• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

9

Di dalam landasan teori ini akan dijelaskan mengenai; a) Penelitian terdahulu terkait Negotiated Order; b) Kajian Teori mengenai Negotiated Order; Teori Pertukaran Sosial c) Kajian Konsep mengenai Politik Anggaran; Negotiated Order dalam Politik Anggaran;; dan d) Kerangka Berpikir Peneliti

A. Penelitian Terdahulu

Berikut kumpulan artikel jurnal terkait Negotiated Order yang menjadi referensi, 1. Artikel Jurnal berjudul “Constructing a School Wide Professional Community:

The Negotiated Order of a Performing Arts School” oleh Joan E. Talbert (1992).

Ia menulis tentang sekolah yang berkualitas dan memiliki daya tarik, yaitu sekolah Ibsen California (kelas 4-12) dimana ia mempelajari faktor pembentuk indentitas profesional para guru. Ia menemukan bahwa pada kebanyakan sekolah, identitas profesional guru dibentuk oleh mata pelajaran budaya. Namun di Ibsen, komunitas sekolah berkembang karena kepemimpinan Kepala Sekolah dan MISI yang dijalankannya. Metode studi kasus yang digunakan pada penelitiannya, berhasil mengilustrasikan hambatan bagi komunitas guru professional di sekolah dalam norma pengajaran konvensional termasuk kebijakan Sekolah Ibsen, struktur dan sumber daya konstitusional, serta indikator kesuksesan pendidikannya. Ia juga menyoroti peran guru profesional yang membedakan kehidupan kerja guru Ibsen dari rekan kerja mereka di tempat lain. Dari hasil identifikasi ditemukan bahwa, sekolah yang sukses melibatkan kolaborasi yang baik antara Sekolah, Siswa dan Guru. Praktik Negotiated Order pada Sekolah Ibsen menjadikan berbagai masalah lebih mudah diselesaikan secara kolektif oleh ketiga pihak ini. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah pada Teori Negotiated Order yang menjadi landasan, sedangkan perbedaannya pada metode dan tempat.

(2)

2. Artikel Jurnal berjudul “The nursing-medical boundary: A Negotiated Order?”

oleh Davina Allen (1997). Dengan mengadopsi perspektif Negotiated Order sebagai kerangka kerja teoritis untuk memahami pola interaksi Dokter-Perawat, Ia menganalisis data hasil wawancara dengan staf perawat dari bangsal bedah dan medis pada lima Rumah Sakit di Swedia. Hasil penelitiannya menemukan bahwa, terdapat 'ruang negosiasi' antar perawat dan dokter yang akhirnya mengarah ke evolusi hubungan kerja baru. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah pada Teori Negotiated Order yang menjadi landasan, sedangkan perbedaannya pada subjek dan tempat penelitian.

3. Artikel Jurnal berjudul “A Negotiated Order Perspective on Public Sector Accounting and Financial Control” oleh Abu Shiraz Rahaman & Stewart Lawrence (2001). Lebih dari dua dekade yang lalu, Hopwood mengkritik peneliti akuntansi karena minimnya pengetahuan mereka tentang fungsi aktual akuntansi dalam konteks organisasi. Kemudian Parker dan Roffey yang sempat melakukan penelitian pada ranah tersebut menyatakan bahwa kecenderungan fenomena tersebut masih saja terjadi. Akhirnya Rahaman dan Lawrence (2001) mencoba mengamati perspektif Negotiated Order sebagai teori sosial dengan harapan dapat membantu peneliti memahami akuntansi dalam konteks organisasinya dengan lebih baik. Mereka juga memberikan ilustrasi kasus ‘Otoritas Sungai Volta’

tentang bagaimana perspektif Negotiated Order dapat membantu mengapresiasi praktik akuntansi dalam organisasi dan masyarakat. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah pada ranah Negotiated Order, sedangkan perbedaannya adalah penggunaan Teori Negotiated Order sebagai perspektif dalam memahami akuntasi organisasi.

4. Artikel Jurnal berjudul “Negotiated Order in Inter-Organizational Relations:

Toward an Institutional Theory of Stakeholder Negotiations” oleh Kalle Pajunen (2002). Ia menganalisis kemungkinan hubungan antara ekonomi kelembagaan baru dan model manajemen stakeholder. Awalnya ia menemukan bahwa pengambilan keputusan organisasi perusahaan mencakup aspek eksplisit dan

(3)

implisit yang dibentuk oleh kelembagaan dan aspek teknis, hal ini sesuai dengan argumen. organisasi politik tradisional. Hal ini berarti, segala kendala dan keputusan dalam perusahaan harus diseimbangkan melalui perspektif ini. Sebagai ilustrasi, ia menggambarkan proses merger dan akuisisi yang gagal antara United Airlines dan US Airways pada 2000 - 2001. Metode dasar yang digunakan dalam pada penulisan artikel ini adalah strategi template alternatif dan analisis komparatif antara dua artikel bacaan. Ia merekomendasikan agar dua kerangka teori saling melengkapi dan bisa jadi berguna ketika mempelajari/memperkirakan pengaruh negosiasi antar organisasi terhadap pengambilan keputusan organisasi, dan terutama strategi. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah pada ranah Negotiated Order, sedangkan perbedaannya adalah tujuan pembahasan yang menghubungkan negosiasi stakeholder dengan Negotiated Order Teori Negotiated Order.

5. Artikel Jurnal berjudul, “Evaluation and Negotiated Order Developing the Application of Complexity Theory” oleh Gill Callaghan (2008). Ia mengemukakan bahwa teori kompleksitas memiliki potensi untuk membawa wawasan penting dalam membingkai ulang peran dan praktik evaluasi. Namun, kegunaan teori kompleksitas perlu dikembangkan untuk mendukung penerapannya dalam penelitian evaluasi. Artikel ini berfokus pada implikasi hubungan yang direformasi antara teori dan pengaturan empiris untuk mengevaluasi kebijakan.

Ini menunjukkan bahwa teori kompleksitas memberikan cara baru dalam memandang hubungan kausal. Disebutkan bahwa teori Negotiated Order menawarkan sebuah dasar untuk memastikan kesenjangan dalam praktik evaluasi dan memberikan harapan bagi kebijakan yang didasarkan pada teori. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah menyinggung Negotiated Order, sedangkan perbedaan pada artikel ini adalah fokus pembahasan tentang teori kompleksitas.

6. Artikel Jurnal berjudul “Government Dudgeting, Power and Negotiated Order”

oleh I. Lapsley, A. Midwinter, T. Nambiar & I. Steccolini (2011). Penelitian ini membahas fenomena yang relatif terabaikan dalam pengaturan anggaran

(4)

pemerintah, yaitu proses dimana anggaran disepakati dalam pemerintahan. Pada penelitian ini mereka menemukan bahwa sebuah kekuasaan dapat dibagi (koalisi) atau dilemahkan (minoritas). Studi ini mengkaji fenomena pada kehidupan Parlemen Skotlandia (1999-2009) terkait pengaturan anggaran dalam koalisi politik dan pemerintahan minoritas berdasarkan Teori Negotiated Order (Strauss) dan konsep Circuit of Power (Clegg). Mereka membuktikan adanya stabilitas dalam pelaksanaan kekuasaan dengan menerapkan Negotiated Order dalam pengaturan anggaran di pemerintahan minoritas. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah teori Negotiated Order yang digunakan sebagai landasan teori, serta ranah pemerintahan dan anggaran yang diteliti. Sedangkan perbedaannya ada pada tempat dan waktu penelitian.

7. Artikel Jurnal berjudul “Managerial Responsibility as Negotiated Order: A Social Construction Perspective” oleh Lore´a Baı¨ada-Hire`che, Jean Pasquero, & Jean- Franc¸ois Chanlat (2012). Mereka membahas bagaimana karyawan membentuk persepsi tentang tanggung jawab manajerial dalam pengaturan organisasi yang konkret. Berdasarkan pada teori Negotiated Order, penelitian menunjukkan bahwa persepsi ini adalah hasil dari proses kompleks konstruksi sosial dan negosiasi, daripada penerapan model atau norma etika yang telah ditentukan.

Persepsi karyawan tampaknya tidak stabil; mereka tunduk pada perubahan yang konstan, berfluktuasi dengan keadaan organisasi dan cenderung membuat gangguan organisasi yang cukup besar, terutama ketika manajer membuat keputusan yang kompleks dan ambigu. Pendekatan proses yang diadopsi oleh penelitian ini menyoroti dinamika penting yang diabaikan oleh etika bisnis tradisional, seperti kerapuhan konstruki dalam tanggung jawab manajerial, yang tidak dapat koheren kecuali jika terus-menerus dinegosiasikan ulang di antara berbagai kelompok karyawan organisasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah teori Negotiated Order yang digunakan sebagai landasan teori, sedangkan perbedaannya ada pada subjek dan tempat penelitian.

(5)

8. Artikel Jurnal berjudul “Public Safety Regimes: Negotiated Order and Political Analysis in Criminology” oleh Adam Edwards and Gordon Hughes (2011). Dalam artikel jurnal ini, tersirat konsep Negotiated Order yang digunakan peneliti untuk memahami produktivitas sosial dari kekuatan politik. Dimana kekuasaan untuk menyelesaikan program pemerintahan bagi warga negara sejumlah kekuasaan atas warga negara untuk tujuan kontrol sosial. Artikel ini mempertimbangkan penerapan teori rezim untuk negosiasi keamanan publik, permasalahan pemerintahan dalam kriminologi dan menyoroti bagaimana sebuah kekuatan dapat ‘membangun’ serta ‘membatasi’, serta memperjelas bahwa negosiasi tidak hanya perintah tatanan sosial. Hasil dari penelitian ini adalah analisis konseptual yang memberi kesempatan kepada ilmuwan untuk memprovokasi perubahan kebijakan. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah teori Negotiated Order yang tersirat dalam penelitian, sedangkan perbedaannya ada pada ranah bahasan yang menyangkut kriminologi, subjek dan tempat penelitian.

9. Artikel Jurnal berjudul “Negotiated Order: The Groundwork for a Theory of Offending Pathways” oleh Lesley McAra & McVie (2012). Artikel ini mengeksplorasi peran yang dimainkan perintah formal dan informal dalam pengembangan identitas individu/pelaku. Data kuantitatif dan kualitatif dari Studi Edinburgh tentang Transisi dan Kejahatan Pemuda menunjukan bahwa, perintah formal (Paksaan dari Sekolah dan Polisi) membedakan antara kategori anak muda berdasarkan kelas dan kecurigaan sedangkan perintah informal (Aturan/ Norma dalam bergaul) membedakan antara individu berdasarkan kepatuhan terhadap norma-norma kelompok, kedaulatan wilayah, dan perilaku gender yang sesuai.

Perintah tersebut merusak kapasitas individu untuk bernegosiasi, membatasi otonomi dan membatasi pilihan. Ini membuat individu lebih mungkin untuk menyerap identitas yang dianggap tepat walaupun mampu merusak perilaku diri.

Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah teori Negotiated Order yang tersirat dalam penelitian, sedangkan perbedaannya ada pada subjek bahasan yang mengarah pada kriminologi pemuda.

(6)

10. Artikel Jurnal berjudul “Becoming hybrid: The negotiated order on the front line of public–private partnerships” oleh Bishop, S. & Waring, J. (2016). Artikel ini membahas bagaimana masalah kelembagaan dalam pembentukan organisasi publik-swasta hibrid dan bahwasanya sebagian masalah dapat diselesaikan, melalui interaksi tingkat mikro dalam pekerjaan sehari-hari. Berdasarkan perspektif Negotiated Order, penelitian mereka memeriksa bagaimana 'konteks', 'proses' dan 'hasil' dari negosiasi tingkat mikro, mencerminkan dan mengurangi ketegangan antara logika kelembagaan. Studi etnografi yang diterapkan dalam penelitian pada sistem organisasi English healthcare mengidentifikasi ketegangan dalam konteks hibrida di sekitar tujuan dan nilai-nilai organisasi, aktivitas kerja, hierarki dan bahan serta teknologi pekerjaan. Mereka juga mengidentifikasi proses negosiasi antar aktor, yang berkontribusi pada penyelesaian yang dinegosiasikan, kadang-kadang menggabungkan unsur-unsur logika kelembagaan induk, dan pada waktu lain berfungsi untuk menjaga agar logika induk tetap berbeda. Jurnal ini menunjukkan relevansi perspektif Negotiated Order dengan literatur institusional terkini tentang organisasi hibrid. Berdasarkan penjelasan tersebut, persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah teori Negotiated Order yang tersirat dalam penelitian, sedangkan perbedaannya ada pada metode studi kasus yang digunakan.

No Studi Persamaan Perbedaan

1 Talbert, J. E. (1992).

“Constructing A School Wide Professional Community: The Negotiated Order of A Performing Arts School”.

ERIC

Sama-sama membahas tentang Negotiated Order

Lokasi subjek studi dan

Metode studi

2 Allen, D. (1997).

The nursing‐medical boundary: a negotiated order?

Sociology of Health &

Illness, 19(4), 498-520.

Membahas tentang Negotiated Order

Subyek yang diteliti,

subyeknya yaitu tentang

kesehatan dan penyakit Tabel 2.1 Perbandingan Literatur Sebelumnya dengan Riset Peneliti

(7)

3 Shiraz Rahaman, A., & Lawrence, S. (2001).

A negotiated order perspective on public sector accounting and financial control.

Accounting, Auditing &

Accountability Journal, 14(2), 147-165.

Membahas tentang Negotiated Order

Perspektif kajian artikel ini menggunakan perspektif tatanan yang dinegosiasikan sebagai teori sosial untuk pemahaman akuntansi 4 Lamberg, J., Savage, G. T., &

Pajunen, K. (2002).

Negotiated order in inter- organizational relations: toward an institutional theory of

stakeholder negotiations.

The European Academy Of Management (Vol. 2).

Sama-sama membahas tentang Negotiated Order

Fokus bahasan (teori

kompleksitas)

Tujuan pembahasan

5 Callaghan, G. (2008).

Evaluation and negotiated order:

Developing the application of complexity theory.

Evaluation, 14(4), 399-411.

Sama-sama membahas tentang Negotiated Order

Artikel jurnal ini bertujuan untuk menghubungkan negosiasi stakeholder dengan Negotiated Order 6 Lapsley, I., Midwinter, A.,

Nambiar, T., & Steccolini, I.

(2011).

Government budgeting, power and negotiated order.

Management Accounting Research, 22(1), 16-25.

Sama-sama membahas tentang Negotiated Order

Fokus kajian (artikel ini mengkaji fenomena penetapan anggaran dalam koalisi politik dan pemerintahan minoritas)

Lokasi: negara maju

7 Baïada-Hirèche, L., Pasquero, J.,

& Chanlat, J. F. (2011).

Managerial responsibility as negotiated order: A social construction perspective.

Journal of Business Ethics, 101(1), 17-31

Sama-sama membahas tentang Negotiated Order

Subjek riset (korporasi)

(8)

8 Edwards, A., & Hughes, G.

(2012).

Public safety regimes: Negotiated orders and political analysis in criminology. Criminology &

Criminal

Sama-sama membahas tentang Negotiated Order

Penajaman bahasan (tentang hubungan analisis politik kriminologi)

9 McAra, L., & McVie, S. (2012).

Negotiated order: The groundwork for a theory of offending pathways.

Criminology & Criminal Justice, 12(4), 347-375.

Membahas tentang Negotiated Order

Subjek pembahasan (tentang transisi dan kejahatan pemuda)

10 Bishop, S., & Waring, J. (2016).

Becoming hybrid: The negotiated order on the front line of public–

private partnerships.

Human Relations, 69(10), 1937- 1958.

Membahas tentang Negotiated Order

Metode penelitian (metode penelitian case study)

Berdasarkan penjelasan tentang persamaan dan perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian lainnya seperti di atas, dalam penelitian ini peneliti akan fokus kepada perilaku sosial dari aktor-aktor baik dari pihak eksekutif dan legislatif yang sadar atau tidak sadar melakukan praktik Negotiated Order dalam merumuskan, menetapkan dan melaksanaan kebijakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kubumaya. Penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang mana peneliti akan secara langsung dan terlibat dalam setiap proses-proses perumusan, penetapan dan pelaksanaan serta pengevaluasian kebijakan keuangan daerah dalam APBD Provinsi Kubumaya.

B. Kajian Teori

1. Teori Negotiated Order

Pada akhir tahun 1970-an, sebuah perspektif dikembangkan menjadi sebuah kerangka sistematis untuk membantu penelitian tentang organisasi dan tatanan sosial.

Kerangka tersebut adalah perspektif ‘Negotiated Order’. Perspektif ini digunakan untuk mempertimbangkan pentingnya memahami proses interaksi serta fitur struktural kehidupan organisasi. Negotiated Order menekankan bahwa, salah satu cara utama untuk mencapai berbagai tujuan dalam organisasi adalah dengan bernegosiasi, antara

(9)

individu dengan individu atau kelompok lain. Maines dan Charleton (1985) menyatakan, dibutuhkan posisi teoritis yang menekankan bahwa baik tindakan individu maupun kendala dalam organisasi dapat dipahami dengan memahami sifat dan konteks negosiasi tersebut.

Satu dekade kemudian, Strauss (1987) menyimpulkan formulasi orisinil dari Negotiated Order yang dijabarkan dalam beberapa pernyataan berikut:

1. Kami menyatakan bahwa tatanan sosial merupakan suatu Negotiated Order.

Dalam organisasi yang diteliti, tampaknya tidak ada hubungan organisasi tanpa negosiasi yang menyertainya;

2. Negosiasi spesifik tampaknya bergantung pada syarat struktural spesifik: siapa bernegosiasi dengan siapa, kapan, dan tentang apa. Jadi, negosiasi itu berpola dan bukan kebetulan.;

3. Hasil dari suatu negosiasi berupa kontrak/ pemahaman/ perjanjian/ aturan dan sebagainya, seluruhnya memiliki batas-batas sementara, yang pada akhirnya akan ditinjau, dievaluasi ulang, direvisi, dicabut atau diperbarui.

4. Negotaited Order harus dilakukan dan berdasarkan aksi bersama (bukan individu) tatanan perlu terus-menerus disusun kembali.

5. Negotiated Order pada hari tertentu dapat dianggap sebagai jumlah total aturan dan kebijakan organisasi, bersamaan dengan perjanjian, pemahaman, fakta, kontrak, dan pengaturan kerja apapun yang diperoleh akhir-akhir ini.

Melibatkan perjanjian pada setiap level organisasi, kelompok dan koalisi, dan termasuk perjanjian terselubung dan terbuka.

6. Perubahan apapun yang terjadi pada Negotiated Order, apakah suatu yang biasa, atau tidak biasa, yang disebut negosiasi atau penilaian kembali. Hal ini berarti perubahan akibat dari Negotiated Order.

7. Proses negosiasi sehari-hari tidak hanya membiarkan pekerjaan sehari-hari selesai dilakukan namun juga memberikan reaksi kepada organisasi, aturan, kebijakan yang lebih formal dan permanen, dan menyusun perjanjian dan pemahaman. Pada gilirannya, yang belakangan bertindak untuk mengatur batas dan beberapa tujuan negosiasi.

