• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK PELLET KAYU GMELINA (Gmelina arborea Roxb.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARAKTERISTIK PELLET KAYU GMELINA (Gmelina arborea Roxb.)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK PELLET KAYU GMELINA (Gmelina arborea

Roxb.)

Moeh. Hady Akbar Zam,

Syahidah, Beta Putranto

Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar

Kampus Unhas Tamalanrea : Jl. P. Kemerdekaan Km. 10 Tlp. (0411) 585917 Makassar 90245 Email : [email protected]

ABSTRAK

Upaya pemanfaatan limbah menjadi barang yang berguna harus terus digalakkan, demikian pula dengan limbah kayu baik yang dihasilkan dari kegiatan pemanenan maupun dari limbah pengolahan kayu. Salah satu bentuk pemanfaatan limbah kayu adalah mengolah limbah menjadi pellet kayu sebagai salah satu jenis energi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pellet yang dibuat dari serbuk limbah kayu gmelina. Kayu gmelina dibuat serbuk menggunakanhammer milllalu disaring menggunakan saringan 22 dan 40 mesh. Serbuk ini dibiarkan hingga mencapai kadar air kering udara dan selanjutnya dimasukkan ke dalam cetakan lalu dipanaskan dan dikempa menggunakanhot press selama 20 menit dengan tekanan 100 kg/cm2. Suhu yang digunakan saat

pengempaan adalah 90oC, 110oC, dan 130oC dan masing-masing suhu diulangi sebanyak tiga kali. Selanjutnya

dilakukan pengujian pellet kayu dengan variabel pengamatan meliputi kadar air, kerapatan, kadar abu, nilai kalor, waktu penyalaan, dan laju pembakaran. Karakteristik pellet tersebut kemudian dibandingkan dengan standar pellet dari Austria, Selandia Baru, dan Swedia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pellet kayu gmelina tidak memenuhi standar Austria, Selandia Baru, dan Swedia. Semakin tinggi suhu yang diberikan menghasilkan kadar air pellet yang lebih rendah, kerapatan yang lebih tinggi, kadar abu yang relatif sama, nilai kalor yang lebih tinggi, waktu penyalaan yang lebih cepat, dan laju pembakaran yang relatif sama.

Kata Kunci : Pellet, kerapatan, kadar air, nilai kalor, kadar abu

PENDAHULUAN

Minyak bumi sebagai salah satu sumberdaya alam yang tak terbarukan merupakan sumber energi yang telah lama digunakan di seluruh dunia. Sumber energi ini menjadi salah satu penyebab pemanasan global, dimana sisa pembakarannya berupa gas karbondioksida (CO2) merupakan penyebab terjadinya efek rumah kaca yang

berdampak pada berbagai masalah lingkungan. Selain itu, masalah kelangkaan dan semakin naiknya harga minyak bumi di pasaran dunia merupakan masalah lain yang juga perlu mendapatkan perhatian serius. Kondisi ini memaksa untuk mencari sumber-sumber energi alternatif yang murah dan terbarukan. Saat ini, perkembangan sumber energi terbarukan semakin pesat untuk mewujudkan sumber energi yang murah, mudah diperoleh, dan ramah lingkungan. Berbagai sumber energi tersebut seperti pemanfaatan energi matahari, air, dan udara, serta pengolahan bahan baku dari berbagai jenis tumbuhan untuk biodiesel dan bioetanol. Selain itu, ada juga yang kembali mengelola sumberdaya alam penghasil energi yang paling kuno yaitu kayu.

Kayu merupakan salah satu sumber energi yang diharapkan dapat menggantikan sumber bahan bakar minyak dan gas bumi. Jika kayu langsung dijadikan sebagai bahan bakar mempunyai sifat-sifat yang kurang menguntungkan, antara lain mempunyai kadar air tinggi, volumeneous, mengeluarkan asap, banyak abu, dan nilai kalornya rendah. Salah satu bentuk pemanfaatan kayu sebagai sumber energi antara lain briket arang dan pellet kayu. Namun pembuatan briket arang mempunyai kelemahan yaitu kotor dalam hal pengemasan dan saat pemakaian.

Pellet kayu merupakan salah satu solusi dari kebutuhan sumber energi dari kayu. Dengan mengolah limbah kayu menjadi pellet dapat menghasilkan pellet kayu yang memiliki kadar air dan kadar abu yang rendah sehingga menghasilkan panas yang tinggi dan lebih bersih dibandingkan dengan kayu bakar biasa. Proses pembuatannyapun tidak menimbulkan pencemaran udara. Pengemasan dan pemakaian pellet kayu juga sangat mudah dan praktis serta tidak kotor. Di negara-negara Eropa dan Amerika pellet kayu telah berkembang sangat pesat, bahkan telah menjadi bahan bakar penghangat ruangan dan dijadikan sebagai sumber energi di beberapa pabrik. Kebutuhan pellet kayu sangat tinggi di Eropa dan Amerika, dari aspek ekonomi sangat potensial sebagai salah satu komoditi ekspor.

(2)

Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) termasuk tanaman penghasil kayu yang produktif. Banyak ditanam sebagai tanaman pelindung dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai tanaman komersil. Semua bagian pohon dapat dimanfaatkan, mulai dari batang, cabang bahkan ranting. Berdasarkan uraian tersebut maka dianggap perlu melakukan penelitian tentang karakteristik pellet yang dibuat dari kayu gmelina sebagai salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

BAHAN DAN METODE

Kayu gmelina sebagai bahan baku digiling menggunakan hammer mill lalu disaring menggunakan ayakan 22 mesh dan 40 mesh. Serbuk yang lolos dari ayakan 22 mesh dan tertahan di ayakan 40 mesh adalah serbuk yang digunakan. Serbuk ini dibiarkan hingga mencapai kadar air kering udara. Selanjutnya serbuk yang telah kering udara kemudian ditimbang sebanyak 1,5 gram kemudian dimasukkan ke setiap lubang alat cetak yang terdiri atas 9 lubang dengan diameter lubang masing-masing 0,8 cm dan tinggi lubang 6 cm. Alat cetak yang telah berisi serbuk dipanaskan hingga mencapai suhu yang dikehendaki yaitu 90ºC, 110ºC, dan 130ºC, kemudian dipress dengan tekanan 100 kg/cm². Sesudah mengalami pengepresan, didiamkan selama 20 menit dan sampel dikeluarkan dari alat cetak. Pembuatan pellet pada setiap suhu perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Karakteristik pellet yang diamati adalah kadar air, kerapatan, kadar abu, nilai kalor, waktu penyalaan dan laju pembakaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kadar Air

Hasil penelitian mengenai kadar air pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kadar Air Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata persentase kadar air pellet lebih rendah dibandingkan dengan kayu solidnya sebagai kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan maka kadar airnya semakin rendah. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kadar air di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kadar air kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet. Kadar air pellet dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C, begitu pula perlakuan suhu 110⁰C

12.02 -1.00 1.00 3.00 5.00 7.00 9.00 11.00 13.00 Kontrol K ad ar A ir ( % )

Gmelina (Gmelina arboreaRoxb.) termasuk tanaman penghasil kayu yang produktif. Banyak ditanam sebagai tanaman pelindung dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai tanaman komersil. Semua bagian pohon dapat dimanfaatkan, mulai dari batang, cabang bahkan ranting. Berdasarkan uraian tersebut maka dianggap perlu melakukan penelitian tentang karakteristik pellet yang dibuat dari kayu gmelina sebagai salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

BAHAN DAN METODE

Kayu gmelina sebagai bahan baku digiling menggunakan hammer mill lalu disaring menggunakan ayakan 22 mesh dan 40 mesh. Serbuk yang lolos dari ayakan 22 mesh dan tertahan di ayakan 40 mesh adalah serbuk yang digunakan. Serbuk ini dibiarkan hingga mencapai kadar air kering udara. Selanjutnya serbuk yang telah kering udara kemudian ditimbang sebanyak 1,5 gram kemudian dimasukkan ke setiap lubang alat cetak yang terdiri atas 9 lubang dengan diameter lubang masing-masing 0,8 cm dan tinggi lubang 6 cm. Alat cetak yang telah berisi serbuk dipanaskan hingga mencapai suhu yang dikehendaki yaitu 90ºC, 110ºC, dan 130ºC, kemudian dipress dengan tekanan 100 kg/cm². Sesudah mengalami pengepresan, didiamkan selama 20 menit dan sampel dikeluarkan dari alat cetak. Pembuatan pellet pada setiap suhu perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Karakteristik pellet yang diamati adalah kadar air, kerapatan, kadar abu, nilai kalor, waktu penyalaan dan laju pembakaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kadar Air

Hasil penelitian mengenai kadar air pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kadar Air Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata persentase kadar air pellet lebih rendah dibandingkan dengan kayu solidnya sebagai kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan maka kadar airnya semakin rendah. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kadar air di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kadar air kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet. Kadar air pellet dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C, begitu pula perlakuan suhu 110⁰C

