• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompresi Citra Medis Dengan Wavelet Packet.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kompresi Citra Medis Dengan Wavelet Packet."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ISSN : 2302-450X

PROSIDING

PERTEMUAN DAN PRESENTASI KARYA ILMIAH

BALI, 23 OKTOBER 2015

PEMBICARA UTAMA SEMINAR PANEL DENGAN TEMA

Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam

Menunjang Technopreneurship

Ir.Onno Widodo Purbo.M.Eng.Ph.D

Putu Sudiarta, S.Kom

PENYUNTING AHLI

Dr. Ahmad Ashari.M.Kom

(3)

PELAKSANA SEMINAR

PELINDUNG

Rektor Universitas Udayana, Bali

PENANGGUNG JAWAB

Dekan Fakultas MIPA Universitas Udayana

Ketua Program Studi Teknik Informatika, FMIPA Universitas Udayana

PANITIA

I Gusti Agung Gede Arya Kadyanan,S.Kom.,M.Kom.

I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan,S.Kom.,M.Cs.

I Wayan Supriana,S.Si.,M.Cs.

Ida Bagus Made Mahendra, S.Kom., M.Kom.

I Komang Ari Mogi, S.Kom, M.Kom.

I Made Widi Wirawan, S.Si., M.Cs.

I Putu Gede Hendra Suputra, S.Kom., M.Kom.

Ngurah Agus Sanjaya ER., S.Kom., M.Kom.

Agus Muliantara, S.Kom.,M.Kom.

I Made Widiartha,S.Si., M.Kom.

Made Agung Raharja, S.Si., M.Cs.

I Gusti Ngurah Anom Cahyadi Putra, S.T., M.Cs.

I Gede Santi Astawa, S.T., M.Cs.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas terselesainya

penyusunan

Proceeding

SNATIA 2014 ini. Buku ini memuat naskah hasil penelitian dari

berbagai bidang kajian yang telah di

review

oleh pakar dibidangnya dan telah

dipresentasikan dalam acara Seminar SNATIA tahun 2015 pada tanggal 23 Oktober 2015

di Universitas Udayana kampus Bukit Jimbaran, Badung, Bali.

Kegiatan SNATIA 2015 merupakan agenda tahunan Program Studi Teknik

Informatika, Jurusan Ilmu Komputer, Universitas Udayana. SNATIA 2015 mengambil

tema

Inovasi

Teknologi

Informasi

dan

Komunikasi

dalam

Menunjang

Technopreneurship

”, dengan pembicara utama se

minar yang terdiri dari pakar-pakar

peneliti dan Pemerhati dibidang Teknologi Informasi dan Technopreneurship.

Meskipun kegiatan seminar dan pendokumentasian naskah dalam

proceeding

ini telah

dipersiapkan dengan baik, namun kami menyadari masih banyak kekurangannya. Untuk itu

panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan juga mengucapkan terimakasih atas

kepercayaan dan kerjasamanya dalam kegiatan ini. Kritik dan saran perbaikan sangat

diharapkan untuk penyempurnaan di masa mendatang, yang dapat dikirimkan melalui

e-mail [email protected].

Kepada semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung dalam

penyelenggaraan

seminar,

dan

penyusunan

proceeding

SNATIA

2015,

panitia

mengucapkan terima kasih.

Denpasar, 17 Oktober 2015

(5)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Kehadiran Pegawai pada Pusat

Penelitian Perkembangan IPTEK Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Warkim ... ...

1

Kompresi Citra Medis dengan Wavelet Packet

I Made Ari Dwi Suta Atmaja

...

11

Ekstraksi Fitur Warna dan Tekstur untuk Clustered-Based Retrival if Images

(CLUE)

Sugiartha I Gusti Rai Agung ...

16

Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menggunakan Geogebra sebagai

Media Pembelajaran Matematika SMP

Luh Putu Ida Harini...

21

Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Belajar Bersama

Menggunakan Media Google Drive dan Tanpa Google Drive

Desak Putu Eka Nilakusuma...

