• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH PENGGUNA ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) DALAM SISTEM PERBANKAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH PENGGUNA ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) DALAM SISTEM PERBANKAN DI INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH PENGGUNA

ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) DALAM SISTEM

PERBANKAN DI INDONESIA

Oleh:

Ni Nyoman Muryatini1

Abstract

Automated Teller Machine usage keeps on increasing. Likewise with case of crimes particulary those related to fraud of customer accounts through Automated

Teller Machines that customers suffered losses. The problems raised: what is the responsibility of the bank for the losses suffered by customers as a result of

frauds on their accounts via Automated Teller Machine? and what is the legal

protection that can be given to customers related to the fraud of their accounts

through Automated Teller Machine? Result of the research shows customers have their problems in the use of the Automated Teller Machine card because

the machine has been out of order or broken, then te bank will be responsible to provide compensation, otherwise if in the process of using automated teller machine card the error was on the side of customers, then the bank will not be responsible for the risk of losses suffered by the customers. Legal protection that can be provided is based on the Banking Law and Law on Customer Protection.

Keywords: legal protection, the customer, automated teller machine

Abstrak

Penggunaan sarana mesn Anjungan Tuna Mandr semakn menngkat. Begtu juga dengan kasus kejahatan terutama yang berkatan dengan pembobolan rekenng nasabah melalu mesn Anjungan Tuna Mandr sehngga nasabah mengalam kerugan. Permasalahan yang dangkat yatu bagamanakah tanggungjawab phak bank atas kerugan yang dderta konsumen akbat pembobolan rekenngnya melalu mesn Anjungan Tuna Mandr? dan bagamanakah perlndungan hukum yang dapat dberkan kepada nasabah terkat pembobolan rekenngnya melalu mesn Anjungan Tuna Mandr? Hasl peneltan bahwa apabla nasabah mengalam masalah dalam penggunaan kartu Anjungan Tuna Mandr jka mesn Anjungan Tuna Mandr telah mengalam gangguan atau mengalam kerusakan maka bank akan bertanggungjawab memberkan gant rug, apabla dalam proses penggunaan kartu Anjungan Tuna Mandr tersebut kesalahan berada pada phak nasabah maka bank tdak akan bertanggung jawab atas resko kerugan yang dalam oleh nasabah. Perlndungan hukum yang dapat dberkan berpedoman pada undang Perbankan dan juga Undang-undang Perlndungan Konsumen.

Kata Kunc: perlndungan hukum, nasabah, anjungan tuna mandr

1 Mahasswa Magster Ilmu Hukum Unverstas Udayana, Denpasar, Bal. Alamat Banjar Slungan,

(2)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Untuk mencapa pemerataan dalam bdang pendapatan, mencptakan pertumbuhan ekonom dan untuk memelhara stabltas nasonal menuju penngkatan kesejahteraan rakyat banyak, ndustr perbankan memegang peran yang pentng ddalam katannya dengan usaha untuk menyukseskan program pembangunan nasonal tersebut.

Tugas yang harus demban oleh perbankan nasonal tdaklah rngan. Perbankan nasonal dalam katannya bertndak sebaga agen pembangunan, harus dapat mempertahankan agar usahanya dapat terus berkesnambungan dengan cara mencptakan hasl usaha yang dapat menambah struktur pendanaan dan permodalannya.

Bank sebaga lembaga utama d bdang keuangan, tentunya harus dapat mempertahankan kepercayaan dar masyarakat selaku kustomer atau nasabah atas uang yang dpercayakan untuk menjad smpanan yang dtanamkan kepada bank. Pengaturan atas ndustr perbankan nasonal mutlak dperlukan dengan mengngat tugas tersebut mempunya sfat yang berbeda antara yang satu dengan yang lannya, dalam hal menjaga adanya kesembangan dantara tugas-tugas tersebut.2

Sstem perbankan memlk fungs utama untuk menghmpun dana dar masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposto, kemudan menyalurkan kembal kepada masyarakat dalam bentuk pnjaman atau yang serng dsebut kredt.

Pengaturan mengena perbankan d Indonesa datur dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (selanjutnya dsebut UU Perbankan).

