1.1 Latar Belakang
Taman lingkungan merupakan ruang terbuka yang dibangun dan dikembangkan di lingkungan perumahan atau permukiman, yang diperuntukkan bagi masyarakat umum dan diatur sebagai areal ruang terbuka kota atau sebagai bagian dari pembangunan perumahan oleh pengembang swasta; misalnya taman bermain, fasilitas olahraga, dan lainnya (Carr: 1992). Penyediaan taman lingkungan adalah untuk kebutuhan rekreasi terbatas yang meliputi populasi yang terbatas pula. Berbeda dengan taman kota yang diperuntukkan bagi kebutuhan interaksi masyarakat kota, taman lingkungan diperuntukkan bagi kebutuhan interaksi masyarakat setempat (Bappeda Provinsi Jawa Barat: 2007). Oleh karena itulah, taman lingkungan umumnya memiliki lokasi yang berada pada pusat lingkungan perumahan serta mudah diakses.
Taman lingkungan berperan penting sebagai pemberi “keringanan dan kebebasan” bagi masyarakat di lingkungan perumahan yang dilayani dengan adanya kemungkinan untuk berekreasi aktif dan pasif, juga sebagai media sosial untuk berinteraksi bagi penduduk yang tinggal di kawasan perumahan yang dilayani. Selain itu, taman lingkungan juga memungkinkan penduduk sekitarnya untuk berinteraksi dengan alam, karena pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan dasar penyegaran diri melalui interaksinya dengan keindahan alam dan lingkungan (Maslow: 1943 dalam Huitt: 2004). Taman lingkungan pada dasarnya pun memiliki fungsi sosial yang lebih kental dibandingkan fungsi lainnya, seperti fungsi estetika, fungsi ekonomi, dll (Bappeda Provinsi Jawa Barat: 2007). Lebih jauh lagi, Sherer (2003) dalam penelitiannya mengemukakan manfaat taman lingkungan dalam kehidupan perkotaan:
• Keberadaan taman di lingkungan permukiman menambah kemungkinan masyarakat untuk selalu beraktifitas aktif (berolahraga) dan meningkatkan ketahanan fisik individu, dan kontak dengan elemen-elemen natural akan meningkatkan kesehatan psikologis.
• Keberadaan taman lingkungan dalam suatu unit lingkungan permukiman akan memberi nilai tambah bagi quality of life lingkungan permukiman setempat atau bahkan dapat meningkatkan nilai lahan.
• Keberadaan elemen hijau pada taman lingkungan akan mengurangi polusi udara, polusi air, dan akan memberikan kenyamanan bagi lingkungan setempat.
• Keberadaan taman lingkungan akan memberikan manfaat bagi komunitas setempat, yaitu menjadikan lingkungan setempat lebih livable, memberikan kesempatan bagi penduduk setempat untuk berekreasi, terutama bagi masyarakat golongan menengah ke bawah. Sehingga akan timbul sense of community pada lingkungan permukiman dengan penduduk golongan menengah ke bawah dengan adanya penyediaan ruang terbuka.
Namun, fasilitas taman lingkungan yang tersedia untuk melayani penduduk sangatlah minim, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Persoalan ini merupakan persoalan umum yang terjadi di kota-kota di Indonesia, begitu juga dengan Kota Bandung. Berdasarkan data dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung, Kota Bandung memiliki 518 taman seluas 994.540,27 m2 dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) lainnya hingga luas RTH di Kota Bandung kini mencapai 6,9 % dari keseluruhan luas Kota Bandung. Jumlah ini sangat kurang dari luas yang dikehendaki oleh Perda No.2 Tahun 2004 yang kini telah direvisi menjadi Perda No. 3 Tahun 2006 tentang RTRW Kota Bandung yang menghendaki luas RTH 10 % dari keseluruhan luas Kota Bandung, yaitu sekitar 16.726 Ha. Dari jumlah tersebut, hanya terdapat kurang dari 10 % taman yang dapat dikategorikan sebagai taman lingkungan. Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang bahkan menghendaki Ruang Terbuka Hijau Kota harus memiliki luas total sekurang-kurangnya 30 % dari keseluruhan luas kota yang bersangkutan. Selain itu, persoalan lainnya yang terjadi adalah sebagian besar taman lingkungan di Kota Bandung kurang dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar taman kurang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung aktifitas penggunanya, dan pemeliharaannya pun kurang diperhatikan sehingga terjadi penurunan kualitas yang berakibat pada ketidakoptimalan taman dalam melayani pengguna. Persoalan ini semakin besar ketika timbul persoalan dalam hal penyediaan fasilitas taman yang tidak sesuai
dengan kebutuhan masyarakat setempat. Akibatnya, masyarakat setempat cenderung tidak menggunakan taman dan tidak melakukan aktifitasnya di taman, walaupun beberapa fasilitas telah disediakan. Hal ini juga memiliki kaitan yang erat dengan perencanaan dan perancangan taman lingkungan yang tidak melibatkan masyarakat setempat.
