PROSEDUR NORMAL OPERASI
PABRIK UTILITAS PUSRI – IIB
NO. DOKUMEN: P2B-OPR-UOA-SOP-003
Revisi 0
DAFTAR ISI
1. Pengantar
2. Basic Engineering 2.1. River Water 2.2. Filtered Water 2.3. Demin Water 2.4. Cooling Water 2.5. Potable Water 2.6. Fire Water 2.7. Steam
2.8. Steam Condensate dan Process Condensate 2.9. Instrument Air dan Plant Air
2.10. Nitrogen 2.11. Power Listrik 2.12. Gas Buang 2.13. Limbah Cair
3. Prosedur Normal Operasi
3.1. River Water Intake Facility 3.2. Filter Water Treatment 3.3. Reverse Osmosis Unit 3.4. Mixed Bed Polisher 3.5. Cooling Water System
3.6. Plant Air dan Instrument Air System 3.7. Fire Fighting System
3.8. Waste Water Treatment 3.9. Ammonia Storage System
1. Pengantar
Pabrik Utilitas merupakan pabrik pendukung yang mempersiapkan kebutuhan operasional pabrik Ammonia dan Urea secara terus menerus baik yang berkaitan dengan bahan baku maupun bahan pembantu pabrik.
Uraian dalam dokumen ini merupakan panduan dasar dan bukan merupakan hal yang baku dan kaku. Selanjutnya, panduan yang terdapat dalam dokumen ini dapat terus diperluas dan diperbaharui menurut perkembangannya.
2. Basic Engineering
Dokumen Basic Engineering Design Data (BEDD) dimaksudkan untuk meringkaskan informasi mendasar yang dibutuhkan pada saat desain engineering suatu proyek. Pusri IIB didesain memproduksi 1.596 MTPD warm ammonia dan 405 MTPD cold ammonia (total 2.000 MTPD Ammonia) tanpa memperhitungkan proses Purge Gas Stream.
Apabila memperhitungkan Purge Gas Stream dapat memproduksi 1.755 MTPD warm ammonia dan 405 MTPD cold ammonia (total 2.160 MTPD Ammonia). Sedangkan pabrik Urea didesain memproduksi 2.750 MTPD urea prill. Plant life berlangsung selama 20 tahun dengan on stream factor sebesar 330 stream day (minimal).
Pabrik Utilitas selaku pabrik pendukung akan menyediakan bahan baku dan bahan pembantu untuk proses produksi di pabrik Ammonia dan Urea. Berikut Basic Engineering untuk sejumlah bahan baku dan bahan pembantu tersebut.
2.1. River Water
Kualitas River Water Unit Rata rata Maksimum
Temperatur ºC 28,5 30
pH - 6,6 8,3
Turbidity NTU 44 95
P alkalinity as CaCO3 ppm Nil Nil
M alkalinity as CaCO3 ppm 19,4 39,8
Chloride as Clˉ ppm 4 12,6
Sulphate as SO4 ppm 6,9 12,6
Dissolved ammonia ppm 3,3 17,2
Calcium hardness as CaCO3 ppm 11,9 38,4
Magnesium hardness as CaCO3 ppm 4,7 22,8
Iron as Fe ppm 1,1 8,2
Silica as SiO2 ppm 15 30
Suspended solid ppm 26,2 56,2
Total dissolved solid ppm 30 62,1
2.2. Filtered Water
Parameter Filtered Water Normal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 7 8,4
Temperatur (ºC) 28,5 80
Parameter Filtered Water Unit Spesifikasi
pH - 6,5 – 7,5
Parameter Filtered Water Unit Spesifikasi
Turbidity NTU < 1
Konsenstrasi residual chlorine ppm < 0,5 absolute
2.3. Demin Water
Parameter Demin Water Normal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 9 11,5
Temperatur (ºC) 44,2 80
Parameter Demin Water Unit Spesifikasi
pH - 6,5 – 7,5
Conductivity (25ºC) µS/cm 0,25 max
Sodium + potassium ppm 0,01 max
Cr ppm 0,02 max
Total copper as Cu ppm 0,003 max
Total iron as Fe ppm 0,02 max
Silica as SiO2 ppm 0,005 max
Untuk mendapatkan flow desain pada basis regular, yang paling ekonomis adalah kombinasi dari 2 Reverse Osmosis unit (RO) dan 3 Mixed Bed Polisher unit.
2.4. Cooling Water
Parameter Cooling Water Supplai Discharge Pompa
Return at Grade
Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 5 1,8 8,0
Temperatur (ºC) 33,0 43,0 80
Di battery limit pabrik Ammonia
Parameter Cooling Water Suplai Return
Tekanan (kg/cm2G) 4,5 2,5
Temperatur (ºC) 33,0 43,0 max
Di battery limit pabrik Urea
Parameter Cooling Water Suplai Return
Tekanan (kg/cm2G) 4,5 2,5
Temperatur (ºC) 33,0 43,0 max
Kualitas Cooling Water
Parameter Cooling Water Rata-rata Maksimum
Chloride as Clˉ (ppm) 20 63
2.5. Potable Water
Parameter Minimal Normal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 2 3,5 8
Temperatur (ºC) - 30 70
Kualitas potable water harus sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI (PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010).
