• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIMUR A BELITUNG DEPARTEMEN KONSERVASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TIMUR A BELITUNG DEPARTEMEN KONSERVASI"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

KEAN

NE

P

KONS

NEKARA

EPENTHE

PROVINS

SERVASI

IN

AGAMAN

ES

DI HU

BEL

SI KEPUL

SIT

D

I SUMBE

FAKUL

NSTITUT

N, POLA

UTAN KE

LITUNG

LAUAN B

I MUNAW

DEPARTE

ERDAYA

LTAS KE

T PERTA

2012

SEBARA

ERANGA

G TIMUR

BANGKA

WAROH

EMEN

HUTAN

EHUTAN

ANIAN BO

2

AN, DAN

AS KABU

A – BELIT

H

DAN EK

NAN

OGOR

ASOSIAS

PATEN

TUNG

KOWISAT

SI

TA

(2)

BELITUNG TIMUR

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA – BELITUNG

SITI MUNAWAROH

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan Pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

(3)

RINGKASAN

SITI MUNAWAROH. Keanekaragaman, Pola Sebaran, dan Asosiasi

Nepenthes di Hutan Kerangas Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Dibimbing oleh AGUS HIKMAT dan R. SYAMSUL HIDAYAT.

Nepenthes merupakan tumbuhan yang unik dan berpotensi sebagai tanaman hias. Namun saat ini populasi Nepenthes di habitat alaminya semakin menurun akibat terjadi konversi lahan dan eksploitasi berlebihan oleh masyarakat. Salah satu habitat Nepenthes yang kini semakin terancam keberadaannya akibat upaya konversi lahan yaitu hutan kerangas. Penelitian mengenai Nepenthes di hutan kerangas khususnya di Kabupaten Belitung Timur umumnya belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman, pola sebaran, dan asosiasi Nepenthes di hutan kerangas khususnya di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2011 di tiga tipe hutan kerangas di Kabupaten Belitung Timur yaitu Hutan Kerangas Primer (Rimba), Hutan Kerangas Sekunder (Bebak), Hutan Kerangas Khusus (Padang). Pengambilan data dilakukan dengan analisis vegetasi menggunakan jalur berpetak berukuran 10 m x 100 m yang dibagi lagi menjadi petak ukur 10 m x 10 m, jarak antar jalur 50 m dan sebanyak 10 jalur untuk setiap tipe hutan kerangas. Identifikasi spesies Nepenthes menggunakan buku Nepenthes Kantung Semar yang Unik (Mansur 2006) dan buku panduan lapang Hernawati dan Akhriadi (2006).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah spesies Nepenthes yang teridentifikasi sebanyak 4 spesies. Spesies tersebut terdiri dari Nepenthes ampullaria Jack., Nepenthes gracilis Korth., Nepenthes reinwardtiana Miq. dan Nepenthes rafflesiana Jack. Seluruh spesies yang ditemukan merupakan spesies murni. Keanekaragaman Nepenthes di Padang paling rendah dibandingkan dengan di Rimba dan Bebak. Jumlah spesies Nepenthes yang ditemukan di Padang hanya satu spesies, sedangkan di Rimba dan Bebak ditemukan tiga spesies Nepenthes. Pola sebaran Nepenthes di seluruh lokasi penelitian yaitu menyebar secara mengelompok (clumped). Sementara itu, seluruh spesies Nepenthes yang ditemukan memiliki asosiasi yang tidak nyata dan lemah dengan tumbuhan lain yang berada di sekitarnya. Keberadaan Nepenthes di hutan kerangas khususnya di Kabupaten Belitung Timur perlu mendapatkan perhatian yang lebih intensif. Mengingat seluruh spesies Nepenthes dilindungi dan umumnya memiliki penyebaran yang mengelompok, sehingga keberadaannya sangat rentan terhadap kerusakan habitat.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan hutan kerangas di Kabupaten Belitung Timur memiliki 4 spesies Nepenthes yang menyebar secara berkelompok dan berasosiasi tidak nyata dengan spesies tumbuhan lain.

(4)

SITI MUNAWAROH. Diversity, Distribution Pattern and Association of

Nepenthes in The Heath Forest of East Belitung District, Bangka-Belitung Island Province. Under Supervision of AGUS HIKMAT and R. SYAMSUL HIDAYAT.

Nepenthes is a unique plant, it is potential for ornamental plants. Nowadays, the population of Nephentes in its natural habitat is being decreased by land conversion and excessive exploitation by society. One of the habitat which is now threatened by land conversion is the heath forest. Research on Nephenthes in the heath forest, particularly in East Belitung District is generally not much done. This research aims to identify the diversity, ditribution pattern and associations in the heath forest particularly in East Belitung District, Bangka-Belitung Island Province.

This research was conducted on July - August 2011 in 3 types of heath forest at East Belitung District, which are the primary heath forest (Rimba), the secondary heath forest (Bebak) and the particular heath forest (Padang). The data collection was done with analysis of vegetation method by using line quadrats. The number of lines in each type of heath forest was 10 with the size of 10 m x 100 m which are further divided into measure 10 m x 10 m and distance between lines was 50 m. The identification of Nepenthes used reference from Nepenthes Kantung Semar yang Unik (Mansur 2006) book and a guidebook of Nepenthes (Hernawati and Akhriadi 2006).

The study found that the number of species of Nepenthes identified are 4 Nepenthes species, which consist Nepenthes ampullaria Jack., Nepenthes gracilis Korth., Nepenthes reinwardtiana Miq. and Nepenthes rafflesiana Jack. The whole species was pure species. Diversity of Nepenthes in the Padang most was low compared to the Rimba and Bebak. The number of species that are found on the Nepenthes of only 1 species, whereas in the Rimba and Bebak found 3 species of Nepenthes. The distribution patterns of Nepenthes in all location was clumped. Meanwhile, the whole Nepenthes species that was found have association which are not real and weak with other plants in the surrounding areas. The existance of Nepenthes in a heath forest, particularly at East Belitung District, needs intensive attention. Considering that all Nepenthes species is protected and generally dispersed in clumped, so its existance is very susceptible to habitat destruction.

The conclusions of this research showed the heath forest particularly in East Belitung District has 4 species of Nepenthes are spread in a group and association with no real other plant species.

 

(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Keanekaragaman, Pola Sebaran, dan Asosiasi Nepenthes di Hutan Kerangas Kabupaten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung” adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen dan belum pernah digunakan sebagai Karya Ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau kutipan dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Siti Munawaroh NIM E34080037

(6)

Nama : Siti Munawaroh

NIM : E34080037

Menyetujui: Pembimbing I,

Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F NIP. 19620918 198903 1 002

Pembimbing II,

Ir. R. Syamsul Hidayat, MSi NIP. 19680706 199303 1 004

Tanggal Lulus :

Mengetahui:

Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP 19580915 198403 1 003

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir (skripsi) yang berjudul “Keanekaragaman, Pola Sebaran, dan Asosiasi Nepenthes di Hutan Kerangas Kabupaten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka – Belitung”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB.

Data hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keanekaragaman, pola sebaran, dan asosiasi Nepenthes dengan tumbuhan lain di hutan kerangas khususnya di Kabupaten Belitung Timur, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya-upaya pengelolaan hutan yang terdapat di Kabupaten Belitung Timur.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin.

Bogor, Juli 2012

(8)

ketiga dari empat bersaudara pasangan H. Ujang Iskandar dan Hj. Jubaedah. Penulis memulai pendidikan di SD Negeri Katulampa V pada tahun 1996 hingga tahun 2002. Pada tahun 2002 hingga 2005 penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 18 Bogor dan selanjutnya di SMA Negeri 7 Bogor pada tahun 2005 hingga 2008. Penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008 dan diterima sebagai mahasiswi pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.

Selama perkuliahan, penulis aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) sebagai anggota Kelompok Pemerhati Flora (KPF) “Rafflesia” dan Kelompok Fotografi Konservasi (FOKA) pada tahun 2009-2010. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang pernah penulis ikuti yaitu Ekplorasi Flora, Fauna dan Ekowisata Indonesia (Rafflesia) di Cagar Alam Gunung Burangrang, Kabupaten Purwakarta pada tahun 2009, Studi Konservasi Lingkungan (Surili) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah pada tahun 2010 dan panitia GEBYAR HIMAKOVA tahun 2010. Selain itu penulis juga melakukan kegiatan magang di Kebun Raya Bogor, bagian tumbuhan obat pada tahun 2011.

Praktek lapang yang pernah diikuti penulis ketika menjadi mahasiswa antara lain Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Perum Perhutani Unit I Jateng KPH Banyumas Timur (Baturaden) dan KPH Banyumas Barat (Cilacap) pada tahun 2010, Praktek Pengelolaan Hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW)-Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Sukabumi, Bandung tahun 2011, dan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Kelimutu, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2012.

Dalam upaya menyelesaikan pendidikan dan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Keanekaragaman, Pola Sebaran, dan Asosiasi Nepenthes di Hutan Kerangas

(9)

Kabupaten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung” dibimbing oleh Dr. Ir. Agus Hikmat M.Sc.F dan Ir. R. Syamsul Hidayat, M.Si.

(10)

hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tersusunnya skrispi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ayahanda H. Ujang Iskandar dan Ibunda Hj. Jubaedah yang merupakan motivasi terbesar dalam penyelesaian skripsi ini dan selalu memberikan doa, kasih sayang serta dukungannya.

2. Kakakku Teh Euis, Nde & A’gaga, Adikku Asep, serta seluruh keluarga ku tercinta atas segala doa, kasih sayang, keceriaan dan motivasi yang telah diberikan.

