• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Pembentukan Public Safety Center

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Panduan Pembentukan Public Safety Center"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Dit. BUKD Page 1 Daftar Isi PENDAHULUAN ... 5 A. LATAR BELAKANG... 5 B. TUJUAN ... 5 C. RUANG LINGKUP ... 6 D. SASARAN ... 6 E. PENGERTIAN ... 6 F. DASAR HUKUM ... 6 BAB II ... 8

POS PELAYANAN GAWAT DARURAT TERPADU ... 8

A. PENGERTIAN ... 8

B. MAKSUD DAN TUJUAN ... 8

C. FUNGSI POS YAN GADAR TERPADU ... 8

D. PRINSIP PELAYANAN ... 8

E. KETENAGAAN ... 8

F. RUANG LINGKUP KEGIATAN ... 9

G. SARANA DAN PRASARANA ... 9

H. PERALATAN ... 9

I. PEMBIAYAAN ... 10

J. PENANGGUNGJAWAB ... 10

K. INDIKATOR KEBERHASILAN ... 10

L. POLA PENGEMBANGAN ... 10

LANGKAH-LANGKAH PEMBENTUKAN POS YAN GADAR TERPADU ... 11

A. PERSIAPAN ... 11

B. PELAKSANAAN ... 14

C. PENGAWASAN & PENGENDALIAN ... 15

D. EVALUASI, PENCATATAN & PELAPORAN ... 15

E. HAL LAIN YANG PERLU DIKETAHUI ... 15

BAB IV ... 16

PELAKSANAAN POS YAN GADAR TERPADU DI BEBERAPA DAERAH ... 16

A. LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN ... 16

(2)

Dit. BUKD Page 2

C. SARANA ... 18

D. UNSUR YANG TERLIBAT ... 18

E. PRINSIP PELAYANAN ... 18

F. JENIS DAN SUMBER PEMBIAYAAN ... 18

G. SISTEM INFORMASI ... 19

H. KOORDINASI KLAIM ... 19

BAB V ... 20

PENUTUP ... 20

DAFTAR BUKU RUJUKAN ... 21

TIM PENYUSUN ... 22

(3)

Dit. BUKD Page 3 PENGANTAR

Kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan menimpa siapa saja. Pertolongan kepada pasien sejak di lokasi sampai menuju Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus dilakukan dengan cara yang benar dan tepat, jangan sampai memperburuk kondisi pasien. Penanganan pasien gawat darurat pra Rumah Sakit sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar lokasi kejadian juga masyarakat awam yang ada dilokasi saat kejadian berlangsung.

Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (Pos Yan Gadar Terpadu) /Public

Safety Center (PSC) merupakan unit penanganan pertama kegawatdaruratan

sehari-hari di masyarakat yang diharapkan menjamin respon cepat dan tepat untuk mencegah kecacatan dan menyelamatkan nyawa. Pembentukan dan pengembangan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu disesuaikan dengan kondisi wilayah masing–masing daerah.

Penyusunan buku Panduan Pembentukan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu ini dimaksudkan agar seluruh Dinas Kesehatan, baik di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota serta lintas sektor terkait mempunyai acuan dalam mengembangkan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu di wilayahnya masing–masing. Pada Kesempatan ini, perkenankan kami menyampaikan ucapan terimakasih pada semua pihak yang telah membantu penyusunan buku ini.

Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar

(4)

Dit. BUKD Page 4 SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah S.W.T, karena atas karunia-Nya buku Panduan Pembentukan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (Pos Yan Gadar Terpadu)/Public Safety Center (PSC) ini dapat tersusun. Pos Yan Gadar Terpadu merupakan salah satu pendukung dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dimana masyarakat dapat turut aktif dalam menghadapi kegawatdaruratan yang dapat terjadi sehari– hari maupun dalam keadaan bencana. Hal ini sesuai dengan apa yang ingin dicapai dalam Deklarasi Makassar tahun 2000, yaitu terwujudnya Safe

Community.

Dengan adanya Inpres no. 4 tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan, dimana Kementerian Kesehatan berperan dalam pilar V, yaitu penanganan pra dan pasca kecelakaan dengan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), semakin memperkuat pentingnya keberadaan Pos Yan Gadar Terpadu di setiap Kabupaten/Kota. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran serta lintas sektor dan stake holder terkait akan sangat membantu dalam pelaksanaan Pos Yan Gadar Terpadu ini.

