• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pre Test L 1 Version B4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pre Test L 1 Version B4"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAHASAN SOAL

LEVEL I

(2)

1.

Peraturan Bank Indonesia yang mengatur

prosedur dan praktek dalam

mengidentifikasi nasabah dan monitoringya

adalah :

a.

PBI No. 8/4/PBI/2006 Tentang Pelaksanaan

GCG

b.

PBI No. 7/25/PBI/2005 Tentang Sertifikasi

Manajemen Risiko

(3)

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Banking regulation

Regulation Purpose

UU Bank Indonesia 1999

Bank Indonesia sebagai bank sentral yang independen. Juga fungsi tugas dan peran BI.

Audit & Compliance 1999

Perlunya audit dan kepatuhan dalam perbankan

Commercial Banks 2000

Aturan tentang perijinan dan operasional bank umum.

Know Your Customer

Principles 2001

Mengatur prosedur dan praktek dalam mengidentifikasi nasabah dan

monitoringnya

Fit and Proper Test 2003

Keharusan melakukan fit and proper tests bagi pemegang saham dan manajemen

(4)

2.

Penarikan dana secara bersamaan

pada suatu bank seringkali

menimbulkan permasalahan bagi

bank. Jika bank tidak mampu

memenuhi penarikan dana ini, maka

dikatakan bank mengalami :

a.

Insolvency

b.

Run on bank

(5)

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Insolvency

Kebangkrutan / Insolvency adalah ketidakmampun bank memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo.

(6)

3.

Implementasi Arsitektur Perbankan

Indonesia (API) secara bertahap meliputi 6

pilar. Yang tidak termasuk dalam tahapan

implementasi tersebut adalah :

a.

Implementasi perbaikan struktur perbankan

b.

Perbaikan kualitas manajemen dan operasi

bank

c.

Perlindungan terhadap pemegang saham

(7)

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.2 Banking regulation

Implementasi API secara bertahap meliputi:

• Mengimplementasi perbaikan struktur perbankan • Perbaikan pengaturan perbankan

• Perbaikan fungsi sistem pengawasan

• Perbaikan kualitas manajemen dan operasi bank • Mengembangkan infrastruktur perbankan

(8)

4.

Fenomena bahwa suatu bank

memberikan kredit secara berlebihan

(over lending) pada saat “boom” atau

bank mengurangi penyaluran kredit

pada saat resesi disebut sebagai :

a.

Credit securitization

b.

Procyclicality

(9)

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Dampak ekonomi atas terjadinya risiko

Over lending – a cyclical phenomenon

Bank memberi kredit berlebihan saat boom dan kurang memberikan kredit saat resesi. Ini terjadi karena saat resesi bank terpaksa melakukan penghapusan sehingga modal bank menurun. Sementara modal merupakan

syarat untuk ekspansi

Dikenal dengan ‘procyclicality’ terjadi pada kredit yang nilai

jaminannya naik terus. Bank memberikan kredit sangat besar saat “boom” terutama kredit property dan pembiayaan saham.

(10)

5.

Menyangkut krisis likuiditas, maka yang

benar adalah :

a.

Sering terjadi pada retail banking

b.

Sering terjadi pada wholesale market

c.

Jarang terjadi pada retail banking

maupun wholesale market

(11)

1.6 The potential consequences of failing to manage risks in banking

1.6.6 Economic impact of a risk event

Krisis likuiditas :

Jarang terjadi pada retail banking

Sering terjadi pada wholesale banks karena tidak menerima deposito dari nasabah retail. Tergantung pada asetnya untuk

jaminan yaitu obligasi pemerintah dan perusahaan. Saat pasar ini mengalami kekurangan likuiditas, krisis dapat timbul.

(12)

6.

Perbedaan utama antara Bank Umum

dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

adalah :

a.

Akses terhadap sistem pembayaran

b.

Penyaluran pinjaman kepada

masyarakat

c.

Penghimpunan dana pihak ketiga

(13)

1.7 The Indonesian banking system and regulation

1.7.1 The Indonesian banking system

UU perbankan 1992 dan diamandemen 1998

menggolongkan bank menjadi dua yaitu Bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank umum

menyediakan layanan lengkap dari valuta asing sampai dalam lalu lintas pembayaran.

BPR relatif lebih kecil skop dan operasinya dibanding bank komersial dan hanya menerima simpanan dan memberikan kredit tanpa bisa masuk dalam sistem pembayaran

Di Indonesia masih ada lagi yaitu Badan Kredit Desa seperti BKD dan LDKP.

(14)

7.

Istilah lain dari gearing adalah :

a.

Insolvency

b.

Highly leveraged

c.

Run on bank

(15)

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Gearing

Gearing adalah ratio hutang dengan jumlah modal. Jadi bank memiliki jumlah hutang jauh lebih besar dibandingkan dengan modal yang dimiliki.

(16)

8.

Konsep tentang Return on Regulatory

Capital adalah memastikan bahwa

a.

Setiap aktivitas bisnis baru harus

mempertimbangkan ketersediaan modal

b.

Setiap penambahan modal harus diikuti

dengan ekspansi bisnis

c.

Setiap transaksi bisnis mampu menghasilkan

laba untuk menambah modal

(17)

2.3.1 Adequacy of the return on regulatory capital

Hasil dari modal (Return on regulatory capital ) adalah ukuran kinerja yang dipergunakan untuk menilai apakah suatu transaksi menghasilkan nilai /pendapatan agar modal bisa tumbuh.

Perlu diingat resiko tidak pernah diperhitungkan biayanya tetapi diperhitungkan dalam marjin pendapatan atau pendapatan bersih

(18)

9.

Bank Sentral membantu bank dengan

menyediakan dana untuk mencegah

terjadinya krisis. Hal ini disebut

sebagai :

a.

