantian CEO (Chief Executive Officer)

Biasanya CEO yang akan pensiun atau masa kontraknya menjelang berakhir

akan melakukan strategi memaksimalkan jumlah pelaporan laba guna

meningkatkan jumlah bonus yang akan mereka terima. Hal yang sama akan

dilakukan oleh manajer dengan kinerja yang buruk. Tujuannya adalah

menghindarkan diri dari pemecatan sehingga mereka cenderung untuk

menaikkan jumlah laba yang dilaporkan.

6) Penawaran saham perdana (Initial public offering)

Menyatakan bahwa pada awal perusahaan menjual sahamnya kepada publik,

informasi keuangan yang dipublikasikan dalam prospectus merupakan

sumber informasi yang sangat penting. Informasi ini penting karena dapat

(33)

18

perusahaan. Guna mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh para investor

maka manajer akan berusaha untuk menaikkan jumlah laba yang dilaporkan

Pola manajemen laba menurut Scott (2003) dapat dilakukan dengan cara:

1) Taking a bath

Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan Chief Executive

Officer (CEO) baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar.

Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa yang akan datang.

2) Income minimization

Income minimization adalah menurunkan jumlah laba yang akan dilaporkan.

Cara ini dilakukan saat perusahaan memperoleh tingkat profitabilitas yang

tinggi dengan maksud untuk memperoleh perhatian secara politis. Kebijakan

yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tak

berwujud, pembebanan pengeluaran iklan, riset dan pengembangan

dipercepat.

3) Income maximization

Income maximization adalah memaksimalkan laba yang dilaporkan agar

memperoleh bonus yang lebih besar, income maximization dilakukan pada

saat laba mengalami penurunan. Kecenderungan manajer untuk

memaksimalkan laba juga dapat dilakukan pada perusahaan yang melakukan

suatu pelanggaran perjanjian utang.

(34)

19

Income smoothing dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang

dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar

karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

Manajemen laba dilakukan melalui pemilihan kebijakan akuntansi atau

dengan mengendalikan transaksi akrual. Transaksi akrual merupakan transaksi

yang tidak berpengaruh terhadap aliran kas masuk ataupun kas keluar. Transaksi

akrual terdiri dari transaksi diskresioner dan non-diskresioner. Akrual diskresioner

adalah akrual yang masih dapat diubah atau dipengaruhi oleh kebijakan yang

dibuat manajemen atau manajemen mempunyai beberapa fleksibilitas untuk

mengendalikan jumlahnya, misalnya penentuan ketetapan kebijakan pemberian

kredit, kebijakan cadangan kerugian piutang dagang, dan penilaian persediaan.

Akrual non-diskresioner adalah akrual yang tidak dapat dipengaruhi oleh

kebijakan yang dibuat manajemen atau manajemen tidak mempunyai fleksibilitas

untuk mengendalikan jumlahnya, misalnya penggunaan metoda akuntansi dalam

perusahaan minyak antara full method dan successful effort, dan perubahan akrual

karena perubahan volume bisnis (Scott, 2000). Manajemen laba yang berusaha

meninggikan (menurunkan) laba menyebabkan adanya akrual diskresioner positif

(negatif).

Teknik manajemen laba (Setiawati dan Na’im, 2000) dapat dilakukan dengan

tiga cara, yaitu:

(35)

20

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement (perkiraan) terhadap

estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi

kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud,

estimasi biaya dan lain-lain.

2) Mengubah metoda akuntansi

Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi,

contohnya merubah metoda depresiasi aktiva tetap dari metoda depresiasi

angka tahun ke metoda depresiasi garis lurus.

3) Menggeser perioda biaya atau pendapatan

Beberapa contoh rekayasa perioda biaya atau pendapatan antara lain

mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan

sampai pada perioda akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda

pengeluaran promosi sampai perioda berikutnya, mempercepat atau menunda

pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang

sudah tidak dipakai.