12.02

4.77

2.09

1.31 Kontrol Suhu 90⁰C Suhu 110⁰C Suhu 130⁰C

Perlakuan

Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) termasuk tanaman penghasil kayu yang produktif. Banyak ditanam sebagai tanaman pelindung dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai tanaman komersil. Semua bagian pohon dapat dimanfaatkan, mulai dari batang, cabang bahkan ranting. Berdasarkan uraian tersebut maka dianggap perlu melakukan penelitian tentang karakteristik pellet yang dibuat dari kayu gmelina sebagai salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

BAHAN DAN METODE

Kayu gmelina sebagai bahan baku digiling menggunakan hammer mill lalu disaring menggunakan ayakan 22 mesh dan 40 mesh. Serbuk yang lolos dari ayakan 22 mesh dan tertahan di ayakan 40 mesh adalah serbuk yang digunakan. Serbuk ini dibiarkan hingga mencapai kadar air kering udara. Selanjutnya serbuk yang telah kering udara kemudian ditimbang sebanyak 1,5 gram kemudian dimasukkan ke setiap lubang alat cetak yang terdiri atas 9 lubang dengan diameter lubang masing-masing 0,8 cm dan tinggi lubang 6 cm. Alat cetak yang telah berisi serbuk dipanaskan hingga mencapai suhu yang dikehendaki yaitu 90ºC, 110ºC, dan 130ºC, kemudian dipress dengan tekanan 100 kg/cm². Sesudah mengalami pengepresan, didiamkan selama 20 menit dan sampel dikeluarkan dari alat cetak. Pembuatan pellet pada setiap suhu perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Karakteristik pellet yang diamati adalah kadar air, kerapatan, kadar abu, nilai kalor, waktu penyalaan dan laju pembakaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kadar Air

Hasil penelitian mengenai kadar air pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kadar Air Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 1 menunjukkan bahwa nilai rata-rata persentase kadar air pellet lebih rendah dibandingkan dengan kayu solidnya sebagai kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan maka kadar airnya semakin rendah. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kadar air di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kadar air kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet. Kadar air pellet dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C, begitu pula perlakuan suhu 110⁰C

1.31 Suhu 130⁰C

(3)

meningkat. Banyaknya air yang terlepas sangat dipengaruhi oleh waktu dan suhu yang diberikan. Sementara itu perbedaan kadar air yang terjadi saat suhu dinaikkan dan sebagian besar air yang terlepas terjadi saat awal pemanasan. Jika dibandingkan dengan standar kadar air pellet kayu dari Austria (maks. 12 %), Selandia Baru (maks. 8 %), dan Swedia (maks. 10 %), maka kadar air pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh ketiga negara tersebut.

B. Kerapatan

Kerapatan pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerapatan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kerapatan pellet lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan pada proses pembuatan maka kerapatannya semakin tinggi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap kerapatan pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kerapatan di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kerapatan kayu solid berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Kerapatan pellet dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C, begitu pula perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga oleh karena pemberian tekanan yang tinggi pada saat proses pembuatan pellet menyebabkan kerapatan pellet menjadi tinggi, saat pemberian tekanan yang tinggi juga diikuti dengan pemberian panas sehingga lignin yang ada pada kayu melemah disertai dengan adanya hemiselulosa yang terdegradasi mengakibatkan terjadinya ikatan silang antara lignin yang satu dengan yang lain saat suhu kembali normal (Hill, 2006). Jika dibandingkan dengan standar kadar air pellet dari Selandia Baru (min. 641 kg/m3= 0,641 g/cm3), dan Swedia (min. 600 kg/m3= 0,6 g/cm3), maka kerapatan pellet kayu gmelina dari

semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh kedua negara tersebut. Sedangkan untuk Austria tidak ada standar yang disebutkan untuk kerapatan.

C. Kadar Abu

Kadar abu pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 3 berikut : 0.56 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00 Kontrol K er ap at an ( g /c m 3)

meningkat. Banyaknya air yang terlepas sangat dipengaruhi oleh waktu dan suhu yang diberikan. Sementara itu perbedaan kadar air yang terjadi saat suhu dinaikkan dan sebagian besar air yang terlepas terjadi saat awal pemanasan. Jika dibandingkan dengan standar kadar air pellet kayu dari Austria (maks. 12 %), Selandia Baru (maks. 8 %), dan Swedia (maks. 10 %), maka kadar air pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh ketiga negara tersebut.