Lender of last resort

b.

Monetary stability

c.

Money Stability

(19)

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Central banks sebagai lenders of last resort

Masalah likuiditas dan insolvensi sudah terjadi sejak abad 18. Muncul fungsi bank sebagai pengawas.

Perlunya support bank sentral kepada perbankan.

Bank sentral membantu perbankan dengan ‘lender of last resort’ dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan.

Bank sentral membantu bank dengan menyediakan dana untuk mencegah krisis.

(20)

10.

Pada options contract, suatu posisi

untuk menjual hak membeli

underlying asset disebut :

a.

Long call

b.

Long put

c.

Short call

(21)

OPTION

Istilah-istilah

Call Suatu opsi yang memberi hak kepada pembelinya untuk membeli underlying instrument

Put Suatu opsi yang memberi hak kepada pembelinya untuk menjualunderlying instrument

Long position Posisi membeli hak Short position Posisi menjual hak

Determinants of Price

(22)

11.

Financial stability (stabilitas sistem

keuangan) adalah terjaganya sistem

keuangan untuk :

a.

Memobilisasi dana secara efisien

b.

Memitigasi profil risiko bank

c.

Menjembatani pasar modal dan pasar

keuangan

(23)

2.1 Why banks are ‘special’ and need to be regulated

2.1.1 Financial stability

Penetapan standar bagi bank adalah meningkatkan efisiensi dan ketahan perbankan.Kestabilan sistem keuangan ( Financial stability) adalah terjaganya

sistem keuangan untuk

¾memobilisasi tabungan secara efisien, ¾menyediakan likuiditas,

¾dan alokasi investasi.

Financial stability dapat mengurangi terjadinya kegagalan lembaga keuangan secara individual.

Perhatian perlu dilakukan untuk mencegah jangan sampai sistem perbankan mengalami kelumpuhan.

(24)

12.

The Basel Committee on Banking

Supervision didirikan oleh gubernur

bank sentral 11 negara (G10) ditambah

dengan Spanyol dan Luxembug pada

tahun :

a.

1974

b.

1988

c.

1996

(25)

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.1 Tujuan Basel I

The Basel Committee on Banking Supervision didirikan pada 1974

oleh gubernur bank sentral negara the Group of Ten (G10), dengan tujuan menseragamkan praktek pengaturan dan pengawasan.

The Basel Committee terdiri dari perwakilam G10 ditambah spanyol dan Luxembourg. Anggotanya adalah :

Belgium Canada France Germany

Italy Japan Netherlands Sweden

Switzerland United Kingdom United States

(26)

13.

Basel I Capital Accord menetapkan hubungan

antara modal (capital) dengan risiko sebagai

target capital ratio. Hubungan tersebut adalah :

a.

Target capital ratio adalah ATMR dibagi modal

b.

Target capital ratio adalah modal dibagi ATMR

c.

Target capital ratio adalah ATMR dikalikan modal

(27)

2.2 The original Basel Accord and capital adequacy for credit risk

2.2.3 The target capital ratio

The Basel I Accord menetapkan hubungan antara modal dan resiko. Dari berbagai kelompok bobot resiko maka bank dapat menghitung target modalnya. target rasio modal adalah jumlah modal dibagi ATMR.

(28)

14.

Risiko pasar yang berasal dari transaksi

perdagangan (trading) dicover oleh modal

yang berasal dari :

a.

Tier 1

b.

Tier 2

c.

Tier 1 dan Tier 2

(29)

2.4 The bank capital requirements in Basel I

2.4.1 Capital structure

Dasar perhitungan modal termasuk hal2 sbb: • goodwill

• investments dalam unconsolidated banking dan finance companies, dan

• investments dalam capital bank-bank lain dan finance companies (subject to national supervisor discretion)

• minority investments dalam unconsolidated entities, (e.g. associate banks).

Untuk dicatat bahwa hal tersebut diatas adalah Tier ketiga yang dapat digunakan untuk mensuport bank hanya dalam portofolio trading.

(30)

15.

Portofolio perdagangan mempunyai DVaR Rp 5

juta dengan tingkat keyakinan 95%, artinya :

a.

Dalam periode satu hari perdagangan terdapat

peluang 5% kerugian di bawah Rp 5 juta

b.

Dalam periode satu hari perdagangan terdapat

peluang 5% kerugian di atas Rp 5 juta

c.

Dalam periode satu hari perdagangan terdapat

peluang 95% kerugian di atas Rp 5 juta

(31)

2.5 Basel I and the 1996 Market Risk Amendment

2.5.2 Value at Risk (VaR)

Laporan resiko bank berisi hal-hal sbb :

“Portofolio yang perdagangan mempunyai DVaR USD 5m dengan tingkat keyakinan 95%”

Dengan pernyataan tsb diatas tingkatan (tingkatan keyakinan) yang

berhubungan dengan tingkat probabilitas akan terjadinya beberapa kejadian. Dalam kasus di atas, resiko market akan terjadi kerugian nilai diatas tingkat keyakinan yang ada. Biasanya probabilitas yang sering dipergunakan

diperhitungkan pada tingkat keyakinan 95% atau tingkatan 99% Secara sederhana DVaR diatas menyatakan :

“Dalam periode satu hari perdagangan terdapat peluang 5% (100% -95%) kerugian melebihi USD 5m “

(32)

16.

Salah satu tujuan diimplementasikannya

Basel II adalah meningkatkan transparansi

portofolio aset dan profil risiko kepada

pemegang saham dan analis pasar. Hal ini

tercantum pada :

a.

Pilar 1 Basel II

b.