2.4 Kredit (Utang)

Pengertian kredit menurut UU Perbankan Nomor 10 tahun 1998 adalah

penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan

persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain

yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu

tertentu dengan pemberian bunga. Kredit adalah pemberian prestasi oleh suatu

pihak lain yang akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu disertai dengan

(36)

21

akan dikembalikan pada masa yang akan datang (Rahmadana dan Lumbanraja,

2002).

Kreditur adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau

pemerintah) yang memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti

atau layanan jasa yang diberikannya (biasanya dalam bentuk kontrak atau

perjanjian) dimana diperjanjikan bahwa pihak kedua tersebut akan

mengembalikan properti atau jasa yang nilainya sama. Pihak kedua ini disebut

sebagai peminjam atau yang berutang (http://id.wikipedia.org/wiki/kreditur, 20

April 2011).

2.5 Manajemen Laba dan Perjanjian Utang

Kebijakan utang merupakan salah satu alternatif pendanaan perusahaan

selain menjual saham di pasar modal. Perusahaan yang memenuhi perjanjian

utangnya akan mendapatkan penilaian kinerja yang baik dari kreditur. Hal ini

karena perjanjian utang digunakan oleh pemberi pinjaman komersial sebagai

sistem peringatan awal untuk memberikan sinyal masalah-masalah keuangan

peminjam (Herawati dan Baridwan, 2007).

Teori keagenan menyatakan bahwa agen biasanya bersikap oportunis dan

tidak menyukai risiko (risk averse). Karena itu, perusahaan khususnya manajer

perusahaan yang mendekati atau telah melanggar perjanjian utang akan berusaha

untuk mementingkan kepentingannya sendiri dan menghindari risiko yang ada.

Debt-covenant hypothesis menyatakan jika semua hal lain tetap sama, semakin

dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang berbasis akuntansi,

(37)

22

memindahkan laba yang dilaporkan dari perioda masa datang ke perioda saat ini.

Alasannya bahwa laba bersih yang dilaporkan naik akan mengurangi probabilitas

kegagalan teknis (Scott, 2000). Jadi, sangat dimungkinkan manajer perusahaan

mempengaruhi angka-angka akuntansi pada laporan keuangan, khususnya angka

laba bottom line.

Manajemen laba dilakukan melalui pemilihan kebijakan akuntansi atau

dengan mengendalikan transaksi akrual. Transaksi akrual merupakan transaksi

yang tidak berpengaruh terhadap aliran kas masuk ataupun kas keluar. Transaksi

akrual terdiri dari transaksi diskresioner dan non-diskresioner. Manajemen laba

dapat didefinisikan sebagai pelaporan keuangan yang tidak netral yang

didalamnya manajer secara intensif melakukan campur tangan untuk

menghasilkan beberapa keuntungan pribadi. Manajer dapat melakukan campur

tangan dengan memodifikasi tentang bagaimana mereka menginterpretasikan

berbagai standar akuntansi keuangan dan data akuntansi (Healy dan Wahlen,

1999).

Studi Defond dan Jiambalvo (1994) dan Sweeney (1994) menunjukkan

bahwa perusahaan pelanggar perjanjian utang menggunakan akrual untuk

meningkatkan laba tahun sebelumnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa

manajer berusaha untuk memperlihatkan bahwa kinerja tahun sebelumnya adalah

lebih baik. Hasil investigasi Achmad et al. (2007) menunjukkan bahwa

peningkatan motivasi perjanjian utang (debt covenant) meningkatkan praktik

manajemen laba. Alasannya bahwa motivasi debt covenant merupakan praktik

(38)

23

sebagai sesuatu yang pantas dilakukan oleh manajer, karena dimotivasi untuk

mencari pendanaan perusahaan dan terkesan bahwa perusahaan kesulitan menjual

sahamnya di pasar modal.

