PELAYANAN ZAKAT BANK DKI CABANG UTAMA JUANDA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)
Oleh :
Muhamad Haikal Muhtadi NIM 11150530000051
KONSENTRASI MANAJEMEN ZISWAF PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020/1442 H
iv
Muhamad Haikal Muhtadi, (1115053000051) Pendayagunaan Dana Zakat Melalui Program Gerobak Berkah pada Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Juanda, Dibawah bimbingan Muammar Aditya, M.Ak.
Gerobak berkah adalah salah satu program Unit Pelayanan Zakat (UPZ) Bank DKI Cabang Utama Juanda dalam bidang sosial dan ekonomi. Sebagai bentuk kepedulian dalam membangun ekonomi masyarakat khususnya para pedagang kaki lima yang memerlukan dukungan berupa pemberian fasilitas dan tambahan modal. Tujuan dalam program gerobak berkah untuk memberikan kesempatan bagi para pedagang kaki lima yang membutuhkan tambahan modal (mustahik) bisa mengembangkan usaha dan menjadikan seseorang yang awalnya Mustahik menjadi seorang Muzakki. Dengan demikian, bantuan zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tapi juga bersifat produktif yang dapat menambah produktifitas masyarakat. Sehingga dana zakat yang disalurkan tidak hanya bersifat sementara dan cepat habis, tapi juga bisa berkelanjutan untuk memperbaiki produktifitas hidup masyarakat, menanggulangi kemiskinan, menciptakan, kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat.
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif deksriptif. Diawali dari pemilihan masalah, dan dilanjutkan dengan proses wawancara untuk mengetahui prosedur dalam menjalankan program, juga faktor-faktor
v
informasi yang diperoleh, kemudian menganalisa dengan pedoman berdasarkan sumber-sumber yang tertulis.
Berdasarkan hasil penelitian, program gerobak berkah diberikan kepada pedagang kaki lima yang membutuhkan bantuan tambahan berupa gerobak, juga tambahan modal berupa uang sebesar 1 juta rupiah yang diberikan setelah 6 bulan berjalan. Keberhasilan program ini tidak terlepas dari prosedur yang ditentukan untuk efektifitas berjalannya sebuah program.
Kata Kunci : Pendayagunaan, Dana Zakat, UPZ Bank DKI
vi
Alhamdulillahi Robbil „Aalamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemudahan bagi penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjana. Sholawat dan salam selalu terucapkan pula kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa Islam kepada kesempurnaan, juga yang kita harapkan Syafaat meyertai kita kelak. Amin
Menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, untuk itu saran dan masukan yang bersifat membangun sangatlah diharapkan bagi penulis untuk menjadikan pembenahan ke arah yang lebih baik lagi. Untuk itu penulis pun menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang berperan sebagai motivator demi terselesaikan nya penulisan skripsi ini, terutama kedua orang tua yaitu Abah Kiai Abdul Hanan, dan Umy Heni Wahyuni, yang tak bosan memberi doa serta semangat kepada penulis sebagai putra nya. Semoga Allah memberikan Ridho-Nya sehingga surga terbuka lebar untuk mereka. Amin.
Dalam proses pembuatan tulisan ini dengan penuh hormat dan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. Amany Burhanudin Lubis, Lc, MA. Selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
vii
BSW, MSW Wakil Dekan I Bidang Akademik, Shihabuddin Nor selaku Wakil Dekan II, Drs. Cecep Castrawijaya, MA selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
3. Bapak Drs. Sugiharto, MA selaku Ketua Program Studi Manajemen Dakwah dan Bapak Amirudin, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Manajemen Dakwah.
4. Bapak Prof. Dr. Murodi, MA selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjadi mahasiswi.
5. Bapak Muammar Aditya, M.Ak selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah bersedia membimbing dari awal hingga akhir penyelesaian skripsi ini.
6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Manajemen Dakwah yang telah memberikan pengajaran dan pembelajaran teori maupun pengalaman hidup yang luar biasa.
7. Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terimakasih telah membantu saya dalam memberikan refrensi buku, jurnal maupun skripsi.
8. Kepada pihak Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Juanda yaitu kepada bapak Saiful Anwar, Zainal Arifin, H.
Lutfianto, Hasanudin, Surono, dan pegawai Unit
viii proses wawancara.
9. Teruntuk Bilal Zarkasih, Khairul Umam, Ahmad Mutawali, Sholehuddin, Ahmad Rifqi, Listiharoh, Zanuba, Faruq sebagai saudara sekaligus teman yang berjasa selama proses penulisan skripsi ini dalam bentuk bantuan apapun.
10. Kepada teman-teman sepergaulan yaitu Fathurrahman, Ilham Syahrul, Ikromullah, Abd. Manaf, Irfan Kahfie, Medyanto, Fery Setyadi, Misbah, Muhda, Sholihin dan lainnya yang tidak tercantum namun jasa mereka sangatlah berharga.
11. Teruntuk sahabat yang sangat membantu dalam penyusunan dan pemberian masukan dalam penyusunan teristimewa Nurhanim binti Abu Bakar dan Nurjamilah.
12. Keluarga besar Pon-Pes Salafiah Mursyidul Falah, terkhusus Mama Ajengan Abah K.H Ahmad Syatiri dan isteri, para santri kobong yang berjasa membangun semangat menuntut ilmu.
13. Terimakasih untuk sahabat-sahabat Manajemen Dakwah 2015 khususnya konsentrasi ziswaf yang telah memberi banyak dukungan. Terimakasih juga telah memberikan semangat dan menjadi teman seperjuangan dikala suka maupun duka untuk menyelesaikan S1 ini.
ix pada umumnya.