2.6. Fire Water
Parameter Minimal Normal Maksimal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 7 10 10 14
Temperatur (ºC) 28,5 - 30 60
2.7. Steam
Terdapat tujuh (7) tingkat tekanan steam di steam system. Hanya satu tingkat tekanan yang langsung diproduksi oleh Unit Pembangkit Steam dan Listrik eksisting TP-13 dan TP-14, yaitu superheated medium pressure steam (SM).
2.7.1. High Pressure Steam (HS, 123 kg/cm2G dan 510ºC, Superheated)
Superheated High Pressure Steam diproduksi di pabrik Ammonia dan utamanya digunakan di Synthesis Gas Compressor Turbine dan Ammonia Refrigerant Turbine.
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC)
Header distribusi 123 510
Inlet konsumer:
Maximum operating
Normal operating
Minimal operating
124 123 120
510 510 508
Mechanical design 136,4 530
2.7.2. Medium Pressure Steam (MS, 46,9 kg/cm2G dan 388ºC, Superheated)
Steam tingkatan ini (di battery limit pabrik ammonia) diekstraksi dari Synthesis Gas Compressor Turbine dan Ammonia Refrigerant Compressor Turbine.
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC)
Produk Outlet 46,9 388
Header distribusi 46,9 388
Inlet konsumer:
Maximum operating
Normal operating
Minimal operating
48 46,9
42
400 388 370
Mechanical design 52 420
2.7.3. Medium Pressure Steam dari Coal Boiler (SM, 46,9 kg/cm2G dan 388ºC, Superheated)
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC) Header distribusi di pabrik Urea
dan Utility 46,9 388
Normal operating 46,9 388
Mechanical design 52 420
2.7.4. Medium Low Pressure Steam untuk Urea (SML, 21 kg/cm2G dan 306ºC, Superheated)
Steam ini diekstrak dari turbin CO2 Compressor dan digunakan hanya di pabrik Urea.
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC)
Header Distribusi 21 306
Normal operating 21 306
Mechanical design 25 420
2.7.5. Low Pressure Admission Steam for Urea (SL, 5,0 kg/cm2G dan 158ºC, Saturated)
Steam ini diproduksi dari steam drum pabrik Urea dan digunakan hanya di pabrik Urea.
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC)
Produk outlet 5,0 158
Header Distribusi 5,0 158
Normal operating 5,0 158
Mechanical design 8,0 200
2.7.6. Low Pressure Steam (LS, 3,5 kg/cm2G dan 236ºC, Superheated) Steam ini diekstraksi dari penggerak turbin di pabrik Ammonia dan Utility.
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC)
Produk Outlet 3,8
Header distribusi 3,5 236
Inlet konsumer:
Maximum operating
Normal operating
Minimal operating
3,8 3,5 3,0
- 236 215
Mechanical design 5,5 260
2.7.7. Low Low Pressure Steam (SLL, 2,5 kg/cm2G dan 138ºC, Superheated)
Steam ini diproduksi dari LP steam flush drum di pabrik Urea dan digunakan hanya di pabrik Urea.
Parameter Tekanan (kg/cm2G) Temperatur (ºC)
Produk Outlet 2,5 138
Header distribusi 2,5 138
Normal operating 2,5 138
Mechanical design 8,0 200
2.8. Steam Condensate dan Process Condensate
a) Process Condensate di pabrik Ammonia diolah untuk digunakan kembali sebagai make-up boiler feed water pada saat normal operasi.
b) Steam Condensate dan Process Condensate dari pabrik Urea diolah dan digunakan kembali sebagai make-up boiler feed water pada saat normal operasi.
c) Turbine Condensate dari exhaust turbine condensing di pabrik Ammonia, pabrik Urea dan Utility digunakan kembali sebagai make-up boiler feed water pada saat normal operasi.
d) Off Spec. Turbine Condensate dari pabrik Ammonia dan Urea diolah dan digunakan kembali sebagai make-up boiler feed water pada saat normal operasi.
e) Demin water yang disuplai ke Pembangkit Steam dan Listrik OEP (STG & BB) sebanding dengan steam yang disuplai oleh Pembangkit Steam dan Listrik OEP (STG & BB).
2.9. Instrument Air dan Plant Air 2.9.1. Instrument Air
Instrument air normalnya diproduksi di Instrument dan Plant Air Facility dengan menggunakan udara yang berasal dari Process Air Compressor (101-J) di pabrik Ammonia dan didistribusikan ke pabrik Ammonia, pabrik Urea dan Utility (UOA).
Apabila Process Air Compressor tidak beroperasi, Emergency Air Compressor akan menyuplai kebutuhan udaranya.
Parameter Minimal Normal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 3,5 7,5 10,5
Temperatur (ºC) ambient ambient 75
Parameter Spesifikasi
Karakteristik Oil free dan dust free Dew point -40ºC pada 7,5 kg/cm2G 2.9.2. Plant Air
Plant air normalnya diproduksi di Instrument dan Plant Air Facility dengan menggunakan udara yang berasal dari Process Air Compressor (101-J) di pabrik Ammonia dan didistribusikan ke pabrik Ammonia, pabrik Urea dan Utility (UOA).
Apabila Process Air Compressor tidak beroperasi, Emergency Air Compressor akan menyuplai kebutuhan udaranya.
Parameter Normal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 7,5 10,5
Temperatur (ºC) ambient 75
Parameter Spesifikasi
Karakteristik Oil free dan dust free 2.9.3. Ekspor Udara ke IA/PA Facility dari Pabrik Ammonia
Kapasitas desain : 5.150 Nm3/jam
Kapasitas normal : 3.000 Nm3/jam + 1.794 Nm3/jam
Tekanan normal : 10 kg/cm2G
2.10. Nitrogen
Nitrogen akan disuplai oleh pabrik eksisting melalui interkoneksi pipeline.
Parameter Nitrogen Normal Mechanical Design
Tekanan (kg/cm2G) 5 8,4
Temperatur (ºC) ambient 70
Parameter Nitrogen Spesifikasi N2 Purity (balance of oxygen) 99,8% volume min.
2.11. Power Listrik
2.11.1. Power Receiving dan Distribusi
Kebutuhan power listrik untuk pabrik normalnya berasal dari dua (2) sumber, yaitu:
(1) Feeder 13,8 kV dari OEP grid, dan
(2) Feeder 13,8 kV dari Steam Turbine Generator Unit OEP
Tujuan dari adanya dua sumber power listrik dari pabrik eksisting adalah supaya sumber listrik ke pabrik Ammonia tetap tersedia sehingga pabrik Ammonia dapat terus beroperasi apabila terjadi kondisi dimana adanya pengurangan beban pada saat terjadi kegagalan / trouble di salah satu sumber penyedia listrik dan juga agar pabrik dapat shutdown dengan aman.
Sumber power emergency berasal dari Emergency Diesel Generator 480 V dengan kapasitas 2.000 kVA yang terletak di UOA.
Sistem distribusi power listrik di area pabrik adalah sebagai berikut.
(1) Suplai High Voltage ke main Switchgear 13,8 kV, 3 phase, 50 Hz, 3 wire system.
(2) Suplai High Voltage untuk sejumlah motor besar di atas 2.000 HP (1.500 kW) yaitu 13,8 kV, 3 phase, 50 Hz, 3 wire system.
(3) Suplai Medium Voltage untuk motor besar di atas 150 HP (110 kW) dan termasuk juga 2.000 HP (1.500 kW) yaitu 2,3 kV, 3 phase, 50 Hz, 3 wire system.
(4) Suplai Low Voltage untuk motor 0,75 HP hingga 150 HP (0,5 hingga 110 kW) yaitu 440 V, 3 phase, 50 Hz, 3 wire + earth, solid grounded system, dan untuk motor di bawah 0,75 HP (0,5 kW) yaitu 220 V, 1 phase, 50 Hz, 3 wire, kecuali untuk yang melayani proses kritis, termasuk penggerak motor seperti perangkat yang berfungsi sebagai pelumas dan auxiliary oil pump menggunakan 440 V, 3 phase, 50 Hz.
Distribusi Low Voltage (440 V) mencakup di area pabrik Ammonia, pabrik Urea, Offsite dan Utility dan Urea Handling.
(5) Penerangan menggunakan 220 VAC, 1 phase, 50 Hz, 3 wire yang diturunkan dari 380 VAC, 3 phase, 50 Hz, 4 wire dan untuk Receptacle pada 220 VAC dan 12 VAC.
(6) Instrumentasi/Control System menggunakan 110 VAC, 50 Hz dan 24 VDC.
(7) Welding Receptacle menggunakan 440 V, 3 phase, 3 wire.
2.11.2. Uninterrupted Power Supply (UPS)
Pabrik Ammonia dan Urea/Utility memiliki instrumentation supply system yang dilengkapi dengan dua (2) unit Uninterrupted Power Supply (UPS). Kedua unit ini didesain untuk kapasitas penuh dimana satu (1) unit akan bertindak sebagai redundant dan mampu menyuplai selama 30 menit.
2.12. Gas Buang
2.12.1. Pabrik Ammonia
a) Flue gas dari Primary Reformer Stack ke atmosfer
Parameter Unit Nilai
Flow rate kg/jam (wet) 348,998
Parameter Unit Nilai
Temperatur kondensasi ºC 126
Komposisi
N2 %mol 70,17
O2 %mol 1,67
CO2 %mol 7,87
Ar %mol 1,09
H2O %mol 19,2
SO2 vol. ppm 1,06
NOx (@ 3% O2) vol. ppm (dry basis) 40 b) Deaerator ke atmosfer
Parameter Unit Nilai
Flow rate kg/jam 500
Temperatur ºC 130
Komposisi
CO2 ppmw 1.404
O2 ppmw 2.319
c) Vent CO2 dari CO2 Stripper ke atmosfer
Parameter Unit Nilai
Flow rate ton/jam 37,13
Temperatur ºC 38
Komposisi
CO2 %mol 99,87
H2 %mol 0,11
N2 %mol 0,01
CH4 %mol 0,01
2.12.2. Pabrik Urea
a) Udara Exhaust dari Prilling Tower
Parameter Unit Nilai
Flow rate Nm3/jam 1.050.000
Temperatur ºC 39
Tekanan - Atmosferik
Komposisi
Debu urea mg/Nm3 50 max.
Ammonia mg/Nm3 80 max.
b) Gas Outlet dari Washing Column
Parameter Unit Nilai
Flow rate Nm3/jam Sekitar 1.800
Temperatur ºC 40
Tekanan - Atmosferik
NH3 %vol 0,8
CO2 %vol 0,3
H2 %vol 0
Inert %vol 96,5
H2O %vol 2,4
Catatan:
Gas outlet dari Washing Column dibakar di flare system selama operasi normal.
c) Gas Outlet dari Final Absorber
Parameter Unit Nilai
Flow rate Nm3/jam 400
Temperatur ºC 40
Tekanan - Atmosferik
NH3 %vol 0,7
H2 %vol 4,1
Inert + udara %vol 89,8
H2O %vol 5,4
Catatan:
Gas outlet dari Final Absorber dibakar di flare system selama operasi normal.
2.13. Limbah Cair
2.13.1. Pabrik Ammonia
a) Offspec Vacuum Condensate ke Polisher yang digunakan kembali sebagai make- up boiler water
Flow rate (ton/jam) : 160
Temperatur (ºC) : 46
Tekanan (kg/cm2G) : 5
b) Stripped Process Condensate ke Polisher untuk digunakan kembali sebagai make- up boiler water
Flow rate (ton/jam) : 86
Temperatur (ºC) : 40
Tekanan (kg/cm2G) : 5
Komposisi
NH3 (ppmw) : 5
Methanol (ppmw) : 35
CO2 (ppmw) : 5
Amine (ppmw) : 10
c) Blowdown dari steam drum ke Cooling Tower Pit
Flow rate (ton/jam) : 2,2
Temperatur (ºC) : 45
Tekanan (kg/cm2G) : 3,73
Kualitas
pH : 8,7 – 9,7
Phosphate (ppm) : 2,6
SiO2 (ppm) : 1
d) Blowdown Condensate dari water jacket Secondary Reformer ke Cooling Tower Pit
Flow rate (ton/jam) : 4
Temperatur (ºC) : 45
Kualitas : Steam condensate dengan trace iron content e) Condensate water dari Air Compressor Intercooler ke Cooling Tower Pit
Flow rate (ton/jam) : 5,8
Temperatur (ºC) : 38
f) Steam Condenser Gland Condensate yang terbuang
Flow rate (ton/jam) : 0,4
Temperatur (ºC) : 100
2.13.2. Pabrik Urea
a) Offspec turbine condensate ke Polisher untuk digunakan kembali sebagai make- up boiler water
Flow rate (ton/jam), normal/max : 0 / 58
Temperatur (ºC) : 50
Tekanan (kg/cm2G) : 4
Komposisi
Urea content (ppmw) : 100 max.
Ammonia content (ppmw) : 100 max.
b) Treated Process Condensate ke Polisher dari Urea
Flow rate (ton/jam), normal/max : 46,5 / 75
Temperatur (ºC) : 50
Tekanan (kg/cm2G) : 4
Komposisi
Ammonia content (ppmw) : 1 / 5 (normal / max.)
Urea content (ppmw) : 1 / 5 (normal / max.) c) Oily Water Pit
Flow rate (ton/jam) : 0 / 5 (normal / max.)
Temperatur (ºC) : ambient
d) Condensate Water dari Separator CO2 Compressor ke Storm Sewer
Flow rate (ton/jam) : sekitar 1,5
Mengandung dissolved CO2 (saturated) e) Surface Drainage dari Floor Washing Water
Flow rate (ton/jam) (normal/max.) : 0 / 10
Temperatur (ºC) : Ambient
Tekanan (kg/cm2G) : Atmosferik
Komposisi
Ammonia content (ppmw) : 100 / 20.000 (min/max)
Urea content (ppmw) : 100 / 10.000 (min/max)
2.13.3. Pabrik UOA
a) Total blow down dari Ammonia/UOA dan Urea Cooling Water Facility
Flow rate (ton/jam) : 138,4
Temperatur (ºC) : 33
Kualitas
pH : 6 – 9
Suspended solid (ppm) : 20 b) Lumpur Clarifier
Flow rate (ton/jam) : 10
Suspended solid (ppm) : 20.000 c) Waste water demin dari Neutralization Pond
Flow rate (ton/jam) : 5
TDS (ppm) : 15.000
pH : 6 – 9
Suspended solid (ppm) : 200 d) Activated Carbon Filter Back Washing Water
Flow rate (ton/jam) : 100
Suspended solid (ppm) : 118 e) Pressure Sand Filter Back Washing Water
Flow rate (ton/jam) : 150
Suspended solid (ppm) : 118 f) Side Stream Filter Back Washing Water
Flow rate (ton/jam), rata-rata : 20
Suspended solid (ppm) : 600
g) Off Spec Vacuum Condensate ke Waste Water Treatment
Flow rate (ton/jam) : 24
Temperatur (ºC) : 46
Tekanan (kg/cm2G) : 4
3. Prosedur Normal Operasi 3.1. River Water Intake Facility 3.1.1. Rutinitas Operasi
Operasional di River Water Intake System dimonitor dan diawasi secara berkala (misalnya satu kali/shift) dengan melakukan pemeriksaan terhadap peralatan pabrik.
(1) Rute pengawasan untuk area yang sama agar tercatat minimal satu kali per hari.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
Peralatan instrumentasi yang ada di lapangan.
Suara, vibrasi dan temperatur abnormal pada pompa.
Kebocoran dari peralatan dan flange perpipaan.
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve.
Kondisi abnormal lainnya.
(2) Pembersihan screen dilakukan secara berkala untuk mendapatkan kondisi operasi yang stabil. Kayu, plastik, dan kotoran lainnya harus dibersihkan pada saat rutinitas maintenance work.
3.1.2. Operasional Pompa Standby
Masing-masing pompa agar ditukar operasionalnya satu kali dalam seminggu untuk mencegah munculnya karat. Program pertukaran (change-over) River Water Intake Pump ini merupakan sesuatu yang wajib dilakukan.
Tidak ada pompa untuk bahan baku air sungai yang dibiarkan pada posisi stand-by untuk jangka waktu yang lama, karena hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan hewan sungai dan rerumputan liar sungai di line suction pompa, internal pompa dan discharge pompa akan terjadi.
3.2. Filter Water Treatment 3.2.1. Rutinitas Operasi
(1) Pemeriksan area lapangan harus dilakukan secara berkala (misalnya setiap shift) untuk meyakinkan bahwa operasional Filter Water Treatment Unit dapat berlangsung dengan aman dan stabil dan menegaskan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara indikasi di panel (control room) dan di instrumentasi lokal.
(2) Rute pengawasan area lapangan yang sama agar tercatat minimal sekali dalam sehari.
Hal-hal berikut agar menjadi perhatian:
Peralatan instrumentasi di lapangan
Adanya vibrasi, suara dan temperatur yang abnormal pada peralatan
Kebocoran pada peralatan, piping dan flange
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve
Level pelumas dan kondisinya
Permasalahan pada sistem injeksi bahan kimia
Kondisi abnormal lainnya
3.2.2. Pekerjaan Berkala selama Operasional
(1) Pekerjaan berikut dilakukan secara berkala untuk meyakinkan operasional yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Pengetesan sistem interlock dan sistem back-up (setiap tahun)
Pemeriksaan dan pengetesan sistem instrumentasi (setiap tahun)
Isi dan ganti minyak pelumas dan grease (jika diperlukan)
Dosis bahan kimia (jika diperlukan)
Pembersihan strainer (berdasarkan rekaman data operasional)
Hal hal lain yang dianggap perlu (2) Operasional Pompa yang Stand-by
Pada kondisi normal, pompa yang stand-by dijalankan apabila pompa yang sedang beropeasi mengalami kerusakan dan perbaikan. Tetapi, program pertukaran (change over) operasional pompa tetap perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya pertumbuhan bakteri pada line suction pompa, internal pompa dan line discharge pompa yang stand-by.
(3) Monitoring Injeksi Bahan Kimia ke Inlet Clarifier
Operasional yang efisien dan stabil di Clarifier System akan didapatkan dengan menjaga konsentrasi bahan kimia yang ditetapkan oleh vendor. Kualitas air sungai harus selalu tercatat agar dapat mengukur jumlah injeksi secara akurat.
(4) Pertukaran prosedur Ultrafiltration Unit dapat dilakukan dengan memilih tombol di panel lokal atau DCS. Pilih tombol START atau STOP untuk setiap unit yang beroperasi atau stand-by, kemudian semua valve akan dioperasikan dalam mode AUTO. Apabila terdapat alarm SYSTEM FAULT / ERROR, pilih tombol RESET.
3.3. Reverse Osmosis Unit 3.3.1. Rutinitas Operasi
(1) Pemeriksan area lapangan harus dilakukan secara berkala (misalnya setiap shift) untuk meyakinkan bahwa operasional Reverse Osmosis Unit dapat berlangsung dengan aman dan stabil dan menegaskan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara indikasi di panel (control room) dan instrumentasi lokal.
(2) Rute pengawasan area lapangan yang sama agar tercatat minimal sekali dalam sehari.
Hal-hal berikut agar menjadi perhatian:
Peralatan instrumentasi di lapangan
Adanya vibrasi, suara dan temperatur yang abnormal pada peralatan
Kebocoran pada peralatan, piping dan flange
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve
Level pelumas dan kondisinya
Permasalahan pada sistem injeksi bahan kimia
Kondisi abnormal lainnya
3.3.2. Pekerjaan Berkala selama Operasional
(1) Pekerjaan berikut dilakukan secara berkala untuk meyakinkan operasional yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Pengetesan sistem interlock dan sistem back-up
Pemeriksaan dan pengetesan sistem instrumentasi
Isi dan ganti minyak pelumas dan grease
Dosis bahan kimia
Pembersihan strainer
Hal hal lain yang dianggap perlu
(2) RO Unit beroperasi secara terus menerus. Tidak diperlukan backwash dan/atau regenerasi sebagaimana di Activated Carbon Filter (ACF). Tetapi, RO Unit 6210-UA dan 6210-UB harus ditukar masa operasionalnya secara berkala dan harus dilakukan pembersihan membran RO yang dilakukan untuk jangka waktu tertentu (sebaiknya 3 bulan).
(3) Mode operasi untuk backwash ACF selama beropeasi normal dapat dilakukan pada mode AUTO atau SEMI AUTO. Sebagai default adalah SEMI AUTO, operator harus menekan tombol STANDBY/RESUME untuk memulai backwash. Apabila sistem perlu dioperasikan dalam mode FULL AUTO, operator harus memilih mode AUTO.
(4) Monitoring Injeksi Bahan Kimia ke Inlet RO Safety Filter
Operasional yang efisien dan stabil di Reverse Osmosis Unit dapat diperoleh dengan menjaga konsentrasi bahan kimia yang ditetapkan oleh vendor.
Kualitas air sungai harus selalu tercatat agar dapat mengukur jumlah injeksi secara akurat.
3.4. Mixed Bed Polisher 3.4.1. Rutinitas Operasi
(1) Operasional Mixed Bed Polisher Unit dimonitor dan diawasi secara berkala (misalnya setiap shift) dengan melakukan pemeriksaan terhadap masing- masing peralatan pabrik.
(2) Hal-hal berikut yang harus diperhatikan:
Peralatan instrumentasi di lapangan
Adanya vibrasi, suara dan temperatur yang abnormal pada peralatan
Kebocoran pada peralatan, piping dan flange
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve
Level pelumas dan kondisinya
Permasalahan pada sistem injeksi bahan kimia
Kondisi abnormal lainnya
3.4.2. Pekerjaan Berkala selama Operasional
(1) Pekerjaan berikut dilakukan secara berkala untuk meyakinkan operasional yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Pengetesan sistem interlock dan sistem back-up (sekali per tahun)
Pemeriksaan dan pengetesan sistem instrumentasi (sekali per tahun)
Isi dan ganti minyak pelumas dan grease (apabila diperlukan)
Dosis bahan kimia (apabila diperlukan)
Pembersihan strainer (berdasarkan rekaman data operasional)
Hal hal lain yang dianggap perlu
3.5. Cooling Water System 3.5.1. Rutinitas Operasi
(1) Pemeriksan area lapangan harus dilakukan secara berkala (misalnya setiap shift) untuk meyakinkan bahwa operasional Cooling Water System dapat berlangsung dengan aman dan stabil dan menegaskan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara indikasi di panel (control room) dan di instrumentasi lokal.
(2) Rute pengawasan area lapangan yang sama agar tercatat minimal sekali dalam sehari.
Selain peralatan instrumentasi, hal-hal berikut agar menjadi perhatian:
Vibrasi pada peralatan
Suara dan temperatur yang abnormal pada peralatan
Kebocoran pada peralatan dan piping
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve
Level pelumas dan kondisinya
Permasalahan pada sistem injeksi bahan kimia
Kondisi abnormal lainnya
3.5.2. Pekerjaan Berkala selama Operasional
(1) Pekerjaan berikut dilakukan secara berkala untuk meyakinkan operasional yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Pengetesan sistem interlock dan sistem back-up (setiap tahun)
Pemeriksaan dan pengetesan sistem instrumentasi (setiap tahun)
Isi dan ganti minyak pelumas dan grease (jika diperlukan)
Dosis bahan kimia (jika diperlukan)
Pembersihan strainer (berdasarkan rekaman data operasional)
Hal hal lain yang dianggap perlu
(2) Operasional Pompa yang Standby
Pompa yang stand-by harus dioperasikan selama lebih kurang 30 menit dalam seminggu untuk mencegah terbentuknya karat. Tidak diperbolehkan pompa cooling water service dibiarkan dalam posisi standby untuk jangka waktu yang lama, untuk menghindari terjadinya pertumbuhan bakteri dan rumput liar di line suction pompa, internal pompa dan line discharge pompa. Diperlukan suatu program pertukaran (change over) operasional pompa.
3.6. Plant Air dan Instrument Air System 3.6.1. Rutinitas Operasi
3.6.1.1. Pemeriksaan Rutin di Control Room
(1) Indikasi dan annunciator berikut tersedia di control room:
No Indikasi No Annunciator
1 PIC-3304 1 XA-6004JA/JB
2 PIC-3303 2 XA-6006LA/LB
3 FI-3304 3 XL-6004JA/JB
4 FI-3305 4 XL-6006LA/LB
5 AI-7315A 6 AI-7315B
(2) Operasional Plant Air dan Instrument Air System dimonitor dan diawasi di control room dengan memeriksa tiap-tiap indikasi yang ada di Emergency Air Compressor 6004-JA/JB yang terdapat di tiap-tiap panel lokal.
3.6.1.2. Pemeriksaan Rutin di Lapangan
(1) Peralatan instrumentasi di lapangan diperiksa secara berkala untuk meyakinkan bahwa opersaional Plant Air dan Instrument Air System dapat berlangsung dengan aman dan stabil dan menegaskan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara indikasi di panel (control room) dan di instrumentasi lokal.
(2) Selain peralatan instrumentasi, hal berikut agar menjadi perhatian:
Suara dan temperatur yang abnormal pada peralatan
Kebocoran pada peralatan dan piping
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve
Level pelumas
Kondisi abnormal lainnya
3.6.2. Pekerjaan Berkala selama Operasional 3.6.2.1. Umum
Pekerjaan berikut dilakukan secara berkala untuk meyakinkan operasional yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Pengetesan sistem interlock dan sistem back-up
Pemeriksaan dan pengetesan peralatan sistem instrumentasi
Pengisian atau penggantian minyak pelumas
Pembersihan atau penggantian filter
Suplai cooling water yang terus menerus
Hal hal lain yang dianggap perlu
3.6.2.2. Persiapan Instrumentasi Air Emergency Compressor
Fungsi Emergency Air Compressor harus diperiksa, dilakukan pengetesan dan dijalankan secara berkala untuk meyakinkan bahwa peralatan ini dapat berfungsi baik apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Sebagai tambahan, level lube oil, cooling water system, tekanan awal dan sebagainya juga harus sering diperiksa.
3.7. Fire Fighting System 3.7.1. Rutinitas Operasi
Status semua peralatan pemadam kebakaran dan sistemnya harus diperiksa secara berkala berdasarkan jumlah yang tersedia untuk meyakinkan bahwa semua peralatan tersebut dan sistemnya siap digunakan setiap waktu.
3.7.1.1. Nyala Api
Segera umumkan kepada semua personil yang berada di sekitar sumber api, kepada personil yang ada di control room dan juga kepada fire station dengan menggunakan manual push button terdekat, peralatan radio atau telepon. Jika nyala api masih kecil, padamkan dengan peralatan pemadam kebakaran portable.
3.7.1.2. Kobaran Api
Hal-hal berikut harus menjadi pertimbangan untuk memadamkan kobaran api.
1). Lokasi api
2). Lokasi alat pemadam kebakaran 3). Kondisi cuaca / arah angin
4). Material berbahaya yang mungkin terbakar 5). Perlindungan terhadap personil
6). Meminimalkan sebaran api 7). Memadamkan api dengan segera 3.7.1.3. Kebocoran Gas
Gas mudah terbakar yang mengalami kebocoran dalam jumlah besar yang berasal dari suatu vessel dan menimbulkan api akan merusak peralatan dan menyebabkan bahaya yang serius terhadap manusia. Langkah pencegahan yang cepat dan tepat harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kebocoran gas. Water curtain system harus diperiksa seminggu sekali.
3.7.1.4. Api yang bersumber dari listrik
Apabila api muncul pada perangkat yang dialiri arus listrik, segera matikan sumber api dengan menggunakan alat pemadam api CO2. Air tidak diperbolehkan untuk memadamkan api yang terjadi di peralatan yang dialiri arus listrik.
3.7.2. Shutdown
Shutdown total pada sistem pemadam kebakaran tidak boleh dilakukan walaupun pada saat pabrik shutdown atau pabrik turn around (TA). Shutdown pada fasilitas
pemadam kebakaran hanya bisa dilakukan satu per satu, sehingga sistem akan selalu siap melayani.
3.8. Waste Water Treatment 3.8.1. Waste Water System
Hal-hal berikut agar selalu dimonitor selama operasional waste water system.
Unit Neutralisasi
(1) Waste Water Pump 6402-JA/JB yang stand-by agar selalu siap beropeasi, discharge valve dalam posisi tertutup (CLOSE) dan recycle valve dalam posisi terbuka (OPEN).
(2) Monitor indikasi pH di waste water yang terdapat di Neutralization Pond secara berkala. Jika pH di bawah 7,0 tambah sejumlah tertentu larutan caustic untuk menormalkan kondisi pH waste water tersebut. Sebaliknya, apabila pH di atas 8,0 tambahkan sejumlah tertentu larutan acid untuk menormalkannya.
(3) Plant Air untuk keperluan sparger tersedia untuk mengaduk larutan. Jumlah PA yang diinjeksikan dapat ditentukan berdasarkan pengalaman operasional dan tes laboratorium.
(4) Buka udara sparger untuk mengaduk larutan. Tambahkan larutan caustic atau larutan sulphuric acid jika diperlukan dan kirim larutan ke Check Pit dengan menggunakan salah satu Waste Water Pump 6402-JA/JB.
Unit Ammonia Stripping
(1) Effluent water urea dan offspec condensate dari urea diumpankan ke Check Pit A. Check Pit A 6404-FA merupakan pit tertutup untuk meyakinkan bahwa tidak ada ammonia yang terbuang ke atmosfer. Di atas Check Pit A, terdapat Piping Pot untuk meyakinkan bahwa tidak ada vapour ammonia yang terbuang dari 6404-FA. Line discharge pompa 6404-JA/JB terhubung ke Piping Pot yang menyediakan spray water untuk mencegah ammonia menguap.
(2) Ammonia Stripper Feed Pump 6405-JA/JB mengirim waste water dari Check Pit A 6404-FA ke Ammonia Stripper Feed Preheater 6403-C/CA. Strainer STR-4302- A/B dipasang di line suction untuk menangkap kotoran yang terdapat di waste water. Flowrate waste water terindikasi oleh FI-4302, sedangkan temperatur di outlet Ammonia Stripper Feed Preheater pada kisaran 95ºC terindikasi di TW/TG-4303.
(3) Waste water dari Ammonia Stripping System mengalir melalui sisi bawah Stripper pada 0,8 kg/cm2G dan 104,3ºC ke Ammonia Stripper Feed Preheater 6403-C/CA dan terus ke Effluent Cooler 6404-C1/C2 pada sisi shell dengan cooling water pada sisi tube, sebelum akhirnya dikirim ke Check Pit A/B.
(4) Apabila effluent ini sesuai dengan batasan kualitas, buka manual valve ke Check Pit B dan selanjutnya dapat dikirim ke pengolahan effluent eksisting. Jika hasil pengolahan sistem ini masih offspec, jaga aliran tetap ke Check Pit A untuk disirkulasikan offspec waste water tersebut di Stripping System.
3.8.2. Ammonia Stripping System
Flow rate steam ke Stripper, flow rate waste water dan kondisi lainnya harus diatur untuk mendapatkan kualitas treated water yang diinginkan.
Flowrate steam inlet dikontrol berdasarkan jumlah inlet waste water ke Ammonia Stripper 6403-E. Pengontrolan ini secara otomatis dilakukan oleh ratio controller RC- 4304 yang akan memberikan set point ke controller flowrate LP Steam Inlet FIC- 4301. Secara desain, sebanyak 50 ton/jam waste water distripping oleh 13,5 ton/jam LP Steam. Sehingga rasio yang digunakan di RC-4302 sebesar 3,7 (steam to waste water ratio).
3.9. Ammonia Storage System
3.9.1. Pemeriksaan Rutin di Control Room
Indikator, controller, running lamp dan annunciator berikut tersedia di control room.
Indikator
No Nomor Tag & Alarm Uraian
1 LI-4407
(Low dan High Alarm)
Ammonia level of Ammonia Storage Tank 6101-F Set point = 20% dan 85%
2 LI-4404
(Low dan High Alarm)
Ammonia level of Ammonia Storage Tank 6101-F Set point = 20% dan 85%
3 PI-4412
(Low dan High Alarm)
Ammonia Storage Tank 6101-F Pressure Set Point = -0,004 kg/cm2G dan 0,13 kg/cm2G 4 PI-4405
(Low dan High Alarm)
Ammonia Vapour Pressure
Set Point = -0,004 kg/cm2G dan 0,13 kg/cm2G 5 PI-4421
(Low dan High Alarm)
Ammonia Vapour Pressure form Loading Facility Set Point = 4 kg/cm2G dan 8 kg/cm2G
6 FI-4401 Warm Ammonia Flow Indicator
7 FIQ-4401 Warm Ammonia Flow Rate
8 TI-4420
(Low dan High Alarm)
Warm Ammonia Heater Outlet Temperature Set Point = 20ºC dan 50ºC
Controller
No Nomor Tag & Alarm Uraian
1 TIC-4401
(Low dan High Alarm)
Warm Ammonia of Heater Outlet Temperature Set point = 20ºC dan 50ºC
2 PIC-4410
(Low dan High Alarm)
Ammonia Storage Tank 6101-F Pressure Set point = -0,004 kg/cm2G dan 0,13 kg/cm2G 3 LIC-4401 Steam condensate pot level of ammonia heater 4 PIC-4420 Ammonia vapor pressure from loading facility Running Lamp
No Nomor Tag & Alarm Uraian
1 XL-6101JA Running lamp untuk 6101-JA 2 XL-6101JB Running lamp untuk 6101-JB 3 XL-6102J Running lamp untuk 6102-J Annunciator
No Nomor Tag & Alarm Uraian
1 XA-6103 Common alarm of Refrigeration Unit 6103-L 2 LAL-7101 Reservoir Ammonia Transfer Pump 6101-JA Level
No Nomor Tag & Alarm Uraian Set point = 25%
3 LAL-7102 Reservoir Ammonia Transfer Pump 6101-JB Level Set point = 25%
4 LAL-7103 Reservoir Ammonia Transfer Pump 6102-J Level Set point = 25%
5 PAL-7801 Reservoir Ammonia Transfer Pump 6101-JA Pressure Set point = 0,42 kg/cm2G
6 PAL-7802 Reservoir Ammonia Transfer Pump 6101-JB Pressure Set point = 0,42 kg/cm2G
7 PAL-7803 Reservoir Ammonia Transfer Pump 6102-J Pressure Set point = 0,42 kg/cm2G
8 PALL-4412 Ammonia Storage Tank 6101-F Low Low Pressure Set point = -0,008 kg/cm2G
9 PAHH-4421 Ammonia Vapor Pressure from Loading Facility Set point = 9 kg/cm2G
3.9.2. Pemeriksaan Rutin di Lapangan
(1) Periksa instrumentasi di lapangan secara berkala (misalnya satu kali/shift) untuk meyakinkan stabilnya operasional Ammonia Storage Tank System, dan untuk menegaskan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti antara nilai yang terdapat di panel control room dibandingkan dengan di local instrument.
(2) Selain peralatan instrumentasi, hal berikut agar menjadi perhatian:
Kebocoran pada peralatan dan flange piping
Kesalahan pengoperasian dan penanganan peralatan dan valve
Suara, vibrasi dan temperatur yang abnormal pada rotating equipment