3. Dr. Ir Agus Hikmat, M.Sc. F dan Ir. R. Syamsul Hidayat, M.Si, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, nasehat dan dukungan selama penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi.

4. Eva Rachmawati, S.Hut, M.Si selaku moderator seminar dan ketua sidang komprehensif serta Ir. Deded Sarip Nawawi, M.Si selaku dosen penguji. 5. Seluruh Dosen, Staf dan Pegawai Fakultas Kehutanan khusunya Departemen

Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang telah memberikan dan mengajarkan banyak ilmu serta membantu penulis selama melakukan perkuliahan di IPB.

6. Program beasiswa BBM tahun 2009 - 2012 berupa bantuan material sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di IPB.

7. Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung Timur yang telah memberikan izin dan dukungan kepada penulis sehingga dapat melakukan penelitian di Kabupaten Belitung Timur.

8. Bapak M. Mansur, Ibu Tri dan Bapak Kissinger yang telah bersedia untuk berbagi dan memberikan ilmu serta pengetahuan khususnya mengenai Nepenthes.

9. Pak Sairin, Pak Hamidi, Pak Rahiman, Pak Rahman, Mak Mah, Busu Ii yang telah menemani dan memberikan bantuan selama pengambilan data di lapangan.

(11)

10.Dina Oktavia, S.Hut atas kebersamaannya dalam pengambilan data di lapangan dan perjuangan dalam menyelesaikan skripsi.

11.Keluarga Dina Oktavia, S.Hut yang telah memberikan dukungan moril maupun materil selama pengambilan data di lapangan.

12.Ka Vio, Ka Dahlan, Ka Marwah dan Ka Agus atas ilmu, pengetahuan dan dukungan yang telah diberikan.

13.Sahabat dan teman-teman terbaikku, Uwie, Hesti, Kamei, Dina, Babel, Hapriza, Nurika, Ajeng, Riska, Septi, Bang Davi, Ina, Rei, Tantri, Kuspri, Eko, Febi Nurdia, Tiara, Dinda, Dwinda, Uun untuk kasih sayang, keceriaan dan semangat yang diberikan.

14.Teman-teman seperjuangan di Laboratorium Konservasi Tumbuhan. 15.Teman-teman Kelompok Pemerhati Flora (KPF) “Rafflesia” HIMAKOVA. 16.Keluarga Besar KSHE 45 “EDELWEIS” yang memberikan banyak

pengalaman dan kenangan selama perkuliahan dan praktikum.

17.Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 1.3 Manfaat ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-ekologi Nepenthes ... 3

2.1.1 Klasifikasi ... 3

2.1.2 Morfologi ... 3

2.1.3 Penyebaran dan habitat ... 5

2.2 Pemanfaatan Nepenthes ... 6

2.3 Hutan Kerangas ... 6

2.4 Pola Penyebaran ... 8

2.5 Asosiasi Tumbuhan ... 9

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 10

3.2 Bahan dan Alat ... 10

3.3 Jenis Data ... 11

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 11

3.4.1 Data primer ... 11

3.4.2 Data sekunder ... 12

3.5 Analisis Data ... 13

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak dan Luas ... 15

(13)

vii

4.2.1 Topografi ... 15

4.2.2 Geologi dan tanah ... 16

4.2.3 Iklim ... 17

4.3 Kondisi Biologi ... 17

4.3.1 Flora ... 17

4.3.2 Fauna ... 17

4.4 Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Sekitar ... 18

4.4.1 Penduduk ... 18

4.4.2 Pendidikan ... 18

4.4.3 Mata pencaharian ... 18

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Vegetasi Hutan Kerangas ... 19

5.1.1 Hutan kerangas khusus (Padang) ... 19

5.1.2 Hutan kerangas primer (Rimba) ... 19

5.1.3 Hutan kerangas sekunder (Bebak)... 20

5.2 Keanekaragaman Nepenthes ... 20

5.2.1 Nepenthes di Padang ... 21

5.2.2 Nepenthes di Rimba ... 23

5.2.3 Nepenthes di Bebak ... 24

5.3 Kunci Identifikasi Spesies Nepenthes ... 25

5.4 Deskripsi Spesies Nepenthes ... 26

5.4.1 Nepenthes ampullaria Jack. ... 26

5.4.2 Nepenthes gracilis Korth. ... 29

5.4.3 Nepenthes rafflesiana Jack. ... 32

5.4.4 Nepenthes reinwardtiana Miq. ... 34

5.5 Pola Sebaran ... 35

5.6 Asosiasi Nepenthes dengan Tumbuhan di Sekitarnya ... 38

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 43

6.2 Saran ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 44

(14)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Tabel kontingensi 2 x 2 ... 14

2. Klasifikasi bentang alam Kabupaten Belitung Timur ... 16

3. Unit SKL kesuburan tanah Belitung Timur ... 16

4. Spesies-spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian ... 21

5. Nilai Indeks Dispersi spesies Nepenthes ... 36

(15)

ix

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Lokasi penelitian ... 10

2. Bentuk peta ukur dalam metode jalur berpetak ... 11

3. Kondisi vegetasi di Padang ... 19

4. Kondisi vegetasi di Rimba ... 20

5. Kondisi vegetasi di Bebak... 20

6. Nepenthes gracilis di Bebak ... 22

7. Nepenthes gracilis di Padang ... 22

8. Kondisi habitat Nepenthes reinwardtiana Miq dan Nepenthes gracilis di Rimba ... 24

9. Genangan air (Amau) di Bebak ... 25

10. Batang (A) dan daun (B) Nepenthes ampullaria ... 26

11. Kantong bawah Nepenthes ampullaria ... 27

12. Kantong roset Nepenthes ampullaria ... 28

13. Mulut dan tutup kantong Nepenthes ampullaria... 28

14. Kantong Nepenthes ampullaria berwarna hijau dengan corak merah (A), berwarna hijau polos (B) ... 29

15. Batang (A), dan daun (B) Nepenthes gracilis ... 30

16. Bentuk kantong Nepenthes gracilis ... 30

17. Tutup kantong Nepenthes gracilis ... 31

18. Bunga Nepenthes gracilis ... 31

19. Daun Nepenthes rafflesiana ... 32

20. Nepenthes rafflesiana di Bebak (A), dan di Rimba (B) ... 33

21. Kantong Nepenthes rafflesiana yang masih tertutup ... 33

22. Dua spot mata di dalam kantong Nepenthes reinwardtiana ... 34

23. Nepenthes reinwardtiana di Rimba ... 35

24. Nepenthes rafflesiana yang tumbuh mengelompok pada tempat yang sedikit ternaungi namun masih mendapatkan sinar matahari ... 36

25. Nepenthes ampullaria yang tumbuh mengelompok disekitar genangan air (Amau) ... 37

(16)

26. Famili tumbuhan lain yang memiliki asosiasi nyata dengan

Nepenthes di Rimba ... 38 27. Famili tumbuhan lain yang memiliki asosiasi nyata dengan

(17)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Perhitungan pola sebaran Nepenthes ... 48

2. Perhitungan indeks asosiasi Nepentes reinwardtiana di Rimba ... 49

3. Perhitungan indeks asosiasi Nepentes gracilis di Rimba ... 55

4. Perhitungan indeks asosiasi Nepentes rafflesiana di Rimba ... 61

5. Perhitungan indeks asosiasi Nepentes ampullaria di Bebak ... 67

6. Perhitungan indeks asosiasi Nepentes rafflesiana di Bebak ... 72

7. Perhitungan indeks asosiasi Nepentes gracilis di Bebak ... 77

(18)

1.1 Latar Belakang

Nepenthes atau kantong semar merupakan salah satu spesies tumbuhan yang unik dan berpotensi sebagai tumbuhan hias. Pemanfaatan Nepenthes sebagai tumbuhan hias telah banyak dilakukan oleh masyarakat luas, hal ini disebabkan karena Nepenthes memiliki kantong yang unik, beragam warna dan bentuk. Menurut Mansur (2006) di Indonesia terdapat 64 spesies Nepenthes yang sebagian besar terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Nepenthes dapat hidup di tempat terbuka maupun terlindungi yang kondisi habitatnya miskin hara khususnya nitrogen seperti kawasan kerangas yang memiliki kelembaban yang cukup tinggi (Mansur 2006). Salah satu lokasi di Indonesia yang memiliki kawasan kerangas yang cukup luas yaitu Pulau Belitung (Whitten 1984).

Hutan kerangas di Pulau Belitung memiliki tipe tanah podsolik yang didominasi oleh pasir kuarsa. Secara konvensional, pasir kuarsa memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga menyebabkan masyarakat melakukan penambangan hampir di seluruh kawasan Belitung dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Salah satu lokasi penambangan yang terdapat di Belitung terletak di Kabupaten Belitung Timur. Sebagian besar hutan kerangas di Belitung Timur tersebut kini berubah menjadi kawasan penambangan, perkebunan, dan pemukiman. Upaya konversi lahan ini menyebabkan kelestarian flora dan fauna di hutan lindung tersebut semakin terancam, tidak terkecuali spesies Nepenthes.

Nepenthes merupakan salah satu spesies tumbuhan langka. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1999, semua spesies Nepenthes dilindungi. Hal ini disebabkan karena populasi Nepenthes di alam semakin berkurang. Menurunnya jumlah populasi Nepenthes di alam dikarenakan terjadinya konversi habitat alaminya menjadi kawasan perkebunan, penambangan, pertanian, dan pemukiman serta akibat dari ekploitasi pemanfaatan oleh masyarakat yang langsung mengambilnya dari alam dan dilakukan secara tidak terkendali demi kepentingan ekonomi.