Penelitian Dechow et al. (1995), Jones dan Sharma (2001) dalam Tarjo

(2009), dan Widyaningdyah (2001) menemukan bahwa leverage berpengaruh

signifikan terhadap manajemen laba. Temuan tersebut sesuai dengan debt

covenant hypothesis yang menyatakan bahwa jika semua hal yang lain tetap sama

dan semakin dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang berbasis

akuntansi, maka lebih mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur

akuntansi yang memindahkan laba yang dilaporkan dari perioda mendatang ke

perioda sekarang. Hal tersebut dilakukan karena laba bersih yang dilaporkan naik

akan mengurangi kemungkinan kegagalan membayar utang-utangnya pada masa

mendatang (Scott, 2003:277). Naiknya laba yang dilaporkan bisa menarik

perhatian bagi kreditur untuk memberikan tambahan pinjaman. Beberapa studi

lain menyatakan bahwa manajer lebih mungkin melakukan manajemen laba yang

menurunkan laba untuk menyoroti kesulitan keuangan perusahan yaitu De Angelo

et al. (1994); dan Saleh dan Ahmed (2005).

Temuan penelitian-penelitian sebelumnya tersebut menunjukkan bahwa

pola manajemen laba yang dilakukan manajemen perusahaan bergantung pada

motivasi dilakukannya manajemen laba. Apabila motivasi manajemen perusahaan

adalah untuk mempertahankan posisi/pekerjaannya di perusahaan (Peltier-Rivest,

1999) atau untuk menghindari atau menangguhkan kos pelanggaran (DeFond dan

(39)

24

Ahmed, 2005) maka teori perjanjian utang menyatakan bahwa manajer

perusahaan akan menggunakan manajemen laba yang meningkatkan laba yang

dilaporkan. Apabila motivasi manajemen perusahaan adalah untuk menunjukkan

kesulitannya supaya memperoleh jangka waktu yang lebih baik dalam negosiasi

ulang kontrak utang (DeAngelo et al., 1994; Saleh dan Ahmed, 2005) atau adanya

jaminan bahwa kreditur akan memberikan pembebasan tuntutan pelanggaran

perjanjian utang (Jaggi dan Lee, 2001) maka manajer perusahaan akan

menggunakan manajemen laba yang menurunkan laba yang dilaporkan.

2.6 Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai manajemen laba dimulai dengan penelitian Healy

(1985), penelitian ini menurut Scott (2000) diakui sebagai penelitian terbaik untuk

manajemen laba. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan program bonus

manajer dengan cara memaksimalkan bonus untuk mengatur laba bersih. Jika laba

bersih rendah (di bawah laba bersih yang ditentukan untuk mendapatkan bonus),

maka manajer akan terdorong untuk mengecilkan laba serendah mungkin dengan

memilih kebijakan akuntansi yang dapat mengurangi jumlah laba bersih dengan

maksud pada tahun berikutnya laba bersih dapat meningkat sehingga mancapai

laba bersih yang mendatangkan bonus. Hal yang sama juga dilakukan apabila laba

bersih terlalu tinggi (di atas cap), manajer terdorong untuk memilih kebijakan dan

prosedur akuntansi yang dapat mengurangi laba bersih, karena manajer akan

kehilangan bonus permanen atas laba bersih.

Penelitian Sweeney (1994) serta DeFond dan Jiambalvo (1994) mengenai

(40)

25

management. Sweeney (1994) menguji debt covenant hypothesis dengan

menganalisis perubahan metoda akuntansi dari 130 perusahaan yang melanggar

perjanjian kredit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajer perusahaan yang

melanggar perjanjian kredit cenderung memilih metoda akuntansi yang

berdampak pada peningkatan laba. Perubahan metoda akuntansi yang

teridentifikasi dalam penelitian ini antara lain: perubahan metoda depresiasi,

adopsi metoda last in first out (LIFO), adopsi metoda first in first out (FIFO),

perubahan umur ekonomi aktiva dan perubahan dalam alokasi biaya lain-lain.