Pilar 2 Basel II

(33)

3.1 Tiga Pilar Regulasi

3.1.3 Pilar

3

– Disclosure

Pilar 3 adalah pilar market discipline. Bank for International Settlements (BIS) mendefinisikan market discipline sebagai mekanisme pengelolaan internal dan eksternal dalam suatu perekonomian pasar bebas tanpa adanya campur tangan pemerintah secara langsung.

Pilar 3 dirancang untuk membantu pemegang saham bank dan analis pasar dan selanjutnya akan meningkatkan

transaparansi dalam hal-hal, seperti:

• portofolio aset bank • profil risiko bank

Perlu diingat bahwa Basel I hanya mencakup Pilar I. Dalam praktek Pilar II dan Pilar III ada pada semua negara, meskipun pendekatan yang digunakan untuk kedua Pilar tersebut dan aplikasinya

(34)

17.

Menurut Standard & Poor’s, peringkat

obligasi yang termasuk dalam kategori

spekulatif adalah :

a.

BBB

b.

BB

c.

C

(35)

3.4 Basel II dan Sensitivitas Risiko

3.4.2 Peringkat Obligasi - lanjutan

Moody’s S&P Deskripsi

Ba BB Dalam kemampuannya untuk membayar bunga dan pokok pinjaman, peringkat obligasi dalam ketegori ini dianggap spekulatif.

Ba / BB menunjukkan tingkat spekulasi paling rendah. Ca / CC merupakan tingkat spekulasi paling tinggi.

B BB

Caa CCC

Ca CC

C C Obligasi dalam peringkat ini tidak mampu membayar bunga dan

bisa dikategorikan dalam ‘income bonds’

D D Obligasi masuk dalam ‘default’, karena sudah tidak mampu

membayar bunga dan pokok pinjaman.

Baik Moody’s maupun Standard & Poor’s membuat beberapa penyesuaian dalam peringkat yang mereka buat, sehingga memperbanyak jumlah kategori peringkat yang tersedia.

• Moody’s menggunakan simbol 1, 2 atau 3 dengan 1 menunjukkan paling kuat: A 1 peringkat paling kuat and A3 adalah paling lemah.

(36)

18.

Suatu kontrak call options memberikan hak kepada

pemegangnya untuk membeli USD dengan harga Rp.

9.000/USD untuk jangka watu 1 bulan mendatang.

Pembeli kontrak harus membayar Rp. 50/USD untuk

memiliki hak tersebut. Setelah jatuh tempo (1 bulan

kemudian) ternyata nilai tukar spot adalah Rp.

9.500/USD.

a. Premium = Rp. 9.000 ; Strike Price = Rp. 50 ; Current price of underlying = Rp. 9.500

b. Premium = Rp. 9.500 ; Strike Price = Rp. 9.000 ; Current price of underlying = Rp. 50

c. Premium = Rp. 50 ; Strike Price = Rp. 9.000 ; Current price of underlying = Rp. 9.500

(37)

OPTION

Istilah-istilah

Call Suatu opsi yang memberi hak kepada pembelinya untuk membeli underlying instrument

Put Suatu opsi yang memberi hak kepada pembelinya untuk menjual underlying instrument

Premium Nilai (harga) yang dibayar oleh pembeli kepada penjual

Strike price (X) Harga eksekusi (harga beli untuk call dan jual untuk put) dari underlying instruments

Expiry date Tanggal terakhir dimana opsi harus dieksekusi (tanggal jatuh tempo)

American Suatu opsi yang dapat dieksekusi setiap saat sepanjang umur opsi

European Opsi yang dapat dieksekusi hanya pada saat jatuh tempo

Long position Posisi membeli hak Short position Posis menjual hak

Determinants of Price

(38)

19.

Bank yang menerapkan IRBA untuk

perhitungan risiko kreditnya berarti harus

mampu membuat peringkat (rating)

debitur/obligasi. Banyaknya peringkat

dipersyaratkan :

a.

Minimal 8 peringkat

(39)

3.4 Basel II dan Sensitivitas Risiko

3.4.2 Kedalaman cakupan

Jika suatu bank memilih menggunakan Internal Ratings-Based Approach, jumlah peringkat yang dapat digunakan ditetapkan oleh bank itu sendiri, meskipun diharapkan minimal ada delapan

peringkat.

Jika digunakan Standardised Approach, bobot risiko ‘grid’ pada Basel II didasarkan pada Basel I yang didukung oleh peringkat kredit dari lembaga pemeringkat, bilamana tersedia. Pendekatan ini memperbolehkan adanya beberapa pengelompokan bobot risiko, seperti pedekatan Basel I.

(40)

20

Harga put-call options dipengaruhi oleh

volatilitas. Volatilitas tersebut

mencerminkan :

a.

Harga underlying asset pada saat kontrak opsi ini

jatuh tempo

b.

Ekspektasi pasar terhadap fluktuasi harga

underlying asset

(41)

4.3 Trading instruments

4.3.3 Instrumen derivatif – option contracts

Harga opsi tegantung pada kemungkinan opsi dieksekusi. Untuk menghitung nilai opsi digunakan ukuran volatilitas.

Volatilitas dari harga mencerminkan ekspektasi pasar mengenai sejauh mana harga akan bergerak naik-turun sepanjang umur opsi.

Volatilitas yang digunakan untuk menentukan harga opsi, ditentukan oleh pasar.

(42)

21.

Menyangkut harga call options, maka :

a.

Harga call options akan meningkat jika

harga underlying instrument turun

b.

Harga call options akan meningkat jika

harga strike price naik

c.

a dan b benar

(43)

OPTION

Istilah-istilah Determinants of Price

Current price of underlying

C = S – X, semakin tinggi harga pasar underying semakin tinggi harga call P = X – S, semakin tinngi harga pasar undelying semakin rendah harga put Strike price C = S – X, semakin tinggi strike price semakin rendah harga call

P = X – S, semakin tinggi strike price semakin tinggi harga put

Maturity Semakin lama jatuh tempo semakin tinggi harga call maupun put

Volatility Semakin besar volatilitas harga undelying semakin tinggi harga call maupun put

(44)

22

Debt service ratio merupakan model

pengukuran risiko kredit pada :

a.