Hubungan yang terjad anatara bank dengan nasabah penympan pada prnspnya ddasar dengan adanya hubungan kepercayaan, dalam bahasa Inggrsnya dsebut dengan fiduciary

relation. Masyarakat mempercayakan dananya untuk d smpan d Bank atas dasar adanya kepercayaan. Oleh karena tu, bank tentunya harus tetap menjaga tngkat kesehatan dar bank dengan tetap memelhara dan mempertahankan kepercayaan yang telah dberkan oleh masyarakat kepada bank. Kesedaan masyarakat menempatkan dananya pada bank semata-mata dlandas oleh kepercayaan. Hlangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank, bsa menyebabkan nasabah menark dananya dar bank secara besar-besaran dan bersamaan yang stlahnya dkenal sebaga rush.3

2 Jonker Shombng, 2010, Penjaminan

Simpanan Nasabah Perbankan, Alumn, Bandung, hlm.1

3 Djon S. Gazal & Rachmad Usman, 2010,

Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta,

(3)

Jasa d bdang perbankan dbag menjad dua tujuan yatu:

(1) tujuan pertama yatu sebaga lembaga yang menyedakan alat pembayaran yang efesen bag nasabah berupa tersedanya uang tuna, tabungan, kartu Anjungan Tuna Mandr (selanjutnya dsebut ATM), blyet gro (BG), kartu kredt, kartu debet, dan cek.

(2) tujuan kedua yatu sebaga sarana untuk membuat arus dana nvestas menjad menngkat agar pemanfaatannya menjad lebh produktf, hal n dapat dlakukan melalu cara menampung dana tabungan mlk nasabah yang kemudan dana tabungan tersebut dsalurkan kembal oleh bank dalam bentuk pnjaman atau kredt kepada phak yang membutuhkan dana.4

Anjungan Tuna Mandr (ATM) atau yang dsebut dengan Automated

Teller Machine merupakan suatu sstem perangkat komputersas yang dpergunakan oleh lembaga perbankan sebaga salah satu upaya untuk menyedakan sstem layanan transaks keuangan d tempat-tempat umum tanpa harus melalu pegawa bank (teller).5

Penggunaan kartu ATM sudah bukan hal yang baru lag bag masyarakat sekarang n. Serng dengan berkembangnya zaman penggunaan kartu ATM sekarang n telah banyak dgunakan oleh kalangan masyarakat sebaga nasabah bank. Nasabah yang semakn banyak yang menggunakan kartu ATM membuat banyak phak ketga yang tergur untuk dapat memanfaatkan stuas n. Hal n menyebabkan terjad banyak kasus-kasus yang dkarenakan ATM. Kasus-kasus yang umum terjad sepert kartu tertelan, uang yang tdak keluar pada saat penarkan, penggandaan kartu atm, serta rekenng yang terdebet. Tdak hanya tu kasus kejahatan yang banyak meresahkan phak bank dan nasabahnya salah satunya adalah pembobolan ATM.6

Teknk pengamanan yang dpergunakan untuk menjamn proses transaks menggunakan ATM dapat terlaksana dengan bak dan benar, maka phak bank memberkan pengamanan dengan jalan nasabah pemlk kartu ATM akan dberkan nomor personal identification number

(PIN) yang dpergunakan untuk melakukan transaks d mesn ATM sehngga hanya orang yang mengetahu nomor PIN saja yang dapat melakukan transaks melalu mesn ATM.

4 Kasmr, 2002, Dasar-Dasar Perbankan,

Rajawal Pers, Jakarta, hlm. 1-2.

5 Ron Sambangga, Sistem Keamanan ATM,

URL : http: // www.total.or.d / nfo. Php? Kk= Anjungan Tuna Mandr, dunduh pada tanggal 18 Desember 2015.

6 R. Totok Sugharto, 2010, Tips ATM Anti

Bobol, Mengenali Modus-Modus Kejahatan Lewat ATM dan Tips Cerdik Menghindarinya,

(4)

Masyarakat pada umumnya tdak mengetahu hak dan kewajbannya sebaga nasabah apabla terjad masalah dalam penggunaan kartu ATM. Sosalsas yang mnm terhadap aturan-aturan hukum tersebut mengakbatkan masyarakat tdak memaham perlndungan hukum apabla masyarakat mengalam kerugan terutama masalah kartu ATM.

