commit to user 34
BAB III
WISATA RELIGI SURAKARTA
A. Potensi Masjid - Masjid Tua Surakarta
Potensi wisata merupakan suatu daya tarik yang dimiliki oleh obyek - obyek wisata maupun daerah tujuan wisata yang dapat dikembangkan potensinya sebagai salah satu tujuan wisata. Potensi tersebut dapat berupa potensi alam, budaya, seni, kuliner maupun potensi buatan manusia yang secara sengaja dibuat untuk menarik minat kunjungan wisatawan. Selain itu suatu obyek wisata maupun daerah tujuan wisata harus ditunjang oleh beberapa usaha yang dikelola dengan baik, seperti promosi untuk memperkenalkan obyek wisata dan menarik minat wisatawan, transportasi menuju obyek wisata yang lancar dan memadai, kemudahan keimigrasian atau birokrasi, akomodasi berupa penginapan yang nyaman, pemandu wisata, penawaran produk wisata berupa barang dan jasa, atraksi - atraksi wisata yang menarik, kebersihan dan kesehatan lingkungan (James J. Spillane, 1987 : 92).
Kota Surakarta memiliki potensi yang besar nutuk mengembangkan wisata religi. Hal ini dikarenakan adanya bangunan bersejarah berupa masjid tua dan banyaknya event tahunan yang berkaitan dengan wisata religi yang digelar setiap tahun. Potensi yang berupa masjid tersebut berada di tiga kecamatan yaitu : a. Masjid Agung Surakarta di Kecamatan Pasar Kliwon
Masjid Agung Surakarta atau Masjid Agung Solo dibangun oleh Paku Buwono III tahun 1763 atau 1689 tahun jawa dan selesai pada tahun 1768. Masjid Agung merupakan komplek bangunan seluas 19.180 meter persegi, terdapat Saka Guru
yang berjumlah empat sebagai titik awal pembangunan masjid yang didirikan pada tahun wawu 1689 Saka atau 1757 Masehi. Saat pemerintahan Sri Susuhunan Pakubawana ke IV (1788 - 1820) dibangun mustaka atau kubah berlapis emas seberat 7,5 kilogram yang terdiri dari 192 keping uang ringgit emasnamun lapisan emas itu sempat diganti bahan metal pada tahun 1843 saka (H. A Basit Adnan, 2010 : 12 - 16).
Gambar 9
Masjid Agung Surakarta
(Sumber :Dokumen pribadi diambil tanggal 25 Juli 2013)
Masjid Agung Surakarta mengalami beberapa pemugaran, pemugaran pertama pada masa Paku Buwono VI, kemudian dilakukan penyempurnaan oleh Paku Buwono VII. Pembangunan masjid agung Surakarta mengikuti bentuk masjid agung demak yang didirikan oleh penyiaran Agama Islam di Jawa.
Bangunan masjid tersebut berbentuk tajuk yaitu bangunan klasik dengan atap bersusun tiga yang oleh para wali hal itu ditafsirkan sebagai pokok – poko tuntunan Islam yaitu :
1. Imam
Dilambangkan pada tahap pertama paling atas, maksudnya seseorang jika masuk agama islam harus percaya kepada tatanan enam keimanan yaitu, percaya kepada Allah SWT, malaikat, Kitab – kitaab suci, Rasul Hari Kiamat dan kepastian baik-buruk dari Allah SWT.
2. Islam
Dilambangkan pada tahap yang kedua yang mengandung maksud bahwa syariat Islam wajib dijalani ialah mengucapkan dua kalimat syahadat, melakukan shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji.
3. Ihsan
Dilambangkan pada tahap yang ketiga, maksudnya setiap orang Islam wajib berbuat baik kepada semua umat manusia dimana saja dan oleh siapa saja.