(10)

Kemudian Strauss mengembangkan teori Negotiated Order secara lebih luas dibantu oleh teman-temannya. Mereka menjelaskan bahwa asumsi utama pada teori Negotiated Order adalah bahwa,

'Organisasi bersatu bukan karena struktur perannya, tetapi karena anggotanya secara sadar atau tidak sadar membangun dan merekonstruksi tatanan, terus

menegosiasikan pengaturan formal dan informal di antara mereka sendiri ' (Baïada-Hirèche et al, 2011: 19).

Layaknya teori lain, Teori Negotiated Order telah beberapa kali menjadi sasaran sejumlah kritik misalnya dari Benson dan Day and Day (1976). Mereka menganggap penjelasan lengkap tentang tatanan sosial mengabaikan faktor struktural yang lebih luas, seperti hubungan kekuasaan. Namun Strauss (1978: 247-259) secara eksplisit membantah kekhawatiran ini, ia menunjukkan bahwa Negotiated Order bukanlah teori lengkap tatanan sosial dan berpendapat bahwa negosiasi 'terkait' dengan proses lain, seperti paksaan, manipulasi, pendidikan dan persuasi, untuk 'menyelesaikan sesuatu', dan peneliti perlu mempelajari proses ini bersama-sama. Strauss menambahkan, hal yang terpenting adalah Negotiated Order secara eksplisit dapat mengenali bagaimana negosiasi dibentuk oleh faktor struktural yang lebih luas. Dalam teori Negotiated Order, tatanan sosial itu dinegosiasikan secara berulang melalui hubungan rekursif antara konteks struktural, konteks negosiasi, interaksi sosial dan apa yang dihaslikan (Dokko et al., 2012: 686).

Negotiated Order adalah tatanan yang merupakan konsekuensi dari interaksi memberi dan menerima dalam setting yang ditentukan sebelumnya oleh aturan, norma, hukum, atau ekspektasi yang lebih luas, dan biasanya lebih formal, untuk mengamankan tujuan atau kesepakatan yang diinginkan. Negotiated Order pada waktu tertentu dapat dipahami sebagai jumlah total dari peraturan dan kebijakan organisasi, bersama dengan perjanjian, pemahaman, fakta, kontrak, dan pengaturan kerja lain nya yang diperoleh saat ini (Strauss, 1978:5-6).

Teori Negotiated Order menolak gagasan bahwa tatanan sosial pada dasarnya stabil, sebagai gantinya mengusulkan bahwa keteraturan dan stabilitas adalah pencapaian sosial yang perlu dijelaskan (Maines, 1978, 1982; Strauss, 1978; Strauss, Schatzman, Bucher, Erhrlich, & Sabshin, 1963). Premis sentral dari teori Negotiated Order adalah bahwa tatanan sosial diciptakan melalui interaksi sosial. Struktur atau

(11)

tatanan sosial, dalam pandangan ini, muncul melalui interaksi dan negosiasi antar aktor yang menghuni dan menciptakan konteks sosial. Teori Negotiated Order menyatakan bahwa “stabilitas atau ‘tidak adanya perubahan’ sama saja seperti ‘perubahan’ yang harus ‘dikerjakan’ dalam sistem sosial apa pun (Strauss et al., 1963, hlm. 167).”

Strauss berpendapat bahwa tatanan sosial adalah Negotiated Order. Negosiasi, menurut Strauss, adalah "salah satu cara yang mungkin untuk mencapai sesuatu ketika pihak-pihak perlu berurusan satu sama lain untuk menyelesaikan hal-hal itu"(p.234).

Untuk mengamati sebuah fenomena sosial dari perspektif Teori Negotiated Order, konteks struktural maupun konteks negosiasi harus dieksplorasi. Menurut Strauss (1978) sifat khusus dari konteks negosiasi adalah (p. 238);

1. Jumlah negosiator, pengalaman relatif mereka dalam bernegosiasi, dan siapa yang mereka wakili;

2. Apakah negosiasi dilakukan satu kali, berulang, berurutan, serial, ganda, atau ditautkan;

3. Keseimbangan kekuatan relatif yang ditunjukkan oleh masing-masing pihak dalam negosiasi itu sendiri;

4. Sifat taruhannya masing-masing dalam negosiasi;

5. Visibilitas transaksi kepada orang lain; yaitu, karakter mereka terbuka atau terselubung;

6. Jumlah dan kompleksitas masalah yang dinegosiasikan;

7. Kejelasan batas legitimasi masalah yang dinegosiasikan;

8. Pilihan untuk menghindari atau menghentikan negosiasi; yaitu, mode tindakan alternatif yang dianggap tersedia

Negotiated Order adalah ranah perilaku manusia di mana struktur sosial diproses dan proses sosial menjadi terstruktur (Maines 1982; p. 217). Sebagai contoh lembaga Eksekutif pada sebuah daerah merupakan struktur sosial yang memiliki tugas dan fungsi tertentu, setiap waktu lembaga ini selalu berproses, melakukan perubahan sosial melalui praktik atau kegiatan. Kegiatan yang terus menerus dilakukan lambat laun menjadi sebuah struktur atau kebiasaan lembaga baik itu kegiatan formal maupun non- formal. Yang mana dalam hal tertentu, sangat mempengaruhi terbentuknya suatu keputusan.

(12)

Pada struktur sosial inilah, para anggota kelompok berbagi nilai yang dianggap benar maupun tidak benar, wajar ataupun tidak wajar. Dengan makna bersama yang digunakan sebagai pondasi berkomunikasi dan membuat keputusan, organisasi dapat menggunakan berbagai perangkat kooperatif seperti perjanjian informal, usaha patungan, asosiasi perdagangan dan kolaborasi (Dimaggio 1989; Gray 1989; Hirsc 1975) yang mana secara tidak langsung dapat mempengaruhi keputusan anggaran.

Hampir tidak ada referensi pilihan alternatif untuk negosiasi: paksaan, persuasi, manipulasi kemungkinan, dan sebagainya. Masalah terkait dengan aturan, norma, dan sejenisnya ditangani secara eksplisit, namun masalah terkait dengan kekuatan, koalisi, politik, dan sejenisnya hanya ‘disinggung’ (tersirat) (Strauss, 1987).

Menurut Strauss meskipun negosiasi adalah salah satu proses interaksional, itu harus menjadi kontributor utama untuk setiap tatanan sosial. Hal ini tidak hanya terjadi di antara mereka yang menindas dan di antara mereka yang tertindas, namun juga keduanya. Hal yang sama berlaku juga terutama pada tatanan manipulatif, karena manipulator cenderung membutuhkan sekutu yang pada gilirannya akan mengharapkan sesuatu sebagai imbalan atas layanan atau dukungan mereka. Barter (tukar menukar), bertransaksi; tawar menawar, mendorong dan menangani, berkompromi, makelar, terlibat dalam kolusi, dan bahkan negosiasi paksaan terjalin di seluruh interaksi seputar ruang, waktu, pekerjaan, sentimen - menghasilkan reifikasi yang biasanya disebut sebagai tatanan sosial.

Secara umum konsep Negotiated Order dirancang untuk merujuk tidak hanya pada proses negosiasi dan proses bernegosiasi. Hal ini juga menunjukkan kurangnya ketetapan tatanan sosial, karakter sebuah tatanan sosial lebih temporal, mobile, dan tidak stabil, serta fleksibilitas dari mereka yang berinteraksi dihadapkan dengan kebutuhan untuk bertindak melalui proses interaksional dalam situasi tertentu yang terbatas di mana meskipun aturan dan peraturan tetap ada, ini belum tentu menentukan atau juga menghambat. Merancang konsep tatanan bukan hanya untuk mengambil interaksi yang sama tetapi juga untuk memperluas, memperdalam, dan memungkinkan pemahaman yang lebih mendetail.

(13)

Sebuah tatanan akan menciptakan beberapa perubahan dan berikut ini adalah implikasi11 mengenai tatanan dan perubahan:

1. Implikasi untuk Tatanan Sosial

Berbagai macam proses interaksional - negosiasi, manipulasi, persuasi, edukasi (pendidikan), paksaan dan ancaman yang pada dasarnya masing-masing akan memiliki makna penting yang berbeda, lebih besar atau kurang signifikan untuk contoh khusus tatanan sosial. Maka dari itu, Pemerintah dari berbagai Negara kadang menggunakan paksaan atau ancaman kekuatan, namun demikian mereka juga banyak menggunakan persuasi, propaganda dan pendidikan, termasuk sosialisasi bagi kalangan anak-anak. Adapun berbagai bentuk negosiasi dianggap mutlak diperlukan agar keadaan Pemerintahan relatif tetap stabil.

2. Impikasi untuk Susunan dan Pembentukan Kondisi

Proses interaksional adalah dasar yang diperlukan untuk membentuk tatanan yang memungkinkan terjadinya interaksi yang berkelanjutan. Tanpa tatanan atau susunan, tidak akan ada rutinitas, tidak ada standar kerja bagi aksi kolektif, apakah itu terjadi secara berulang atau episodik (tidak sengaja). Inovasi dimungkinkan terjadi melalui tatanan atau pegaturan (setting) sedemikian rupa yang dibentuk baik secara ad hoc atau secara jangka panjang. Berbagai proses interaksional juga dibutuhkan dalam rangka melengkapi pembentukan syarat (menghindar, mencegah, berdaptasi, memanipulasi, mengawasi, mengubah).

Sejauh kondisi tidak menghambat aksi, manusia tetap dapat beraksi dan harus meyakinkan, membimbing, memaksa, dan bernegosiasi dengan orang lain atau kelompok lain.

3. Implikasi untuk Proses Tubuh dalam Hubungan terhadap Tatanan Sosial dan Pelambangan

Beberapa orang atau pelaku terlibat di dalam kegiatan interaksi sebagai objek sekaligus agen. Begitu juga dengan proses tubuh. Karenanya tidak ada tatanan sosial pada skala organisasi di mana ‘tubuh’ dirasa tidak relevan atau tidak

11 Kata implikasi adalah keterlibatan atau keadaan terlibat, mengakibatkan

(14)

penting. Konsep ‘tubuh’ dan ‘proses tubuh’ juga melibatkan ‘mental’. Tidak ada dualisme pikiran dan ‘tubuh’ yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga proses pikiran penting bagi keberlangsungan ‘tubuh’.

4. Implikasi untuk beberapa Tatanan Umum

Aksi dan interaksi selalu terjadi, baik dari waktu ke waktu dan pada ruang-ruang tertentu. Namun spesifikasi ruang, waktu, sentimen, pekerjaan dan jenis syarat lainnya secara lokal bervariasi tergantung dengan bagaimana, kapan, dimana, dan mengapa interaksi tersebut terjadi. Dalam beberapa situasi lain merupakan waktu akhir atau tempo aksi yang perlu diatur.

5. Implikasi untuk Keragaman Perspektif dan Kemungkinan yang disebabkannya.

Endemik dalam interaksi merupakan kemungkinan adanya kesenjangan antara perspektif beberapa orang dalam interaksi apapun. Keragaman perspektif muncul dari pengalaman, status dan keanggotaan dalam kelompok, organisasi dan lingkungan sosial lainnya. Perspektif seseorang sangat mempengaruhi aksi dan interaksi, pendirian yang diambil berhubungan dengan pembuatan dan pengabaian pengaturan dan bentuk proses interaksional yang disukai,yang bagaimanapun dianggap sebagai strategi oleh pihaj yang berinteraksi, baik itu dalam bentuk manipulasi, negosiasi, persuasi, atau paksaan dan ancaman.

6. Implikasi untuk Dunia Sosial dan Para Anggotanya

Sehubungan dengan perspektif dan representative dalam masyarakat kontemporer, para partisipan dalam dunia sosial dan sub-dunia dianggap sangat penting. Organisasi umumnya terdiri dari anggota yang didapat dari lebih dari satu lingkungan sosial atau bahkan mungkin lebih dari satu sub-dunia. Tiap orang yang melakukan interaksi, berorientasi pada berbagai dunia sosial dan sub- dunia, dan beberapa dari mereka tidak dikenal oleh orang lain. Maka dari itu, cara interaksi sangat dipengaruhi oleh keanggotaan dan identitas yang sesuai dari anggota kelompok sosial.

(15)

7. Implikasi untuk Arena

Ketika terjadi ketidaksepakatan dalam skala yang besar dan banyak persaingan, maka interaksi ini akan disebut sebagai arena. Sebagai contoh berbagai masalah yang terus-menerus terjadi pada keluarga atau lingkungan pertemanan, konflik yang terjadi bisa jadi justru menjadi hal yang membuat interaksi bertahan dalam satu arena.

8. Implikasi untuk Tatanan dan Kekacauan Tatanan

Eksistensi dan perubahan berbagai perspektif dan akibatnya, menyebabkan arena tidak menunjukkan unit sosial yang benar-benar bisa berubah. Tatanan dan kekacauan saling berbatasan. Tentu saja, tatanan dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda, sehingga tatanan bagi seseorang dapat saja berarti kegagalan dari tatanan itu sendiri bagi orang lain (“kekacauan” atau

“disorganisasi”)

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan Teori Negotiated Order sebagai Grand Theory yang menjadi dasar perspektif peneliti dalam melihat fenomena pada proses politik anggaran di tempat penelitian, yaitu Provinsi Kubumaya. Adapun premis-premis pada teori Negotiated Order akan menjadi dasar peneliti untuk menentukan apakah teori tersebut relevan dengan fenomena yang terjadi di tempat penelitian. Meskipun Teori Negotiated Order merupakan landasan dalam penelitian ini, peneliti tidak menutup diri terhadap segala kemungkinan dan fakta-fakta di lapangan yang dapat dijadikan temuan pada penelitian ini.

2. Teori Pertukaran Sosial

Sebelum membahas mengenai teori pertukaran sosial lebih jauh lagi, perlu dipahami hubungan antara teori pertukaran sosial dengan Negotiated Order. Pada dasarnya, Negotiated Order adalah gagasan yang menganggap bahwa organisasi sosial terbentuk melalui komunikasi sehari-hari antara para individu dalam lingkungan struktural. Kesepakatan mengenai realita sosial diperoleh melalui negosiasi antara

(16)

individu untuk mendapatkan suatu makna12. Pada interaksi antar individu dan kelompok yang merupakan pertukaran sosial inilah, sering kali terjadi negosiasi untuk mencapai suatu tujuan bersama. Itulah mengapa, ketika berbicara tentang Negotiated Order dalam penelitian ini berkaitan dengan unsur tukar kepentingan dari Teori Pertukaran Sosial.

Teori Pertukaran Sosial adalah teori yang telah dikembangkan oleh John Thibaut dan Harlod Kelley (1959) seorang pakar Psikologi, serta George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964) yang merupakan ahli sosiologi. Teori ini mengatakan bahwa, kita sebagai manusia dalam hubungan sosial pasti memasuki sebuah hubungan pertukaran dengan orang lain untuk memperoleh sebuah ‘ganjaran’

atau manfaat tertentu dari orang tersebut. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap;

a. Keseimbangan antara apa yang diberikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu.

b. Jenis hubungan yang dilakukan.

c. Kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

West (2007) menjelaskan bahwa, terdapat tiga sifat dasar manusia yaitu:

Manusia cenderung selalu mencari penghargaan dan lebih banyak menghindari hukuman; Manusia adalah makhluk yang rasional; Standar yang dipergunakan individu untuk menilai sebuah pengorbanan dan penghargaan itu bervariasi, seiring dengan berjalannya waktu dan dari tiap individu ke individu yang lain. Teori pertukaran sosial memandang lebih jauh dengan menganggap bahwa nilai (worth) dari sebuah hubungan berpengaruh pada hasil akhir (outcome), apakah individu tersebut akan melanjutkan sebuah hubungan atau mengakhirinya.

12 SAGE Research Method. (2010). Encyclopedia of Case Study Research . SAGE Research Methods.

Retrieved from http://methods.sagepub.com/reference/encyc-of-case-study-research/n227.xml

(17)

Teori Pertukaran mempunyai faktor dasar yang sama dalam pertukaran, ialah aktor, sumber energi, struktur, serta proses (Ritzer, 2011: 516- 518). Aktor sebutan untuk partisipan pertukaran. Aktor bisa berbentuk orang ataupun kelompok industri, ataupun entitas lain yang khusus. Sedangkan sumber daya merupakan kekayaan ataupun kecakapan sikap yang dipunyai seseorang aktor serta dihargai oleh aktor lain.

Aktor yang melaksanakan aksi bakal menanggung bayaran serta membagikan hasil pada aktor lain. Hasil yang diberikan kepada aktor lain dapat bernilai positif ataupun negatif. Kepemilikan serta akses sumber daya akan memastikan tingkatan daya tawar aktor (Ritzer, 2004: 357). Dalam hal ini terdapat tokoh-tokoh yang mendalami Teori Pertukaran Sosial diantaranya Goerge C. Homans dan Peter M. Blau.

Menurut George C. Homans, satu ciri khas teori pertukaran yang menonjol adalah cost and reward. Dalam berinteraksi manusia selalu mempertimbangkan cost (biaya atau pengorbanan) dengan reward (penghargaan atau manfaat) yang diperoleh dari interaksi tersebut. Jika cost tidak sesuai dengan reward-nya, maka akan mengecewakan salah satu pihak dan cenderung menghentikan interaksi sosialnya/

aktivitasnya, sehingga hubungan sosialnya akan mengalami kegagalan. Homans memaparkan proses pertukaran melalui pernyataan proporsional yang berhubungan, diantaranya; Proposisi sukses; Stimulus; Nilai; Kejenuhan-kerugian, Persetujuan- agresi; dan Rasionalitas. Inti teori pertukaran Homans terletak pada kumpulan proposisi-proposisi dasar yang menerangkan tentang setidaknya dua individu yang berinteraksi dan dilihat dari sudut hadiah dan biaya.

Berbeda dengan Homans, Konsep Blau mengenai Teori Pertukaran Sosial terbatas terhadap tingkah laku yang menghasilkan ganjaran atau sanksi sosial. Ketika satu pihak membutuhkan sesuatu dari orang lain, tetapi tidak mempunyai apa-apa yang sebanding untuk diberikan sebagai penghargaannya, tersedia empat alternatif.

Pertama, orang dapat memaksa orang lain untuk membantunya. Kedua, mereka dapat menemukan sumber lain untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan. Ketiga, mereka dapat berusaha untuk berhasil tanpa hal yang mereka butuhkan dari orang lain.

Akhirnya, dan yang paling penting, mereka dapat menempatkan diri di bawah orang lain, dengan demikian memberi kepada orang lain "kredit yang digeneralisasi" di dalam hubungan mereka; kemudian orang lain itu dapat menggunakan kredit tersebut

(18)

ketika mereka ingin pihak yang memberi kredit melakukan sesuatu (Alternatif terakhir, tentu saja, adalah karakteristik hakiki kekuasaan). Inti Pertukaran sosial Peter Blau adalah orang tertarik kepada suatu kelompok ketika mereka merasakan bahwa hubungan-hubungan itu memberikan penghargaan yang lebih banyak daripada hubungan-hubungan dengan kelompok-kelompok lain.

C. Kajian Konsep 1. Politik Anggaran

Anggaran adalah alat kebijakan yang dipunyai Pemerintah Daerah untuk menunjukkan pernyataan sejelas-jelasnya tentang prioritas negara. Anggaran merupakan estimasi kinerja yang ingin dicapai selama periode waktu tertentu, yang dipaparkan didalam data keuangan. Penganggaran merupakan tahapan yang vital, karena anggaran yang dianggap tidak efektif dan tidak berpacu pada kinerja bisa menggagalkan perencanaan yang telah disusun. Maka dari itu setiap dana yang dianggarkan harus ‘Berbasis Kinerja’ dan demi kemakmuran rakyat seluas-luasnya.

Adapun istilah ‘Berbasis Kinerja’ dalam Laporan Keuangan Kabupaten Tulang Bawang Barat (2012) adalah anggaran yang disusun harus terukur dan memenuhi empat unsur yaitu Input, Output, Outcome, Benefit, dan Impact. Dengan demikian berbagai anggaran belanja yang dikeluarkan harus mampu dipertanggungjawabkan dan didasarkan pada VISI dan MISI Pemerintah Daerah demi kesejahteraan rakyat.

Kumorotomo (2011) mengartikan politik anggaran sebagai suatu proses terjadinya siatuasi tawar-menawar antara para aktor atau pelaku dalam membuat keputusan anggaran. Kebijakan yang diambil diekspresikan melalui proses anggaran;

uniknya dalam proses ini pihak yang merupakan kelompok kepentingan yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan anggaran dikendalikan dan dikontrol oleh persaingan antara mereka sendiri dan proses anggaran yang dapat memberikan atau menolak akses mereka untuk membuat keputusan. Politik anggaran merupakan untuk mendapatkan cara terbaik bagi tata kelola keuangan dan pengelolaan anggaran agar memberikan manfaat yang baik untuk rakyat. Peraturan tentang penyusunan anggaran memang telah dibuat, namun masih ditemukan berbagai penyimpangan pada proses perencanaan anggaran. Dalam kegiatan perumusan anggaran masih terdapat pembahasan secara tertutup dan terbatas tetap didominasi oleh kepentingan para elit.

(19)

Proses yang sudah direncanakan pada anggaran sebelumnya, hanya diartikan sebagai sebuah formalitas yang rasanya masih sangat jauh dari semangat untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik atau Good Governance 13.

Dalam pelaksanakan otonomi daerah, diperlukan anggaran yang tidak sedikit dan bahkan terus meningkat sebagaimana peningkatan tuntutan masyarakat terhadap pembangunan dan pelayanan pemerintah. Anggaran yang dimaksud diperoleh dari kemampuan menggali potensi-potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan didukung oleh dana perimbangan dari pusat serta daerah sebagai sumber pembiayaannya.

Keuangan daerah adalah salah satu tolak ukur untuk menentukan kapasitas Pemerintah Daerah dalam upaya menyelenggarakan tugas otonomi, selain dari; potensi-potensi daerah, kondisi demografis, SDA, serta partisipasi masyarakat (Wildavsky dan Caiden, 2012).

Anggaran bersifat multidimensional karena dilihat dari banyak sisi. Hyde (1992) mengatakan, pandangan terhadap anggaran diantaranya: Sebagai sebuah dokumen politik, anggaran dibuat untuk mengalokasikan sumber daya langka kepada masyarakat di antara kepentingan-kepentingan yang kompleks, kompetitif bahkan konfliktual; Sebagai dokumen ekonomi dan fiskal, anggaran merupakan alat utama untuk melakukan evaluasi terhadap proses distribusi pendapatan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi inflasi, mempromosikan lapangan pekerjaan dan menjaga stabilitas ekonomi; Sebagai dokumen akuntansi, anggaran merupakan pedoman dan pagu bagi belanja pemerintah; Sebagai dokumen manajerial dan administratif, anggaran merupakan instrumen yang membantu mengarahkan penyediaan pelayanan bagi publik.

Secara prosedur memang diakui, bahwa kerangka hukum yang ada memungkinkan politik anggaran sebagai salah satu pendekatan dalam proses penyusunan anggaran. Pendekatan politik anggaran yang pertama ditunjukkan dengan keberadaan fungsi anggaran DPRD di dalam proses pembahasan anggaran. Yang kedua adalah dalam penjabaran VISI & MISI Kepala Daerah terpilih, sebagai dasar perancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

13 Kepemerintahan yang mengemban, akan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalisme, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efesiensi, efektifitas, supremasi hukum dan dapat diterima seluruh masyarakat. (PP No. 101 tahun 2000)

(20)

Wildavsky dan Caiden (2004) menyatakan bahwa kedudukan dan domain politik anggaran selalu menjadi isu sentral perdebatan oleh banyak ahli. Persoalan anggaran seringkali dianggap sebagai persoalan pemerintah, lembaga, kewenangan, tata kelola, norma, kekuasaan, kebijakan, ideologi dan pasar maupun persoalan sosial budaya serta politik jangka pendek.

Wildavsky dan Caiden (2004) mengatakan, politik anggaran akan terkait dengan siapa saja yang berperan dan kemampuan negara dalam memberi jaminan pada rakyatnya. Namun yang terjadi, politik anggaran dipahami dan dijalankan hanya dalam konteks jangka pendek dan menguntungkan hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

Aturan dalam penentuan pelaksanaan program hanya ada pada level kepentingan aktor-aktor yang terlibat, sedangkan masyarakat sama sekali tidak dilibatkan proses yang terjadi, ini mengakibatkan ketidaktahuan masyarakat mengenai jumlah atau persenan anggaran yang akan dipergunakan untuk kesejahteraan mereka.

Dalam ranah politik, APBD dianggap sebagai sebuah dokumen politik yang berisi kesepakatan antara Legislatif yaitu DPRD dengan Eksekutif yaitu Pemerintah Daerah. APBD merupakan bentuk komitmen dari Eksekutif untuk para pemberi wewenang, yaitu pihak Legislatif. APBD juga dipergunakan untuk menentukan prioritas-prioritas serta kebutuhan keuangan.

Pada ranah publik, anggaran dianggap sebagai komitmen Eksekutif dan kesepakatan Legislatif atas dipergunakannya dana publik untuk suatu kepentingan dalam bentuk sebuah dokumen. Sehingga anggaran bukan sekadar masalah teknis, melainkan lebih merupakan alat politik (political tool). Perlu diketahui bahwa, anggaran dirancang tidak hanya berdasarkan ketentuan serta peraturan teknis dan hitungan ekonomi, namun juga merupakan sebuah kesepakatan serta terjemahan dari VISI dan MISI Kepala Daerah yang terpilih.

Dengan demikian, apa yang dimaksud politik anggaran dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan dari berbagai kebijakan atau pilihan politik yang diambil sebuah daerah yang diwakili oleh pihak Eksekutif dan Legislatif, dalam rangka mengalokasikan serta mendistribusikan anggaran. Atau secara sederhana dapat dipahami sebagai proses pengambilan kebijakan pemerintah daerah dalam rangka mengalokasikan dan mendistribusikan anggaran dalam APBD untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

(21)

2. Negotiated Order dalam Politik Anggaran

Seperti yang telah diabahas pada bagian sebelumnya, Negotiated Order merupakan tatanan yang merupakan konsekuensi dari interaksi memberi dan menerima dalam setting yang ditentukan sebelumnya oleh aturan, norma, hukum, atau ekspektasi yang lebih luas, dan biasanya lebih formal, untuk mengamankan tujuan atau kesepakatan yang diinginkan. Sehingga dalam segi definisi, Negotiated Order berbeda dengan negosiasi meskipun selalu terdapat negosiasi di dalam praktik Negotiated Order.

Negosiasi merupakan bentuk komunikasi secara langsung yang bertujuan untuk mencapai sebuah kesepakatan antara dua lebih pihak, yang mempunyai kepentingan sama ataupun berbeda. Komunikasi tersebut dibangun oleh mereka yang berkepentingan secara langsung dan negosiasi berarti ‘merundingkan’ atau membicarakan berbagai kemungkinan tentang suatu kondisi. Kata negosiasi memiliki turunan Negotiation yang berarti Discussion in order to come to an Agreement yang artinya, diskusi dalam rangka mencapai sebuah kesepakatan.

Beberapa definisi negosiasi menurut para ahli adalah sebagai berikut;

1. Oliver (1997), Negosiasi merupakan transaksi antara dua belah pihak yang memiliki hak atas hasil akhir;

2. Roger Fisher dan William Ury (2011), Negosiasi merupakan komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan antara kedua belah pihak yang memiliki kepentingan yang sama atau berbeda;

3. John R.Hook (2005), Negosiasi sebagai suatu bentuk warna tawar – menawar langsung dengan orang yang telah kita tentukan;

Fisher dan Ury (2011) mengungkapkan ada beberapa karakteristik yang umum terdapat dalam Negotiation Situations diantaranya;

1. Terdapat dua atau lebih pihak, baik individu, kelompok atau organisasi dimana mereka mereka saling berkomunikasi sendiri di antara mereka;

2. Terdapat konflik kepentingan di antara pihak tersebut;

3. Tiap pihak berpikir bahwa ia dapat menggunakan upaya atau pengaruhnya untuk menghasilkan hasil yang lebih baik daripada hanya menerima;

(22)

4. Para pihak merasa lebih baik mencari kesepakatan daripada harus bertengkar secara terbuka, Mengalahkan pihak lain, Memutuskan hubungan;

5. Para pihak saling mengharapkan adanya perubahan atau modifikasi atas tuntutan masing-masing;

6. Kesuksesan dalam bernegosiasi melibatkan pengelolaan sesuatu yang tak berwujud (intagibles) yaitu kondisi psikologis secara langsung maupun tidak langsung;

Goldberg et.al (1992), menjelaskan 5 (lima) elemen dasar negosiasi yaitu:

1. Separate the people from the problem. The negosiasi should attack the problem, not each other – Pisahkan antara aktor/ orang-orang/ individu/ kelompok individu dengan masalahnya. Negosiasi harus tertuju pada masalahnya bukan masing-masing aktornya;

2. Focus on the interest not positions – Fokuslah pada kepentingannya bukan pada posisi/ jabatan

3. Invent options for mutual gain – Temukan atau kemukakan beberapa pilihan kesepakatan (bukan mutlak hanya satu kesepakatan) agar saling menguntungkan 4. Insist on using objective criteria – Berketetapan pada kriteria yang objektif 5. Know your best alternative to a negotiated agreement (BATNA) – Kenali dan

ketahui alternative terbaik terhadap persetujuan/ kesepakatan negosiasi

Keputusan terkait penganggaran juga tak lepas dari pengaruh pihaak dengan legitimasi tertentu. Dalam artikel jurnal Reintroducing Stakeholders Dynamics in Stakeholders Thinking – A Negotiated Order Perspective dijelaskan bahwa, legitimasi merupakan persepsi atau asumsi bahwa wujud dari sebuah perilaku adalah benar, sesuai yang diharapkan di dalam suatu sistem norma, kepercayaan dan nilai yang dibangun secara sosial. Legitimasi adalah sumber daya yang diberikan oleh para pemangku kepentingan yang merupakan hasil dari suatu proses konstruksi (Hybels 1995: 243). Hal ini menegaskan bahwa, individu atau kelompok dengan legitimasi tertentu, dapat dengan mudah mempengaruhi sebuah keputusan termasuk dalam hal anggaran. Pada penelitian ini akan dibahas bagaimana proses yang mengindikasikan adanya fenomena Negotiated Order pada politik anggaran di Provinsi Kubumaya

(23)

terjadi. Hal ini didasarkan pada pengalaman selama keterlibatan pada proses politik anggaran di Provinsi Kubumaya dan penelurusan pada media cetak yang menggambarkan terjadinya fenomena serupa di berbagai tempat pada tingkat Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Pusat.

D. Kerangka Berpikir

Secara sederhana, kerangka berpikir peneliti dalam melihat fenomena tersebut adalah sebagai berikut;

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Peneliti

Bahwasanya, Pihak Eksekutif dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) sebagai perpanjangan Tangan Kepala Daerah dan Pihak Legislatif dengan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai perpanjangan tangan anggota DPRD dengan kepentingannya masing-masing, melakukan praktik Negotiated Order secara terus menerus hingga menciptakan suatu tatanan kebiasaan dalam bentuk berbagai pertemuan informal dalam rangka menciptakan sebuah kesepakatan yang mempengaruhi keputusan akhir Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Adapun kepentingan Pihak Eksekutif adalah untuk mengakomodir kebutuhan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), sedangkan kepentingan Pihak Legislatif adalah untuk mengakomodir aspirasi publik dalam bentuk Pokok Pikir (Pokir) DPRD.

Referensi

Dokumen terkait

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa pegawai yang memiliki kontrol diri rendah berdasarkan teori Gottfredson dan Hirschi (1990) cenderung impulsif, lebih

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi ialah suatu proses intrinsik dan ekstrinsik yang dapat mengontrol serta menyesuaikan emosi yang

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu antara lain, pada penelitian ini, peneliti memilih subjek penelitian siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 3

Berdasarkan penjelasan di atas tentang persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang, maka penelitian dengan

Dari penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa variasi bahasa yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variasi bahasa dari segi pemakaian dalam bidang tata boga yang

Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian-penelitian di atas adalah dalam penelitian yang dilakukan peneliti disini akan meneliti bagaimana peran

Berdasarkan persamaan dan perbedaan dari beberapa penelitian relevan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif

Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis dapat menjelaskan bahwa perancangan sistem informasi akuntansi penggajian adalah pembuatan suatu desain sistem yang