Kami menyambut baik tersusunnya buku Panduan Pembentukan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (Pos Yan Gadar Terpadu)/Public Safety

Center (PSC) ini dan kepada semua pihak yang membantu tersusunnya

panduan ini kami ucapkan terimakasih.

Jakarta, Agustus 2013

(5)

Dit. BUKD Page 5 BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Sehat adalah hak asasi setiap orang yang menjadi tanggungjawab pemerintah, swasta dan masyarakat. Kondisi sehat bisa tidak terwujud bila terjadi kegawatdaruratan baik dalam kondisi sehari-hari maupun bencana. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kecelakaan lalulintas di Indonesia yang diambil dari data Polri, tahun 2011 terdapat 108.696 kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia sebanyak 31.195 orang, sedangkan pada tahun 2012 terdapat 109.038 kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang. Ini tentunya menjadi perhatian kita mengingat semakin meningkatnya angka kejadian kecelakaan lalu lintas dan jumlah korban kecelakaan. Kejadian kegawatdaruratan sehari-hari ini dapat disebut sebagai silent disaster . Sejak tahun 2000 Kementerian Kesehatan RI telah mengembangkan konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), memadukan penanganan gawat darurat mulai dari tingkat pra Rumah Sakit sampai tingkat Rumah Sakit dan rujukan antar Rumah Sakit dengan prinsip Time

Saving is Life and Limb Saving. Penanganan pada tahap Pra Rumah Sakit

dikenal dengan nama Public Safety Center (PSC) yang selanjutnya disebut Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (Pos Yan Gadar Terpadu), diharapkan dapat menjamin respon cepat dan tepat untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan setiap orang yang mengalami kegawatdaruratan.

Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk pembentukan Pos Yan Gadar Terpadu, sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat yang merupakan perpaduan dari unsur pelayanan Ambulan gawat darurat, unsur pengamanan (kepolisian), dan unsur penyelamatan, serta dapat mengembangkannya sesuai dengan kondisi wilayah dan permasalahan yang dihadapi.

B. TUJUAN Umum

Tersedianya panduan bagi Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota dalam pembentukan dan operasionalisasi Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu.

Khusus

a. Diketahuinya langkah-langkah dalam pembentukan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu.

(6)

Dit. BUKD Page 6 b. Diketahuinya peran masyarakat sebagai penolong pertama (first

responder).

C. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup dari buku ini adalah panduan bagi Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota dalam pembentukan dan operasionalisasi Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu, disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat.

D. SASARAN

1. Dinas Kesehatan Provinsi

2. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 3. Lintas sektor terkait

E. PENGERTIAN

1. Gawat darurat adalah suatu keadaan dimana sesorang secara tiba tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam anggota badannya dan jiwanya bila tidak mendapat pertolongan dengan segera 2. Kedaruratan adalah suatu keadaan yang mengancam nyawa individu

atau kelompok masyarakat luas sehingga menyebabkan ketidakberdayaan yang memerlukan respon intervensi sesegera mungkin guna menghiundari kematian dan atau kecacatan serta kerusakan lingkungan yang luas

3. Tanggap darurat (emergency response) adalah reaksi manajemen pada tahap awal bencana/tahap darurat berupa penyelamatan (rescue), evakuasi (SAR) dan Rapid Assessment.

4. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

5. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

F. DASAR HUKUM

1. Inpres RI Nomor 4 tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan;

2. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 462 Tahun 2002 tentang Safe

(7)

Dit. BUKD Page 7 3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1529 Tahun 2010 tentang

Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif;

4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 882 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penanganan Evakuasi Medik;

5. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 301 Tahun 2012 Tentang Tim Pengembangan Safe Community dan SPGDT;

(8)

Dit. BUKD Page 8 BAB II

POS PELAYANAN GAWAT DARURAT TERPADU A. PENGERTIAN

Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu adalah unit penanganan pertama kegawatdaruratan sehari-hari di masyarakat yang diharapkan menjamin respon cepat dan tepat untuk mencegah kecacatan dan menyelamatkan nyawa. Unit ini dapat terdiri dari unsur-unsur: Ambulan, SAR/keselamatan, Kepolisian/ pengamanan.

