BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Konsep, Konstruk, dan Variabel Penelitian. mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep, Konstruk, dan Variabel Penelitian 2.1.1 Otonomi Daerah

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. Undang-undang ini juga menyatakan bahwa daerah otonom adalah kewenangan daerah otonom dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan.

Menurut Djohermansyah Djohan (1990) otonomi daerah pada dasarnya adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Hak tersebut diperoleh melalui penyerahan urusan pemerintah dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerah yang bersangkutan.

Otonomi daerah sebagai wujud dari dianutnya asas desentralisasi, diharapkan akan dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Karena kewenangan yang diterima oleh daerah melalui adanya otonomi daerah, akan memberikan “kebebasan” kepada daerah. Dalam hal melakukan berbagai tindakan yang diharapkan akan sesuai dengan kondisi

(2)

serta aspirasi masyarakat di wilayahnya. Anggapan tersebut disebabkan karena secara logis pemerintah daerah lebih dekat dengan masyarakat, sehingga akan lebih tahu apa yang menjadi tuntutan dan keinginan masyarakat.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Halim (2002) mengatakan bahwa pendapatan adalah semua penerimaan daerah dalam bentuk peningkatan aktiva atau penurunan utang dari berbagai sumber dalam periode tahun anggaran bersangkutan. Sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut Halim dan Syam (2012) adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah.

Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 pasal 1 ayat 18 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah, Pendapatan Asli Daerah, yang selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan dengan peraturan perundang-undangan.

Sumber – sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tertuang dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 157 dan UU Nomor 33 Tahun 2004 pasal 6 dikelompokkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu :

1. Pajak Daerah. 2. Retribusi Daerah.

3. Hasil Pengelolan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. 4. Lain – lain PAD yang sah.

(3)

2.2.1.1 Pajak Daerah

Halim dan Syam (2012:101) Pajak Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari pajak.

Berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sumber pendapataan dari pajak daerah menurut UU nomor 28 Tahun 2009 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam Lampiran IIIa dan Lampiran IVa Permendagri Nomor 21 Tahun 2011, jenis pendapatan pajak daerah meliputi sebagai berikut :

a. Pajak Propinsi terdiri atas : 1. Pajak Kendaraan Bermotor. 2. Kendaraan di Atas Air.

3. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). 4. Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air.

5. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. 6. Pajak Air Permukiman.

(4)

b. Jenis pajak Kabupaten/Kota terdiri atas : 1. Pajak Hotel.

2. Pajak Restoran. 3. Pajak Hiburan. 4. Pajak Reklame.

5. Pajak Penerangan Jalan.

6. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C. 7. Pajak Parkir.

2.2.1.2 Retribusi Daerah

Berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 pengertian Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Sumber pendapatan dari retribusi daerah menurut UU nomor 28 Tahun 2009 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam Lampiran IIIa dan Lampiran IVa Permendagri Nomor 21 Tahun 2011, jenis pendapatan retribusi daerah yang dapat dipungut oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut :

1. Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan

(5)

kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

Contoh dari retribusi jasa umum untuk pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota sebagai berikut :

a. Retribusi Pelayanan Kesehatan.

b. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor.

c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta dan Lain-lain. d. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang.

e. Retribusi Pelayanan Pendidikan.

f. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan.

g. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akte Catatan Sipil.

h. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Penguburan Mayat. i. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum.

j. Retribusi Pelayanan Pasar.

k. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran. l. Retribusi Pengujian Kapal Perikanan.

5. Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial. Contoh retribusi jasa usaha provinsi dan kabupaten/kota sebagai berikut :

(6)

a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

b. Retribusi Terminal, Retribusi Tempat Pelelangan. c. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan.

d. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa. e. Retribusi Penyedotan Kakus.

f. Retribusi Rumah Potong Hewan. g. Retribusi Pelayanan Pelabuhan Kapal. h. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga. i. Retribusi Penyebrangan di Atas Air. j. Retribusi Pengolahan Limbah Cair.

k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah dan lain-lain.

6. Retribusi Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, sarana prasarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

(7)

2.2.1.3 Hasil Pengelolan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Menurut Halim dan Syam (2012:104) Hasil Pengelolan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Jenis pendapatan ini diperinci menurut objek pendapatan yang mencakup :

1. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusaahan milik daerah/BUMD

2. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusaahan milik negara/BUMN

3. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusaahan swasta atau kelompok usaha masyarakat.