Retail

b.

Corporate

c.

Sovereign

(45)

5.1.1 Sovereign credit risk – financial ratio analysis

Sovereign risk seringkali diukur dengan cara yang sama seperti corporate debt dengan model yang dirancang

untuk menentukan kemampuan pemerintah suatu negara memenuhi hutangnya (service its debts).

Debt service ratio didefinisikan sebagai pembayaran bunga dan pokok dari hutang valas pada masa

mendatang dibagi dengan pendapatan ekspor dan penanaman modal asing (capital inflows).

Debt service ratio merupakan rasio yang penting untuk model2 pengukuran sovereign risk.

Seperti pada penilaian corporate debt, ada sejumlah rasio yang dapat membantu menilai kemampuan suatu negara untuk memenuhi hutangnya.

(46)

23

Inward investment merupakan suatu metode

untuk menilai kebijakan ekonomi domestik

yang melakukan bubbles. Yang dimaksud

dengan “bubbles” adalah :

a.

Cadangan devisa suatu negara

b.

Penilaian yang tinggi pada aset yang tidak tahan

lama

c.

Upaya peningkatan fungsi intermediasi bank

(47)

5.1.1 Sovereign credit risk – inward investment

Inward investment telah menjadi area analisa bagi investor dan bank, khususnya apabila dikaitkan dengan kebijakan ekonomi domestik yang melakukan ‘bubbles’ (penilaian yang tinggi pada aset tertentu padahal aset tersebut tidak bertahan lama).

Contoh bubbles :

Harga properti komersial yang membubung tinggi di Tokyo pada 1990-an, nilai perusahaan high technology di AS dan Eropa pada akhir 1990-an sampai dengan tahun 2002.

Bubbles juga berperan pada krisis hutang di Asia pada pertengahan 1990, dimana harga properti komersial dan nilai ekuitas di negara-2 Asia

(48)

24.

Apabila suatu negara melakukan

kebijakan ekonomi yang bersifat bubbles,

maka bank perlu mengantisipasinya

dengan melakukan :

a.

Analisa sovereign risk

b.

Analisa country risk

c.

Analisa debt service ratio

(49)

5.1.1 Sovereign credit risk – sovereign risk and country

risk

Sovereign risk dan country risk seringkali dipandang

sebagai sinonim, padahal sovereign risk bisa dipandang sebagai bagian dari country risk.

Country risk meliputi hukum domestik, politik dan

lingkungan perekonomian serta bagaimana hal-2 tersebut mempengaruhi sektor swasta dalam perekonomian.

Analisa country risk sangat perlu apabila memandang inward investment yang melibatkan pinjaman antar

negara, baik kepada perusahaan, individu maupun untuk proyek

(50)

25.

Yang dimaksud dengan mortgage

finance adalah :

a.

Pendanaan untuk sindikasi

b.

Pendanaan untuk korporasi

c.

Pendanaan untuk rumah

(51)

5.1.3 Retail customer credit risk

Pendanaan untuk rumah biasanya dikaitkan dengan “mortgage finance”.

The sale and purchase of mortgages by professional investors, including pension funds and investment management companies through the issues of securitized bonds has led to the development of highly sophisticated models to calculate the value of different mortgage securitization bonds. These calculations include the credit standing of the bonds.

(52)

26.

Rasio yang digunakan untuk

menilai kemampuan likuiditas calon

debitur adalah :

a.

Aktiva lancar dibagi pasiva lancar

b.

Arus kas dibagi bunga pinjaman

c.

Kewajiban jangka panjang dibagi

(53)

5.2 The origin and use of credit analysis

5.2.2 Analysis of creditworthiness – corporate risk

Key ratios (rasio-rasio kunci)

Rasio yang biasanya digunakan dalam analisis kredit korporasi mencakup:

Kinerja operasi Laba bersih dibagai kekayaan bersih (ROE) dan penjualan dibagi aktiva tetap

(perputaran aktiva tetap).

debt service capability Arus kas dibagi bunga pinjaman

financial gearing (leverage) Kewajiban jangka panjang dibagi capital (kewajiban jangka panjang + modal)

likuiditas Aktiva lancar dibagi kewajiban lancar

Rasio dapat digunakan untuk mengembangkan grading models. Sebagai contoh, rasio dapat dibandingkan dengan angka rata-rata industri, yang dikenal dengan univariate analysis, atau dimasukkan

(54)

27.

Upaya menjamin kelangsungan

operasi bank setelah munculnya

kejadian eksternal yang sangat

merugikan adalah :

a.

Business continuity planning

b.

Business resumption planning

c.

a dan b benar

(55)

6.3.5 External risk

Dulu bank aktif memperhatikan risiko eksternal untuk melindungi dirinya dari dampak buruk, misalnya melindungi bank terhadap pencurian.

Beberapa kejadian eksternal cukup memberi dampak yang besar sehingga menghentikan kemampuan bank menjalankan bisnisnya. Akibatnya harus disusun suatu upaya besar untuk menjamin

kelangsungan operasi bank setelah kejadian semacam itu. Upaya menjamin kelangsungan operasi bank tersebut disebut sebagai business continuity planning atau business

resumption planning. Sebelum Basel II fokus utama para manajer risiko operasional pada beberapa bank adalah pada business

(56)

28.

Outsourcing menimbulkan risiko

operasional pada kendali bank,

karena :

a.

Outsourcer mungkin merupakan subyek

ekonomi yang berbeda dengan bank

b.