Persoalan taman lingkungan yang terjadi di bagian barat Kota Bandung sama dengan persoalan taman lingkungan pada umumnya seperti yang telah diuraikan di atas, yaitu kualitas dan kuantitas taman lingkungan yang tidak memadai serta penyediaannya yang kurang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan kepadatan wilayah yang dapat dikatakan relatif tinggi. Kota Bandung bagian barat yang terdiri atas WP Bojonegara dan WP Tegallega memiliki rata-rata kepadatan penduduk 18.990 jiwa/km2, jauh diatas rata-rata kepadatan Kota Bandung yang hanya mencapai 13.505 jiwa/km2. Di tengah situasi yang begitu padat, hanya terdapat kurang dari 5 % taman dari keseluruhan luas total taman yang ada yang dapat dikategorikan sebagai taman lingkungan. Dari jumlah tersebut, taman lingkungan yang ada pun memiliki kualitas yang buruk serta penyediaannya kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat. Akibatnya, penduduk tidak dapat menikmati fasilitas yang seharusnya ditawarkan oleh taman, serta tidak adanya media untuk berinteraksi sosial dengan penduduk sekitar. Padahal, penduduk di kawasan padat lebih membutuhkan taman sebagai media interaksi, baik dengan alam maupun dengan penduduk lainnya, akibat adanya keterbatasan ruang beraktifitas (Marcus dan Francis: 1980).
Pemerintah Kota Bandung dalam menanggapi persoalan taman secara umum telah mengeluarkan sejumlah kebijakan, di antaranya kebijakan revitalisasi taman, ekstensifikasi taman berupa pembangunan taman eks TPA Cicabe dan TPA Pasir Impun, serta menjadikan beberapa SPBU di Kota Bandung untuk dijadikan RTH pertamanan. Selain itu, dilakukan pula penataan kembali dan pemeliharaan terhadap 55 taman strategis di Kota Bandung melalui pola kemitraan. Dalam hal taman lingkungan, Pemerintah Kota Bandung telah mengeluarkan kebijakan berupa revitalisasi taman lingkungan, serta penataan kembali beberapa taman lingkungan. Selain itu, data dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung menunjukkan bahwa Kota Bandung bagian barat
merupakan salah satu wilayah yang menjadi prioritas utama dalam penataan kembali taman lingkungan.
Namun, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan hanya meninjau dari sudut pandang supply tanpa memperhatikan sisi demand atau kebutuhan pengguna itu sendiri. Intensifikasi maupun ekstensifikasi taman melalui berbagai kebijakan lebih mengutamakan segi artistik dan penyediaan, tanpa melihat prinsip-prinsip perancangan taman yang seharusnya dipenuhi, terutama mengenai penyediaan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Ditambah lagi bahwa dalam penyediannya, taman lingkungan memiliki potensi tersendiri dibandingkan taman dengan skala yang lebih luas lagi yaitu pelibatan masyarakat dalam perancangan ataupun bahkan dalam pembuatan master plan, karena pada dasarnya penyediaan taman lingkungan adalah untuk masyarakat setempat sehingga fitur-fitur yang terdapat di dalamnya harus berdasarkan kebutuhan dan permintaan dari masyarakat setempat (Morgan Hill City Government: 2007; Houston Government: 2007).
Selain itu, dari segi perencanaan taman yang lebih luas lagi yakni Rencana RTH Kota Bandung pun lebih menitikberatkan pada upaya penyediaan RTH berdasarkan skala pelayanan penduduk, tanpa memperhatikan sisi kebutuhan pengguna mengenai kriteria RTH yang diinginkan khususnya mengenai taman, sehingga belum mampu secara optimal memenuhi kebutuhan penggunanya. Dengan kata lain, terdapat hal-hal yang tidak terpenuhi yakni pemenuhan kebutuhan masyarakat pengguna taman itu sendiri.
1.2 Rumusan Persoalan
Berdasarkan latar belakang studi, maka persoalan yang terjadi adalah belum adanya arahan dalam perancangan taman lingkungan yang mempertimbangkan persepsi dan preferensi masyarakat setempat, terutama dalam bentuk prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka perlu diketahui terlebih dahulu kriteria kualitas taman, agar dapat diketahui kualitas taman yang ada, sehingga pada akhirnya dapat disusun prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan.
Studi sebelumnya yang sudah dilakukan adalah studi yang dilakukan oleh Eriawan (2003) mengenai penyusunan prinsip-prinsip perancangan taman dengan skala pelayanan kota dan Bagian Wilayah Kota (BWK). Namun tetap
diperlukan kajian lebih lanjut mengenai penyusunan prinsip perancangan taman yang melayani dalam skala lingkungan permukiman untuk memperkaya dan melengkapi prinsip-prinsip perancangan yang ada. Selain itu, hal ini juga didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
• Studi kasus di negara Amerika Serikat menunjukkan bahwa terdapat prinsip perancangan khusus untuk taman lingkungan.
• Dalam perencanaan taman yang melayani skala lingkungan, perlu penentuan kriteria dan prinsip yang lebih lanjut yang melibatkan masyarakat lingkungan setempat selain penggunaan kriteria, prinsip, dan standar taman secara umum yang diadaptasikan (Enger: 2005).
1.3 Tujuan, Sasaran, dan Manfaat Studi
Tujuan dari studi ini adalah menyusun prinsip perancangan taman lingkungan yang mempertimbangkan persepsi dan preferensi masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan tersebut, sasaran studi ini adalah:
• Merumuskan kriteria atau aspek-aspek yang menjadi perhatian (issues of concern) dan komponen-komponen yang diatur (scope of issues) dalam perancangan taman lingkungan.
• Menilai kondisi taman lingkungan yang menjadi objek studi.
• Mengidentifikasi preferensi masyarakat setempat terhadap fasilitas taman lingkungan yang menjadi objek studi.
• Menyusun prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan.
Studi ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap berbagai pihak:
• Bagi dunia perencanaan wilayah dan kota, metode yang digunakan dalam studi ini maupun prinsip-prinsip perancangan yang dihasilkan dalam studi ini dapat dijadikan acuan dalam perancangan taman lingkungan di lokasi lainnya yang tidak tercakup dalam studi ini. Selain itu kriteria perancangan yang dirumuskan dalam studi ini dapat dijadikan masukan bagi studi selanjutnya yang berkaitan dengan perancangan taman lingkungan.
• Bagi pemerintah kota, studi ini dapat memberikan gambaran mengenai kondisi taman lingkungan. Juga memberikan gambaran mengenai persepsi dan preferensi masyarakat terhadap kondisi dan kualitas taman
lingkungan. Hal tersebut dapat menjadi masukan bagi perancangan taman lingkungan sebagai salah satu fasilitas publik. Selain itu, bagi pemerintah kota sebagai pengelola, studi ini dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kualitas taman lingkungan yang ada.
1.4 Ruang Lingkup Studi 1.4.1 Lingkup Materi
Lingkup materi dalam studi ini adalah sebagai berikut:
1. Lingkup taman lingkungan hanya dibatasi pada taman lingkungan permukiman / perumahan yang disebut neighborhood park, yakni ruang terbuka yang dibangun dan dikembangkan di lingkungan perumahan atau permukiman, yang diperuntukkan bagi masyarakat umum dan diatur sebagai areal ruang terbuka kota atau sebagai bagian dari pembangunan perumahan oleh pengembang swasta; misalnya taman bermain, fasilitas olahraga, dan lainnya. Taman lingkungan yang dimaksud juga merupakan taman lingkungan aktif (dapat digunakan beraktifitas dan memiliki fungsi sosial) yang berlokasi di pusat lingkungan perumahan atau permukiman yang dilayaninya serta mudah diakses.
2. Taman lingkungan yang berupa taman pasif seperti pulau jalan tidak termasuk ke dalam taman lingkungan yang dimaksud dalam studi ini. Taman pulau jalan merupakan taman pelengkap sebagai aksesoris kota yang cenderung berfungsi estetis dan bukan sebagai tempat melakukan aktifitas bagi penduduk serta tidak memiliki fungsi sosial (Bappeda Provinsi Jawa Barat: 2007).
3. Ketentuan normatif perancangan taman lingkungan dirumuskan berdasarkan kajian teoritis, kebijakan pemerintah, studi mengenai perancangan taman yang pernah dilakukan sebelumnya, serta studi kasus di luar negeri.
4. Kondisi yang ada serta persepsi masyarakat menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun prinsip-prinsip perancangan taman. Persepsi masyarakat merupakan salah satu penilaian terhadap kondisi dan kualitas taman berdasarkan kriteria hasil studi normatif mengenai perancangan taman.
5. Preferensi masyarakat terhadap fasilitas taman lingkungan dibatasi pada kebutuhan-kebutuhan yang dapat diaplikasikan ke dalam bentuk perancangan suatu taman lingkungan. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang tidak termasuk ke dalam aspek perancangan tidak termasuk ke dalam penelitian ini. Kebutuhan masyarakat yang merupakan preferensi masyarakat terhadap fasilitas taman akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan taman.
6. Prinsip perancangan merupakan pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam merancang taman. Substansinya mencakup ketentuan mengenai komponen-komponen yang diatur dalam perancangan taman berdasarkan tujuh kriteria, yaitu keamanan, keselamatan, kesehatan, daya tarik, kenyamanan, aksesibilitas, dan keindahan. Komponen-komponen yang diatur berdasarkan tujuh kriteria tersebut adalah vegetasi, tempat duduk, lampu penerangan, pembatas sub-ruang, penutup permukaan, tempat sampah, fasilitas aktifitas aktif, jalur masuk, tanda / rambu (signage), air, jalur pejalan, dan pagar.
1.4.2 Lingkup Wilayah Studi
Studi ini dilakukan di wilayah administratif Kota Bandung. Dasar pertimbangan pemilihan wilayah studi ini adalah karena Kota Bandung merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia yang memiliki persoalan mengenai ruang terbuka hijau, khususnya taman baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Dari keseluruhan wilayah Kota Bandung, dipilih taman lingkungan yang berlokasi di Kota Bandung bagian barat, yaitu Taman Lesmana dan Taman Pandawa sebagai objek studi. Pemilihan ini didasarkan pada lokasi taman yang terletak di Kota Bandung bagian barat yang memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi ditengah-tengah persoalan kurangnya sediaan taman lingkungan dan buruknya kualitas taman lingkungan.
Pemilihan objek studi dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
• Berdasarkan beberapa standar dari studi literatur dan studi kasus di negara lain, serta mengacu pada klasifikasi taman menurut Departemen Pekerjaan Umum, Bappeda Provinsi jawa Barat, dan Dinas Pertamanan
dan Pemakaman Kota Bandung, yang termasuk kategori taman lingkungan adalah:
o Merupakan taman aktif yang dapat digunakan untuk beraktifitas baik aktifitas aktif maupun aktifitas pasif (Departemen Pekerjaan Umum; Bappeda Provinsi Jawa Barat; City of Rochester’s Park and Recreation Plan).
o Memiliki ukuran minimal 1.250 m2, melayani 2.500 penduduk atau setingkat RW (Departemen Pekerjaan Umum; Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung; Eriawan).
o Terletak di pusat lingkungan permukiman, serta dapat diakses dengan mudah oleh penduduk setempat dengan berjalan kaki atau bersepeda, yaitu 400-1.600 m (Mertes; City of Morgan Hill; Houston Government; Departemen Pekerjaan Umum; Bappeda Provinsi Jawa Barat).
o Jalan yang melingkupi taman lingkungan adalah jalan lokal dan tidak diganggu oleh jaringan jalan non-permukiman lainnya (Mertes; City of Morgan Hill; Houston Government).
• Berdasarkan hasil observasi awal tehadap taman-taman yang tersedia di Kota Bandung bagian barat, taman yang memiliki luas <1.250 m2 hanya berupa taman pulau jalan (taman pasif) yang merupakan kumpulan semak, perdu dan pohon besar yang dipagari dan tidak memiliki fasilitas taman serta tidak dapat digunakan oleh pengguna untuk beraktifitas baik aktif maupun pasif. Sedangkan taman yang memiliki luas >5.000 m2 merupakan taman skala kelurahan hingga taman skala kota yang melayani banyak kawasan permukiman, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai taman lingkungan. Oleh karena itu wilayah studi yang dipilih adalah taman yang memiliki luas 1.250-5.000 m2.