Penerimaan hasil kekayaan yang dipisahkan ini merupakan kontribusi dari hasil BUMN/BUMD yang nantinya diharapkan dapat diberikan kepada negara maupun daerah untuk mendukung pembangunan ekonomi baik negara maupun daerah. Kontribusi tersebut dapat berupa deviden yang dibayarkan kepada daerah atau juga dengan memanfaatkan kekayaan daerah seperti penyewaan tanah dan bangunan daerah yang dapat mendatangkan tambahan bagi penerimaan daerah. Jenis pendapatan yang tergolong dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan ini antara lain, bagian laba, deviden dan penjualan saham milik daerah dan lain-lain.

(8)

2.2.1.4 Lain – lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Menurut Halim dan Syam (2012:104) pengertian Lain – lain Pendapatan yang sah adalah penerimaan daerah yang berasal dari lain – lain milik pemerintah daerah. Transaksi ini disediakan untuk mengakuntasikan penerimaan daerah selain yang disebut diatas. Jenis pendapatan ini meliputi objek pendapatan sebagai berikut :

1. Hasil Penjualan Aset Daerah Yang Tidak Dipisahkan 2. Jasa Giro

3. Pendapatan Bunga Deposito 4. Tuntutan Ganti Kerugian Daerah

5. Komisi, Potongan dan Selisih Nilai Tukar Rupiah

6. Pendapatan Denda Atas Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan 7. Pendapatan Denda Pajak

8. Pendapatan Denda Retribusi

9. Pendapatan Hasil Eksekusi Atas Jaminan 10.Pendapatan Dari Pengembalian

PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi. Secara utuh desentralisasi fiskal mengandung pengertian bahwa untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab, kepada daerah diberikan kewenangan untuk memberdayakan sumber keuangan sendiri dan didukung dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Kewenangan untuk

(9)

memberdayakan sumber keuangan sendiri dilakukan dalam wadah PAD yang sumber utamanya adalah pajak daerah dan retribusi daerah (Ardhini,2011).

Artinya PAD menjadi sumber pendapatan utama atau dominan, sementara subsidi atau transfer dari tingkat pemerintah pusat merupakan sumber penerimaan pendukung atau tambahan yang peranannya tidak dominan. PAD merupakan salah satu sumber pembiayaan pemerintahan daerah yang peranannya sangat tergantung kemampuan dan kemauan daerah dalam menggali potensi yang ada di daerah (Ardhini,2011).

2.2.2 Transfer Pemerintah Pusat – Dana Perimbangan

Undang – undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan menjelaskan pengertian dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Menurut Sutandi (dalam Halim,2011) perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan secara adil, proposional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desetralisasi dengan mempertimbangkan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas perbantuan. Perimbangan keuangan antar pemerintah pusat dan pemerintah daerah merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara pemerintah

(10)

pusat dan pemerintah daerah yang didasarkan atas kewenangan yang diberikan dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal nasional.

2.2.2.1 Dana Bagi Hasil

Berdasarkan Perturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 pengertian Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil.

Berdasarkan PP Nomor 55 Tahun 2005, Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak sumber daya alam. Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak terdiri atas Pajak bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi.

2.2.2.2 Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum (DAU), menurut Darwanto dan Yustikasari (2007) adalah transfer yang bersifat umum dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatasi ketimpangan horizontal dengan tujuan utama pemertaan kemampuan keuangan antar daerah. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004, DAU adalah dana yang bersumber dari

(11)

APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

2.2.2.3 Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan belanja pegawai, kebutuhan fiskal, dan potensi daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 menjelaskan bahwa daerah yang akan menerima DAK harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja PNS Daerah. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan yang mengatur peyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah. Sedangkan kriteria teknis disusun oleh menteri teknis terkait dalam bentuk indikator – indikator kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK.

Dalam hal kegiatan yang didanai dengan DAK adalah kegiatan yang bersifat kegiatan fisik, maka daerah penerima DAK wajib menganggarkan dana pendamping sekurang – kurangnya 10 % dari alokasi DAK yang diterima.

(12)

2.2.3 Pelayanan Publik

2.2.3.1 Pengertian Pelayanan Publik

Pengertian pelayanan publik menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2009 Pasal 1 ayat (1) bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang - undangan dan setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Menurut Keputusan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 dalam pedoman umum dikatakan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan pelayanan yang dilaksanan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang – undangan.

Dapat disimpulkan pelayanan publik adalah kegiatan atau layanan kepada masyarakat atas kebutuhan secara admnistratif, barang, maupun jasa yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan peraturan perudangan – undangan.

