PROGRAM BIMBINGAN KARIR UNTUK MENINGKATKAN KEMATANGAN KARIR SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Studi Deskriptif Terhadap Siswa Kelas XI SMK Nasional Depok Tahun Ajaran 2009/2010.

52 

Teks penuh

(1)

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UNGKAPAN TERIMA KASIH ... iii

ABSTRAK ... vi A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Rumusan Masalah ...13

C. Tujuan Penelitian ...15

D. Manfaat Penelitian ...16

E. Definisi Operasional ...16

F. Metode Penelitian ...20

G. Lokasi dan Sampel Penelitian ...20

H. Analisis Data ...21

BAB II LANDASAN TEORITIK BIMBINGAN KARIR UNTUK MENINGKATKAN KEMATANGAN KARIR REMAJA A. Definisi Karir ...23

B. Teori-teori Karir ...25

C. Perkembangan Karir ... ...31

D. Kematangan Karir Remaja ...40

(2)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian ...62

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ...63

C. Definisi Operasional dan Variabel Penelitian ...64

D. Pengembangan Instrumen Penelitian ...67

E. Analisis dan Penafsiran Data ...73

F. Prosedur Penelitian ...74

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Kematangan Karir Siswa SMK Nasional Depok ...76

B. Pengembangan Program Bimbingan Karir ...82

C. Hasil Validasi Empirik Program Bimbingan Karir Untuk Meningkatkan Kematangan Karir Siswa SMK ...94

D. Program Hipotetik Bimbingan Karir Untuk Meningkatkan Kematangan Karir Siswa ... BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan ...108

B. Rekomendasi ...109

DAFTAR PUSTAKA ...112 LAMPIRAN -LAMPIRAN

(3)

Halaman

Tabel 1.1 Masalah yang Dialami Siswa SMA Negeri Provinsi Sumatera Barat Tahun 1987

... 10

Tabel 2.1 Lingkungan Okupasional (Modal Occupational Environment) ... 28

Tabel 2.2 Tahapan Perkembangan Karir ... 34

Tabel 2.3 Karakteristik Perkembangan Karir Remaja ... 43

Tabel 3.1 Pola skor Opsi Alternatif Respons Model Summated Ratings (Likert) Pada Instrumen Penelitian ... 68

Tabel 3.2 Kisi-kisi Kematangan Karir ... 69

Tabel 3.3 Kriteria Koefisien Reliabilitas ... 72

Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Kecenderungan Kematangan Karir Siswa ... 73

Tabel 4.1 Profil Kematangan Karir Seluruh Siswa Kelas XI SMK Nasional Depok Tahun Ajaran 2009/2010 ... 76

Tabel 4.2 Profil Indikator Kematangan Karir Siswa Kelas XI SMK Nasional Depok Tahun Ajaran 2009/2010 ... 81

Tabel 4.3 Rencana Operasional Program Bimbingan Karir Di SMK Nasional Depok .... 88

Tabel 4.4 Hasil Validasi Empiris Program Bimbingan Karir Untuk Meningkatkan Kematangan Karir Siswa ... 92

(4)

Halaman

Gambar 2.1 The Life-Career Rainbow: Six Life Roles In Schematic Life Space ... 38

Gambar 2.2 Tahapan-tahapan Hidup dan Subtahapan-subtahapan Berdasarkan Tipe Tugas-tugas Perkembangan Tahapan Perkembangan Karir ... 39

(5)

Halaman

Grafik 4.1 Profil Tingkat Kematangan Karir Siswa Kelas XI SMK Nasional Depok Tahun

Ajaran 2009/2010 ... 77

(6)

LAMPIRAN 1. Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Pembimbing LAMPIRAN 2. Surat Permohonan Ijin Melaksanakan Penelitian LAMPIRAN 3. Instrumen Penelitan

LAMPIRAN 4. Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian LAMPIRAN 5. Data Pre-Test Kematangan Karir Siswa LAMPIRAN 6. Data Profil Kematangan Karir Siswa

LAMPIRAN 7. Data Profil Kematangan Karir Siswa Pada Setiap Indikator LAMPIRAN 8. Data Post-Test Kematangan Karir Siswa

LAMPIRAN 9. Data Uji Efektivitas Program Bimbingan Karir Untuk Meningkatkan Kematangan Karir Siswa

LAMPIRAN 10. Data Uji Efektivitas Program Bimbingan Karir Untuk Meningkatkan Kematangan Karir Siswa Pada Setiap Indikator

LAMPIRAN 11. Contoh Form Jawaban Siswa (Pre-Test Dan Post Test)

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada Bab pendahuluan dari pembahasan penelitian ini akan dimulai dengan pembahasan mengenai latar belakang masalah, dilanjutkan dengan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, metoda penelitian, lokasi dan sampel penelitian dan diakhiri dengan analisis data.

A. Latar Belakang Masalah

Memasuki Abad 21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

(8)

Berkaitan dengan hal tersebut, Tolbert dalam Supriatna (2009) mengemukakan bahwa untuk menghadapi era globalisasi dibutuhkan manusia-manusia yang unggul secara individualistik dan partisipatoris. Yaitu pribadi yang mampu menggali perkembangan potensinya untuk menemukan jalan strategi terbaik, sehingga mampu bertahan untuk melawan arus perubahan dan persaingan yang semakin kuat. Dibutuhkan keunggulan sumber daya manusia yang memiliki kepercayaan diri yang kuat, mampu memilih dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab serta menghargai kemampuan orang lain sebagai rekan dalam hidup bermasyarakat.

Untuk menciptakan suatu generasi yang tangguh dengan kekuatan sumber daya manusia seperti tersebut di atas, pembangunan di bidang pendidikan merupakan salah satu upaya dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud sesuai dengan fungsi pendidikan nasional yang

termaktub dalam Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 BAB II Pasal 3, yaitu:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(9)

sehingga menjadi individu yang mampu berkembang secara optimal melalui interaksi antara perkembangan pribadi dengan perubahan yang terjadi.