B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud

Menjamin terlaksananya pelayanan gawat darurat sehari-hari 2. Tujuan

a. Terlaksananya penanganan korban dengan cepat dan tepat b. Terlaksananya evakuasi

C. FUNGSI POS YAN GADAR TERPADU

Merupakan wadah koordinasi untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat yang mengalami kegawatdaruratan. Dalam mejalankan fungsinya, Pos Yan Gadar Terpadu berperan untuk:

1. Mempercepat response time penanganan korban kegawatdaruratan Pra Rumah Sakit.

2. Mempercepat proses evakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat.

3. Mencegah kecacatan dan kematian akibat kegawatdaruratan. D. PRINSIP PELAYANAN

1. Time Saving is Life Saving; .

2. Response Time sesingkat mungkin.

3. The Right Patient to The Right Place in The Right Time. E. KETENAGAAN

Disesuaikan dengan jenis potensi kegawatdarutan/masalah/bencana yang dihadapi. Dapat berupa unsur atau gabungan unsur:

1) Medis (pelayanan Ambulan gawat darurat)

2) Penyelamatan korban (SAR, unit pemadam kebakaran) 3) Pengamanan (kepolisian, Satpol PP dan Linmas)

4) Masyarakat (dalam rangka memaksimalkan fungsi Pos Yan Gadar Terpadu)

(9)

Dit. BUKD Page 9 F. RUANG LINGKUP KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan meliputi penanganan kegawatdarutan sehari hari pra Rumah Sakit, yang diarahkan pada respon intervensi segera guna menghindari kecacatan atau kematian sebelum dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan/Rumah Sakit yang dituju.

G. SARANA DAN PRASARANA

1. Pos/bangunan/tempat berkumpul tenaga untuk Pos Yan Gadar Terpadu.

2. Ambulan gawat darurat yang berfungsi untuk merujuk pasien setelah dilakukan stabilisasi.

3. Sentral dan jaringan komunikasi (call center). Sarana prasarana yang dibutuhkan adalah:

SARANA PRASARANA CALL CENTER Data - Data RS & Ambulans

- Data jejaring Call Center regional lainnya

Perangkat Komunikasi - Call Center

- Radio komunikasi Link komunikasi - Line telepon

- Akses data ke sistem informasi

Aplikasi - Sistem call log & tracking

Gedung - Ruang kantor

- Workstation

- Interior yang spesifik (semi peredam suara)

- Ruang istirahat - Kamar mandi

- Catu daya (Listrik PLN, genset).

H. PERALATAN

Peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan keadaan yang dihadapi antara lain:

1. Alat Medis

Alat untuk penanganan kegawatdaruratan Airway, Breathing,

Circulation dan Disability, baik tingkat dasar maupun lanjutan.

Alat untuk penyelamatan (rescue). 2. Alat Non Medis

(10)

Dit. BUKD Page 10 I. PEMBIAYAAN

Pembiayaan dapat bersumber dari: 1. APBD Provinsi/Kabupaten/Kota

2. Sumber lain yang tidak mengikat (swadaya masyarakat, Corporate

Social Responsibility (CSR), Non Government Organization (NGO),

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dll) J. PENANGGUNGJAWAB

1. Penanggung jawab tingkat Provinsi adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Pelaksanaan tugas dilingkungan Dinas Kesehatan provinsi dikoordinasikan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.

2. Penanggung jawab pelayanan kesehatan tingkat Kabupaten/kota adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan tugas dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 3. Penanggung jawab pelayanan kesehatan di lokasi kejadian adalah

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Puskesmas sebagai pelaksana tugas Dinas Kesehatan.

K. INDIKATOR KEBERHASILAN L. POLA PENGEMBANGAN

1. Pos Yan Gadar Terpadu dapat dikelola oleh pihak swasta dibawah koordinasi Dinkes setempat.

2. Pos Yan Gadar Terpadu dapat melakukan sosialisasi atau pelatihan penanganan gawat darurat untuk awam kepada masyarakat, sekolah, dll.

3. Pos Yan Gadar Terpadu dapat menjadi tim task force pada saat terjadi bencana.

4. Selain pembentukan Pos Yan Gadar Terpadu, Kabupaten/Kota dapat melaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui Pembentukan Kelurahan Siaga, dengan berpedoman pada SK Menkes RI Nomor 1529 tahun 2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.