Masjid Agung Surakarta ini juga mirip bangunan keraton, antara lain memiliki gapura dan benteng yang mengelilinginya. Bangunan gapura masjid agung ini pada awalnya berbentuk limasan, kemudian pada masa pemerintahan Paku Buwana X diganti dengan bentuk arsitektur arab. Gapura ini selesai dibangun pada tanggal 6 Mulud 1831 tahun Je atau 1901 M. Pembangunan gapura ini menghabiskan dana 100.000 gulden. Gapura Masjid Agung Surakarta berukuran panjang ± 25 meter, tinggi ± 10 meter, dengan ketebalan ± 2 meter.
Masjid Agung Surakarta mempunyai cirri khas yaitu sebuah bedug yang dinamakan Kyai Wahyu Tenggara dan sebuah Kentongan yang tidak ada bandingnya besar dan kerasnya suara. Di halaman masjid sebelah kiri terdapat sebuah bangunan menara atau sering disebut JOgosworo setinggi 25 meter, dengan tangga naik dari besi yang dibangun tahun 1923 M dan diresmikan tahun 1929 M (Retno Galih, dkk 2013 : 16-20)
b. Masjid Ki Ageng Henis di Kecamatan Laweyan Gambar 10 Masjid Laweyan
( sumber :Dokumen pribadi diambil tanggal 25 Juli 2013)
Masjid Laweyan merupakan masjid tertua yang berada di Surakarta, berusia hampir lima abad. Bangunan utama masjid hanya 162 meter persegi, dibangun pada tahun 1546 pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Awalnya merupakan pura Agama Hindu milik Ki Beluk yang merupakan sahabat Ki Ageng Henis, dengan pendekatan damai sanggar atau pura Ki Beluk ini pun kemudian
dirubah menjadi langgar. Tata ruang Masjid Laweyan merupakan tipologi masjid Jawa pada umumnya, ruang dibagi menjadi tiga yakni ruang induk dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan serambi kiri. Bentuk masjid menyerupai bangunan Jawa yang terdiri atas pendapa atau bangunan utama dan dua serambi.
Ciri arsitektur Jawa juga ditemukan pada bentuk atap masjid yang bersusun atau bertajuk, terdiri atas dua bagian yang tersusun. Komplek masjid menjadi satu dengan makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura, dan Kasunanan Surakarta, pada makam terdapat pintu gerbang samping yang khusus dibuat untuk digunakan oleh Sunan Paku Buwono X berziarah ke makam (kekunaan.blogspot, diakses pada tanggal 20 Juni pukul 22.00).
c. Masjid Al - Wustho di Kecamatan Banjarsari
Masjid Al - Wustho dirancang oleh Thomas Kartens dan didirikan pada tahun 1878 – 1918 bergaya arsitektur Jawa, gapura masjid dibuat tahun 1917 – 1918 dengan dinding berhiaskan relief kaligrafi huruf Arab. Nama Al - Wustho pertama kali dikenalkan oleh penghulu Pura Mangkunegaran, Raden Tumenggung KH Imam Rosidi. Pendirian masjid tersebut diparkasai oleh K. G. P.A.A Mangkunegara I di Kadipaten Mangkunegaran sebagai masjid Lambang Panatagama. Pemugaran besar - besaran terjadi saat pemerintahan Mangkunegara VII menggunakan jasa arsitek Prancis. Luas komplek Masjid AL - Wustho sekitar 4.200 m2, (nu.or.id, diakses tanggal 20 Juni pukul 22.00).
Masjid Al - Wustho memiliki beberapa ruang masjid yang memiliki nilai kegunaan pula yaitu :
1. Ruangan serambi berukuran panjang 22 m, lebar 11 m, dengan saka sebanyak 18 buah, yang mempunyai makna dimana angka 18 adalah tanggal ketika Mangkunegaran I dinobatkan sebagai seotang raja. Di bagian utara diletakkan sebuah bedug dan sebuah kenthongan. Di depan serambi dibuat bangunan Markis dengan ukuran panjang 5 m, dengan lengkungan tembok lebar juga 5 m yang diberi hiasan relief arab.