Lembaga pendidikan formal menyiapakan lulusannya untuk memiliki keunggulan kompetitif. Keunggulan ini tidak hanya diciptakan melalui jalur pendidikan umum saja, namun dapat diupayakan juga melalui jalur pendidikan kejuruan. Hal ini didukung sepenuhnya dengan misi dari pendidikan kejuruan yang dinyatakan dalam Undang–Undang Republik Indonesia No.20 Tahun

2003 pasal 15, yaitu: “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah

yang mempersiapkan pendidikan peserta didik, terutama untuk bekerja dalam

bidang tertentu”

Misi dari pendidikan kejuruan ini mengimplikasikan akan perlunya suatu bentuk pendidikan yang secara khusus membentuk lulusannya sebagai pribadi yang harus memiliki kualifikasi tertentu sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Secara rinci, pemerintah yang dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional, juga telah menjabarkan tujuan dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai berikut :

1. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan perkerjaan serta dapat

mengembangkan sifat profesionalitas.

(10)

3. Menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja tingkat menengah yang mandiri (bekerja untuk dirinya sendiri) dan atau mengisi kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha.

4. Menyiapkan tamatan agar menjadi warga Negara yang produktif, adaptif dan kreatif.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, dibutuhkan pendidikan kejuruan yang bermutu dan mampu mencetak tenaga produktif menengah yang terampil dan kreatif dalam mengembangkan sikap profesional dalam dunia kerja sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKN).

Dalam upaya menghasilkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif, pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional, berupaya agar setiap individu memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dengan utuh. Hal ini diwujudkan melalui tiga pilar utama pemerintah di bidang pendidikan, yaitu: (1) pemerataan dan perluasan akses pendidikan, (2) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan (3) penguatan tata kelola, akuntabilitas serta pencitraan publik. Tiga pilar ini diyakini mampu secara berkesinambungan meningkatkan kualitas sistem pendidikan nasional.

(11)

Beberapa program penting yang dicanangkan oleh pemerintah berkaitan dengan SMK antara lain:

1. Peningkatan jumlah siswa SMK hingga mencapai perbandingan 70:30 antara

siswa SMK dan siswa SMU pada tahun 2015.

2. Penitisan SMK bertaraf Internasional yang pada akhir tahun 2010 harus mencapai jumlah 441 SMK.

3. Revitalisasi peralatan pendidikan SMK.

4. Pengembangan program kewirausahaan bagi para siswa SMK.

Para ahli dan pemerhati pendidikan menyatakan bahwa pilar pendukung utama dalam tercapainya sasaran pembangunan manusia yang bermutu adalah melalui proses pendidikan yang berkualitas. Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas tidak dapat diraih melalui proses transformasi ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus didukung dengan pengembangan kecakapan dan keterampilan hidup peserta didik untuk menolong diri dalam menghadapi problematika kehidupan yang akan dihadapinya setelah keluar dari lingkungan sekolah.

(12)

akan datang, juga untuk dapat mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin, menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mengatasi hambatan dan kesulitan baik yang dihadapi dalam studi maupun pada kehidupannya sehari-hari.

(13)

Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) juga menggambarkan profil lulusan SMK ideal yang merupakan refleksi dari visi, misi dan tujuan SMK. Siswa lulusan SMK merupakan siswa yang memiliki kualifikasi sebagai berikut: (1) siap kerja, tamatan SMK telah dibekali keterampilan dan kemampuan untuk bekerja di bidangnya sehingga mereka memilki kepercayaan diri yang lebih untuk siap bekerja tanpa perlu diberikan pelatihan tambahan lagi setelah lulus sekolah. Mereka juga dibekali kemampuan untuk berwirausaha sehingga dapat membuka usaha sendiri jika tidak mendapatkan pekerjaan di suatu perusahaan industri; (2) cerdas, kecerdasan yang dimiliki siswa SMK tidak hanya terbatas pada kecerdasan intelektual saja tapi juga harus cerdas secara spiritual, cerdas secara emosional dan sosial serta cerdas secara kinestik; (3) kompetitif, jiwa kompetitif yang dimiliki oleh lulusan SMK adalah jiwa yang memiliki keinginan untuk menjadi agen perubahan dan pantang menyerah. Hal ini seyogyanya sudah ditanamkan sejak tahun pertama di SMK. Kemandirian serta kepribadian siswa SMK yang unggul memicu kesiapan mental mereka untuk siap bekerja atau membuka lapangan usaha sendiri.

(14)

masih labil dan masih dalam proses pematangan diri. Hal tersebut yang menjadi dasar bahwa mereka masih membutuhkan bimbingan dan arahan yang sesuai dengan tugas–tugas perkembangan pada usianya.

Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Zakiah Darajat (Ilfiandra, 1997: 2) bahwa terdapat beberapa persoalan berkaitan dengan masa depan siswa di sekolah:

Tidak jarang kita mendengar remaja mengeluh bahwa hari depannya suram, tidak jelas mau jadi apa nanti, dimana dia akan bekerja nanti, profesi apa yang cocok baginya dan sebagainya. Akan tetapi di lain pihak dia tidak melihat jalan untuk menghadapinya karena kenyataan hidup dalam masyarakat dan lingkungan tidak memberikan kepastian kepadanya. Hal ini banyak hubungannya dengan macam sekolah dan system pendidikan yang diikuti.

Sebagian besar siswa sekolah menengah umum dan kejuruan berada pada tahap perkembangan remaja akhir (Syamsu Yusuf, 2008). Tugas perkembangan bagi mereka yang berada pada tahapan usia siswa tingkat SMU dan SMK adalah sebagai berikut:

1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria atau wanita.

3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani yang sehat

4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan

(15)

5. Mencapai kematangan dalam pemilihan karir.

6. Mencapai kematangan secara emosional, intelektual dan ekonomi dalam gambaran dan sikap hidup mandiri.

7. Mencapai kematangan dalam gambaran dan sikap kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

8. Mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi secara sosial dan

intelektual serta apresiasi seni.

9. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.

Kemampuan akademis beserta sembilan tugas perkembangan yang telah dijelaskan di atas merupakan suatu kompetensi minimal yang harus dikuasai secara optimal oleh mereka yang berada pada usia remaja akhir. Sementara pada kehidupan nyata, sering terjadi komplikasi permasalahan yang dihadapi para siswa yang tidak dapat diatasi oleh dirinya sendiri. Sehingga siswa tersebut membutuhkan bantuan dari gurunya sebagai orang tua di sekolah.