2.2.3.2 Prinsip dan Azas Pelayanan Publik

Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan, digunakan beberapa prinsip dalam penyediaan pelayanan pada sektor publik, prinsip pelayanan publik menurut Moenir (2006:164) yaitu meliputi penetapan standar

(13)

pelayanan, terbuka, memperlakukan seluruh masyarakat sebagai pelanggan secara adil, mempermudah akses kepada seluruh masyarakat pelanggan, membenarkan sesuatu hal dalam proses pelayanan ketika hal tersebut menyimpang, menggunakan semua sumber-sumber yang digunakan untuk melayani masyarakat pelanggan secara efisien dan efektif dan selalu mencari pembaharuan dan mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan.

Instansi penyedia pelayanan publik dalam memberikan pelayanan harus memperhatikan prinsip-prinsip pelayanan publik, menurut Keputusan Menpan Nomor 63 Tahun 2003 , prinsip-prinsip pelayanan publik tersebut terdiri dari :

1. Kesederhanaan Prosedur

Prosedur pelayanan publik tidak berbelit – belit, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan.

2. Kejelasan

Kejelasan dalam pelayanan publik seperti sebagai berikut : a. Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik.

b. Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/sengketa dalam pelaksanaan pelyanan publik.

(14)

3. Kepastian Waktu

Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

4. Akurasi

Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat, dan sah. 5. Kelengkapan Sarana dan Prasarana

Tersediaanya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja, dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika.

6. Keamanan

Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum.

7. Tanggung Jawab

Pimpinanan penyelenggaraan pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggungjawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.

8. Kemudahan Akses

Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informatika.

(15)

9. Kedisiplinan, Kesopanan, dan Keramahan

Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah, serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.

10.Kenyamanan

Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan, seperti parkir, toliet, tempat ibadah dan lain – lain.

Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pengguna jasa, penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas–asas pelayanan. Berdasarkan Keputusan Menpan Nomor 63 Tahun 2003 yang menyatakan asas–asas pelayanan sebagai berikut :

1. Transparansi

Bersifat terbuka, mudah , dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.

2. Akuntabilitas

Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang–undangan.

3. Kondisional

Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada efisiensi dan efektifitas.

(16)

4. Partisipatif

Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.

5. Kesamaan hak

Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, gender, dan status ekonomi.

6. Keseimbangan hak dan kewajiban

Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing–masing pihak.

Dengan mengacu pada prinsip-prinsip dan azas pelayanan publik tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penyelenggaran pelayanan publik oleh instansi pemerintah dan juga berfungsi sebagai indikator dalam penilaian serta evaluasi kinerja bagi penyelenggaran pelayanan publik.

2.2.3.3 Standar Pelayanan Publik

Berdasarkan Keputusan Menpan Nomor 63 Tahun 2003, penyelenggaran pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan publikasik sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dilakukan dalam penyelenggaran pelayanan publik yang wajib di taati oleh penerima pelayanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan

(17)

pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan.

Standar pelayanan sekurang –kurangnya meliputi : 1. Prosedur

Prosedur pelayanan pemberi dan penerima pelayanan termasuk pengaduan.

2. Waktu Penyelesaian

Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan.

3. Biaya pelayanan

Biaya / tarif pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan.

4. Produk pelayanan

Hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

5. Sarana dan prasarana

Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggara pelayanan publik.

6. Kompetensi petugas pemberi pelayanan

Kompetensi petugas pemberi pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan.

(18)

Dengan adanya standar pelayanan publik, pemberian pelayanan sebagai penyedia jasa layanan dapat memberikan pelayanan yang maksimal dan terlaksana secara efektif, efisien, dan ekonomis. Serta diharapkan pelayanan yang maksimal dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

2.2.3.4 Kualitas Pelayanan Publik

Menurut Zeithaml, Parasuraman, dan Berry (dalam Hessel.2005:219) berpendapat bahwa pengukuran kinerja pelayanan dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen kinerja pelayanan. Ada sebelas indikator kinerja pelayanan, yaitu :

1. Kenampakan fisik (Tangible) 2. Kehandalan (Reliability) 3. Ketanggapan (Responsiveness) 4. Kompetesi (Competence) 5. Kesopanan (Courtesy) 6. Kredibilitas (Credibility) 7. Keamanan ((Security) 8. Akses (Access) 9. Komunikasi (Communication)

10.Pengertian (Understanding the customer) 11.Akuntabilitas (Accountability)

(19)