Penelitian DeFond dan Jiambalvo (1994) mendeteksi manipulasi accrual

dari perusahaan yang melakukan kontrak utang. Sampel penelitian adalah 94

perusahaan yang melakukan pelanggaran kontrak utang antara tahun 1985--1988.

Hasil penelitian menunjukkan adanya dukungan bahwa kontrak utang

mempengaruhi pilihan akuntansi perusahaan. Hal ini tampak pada pilihan

akuntansi perusahaan satu perioda sebelum dan pada perioda pelanggaran

perjanjian kredit.

Neill et al. (1995) melakukan pengujian manajemen laba pada 2609

perusahaan yang melakukan IPO (Initial Public Offering) pada tahun 1975 sampai

1984. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan memilih

metoda akuntansi yang dapat mempertinggi pelaporan pendapatan dan nilai aset

untuk mempengaruhi penerimaan kas dari penawaran perdana dan terdapat

hubungan positif yang signifikan antara pilihan metoda akuntansi yang digunakan

(41)

26

Perusahaan yang menggunakan metoda akuntansi konservatif menerima hasil

pendapatan IPO yang lebih rendah.

Veronica dan Utama (2005) meneliti mengenai pengaruh struktur

kepemilikan, ukuran perusahaan, dan praktik Corporate Governance terhadap

pengelolaan laba. Struktur kepemilikan diproksikan dengan kepemilikan

institusional dan kepemilikan keluarga bukan konglomerasi, ukuran perusahaan

diproksikan dengan kapitalisasi pasar, dan Corporate Governance (CG)

diproksikan dengan audit oleh KAP (Kantor Akuntan Publik) Big 4, proporsi

dewan komisaris independen dan keberadaan komite audit. Pengelolaan laba

diproksikan menggunakan discretionary accrual. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa struktur kepemilikan dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap praktik

pengelolaan laba sedangkan mekanisme CG tidak berpengaruh signifikan

terhadap praktik pengelolaan laba.

Herawati dan Baridwan (2007) meneliti manajemen laba pada perusahaan

yang melanggar perjanjian kredit. Penelitian ini menggunakan 13 perusahaan

pelanggar perjanjian utang dan 20 perusahaan kontrol. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa rata-rata discretionary accruals perioda sebelum melanggar

perjanjian utang secara statistis signifikan lebih besar daripada rata-rata akrual

diskresioner perioda saat perusahaan melanggar perjanjian utang. Namun,

rata-rata discretionary accruals perioda saat dan perioda setelah melanggar perjanjian

utang secara statistis tidak signifikan. Hal ini disebabkan karena adanya bias

(42)

27

Yasa (2010) menguji praktik manajemen laba pada perusahaan yang

melakukan pemeringkatan obligasi perdana. Penelitian ini mencakup dua isu.

Pertama menyangkut pengaruh informasi dan rasio keuangan terhadap peringkat

obligasi. Isu kedua adalah manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan yang

akan mengeluarkan obligasi untuk pertama kalinya sebelum proses pemberian

peringkat obligasi. Pengujian hipotesis dengan menggunakan discriminant

analysis beberapa informasi dan rasio keuangan seperti log natural laba operasi,

laba yang ditahan, aliran kas operasi, dan likuiditas mampu membedakan antar

kelompok peringkat obligasi. Perusahaan penerbit obligasi melakukan manajemen

laba dengan cara menaikkan jumlah akrual diskresioner saat publikasi laporan

keuangan auditan sebelum perioda penerbitan obligasi.

Ringkasan mengenai penelitian sebelumnya disajikan pada Tabel 2.1

berikut.

