BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada awal semester I tahun ajaran 2010/2011 di SMP 2 Wonosobo Kelas IX-F,
Peneliti melihat nilai murni peserta didik hasil belajar matematika pada Ulangan
Kenaikan Kelas dan hasilnya adalah Nilai Tertinggi 89, Nilai Terendah 69, Nilai
Rata-rata 79 , Ketuntasan Klasikal 79%. Data Nilai tersebut digunakan oleh peneliti
sebagai salah satu unsur untuk menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
pada bagian intake peserta didik. Selanjutnya peneliti melakukan observasi pada
pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika yang dilakukan oleh peserta didik
pada beberapa pertemuan pembelajaran matematika, untuk melihat masalah-masalah
yang sekiranya dapat menyebabkan hasil belajar matematika peserta didik tidak
memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari observasi tersebut dihasilkan
beberapa temuan masalah : Pada saat guru mengkondisikan peserta didik untuk siap
melakukan kegiatan pembelajaran ada peserta didik yang terlambat masuk kelas,
Pada Saat guru sedang menjelaskan materi pokok pembelajaran beberapa peserta
didik mencuri kesempatan untuk bicara bersama temannya, Kegiatan elaborasi antar
peserta didik belum maksimal, Kegiatan eksplorasi para peserta didik masih banyak
dipandu oleh guru, Keberanian peserta didik untuk menjawab pertanyaan guru masih
sangat rendah, Keberanian peserta didik untuk bertanya tentang hal yang belum
dipahami selama proses pembelajaran masih sangat rendah, Pada saat peserta didik
mengkonfirmasikan hasil pekerjaannya baru sebatas menulis jawaban di papan tulis,
belum bisa menjelaskan secara lisan kepada teman – teman di kelasnya.
Dengan memperhatikan temuan-temuan masalah selama kegiatan pembelajaran
tersebut di atas, peneliti melakukan refleksi dan disadari bahwa dalam memfasilitasi
kegiatan pembelajaran matematika masih berpusat pada guru (belum menggunakan
model pembelajaran kooperatif), pembelajaran belum dapat membangkitkan
motivasi belajar peserta didik, pembelajaran belum membangkitkan kemauan
bertanya peserta didik, pembelajaran belum membangkitkan kemampuan peserta
didik dalam menjawab pertanyaan guru.
Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti mengharapkan adanya perubahan
proses pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas positif peserta didik (mau
bertanya, bisa menjawab pertanyaan guru, menggali pengetahuan sendiri) dalam
kegiatan pembelajaran sehingga hasil belajar matematika semua peserta didik dapat
meningkat, sehingga pada Ujian Nasional tahun 2011 yang akan datang Khususnya
di kelas IX-F SMP N 2 Wonosobo dapat Lulus 100% dengan nilai rata-rata ≥ 85.
Perubahan proses pembelajaran yang akan dilakukan peneliti adalah dengan
menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif “Group Investigation” terpadu dengan pemutaran film dokumenter pembelajaran yang telah lalu. Dipilihnya model pembelajran tersebut dilatarbelakangi oleh sifat kompleksitas materi pembelajaran,
hasil pengamatan pembelajaran sebelumnya, kajian teori, dan penelitian tindakan
kelas yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain. Dengan mencoba
menerapkan model pembelajaran yang dianggap baru oleh peserta didik, peneliti
berharap peserta didik akan semakin dapat beraktivitas positif, kreatif, inovatif, dan
dapat membangun pengetahuannya sendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan
mutu proses maupun hasil pembelajaran matematika khususnya pada materi
kesebangunan bangun datar. Perlunya penelitian ini dilaksanakan adalah untuk
karena guru belum menggunakan variasi model pembelajaran. Apabila masalah
tersebut tidak terselesaikan maka sangat dikhawatirkan pada Ujian Nasional 2011
yang akan datang peserta didik tidak dapat lulus 100%.
Dari uraian di atas terlihat bahwa ada kesenjangan antara kenyataan pertama
bahwa nilai hasil belajar matematika para peserta didik masih perlu ditingkatkan.
Kedua proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Masalah yang mendesak
harus diselesaikan adalah masalah hasil belajar matematika peserta didik yang masih
perlu ditingkatkan. Setelah peneliti mengadakan studi pustaka model model
pembelajaran sesuai kompleksitas materi kesebangunan bangun datar, wawancara
terhadap peserta didik, dan wawancara terhadap guru mata pelajaran lain, Peneliti
menentukan rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan
menggunakan Model pembelajaran kooperati tipe “Group Investigation” pada kelompok-kelompok kecil, kemudian hasilnya dipresentasikan oleh kelompok kecil
yang beruntung mendapat undian mempresentasikan di depan kelas. Dan pada
pertemuan selanjutnya diputar film dokumenter pembelajaran hari sebelumnya.
B. Identifikasi Masalah
1. Mengapa hasil belajar matematika rendah? Padahal dari beberapa sisi
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, kedisiplinan, penampilan,
serta keramahan guru sebagai fasilitator menurut anggapan peneliti dan hasil
observasi oleh kolaborator sudah baik.