2.3 Kerangka Pemikiran 2.3.1 Efektivitas

Efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kata ”efektif” berarti terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki, dalam suatu perbuatan. Setiap pekerjaan yang efisien yang tentu juga berarti efektif, karena dilihat dari segi hasil, tujuan atau akibat yang dikehendaki dengan perbuatan itu telah tercapai bahkan secara maksimal (mutu dan jumlahnya), sebaliknya dilihat dari segi usaha, efek yang diharapkan juga telah tercapai (James, Nur, Tenriawaru,2011)

2.3.2 Hubungan Efektivitas Pendapatan Asli Daerah ( X1 ) dengan Kualitas Pelayanan Publik ( Y )

Pendapatan Asli Daerah (PAD) memiliki peran yang cukup besar dalam menentukan kemandirian suatu daerah serta kemampuan dalam menyelenggarakan aktivitas pemerintahan dan pembangunan ekonomi daerah. Maka dari itu, pemerintah daerah sudah seharusnya dapat mengoptimalisasikan penerimaan asli daerah untuk dapat meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dengan memberi pelayanan yang prima dan berkualitas.

Efektivitas PAD yaitu realisasi penerimaan asli daerah lebih tinggi daripada yang ditargetkan dalam APBD. Jika pemerintah daerah dapat merealisasikan PAD melebihi target, maka pemerintah sudah memaksimalkan

(20)

potensi daerahnya sendiri dan tidak bergantung pada transfer pusat dan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

2.3.3 Hubungan Efektivitas Transfer Pusat – Dana Perimbangan ( X2) dengan Kualitas Pelayanan Publik ( Y )

Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, terjadi transfer yang cukup signifikan didalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat atau untuk keperluan lain yang tidak penting (Abdulah & Halim 2001).

Dana perimbangan dimaksudkan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya dan mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintah antar daerah. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait kebijakan anggaran transfer ke daerah pada tahun 2012 sebagaimana disebutkan dalam Nota Keuangan RAPBN 2012 yang diarahkan, salah satunya adalah meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antar daerah dan meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah (Amin,2012).

Dilihat dari arah kebijakan yang disebut dalam Nota Keuangan RAPBN 2012, maka dana perimbangan memiliki kontribusi dalam penerimaan daerah yang diarahkan untuk dapat mendanai pelayanan publik di

(21)

daerah. Dengan adanya kontribusi pemerintah pusat melalui dana perimbangan, diharapkan pemerintah daerah dapat menciptakan pelayanan yang optimal dan mengacu pemerintah dalam menggali potensi – potensi asli daerahnya.

Adapun hasil penelitian sebelumnya sebagai berikut : Tabel 2.1

Tabel Penelitian Sebelumnya NAMA /

TAHUN JUDUL HASIL PENELITIAN

Dhaniar Aulia / 2013

Pengaruh Efektivitas Pendapatan Asli Daerah(PAD) dan Efisiensi Belanja Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kota Bandung

 Pembahasan secara simultan bahwa kedua variabel X berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah.

 Pembahasan secara parsial bahwa PAD (variabel X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah

 Pembahasan secara parsial bahwa efisiensi belanja daerah (variabel X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah

Ali Rahman / 2013

Hubungan Antara Dana Alokasi Umum (DAU), Pendapatan Asli Daerah(PAD), dan Pendapatan Per Kapita dalam Peningkatan Pelayanan Fasilitas

 Pembahasan secara parsial bahwa DAU (variabel X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik.

 Pembahasan secara parsial bahwa PAD (variabel x) tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kualitas

(22)

Publik (Studi Kasus di Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 - 2011)

peningkatan pelayanan publik

 Pendapatan Per Kapita berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik.

Berdasarkan pembahasan variabel dalam kerangka permikiran diatas, maka hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat digambarkan adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1

Model Kerangka Pemikiran Efektivitas Pendapatan

Asli Daerah (X1)

Efektivitas Transfer Pusat - Dana Perimbangan (X2) Kualitas Pelayanan Publik (Y) Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat

(23)

2.4 Hipotesis

Menurut Supranto (2009:124) hipotesis pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan/pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut. Berdasarkan kerangka model pemikiran yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan ke dalam hipotesis penelitian sebagai berikut :

H1 : Efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) ( X1 ) berpengaruh positif terhadap Kualitas Pelayanan Publik ( Y ).

H2 : Efektivitas Transfer Pusat – Dana Perimbangan ( X2 ) berpengaruh positif terhadap Kualitas Pelayanan Publik ( Y ).

H3 : Efektivitas Pendapatan Asli Daerah( X1 ) dan Transfer Pusat – Dana Perimbangan ( X2 ) secara simultan berpengaruh positif terhadap Kualitas Pelayanan Publik (Y).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :