• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dapat dijadikan sebuah tinjauan dalam melakukan penelitian.

Dalam penelitian kali ini, peneliti memiliki sepuluh penelitian terdahulu dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir sebagai acuan pokok penelitian ini. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ardiansyah Ahmad (2012). Pada penelitian tersebut, ia menganalisis produktivitas Tower crane dan biaya operasionalnya. Ardiansyah menghitung produktivitas tiga tower crane dan membandingkan produktivitas terhadap biayanya. Hasil dari penelitian tersebut didapat tower crane dengan produktivitas terbesar dengan biaya terbaik.

Penelitian yang sama, yaitu membandingkan produktivitas dua tower crane terhadap biaya juga dilakukan oleh Adia Ega Putra (2019).Penelitian mengenai efisiensi produktivitas waktu dan biaya pemakaian Tower crane pada proyek Apartemen Yudhistira, Ega melakukan perbandingan produktivitas waktu dan biaya dari kedua tipe TC yaitu Tower crane Potan K/30 dan Tower crane Fo.

Penelitian ini didasari oleh adanya perubahan manajemen alat berat tower crane.

Pada perencanaan, proyek menggunakan type tower crane potain k / 30 dengan panjang jib 70 meter, sedangkan untuk tower crane pebanding dengan merek tower crane type fo dengan panjang jib 65 meter. Hasil penelitiannya yaitu waktu tercepat pada pekerjaan kolom lantai 15 menggunakan Tower crane fo sedangkan untuk biaya paling mahal adalah Tower crane Potan K/30 yang produktivitasnya lebih besar dibandingkan dengan Tower crane fo.

Selanjutnya pada penelitian Eric Hartono (2013), membuat suatu program yang fungsinya untuk membantu kontraktor dalam memperkirakan waktu dan biaya dari pemakaian tower crane. “Efektivitas penggunaan Tower crane dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi alat, kondisi lapangan, manajemen proyek, kemampuan operator, faktor operator, mesin dan faktor efesiensi waktu operasi.

(2)

7 Olivia Tamara (2018) meneliti tentang optimalisasi dan produktivitas dari Tower crane pada proyek Caspian Tower Grand Sungkono Lagoon, dengan tujuan mendapatkan titik optimum TC (tower crane), produktivitasnya dan biaya pemakaiannya. Metode yang dilakukan dalam penelitian Olivia, dilakukan dengan cara observasi lapangan serta wawancara. Optimalisasi dilakukan dengan menentukan keseimbangan beban kerja yang lebih kecil dari lokasi awal TC sebelumnya, dan diharapkan dapat meningkatkan efektivitas waktu kerja Tower crane. Dalam penelitian ini, titik supply lanjutan (SL) direncanakan dengan mengubah titik koordinat TC, berupa perencanaan 1 dan 2. Didapatkan menghasilkan nilai keseimbangan beban kerja (σ) yang lebih kecil dari kondisi existing lapangan.

Selanjutnya penelitian mengenai TC juga dilakukan oleh Muhammad Ridha (2011).

Penelitian mengenai Perbandingan yang dilakukan terhadap alat berat Tower crane.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi alat berat yang paling efektif dalam pembangunan Rumah Sakit Haji Surabaya menurut waktu dan biaya. Pada penelitian ini dilakukan perencanaan waktu pelaksanaan pekerjaan struktur lantai 1-6. Dalam penelitian ini juga memuat rencana penempatan tower crane maupun mobile crane yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selanjutnya dilakukan perbandingan biaya dan waktu dari kombinasi A, tower crane dan concrete pump dengan B, mobile crane dan concrete pump, dimana hasil penelitian ini kombinasi A lebih cepat dibandingkan kombinasi B pada pekerjaan struktur.

Ilham Prakasa Putra (2017) melakukan penelitian yang kurang lebih sama dengan Ridha. Ilham dalam penelitiaannya yang berjudul “Perbandingan Biaya Dan Waktu Pemakaian Tower crane Dan Mobile crane Pada Proyek Pembangunan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan”. Dalam penelitiannya, Ilham melakukan perbandingan kombinasi alat berat untuk pada pekerjaan struktur lima lantai (termasuk lantai dasar). Didapatkan hasil akhir berupa perbandingan waktu dan biaya terhadap kombinasi tower crane dan concrete pump dengan mobile crane dan concrete pump, dimana untuk kombinasi alat berat tercepat berupa tower crane dan concrete pump dan untuk biaya termurah berupa kombinasi mobile crane dan concrete pump.