2. Mengapa hasil belajar matematika harus ditingkatkan?
C. Pembatasan Masalah
Dalam Penelitian ini tidak akan diteliti semua masalah yang ditemukan.
Peneliti membatasi masalah yang akan diteliti hanya pada seberapa besar
penggunaan model pembelajaran “Group Investigation” dengan pemutaran film dokumenter pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar matematika
pada materi kesebangunan bangun datar.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran yang mengutamakan
adanya kerjasama antar peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajaran (Didang dkk, 2006: 13). Group Investigation merupakan Model Pembelajaran kooperatif dimana peserta didik terlibat dalam perencanaan baik
topik yang dipelajari maupun jalannya penyelidikan. Pendekatan ini
memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada model
pembelajaran yang berpusat pada guru. Sedangkan Hasil belajar matematika
materi kesebangunan bangun datar dapat dilihat Pada Nilai tertinggi, Nilai
terendah, Ketuntasan klasikal, hasil penilaian setiap akhir siklus.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, analisis penyebab masalah, dan
studi alternatif tindakan pemecahan masalah, peneliti merumuskan masalah :
“Seberapa besar Implementasi Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif tipe
“Group Investigation“ dengan Pemutaran Film Dokumenter Pembelajaran dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada Materi Kesebangunan Bangun
datar Bagi Peserta Didik Kelas IX-F SMP Negeri 2 Wonosobo pada Semester I
Tahun Pelajaran 2010/2011?”.
1. Secara khusus, penelitian ini bertujuan meningkatkan Hasil Belajar
Matematika pada Materi Kesebangunan Bangun Datar bagi Peserta Didik
Kelas IX-F SMP Negeri 2 Wonosobo pada Semester I Tahun Pelajaran
2010/2011, melalui perpaduan model pembelajaran kooperatif Group
Investigation dengan pemutaran film documenter pembelajaran.
2. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Hasil Belajar
Matematika dan memperbaiki proses pembelajaran yang difasilitasi guru.
F. Manfaat Penelitian
Bagi peserta didik :
1. Meningkatnya hasil belajar matematika materi Kesebangunan Bangun datar
2. Meningkatnya kemampuan mengeksplorasi pengetahuan, melatih kecerdasan
sosial, dan meningkatkan rasa percaya diri.
Bagi peneliti :
1. Meningkatnya hasil belajar matematika materi Kesebangunan Bangun datar
bagi peserta didiknya melalui perpaduan model pembelajaran kooperatif
Group Investigation dengan pemutaran film dokumenter pembelajaran.
2. Meningkatnya mutu proses pembelajaran yang difasilitasinya.
Bagi Teman Sejawat :
Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan mutu proses
pembelajaran dan hasil belajar peserta didiknya
Bagi Sekolah :
Memberikan sumbangan bagi peningkatan mutu proses maupun mutu hasil
pembelajaran di sekolah menuju terwujudnya tujuan pendidikan Nasional.
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. KAJIAN TEORI 1. Pengertian Belajar
Belajar pada hakekatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan
perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri individu yang belajar.
Perubahan tingkah laku terjadi karena usaha individu yang bersangkutan. Hasil
belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: bahan yang dipelajari,
faktor-faktor instrumental, faktor-faktor lingkungan, dan kondisi genetik individu
(faktor bawaan). Faktor-faktor tersebut diatur sedemikian rupa agar mempunyai
pengaruh yang membantu tercapainya kompetensi secara optimal.
Proses belajar yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan
pembelajaran merupakan proses komplek dan senantiasa berlangsung dalam
berbagai situasi dan kondisi. Percival dan Ellington (1984) menggambarkan
model sistem pendidikan dalam proses belajar, bahwa masukan (input) untuk
sistem pendidikan atau sistem belajar terdiri dari orang, informasi, dan sumber
lainnya. Sedangkan keluaran (output) berupa orang dengan penampilan yang
lebih maju dalam berbagai aspek. Di antara masukan dan keluaran terdapat kotak
hitam (black box) yang berupa proses belajar atau pendidikan.
Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu : adanya perubahan tingkah
laku, sifat perubahannya relatif tetap (permanent) dan perubahan tersebut
disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan
ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang sifatnya temporer. Oleh karena
itu pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat
didesain maupun yang dimanfaatkan. Hasil belajar yang maksimal tidak hanya
terjadi karena interaksi peserta didik dengan guru, tetapi dapat pula diperoleh
lewat interaksi antar peserta didik dan antara peserta didik dengan sumber belajar
lainnya.
Untuk memberikan gambaran landasan akademik terhadap pelaksanaan
pembelajaran khususnya pada jenjang SMP, maka perlu dikemukakan sejumlah
pandangan dari ahli pendidikan dan pembelajaran. Menurut John Dewey (2001),
tugas sekolah adalah memberi pengalaman belajar yang tepat bagi peserta didik.
Selanjutnya ditegaskan bahwa tugas guru membantu peserta didik menjalin
pengalaman belajar yang satu dengan yang lain, termasuk yang baru dengan yang
lama. Pengalaman belajar baru melalui pengalaman belajar lama akan melekat
pada struktur kognitif peserta didik dan menjadi pengetahuan baru bagi peserta
didik.
Menurut Vygostsky (2001) terdapat hubungan yang erat antara pengalaman
sehari-hari dengan konsep keilmuan (scientific), tetapi ada perbedaan kuantitatif
antara berpikir komplek dan berpikir konseptual. Berpikir komplek berdasarkan
pada kategori objek berdasarkan pada situasi, dan berpikir konseptual berbasis
pada pengertian yang lebih abstrak.Ia menegaskan bahwa pengembangan
kemampuan analisis, membuat hipotesis, dan menguji pengalaman sehari-hari
pada dasarnya terpisah dari pengalaman sehari-hari. Kemampuan ini tidak
ditentukan oleh pengalaman sehari-hari saja, tetapi lebih tergantung pada tipe
spesifik interaksi sosial.
Menurut Ausebel (1992) pengalaman belajar baru akan masuk ke dalam
memori jangka panjang dan akan menjadi pengetahuan baru apabila memiliki
ajar, misalnya peserta didik mengerjakan tugas membaca, melakukan pemecahan
masalah, mengamati suatu gejala, peristiwa, percobaan, dan sejenisnya. Agar
pengalaman belajar yang baru menjadi pengetahuan baru, maka semua konsep
dalam mata pelajaran diusahakan memiliki nilai terapan di lapangan.
2. Pengertian Pembelajaran
Joyce, Weil, dan Showers (1992) menyatakan bahwa hakikat mengajar
(teaching) adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide,
keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan
cara-cara belajar bagaimana belajar. Hasil akhir atau hasil jangka panjang dari
proses mengajar adalah kemampuan peserta didik yang tinggi untuk dapat belajar
dengan mudah dan efektif di masa mendatang. Tekanan kegiatan mengajar tetap
pada peserta didik yang belajar. Dengan demikian hakikat mengajar adalah
memfasilitasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran agar mereka
mendapatkan kemudahan dalam belajar.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses membuat orang belajar.
Tujuannya adalah membantu orang belajar, atau memanipulasi lingkungan
sehingga memberi kemudahan bagi orang dalam belajar. Gagne dan Briggs
(1979) mendefinisikan pembelajaran sebagai events (kejadian, peristiwa, kondisi,
dsb) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajaran, sehingga
proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah. Jadi pembelajaran bukan
hanya terbatas pada kejadian yang dilakukan guru saja, melainkan mencakup
semua kejadian maupun kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung
pada proses belajar manusia. Pembelajaran mencakup pula kejadian-kejadian
slide, maupun kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Bahkan saat ini pemanfaatan
berbagai program komputer untuk pembelajaran, atau dikenal dengan e-learning
(electronic-learning) berupa: CAI (Computer Assisted Instruction) atau CAL
(Computer Assisted Learning), belajar lewat Internet, SIG (Sistem Informasi
Geografis) pendidikan, Web-site sekolah, dll, sudah secara luas digunakan dalam
pembelajaran.
Tidak dipungkiri bahwa manusia diciptakan Allah Subhanahu Wa ta`ala
dalam keberagaman (variabilitas), dan tidak dalam keseragaman (uniformitas).
Namun sesuai dengan hak asasi manusia, maka masing-masing peserta didik
memiliki hak untuk mendapat mencapai ketuntasan dalam belajarnya. Dari
kenyataan inilah muncul konsep Pembelajaran Tuntas (mastery learning) yaitu
pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai
secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata
pelajaran. Strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti
meskipun kegiatan pembelajaran ditujukan kepada sekelompok peserta didik
(kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta
didik sedemikian rupa sehingga memungkinkan berkembangnya potensi peserta
didik secara optimal, serta memudahkan peserta didik belajar dan mencapai
kompetensi berikutnya. Pembelajaran tuntas di dalam kelas mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas:
1) Pembelajaran individual,
2) Pembelajaran sejawat (peer instruction),
4) Tutorial
Menggunakan pendekatan tutorial dengan sesion- sesion kelompok kecil,
tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja,
permainan, dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996). Aneka
metode pembelajaran (multi metode) harus digunakan untuk kelas atau
kelompok. Pendekatan-pendekatan alternatif tambahan harus digunakan
untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar peserta didik.
b. Peran Guru
Mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Menggunakan
pendekatan perorangan (Personalized System of Instruction / PSI)
sebagaimana model pembelajaran yang dikembangkan oleh Keller, yang
lebih menekankan pada interaksi antar peserta didik dengan materi/objek
belajar.
c. Peran Peserta didik
Peserta didik ditempatkan sebagai subjek didik. Fokus program sekolah
bukan pada guru dan yang akan dikerjakannya melainkan pada peserta didik
dan yang akan dikerjakannya. Peserta didik diberi kebebasan menetapkan
kecepatan pencapaian kompetensi. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu
pada usaha serta ketekunan peserta didik secara individual.
d. Sistem Penilaian
Penilaian yang dilakukan dengan acuan patokan (criterion referenced) pada
setiap kompetensi dasar, batas ketuntasannya paling realistik ditetapkan oleh
3. Hasil Belajar
Briggs menyatakan hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan segala hal
yang diperoleh melalui proses pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dengan
angka dan diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Pendapat serupa
dikemukakan oleh Sudjana bahwa hasil belajar adalah suatu akibat dari proses
belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun
secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan.
Hasil belajar matematika merupakan perubahan yang diperoleh peserta didik
dengan belajar matematika yang meliputi perubahan pengetahuan, kecakapan,
sikap, pemahaman dan penguasaan. Kualitas hasil belajar matematika peserta
didik dapat diketahui dari kuantitas pemahaman materi dan hasil ujian peserta
didik.
Dari uraian di atas, maka hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki
seseorang yang diperoleh dari proses belajar dan diukur dengan menggunakan tes
hasil belajar.
4. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif “Group Investigation”
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil peserta didik
untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar (Sugiyanto 2009 : 37). Pembelajaran kooperatif melibatkan peserta didik
yang berkemampuan berbeda dalam beberapa kelompok. Kerjasama antar peserta
didik dalam rangka menyelesaikan tugas kelompok yang tujuan sebenarnya
adalah membantu peserta didik yang belum atau tidak menguasai suatu
Secara teoretis model pembelajaran kooperatif ini diadaptasi dari teori belajar
kognitif-konstruktivis. Salah seorang pelopor aliran ini, Vygotsky, menyatakan
bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam interaksi
atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang tinggi itu terserap ke
dalam individu tersebut (Tim Bintek, 2004). Kemampuan baru yang dimiliki oleh
seseorang akan cepat dikuasai bila terdapat komunikasi sosial dalam suatu
kelompok. Dengan kata lain kerjasama diperlukan untuk mempercepat
pemahaman dan penguasaan materi. Selain itu, pembelajaran kooperatif ini
sesuai dengan salah satu prinsip contextual teaching and learning/CTL, yaitu:
learning community (menciptakan masyarakat belajar dengan cara kerjasama
antar peserta didik).
Ciri-ciri pembelajaran kooperatif seperti yang dikemukakan oleh Stahl (1994)
dan Johnson (1984) dalam Didang (2006) adalah
a. peserta didik belajar dalam kelompok kecil.
b. kemampuan dan latar belakang peserta didik bervariasi dalam kelompok.
c. terdapat interaksi tatap muka dan saling mendengar pendapat/ gagasan.
d. penekanan pada tugas dan kebersamaan mencapai tujuan.
e. efektivitas kelompok tergantung pada kelompok bukan perseorangan.
f. penghargaan (penilaian baik atau buruk) lebih diutamakan pada hasil kerja
kelompok bukan kerja perorangan.
Model pembelajaran kooperatif sangat unggul dalam membantu peserta didik
memahami konsep-konsep yang sulit dan mengembangkan kemampuan peserta
didik dalam hal kerjasama, berpikir kritis, dan tolong menolong.
Model pembelajaran menurut Amin Suyitno (2005) adalah suatu pola atau
kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan
lebih efektif dan efisien. Pada saat ini banyak dikembangkan model-model
pembelajaran. Menurut penemunya, model pembelajaran temuannya tersebut
dipandang paling tepat diantara model-model pembelajaran yang lain. Untuk
menyikapi hal tersebut, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Peserta didik pada jenjang pendidikan dasar sebagian besar masih berada
dalam tahap berpikir konkret, sehingga model dan metode apapun yang
diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan
beberapa konsep matematika.
b. Tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada, karena
setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan.
c. Pilihlah salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran,
kondisi peserta didik, dan kondisi lingkungan peserta didik. Jika perlu
gabunglah beberapa model pembelajaran.
d. Model pembelajaran apapun yang diterapkan, jika guru tidak menguasai
materi dan tidak disenangi peserta didik, maka hasil pembelajaran menjadi
tidak efektif.
Investigasi kelompok dikembangkan pertama kali oleh Herbert Thelen dan
diperluas oleh Sharn dan kawan-kawan dari Universitas Tel-Aviv. Dalam model
ini peserta didik terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari maupun
jalannya penyelidikan. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas
yang lebih rumit daripada model pembelajaran yang berpusat pada guru. Selain
itu, pendekatan ini memerlukan ketrampilan komunikasi dan ketrampilan
memiliki kelompok (group process skills) yang baik.
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen yang berorientasi
pada tugas (task oriented group).
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan bersama peserta didik
merencanakan berbagai prosedur tugas kelompok serta tujuan umum yang
konsisten dengan topik pembelajaran yang dipilih.
c. Guru memanggil ketua-ketua untuk memberikan satu materi tugas sehingga
satu kelompok mendapat satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain.
d. Masing-masing kelompok membahas materi/tugas yang diberikan guru secara
kooperatif.
e. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil
pembahasan kelompok
f. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
g. Evaluasi
h. Penutup
5. Pengertian Film Dokumenter Pembelajaran
Yang dimaksud dengan Film dokumenter pembelajaran adalah cuplikan
rekaman video pembelajaran pada hari sebelumnya yang menayangkan hal-hal
yang sudah baik dan hal-hal yang belum baik dan perlu segera diperbaiki. Hal ini
akan memberikan semangat kepada peserta didik yang sudah baik aktivitas
pembelajarannya untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan, serta
peserta didik yang belum baik aktivitas pembelajarannya segera memperbaiki.
B. Penelitian Yang Relevan
1. Judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kompetensi Dasar FPB
Media Kotak Persekutuan pada Kelas V SD Negeri Balapulang Wetan 06
Kabupaten Tegal Tahun 2010/2011, Oleh Edi Purwanto, S.Pd. Simpulannya :
Pembelajaran Matematika melalui Pendekatan realistic Model Group
Investigation dengan Media Kotak Persekutuan dapat Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Peserta Didik di Kelas V SD Negeri Balapulang Wetan 06
Kabupaten Tegal Tahun 2010/2011.
2. Judul “Penggunaan Model Pembelajaran Cooperatif Learning tipe “Think Pair
and Share” dan Selingan Film Animasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Motivasi Siswa dalam Melakukan Kegiatan Pembelajaran Matematika pada
Siswa Kelas VIII-D SMP Labschool Jakarta Semester Satu Tahun Ajaran
2008/2009”. Oleh Endro Wibowo, S.Pd. Simpulannya : Dengan penggunaan
model pembelajaran Cooperatif Learning tipe “Think Pair and Share” dan
selingan film animasi, siswa kelas VIII-D SMP Labschool Jakarta semester satu
tahun ajaran 2008/2009 menyatakan semakin termotivasi dalam melakukan
kegiatan pembelajaran matematika, pada siklus I sebanyak 74,36% dari jumlah
siswa dan pada siklus II sebanyak 82,05% dari jumlah siswa.
C. Kerangka Berpikir
Dengan Studi Pustaka terhadap hal -hal yang terkait dengan rumusan masalah
dalam penelitian ini, dan memperhatikan hasil penelitian terdahulu yang relevan,
D. Hipotesis Tindakan
Dari refleksi hasil kajian pustaka dan kerangka berpikir tersebut di atas dapat
dirumuskan hipotesis :” Diduga melalui Perpaduan Model Pembelajaran Group Investigation dan Pemutaran Film Dokumenter Pembelajaran, dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Kesebangunan Bangun Datar bagi Peserta Didik Kelas IX-F SMP N2 Wonosobo pada Semester I Tahun Ajaran 2010/2011
E. Indikator Keberhasilan Penelitian
Setelah dilakukan tindakan selama dua siklus diharapkan Peserta didik kelas
IX-F SMP 2 Wonosobo pada semester I tahun ajaran 2010/2011, dapat:
1. Mencapai Ketuntasan Klasikal ≥ 85 %
2. Nilai rata-rata Evaluasi akhir siklus ≥ 75
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
Semua Peserta didik Kelas IX-F SMP Negeri 2 Wonosobo pada semester I tahun
pelajaran 2010/2011
B. Lokasi Penlitian dan Jadwal Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas IX-F SMP Negeri 2 Wonosobo Jalan
Bhayangkara No.10, Kode Pos 56318, Telpon (0286) 321630.
Jadwal Pelaksanaan Penelitian :
NO JENIS KEGIATAN
BULAN
JULI AGUSTUS SEPTEMBER
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5
1 Observasi Pra PTK √
2 Pembuatan PROPOSAl √
3 Pelaksanaan PTK
4 Siklus I √ √
Siklus II √ √
5 Pembuatan Laporan √ √ √ √
C. Data dan Sumber Data
Pada penelitian ini ada dua jenis data, yaitu data kualitatif (hasil observasi setiap
siklus pada lembar observasi), hasil wawancara langsung (hasil rekaman), hasil
wawancara tertulis (learning log), dan data kuantitatif nilai hasil pengerjaan
instrumen evaluasi akhir Siklus. Sumber data pada penelitian ini adalah peserta
didik kelas IX-F SMP 2 Wonosobo Semester I Tahun Pelajaran 2010/2011, dan
teman sejawat peneliti serta observer.
D. Instrumen Penelitian
1. Lembar pengamatan observer terhadap partisipasi peserta didik selama kegiatan pembelajaran .
2. Lembar pengamatan observer terhadap aktifitas peneliti selama kegiatan pembelajaran.
3. Lembar Kerja Peserta didik.
4. Soal Evaluasi Akhir Siklus.
5. Lembar wawancara tertulis (learning log).
6. Catatan lapangan.
E. Teknik Analisis Data
Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul. Tehnik pengumpulan data
pada penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
1. Data tentang situasi pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan lembar
pengamatan observasi pada setiap siklus.