(19)

2

Konversi lahan menjadi kawasan penambangan dan eksploitasi pemanfaatan Nepenthes memberikan dampak negatif tehadap keberadaan Nepenthes di habitat alaminya. Oleh karena itu kajian mengenai Nepenthes di habitat alaminya sangat diperlukan untuk kegiataan pengelolaan spesies tumbuhan yang dilindungi tersebut.

1.2 Tujuan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:

1. Mengidentifikasi keanekaragaman spesies Nepenthes di Hutan Kerangas Belitung Timur

2. Mengidentifikasi pola sebaran spesies Nepenthes di Hutan Kerangas Belitung Timur

3. Mengidentifikasi asosiasi antara Nepenthes dengan tumbuhan lain di sekitarnya.

1.3 Manfaat

Data hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak pengelola hutan kerangas dan sebagai langkah awal dalam upaya konservasi spesies Nepenthes sehingga keberadaan di habitat alaminya tetap terjaga.

(20)

2.1 Bio-ekologi Nepenthes

2.1.1 Klasifikasi

Nepenthes secara ilmiah dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Suhono & Tim LIPI 2010) : Kerajaan : Plantae Filum : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Caryophyllales Familia : Nepenthaceae Genus : Nepenthes

Spesies : Nepenthes ampullaria Jack., Nepenthes rafflesiana Jack., Nepenthes gracilis Korth., Nepenthes reinwardtiana Miq. Nepenthes atau dikenal dengan nama kantong semar pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne pada tahun 1689 (Mansur 2006). Di Indonesia, tumbuhan ini memiliki cukup banyak nama daerah yang berbeda-beda. Masyarakat di Riau mengenal tanaman ini dengan sebutan periuk monyet, di Jambi disebut dengan kantong beruk, di Bangka disebut dengan ketakung, sedangkan nama sorok raja mantri diberikan oleh masyarakat di Jawa Barat pada tanaman unik ini. Sementara di Kalimantan setiap suku memiliki istilah sendiri untuk menyebut Nepenthes sp. Suku Dayak Katingan menyebutnya sebagai ketupat napu, suku Dayak Bakumpai dengan telep ujung, sedangkan suku Dayak Tunjung menyebutnya dengan selo bengongong yang artinya sarang serangga (Mansur 2006). Populasi kantung semar yang ada di dunia berjumlah sekitar 82 spesies dan 64 spesies diantaranya terdapat di Indonesia (Mansur 2006).

2.1.2 Morfologi

Nepenthes memiliki batang yang lurus, merambat atau memanjat hingga mencapai ketinggian 20 meter. Tumbuhan ini memiliki daun yang tunggal, bentuk, warna, tekstur dan ukuran yang berubah-ubah. Komposisi daun Nepenthes terdiri dari helaian daun, sulur, kantong, tutup kantong dan taji. Batang Nepenthes

(21)

4

 

umumnya berbentuk silinder dan elips yang terus tumbuh. Ruas pada roset pendek, tegak memanjang dan memanjat tanaman lain (Akhriadi & Hernawati 2006)

Nepenthes terkenal sebagai tumbuhan yang unik karena tumbuhan ini mampu memangsa serangga. Oleh karena itu tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora. Kemampuan memangsa serangga ini dikarenkan oleh Nepenthes memiliki organ berbentuk kantung yang menjulur dari ujung daunnya. Organ tersebut bernama pitcher atau kantong. Selain itu tumbuhan kantung semar ini memiliki keunikan yang lain yaitu bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya (Azwar et al. 2006). Kantong merupakan bagian yang paling penting dari Nepenthes (Akhriadi & Hernawati 2006) .

Umumnya Nepenthes memiliki tiga kantong yang berbeda meskipun dalam satu spesies. Ketiga kantong tersebut dikenal dengan nama kantong roset, kantong bawah dan kantong atas (Mansur 2006) :

a) Kantong roset yaitu kantong yang keluar dari ujung daun roset.

b) Kantong bawah yaitu kantong yang keluar dari daun yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah dan biasanya menyentuh permukaan tanah. Selain ujung sulurnya berada di depan bawah kantong, juga memiliki dua sayap yang fungsinya seperti tangga untuk membantu serangga tanah naik hingga ke mulut kantong.

c) Kantong atas yaitu kantong berbentuk corong, pinggang, atau silinder dan tidak memiliki sayap. Bentuk ini sangat beralasan menyentuh kantong atas difungsikan untuk menangkap serangga terbang, bukan serangga tanah. Selain itu ujung sulur berada di belakang bawah kantong.

Secara keseluruhan, semua spesies Nepenthes memiliki lima bentuk kantong yaitu bentuk tempayan (N. ampullaria), bulat telur atau oval (kantong bawah dari N. rafflesian), silinder (N. gracilis), corong (kantong atas dari N. rafflesiana), dan pinggang (N. reinwardtiana atau N. gymnamphora ) (Mansur 2006).

Kantong Nepenthes bagian dalam memiliki kelenjar yang dapat menghasilkan enzim yang berguna untuk memecahkan dan mencerna hewan-hewan kecil yang masuk ke dalam kantung seperti serangga dan mamalia kecil.

(22)

Enzim tersebut digunakan sebagai katalis oleh Nepenthes untuk mencerna mangsa yang tertangkap dan menyediakan nutrisi yang penting agar mereka dapat tumbuh (Akhriadi & Hernawati 2006). Kantong, kelenjar enzim dan proses pemecahan atau pencernaan oleh Nepenthes merupakan adaptasi morfologi tumbuhan tersebut untuk memenuhi kekurangan nutrisi penting dari habitatnya.

Enzim yang dihasilkan oleh Nepenthes disebut proteolase. Enzim ini dikeluarkan oleh kelenjar yang ada pada dinding kantong di zona pencernaan yang berfungsi sebagai enzim pengurai. Dengan bantuan enzim nepentheisin, protein serangga atau hewan lain yang tertangkap di dalam cairan kantong, kemudian diuraikan menjadi zat-zat yang lebih sederhana seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan garam-garam mineral. Zat-zat sederhana tersebutlah yang diserap oleh Nepenthes untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Mansur 2006).

2.1.3 Ekologi dan penyebaran

Hutan dataran rendah (<1000 mdpl) dan hutan pegunungan (>1000 mdpl) merupakan habitat penting untuk Nepenthes. Sebagian besar daerah sebaran Nepenthes di Sumatera terdapat di hutan dataran rendah dan hutan pegunungan. Umumnya Nepenthes dapat tumbuh baik di tanah yang miskin hara dan agak terkena sinar matahari (Akhriadi & Hernawati 2006).

Nepenthes dapat hidup di tempat terbuka maupun agak terlindung di habitat yang miskin unsur hara khususnya nitrogen seperti kawasan kerangas dengan kelembaban udara cukup tinggi. Menurut Mansur (2006) Nepenthes dapathidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savana dan danau. Karakteristik dan sifat Nepenthes berbeda pada setiap habitat. Beberapa spesies Nepenthes yang hidup di habitat hutan hujan tropik dataran rendah dan hutan pegunungan bersifat epifit, yaitu menempel pada batang atau cabang pohon lain (Azwar et al. 2006). Nepenthes yang bersifat epifit dapat tumbuh di tempat yang memiliki kelembaban tertentu, sehingga frekuensi penyebaran mereka sangat teratur. Perbedaan penyebaran ini sangat dipengaruhi oleh cahaya, angin dan penyediaan air dan bahan-bahan organik tanah (Barbour 1987 diacu dalam Dariana 2009). Pada habitat yang cukup ekstrim seperti di hutan kerangas yang suhunya bisa mencapai 30ºC pada siang hari, Nepenthes beradaptasi dengan daun yang tebal untuk

(23)

6

 

menekan penguapan air dari daun. Sementara Nepenthes di daerah savana umumnya hidup terestrial, tumbuh tegak dan memiliki panjang batang kurang dari 2 m.

Nepenthes dapat tumbuh dan berkembang pada kondisi tanah yang miskin hara dan biasanya menghasilkan kantong yang besar dengan warna yang mencolok, sementara itu kantong Nepenthes yang tumbuh di tanah yang subur umumnya kecil, warna tidak mencolok dan ukuran daunnya lebih besar (Akhriadi & Hernawati 2006).

2.2 Pemanfaatan Nepenthes

Masyarakat umumnya memanfaatkan Nepenthes sebagai tanaman hias. Namun selain itu ada beberapa masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan ini sebagai tanaman obat. Masyarakat tradisional menggunakan air yang ada di dalam kantung Nepenthes sebagai ramuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu, diantaranya yaitu obat sakit mata, batuk dan maag. Masyarakat Maluku meyakini bahwa air yang berada di dalam kantung Nepenthes dapat mendatangkan hujan pada musim kemarau, yaitu dengan cara menuangkan semua air dari kantong ke tanah. Di sisi lain, orang Sumatera memanfaatkan Nepenthes yang sudah dibersihkan untuk memasak lemang (Handoyo & Maloedyn 2006). Menurut Heyne (1987), cairan yang terdapat di dalam kantong dapat digunakan sebagai obat batuk, selain campuran cairan kantung N. ampularia dengan bunga kenanga dan garam juga dapat digunakan sebagai obat untuk mencuci mata.

