• Tidak ada hasil yang ditemukan

TULAK BALA SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT ACEH DALAM MENGHADAPI VIRUS CORONA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TULAK BALA SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT ACEH DALAM MENGHADAPI VIRUS CORONA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

TULAK BALA

SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT

ACEH DALAM MENGHADAPI VIRUS

CORONA

Teuku Amnar Saputra* dan Zuriah**

*Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

E-mail:

[email protected]

**Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Aceh

E-mail:

[email protected]

Abstract

In responding to the corona virus outbreak, each region has a different way. Aceh, which is identical to Islamic law, also has a different way of dealing with the Corona Virus Outbreak. One of the ways that the Acehnese people do is to revive the Tulak Bala tradition. This study aims to examine how an outbreak is in the historical perspective of the Acehnese people and how the Tulak Bala Tradition is carried out by the people of Aceh in dealing with the Corona Virus. This type of research is qualitative research with a phenomenological approach. Data collection was carried out by means of observation, documentation and interviews and data presentation was carried out descriptively. The results showed that an epidemic was not something new for the people of Aceh. The epidemic has occurred since the 2nd Dutch aggression

with the spread of a cholera epidemic that killed many people. The Tulak Bala tradition carried out by the people of Aceh is a tradition that has been passed down from generation to generation to its predecessors. This tradition does not believe that it can prevent and eliminate all forms of plague and calamity. The people of Aceh believe that the plague is an offering of Allah Swt so that to be able to deal with it, they must ask for help from the Creator.

Keywords: Aceh Community, Tradition, Tulak Bala, and Corona Virus. Abstrak

Dalam menyikapi wabah Virus Corona setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda. Aceh sebagai daerah yang indentik dengan syariat Islam juga memiliki cara tersendiri dalam menghadapi wabah Virus Corona. Salah satu cara yang dilakukan masyarakat Aceh adalah dengan menghidupkan kembali tradisi Tulak Bala. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana sebuah wabah dalam perspektif historis masyarakat Aceh serta bagaimana tradisi Tulak Bala yang dilakukan masyarakat Aceh dalam menghadapi Virus Corona. Jenis penelitian ini adalah

(2)

penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, dokumentasi dan wawancara dan penyajian data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebuah wabah bukan suatu hal yang baru bagi masyarakat Aceh. Wabah telah terjadi sejak agresi Belanda ke-2 dengan penyebaran wabah kolera yang membuat banyak warga meninggal dunia. Tradisi Tulak Bala yang dilakukan masyarakat Aceh merupakan sebuah tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun yang diwariskan para pendahulu. Tradisi ini dipercaya dapat menghalang dan menghilangkan segala bentuk wabah dan musibah. Masyarakat Aceh meyakini bahwa wabah merupakan pemberian Allah Swt sehingga untuk dapat menghadapinya harus meminta pertolongan kepada Sang Khalik.

Kata Kunci: Masyarakat Aceh, Tradisi, Tulak Bala, dan Virus Corona. PENDAHULUAN

Virus Corona atau dikenal juga dengan Covid-19 telah mewabah kepada jutaan penduduk Dunia. Virus corona telah menjadi bencana yang mengerikan, ratusan ribu orang telah meninggal dunia dikarenakan virus ini. Tidak hanya pemerintah, tim medis atau mereka yang bergerak dalam sains, semua elemen dalam masyarakat bergerak bersinergi melawan virus corona dengan beragam cara yang bisa dilakukan. Pemberlakukan

social dan physical distancing atau pembatasan sosial dan fisik dengan jarak minimal 1 meter,

penerapan lockdown dan Pembatasan Skala Besar Berkala (PSBB) serta beragam upaya lain dilakukan dalam rangka meminimalisirkan dampak dari virus ini. Namun nyatanya sampai saat ini masih banyak penambahan jumlah kasus yang terjadi di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.

Kondisi yang memprihatinkan pada umat manusia ini telah menjadi perhatian setiap orang, termasuk para ulama. Dalam Islam sebuah wabah disebut dengan Ta’un sebagaimana yang terdapat dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Nomor 3215, An-Nasa'i dalam As Sunan Al-Kubra Nomor 7527 dan Ahmad 26139:

(3)

Artinya: “Telah bercerita kepada kami [Musa binIsma'il] telah bercerita kepada kami [Daud bin

Abu Al Furat] telah bercerita kepada kami ['Abdullah bin Buraidah] dari [Yahya bin Ya'mar] dari ['Aisyah radliallahu 'anhu, istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam] berkata; "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang masalah tha'un lalu beliau mengabarkan aku bahwa tha'un (penyakit sampar, pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin dan tidak ada seorangpun yang menderita tha'un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentaqdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari Nomor 3125).1

Dari beberapa literatur yang ditemukan bahwa sebuah wabah bukan merupakan hal yang bersifat baru, namun telah terjadi sejak dari dahulu di beberapa generasi sebelumnya. Begitu juga dalam sejarah umat Islam sendiri. Gambaran lain juga terdapat dalam Hadits yang populer digunakan saat virus corona mulai mewabah di Indonesia:

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada

kami Syu'bah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dia berkata; saya mendengar Ibrahim bin Sa'd berkata; saya mendengar Usamah bin Zaid bercerita kepada Sa'd dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: "Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut." Lalu aku berkata; "Apakah kamu mendengar Usamah menceritakan hal itu kepada Sa'ad, sementara Sa'ad tidak mengingkari perkataannya Usamah?" Ibrahim bin Sa'ad berkata; "Benar." (HR. Bukhari

Nomor 5287).2

Dalil ini kerap digunakan para Kiai dalam menyampaikan ceramahnya untuk giat mengabarkan langkah mencegah yang efektif berdasarkan tuntunan Rasulullah Saw, yang

1Mukharom dan Havis Aravik, “Kebijakan Nabi Muhammad Saw Menangani Wabah Penyakit

Menular dan Implementasinya dalam Konteks Penanggulangan Coronavirus Covid-19,” SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, 7, No. 3 (2020).

2Dadang Kuswana, Bambang Qomaruzzaman, and Masmuni Mahatma, “Agama dan Wabah:

(4)

kemudian juga didukung dengan kebijakan Pemerintah dalam memberlakukan lockdown. Maka sebagian besar para ulama mengatakan ini adalah kondisi wajib untuk dipatuhi dan dijalankan sebagaimana tergambarkan dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan Virus Corona.3 Argumen tersebut juga diperkuat dengan

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa:

ۡمُّتۡعَزَٰ َنَت نِإَف ۡۖۡمُّكنِم ِرۡم

َ

أۡلٱ ِلِْو

ُّ

أَو َلوُّسََرلٱ ْاوُّعيِط

َ

أَو َ ََللّٱ ْاوُّعيِط

َ

أ ْآَٰوُّنَماَء َنيِذ

ََ

لٱ اَهَُّي

أ َََٰٰٓي

َ

ِلوُّسََرلٱَو ِ ََللّٱ يَلِإ ُّهوَُّدُّرَف ٖءۡيَش يِف

ٞرۡيَخ َكِلََٰذ ِِۚرِخلۡأٓٱ ِمۡوَي

ۡلٱَو ِ ََللّٱِب َنوُّنِمۡؤُّت ۡمُّتنُّك نِإ

اًليِو

ۡ

أَت ُّن َسۡح

َ

أَو

٩٥

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada

para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

(QS. An-Nisa [4]: 59).4

Keadaan yang memprihatinkan yang diakibatkan oleh Virus Corona telah memunculkan kesadaran Theologis atau kesadaran keagamaan pada setiap orang khususnya Muslim. Kesadaran ini yang membuat manusia menyandarkan segala bentuk musibah termasuk wabah virus corona ini kembali Tuhan yang kemudian diimplementasikan dalam beragam bentuk amalan agama, seperti do’a, zikir, qunut nazilah yang dilakukan dalam skala kecil maupun besar.5 Sebagiannya lagi menambahkan untuk

meminta pemerintah untuk menganjurkan dan menginstruksikan umat Islam agar membaca Surat Yasiin setelah magrib dan setelah subuh.6

Dalam menyikapi virus corona, setidaknya ada beberapa hal yang disoroti oleh beberapa para ulama mengenai virus ini, yaitu; (1) wabah corona merupakan pemisah antara orang yang beriman dengan yang tidak; (2) pengingat atas kesombongan yang ada pada manusia; (3) adanya hikmah Tuhan dari setiap musibah yang datang; dan (4) virus corona merupakan sebagai pengingat bagi manusia untuk menata diri lebih baik.7 Langkah

3“MUI Soal Lockdown: Itu Ranah Wewenang Pemerintah|Republika Online,” accessed June 3, 2020,

https://republika.co.id/berita/q7cdi6320/mui-soal-emlockdownem-itu-ranah-wewenang-pemerintah.

4Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: Sygma Exagrafika, 2009), hlm. 87.

5Beni Ahmad Saebani et al., “Kesadaran Teologis Keberagamaan Umat Manusia dalam Menghadapi

Wabah Covid-19,” Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung (2020).

6Kuswana, Qomaruzzaman, and Mahatma, “Agama dan Wabah…, hlm. 6.

(5)

preventif lain juga terlihat berbeda adalah langkah pencegahan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh. Sebagai daerah yang memiliki syariat Islam tentu peran dan otoritas ulama sangat kental dan mempengaruhi pola masyarakat Aceh dalam menyikapi beragam hal, termasuk dalam menyikapi Virus Corona (Covid-19). Oleh karena itu yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah bagaimana wabah alam historis masyarakat Aceh, dan bagaimana Tradisi Tulak Bala yang digunakan masyarakat Aceh dalam menghadapi Virus Corona.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengindentifikasikan esensi atau hakikat sebuah kejadian yang dipandang sebagai sebuah fenomena.8 Dalam hal ini

adalah sebuah fenomena dari Tradisi Tulak Bala yang dilakukan oleh masyarakat Aceh secara umum dalam menghadapi Virus Corona. Pengumpulan data dilakukan dengan Observasi langsung fenomena tersebut oleh peneliti karena peneliti sendiri juga merupakan seseorang yang berasal dari Aceh, kemudian peneliti mengumpulkan data dari media dengan teknik analisis konten dan melakukan wawancara untuk memverifikasi kebenaran yang terjadi dalam lingkungan sosial masyarakat Aceh. Penyajian data dilakukan dengan mendeskripsikan fenomena ini ke dalam sebuah laporan yang runtut yang dimulai dari sejarah dan latar belakang mengapa fenomena ini terjadi.

PEMBAHASAN

1. Wabah Dalam Historis Masyarakat Aceh

Aceh sebagai daerah yang identik dengan syariat Islam tentu tidak dapat terlepas dari peran para pemuka agama (Ulama). Dari masa kerajaan hingga sekarang para ulama masih memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pengambilan kebijakan.9 Dalam

masyarakat para ulama ini dikenal dengan sebutan Teungku (Tgk), mereka sangat dihormati karena memiliki pemahaman yang baik tentang hukum agama. Para Teungku ini diberikan

8Helaluddin dan Hengki Wijaya, Analisis Data Kualitatif: Sebuah Tinjauan Teori & Praktik, (Sekolah

Tinggi Theologia Jaffray, 2019), hlm. 29.

9Abidin Nurdin, “Reposisi Peran Ulama dalam Penerapan Syariat Islam di Aceh,” Al-Qalam 18, No.

(6)

kepercayaan dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam masyarakat.10 Pentingnya

peran ulama dapat terlihat dari adanya sebuah lembaga Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang berperan dalam mengawasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan Syariat Islam, salah satunya dengan cara mengeluarkan fatwa.11

Virus Corona atau disebut juga dengan Covid-19 merupakan virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius. Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia setelah muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019.12 Cara penularan utama penyakit ini adalah melalui tetesan kecil (droplet) yang

dikeluarkan pada batuk atau bersin. Sampai saat ini, para ahli masih terus melakukan penyelidikan tentang topik ini.13 Wabah dalam dunia Islam bukan merupakan suatu yang

baru, sebuah wabah sudah pernah terjadi saat pada saat awal berdirinya Islam wabah korela yang menelan kurang lebih 25.000 jiwa pada saat itu.14 Begitu juga dengan masyarakat Aceh

juga pernah memiliki kasus yang sama mengenai sebuah wabah. Wabah dalam Islam disebut dengan Tha’un15 sedangkan dalam bahasa Aceh disebut dengan Ta’eun.16

Dalam sejarah tercatat bahwa Aceh pernah mengalami sebuah penyakit wabah saat agresi Belanda ke-2. Pada saat itu Belanda menguburkan beberapa orang yang mati karena kolera di daratan Aceh dan dalam beberapa saat wabah kolera tersebut menyebar ke sebagian masyarakat dan pihak Istana. Pada saat itu Panglima Tibang mengatakan bahwa ada sekitar 150 orang yang dimakamkan akibat wabah tersebut dan dikabarkan bahwa Sultan Mahmud (raja Aceh kala itu) juga meninggal diakibatkan terjangkit oleh wabah kolera pada tanggal 29 Januari 1874.17 Sedangkan anaknya yang berusia 4-5 tahun berhasil

10Zuriah, dkk, “Perempuan Sebagai Pimpinan Dayah; Peluang dan Tantangannya di Aceh),” in

Prosiding Muktamar Santri Nusantara 2018 (Jakarta Pusat: Ditpontren Kemenag RI, 2019), hlm. 567–568.

11Riki Syahrozie, “Peran Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh dalam Mengawasi Penyelenggaraan

Pemerintahan Aceh Berdasarkan Syariat Islam,” 2019, hlm. 31.

12“QnA : Pertanyaan dan Jawaban Terkait COVID-19, Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan

RI”, accessed June 4, 2020, https://covid19.kemkes.go.id/qna-pertanyaan-dan-jawaban-terkait-covid-19/.

13“QnA : Pertanyaan dan Jawaban Terkait COVID-19….

14Eman Supriatna, “Wabah Corona Virus Disease (Covid 19) Dalam Pandangan Islam,” SALAM:

Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i 7, no. 6 (2020): 559.

15Mukharom and Aravik, “Kebijakan Nabi Muhammad Saw…, hlm. 242.

16Bukhari Daud dan Mark Durie, Kamus Bahasa Aceh, Pacific linguistics Ser. C 151, (Canberra:

Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University, 1999), hlm. 31.

17Nino Oktorino, Seri Nusantara Membara: Perang Terlama Belanda, (Elex Media Komputindo, 2018),

(7)

diselamatkan oleh panglima Tibang yang kemudian menjadi raja terakhir Aceh yang bernama Sultah Muhammad Dawod.18

Kondisi seperti ini telah menciptakan situasi di mana pihak istana keluar dan melarikan diri tidak semata-mata karena ancaman yang telah digencarkan oleh pihak Belanda, melainkan hasil diskusi dengan pertimbangan karena semakin memburuknya keadaan yang diakibatkan oleh serangan wabah. Sehingga dari hasil musyawarah dan dengan mempertimbangkan keselamatan pihak istana, akhirnya diputuskanlah untuk segera keluar dan dilakukan pada malam hari. Pihak Belanda pun mengepung dan melakukan pemboman. Kendatipun demikian penaklukan ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan oleh pihak Belanda setelah sekian lama bertempur menaklukkan kerajaan Aceh.19

Adapun, penyakit ta'eun (wabah) dalam perspektif masyarakat Aceh terdapat dua jenis yaitu ta'eun ija brok adalah wabah yang diperkirakan menempel pada kain kotor dan pada benda-benda tertentu yang tidak bersih dan ta'eun geureuda sampoh merupakan wabah menimbulkan efek mematikan kepada siapapun yang terjangkiti tanpa mengenal darah, kulit dan strata sosial dalam masyarakat.20 Ta’eun (wabah) dalam perspektif masyarakat

Aceh tidak hanya menjangkit manusia, namun juga terjadi wabah pada binatang terutama unggas, atau dikenal juga dengan Ta’eun Manok (Flu Burung).21 Penyakit ini hanya

menjangkit pada ayam dengan skala besar, dan membuat ayam mati mendadak dalam waktu yang singkat. Tentu kondisi ini juga dapat membuat kerugian bagi para pedagang ayam, di samping harga jual ayam menurun bahkan kematian ayam ini membuat kerugian yang besar bagi para peternak.22

2. Tradisi Tulak Bala Sebagai Cara Masyarakat Menghadapi Virus Corona

Virus Corona merupakan wabah yang tidak asing bagi masyarakat Aceh, dalam sejarah dan berdasarkan pengakuan dari para pendahulu bahwa sebuah wabah telah terjadi di Aceh pada zaman dahulu yang menyerang baik manusia maupun binatang. Sehingga

18M. Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh: Perdagangan, Diplomasi, dan Perjuangan Rakyat, (Yayasan

Pustaka Obor Indonesia, 2014), hlm. 207.

19Oktorino, Seri Nusantara Membara…, hlm. 58–59.

20Virus dan Obat Penangkalnya dalam Perspektif Masyarakat Aceh, Serambi Indonesia, accessed June 4,

2020, https://aceh.tribunnews.com/2020/03/23/virus-dan-obat-penangkalnya-dalam-perspektif-masyarakat-aceh.

21Wawancara dengan Maimunah, orang yang termasuk paling tua di Desa Menujee yang sudah berusia

lebih dari 80 tahun pada tanggal 5 juni 2020.

22“Ta’eun Manok Resahkan Pedagang Ayam,” Serambi Indonesia, accessed June 4, 2020,

(8)

pengalaman dalam menghadapi sebuah wabah kembali diterapkan ketika dihadapkan pada kondisi sekarang, di mana virus corona mewabah di Indonesia dan Aceh khususnya.23

Tradisi Tulak Bala (Menolak Bala/Bencana) telah dilakukan oleh masyarkat Aceh dari dahulu kala, dalam pelaksanaanya dilakukan dalam beragam macam ritual tergantung bagaimana kearifan lokal suatu wilayah.