Berdasarkan uraan tersebut, serng dengan permasalahan yang tmbul akbat dar dgunakannya ATM dalam transaks perbankan oleh nasabah tentunya hal n berkatan dengan tanggungjawab yang dapat dberkan oleh phak bank dan juga perlndungan hukum bag nasabah yang mengalam kerugan tersebut. 1.2 Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat dtark berdasarkan latar belakang datas yatu:

1. Bagamanakah tanggungjawab phak bank atas kerugan yang dderta konsumen akbat pembo-bolan rekenngnya melalu mesn ATM?

2. Bagamanakah perlndungan hukum yang dapat dberkan kepa-da nasabah terkat pembobolan rekenngnya melalu mesn ATM?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penulsan jurnal n dbag menjad dua yatu tujuan umum dan tujuan khusus:

a. Tujuan umum : adapun tujuan umum yang hendak dcapa dar penulsan jurnal n yatu untuk menambah khasanah pengetahuan d bdang lmu hukum, khususnya hukum perlndungan konsumen dan perbankan.

b. Tujuan khusus: untuk mengkaj dan memaham lebh lanjut mengena tanggungjawab phak bank atas kerugan yang dderta konsumen akbat pembobolan rekenngnya melalu mesn ATM dan perlndungan hukum yang dapat dberkan kepada nasabah terkat pembobolan rekenngnya melalu mesn ATM.

II. METODE PENELITIAN 2.1 Jenis Penelitian

Adapun jens peneltan yang dpergunakan dalam penulsan jurnal n adalah peneltan hukum normatf yang dlakukan dengan cara menelt bahan hukum prmer dan sekunder.7 Peneltan hukum normatf dlakukan terhadap taraf snkronsas hukum, sstematka hukum, sejarah hukum dan juga perbandngan hukum.8

2.1 Jenis Pendekatan

Jens pendekatan yang dpergunakan dalam penulsan jurnal n adalah:

7 Soerjono Soekanto dan Sr Mamudj, 2001,

Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan

Singkat, PT.Grafindo Persada, Jakarta,

hlm.13-14.

8 Soerjono Soekanto, 2000, Pengantar Penelitian

(5)

a. Pendekatan konseptual (Conseptual Approach), konsep-konsep yang terdapat dalam lmu hukum kemudan djadkan sebaga ttk tolak ataupun pendekatan bag analss peneltan hukum, karena akan menmbulkan konsep bag suatu fakta hukum.

b. Pendekatan perundang-undangan (statute approach). Dmana dalam peneltan n melakukan pengkajan dan analsa atas seluruh peraturan perundang-undangan dan regulas yang berkatan dan sesua dengan su hukum yang dtangan.9

2.3 Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang dpergunakan dalam penulsan jurnal n terdr dar bahan hukum prmer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum terter.

Bahan hukum prmer yang dmaksud terdr dar :

a. Undang-undang Dasar Negara Republk Indonesa Tahun 1945.

b. Ktab Undang-undang Hukum Perdata.

c. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. d. Undang-undang Nomor 8 Tahun

1999 tentang Perlndungan Konsumen.

Bahan hukum sekunder yatu bahan hukum yang member penjelasan terhadap bahan hukum prmer atau membantu dalam melakukan analsa atas bahan hukum prmer. Bahan hukum sekunder yang dpergunakan dalam peneltan jurnal n adalah hasl buku-buku lteratur, karya lmah yang berasal dar kalangan hukum, artkel-artkel mengena perlndungan hukum dan perbankan.

Bahan hukum terter yang dpergunakan dalam penulsan jurnal n merupakan petunjuk terhadap bahan hukum prmer dan bahan hukum sekunder yatu berupa kamus dan enskloped.10 Adapun kamus yang dpergunakan yatu berupa kamus hukum, dan juga kamus bahasa.

2.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Pengumpulan bahan hukum dlakukan dengan teknk stud dokumen dengan melakukan penelaahan terhadap peraturan-peraturan hukum yang relevan dengan topk pembahasan, buku-buku sebaga bahan bacaan terkat yatu buku-buku perbankan dan perlndungan konsumen. Kemudan dlakukan stud kepustakaan yang memlk tujuan untuk mencapa konseps-konseps, teor-teor, pendapat-pendapat ataupun penemuan-penemuan yang memlk hubungan erat dengan apa yang menjad permasalahan.

10 Bambang Waluyo, 2002, Penelitian Hukum

Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta,

hlm.23.

9 Soerjono Soekanto dan Sr Mamudj, 2009,

Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan

Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

(6)

2.5 Teknik Analisis Bahan Hukum

Analss bahan hukum dlakukan dengan menggambarkan apa yang menjad masalah (deskrps), menjelaskan masalah (eksplanas), mengkaj permasalahan dar bahan-bahan hukum yang terkat (evaluas) dan memberkan argumentas dar hasl evaluas tersebut, sehngga ddapat kesmpulan mengena persoalan yang dbahas pada peneltan n.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Tanggungjawab Pihak Bank

Atas Kerugian Yang Diderita Konsumen Akibat Pembobolan Rekeningnya Melalui Mesin ATM

Pengertan mengena tanggung jawab sebagamana dkemukakan oleh Peter Salm dapat dbag menjad 3 (tga) pengertan yatu:

a. Accountability

Tanggung jawab n pada umumnya berkatan dengan keuangan, pembukuan, hngga pembayaran. Accountablty juga bsa dartkan sebaga kepercayaan.

b. Responsibility

Tanggungjawab dalam art n berkatan dengan kewajban untuk memperbak kesalahan yang pernah dlakukan atau yang terjad. Responsblty juga berkatan dengan kewajban untuk menanggung segala sesuatunya yang dsalahkan, dancam hukuman dan dtuntut oleh penegak hukum d depan pengadlan, menerma beban yang dakbatkan dar perbuatan

sendr ataupun perbuatan dar orang lan.

c. Liability

Berart menanggung segala sesuatu kerugan yang terjad akbat perbuatannya ataupun dar akbat perbuatan yang dlakukan orang lan namun bertndak untuk dan atas nama yang bersangkutan. Liability juga dapat dartkan adanya kewajban untuk membayar gant kerugan yang dderta.11

Tanggungjawab dapat dartkan melakukan perbuatan sebaga perwujudan kesadaran akan kewajbannya. Sehngga tanggung jawab merupakan kesadaran manusa terhadap perbuatan-perbuatan yang dlakukan bak sengaja maupun tdak sengaja.

Bank dalam kegatan nterme-darnya memlk tanggungjawab terhadap keamanan atas dana yang dsmpan oleh nasabah d bank. Tanggungjawab bank terhadap nasabah terutama bag nasabah yang mengalam kerugan akbat kehlangan dananya yang dsmpan d bank dengan cara yang tdak wajar datur dalam: a. Peraturan Bank Indonesa

(PBI) No. 7/6/PBI/2005 tanggal 20 Januar 2005 tentang Transparans Informas Produk Bank dan Penggunaan Data Prbad Nasabah;

11 K.Martono, 2011, Hukum Angkutan Udara

Berdasarkan UU RI No.1 Tahun 2009, Raja

(7)

b. PBI No.7/7/PBI/2005 tanggal 20 Januar 2005 tentang Penyelesaan Pengaduan Nasabah; dan

c. PBI No.8/5/PBI/2006 tanggal 30 Januar 2006 tentang Medas Perbankan.

Ketga peraturan sebagamana dsebutkan d atas adalah bentuk realsas yang dlakukan oleh Bank Indonesa untuk menyesuakan kegatan usaha perbankan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlndungan Konsumen (selanjutnya dsebut UU Perlndungan Konsumen). UU Perlndungan Konsumen mengharuskan kesetaraan antara bank sebaga pelaku usaha dan nasabah selaku konsumen.12

Nasabah penympan dana apabla terjad masalah dalam penggunaan kartu ATM sehngga mengakbatkan kerugan yang dalam hal bukan dkarenakan kesalahan dar nasabah maka phak bank wajb menggant kerugan sebagamana telah datur dalam Pasal 7 huruf f dan huruf g UU Perlndungan Konsumen menyatakan: Member kompensas, gant rug dan/atau penggantan atas kerugan akbat penggunaan, pemakaan dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dperdagangkan. Member kompensas gant rug dan/atau penggantan apabla barang dan/atau jasa yang dterma

atau dmanfaatkan tdak sesua dengan perjanjan”.

Selanjutnya dalam Pasal 19 ayat (1) UU Perlndungan Konsumen menyatakan:

Pelaku usaha bertanggung jawab memberkan gant rug atas kerusakan, pencemaran, dan/ atau kerugan konsumen akbat mengkonsums barang dan/atau jasa yang dhaslkan atau perdagangkan. Tdak semua pengaduan nasabah yang melaporkan atas kehlangan uang dalam rekenngnya mendapatkan pengembalan dar phak bank. Phak

bank akan melakukan klarifikasi

terlebh dahulu terhadap pengaduan nasabah tersebut, apakah pengaduan nasabah tu memang kehlangan uang

dalam rekeningnya. Proses klarifikasi

dmula dar pengecekan terhadap data transaks yang dlakukan oleh para nasabah. Berdasarkan dar data transaks tersebut menunjukkan apa saja yang dlakukan oleh nasabah terhadap rekenngnya sepert penarkan melalu ATM, penarkan melalu teller, transfer dana va ATM, penyetoran melalu teller, serta transaks lannya yang menyebabkan berkurang atau bertambahnya saldo rekenng nasabah tersebut. Terhadap nasabah khususnya yang mengadukan atas dana pada saldo rekenngnya tba-tba menjad berkurang tanpa melakukan transaks, akan dperksa terhadap transaks penarkan atau transfer yang pernah dlakukan oleh nasabah. Rekaman dar

transaksi tersebut akan diklarifikasi

oleh phak bank kepada nasabah

12 Deput Gubernur Bank Indonesa, 2011,

“Keynote Speech, Pembobolan Dana Nasabah

Bank dan Celah Kriminal Priority Banking” , Majalah Warta Ekonom, Jakarta, tanggal 26 Me.

(8)

yang bersangkutan untuk mengetahu transaks mana saja yang danggap tdak pernah dlakukan oleh nasabah dan yang mana saja yang daku oleh nasabah.13 Contoh kasus pembobolan rekenng nasabah melalu mesn ATM yatu saat kartu ATM nasabah tertelan kemudan nasabah menelepon call centre yang ternyata palsu nasabah memberkan nformas mengena data rekenngnya yang kemudan mengakbatkan pelaku kejahatan tersebut bsa mengakses dana nasabah dan kemudan melakukan pembobolan terhadap rekenng nasabah tersebut. Atas kasus n dapat dkategorkan bahwa kesalahan bukan berada pada phak bank, namun karena kelalaan dar nasabah tu sendr. Selan tu ada juga kerugan yang

terjadi karena undian berhadiah fiktif

yang mengharuskan nasabah untuk melakukan beberapa transaks melalu mesn ATM, sehngga mengakbatkan rekenng nasabah terbobol, dalam hal n tentunya kesalahan berada d phak nasabah. Mahkamah Agung (MA) menyatakan bank tdak bertanggung jawab terhadap terkurasnya tabungan nasabah akbat ulah call center palsu, yang bertanggung jawab adalah nasabah tu sendr. Hal n dputuskan dalam perkara Muhajdn Tahr vs Bank Mandr.

Phak bank akan bertanggung jawab apabla nasabah mengalam masalah dalam penggunaan kartu ATM jka mesn ATM telah mengalam gangguan atau mengalam kerusakan, dss lan apabla dalam proses penggunaan kartu ATM tersebut kesalahan berada pada phak nasabah maka bank dalam hal n tdak akan bertanggung jawab terhadap resko kerugan dar nasabah penympan dana tersebut.

3.2 Perlindungan Hukum Yang Dapat Diberikan Kepada Nasabah Terkait Pembobolan Rekeningnya Melalui Mesin ATM

Sstem pengamanan merupakan hal yang harus dperhatkan dalam operasonal perbankan karena terkat dengan dana yang d smpan oleh nasabah. Setap bank tentunya mempunya sstem pengamanan yang ketat. Kecangghan sstem pengamanan pada bank tdak menutup kemungknan keamanan tersebut dterobos atau dbobol oleh para peretas atau yang lebh dkenal sebaga hacker.

Kasus yang berkatan dengan pembobolan bank sudah terjad sejak dkenalnya ndustr perbankan d duna. Kasus sepert n mungkn saja dapat d mnmalsr, namun tetap saja bersko terjad hal n dkarenakan para pembobol tersebut dapat berasal dar phak bank, dapat juga berasal dar phak luar, dan juga dar phak bank yang bekerja sama dengan phak luar.