2.3 Hutan Kerangas

Hutan kerangas adalah ekosistem khusus dan mudah dikenali di seluruh formasi hutan hujan dataran rendah. Secara umum, hutan kerangas tumbuh di daerah dataran rendah beriklim selalu basah. Hutan kerangas yang paling luas dapat ditemukan di daerah tropika bagian timur. Sementara di daerah Malaysia tersebar secara terbatas (tidak merata) begitu juga di Brunei. Hutan ini juga dapat ditemui di Sumatera, Belitung, Singkep, Teluk dan Menamang. Khusus untuk daerah Teluk Kaba (Kalimantan Timur), tumbuhan Nepenthes banyak dijumpai. Menurut Whitmore (1984) di daerah Malesia, hutan kerangas tersebar secara

(24)

terbatas di Kalimantan (Indonesia), Sarawak dan Sabah (Malaysia), dan Brunei. Umumnya hutan kerangas banyak ditemukan di daerah yang berbukit-bukit.

Hutan kerangas merupakan salah satu tipe hutan dataran rendah yang memiliki lantai hutan yang ditutupi oleh tanah berpasir putih (tanah podsol) yang miskin hara dan bersifat asam (pH 3-4) yang berasal dari batuan ultrabasic (Mansur 2006). Sebagian besar dibentuk oleh pepohonan muda, batang pohon yang kecil dan bentuk yang rapi dan teratur tetapi sulit untuk ditembus. Kanopinya rendah, seragam, dan biasanya rapat ditutupi dengan lapisan yang tidak melilit-lilit (Whitmore 1984). Kanopi pohonnya relatif terbuka sehingga penyinaran cahaya matahari terhadap lantai hutan tinggi menyebabkan daun-daun yang berada di bagian atas kanopi berwarna coklat kemerah-merahan. Hutan kerangas umumnya terdapat di daerah dataran rendah dan beriklim selalu basah. Menurut Whitmore (1984) aliran sungai di area hutan kerangas berwarna kecoklatan akibat dari pancaran cahaya dan hitam buram akibat pamantulan cahaya yang menunjukkan adanya kandungan senyawa organik. Tanah di hutan kerangas umumnya asam (pH <5,5) dan dengan kandungan oksigen yang rendah. Ekosistem di hutan kerangas mudah rusak dan sulit dikembalikan lagi jika sudah terganggu. Keterbukaan hutan kerangas akan mengakibatkan timbulnya Padang savana yang gersang (MacKinnon et al. 1996).

Suhu udara di hutan kerangas umumnya cukup ekstrim yaitu di atas 30˚ C pada siang hari. Beberapa spesies tumbuhan yang dapat tumbuh di hutan kerangas yaitu Hydnophytum, Myrmecodia dan Clerodendron fistulosum. Selain itu juga terdapat tumbuhan pemakan serangga diantaranya yaitu Drosera, Nepenthes dan Utricularia yang biasanya hidup di lokasi yang terbuka (Whitmore 1984). Menurut Mansur (2006) spesies pohon yang dapat tumbuh di hutan kerangas diantaranya yaitu Vaccinium laurofolium, Rhodomyrtus tomentosus, Tristaniopsis whiteana, Switonia glauca, Combretocarpus rotundus, Cratoxylum glaucum, Hopea dryobalanoides, dan beberapa spesies marga Eugenia sp.

Beberapa spesies tumbuhan yang dapat dimakan (edible) yang hidup di hutan kerangas Belitung sebagian besar anggota dari famili Myrtaceae, seperti jemang (Rhodamia cinerea), keremuntingan (Rhodomyrtus tomentosa), keleta’en (Melastoma polyanthum) dan simpor bini (Dillenia suffruticosa). Selain itu juga

(25)

8

 

terdapat beberapa spesies dari genus Syzygium dan famili Ericaceae yaitu perai laki (Vaccinium bancanum), perai bini (V. bracteatum), dari Clusiaceae seperti melak (Garcinia bancana), kiras (G. hombroniana) dan kandis (G.parvifolia), serta dari jenis Rubiaceae antara lain tenam (Psychotria viridiflora) dan tempala’en (Timonius sp.). Seluruh spesies ini amat toleran atau telah teradaptasi dengan baik pada kondisi ekosistem Padangan, seperti lahan hutan kerangas tersebut yang kurang menguntungkan (Fakhrurrozi 2001).

2.4 Pola Sebaran

  Penyebaran spesies dalam tingkat komunitas dan organisasi ekologi bersifat unik. Penyebaran dalam komposisi jenis berhubungan dengan derajat kestabilan komunitas (Istomo 1994). Menurut Cox (1972) diacu dalam Istomo (1994) mengungkapkan bahwa komunitas vegetasi dengan penyebaran spesies yang lebih besar akan memiliki jaringan kerja lebih komples daripada komunitas dengan penyebaran spesies yang rendah. Penyebaran spesies tumbuhan dapat terjadi secara vertikal maupun horizontal. Penyebaran secara vertikal suatu spesies sangat dipengaruhi oleh adanya perbedaan intensitas cahaya matahari. Spesies yang memiliki tajuk yang tinggi paling teratas berada pada kondisi yang penuh cahaya (100%), sedangkan spesies dengan tajuk yang rendah dan dekat permukaan tanah berada dalam kondisi yang kurang cahaya. Penyebaran spesies tumbuhan secara horizontal merupakan penyebaran yang sangat komplek.

Odum (1990) menjelaskan bahwa spesies-spesies dalam populasi akan menyebar menurut tiga pola yaitu acak (randomi), seragam (unifrom), dan bergerombol (clumped). Penyebaran spesies secara acak jarang sekali ditemukan. Penyebaran secara acak terjadi apabila kondisi lingkungan tempat tumbuh seragam, tidak terjadi kompetsi yang kuat antar spesies anggoa populasi dan masing-masing spesies tidak memiliki kecenderungan untuk memisahkan diri (Indriyanto 2006). Sementara itu, sebaran seragam terjadi apabila terdapat persaingan yang ketat antar individu dalam populasi atau terdapat organisme yang bersifat antagonis positif (Ewuise 1990). Penyebaran spesies secara bergerombol merupakan penyebaran yang paling umum terjadi di alam. Penyebaran bergerombol dapat meningkatkan kompetisi di dalam populasi untuk memperoleh unsur hara, ruang dan cahaya.

(26)

2.5 Asosiasi Tumbuhan

Tumbuhan hidup membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan tersebut terdapat pula asosiasi dan interaksi yang saling menguntungkan sehingga terbentuk suatu derajat keterpaduan (Resosoedarmo 1989 diacu dalam Djufri 2002). Asosiasi adalah suatu tipe komunitas yang khas, ditemukan dengan kondisi yang sama dan berulang-ulang di beberapa lokasi (Kurniawan et al. 2008). Asosiasi dapat diartikan sebagai sekelompok spesies yang hidup dalam lingkungan yang sama. Menurut Taramingkeng (1979) diacu dalam Wisnugroho (1998) asosiasi merupakan sekelompok spesies yang hidup dalam tempat yang sama. Asosiasi tersebut merupakan suatu hubungan interaksi antara satu individu dengan individu lain untuk mendukung keberlangsungan hidup individu tersebut.

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di tiga tipe hutan kerangas di Kabupaten Belitung Timur yaitu hutan kerangas primer (Rimba), hutan kerangas sekunder (Bebak) dan hutan kerangas khusus (Padang). Waktu penelitian pada bulan Juli sampai Agustus 2011.

Gambar 1 Lokasi Penelitian.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan yaitu tambang plastik, tali raffia, kantong plastik, kertas koran bekas, alkohol, meteran (1,5 m dan 20 m), patok, kompas, jangka sorong, golok, label gantung, peta lokasi, buku identifikasi tumbuhan, kamera, papan jalan, tally sheet, alat tulis dan alat hitung.

(28)

3.3 Jenis Data

Jenis data yang diambil terdiri dari data primer dan data sekunder. 1. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil inventarisasi di lapangan. Data yang diambil meliputi data Nepenthes (nama spesies, karakteristik spesies, jumlah individu) dan spesies tumbuhan lain yang hidup di sekitar Nepenthes.

2. Data sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan berupa informasi terkait kondisi umum lokasi penelitian yang meliputi sejarah kawasan, letak, luas, kondisi tanah, topografi, iklim, kondisi vegetasi, satwa, dan masyarakat sekitar kawasan. Selain itu dikumpulkan juga informasi pemanfaatan Nepenthes oleh masyarakat.

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data primer

Data primer dikumpulkan dengan membuat jalur pengamatan. Ukuran jalur yang digunakan yaitu 10 m x 100 m, masing-masing lokasi sebanyak 10 jalur. Jarak untuk setiap jalur yaitu 50 m. Peletakan jalur dilakukan secara systematic sampling. Jalur tersebut dibagi menjadi petak-petak ukur berukuran 10 m x 10 m (Gambar 2). Jalur ini digunakan untuk mengidentifikasi keanekaragaman, pola penyebaran dan asosiasi Nepenthes dengan tumbuhan lain yang berada di sekitarnya. Selain itu dilakukan pula pembuatan spesimen herbarium Nepenthes dan tumbuhan lain di sekitarnya.

3.4.1.1 Keanekaragaman Nepenthes

Nepenthes yang ditemukan dalam petak ukur dicatat nama spesies diukur diameter batangnya (diameter batang yang diukur 10 cm dari permukaan tanah),

Gambar 2 Bentuk petak ukur pada metode jalur berpetak.

Arah jalur 10 m

(29)

12

 

panjang batang, panjang daun, kantong (bentuk, warna, tinggi dan lebar), kantong roset, kantong bawah, kantong atas dan bunga.