(16)

Tabel 1.1

(17)

Siswa juga dapat mengalami masalah yang jika hanya ditangani oleh guru bidang studi melalui tatap muka dan proses belajar di kelas saja tidak akan memadai, tetapi memerlukan juga layanan khusus melalui bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah. Bimbingan dan konseling dimaksudkan agar para siswa ini mampu

menyelesaikan tugas perkembangannya, mencapai kompetensi dan

keterampilan hidup secara optimal. Sementara itu, layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh SMK dirasakan masih belum memberikan kontribusi yang cukup untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki siswanya. Hal ini dapat dibuktikan melalui indikasi-indikasi sebagai berikut:

1. Sekolah tidak memiliki sarana ruangan khusus untuk memberikan layanan bimbingan konseling. Jikalaupun tersedia, ruangannya kurang memadai, tidak terawat dengan baik dan hampir tidak pernah ada aktivitas di dalamnya.

2. Menurut pendapat responden dalam pengamatan awal, sebagaian besar dari siswa SMK masih belum bisa mengembangkan potensi diri yang dimiliki.

3. Dari potensi akademisnya, rata-rata nilai kompetensi yang diraih siswa SMK masih dibawah rata-rata SMU.

(18)

sendiri. Jika dibandingkan dengan para siswa SMU, kematangan perencanaan masa depan pada siswa SMK masih kurang memadai. Keprihatinan akan kondisi tersebut yang mendasari penyusun untuk melakukan penelitian.

Fenomena tentang minimnya kualitas lulusan SMK juga ditemukan pada dunia kerja. Ketika para siswa kelas XI SMK Nasional Depok melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di perusahaan-perusahaan, instansi pemerintah ataupun BUMN, berdasarkan laporan dari pihak Departemen SDM (Sumber Daya Manusia) didapat fakta di lapangan bahwa kompetensi etos kerja dan semangat profesionalitas yang dimiliki siswa SMK tersebut masih sangat minim dan tidak memenuhi standar kompetensi kerja nasional (SKKN). Akan sangat kontras dengan tuntutan kompetensi dari siswa SMK untuk mampu memiliki keterampilan dan kecakapan hidup yang memadai setelah mereka lulus.

Selain kompetensi etos kerja dan semangat profesionalitas, siswa SMK dituntut untuk memiliki kematangan pribadi yang mantap karena orientasi lulusan SMK diarahkan untuk langsung terjun ke dunia usaha, industri, bisnis dan profesi, dimana mereka harus dapat menunjukan sosok pribadi yang terampil dan professional, tidak hanya dalam bekerja tetapi juga dalam hubungan sosial antara personal dan intrapersonal.

(19)

B. Rumusan Masalah

Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan formal yang belum mendapat posisi utama sebagai pilihan dalam melanjutkan pendidikan karena sedikit dari lulusannya yang benar-benar kompeten pada dunia kerja. Bahkan ketika ada siswa SMK yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mereka kalah bersaing dalam hal pola pikir pemahaman konsep keilmuan yang lebih mantap.

Siswa SMK pada umumnya selalu berprinsip lebih mementingkan keterampilan tangannya saja dan mengabaikan pengembangan keterampilan berpikir ilmiah dari ilmu praktek yang mereka kuasai. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kurang matang secara pribadi dalam mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan misi pendidikan kejuruan itu sendiri.

Terkait dengan permasalahan remaja, Syamsu Yusuf (2006: 25-27)) secara khusus telah melakukan penelitian terhadap siswa di beberapa SMK di Jawa Barat pada tahun 1997 yang menemukan beberapa masalah siswa dalam aspek karir yaitu sebagai berikut.

1. Kurang mengetahui cara memilih program studi.

2. Kurang memiliki motivasi untuk mencari informasi tentang karir.

3. Masih bingung memilih pekerjaan.

(20)

5. Belum memiliki pilihan perguruan tinggi tertentu, jika setelah lulus tidak masuk dunia kerja.

Satu hal terpenting yang menjadi sorotan seputar permasalahan siswa SMK adalah kontribusinya dalam angka pengangguran di negara kita. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dirjen Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan, kini lulusan SMK lebih banyak menjadi pengangguran dengan persentase 13,44% dibandingkan dengan yang bekerja yaitu sebesar 7,35%. Kontribusi pengangguran pada tingkat SMK ini lebih tinggi dibandingkan lulusan pada jenjang pendidikan lainnya. Besarnya angka pengangguran yang dihasilkan SMK itu sebagai akibat dari tidak maksimalnya kompetensi yang dimiliki siswa lulusan SMK untuk memasuki dunia kerja. Beliau juga menyatakan bahwa tidak banyak lulusan SMK yang memilki jiwa kewirausahaan sehingga motivasi untuk membuka usaha sendiri seperti yang disyaratkan dalam standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan SMK yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 23 tahun 2006.

Kedua lembaga pendidikan formal (SMU dan SMK) pada dasarnya memiliki karakteristik pola pendidikan yang serupa tetapi tak sama. Sehingga program layanan bimbingan dan konseling yang diharapkan oleh siswa SMK sekiranya memiliki perbedaan, khususnya dengan layanan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan bagi siswa SMU.

(21)

SMK diarahkan dapat langsung memasuki dunia kerja yang menuntut setiap individunya untuk memiliki keterampilan dan kompetensi diri yang memadai.

Berdasarkan fenomena ini, peneliti tertarik untuk menelaah lebih jauh mengenai kematangan karir siswa SMK Nasional Depok dan program bimbingan karir yang tepat untuk meningkatkan kematangan karir siswa. Rumusan masalah penelitian dijabarkan ke dalam pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Seperti apa profil kematangan karir siswa SMK Nasional.

2. Seperti apa program bimbingan karir untuk meningkatkan kematangan karir siswa.

3. Bagaimana hasil validasi empirik terhadap program bimbingan karir.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah merumuskan program bimbingan karir bagi siswa SMK untuk meningkatkan kematangan karir siswa SMK. Secara umum, penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan karakteristik pribadi siswa SMK untuk memiliki kemampuan dalam menghadapi masalah, terutama yang berkenaan dengan aspek pribadi, sosial, akademik dan karirnya.

Selanjutnya tujuan antara yang diharapkan dapat tercapai dari penelitian ini adalah memperoleh data empirik tentang:

1. Profil kematangan karir siswa SMK Nasional.

(22)

3. Hasil validasi empirik terhadap program bimbingan karir.

Harapan dalam jangka panjangnya, semoga layanan bimbingan karir

yang dihasilkan dapat memacu setiap SMK untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling secara efektif bagi siswanya. Sehingga pada akhirnya, siswa SMK mampu mencapai tingkat perkembangan yang optimal sebagai individu yang matang secara pribadi dan profesional dalam dunia kerja dan hubungan sosial pribadinya.