13 Komang Junawan, 2013, Perlindungan

Hukum Bagi Nasabah Korban Kejahatan Penggandaan Kartu ATM Pada Bank Swasta Nasional di Denpasar, Jurnal Magster Hukum Unverstas Udayana, Volume 2 Nomor 2.

(9)

Nasabah selaku konsumen d bdang perbankan perlu mendapatkan perlndungan. Perlndungan terhadap konsumen dalam hal n nasabah bank sangat dbutuhkan karena poss konsumen selaku nasabah lebh lemah dbandngkan poss pelaku usaha atau phak bank, kedudukan antara pengusaha dengan konsumen sangat tdak sembang. D dalam perjanjan kredt yang dbuat oleh bank, yang umumnya berupa perjanjan yang baku, snya telah dtetapkan secara sephak oleh phak bank. Phak nasabah selaku konsumen mau tdak mau akan menandatangan perjanjan tersebut. Untuk menyembangkan kedudukan antara phak bank dengan konsumen dbutuhkan adanya suatu perlndungan terhadap konsumen.14 Perlndungan hukum bag nasabah perbankan menurut pendapat Hermansyah dapat dbedakan menjad dua yatu :

1. Perlndungan secara tdak langsung, yatu perlndungan hukum yang dberkan terhadap nasabah atas semua resko kerugan yang terjad akbat adanya kebjaksanaan atau kegatan usaha bank.

2. Perlndungan langsung, yatu Perlndungan secara langsung terhadap nasabah atas kemungknan resko kerugan yang mungkn terjad dar

kegatan usaha yang dlakukan phak bank.15

Nasabah pada umumnya tdak mengetahu bagamana yang harus dlakukan jka nasabah mengalam masalah dalam penggunaan kartu ATM n, oleh karena tu baknya phak bank membertahukan kepada nasabah bak secara langsung maupun secara tertuls (dalam kontrak penerbtan kartu ATM) sehngga nant nasabah apabla mengalam masalah dalam penggunaan kartu ATM nasabah tahu apa yang harus mereka lakukan. Dss lan berdasarkan kontrak atau perjanjan pembukaan nomor rekenng tdak terdapat klausul yang mengatakan bahwa phak bank tdak bertanggung jawab atau pengalhan tanggung jawab bank kepada nasabah. Jka nasabah mengalam masalah maka nasabah wajb melaporkan dr kepada phak bank sehngga phak bank dapat memproses tndakan-tndakan yang harus dlakukan terhadap kasus yang dalam oleh nasabah.

Perlndungan hukum bag nasabah bank apabla nasabah yang mengalam masalah dalam melakukan transaks kartu ATM nasabah dapat berpedoman pada UU Perbankan dan juga UU Perlndungan Konsumen. Menurut ketentuan yang datur dalam Pasal 29 ayat (5) UU Perbankan menyatakan bahwa : “Untuk kepentngan nasabah, bank

15 Hermansyah, 2009, Edisi Revisi Hukum

Perbankan Indonesia, Kencana, Jakarta, hlm. 154.

14 AZ. Nasuton, 1995, Konsumen dan Hukum:

Tinjauan Sosial, Ekonomi dan Hukum pada

Perlindungan Konsumen di Indonesia, Pustaka Snar Harapan, Jakarta, hlm.65-66.

(10)

menyedakan nformas mengena kemungknan tmbulnya resko kerugan bag transaks nasabah yang dlakukan melalu bank.” Uraan pasal datas hanya memuat sedkt penjelasan mengena perlndungan hukum terhadap nasabah bank. Jka dlhat pula dalam penjelasan pasal tersebut tdak dapat dberkan pengertan dan penjelasan yang secara menyeluruh mengena apa dan bagamana kepentngan nasabah yang tdak boleh drugkan.

Menurut Surat Edaran Bank Indonesa Nomor 14/17/DASP/2012 tanggal 7 Jun 2012, perhal Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesa Nomor 11/10/DASP/2009 tanggal 13 Aprl 2009, perhal Penyelenggaraan Kegatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu, prnsp perlndungan nasabah sebaga berkut : Ketentuan butr VII.A dubah sehngga berbuny : Prnsp Perlndungan Nasabah Penerbt wajb menerapkan prnsp perlndungan nasabah dalam menyelenggarakan kegatan APMK (Alat Pembayaran Melalu Kartu) yang antara lan dlakukan dengan :

1. Menyampakan nformas tertuls kepada pemegang kartu atas APMK yang dterbtkan. Informas tersebut wajb dsampakan dengan menggunakan bahasa Indonesa yang jelas dan mudah dmengert, dtuls dalam huruf dan angka yang mudah dbaca oleh pemegang kartu, dan dsampakan secara benar dan

tepat waktu.