• Dari keseluruhan taman yang memiliki luas 1.250-5.000 m2, hanya beberapa taman saja yang dapat dikategorikan sebagai taman lingkungan, sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan sisanya adalah taman yang berfungsi sebagai taman pulau jalan serta taman-taman yang tidak berlokasi di pusat lingkungan perumahan/permukiman atau berlokasi di jalan utama (arteri dan kolektor).
Tabel I.1
Taman di Kota Bandung Bagian Barat dengan Luas 1.250-5.000 m2
No Jenis Taman Nama Taman
1.
Taman yang hanya berupa pulau jalan, tidak terdapat fasilitas-fasilitas taman serta tidak dapat digunakan untuk beraktifitas (aktif ataupun pasif) Æ Taman Pasif
Taman Kopo Kencana, Taman Cimindi, Taman Batu, Taman Taman Sukajadi/Sindangsirna, Taman Dr. Cipto, Taman Abd. Rachmansaleh, Taman Tritisan Kencana
Dilingkupi oleh jaringan jalan non-lokal
Taman Setiabudhi/Cipaganti, Taman Sukajadi/Panglayungan, Taman Dr. Otten, Taman Monumen KTT Non-Blok
2.
Taman yang memiliki fasilitas-fasilitas taman dan dapat digunakan oleh pengguna untuk beraktifitas (aktif ataupun pasif) Æ Taman Aktif Berlokasi di pusat lingkungan perumahan/ permukiman dan dilingkupi oleh jalan lokal
Taman Pandawa, Taman Lesmana
Sumber: Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung & Hasil Observasi, 2007
Berdasarkan hal tersebut, maka taman lingkungan yang menjadi objek studi adalah Taman Lesmana dan Taman Pandawa:
Tabel I.2
Taman Lingkungan sebagai Objek Studi
No Nama Taman Lokasi Luas
1. Taman Lesmana Jl.Lesmana, Kecamatan Cicendo 1.439 m2
2. Taman Pandawa Jl.Pandawa, Kecamatan Cicendo 3.085 m2
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian mencakup pendekatan studi dan tahapan kegiatan untuk mencapai setiap sasaran studi yang telah ditentukan. Pendekatan studi secara umum merupakan pendekatan dalam menyusun prinsip perancangan taman lingkungan dengan menggunakan pendekatan normatif, sediaan (supply), dan permintaan (demand). Pendekatan dalam menyusun prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan mempertimbangkan ketentuan normatif perancangan taman lingkungan, preferensi masyarakat (demand), dan kondisi taman lingkungan yang ada saat ini (supply). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di kerangka pemikiran studi pada gambar 1.2.
Untuk mencapai sasaran studi, maka metode penelitian yang dilakukan meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Perumusan kriteria atau aspek-aspek yang menjadi perhatian (issues of concern) dan komponen-komponen yang diatur (scope of issues) dalam perancangan taman lingkungan.
Pencapaian sasaran dilakukan melalui studi dari berbagai literatur untuk merumuskan issues of concern dan scope of issues dalam perancangan taman lingkungan, beserta indikator sebagai tolak ukur pencapaian pengaturan scope of issues. Keluaran yang akan dihasilkan dari tahapan ini adalah berupa kriteria, komponen yang diatur, dan indikator dalam perancangan taman lingkungan.
Data yang dibutuhkan adalah data sekunder yang didapat dari kajian literatur yang bersumber dari buku-buku, peraturan, artikel serta studi-studi yang pernah dilakukan sebelumnya.
2. Peniliaian kondisi taman lingkungan yang menjadi objek studi berdasarkan kriteria, komponen, dan indikator peniliaian yang telah dirumuskan pada sasaran 1. Penilaian dilakukan melalui observasi lapangan (survei data primer), yaitu dengan pengamatan langsung terhadap kondisi objek studi. Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penilaian kondisi fisik taman yang digunakan adalah kesesuaian kondisi yang ada dengan kriteria, komponen dan indikator perancangan taman lingkungan seperti yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk tahap ini dilakukan metode pembobotan untuk masing-masing kriteria
(Lampiran D). Adapun kategori penilaian kualitas taman adalah sebagai berikut:
• Baik (skor: 3), yaitu komponen yang ada melebihi atau sesuai dengan indikator;
• Sedang (skor: 2), yaitu komponen yang ada mendekati indikator;
• Buruk (skor: 1), yaitu komponen yang ada jauh di bawah indikator;
• Sangat buruk (skor: 0), yaitu tidak terdapat komponen yang dimaksud.