Outsourcer mungkin merupakan subyek

regulasi yang berbeda dengan regulasi

bank

(57)

6.4 How operational risk is changing

6.4.2 Why the severity of operational risk events is

increasing

Outsourcing

Beberapa bank melakukan outsource untuk operasionalnya,

seringkali dari luar negeri. Kesepakatan outsourcing semacam ini dipilih karena benefit efisiensi biaya dan proses. Meskipun

demikian, outsourcing menimbulkan risiko operasional pada kontrol bank karena:

•bank mempercayakan elemen penting konsumennya kepada pihak outsourcer

•outsourcer mungkin merupakan subyek ekonomi yang cukup berbeda

•outsourcer mungkin merupakan subyek dari regulasi yang berbeda dengan regulasi bank.

(58)

29.

Proses penilaian modal internal

secara berkelanjutan yang merupakan

bagian integral pengelolaan aktivitas

bisnis bank adalah tanggung jawab

dari :

a.

Manajemen Bank

b.

Supervisor

(59)

7.1 The importance of supervisory review

7.1 Proses penilaian modal secara internal

¾ Supervisory review bukanlah suatu pengganti untuk manajemen bank. Dewan direktur dan para senior

dalam manajemen sebuah bank mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa mereka mampu

menjaga modal yang cukup untuk mendukung aktivitas bisnis bank, termasuk pula hal-hal diluar lingkup pilar 1. ¾ Manajemen Bank bertanggung jawab untuk

mengembangkan suatu penilaian modal secara internal secara berkelanjutan yang merupakan bagian integral dalam mengelola suatu aktivitas bisnis bank.

(60)

30. Prinsip kedua dari four eyes principles

pada proses supervisory adalah :

a.

Bank harus mempunyai suatu proses untuk

menaksir kecukupan modal

b.

Supervisor harus memastikan bahwa bank

beroperasi di atas ketentuan rasio modal

minimum

c.

Supervisor harus meninjau ulang dan

mengevaluasi strategi bank dan pemenuhan

kecukupan modal internal

d.

Supervisor pada tahap awal perlu intervensi

untuk menjaga agar modal tidak jatuh di

(61)

7.2 An overview of the four key principles

7.2.2 Prinsip 2

„Supervisor harus meninjau ulang dan mengevaluasi

strategi bank dan pemenuhan kecukupan modal internal, seperti halnya memonitor dan memastikan kepatuhan terhadap rasio modal yang ditetapkan Pemerintah

„Para supervisor harus mengambil tindakan pengawasan

(62)

31.

Four eyes principles tercantum pada :

a.

Pilar 1 Basel II

b.

Pilar 2 Basel II

c.

Pilar 3 Basel II

(63)

7.2 An overview of the four key principles

7.2 Overview empat prinsip utama

Basel Committee memperkenalkan 25 prinsip inti pengawasan dalam " Prinsip Inti untuk Pengawasan Perbankan yang Efektif", yang dikeluarkan pada bulan September 1997.meliputi :

a. pre-conditions untuk pengawasan perbankan yang efektif b. perijinan dan struktur

c. peraturan prinsip kehati-hatian

d. metode pengawasan perbankan yang berkelanjutan e. kebutuhan informasi

f. kekuasaan formal

g. cross-border (lintas budaya) perbankan

Pilar 2 mengidentifikasi empat prinsip kunci supervisory untuk melengkapi ke 25 kebijakan inti tersebut

.

(64)

32. Yang paling membutuhkan kepatuhan

terhadap disclosure adalah :

a.

Bank Go Publik

b.

Bank Umum

c.

Bank Perkreditan Rakyat

d.

Ketiganya memiliki tingkat kepatuhan

yang sama

(65)

7.3 The nature of disclosure

7.3 Kebutuhan Listing Authorities

Dalam kasus perusahaan yang listing pada suatu pasar bursa, perusahaan harus membuat disclosure yang diperlukan oleh exchange rules.

Peraturan listing memerlukan cakupan publikasi laporan secara luas ( sering dikenal sebagai FILINGS). Otoritas listing terkait dengan kebutuhan pemegang saham dan secara keseluruhan di dalam FILINGS ini berisi informasi keuangan yang terperinci.

Otoritas tidak hanya menetapkan aturan mereka sendiri; mereka juga bertanggung jawab untuk memasukkan

(66)

33.

Peraturan Bank Indonesia yang

menetapkan ketentuan tentang

implementasi Good Corporate

Governance adalah :

a.

PBI 5/8/2003

b.

PBI 7/25/2005

c.

PBI 8/4/2006

(67)

PRINSIP DASAR GCG

PBI No: 8/4/PBI/2006

• Transparansi(transparan):keterbukaan informasi & Proses dlm pengambilan keputusan.

• Accountability (akuntabilitas):kejelasan fungsi & tanggung jawab agar pengelolaan bank efektif.

• Responsibility(pertanggungjawaban):kepatuhan thd perundang-undangan & prinsip pengelolaan sehat.

• Independency(independensi):pengelolaan yg profesional tanpa pengaruh/tekanan dari pihak manapun.

• Fairness(kewajaran):Keadilan & kesetaraan dlm memenuhi hak-hak stakeholder.

(68)

34. Komite yang bertugas untuk

memastikan bahwa manajemen

mengambil langkah-langkah

perbaikan pengendalian intern atau

ketaatan terhadap kebijakan dalam

kurun waktu tertentu adalah :

a.

Komite Manajemen Risiko

b.