(11)

Dit. BUKD Page 11 BAB III

LANGKAH-LANGKAH PEMBENTUKAN POS YAN GADAR TERPADU A. PERSIAPAN

1. Tingkat Provinsi

- Dinas Kesehatan Provinsi:

a. Advokasi ke Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten

b. Penyiapan modul/buku saku pertolongan gadar bagi masyarakat awam umum dan awam khusus

c. Penyiapan modul/instrumen untuk monitoring dan evaluasi d. Penyiapan SPO pelayanan gadar, antara lain memuat:

1) Sistem informasi

2) Penggerakan komando

Perlu ditetapkan siapa komondan yang menjalankan tugas operasional sehari hari. Sistem komando dan komunikasi yang baik mempercepat waktu pelayanan

3) Penggerakan Ambulan

4) Pengerakan tim gadar di TKP 5) Rujukan korban

e. Inventarisasi Sumber Daya Kesehatan:

1) Jumlah dan lokasi fasilitas kesehatan (RS, Puskesmas) 2) Jumlah Ambulans

3) Jumlah tenaga kesehatan

4) Obat dan perbekalan kesehatan 5) Unit transfusi darah, dll

f. Penyiapan SDM

Pelatihan tenaga kesehatan, masyarakat awam khusus dan masyarakat awam umum.

g. Penyiapan sarana dan prasarana, termasuk Call Center.

Call Center sebaiknya menggunakan satu hotline yang mudah diingat dan diakses oleh masyarakat.

h. Uji coba pelayanan gadar i. Koordinasi lintas sektor

2. Tingkat Kabupaten/Kota - Bupati/Walikota:

a. Pengorganisasian Pos Yan Gadar Terpadu

Pengorganisasian dalam PSC terdiri dari 3 unsur pokok yaitu keamanan (polisi), kesehatan (Dinkes) dan keselamatan (SAR, PMK) dan unsur lain sesuai lokal spesifik daerah.

(12)

Dit. BUKD Page 12 Pengorganisasian PSC di tingkat Kab/Kota

- Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota:

a. Advokasi ke Pemerintah Daerah Kabupaten b. Membuat peta geomedik daerah rawan bencana c. Penetapan titik penempatan Pos

 Berbagai wilayah memiliki karakteristik dan kesulitan masing masing, baik diwilayah perkotaan maupun pedesaan. Adanya peta yang menggambarkan situasi wilayah menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan Pos Pelayanan Gadar/Sarana pelayanan.

 Prinsip penempatan sarana pelayanan adalah untuk mendekatkan dan mempercepat pelayanan ke masyarakat.

 Penetapan pos pelayanan gadar dapat diatur oleh masing masing pelaksana tugas, dapat satu atap atau satu area pelayanan.

 Bilamana ditetapkan pada satu atap atau satu area pelayanan, perlu disiapkan ruangan/gedung dan sarana prasarana pendukung.

 Bila menggunakan tempat masing masing pelaksana tugas satu koordinasi tapi tidak satu atap, perlu didukung oleh sistem komunikasi yang handal yang memungkinkan adanya pergerakan yang sama bilamana ada kasus kegawatdaruratan.

d. Inventarisasi Sumber Daya Kesehatan:

1) Jumlah dan lokasi fasilitas kesehatan (RS, Puskesmas) 2) Jumlah Ambulans KETUA BUPATI/WALIKOTA SEKRETARIAT Kelompok PENYELAMATAN SAR Damkar Unit Rescue Kelompok PENGAMANAN Polisi TNI Satpol PP Linmas Satpam Kelompok MEDIS/AMBULANS Tim Ambulans (dr,perawat,supir) Kelompok PENDUKUNG Orari/Rapi, Bankompol, satgana,

tagana, PMI, NGO, Pramuka, KSR, Pencinta Alam, Masyarakat

(13)

Dit. BUKD Page 13 3) Jumlah tenaga kesehatan

4) Obat dan perbekalan kesehatan 5) Unit transfuse darah, dll

e. Penyiapan SDM

Pelatihan tenaga kesehatan, masyarakat awam khusus dan masyarakat awam umum.

f. Penyiapan sarana dan prasarana, termasuk Call Center.