Jakarta, September 2020
Muhamad Haikal Muhtadi
x
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah ... 6
1. Pembatasan Masalah ... 6
2. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
1. Tujuan Penelitian ... 7
2. Manfaat Penelitian ... 7
D. Metodologi Penelitian ... 7
1. Pendekatan Penelitian ... 7
2. Sumber Data Penelitian ... 8
3. Subjek dan Objek Penelitian ... 8
4. Teknik Pengumpulan Data ... 9
5. Teknik Pengolahan Data ... 10
6. Tempat Penelitian ... 10
E. Tinjauan Pustaka ... 10
xi
A. Pendayagunaan ... 14
1. Pengertian Pendayagunaan ... 15
2. Aspek-Aspek Pendayagunaan ... 16
3. Strategi Pendayagunaan ... 16
B. Dana ... 16
1. Pengertian Dana ... 16
2. Sumber-Sumber Dana ... 17
C. Zakat ... 18
1. Pengertian Zakat ... 18
2. Landasan Kewajiban Zakat ... 19
3. Syarat-Syarat Wajib Zakat ... 22
4. Syarat Harta yang Wajib Dizakati ... 23
5. Orang yang Berhak Menerima Zakat (Mustahik) ... 25
6. Tujuan dan Manfaat Zakat ... 27
D. Pendayagunaan Dana Zakat ... 30
1. Pengertian Pendayagunaan Zakat ... 30
2. Tahap-Tahap Pendayagunaan Dana Zakat ... 30
3. Pola Pendayagunaan Zakat ... 32
4. Urgensi Pendayagunaan ... 33
5. Tinjauan Fikih Terhadap Pendayagunaan Zakat ... 34
E. Prosedur ... 39
1. Pengertian Prosedur ... 39
xii
BAB III GAMBARAN UMUM UNIT PELAYANAN
ZAKAT (UPZ) BANK DKI JUANDA ... 43
A. Profil ... 43
B. Visi dan Misi ... 44
C. Dasar Hukum ... 44
D. Struktur Organisasi ... 45
E. Mekanisme Pengumpulan ... 47
F. Program-program Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda... 49
G. Prosedur pengajuan dan penyaluran bantuan Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda ... 50
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 52
A. Gerobak Berkah ... 52
B. Prosedur Pengajuan Bantuan ... 53
C. Data Jumlah Penyaluran 2018 ... 54
D. Data Penerima Bantuan ... 55
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN ... 57
A. Prosedur Pendayagunaan Dana Zakat pada program Gerobak Berkah Unit Pelayanan Zakat (UPZ) Bank DKI Juanda ... 57
B. Faktor Pendukung dan Penghambat pada Program Gerobak Berkah Unit Pelayanan Zakat (UPZ) Bank DKI Cabang Utama Juanda ... 73
xiii
B. Saran ... 92
DAFTAR PUSTAKA ... 94 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 98
xiv
Tabel 4.1 : Data laporan keuangan 2018 ... 54
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Struktur Kepengurusan Unit Pelayanan Zakat BankDKI ... 45 Gambar 3.2 : Susunan Pengurusan Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Juanda ... 46 Gambar 4.3 : Data Penerima Bantuan Gerobak Berkah 2018 . 56 Gambar 5.4 : Lembar Survei Individu ... 64 Gambar 5.5 : Lembaran Memo Tanda Tangan Mustahik ... 65 Gambar 5.6 : Lembar Analisis Penyaluran Dana Kepada
Mustahik ...
... 67 Gambar 5.7 : Lembar Analisis Penyaluran Dana Kepada
Mustahik ...
... 68 Gambar 5.8 : Lembar Analisis Penyaluran Dana Kepada
Mustahik ...
... 69
xv
Lampiran 1 : Transkip Wawancara ... 99 Lampiran 2 : Surat Bimbingan Skripsi ...
109
Lampiran 3 : Surat Keterangan Penelitian ...
Lampiran 4 : Dokumentasi / Foto ...
1 A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan Zakat, Infak, dan Shodaqoh dalam kehidupan umat manusia perlu selalu diperjuangkan demi mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Memang kepemilikan harta adalah hak sah menurut ajaran islam. Akan tetapi, kepemilikan harta itu bukanlah tujuan, akan tetapi sebuah sarana untuk menikmati karunia Allah SWT.
Perintah wajib membelanjakan uang ( harta benda ) tercantum setelah anjuran beriman kepada Allah dan Nabi-nabi- Nya. Inilah merupakan pertanda jelasnya perintah membelanjakan uang, bukan hanya sekedar anjuran yang boleh dikerjakan atau ditinggalkan.1Salah satu kewajiban itu ialah dengan berzakat.
Zakat merupakan suatu ibadah yang keberadaanya dianggap sebagai ma’lum min al-dhin bi al- dhauroh artinya zakat diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dan keislaman seseorang.2Karena Islam adalah agama yang mewajibkan umatnya untuk menyisihkan dan membersihkan baik jiwanya, maupun hartanya. Penghasilan yang diperoleh dan harta yang berhasil dikumpulkan oleh setiap pribadi muslim sebenarnya bukan sepenuhnya miliknya. Ada hak
1 Yusuf al-Qardhowi, Dawrul wa Akhlaq fi Iqthisad al-Islam, (diterjemahkan) Zaenal Arifin, Norma dan Etika Ekonomi Islam, ( Jakarta:
Gema Insani Press), hal 139.
2 Ali Yafi, Menggagas Fiqh Sosial, ( Bandung, Mizan,1995), hal 231
atau milik orang lain didalamnya, sebagaimana diungkapkan dalam surat Adz Dzariyaat dan Al Ma‟arij sebagai berikut :
ِِمو ُر ْحَمْلا َوِلِئا َّسلِلٌّق َح ْمِهِلا َو ْمَأيِف َو
“Dalam setiap harta terdapat hak orang lain ( orang-orang yang meminta minta, dan orang-orang yang tidak meminta-minta).”
(Adz Dzariyat:51:19)
ِ موُل ْع َمٌّق َح ْمِهِلا َو ْمَأيِفَني ِذَّلا َو
ِ -
ِِمو ُر ْحَمْلا َوِلِئا َّسلِلِ,
“Dan orang-orang yang dalam hartanya ada hak yang ditentukan.Bagi orang (miskin) yang meminta-minta dan orang- orang (miskin) yang tidak mau meminta”.(Al Ma‟arij:70: 24-25).
Oleh karena itu, Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk membangun kualitas keimanan secara individul, tetapi juga menjunjung nilai sosial kemanusiaan yang tingi. Zakat mampu membangun kemajuan bangsa terutama dalam bidang perekonomian, apabila terget dan sasarannya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh syariat dan ajaran islam.
Zakat sebagai salah satu alat Instrument penggerak ekonomi seharusnya bisa menanggulangi kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat.Karena setiap syariat yang diturunkan Allah SWT, pasti memiliki tujuan yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.Oleh karena itu, pengelolaan zakat harus bisa memenuhi Maqosid al-Syariah yang mencakup seluruh kebutuhan dasar manusia.3
Hendaknya zakat harus bisa memenuhi lima hal ini.