28

Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Actual Usage dalam

Penggunaan Tiket Elektronik dengan Menggunakan Technology Acceptance

Model (TAM) Studi Kasus PT.KAI Commuter Jabodetabek

Enok Tuti Alawiah ...

35

Pemanfaatan Aplikasi Google Docs sebagai Media Pembinaan Karya Ilmiah

Remaja

Komang Dharmawan ...

45

Penerapan WAN dengan Protokol Routing RIP dan Passive Interfaces

sebagai Pemilihan Jalur Menggunakan GNS3

Anggarda Sanjaya ...

49

Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Maajemen Rumah Sakit

pada Unit Rawat Inap Studi Kasus Rumah Sakit Umum Famili Husada

I Dewa Ayu Kompyang Putri Utari ...

54

Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit

Umum Famili Husada pada Unit Poliklinik

(6)

Mengukur Kinerja Load Balancing pada Sistem Cloud Computing dengan

Parameter Throughput

I Gusti Ngurah Ary Juliantara ...

71

Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Manajemen Gudang pada

Rumah Sakit Famili Husada

Luh Gede Apryta Astaridewi ...

77

Perancangan Website E-Commerce pada Toko Gadget Online Store

Ni Kadek Dwi Asri ...

85

Segmentasi Citra Tulisan Tangan Karakter Aksara Bali Menggunakan

Metode Profile Projection

Ni Wayan Deviyanti Septiari ...

91

Klasifikasi Penyakit Anak pada Proses Retrieve dalam Sistem Pakar Berbasis

Case Based Reasoning (CBR) dengan Metode Nearest Neighbour

Ni Wayan Ririn Puspita Dewi...

98

Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Manajemen Instalasi

Gawat Darurat pada Rumah Sakit Famili Husada

Putu Ita Purnama Yanti ...

105

Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web untuk

Mengetahui Ketersedian Air Tanah di Provinsi Bali

Made Dinda Pradnya Pramita ...

112

Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit

pada Unit Radiologi

Studi Kasus Rumah Sakit Umum Famili Husada

I Putu Agustina .... ...

120

Pengamanan File Video MP4 dengan Metode Enkripsi Menggunakan

Algoritma RC5

Rahmantogusnyta Mariantisna...

128

Perancangan dan Implementasi Sistem Informasi Geografis Pariwisata di

Bali Berbasis Web

(7)

11

KOMPRESI CITRA MEDIS DENGAN

WAVELET PACKET

I Made Ari Dwi Suta Atmaja

1

, I Made Oka Widyantara

2

,Linawati

2

1

Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali 2

Program Studi Magister Teknik Elektro, Universitas Udayana Email: [email protected], [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Penggunaan citra medis dewasa ini mulai meningkat. Penyimpanan dan pengiriman citra medis dalam bentuk aslinya akan membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kompresi. Wavelet packet adalah salah satu metode kompresi citra lossy yang terbaru. Wavelet packet menyimpan semua hasil dekomposisi, dan bukan hanya bagian aproksimasinya. Dengan demikian, diharapkan citra hasil kompresi memiliki kualitas yang lebih baik. Hasil transformasi akan dikodekan dengan RLE, dimana sebelumnya akan diberikan threshold. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan packet wavelet dalam melakukan kompresi citra medisKualitas citra akan diukur secara kuantitatif dengan PSNR.Hasil rata-rata PSNR adalah sebesar 32,77db dengan rasio sebesar 42,6%. Rata-rata waktu kompresi dan dekompresi yaitu sebesar 5 detik dan 3,7 detik.

Kata Kunci: wavelet packet, threshold, kompresi, citra medis

ABSTRACT

Nowadays the use of medical images begins to rise. Store and delivermedical images in their original form would require enormous resources. In order to save the resources, the images should be compressed. Wavelet packet is one method of lossy image compression. Wavelet packet stores all decomposition result, does not only store aproximation part. Thus, we assumne the image compression results will has better quality. Results of the transformation will be encoded with RLE, after thresholding process. The purpose of this study is to determine the ability of wavelet packet to compress medical image. Image quality will be measured quantitatively by PSNR. The average PSNR is 32.77db with a ratio of 42.6%. Average time compression and decompression that is equal to 5 seconds and 3.7 seconds.

Keywords: wavelet packet, threshold, compression, medical images

1

PENDAHULUAN

Dalam dunia medis ataupun sekolah kedokteran, citra medis memegang peranan penting.Data berupa citra ini seringkali digunakan untuk kepentingan belajar, analisa dan diagnosa.Citra medis yang dihasilkan oleh sebuah lembaga kesehatan saat ini begitu banyak. Menurut Placidi[1] dan Baeza [2], sebuah rumah sakit menengah saat ini bisa menghasilkan rata-rata 5GB hingga 15 GB data. Hal tersebut akan menyulitkan rumah sakit untuk menangani data sebesar itu. Tidak hanya pada masalah penyimpanan yang membutuhkan memori besar, namun setiap saat data citra tersebut perlu ditransmisikan. Citra dengan ukuran yang besar akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk ditransmisikan, sehingga hal ini akan mengakibatkan lambatnya diagnosa dan penanganan pasien.

Kompresi citra dalam hal ini memegang peranan penting. Kompresi citra merupakan suatu metode yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan memori, sehingga akan memudahkan penyimpanan, pengolahan serta waktu pengiriman

data digital lebih singkat dibandingkan dengan data yang tidak terkompresi. Terdapat banyak metode kompresi citra hingga saat ini.Semua metode tersebut digolongkan ke dalam 2 jenis yaitu losy dan lossless. Kompresi losy ini biasanya memiliki rasio kompresi yang baik, namun kualitas citra menjadi menurun karena terdapat informasi pada citra yang hilang, sebaliknya kompresi lossless merupakan teknik kompresi dengan kualitas citra rekonstruksi yang sama dengan citra asli, namun pada sebagian besar citra alami menghasilkan rasio yang buruk.

(8)

ISSN : 2302

450X

12

penelitian terkini tentang metode kompresi citra medis menunjukkan bahwa permasalahan ini sangat penting dan menjadi perhatian bagi banyak ilmuwan dunia.Melihat pentingnya permasalahan ini, maka sebenarnya diperlukan sebuah metode kompresi yang baik, sehingga penulis melakukan penelitian untuk mengompresi citra medis dengan mengaplikasikan packet wavelet transform (PWT) dan pengkodean lossless RLE untuk menjaga agar kualitas citra tetap baik.

Prinsip dasar PWT adalah mendapatkan representasi waktu dan skala dari sebuah sinyal menggunakan teknik filter digital dan operasi sub sampling. Transformasi wavelet menggunakan 2 komponen penting dalam melakukan transformasi, yaitu skala (scaling function) atau lowpass filtering dan wavelet (wavelet function) atau highpass filtering. Beberapa penelitian seperti [8, 9] menunjukkan bahwa wavelet mampu memberikan kualitas citra hasil kompresi yang baik dengan rasio yang cukup tinggi. Teknik wavelet yang biasa digunakan adalah discrete wavelet transform (DWT), dimana hanya elemen frekuensi rendah saja yang didekomposisi lebih dalam, sedangkan elemen frekuensi tinggi tidak didekomposisi lebih lanjut. Penelitian ini mencoba melakukan dekomposisi pada setiap elemen, baik dengan frekuensi rendah maupun tinggi dengan packet wavelet transform (PWT). Di sinilah letak perbedaan pokok antara DWT dan PWT yaitu PWT tidak hanya melakukan dekomposisi pada elemen frekuensi rendah saja, namun juga pada elemen frekeunsi tinggi.Tujuannya dilakukannya dekomposisi seperti itu adalah untuk meningkatkan kualitas citra hasil dekompresi. Rasio dalam hal ini akan tetap dijaga dengan pemberian threshold. Menurut Kharate dan Patil [8], rasio dan kualitas yang baik bisa diperoleh dengan pemberian threshold yang tepat.