2. Menyedakan sarana dan nomor telepon yang dapat dengan mudah dgunakan dan/atau dhubung oleh calon Pemegang Kartu dan Pemegang Kartu dalam

rangka melakukan verifikasi

kebenaran segala fasltas yang dtawarkan dan/atau nformas yang dsampakan oleh penerbt. Apabla terjad masalah dalam penggunaan kartu ATM sehngga mengakbatkan kerugan yang dalam hal bukan dkarenakan kesalahan dar nasabah maka phak bank wajb menggant kerugan sebagamana hal tersebut telah datur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlndungan Konsumen pada pasal 7 huruf f dan huruf g yang berbuny :

“Member kompensas, gant rug dan/atau penggantan atas kerugan akbat penggunaan, pemakaan dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dperdagangkan. Member kompensas, gant rug dan/atau penggantan apabla barang dan/atau jasa yang dterma atau dmanfaatkan tdak sesua dengan perjanjan”.

Basanya ATM yang dbobol adalah lokas mesn ATM yang berada d lokas public area. ATM yang berada d cabang basanya lebh aman karena dkawal oleh satpam bank yg bertugas juga mengawas ATM d sektar cabang. Ada beberapa lokas ATM d

public area yang memang tdak djaga oleh security karena sudah “djaga”

(11)

oleh satpam gedung atau plaza tempat ATM tersebut. Djaga dalam pengertan mesn ATM nya tdak dambl orang. Djaga kebershan ATMnya dan lan-lan. Namun setap orang yang mengambl uang bebas keluar masuk tanpa pengawasan. Petugas bank sebaknya harus serng berkellng mengecek konds ATM nya. Konds n sangat mungkn dmanfaatkan sndkat untuk menempel atrbut-atrbut yang dgunakan membobol ATM. Poolng ATM d lokas public area lebh aman, namun tetap harus djaga. Sebaknya pollng ATM terdr dar berbaga bank dan djaga seorang satpam sehngga lebh aman dan baya relatf murah. Hal kedua yang perlu d awas adalah sewaktu pemberan jn mesn ATM. Alangkah baknya Bank Indonesa kut melhat ke lokas mesn ATM yang akan dberkan jnnya dan membuat peraturan standardsas keamanan sebuah tempat mesn ATM. Saat n mesn ATM ada yang menggunakan CCTV ada yang tdak, ada berbaga kotak brosur (basanya dgunakan sndkat tempat menempel berbaga macam alat), ada mesn lama yang mash menggunakan kotak UPS (unit power supply) dsampngnya dll. Jka tdak memenuh standard kemanan yang dbuat Bank Indonesa (BI), lebh bak BI menonaktfkan mesn ATM tersebut dan mencabut jnnya.

IV. PENUTUP 4.1 Simpulan

Berdasarkan uraan pembahasan tersebut, maka dperoleh kesmpulan

sebaga berkut:

1. Tanggungjawab phak bank atas kerugan yang dderta konsumen akbat pembobolan rekenngnya melalu mesn ATM yatu apabla nasabah mengalam masalah dalam penggunaan kartu ATM jka mesn ATM telah mengalam gangguan atau mengalam kerusakan maka bank akan bertanggung jawab memberkan gant rug, dss lan apabla dalam proses penggunaan kartu ATM tersebut kesalahan berada pada phak nasabah maka bank tdak bertanggung jawab untuk menggant kerugan dar phak nasabah.

2. Perlndungan hukum yang dapat dberkan kepada nasabah terkat pembobolan rekenngnya melalu mesn ATM berpedoman pada UU Perbankan dan juga UU Perlndungan Konsumen yang mengatur bahwa pelaku usaha wajb memberkan kompensas, gant rug maupun penggantan akbat pemakaan barang/jasa yang dperdagangkan dan apabla barang yang dterma tdak sesua dengan yang dperjanjkan. 4.2 Saran

Adapun saran yang penuls kemukakan dalam peneltan n adalah:

1. Phak bank hendaknya memberkan pengamanan yang ketat terkat dengan mudahnya akses untuk mendapatkan mesn

(12)

ATM, perlu dtambahkan adanya CCTV pada setap mesn ATM, selan tu bla dperlukan untuk menambah petugas keamanan yang berjaga pada setap mesn ATM tersebut.