2. Ruang shalat utama Ruang utama shalat utama berukuran panjang 24 m, dan lebar 22 m di dalam ruangan ini terdapat empat soko yang bagian alasnya berhias dengan tulisan arab, di samping itu ada saka penyangga bantu sebanyak 12 buah.
3. Pewastren
Pewastren masjid ini berukuran panjang 10 m dan lebar 7 m, di dalamnya terdapat gudang. Sebelah timurnya terdapat kantor TPA (Taman Pembelajaran Al-Quran) dan di sebelah timurnya lagi terdapat tempat wudhu khusus wanita.
4. Menara
Tepat berada di depan kantor pengurus masjid didirikan menara dengan tinggi 25 m, dan diameter 2 m. Dahulu menara ini dipergunakan untuk para Muadzin yang akan menyuarakan azan (Retno Galih , dkk 2013 : 26 - 29)
Masjid Al - Wustho sudah termasuk dalam benda cagar budaya yang sudah terbukti dengan pemasangan plakat pada tembok depan masjid selain itu masjid Al - Wustho juga memiliki yang tertulis dengan huruf arab dan huruf jawa kuno, plakat tersebut dibuat pada masa Mangkunegara V prasati tersebut terletak tepat dibawah plakat pengesahan benda cagar budaya (wawancara Purwanto, pengelola Masjid Al-Wustho, tanggal 25 Juli 2013).
Gambar 11
Masjid Al - Wustho
(sumber :Dokumentasi pribadi diambil tanggal 25 Juli 2013)
Wisata religi Surakarta mempunyai peluang untuk dikembangkan, hal ini disebabkan wisata religi Surakarta memiliki beberapa kekuatan dan keunggulan.
Adapun keunggulanya yaitu :
a. Bangunan dari masjid sudah termasuk benda cagar budaya yang sudah ditetapkan melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta No 646/116/1/1997 dilindungi UU RI No 11 Tahun 2010.
b. Dukungan pemerintah berupa bantuan dana sebesar Rp 230 juta untuk memasang plakat penanda dari kuningan dan tembaga pada bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, selain itu Pemkot juga memberi bantuan perawatan dan insentif berupa pembebasan pajak bumi dan bangunan tetapi pemberian insentif ini masih terkendala. Hal ini disebabkan belum adanya
peraturan pemerintah yang memberikan aturan teknis atas undang - undang tentang cagar budaya (tempo.co diakses tanggal 2 Juli pukul 22.00).
c. Event wisata yang berkaitan dengan wisata religi sudah ditetapkan dalam kalender event seperti Grebeg Maulud yang merupakan puncak perayaan Sekaten pada akhir bulan Maulud, Sekatenan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan Maulud yang diselenggarakan di likungan Kraton Kasunanan Surakarta.
d. Program - program kegiatan dari pengurus masjid yang menjadi daya tarik wisatawan, seperti Grebeg Maulud yang merupakan puncak perayaan Sekaten pada akhir bulan Maulud yang ditandai diaraknya gunungan berbagai macam hasil bumi dari Kraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta, Sekatenan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan Maulud yang diselenggarakan di Alun - Alun Lor Kraton Kasunanan Surakarta, Pesantren Ramadhan diselenggarakan pada bulan Ramadhan yang melibatkan siswa - siswi sekolah di sekitar Surakarta.
B. Strategi Pengembangan Wisata Religi Surakarta
Pengembangan pariwisata di suatu daerah perlu ditingkatkan dengan berkembangnya pariwisata akan memberikan keuntungan bagi daerah tersebut, karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup luas bagi penduduk setempat. Pengembangan kepariwisataan pada suatu daerah tujuan wisata selalu akan diperhitungkan dengan teliti agar memberi dampak positif dan sebisa mungkin mengurangi dampak negatif. Salah satu motivasi wisatawan berkunjung pada suatu daerah tujuan wisata adalah untuk menyaksikan dan melihat keindahan alam termasuk cagar alam dan tempat bersejarah (Oka A. Yoeti, 1997 : 33).