3.4.1.2 Pola Sebaran Nepenthes

Setiap spesies Nepenthes yang ditemukan di jalur pengamatan, dicatat jumlah individu di setiap rumpun dan persebarannya di petak contoh.

3.4.1.3 Asosiasi

Di dalam petak contoh dilakukan pencatatan spesies tumbuhan yang hidup di sekitar Nepenthes.

3.4.1.4Pembuatan spesimen herbarium

Pembuatan herbarium ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies tumbuhan dan Nepenthes yang belum teridentifikasi di lapangan. Tahapan pembuatan herbarium (Onrizal 2005) yaitu :

1. Spesimen herbarium diberi label gantung dan dirapikan. Label ini berisi informasi tentang nomor plot, nomor jenis, nama lokal, lokasi pengumpulan data dan nama pengumpul.

2. Kemudian dimasukan ke dalam lipatan kertas Koran. Satu lipatan kertas koran untuk satu spesimen.

3. Lipatan kertas koran berisi spesimen herbarium tersebut ditumpuk.

4. Kemudian tumpukan tersebut dimasukan ke dalam kantong palstik dan disiram alkohol 70% hingga seluruh bagian tumpukan tersiram secara merata.

5. Setelah itu kantong plastik ditutup rapat dengan isolatip atau hekter agar alkohol tidak menguap ke luar kantong.

6. Herbarium yang akan diidentifikasi dioven pada suhu 80˚ C selama 48 jam.

7. Herbarium yang sudah kering, dapat diidentifikasi nama ilmiahnya berdasarkan ciri morfologi maupun keterangan yang tertera pada label.

3.4.2 Data sekunder

Pengumpulan data sekunder berisi tentang keadaan umum lokasi, kependudukan dan sosial budaya masyarakat sekitar lokasi penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur yang meliputi buku, laporan penelitian, skripsi, tesis dan jurnal ilmiah lainnya.

(30)

3.5 Analisis Data

3.5.1 Keanekaragaman spesies

Keanekaragaman spesies Nepenthes yang ditemukan dianalisis secara deskriptif.

3.5.2 Pola sebaran spesies Nepenthes

Pola sebaran spesies setiap Nepenthes ditentukan menggunakan rumus Indeks Dispersi (ID) atau Indeks varians (Ludwig & Reynolds 1988). Adapun rumus indeks dispersi adalah sebagai berikut:

ID

=

Dimana :

=

∑ ∑ /

=∑ Keterangan : ID = Indeks Dispersi S2 = nilai ragam

= nilai rata-rata individu

Xi = banyaknya individu suatu spesies pada petak contoh ke-i n = total petak contoh

Kriteria pola penyebaran horizontal yaitu :

a. Jika nilai ID = 1, maka individu tumbuhan berdistribusi acak (Random) b. Jika nilai ID > 1, maka individu tumbuhan berdistribusi mengelompok

(Clumped)

c. Jika nilai ID < 1, maka individu tumbuhan berdistribusi seragam (Reguler)

3.5.3 Asosiasi

Analisis asosiasi Nepenthes dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya dilakukan dengan menggunakan tabel kontingensi 2 2. Bentuk tabel kontingensi 2 2 sebagai berikut :

(31)

14

 

Tabel 1 Tabel kontingensi 2 2

Spesies B (Non Nepenthes)

Ada Tidak ada Jumlah

A (Nepenthes) Ada a b a+b

Tidak ada c d c+d

Jumlah a+c b+d N= a+b+c+d

Keterangan :

a = jumlah petak ditemukan spesies A dan B b= jumlah petak ditemukan spesies A

c= jumlah petak ditemukan spesies B

d= jumlah petak tidak ditemukan spesies A dan B

Untuk mengetahui adanya kecenderungan berasosiasi atau tidak digunakan Chi-square Test dengan rumus sebagai berikut :

Chi-square hitung = Nilai Chi-square (X2

) hitung kemudian dibandingkan dengan nilai Chi-square (X2

) tabel pada derajat bebas = 1 dengan menggunakan taraf uji 5 % (3,84). Jika nilai X2

hitung > X2

tabel , maka asosiasi bersifat nyata. Sedangkan X2

hitung < X2

tabel maka asosiasi bersifat tidak nyata (Ludwig & Reynolds 1988).

  Selanjutnya, untuk mengetahui tingkat kekuatan asosiasi digunakan Indeks Jaccard (JI) :

JI =

Nilai Indeks asosiasi terjadi pada selang 0 – 1. Jika nilai indeks mendekati 1 maka asosiasinya kuat sedangkan jika nilai indeks mendekati 0 maka asosiasinya lemah.

(32)

4.1 Letak dan Luas

Kabupaten Belitung Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berdiri pada tahun 2005 dan beribukota di Manggar. Kabupaten Belitung Timur adalah satu kesatuan wilayah daratan dengan Kabupaten Belitung Induk. Secara geografis Kabupaten Belitung Timur terletak antara 107˚45’ BT sampai 108˚18’ BT dan 02˚30’ LS sampai 03˚15’ LS dengan luas daratan mencapai 250.691 ha atau kurang lebih 2.506,91 km2 (BAPPEDA 2007). Batas-batas wilayah Kabupaten Belitung Timur adalah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan b. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Karimata c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Belitung.

Luas kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur mencapai 102.844,63 ha atau sekitar 41,02 persen dari total wilayah Belitung Timur. Kawasan hutan itu terdiri dari hutan lindung 26.842,62 ha, hutan lindung pantai 18.883,71 ha dan hutan produksi 57.118,30 ha. Namun 51.347,30 ha diantaranya dalam kondisi kritis. Total lahan kritis di luar maupun di dalam kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur mencapai 77.269,39 Ha (BAPPEDA 2007).

4.2 Kondisi Fisik 4.2.2 Topografi

Keadaan alam Kabupaten Belitung Timur sebagian besar merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 20-49 meter di atas permukaan laut dan sisanya merupakan dataran rendah, dan perbukitan (Tabel 2). Dataran rendah di Belitung Timur dibagi menjadi dua yaitu dataran rendah dan dataran pantai (Pratiwi 2010).

(33)

16  

Tabel 2 Klasifikasi bentang alam Kabupaten Belitung Timur

Satuan Relief Kelerengan Beda Tinggi Persentase dari total wilayah studi Perbukitan agak curam 30% – 40% 600 – 1400 mdpl 12% Perbukitan bergelombang 15% – 29% 50 – 600 mdpl 8% Dataran tinggi 8% – 14% 20 – 49 mdpl 63% Dataran rendah/ dataran pantai < 8% < 20 mdpl 17%

Sumber : Pratiwi (2010) 4.2.2 Geologi dan tanah

Pulau Belitung merupakan pulau yang memilki geomorfologi perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 0-1400 mdpl. Perbukitan dialiri oleh sungai dengan pola dendritik (Suwarna et al. 1994 diacu dalam Pratiwi 2010). Menurut Pratiwi (2010) unit Satuan Kemampuan Lahan (SKL) kesuburan tanah di Belitung Timur 87% termasuk dalam kelas buruk.

Tabel 3 Unit SKL kesuburan tanah Belitung Timur. Tingkat

Kesuburan Tanah

Luas Deskripsi Sebaran

Baik ± 4% Berupa batupasir, tanah relative berwarna coklat kehitaman, pasir lepas kuarsa dan lumpur, jenis tanah Lisotol, tanpa/ sedikit perkembangan profil tanah, memilki batuan induk sedimen keras.

Ds. Bentayan, Ds. Kelubi, Bukit Samak.

Cukup Baik ± 9% Berupa batu pasir, granodiorit, batupasir kuarsa, jenis tanah Regosol, tanah muda dan belum mengalami diferensiasi horizon, konsistensi lepas-lepas, bahan induk material vulkanik, pH umumnya netral Sebagian kecil daerah Gantung, Ds. Burung Mandi, Ds. Air Lanci

Buruk ± 87% Berupa batupasir, batubesi, batuserpih, batulempung, lumpur dan endapan alluvial, jenis tanah Podsol, tanah tua dan telah mengalami perkembangan profil tanah, kondisi fisik tanah kering dan gersang.

Kec. Kelapa Kampit bagian tengah dan sebagian besar Kec. Gantung Sumber : Pratiwi (2010)

(34)

4.2.3 Iklim

Kabupaten Belitung Timur mempunyai iklim tropis dan basah dengan variasi curah hujan bulanan pada tahun 2008 antara 70,0 mm sampai 401,3 mm dengan jumlah hari hujan antara 9 sampai 26 hari setiap bulannya (BAPPEDA 2007). Data klimatologi Kabupaten Belitung Timur tahun 2007 menunjukkan bahwa suhu rata-rata bulanan sekitar 25,8-26,7˚C dengan suhu maksimum sekitar 33,4-33,6˚C pada bulan Juli, Agustus, September dan Oktober. Kelembaban rata-rata di Kabupaten Belitung Timur yaitu 85-93% dengan kelembaban terendah pada bulan September yaitu sekitar 85%.