Selain itu, dilakukan pula penilaian berdasarkan persepsi masyarakat setempat yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Penilaian ini ditujukan agar diketahui gambaran mengenai kualitas taman lingkungan yang ada dan menemukan kelemahan-kelemahan serta ketidaksesuaian fasilitas taman dengan kriteria, komponen, dan indikator yang telah disusun pada sasaran 1. Jumlah responden yang menjadi sampel untuk lingkungan Taman Lesmana dan Taman Pandawa masing-masing adalah 58 dan 70 responden. Metode sampling yang digunakan adalah metode sampel acak proporsional (proportional random sampling), yang dijelaskan lebih rinci pada Lampiran B.
Analisis yang digunakan adalah analisis perbandingan antara kriteria, komponen, dan indikator yang telah disusun sebelumnya dengan kondisi hasil observasi dan persepsi masyarakat setempat.
3. Identifikasi preferensi masyarakat setempat terhadap fasilitas taman lingkungan yang menjadi objek studi meliputi permintaan masyarakat terhadap kondisi fisik taman seperti penyediaan fasilitas taman, serta kondisi non-fisik taman seperti jenis aktifitas yang diinginkan di taman. Data dikumpulkan melalui survei data primer berupa penyebaran kuesioner, dengan jumlah responden untuk masing-masing lingkungan Taman Lesmana dan Taman Pandawa sebanyak 58 dan 70 responden. Penjelasan lebih jauh mengenai metode pengambilan sampel dijelaskan pada Lampiran B.
4. Penyusunan prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan dilakukan berdasarkan ketentuan normatif perancangan taman lingkungan, preferensi masyarakat setempat sekitar taman, serta kondisi yang ada saat ini, yang meliputi ketentuan perancangan taman lingkungan
berdasarkan kriteria-kriteria keamanan, keselamatan, kesehatan, daya tarik, kenyamanan, aksesibilitas, dan keindahan.
Ketentuan normatif perancangan taman lingkungan disusun berdasarkan studi literatur terhadap norma perancangan taman lingkungan yaitu dengan mempertimbangkan:
• Kebutuhan dasar manusia (Maslow: 1943 dalam Huitt: 2004).
• Kriteria perancangan kota secara umum (Lang: 1994; City of Tuscon Departement of Urban Planning and Design: 2007).
• Kriteria perancangan taman dan ruang terbuka publik secara umum (Carr: 1992; Majlis Perbandaran Seberang Perai: 2007; Eriawan: 2003).
• Krteria perancangan taman lingkungan (Marcus & Francis: 1980; Hou & Lowber: 2007; Vancouver Government: 2007; Enger: 2005; Rochester Government: 2007).
Preferensi masyarakat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan prinsip-prinsip perancangan, dengan aturan pengambilan keputusan sebagai berikut:
• Untuk kriteria keamanan, keselamatan, dan kesehatan, yang menjadi prioritas utama sebagai pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan adalah ketentuan normatif, kecuali apabila preferensi masyarakat lebih tinggi dari ketentuan normatif, maka preferensi masyarakat yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan.
• Untuk kriteria kenyamanan dan daya tarik:
o Jika preferensi masyarakat lebih rendah dari ketentuan normatif, maka preferensi masyarakat masih dapat dijadikan pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan, selama tidak terlalu jauh melenceng dari ketentuan normatif.
o Jika preferensi masyarakat sejalan dengan ketentuan normatif, maka preferensi masyarakat dan ketentuan normatif digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan.
o Jika preferensi masyarakat lebih tinggi dari ketentuan normatif, maka preferensi masyarakat yang digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan.
• Untuk krtieria aksesibilitas dan keindahan, yang menjadi prioritas utama sebagai pertimbangan dalam penyusunan prinsip perancangan adalah preferensi masyarakat.