(3)

8 Hari Jamato (2015) pernah melakukan penelitian perbandingan efisiensi waktu dan biaya terhadap tower crane dan mobile crane. Pemakaian mobile crane dan tower crane digunakan untuk pekerjaan struktur seluruh lantai (tujuh lantai). Langkah perhitungan dibagi menjadi dua tahap, yaitu perhitungan waktu pelaksanaan peralatan dan perhitungan biaya peralatan. Dari perhitungan waktu dan biaya pelaksanaan alat dapat diketahui pemakaian alat berat yang paling efisien dari segi waktu dan biaya. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu pada pekerjaan pengangkatan waktu tercepat adalah Tower crane dan biaya termurah adalah mobile crane.

Rahmad Priyo Santoso (2016) sedikit berbeda, dimana ia meniliti mengenai jenis tower crane pada pembangunan gedung bertingkat tinggi. Pada penelitian ini diilakukan analisa lokasi proyek dan simulasi penempatan tower crane, sehingga diketahui jenis dan jumlah tower crane yang dibutuhkan yaitu 2 buah tower crane jenis free standing crane,dengan panjang jib 50 meter. Selanjutnya dilakukan perhitungan waktu siklus pada tower crane tersebut, masing masing menggunakan 4 tali dan 2 tali, dan hasilnya adalah dengan menggunakan 4 tali pada hook nya tower crane lebih efektif karena memiliki kapasitas angkat yang lebih besar pada area layan kurang dari 50 meter. Didapat hasil penelitiannya adalah tower crane yang tepat digunakan pada proyek Rumah Sakit UII adalah 2 buah tower crane tipe free standing dengan panjang jib masing-masing 50 meter menggunakan wile rope 4 fall.

Penelitian Wicaksono (2018) mirip seperti penelitian Priyo tetapi perbedaannya ia melakukan penelitian dalam menentukan jenis free standing crane berdasarkan biaya alat dengan tujuan untuk menentukan TC yang optimum, dengan hasil penelitian tower crane tipe free standing crane dengan jenis Potain MC205 jib 60 meter dan Potain FO23B jib 35 meter, dan hasil perhitungan biaya yaitu hanya menggunakan 1 Tower crane dengan tipe Potain MC205 60 meter dikarenakan lebih murah jika dibandingan menggunakan 2 tower crane sekaligus. Sedangkan pada penelitian kali ini penulis akan melakukan penelitian mengenai perbandingan efektifitas waktu dan biaya dari tower crane dan mobile crane.

(4)

9 2.2. Landasan Teori

2.2.1 Proyek

Proyek merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terkoordinasi dalam rangka tercapainya suatu tujuan, dibatasi rentang waktu tertentu dan menggunakan sumber daya yang ada. Proyek bersifat temperorer, artinya ada awal mula dan akhir pekerjaan proyek yang saling berkaitan satu sama lain. Proyekpun bersifat unik karena dibatasi dalam jangka waktu tertentu serta tidak berulang. Proyek dapat diartikan sebagai kegiatan yang bersifat sementara dan berlangsung dalam rentang waktu tertentu, dengan sumber daya terbatas guna mencapai sasaran yang telah ditetapkan dengan jelas. Dalam mencapai hasil akhir yang ditargetkan, suatu proyek konstruksi dibatasi oleh mutu dan biaya yang telah ditetapkan, serta rentang waktu mulai dan selesai.

Proyek konstruksi berkaitan dengan kegiatan pembangunan infrastruktur, yang sebagian besar terdiri dari teknik sipil dan arsitektur. Ciri khas proyek dapat dikenali dalam tiga dimensi: unik, memerlukan sumber daya, serta memerlukan organisasi.

a. Unik: proyek konstruksi tidak berulang dengan rangkaian pekerjaan yang sama persis, dalam rentang waktu tertetu, serta melibatkan sekumpulan pekerjaan yang berbeda-beda.

b. Membutuhkan sumber daya (resources): suatu proyek konstruksi haruslah memiliki 5M yaitu pekerja (men), uang (money), mesin (manchines), metode (methods) dan bahan (materialis).

c. Membutuhkan organisasi: proyek konstruksi merupakan lingkup pekerjaan dimana di dalamnya tergabung beberapa grup pekerjaan yang mempunyai beragam tujuan yang sama, setidaknya melibatkan 6 individu dengan keahlian yang bervariasi.

2.2.2 Manajemen Alat Berat

Sebuah alat mesin besar yang dirancang untuk melakukan kegiatan konstruksi dikenal sebagai alat berat. Penggunaan alat berat pada proyek sangat penting baik untuk pembangunan infrastruktur maupun eksplorasi hasil pertambangan.

Penggunaan alat berat sendiri akan menghasilkan banyak keuntungan, seperti

(5)

10 efesiensi waktu pelaksaaan, biaya yang dikeluarkan lebih rendah dikarenakan waktu proyek cenderung lebih singkat, dan lain sebagainya.

Manajemen alat berat atau perencanaan dan pengendalian alat berat sangat diperlukan dalam pemilihan alat berat yang akan digunakan. Manajemen alat berat adalah suatu proses memenejemen termasuk pengorganisasian dan pengendalian terhadap semua aspek alat berat sepanjang usia penggunaannya, dari proses perencanaan dan pemilihan sampai pengendalian dan perawatan alat berat.

Pertimbangan dan berbagai faktor harus diperhatikan saat memilih alat berat untuk pekerjaan proyek sehingga kesalahan atau kesalahan dalam memilih jenis alat berat dapat diminimalisir. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

1. Spesifikasi alat dan fungsinya harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan.

Pemindahan tanah, pengalian, produksi agregat, dan penempatan beton adalah pengelompokkan alat berat berdasarkan fungsinya.

2. Kapasitas peralatan.

Alat berat dipilih sesuai dengan volume total atau berat material yang akan dipindahkan atau diangkut. Kapasitas alat yang digunakan harus sepadan dengan pekerjaan yang akan dilakukan agar waktu pelaksaaan lebih efesien.

3. Cara operasi Alat berat

Alat berat yang dipilih berdasarkan arah (horizontal maupun vertikal) dan kecepatan, frekuensi gerakan dan jarak gerakan.

4. Keterbatasan pemilihan alat berat dari metode konstruksi yang dikerjakan.

Pemilihan alat beratpun terbatas pada metode konstruksi (proyek) yang diakan dikerjakan. Selanjutnya, metode membangun dapat mempengaruhi alat yang digunakan. Alat berat yang akan digunakan dipengaruhi beberapa faktor, yaitu akses mobilisasi, harga alat berat, serta pembongkaran.

5. Situasi keuangan.

Biaya operasi dan pemeliharaan, biaya sewa dan investasi alat, menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan alat berat.

6. Jenis proyek.

Alat berat digunakan dalam berbagai proyek, termasuk konstruksi, jalan, irigasi, jembatan, bendungan, pembukaan hutan, dan pelabuhan.

(6)

11 7. Lokasi wilayah atau lokasi proyek.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan ketika memilih alat berat adalah lokasi proyek. Karena perbedaan suhu, termasuk cuaca, angin, dan kondisi sumber daya, lokasi proyek di dataran tinggi, misalnya, membutuhkan alat berat yang berbeda dari lokasi proyek di dataran rendah.

2.2.3 Tower crane

Dalam suatu proyek konstruksi, tower crane merupakan alat yang memudahkan akses bahan dan material konstruksi. Jika fungsinya diperluas, tower crane digunakan untuk mengangkat material struktur secara vertikal dan horizontal ke tempat yang tinggi dalam ruang kerja yang terbatas, hal ini menjadikan tower crane sangat berguna dalam pekerjaan struktur. Tower crane umumnya dipakai dalam proyek konstruksi bertingkat tinggi untuk pekerjaan pengecoran, pengangkatan tulangan, pengangkatan dinding pracetak, pengangkatan bekisting, pasir, dan unit listrik dan mekanik.

Dalam aspek kecepatan dan efesiensi pekerjaan, tower crane memegang peranan penting. Dikarenakan peranan yang dominan dalam membantu efesiensi pekerjaan suatu proyek, penggunaan tower crane sangat memberikan dampak pada aspek operasional proyek konstruksi. Tower crane biasanya digunakan dalam proyek konstruksi bertingkat tinggi untuk pekerjaan pengangkatan tulangan, pekerjaan pengecoran, pengangkatan bekisting, pengangkatan dinding precast, pasir dan unit- unit elektrikal dan mekanikal.