B. Kerapatan

Kerapatan pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerapatan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kerapatan pellet lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan pada proses pembuatan maka kerapatannya semakin tinggi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap kerapatan pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kerapatan di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kerapatan kayu solid berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Kerapatan pellet dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C, begitu pula perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga oleh karena pemberian tekanan yang tinggi pada saat proses pembuatan pellet menyebabkan kerapatan pellet menjadi tinggi, saat pemberian tekanan yang tinggi juga diikuti dengan pemberian panas sehingga lignin yang ada pada kayu melemah disertai dengan adanya hemiselulosa yang terdegradasi mengakibatkan terjadinya ikatan silang antara lignin yang satu dengan yang lain saat suhu kembali normal (Hill, 2006). Jika dibandingkan dengan standar kadar air pellet dari Selandia Baru (min. 641 kg/m3= 0,641 g/cm3), dan Swedia (min. 600 kg/m3= 0,6 g/cm3), maka kerapatan pellet kayu gmelina dari

semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh kedua negara tersebut. Sedangkan untuk Austria tidak ada standar yang disebutkan untuk kerapatan.

C. Kadar Abu

Kadar abu pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :

0.92 0.94 0.96

Suhu 90⁰C Suhu 110⁰C Suhu 130⁰C

Perlakuan

meningkat. Banyaknya air yang terlepas sangat dipengaruhi oleh waktu dan suhu yang diberikan. Sementara itu perbedaan kadar air yang terjadi saat suhu dinaikkan dan sebagian besar air yang terlepas terjadi saat awal pemanasan. Jika dibandingkan dengan standar kadar air pellet kayu dari Austria (maks. 12 %), Selandia Baru (maks. 8 %), dan Swedia (maks. 10 %), maka kadar air pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh ketiga negara tersebut.

B. Kerapatan

Kerapatan pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerapatan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kerapatan pellet lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan pada proses pembuatan maka kerapatannya semakin tinggi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap kerapatan pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kerapatan di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kerapatan kayu solid berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Kerapatan pellet dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C, begitu pula perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga oleh karena pemberian tekanan yang tinggi pada saat proses pembuatan pellet menyebabkan kerapatan pellet menjadi tinggi, saat pemberian tekanan yang tinggi juga diikuti dengan pemberian panas sehingga lignin yang ada pada kayu melemah disertai dengan adanya hemiselulosa yang terdegradasi mengakibatkan terjadinya ikatan silang antara lignin yang satu dengan yang lain saat suhu kembali normal (Hill, 2006). Jika dibandingkan dengan standar kadar air pellet dari Selandia Baru (min. 641 kg/m3= 0,641 g/cm3), dan Swedia (min. 600 kg/m3= 0,6 g/cm3), maka kerapatan pellet kayu gmelina dari

semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh kedua negara tersebut. Sedangkan untuk Austria tidak ada standar yang disebutkan untuk kerapatan.

C. Kadar Abu

Kadar abu pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :

(4)

Gambar 3. Kadar Abu Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar abu kayu solid sebagai kontrol dan pellet dengan berbagai perlakuan suhu relatif sama. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pellet pada berbagai perlakuan suhu dan kontrol berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu. Abu ialah mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar (Dumanauw, 1990). Abu yang tersisa dari proses pembakaran terdiri atas bahan-bahan anorganik pada kayu sedangkan bahan organiknya habis terbakar. Sjostrom (1995) mengemukakan bahwa abu asalnya terutama dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding-dinding sel dan lumen. Endapan yang khas adalah berbagai garam-garam logam, seperti karbonat, silikat, oksalat, dan fosfat. Komponen logam yang paling banyak jumlahnya adalah kalsium diikuti kalium dan magnesium. Dalam proses pengabuan, bahan-bahan organik yang terkandung dalam kayu akan terbakar sedangkan bahan-bahan anorganik akan tertinggal. Pada proses pembuatan pellet kayu tidak dapat mengubah bahan anorganik yang memang sudah ada dalam kayu. Jika dibandingkan dengan standar kadar abu pellet kayu dari Negara Austria (maks. 0,5 %), Selandia Baru (maks. 1 %), dan Swedia (maks. 0,1 %), maka kadar abu pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu hanya memenuhi standar dari Selandia Baru, sedangkan standar Austria dan Swedia tidak terpenuhi.