Teknik kompresi Run Length Encoding (RLE) telah banyak digunakan.Metode ini memanfaatkan kemuculan nilai piksel secara berulang pada lokasi yang berderetan.Metode ini bekerja sangat baik pada data dengan perulangan nilai yang banyak.Mengingat bahwa metode ini merupakan metode kompresi lossless yang tetap menjaga kualitas asli data sebelum dan sesudah dikompresi, maka metode ini cocok diterapkan pada data hasil transformasi wavelet citra medis, sehingga tidak ada informasi yang hilang. Penelitian yang pernah dilakukan untuk kompresi citra dengan RLE yaitu Chakraborty dan Benerjee [10] yang dalam penelitiannya menggunakan Enhanced RLE, dengan memodifikasi RLE yang biasa, sehingga mengahasilkan rasio yang baik dengan kualitas citra dekompresi yang terekonstruksi dengan sempurna.

Dari informasi yang disampaikan di atas, transformasi wavelet paket (PWT) dan RLE merupakan perpaduan yang baik untuk menghasilkan rasio kompresi yang tinggi namun dengan kualitas

citra medis yang baik. Dalam penelitian ini, juga akan dilakukan penelitian nilai threshold yang baik. Oleh karena itu, penelitian Kompresi Citra Medis dengan Packet Wavelet Transform dan Pengkodean Run Length Encoding diharapkan memberikan hasil baik. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah rasio kompresi yang tinggi dan citra hasil dekompresi dengan kualitas yang baik.

2

MODEL, ANALISIS, DESAIN, DAN

IMPLEMENTASI

2.1Gelombang Singkat (Wavelet)

Wavelet merupakan bentuk sinyal dengan durasi yang pendek dan terbatas yang memiliki nilai rata-rata sebesar 0 [11]. Algoritma Wavelet memproses data pada ukuran-ukuran atau resolusi-resolusi yang berbeda. Melihat suatu sinyal dengan window (jendela) yang besar, diperoleh gambar yang besar. Bila melihat dengan window yang kecil, akan diperoleh gambar yang kecil.

2.2 Haar Wavelet

Menurut Fugal [11], Haar Wavelet merupakan wavelet yang paling sederhana, paling pendek dan yang paling pertama digunakan. Meskipun Haar kontinyu tidak ada dalam kehidupan nyata komputer digital, namun estimasi yang baik bisa dihasilkan dengan melakukan upsampling interpolasi (low pass

filtering) pada filter H’ [1 -1] untuk menghasilkan titik-titik perkiraan yang banyak. Adapun Haar wavelet ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Haar wavelet

Fugal (2009) menyatakan bahwa Haar wavelet hanya memiliki 2 titik filter dasar, yaitu :

Low pass filter (L) : [1 1] High pass filter (H) : [-1 1]

Inverse low pass filter (L’) : [1 1] Inverse high pass filter (H’) : [1 -1]

2.3 Multi-Level Packet 2-D Wavelet

Transformation (PWT)

Dekomposisi PWT 2 dimensi pada sembarang level ditunjukkan pada Gambar 2. Pada Gambar 2 terlihat bahwa citra mengalami satu level dekomposisi dan menghasilkan 4 subbands, yaitu :

(9)

I Made Ari Dwi Suta Atmaja, Kompresi Citra Medis Dengan Wavelet Packet

13

2. Koefisien Detail Vertikal (subband LH). 3. Koefisien Detail Horizontal (subband HL). 4. Koefisien Detail Diagonal (subband HH).

Tanda panah ke bawah pada Gambar 2 merupakan tanda untuk dilakukannya downsampling dengan membuat panjang aL menjadi setengah kali dari panjangnya semula. Salah satu teknik downsampling yang biasa dilakukan adalah dengan menghilangkan semua elemen koefisien pada indeks ganjil dan mempertahankan koefisien pada indeks genap. Transformasi dimulai dengan memindai citra secara horizontal dengan lowpass filetering (L) sehingga menghasilkan koefisien aL dan dengan highpass filtering (H) sehingga menghasilkan koefisien aH. Untuk setiap aL dan aH akan di-downsampling, kemudian dilakukan pemindaian secara vertikal dengan L dan H, yang kemudian akan di-downsampling kembali, dan menghasilkan LL, LH, HL, dan HH yang ukurannya adalah seperempat dari ukuran subband sebelumnya.

Gambar 2. Dekomposisi PWT pada level tertentu (Fugal, 2009)

2.4 Peak Signal-To-Noise Ratio (PSNR) dan Mean Square Error (MSE)

Untuk membuat ukuran kualitas hasil pemampatan citramenjadi ukuran kuantitatif digunakan besaran PSNR (peak signal-to-noise ratio). Menurut Sutoyo [12], PSNR dihitung untuk mengukur perbedaan antara citra semula dengan citra hasil pemampatan (tentu saja citra hasil pemampatan harus dinirmampatkan terlebih dahulu), dengan rumus:

PSNR = 20 x log10

MSE

b

(1)

Dengan b adalah nilai sinyal terbesar (pada citra hitam-putih, b = 255) dan mse adalah akar pangkat dua dari selisih antara citra semula dengan citra hasil pemampatan[13]. Nilai mse dihitung dengan rumus:



 

N i M j ij ij

f

f

Tinggi

Lebar

1 1

2 ,

1

=

MSE

(2)

Dalam hal ini,f dan f’ masing-masing menyatakan nilai piksel citra semula dan nilai piksel citra hasil pemampatan. PSNR memiliki satuan decibel (dB). Semakin besar nilai PSNR, semakin bagus kualitas pemampatannya.

2.5. Kompresi Citra dengan PWT dan

Pengkodean RLE

Secara umum aplikasi kompresi citra yang dibuat memiliki arsitektur seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Sembarang citra masukan akan diproses dengan multi-level PWT, di mana dalam hal ini level akan dipilih oleh pengguna. Hasil dekomposisi dalam bentuk matriks akan diberikan threshold, dimana data yang lebih kecil daripada threshold akan diubah menjadi nol, sedangkan sisanya tidak diubah. Hasil pemberlakukan threshold akan dikodekan dengan RLE yang bersifat lossless dengan harapan representasi data bisa lebih singkat sehingga rasio kompresi bisa ditingkatkan tanpa mengurangi nilai PSNR. Kode RLE yang telah terbentuk, akan disimpan pada sebuah file biner. File biner inilah yang merupakan data hasil kompresi. Untuk langkah pembalikan (dekompresi) citra, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka file biner yang berisi kode RLE. Pembacaan data mulai dilakukan untuk mendekodekan data dengan pendekodean RLE. Data hasil decoding RLE selanjutnya akan direkonstruksi dengan filter inverse PWT. Hasil rekonstruksi inilah yang akan ditampilkan kepada pengguna sebagai citra hasil dekompresi.

Gambar 3. Arsitektur Aplikasi Kompresi Citra dengan PWT dan RLE

(10)

ISSN : 2302

450X

14 Mulai Transformasi dengan packet wavelet Pengkodean RLE Baca level dekomposisi Baca threshold

Simpan pada file dat File dat Baca citra

Selesai

Gambar 4. Flowchart Kompresi Citra

Mulai

Rekonstruksi wavelet

Citra dekomposisi Baca File dat

Selesai Pembacaan level

dari file dat

Pendekodean RLE

Gambar 5. Flowchart Dekompresi Citra

Flowchart dekompresi citra ditunjukkan pada Gambar 5. Pada Gambar tersebut tampak bahwa input ke dalam system berupa file dat. Dalam file tersebut terimpan informasi level dekomposisi yang telah dilakukan. Langkah pertama yang dilakukan adalah membaca data kode RLE. Data kode RLE tersebut kemudian didekodekan untuk mendapatkan data hasil transformasi. Data hasil transformasi inilah yang akan direkonstruksi. Hasil rekonstruksi inilah yang merupakan citra hasil dekompresi.

3

SKENARIO UJI COBA

Pengujian terhadap hasil kompresi citra dilakukan dengan PSNR, waktu kompresi dan rasio

kompresi. Perhitungan PSNR akan diawali dengan perhitungan MSE dengan Persamaan 2, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan PSNR dengan Persamaan 2. Nilai PSNR untuk kompresi lossy biasanya adalah 30 and 50 db. Citra yang akan diujikan adalah citra medis keabuan dengan jumlah sebanyak 8 citra. Untuk melihat hasil pengamatan, maka akan dibuatkan tabel pengamatan yang akan menampilkan nama citra, ukuran asli, ukuran kompres, rasio, waktu dan PSNR. Citra yang akan diuji memiliki berbagai ukuran. Hasil akhirnya adalah berupa rata-rata waktu, rasio dan PSNR dari seluruh citra. Tabel 1 menunjukkan tabel pengujian.

Tabel 1. Tabel Rancangan Pengujian Citra Ukuran

Asli

Ukuran Kompres

Rasio Waktu (s)

PSNR (db)

Citra 1 xx xx xx xx xx

Citra 2 xx xx xx xx xx

... ... ... ... ... ...

... ... ... ... ... ...

Citra 10

xx xx xx xx xx

Rata-rata

xx xx xx xx xx

Rasio kompresi akan dihitung dengan rumus pada Persamaan 3. FA merupakan ukuran file asli, sedangkan FK merupakan ukuran file terkompresi.

(3)

4

HASIL UJI COBA

Penelitian ini menggunakan contoh delapan buah citra medis. Adapun mother wavelet yang digunakan adalah Haar. Setelah mengalami proses transformasi, nilai-nilai tersebut akan dikodekan dengan RLE. Thresholdyang digunakan yaitu 35.

Tabel 2. Hasil Pengujian

Ci tra Ukuran File Asli (KB) Ukuran File Kom (KB) Rasio (%) Waktu Komp (dt) Waktu De komp (dt) PSNR

1 249 164 34 0,3 2,7 31,21 2 257 102 60 0,9 5,6 38,25 3 249 194 22 0,3 2,6 30,05 4 249 256 -3 0,2 3,4 30,44 5 249 141 44 0,3 2,2 31,43 6 527 153 71 0,7 4,4 35,46 7 469 222 53 0,6 4,4 32,18 8 469 186 60 0,6 4,2 33,17

Rata 340 177 42,6 0,5 3,7 32,77

(11)

I Made Ari Dwi Suta Atmaja, Kompresi Citra Medis Dengan Wavelet Packet

15

citra yang digunakan untuk pengujian. Setiap barisnya menunjukkan rasio yang dihitung dari Persamaan 3, waktu kompresi, waktu dekompresi dan PSNR. Baris terakhir menujukkan rata-rata dari setiap kolom di atasnya.Pada pengujian tersebut, terdapat satu file dengan rasio yang bernilai minus.Rata-rata rasio sudah baik yaitu sebesar 42,6%. Rata-rata waktu kompresi cukup rendah yaitu 0,5 detik, sedangkan waktu dekompresi sebesar 3,7 detik. Nilai rata-rata PSNR adalah sebesar 32,77.Berdasarkan teori, nilai PSNR tersebut masih bisa diterima.

Gambar 6a dan 6b menunjukkan contoh citra asli, yang kemudian dikompresi dengan mother wavelet Haar, pada level dekomposisi 3 dengan

threshold sebesar 30. Rasio kompresi adalah sebesar 47%, sedangkan PSNR adalah sebesar 32,84db. Waktu kompresi adalah sebesar 0,4 detik, sedangkan waktu dekompresi adalah sebesar 4,9 detik.

Gambar 6a. Citra Asli Gambar 6b. Citra Hasil Dekompresi

5

KESIMPULAN

Kompresi citra dengan wavelet packet dilakukan terhadap delapan citra medis. Percobaan dilakukan dengan nilai threshold 35 dan mother wavelet Haar. Dari hasil pengujian, diperoleh hasil bahwa nilai PSNR masih bisa diterima yaitu sebesar 32,77db dengan rasio sebesar 42,6%.Waktu kompresi dan dekompresi masih bisa diterima yaitu sebesar 5 detik dan 3,7 detik.

Penelitian lebih lanjut bisa dilakukan dengan melakukan eksplorasi pemilihan mother wavelet

yangs sesuai untuk menghasilkan citra terkompresi dengan PSNR dan rasio yang baik.

6

DAFTAR PUSTAKA

[1] Placidi, G., 2009.Adaptive compression algorithm from projections: Application on medical greyscaleimages. J. Comput. Biol. Med. 39: pg 993–999.