D. Manfaat Penelitian

Secara teoritis, manfaat penelitian ini diharapkan dapat memperkaya keilmuan bimbingan dan konseling, terutama yang berkaitan dengan teori kematangan karir dalam rangka meningkatkan kematangan karir siswa untuk peningkatan sumber daya manusia di lingkungan pendidikan kejuruan. Secara praktis, penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi konselor sekolah dalam upaya peningkatan kualitas SMK secara pribadi, sosial, akademik dan karir.

E. Definisi Operasional

(23)

terhadap istilah-istilah yang dimaksud. Penelitian ini akan difokuskan kepada satu variabel saja, yaitu program bimbingan karir di Sekolah Menengah Kejuruan.

Conny Semiawan (1986:3) memberikan definisi bimbingan karir lebih luas, yaitu sebagai berikut:

Bimbingan karir (BK) sebagai sarana pemenuhan kebutuhan perkembangan individu yang harus dilihat sebagai bagian integral dari program pendidikan yang diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar bidang studi. Bimbingan karir terkait dengan perkembangan kemampuan kognitif dan afektif, maupun keterampilan seseorang dalam mewujudkan konsep diri yang positif, memahami proses pengambilan keputusan maupun perolehan pengetahuan dan keterampilan yang akan membantu dirinya memasuki kehidupan, tata hidup dari kejadian dalam kehidupan yang terus menerus berubah; tidak semata-mata terbatas pada bimbingan jabatan atau bimbingan tugas”.

Mohamad Surya (1988:3) menyatakan bahwa bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu individu untuk memecahkan masalah karir, memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya antara kemampuan dan lingkungan hidupnya, memperoleh keberhasilan dan perwujudan diri dalam perjalanan hidupnya.

(24)

choice (s) atau kesiapan untuk membuat pilihan dan keputusan karir secara tepat. Sementara itu, Crites (Suherman, 2009: 116) berpendapat bahwa kematangan karir adalah: “… the maturity of an individual’s vocational behavior as indicated by the similarity between his behavior and that of the

oldest individual’s in his vocational stages”. Kematangan karir (career maturity) didefinisikan sebagai kesesuaian antara perilaku individu dengan perilaku karir yang diharapkan pada usia tertentu pada setiap tahap.

Program bimbingan karir yang diharapkan siswa dalam penelitian ini adalah berupa program yang mampu mengembangkan perilaku sadar karir dari siswa demi kematangan karirnya (career maturity) serta mengakomodir kebutuhan siswa untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam mengembangakan potensi pribadi, sosial, akademik dan karirnya.

Aspek-aspek kematangan karir yang dimaksud dalam penelitian ini mengacu kepada pendapat Crites (Manrihu, 1986) yaitu:

1. Sikap. Mengukur sikap-sikap klien terhadap pemilihan karir,

kecenderungan-kecenderungan disposisional yang dimanifestasikan dalam:

a. Keterlibatan. Keterlibatan individu dalam proses pengambilan

keputusan karir.

b. Independensi. Tingkat ketidakterikatan dalam proses pengambilan

keputusan karir.

(25)

d. Ketegasan. Tingkat ketegasan dalam proses pengambilan keputusan karir.

e. Kompromi. Tingkat kompromi dalam proses pengambilan keputusan

karir.

2. Kompetensi. Aspek ini meliputi:

a. Penilaian diri. Penilaian dari sifat-sifat dan

kecenderungan-kecenderungan hipotesis seseorang dalam hubungan dengan

keberhasilan dan kepuasan karir.

b. Informasi. Pengetahuan tentang syarat-syarat pekerjaan, pendidikan/ latihan, dan pengetahuan praktis tentang pekerjaan.

c. Seleksi Tujuan. Nilai-nilai pribadi yang dikejar dalam pekerjaan.

d. Perencanaan. Langkah-langkah logis dalam proses pengambilan

keputusan karir.

e. Pemecahan. Pemecahan masalah dalam proses pengambilan keputusan

karir.

(26)

F. Metoda Penelitian

Penelitian ini dirancang sebagai penelitian deskriptif dalam rangka pengembangan program bimbingan karir untuk meningkatkan kematangan karir siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Langkah-langkah penelitian yang ditempuh sebagai berikut:

1. Melaksanakan kajian teori sebagai studi pendahuluan untuk mengetahui teori tentang kematangan karir siswa.

2. Melaksanakan kajian empirik dengan memotret kondisi objektif profil kematangan karir sebagai dasar untuk mengembangkan program bimbingan karir.

3. Membuat Program Bimbingan Karir

4. Melakukan validasi empirik atas program melalui eksperimen dengan desain “one-group pre test-post test design” untuk mengukur efektivitas

bimbingan karir dalam rangka meningkatkan kematangan karir siswa Sekolah Menengah Kejuruan.

5. Merekomendasikan program hipotetik yang telah diuji.

G. Lokasi dan Sampel Penelitan

(27)

Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMK Nasional Depok. Sampel penelitian sebanyak 30 siswa Kelas XI sebagai kelompok yang akan dikenai perlakuan untuk mengukur efektivitas Program Bimbingan Karir untuk meningkatkan kematangan karir siswa, dengan menggunakan teknik sampling purposif.

Pertimbangan memilih sampel Kelas XI karena Siswa kelas XI merupakan kelompok siswa yang sudah selama empat semester mendapatkan layanan bimbingan konseling, dengan layanan bimbingan karir terintegritas di dalamnya. Selain itu, Siswa kelas XI ini akan segera mendapatkan kesempatan berkiprah pada dunia kerja dalam waktu kurang lebih satu semester lagi.

H. Analisis Data

(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pembahasan pada Bab. III tentang Metode Penelitian ini akan diawali dengan pembahasan tentang metode penelitian, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai lokasi dan subjek penelitian, definisi operasional dan variabel penelitian, pengembangan instrumen penelitian, analisis dan penafsiran data dan diakhiri dengan pembahasan tentang prosedur penelitian.

A. Metode Penelitian

(29)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sampel ditentukan untuk memperoleh informasi tentang obyek penelitian dengan mengambil representasi populasi yang diprediksikan sebagai inferensi terhadap seluruh populasi (Arikunto, 2002:104).

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan pendekatan purposive sampling, yaitu mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto, 2002:117)

Adapun syarat yang harus dimiliki oleh sampel adalah:

1. Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi.

2. Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi.

3. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.

(30)

test awal (pre-test) terendah sebagai kelompok yang akan dikenai perlakuan untuk mengukur efektivitas Program Bimbingan Karir untuk meningkatkan kematangan karir siswa, dengan menggunakan tehnik sampling purposif.

Pertimbangan memilih sampel Kelas XI karena Siswa kelas XI sudah selama empat semester mendapatkan layanan bimbingan konseling, dengan layanan bimbingan karir terintegritas di dalamnya. Selain itu, Siswa kelas XI ini akan segera mendapatkan kesempatan berkiprah pada dunia kerja dalam waktu kurang lebih dua semester lagi.

C. Definisi Operasional dan Variabel penelitian

Pada penelitian ini terdapat dua variabel yang akan diteliti yaitu tentang program bimbingan karir dan kematangan karir. Istilah bimbingan karir dinyatakan oleh Mohamad Surya (1988:3) bahwa bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu individu untuk memecahkan masalah karir, memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya antara kemampuan dan lingkungan hidupnya, memperoleh keberhasilan dan perwujudan diri dalam perjalanan hidupnya.

Conny Semiawan (1986:3) dalam Maman Supriatna (2009) memberikan definisi bimbingan karir lebih luas, yaitu sebagai berikut:

(31)

pengambilan keputusan maupun perolehan pengetahuan dan keterampilan yang akan membantu dirinya memasuki kehidupan, tata hidup dari kejadian dalam kehidupan yang terus menerus berubah; tidak semata-mata terbatas pada bimbingan jabatan atau bimbingan tugas.

Kematangan karir diterjemahkan dari istilah career maturity yang digunakan oleh Donald R. Super. Super mengembangkan konsepsinya tentang teori perkembangan karir dari teori-teori perkembangan hidup manusia atau life-span theory, bahwa Kematangan karir didefinisikan sebagai: “…the readiness to make appropriate career decision”…readiness to make (a) good

choice (s) atau kesiapan untuk membuat pilihan dan keputusan karir secara tepat. Merujuk pada teori tersebut, kematangan karir didefinisikan sebagai keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan vokasional yang khas dalam setiap tahap perkembangan hidup tertentu. Adapun kematangan karir yang dimaksud dalam penelitian ini hanya terbatas pada tahap perkembangan masa remaja sekolah menengah dengan rentang usia 15-18 tahun dimana siswa SMK sebagai subjek penelitian ini berada pada

tahap perkembangan tersebut.

Sementara itu, Crites (Uman Suherman, 2009: 116) berpendapat bahwa kematangan karir adalah: “… the maturity of an individual’s vocational

behavior as indicated by the similarity between his behavior and that of the

(32)

Program bimbingan karir yang diharapkan siswa dalam penelitian ini adalah berupa program yang mampu mengembangkan perilaku sadar karir demi kematangan karirnya (career maturity) serta mengakomodir kebutuhan

siswa untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam

mengembangakan potensi pribadi, sosial, akademik dan karirnya.

Aspek-aspek kematangan karir yang diukur pada penelitian ini meliputi (mengacu kepada pendapat Crites, 1981 dalam Manrihu 1986):

1. Sikap. Mengukur sikap-sikap klien terhadap pemilihan karir,

kecenderungan-kecenderungan disposisional yang dimanifestasikan dalam:

a. Keterlibatan. Tingkat keterlibatan individu dalam proses pengambilan keputusan karir.

b. Independensi. Tingkat ketidakterikatan dalam proses pengambilan

keputusan karir.

c. Orientasi. Tingkat orientasi dalam proses pengambilan keputusan dalam karir.

d. Ketegasan. Tingkat ketegasan dalam proses pengambilan keputusan karir.

e. Kompromi. Tingkat kompromi dalam proses pengambilan keputusan

(33)

2. Kompetensi. Aspek ini meliputi:

a. Penilaian diri. Penilaian dari sifat-sifat dan

kecenderungan-kecenderungan hipotesis seseorang dalam hubungan dengan

keberhasilan dan kepuasan karir.

b. Informasi. Pengetahuan tentang syarat-syarat pekerjaan, pendidikan/ latihan, dan pengetahuan praktis tentang pekerjaan.

c. Seleksi Tujuan. Nilai-nilai pribadi yang dikejar dalam pekerjaan.

d. Perencanaan. Langkah-langkah logis dalam proses pengambilan

keputusan karir.

e. Pemecahan. Pemecahan masalah dalam proses pengambilan keputusan

karir.

Aspek-aspek kematangan karir tersebut akan menjadi indikator dasar dalam pembuatan instrumen penelitian untuk mengukur kematangan karir (career maturity). Adapun kematangan karir yang dimaksud dalam penelitian ini hanya terbatas pada tahap perkembangan masa remaja sekolah menengah dengan rentang usia 15-18 tahun dimana siswa SMK sebagai subjek penelitian ini berada pada tahap perkembangan tersebut.

D. Pengembangan Instrumen Penelitian

(34)

kematangan karir remaja pada usia antara 15-18 tahun, (3) variabel atau komponen-komponennya terperinci.

Jenis instrumen pengungkap data penelitian ini adalah skala psikologi yang diaplikasikan dengan format rating scales (skala-penilaian) dengan alternatif respons pernyataan subjek skala 5 (lima). Kelima alternatif respons tersebut diurutkan dari kemungkinan kesesuaian tertinggi sampai dengan kemungkinan kesesuaian terendah, yaitu: 1) sangat sesuai (SS); 2) sesuai (S); 3) cukup sesuai (CS); 4) kurang sesuai (KS); dan 5) tidak sesuai (TS). Secara sederhana, tiap opsi alternatif respons mengandung arti dan nilai skor seperti yang tertera pada tabel 3.1 berikut:

Tabel 3.1

Pola Skor Opsi Alternatif Respons Model Summated Ratings (Likert) Pada Instrumen Penelitian

Pernyataan Skor Lima Opsi Alternatif Respons

SS S CS KS TS

Favorabel (+} 5 4 3 2 1

(35)

Pengembangan instrumen ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pengembangan Kisi-kisi Instrumen

Kisi-kisi Instrumen dikembangkan dari definisi operasional dan variabel penelitian yang di dalamnya mengandung aspek-aspek dan indikator untuk kemudian dijabarkan dalam bentuk pernyataan skala. Adapun kisi-kisi instrumen penelitian adalah sebagai berikut (tabel 3.2):

Tabel 3.2

KISI-KISI KEMATANGAN KARIR

Aspek Indikator

No. Item

Jumlah (+) (-)

Sikap a. Keterlibatan.