D. Nilai Kalor

Nilai kalor pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 4. 0.80 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00 Kontrol K ad ar A b u ( % ) 8.56 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 N il ai K al o r (M J /k g )

Gambar 3. Kadar Abu Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar abu kayu solid sebagai kontrol dan pellet dengan berbagai perlakuan suhu relatif sama. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pellet pada berbagai perlakuan suhu dan kontrol berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu. Abu ialah mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar (Dumanauw, 1990). Abu yang tersisa dari proses pembakaran terdiri atas bahan-bahan anorganik pada kayu sedangkan bahan organiknya habis terbakar. Sjostrom (1995) mengemukakan bahwa abu asalnya terutama dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding-dinding sel dan lumen. Endapan yang khas adalah berbagai garam-garam logam, seperti karbonat, silikat, oksalat, dan fosfat. Komponen logam yang paling banyak jumlahnya adalah kalsium diikuti kalium dan magnesium. Dalam proses pengabuan, bahan-bahan organik yang terkandung dalam kayu akan terbakar sedangkan bahan-bahan anorganik akan tertinggal. Pada proses pembuatan pellet kayu tidak dapat mengubah bahan anorganik yang memang sudah ada dalam kayu. Jika dibandingkan dengan standar kadar abu pellet kayu dari Negara Austria (maks. 0,5 %), Selandia Baru (maks. 1 %), dan Swedia (maks. 0,1 %), maka kadar abu pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu hanya memenuhi standar dari Selandia Baru, sedangkan standar Austria dan Swedia tidak terpenuhi.

D. Nilai Kalor

Nilai kalor pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 4.

0.80 0.77 0.78

Suhu 90⁰C Suhu 110⁰C Suhu 130⁰C

Perlakuan

20.07 20.37 20.65

Gambar 3. Kadar Abu Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar abu kayu solid sebagai kontrol dan pellet dengan berbagai perlakuan suhu relatif sama. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pellet pada berbagai perlakuan suhu dan kontrol berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu. Abu ialah mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar (Dumanauw, 1990). Abu yang tersisa dari proses pembakaran terdiri atas bahan-bahan anorganik pada kayu sedangkan bahan organiknya habis terbakar. Sjostrom (1995) mengemukakan bahwa abu asalnya terutama dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding-dinding sel dan lumen. Endapan yang khas adalah berbagai garam-garam logam, seperti karbonat, silikat, oksalat, dan fosfat. Komponen logam yang paling banyak jumlahnya adalah kalsium diikuti kalium dan magnesium. Dalam proses pengabuan, bahan-bahan organik yang terkandung dalam kayu akan terbakar sedangkan bahan-bahan anorganik akan tertinggal. Pada proses pembuatan pellet kayu tidak dapat mengubah bahan anorganik yang memang sudah ada dalam kayu. Jika dibandingkan dengan standar kadar abu pellet kayu dari Negara Austria (maks. 0,5 %), Selandia Baru (maks. 1 %), dan Swedia (maks. 0,1 %), maka kadar abu pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu hanya memenuhi standar dari Selandia Baru, sedangkan standar Austria dan Swedia tidak terpenuhi.

D. Nilai Kalor

(5)

Gambar 4 menunjukkan bahwa nilai kalor rata-rata pellet lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu maka nilai kalornya semakin tinggi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap nilai kalor pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kadar air di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa nilai kalor kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Nilai kalor pellet kayu dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C dan perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga oleh karena adanya perbedaan kadar air yang ada pada kontrol dan pellet. Begitu pula yang terjadi pada pellet pada berbagai perlakuan. Selain itu perbedaan suhu pada tiap perlakuan mengakibatkan perbedaan jumlah zat ekstraktif yang hilang dan perbedaan struktur kimia yang terjadi seperti hemiselulosa yang terdegradasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Cahyono dkk. (2008) bahwa nilai kalor dipengaruhi oleh kadar air, susunan kimia kayu, dan jenis kayu. Jika dibandingkan dengan standar nilai kalor pellet kayu dari Austria (min. 18 MJ/kg), Selandia Baru (min. 19,1 MJ/kg), dan Swedia (min. 16,9 MJ/kg), maka nilai kalor pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh ketiga negara tersebut.