Apabila pemberdayaan zakat sudah bisa memenuhi lima hal ini,
3 Abu Ishaq As Syatibi, Al Muwaffaqat fi Ushul as Syari’ah (Beirut Dar Fikr,tt) Juz II, hal 370
maka keberkahan akan dirasakan oleh manusia. Menurut MA Mannan, zakat sebagai aktifitas ekonomi religios memiliki prinsip-prinsip dasar. Pertama, prinsip keimanan atau keyakinan, artinya orang yang membayar zakat yakin bahwa dia telah melaksanakan perintah agama dan jika dia belum membayar zakat maka belum sempurna agamanya.Kedua, prinsip pemerataan dan keadilan yang menggambarkan tujuan zakat, yaitu membagi secara adil atas kekayaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.Ketiga, prinsip produktifitas, zakat dikenakan pada harta yang produktif dan telah sampai pada waktunya.Keempat, prinsip nalar, zakat hanya dibayarkan oleh orang yang punya kepekaan jasmani dan rohani.Kelima, prinsip etika dan kewajaran, bahwa zakat tidak bisa ditarik dari harta yang paling disenangi pemiliknya.Keenam, prinsip kemerdekaan, zakat bisa dijadikan penopang kehidupan keluarga orang terpenjara yang tidak berpenghasilan.4
UPZ (Unit Pelayanan Zakat) Bank DKI adalah salah satu badan dibawah naungan Bank DKI yang berwenang menerima, mengelola, dan menyalurkan zakat yang tidak lain dana zakat atau Muzzaki diperoleh dari gajih karyawan dari PT.BANK DKI, dan zakat dari laba perusahaan. Sebagaimana juga didorong oleh Undang-Undang nomor 38 tahun 1999, tentang pengelolaan zakat, dan juga Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islamdan Urusan Haji Nomor D-291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat. Hasil kajian
4 MA.Mannan, Ekonomi Islam: Teori dan Praktek,(Jakarta PT.Internusa,1992) hal 257-259
Bapinroh Bank DKI dan BAZNAS (Badan Zakat Amil Nasional ), menunjukan bahwa potensi zakat di Bank DKI adalah cukup besar. Potensi tersebut dihitung secara global dari jumlah karyawan muslim di Bank DKI lebih dari 1000 orang apalagi bila dilihat dari laba perusahaan juga mendorong perlunya pembentukan UPZ ( Unit Pelayanan Zakat ).
Untuk itu Bapinroh Bank DKI membentuk tim kecil untuk mengkaji lebih lanjut dan hasil kajian BAZNAS dipresentasikan kepada Direksi. Selanjutnya dipresentasikan kepada seluruh divisi dan departemen untuk mendapatkan tanggapan atas proposal pendirian Unit Pelayanan Zakat.Dalam forum tersebut dikaji tentang manfaat dan mudhorat sebagai akibat dari pendirian UPZ, yang akhirnya disimpulkan lebih banyak manfaat yang diperoleh baik untuk karyawan maupun untuk instusi bank DKI tersebut.
Salah satu program yang terdapat pada Unit Pelayanan Zakat Bank DKI dibidang hibah atau pendayagunaan dana zakat adalah program “ Gerobak Berkah “.Sasaran utama pada program ini yaitu para pedagang kaki lima yang membutuhkan tambahan modal untuk usaha dalam bentuk bantuan berupa modal awal sebuah gerobak. Bentuk bantuan pada program ini berupa sebuah gerobak beserta modal usaha berupa uang sejumlah 1 juta rupiah yang kemudian diberikan setelah 6 bulan berjalan, agar memastikan bahwa gerobak dan modal yang diberikan bermanfaat dan mempunyai loyalitas atas kepercayaan yang diberikan.
Pada program Gerobak Berkah tahun 2018 sasaran bantuan berlokasi di sekitar lingkungan kantor pusat dan cabang Bank DKI, dengan jumlah mustahik 36 pedagang kaki lima. Bantuan diberikan sesuai pengajuan ke kantor Unit Pelayanan Zakat Bank DKI melalui hasil tinjauan lapangan Unit Pelayanan Zakat Bank DKI, ataupun bagi yang memenuhi syarat sebagai penerima bantuan, dengan ketentuan yang berlaku berdasarkan hasil survei langsung ke lapangan untuk melihat keadaan dan menentukan berhak atau tidaknya untuk menerima bantuan tambaha modal dan fasilitas berupa gerobak.
Tujuan dalam program Gerobak Berkah untuk memberikan kesempatan bagi para pedagang yang membutuhkan tambahan modal ( mustahik ) bisa mengembangkan usaha dan menjadikan seseorang yang awalnya Mustahik menjadi seorang Muzakki.
Dengan demikian, bantuan zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tapi juga bersifat produktif yang dapat menambah produktifitas masyarakat. Sehingga dana zakat yang disalurkan tidak hanya bersifat sementara dan cepat habis, tapi juga bisa berkelanjutan untuk memperbaiki produktifitas hidup masyarakat, menanggulangi kemiskinan dan menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat.
Maka dari itu Unit Pelayanan Zakat Bank DKI tidak hanya memberikan penyaluran, tapi juga bisa memberikan pendayagunaan bagi mustahik yang sesuai dengan dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia No.38 Tahun 1999, dan No.
23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Juga didasari atas Perjanjian Kerjasama antara pihak PT. Bank DKI dengan Badan
Amil Zakat Infaq Shadaqah ( BAZIS ) Provinsi DKI Jakarta tentang Pengumpulan dan Pendayagunaan Zakat Infaq dan Shadaqah.
Berdasarkan oleh terdorongnya pemikiran ini, penulis tertarik untuk mengajukan judul skripsi yang berjudul
“PENDAYAGUNAAN DANA ZAKAT MELALUI PROGRAM GEROBAK BERKAH PADA UNIT PELAYANAN ZAKAT BANK DKICABANG UTAMA JUANDA”.
B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Disini penulis hanya membatasi pembahasan masalah pada pendayagunaan dana zakat disalurkan melalui program gerobak berkah yang ada pada Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda. Penulis tidak akan mengambil porsi pembahasan permasalahan zakat walaupun ada beberapa ayat yang menjurus ke zakat. Tujuannya untuk membatasi dan menfokuskan isi dari tulisan ini dan memudahkan bagi pembaca.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, maka penulis memfokuskan dan membatasi hanya pada masalah pendayagunaan. Adapun yang akan dimuat sebagai berikut : a. Bagaimana prosedur menjalankan program Gerobak
Berkah Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda ?
b. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menjalankan Pendayagunaan Dana Zakat pada program Gerobak BerkahUnit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui prosedur pada program Gerobak Berkah Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
b. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat berjalannya Program Gerobak BerkahUnit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
2. Manfaat Penelitian
a. Sebagai acuan penambahan wawasan dan referensi dalam kajian pembelajaran ilmu ZISWAF, khusunya terkait tentang pendayagunaan.
b. Sebagai syarat kelulusan mendapatkan gelar sarjana dari pihak kampus, khususnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
c. Mengembangkan pemikiran dalam pemecahan suatu permasalahan yang akan dikaji.
D. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah prosedur sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, tertulis, atau
lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati.5 Penelitian jenis ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara terperinci mengenai gambaran suatu kelompok, lembaga, atau masyarakat tertentu.
Dengan demikian, penulis berusaha menggambarkan secara jelas berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan lapangan, kemudian dianalisa untuk mendapatkan hasil sebagai tujuan penelitian.