Keterlibatan individu dalam proses pengambilan keputusan karir. 1-3 4-5 5

b. Independensi.

Tingkat ketidakterikatan dalam proses pengambilan keputusan karir.

6 7-12 7

c. Orientasi.

Tingkat orientasi dalam proses pengambilan keputusan karir. 13-14 15-17 5

d. Ketegasan.

Tingkat ketegasan dalam proses pengambilan keputusan karir. 18-21 22-23 6

e. Kompromi.

Tingkat kompromi dalam proses pengambilan keputusan karir. 24-28 29 6

Kompetensi a. Penilaian diri.

Penilaian dari sifat-sifat dan kecenderungan-kecenderungan hipotesis seseorang dalam hubungan dengan keberhasilan dan kepuasan karir.

30-31 32-33 4

b. Informasi.

Pengetahuan tentang syarat-syarat pekerjaan, pendidikan/latihan, dan pengetahuan praktis tentang pekerjaan.

34-41 42-45 12

c. Seleksi Tujuan.

Nilai-nilai pribadi yang dikejar dalam pekerjaan. 46-48 49-50 5

d. Perencanaan.

Langkah-langkah logis dalam proses pengambilan keputusan karir. 51-58 59 9

e. Pemecahan.

Pemecahan masalah dalam proses pengambilan keputusan karir. 60-64 65 6

(36)

2. Uji Validitas Instrumen

Instrumen yang valid adalah sebuah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur (Sugiyono, 2007:267). Untuk memperoleh data yang baik, maka alat untuk mengevaluasinya harus valid.

Pada tahap pengujian validitas konstruk berdasarkan teori tentang aspek-aspek yang akan diukur. Instrumen penelitian ini dikonsultasikan kepada beberapa orang ahli, yaitu kepada pembimbing dan 2 orang ahli lainnya di luar pembimbing untuk dimohon pendapat dan koreksinya (Judgement experts). Setelah instrumen direvisi berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka instrumen diuji keterbacaannya kepada 5 orang siswa SMK dan kemudian direvisi kembali, baik dalam penggunaan kata-kata ataupun struktur kalimatnya sehingga seluruh pernyataan dalam instrumen tidak mengandung ambiguitas dan cukup dapat dimengerti oleh reponden.

Setelah itu, instrumen kemudian diujicobakan kepada seluruh sampel responden penelitian. Setelah data ditabulasikan, maka pengujian konstruksi dilakukan dengan analisis faktor dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dengan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 dan program Microsoft excel 2007.

(37)

3. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas berkenaan dengan tingkat keajegan atau ketetapan hasil pengukuran (Syaodih, 2005: 229). Satu instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang memadai apabila instrumen yang digunakan untuk mengukur aspek yang diukur dalam beberapa kali uji memiliki hasil yang sama atau relatif sama. Instrumen yang dapat dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Reliabilitas instrumen merupakan penunjuk sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen tersebut dapat dipercaya. Reliabilitas intrumen ditunjukkan sebagai derajat keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrumen yang sama dalam kondisi yang berbeda.

Pada penelitian ini uji reliabilitas menggunakan rumus Spearman-Brown (split-half) yang kemudian dihitung dengan bantuan program SPSS Statistic 17.0. Namun demikian, berikut ini adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam penghitungan manual. Langkah-langkah rumus tersebut yaitu:

1. Pertama, mengelompokkan skor butir bernomor ganjii sebagai belahan pertama dan kelompok bernomor genap sebagai belahan kedua, cara ini biasa disebut dengan tehnik belah dua ganjil-genap.

2. Kedua, mengkorelasikan skor belahan pertama dengan skor belahan kedua dan akan diperofeh harga rxy

(38)

4. Keempat, indeks reliabilitas soal akan diperoleh dengan rumus Spearman-Brown yang dikutip dari Arikunto (2002: 156) sebagai berikut:

�₁₁= 2 × r½½

(39)

Hasil penghitungan menggunakan program SPSS Statistics 17.0 nilai reliabilitas indeks korelasi antara dua belahan instrumen penelitian ini adalah sebesar 0,98. Berdasarkan kriteria reliabilitas yang dirumuskan oleh Guilford, maka reliabilitas instrumen ini berada pada derajat keterandalan yang sangat tinggi. (lampiran 4).

E. Analisis dan Penafsiran Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk memperoleh data tentang profil kematangan karir siswa kelas XI SMK Nasional Depok serta mengukur efektivitas bimbingan karir untuk meningkatkan kematangan karir siswa. Penafsiran data analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan makna yang terkandung di balik angka-angka. Tingkat kecenderungan kematangan karir siswa ditentukan dengan menggunakan lima kategori penafsiran dengan kriteria yang dirumuskan pada tabel berikut:

Tabel 3.4

Kriteria Tingkat Kecenderungan Kematangan Karir Siswa

No. RENTANG KRITERIA

1 Lebih dari (rata-rata aktual + 1 ,5 SD) Sangat tinggi

2 Antara (rata-rata aktual + 1,5 SD} dan (rata-rata aktual + 0,5 SD) Tinggi 3 Antara (rata-rata aktual + 0,5 SD) dan (rata-rata aktual - 0,5 SD) Sedang 4 Antara (rata-rata aktual - 0,5 SD) dan (rata:rata aktuall - 1,5 SD) Rendah

(40)

Skor maksimal ideal dari kematangan karir siswa adalah 325, yang diperoleh dengan cara mengalikan jumlah item sebanyak 65 item dengan skor maksimal ideal, yaitu 5. Dari perolehan angka kematangan karir seluruh siswa kelas XI SMK Nasional Depok ini, maka didapatkan rata-rata aktual sebesar 230,36. Sementara hasil perhitungan simpangan baku aktual yang diperoleh dengan menggunakan program statistika SPSS Statistics 17.0 diperoleh angka 15,91.