4.3 Kondisi Biologi 4.3.1 Flora

Kabupaten Belitung Timur selain kaya akan mineral tambang, hasil laut pun melimpah, ragam tumbuh-tumbuhan yang menjadi kekhasan dari pulau ini. Beberapa tumbuhan liar juga merupakan tumbuhan kebanggaan masyarakat Belitung Timur, di antaranya yaitu keremunting (Rhodomyrtus tomentosa), kayu pelawan (Tristania mangiayi), sapu-sapu, sekuncung, simpor dan kayu petaling. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di hutan-hutan Belitung Timur. Tumbuhan simpor banyak dijumpai di dataran basah, akar dari tumbuhan ini sebagai penyangga dari aliran air disungai-sungai kecil. Tumbuhan simpor mempunyai karakter daun yang lebar serta bunga yang besar berwarna kuning dan sangat indah. Jika dipopulerkan tanaman ini akan mempunyai nilai komoditi yang bagus sebagai tanaman hias dari Kabupaten Belitung Timur.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, terdapat sekitar 34 Jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Beberapa tumbuhan yang dilindungi diantaranya pohon gaharu (Aquilaria malaccensis), pohon ramin (Gonystylus bancanus), anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum).

4.3.2 Fauna

Beberapa spesies satwa dilindungi dalam PP No. 7 Tahun 1999 yang terdapat di provinsi kepulauan Bangka Belitung antara lain kukang (Nycticebus coucang), rusa bawean (Axis kuhlii), duyung (Dugong dugong), buaya muara

(35)

18  

(Crocodillus porosus). Jenis lainnya termasuk dalam Appendix II CITES diantaranya salah satu spesies elang laut (Haliaeetus leucogaster), mentilin (Tarsius bancanus), trenggiling (Manis javanica), musang congkok (Prinodon linsang), biawak (Varanus salvator), monyet (Macaca tonkeana), burung hantu (Otus angelinae), burung betet (Psittacula alexandri) dan burung beo (Gracula religiosa) (DEPHUT 1999).

4.4 Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Sekitar 4.4.1 Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Belitung Timur tahun 2007 berjumlah 98.194 jiwa. Hal ini menunjukkan telah terjadi penambahan jumlah penduduk dibanding tahun sebelumnya sebanyak 6.492 orang atau 7,08 persen. Penduduk di Kabupaten Belitung Timur lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. Dimana 50.743 jiwa atau 51,67% laki-laki dan sisanya 47.451 jiwa atau 48,32% adalah perempuan. Khusus di kecamatan Gantung, penduduknya berjumlah 25.257 jiwa (BAPPEDA 2007).

4.4.2 Pendidikan

Peningkatan sumberdaya manusia sekarang ini lebih diutamakan dengan memberikan kesempatan kepada penduduk untuk mengecap pendidikan seluas-luasnya, terutama penduduk pada kelompok umur 7 – 24 tahun yang merupakan kelompok usia sekolah. Jika dilihat dari angka kelulusan Sekolah Menengah Atas terdapat sepertiga dari peserta ujian nasional yang tidak lulus di tahun 2006 (BAPPEDA 2007).

4.4.3 Mata pencaharian

Sebagian besar penduduk Belitung Timur memiliki mata pencaharian di sektor perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Tidak kurang dari 3000 orang yang bekerja di perusahaan perkebunan sawit. Selain di sektor perkebunan, pertambangan pun menjadi pilihan mata pencaharian penduduk Belitung Timur, diantanya penambangan pasir, pasir kuarsa, timah, batu besi dan Golongan C lainnya (BAPPEDA 2007).

(36)

5.1Kondisi Vegatasi Hutan Kerangas 5.1.1 Hutan kerangas khusus (Padang)

Padang merupakan hutan kerangas yang terbuka akibat terjadinya kebakaran yang sangat besar dan sangat sulit untuk kembali lagi menjadi hutan. Tumbuhan yang hidup di lokasi tersebut didominasi oleh jenis tumbuhan bawah

yang hanya memiliki tinggi kurang dari 2 m (Gambar 3). Menurut Whitten et al

(1984) Padang merupakan vegetasi yang didominasi oleh semak, dimana biasanya pohon paling tinggi hanya mencapai 5 m namun kadang-kadang ada juga yang mencapai hingga 25 m. Fakhrurrozi (2001) juga menjelaskan bahwa Padang atau padangen merupakan ekosistem hutan yang khas yang umumnya ditumbuhi oleh rerumputan, vegetasi herba, semak dan pepohonan kecil yang tidak rapat atau merata. Hal ini menyebabkan sinar matahari dapat secara penuh menyinari lantai hutan.

Gambar 3 Kondisi vegetasi di Padang. 5.1.2 Hutan kerangas primer (Rimba)

Rimba merupakan ekosistem alami yang tidak atau belum dibuka untuk

pertanian. Rimba tumbuh di atas tana darat dengan jenis tanah podsol (tana

teraja) yang letaknya relatif lebih tinggi atau di lingkungan lembab atau basah (tana amau) (Fahrurrozi 2001).

Rimba disebut juga sebagai hutan primer. Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Rimba rapat. Umumnya lokasi Rimba didominasi oleh pohon yang berdiameter kecil yaitu kurang dari 20 meter. Menurut Mansur (2006), pohon yang tumbuh di hutan kerangas memiliki tajuk yang rendah (tingginya kurang dari

(37)

20  

10 m), seragam, ukuran batang dan daun kecil, serta cabang dan ranting tumbuh rapat pada setiap pohon. Namun demikian sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan. Selain itu hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi di dalam Rimba terdapat banyak jalan yang dapat dilalui oleh sepeda motor. Biasanya jalan tersebut digunakan masyarakat untuk masuk ke dalam kawasan hutan (Gambar 4). Hal ini menyebabkan sinar matahari masih dapat masuk ke dalam hutan.

Gambar 4 Kondisi vegetasi di Rimba. 5.1.3 Hutan kerangas sekunder (Bebak)

Hutan kerangas sekunder (Bebak) merupakan hutan yang tumbuh diatas lahan milik masyarakat setempat. Bebak tersebut adalah lahan bekas ladang yang telah ditingggalkan oleh masyarakat dengan kurun waktu yang cukup lama yaitu sekitar 10 atau 20 tahun dan sedang mengalami suksesi menuju proses klimaks (Fakhrurrozi 2001). Hal ini menyebabkan kondisi vegetasi di Bebak lebih jarang dan lebih terbuka dibandingkan dengan vegetasi di Rimba (Gambar 5).

Gambar 5 Kondisi vegetasi di Bebak. 5.2Keanekaragaman Nepenthes

Hasil analisis vegetasi di tiga lokasi menunjukkan bahwa jumlah spesies Nepenthes yang ditemukan yaitu empat spesies yang berbeda. Spesies tersebut

(38)

reinwardtiana Miq. dan Nepenthes rafflesiana Jack. Spesies Nepenthes paling banyak ditemukan yaitu di Rimba dan Bebak dengan jumlah 3 spesies sedangkan jumlah spesies yang paling sedikit ditemukan di Padang yaitu 1 spesies (Tabel 4).

Tabel 4 Spesies-spesies Nepenthes yang ditemukan di lokasi penelitian

No Spesies Lokasi

Padang Bebak Rimba

1 Nepenthes ampullaria - √ -

2 Nepenthes gracilis √ √ √

3 Nepenthes rafflesiana - √ √

4 Nepenthes reinwardtiana - - √

Seluruh spesies yang ditemukan merupakan spesies murni (non-hybrid).

Clarke (1997) menjelaskan bahwa Nepenthes merupakan tumbuhan berumah dua,

dimana bunga jantan dan betina tidak berada dalam satu individu yang sama. Hal

ini menyebabkan dapat terjadi persilangan secara alam (natural hybrid) antar

spesies Nepenthes. Namun pada lokasi penelitian tidak ditemukan spesies

Nepenthes silangan alam (natural hybrid). Hal ini disebabkan karena lokasi ditemukan antar spesies relatif jauh sehingga persilangan antar spesies sulit terjadi. Selain itu menurut Mansur (2006), umumnya waktu berbunga untuk satu

spesies Nepenthes berbeda-beda, sehingga peluang terjadinya proses

penyerbukaan silang sangat kecil.

Clarke (2000) diacu dalam Saputri (2009) mengungkapkan bahwa seluruh

spesies hibrid alami Nepenthes yang diamati bersifat fertil, walaupun belum

diketahui apakah tingkat fertilisasi semua spesies hibrid alami tersebut sama atau

berbeda dengan tetuanya. Hal ini menyebabkan spesies Nepenthes hasil hibrid

alami sering sekali gagal bertahan dan mencapai jumlah populasi yang besar dan mandiri.

5.2.1 Nepenthes di Padang

Nepenthes yang ditemukan di Padang hanya satu spesies yaitu Nepenthes gracilis. Namun demikian jumlah populasi Nepenthes gracilis di Padang sangat banyak yaitu mencapai 803 individu/ha. Rendahnya keanekaragaman spesies Nepenthes yang ditemukan di Padang disebabkan oleh kondisi vegetasinya yang

(39)

22  

naungan untuk dapat bertahan hidup dan hanya spesies-spesies tertentu saja yang dapat bertahan pada kondisi dengan sinar matahari yang penuh. Salah satu spesies Nepenthes yang memerlukan sinar matahari yang banyak untuk bertahan hidup

yaitu Nepenthes gracilis (Untung et al. 2006). Menurut Hidayat et al. (2003)

Nepenthes gracilis akan tumbuh lebih baik dan sempurna pada kondisi sinar matahari yang penuh, tetapi pada tanah yang cukup lembab. Mansur (2006) juga

menambahkan bahwa Nepenthes gracilis akan tumbuh cepat jika berada pada

tempat terbuka dan menjalar di pasir kwarsa hutan kerangas.

Nepenthes gracilis dapat tumbuh di berbagai kondisi habitat. Hal ini dapat

diketahui dengan ditemukannya Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak yang

kondisi vegetasinya rapat dan ternaungi. Menurut Mansur (2006) Nepenthes

gracilis merupakan spesies yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap

lingkungan lebih tinggi daripada spesies Nepenthes lain. Oleh karena itu

Nepenthes gracilis memiliki wilayah sebaran yang cukup luas.

Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba dan Bebak memiliki lebar kantong yang relatif kecil yaitu 0,66-0,92 cm, tinggi kantong 5,73-6,67 cm dan

berwarna polos (Gambar 6), sedangkan Nepenthes gracilis yang ditemukan di

Padang memiliki ukuran dan warna yang beranekaragam (Gambar 7). Hal ini disebabkan oleh jumlah individu yang ditemukan di Padang lebih banyak.

Gambar 6 Nepenthes gracilis di Bebak.

(40)

Perbedaan ukuran kantong dan warna kantong pada Nepenthes gracilis yang ditemukan di Rimba, Bebak dan Padang disebabkan oleh kondisi vegetasi

tempat tumbuh. Pada kondisi dengan kerapatan yang tinggi Nepenthes gracilis

tumbuh dengan ukuran yang kecil dan warna kantong yang polos (Mansur 2006).

Selain itu produksi jumlah kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak lebih

sedikit dibandingkan dengan di Padang. Jumlah individu Nepenthes gracilis di

Rimba dan Bebak hanya 2 individu/ha sedangkan di Padang ditemukan 803 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Rimba dan Bebak lebih rapat daripada di Padang. Kondisi tersebut menyebabkan lokasi di Rimba dan Bebak menghasilkan serasah yang lebih banyak. Menurut Nasoetion (1990) diacu dalam Raharjo (2006) serasah merupakan lapisan teratas dari permukaan tanah yang mungkin terdiri dari lapisan tipis sisa tumbuhan. Serasah tersebut mampu menutupi tanah dan menjadi pupuk alami sehingga menjadikan tanah di Rimba dan Bebak lebih subur dibandingkan dengan di Padang.

Nepenthes akan mengembangkan dan menghasilkan kantong lebih banyak pada kondisi tanah yang miskin hara sebagai alat untuk memenuhi kekurangan

suplai nutrisi dari tanah. Nepenthes tidak seperti tumbuhan pada umumnya yang

akan tumbuh baik pada kondisi tanah yang subur. Hal tersebut merupakan upaya

adaptasi Nepenthes untuk bertahan hidup. Menurut Mansur (2006), hidup di tanah

yang miskin hara menjadikan Nepenthes mengembangkan kantongnya sebagai

alat untuk memenuhi kekurangan suplai nutrisi dari tanah. 5.2.2 Nepenthes di Rimba

Hasil analisis vegetasi di Rimba diperoleh 3 spesies Nepenthes yaitu

Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes gracilis dan Nepenthes rafflesiana. Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis hanya ditemukan di jalur 1 pada plot pertama.. Kondisi plot tersebut terbuka dan terletak di samping jalan, sehingga menyebabkan sinar matahari dapat menembus lantai hutan (Gambar 8).

Kondisi tersebut sangat mendukung Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes

gracilis untuk tumbuh dan menghasilkan kantong. Menurut Adam et al. (1991) Nepenthes reinwardtiana umumnya tumbuh di semak-semak pinggir jalan yang terbuka, tanah yang gundul, di lereng yang curam atau di tempat pembuangan

(41)

24  

Nepenthes gracilis dapat tumbuh pada tempat-tempat terbuka atau agak terlindung. Namun demikian jumlah kantong yang dihasilkan sedikit yaitu dua

kantong untuk setiap spesies Nepenthes.

Gambar 8 Kondisi habitat Nepenthes reinwardtiana dan Nepenthes gracilis di

Rimba.

Nepenthes rafflesiana ditemukan di jalur 5 pada plot ke-10, jalur 6 pada

plot ke-6, 7 dan 8, serta jalur 7 pada plot ke-3. Jumlah individu Nepenthes

rafflesiana yang ditemukan di Rimba yaitu 31 individu/ha. Nepenthes rafflesiana

ditemukan umumnya tidak menghasilkan kantong. Dari keseluruhan Nepenthes

rafflesiana yang ditemukan hanya satu individu yang menghasilkan kantong. Hal

ini disebabkan karena Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Rimba berada

pada kondisi yang ternaungi. Menurut Untung et al. (2006), pembentukan kantong

dipengaruhi oleh cahaya matahari. Kondisi vegetasi Rimba yang rapat menyebabkan sinar matahari yang masuk ke dalam hutan terbatas. Meskipun ada

beberapa Nepenthes yang tidak menyukai cahaya matahari secara langsung namun

kekurangan cahaya matahari akan berpengaruh terhadap pertumbuhan. Nepenthes

yang kekurangan cahaya matahari umumnya menghasilkan jumlah kantong yang sedikit bahkan hingga tidak menghasilkan kantong.

5.2.3 Nepenthes di Bebak

Spesies Nepenthes yang ditemukan di Bebak yaitu Nepenthes rafflesiana

Nepenthes ampullaria, dan Nepenthes gracilis. Nepenthes rafflesiana yang ditemukan di Bebak lebih banyak dibandingkan dengan di Rimba yaitu 37 individu/ha. Hal ini disebabkan karena kondisi vegetasi di Bebak lebih terbuka sehingga sinar yang masuk lebih banyak. Selain itu di Bebak juga terdapat suatu genangan air (Amau) (Gambar 9). Menurut Handayani dan Syamsudin (1998)

(42)

Nepenthes rafflesiana menyukai tempat-tempat yang terbuka, daerah semak

belukar atau hutan-hutan payau. Clarke (2001) menambahkan bahwa Nepenthes

rafflesiana lebih menyukai habitat berupa semak belukar yang terbuka, tempat yang basah, rawa, tanah berpasir dan hutan kerangas.

Gambar 9 Genangan air (Amau) di Bebak.

Nepenthes rafflesiana yang menghasilkan kantong hanya 5 individu. Selain itu kantong yang ditemukan umumnya masih tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa kantong yang dihasilkan tersebut masih tergolong muda. Menurut Mansur (2006), cairan yang terdapat dalam kantong yang masih tertutup dapat digunakan sebagai obat mata, batuk dan mengobati kulit yang terbakar.

Jumlah Nepenthes ampullaria yang ditemukan di Bebak yaitu 82

individu/ha. Umumnya Nepenthes ampullaria ditemukan di sekitar genangan air

(Amau). Menurut Handayani (2001), Nepenthes ampullaria lebih menyukai

tempat yang lembab atau basah dengan vegetasi semak belukar atau hutan sekunder. Adam dan Wilcock (1990) diacu dalam Adam dan Hafiza (2007) juga

menjelaskan bahwa Nepenthes ampullaria tumbuh di hutan sekunder atau di

pinggir rawa. Hal ini menyebabkan Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di

Rimba dan Padang.

5.3Kunci Identifikasi Spesies Nepenthes

Kunci identifikasi atau disebut juga kunci determinasi yaitu suatu alat yang diciptakan untuk membandingkan suatu tumbuhan dengan tumbuhan lain (Anonim 2006). Hal ini bertujuan untuk mempermudah mengenal suatu spesies tumbuhan. Berikut ini merupakan kunci yang digunakan dalam mengidentifikasi

(43)

26  

1.a Batang berbentuk segitiga...2 b Batang berbentuk silinder...3

2.a Bagian dalam kantong terdapat dua spot mata...N. reinwardtiana

b Bagian dalam kantong tidak terdapat spot mata... N. gracilis

3.a Tutup kantong panjang, sempit dan posisi berlawanan arah...N.ampullaria

b Tutup kantong tidak panjang menyempit, agak lebar...N. rafflesiana

5..4 Deskripsi Spesies Nepenthes

5.4.1 Nepenthes ampullaria Jack.

Nepenthes ampullaria memiliki batang terestrial yang memanjat. Menurut

Cheek dan Jebb (2001), batang Nepenthes ampullaria dapat memanjat hingga

mencapai 15 meter. Bentuk batang silinder, diameter batang 0,7-1 cm, batang muda berwarna hijau dan berbulu merah (Gambar 10A) sedangkan batang tua berwarna coklat. Daun berbentuk lanset hingga spatula (melebar pada bagian ujung daun), tebal, bagian bawah daun berbulu kasar, pertulangan daun longitudinal jelas, ujung daun runcing atau meruncing, panjang daun 24,2-28 cm, lebar daun 5,34-8,27 cm dan panjang sulur 5,03-8,62 cm (Gambar 10B). Tangkai daun pendek dan terkadang tidak ada.

Gambar 10 Batang Nepenthes ampullaria (A), Daun Nepenthes ampullaria (B).

Kantong Nepenthes ampullaria umumnya tumbuh bergerombol dan

muncul dari roset daun diatas permukaan tanah. Namun ada pula kantong yang tumbuh menggantung pada batang-batang yang tumbuh tegak. Menurut Clarke

(2001) Nepenthes ampullaria merupakan spesies Nepenthes yang paling menarik

dan mudah diidentifikasi. Hal ini disebabkan karena Nepenthes ampullaria

(44)

mampu memproduksi kantong dalam jumlah banyak di lantai hutan. Kantong Nepenthes ampullaria yang ditemukan di lokasi penelitian terdiri dari kantong

bawah dan kantong roset. Menurut Mansur (2006), Nepenthes memiliki tiga tipe

kantong yaitu kantong bawah, kantong roset dan kantong atas.

