• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

V-1

BAB V

ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Pada bab ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis hasil dari pengolahan data sebelumnya sehingga tujuan dan hasil akhir dari penelitian menjadi lebih jelas. Analisis penelitian ini diuraikan dalam sub bab berikut.

5.1 Analisis Dimensi Meja dan Kursi Aktual

Meja dan kursi yang digunakan oleh siswa di sekolah dasar saat ini terdapat ketidaksesuaian antara dimensi meja dan kursi dengan antropometri siswa. Oleh karena itu dilakukan perbaikan untuk mendapatkan meja dan kursi yang ergonomis untuk siswa. Dimensi meja dan kursi dibuat berdasarkan antropometri siswa yang telah diolah pada bab sebelumnya. Pada bagian ini akan menganalisis ketidaksesuaian dari masing-masing variabel meja dan kursi aktual dengan variabel meja dan kursi usulan.

Tabel 5.1 Perbandingan Dimensi Meja Aktual dengan Desain Meja Usulan Variabel Meja Aktual

(cm) Min (cm) Max (cm) Desain Usulan (cm)

Tinggi meja 60 57 64 64

Tinggi

sandaran kaki 0 4 15 15

Lebar

sandaran kaki 0 22 22 22

Tinggi ruang

di bawah meja 50 49 61 61

Kemiringan permukaan meja

0º 20º 20º 20º

(2)

commit to user

V-2

Tabel 5.2 Perbandingan Dimensi Kursi Aktual dengan Desain Kursi Usulan Variabel Kursi Aktual

(cm) Min (cm) Max (cm) Desain Usulan (cm) Tinggi

dudukan 37 32 36 36

Tinggi

sandaran 33 27 36 36

Lebar

dudukan 39 31 36 36

Kedalaman

dudukan 33 28 34 34

Kemiringan

sandaran 0º 95º 95º 95º

Pada tabel 5.1 dan tabel 5.2 menunjukkan bahwa adanya perbedaan dimensi aktual meja dan kursi dengan dimensi meja dan kursi usulan. Hal ini disebabkan oleh hasil dari pengolahan data antropometri yang telah dilakukan sebelumnya. Perhitungan yang dilakukan untuk variabel meja seluruhnya menggunakan persentil 95. Sedangkan untuk variabel tinggi dudukan dan kedalaman dudukan kursi menggunakan persentil 50 lalu untuk variabel tinggi sandaran dan lebar dudukan kursi menggunakan persentil 95. Desain usulan yang telah dibuat menggunakan nilai maksimum dari masing-masing variabel agar meja dan kursi dapat digunakan oleh seluruh siswa dengan persentil 5 hingga persentil 95.

5.2 Analisis Desain Meja dan Kursi Usulan

Desain meja dan kursi usulan dibuat untuk mengatasi ketidaksesuaian yang terjadi antara siswa dengan dimensi dan fungsionalitas furnitur kelas.

Penyusunan konsep desain meja dan kursi usulan ini mengacu kepada metode yang telah dikembangkan oleh Ulrich (2001). Langkah-langkah penelitian yang dilakukan dalam penyusunan konsep desain meja dan kursi menghasilkan

(3)

commit to user

V-3

variabel-variabel yang terbagi menjadi dua kategori yaitu ergonomi dan fungsional. Variabel-variabel tersebut akan dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 5.3 Variabel-variabel Perancangan Meja dan Kursi

Meja Kursi

Fungsional

Ringan Ringan

Mampu menahan beban

Mampu menahan beban

Mudah dipindahkan

Mudah dipindahkan Terdapat tempat

penyimpanan tas

Ergonomi

Dimensi meja sesuai dengan antropometri

Dimensi kursi sesuai dengan antropometri Terdapat sandaran

kaki

Kemiringan sudut pada dimensi kursi Kemiringan

permukaan meja

5.2.1 Analisis Kategori Fungsional

Variabel-variabel penyusun konsep desain meja yang termasuk ke dalam kategori fungsional yaitu ringan, mampu menahan beban, mudah dipindahkan dan terdapat tempat penyimpanan tas. Sedangkan untuk variabel-variabel penyusun konsep desain kursi yaitu ringan, mampu menahan beban dan mampu dipindahkan. Kategori fungsional ini terbentuk setelah melewati beberapa langkah pada tahap penelitian yang melibatkan siswa, guru dan pemerhati sehingga menghasilkan variabel yang menjawab atas keluhan dan kondisi aktual di sekolah dasar dalam hal mengakomodasi aktivitas siswa.