[2] Baeza, I., Verdoy, A., 2009.ROI-based Procedures for progressive transmission of digital images: Acomparison. Elsevier J. Math. Comput.Model.50, pg 849–859.

[3] Agrawal,J.P., Vijay. R., 2012.Wavelet Compression Of Ct Medical Images. International Journal of Scientific Research

Engineering & Technology (IJSRET)Volume 1 Issue3. pp 045-051.

[4] Ruchika, Singh, M., Singh, A. R., 2012.Compression of Medical Images Using Wavelet Transforms. International Journal of Soft Computing and Engineering (IJSCE)ISSN: 2231-2307, Volume-2, Issue-2, pg. 339-343. [5] PraveenKumar, E., Sumithra, M. G., 2013.

Medical Image Compression Using Integer Multi Wavelets Transform for Telemedicine Applications. International Journal Of Engineering And Computer Science ISSN:2319-7242Volume 2 Issue 5 May, pg 1663-1669.

[6] Bairagi, V. K., Sapkal, A. M., 2013. ROI-based DICOM image compression for

telemedicine.Sādhanā Vol. 38, Part 1, pp. 123–

131.

[7] Ramesh,S.M., Shanmugam, A., 2010. Medical Image Compression using WaveletDecomposition for Prediction Method. (IJCSIS) International Journal of Computer Science and Information Security, Vol. 7, No. 1, 2010 pg. 262-265.

[8] Kharate, G. K., Patil,V. H., 2010. Color Image Compression Based On Wavelet Packet Best Tree.IJCSI International Journal of Computer Science Issues, Vol. 7, Issue 2, No 3, pg. 31-35. [9] Alwan, I. M., 2012.Image Compretion Using

Wavelet Transform With Rle. Al- Mustansiriya J. Sci Vol. 23, No 3, Pg 173-172.

[10] Chakraborty, D., Banerjee, S., 2011. Efficient Lossless Colour Image Compression Using Run Length Encoding and Special Character Replacement. International Journal on Computer Science and Engineering (IJCSE) Vol. 3 No. 7.pg 2719-2725.

[11] Fugal, D. L., 2009. Conceptual Wavelets In Digital Signal Processing. Space and Signal Technologies.

[12] Sutoyo, T., Mulyanto, E., Suhartono, V., Nurhayati, O. D., Wijanarto, 2009. Teori Pengolahan Citra Digital. Andi : Yogyakarta. [13] Munir, R., 2004. Pengolahan Citra Digital

Gambar

Gambar 1. Haar wavelet
Gambar 2. Dekomposisi PWT pada level tertentu (Fugal, 2009)
Gambar 4. Flowchart Kompresi Citra
Gambar 6a. Citra Asli

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tentang Implementasi Metode Run Length Encoding Dalam Kompresi Citra Dengan Citra Hitam Putih, diharapkan bisa bermanfaat dalam bidang pemampatan data

RLE (Run Length Encoding) adalah salah satu algoritma yang dapat digunakan untuk melakukan kompresi data sehingga ukuran data yang dihasilkan menjadi lebih

Algoritma Run-Length Encoding dan algoritma Elias Delta Code merupakan metode yang dapat digunakan dalam proses kompresi citra

Dari hasil pengujian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil citra kompresi dengan ukuran 512 piksel yang baik mengacu pada nilai PSNR maka

ada nilai error atau nilai MSE dan PSNR dari citra hasil dekompresi. Untuk ratio yang dihasilkan dari metode kompresi Run Length Encoding ini cukup besar,

Pada pengerjaan skripsi dengan judul Implementasi kombinasi metode Huffman dan Run Length Encoding (RLE) untuk kompresi citra, penulis menyadari bahwa banyak campur tangan pihak

Berdasarkan pada data tersebut, maka sebuah metode kompresi yang baik sangat dibutuhkan, sehingga penulis melakukan penelitian mengenai kompresi citra medis dengan

Penelitian selanjutnya oleh [1], mengenai Analisis dan Implementasi Kompresi File Audio dengan Menggunakan Algoritma Run Length Encoding (RLE) menyimpulkan