Untuk Call Center, sebaiknya ada satu hotline yang mudah diingat dan diakses oleh masyarakat. Perlu dilakukan koordinasi dengan Telkom/Vendor telepon yang ada di daerah masing masing.

g. Penyiapan peralatan,

h. Membentuk tim reaksi cepat (Brigade Siaga Bencana) i. Membentuk pusdalop penanganan kegawatdaruratan j. Uji coba pelayanan gadar

Awalnya dapat dimulai dari kasus-kasus kecelakaan lalu lintas, pertolongan gadar ibu melahirkan, masyarakat yang mengalami serangan jantung, kerusuhan massal, bencana, dll). k. Koordinasi lintas sektor

3. Tingkat Kecamatan - Kepala Puskesmas:

a. Membuat peta geomedik daerah bencana b. Inventarisasi sumber daya

c. Membuat jalur evakuasi

d. Mengadakan pelatihan masyarakat awam khusus dan awam umum

e. Memperkuat kapasitas SDM gawat darurat di Puskesmas

f. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pertolongan gawat darurat

g. Penyediaan buku saku pertolongan gawat darurat h. Membentuk tim kesehatan lapangan

i. Memperkuat jejaring informasi masyarakat – Puskesmas j. Penyiapan sarana, prasarana dan peralatan

k. Memperkuat jejaring pelayanan rujukan

l. Menyiapkan SPO pelayanan gadar terpadu, meliputi: 1) Penerimaan informasi kejadian gawat darurat 2) Pertolongan pertama di TKP

3) Penggerakan ambulan dan tim kesehatan 4) Pertolongan oleh ambulan

m. Pelaksanaan uji coba n. Koordinasi lintas sektor

(14)

Dit. BUKD Page 14 B. PELAKSANAAN

Setelah melakukan ujicoba dan perbaikan, Pos Yan Gadar Terpadu dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui sosialisasi. Selanjutnya Pos Yan Gadar Terpadu dapat beroperasi sesuai dengan alur pelayanan yang telah ditetapkan. Alur pelayanan dapat digambarkan sebagai berikut: CALL CENTRE / PSC MASYARAKAT POLISI PEMADAM KEBAKARAN LAINNYA AMBULANS GAWAT DARURAT PENANGANAN DI TKP PENANGANAN DI AMBULANS

RUMAH SAKIT RUJUKAN

KEMBALI KE BASE TRIASE I

TRIASE II

(15)

Dit. BUKD Page 15 C. PENGAWASAN & PENGENDALIAN

Pengawasan dan pengendalian serta pertanggungjawaban oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

D. EVALUASI, PENCATATAN & PELAPORAN a. Evaluasi

Evaluasi setiap kegiatan dilakukan di tiap jenjang administrasi b. Pencatatan

1) Pelayanan kesehatan dasar dan rujukan 2) Penggunaan obat dan perbekalan kesehatan

3) Penerimaan dan pendistribusian bantuan yang diterima 4) Mobilisasi tenaga kesehatan

5) Pencatatan dilakukan dalam bentuk format yang ringkas dan jelas.

c. Pelaporan

1) Pelaporan dilakukan secara berkala disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi dilapangan

2) Pelaporan dilakukan berjenjang mulai dari koordinator di lapangan sampai ke tingkat Provinsi dan Pusat.

3) Pelaporan dilakukan dalam bentuk format yang ringkas dan jelas.

E. HAL LAIN YANG PERLU DIKETAHUI

a. Setiap unit terkait harus mengerti peran, tugas dan fungsi masing masing.

b. Mengadakan koordinasi terpadu dan berkesinambungan dengan unit terkait, seperti BPBD, TNI/POLRI, Tim SAR, Vulkanologi dan dan Mitigasi Bencana, serta instansi lain yang terkait.

(16)

Dit. BUKD Page 16 BAB IV

PELAKSANAAN POS YAN GADAR TERPADU DI BEBERAPA DAERAH Saat ini sudah beberapa kota yang menerapkan dan membentuk Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu dengan berbagai sebutan, seperti Kota Yogyakarta dengan nama YES 118 (Yogyakarta Emergency Service 118),

Emergency Service Response (Badung) atau dengan nama Public Safety Center (PSC) seperti di Makassar, Medan, Banjarmasin dan Bangka.

Beberapa daerah mengembangkan Pos Yan Gadar Terpadu dengan menambahkan unsur lainnya seperti SAR mahasiswa, PMI, satpol PP, RAPI, dan lain-lain, tergantung kebijakan daerah masing-masing. Akan tetapi unsur yang ditambahkan tersebut melekat pada salah satu dari tiga fungsi keamanan, ksehatan dan penyelamatan.

Berbagai model yang muncul: a. 1 koordinasi dalam satu atap b. 1 koordinasi tapi tidak satu atap c. Variasi penamaan:

1. Public Safety Center (Makassar, Medan, Bangka, Banjarmasin) 2. PPGD (Pusat Panggilan Gawat Darurat) (Bandar Lampung)) 3. YES 118 (Yogyakarta Emergency Service 118)

4. Pusat Pelayanan Masyarakat Terpadu (PPMT) (Ahmad Sujudi 2005) 5. ESR (Emergency Service Response) (Badung, Denpasar)

d. Tenaga:

Pegawai Negeri, Honorer, Relawan e. Pembiayaan:

Berasal dari APBD dan hasil pengelolaan dana pelayanan/pelatihan. Umumnya beberapa daerah kesulitan untuk terus eksis karena kesulitan pembiayaan opersional kegiatan.

YOGYAKARTA EMERGENCY SERVICES 118 A. LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN

1. Emergency hanya dimasing-masing RS.

2. Belum ada sistem Emergency yang terpadu di Kota Yogyakarta

3. Masyarakat masih bingung telepon kemana apabila ada kasus emergensi.

4. Masih banyak kasus rujukan yang kurang tertangani dengan baik di RS. 5. Tidak adanya sistem informasi medis & hospital mapping yang terpadu.

(17)

Dit. BUKD Page 17 B. PROSES PEMBENTUKAN

1. Analisa masalah

2. Membuat Konsep kasar penanganan kegawatdaruratan (adanya kepastian pelayanan dan kepastian pembiayaan).

3. Workshop kajian akademis

4. Workshop lintas sektor terkait (Eksekutif & Legeslatif untuk memperoleh dukungan)

5. Advokasi kepada Walikota Yogyakarta

6. Advokasi ke 9 RSUD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY, RSUP Dr.Sardjito, PMI Cabang Yogyakarta, Badan Asuransi, PT.Telkom, Kepolisian.

7. Pembentukan Team Work 8. Pembentukan Pokja Pelayanan

9. Pembentukan Pokja Sistem informasi 10. Pembentukan Pokja Pembiayaan

11. Pembentukan Pokja Standar (SDM, Sarana Prasarana) 12. Pembuatan dasar hukum YES 118.

13. Pelatihan Tim Yes 118, pengemudi ambulan, petugas operator komunikasi.

14. Pemasangan telepon kabel (118) di pusat komunikasi

15. Pembelian alat komunikasi untuk 9 RSUD, 18 Puskesmas, PMI dan Team.

16. Peresmian YES 118 oleh Walikota Yogyakarta tanggal 12 November 2008 (dilanjutkan simulasi YES 118)

17. Sosialisasi YES 118 ke Masyarakat. Model Safe Community Kota Yogyakarta

(18)

Dit. BUKD Page 18 C. SARANA

1. Pemasangan telepon kabel 3 saluran di PMI 2. HP Flexi 41 buah dan flexi home 9 buah. 3. HT 16 Buah.

4. Repeater 1 Unit.

5. Biaya Pulsa untuk 53 6. 1 Perangkat Komputer. 7. Perangkat Internet

8. Mobil ambulan di masing–masing Rumah Sakit dan PMI. D. UNSUR YANG TERLIBAT

1. Pemerintah Kota Yogyakarta : 2. PMI Kota Yogyakarta.

3. 10 Rumah Sakit Dan 1 RSUP 4. Poltabes.

5. Jasaraharja, Jamsostek, Jamkesos. 6. PT Telkom Yogyakarta

E. PRINSIP PELAYANAN

1. Pelayanan YES 118 Tidak memandang KTP tetapi TKP ( Wilayah Kota Yogyakarta )

2. Melayani kejadian gawat darurat Medis dan Trauma ( Kecelakaan, Kesakitan, dan kebidanan )

3. Pelayanan YES 118 24 Jam .

4. Transportasi, ambulan dan tim medis ditanggung 100 %. 5. UGD Ditanggung 100 % selama 24 Jam

F. JENIS DAN SUMBER PEMBIAYAAN

1. Honor Komunikator dan petugas perawat PPGD di PMI 2. Biaya Rujukan ( Honor, BBM, BMHP)

3. Biaya Tindakan di UGD 24 Jam Pertama.

4. Biaya Pelatihan Penanganan Korban di TKP : Untuk 45 Kelurahan dan 14 Polsek

5. Publikasi dan Sosialisasi.

Sumber pembiayaan berasal dari APBD dan sumber lain yang tidak mengikat.