Variabel ringan dan mampu menahan beban untuk meja dan kursi menjadi dasar dalam pemilihan material yang digunakan dalam perancangan konsep.

Material yang menjadi alternatif yaitu kayu dan plywood. Kayu dipilih karena material ini mudah dicari dan banyak sekali perusahaan furnitur atau mebel yang menggunakan bahan utama kayu sehingga pihak sekolah tidak kesulitan jika ingin

(4)

commit to user

V-4

membuat meja dan kursi dari hasil rancangan ini. Plywood atau kayu lapis dipilih sebagai alternatif kedua karena plywood sudah banyak digunakan di pasaran sebagai bahan utama dalam pembuatan barang-barang mebel, plywood termasuk jenis kayu olahan yang lebih kuat dibandingkan kayu olahan lainnya dan materialnya juga ringan. Karena kedua material ini sudah sering digunakan di pasaran maka ketahanan mereka dalam menahan beban sudah teruji. Akan tetapi material kayu masih lebih unggul dibandingkan plywood dalam hal menahan beban.

Variabel mudah dipindahkan untuk meja dan kursi menjadi dasar dalam variasi konsep meja dan kursi. Variasi konsep pada meja dan kursi yaitu dengan adanya penambahan material besi sehingga terbentuk empat kombinasi yaitu kayu-besi, kayu, plywood dan plywood-besi. Penambahan material besi dapat mengurangi massa dari meja dan kursi sehingga lebih ringan dan mudah dipindahkan oleh siswa dan guru. Desain meja dan kursi dengan penambahan material besi ini juga mengacu kepada meja dan kursi yang telah dibuat oleh UNICEF untuk sekolah dasar di Nanggroe Aceh Darussalam (UNICEF Supply Division, 2012).

Gambar 5.1 Meja dan Kursi UNICEF Untuk Sekolah Dasar di Nanggroe Aceh Darussalam

5.2.2 Analisis Kategori Ergonomi

Variabel-variabel penyusun konsep desain meja yang termasuk ke dalam kategori ergonomi yaitu dimensi meja sesuai dengan antropometri, terdapat sandaran kaki dan kemiringan pada permukaan meja. Sedangkan untuk variabel- variabel penyusun konsep desain kursi yaitu dimensi kursi sesuai dengan antropometri dan kemiringan sudut pada dimensi kursi. Kategori ergonomi ini

(5)

commit to user

V-5

terbentuk setelah melewati beberapa langkah pada tahap penelitian yang melibatkan siswa, guru dan pemerhati terutama observasi langsung oleh peneliti di lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian dimensi meja dan kursi dengan ukuran tubuh siswa sehingga menghasilkan kategori ergonomi yang menjawab ketidaksesuaian tersebut dan diharapkan dapat tercipta meja dan kursi yang ergonomis.

Variabel dimensi meja dan kursi yang sesuai dengan antropometri si swa melewati beberapa tahap pengolahan data sehingga desain meja dan kursi yang sesuai dengan ukuran tubuh siswa dapat tercapai. Pengambilan data antropometri siswa dilaksanakan di tiga sekolah dasar wilayah Surakarta yang terdiri dari siswa kelas 3 dan 4. Terdapat sepuluh titik antropometri yang diukur dari siswa yaitu tinggi badan, tinggi bahu duduk, tinggi sandaran lengan, tinggi lutut, tinggi popliteal, panjang popliteal, panjang telapak kaki, panjang lengan bawah, panjang lengan atas dan lebar pantat (Nauli, 2012). Setelah itu data antropmetri melewati uji keseragaman, uji normalitas dan perhitungan persentil agar data tersebut telah layak untuk diolah lebih lanjut. Pada penentuan dimensi meja dan kursi kelas dilakukan perhitungan yang dijelaskan pada tabel 4.10 dan tabel 4.11 sehingga menghasilkan variabel meja dan kursi yang sesuai dengan antropometri siswa seperti pada tabel 5.1 dan 5.2.