Pengukuran efektivitas kematangan karir siswa dilakukan dengan menguji perbedaan dua rata-rata (uji-t) antara data hasil pre-test dengan post-test, yaitu untuk mengkaji perubahan yang terjadi akibat suatu perlakuan peneliti dan membandingkan perilaku atas kemampuan subjek sebelum dan sesudah perlakuan itu diberikan. (Furqon, 2008). Asumsi yang mendasari adalah korelasi antara skor dari subyek yang sama atau berpasangan, keacakan sampel dari populasinya masing-masing, ketidaktergantungan skor (independent of scores) baik didalam kelompok maupun antar kelompok, normalitas distribusi populasi dari mana sampel diambil, serta homogenitas variansi populasi kedua kelompok skor.

F. Prosedur Penelitian

Langkah-langkah penelitian yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

(41)

2. Melaksanakan kajian empirik dengan memotret kondisi objektif kematangan karir sebagai dasar untuk mengembangkan program bimbingan karir.

3. Mengembangkan program bimbingan karir untuk meningkatkan

kematangan karir siswa

4. Melakukan validasi empirik atas program melalui eksperimen dengan desain “one-group pre test-post test design” untuk mengukur

efektivitas bimbingan karir dalam rangka meningkatkan kematangan karir siswa Sekolah Menengah Kejuruan

5. Merekomendasikan program hipotetik yang telah diuji.

Gambar 3.1 Prosedur Penelitian

PROGRAM BIMBINGAN KARIR

PROGRAM HIPOTETIK YG DIREKOMENDASIKAN

KAJIAN TEORI

KAJIAN EMPIRIK

(42)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Bab V ini diuraikan mengenai kesimpulan dan rekomendasi.

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Kematangan karir merupakan kesesuaian perilaku siswa dengan perilaku karir yang diharapkan siswa pada usia tertentu. Kematangan karir mencakup aspek sikap dan kompetensi.

2. Tingkat kematangan karir siswa kelas XI SMK Nasional Depok tahun ajaran

2009/2010 sebagian besar termasuk dalam kategori kurang matang.

3. Pengembangan program bimbingan karir mengacu pada hasil kajian teoretis dan empiris. Implementasi program melalui bimbingan kelompok dengan pendekatan behavioral.

4. Validasi program menunjukkan bahwa program bimbingan karir efektif

(43)

ketegasan dan terendah pada aspek orientasi. Sedangkan pada aspek kompetensi, nilai persentase tertinggi pada indikator perencanaan dan terendah pada indikator pemecahan.

B. Rekomendasi

1. Bagi Sekolah

SMK Nasional Depok diharapkan mengimplementasikan program bimbingan karir hasil penelitian dalam upaya meningkatkan kematangan karir siswa yang terintegrasi dalam program bimbingan konseling kepada seluruh siwa SMK Nasional Depok.

Sekolah mengupayakan tersedianya informasi umum tentang dunia kerja dan deskripsi-deskripsi okupasional yang tidak hanya mencakup faktor-faktor obyektif seperti upah yang mungkin diperoleh, syarat-syarat latihan/banyaknya lowongan kerja yang tersedia, tetapi juga dari aspek-aspek sosial dan psikologis dari karir. Karena pilihan-pilihan karir merupakan cara mengimplementasikan konsep diri, maka informasi tentang ciri-ciri pribadi, sikap-sikap, minat-minat, bakat-bakat sama pentingnya dengan informasi.

2. Bagi Program Studi Bimbingan dan Konseling

(44)

perkembangan karir; dan b. fungsi praktis, dalam hal menyajikan suatu diagnosis tentang laju dan kemajuan individu dan karena itu menyarankan strategi-strategi intervensi guna peningkatan perkembangan tersebut.

Perlunya layanan secara teori dan praktik tentang program bimbingan karir yang efektif bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Program bimbingan karir yang komphrehensif mengakomodir seluruh indikator kematangan karir bagi siswa merupakan sebuah langkah awal yang sistematis untuk menunjang kesuksesan pencapaian tujuan dalam meningkatkan kematangan karir siswa.

3. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling

(45)
(46)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.

Crites, J.O. (1981). Career Counselling: Model, Methods and Materials. New York. McGraw-Hill Book Company.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Penataan Pendidikan Profesional Dan Layanan Bimbingan Dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung. Depdiknas.

Depdikbud. (1994). Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Depdikbud.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

(2008). Penataan Pendidikan Profesional Konselor Dan Layanan

Bimbingan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Fatihaturosyidah. (2008). Program Bimbingan Karir Bagi Siswa SMK: Studi Deskriptif tentang Kematangan Karir Siswa SMK Negeri 2 Serang Dalam Upaya Pengembangan Program Bimbingan Karir untuk Mempersiapkan Siswa menuju Dunia Kerja. Bandung. Tesis. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan. Furqon. (2008). Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung. Alfabeta.

Hamalik,0. (1990). Pendidikan Tenaga Kerja Nasional: Kejuruan,

wiraswastawan dan Manajemen. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti.

Hurlock, E. (1994). Psikologi Perkembangan. Jakarta. Erlangga.

Ilfiandra. (1997). Kontribusi Konsep Diri Terhadap Kematangan Karir Siswa (Studi Deskriptif Terhadap Siswa Kelas 2 SMU Pasundan 1 Bandung Tahun Pelajaran 1996/1997). Bandung. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

(47)

Manrihu, M.T. (1992). Pengantar Bimbingan dan Konseling Karir. Jakarta. Bumi Aksara.

(1986). Studi Tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kematangan Karir Siswa SMA di Sulawesi Selatan. Bandung. Desertasi. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan. Masdudi. (2003). Pengembangan Program Layanan Informasi Karir di SMK

Negeri 3 Bandung. Bandung. Tesis. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Natawidjaja, R. Konseling Kelompok, Konsep Dasar dan Pendekatan.

Bandung. Rizqi Press.

Nurbaini, H. (2006). Kontribusi Layanan Informasi Karier Terhadap

Penyelesaian Masalah Karier yang Dihadapi Siswa SMK (Studi terhadap siswa Kelas II SMK Negeri 7 Bandung Thn Ajaran

2004/2005)”. Bandung. Tesis. Universitas Pendidikan Indonesia.

Tidak Diterbitkan.