2.2.3.1 Jenis Tower crane

Beberapa jenis tower crane berdasar cara berdiri crane, yaitu:

a. Free standing Crane

Free standing crane ditopang oleh pondasi yang telah dibuat khusus, telah dicor sebelumnya. Pondasi yang dalam, seperti tiang pancang, terkadang digunakan ketika tower crane harus mencapai ketinggian yang cukup tinggi.

b. Rail Mounted Crane

Pada tower crane yang dipasang di rel, penggunaan rel memudahkan alat bergerak di sepanjang rel. Namun, gerakan tower crane tidak boleh terlalu cepat untuk menjaga keseimbangan. Kelemahan dari crane jenis ini adalah biaya rel

(7)

12 yang tinggi, yang harus dipasang pada permukaan yang rata untuk mencegah tiang berpotensi miring.

c. Climbing Tower crane

Crane ini dipasang di dalam struktur bangunan yaitu pada core atau inti bangunan. Saat strukturnya bertambah tinggi, tower crane ini akan ikut naik (bertambah tinggi). Untuk crane jenis ini memungkinkan untuk digunakannya dongrak hidrolis dalam membantu pengangkatan crane. Jika memiliki lahan yang terbatas climbing crane dapat menjadi solusi.

d. Tied In Crane

Jenis tower crane semacam ini dapat dengan mudah berdiri di ketinggian kurang dari 100 meter. Untuk menahan tekanan horizontal, crane dengan ketinggian 100 meter harus dipasang atau diikat ke struktur bangunan.

2.2.3.2 Bagian Tower crane

Tower Crane terdiri dari beberapa section yang dipasang hingga ketinggian tertentu. Tower crane memiliki komponen yang terdapat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Bagian Tower crane

Sumber : gilasipil.blogspot.com

(8)

13 Terdapat komponen pada semua jenis tower crane yang mempunyai fungsi yang sama, yaitu:

1. Base Section

Segmen paling dasar dari tower crane, yang langsung ditambatkan menggunakan angkur ke pondasi yang telah dicor sebelumnya, berfungsi sebagai dudukan tower crane;

2. Mast Section

Badan Tower crane, berupa segmen rangka, yang dipasang untuk menaikkan ketinggian crane;

3. Counter Weight (penyeimbang)

Pada counter jib terdapat balok beton yang berfungsi sebagai pemberat.

4. Counter Jib

Lengan penyeimbang terhadap beban momen yang diakibatkan oleh boom /jib;

5. Telescopic set/Cabin Set

Ruang operator yang berfungsi untuk mengendalikan Tower crane;

6. Boom / Jib

Lengan Pengangkut beban yang memiliki panjang bermacam – macam sesuai dengan kebutuhan.;

7. Trolley

Alat untuk membawa hoist/hook sehingga dapat bergerak secara horizontal searah jib;

8. Hoist / Hook

Alat pengait beban yang terpasang pada trolley.

2.2.3.3 Mekanisme Tower crane

Mekanisme kerja dari tower crane adalah sebagai berikut:

1. Mekanisme Pengangkatan

Beban diangkat atau diturunkan menggunakan perangkat ini. Cara kerja mekanisme ini adalah sebagai berikut: motor penggerak memutar atau menggerakkan drum roller kabel baja, yang menarik atau meregangkan kabel baja. Kemudian dikirim ke sistem katrol dari drum roller. Setelah itu dipasang pengait pada ujung 15 kabel baja tersebut, dengan tujuan untuk menahan beban yang akan dipindahkan. Kita hanya perlu menyalakan motor penggerak, yang

(9)

14 akan memutar drum roller kabel baja, untuk mengangkat atau menurunkan beban.

2. Mekanisme Putar

Konsep kerja dari pilar jib crane untuk gerakan slewing: motor menggerakkan roda gigi dengan lintasan roda gigi panjang yang bertumpu pada pilar, memungkinkan untuk bergerak ke kiri atau ke kanan. Untuk menjaga agar pilar jib crane aman selama pergerakan ini, di dalam pilar terdapat poros yang berfungsi sebagai penopang balok pada pilar, untuk mengunci antara pilar dan balok, tambahkan poros yang lebih lebar di dalam pilar, lalu dikunci dengan pasak. Kita tinggal menyalakan motor penggerak yang akan memutar roda gigi dan menjalankan mekanisme putar.

3. Mekanisme Jalan

Digunakan untuk memindahkan beban secara horizontal di sepanjang lengan derek (jib). Cara kerja mekanisme ini adalah sebagai berikut: motor penggerak dihubungkan dengan lengan penggulung kabel baja pada mekanisme berjalan, yang menarik atau meregangkan kabel baja, yang dihubungkan dengan sistem katrol, yang dihubungkan dengan troli yang dapat bergerak sepanjang lengan pengangkat di ujung kabel Kapasitas Tower crane. (Fathurrahman, 2020) Dalam penggunaan tower crane melibatkan proses sebagai berikut:

1. Persiapan erection dan pengoperasian tower crane.

Menurut Wilopo (dalam Eva Angelina, 2017) dalam persiapan erection dan pengoperasian tower crane harus diperhatikan beberapa hal berikut:

a. Penentuan lokasi di mana tower crane akan didirikan dengan pertimbangan berapa besar optimalisasi daerah yang terjangkau oleh crane.

b. Pada waktu proyek selesai, tidak ada masalah untuk pembongkarannya.

c. Penyimpanan pondasi tower crane betul-betul aman, kuat dan water level.

d. Pada waktu erection, posisi tower crane harus benar-benar lurus vertikal.

e. Sumber daya listrik (genset) yang cukup dan stabil.

f. Alat bantu angkat (service crane) untuk erection memadai.

g. Tidak mengganggu bangunan sekeliling.

h. Grounding kabel harus sempurna untuk keamanan bahaya disambar petir.

(10)

15 i. Kalau mengoperasikan unit tower crane lebih dari satu buah, agar diperhitungkan tower crane jangan sampai tabrakan. Ketinggian harus dijaga jangan sampai sama.

2. Erection

Erection di sini dimaksudkan mendirikan tower crane sampai posisi paling standar, hingga tower crane sudah dapat beroperasi normal. Untuk efesiensi waktu erection, sebelumnya sudah disiapkan terlebih dahulu alat bantu angkat, pondasi dengan fixing angle atau track laying untuk tower crane traveling serta tim erektornya. Dalam proses erection tower crane diperlukan power listrik setelah menambah ketinggian.

a. Pasang/assembling bagian perbagian tower crane seperti basic mast, mast section, telescopic Tower head, counter jib, jib, trolley, hoist motor, dan sebagainya.

b. Pasang basic mast pada fixing angle (static) atau chasis lengkap dengan bogie pada rel yang sudah ditentukan.

c. Pasang pivot dan tower head.

d. Pasang counter jib section.

e. Setel jib diatas tanah. Trolley motor dan tie bar dipasang dan diikat pada jib.

f. Pasang jib dan sambung tie bar. Pasang pin-pinnya.

g. Pasang counter weight sesuai kebutuhan.

h. Sambungan listrik mulai disambung dan coba.

i. Untuk menambah ketinggian diperlukan telescopic cage lengkap dengan jack hydraulic dan mast section tambahan.

3. Tower crane dapat beroperasional 4. Menurunkan tower crane

Menurunkan tower crane, kegiatan sama seperti menaikkan, hanya urutannya dibalik. Pada waktu menurunkan/membongkar tower crane, umumnya banyak masalah yang timbul yang berkaitan dengan lokasi pekerjaan. Karena lokasi sekarang sudah tidak sebebas pada waktu erection dahulu, bahkan kadang-kadang alat bantu service crane pun sulit mendekat, terpaksa harus memakai service crane yang besar dan panjang jangkauannya.

(11)

16 2.2.4 Mobile crane

Mobile crane merupakan alat berat berbentuk truck atau sejenisnya, yang dapat digunakan sebagai alat angkut pada pekerjaan konstruksi, baik secara horizontal maupun vertikal. Mobile crane (Truck Crane) adalah suatu crane yang dipasang langsung pada mobil (Truk) sehingga dapat diangkut ke lokasi pekerjaan tanpa menggunakan kendaraan (trailer) lagi. Kaki derek (pondasi/tiang) dapat disambung saat beroperasi agar tetap seimbang. Pada mobile crane tipe crawler, boom ditopang oleh struktur utama (superstructure plate form), berupa steel lattice (frame work) dengan cable control sebagai mekanisme pengangkatan. Untuk mobile crane bertipe hidrolic terdiri dari boom yang tersusun dengan kontrol hidrolik.

Memiliki mobilitas yang cepat dengan bantuan truk, kelincahan, dan putaran yang stabil, menyebabkan mobile crane sering digunakan dalam suatu proyek konstruksi.

Lengan boom mobile crane juga dapat dikendalikan dengan sistem hidrolik (hydraulic control) saat mobile crane masih dalam lingkungan proyek. Mobile crane yang dipasang pada unit truk sebagai struktur atas, dapat berputar (slew) dan dilengkapi dengan outrigger yang dapat dipindahkan untuk memastikan stabilitas alat saat digunakan. Alat berat dengan tujuan utama mengangkat dikategorikan sebagai mobile crane. Dalam pengoperasion mobile crane, operator harus memperhatikan beberapa faktor, seperti: kondisi tanah di lapangan, besar beban yang diangkat sesuai kapasitas alat agar mobile crane tidak amblas, serta daya dukung tanah pijakan kaki mobile crane haruslah cukup kuat menahan mobile crane serta menghindari batu atau tanah lunak yang berpotensi membuat mobile crane terguling.

Mobile crane sebagai alat berat pembanding yang digunakan pada proyek Rumah Susun ITERA berjenis XCMG QY25K tipe hydraulic truck, yaitu mobile crane yang ditempatkan pada unit truk, dengan suprastruktur terpasang pada bagian belakang truk dan tenaga penggeraknya, untuk pengoperasiannya bersifat mandiri dari tenaga truk. Superstruktur ini dapat berputar (slew) dan dilengkapi dengan outrigger yang dapat disesuaikan untuk memastikan stabilitas mobile crane saat digunakan.

Keadaan lapangan, ketinggian bangunan yang akan dibangun, fitur lapangan, dan biaya, semuanya harus diperhitungkan saat menentukan jenis mobile crane yang akan digunakan. Sebagai contoh, mobile crane dengan hidraulic control ini sangat

(12)

17 efektif untuk jenis bangunan yang luas dan dapat dilalui oleh mobile crane dimana jangkauan boom mencukupi untuk struktur bangunan yang luas. Sementara itu, jenis crane dengan kontrol kabel (crawler crane) sering digunakan pada struktur yang area kerja cenderung kurang baik atau berlubang, dan ketinggian bangunan kurang dari tiga lantai.

2.2.4.1 Jenis Mobile crane

Menurut Rostiyanti (dalam Ilham, 2017) jenis – jenis dari mobil crane adalah sebagai berikut :

1. Crawler Crane

Bagian atas semacam ini bisa berputar 360 derajat. Mobile crane jenis ini dapat melakukan perjalanan di sekitar lokasi proyek sambil menyelesaikan pekerjaannya berkat roda besi/crawlernya.

2. Rough Terrain Crane

Adalah alat angkut alat berat beroda empat berbentuk crawler crane yang terbuat dari karet bergerigi yang banyak digunakan di medan yang berat.

3. Teleskopik Crane

Adalah teleskopik crane yang digerakkan secara hidraulik dengan sejumlah tabung yang diletakkan satu di dalam yang lain, mobile crane jenis ini dapat memanjang atau memperpendek lengan boom. Untuk pekerjaan bangunan jangka pendek, teleskopik crane sering digunakan.

2.2.4.2 Bagian Mobile crane

Secara umum, bagian utama pada mobile crane secara keseluruhannya dapat dibagi menjadi empat bagian yang penting yaitu:

1. Bangunan Atas/ Upper Structure, Super Structure

Adalah bagian dari faucet yang dapat berputar di mana sistem mekanis, fungsi kontrol aktuator faucet, dipasang di bagian rangka struktur.

2. Bagian Pembawa/ Mobile Base Mounting

Lokasi superstruktur (bangunan atas) dapat bergeser dari satu lokasi ke lokasi lain selama operasi.

(13)

18 3. Tenaga Penggerak/ Power Plant

Adalah motor bensin, motor diesel, motor listrik, motor hidrolik, atau kombinasi semuanya dapat digunakan, serta pemutus/ konektor dari motor penggerak ke sistem faucet mekanis, kopling basah atau kering, torsi hidrodinamik converter, hidrostatik, generator listrik, atau gear box.

4. Perlengkapan-perlengkapan Bagian Depan/ Font End Operating Equipment.

Ada banyak jenis peralatan yang dapat digabungkan bersama tergantung pada jenis atau persyaratan pekerjaan. Keran pengangkat, cangkang kerang, magnet, garis tarik, penggerak tiang pancang, dan barang-barang lainnya ada di antaranya.

Bagian-bagian dari mobile crane dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Bagian Mobile crane

Sumber :mekanikkomatsu.blogspot.com

(14)

19 2.2.4.3 Mekanisme Mobile crane

Mobile crane memiliki beberapa mekanisme kerja, sebagai berikut:

1. Mekanisme pengangkatan yaitu suatu mekanisme mobile crane untuk mengangkat beban.

2. Mekanisme putar yaitu suatu mekanisme mobile crane untuk memutar jib dan counter jib sehingga dapat mencapai radius yang diinginkan.

3. Mekanisme jalan yaitu mekanisme mobile crane untuk menurunkan beban yang telah diangkat.

2.2.4.4 Kapasitas Mobile crane

Kapasitas mobile crane ditentukan oleh beberapa kriteria, termasuk kapasitas beban yang akan dipindahkan. Prosentase berat material yang dapat diangkut oleh tiap jenis mobile crane adalah sebagai berikut:

1. Berat material yang diangkut maksimal 75 persen dari kapasitas crawler wheel 2. Berat material yang diangkut maksimal 85 persen dari kapasitas mobile crane

beroda ban karet.