2. Dokumentasi (menggunakan Kodak digital / Hp Kamera) aktivitas peserta
didik diambil pada setiap siklus.
3. Data hasil pengerjaan LKS diambil setiap siklus.
4. Data hasil pengerjaan soal evaluasi pembelajaran diambil setiap akhir siklus.
5. Refleksi dilaksanakan pada akhir siklus dengan melihat hasil penilaian
akhir siklus, wawancara terhadap peserta didik dan kolaborator.
6. Data learning log diambil diakhir siklus I
Proses analisa data dimulai dengan menelaah data yang tersedia dari berbagai
sumber, selanjutnya mereduksi data dan menyusunnya dalam satuan-satuan,
mengkategorikannya. Data yang terkumpul berupa kalimat dan kata-kata tentang
aktivitas-aktivitas guru dan peserta didik, diubah menjadi kalimat yang bermakna
dan ilmiah.
F. Validasi Data
Validasi data dilakukan untuk meyakinkan bahwa data yang diperoleh selama
penelitian adalah benar dan valid. Validasi data dilaksanakan dengan
menggunakan sistem triangulasi data, yaitu mengecek keabsahan data dengan
mengkonfirmasikan data yang ada ke berbagai sumber data, yaitu: peserta didik,
peneliti, teman sejawat, dan Kolaborator (observer).
G. Tahap-tahap Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain menurut
Kemmis & Mc Taggart (Sukidin, 2002: 48). Prosedur penelitian tindakan kelas
dilaksanakan secara siklis yaitu dibagi menjadi dua siklus yang berlangsung
secara berkesinambungan. Setiap siklus terdiri atas empat kegiatan yaitu
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi . Untuk lebih jelasnya perhatikan
gambar diagram berikut ini:
Keterangan 1:
Rencana Siklus I disusun berdasar hasil observasi sebelum penelitian,
Tindakan & observasi dilaksanakan sesuai rencana, Refleksi dilaksanakan berdasar observasi tindakan, Hasil refleksi digunakan untuk menyusun rencana pembelajaran pada siklus II Keterangan 1:
Rencana Siklus I
disusun berdasar hasil observasi sebelum penelitian,
Tindakan & observasi
dilaksanakan sesuai rencana,
Refleksi dilaksanakan berdasar observasi tindakan, Hasil refleksi digunakan untuk menyusun rencana pembelajaran pada siklus II Rencana SIKLUS I Rencana SIKLUS I Tindakan & Observasi Tindakan & Observasi Refleksi Refleksi Rencana SIKLUS II Rencana SIKLUS II Refleksi Refleksi Tindakan& Observasi Tindakan& Observasi Keterangan 2: Banyaknya pertemuan pembelajaran dalam siklus I adalah tiga pertemuan Siklus II adalah dua pertemuan
Keterangan 2:
Banyaknya pertemuan pembelajaran dalam siklus I adalah tiga pertemuan Siklus II adalah dua pertemuan OBSERVASI PRA PTK OBSERVASI PRA PTK PENYUSUNAN LAPORAN PTK PENYUSUNAN LAPORAN PTK
Secara Rinci desain pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
Siklus I : Pertemuan Pertama
No Kegiatan Pembelajaran Waktu Karakter
A PENDAHULUAN
1. Guru memberikan salam dan memimpin doa, kemudian mengecek kehadiran peserta didik satu persatu.
2. Guru mengingatkan kembali (mereview) materi pembelajaran sebelumnya dengan cara tanya jawab.
3. Guru membahas tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya dan dianggap sulit oleh peserta didik dengan meminta peserta didik maju ke depan kelas untuk mengerjakan dan menjelaskan kepada teman-teman satu kelasnya.
4. Saat ada peserta didik yang maju kedepan mengerjakan, guru melihat satu persatu pekerjaan peserta didik.
5. Guru memberi penguatan kepada peserta didik akan pekerjaan yang dikerjakan peserta didik didepan kelas apabila ada yang kurang tepat.
15
menit Disiplin,
Religius
Cinta Ilmu
B KEGIATAN INTI
1. Guru mengingatkan kembali model pembelajaran “Group Investigation”yang sudah diinformasikan pada pertemuan sebelumnya.
2. Peserta didik dikelompokkan secara heterogen (setiap kelompok terdapat minimal satu peserta didik yang berperingkat 10 besar)
3. Peserta didik menuju ke kelompok masing-masing.
4. Peserta didik menentukan ketua dalam kelompoknya untuk mengkoordinasi anggota kelompoknya.
5. Peserta didik diberikan angka 1-4 untuk anggota dan huruf K untuk ketua.
6. Setiap kelompok diberikan LKS *) untuk dikerjakan dengan cara menyelidiki secara
60
menit Sadar akan hak
dan kewajiban diri dan orang lain,
Menghargai
karya dan
prestasi orang lain
bersama-sama syarat-syarat dua segitiga yang sebangun. (eksplorasi)
7. Setiap kelompok mengumpulkan
informasi, analisis data dan memberikan kesimpulan pada lembar kerja yang mereka kerjakan. (elaborasi)
8. Setiap kelompok menuliskan hasil kerja kelompoknya pada selembar kertas karton sebagai bahan untuk presentasi.
C PENUTUP
1. Setiap Kelompok diberikan waktu untuk memperbaiki hasil diskusinya di rumah sebagai persiapan presentasi pada pertemuan yang akan datang.
2. Guru menutup pelajaran dengan doa dan salam.
15
menit Kesetia
kawaan,
Religius.
Siklus I Pertemuan Kedua
No Kegiatan Pembelajaran Waktu Karakter
A PENDAHULUAN
1. Guru memberikan salam dan memimpin
doa, kemudian mengecek kehadiran peserta didik satu persatu.
2. Guru mengingatkan kembali bahwa peserta didik akan presentasi dan mengundi kelompok yang akan presentasi terlebih dahulu.
3. Guru menunjukkan hasil film dokumenter pembelajaran sebelumnya.
15 menit
Disiplin
B KEGIATAN INTI
1. Peserta didik mempersiapkan diri untuk mempresentasikan hasil yang dikerjakan secara berkelompok.
2. Kelompok yang mendapat undian,
mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya didepan kelas bersama dengan anggota kelompoknya.
3. Semua peserta didik yang tidak presentasi memperhatikan dan memberi tanggapan.
4. Ketua bersama anggota kelompok presentasi mempunyai hak yang sama untuk member penjelasan atas tanggapan
60
menit Sadar akan hak
dan kewajiban diri dan orang lain,
Menghargai
karya dan
prestasi orang lain
anggota kelompok yang lain apabila ada yang belum jelas.
5. Guru memberikan penguatan kepada peserta didik terhadap hasil presentasi yang mereka kerjakan secara berkelompok.
6. Guru mulai masuk dalam materi selanjutnya.
7. Guru memberikan soal untuk dipecahkan secara individual.
8. Meminta peserta didik secara acak maju kedepan dan menjelaskan kepada teman-temannya.
9. Guru memberi penguatan kepada peserta didik mengenai soal yang diberikan.
C PENUTUP
1. Peserta didik diminta untuk belajar tentang hal-hal yang sudah dipelajari agar lebih siap dalam menghadapi soal-soal Tes Penilaian Akhir Siklus I yang akan dilaksanakan pada pembelajaran selanjutnya.
2. Guru menutup pelajaran dengan doa dan salam.
15
menit Mandiri
Siklus I Pertemuan ketiga : Tes Penilaian Akhir Siklus I
No Kegiatan Pembelajaran Waktu Karakter
A PENDAHULUAN
1. Guru memberikan salam dan memimpin
doa, kemudian mengecek kehadiran peserta didik satu persatu
2. Guru menunjukkan hasil film dokumenter pembelajaran sebelumnya.
15
menit Disiplin,
Religius
Cinta Ilmu
B KEGIATAN INTI
1. Peserta didik mempersiapkan diri untuk mengikuti Tes Penilaian.
2. Guru memberikan instrument *) penilaian akhir siklus I
3. Peneliti bersama kolaborator menjadi pengawas pelaksanaan Tes Penilaian Akhir siklus I
60
menit Percaya diri, Kejujuran, Dapat berpikir kritis.
C PENUTUP
Lembar Learning Logh 2. Guru member salam penutup.
Siklus II Pertemuan Pertama
No Kegiatan Pembelajaran Waktu Karakter
A PENDAHULUAN
1. Guru memberikan salam dan memimpin
doa, kemudian mengecek kehadiran peserta didik satu persatu.
2. Guru mereview materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya.
3. Guru menunjukkan hasil film dokumenter pembelajaran sebelumnya.
15
menit Disiplin,
Religius
Cinta Ilmu,
B KEGIATAN INTI
1.Guru memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk melakukan penyelidikan dengan tugas yang berbeda-beda (kelompok masih sama).
2. Peserta didik mulai merancang rencana yang akan dilakukan sebelum melaksanakan tugasnya bersama anggota kelompok masing-masing.
3. Peserta didik mulai bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan.
4. Peserta didik mengumpulkan data dan menganalisis dalam kelompok masing-masing.(eksplorasi)
5. Guru memantau peserta didik dalam mengerjakan tugas yang diberikan. (memberikan nilai kepada tiap kelompok ).
60
menit Sadar akan hak
dan kewajiban diri dan orang lain,
Menghargai
karya dan
prestasi orang lain
Dapat berpikir kritis, dan logis
C PENUTUP
1. Kelompok diminta membuat laporan dan mempersiapkan presentasi untuk pertemuan selanjutnya.
2.Guru menutup pelajaran.
15
menit Kesetia
kawaan
Siklus II Pertemuan Kedua :
No Kegiatan Pembelajaran Waktu Karakter
A PENDAHULUAN
1. Guru memberikan salam dan memimpin doa, kemudian mengecek kehadiran
15
menit Disiplin,
peserta didik satu persatu.