Tabel 2.1

Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya No Nama Peneliti Variabel Penelitian Teknik Analisis Data Hasil Penelitian 1. Healy (1985) Manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals Independent sample t-test

Jika laba bersih berada dibawah cap atau laba bersih berada diatas bogey maka manajer terdorong untuk memilih kebijakan akuntansi yang mengecilkan laba. Jika laba bersih berada diantara

cap dan bogey maka manajer

cenderung menggunakan

metode akuntansi yang

meningkatkan laba. 2 Sweeney (1994) Manajemen laba diproksikan dengan discretionary Paired Sample t-test

Manajer perusahaan yang melanggar perjanjian kredit cenderung memilih metoda akuntansi yang berdampak pada peningkatan laba.

(43)

28

accruals Perubahan metoda akuntansi

yang teridentifikasi dalam penelitian ini antara lain: perubahan metoda depresiasi, adopsi metoda last in first out (LIFO), adopsi metoda first

in first out (FIFO), perubahan

umur ekonomi aktiva dan perubahan dalam alokasi biaya lain-lain. 3 DeFond dan Jiambalvo (1994) Manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals Paired Sample t-test

Hasil penelitian menunjukkan

adanya dukungan bahwa

kontrak utang mempengaruhi pilihan akuntansi perusahaan. Hal ini tampak pada pilihan akuntansi perusahaan satu perioda sebelum dan pada

perioda pelanggaran perjanjian kredit. 4 Neil et al. (1995) Manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals Paired Sample t-test

Hasil penelitian menunjukkan

bahwa sebagian besar

perusahaan memilih metoda

akuntansi yang dapat

mempertinggi pelaporan

pendapatan dan nilai aset

untuk mempengaruhi

penerimaan kas dari

penawaran perdana dan

terdapat hubungan positif yang signifikan antara pilihan

metoda akuntansi yang

digunakan perusahaan

dengan besarnya pendapatan yang diterima perusahaan saat go public. 5 Veronica dan Uttama (2005) Variabel dependen: manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals Variabel independen: struktur Regresi linear berganda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kepemilikan

dan ukuran perusahaan

berpengaruh terhadap praktik pengelolaan laba sedangkan

mekanisme CG tidak

berpengaruh signifikan

terhadap praktik pengelolaan laba.

(44)

29 kepemilikan, ukuran perusahaan dan GC 6 Herawati dan Baridwan (2007) Manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals Paired Sample t-test

Perusahaan yang melanggar perjanjian utang melakukan

manajemen laba yang

menaikkan laba saat perioda t-1 sebelum pelanggaran perjanjian utang. Perusahaan yang melanggar perjanjian utang dan perusahaan control

sama-sama melakukan

manajemen laba pada perioda sebelum dan saat pelanggaran perjanjian utang. 7 Yasa (2010) Variabel dependen: manajemen laba diproksikan dengan discretionary accruals. Variabel independen rasio keuangan Discriminant analysis Independent Sample t-test

Beberapa informasi dan rasio keuangan seperti log natural laba operasi, laba yang ditahan, aliran kas operasi,

dan likuiditas mampu

membedakan antar kelompok

peringkat obligasi.

Perusahaan penerbit obligasi melakukan manajemen laba

dengan cara menaikkan

jumlah akrual diskresioner saat publikasi laporan keuangan auditan sebelum perioda penerbitan obligasi.

(45)

30 BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Berpikir

Salah satu syarat kualitas informasi akuntansi menurut SFAC (Statement

of Financial Accounting Concepts) No. 2 adalah comparability, artinya harus

dapat saling dibandingkan yaitu memiliki prinsip akuntansi yang sama baik untuk

satu perusahaan maupun perusahaan lain. Comparability dalam perusahaan yang

sama dilakukan dengan perioda sebelumnya maupun dengan jangka waktu yang

berbeda. Prinsip akuntansi yang dipakai dalam laporan keuangan tahunan juga

digunakan ketika misalnya laporan keuangan bulanan, triwulan, tengah tahunan

dibuat. Laporan keuangan yang baik adalah laporan keuangan yang dapat

memberikan informasi yang benar kepada pemakainya. Pemakai laporan

keuangan akan menggunakan informasi untuk berbagai keputusan; misalnya

investasi dan pemberian kredit. Sehingga penyajian laporan keuangan tidak boleh

terjadi manipulasi serta diungkapkan secara penuh.

Menurut perspektif agency theory, dalam sebuah entitas terdapat dua pihak

yang melakukan kontrak yaitu pihak internal/manajemen (agen) dan pihak

eksternal (prinsipal). Agen merupakan manajemen dari perusahaan, tetapi sebagai

prinsipal dapat berbeda menurut kontrak yang dilakukan, antara lain pemegang

saham, kreditur, dan pemerintah. Manajemen memiliki keinginan untuk

meningkatkan laba, mendapatkan kredit, kemudahan dalam memperoleh sumber

(46)

31

juga memiliki keinginan untuk mendapatkan pengembalian/timbal balik yang

layak untuk meningkatkan kekayaan.

Media komunikasi yang biasanya digunakan untuk menghubungkan antara

manajemen dengan pihak eksternal (prinsipal) perusahaan adalah laporan

keuangan yang disajikan oleh manajemen. Pihak eksternal akan lebih

memperhatikan informasi laba dari sebuah laporan keuangan dengan alasan dapat

digunakan untuk menaksir risiko dalam investasi dan kredit. Dalam agency theory

hubungan antara agen dan prinsipal berada dalam kondisi ketidakseimbangan

informasi (asimetri informasi). Ketidakseimbangan informasi muncul karena

manajemen (agen) sebagai pengelola perusahaan mempunyai informasi yang lebih

banyak dibandingkan dengan pihak eksternal (prinsipal) yang tidak mungkin

mendapatkan seluruh informasi perusahaan. Manajemen yang mendapatkan

informasi relatif lebih banyak mempunyai fleksibilitas dalam mempengaruhi

laporan keuangan, khususnya laba, untuk memaksimalkan kepentingannya dan

nilai pasar perusahaan dengan melakukan earnings management (manajemen

laba).

Manajemen laba dapat muncul karena peluang kebijakan akuntansi yang

fleksibel dalam menghitung laba dengan metoda pencatatan yang berbeda dari

suatu fakta dan adanya subyektifitas dalam estimasi. Praktik manajemen laba

dapat membuat bias laporan keuangan sehingga mempengaruhi keputusan

pemakai laporan keuangan. Perusahaan publik yang merupakan perusahaan

terbuka, baik dalam laporan keuangan maupun kepemilikan, seharusnya menjadi

(47)

32

Manajemen laba dilakukan dengan pengelolaan transaksi yang terkait

dengan akrual yang berada di bawah kebijakan manajemen. Apabila terjadi

manajemen laba maka earnings akan berubah dan total akrual yang terkandung

didalamnya juga mengalami perubahan, sehingga discretionary accruals secara

tidak langsung juga akan berubah. Tidak semua pihak eksternal mempunyai

keinginan yang sama terhadap angka yang disajikan dalam laporan keuangan.

Leverage ratio merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar

perusahaan dibelanjai dengan utang, menjadi perhatian kreditur dan pemegang

saham. Kreditur menginginkan adanya leverage ratio yang rendah untuk

menjamin keberadaan utang. Perusahaan yang mempunyai leverage ratio tinggi

kemungkinan besar akan melakukan manajemen laba. Perusahaan yang tidak

dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada waktunya berusaha

menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat meningkatkan

pendapatan atau laba dan diharapkan dapat memperbaiki posisi keuangan dalam

negosiasi ulang dengan kreditur.

Perusahaan yang memenuhi perjanjian utangnya akan mendapatkan

penilaian kinerja yang baik dari kreditur. Hal ini karena perjanjian utang

digunakan oleh pemberi pinjaman komersial sebagai sistem peringatan awal untuk

memberikan sinyal masalah-masalah keuangan peminjam. Ketika suatu perjanjian

dilanggar maka sebaliknya, perusahaan akan mendapatkan penilaian kinerja yang

buruk dari kreditur.