Komite Audit

(69)

8.2 Implementasi sound corporate governance

8.2.3 Komite khusus

Komite khusus dapat dibentuk agar anggota dewan yang layak dapat melihat lebih luas bidang-bidang tertentu. Komite ini melingkupi

bidang :

• risk management – menciptakan kesamaan persepsi aktivitas senior management dalam mengelola kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum dan resiko lainnya

audit – menyamakan persepsi terhadap auditor dan eksternal bank,

memastikan manajemen mengambil langkah perbaikan yang sesuai dalam kurun waktu tertentu untuk membenahi kelemahan kontrol, serta ketidaktaatan terhadap kebijakan, hukum, dan

regulasi

• remuneration – menyamakan persepsi terhadap kompensasi

senior management dan personel kunci lainnya serta memastikan kompensasi sesuai dengan budaya, tujuan, dan kontrol kondisi

(70)

35.

Teller menerima tarikan cek tanpa

memeriksa kesesuaian tanda tangan, namun

bank tidak mengalami kerugian atas

kelalaian ini.

a.

Kejadian ini tidak termasuk risiko operasional

dan tidak perlu dicatat

b.

Kejadian ini termasuk risiko operasional dan

dicatat sebagai kejadian near miss

c.

Bank harus memperbaiki internal process untuk

mengantisipasi kejadian yang sama

(71)

6.2.1 Risk of loss - contoh

Bank G telah melakukan kesepakatan melakukan transaksi valas. Setelah terjadi kesepakatan trader melakukan kesalahan transaksi bahwa dia membeli Yen

dengan menggunakan US dollars. Hal ini berarti bahwa trader mengambil posisi

‘long’ pada Yen. Untuk mengatasi kesalahan, trader bermaksud untuk menjual Yen yang dipikirnya telah dimiliki dan digunakan untuk membeli dollar.

Akibat dari kesalahan awal tsb., dia melakukan double kontrak dollarnya, satu untuk menutup kesalahan, kontrak lainnya untuk mengambil posisi ‘squaring off’ (dia tidak memiliki dollar maupun Yen). Saat settlement kesalahan dapat diatasi dan dia menjual dollarnya. Untungnya nilai tukar dollar mengalami peningkatan sehingga dia memperoleh keuntungan.

Pada contoh ini, kejadian risiko operasional, kesalahan menempatkan transaksi, mengakibatkan Bank G memperoleh keuntungan bukan kerugian. Hal ini harus dicatat sebagai kesalahan (near miss) untuk membantu bank memperbaiki prosesnya karena belum tentu akan beruntung pada masa mendatang. Dalam kejadian ini keuntungan dicatat sebagai “sundry profit” bukan sebagai “trading

(72)

36. Pelaksanaan fit and proper test oleh

Bank Indonesia merupakan tugas di

bidang :

a.

Kebijakan moneter

b.

Memelihara sistem pembayaran

c.

Mengatur dan mengawasi bank

(73)

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.4 Regulation and supervision

Bank Indonesia mengeluarkan peraturan tambahan tentang perizinan untuk sebuah bank yang meliputi :

• Menyetujui pembukaan dan penutupan kantor bank

• Menyetujui pantas tidaknya suatu manajemen bank ( uji kepatutan & kelayakan)

• Menyetujui untuk aktivitas perbankan tertentu.

Itu sebagai bentuk peran pengawasan bank Indonesia selaku pengawas dalam mewujudkan monitoring langsung, baik secara laporan berkala yang disampaikan bank kepada Bank Indonesia maupun melakukan pemeriksaan langsung pada bank

(74)

37.

Bank A memiliki rasio kecukupan modal

sebesar 12 %. Bank B mempunyai rasio

kecukupan modal 10 %. Manakah

pernyataan berikut yang tepat :

a.

Bank A mempunyai peluang ekspansi

bisnis lebih besar dibanding Bank B

b.

Bank B mempunyai peluang ekspansi

bisnis lebih besar dibanding Bank A

c.

Bank A pasti mempunyai modal lebih

besar dibanding Bank B

(75)

2.2.3 The target capital ratio

Rumus perhitungan target modal: Modal

---

x 100 = Ratio (min 8%)

ATMR

Perhitungan target modal adalah dengan menghitung ATMR. The Basel Committee terus melakukan revisi ketentuan Basel I Accord untuk dapat mencakup kegiatan bank yang makin luas.

(76)

38.

Jika seorang nasabah ingin

melakukan transfer pembayaran

mata uang US Dollar maka bank

melakukannya melalui :

a.

BI – RTGS

b.

USD – FTS

(77)

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.3 Payment system

Sistem pembayaran nasional meliputi sejumlah systems. Ini adalah:

a. System Kliring Nasional b. T+0 Skedul Kliring

c. Inter-bank Electronic Transaction and Information Service System (BI-LINE)

d. BI RTGS Real Time Gross Settlement ( RTGS) e. US Dollar Fund Transfer System.

(78)

39.

Implementasi Manajemen Risiko

seperti tertuang pada PBI 5/8/2003

tidak berlaku bagi :

a.

Bank berbentuk hukum Perseroan

Terbatas

b.

Bank berbentuk hukum Perusahaan

Daerah

(79)

9.2 Risk management – structure and scope

9.2.3 The application of regulation 5/8/PBI/2003

Peraturan ini berlaku bagi :

a. Bank berbentuk hukum Perseroan Terbatas

b. Bank berbentuk hukum Perusahaan Daerah

(80)

40. Risiko yang tercantum pada PBI

5/8/2003 dan profilnya harus

dilaporkan kepada Bank Indonesia

namun tidak tercantum pada Basel II

adalah :

a.

Risiko Hukum

b.

Risiko Reputasi

(81)
(82)

41.

Pembukaan dan penutupan bank

merupakan salah satu peran bank

sentral yang terkait dengan :

a.

Pembuatan kebijakan moneter

b.

Penyelenggara sistem

pembayaran

(83)

9.1 The role of Bank Indonesia

9.1.4 Regulation and supervision

Bank Indonesia mengeluarkan peraturan tambahan tentang perizinan untuk sebuah bank yang meliputi :

Menyetujui pembukaan dan penutupan kantor bank

• Menyetujui pantas tidaknya suatu manajemen bank ( uji kepatutan & kelayakan)

• Menyetujui untuk aktivitas perbankan tertentu.

Itu sebagai bentuk peran pengawasan bank Indonesia selaku pengawas dalam mewujudkan monitoring langsung, baik secara laporan berkala yang disampaikan bank kepada Bank Indonesia maupun melakukan pemeriksaan langsung pada bank

(84)

42. Yang BUKAN merupakan metode

untuk melakukan proses review oleh

supervisor adalah :

a.

Off-site visits dan on site visits

b.

Fit & proper terhadap pengurus bank

c.

Pertemuan dengan manajemen bank

d.

Monitoring terhadap laporan secara

berkala

(85)

7.2 An overview of the four key principles

7.2.2 Prinsip 2

Proses Supervisory review dapat meliputi kombinasi

tertentu dari metode informasi sebagai berikut :

a. kunjungan di tempat

b. off-site review

c. pertemuan-pertemuan dengan manajemen bank

d. meninjau ulang relevansi pekerjaan yang

dilaksanakan oleh auditor eksternal dalam

memonitor laporan berkala

(86)

43. Tugas untuk mengawasi manajemen senior

dalam mengelola risiko kredit, pasar,

likuiditas, operasional, hukum dan risiko

lainnya yang melekat dalam aktivitas usaha

bank adalah merupakan kewajiban dari

suatu komite pada dewan komisaris, yaitu:

a.

Komite Audit

b.

Komite Renumerasi

(87)

8.2 Implementasi sound corporate governance

8.2.3 Komite khusus

Komite khusus dapat dibentuk agar anggota dewan yang layak dapat melihat lebih luas bidang-bidang tertentu. Komite ini melingkupi

bidang :

risk management – menciptakan kesamaan persepsi aktivitas

senior management dalam mengelola kredit, pasar, likuiditas,

operasional, hukum dan resiko lainnya

• audit – menyamakan persepsi terhadap auditor dan eksternal bank, memastikan manajemen mengambil langkah perbaikan yang

sesuai dalam kurun waktu tertentu untuk membenahi kelemahan kontrol, serta ketidaktaatan terhadap kebijakan, hukum, dan

regulasi

• remuneration – menyamakan persepsi terhadap kompensasi

senior management dan personel kunci lainnya serta memastikan kompensasi sesuai dengan budaya, tujuan, dan kontrol kondisi

(88)

44.

Suatu bank menerima pinjaman dalam

bentuk dolar, untuk menghindari risiko

valas bank tersebut melakukan transaksi

currency swap dengan Swap Dealer, yaitu

dolar ke rupiah. Dalam transaksi ini bank

tersebut terekspose pada risiko:

a.

Risiko valas

b.

Risiko valas dan bunga dalam dolar

c.

Risiko bunga baik dalam rupiah maupun dolar

(89)

4. MARKET RISK & TREASURY RISK

4.3 TRADING INSTRUMENTS

4.3.2 CASH

Instrumen Deskripsi Risiko Aplikasi

Spot FX Pertukaran dlm mata uang berbeda maks 2 hari FX Forward FX Pertukaran dlm mata uang berbeda dimasa datang (lebih lama

dari dua hari) dg kurs yg disepakati saat ini

Bunga & FX Prsh INA akan bayar US$ dlm 3 bulan ---> beli forward US$ 3 bulan

FX rate swap Kombinasi transaksi spot & forward dalam mata uang berbeda sekaligus

Bunga Prsh INA terima US$ sekarang, diinves dlm RP, wajib membayar US$ dlm 3 bulan -> jual US$ spot + jual Rp forward

Loan & Deposit Diperdagangkan di pasar uang antar bank dengan bunga tetap. Umumnya untuk pemenuhan likuiditas

Bunga

Bonds Pembayaran bunga tetap secara periodik dan pokok pinjaman pada saat jatuh tempo

Bunga & spesifik

Equity Pembelian dan penjualan saham perusahaan yang tercatat di berbagai bursa

Ekuitas & spesifik Commodity (Physical) Membeli/menjual produk fisik (hasil pertanian, emas) dipasar

sekunder pada harga & waktu yg telah disepakati. OTC traded

Komoditas Commodity (Forward) Komdts & bunga

4.3.3 DERIVATIVES: Nilainya tergantung pada underlying assets. Tidak terdapat pertukaran principal

Future contracts Kesepakatan untuk masuk kontrak underlying (beli / jual) dimasa datang pada harga yang disepakati. Exchange traded

Bunga & risk in underlying

Prsh INA akan bayar US$ dlm 3 bulan -> beli future US$ 3 bilan

Interest rate swap Pertukaran suku bunga (fixed/floating) periodik dimasa datang, tanpa principal.OTC traded

Bunga Prsh pinjam dg bunga floating, khawatir bunga naik -> swap float dg tetap

Currency swap Pertukaran suku bunga periodik dimasa datang dalam mata uang berbeda disertai dg pertukaran mata uang pada kurs spot. OTC traded

Bunga & FX Prs INA pinjamn dlm US$ -> swap US$ pokok + bunga dg Rp

(90)

45.

Risk appetite / besarnya risiko yang

siap untuk ditanggung ditentukan oleh :

a.

Bank Sentral

b.

Dewan Komisaris

c.