2. Guru mereview materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya.
3. Guru menunjukkan hasil film dokumenter
pembelajaran sebelumnya. Cinta Ilmu,
Kreatif
B KEGIATAN INTI
6. Guru mempersilahkan setiap kelompok untuk mengumpulkan laporan bahan presentasi masing-masing kelompok
7. Setiap kelompok diminta untuk mempersiapkan presentasi didepan kelas.
8. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka kepada kelompok lain
9. Guru mempersilahkan semua kelompok menanggapi yang dipresentasikan
10. Guru member penguatan pada materi yang didiskusikan.
11. Peserta didik membuat rangkuman hasil diskusi
60
menit Sadar akan hak
dan kewajiban diri dan orang lain,
Menghargai
karya dan
prestasi orang lain
Dapat berpikir kritis, dan logis
C PENUTUP
1. Guru memberi motivasi kepada siswa untuk belajar materi Kompetensi Dasar 1.3. yang telah dipelajari bersama untuk persiapan Tes Penilaian Akhir siklus II pada Pertemuan yang akan dating.
2. Guru menutup pelajaran dengan doa dan salam.
15
menit Bertanggung
jawab
Religius
Siklus II Pertemuan ketiga : Tes Penilaian Akhir Siklus II
No Kegiatan Pembelajaran Waktu Karakter
A PENDAHULUAN
1. Guru memberikan salam dan memimpin
doa, kemudian mengecek kehadiran peserta didik satu persatu
2. Guru menunjukkan hasil film dokumenter 15
menit Disiplin,
pembelajaran sebelumnya.
B KEGIATAN INTI
1. Peserta didik mempersiapkan diri untuk mengikuti Tes Penilaian
2. Guru memberikan instrument *) penilaian akhir siklus II
3. Peneliti bersama kolaborator menjadi pengawas pelaksanaan Tes Penilaian Akhir siklus II
60 menit
Percaya diri, Kejujuran, Dapat berpikir kritis.
C PENUTUP
1. Peserta didik diminta untuk mengisi Lembar Learning Loght.
2. Guru menutup pelajaran dengan doa dan salam.
15
menit Jujur
Religius
H. Perkiraan Biaya Penelitian
NO KEGIATAN KEBUTUHAN JUMLAH
MARNI
GUNTING 1 buah √
LEM 1 buah Rp 2,500.00 Rp 2,500.00 PITA 1 rol Rp 5,000.00 Rp 5,000.00
STAPLES 1 buah √
ISI STAPLES 1 kotak √
CUTTER 1 buah √
FOTO DIGITAL 1 buah √
LCD 1 buah √
LAPTOP 1 buah √
PENGGARIS 1 set √
KAPUR WARNA 1 dus √
KAPUR PUTIH 1 dus √
2 PELAKSANAAN
SIKLUS I RPP 1 LKS fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 2 LKS fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 3 LATIHAN fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 4 EVALUASI fc 80 lmbr x Rp 125.00 Rp 10,000.00 SIKLUS II RPP 5 LKS fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 6 LKS fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 7 LATIHAN fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 8 EVALUASI fc 80 lmbr x Rp 125.00 Rp 10,000.00 SIKLUS III RPP 9 LKS fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 10 LKS fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 11 LATIHAN fc 40 lmbr x Rp 125.00 Rp 5,000.00 RPP 12 EVALUASI fc 80 lmbr x Rp 125.00 Rp 10,000.00
JUMLAH Rp 316,500.00
I. Personalia Penelitian
Ketua : Endro Wibowo, S.Pd. (Peneliti) Anggota : Slamet Harjadi, S.Pd. (Kolaborator)
DAFTAR PUSTAKA
……….. 2004, Pedoman Diagnostik Potensi Peserta didik, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jerderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Media Group.
Indrawati. 2004. Model pembelajaran Konstruktivisme. Bandung : PPPPTK IPA
Moleong, L.J. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Edi. 2010. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kompetensi Dasar FPB dan KPK melalui Pendekatan Realistis Model Group Investigation dengan Media Kotak Persekutuan pada Kelas V SD Negeri Balapulang Wetan 06 Kabupaten Tegal Tahun 2010/2011. Semarang : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Purwanto, Swida. Dan Muriyanto, Tri. 2008. Hand Out Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Matematika Inovatif. Jakarta: Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta.
Rachman, Maman. 2009. Penelitian Tindakan Kelas (Dalam Bagan). Semarang : UNNES.
Safari, 2008. Penilisan Butir Soal Berdasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta : Asssosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Pusat.
Safari, 2008. Analisis Butir Soal, Jakarta : Asssosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Pusat.
Sujarwo. 2005, Reorientasi Pengembangan Pendidikan Di Era Global. FIP Universitas Negeri Yogyakarta. ( Email : [email protected] )
Suyitno, Amin. 2005. Pemilihan Model-model Pembelajaran Matematika dan Penerapannya di sekolah. Semarang: Pemprov Jateng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.