2. Hendaknya dbuat suatu aturan dan sanks pdana yang tegas terkat dengan tndak pdana pembobolan mesn ATM guna memberkan efek jera bag pelakunya

DAFTAR PUSTAKA Buku

AZ Nasuton, 1995, Konsumen

dan Hukum: Tinjauan Sosial, Ekonomi dan Hukum pada

Perlindungan Konsumen

di Indonesia, Pustaka Snar Harapan, Jakarta.

Bambang Waluyo, 2002, Penelitian

Hukum Dalam Praktek, Snar

Grafika, Jakarta.

Djon S.Gazal & Rachmad Usman, 2010, Hukum Perbankan, Snar

Grafika, Jakarta.

Hermansyah, 2009, Edisi Revisi

Hukum Perbankan Indonesia,

Kencana, Jakarta.

Jonker Shombng, 2010, Penjaminan

Simpanan Nasabah Perbankan,

Alumn, Bandung

Kasmr, 2002, Dasar-Dasar

Perbankan, Rajawal Pers, Jakarta

K.Martono, 2011, Hukum Angkutan

Udara Berdasarkan UU RI

Nomor 1 Tahun 2009, Raja

Grafindo Persada, Jakarta.

R.Totok Sugharto, 2010, Tips ATM Anti Bobol, Mengenali Modus-modus Kejahatan Lewat ATM

dan Tips Cerdik Menghindarinya,

Med Press, Yogjakarta.

Soerjono Soekanto, 2000, Pengantar

Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.

Soerjono Soekanto dan Sr Mamudj, 2001, Penelitian Hukum Normatif

Suatu Tinjauan Singkat, Raja

Grafindo Persada, Jakarta.

Soerjono Soekanto dan Sr Mamudj, 2009, Penelitian Hukum Normatif

Suatu Tinjauan Singkat, Raja

Grafindo Persada, Jakarta.

MAJALAH:

Deput Gubernur Bank Indonesa, 2011,

“Keynote Speech, Pembobolan

Dana Nasabah Bank dan Celah

Kriminal Priority Banking”,

Majalah Warta Ekonom, Jakarta, tanggal 26 Me

JURNAL :

Komang Junawan, 2013, Perlindungan

Hukum Bagi Nasabah Korban

Kejahatan Penggandaan

Kartu ATM Pada Bank Swasta Nasional di Denpasar, Jurnal Magster Hukum Unverstas Udayana, Volume 2 Nomor 2. INTERNET: Ron Sambangga, Sstem Keamanan ATM, URL: http://www.total.or.d/ nfo.Phk?kk=Anjungan Tunai

Mandiri, dunduh pada tanggal 18 Desember 2015.

Referensi

Dokumen terkait

KA.RTU AIIIIJINGAN TUNAI MA]\'DIRr (ATDD BANK NACARI CABANC INDAIIUNC!. hjtur G,r, dt.frisc6,r4ir,

Dalam rangka upaya penyelesaian apabila terjadi sengketa antara bank dengan nasabah, maka Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia nomor

Dalam sistem keamanan yang diterapkan pada ATM terdapat proses enkripsi data untuk menjaga keamanan data pribadi, seperti nomor PIN ataupun nomor kartu, dan juga untuk

Perjanjian pembukaan rekening tabungan dibuat secara sepihak oleh bank yang dicetak dalam bentuk baku berupa formulir, sehingga nasabah hanya menyetujui atau tidak

Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas kartu anjungan tunai mandiri ATM terhadap perilaku konsumtif nasabah Bank Muamalat

Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini ada tiga yaitu bagaimana hak dan kewajiban nasabah pengguna ATM (Automated Teller Machine) dan bank sebagai penerbit kartu ATM

Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi/persebaran unit ATM secara umum berdasarkan status bank, jenis, letak (site) dan aksesibilitasnya tidak merata pada tiap-tiap bank

i Komunikasi Organisasi Bank Jateng Cabang Utama Pada Layanan Pengaduan ATM Anjungan Tunai Mandiri Nasabah SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Hukum dan Komunikasi guna memenuhi