E. Waktu Penyalaan

Waktu penyalaan pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Waktu Penyalaan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 5 menunjukkan bahwa waktu penyalaan rata-rata pellet lebih cepat dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan semakin cepat waktu penyalaannya. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap lama penyalaan, sehingga dilakukan uji Tukey untuk melihat perbedaan lama penyalaan di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa waktu penyalaan kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Hal ini terjadi diduga karena akibat pengaruh luas permukaan partikel yang berbeda antara kayu solid dengan pellet yang dibuat dari serbuk kayu menyebabkan adanya perbedaan waktu penyalaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pratoto, dkk. (2010) bahwa tingginya densitas permukaan dari partikel kecil pada gilirannya meningkatkan luas kontak antara partikel biomassa dengan agen gasifikasi. Sedangkan waktu penyalaan pellet pada perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C dan perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga akibat kerapatan pellet, semakin tinggi kerapatan bahan bakar padat maka waktu penyalaannya semakin lambat (Widiarti dkk. 2010).

10.70 -1.00 1.00 3.00 5.00 7.00 9.00 11.00 Kontrol Suhu 90 ⁰C W a kt u P en ya la an (d et ik )

Gambar 4 menunjukkan bahwa nilai kalor rata-rata pellet lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu maka nilai kalornya semakin tinggi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap nilai kalor pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kadar air di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa nilai kalor kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Nilai kalor pellet kayu dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C dan perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga oleh karena adanya perbedaan kadar air yang ada pada kontrol dan pellet. Begitu pula yang terjadi pada pellet pada berbagai perlakuan. Selain itu perbedaan suhu pada tiap perlakuan mengakibatkan perbedaan jumlah zat ekstraktif yang hilang dan perbedaan struktur kimia yang terjadi seperti hemiselulosa yang terdegradasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Cahyono dkk. (2008) bahwa nilai kalor dipengaruhi oleh kadar air, susunan kimia kayu, dan jenis kayu. Jika dibandingkan dengan standar nilai kalor pellet kayu dari Austria (min. 18 MJ/kg), Selandia Baru (min. 19,1 MJ/kg), dan Swedia (min. 16,9 MJ/kg), maka nilai kalor pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh ketiga negara tersebut.

E. Waktu Penyalaan

Waktu penyalaan pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Waktu Penyalaan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 5 menunjukkan bahwa waktu penyalaan rata-rata pellet lebih cepat dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan semakin cepat waktu penyalaannya. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap lama penyalaan, sehingga dilakukan uji Tukey untuk melihat perbedaan lama penyalaan di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa waktu penyalaan kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Hal ini terjadi diduga karena akibat pengaruh luas permukaan partikel yang berbeda antara kayu solid dengan pellet yang dibuat dari serbuk kayu menyebabkan adanya perbedaan waktu penyalaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pratoto, dkk. (2010) bahwa tingginya densitas permukaan dari partikel kecil pada gilirannya meningkatkan luas kontak antara partikel biomassa dengan agen gasifikasi. Sedangkan waktu penyalaan pellet pada perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C dan perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga akibat kerapatan pellet, semakin tinggi kerapatan bahan bakar padat maka waktu penyalaannya semakin lambat (Widiarti dkk. 2010).

4.44

6.53 6.75

Suhu 90 ⁰C Suhu 110 ⁰C Suhu 130⁰C

Perlakuan

Gambar 4 menunjukkan bahwa nilai kalor rata-rata pellet lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu maka nilai kalornya semakin tinggi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap nilai kalor pellet, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan kadar air di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa nilai kalor kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Nilai kalor pellet kayu dengan perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C dan perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga oleh karena adanya perbedaan kadar air yang ada pada kontrol dan pellet. Begitu pula yang terjadi pada pellet pada berbagai perlakuan. Selain itu perbedaan suhu pada tiap perlakuan mengakibatkan perbedaan jumlah zat ekstraktif yang hilang dan perbedaan struktur kimia yang terjadi seperti hemiselulosa yang terdegradasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Cahyono dkk. (2008) bahwa nilai kalor dipengaruhi oleh kadar air, susunan kimia kayu, dan jenis kayu. Jika dibandingkan dengan standar nilai kalor pellet kayu dari Austria (min. 18 MJ/kg), Selandia Baru (min. 19,1 MJ/kg), dan Swedia (min. 16,9 MJ/kg), maka nilai kalor pellet kayu gmelina dari semua perlakuan suhu telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh ketiga negara tersebut.