Kantong bawah yaitu kantong yang keluar dari daun yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah dan biasanya menyentuh permukaan tanah (Gambar 11). Kantong bawah umumnya memiliki ukuran daun dan panjang sulur yang lebih besar dibandingkan dengan kantong roset.Selain itu pada kantong bawah, ujung sulurnya berada di depan bawah kantong, serta memiliki dua sayap yang fungsinya seperti tangga untuk membantu serangga tanah naik hingga ke mulut

kantong (Mansur 2006).

Gambar 11 Kantong bawah Nepenthes ampullaria.

Kantong roset yaitu kantong yang keluar dari ujung daun roset, biasanya memiliki ukuran daun, sulur yang relatif pendek, tumbuh menggerombol di atas permukaan tanah (Gambar 12). Kantong roset yang ditemukan di lokasi penelitian umumnya tumbuh menjalar di atas permukaan tanah dengan jumlah yang cukup

banyak. Menurut Handayani (2001) kantong roset Nepenthes ampullaria tersusun

secara rapat bertumpuk-tumpuk dan berbentuk bulat kecil seperti teko.

Kantong atas adalah kantong berbentuk corong, pinggang, atau silinder dan tidak memiliki sayap (Mansur 2006). Pada lokasi penelitian tidak ditemukan

kantong atas Nepenthes ampullaria. Menurut Cheek dan Jebb (2001), Nepenthes

ampullaria umumnya tidak mengembangkan kantong atas (Upper pithcer). Clarke

(2001) juga menambahkan bahwa Nepenthes ampullaria jarang memproduksi

(45)

28  

Gambar 12 Kantong roset Nepenthes ampullaria.

Ukuran kantong bawah dan kantong roset Nepenthes ampullaria yang

ditemukan relatif sama yaitu lebar kantong 1,77-5,03 cm dan tinggi kantong

5,03-8,62 cm. Kantong bawah dan kantong roset Nepenthes ampullaria berbentuk

tempayan atau mirip kendi.

Mulut kantong Nepenthes ampullaria berbentuk oval dengan bibir yang

melebar menghadap ke arah dalam. Tutup kantong berbetuk lonjong dan berwarna

senada dengan kantong. Menurut Cheek dan Jebb (2001) Nepenthes ampullaria

memiliki bentuk tutup kantong yang tidak ditemukan di spesies Nepenthes lain

yaitu linear oblong (Gambar 13). Selain itu, Nepenthes ampullaria juga memiliki

posisi tutup kantong unik dan tidak dimiliki oleh spesies Nepenthes lain. Posisi

tutup kantong Nepenthes ampullaria berlawanan dengan mulut kantong sehingga

memudahkan air hujan masuk ke dalam kantong. Hal tersebut juga disebabkan karena ukuran tutup kantong yang lebih kecil dibandingkan ukuran mulut kantong.

Gambar 13 Mulut dan tutup kantong Nepenthes ampullaria.

Warna mulut dan kantong bervariasi diantaranya yaitu hijau polos dimana bibir dan kantong berwarna hijau, bibir berwarna hijau dengan warna kantong

(46)

hijau bercorak merah, bibir berwarna merah dengan warna kantong hijau bercorak

merah serta bibir dan kantong berwarna merah tua. Namun Nepenthes ampullaria

yang ditemukan di lapangan yaitu kantong dan bibir kantong berwarna hijau (Gambar 14A) dan kantong hijau bercorak merah dengan bibir berwarna hijau (Gambar 14B).

Bunga Nepenthes ampullaria tidak ditemukan di lokasi penelitian.

Menurut Handayani (2001) Nepenthes ampullaria memiliki bunga majemuk malai

dan setiap anak malai terdiri atas 10 bunga. Bunga betina lebih pendek daripada jantan, bagian tanaman yang masih muda sering ditutupi oleh bulu-bulu halus yang pendek dan berwarna coklat (Mansur 2006).

Gambar 14 Kantong Nepenthes ampullaria berwarna hijau dengan corak merah

(A), hijau polos (B). 5.4.2 Nepenthes gracilis Korth.

Nepenthes gracilis memiliki batang terestrial yang memanjat. Bentuk batang segitiga dan berwarna hijau atau coklat kemerah-merahan (Gambar 15A), panjang batang 1-2 meter, diameter batang 0,5-1 cm. Menurut Clarke (2001)

panjang batang Nepenthes gracilis mampu mencapai sekitar 7 m. Daun berbentuk

lanset, tidak bertangkai, ujung daun meruncing, pangkal daun melebar memeluk batang, panjang daun 1-15,50 cm, lebar 1-5,5 cm, panjang sulur 1-23 cm, dan

pertulangan longitudinal daun jelas. Umumnya daun Nepenthes gracilis memiliki

warna hijau. Namun jika berada dalam kondisi yang sangat terbuka dan terkena sinar matahari secara langsung maka warna daun berubah menjadi kekuningan dan terdapat bercak-bercak berwarna merah tua atau coklat (Gambar 15B).

(47)

30  

Gambar 15 Batang Nepenthes gracilis (A), daun Nepenthes gracilis (B).

Kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan terdiri dari kantong bawah

dan kantong roset. Kantong bawah dan roset Nepenthes gracilis berbentuk

silindris pada bagian atas kantong dan berbentuk oval pada bawah (Gambar 16).

Kantong atas Nepenthes gracilis berbentuk pinggang dan umumnya tidak

memiliki sayap. Pada lokasi penelitian tidak ditemukan kantong atas. Vegetasi yang tumbuh di Padang didominasi oleh rerumputan. Hal ini menyebabkan Nepenthes gracilis di Padang tumbuh menjalar di atas permukaan tanah.

Gambar 16 Bentuk kantong Nepenthes gracilis.

Ukuran kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang berbeda

dengan yang ditemukan di Rimba dan Bebak. Lebar kantong Nepenthes gracilis

yang ditemukan di Rimba dan Bebak relatif sama yaitu katong pada bagian atas 0,95-1,17 cm dan lebar kantong pada bagian bawah yaitu 1,09-1,4 cm. Lebar

kantong Nepenthes gracilis yang ditemukan di Padang lebih beragam karena

jumlah populasi yang ditemukan lebih banyak daripada di Rimba dan Bebak. Lebar kantong pada bagian atas 0,5-2,3 cm, sedangkan lebar kantong pada bagian

bawah yaitu 0,80-2,93 cm. Selain itu tinggi kantong Nepenthes gracilis di Rimba,

Bebak dan di Padang berbeda. Tinggi kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan

(48)

Bebak relatif sama yaitu sekitar 5,73-6,67 cm, sedangkan tinggi kantong Nepenthes gracilis di Padang yaitu 0,34-13,43 cm.

Warna kantong Nepenthes gracilis di Rimba dan Bebak hijau

kemerah-merahan, sedangkan warna kantong Nepenthes gracilis di Padang lebih bervariasi

diantarnya yaitu hijau polos, hijau kekuningan, merah, dan coklat kemerah-merahan. Mulut kantong berbentuk bulat dan menyempit ke arah pangkal tutup

(Handayani 2001). Tutup kantong Nepenthes gracilis berbentuk bulat dan

berwarna senada dengan kantongnya (Gambar 17).

Gambar 17 Tutup kantong Nepenthes gracilis.

Bunga Nepenthes gracilis pada lokasi Rimba dan Bebak tidak ditemukan,

sedangkan di lokasi Padang ditemukan beberapa bunga. Bunga Nepenthes akan

terbentuk jika berada pada kondisi yang terbuka dengan sinar matahari yang penuh. Bunga yang ditemukan di lokasi Padang berwarna coklat tua dan

umumnya telah merekah (Gambar 18). Bunga Nepenthes gracilis berbentuk

tandan, panjangnya kurang dari 25 cm, bunga pada betina terkadang lebih panjang

daripada bunga pada jantan (Mansur 2006). Menurut Handayani (2001) masing-masing anak tandan memiliki 2 bunga dengan panjang tangkai sekitar 0,6-1,2 cm. Nepenthes gracilis memiliki buah berbentuk kotak. Biji seperti benang halus dengan panjang sekitar 0,7-1,5 cm (Handayani 2001).

Gambar

Gambar 1  Lokasi Penelitian.
Tabel 1  Tabel kontingensi 2 2
Tabel 3  Unit SKL kesuburan tanah Belitung Timur.
Gambar 3  Kondisi vegetasi di Padang.
+7

Referensi

Dokumen terkait

To evaluate the effects of spatial variability in soil hydraulic properties on two dimensional water flow, the reference soil was de-scaled for each of the

Nilai sig tersebut lebih kecil dibandingkan dengan nilai Alpha (0,006&lt;0,050) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan

Sedangkan peningkatan kualitas permukiman dapat dilakukan pada prasarana dan sarana yang masih belum sesuai standar dan kriteria yang berlaku, seperti perbaikan

Dengan membaw a selur uh Dokumen Kualifikasi Asli atau Fotocopy sah yang dilegalisir oleh yang ber w enang dan Dokumen Penawaran ASLI yang telah di upload di

T ujuan dari penelitian ini adalah merancang dan menganalisa sistem optimasi pada proses kolom distilasi dengan menggunakan algoritma genetika dalam meminimalkan konsumsi energi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh tempe Pangan Rekayasa Genetik (PRG) dan non-PRG meliputi kualitas protein, kadar malondialdehida (MDA) hati dan

Instagram menjadi salah satu pilihan sosial media yang digunakan, akun @wwf_id yang dibuka pada tanggal 6 April 2014 ini telah menjadi akun resmi WWF dan telah

Dalam kenyataannya banyak masyarakat yang mengajukan tuntutan hak baik berupa gugatan maupun permohonan, karena dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai,