• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengungkapan diri kaum homoseksual - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengungkapan diri kaum homoseksual - USD Repository"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

i

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh

NAMA :Annete Roma Ully Pardede

NIM :019114113

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

Dimana semua bisa terjadi asal kau membuatnya nyata

Terjunlah ke dalam airku jika kau tak merasa takut

Tanggalkan sepatu dan pejamkan mata, santailah di atas pasirku

Bergabunglah denganku dalam dunia impianku, raihlah tanganku

Biarkan aku membagi mimpiku denganmu sampai kau menemukan mimpimu

sendiri

Akan ku bawa kau ke sana kalau kau percaya, pinjamlah mimpiku ini

Di mana burung adalah kata-kata anggun melayang di angkasa

Tinggalkan kekawatiran, di sini peraturan tak pernah ada

Petiklah bungaku jika kau mau dan tanamlah dua butir benih

Warnailah angsa berbintik-bintik jika kau tak menyukai putih

Panjatlah pohonku, hadapilah ketakutanmu, hapuslah satu persatu

Pandanglah dunia dari atas dan jangan biarkan matahari membuatmu terpaku

Ketika dunia mulai hujan dan matahari tak terlihat

Biarkan mimpi mengendalikan pikiran dan membantumu melewati malam pekat

Ada tempat dalam mimpiku bagi semua yang mau menjelajah diri

Jadi, duduklah di atas awan dan anggap kau di rumah sendiri

-Danielle

Rosenblatt-Ujian atas keberanian tiba

ketika kita berada dalam kelompok minoritas . .

.

(5)

-v

di Surga. Terima kasih Bapa, telah memberiku kekuatan dalam setiap detik waktuku ...

Untuk Bapa dan Mama

yang mampu dengan sabar menungu dan menunggu datangnya hari ini ...

Terima kasih telah memberikan warisan kekal berupa akar dan sayap untuk hidupku ...

Love You Dad ... Love you Mom ...

Tuhan tidak bisa berada di semua tempat, dan oleh sebab itu Dia menciptakan seorang ibu

- pepatah

yahudi-Untuk kedua abangku ... yang tidak bosan-bosannya mengingatkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam hidup ini...

Adek kecilku Ntut yang selalu siap membantuku untuk apapun yang aku

butuhkan...

Navaz ku ...

(6)
(7)

vii

Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2009

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengungkapan diri pada kaum homoseksual.Pengungkapan diri adalah suatu proses pemberian informasi secara verbal dengan sadar atau disengaja kepada orang lain yang dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan mengenai kebutuhan pengalaman, perasaan, pendapat dan cita-citanya sehingga orang lain dapat memahaminya.

Subjek penelitian adalah orang – orang dengan orientasi homoseksual yang tinggal di Yogyakarta, berusia antara 19-32 tahun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan skala Pengungkapan Diri. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling dengan subjek keseluruhan sebanyak 42 orang dan menggunakan metode analisis data statistis deskriptif. Uji realibilitas dengan teknik Cronbach Alpha yang menghasilkan koefisien realibilitas sebesar 0,938.

Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa secara umun subjek dalam penelitian ini memiliki pengungkapan diri yang tinggi. Hal ini terlihat dari hasil mean empirik yang lebih besar dibandingkan mean teoritik (148,36 > 125). Semua topik dalam skala penelitian menghasilkan mean empirik yang tinggi (mean topik aktivitas seksual = 51,95; mean topik penyebab homoseksualitas = 50,81; mean topik orientasi seksual = 45,56).

Secara umum, uji beda (t) pada penelitian ini menunjukkan angka sebesar 7,175 yang berarti bahwa secara signifikan ada perbedaan antara mean empirik dan mean teoritik (p – 0,000 < 0,01). Secara khusus yaitu pada topik penyebab, uji beda (t) penelitian ini menunjukkan angka 7,061, pada topik orientasi menunjukkan angka 4,858, sedangkan pada topik perilaku menunjukkan angka 7,229.

(8)

viii

Faculty of Psychology

Sanata Dharma University Yogyakarta 2009

The research is aiming to assess self disclosure in the homosexual community. Self disclosure is a process when someone, consciously; deliberately and honestly, give verbal information to other people, about their needs, experiences, feeling, opinions, and goals, with the intention so that the other person understand and empathize.

The subjects in this research are people, in the age 19-32 years old, with sexual orientation homosexual relationship, and currently living in the Jogjakarta region. The research sample is 42 people, and was selected using the purposive sampling technique. The research used the self disclosure scale. The analysis technique used to assess self disclosure in the homosexual community data was the descriptive statistic technique. To test the reliability, this research used the Alpha Cronbach technique, and produced a reliability coefficient of 0,938.

In general, the t-test yielded 7.175, this showed significant difference between the theoritical mean and the empirical mean (p – 0,000 < 0,01). Spesifically on the cause topic, the t-test yielded 7.061, on the orientation topic, the t-test yielded 4.858, and the behaviour topic yielded 7.229.

(9)
(10)

x

kasih dan anugerah yang telah dilimpahkan sehingga penulis mampu menyelesaikan menyelesaikan skripsi yang berjudul“Pengungkapan Diri Kaum Homoseksual”ini dengan baik.

Banyak hal yang harus dilalui untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini hingga akhirnya siap untuk diujikan, banyak pihak yang telah membantu penulis dalam proses tersebut. Oleh sebab itu, untuk menghargai semua pihak, perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu A. Tanti Arini, S.Psi.,M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah

bekerja keras membimbing dengan penuh kesabaran, membantu melalui tahap demi tahap, memberi petujuk dan saran yang sangat berguna demi selesainya penelitian ini.

2. Bapak P Eddy Suhartanto selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dan juga selaku Dosen Pembimbing Akademik.

3. Ibu Silvya CYMM.,S.Psi.,M.si, selaku Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma yang selalu memberi semangat dan mengingatkan untuk terus berjuang menyelesaikan perkuliahan ini.

4. Ibu Siwi Handayani sebagai Dosen Pembimbing Akademik di awal kuliah yang telah memberikan nasehat yang selalu aku ingat sampai saat ini.

(11)

xi

7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Psikologi yang sudah banyak membimbingku. 8. Mas Gandung dan Bu Nanik selaku administrasif Fakultas Psikologi dan

khususnya Pak Gie yang selalu memberi senyum dan siap membantu.

9. Mas Muji yang mau menjadi operator pribadi-ku untuk mengetahui keberadaan Bu Tanti dan Mas Doni yang membantu pelaksaan ujian skripsiku. 10. Kepada sebuah komunitas yang ‘berbeda’. Kalian menunjukkan padaku satu sudut dimana dari situ aku bisa melihat sama untuk sesuatu hal yang ‘berbeda’. Thank’s for all . . .

11. Bapa dan mama yang selalu memberi aku kasih sayang yang berlimpah. Terima kasih atas cinta, perhatian, bimbingan, terlebih keringat yang selalu dicurahkan untukku. Aku bangga memiliki orang tua seperti Bapa dan Mama, terlebih untuk Mama yang selalu berusaha mengajari aku untuk menjadi seorang “wanita” yang sesungguhnya.

12. Kedua abangku, Bang Anto dan Bang Pei yang berada jauh dari ku. Akhirnya aku nyusul kalian berdua bang.. Anak Bapa dan Mama sudah jadi sarjana semua... HORE !!

13. Seseorang yang sering aku abaikan nasehat dan bimbingannya. Terima kasih untuk semangat, cinta dan kesabaranmu menghadapi keegoisan dan emosiku dan selalu berusaha bertahan untuk aku. Bersamamu aku menjadi sadar untuk menghargai waktu yang mungkin tidak akan kembali. N@vaz.. itulah kamu.. 14. Adek ku trutut.. Makasi tut, buat keajaiban-keajaiban dirumah. Aku sering

(12)

xii yang sering terabaikan ini.

16. Adek-adekku Wilton, Apin, Koko, Dingga, Ramot dan Muti yang masih panjang menempuh semuanya. Terlebih Wilton, jangan kaya kakak lama lulusnya ya!!

17. Tante Tika dan Uncle Leo yang selalu mendukung untuk menyelesaikan kuliah ini. Aku tunggu anvalen dari Belanda lo Tan hehehe..

18. Inang Biblevrow Risma Sinaga yang selalu mendukung aku lewat doa dan mengedit bahasaku yang tidak lazim ini he. . Makasi banyak inangku. Kak Susi ku yang mungil. Makasi untuk selalu ‘cerewet’ di dekatku. Makasi ya Kak. . .

19. My best Sista “Orry” yang selalu menemaniku bersama dalam menempuh perjalanan panjang ini. Terima kasih untuk semua waktu, belajar, senang-senang, penghiburan, dan nasehat darimu.

20. Seseorang yang sudah menemaniku saat jatuh ku di perkuliahan. Makasi buat dukungan dan cintamu waktu itu, tanpa kamu berat aku jalani semua.

21. Badax Ika. Makasi buat semua jutex mu terlebih buat masalah kuliahku. Jadi inget buat nyelesein kuliah hue..hue..

22. Keluarga kecilku. Mama ‘Oi’, Papa ‘Ijo’, Abang ‘Aco’. Hari-hari itu akan selalu terkenang dalam hidupku. Thx guys . . Keluarga kere tapi musisi lho . 23. My Halte. Orry ‘vokal’, Dimas ‘drumer’, Rikky ‘bass’, Wied ‘gitar’, dan Anry

Pak Guru ‘gitar’. Wah . . kita emang gila !!!

(13)

xiii

26. My vacum Fresh Mayones. Orry ‘vokal’ ( . . . again??? Cape nulis namamu terus), Adis ‘bass’, Emma ‘vokal’, Novi ‘gitar’. Makasi buanget yaaaaaa . . . 27. Cilss say . . . pertemuan yang ga disangka ya, untung ada kamu yang

menemaniku sebulan penuh. Istie . . my friend and partner. Ayo motox neh jreng . . . hehe. Nophie ‘bibi’ . . .walopun kuliah bareng cuma bentar, tapi mantaafff ancurnya . . .

28. Mas Antox ‘Nyong’ yang udah nyediain villa untuk tempat refreshingku hehe.. Mas Ari yang kadang-kadang muncul juga. Adi Belex yang selalu nanyain perkembangan skripsiku dengan dalih ‘ngabisin pulsa’ he . . .

29. Temen-temen KKN ku. Cecil, Sani, Vivi, Heru, Erni, Yuni, Lydia, Titus, dan Ida. Makasi mo hidup bersamaku sebulan penuh. Bersama kalian aku belajar mandiri.

30. Para jangjos ku tersayang, yang selalu menghibur aku disaat sedihku. Si cantik Lego, si caper roJali, Kepi, Cebol, the little Puppy dan yang selalu ada walopun dah ga ada Sweet Moki, Gere n Comu. Love u all.

31. Kura-kuraku Apel dan Sapu yang selalu setia menemaniku di kamar. Merpati-merpati nakalku, Lucky, Abu dan 2 bayi kecilmu, Garuda, Coklat, dan 4 ekor tanpa nama, makasi selalu ‘menandai’ motorku tiap pagi.

32. Komputerku si Abu. Walopun aneh, tapi tanpa kamu aku ga bisa nyelesein semuaaaa. Dan yang paling aku sayang Dora ku yang setia menemaniku kemana pun aku pergi. Maap selalu lupa mandiin kamu. . .

(14)

xiv

35. Semua pihak yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu yang sudah mendukungku selalu hingga selesainya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritikan yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan karya selanjutnya.

Akhirnya penulis berharap kiranya skripsi ini dapat memberikan kontribusi untuk semua pihak yang berkepentingan. Terima kasih.

Yogyakarta, 29 Juli 2009 Penulis

(15)

xv

Halaman Judul... ………..…..……… i

Halaman Persetujuan Pembimbing... ...…...………... ii

Halaman Pengesahan... ………... iii

Halaman Motto... ………... iv

Halaman Persembahan... …….……….……….... v

Pernyataan Keaslian Karya... vi

Abstrak...……….……… vii

Abstract...………... viii

Lembar Pernyataan Publikasi Karya ... ix

Kata Pengantar... ...………... x

Daftar Isi...……….………... xv

Daftar Tabel... ……….……… xix

Daftar Gambar... ………...……...…... xx

Daftar Lampiran...…….………...………... xxi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Perumusan Masalah ………... 5

C. Tujuan Penelitian ………... 6

(16)

xvi

2. Tujuan Pengungkapan Diri..…...…...………..… 10

3. Aspek Pengungkapan Diri………...…... 12

4. Karakteristik Pengungkapan Diri……...……….. 15

5. Manfaat Pengungkapan Diri………..……..……… 17

6. Hal Yang Dipertimbangkan Sebelum Pengungkapan Diri.... 23

B. Homoseksual……..……...………..….….. 24

1. Pengertian Homoseksual………....………. 24

2. Faktor-faktor Penyebab Homoseksual………. 26

3. Klasifikasi Homoseksual………. 28

1. Menurut Ilmu Psikiatri.……….. 28

2. Menurut Orang yang Terlibat…...……… 29

3. Menurut Kualitas Perilaku……….. 31

4. Menurut Peran yang Diambil……….. 32

5. Menurut Jenisnya……… 32

6. Menurut Kelompok yang Dijalani………. 33

7. Menurut Bentuk Perilakunya……… 35

4. Jenis-jenis Hubungan Homoseksual………. 37

1. Sukadana...………... 37

2. Bell dan Weinberg ...……… 37

(17)

xvii

C. Pengungkapan Diri Kaum Homoseksual...………..…... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ……….. 49

B. Identivikasi Variabel Penelitian ………49

C. Definisi Operasional ...……….. 50

D. Subjek Penelitian ………...………. 52

E. Metode Pengumpulan Data ……….. 52

F. Uji Validitas dan Reliabilitas ………..……… 55

1. Uji Validitas ………. 55

2. Seleksi Item...……….. 56

3. Uji Reliabilitas ………. 58

G. Metode Analisis Data...……….. 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian... 63

1. Orientasi Kancah ………. 63

2. Persiapan Penelitian...……….. 63

B. Pelaksanaan Penelitian………... 64

(18)

xviii

4. Deskripsi Kedudukan pada Topik Pengungkapan Diri... 69

D. Pembahasan ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 79

1. Bagi Kaum Homoseksual... 79

2. Bagi Peneliti Lain... 80

(19)

xix

Tabel 1. Nilai / Skor Berdasarkan Kategori Jawaban... 54

Tabel 2. Uji Coba Penyebaran Item Skala Pengungkapan Diri... 55

Tabel 3. Penyebaran Item Sahih Skala Pengungkapan Diri... 58

Tabel 4. Item Skala Pengungkapan Diri... 58

Tabel 5. Norma Kategori Jenjang... 61

Tabel 6. Norma Kategori Jenjang... 62

Tabel 7. Uji Normalitas... 65

Tabel 8. Deskripsi Data Penelitian... 66

Tabel 9. Uji t Mean Empirik dan Mean Teoritis... 67

Tabel 10. Kategori Skor Total Subjek... ... 68

Tabel 11. Data Jumlah Subjek Per Kategori...69

(20)

xx

(21)

xxi Tabulasi Uji Coba

Data Skor………...………...…. 88

Reability Analisis Scale Item Statistic……...………. 92

Item Total Statistic...……….. 94

Reability Statistic... 96

Tabulasi Penelitian Data Skor………...………...…. 98

Reability Analisis Scale Item Statistic……...………. 102

Item Total Statistic...……….. 103

Reability Statistic... 105

Scale Statistic...……... 107

Frequencies Total Statistic Total...………...………...…. 107

Total...………...………...…. 107

Descriptive Statistic………...………...…. 109

Frequencies Topik Penyebab Statistic Total...………...………...…. 109

(22)

xxii

Total...………...………...…. 111 Descriptive Statistic………...………...…. 112 Frequencies Topik Perilaku

Statistic Total...………...………...…. 113 Total...………...………...…. 113 Descriptive Statistic………...………...…. 114 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test..…………...…. 116 Descriptive Statistic...…………...…. 116 Uji-t

One Sample Test (Mean Topik)...…………...…. 117 One Sample Statistic...…………...…. 117 One Sample Test (Mean Total)...…………...…. 117 Uji-t Topik Penyebab

One Sample Test (Mean Topik)...…………...…. 118 One Sample Statistic...…………...…. 118 Uji-t Topik Orientasi

(23)

xxiii

(24)

1

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu mempunyai keinginan untuk berkumpul dalam suatu kelompok serta menjalin hubungan yang intim dengan sesamanya yang biasanya adalah lawan jenisnya (heteroseksual). Namun fakta menunjukkan bahwa banyak perilaku homoseksual yang terjadi di dunia ini.

(25)

Di Indonesia sendiri organisasi homoseksual berdiri pertama kali pada tahun 1969 dengan nama Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) yang difasilitasi oleh Ali Sadikin yang menjabat sebagai Gubenur DKI Jakarta pada masa itu. Langkah ini ditindaklanjuti oleh komunitas homoseksual di Indonesia dengan berdirinya Lambda Indonesia, organisasi homoseksual terbuka pertama, pada tahun 1982 dengan sekretariat di Solo. Segera terbentuk cabang-cabang di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan di berbagai tempat lain.

Tahun 1985 kaum homoseksual di Yogyakarta mendirikan Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) dan lima tahun kemudian PGY berubah menjadi"Indonesian Gay Society" yang merupakan induk organisasi gay dan lesbian Indonesia. Sampai dengan tahun 1985 hanya para homoseksual yang berani membuka diri, baru kemudian pada tahun 1987 Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN, kemudian berubah menjadi GAYa Nusantara (GN)) yang didirikan di Pasuruan Surabaya sebagai penerus Lambda Indonesia (“Perjalanan sejarah”, tanpa tahun).

(26)

oleh masyarakat, meskipun telah dikemukakan bermacam-macam alasan yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Baik orang sipil hingga pemuka agama umumnya memberikan tanggapan negatif dengan adanya komunitas ini.

Berbagai macam pertentangan terjadi apabila keberadaan kaum ini diangkat sebagai suatu topik pada pembahasan. Sebagai contohnya tulisan pada Harian Sinar Harapan edisi 23 Juni 2004, mengungkap bahwa mayoritas tim capres menganggap homoseksual sebagai sampah masyarakat. “Perilaku seksual menyimpang itu tidak akan dilegalkan,” kata seorang anggota tim SBY-JK. Hal ini ditegaskan dengan adanya surat yang dikeluarkan oleh Komnas HAM tertanggal 16 Desember 2003 yang meminta Kapolri untuk menertibkan jajarannya dalam menjalankan tugas sebagai pengayom seluruh warga masyarakat secara hukum termasuk komunitas homoseksual, lesbian dan transeksual (“Kaum homoseksual”, 2004).

(27)

sikap tersebut pada kenyataannya mendapat tanggapan yang cukup positif dari beberapa artis yang diwawancarai pada acara infotaiment tersebut. Pada kasus lain, di acara salah satu media elektronik/TV Good Morning Trans TV pada Senin tanggal 13 Juni 2005 pukul 08.30 WIB, seorang wanita yang bernama Agustin, mengakui dirinya mempunyai orientasi homoseksual. Dalam pengakuannya, ia menyatakan suka pada sesama jenis sejak usia dua belas tahun dan menceritakan perasaanya yang tertindas karena berbagai penolakan yang dia dapatkan selama ini, baik itu dari keluarga atau rekan kerja. Ia merasa jenuh berganti-ganti pekerjaan untuk menutupi keadaannya sehingga melalui acara tersebut berharap masyarakat mau menerima dan memahami keadaan kaumnya.

Pro-kontra di atas menjadi dilema bagi kaum homoseksual dalam pengungkapan diri akan statusnya. Selain sangsi yang diberikan masyarakat berkaitan dengan nilai dan norma, kaum homoseksual juga menyadari untuk memelihara image-nya demi harga diri pribadi dan keluarga. Namun sejalan dengan waktu kaum homoseksual mulai berani mengungkapkan keberadaan statusnya melalui berbagai cara, salah satu usaha yang dilakukan dengan melayangkan surat pernyataan sikap kepada Komnas HAM (“Kaum homoseksual”, 2004). Usaha ini dilakukan agar kejujuran mengenai keberadaan diri mereka tersebut pada akhirnya membuat mereka merasa nyaman dalam bersosialisasi di masyarakat.

(28)

terbuka, adaptif dan inteligen dimana hal tersebut merupakan ciri-ciri orang dewasa yang bahagia. Melalui pendapat di atas, penulis berpandangan bahwa pengungkapan diri sangat bermanfaat bagi kaum homoseksual, seperti yang dikatakan oleh para ahli psikologi yang juga menyakini bahwa berbagi informasi dengan orang lain dapat meningkatkan kesehatan jiwa, mencegah penyakit dan mengurangi masalah-masalah psikologis yang menyangkut hubungan interpersonal (Johanes, 2002).

Melihat berbagai fenomena di atas, peneliti tertarik untuk melihat seberapa besar pengungkapan diri (self disclosure) komunitas homoseksual terhadap keberadaan status mereka yang masih dianggap sebagai suatu penyimpangan di lingkungannya. Penelitian secara khusus dilakukan di Yogyakarta yaitu kota kecil yang penduduknya terdiri dari berbagai macam suku sehingga penulis berasumsi bahwa Yogyakarta adalah kota yang cukup terbuka. Maka peneliti berpendapat bahwa penelitian ini cukup efetif dilakukan di kota Yogyakarta karena dengan adanya berbagai macam suku yang ada maka keterbukaan diri dapat dipengaruhi dari berbagai macam sudut pandang masyarakat yang cukup bervariasi.

B. Perumusan Masalah

Masalah yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah:

(29)

C. Tujuan penelitian

Memperoleh gambaran seberapa besar pengungkapan diri kaum homoseksual terkait dengan status mereka sebagai homoseksual.

D. Manfaat penelitian

1. Secara Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan pengetahuan dalam bidang ilmu psikologi, khususnya bidang psikologi sosial mengenai pengungkapan diri kaum homoseksual.

2. Secara Praktis

a. Bagi masyarakat

Memberikan sumbangan informasi psikologis tentang masalah pengungkapan diri pada homoseksual.

b. Bagi kaum homoseksual

(30)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengungkapan Diri (Self Disclosure) 1. Pengertian Pengungkapan Diri

Suatu hubungan dimulai dengan dua atau lebih individu yang di awali dengan perkenalan. Untuk menetapkan suatu hubungan, individu harus menyingkapkan diri mereka satu sama lain. Jonson mengatakan tanpa penyingkapan diri, individu tidak bisa membentuk suatu hubungan pribadi dengan orang lain. Suatu hubungan tumbuh dan dikembangkan saat individu tersebut membuka diri mereka satu sama lain (Johnson,1981).

Johnson (dalam Supratiknya, 1995) juga mengatakan bahwa tanggapan yang diberikan seseorang yang lebih melibatkan perasaan menurutnya itulah yang dinamakan pengungkapan diri atau self disclosure, karena dalam berkomunikasi dengan orang lain, seseorang memang kadang mengungkapkan reaksi dan tanggapannya terhadap situasi yang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau yang berguna untuk memahami tanggapan tersebut. Johnson memberi tambahan, bahwa mengungkapkan diri berarti membagi pada orang lain perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan.

Pengungkapan diri atau“self disclosure” dapat diartikan sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain. Informasi

(31)

yang diberikan tersebut dapat mencakup berbagai hal seperti pengalaman hidup, perasaan, emosi, pendapat, cita-cita, dan lain sebagainya (Johanes, 2002). Pengungkapan diri haruslah dilandasi dengan kejujuran dan keterbukaan dalam memberikan informasi. Dengan kata lain apa yang disampaikan kepada orang lain hendaklah bukan merupakan suatu topeng pribadi atau kebohongan belaka sehingga hanya menampilkan sisi yang baik saja.

Lain dengan yang dikatakan oleh Jourald (dalam Raharjo, 1991), pengungkapan diri adalah suatu tindakan yang membuat dirinya diketahui serta memperlihatkan diri sehingga orang lain dapat memahaminya. Serupa dengan yang dikatakan Carsini (dalam Worchel & Cooper, 1983) yaitu pengungkapan diri merupakan suatu proses di mana seseorang dengan sengaja dan sukarela mengungkapkan informasi pribadi yang asli, penting dan pribadi kepada orang lain.

Dalam makalahnya yang diberi judul Self-Disclosure Edward (2003) menguraikan pengungkapan diri adalah suatu langkah menuju integrasi yang lebih besar dalam kehidupan kita. Pengungkapan diri merupakan suatu ujian atas kekuatan dan suatu sikap paranoid kita terhadap penolakan pribadi. Hal inilah yang mengarahkan individu kepada hubungan yang lebih berbobot, lebih jujur, serta memuaskan dengan orang-orang di sekelilingnya.

(32)

dimaksud dengan pengungkapan diri tersebut adalah suatu proses pengungkapan informasi yang bersifat sadar atau disengaja agar orang lain mengetahuinya (Adler & Neil, 1990).

Chelune dan Cozby (dalam Ormazu, 2000) memberikan definisi yang sederhana tentang pengungkapan diri, yaitu sebagai suatu pengkomunikasian secara verbal informasi pribadi kita pada orang lain. Mereka menambahkan bahwa sangat penting untuk membatasi definisi ini pada pengkomunikasian secara verbal karena dengan pembatasan pengkomunikasian secara verbal membolehkan kita memfokuskan perhatian penuh pada jarak yang luas dari perilaku yang mungkin terjadi setelah kita membuka diri. Ini berarti bahwa pengungkapan diri secara verbal tidak dibatasi pada komunikasi oral saja tetapi juga meliputi pengungkapan secara tertulis.

Pengungkapan diri menjadi bagian penting dan mendasar dari interaksi kita dengan orang lain, maka itu Crider, Goethals, Kavanaugh, and Salomon (1983) mendefinisikan pengungkapan diri sebagai suatu komunikasi yang dilakukan seseorang yang melukiskan tentang dirinya sendiri mengenai kebutuhan, pikiran, perasaan, perilaku dan tentang pengalaman-pengalaman pribadinya.

(33)

perasaannya. Mengungkapkan diri secara jujur memang memerlukan keberanian yang luar biasa.

Dari semua pengertian tentang pengungkapan diri di atas maka penulis menyimpulkan, bahwa pengungkapan diri adalah suatu proses pemberian informasi secara verbal dengan sadar atau disengaja kepada orang lain yang dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan mengenai kebutuhan pengalaman, perasaan, pendapat dan cita-citanya sehingga orang lain dapat memahaminya.

2. Tujuan Pengungkapan Diri

Pengungkapan diri kepada orang lain cenderung memiliki dampak yang positif bagi orang yang melakukannya, walaupun terkadang tidak mudah dilakukan, karena memiliki risiko yang cukup berpengaruh bagi individu yang bersangkutan.

Menurut Adler dan Neil (1990), alasan orang mengungkapkan diri tergantung dari beberapa faktor. Menurut mereka pengaruh yang paling kuat adalah membuat sejauh mana orang itu mengenal orang lain. Ketika target pengungkapan adalah teman, alasan pengungkapan dirinya adalah pemeliharaan dan peningkatan hubungan. Faktor kedua adalah penjelasan diri. Hal ini dilakukan untuk mengerti diri secara lebih baik lagi.

(34)

a. Katarsis, yaitu sebagai sarana untuk mencurahkan persoalan dan melegakan hati.

b. Penjelasan diri, yaitu menjelaskan apa yang menjadi kepercayaan, opini, pikiran, sikap serta perasaan pada orang lain.

c. Kebenaran diri, dimana dengan membuka diri seseorang meminta persetujuan dari orang lain tentang tingkah lakunya dan segala hal tentang dirinya.

d. Hal timbal balik, dimana dengan membuka diri maka diharapkan orang lain juga membuka diri.

e. Pembentukan kesan, yaitu seseorang hanya membuka hal-hal yang baik dari diri mereka untuk membentuk kesan yang baik dari orang lain.

f. Pemeliharaan dan peningkatan hubungan. Pengungkapan diri akan meningkatkan kontrol diri seseorang melalui orang lain.

(35)

kehidupannya dari mereka yang ia percayai meski perasaan takut akan risiko dari pengungkapan diri masih membayangi mereka.

Dari semua keterangan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa tujuan yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pengungkapan diri. Dengan adanya rasa suka dan percaya maka seseorang akan lebih mudah dalam mengungkapkan dirinya kepada orang lain. Selain itu pengungkapan diri adalah cara orang untuk mencurahkan perasaan dan pikiran sehingga dengan mengeluarkannya kemungkinan akan melegakan hati. Selain itu pengungkapan diri juga dipakai untuk pemeliharaan dan peningkatan hubungan antara satu individu dengan individu yang lain.

3. Aspek Pengungkapan Diri

Ada tiga aspek pembukaan diri menurut Ormazu (2000), yaitu: a. Keluasan

Seberapa banyak/besar topik yang akan diungkapkan oleh individu kepada orang lain. Ini adalah tanda seberapa besar tingkat pengungkapan diri individu kepada orang lain.

b. Lamanya Pembukaan Diri

(36)

c. Kedalaman

Menjelaskan tingkat keintiman dari pengungkapan diri. Kedalaman dalam pengungkapan diri menunjukkan bahwa orang yang membuka diri akan memberikan informasi pribadi yang sangat pribadi sekalipun.

Menurut Johnson (dalam Supratiknya,1995) pengungkapan diri mempunyai dua sisi yaitu bersikap terbuka kepada orang lain, dan bersikap terbuka bagi orang lain. Apabila kedua proses ini terjadi pada kedua belah pihak secara serentak maka akan terjalin suatu relasi yang terbuka.

Johanes (2000) menambahkan bahwa dalam pengungkapan diri haruslah ada kejujuran dan keterbukaan. Informasi yang diberikan atau disampaikan kepada orang lain hendaklah bukan merupakan suatu topeng pribadi atau kebohongan belaka yang hanya menampakkan sisi yang baik saja.

(37)

Ada tiga aspek yang dimiliki, yaitu : a. Aspek Kedalaman

Dilihat dari kedalamannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam pengungkapan diri seseorang, yaitu :

1. Memberikan informasi kehidupan secara dangkal saja, dan

2. Memberikan informasi mengenai kehidupannya secara mendalam. Sebagai contoh mengenai harapan, emosi, aspirasi, keinginan dan cita-cita (dalam Thibaut., Spence., & Carson, 1976).

b. Aspek Tipe

Dilihat dari tipe pengungkapan diri dapat diklasifikasikan pada dua tipe dasar pengungkapan diri, yaitu :

1. Deskiptif, yaitu berhubungan dengan pengungkapan mengenai informasi berdasar fakta yang sesungguhnya mengenai dirinya. Contohnya mengenai kecelakaan motor yang pernah dialami. 2. Evaluatif, yaitu berhubungan dengan pengungkapan mengenai

perasaan pribadi atau penilaian dirinya. Contohnya adalah ekspresi cinta, marah, gembira atau malu.

c. Aspek Waktu

Klasifikasikan pengungkapan diri berdasarkan refrensi waktu, yaitu : 1. Perasaan dan perilaku di waktu lampau

(38)

Dari penjelasan di atas penulis menarik kesimpulan bahwa aspek-aspek orang dalam melakukan proses pengungkapan diri terdiri dari lima aspek, yaitu : keluasan informasi yang diungkap, kedalaman informasi yang diungkap, lamanya pengungkapan diri, keterbukaan dan kejujuran.

4. Karakteristik Pengungkapan Diri

Saat berkomunikasi orang pasti melakukan pengungkapan diri walaupun dengan tingkatan yang berbeda beda (dalam Nurcahyanto, 1999). Beberapa karakteristik pengungkapan diri menunjukkan tempat pembukaan diri tersebut dalam hubungan interpersonal. Ada beberapa karakteristik pengungkapan diri menurut Adler dan Neil (dalam Nurcahyanto, 1999), yaitu:

a. Pengungkapan diri selalu mengandung risiko

(39)

b. Pengungkapan diri terjadi secara bertahap

Kesempatan pengungkapan diri terjadi ketika rekan memulai hubungan mereka dengan mengatakan sesuatu tentang diri mereka pada orang lain, namun walau begitu ini jarang terjadi. Seseorang memulai hubungan dengan mengungkapkan sedikit tentang diri mereka, lalu ketika feedback atau timbal balik dari pengungkapan diri tersebut diterima dengan baik dan orang lain juga mengungkapkan diri mereka, seseorang akan mengungkapkan lebih banyak. Prinsip ini penting untuk diingat. Selalu terjadi kekeliruan untuk menduga bahwa cara untuk membangun hubungan yang kuat harus selalu mengungkapkan secara detail mengenai diri seseorang, tapi pengungkapan diri dimulai dengan membuka sedikit demi sedikit dan akhirnya mengungkapkan secara detail mengenai diri kita.

c. Sedikit transaksi secara relatif akan melibatkan level yang tinggi dari pengungkapan diri

(40)

d. Pengungkapan diri selalu terjadi dalam kontak hubungan yang positif Prinsip ini memberi kesan bahwa seseorang secara umum akan lebih mengungkapkan informasi tentang dirinya ketika ia merasa diterima oleh orang lain. Ini tidak berarti bahwa seseorang harus menghindari membuat pernyataan terbuka yang berisi pesan negatif atau membuka hal-hal yang bersifat negatif (seperti perasaan tidak nyaman tentang apa yang telah terjadi).

Dari keterangan di atas maka dapat disimpulkan tentang karakteristik pengungkapan diri. Hal yang utama adalah bahwa pengungkapan diri adalah, hal yang mengandung risiko sehingga seorang individu harus berhati-hati dalam melakukan pengungkapan diri, yaitu kepada siapa pengungkapan diri dilakukan. Selanjutnya apabila kesempatan untuk mengungkapkan diri telah ada maka seorang individu harus mampu mengukur seberapa besar dia akan mengungkapkan dirinya. Cara produktif dalam pengungkapan diri adalah dengan cara setahap demi setahap. Dalam hubungan yang positif, pengungkapan diri akan menimbulkan timbal balik dari lawan bicara sehingga individu yang melakukan pengungkapan diri pun akan merasa diterima oleh orang lain.

5. Manfaat Pengungkapan Diri

(41)

mengembangkan kemampuan komunikasi, pengungkapan diri dapat memutuskan beberapa konflik serta dapat memperdalam hubungan.

Johnson (dalam Supratiknya, 1995) mengatakan bahwa manfaat dan dampak pengungkapan diri dalam suatu hubungan yaitu, pertama, pengungkapan diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat antara dua orang. Kedua, semakin seseorang terbuka kepada orang lain, semakin orang lain tersebut akan menyukai diri kita. Ketiga, mengungkapkan diri kepada orang lain merupakan dasar yang memungkinkan komunikasi intim baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain.

Johnson (dalam Supratiknya, 1995) menambahkan bahwa dengan melakukan pengungkapan diri kepada orang lain terbukti akan membuat seseorang cenderung bersifat kompeten, terbuka, adaptif dan inteligen, yang kesemuanya ini merupakan ciri-ciri orang yang dewasa dan bahagia. Seperti yang dikatakan oleh para ahli psikologi yang juga menyakini bahwa berbagi informasi dengan orang lain dapat meningkatkan kesehatan jiwa, mencegah penyakit dan mengurangi masalah-masalah psikologis yang menyangkut hubungan interpersonal (Johanes, 2002).

(42)

a. Meningkatkan kesadaran diri( self-awareness).

Dalam proses pemberian informasi kepada orang lain, anda akan lebih jelas dalam menilai kebutuhan, perasaan, dan hal psikologis dalam diri anda. Selain itu, orang lain akan membantu anda dalam memahami diri anda sendiri, melalui berbagai masukan yang diberikan, terutama jika hal itu dilakukan dengan penuh empati dan jujur.

b. Membangun hubungan yang lebih dekat dan mendalam, saling membantu dan lebih berarti bagi kedua belah pihak.

Keterbukaan merupakan suatu hubungan timbal balik, semakin anda terbuka pada orang lain maka orang lain akan berbuat hal yang sama. Dari keterbukaan tersebut maka akan timbul kepercayaan dari kedua pihak sehingga akhirnya akan terjalin hubungan persahabatan yang sejati.

c. Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi.

Ini memungkinkan seseorang untuk menginformasikan suatu hal kepada orang lain secara jelas dan lengkap tentang bagaimana ia memandang suatu situasi, bagaimana perasaannya tentang hal tersebut, apa yang terjadi, dan apa yang diharapkan.

d. Mengurangi rasa malu dan meningkatkan penerimaan diri (self acceptance).

(43)

e. Memecahkan berbagai konflik dan masalah interpersonal.

Jika orang lain mengetahui kebutuhan anda, ketakutan, rasa frustrasi anda, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk bersimpati atau memberikan bantuan sehingga sesuai dengan apa yang anda harapkan.

f. Memperoleh energi tambahan dan menjadi lebih spontan.

Untuk menyimpan suatu rahasia dibutuhkan energi yang besar dan dalam kondisi demikian seseorang akan lebih cepat marah, tegang, pendiam dan tidak riang. Dengan berbagi informasi hal-hal tersebut akan hilang atau berkurang dengan sendirinya.

Ada juga manfaat pengungkapan diri yang dikemukakan oleh Zener (1981), yaitu :

a. Lebih memahami diri sendiri

Keika ia mengungkapkan diri, saat itu sebenarnya ia juga berbicara pada diri sendiri mengenai perasaan, pikiran, nilai dan keyakinan. Sehingga akan meningkatkan kesadaran, tanggung jawab dan kontrol terhadap pengalaman pribadi.

b. Lebih menyukai diri sendiri

(44)

c. Lebih mengerti orang lain

Dengan mengungkapkan diri, menyebabkan orang lain memperoleh pengalaman yang lebih akurat mengenai orang tersebut. Ketidak-pastian dan salah pengertian akan diganti dengan pemahaman yang baru mengenai siapa sesungguhnya orang itu.

d. Mendorong orang lain untuk mengungkapkan diri

Kejujuran akan menciptakan suasana nyaman untuk saling terbuka. Rasa asing dan curiga akan diganti dengan rasa akrab dan saling percaya.

Sedangkan Jourald (dalam Raharjo,1991) mengungkapkan bahwa manfaat pengungkapan diri adalah sebagai berikut :

a. Mereka belajar mengenai hal-hal di mana mereka sama, dimana mereka berada atau sama dengan yang lain. misalnya tentang pikiran, perasaan, harapan, reaksi dan sebagainya.

b. Mereka belajar dari kebutuhan orang lain untuk mengerjakan kebutuhan sendiri dan memastikan bahwa kebutuhan sendiri tidak semua akan terpenuhi.

c. Mereka dapat belajar bahwa dalam hal apa saja seseorang dapat menyimpang dari standar moral dan etis.

(45)

a. Ekspresi

Untuk mengekspresikan perasaan indivdu, pengungkapan ini sangat penting untuk melaporkan emosi-emosi yang terpendam seperti pada situasi-situasi sedih atau gembira.

b. Penjernihan diri

Dengan membagi pendapat, perasaan dan masalah kepada orang lain seseorang akan dapat memahami dan menyadari dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena ketika seseorang berbicara kepada orang lain ia akan berusaha menyatukan ide-idenya dan bercerita dengan runtut agar dapat dipahami orang lain keruntutannya dalam berpikir. Ini menyebabkan seseorang dapat berfikir lebih jernih dan memahami duduk persoalan.

c. Pengesahan sosial

Orang lain dapat membantu seseorang untuk menentukan sikap, perilaku, perasaan dan nilai yang tepat dan benar. Dengan mengamati bagaimana reaksi pendengar, saat seeorang mengungkapkan dirinya, ia mendapatkan informasi tentang ketepatan pandangannya. Setelah selesai mendengarkan biasanya pendengar akan memberikan tanggapan bahwa reaksi seseorang terhadap sesuatu itu wajar atau telalu berlebihan.

d. Mengembangkan hubungan

(46)

intim. Oleh karena itu, saling membagi informasi merupakan saran penting dalam usaha merintis sesuatu.

e. Kontrol sosial

Menggunakan informasi tentang diri (sifat, kepercayaan, nilai) sebagai kontrol sosial. Orang dapat menggunakan informasi mengenai dirinya termasuk keinginannya, kepercayaannya dan nilai-nilai untuk meningkatkan pengaruhnya kepada orang lain dan melakukan kontrol pada pendapat dan perilaku orang lain.

Dari semua penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengungkapan diri sangat membantu seseorang untuk mengerti tentang diri pribadinya sehingga meningkatkan rasa penerimaan diri, yang sangat membantu seseorang dalam menjalin hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitarnya.

6. Hal-hal Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Pengungkapan Diri

(47)

dimengerti oleh individu sebelum mengungkapkan dirinya sebagai mana yang di katakan Johnson (1981) yaitu :

a. Pengungkapan diri bukan suatu tindakan yang sewaktu-waktu atau dengan sembarangan dapat dilakukan tetapi lebih pada bagian suatu hubungan.

b. Pengungkapan diri adalah suatu tindakan yang perlu ditanggapi. c. Pengungkapan diri berhubungan dengan apa yang sedang

berlangsung di antara orang yang sedang berinteraksi.

d. Pengungkapan diri memberikan kesempatan untuk meningkatkan suatu hubungan.

e. Pengungkapan diri merupakan tanggung jawab yang diambil dari akibat yang dibuat oleh orang lain.

f. Pengungkapan diri mempercepat penyelesaian masalah saat ada permasalahan yang berkembang dalam suatu hubungan.

g. Pengungkapan diri adalah suatu tindakan yang secara bertahap dapat meningkatkan hubungan yang lebih dalam.

B. Homoseksual

1. Pengertian Homoseksual

(48)

dalam hubungan seksual. Berpedoman pada pengertian kata homo tersebut, maka baik pria maupun wanita yang terlibat dalam hubungan sejenis dapat dikatakan homoseks (Hawkins, dalam Thadeus, 2003).

Menurut Supratiknya (1995) sendiri homoseksual adalah perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan sejenis. Pada prakteknya sulit membedakan antara kelompok heteroseksual dengan kaum homoseksual, sebab di tengah-tengahnya terdapat kelompok orang yang memiliki kecenderungan gabungan yakni antara unsur homoseksual dan heteroseksual. Kecenderungan perilaku seksual seperti ini disebut biseksual.

Heerdjan (1987) mengatakan bahwa homoseksual adalah keadaan tertarik perasaan (kasih sayang dan hubungan emosional) maupun erotisnya hanya pada orang-orang yang berjenis kelamin sama. Hal ini dapat disertai hubungan fisik ataupun tidak.

(49)

hormonalnya normal. Bisa juga karena individu yang bersangkutan mengalami perkembangan psikis yang kurang wajar.

Dari berbagai definisi di atas maka penulis menyimpulkan bahwa homoseksualitas adalah perilaku seseorang yang mempunyai orientasi seksual terhadap sesama jenis yang terjadi karena pengaruh internal ataupun eksternal individu yang bersangkutan baik disertai hubungan fisik ataupun tidak.

2. Faktor-faktor Penyebab Homoseksual

Banyak para ahli maupun orang-orang yang terlibat dalam fenomena homoseksual melakukan perdebatan mengenai penyebab terjadinya homoseksual. Beberapa ahli mempercayai, homoseksualitas baik pada wanita laki-laki (gay) maupun pada wanita (lesbianisme) yang sifatnya kronis akan sangat susah untuk penyembuhannya. Hal ini disebabkan homoseksualitas ini banyak distimulir oleh faktor eksogin atau faktor lingkungan yang akan selalu mengikat kaum homo tersebut (Heerjan,1987).

Kartini Kartono (1989) menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku homoseksual, antara lain :

a. Faktor herediter, berupa ketidak seimbangan hormon-hormon seks. b. Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak menguntungkan bagi

(50)

lingkungan yang mayoritas pelaku homoseksual dapat terpengaruh dan akhirnya ikut melakukan kegiatan tersebut.

c. Seorang selalu mencari kepuasan relasi homoseks, karena ia pernah menghayati pengalaman homoseksual yang menggairahkan pada masa remaja.

d. Seorang laki-laki yang pernah mengalami pengalaman traumatis pada ibunya, sehingga timbul kebencian/antipati terhadap ibunya dan semua wanita. Lalu muncul dorongan homoseks yang menetap.

e. Penjara, asrama ataupu sekolah putra, tempat para remaja putra berkumpul dan jauh dari kaum wanita. Ini juga dapat membuat peristiwa homoseksual.

f. Relasi heteroseks (seks dengan lain jenis kelamin) yang tidak memuaskan dan meninggalkan bekas-bekas pengalaman yang traumatis, banyak mendorong seseorang mencari pengalaman homoseks.

Ada juga yang dikatakan oleh Pangkahila (1999) yang menyebutkan faktor-faktor penyebab homoseksual adalah sebagai berikut: a. Faktor biologis, yang meyakini adanya kelainan dalam otak atau

genetik-genetik.

(51)

c. Faktor sosial kultural, yang meyakini adat istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar.

d. Faktor lingkungan yaitu keadaan lingkungan yang mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Dari berbagai penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa ada dua faktor besar penyebab homoseksual. Yang pertama adalah faktor internal, yaitu kelainan genetika yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon-hormon seksual. Yang kedua adalah faktor eksternal, yaitu faktor dari luar individu yang membentuk individu untuk berperilaku homoseksual, seperti lingkungan yang kurang baik, pengalaman-pengalaman traumatis, dan juga kultur sosial budaya yang membenarkan perilaku homoseksual tersebut.

3. Klasifikasi homoseksual

Ada berbagai macam klasifikasi homoseksual dari berbagai tokoh dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu :

1. Berdasarkan Ilmu Psikiatri, homoseksual ada dua macam yaitu (Heerjan, 1989) :

a. Homoseksualego-sintonik

(52)

mengalami konflik antara keinginan untuk melakukan relasi homoseksual dengan perasaan berdosa, cemas dan malu. Individu tersebut juga mengalami kesulitan mengubah diri, dan karena itu ia menderita tekanan batin dan sengsara. Karenanya, homoseksual ego-sintonikdianggap sebagai gangguan psikoseksual.

b. Homoseksualego-distonik

Adalah homoseksual yang menyadari tentang kondisi mereka. Mereka tidak merasa terganggu dengan homoseksualitasnya, sehingga tidak ingin mengubah orientasi seksualnya. Individu tersebut tidak cemas atau mengalami gangguan psikis lainnya dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan serta merasa tidak perlu mendapat bantuan. Perilaku homoseksual tersebut dapat diterima tanpa penderitaan. Biasanya mereka hidup secara eksklusif dalam dunia homoseksual, meskipun dengan prosentase kecil.

2. Berdasarkan Orang-orang yang Terlibat, kaum homoseksual biasanya menjalin “relasi” dengan orang yang juga mempunyai penyimpangan identitas seksual, seperti:

a. Biseksual

(53)

laki-laki maupun perempuan. Mereka biasanya adalah orang-orang yang bisa menyembunyikan sifat-sifat homoseksualitasnya.

Menurut Kartini Kartono (1989), pada usia pubertas memang ada muncul prediposisi (pembawaan kecenderungan) biseksual, yakni mencintai kawan sejenis sekaligus lawan jenis. Pada proses perkembangan anak remaja yang normal, biseksualitas remaja akan berkembang menjadi heteroseksual. Sebaliknya jika prosesnya abnormal, disebabkan oleh faktor-faktor eksogin atau endogen tertentu, maka biseksual itu berkembang menjadi homoseksual dan objek erotiknya adalah benar-benar sejenisnya, sedangkan perbedaan antara homoseksual dengan biseksual adalah seorang dikatakan biseksual jika individu tersebut dapat terangsang birahi untuk melakukan hubungan seksual tidak hanya melihat atau berfantasi tentang lawan jenisnya tetapi juga dengan yang sejenis sedangkan homoseksual hanya dengan sesama jenis. b. Transeksual

Transeksual adalah mereka baik itu laki-laki atau perempuan dengan bentuk tubuh dan alat kelamin yang sempurna, akan tetapi ia ingin memotong atau mengganti alat kelaminnya dengan yang sesuai dengan jiwanya.

c. Hermaprodit

(54)

a) Pseudohermaprodite ialah baik laki-laki atau perempuan dengan memiliki alat kelamin yang tidak berkembang dengan sempurna/wajar.

b) Hermaprodite Compexusialah seseorang yang mempunyai dua alat kelamin sekaligus, yaitu penis atau vulva serta mempunyai dua macam kelenjar (testis dan ovarium).

3. Berdasarkan Perilakunya, Tripp (dalam Devi, 2003) mengklasifikasikan homoseksual berdasarkan kualitas perilakunya menjadi 2 macam, yaitu :

a. Homoseksual Eksklusif

Yaitu ketertarikan erotis seseorang hanya pada sesama jenis. Daya tarik lawan jenis tidak dapat memunculkan minat seksual orang tersebut. Mereka biasanya baik secara terbuka maupun tertutup mengakui identitas seksual mereka adalah homoseksual.

b. Homoseksual Fakultatif

(55)

c. Biseksual

Yaitu orang yang dapat memperolah kepuasan erotis baik sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Identitas seksual yang diakui biasanya antara biseksual dengan heteroseksual.

4. Berdasarkan Peran yang Diambil, Rado (dalam Devi, 2003) mengemukakan bahwa homoseksual dapat dibagi menjadi 2 (dua) tipe berdasarkan peran yang diambil, yaitu :

a. Homoseksual Laki-laki Aktif

Peran seks yang diambil oleh seorang homoseks masih sesuai dengan peran konvensional laki-laki. Devisiasinya hanya karena objeknya yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.

b. Homoseksual Laki-laki Pasif

Peran seks yang dipegang seorang homoseks bertentangan dengan jenis kelamin pelakunya. Jadi perannya adalah sebagai wanita dengan objek seksual laki-laki.

5. Berdasarkan Jenisnya, McConnel (1992) membagi homoseksual menjadi beberapa jenis, yaitu :

a. Pseudohomoseksual

(56)

b. Biseksual

Kekuatan homoseksual dan heteroseksual seimbang, di sini individu berada diantara dua dunia tetapi tidak sepenuhnya masuk dalam salah satunya.

c. Pelacuran

Para homoseksual yang memilih perilaku homoseksual karena mereka bisa mendapatkan uang dengan melakukan kegiatan tersebut.

d. Homoseksual murni

Orang-orang yang memang jiwanya homoseksual, mimpi mereka disertai mimpi basah sekalipun dalam bentuk homoseksual.

6. Berdasarkan Kelompok yang Dijalani, Coleman, Butcher dan Carson (1988) membagi homoseksual dalam beberapa kelompok-kelompok yang dijalani, yaitu:

a. Homoseksual tulen

(57)

b. Homoseksual malu-malu

Yaitu kaum laki-laki yang lebih senang mendatangi tempat-tempat umum, seperti toilet umum atau steambath (tempat mandi uap). Kelihatannya seperti untuk memenuhi dorongan ransangan dari pembelajaran homoseksual, namun tidak berani mengadakan hubungan pribadi untuk melakukan perilaku homoseksualitasnya. Selain itu mereka mengadakan komunikasi yang dilakukan secara berbisik-bisik dengan menutupi identitasnya.

c. Homoseksual tersembunyi

(58)

d. Homoseksual situasional

Merupakan kegiatan homoseksual individu akibat situasi yang dapat mendorong orang mempratikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam (dalam Supratiknya, 1995), seperti di penjara, medan perang, atau tempat-tempat isolasi. Akibatnya, setelah mereka lepas dari situasi tersebut, biasanya mereka akan kembali menjadi heteroseksual.

e. Biseksual

Yaitu individu yang dapat mengadakan hubungan homoseksual dan heteroseksual sekaligus selama periode kehidupannya. Individu yang termasuk kategori ini adalah desperate homosexuals, walaupun individu tersebut telah menikah.

f. Homoseksual mapan

Golongan ini dapat menerima keadaan dirinya, dapat memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertanggung jawab, memenuhi aturan sosial, dan membentuk dan mengikat diri dengan komunitas homoseksual setempat.

7. Berdasarkan Bentuk Perilakunya, Oetomo (2001) mengemukakan bahwa kegiatan homoseksual dibagi menjadi dua bentuk perilaku, yaitu :

a. Perilaku homoseksual

(59)

ketertarikan seseorang pada erotositas, sensualitas dan daya tarik individu lain yang berjenis kelamin sama.

b. Perbuatan homoseksual

Konsepsi seksual yang berkaitan dalam pengertian homoseksual sebagai perilaku seks sebagai perilaku rekreasi (bertujuan mencari kesenangan) dan sebagai relasi (bertujuan untuk pengungkapan rasa sayang dan cinta).

Secara ringkasnya, terdapat beberapa klasifikasi pada kaum homoseksual. Pada penerimaan dirinya ada yang disebut homoseksual ego-distonik, dimana individu tersebut tidak dapat menerima bahwa

homoseks adalah bagian dari kepribadiannya. Kemudian ada homoseksual ego-distonik, dimana individunya sangat menyadari kondisinya sebagai

(60)

fakulatif dan biseksual. Selain itu ada juga homoseksual laki-laki aktif dan homoseksual laki-laki pasif. Hal ini dibedakan dalam perilaku homoseksual dan perbuatan homoseksual. Yang terakhir adalah klasifikasi berdasarkan jenisnya yaitu pseudohomosexual, biseksual, pelacuran dan homoseksual murni.

4. Jenis-jenis Hubungan Homoseksual

Ada beberapa jenis hubungan homoseksual yang dikemukakan oleh beberapa tokoh, yaitu :

1. Sukadana (2001)

Mengemukakan jenis hubungan yang dilakukan oleh para pelaku homoseksual, antara lain :

a. Hubungan non genital (tidak melibatkan alat kelamin)

Seperti mengagumi orang sesama jenis, merasa dekat dengan orang sesama jenis, menggandeng tangan, memeluk, mencium atau membelai bagian-bagian tubuh yang bukan alat kelamin.

b. Hubungan genital (melibatkan alat kelamin)

Hubungan tanpa kontak langsung seperti masturbasi dual. Selain itu hubungan dengan kontak langsung, seperti masturbasi mutual, koitus interfemoral (sela paha), dan koitus oral atau anal.

2. Bell dan Weinberg (dalam Devi, 2003)

(61)

a. Pasangan tertutup

Merupakan sebuah relasi antara dua orang homoseksual yang terikat oleh sebuah komitmen seperti halnya sebuah perkawinan dalam dunia heteroseksual.

b. Pasangan terbuka

Merupakan suatu bentuk hubungan antara dua orang homoseksual yang terikat oleh sebuah komitmen tetapi memungkinkan terjadinya hubungan lain di luar komitmen tersebut, misalnya kecemburuan.

c. Fungsional

Adalah seorang homoseksual yang tidak terikat suatu komitmen dengan seseorang tetapi memiliki pasangan seksual yang cukup banyak.

d. Penyimpangan fungsi

Adalah seorang homoseksual yang tidak memiliki pasangan yang tetap dan memiliki banyak pasangan homoseksual, tetapi banyak memiliki permasalahan seksual.

e. Aseksual

(62)

3. Silverstein (dalam Devi, 2003)

Menggambarkan pola hubungan homoseksual dalam dua kategori dengan berdasarkan preferensi terhadap keragaman dan kelangsungan dari hubungan tersebut, yaitu :

a. Pencari kenikmatan

Yaitu homoseksual yang tidak menginginkan keterikatan dalam menjalin hubungan dan menginginkan keragaman pasangan seksualnya.

b. Membangun hubungan

Yaitu homoseksual yang menginginkan sebuah hubungan yang relatif permanen dan didasarkan atas pada keintiman emosi.

(63)

5. Skala Tingkat Kecenderungan Seksualitas Pada Manusia

Ada tingkatan kecenderungan seksualitas pada manusia. Kinsey (1953) membuat tujuh gradasi skala yang bergerak dari angka nol sampai dengan enam yang merupakan sinambungan antara heteroseksual ekstrem nol dan homoseksual ekstrem enam. Orang-orang yang berangka nol atau enam pada skala ini ternyata menurut pengkajian Kinsey jarang sekali atau hampir tidak ada. Yang ada adalah orang-orang yang perilaku seksualnya berkisar antara satu dan lima. Secara ringkasnya adalah :

0 : Heteroseksual ekslusif

1 : Heteroseksual pre-dominan, homoseksual hanya kadang-kadang Menunjukkan heteroseksual dengan sedikit kecenderungan homoseks.

2 : Heteroseksual pre-dominan, homoseksual lebih dari kadang-kadang Menunjukkan kecenderungan homoseks, akan tetapi yang dominan masih kecenderungan heteroseks.

3 : Heteroseksual dan homoseksual seimbang ( biseksual )

Menunjukkan seseorang tertarik kepada laki-laki maupun perempuan.

(64)

5 : Homoseksual pre-dominan, heteroseksual hanya kadang-kadang Menunjukkan homoseksualitas yang kuat dengan sedikit kecenderungan heteroseksual.

6 : Homoseksual eksklusif

Dalam orientasi seksual homoseksual, Kinsey (dalam Wijayanti, 2001) menjelaskan bahwa :

Seseorang yang tergolong dalam kategori angka nol adalah seorang perilaku heteroseksual eksklusif dan orang-orang yang termasuk dalam angka enam adalah mereka yang homoseksual berat.

6. Aspek-aspek Homoseksual

Seksualitas homoseksual adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan seks diri seorang homoseksual. Menurut Oetomo (1994) ada tiga aspek homoseksual, yaitu :

a. Orientasi (arah atau sasaran) seksual

(65)

b. Identitas (jati diri atau konsep diri) seksual

Identitas seksual berkaitan dengan bagaimana individu memandang dirinya dan menghadirkan dirinya pada orang lain. Masyarakat menganggap semua orang berorientasi heteroseks. Bagi orang yang berorientasi homoseks, hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan kecemasan pada individu homoseksual. Untuk itulah, seorang homoseksual diminta untuk berani keluar dari identitas palsu atau semu.

c. Perilaku (perbuatan atau kegiatan) seksual

Perilaku seksual adalah cara-cara untuk menyatakan atau mengekspresikan diri secara seksual atau perbuatan dan kegiatan seksual yang dilakukan.

(66)

7. Tahapan Pengungkapan Diri Kaum Homoseksual

Newman dan Muzzonigro (1993) menjelaskan beberapa tahapan dalam pengungkapan diri kaum homoseksual, antara lain :

a. Sensitisasi

Rata-rata usia seseorang menyadari diri bahwa mereka adalah penyuka sesama jenis yakni 12,5 tahun. Sedangkan rata-rata usia pertama kali mereka menyukai sesama jenis adalah ketika mereka berusia 12,7 tahun.

b. Penerimaan

Merupakan pengakuan diri sebagai apa adanya diri kita. Reaksi penerimaan diri sebagai homoseksual terentang antara perasaan lega dan bahagia sampai ke perasaan bingung, penyangkalan, rasa bersalah, cemas, depresi sampai rasa ingin bunuh diri.

c. Pengungkapan Diri

Tahap terakhir dimana individu homoseksual memberitahukan kepada orang lain bahwa dirinya adalah homoseksual atau dengan kata lain mempunyai kelainan orientasi seksual.

C. Pengungkapan Diri Kaum Homoseksual

(67)

katarsis yaitu sebagai sarana untuk menjelaskan keadaan diri dengan cara mencurahkan perasaan yang akan berdampak melegakan hati. Kebutuhan untuk menunjukkan diri dengan membentuk kesan baik terhadap seseorang sebagai kebenaran diri juga dapat sebagai alasan seseorang untuk membuka diri. Hal tersebut juga dilakukan untuk pemeliharaan dan peningkatan hubungan seseorang (Adler & Neil, 1990).

Ada banyak manfaat yang bisa didapat ketika melakukan pengungkapan diri, seperti meningkatkan kesehatan jiwa, mencegah penyakit dan mengurangi masalah-masalah psikologis yang menyangkut hubungan interpersonal (Johanes, 2002). Selain itu pengungkapan diri juga dapat mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal seseorang sehingga komunikasi menjadi lebih baik dan lebih efektif. Namun, dibalik semua dampak positif yang ada terdapat pula sisi-sisi negatif (risiko) akibat pengungkapan diri, seperti bocornya informasi pribadi sampai hancurnya suatu hubungan karena penolakan dari individu yang lain. Hal negatif inilah yang membuat kebanyakan orang cenderung untuk tidak melakukan pengungkapan diri, terlebih pada kasus-kasus yang kurang sesuai dengan norma yang berlaku. Seperti hal nya pada kaum homoseksual dimana masih banyak orang yang menyetujui dan menentang keras kehadiran mereka.

(68)

pertama adalah faktor internal, yaitu kelainan genetika yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon-hormon seksual. Yang kedua adalah faktor eksternal, yaitu faktor dari luar individu yang membentuk individu untuk berperilaku homoseksual, seperti lingkungan yang kurang baik, pengalaman-pengalaman traumatis, dan juga kultur sosial budaya yang membenarkan perilaku homoseksual tersebut (Pangkahila, 2000).

(69)

Beberapa tahapan pengungkapan diri kaum homoseksual menurut Newman dan Muzzonigro (1993) yang menyatakan bahwa sebelum sampai pada tahap pengungkapan diri, seorang homoseksual harus menyadari dulu bahwa orientasi seksualnya berbeda dengan sebagian besar orang. Kebanyakan dari mereka merasa bingung ketika untuk pertama kalinya mereka tahu diri mereka menyukai sesama jenisnya. Tidak jarang individu yang berada dalam kondisi ini melakukan penyangkalan diri dan mengalami kecemasan begitu besar dalam proses pengungkapan diri. Pada tahapan yang kedua, seorang homoseksual harus dapat menerima keadaan dirinya yang berbeda tersebut. Reaksi penerimaan diri sebagai homoseksual terentang antara perasaan lega dan bahagia sampai ke perasaan bingung, penyangkalan, rasa bersalah, cemas, depresi sampai rasa ingin bunuh diri. Tahapan yang terakhir yaitu pengungkapan diri, dimana individu homoseksual sudah mampu terbuka kepada orang lain mengenai status yang dimilikinya. Perasaan yang kemudian timbul adalah perasaan tidak peduli siapa saja yang nantinya akan mengetahui dan apa yang ada dalam pikiran mereka. Seorang homoseksual yang sudah mampu mencapai tahap ini dipastikan ia sudah merasa yakin dan percaya diri dalam membiarkan dunia mengetahui jati dirinya serta siap menerima konsekuensi untuk mampu berjuang menjalani hidup selayaknya orang normal.

(70)

rawan terjadi frustasi terutama jika sudah berhadapan dengan orang lain. Pro dan kontra mengenai keberadaan dirinya menyebabkan kaum homoseksual mempunyai potensi yang begitu besar untuk menjadi frustasi bahkan stress karena tekanan dalam menyembunyikan identitas sosial yang sebenarnya. Tekanan yang begitu berat dari keluarga serta orang di sekitar akan sangat mengganggu keseluruhan hidup kaum homoseksual sehingga menghalangi dirinya untuk melakukan pengungkapan diri.

(71)

Kaum Homoseksual

Menyadari Keadaan Diri

Norma Agama

► Norma Masyarakat

► Keluarga

► Kematangan Pribadi

Bisa menerima keadaan dirinya Tidak bisa menerima keadaan dirinya

Pengungkapan Diri Tinggi Pengungkapan Diri Rendah

(72)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskriptif yang menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan (Azwar, 2001). Kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar faktualnya sehingga semuanya selalu dapat dikembalikan langsung pada data yang diperoleh. Uraian kesimpulan didasari angka yang diolah tidak terlalu dalam.

Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu (Azwar, 2001). Penelitian ini berusaha menggambarkan situasi dan kejadian. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, atau membuat prediksi.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel adalah hal yang akan diteliti dalam penelitian. Dalam penelitian ini tidak ada kontrol terhadap variabelnya, dan hanya menggunakan satu variabel saja yaitu pengungkapan diri (Self-Disclosure).

(73)

C. Definisi Operasional

1. Homoseksual

Homoseksual adalah perilaku seseorang yang mempunyai orientasi seksual terhadap sesama jenis yang terjadi karena pengaruh internal ataupun eksternal individu yang bersangkutan baik disertai hubungan fisik ataupun tidak. Metode yang digunakan memperoleh data dari individu-individu yang melakukan praktek homoseksual yang diketahui peneliti lewat pengakuan individu tersebut.

2. Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)

Pengungkapan diri adalah suatu proses pemberian informasi secara verbal dengan sadar atau disengaja kepada orang lain yang dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan mengenai keadaan status yang dimilikinya sehingga orang lain dapat memahaminya

Pengukuran tingkat pengungkapkan diri menggunakan skala pengungkapan diri yang berkaitan dengan aspek-aspek yang ditulis dalam Ormazu (2000), yaitu sebagai berikut :

a. Lamanya Pembukaan Diri (duration)

Secara berkala melakukan pengungkapan diri ditandai dengan banyaknya jumlah waktu yang dihabiskan untuk mengungkap diri. b. Kedalaman (depth)

(74)

diri akan memberikan informasi pribadi yang sangat pribadi sekalipun.

Pada skala ini item pada aspek waktu atau kedalaman masuk pada tiap topik-topik yang menyangkut tentang keluasan pegungkapan diri. Keluasan disini berarti seberapa banyak atau besar topik yang akan diungkapkan oleh individu kepada orang lain. Ini adalah tanda seberapa besar tingkat pengungkapan diri individu kepada orang lain. Topik-topik yang diungkap meliputi:

a) penyebab homoseksualitas yaitu faktor penyebab utama terjadinya homoseksualitas.

b) orientasi seksual yaitu menunjukkan arah atau sasaran ketertarikan fisik dan emosi pada orang lain yang sesam jenis.

c) perilaku seksual adalah cara-cara untuk menyatakan atau mengekspresikan diri secara seksual atau perbuatan dan kegiatan seksual yang dilakukan.

(75)

D. Subjek Penelitian

Subjek penelitian diperoleh dengan menggunakan metodepurposive yaitu kelompok subjek tersebut dipilih berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat khusus yang dipandang mempunyai sangkut paut erat dengan ciri-ciri atau sifat subjek penelitian yang telah diketahui sebelumnya (Hadi, 1991). Kriteria-kriteria subjek yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Berusia tujuh belas (17) tahun keatas. Dipilih karena dianggap subjek yang berusia tujuh belas (17) tahun telah dewasa dan telah mengerti akan keadaan dirinya.

b. Seseorang yang telah menjalani kehidupan homoseksual dengan memiliki pasangan sejenis.

c. Berdomisili di kota Yogyakarta yang penduduknya terdiri dari berbagai macam suku sehingga penulis berasumsi bahwa Yogyakarta adalah kota yang cukup terbuka.

E. Metode Pengumpulan Data

(76)

berupa pernyataan-pernyataan langsung yang terarah kepada informasi terhadap data yang akan diungkap.

Alat ukur yang dipakai adalah dengan skala pengungkapan diri yang dibuat oleh peneliti. Skala pengungkapan diri ini dibuat dengan skala Likert untuk pengumpulan data dengan metode rating yang dijumlahkan (Summated Ratings Method). Prosedur penskalaan metode rating yang dijumlahkan didasarkan pada dua asumsi (Azwar, 1995), yaitu :

1. Setiap pernyataan yang ditulis dapat disepakati sebagai pernyataan yang mendukung (favorable) atau pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable).

2. Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai pengungkapan diri yang tinggi harus diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi dari pada jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai pengungkapan diri yang rendah.

(77)

(Hadi, 2000). (3). Maksud kategorisasi jawaban SS – S – TS – STS adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden, ke arah setuju atau tidak setuju. Sesuai dengan teori tersebut, maka dalam penelitian ini respon skala Likert dimodifikasi menjadi empat kategori jawaban yaitu terdiri dari empat kategori bentuk yang menyatakan kesetujuan dan ketidaksetujuan dalam jawaban, yaitu : SS (sangat setuju), S (setuju), TS (tidak setuju) dan STS (sangat tidak setuju).

Dalam pengukuran, setiap butir item pernyataan kemungkinan mendapatkan skor/nilai skala dilakukan dengan cara menentukan kontinum skor antara 1 sampai 4 berdasarkan kategori pernyataan favorable dan unfavorabel(lihat tabel).

Tabel 1

Nilai / Skor Berdasarkan Kategori Jawaban

Skor Jawaban

Favorabel Unfavorabel

Sangat sesuai 4 1

Sesuai 3 2

Tidak sesuai 2 3

Sangat tidak sesuai 1 4

(78)

Tabel 2

Uji Coba Penyebaran Item Skala Pengungkapan Diri

(Sebelum diuji kesahihan item-itemnya)

Keluasan

Penyebab Orientasi Perilaku

Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

Total

F. Uji Validitas dan Reliabilitas

Suatu skala dikatakan representatif, fungsional dan akurat apabila skala tersebut memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Oleh karena itu, sebelum skala tersebut diberikan kepada subjek penelitian yang sesungguhnya, maka sebaiknya dilakukan uji coba (try-out) untuk memperoleh validitas dan reliabilitasnya.

1. Uji Validitas

(79)

seharusnya diukur sesuai dengan tujuan penelitian jika alat tes tersebut memiliki validitas yang tinggi.

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi adalah pengukuran validitas yang didasarkan pada kesesuaian isi tes, yaitu item-item skala dan tabel spesifikasi dengan tujuan penelitian. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewatprofesional judgement, yaitu penilaian validitas terhadap suatu alat ukur yang diberikan oleh orang-orang yang dianggap ahli dan profesional di bidangnya, dalam hal ini adalah dosen pembimbing (Azwar, 2003).

2. Seleksi Item

(80)

menjadi 0,25 sehingga jumlah item yang diinginkan dapat tercapai. Teknik korelasi item yang digunakan dalam penelitian ini adalah formula koefisien korelasi produk moment Pearson. Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS for windows13.

(81)

Tabel 3

Uji Coba Penyebaran Item Skala Pengungkapan Diri

(Setelah diuji kesahihan item-itemnya)

Keluasan

Penyebab Orientasi Perilaku

Aspek

Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

Total

Item Skala Pengungkapan Diri

(Setelah diacak item-itemnya)

Keluasan

Penyebab Orientasi Perilaku

Aspek

Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

Total

(82)

yang konsisten pada waktu yang berbeda untuk tujuan penelitian yang sama. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi adalah pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya, maka pengukuran tersebut disebut reliabel (Azwar, 2003). Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx³) yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, semakin rendah koefisien reliabilitas mendekati angka 0, berarti semakin rendah reliabilitasnya.

Reliabilitas penelitian ini akan menggunakan formula koefisien Alpha dari Cronbach, dengan alasan koefisien alpha dapat mengatasi kelemahan teknik belah dua dan mengestimasi rata-rata korelasi belah dua dari semua pembagi tes yang mungkin dilakukan (Azwar, 2002). Pengolahan data akan dilakukan dengan program komputer SPSS for windows13.

Nilai reliabilitas skala dianggap memuaskan bila koefisien alpha lebih besar dari 0,90 karena berarti perbedaan (variasi) yang tampak pada skor tes tersebut mampu mencerminkan 90% dari variasi yang terjadi pada skor murni subjek, dan hanya 10% dari perbedaan skor yang tampak disebabkan oleh variasi eror pengukuran (Azwar, 2002).

Gambar

Gambar 1. Penjelasan pengungkapan diri kaum homoseksual
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 4
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat DPPA-PPKD adalah Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja

Masyarakat Simalungun memiliki bahasa yang disebut dengan bahasa Simalungun, secara umum merupakan bahasa pengantar dalam kehidupan keseharian masyarakatnya yang digunakan

Kelahiran secara pervaginam juga meningkatkan risiko terjadinya kejang neonatorum, begitu pula dengan status primipara yang memiliki risiko terjadinya kejang neonatorum

sebagai saprophytis dan sebagian kecil sebagai parasit pada tumbuhan, hewan dan manusia. Fungi ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan atau bersifat pathogen

Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar,

Model input pada studi ini menggunakan nilai kecepatan ±10% terhadap model kecepatan awal Vp dan rasio Vp/Vs yang digunakan untuk input inversi tomografi

Dan tema rancangan yang dibuat adalah imitasi dan elemen-elemen alam dengan menyesuaikan metode pendekatan yaitu dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material

Lift ini, sering disebut elevator, yang merupakan alat angkut untuk mengangkut orang atau barang dalam suatu bangunan yang tinggi.. Lift dapat dipasang untuk