E. Waktu Penyalaan

Waktu penyalaan pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Waktu Penyalaan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 5 menunjukkan bahwa waktu penyalaan rata-rata pellet lebih cepat dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan pada pellet terjadi kecenderungan semakin tinggi suhu yang diberikan semakin cepat waktu penyalaannya. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap lama penyalaan, sehingga dilakukan uji Tukey untuk melihat perbedaan lama penyalaan di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa waktu penyalaan kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet kayu. Hal ini terjadi diduga karena akibat pengaruh luas permukaan partikel yang berbeda antara kayu solid dengan pellet yang dibuat dari serbuk kayu menyebabkan adanya perbedaan waktu penyalaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pratoto, dkk. (2010) bahwa tingginya densitas permukaan dari partikel kecil pada gilirannya meningkatkan luas kontak antara partikel biomassa dengan agen gasifikasi. Sedangkan waktu penyalaan pellet pada perlakuan suhu 130⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 110⁰C dan perlakuan suhu 110⁰C berbeda nyata dengan perlakuan suhu 90⁰C. Hal ini terjadi diduga akibat kerapatan pellet, semakin tinggi kerapatan bahan bakar padat maka waktu penyalaannya semakin lambat (Widiarti dkk. 2010).

(6)

F. Laju Pembakaran

Laju pembakaran pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini:

Gambar 6. Laju Pembakaran Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 6 menunjukkan bahwa laju pembakaran rata-rata pellet lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan pada pellet laju pembakaran pada berbagai perlakuan suhu relatif sama. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap laju pembakaran, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan laju pembakaran di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa laju pembakaran kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet. Sedangkan laju pembakaran pellet kayu pada semua perlakuan suhu berbeda tidak nyata, artinya tidak ada pengaruh perlakuan suhu terhadap laju pembakaran pellet yang dihasilkan. Laju pembakaran kontrol dengan pellet berbeda sangat nyata akibat luas permukaan partikel yang berbeda antara kayu solid dengan pellet yang dibuat dari serbuk kayu yang menunjukkan perbedaan jenis bahan bakar. Selain faktor tersebut ada faktor lain yang mempengaruhi laju pembakaran. Saptoadi dan Himawanto (2011) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju pembakaran bahan bakar padat antara lain ukuran partikel, kecepatan aliran udara, suhu, jenis bahan bakar, tekanan, konsentrasi oksigen dan sifat dari reaksi elementer yang terjadi.

KESIMPULAN

1. Pellet kayu gmelina yang dihasilkan dalam penelitian ini tidak memenuhi standar Austria, Selandia Baru dan Swedia

2. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka kualitas pellet yang dihaslkan semakin baik. 8. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, T. D., Z. Coto, dan F. Febrianto. 2008. Analisis Nilai Kalor dan Kelayakan Ekonomis Kayu Sebagai Bahan Bakar Subtitusi Batu Bara di Pabrik Semen. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/31208105116.pdf. [24 Maret 2011].

Dumanaw, J.F. 1990. Mengenal Kayu. Kanisius. Semarang. 0.27 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00 Kontrol L aj u P em b ak ar an ( g /m e n it ) F. Laju Pembakaran

Laju pembakaran pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini:

Gambar 6. Laju Pembakaran Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 6 menunjukkan bahwa laju pembakaran rata-rata pellet lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan pada pellet laju pembakaran pada berbagai perlakuan suhu relatif sama. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap laju pembakaran, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan laju pembakaran di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa laju pembakaran kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet. Sedangkan laju pembakaran pellet kayu pada semua perlakuan suhu berbeda tidak nyata, artinya tidak ada pengaruh perlakuan suhu terhadap laju pembakaran pellet yang dihasilkan. Laju pembakaran kontrol dengan pellet berbeda sangat nyata akibat luas permukaan partikel yang berbeda antara kayu solid dengan pellet yang dibuat dari serbuk kayu yang menunjukkan perbedaan jenis bahan bakar. Selain faktor tersebut ada faktor lain yang mempengaruhi laju pembakaran. Saptoadi dan Himawanto (2011) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju pembakaran bahan bakar padat antara lain ukuran partikel, kecepatan aliran udara, suhu, jenis bahan bakar, tekanan, konsentrasi oksigen dan sifat dari reaksi elementer yang terjadi.

KESIMPULAN

1. Pellet kayu gmelina yang dihasilkan dalam penelitian ini tidak memenuhi standar Austria, Selandia Baru dan Swedia

2. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka kualitas pellet yang dihaslkan semakin baik. 8. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, T. D., Z. Coto, dan F. Febrianto. 2008. Analisis Nilai Kalor dan Kelayakan Ekonomis Kayu Sebagai Bahan Bakar Subtitusi Batu Bara di Pabrik Semen. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/31208105116.pdf. [24 Maret 2011].

Dumanaw, J.F. 1990. Mengenal Kayu. Kanisius. Semarang.