Oktviana T.A. (2008). Program bimbingan karir untuk meningkatkan

kematangan karir siswa Sekolah Menengah Kejuruan (penelitian terhadap siswa kelas XII program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri se-kota Bandung tahun ajaran 2008-2009). Bandung. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Pranoto, N. (2006). Psikopop: Management Feelings for Success (Mengelola Perasaan Untuk Sukses). Jakarta. Gradien Books.

Prihantoro, S. (2007). Program bimbingan untuk mengembangkan kemampuan

perencanaan karir remaja (Studi terhadap siswa kelas X SMAN 2 Majalengka tahun ajaran 2005/2006). Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Rauf, M. Y. (2006). Program Bimbingan Karir Untuk Mencapai Kematangan

(48)

Salwa, E. (2008). Pengembangan alat ukur kematangan karir siswa Sekolah

Septiani, D.W. (2006). Kontribusi pemberian layanan informasi karier oleh guru pembimbing terhadap pengambilan keputusan karier siswa. Bandung. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Sharf, R. (1992). Applying Career Development Theory to Counselling. United State of America. University of Delaware.

Siegel, S. (1997). Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial;

(Terjemahan). Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Situs Resmi Pendidikan Menengah dan Kejuruan. (2006). Visi, Misi dan

Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan. [On line]. Tersedia: http://www.dikmenjur.go.id/v06/?d=pages&h=profile&id+14.

Sugiyono. (2007). Statistika Untuk Penelitian. Bandung. CV Alfabeta.

Suherman. (2008). Konsep dan Aplikasi Bimbingan dan Konseling. Bandung. Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia.

Suherman, U. (2009). Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan.

Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

(2009). Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung. Rizqi Press.

Sukmadinata, N.S. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

(49)

Supraptono, E. (1994). Kontribusi Minat Kejuruan dan Aspirasi Kerja Serta Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Kematangan Karir Siswa (Studi Deskriptif Analitik pada STM Negeri di Kotamadya Semarang Tahun 1992/1993). Bandung. IKIP

Supriatna, M. (2009). Layanan Bimbingan Karir di Sekolah Menengah.

Bandung. Departemen Pendidikan Nasional Universitas

Pendidikan Indonesia.

Surakhmad, W (1990). Pengantar Penelitian Pendidikan. Bandung. Transito. Surya, M. (2009). Psikologi Konseling. Bandung. Maestro.

Syaodih, N.S. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. PPS UPI-Remaja Rosdakarya.

Tapip. (2008). Program bimbingan dan konseling kecakapan hidup untuk mengembangkan kematangan karir siswa Sekolah Menengah Kejuruan (Studi ke Arah Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling Kecakapan Hidup di SMK Negeri 1 Pacet Kabupaten Cianjur)”. Bandung. Tesis. Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2008). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

Willis, S.S. (2004). Konseling Individual: Teori dan Praktek. Bandung. Alfabeta.

Winkel, W.S. (2006). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta. Media Baru.

Yusuf, S. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung. PT Remaja

Rosdakarya.

& Juntika N. (2007). Teori Kepribadian. PT Remaja Rosdakarya. Yusuf, S. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. PT

Remaja Rosdakarya.

(50)

“NEW COMER” … … …

Suherman, U. (2009). Konseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan.

Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

(2009). Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung. Rizqi Press.

Fatihaturosyidah. (2008). Program Bimbingan Karir Bagi Siswa SMK: Studi Deskriptif tentang Kematangan Karir Siswa SMK Negeri 2 Serang Dalam Upaya Pengembangan Program Bimbingan Karir untuk Mempersiapkan Siswa menuju Dunia Kerja. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

Sukmadinata, N.S. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

(51)

Siegel, S. (1997). Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial; (terjemahan). Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Surya, M. (2009). Psikologi Konseling. Bandung. Maestro.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

(2008). Penataan Pendidikan Profesional Konselor Dan Layanan

Bimbingan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Murdoko, E. W.H. (2006). The Power of The Winner: (Kiat-kiat Praktis Meraih Kesuksesan). Jakarta. Gradiens Books.

Pranoto, N. (2006). Psikopop: Management Feelings for Success (Mengelola Perasaan Untuk Sukses). Jakarta. Gradien Books.

Willis, S.S. (2004). Konseling Individual: Teori dan Praktek. Bandung. Alfabeta.

Yusuf, S. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Suherman. (2008). Konsep dan Aplikasi Bimbingan dan Konseling. (2008). Bandung. Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia.

Crites, J.O. (1981). Career Counselling: Model, Methods and Materials. New York.McGrawHill Book Company.

Manrihu, M.T. (1992). Pengantar Bimbingan dan Konseling Karir. Jakarta. Bumi Aksara.

(1986). Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

Supraptono, E. Kontribusi Minat Kejuruan dan Aspirasi Kerja Serta Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Kematangan Karir Siswa (Studi Deskriptif Analitik pada STM Negeri di Kotamadya Semarang Tahun 1992/1993). 1994. Bandung. IKIP

(52)

Karir Siswa dan Layanan Bimbingan Karir di Beberapa SMA Negeri Kota Pekanbaru Provinsi Riau). 2006. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

……… Nilai-Nilai yang Digunakan Siswa dalam Pilihan Karir (Suatu Studi Deskriptif Analitis Tentang Siswa yang Karirnya Berhasil, Maupun Gagal yang Memperoleh Layanan Bimbingan Karir di Beberapa Propinsi Jawa Timur). 1996. Bandung. IKIP.

Figur

Gambar 2.2 Tahapan-tahapan Hidup dan Subtahapan-subtahapan Berdasarkan Tipe Tugas-
Gambar 2 2 Tahapan tahapan Hidup dan Subtahapan subtahapan Berdasarkan Tipe Tugas . View in document p.4
Grafik 4.2 Profil Indikator Kematangan Karir  Siswa SMK Kelas XI SMK Nasional Depok
Grafik 4 2 Profil Indikator Kematangan Karir Siswa SMK Kelas XI SMK Nasional Depok . View in document p.5
Tabel 1.1
Tabel 1 1 . View in document p.16
Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Kecenderungan Kematangan Karir Siswa
Tabel 3 4 Kriteria Tingkat Kecenderungan Kematangan Karir Siswa . View in document p.39
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian
Gambar 3 1 Prosedur Penelitian . View in document p.41

Referensi

Memperbarui...