2. Sumber Data Penelitian
Adapun macam data pada penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder.
a. Primer diperoleh melalui proses penelitian langsung dari narasumber yaitu Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda melalui proses wawancara.
b. Data Sekunder adalah data yang didapat dari catatan- catatan, dokumen yang terkait dengan penelitian , atau referensi dari buku-buku yang terdapat pembahasan sesuai dengan penelitian. Juga melakukan kunjungan ke perpustakaan dan jurnal guna menambah data.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penalitian ini adalahUnit Pelayanan Zakat Bank DKI cabang utama Juanda. Sedangkan objek dalam penelitian ini yaitu terkait pendayagunaan dana zakat melalui
5 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2009) Edisi Revisi Cet Ke-26, hal.3.
program gerobak berkah pada Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang objektif, penulis melakukan teknik sebagai berikut ;
a. Observasi
Observasi adalah usaha untuk memperoleh dan mengumpulkan data dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terhadap suatu kegiatan secara akurat, serta mencatat fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.6 Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan dan pencatatan langsung ke lembaga terkait, yaitu Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
b. Wawancara
Wawancara yaitu metode untuk mengumpulkan data dengan mengadakan komunikasi langsung dengan narasumber. Wawancara bertujuan untuk mendapatkan data-data yang konkrit dari hasil pertanyaan yang diajukan.7 Dalam metode ini penulis mengajukan beberapa pertanyaan kepada pihak lembaga terkait, dan beberapa pihak narasumber lainnya, tentunya kepada pegawai Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
6 Wardi Bachtiar, Metode Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta:
Logos,1997, cet.Ke-1 , hal.24)
7 Wardi Bachtiar, Metode Penelitian Ilmu Dakwah, Cet.Ke-1, hal.24
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.8 Peneliti mengumpulkan berupa foto-foto, buku, dan dokumen lainnya untuk melengkapi penelitian.
5. Teknik Pengolahan Data
Setelah beberapa data yang dibutuhkan terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data untuk dibuat kesimpulan.
Penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, untuk kemudian dianalisis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, kemudian disajikan dalam laporan ilmiah.
6. Tempat Penelitian
Lokasi penelitian ini tepatnya di Kantor Unit Pelayanan Zakat Bank DKI cabang utama Juanda, beralamat di Jl.Ir. H.
Juanda III/7-9, Jakarta Pusat.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam penulisan skripsi ini peneliti menemukan beberapa judul terdahulu yang telah melakukan penelitian terkait dengan pembahasan. Namun penulis memastikan bahwa skripsi ini akan berbeda dengan yang sudah tercantum pada penelitian sebelumnya, dan akan dijadikan bahan perbandingan dan referensi, adapun beberapa skripsi tersebut antara lain :
8 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 82.
1). Fenny Oktaviany, mahasiswi jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2010, dengan judul “ Pemberdayaan Anak Jalanan Melalui Program Sekolah Otonom oleh Sanggar Anak Akar di Gudang Seng Jakarta Timur “. Skripsi ini membatasi permasalahannya pada pemberdayaan anak jalanan yang ada di Sanggar Anak di Gudang Seng Jakarta Timur.
2). Arnold Rinaldi, mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2014, dengan judul “ Pendayagunaan Zakat Produktif Melalui Program Ekonomi Berkah Di Badan Amil Zakat Nasional ( BAZNAS ) Kota Bogor “.
Skripsi ini membatasi permasalahannya pada pendayagunaan zakat produktif melalui proram ekonomi berkah di BAZNAS Bogor.
3). Muhammad Yusnar, mahasiswa jurusan Ekonomi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sumatera Utara Medan 2013, dengan judul “ Pengaruh Pemanfaatan Dana Zakat Produktif Terhadap Tingkat Pendapatan Mustahik Pada BAZNAS Provinsi Sumatera Utara ”. Skripsi ini membatasi permasalahannya tentang pengaruh pemanfaatan zakat produktif terhadap tingkat pendapatan para mustahik yang ada di daftar mustahik BAZNAS Provinsi Sumatera Utara.
4). Ahmad Halif, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSA 2014, dengan judul “ Analisis Penyaluran Dana Zakat: Studi Kasus Program Pemberdayaan Berbasis Pendampingan Dompet Dhuafa Jawa Timur ”. Skripsi ini membatasi permaslahannya tentang analisis penyaluran dana zakat yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Jawa Timur.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dan gambaran dalam skripsi, maka penulis menyusun ke dalam 5 (lima) bab, masing- masing memiliki sub-sub tersendiri.
BAB I Pendahuluan
Bagian ini merupakan acuan untuk pembahasan pada bab bab berikutnya yang terdiri dari latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodelogi penelitian, tinjauan pustaka, serta sistematika penulisan.
BAB II Landasan Teori
Pada bab ini akan dibahas tentang dasar teori-teori pemberdayaan zakat dan terkait program seperti pengertian, macam-macam, dan tujuan.
BAB III Gambaran Umum
Pada bab ini tertera tentang sejarah, profil lembaga, visi misi, struktur kepengurusan lembaga yang dijadikan penelitian, yaitu Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
BAB IV Data dan Temuan Penelitian
Pada bab ini penulis membahas mengenai temuan penelitian tentang pendayagunaan dana zakat melalui program Gerobak Berkah pada Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
BAB V Pembahasan dan Analisis Data Penelitian
Pada bab ini terdiri dari analisis hasil penelitian dengan teori terkait dengan pendayagunaan dan zakat melalui program gerobak berkah pada Unit Pelayanan Zakat Bank DKI Cabang Utama Juanda.
BAB VI Penutup
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian, lampiran-lampiran yang berkaitan dengan penelitian.
Sekaligus merupakan akhir dari proses hasil penelitian.
14 A. Pendayagunaan
1. Pengertian pendayagunaan
Pendayagunaan berasal dari kata “ guna “ yang berarti manfaat1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendayagunaan memiliki arti yaitu pengusahaan agar mampu mendatangkan manfaat.2 Dalam pengertian yang lain, pendayagunaan atau utility diartikan dengan “ usefull, especially through being able to perform several function ( berguna, terutama melalui kemampuan untuk melakukan beberapa fungsi ). Kemudian menurut Nurhattat Fuad, pendayagunaan sering juga diartikan sebagai pengusahaan agar mampu mendatangkan hasil dan manfaat.3
Menurut beberapa ahli, Pendayagunaan berasal dari kata
“daya-guna” yang berarti pengusahaan untuk mendapatkan hasil atau pengusahaan tenaga agar dapat mengerjakan tugas dengan baik.4 Menurut Masdar dalam buku Asnaini “Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam” pendayagunaan adalah cara atau
1 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989) hal,189
2 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat,
(Jakarta : Balai Pustaka, 2008) hal.326
3Mu‟inan Rafi‟, Potensi Zakat (dari Konsumtif-Karitatif ke Produktif- Berday aguna), ( Yogyakarta: Citra Pustaka, 2011), hal 82
4 Meity Taqdir Qodratillah dkk, Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar, (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011), hal. 88.
usaha distribusi dan alokasi dana zakat agar dapat menghasilkan manfaat bagi kehidupan5. Menurut Asnaini pendayagunaan adalah mendistribusikan dana zakat kepada mustahiq dengan cara produktif.6
Dari beberapa pengertian diatas maaka dapat disimpulkan bahwa, pendayagunaan adalah suatu usaha untuk mendatangkan hasil atau manfaat yang lebih besar dan lebih baik dengan memanfaatkan segala sumber daya dan potensi yang dimiliki dalam rangka penanganan kemiskinan, dan bersifat jangka panjang.