Dewan Direksi dan Pejabat Eksekutif

(91)

9.3 Risk management – limit setting

9.3.1 Kebijakan Prosedur dan penetapan limit

Kebijakan Manajemen Resiko berisi suatu penilaian resiko yang berhubungan dengan masing-masing transaksi dan produk. Sekurang-kurangnya meliputi: a. penetapan risiko yang terkait dengan produk dan transaksi

perbankan yang didasarkan atas hasil analisis Bank terhadap risiko yang melekatpada setiap produk dan transaksi

perbankan yang telah dan akandilakukan sesuai dengan nature dan kompleksitas usaha Bank;

b. penetapan penggunaan metode pengukuran dan sistem informasimanajemen risiko dalam rangka mengkalkulasi

secara tepat eksposur risiko pada setiap produk dan transaksi perbankan serta aktivitasfungsional Bank,

(92)

46.

Dalam menghitung besarnya

unexpected loss dalam risiko

operasional, bank menggunakan:

a.

Rata-rata kerugian masa lalu

b.

Median kerugian masa lalu

c.

Modus kerugian masa lalu

(93)

6.2.2 Expected loss verses unexpected loss

Suatu metode sederhana menghitung unexpected loss adalah menggunakan standard deviation. Standard deviation adalah suatu ukuran jarak suatu nilai dari rata2nya (average/mean). Dalam keadaan ini, standard deviation mengukur jarak suatu kerugian dari risiko

operasional tertentu, terhadap rata-2 kerugian semua

kejadian risiko operasional. Unexpected losses umumnya diasumsikan sebagai kerugian dengan standard deviation yang memasukkan maksimal 0.1% dari semua kerugian terhadap rata2nya (average/ mean).

(94)

47. Ketika kejadian-kejadian risiko

operasional terjadi, maka dampak

yang langsung terhadap nasabah

adalah seperti di bawah ini kecuali :

a.

Keuntungan bank menurun

b.

Lemahnya keamanan

c.

Pelayanan terganggu

(95)
(96)

48.

Hal di bawah ini adalah salah satu

pertimbangan utama mengapa bank

memiliki kecukupan modal dalam Pilar I

Basel II:

a.

Melindungi bank dari risiko kredit, operasional

dan risiko pasar di trading book

b.

Melindungi bank risiko konsentrasi kredit.

c.

Melindungi bank risiko suku bunga di banking

book

(97)

3.1 Tiga Pilar Regulasi

3.1.4 Struktur Regulasi Basel II

Pillar 1

Minimum Capital Credit Risk Operational Risk Market Risk – Trading Book Standardised Approach IRB approaches 1996 Capital Accord amendment Basic Indicator Approach Advanced Measurement Approach Foundation Advanced Standardised Approach

(98)

49. Implementasi peraturan baru yang

diterbitkan oleh Bank Indonesia dapat

menimbulkan risiko operasional yang

bersumber dari :

a.

Proses Internal

b.

Sistem

c.

Eksternal

(99)

RISIKO OPERASIONAL

Proses Internal Karyawan Sistem Eksternal Hukum

Proses atau prosedur Karyawan bank Penggunaan

teknolo-gi & sistem Diluar kendali bank

Ketidakpastian dalam aplikasi atau interpre-tasi kontrak, hukum,

atau regulasi Definisi 6.3 Event Categories -Inadequate documentation -Lack of controls -Markerting errors -Misselling -Money laundering -Incorrect or insufficient reporting

-Health and safety issues -High staff turnover

-Internal fraud -Labor disputes -Poor mgmt practice

-Poor staff training -Over reliance on key staff

-Data corruption -Data entry errors -Programming errors -Reliance on “black-box”

technology -Service interruption -System security issues

-Events at other bank which have an industry-wide impact

-External fraud & theft -Fire

-Natural disaster -Failure of outsourcing

arrangement

-The implementation of new

-KYC legislation -Data protection ….

-Etc.

Risk Events

(100)

50. Terkait dengan risk loss dan risk event,

manakah kalimat di bawah ini yang tidak

tepat :

a.

Risk loss terjadi karena adanya risk event.

b.

Risk loss dapat berdampak pada finansial

maupun non finansial

c.

Risk event terjadi karena adanya risk loss

d.

Risk loss dapat berdampak pada kerugian

langsung maupun tidak langsung

(101)

1.1 Banks, risk and the need for regulation

1.1

Banks, risk and the need for regulation

Konsep penting dalam risiko yang perlu dimengerti dalam program sertifikasi:

Risk event adalah terjadinya suatu peristiwa yang menyebabkan potensi kerugian. (a bad outcome).

Risk loss adalah kerugian yang harus diterima sebagai

konsekuensi langsung maupun tidak langsung dari risk

event. Kerugian ini dapat berupa kerugian finansial

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tahapa seleksi paket Pengawasaan Penyusunan Data Base Jalan dan Jembatan Di Kabupaten Indragiri Hilir (Ulang) , Pada Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Indragiri

Perangkat Daerah dan Peraturan Kepala BKPM Nomor 7 Tahun 2016 tentang Penetapan Hasil Pemetaan Urusan Pemerintahan Daerah Di Bidang Penanaman Modal serta Peraturan Menteri Dalam

59 - 59 - Sistem Sertifikasi Pendidik untuk Dosen Ditjen

- Kelebihan dan kekurangan teknologi transportasi tradisional (masa lalu) dan komunikasi modern (masa kini)  Guru bersama siswa merefleksi

Pengabdian ini dilakukan sebagai kegiatan pendampingan kepada orangtua/murid dan para pengajar untuk dapat mengoperasikan Monbela (Monitoring Hasil Belajar al-Quran) agar hasil

(4) Bebaskan rumah dari kebisingan, baik yang muncul dari luar maupun dari dalam rumah.Jabaran tiga faktor utama Gaia House Charter tersebut dalam proses membangun

[r]

Menurut Bourgeois (1978) seperti dikutip Hwang (2005) mendapati bahwa perubahan lingkungan yang tidak terprediksi membahayakan keberlangsungan sebuah perusahaan dan