(19)

Dit. BUKD Page 19 G. SISTEM INFORMASI

(20)

Dit. BUKD Page 20 BAB V

PENUTUP

Buku Panduan Pembentukan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu ini dibuat untuk dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan Pos Pelayanan Gawat Darurat Terpadu bagi Provinsi, Kabupaten/Kota. Mudah-mudahan panduan ini dapat membantu dalam mengatasi keragu-raguan serta kesimpangsiuran dalam pelaksanaan dilapangan. Akhirnya dedikasi dan tanggung jawab yang tinggi dari setiap penanggungjawab program diperlukan untuk mendukung tercapainya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Semoga berhasil.

(21)

Dit. BUKD Page 21 DAFTAR BUKU RUJUKAN

1. Buku Teknis Medis Khusus (ABC)

2. Protokol Kajian Cepat Kedaruratan Kesehatan, WHO 1999 3. Pedoman Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu 4. Pedoman Penanganan Korban Bencana Kimia

5. Pedoman Penanganan Korban Bencana Masal 6. Pedoman Disaster Victim Identification

7. Pedoman Geomedik Mapping

8. Pedoman Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM Kesehatan) Dalam Penanggulangan Bencana

9. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Internasional Pengurangan Resiko Bencana

10. Kurikulum Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) di DTPK

11. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan

12. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 145/Menkes/SK/I/2007 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan

13. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 406/Menkes/SK/IV/2008 tentang Pembentukan Pemuda Siaga Peduli Bencana (DASI PENA)

14. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 882 tahun 2009 tentang Pedoman Penanganan Evakuasi Medik

15. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 564/Menkes/SK/VII/2006 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga 16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 882/Menkes/2009 tentang

(22)

Dit. BUKD Page 22 TIM PENYUSUN

dr. H. R Dedi Kuswenda, M.Kes Mudjiharto, SKM, M.Kes drg. Kartini Rustandi, M.Kes dr. Kamal Amiruddin, MARS

dr. Laode M. Hajar Dony drg. Haslinda, M.Kes dr. Ernawati Octavia dr. Irni Dwi Aprianty

KONTRIBUTOR

DR. dr. Tri Wahyu Sp.BTKV, dr. Sri Hastuti Nainggolan, MPH, dr. Riyadh Firdaus, Sp.An, Rita Djupuri, M.Epid, Bambang Heriyanto, SKM, Retna Pusparini, S.Kep, Yusuf Wibisono, S.Kom, Nia Kurniawati, Marwiah, Didit Tri Hanggoro, ST, Mediansyah Saleh Kurniawan, S.Ti, Yusuf Antonius, SE, Avis Akbar, S.Kom, Elza Shofiyani Putri, Am.Keb, Vita Andriany, SH.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, dari hasil angket siswa hasil Uji F diperoleh f hitung > dari f tabel 18,172> 3,077dan hal ini berarti hipotesis nol Ho yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh

Unit penelitian yang penulis ambil di bagian Analisis Rawat inap adalah Analisis Kebutuhan Petugas Analisis Kelengkapan RM dengan Menghitung Beban Kerja

• Pengelasan (Welded) ; jenis penyambungan dengan las dipengaruhi oleh material pipa yang akan disambung dan penggunaannya, misalnya pengelasan untuk

Artinya: “Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda ,”Barang siapa yang menuntut ilmu karena ingin merasa bangga sebagai ulama dan menipu orang bodoh di majelis,

Dari hasil wawancara yang dijawab oleh narasumber 5, saya bisa menyimpulkan  bahwa guru yang sudah tersertifikasi wajib menjalankan tugasnya sebagai guru yang profesional dan

Tahap terakhir Historiografi (Menuliskan hasil Penelitian). Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu upacara rokat tase’ pada awalnya di laksanakan merupakan bentuk rasa

Segala puji dan rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui survei secara langsung kepada pelanggan PDAM Kota Gresik khusunya kecamatan