Pelanggaran terhadap batasan-batasan yang termuat dalam perjanjian

(48)

33

pelanggaran perjanjian utang amat merugikan (Watts dan Zimmerman, 1986).

Pelanggaran perjanjian cenderung dapat memberikan beban yang berat bagi

perusahaan. Hal ini disebabkan perusahaan pelanggar perjanjian utang secara

potensial menghadapi berbagai pinalti keuangan, seperti kemungkinan percepatan

jatuh tempo utang, peningkatan dalam tingkat bunga, negosiasi ulang masa utang

(Beneish dan Press, 1995). Selain itu, pelanggaran awal atas perjanjian utang

dikaitkan dengan peningkatan signifikan pada risiko sistematis dan non-sistematis

serta menimbulkan kos pelanggaran yang substantial.

Teori keagenan menyatakan bahwa agen biasanya bersikap oportunis dan

tidak menyukai risiko (risk averse). Karena itu, perusahaan khususnya manajer

perusahaan yang mendekati atau telah melanggar perjanjian utang akan berusaha

untuk mementingkan kepentingannya sendiri dan menghindari risiko yang ada.

Debt-covenant hypothesis menyatakan bahwa jika semua hal lain tetap sama,

semakin dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang berbasis

akuntansi, lebih mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi

yang memindahkan laba yang dilaporkan dari perioda masa datang ke perioda saat

ini. Alasannya bahwa kenaikan laba bersih yang dilaporkan akan mengurangi

probabilitas kegagalan teknis (Scott, 2000). Jadi sangat dimungkinkan manajer

perusahaan mempengaruhi angka-angka akuntansi pada laporan keuangan,

khususnya angka laba bottom line.

Kerangka berpikir dari penelitian ini seperti pada Gambar 3.1 di halaman 34.

(49)

34

Praktik Manajemen Laba pada Perusahaan yang Melanggar Perjanjian Utang Kajian Teoritis: 1. Teori Agensi 2. Teori Signal Hipotesis Uji Statistik Rumusan Masalah Hasil Kajian Empiris: 1. Healy (1985) 2. Sweeney (1994) 3. DeFond dan Jiambalvo (1994) 4. Neill et al. (1995) 5. Veronica dan Utama (2005) 6. Herawati dan Baridwan 2007) 7. Yasa (2010)

Simpulan dan Saran

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir

Gambar

Gambar 3.1   Kerangka Berpikir
Gambar 3.2  Konsep Penelitian
Gambar 4.1  Rancangan Penelitian
Tabel  5.1  merupakan  ringkasan  mengenai  prosedur  pengambilan  sampel  dalam  penelitian  ini
+3

Referensi

Dokumen terkait

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk

Diagram ini dibuat untuk menggambarkan sumber serta tujuan data yang akan di proses atau dengan kata lain diagram tersebut digunakan untuk menggambarkan sistem secara

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, dengan ini menyetujui untuk memberikan ijin kepada pihak Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus

ini dapat memberikan pengetahuan mengenai sebuah objek dengan bentuk tiga dimensi, dan melalui edugame ini pemain akan mendapatkan informasi mengenai hubungan dari

Adapun manfaat untuk mendapatkan sertifikasi ISO telah ditabulasi dan dibahas, keuntungan mendapatkan sertifikasi ISO antara lain memperoleh reputasi yang lebih baik,

[r]

Berdasarkan perubahan harga yang terjadi pada setiap kelompok komoditi tersebut, masing-masing kelompok pengeluaran memberikan andil inflasi sebagai berikut : kelompok bahan

Diberbagai daerah kesenian adalah merupakan bagian dari ciri sebuah daerah, maka daerah daerah urban seperti kota tangerang akan berbeda dengan daerah daerah yang