• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Hidrologi pada DAS Dominasi Sawah. (Studi Kasus: Sub-DAS Langse, Kebumen)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Respon Hidrologi pada DAS Dominasi Sawah. (Studi Kasus: Sub-DAS Langse, Kebumen)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Respon Hidrologi pada DAS Dominasi Sawah (Studi Kasus: Sub-DAS Langse, Kebumen)

Lisa Anissa

[email protected] M. Pramono Hadi [email protected]

ABSTRACT

Rainfall, land use, and soil type are linked in forming runoff. Domination of paddy field in study area is basis for assessing effect of hydrological response. This study aims to determine physical characteristics of watershed in the form of Curve Number and flow characteristics of Langse Sub-watershed based on HEC-HMS modeling. Determination of CN based on SCS method and flood hydrograph model using trial and error method. Modeling results show average peak flow rate of 0.25 m3/ second with a short time base, average of 42 minutes and

an average time to become baseflow for 452 minutes.

Keywords: Hydrological response, paddy field, flood hydrograph, HEC-HMS ABSTRAK

Hujan, penggunaan lahan, dan jenis tanah saling terkait dalam pembentukan runoff. Dominasi

sawah merupakan dasar untuk mengkaji pengaruh respon hidrologi. Penelitian ini bertujuan

mengetahui karakteristik fisik DAS berupa Curve Number dan karakteristik aliran berdasarkan

pemodelan HEC-HMS. Penentuan CN berdasarkan metode SCS dan hidrograf banjir model

melalui metode trial and error. Hasil pemodelan rata-rata debit puncak 0,25 m3/detik dengan

waktu dasar yang singkat rata-rata 42 menit dan rata-rata waktu turun menjadi aliran dasar selama 452 menit.

(2)

PENDAHULUAN

Pengalihragaman hujan menjadi aliran

permukaan sangat dipengaruhi oleh

karakteristik hujan, dan karakteristik DAS seperti penggunaan lahan, karakteristik tanah, morfometri DAS, serta keadaan kelengasan tanah awal sebelum terjadinya

proses hujan menjadi limpasan.

Penggunaan lahan mampu mengontrol proses-proses dalam sistem hidrologi yaitu

intersepsi dan evapotranspirasi yang

berpengaruh terhadap penyimpanan dan aliran air (Nyeko et al, 2012). Jenis penggunaan lahan pada sistem DAS akan mempengaruhi kondisi aliran sungai, sehingga menyebabkan besaran limpasan permukaan tertentu dan fluktuasi aliran sungai.

Wilayah studi kasus dalam penelitian ini adalah Sub-DAS Langse yang terletak di Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sub-DAS Langse memiliki jenis penggunaan lahan yang didominasi lahan sawah, sehingga akan memberikan gambaran bagaimana lahan

sawah mempengaruhi karakteristik respon hidrologi pada suatu DAS. Salah satu untuk menganalisis respon hidrologi DAS dengan hidrograf banjir. Menurut Sene (2008) hidrograf banjir sangat berguna untuk mempelajari fluktuasi volume sungai dan waktu debit puncak. Dengan hidrograf banjir diperoleh hubungan antara hujan dengan debit aliran sungai dalam rentang waktu tertentu.

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka tujuan penelitian ini antara lain: 1) mengetahui karakteristik fisik DAS berupa nilai curve number (CN) sebagai pengaruh dari penggunaan lahan, kondisi hidrologi dan kelengasan tanah. 2) Mengetahui karakteristik aliran wilayah penelitian berdasarkan pemodelan HEC-HMS.

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam

penelitian ini meliputi: data curah hujan, data aliran, data DEM, peta RBI digital skala 1:25.000 (lembar peta Kebumen), peta tanah lembar Kebumen dan citra

(3)

Landsat Google Earth tahun 2019 daerah penelitian. Alat yang digunakan antara lain: alat tulis, 1 unit komputer, perangkat lunak ArcGIS, perangkat lunak HECGeoHMS, dan perangkat lunak HEC-HMS.