2. Aspek- aspek pendayagunaan
Dalam upaya pendayagunaan hendaknya terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan dan dicermati, yaitu : a. Perencanaan
Perencanaan merupakan hal yang sangat penting guna memastikan tiap-tiap sumber daya yang akan mendatangkan manfaat.
b. Penggunaan
Setiap sumber daya yang memiliki nilai guna hendaknya dialokasikan sesuai dengan fungsinya.Hal ini ditunjukan untuk menghindari adanya tumpang tindih fungsi dan kegunaan sumber.
5 Asnaini, Zakat Produktif Dalam Perspektif Hukum Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2008) hal 134.
6 Asnaini, hal 135.
c. Evaluasi
Tindakan evaluasi dilakukan tidak hanya pada akhir masa penggunaan sumber, melainkan dimulai sejak tahap perencanaan. Evaluasi berguna untuk meminimalisasi adanya penyimpangan dan penyalahgunaan sumber.
3. Strategi pendayagunaan
Strategi pendayagunaan adalah kiat-kiat atau cara yang dilakukan sebagai usaha atau tindakan untuk memberikan hasil dan manfaat yang lebih besar dalam rangka mensukseskan program, dengan mengerahkan sumber daya baik sumber daya manusia, maupun sarana prasarana yang dimiliki.7
B. Dana
1. Pengertian dana
Dana merupakan uang yang disediakan untuk suatu keperluan juga dapat diartikan sebagai pemberian, hadiah dan derma.8 Dana juga diartikan sebagai sebuah istilah keuangan yang umum didalam perusahaan yang merupakan area fungsi bisnis yang bertanggung jawab untuk mendapatkan dana, mengelola dan menentukan cara alternatif penggunaan terbaik dari dana tersebut.9
Ada tiga motif di dalam memiliki dana, diantaranya :
7https://www.kompasiana.com/hakikat-pendayagunaan., diakses pada 02 Desember 2019.
8 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal 314
9 Pandji Anoraga, Manajemen Bisnis (Jakarta: PT Rineka Cipta 1997), hal.244
a. Motif transaksi, yaitu motif yang dilakukan organisasi dalam upaya menyediakan dana untuk membayar berbagai transaksi bisnisnya.
b. Motif berjaga-jaga, yakni motif yang dilakukan untuk mempertahankan saldo kas guna memenuhi permintaan kas yang sifatnya tidak terguga. Seandainya semua pengeluaran dan pemasukan dana bisa diprediksikan dengan sangat akurat, maka saldo kas untuk bermaksud jaga-jaga akan sangat dapat diminimalisir.
c. Motif spekulasi, adalah dimaksutkan untuk memperoleh keuntungan dari memiliki dan menginvestasikan dana dalam bentuk investasi.10
2. Sumber-sumber dana
Bagi suatu organisasi atau perusahaan dana sangatlah diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Tanpa adanya dana, suatu organisasi atau perusahaan tidak dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan. Untuk mendapatkan dana tersebut, maka diperlukan adanya sumber dana. Secara umum sumber dana dalam sebuah organisasi atau perusahaan dapat diklasifikasikan sekurang-kurangnya berasal dari dua sumber, yaitu :
a. Sumber dana dari dalam
Sumber dana internal atau dari dalam merupakan sumber dana dari operasi perusahaan atau organisasi, ini berarti dana dari kekuatan sendiri.
10 Suad Husnan Dan Enny Pudjiastuti, Dasar-Dasar Manajemen, (Yogyakarta: UUP Amp Ykpn,2002), hal.111-112
b. Sumber dana dari luar
Adalah kebutuhan dana yang diambil dari sumber-sumber diluar perusahaan yang dapat digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan. Sumber dana dari pemilik atau calon pemilik yang berarti akan membentuk modal sendiri. Bentuk sumber dana ini sering disebut sebagai pembelajaran sendiri.11
C. Zakat
1. Pengertian zakat
Ditinjau dari segi bahasa, zakat merupakan bentuk mashdar (kata dasar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Akan tetapi menurut lisan al-Arab arti dasar dari kata zakat ditinjau dari segi bahasa, adalah suci, tumbuh, berkah dan terpuji semua arti kata ini digunakan di dalam Quran dan Hadist. Sedangkan zakat dari segi istilah fiqih adalah sejumlah harta tertentu yang dikeluarkan dari harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak.12
Adapun zakat menurut istilah syara adalah nama bagi sejumlah harta tertentuyang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu.13
11 Edilus, Pengantar Ekonomi Perusahaan, (Jakarta: Rineka Cipta,1992), hal.250-251
12 Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, (Jakarta: Lentera Antar Nusa, 2002), cet.ke-6 hal 34
13 Didin Hafidhudin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infaq, dan Sedekah, (Jakarta: Gema Insani Press,2002),hal.13
Sedangkan menurut BAZIS, Zakat adalah salah satu rukun Islam yang merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan dalam wujud mengkhususkan sejumlah harta atau nilainya dari milik perorangan atau badan hukum untuk diberikan kepada yang berhak dengan syarat-syarat tertentu untuk mensucikan dan mempertumbuhkan harta serta jiwa pribadi para wajib zakat, mengurangi penderitaan masyarakat, memelihara keamanan, serta meningkatkan pembangunan.14
Maka dapat dari beberapa pendapat diatas bisa dipahami dan simpulkan bahwa, zakat merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan bagi setiap umat Islam dengan syarat tertentu, dan apabila dilaksanakan mendapatkan pahala dengan tujuan sebagai pendekatan diri kepada Allah SWT, juga dengan berzakat harta yang dimiliki mungkin terlihat berkurang secara zhohiriah, namun hakikatnya dengan berzakat harta yang dimiliki akan semakin berkembang dan bertambah juga bernilai berkah.
2.Landasan kewajiban zakat a). Al-Quran
Zakat dari istilah fiqih berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT untuk diserahkan kepada orang- orang yang berhak. Legitimasi zakat sebagai kewajiban terdapat beberapa ayat dalam Al Qur‟an. Kata zakat dalam Ma’rifah disebut sebanyak 30 kali dalam Al Qur‟an, 27 kali diantaranya disebutkan dalam satu ayat bersamaan dengan sholat, dan sisanya
14 BAZIS DKI, Rekomendasi dan Pedoman Pelaksanaan Zakat, (Jakarta: BAZIS DKI,1981) hal.12
disebutkan dalam konteks yang sama dengan sholat meskipun tidak didalam satu ayat. Diantaranya ayat tentang zakat yang cukup populer adalah surat Al Baqarah ayat 110 yang berbunyi :15
َدْى ِع ُيوُد ِجَت ٍزْي َخ ْه ِم ْمُك ِسُفْوَ ِلِ اىُمِّدَقُت اَم َو ۚ َةاَك َّزلا اىُتآ َو َة َلَ َّصلا اىُميِقَأ َو زي ِصَب َنىُل َم ْعَت ا َمِب َ َّاللَّ َّنِإ ۗ ِ َّاللَّ
Artinya: “ Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan “.
( Q.S. Al Baqarah : 110 ) Sedangkan perihal perintah pemungutan zakat oleh amil zakat terdapat dalam surat At-Taubah ayat 103 yang berbunyi:
َّنِإ ۖ ْمِهْيَل َع ِّل َص َو اَهِب ْمِهيِّك َزُت َو ْمُه ُزِّهَطُت ًتَقَد َص ْمِهِلا َى ْمَأ ْه ِم ْذ ُخ ميِل َع عي ِمَسُهَّللا َو ۗ ْمُهَل هَكَس َكَت َلَ َص
Artinya: “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S. At-Taubah : 103).
Zakat merupakan salah satu topik yang selalu menarik untuk dikaji. Telah banyak literatur yang mencoba melihat zakat
15 Heri Sudarsono, Bank & Lembaga Keuangan Islam, (Jakarta:
Ekonisia, 2003) cet.ke-2. Hal.12
dari berbagai sisinya, seperti dari aspek fiqih, manajemen, potensi, dan peranannya dalam pengentasan kemiskinan. Zakat berasal dari bentukan kata zaka yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang.16
b). Hadist
Selain Al Quran, dalam hadist pun tertera sebagai kewajiban berzakat, adapun hadist tersebut sebagai berikut:
Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan Syaikhon dari Abdullah bin Umar, yang artinya:
“Islam ialah, hendaknya engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan sholat membayar zakat yang difardhukan, berpuasa di bulan Romadhon dan pergi haji ke Baitullah.(HR. Bukhory dan Muslim).17
c). Ijma „Ulama
Ulama baik Salaf (tradisional) maupun khalaf (modern) sepakat akan kewajiban zakat dan bagi yang mengingkarinya berarti telah kafir dari Islam.18 Ulama sepakat bahwa zakat diwajibkan kepada muslim yang baligh, berakal,
16 Didin Hafhidudin, Tentang Zakat, Infak, Shodaqoh (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), cet.ke-1, hal 13.
17 Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, Syarah Mukhtarul Hadist,(Bandung:
Sinar Baru,1993). Cet. Ke-1, hal 128
18 Syeikh Myhammad Abdul Malik Ar-Rahman, Zakat 1001 Masalah dan Solusinya, (Jakarta, Pustaka Cerdas Zakat, 2003) cet.ke-1, hal.11
merdeka, karena telah mencapai nishab tertentu dan dengan syarat tertentu pula.
3. Syarat-syarat wajib zakat
Tidak semua harta kekayaan terkena kewajiban zakat, namun ada beberapa syarat sehingga harta tersebut harus dikeluarkan zakatnya. Adapun beberapa syarat terkait pelaksanakan tersebut antara lain :
1.) Muslim, Muslim merupakan panggilan bagi seseorang yang beragama Islam. Pada hakikatnya semua muslim terkena kewajiban menunaikan zakat sampai ada ketentuan yang membatalkan kewajiban tersebut.
2.) Merdeka, Yakni seorang muslim yang berstatus bukan dibawah kepemilikan orang lain atau dahulu ada yang namanya budak maka tidak diwajibkan atasnya berzakat.
3.) Berakal, Kewajiban zakat hanya dibebankan kepada muslim yang memiliki akal yang sehat, tidak kurang akal atau gila maka seorang muslim yang tidak waras atau hilang akal atau kurang akal tidak terkena kewajiban zakat.
4.) Baligh, Pada dasarnya kewajiban zakat ini bagi mereka yang sudah memasuki aqil balligh yakni dewasa atau sudah mencapai usia 15 tahun bagi lelaki, dan sudah haid bagi perempuan, atau sudah bisa membedakan mana yang hak dan batil, terkecuali zakat fitrah.19
19 Agus Thayib Affi dan Sabira Ika, Kekuatan Zakat, (Yogyakarta:
Pustaka Alban, 2010), hal.50
4. Syarat-syarat harta yang wajib dizakati
Dalam bahsa Arab kata harta disebut dengan al- maal atau jamaknya al-amwal, dikembangkan mana-mana barang atau harta yang harus dizakati. Syaikh Yusuf al- Qardhawi menyebutkan bahwa yang dimaksud harta adalah sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk menyimpan dan memilikinya sampai batas waktu tertentu.20 Adapun harta yang wajib dizakati adalah :
1). Hak milik penuh, Pemilikan penuh berarti harta itu dibawah kekuasaannya dan dapat dipergunakan menurut kehendaknya. Menurut al-Mu’jam al-Wasith disebutkan bahwa memiliki sesuatu berarti menguasai dan hanya ia yang dapat menggunakannya.
2). Harta yang berkembang, Ketentuan tentang kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah bahwa kekayaan itu dikembangkan. Pengertian berkembang menurut bahas sekarang adalah bahwa sifat kekayaan itu memberikan keuntungan, laba atau pendapat keuntungan investasi, ataupun pemasukan lainnya. Ataupun kekayaan itu berkembang dengan sendiri, artinya bertambah dan menghasilkan produksi.
3). Nishab, Ketentuan bahwa kekayaab yang wajib dizakati harus senishab disepakati oleh para ulama, kecuali tentang hasil pertanian, buah-buahan dan logam mulia. Tetapi jumhur ulama berpendapat bahwa nishablah yang merupakan
20 Didin Hafudhudin, Agar Harta Berkah dan Bertambah,(Jakarta:
Gema Insani Press), hal. 113
ketentuan yang mewajibkan zakat pada seluruh kekayaan baik kekayaan itu berupa yang tumbuh dari tanah maupun bukan.
Maka berpedomanlah pada hadist yang berbunyi “Dibawah lima (5) ausuq tidak ada zakatnya”.
4). Lebih dari kebutuhan biasa, Sebab dengan lebih dari kebutuhan biasa itulah seseorang disebut kaya dan menikmati kebutuhan yang tergolong mewah. Karena yang diperlukan adalah kebutuhan hidup biasa dan tergolong bermewah- mewah. Artinya lebih dari kebutuhan rutin atau sesuatu yang harus ada dalam kehidupan kita (kebutuhan pokok), seperti pakaian, makanan, minuman, perumahan dan alat-alat yang diperlukan, seperti buku-buku ilmu pengetahuan dan keterampilan serta alat-alat kerja dan lain-lain.
5). Bebas dari hutang, Pemilik sempurna yang dijadikan persyaratan wajib zakat harus lebih dari kebutuhan primer dan haruslah pula cukup senishab yang bebas dari hutang. Apabila pemiliknya memiliki hutang yang menghabiskan atau mengurangi jumlah nishab, maka zakatnya tidaklah wajib baginya.
6). Berlaku setahun, Maksutnya adalah bahwa pemilik harta yang berada di tangan pemilik harus sudah berlalu masanya dua belas bulan qamariyah. Persyaratan setahun ini hanya diperuntukan bagi hewan ternak, uang dan harta benda dagang, yaitu yang dapat dimasukan dalam istilah zakat modal.21
21 Dr.H.Ridjaluddin. F.N.,M.Ag, Revolusi ZAKAT,INFAQ,DAN SHADAQAH, (Ciputat:Lembaga Kajian Islam Nugaraha, 2016), hal.181
5. Orang yang berhak menerima zakat ( mustahik )
Para mustahik atau orang yang berhak menerima zakat telah ditetapkan dalam al-Qur‟an, yaitu pada surat at- Taubah ayat 60
ْمُهُبىُلُق ِتَفَّل َؤ ُمْلا َو اَهْيَل َع َهيِل ِما َعْلا َو ِهيِكاَسَمْلا َو ِءا َزَقُفْلِل ُثاَقَد َّصلا ا َمَّوِإ ۗ ِ َّاللَّ َه ِم ًت َضيِزَف ۖ ِليِبَّسلا ِهْبا َو ِ َّاللَّ ِليِبَس يِف َو َهي ِمِراَغْلا َو ِباَق ِّزلا يِف َو ميِك َح ميِل َع ُ َّاللَّ َو Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus- pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah : 60).
Berikut ini akan dijelaskan masing-masing dari delapan asnaf yang berhak menerima zakat seperti dinyatakan oleh al-Qur‟an, beserta pendapat-pendapat ulama mengenai hal tersebut:
1). Fuqaha dan Masakin
Adapun menurut jumhur ulama, fakir dan miskin adalah mereka yang kebutuhannya tak tercukupi. Mutawalli al- Sya‟rawi juga berpendapat bahwa orang-orang fakir dan orang miskin adalah, mereka yang hidup tidak berkecukupan, selalu kurang.
Yusuf al-Qardhawi membedakan antara fakir dan miskin, fakir adalah mereka yang tidak mempunyai harta atau
penghasilan yang layak dalam memenuhi keperluannya seperti, sandang, pangan, tempat tinggal dan segala keperluan pokok lainnya, baik untuk sendiri ataupun bagi mereka yang menjadi tanggungannya. Sedang yang miskin ialah mereka yang punya harta atau penghasilan layak dalam memenuhi keperluan nya dan orang yg menjadi tanggungnya, tapi tidak sepenuhnya mencukupi.
Seperti yang diperlukan adalah sepuluh tapi yang ada hanyalah yujuh atau delapan. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa golongan yang berhak menerima zakat atas nama pakir dan miskin, adalah salah satu dari tiga golongan berikut: a). Mereka yang tak punya harta dan usaha sama sekali.b). Mmereka yang punya harta atau usaha tapi tidak mencukupi untuk diri dan keluarga, yaitu penghasilannya tidak memenuhi separuh atau kurang dari kebutuhan.c). mereka yang punya harta dan usaha dan hanya mencukupi separuh atau lebih kebutuhan untuk diri dan tanggungganya, tapi tidak cukup buat seluruh kebutuhan.
2).Amil Zakat
Amil zakat adalah orang yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, mulai dari para pengumpulan sampai kepada bendahara serta para penjaganya. Juga para pencatat, para penghitung keluar masuknya zakat dan orang yang membagikan zakat kepada para mustahik. Demikian allah menyediakan upah bagi mereka dari harta zakat sebagai imbalan dan tidak diambilkan selain dari harta zakat.
3). Orang-orang Muallaf
Golongan orang baru masuk islam. Mereka perlu diberi zakat agar keyakinannya semakin bertambah kuat terhadap islam. Hal ini berdasarkan pada sebuah riwayat, bahwa al- Zuhri pernah menyatakan jawaban tentang siapa yang masuk golongan muallaf, dan ia menjawab, “yahudi atau nasrani yang masuk islam”. Kemuadian dia ditanya lagi, “Walaupun keadaannya kaya?” ia menjawab “Ya, walaupun keadaannya kaya
4). Fi Riqab (untuk memerdekakan budak)
Riqab adalah bentuk jamak dari raqabah yang mengandung arti budak belian laki-laki dan budak perempuan. Pada ayat tentang sasaran zakat, Allah SWT.
Berfirman: “Dan untuk memerdekakan budak dan menghilangkan segala bentuk perbudakan.
5). Gharimun (orang-orang yang berhutang)
Gharimun adalah bentuk jamak dari gharim artinya orang yang mempunyai hutang. Gharim berasal dari kata gharim yang berarti tetap dan kekal. Menurut madzhab Abu Hanifah, gharim adalah orang yang mempunyai hutang dan dia tidak memiliki bagian harta yang lebih etelah dia membayar hutang.
6). Tujuan zakat dan manfaat zakat
a). Zakat merupakan hak mustahik maka zakat berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka terutama fakir dan miskin ke arah kehidupan yang lebih
baik dan sejahtera. Sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT dengan baik, terhindar dari kekufuran sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul ketika mereka memandang orang kaya yang punya harta banyak. Zakat hendaknya bisa memberika kecukupan dan kesejahteraan kepada kaum lemah dengan cara menghilangkan dan memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita.22
b). Mempersempit kesenjangan ekonomi di masyarakat.