0.59 0.56 0.56

Suhu 90⁰C Suhu 110⁰C Suhu 130⁰C

Perlakuan F. Laju Pembakaran

Laju pembakaran pellet kayu gmelina dari berbagai perlakuan suhu dan kontrol dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini:

Gambar 6. Laju Pembakaran Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Gambar 6 menunjukkan bahwa laju pembakaran rata-rata pellet lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan pada pellet laju pembakaran pada berbagai perlakuan suhu relatif sama. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan suhu berpengaruh terhadap laju pembakaran, sehingga dilakukan Uji Tukey untuk melihat perbedaan laju pembakaran di antara perlakuan.

Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa laju pembakaran kontrol berbeda sangat nyata dengan pellet. Sedangkan laju pembakaran pellet kayu pada semua perlakuan suhu berbeda tidak nyata, artinya tidak ada pengaruh perlakuan suhu terhadap laju pembakaran pellet yang dihasilkan. Laju pembakaran kontrol dengan pellet berbeda sangat nyata akibat luas permukaan partikel yang berbeda antara kayu solid dengan pellet yang dibuat dari serbuk kayu yang menunjukkan perbedaan jenis bahan bakar. Selain faktor tersebut ada faktor lain yang mempengaruhi laju pembakaran. Saptoadi dan Himawanto (2011) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi laju pembakaran bahan bakar padat antara lain ukuran partikel, kecepatan aliran udara, suhu, jenis bahan bakar, tekanan, konsentrasi oksigen dan sifat dari reaksi elementer yang terjadi.

KESIMPULAN

1. Pellet kayu gmelina yang dihasilkan dalam penelitian ini tidak memenuhi standar Austria, Selandia Baru dan Swedia

2. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka kualitas pellet yang dihaslkan semakin baik. 8. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, T. D., Z. Coto, dan F. Febrianto. 2008. Analisis Nilai Kalor dan Kelayakan Ekonomis Kayu Sebagai Bahan Bakar Subtitusi Batu Bara di Pabrik Semen. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/31208105116.pdf. [24 Maret 2011].

Dumanaw, J.F. 1990. Mengenal Kayu. Kanisius. Semarang.

(7)

Saptoadi, H. dan A. Himawanto. 2011. Pemodelan Matematis Distribusi Temperatur pada Proses Pembakaran di Rangka Bakar (Bagian 1 : Distribusi Temperatur pada Permukaan atas Bahan Bakar). http://eprints.ums.ac.id/970/1/5_Harwin_Saptoadi_Dwi_Aries_himawanto_Pemodelan_Matematis_di.doc. [24 Maret 2011].

Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu, Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Widiarti, E. S., Sarwono, dan R. Hantoro. 2010. Studi Eksperimental Karakteristik Briket Organik Dengan Bahan Baku Dari PPLH Seloliman. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12999-Paper.pdf. [16 April 2011]

Gambar

Gambar 1. Kadar Air Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.
Gambar 2. Kerapatan Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.
Gambar 3. Kadar Abu Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.
Gambar 6. Laju Pembakaran Rata-rata Pellet Kayu Gmelina.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian membuktikan bahwa small diameter log sengon dan gmelina dicirikan dengan persentase kayu teras yang lebih rendah, tekstur kayu yang lebih kasar,

Secara keseluruhan sifat fisis papan partikel yang telah memenuhi standar SNI 03-2105-2006 yaitu kerapatan dan kadar air, sedangkan untuk sifat mekanisnya hanya pengujian

Hasil studi penyerapan minyak menunjukkan bahwa pellet yang terbuat dari serbuk Intsia bijuga mampu menyerap oli bekas dan minyak jelantah lebih dari 70%, dimana pellet A dan B

Pembangkit tenaga listrik berbahan bakar padat seperti batubara dapat dicampur dengan bahan bakar tradisional biomassa kayu pellet.. Cofiring secara teknikal memberikan pembakaran

Secara keseluruhan sifat fisis papan partikel yang telah memenuhi standar SNI 03-2105-2006 yaitu kerapatan dan kadar air, sedangkan untuk sifat mekanisnya hanya pengujian

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian arang kayu dan pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan semai gmelina pada media bekas tambang silika serta

Dari hasil analisis kerapatan pada kedua sampel dalam keadaan kering, dinyatakan bahwa semakin kecil ukuran serbuk maka nilai kerapatanya semakin meningkat, serbuk yang kecil memiliki

Grafik Kadar Air % Hasil analisis kadar air pellet serbuk gergaji dengan menggunakan alat pengujian moisture analyzer, menunjukkan bahwa ada perbedaan persentase kadar air dengan