Penentuan Nilai Curve Number (CN) dengan SCS Curve Number (CN)

Curve number (CN) merupakan nilai koefisien aliran yang dipengaruhi oleh beberapa parameter antara lain jenis tanah, kandungan airtanah sebelumnya atau kelembapan tanah, dan penggunaan lahan. Parameter jenis tanah dirinci lebih lanjut dalam klasifikasi hidrologi tanah yang dilakukan dengan mempertimbangkan sifat tekstur tanah meliputi kapasitas air efektif dan laju infiltrasi.

Faktor kelembaban tanah dalam

metode SCS-CN dikenal dengan AMC (Antecedant Moisture Condition). Nilai kelembaban tanah dihitung berdasarkan catatan curah hujan 5 hari sebelumnya. AMC terbagi menjadi tiga jenis antara lain AMC pada kondisi kering (AMC I) dengan jumlah hujan selama 5 hari sebelumnya <

35 mm, AMC pada kondisi normal (AMC II) 35 – 53 mm, dan AMC pada kondisi basah (AMC III) > 53 mm. Nilai CN dalam kondisi basah dan kering ditentukan menggunakan persamaan (1) dan (2).

𝐴𝑀𝐶 𝐼 = 4,2𝐶𝑁(𝐼𝐼)

10−0,058𝐶𝑁(𝐼𝐼)……….(1) 𝐴𝑀𝐶 𝐼𝐼𝐼 = 23𝐶𝑁(𝐼𝐼)

10+0,13𝐶𝑁(𝐼𝐼)………(2)

Penggunaan lahan menurut SCS terdiri atas faktor penggunaan lahan, perlakuan, dan kondisi hidrologi. Jika pada suatu DAS memiliki berbagai penggunaan lahan dengan kondisi kelembaban tanah normal (AMC II), maka nilai CN yang dihitung merupakan nilai CN komposit dengan persamaan (3).

𝐶𝑁 𝑐𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑒 =∑ 𝐴𝑖𝐶𝑁𝑖

∑ 𝐴𝑖 ……….(3)

Analisis Hidrograf Banjir menggunakan HEC-HMS

Analisis hidrograf banjir dengan HEC-HMS terdiri dari dua jenis data, yaitu hidrograf banjir terukur dan hidrograf banjir model. Hidrograf banjir terukur diperoleh dari pasangan data hujan-aliran. Data debit aliran ditentukan dari pencatatan tinggi

(4)

muka air dengan persamaan alat ukur ambang tajam segitiga v-notch yang ditunjukkan pada persamaan (4).

Q = (8

15)√2. g. Cd.tan (

θ

2) (H)

5/2 ……….(4)

Validasi model dilakukan dengan membandingkan hidrograf hasil pemodelan dengan hidrograf terukur melalui kemiripan berbagai parameter model antara kedua hidrograf. Kriteria yang digunakan dalam validasi model antara lain kemiripan bentuk hidrograf hasil model dan hidrograf terukur, kesamaan waktu puncak banjir, serta nilai objective function kurang dari 10%. Proses kalibrasi data dilakukan pada parameter model yang bersifat sensitif dan curah hujan pada masing-masing sub-DAS.

HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi Penelitian

Sub-DAS Langse berdasarkan sistem koordinat Universal Transverse Mercator (UTM) terletak diantara koordinat 355253 – 355676 mT dan 9165067 – 9164376 mU. Sub-DAS ini secara administratif berada di Desa Langse, Kecamatan Karangsambung,

Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Luas Sub-DAS sebesar 6,6% dari total luas Desa Langse yakni 18,95 ha dari 287,24 ha.