Sebagian besar meja sekolah yang menjadi objek penelitian tidak memiliki sandaran kaki. Oleh karena itu variabel penambahan sandaran kaki menjadi penyusun konsep desain meja karena sandaran kaki merupakan fitur yang penting untuk menjaga sikap sempurna siswa pada saat posisi duduk. Sandaran kaki yang dibuat berdasarkan panjang telapak kaki dan tinggi lutut. Sehingga sandaran kaki yang telah dibuat dapat menopang seluruh kaki siswa dan menahan beban tubuh siswa secara sempurna.

Berdasarkan hasil penelitian yang banyak telah dilakukan sebelumnya terdapat beberapa desain meja dan kursi yang mempertimbangkan sudut kemiringannya. Selain itu dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru dan pemerhati mereka mengharapkan adanya kemiringan pada permukaan meja. Maka terbentuklah variabel kemiringan permukaan meja dan kemiringan sudut pada dimensi kursi. Sudut kemiringan meja yang dibuat pada perancangan konsep meja

(6)

commit to user

V-6

adalah 20º. Menurut Panagiotopoulou (2004) kemiringan permukaan meja sebesar 20º merupakan kemiringan yang ideal untuk meja belajar di sekolah dasar.

Sedangkan kemiringan sandaran punggung yang ideal menurut penelitian yang dilakukan oleh Suprapto (2013) di sekolah dasar wilayah Sukoharjo yaitu 95º.

5.3 Analisis Pemilihan Konsep Desain Meja dan Kursi

Konsep desain meja dan kursi yang telah dibuat menghasilkan enam belas pilihan konsep meja dan delapan konsep kursi. Setelah terbentuk desain konsep meja dan kursi maka dilakukan pemilihan konsep desain meja dan kursi untuk mendapatkan konsep desain meja yang terbaik. Pada proses pemilihan konsep terdapat dua proses yaitu penyaringan konsep dan pemilihan konsep yang diungkapkan Pugh (1990) dalam Ulrich (2001).

5.3.1 Analisis Penyaringan Konsep

Proses penyaringan konsep dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi alternatif konsep yang ada sehingga dapat memudahkan dalam pemilihan konsep yang terbaik. Penyaringan konsep menggunakan matriks seleksi yang terdiri dari kriteria meja dan kursi serta pilihan konsep meja dan kursi. Salah satu alternatif konsep menjadi konsep referensi. Konsep referensi adalah konsep acuan yang menjadi pembanding diantara konsep-konsep yang lain. Setelah itu alternatif konsep yang lain diberi penilaian dengan membandingkan konsep referensi.

ama -) yang diletakkan di tiap sel matriks untuk memperlihatkan bagaimana tiap konsep dinilai terhadap konsep yang sudah menjadi referensi untuk kriteria tertentu. Penilaian ini dilakukan oleh tiga responden yaitu guru sekolah dasar dan menghasilkan penilaian yang berbeda untuk masing-masing responden dikarenakan waktu dan tempat pengambilan nilai dilakukan terpisah. Secara teori hasil dari penyaringan konsep hanya menjadi satu penilaian yang sama dikarenakan para responden berkumpul dan berdiskusi untuk menilai dengan poin yang sama dan tidak ada keterangan lebih lanjut untuk penyaringan konsep dengan responden yang terpisah. Oleh karena itu hasil dari penyaringan konsep ini dipisah untuk tiap respondennya dan dilihat peringkat konsep dari masing-masing responden. Sesuai dengan ketentuan yang ada, konsep

(7)

commit to user

V-7

dengan peringkat rendah dapat dieliminasi untuk tahap penilaian konsep selanjutnya. Maka dari hasil penyaringan konsep terlihat bahwa ada empat konsep meja yaitu M-V, M-IX, M-XIII dan M-XVI dan satu konsep kursi yaitu K-I yang menduduki peringkat rendah di ketiga responden sehingga konsep-konsep tersebut tidak diikutsertakan dalam penilaian konsep selanjutnya.

5.3.2 Analisis Penilaian Konsep

Penilaian konsep dilakukan setelah mengurangi konsep desain meja dan kursi yang melalui tahap penyaringan konsep. Penilaian ini menggunakan matriks seperti penyaringan konsep akan tetapi sedikit berbeda karena adanya penambahan bobot dan rating. Penilaian dua belas konsep desain meja dan tujuh konsep desain kursi ini dilakukan oleh pemerhati sekolah dasar. Hasil dari penilaian konsep ini menunjukkan peringkat konsep desain meja dan kursi seperti pada tabel 4.26. Konsep desain dengan nilai tertinggi maka akan dipilih sebagai konsep desain terbaik. Pada konsep desain meja terdapat dua konsep desain yang menduduki peringkat pertama yaitu M-I dan M-II dengan total nilai akhir 3.

. Gambar 5.2 Konsep Desain Meja M-I

(8)

commit to user

V-8

Gambar 5.3 Konsep Desain Meja M-II

Spesifikasi dari M-I adalah meja yang terbuat dari kayu, memiliki tempat penyimpanan tas dan memiliki sudut kemiringan permukaan meja sebesar 20º sedangkan spesifikasi M-II adalah meja yang terbuat dari kombinasi kayu dan besi, memiliki tempat penyimpanan tas dan memiliki sudut kemiringan permukaan meja sebesar 20º. Untuk konsep desain kursi terpilih satu desain yang menduduki peringkat pertama yaitu K-II dengan total nilai akhir 3.

Gambar 5.4 Konsep Desain Kursi K-II

Spesifikasi dari K-II adalah desain usulan kursi yang memiliki sudut kemiringan sandaran punggung sebesar 95º yang terbuat dari kayu dan besi. Hasil akhir yang didapatkan dari pemilihan konsep ini adalah konsep desain meja M-I dan M-II dan konsep desain kursi K-II.

Referensi

Dokumen terkait

Pemilihan metode penelitian tindakan kelas dalam upaya menumbuhkan kemandirian belajar peserta didik dalam pembelajaran sosiologi didasarkan pada alasan bahwa: penelitian

Dari gambar yang sama juga terlihat bahwa beton steel dust collector menghasil- kan modulus elastisitas lebih tinggi pada semua nilai FAS dibandingkan beton tanpa limbah..

Coopersmith (1967: 96-106) berpendapat bahwa harga diri adalah suatu evaluasi yang dimiliki individu berkaitan dengan penerimaan diri, dari evaluasi ini memperlihatkan bagaimana

Tujuan umum dari studi kasus ini adalah meningkatkan kemampuan untuk meaksanankan asuhan kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, dan

Tugas sehari-hari seorang Public Relations officer (PRO) adalah mengadakan kontak social dengan kelompok masyarakat tertentu, serta menjaga hubungan baik (community

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki percaya diri tinggi memperoleh keterampilan proses sains biologi siswa lebih baik dengan skor 118,3

Dari 30 Maret 2009 sampai 7 Juni 2009 dapat diamati terjadi perubahan yang signifikan: 1) Kawah di Pusat Semburan berbentuk elip dengan sumbu utara-selatan condong

5.2.2 Belanja Barang dan Jasa 5.2.2.01 Belanja Bahan Pakai Habis.. 5.2.2.01.05 Belanja Peralatan Kebersihan dan Bahan Pembersih Belanja peralatan kebersihan dan bahan pembersih KDH