Bentuk ritual Tulak Bala sudah sangat jarang sekali dilakukan oleh masyarakat Aceh T. Abdullah Sakti mengatakan bahwa tradisi tolak bala sudah tidak terdengar lagi menginjak tahun 80-an.24 Di tengah mewabahnya Virus Corona warga Aceh kemudian

mulai berduyun-duyun melakukan dan membangkitkan tradisi ini kembali. Menurut amatan peneliti bahwah pada saat Virus Corona mulai ada dan mulai menjangkit warga Wuhan China pada akhir 2019, tradisi ini belum dimunculkan, karena Aceh pada masa itu masih aman dari kemungkinan terpaparnya sebuah wabah. Kemudian setelah Virus Corona ada di Indonesia dan Aceh juga berdampak terhadap kondisi tersebut maka mulailah para pemuka agama di masing-masing daerah mulai melakukan berbagai langkah preventif yang dianggap relevan untuk menghadang datangnya Virus Corona.

Salah satu tradisi yang sedang marak dilakukan selama masa mewabahnya Virus Corona adalah dengan melakukan Pawai Obor dan membaca Wakulja alhaqqu wazaqal

batil, Innal batilaka nazahuka.25 Doa yang dilafalkan saat pawai obor dilakukan oleh

masyarakat Aceh adalah doa yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ Ayat 81:

اٗقوُّهَز َناَك َلِطَٰ َبۡلٱ ََنِإ ُۚ ُّلِطََٰبۡلٱ َقَهَزَو َُّقَحۡلٱ َءَٰٓاَج ۡلُّقَو

١٨

Artinya “Dan Katakanlah, Yang Benar Itu Telah Datang dan Yang Bathil Itu Telah Lenyap, dan

Sesungguhnya Yang Bathil Itu Akan Hancur Binasa”. (Qs: Al-Isra' [17]: 81).26

Cara yang demikian telah dilakukan oleh para pendahulu (endatu) masyarakat Aceh, demikian penjelasan salah seorang tokoh masyarakat sekaligus Tuha Peut27 perangkat

23LPP RRI 2020, “Virus Corona Mewabah, Warga Aceh Utara Lafalkan ‘Waqulja’ Keliling Kampung,”

Rri.Co.Id, accessed June 4, 2020, https://rri.co.id/lhokseumawe/gaya-hidup/budaya-wisata/805718/virus-corona-mewabah-warga-aceh-utara-lafalkan-waqulja-keliling-kampung.

24“Mengembalikan Tradisi Tolak Bala Warga Aceh di Tengah Pandemi Covid-19,” liputan6.com,

accessed June 5, 2020, https://www.liputan6.com/regional/read/4207568/mengembalikan-tradisi-tolak-bala-warga-aceh-di-tengah-pandemi-covid-19.

25Mengembalikan Tradisi Tolak Bala Warga Aceh di Tengah Pandemi Covid-19,” liputan6.com.

26Al-Qur’an dan Terjemahan, hlm. 290.

27Tuha Peut atau nama lain, adalah Badan Perwakilan Gampong yang terdiri dari unsur ulama, tokoh

adat, pemuka masyarakat dan cerdik pandai yang ada di Gampong. (Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 5 Tahun 2003 Bab V).

(9)

Gampoeng (Desa) Keude Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Ikbal bin Rusli yang dikutip dari RRI. Beliau mengatakan bahwa “Cara ampuh mengusir wabah penyakit yang menimpa suatu wilayah adalah dengan memperbanyak kegiatan keliling kampung sambil mengarak "Panyoet" (sejenis obor)”.28

Prosesi pelaksanaan Tradisi Tulak Bala dilakukan dan dipimpin oleh pemuka agama di masing-masing daerah. Kemudian pemimpin agama ini memimpin rombongan berkeliling perkampungan atau desa dengan semua peserta membawa obor. Kegiatan ini dilakukan setelah selesainya shalat magrib berjamaah, membaca Yasin hingga Salat Isya berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan berkeliling Gampong (Desa) serta membaca doa tolak bala yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ Ayat 81; Wakulja alhaqqu wazaqal

batil, Innal batilaka nazahuka.29

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah semata-mata untuk meminta pertolongan kepada Allah Swt agar segera dijauhkan dari sebuah wabah yang dalam hal ini adalah Virus Corona sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang pimpinan pesantren Tgk Bahri Ismail.30 Tgk Munawir Busu mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan

ini merupakan sebuah tradisi yang masih ada dan dilaksanakan oleh masyarakat Aceh. “Ketika kegiatan ini dilakukan berarti ini sudah merupakan usaha terakhir dan sudah menyerahkan segala ketentuannya kepada Allah Swt.”31 Lebih lanjut beliau mengatakan

bahwa ini merupakan murni sebuah tradisi dan cara orang terdahulu menolak bala, kemudian mengenai bacaannya memang merupakan doa yang sudah diyakini ampuh dalam menghindari dari musibah, bala termasuk wabah virus corona.

Tidak hanya dengan melakukan pawai obor, nyatanya masyarakat Aceh memiliki beragam ritual Tulak Bala lainnya, hal ini dikarenakan adanya perbedaan adat di setiap daerah yang berada di wilayah provinsi Aceh. Qunut Nazilah juga merupakan salah satu cara yang diyakini menjadi penolong dan baik untuk diadakan dalam setiap shalat untuk melawan virus corona. Qunut Nazilah sendiri merupakan bacaan Qunut yang berisi doa

28RRI 2020, “Virus Corona Mewabah, Warga Aceh Utara Lafalkan ‘Waqulja’ Keliling Kampung.”

29“Covid-19 Mewabah Warga Teupin Kupula Gelar Ritual Tolak Bala,” accessed June 5, 2020,

http://harianandalas.com/aceh/covid-19-mewabah-warga-teupin-kupula-gelar-ritual-tolak-bala. Lihat juga di “Ritual Tolak Bala Wabah Corona di Aceh: Pawai Doa Dengan Suluh - Kumparan.Com,” accessed June 5, 2020, https://kumparan.com/acehkini/ritual-tolak-bala-wabah-corona-di-aceh-pawai-doa-dengan-suluh-1t7VkZFz0Zo.

30“Covid-19 Mewabah Warga Teupin Kupula Gelar Ritual Tolak Bala.”

(10)

khusus yang dilaksanakan pada saat ditimpa musibah, dan dibaca dalam setiap shalat fardhu setelah bangun dari Ruku’.32 Anjuran untuk mengadakan pembacaan Qunut Nazilah

dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bersama membaca Qunut Nazilah sebagai wujud penangkal dari virus corona.33 Namun meskipun ini merupakan bentuk tradisi masyarakat Aceh sebagai

penangkal wabah, anjuran ini nyatanya dilaksanakan dan dianjurkan oleh setiap daerah yang memiliki umat Islam sebagaimana halnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam rekomendasinya menganjurkan bahwa setiap umat Islam untuk membaca Qunut Nazilah.34

Sebagai respon dari himbauan tersebut setiap khatib Masjid yang berada di Aceh langsung menerapkan Qunut Nazilah dalam shalat yang dilakukan di masjid-masjid maupun surau. Faisal Ali mengatakan bahwa upaya ini harus dilakukan sebagai bentuk doa dan upaya menyerahkan diri kepada Allah atas ujian ini. Di samping itu upaya lain seperti melakukan protokol kesehatan harus dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar.35 Masyarakat

Aceh sebagai masyarakat yang sangat dekat tentu akan melakukan apa yang dianjurkan oleh para Ulama.36

Usaha-usaha lain juga dilakukan oleh masyarakat Aceh seperti memasak bubur (Ie

Bu) yang dilakukan oleh masyarakat Desa Busu dengan cara memasak bubur di setiap

tengah lorong yang berada di Desa atau perkampungan. Kemudian bubur itu nanti dibagikan kepada seluruh warga dengan harapan kenduri yang dilakukan tersebut dapat menghindari warga dari wabah virus corona.37

Ayah Panton atau dengan nama lengkap Syamsuddin Jalil sebagai budayawan Aceh bersama Hasan Basri M. Nur mengatakan bahwa ada tujuh kearifan lokal yang dilakukan masyarakat Aceh dalam menghadapi wabah virus corona, di antaranya adalah:

32LPBKI MUI Pusat, FIQH WABAH: Panduan Syariah, Fatwa Ulama, Regulasi Hukum, dan Mitigasi

Spiritual, (Albayzin, 2020), hlm. 42.

33“Kasus Covid-19 Meningkat, MPU Imbau Warga Perbanyak Baca Qunut Nazilah - Serambi

Indonesia,” accessed December 24, 2020, https://aceh.tribunnews.com/2020/07/16/kasus-covid-19-meningkat-mpu-imbau-warga-perbanyak-baca-qunut-nazilah.

34“Bacaan Doa Qunut Nazilah, MUI Imbau Umat Islam Baca Doa Itu, Agar Terhindar Dari Musibah

- Serambi Indonesia,” accessed December 24, 2020, https://aceh.tribunnews.com/2020/06/20/bacaan-doa-qunut-nazilah-mui-imbau-umat-islam-baca-doa-itu-agar-terhindar-dari-musibah.

35“Kasus Covid-19 Meningkat, MPU Imbau Warga Perbanyak Baca Qunut Nazilah-Serambi

Indonesia.”

36Zulfikar A Makam, AR Zulfikar, & Said Mahdi, “Covid Handling in Aceh; Cultural Communication

Perspective,” Asian Social Science and Humanities Research Journal (ASHREJ) 2, No. 2 (2020): hlm. 34.

(11)

Sira dan Manoe Laot (Garam dan mandi air laut). Garam dan air laut merupakan

sesuatu yang bersifat asin, garam dipercaya dapat menjadi penawar dari dan dipercayai dapat mencegah virus corona. Pada dasarnya penggunaan garam dalam masyarakat Aceh bukan sesuatu yang asing. Garam sudah menjadi tradisi dalam beragam bentuk pada masyarakat Aceh seperti Peucicap (Mencicipi) yang biasa diberikan kepada bayi untuk memperkenalkan rasa. Selain itu garam juga sering diletakkan pada hidangan yang dikhususkan untuk Teungku (ustadz) dalam acara kenduri. Selanjutnya tradisi mandi laut (Rabu Abeh) juga menjadi rutinitas yang dilakukan oleh masyarakat Aceh, selain sebagai upaya tulak bala tradisi ini juga dipercayai dapat menyembuhkan diri dari berbagai macam penyakit dan biasanya dilakukan pada saat bulan safar.38

Ie Lam Guci (Air dalam Kendi) merupakan sebuah tradisi di mana masyarakat Aceh

selalu menempatkan kendi di depan rumahnya atau di tempat yang dapat dijangkau. Kendi ini dimaksudkan untuk membersihkan diri sebelum masuk ke dalam rumah.39

Kegiatan ini menggambarkan bahwa upaya mensterilkan diri dengan mencuci tangan dan kaki sebelum masuk ke dalam rumah adalah sebuah tradisi yang kembali dapat difungsikan pada zaman sekarang di mana wabah virus corona membuat setiap individu untuk tetap menjaga kebersihan dalam upaya memutuskan rantai penyebaran virus.

Boeh Gaca (Memakai Inai), hal menarik lainnya adalah tradisi memakai inai di jari

secara selang seling. Tradisi Boeh gaca sendiri adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh setiap wanita Aceh yang hendak melakukan acara pernikahan. Memakai inai dalam konteks ini dapat dipahami bahwa wanita sebagai calon istri yang akan menjadi obat pelipur lara dan juga perhiasan dalam rumah tangga. Kesan warna merah pada inai juga dianggap dapat mengusir maksud mengusir makhluk halus dan mampu memberikan kesuburan bagi pengantin wanita.40 Memakai inai juga biasanya

38“Taeun Corona dan 7 Local Wisdom di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga

On Ranup-Serambi Indonesia,” December 25, 2020, https://aceh.tribunnews.com/2020/04/09/taeun-corona-dan-7-local-wisdom-di-aceh-mulai-dari-sira-ie-lam-guci-toet-leumang-hingga-on-ranup.

39“Taeun Corona dan 7 Local Wisdom di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga

On Ranup-Serambi Indonesia”.

40Marini Kristina Situmeang, “Dekonstruksi Makna Memakai ‘Boh Gaca’ (Memakai Inai) Pada

Masyarakat Aceh Dalam Kajian Jaques Derrida,” Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) 10, No. 2 (December 17, 2016): hlm. 139.

(12)

dilakukan pada upacara khitanan dan sebagai trend dalam masyarakat Aceh di mana mereka bisa memakai kapanpun dan di manapun.41 Dalam konteks memakai inai

dengan motif selang seling di ujung jari memiliki perbedaan makna dari tujuan pemakaian inai di atas, Ayah Panton mengatakan bahwa tujuan pemakaian inai seperti itu adalah sebagai isyarat untuk melakukan jaga jarak atau Physical distancing.42

Kondisi wabah corona yang mengakibatkan penyebaran dapat dilakukan dengan jarak dekat maka tradisi ini kembali dihidupkan sebagai upaya penyampaian pesan untuk melakukan jaga jarak agar dapat memutuskan mata rantai penyebaran virus corona.

 Lebih lanjut tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh yang dipercayai dapat membentengi diri dari menghadapi wabah virus corona adalah dengan memakan daun sirih atau Pajoeh ranup. Ranup atau daun siri dulu banyak terdapat di pekarangan setiap rumah masyarakat Aceh dan selalu disediakan sebagai wujud memuliakan tamu yang datang berkunjung ke rumah.43 Ranup menjadi daun yang

dimuliakan dalam masyarakat Aceh. Fungsi ranup dapat terlihat begitu penting kedudukannya dalam acara peminangan gadis, makanan wajib saat acara dan adat siklus kehidupan serta sebagai makanan sehari-hari karena ranub juga dipercayai dapat menjadi obat bagi kesehatan tubuh.44 Dalam dunia medis, ekstrak daun sirih

dapat digunakan lebih baik jika dibandingkan produk komersial lainnya yang menggunakan bahan dasar alkohol dan dapat digunakan lebih aman serta memiliki daya hambat penyebaran bakteri lebih tinggi.45

Toet Leumang (membakar lemang), lemang adalah makanan dari beras ketan yang

dicampur dengan santan kelapa yang dimasak dalam seruas bambu dengan cara

41Emilia Yusnita, Cut Zuriana, dan Lindawati Lindawati, “Berinai Dalam Konteks Budaya Aceh,”

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik 3, No. 3 (2018), accessed December 25, 2020, http://www.jim.unsyiah.ac.id/sendratasik/article/view/13108.

42“Taeun Corona dan 7 Local Wisdom di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga

On Ranup-Serambi Indonesia”.

43“Taeun Corona dan 7 Local Wisdom di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga

On Ranup-Serambi Indonesia”.

44Yulianingsih Yulianingsih, “Mamoh Ranub Kesembuhan Mulia Etnik Aceh–Kabupaten Aceh

Barat,” Umbara 3, No. 1 (August 31, 2020): hlm. 56.

45Dhika Satriawan Fathoni, Ilham Fadhillah, dan Mujtahid Kaavessina, “Efektivitas Ekstrak Daun

Sirih Sebagai Bahan Aktif Antibakteri Dalam Gel Hand Sanitizer Non-Alkohol,” EQUILIBRIUM Journal of Chemical Enginering 3, No. 1 (August 26, 2019), accessed December 25, 2020, https://jurnal.uns.ac.id/equilibrium/article/view/43215.

(13)

dibakar sampai matang.46 Makan ini merupakan makanan khas suku melayu.47

Makanan lemang juga merupakan makanan khas yang berada di Aceh dan memasak lemang sudah menjadi tradisi Toet Leumang yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat. Ada dua makna yang dapat dilihat dari tradisi toet leumang yaitu membakar lemang sebagai pertanda bahwa stok pangan dalam konteks masyarkat Aceh beras telah terbatas, ini ditandai dari bahan dasar lemang yang merupakan beras ketan telah digunakan. Makna yang kedua adalah dipahami sebagai wujud saling berbagi dalam konteks membiasakan diri untuk bersedekah.48

 Kemudian yang terakhir adalah Isolasi bagi yang sakit. Tradisi ini bisa dilakukan pada wabah flu burung (taeun manok) yang terjadi dengan memisahkan antara ayam yang sakit dengan yang masih sehat. Baru kemudian petugas kesehatan atau (Meuntri) melakukan upaya pengobatan dengan memberikan vaksin kepada ayam yang terkena penyakit.49 Kegiatan ini juga tidak tutup kemungkinan dilakukan juga pada manusia.

Sebagai masyarkat yang mayoritas muslim tentu anjuran-anjuran untuk melakukan isolasi tidak dapat terlepas dari upaya untuk melakukan antisipasi terhadap penyebaran visur corona, terlebih lagi anjuran ini sudah tergambarkan dalam hadis Nabi sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa sepenuhnya masyarakat Aceh telah melakukan beragam upaya untuk melawan wabah virus corona. Menghidupkan kembali tradisi Tulak Bala ini adalah salah satu upaya yang dilakukan dalam menghadapi Virus Corona. Sebagaimana yang diyakini oleh para pendahulu masyarakat Aceh, Ritual Tulak

Bala ini juga efektif untuk menghilangkan virus corona dan membersihkan segala wabah,

penyakit, musibah dari bumi Aceh. Ritual ini juga tidak dapat terlepas dari adanya peran para tokoh ulama, pemuka adat dan pihak masyarakat dalam mewujudkannya, terlebih yang menjadi pemimpin dari kegiatan tersebut adalah para tokoh agama (Teungku).

46“Lemang,” Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, May 15, 2020, accessed December 25,

2020, https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lemang&oldid=16943653.

47Bertha Araminta Wahyudi et al., “Lemang (Rice Bamboo) as a Representative of Typical Malay Food

in Indonesia,” Journal of Ethnic Foods 4, no. 1 (March 1, 2017): 3–7.

48“Taeun Corona dan 7 Local Wisdom di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga

On Ranup-Serambi Indonesia”.

49“Taeun Corona dan 7 Local Wisdom di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga

(14)

PENUTUP

Aceh sebagai daerah yang masih tergolong sangat kental dengan nilai-nilai keislaman memiliki perspektif bahwa sebuah wabah merupakan sebuah cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah Swt. Secara historis Aceh pernah mengalami dan terkena sebuah penyakit wabah yang terjadi di masa lalu. Dalam menyikapi Virus Corona ini masyarakat Aceh telah melakukan beragam cara yang sebelumnya pernah dilakukan oleh pendahulunya untuk menghadapi berbagai musibah.

Dari pembahasan di atas maka terlihat bahwa upaya yang dilakukan masyarakat Aceh dalam upaya pensucian diri dari berbagai macam penyakit dengan melakukan sterilisasi tergambarkan dari tradisi, Sira dan Manoe Laot, Ie Lam Guci, Pajoh Ranup. Sedangkan upaya untuk melakukan physical distancing tergambarkan dari tradisi Boeh Gaca dan isolasi bagi yang sakit. Kemudian upaya yang terakhir adalah menyerahkan diri dan mengharap pertolongan dari Allah tergambarkan dari tradisi pawai obor dan tradisi membagikan makanan sebagai wujud sedekah dalam tradisi Masak Bubur (Ie Bu) dan Toet Leumang.

Kajian tentang Tulak Bala ini tentu masih banyak menyisakan ruang kajian yang dapat dilakukan oleh peneliti selanjutnya, karena Aceh memiliki begitu banyak tradisi

Tulak Bala yang masih dilestarikan dan dianggap sakral. Peluang lain juga dapat dilakukan

pengambilan data kuantitatif terkait seberapa yakin masyarakat Aceh terhadap ritual atau tradisi Tulak Bala yang selama ini dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Daud, Bukhari, dan Mark Durie. Kamus Basa Acèh =: Kamus Bahasa Aceh ; Thesaurus. Pacific linguistics Ser. C 151. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University, 1999.

Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahan. Bandung: Sygma Exagrafika, 2009. dkk, Zuriah. “Perempuan Sebagai Pimpinan Dayah; Peluang Dan Tantangannya Di Aceh).”

In Prosiding Muktamar Santri Nusantara 2018, 567–568. Jakarta Pusat: Ditpontren Kemenag RI, 2019.

Fathoni, Dhika Satriawan, Ilham Fadhillah, dan Mujtahid Kaavessina. “Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Sebagai Bahan Aktif Antibakteri Dalam Gel Hand Sanitizer Non-Alkohol.” EQUILIBRIUM Journal of Chemical Enginering 3, No. 1 (August 26, 2019). Accessed December 25, 2020. https://jurnal.uns.ac.id/equilibrium/article/view/ 43215.

(15)

Helaluddin, dan Hengki Wijaya. Analisis Data Kualitatif: Sebuah Tinjauan Teori & Praktik. Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2019.

Kuswana, Dadang, Bambang Qomaruzzaman, dan Masmuni Mahatma. “Agama Dan Wabah: Tanggapan Ulama Jawa Barat Atas Covid-19 Tahun 2020.” UIN Sunan

Gunung Djati Bandung (2020).

Liputan6.com. “Mengembalikan Tradisi Tolak Bala Warga Aceh di Tengah Pandemi Covid-19.” liputan6.com. Last modified March 21, 2020. Accessed June 5, 2020. https://www.liputan6.com/regional/read/4207568/mengembalikan-tradisi-tolak-bala-warga-aceh-di-tengah-pandemi-covid-19.

Madjid, Prof Dr M. Dien. Catatan Pinggir Sejarah Aceh: Perdagangan, Diplomasi, dan

Perjuangan Rakyat. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.

Makam, Zulfikar A, AR Zulfikar, dan Said Mahdi. “Covid Handling in Aceh; Cultural Communication Perspective.” Asian Social Science and Humanities Research Journal

(ASHREJ) 2, no. 2 (2020): 28–36.

Mukharom, Mukharom, dan Havis Aravik. “Kebijakan Nabi Muhammad Saw Menangani Wabah Penyakit Menular Dan Implementasinya Dalam Konteks Penanggulangan Coronavirus Covid-19.” SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i 7, no. 3 (2020). Nurdin, Abidin. “Reposisi Peran Ulama Dalam Penerapan Syariat Islam Diaceh.” Al-Qalam

18, no. 1 (2016): 54–65.

Oktorino, Nino. Seri Nusantara Membara: Perang Terlama Belanda. Elex Media Komputindo, 2018.

Pusat, LPBKI MUI. FIQH WABAH: Panduan Syariah, Fatwa Ulama, Regulasi Hukum, dan

Mitigasi Spiritual. Albayzin, 2020.

RRI 2020, LPP. “Virus Corona Mewabah, Warga Aceh Utara Lafalkan ‘Waqulja’ Keliling Kampung.” Rri.Co.Id. Accessed June 4, 2020. https://rri.co.id/lhokseumawe/gaya- hidup/budaya-wisata/805718/virus-corona-mewabah-warga-aceh-utara-lafalkan-waqulja-keliling-kampung.

Saebani, Beni Ahmad, Mohammad Nadjib, Mustopa Kamal, dan Yana Sutiana. “Kesadaran Teologis Keberagamaan Umat Manusia Dalam Menghadapi Wabah Covid-19.” Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung (2020).

Situmeang, Marini Kristina. “Dekonstruksi Makna Memakai ‘Boh Gaca’ (Memakai Inai) Pada Masyarakat Aceh Dalam Kajian Jaques Derrida.” Jurnal Sosiologi USK (Media

Pemikiran & Aplikasi) 10, no. 2 (December 17, 2016): 137–155.

Supriatna, Eman. “Wabah Corona Virus Disease (Covid 19) Dalam Pandangan Islam.”

SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i 7, no. 6 (2020).

Syahrozie, Riki. “Peran Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Dalam Mengawasi Penyelenggaraan Pemerintahan Aceh Berdasarkan Syariat Islam,” 2019.

(16)

Wahyudi, Bertha Araminta, Felicia Agnes Octavia, Marissa Hadipraja, Sabrina Isnaeniah, dan Vicky Viriani. “Lemang (Rice Bamboo) as a Representative of Typical Malay Food in Indonesia.” Journal of Ethnic Foods 4, no. 1 (March 1, 2017): 3–7.

Yulianingsih, Yulianingsih. “Mamoh Ranub Kesembuhan Mulia Etnik Aceh – Kabupaten Aceh Barat.” Umbara 3, no. 1 (August 31, 2020): 54–58.

Yusnita, Emilia, Cut Zuriana, dan Lindawati Lindawati. “Berinai dalam Konteks Budaya Aceh.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik 3, No. 3 (2018). Accessed December 25, 2020. http://www.jim.unsyiah.ac.id/sendratasik/article/ view/13108.

“Bacaan Doa Qunut Nazilah, MUI Imbau Umat Islam Baca Doa Itu, Agar Terhindar Dari

Musibah-Serambi Indonesia.” Accessed December 24, 2020.

https://aceh.tribunnews.com/2020/06/20/bacaan-doa-qunut-nazilah-mui-imbau-umat-islam-baca-doa-itu-agar-terhindar-dari-musibah.

“Covid-19 Mewabah Warga Teupin Kupula Gelar Ritual Tolak Bala.” Accessed June 5, 2020. http://harianandalas.com/aceh/covid-19-mewabah-warga-teupin-kupula-gelar-ritual-tolak-bala.

“Kasus Covid-19 Meningkat, MPU Imbau Warga Perbanyak Baca Qunut Nazilah - Serambi Indonesia.” Accessed December 24, 2020. https://aceh.tribunnews.com/2020/ 07/16/kasus-covid-19-meningkat-mpu-imbau-warga-perbanyak-baca-qunut-nazilah. “Lemang.” Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, May 15, 2020. Accessed December

25, 2020. https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lemang&oldid=16943653. “MUI Soal Lockdown: Itu Ranah Wewenang Pemerintah | Republika Online.” Accessed

June 3, 2020. https://republika.co.id/berita/q7cdi6320/mui-soal-emlockdownem-itu-ranah-wewenang-pemerintah.

“QnA : Pertanyaan Dan Jawaban Terkait COVID-19 » Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI.” Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI, n.d. Accessed June 4, 2020. https://covid19.kemkes.go.id/qna-pertanyaan-dan-jawaban-terkait-covid-19/. “Ritual Tolak Bala Wabah Corona Di Aceh: Pawai Doa Dengan Suluh - Kumparan.Com.”

Accessed June 5, 2020. https://kumparan.com/acehkini/ritual-tolak-bala-wabah-corona-di-aceh-pawai-doa-dengan-suluh-1t7VkZFz0Zo.

“Taeun Corona Dan 7 Local Wisdom Di Aceh, Mulai Dari Sira, Ie Lam Guci, Toet Leumang, Hingga On Ranup - Serambi Indonesia.” Accessed December 25, 2020. https://aceh.tribunnews.com/2020/04/09/taeun-corona-dan-7-local-wisdom-di-aceh-mulai-dari-sira-ie-lam-guci-toet-leumang-hingga-on-ranup.

“Ta’eun Manok Resahkan Pedagang Ayam.” Serambi Indonesia. Accessed June 4, 2020. https://aceh.tribunnews.com/2014/02/01/taeun-manok-resahkan-pedagang-ayam. “Virus dan Obat Penangkalnya dalam Perspektif Masyarakat Aceh.” Serambi Indonesia.

Accessed June 4, 2020. https://aceh.tribunnews.com/2020/03/23/virus-dan-obat-penangkalnya-dalam-perspektif-masyarakat-aceh.

Referensi

Dokumen terkait

4.1 Penguasaan Lahan oleh Masyarakat Masyarakat Kecamatan Bantan membuka pemukiman dan lahan pertanian jauh sebelum republik ini merdeka. Dengan gotong royong dan..

Fasilitas KBM yang terdapat di SMK N 1 Klaten sudah sangat memadai, guru dapat menfasilitasi siswa dalam proses belajar mengajar dengan memakai media yang telah disediakan

Experiental Marketing merupakan suatu konsep pemasaran yang tidak hanya menjual produk atau jasa saja kepada konsumen tetapi juga memberikan pengalaman

Hal ini sesuai dengan definisi perbankan, yang terkait dengan kegiatan utama suatu bank yaitu membeli uang dari masyarakat (menghimpun dana) melalui simpanan

Dari aspek pendapatan dan pengeluaran rumahtangga usahatani kelapa dapat dinyatakan bahwa: Pertama , pendapatan rumahtangga dari luar usahatani kelapa tidak responsif

Berdasarkan keterangan setelah melakukan penelitian, rata-rata responden menyatakan bahwa factor yang melatar belakangi larangan nikah tersebut adalah, pertama, dikhawatirkan

- Kunjungan Kerja bersama Bappeda, Dinas Bina Marga, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Dinas Penataan Ruang & Pemukiman, Dinas Perhubungan, Dinas Pertambangan

Kegiatan komposting sampah kota umumnya tidak berjalan sinambung karena kegagalan pasar, lemahnya dukungan pemerintah, lemahnya manajemen dan ketidaklayakan teknik yang