Karakteristik Hujan

Karakteristik hujan tertentu yang jatuh di suatu DAS akan menghasilkan aliran tertentu pula (Hadi, 2006). Karakteristik hujan tersebut meliputi jumlah hujan (mm), durasi hujan (jam), dan intensitas hujan (mm/jam). Data hujan yang digunakan dalam analisis ini merupakan data hujan primer yang diukur secara langsung di lapangan berupa pengukur hujan otomatis

tipe tipping bucket. Pengamatan hujan

dilakukan pada 21 Januari hingga 1 Maret 2020.

Jumlah hujan yang berhasil terekam pada periode pengamatan sebanyak 691,2 mm dengan rata-rata jumlah hujan harian 17,28 mm. Hujan pada Sub-DAS Langse umumnya terjadi secara singkat yang memiliki durasi rata-rata 1,6 jam. Intensitas hujan harian pada wilayah kajian yaitu 9,29 mm/jam. Berdasarkan klasifikasi BMKG hujan Sub-DAS Langse pada periode

(5)

pengamatan termasuk dalam kategori hujan sedang.

Gambar 1. Grafik Curah Hujan Harian Sub-DAS Langse pada 23 Januari – 1

Maret 2020

Sumber: Hasil Olah Data, 2020 Gambar 1. menunjukkan jumlah curah hujan harian wilayah kajian pada periode pengamatan. Tebal hujan pada periode pengamatan di daerah kajian sangat variatif,

begitupula dengan intensitas hujan.

Diketahui puncak hujan pada Sub-DAS Langse terjadi pada tanggal 29 Januari 2020 dengan tebal hujan 125,4 mm. Hujan tersebut terjadi selama 4,17 jam dengan intensitas 30,19 mm/ jam sehingga merupakan hujan sangat lebat.

Analisis Nilai Curve Number (CN)

Nilai CN menggambarkan karakteristik fisik DAS sebagai pengaruh dari tanah, penggunaan lahan dan kondisi kelengasan

tanah (AMC). Penentuan nilai CN

berdasarkan SCS-CN dilakukan dengan menggabungkan penggunaan lahan dan kelompok hidrologi tanah (HSG). Sub-DAS Langse yang memiliki luas 20,24 ha yang tersusun oleh satu jenis tanah, yaitu Podsolik. Podsolik dikategorikan sebagai kelompok hidrologi tanah C, dengan laju infiltrasi lambat ketika tanah dalam kondisi basah dan memiliki potensi aliran limpasan cukup tinggi (Triatmojo, 2010).

Sub-DAS Langse hanya memiliki penggunaan lahan berupa sawah dan kebun campuran. Lahan sawah pada DAS ini mendominasi hingga 91,28% dari luas keseluruhan dengan jenis sawah tadah hujan. Bentuk penanaman mengikuti kontur dan berteras. Kebun campuran adalah penggunaan lahan lain yang terdapat pada Sub-DAS Langse dengan luas 1,72 ha atau 8,72%.

Persebaran nilai CN di Sub-DAS Langse dihitung berdasarkan satuan analisis sub-DAS. Nilai CN untuk masing-masing sub-DAS bervariasi antara 52 – 85,6 (Tabel 1.). Perbedaan nilai CN di setiap sub-DAS

0 50 100 150 C u rah H u jan (mm)

(6)

disebabkan oleh luas lahan sawah dan kebun campuran yang berbeda di masing-masing sub-DAS. Semakin besar nilai CN menunjukkan semakin sedikit jumlah air yang terinfiltrasi atau semakin besar jumlah limpasan yang akan terbentuk (Sutikno, et al., 2013).