Metode Penelitian
No Sasaran Data Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Keluaran
1. Merumuskan kriteria (issues of concern) dan komponen yang diatur (scope of issues) dalam perancangan taman lingkungan
Data sekunder dari berbagai literatur tentang perancangan taman
Kajian literatur Penentuan kriteria, komponren dan indikator dengan cara mengkaji ketentuan normatif perancangan taman lingkungan dari berbagai literatur
Kriteria, komponen, dan indikator perancangan taman lingkungan
2. Menilai kondisi taman lingkungan yang menjadi objek studi
- Data primer. Berupa data hasil observasi lapangan dan persepsi masyarakat setempat - Data hasil sasaran 1
- Observasi lapangan terhadap objek studi
- Penyebaran kuesioner kepada masyarakat setempat mengenai kondisi objek studi
Analisis komparatif dengan membandingkan kriteria, komponen dan indikator terhadap hasil observasi dan persepsi masyarakat
Gambaran mengenai kondisi dan kualitas taman lingkungan yang menjadi objek studi
3. Mengidentifikasi preferensi masyarakat setempat terhadap fasilitas taman lingkungan yang menjadi objek studi
- Data primer. Berupa
data preferensi masyarakat setempat terhadap kondisi fisik dan non-fisik objek studi - Data hasil sasaran 1
Penyebaran kuesioner kepada masyarakat setampat sebagai responden
Menyimpulkan keinginan masyarakat mengenai fasilitas dan aktifitas di dalam taman dengan cara mengambil mayoritas pilihan responden sebagai preferensi masyarakat
Gambaran mengenai kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas, kondisi dan kualitas taman, serta aktifitas yang diinginkan di taman
4. Menyusun prinsip perancangan taman lingkungan
Hasil sasaran 1, 2, 3 Studi literatur dan kompilasi data hasil sasaran 1, 2, 3
Kesimpulan dengan mempertimbangkan kondisi saat ini (supply), studi normatif, dan preferensi masyarakat setempat (demand)
Prinsip perancangan taman lingkungan
Gambar 1.2
Kerangka Pemikiran Studi
Penyediaan taman lingkungan belum
memperhatikan kebutuhan masyarakat
Perlunya prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan yang memperhatikan kebutuhan
masyarakat
Kajian literatur mengenai perancangan taman
lingkungan
Penilaian kondisi taman Observasi terhadap karakteristik taman yang
menjadi objek studi Preferensi masyarakat
mengenai fasilitas taman yang menjadi objek studi
Persepsi masyarakat mengenai kualitas taman yang menjadi
objek studi
Prinsip-prinsip perancangan taman lingkungan
LATAR BELAKANG
KAJIAN TEORITIS
IDENTIFIKASI & ANALISIS
KELUARAN
Kriteria atau aspek yang diperhatikan (issue of concern)
dalam perancangan taman lingkungan
Komponen yang diatur (scope of issues) dalam perancangan taman
lingkungan Kriteria, komponen, dan
indikator perancangan taman lingkungan Program Pengembangan Taman Lingkungan Program Pengembangan Taman Penilaian kondisi taman berdasarkan hasil observasi Penilaian kondisi taman berdasarkan persepsi masyarakat
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada bab-bab selanjutnya adalah sebagai berikut:
BAB 2 DASAR-DASAR PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN
Bab ini akan menjelaskan pengertian taman, klasifikasi dan jenis taman, definisi taman lingkungan, kebijakan dan peraturan pertamanan, program pengembangan taman, preferensi masyarakat sebagai pertimbangan perancangan taman lingkungan, serta kriteria, komponen dan indikator dalam perancangan taman lingkungan.
BAB 3 KONDISI DAN KUALITAS TAMAN LESMANA DAN TAMAN PANDAWA
Bab ini menjelaskan karakteristik yang dimiliki wilayah penelitian (Taman Lesmana dan Taman Pandawa), yaitu mencakup karaktersitik fisik, karakteristik pengguna dan penggunaan taman, analisis tapak Taman Lesmana dan Taman Pandawa, persepsi responden terhadap kondisi taman, serta preferensi responden terhadap fasilitas taman.
BAB 4 PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN
Bab ini akan menjelaskan temuan studi, kesimpulan studi, penyusunan program pengembangan taman, penyusunan prinsip-prinsip perancangan umum dan khusus, dan diakhiri dengan rekomendasi, kelemahan studi serta saran studi lanjutan.