Wisata memiliki beragam manfaat bagi jiwa dan spiritual. Salah satunya mengembalikan kesegaran badan dan pikiran setelah berhari - hari beraktivitas.
Manusia membutuhkan suatu aktivitas penyegaran atau relaksasi. Maka dari itu, tidaklah heran apabila banyak diantara masyarakat yang mengunjungi obyek - obyek wisata di daerah tertentu dengan motif dan minat yang berbeda - beda.
Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tetapi belum jelas daerah mana yang dituju. Berbagai faktor penarik yang dimiliki daerah tujuan wisata akan menyebabkan seseorang memilih daerah tujuan wisata tertentu untuk melepaskan lelah. Banyaknya cara yang dipilih seseorang dalam berwisata menunjukan adanya perbedaan pola perilaku wisata, antara wisatawan satu dengan wisatawan lainnya memiliki kebutuhan yang berbeda.
Dalam kaitannya seluruh faktor pendorong seseorang untuk berwisata dan perilaku wisata yang berbeda - beda, salah satunya terdapat pilihan wisata religi.
Wisata religi adalah suatu kegiatan wisata ke tempat yang memiliki makna khusus bagi umat beragama, biasanya berupa tempat ibadah, makam ulama, atau situs - situs kuno. Nyoman. S. Pendit dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana 2002 menjelaskan bahwa, wisata ziarah atau wisata
religi adalah jenis wisata yang sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Pada umumnya wisata religi banyak dilakukan oleh individu atau kelompok yang merelakan waktu waktu luang untuk melakukan perjalanan ke tempat tempat suci atau yang dianggap keramat (Agus Mariyadi, 2011 : 19).
Potensi wisata religi di Kota Surakarta sangatlah besar, banyak bangunan atau tempat bersejarah yang memiliki arti khusus bagi wisatawan. Banyak
wisatawan yang memilih wisata religi sebagai tujuan dalam berwisata. Wisata religi atau wisata ritual dilakukan dengan mengunjungi tempat - tempat tertentu yang dianggap memiliki keunikan dan kekuatan untuk meningkatkan spiritual wisatawan. Kota Surakarta adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi wisata religi. Hal ini dikarenakan di kota Surakarta terdapat beberapa masjid tua. Potensi yang berupa masjid tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan di Kota Surakarta yang sebagian telah berkembang sebagai tujuan wisata yang sudah dikenal oleh wisatawan. Diantaranya adalah Masjid Agung keraton Kasunanan Surakarta, Masjid Al- Wustho, dan Masjid Ki Ageng Henis.
Strategi merupakan aspek penting dalam menjual sebuah produk wisata, pemasaran wisata tidak hanya dilihat dari kualitas produknya tetapi juga dari pelaku wisatanya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemasaran pariwisata yaitu, dengan menciptakan inovasi baru dan ide - ide menarik lainnya.
Dalam upaya peningkatan wisata religi, maka Dinas Pariwisata Surakarta membuat beberapa strategi. Adapun strategi pemasaran tersebut adalah :
a. Promosi
Pemerintah Kota Surakarta melakukan promosi wisata religi melalui media elektronik internet dan media cetak seperti leaflet salah satu media promosi yang sangat dikenal masyarakat, dengan bentuk yang simple, gambar menarik dan tulisan yang berisi tentang obyek - obyek wisata yang ada di Surakarta baik obyek wisata religi maupun obyek wisata budaya dan wisata kuliner. Selain leaflet, booklet yang berisi tentang event - event tahunan yang diselenggarakan di
Surakarta seperti Sekaten, Grebeg Maulud, Java Expo, Solo Batik Carnival dan lainnya.
b. Perlindungan Bangunan
Perlindungan bangunan berupa perlakuan atau tindakan penyelamatan benda - benda dan bangunan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. Kota Surakarta dalam hal perlindungan bangunan cagar budaya belum mempunyai Perda tentang bangunan cagar budaya, selama ini Kota Surakarta mengacu pada pasal 1 ayat 2 Undang - Undang RI No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Dalam hal ini bangunan masjid yang menjadi benda cagar budaya seperti Masjid Agung Surakarta, Masjid Ki Ageng Henis, Masjid Al - Wustho. Perawatan bangunan tersebut dengan melakukan pengencatan menjelang Bulan Ramadhan, renovasi pada bagian - bagian masjid yang sudah rusak, tetapi renovasi disini tidak mengubah arsitektur bangunan masjid itu sendiri (joglosemar.co diakses pada tanggal 2 Juli pukul 20.00).
c. Kerjasama
Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga pendidikan untuk merawat dan melestarikan tradisi - tradisi budaya, seperti kegiatan pesantren dari sekolah sekitar Surakarta setiap Bulan Ramadhan, kegiatan Sekaten dan Grebeg Maulud di Masjid Agung Surakarta (wawancara Alif, bidang tata usaha Masjid Agung Surakarta, tanggal 20 Juni 2013).
Contoh paket wisata religi :
Dengan kesepakatan antara Tour Leader dan Panitia. Acara dapat berubah sewaktu – waktu
di sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan.
NB :
* Pemilihan Objek disesuaikan dengan jadwal dan program perjalanan Pemilihan Objek dan Harga dapat disepakati
WISATA MASJID TUA
Pkl. 07.00 WIB Sarapan di omah sinten, check out Hari ke 1
Pkl. 08.00 WIB Perjalanan dari omah sinten ke candi cetho dan candi sukuh Pkl.11.00 WIB Tiba di candi cetho
Pkl.12.00 WIB Sholat dzuhur jama’ah di masjid desa sekitar candi sukuh
Pkl.15.00 WIB Perjalanan pulang menuju solo Pkl.16.30 WIB Tiba di laeyan,menuju masjid laweyan Pkl.14.00 WIB Makan siang di taman sari
Pkl.17.00 WIB Setelah solat ashar,wisatawan kami ajak ke kampung batik laweyan Pkl.18.30 WIB setelah solat magrib di masjid laweyan kembali ke omah sinten Pkl.19.30 WIB setelah solat isyak makam malam di omah sinten dan free program
HARI Ke 2
Pkl. 08.00 WIB Perjalanan menuju masjid Al-wutso Pkl. 08.15 WIB Menelusuri sejarah masjid Al-wutso
Pkl. 09.30 WIB Perjalanan menuju masjid agung dan kasunanan Pkl. 10.00 WIB Tiba di kraton kasunanan dan mengunjungi kraton
Pkl. 11.30 WIB Dari kraton kita menuju masjid agung untuk menuainaikan solat dzuhur Pkl. 13.00 WIB Mengunjungi pasar klewer
Pkl. 14.00 WIB Perjalanan kerumah makan taman sariuntuk makan siang Pkl. 15.00 WIB Wisatawan diantar ke bandara untuk pulang
- Harga paket/pax Rp1.300.000
commit to user
Dengan kesepakatan antara Tour Leader dan Panitia. Acara dapat berubah sewaktu – waktu
di sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan.
NB :
* Pemilihan Objek disesuaikan dengan jadwal dan program perjalanan Pemilihan Objek dan Harga dapat disepakati
WISATA MASJID TUA
Pkl. 07.00 WIB Sarapan di omah sinten, check out Hari ke 1
Pkl. 08.00 WIB Perjalanan dari omah sinten ke candi cetho dan candi sukuh Pkl.11.00 WIB Tiba di candi cetho
Pkl.12.00 WIB Sholat dzuhur jama’ah di masjid desa sekitar candi sukuh
Pkl.15.00 WIB Perjalanan pulang menuju solo Pkl.16.30 WIB Tiba di laeyan,menuju masjid laweyan Pkl.14.00 WIB Makan siang di taman sari
Pkl.17.00 WIB Setelah solat ashar,wisatawan kami ajak ke kampung batik laweyan Pkl.18.30 WIB setelah solat magrib di masjid laweyan kembali ke omah sinten Pkl.19.30 WIB setelah solat isyak makam malam di omah sinten dan free program
HARI Ke 2
Pkl. 08.00 WIB Perjalanan menuju masjid Al-wutso Pkl. 08.15 WIB Menelusuri sejarah masjid Al-wutso
Pkl. 09.30 WIB Perjalanan menuju masjid agung dan kasunanan Pkl. 10.00 WIB Tiba di kraton kasunanan dan mengunjungi kraton
Pkl. 11.30 WIB Dari kraton kita menuju masjid agung untuk menuainaikan solat dzuhur Pkl. 13.00 WIB Mengunjungi pasar klewer
Pkl. 14.00 WIB Perjalanan kerumah makan taman sariuntuk makan siang Pkl. 15.00 WIB Wisatawan diantar ke bandara untuk pulang
- Harga paket/pax Rp1.300.000
C. Potensi Obyek Dan Daya Tarik Wisata Religi Dilihat Dari Analisa Pendekatan 4A+1P Dan Analisis SWOT
1. Pendekatan 4A+1P
Dalam pengelolaan dan pengembangan suatu obyek wisata dibutuhkan metode atau analisa data yang lengkap agar dalam pelaksanaan program yang direncanakan dapat tercapai dan tepat pada sasaran yang diinginkan. Kemudian dalam melakukan penelitian ini menggunakan suatu metode pengembangan obyek wisata dengan pendekatan analisi 4A+1P (Atraksi, Aksessibilitas, Amenitas, Aktivitas dan pengelola).
Hal ini dilakukan agar dalam merumuskan kajian permasalahan dapat diketahui secara pasti dan lengkap mengenai atraksi wisata yang ada, sarana dan prasarana yang dimiliki obyek wisata tersebut. Adapun hasil dari analisa selama penelitian di daerah wisata religi Surakarta berdasarkan pendekatan 4A+1P adalah sebagai berikut :
1. Atraksi
Atraksi wisata merupakan faktor pendukung yang sangat berpengaruh dalam menganalisis suatu obyek wisata agar wisatawan tertarik untuk berkunjung ke obyek wisata tersebut. Biasanya atraksi wisata ini hanya dilaksanakan pada event - event tertentu yang khusus dilaksanakan di obyek wisata, dengan harapan
dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung di obyek tersebut, misalnya : Sekaten yang dilaksanakan untuk memperingati maulud Nabi Muhammad SAW, yang bertempat di Alun - Alun Keraton Kasunanan Surakarta. Sekaten dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan tradisi serta pameran benda - benda pusaka keraton.
2. Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan unsur penting dalam menganalisa suatu obyek wisata agar obyek tersebut dapat dijangkau oleh wisatawan baik dari segi sarana transportasi darat, udara, serta fasilitas yang ada selama perjalanan menuju suatu obyek wisata. Dalam hal ini dilakukan analisa sesuai kenyataan yang ada di lapangan selama perjalanan menuju obyek wisata masjid - masjid tua Surakarta, diharapkan dari hasil analisis ini akan diperoleh solusi terbaik untuk mengelola dan mengembangkan obyek wisata masjid tua Surakarta menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Adapun uraian mengenai segi aksesibilitas sebagai berikut :
2.1 Akses Jalan
Kondisi jalan menuju ketiga masjid ini sudah cukup bagus, dari jalan utama sampai menuju jalan masuk ke masjid sudah beraspal dan kendaraan besar seperti mini bus sudah dapat diparkirkan di sekitar lokasi masjid.
2.2 Sarana Transportasi
Segi sarana transportasi di sekitar ketiga masjid terdapat sarana transportasi yang mudah dan terjangkau. Selain menggunakan kendaraan pribadi wisatawan juga bisa menggunakan kendaraan umum seperti bus kota dan angkutan kota. Dari terminal bus Tertonadi menuju Masjid Laweyan bisa dengan bus kota sampai jalan raya menuju Masjid Laweyan lalu dilanjutkan jalan kaki memasuki gang menuju masjid. Untuk menuju Masjid Al - Wustho wisatawan bisa menggunakan Batik Solo Trans menuju Ngarsopuro dan dilanjutkan jalan kaki menuju Masjid Al – Wustho. Untuk menuju Masjid Agung wisatawan bisa
menggunakan angkutan kota yang melintasi Kraton Surakarta Dan Batik Solo Trans.
3. Amenitas
Amenitas merupakan salah satu faktor penting dalam menganalisa obyek wisata karena faktor ini dinilai mempunyai kaitan yang sangat erat dengan fasilitas yang ada di obyek, sehingga akan mempengaruhi kemudahan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Sedangkan untuk amenitas yang berada di ketiga masjid dapat dianalisa penulis sebagai berikut ;
3.1 Akomodasi
Dalam hal ini obyek wisata masjid tua yang berada di tiga kecamatan mempunyai penginapan yang cukup memadai dan fasilitas hotel mulai dari hotel berkelas bintang sanpai melati dengan tarif bervariasi.
3.2 Rumah Makan
Untuk jenis fasilitas berupa rumah makan yang berada di dalam kawasan obyek wisata masjid tua Surakarta sangat banyak karena di beberapa rumah makan di kota Surakarta menyediakan berbagai makanan khas Surakarta, salah satunya yang terkenal dan legendaris adalah rumah makan Timlo Sastro.
4. Aktivitas
Adapun berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh wisatawan maupun penduduk setempat adalah :
Aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan saat mengunjungi masjid tua Surakarta adalah melihat bangunan dan koleksi benda - benda peninggalan yang berada di masing - masing masjid, dan pada event tertentu yaitu pada perayaan mauludtan pengunjung bisa melihat perayaan Sekaten yang berupa pertunjukan
tradisi dan pameran benda - benda pusaka keraton kasunanan Surakarta di komplek Masjid Agung.
5. Pengelola
Di setiap masjid terdapat pengelola atau pengurus masjid yang menjalankan program - program kegiatan setiap harinya. Selain pengurus masjid, di Masjid Agung Surakarta juga ada kepengurusan dari Pemerintah Kota Surakarta berupa kantor tata usaha yang berada di komplek Masjid Agung Surakarta.
Tabel : Analisa potensi wisata religi berdasarkan pendekatan 4A+1P
Komponen Keterangan
Atraksi - Atraksi wisata yang terdapat di Masjid Agung Surakarta yaitu Sekaten yang bertempat di Alun - Alun Keraton Surakarta pada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW - Grebeg Maulud merupakan puncak perayaan Sekaten yang
dilaksanakan setiap tahun berupa arak - arakan gunungan dari Kraton Kasunanan Surakarta menuju ke Masjid Agung.
Aksesibilitas - Kondisi jalan menuju ketiga lokasi masjid sudah cukup bagus.
- Sarana transportasi umum sudah tersedia menuju lokasi ketiga masjid.
- Papan petuntujuk jalan menuju ke tiga masjid belum ada.
Amenitas - Sudah cukup baik karena fasilitasnya sudah memadai.
- Sudah tersedia hotel dengan berbagai kelas bintang maupun melati dengan tarif yang bervariasi.
- Terdapat rumah makan dengan berbagai pilihan menu.
- Tersedia air bersih di sekitar masjid
Aktivitas - Berlangsung kegiatan beribadah setiap hari di masjid.
- Event budaya dan kegiatan keagamaan pada waktu tertentu.
Pengelola -Masing - masing masjid dikelola oleh pengurus masjid dan pemerintah kota berupa kantor tata usaha yang berlokasi dengan Masjid Agung.
2. Analisi SWOT
Pendekatan analisis SWOT dilakukan untuk mengetahui adanya potensi yang lebih dari suatu objek wisata maupun daya tarik wisata lainnya yaitu meliputi: Kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) bagi lingkungan internal, maupun Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threat) yang dimiliki lingkungan eksternalnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, analisis SWOT dari Wisata Religi Masjid Tua Surakarta ini adalah sebagai berikut :
1) Strength (Kekuatan)
a) Memiliki Bangunan masjid yang sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta No 646/116/1/1997 dilindungi UU RI No 11 Tahun 2010.
b) Adanya event budaya yang berhubungan dengan wisata religi seperti Grebeg Maulud yang merupakan puncak perayaan Sekaten pada akhir bulan Maulud, Sekatenan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan Maulud, Pesantren Ramadhan diselenggarakan pada bulan Ramadhan yang melibatkan siswa - siswi sekolah di sekitar Surakarta.
c) Didukung sarana dan prasarana yang memadai untuk keperluan wisatawan.
d) Mengembangkan wisata religi dan mempelajari sejarah perkembangan Agama Islam.
2) Weakness (Kelemahan)
a) Terkendala SDM pengelola yang sampai saat ini masih kurang sehingga membuat pengelolaan wisata religi itu sendiri masih mengalami hambatan.
b) Belum ada POKDARWIS di sekitar masjid.
c) Belum adanya manajemen yang baik antara Pemerintah Surakarta dengan pengurus atau pengelola masing - masing masjid.
d) Kurang terlibatnya masyarakat sekitar masjid dalam program - program pengembangan masjid.
e) Atraksi budaya yang tidak bisa dinikmati setiap saat.
3) Oportunity
a) Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti travel agent untuk mengembangkan wisata religi.
b) Membuat media promosi yang lebih menarik dan kreatif agar lebih bisa dikenal masyarakat luas.
c) Menyelenggarakan event budaya yang bisa dinikmati setiap saat.
d) Memperbaiki bangunan yang sudah mengalami kerusakan dengan tidak merubah bentuk aslinya.
4) Threats (Ancaman)
a) Kalah unggul dengan wisata religi kota lain seperti Demak dan Kudus.
b) Sulit dalam mendapatkan wisatawan yang berkunjung apabila tidak mempromosikan dengan baik.
c) Banyak pilihan wisata lain yang lebih menarik.
D. Langkah Pengembangan
1. Segera merekrut SDM yang mempunyai kompeten dan ahli dibidangnya agar pengembangan wisata religi Kota Surakarta bisa menarik dan mendatangkan wisatawan dari berbagai wilayah.
2. Dibentuk POKDARWIS disekitar masjid untuk mengembangankan wisata religi POKDARWIS sangat membantu dalam pengembangan wisata religi disekitar masjid.
3. Perbaikan manajemen antara Pemerintah Kota Surakarta dengan pengurus masjid agar kegiatan pembangunan masjid bisa sesuai dengan keinginan masyarakat sekitar masjid dan keingan pemerintah kota karena selama ini kurang baiknya hubungan antara Pemkot dengan pengurus masjid menyebabkan kurang maksimalnya pembangunan masjid.
4. Mengajak masyarakat dalam mengembangkan program - program kegiatan masjid seperti kegiatan pesantren pada bulan Ramadhan.
5. Menjadwalkan atraksi budaya secara tetap agar wisatawan bisa mengunjungi setiap saat.
6. Mengembangkan potensi wisata religi Kota Surakarta dengan cara mengadakan event budaya yang berkaitan dengan wisata religi.
7. Mempromosikan wisata religi dan event di Surakarta melalui media cetak dan media elektronik secara menarik agar menambah daya tarik pariwisata Surakarta.
8. Menggabungkan paket wisata religi dengan wisata lain, misalnya wisata belanja dan wisata kuliner.