Tabel 1. Curve Number Sub-DAS Langse

Tanggal Nilai CN berdasarkan tabel Acuan Nilai CN Hasil Kalibrasi Model Sub DAS 1 Sub DAS 2 Sub DAS 3 Sub DAS 1 Sub DAS 2 Sub DAS 3 27 Januari 2020 72,5 3 72,7 6 72,0 6 10,7 1 10,1 6 35,5 0 29 Januari 2020 85,8 6 86 85,5 7 18,7 1 25,1 6 12,5 0 27 Februari 2020 85,8 6 86 85,5 7 70,7 1 75,1 6 60,5 0 29 Februari 2020 85,8 6 86 85,5 7 77,7 1 90,1 6 60

Sumber: Hasil Olah Data, 2020

Analisis Hidrograf Banjir Model

Analisis hidrologi debit aliran Sub-DAS Langse dimodelkan menggunakan software HEC-HMS. Pemodelan dilakukan pada kejadian banjir 27 Januari, 29 Januari, 27 Februari, dan 29 Februari 2020 dengan membagi menjadi tiga sub-DAS. Gambar 2. menunjukkan hubungan antar komponen Sub-DAS Langse, diantaranya sub-DAS,

persimpangan (junction), penggal sungai

(reach), dan outlet.

Model hidrograf membutuhkan data parameter awal sebagai masukan dalam perhitungan pemodelan hidrograf banjir.

Metode perhitungan yang digunakan

meliputi pemodelan SCS Curve Number

untuk perhitungan loss, SCS Hydrograph

untuk perhitungan transformasi, dan

Recession untuk perhitungan baseflow.

Parameter model Sub-DAS Langse

ditunjukkan pada Tabel 2.

Gambar 2. Pembagian Konsep Sub-DAS Pemodelan Hidrologi

Sumber: Hasil Olah Data, 2020 Tabel 2. Parameter Model HEC-HMS

Parameter Sub-DAS 1 2 3 Morfometri DAS Luas (Km2) 0.09 0.05 0.04

Loss: SCS Curve

Number

Curve Number AMC II 72.5 72.8 72.1

Curve Number AMC III 85.9 86.0 85.6

Impervious Area (%) 0 0 0

initial abstraction AMC II (mm)

19.2 19.0 19.7

initial abstraction AMC III (mm)

8.4 8.3 8.6

Transform: SCS Unit Hydrograph

CN Lag Time (menit) 8.7 9.8 12.3

Baseflow Recession Initial Discharge (m3/ detik) 0.030 0.030 0.030 Recession Constant 0.9 0.9 0.9 Ratio to Peak 0.1 0.1 0.1

(7)

Pemodelan hidrograf banjir Sub-DAS Langse dilakukan menggunakan data curah hujan dan debit aliran dengan interval 5 menit. Proses kalibrasi diperlukan dalam pemodelan ini untuk mengubah besaran nilai parameter model sehingga hasil model memiliki selisih sekecil mungkin dengan

hasil pengukuran. Proses kalibrasi

dilakukan dengan metode coba ulang (trial and error) hingga mendapatkan model yang optimum.

Hidrograf banjir model setelah

melewati proses kalibrasi yang tepat akan memiliki kemiripan dengan hidrograf banjir terukur. Kemiripan tersebut ditunjukkan melalui bentuk hidrograf yang mendekati dan nilai fungsi objektif sekecil mungkin. Hidograf hasil kalibrasi terbaik pada setiap kejadian banjir ditunjukkan pada Gambar 4. Pemodelan hidrograf banjir Sub-DAS

Langse diperoleh hasil model yang baik, ditunjukkan melalui bentuk hidrograf yang mirip pada seluruh kejadian banjir. Tiga dari empat kejadian banjir tersebut memiliki waktu puncak yang sama antara

hidrograf banjir model dengan hidrograf banjir terukur. Selain itu, nilai objective function pada parameter debit puncak termasuk dalam kategori sangat baik, yaitu 1.6% pada 27 Januari, 0.2% pada 29 Januari, 1.1% pada 27 Februari, dan 1.9% pada 29 Februari 2020.

(a)

(b)

(8)

Gambar 4. Hidrograf H asil Model dan Terukur; (a) 27 Januari 2020, (b) 29 Januari 2020, (c) 27 Februari 2020, (d) 29

Februari 2020

Sumber: Hasil Olah Data, 2020 Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil

pemodelan telah mendekati hasil

pengukuran di lapangan. Hasil pemodelan

rata-rata debit puncak 0,25 m3/ detik dengan

waktu dasar yang singkat yaitu rata-rata 42 meni. Rata-rata waktu turun menjadi aliran dasar selama 452 menit.

Berdasarkan analisis HEC-HMS pada keempat hidrograf banjir, diketahui bahwa

parameter paling sensitif adalah nilai Curve

Number (CN). Perubahan nilai CN dalam proses kalibrasi mempengaruhi nilai yang berkaitan dengan kelengasan tanah. Nilai CN berdasarkan tabel acuan berkisar 52 – 85,6 dan mengalami perubahan setelah kalibrasi menjadi 10,16 – 90,16 (Tabel 1.).

Perbedaan nilai CN yang mengacu pada

tabel dengan optimalisasi model

menunjukkan bahwa nilai CN berdasarkan tabel acuan kurang tepat untuk mewakili kondisi sebenarnya di lapangan. Metode

penentuan nilai CN memerlukan

pembaruan sehingga diperoleh nilai CN yang lebih tepat dan spesifik.

KESIMPULAN

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan

bahwa 1) Karakteristik fisik DAS

berdasarkan nilai Curve Number (CN) untuk Sub-DAS Langse berkisar 52 – 85,6 pada kondisi kelengasan tanah normal dan basah. Namun, terdapat perbedaan dengan hasil kalibrasi model yang ditunjukkan bervariasi antara 10,16 – 90,16. 2) Hidrograf banjir model memiliki rata-rata

debit puncak 0,25 m3/detik dengan waktu

dasar yang singkat yaitu rata-rata 42 menit dan rata-rata waktu turun menjadi aliran dasar selama 452 menit.

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, M. P. (2006). Pemahaman

Karakteristik Hujan Sebagai Dasar (d)

(9)

Pemilihan Model Hidrologi (Studi Kasus di DAS Bengawan Solo

Hulu). Forum Geografi, 20(1),

13-26.

Nyeko, M., D'Urso, G. & Immerzeel, W.W. 2012. Adaptive simulation of the impact of changes in land use on water resources in the lower Aswa

basin. Journal of Agricultural

engineering, 42, e24.

Sene, K. (2008). Flood Warning,

Forcasting and Emergency Respone. United Kingdom: Springer Science.

Triatmodjo, B. 2010. Hidrologi Terapan.

Gambar

Gambar 1. Grafik Curah Hujan Harian  Sub-DAS Langse pada 23 Januari – 1
Tabel 1. Curve Number Sub-DAS Langse
Gambar 4. Hidrograf H asil Model dan  Terukur; (a) 27 Januari 2020, (b) 29  Januari 2020, (c) 27 Februari 2020, (d) 29

Referensi

Dokumen terkait

Korelasi kadar serum basal AMH dengan respons ovarium terhadap stimulasi ovulasi pada program fertilisasi in vitro.. Maheshwari, A, Hamilton M,

Kegiatan politik IV untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia semakin jelas dengan mengubah nama IV menjadi Indonesische Vereeninging 17 (Perhimpunan Indonesia

Dari beberapa definisi tentang basis data yang telah disebutkan diatas, dapat disimpulkan bahwa basis data merupakan kumpulan data yang terhubung secara logis dan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun aplikasi encode dan decode tree menggunakan Prufer code dan batasan yang dimiliki sistem yakni pengembangan

Dari analisis pengendalian erosi di Sungai Pedes, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya dinding penahan tanah, krib, tanggul bronjong dan sheet pile dapat melindungi

Perancangan dan pembangunan aplikasi pengecekan LJK tes psikologi Rothwell Miller Interest Blank (RMIB) dapat memeriksa hasil jawaban LJK keseluruhan dengan tepat dan

Sothink Glanda merupakan suatu produk baru dari Sothink untuk software pembuat flash, Sothink Glanda bisa digunakan untuk membuat amimasi flash yang menarik tanpa