3. Berat material yang diangkut maksimal 85 persen dari kapasitas mesin dengan kaki (outringger).

Sedangkan pertimbangan eksternal berikut harus diperhatikan saat menghitung kapasitas alat:

1. Faktor angin (angin berayun)

2. Faktor ayunan beban yang terjadi saat proses pemindahan.

3. Kecepatan material saat dipindahkan 4. Proses rem mesin saat operasi.

(15)

20 2.2.4 Konsep Biaya

Kegiatan dalam proyek bangunan, selain penjadwalan yang tepat, prediksi biaya yang akurat juga sangat penting. Pelaksanaan, penggunaan peralatan, bahan, dan tenaga kerja semuanya berdampak pada kedua faktor tersebut. Biaya konstruksi, menurut Ervianto (2002), dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori: biaya langsung dan biaya tidak langsung:

1. Biaya langsung adalah biaya yang berhubungan langsung dengan konstruksi atau struktur dan dihitung dengan mengalikan jumlah pekerjaan dengan harga satuan. Biaya bahan bangunan, tenaga kerja, dan peralatan adalah contoh biaya langsung.

2. Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak berhubungan langsung dengan konstruksi namun harus dikeluarkan dan tidak dikurangkan dari anggaran proyek. Biaya yang tidak dikeluarkan secara langsung adalah sebagai berikut:

a) Biaya overhead adalah biaya menjalankan bisnis lapangan.

b) Pengeluaran tak terduga adalah pengeluaran yang terjadi sebagai akibat dari kejadian yang mungkin atau mungkin tidak terjadi.

c) Keuntungan adalah hasil dari usaha keras dan kompetensi, serta pertimbangan risiko.

2.2.5 Konsep Waktu

Siklus kerja dalam pemindahan material, menurut Kholil (2012: 8), merupakan suatu tindakan yang berulang. Menggali, memuat, mengangkut, membongkar, dan kembali ke awal adalah tugas utama dalam pekerjaan ini. Waktu siklus atau cycle time (CT) adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu siklus aktivitas. Ada berbagai komponen untuk waktu siklus. Yang pertama adalah waktu yang dibutuhkan halaman untuk memuat (LT). Waktu muat adalah jumlah waktu yang dibutuhkan suatu alat untuk memuat material ke dalam alat angkut berdasarkan kapasitasnya.

Faktor kedua adalah waktu transportasi yang sering disebut dengan hauling time (HT). Waktu angkut merupakan waktu yang diperlukan oleh suatu alat untuk bergerak dari tempat pemuatan ke tempat pembongkaran. Waktu angkut bergantung dari jarak angkut, kondisi jalan, tenaga alat, dan lain-lain. Pada saat alat kembali ke tempat pemuatan maka waktu yang diperlukan untuk kembali disebut

(16)

21 waktu kembali atau return time (RT). Waktu kembali lebih singkat daripada waktu berangkat karena kendaraan dalam keadaan kosong.

Waktu pembongkaran atau dumping time (DT) juga merupakan unsur penting dari waktu siklus. Waktu ini bergantung dari jenis tanah, jenis alat, dan metode yang digunakan. Waktu pembongkaran merupakan bagian terkecil dari waktu siklus.

Unsur terakhir adalah waktu tunggu atau spotting time (ST). Pada saat alat kembali ke tempat pemuatan ada kalanya alat tersebut perlu antre dan menunggu sampai alat diisi kembali. Saat mengantre dan menunggu disebut waktu tunggu.

Menurut Robertus R. Sunur dan Adi Kurniawan dalam skripsi Program Perhitungan Efektivitas Penggunaan Tower crane Pada Proyek Bangunan Bertingakat (dalam Ulfah 2017:11) Waktu siklus dihitung berdasarkan fixed time dan variable time.

Fixed time adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mengikat material (Tikat) dan melepas material (Tlepas), yang diperoleh dari hasil observasi lapangan. Waktu ikat adalah waktu yang dibutuhkan pekerja mengikat material sampai tower crane mulai bergerak untuk mengangkat material tersebut. Waktu lepas adalah waktu yang dibutuhkan pekerja untuk melepas material yang diangkut oleh tower crane.

Variable time adalah waktu tempuh yang tergantung dari jarak atau koordinat titik sumber dan tujuan, yang terdiri dari waktu tempuh vertikal, rotasi dan horizontal.

Pada penelitian ini waktu mengangkat, memutar (slewing) dan menurunkan menjadi satu siklus waktu.

(17)

22 2.2.5 Research Gap

Gap penelitian ini dengan penelitian - penelitian terdahulu berdasarkan referensi dan literatur terdahulu dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut ini.

Tabel 2. 1 Research Gap

No Judul Tahun Pengkaji Gap

Tower crane

Mobile crane

Perenc anaan

Pelaks anaan

1

Perbandingan Pemakaian Tower crane Dan Mobile crane Pada Gedung Bertingkat (Studi Kasus :

Proyek Rumah Susun Itera Ta 2021/2022)

2022

Fara Annisa Darma Putri

2

Efisiensi Produktivitas Waktu Dan Biaya Alat Berat Tower crane Pada

Proyek Apartemen Yudhistira

2019 Adia Ega Putra

3

Optimalisasi dan Produktivitas Alat Berat Tower crane pada Proyek Caspian Tower Grand Sungkono

Lagoon

2018 Olivia Tamara

4

Pemilihan Free standing Crane Berdasarkan Biaya Alat ( Selection

Of Free standing Crane Based On Cranes Cost )

2018

Ryan Wicakso

no

5

Perbandingan Biaya Dan Waktu Pemakaian Tower crane Dan Mobile

crane Pada Proyek Pembangunan Rsud Syarifah Ambami Rato Ebu

Bangkalan

2017

Ilham Prakasa

Putra

6

Metode Menentukan Jenis Tower crane Yang Tepat Untuk Proyek Pembangunan Gedung Bertingkat

Tinggi (Studi Kasus Proyek Pembangunan Rumah Sakit Uii Di

Yogyakarta)

2016

Rahmad Priyo Santoso

7

Perbandingan penggunaan Tower crane Dengan Mobil Crane Ditinjau

Dari Efisiensi Waktu Dan biaya Sebagai Alat Angkat Utama Pada

Pembangunan Gedung

2015

Hari Jamato, Muhamm

ad Asmanto

8 Studi Tentang Pemilihan Jenis Crane

Untuk Proyek Bangunan Industry 2014

Braham Soemarto

mo

9

Program Perhitungan Efektivitas Waktu Dan Biaya Pemakaian Tower

crane

2013

Paulus Eric Hartono Lanjutan

(18)

23 No

Judul

Tahun

Pengkaji

Gap

Tower crane

Mobile crane

Perenc anaan

Pelaks anaan

10

Analisis Produktivitas Dan Biaya Operasional Tower crane Pada Proyek Puncak Central Business

District Surabaya

2012

Iqafdi Ardiansy

ah Ahmad 11

Perbandingan Biaya Dan Waktu Pemakaian Alat Berat Tower crane

Dan Mobile crane Pada Proyek Rumah Sakit Haji Surabaya

2011 Muhamm ad Ridha

Gambar

Gambar 2.1 Bagian Tower crane
Gambar 2.2 Bagian Mobile crane
Tabel 2. 1 Research Gap

Referensi

Dokumen terkait

Laman-laman media di Malaysia secara umumnya terletak antara kadar risiko sederhana sehingga risiko rendah dalam kerangka yang digunakan, terutamanya dalam indikator-indikator

Steers (1988) mengatakan, komitmen organisasi menjelaskan kekuatan relatif dari sebuah identifikasi individu dengan keterlibatan dalam sebuah organisasi. Komitmen menghadirkan

Namun perbaikan perekonomian terus dilakukan oleh pemerintah juga koperasi intako yang menaungi mayoritas dari pengusaha industri tas dan koper (Intako)

Bidang adalah Bidang-Bidang pada Dinas Daerah Kabupaten Buleleng yang dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas melalui

Kebiasaan-kebiasaan pulang bersama itu pada akhirnya mengubah aku, kami, mereka, yang awalnya tak begitu akrab menjadi teman satu geng.. Di awal pulang bersama, aku

Ketika tombol Add di klik maka tombol Save dan tombol Cancel akan aktif, kemudian muncul pesan “Silahkan pilih akses level”, lalu pilih hak akses maka kode petugas

a. Premi yang dibayarkan pemegang polis akan masuk ke instrumen investasi yang dipilih, yang kemudian menghasilkan nilai polis. Namun sebelum menghasilkan nilai polis,

(2006), “Analisis faktor psikologis konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian roti merek Citarasa di Surabaya”, skripsi S1 di jurusan Manajemen Perhotelan, Universitas