Hal ini untuk menjaga perbedaan ekonomi dalam batas- batas yang wajar dan adil, sehingga yang kaya tidak tumbuh menjadi semakin kaya dengan mengeksplotasi orang yang tidak beruntung dan yang miskin. Distribusi harta ini akan menciptakan dinamika ekonomi yang sehat dan akan meningkatkan daya beli serta meningkatkan produktifitas masyarakat. Menurut Afzalurrahman, kekuatan suatu komunitas yang terletak pada distribusi kekayaan yang adil. Jika beberapa orang sangat kaya dan sebagian besar lagi tetap miskin, maka komunitas tersebut akan lemah dan dapat dengan mudah dihancurkan oleh musuh dan menimbulkan persaingan yang tidak baik.23
22 Didin Hafidhudin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta:Gema Insani Press 2002), hal.11
23 Afzalurrahman, Muhammad Sebagai Seorang Pedagang,(Jakarta,Yayasan Swarna Bhumi,1997), hal.152
c). Dari sisi kesejahteraan umat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Zakat dikelola dengan baik, dimungkinkan membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan economic with equality.24Menurut Mustaq Ahmad, zakat adalah sumber utama kas Negara dan sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan al-Qur‟an.
Zakat mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan dan pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan mempromosikan distribusi.25
d). Sebagai salah satu dana bagi pembangunan sarana dan prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi.
Sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia muslim.26
e). Menolong orang susah dan lemah agar dia dapat menunaikan kewajibannya terhadap Allah dan terhadap makhluk Allah (masyarakat).
f). Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela, serta mendidik diri agar bersifat mulia dan pemurah dengan membiasakan membayarkan amanat kepada orang yang berhak dan berkepentingan.
24 Didin Hafidhudin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta:Gema Insani Press 2002), hal.13
25 Mustaq Ahmad, Etika Bisnis dalam Islam,(Jakarta,Pustaka al- Kautsar,2001), hal. 75
26 Didin Hafidhudin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta:Gema Insani Press 2002), hal.12
g). Guna mendekatkan hubungan kasih sayang dan cinta- mencintai antara si miskin dengan si kaya. Rapatnya hubungan tersebut akan membuahkan beberapa kebaikan dan kemajuan, serta berfaedah bagi kedua golongan dan masyarakat umum.27
D. Pendayagunaan dana zakat
1. Pengertian pendayagunaan zakat
Secara umum yang dimaksud dengan arah pendayagunaan zakat adalah segala sesuatu yang bertalian dengan usaha pemerintah dalam rangka memanfaatkan hasil pengumpulan zakat kepada sasaran dalam pengertian yang lebih luas sesuai dengan cita rasa syara‟, secara tepat guna, efektif manfaatnya dengan sistem distribusi yang serba guna dan produktif, sesuai dengan pesan dan kesan syariat serta tujuan sosial ekonomis dari zakat.28
2. Tahap-tahap pendayagunaan dana zakat
Beberapa tahapan pendayagunaan diantaranya adalah : a) Penyaluran Murni
Pada tahap penyaluran murni, umumnya setiap dana yang digunakan untuk kegiatan penyaluran hibah konsumtif, santunan atau kegiatan kariatif lainnya.
Biasaanya pada saat dibagikan dan langsung habis, sesuai dengan penyampaian bantuan yang dilakukan, pada tahap
27 Dr.H.Ridjaluddin. F.N.,M.Ag, Revo;usi ZAKAT,INFAQ,DAN SHADAQAH, (Ciputat:Lembaga Kajian Islam Nugaraha,2016), hal.219-221
28 Sjechul Hadi Permono, Formula Zakat Menuju Kesejahteraan Sosial (Surabaya: CV. Aulia Surabaya,2005), 274
penyaluran murni orientasi kegiatan adalah sampainnya dana kepada mustahik. Artinya, pada tahap penyaluran ini yang dipentingkan adalah harus sampainya ZIS kepada orang-orang yang benar-benar termasuk mustahik.
b) Semi pendayagunaan
Pada tahap ini, dana yang ada selain digunakan untuk hibah konsumtif, santunan dan kegiatan kariatif juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Pada tahap ini, saat dibagikan dana juga langsung habis. Sedangkan orientasi pada tahap semi pendayagunaan ini selain sampainya dana ke mustahik juga adalah orientasi manfaat dana (program) bagi mustahik.29
c) Pendayagunaan
Pada tahap pendayagunaan, dana yang ada digunakan untuk kegiatan hibah, baik untuk kegiatan karitas langsung maupun tidak langsung, pengembangan SDM dan ekonomi. Karena melakukan kegiatan ekonomi produktif, maka pada umumnya dana yang dibagikan tidak langsung habis, baik karena terus berputar diantara para mustahik, maupun karena dana tersebut mengalir mengikuti kegiatan ekonomi produktif. Sedangkan orientasi dari tahap pendayagunaan adalah perubahan mustahik. Oleh karena itu, pada konteks ini, yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana perubahan mustahik
29 Didin Hafidhudin dan Ahmad Juwaini, Membangun Peradaban Zakat, (2007), hal. 69
setelah mendapatkan bantuan atau mengikuti program dari lembaga zakat.
3. Pola pendayagunaan zakat
Adapun pola-pola pendayagunaan zakat terdapat dua cara, yakni sebagai berikut :
a. Pola tradisional ( Konsumtif )
Pola tradisional yaitu penyaluran bantuan dana zakat diberikan langsung kepada mustahik. Dengan pola ini penyaluran dana kepada mustahik tidak disertai target, adanya kemandirian ekonomi (pemberdayaan). Hal ini dilakukan karena mustahik yang bersangkutan tidak mungkin lagi bisa mandiri seperti para orang tua (jompo), orang cacat dan lain-lain.Yang penghimpunan dan pendayagunaan zakat diperuntukan mustahik secara langsung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sesuai dengan penjelasan undang-undang, mustahik delapan ashnaf ialah fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah, dan ibnu sabil yang di dalam aplikasinnya dapat meliputi orang-orang yang paling tidak berdaya secara ekonomi, seperti anak yatim, orang jompo, penyandang cacat, orang yang menuntut ilmu, pondok pesantren, anak terlantar, orang yang terlilit hutang dan sebagainya.
b. Pola kontemporer (produktif)
Pola produktif adalah pola penyaluran dana zakat kepada mustahik yang ada dipinjamkan oleh amil untuk kepentingan aktifitas suatu usaha atau bisnis. Pola
penyaluran secara produktif (pemberdayaan) adalah penyaluran zakat atau dana lainnya yang disertai target merubah keadaan penerima (lebih dikhususkan kepada mustahik atau golongan fakir-miskin) dari kondisi kategori mustahik menjadi kategori muzakki.
Dalam sistem pengelolaan zakat di Indonesia dikenal penyaluran zakat untuk bantuan dana produktif, yang diperuntukan bagi mustahik yang memiliki wirausaha. Pengelolaan zakat untuk pemberdayaan akan mudah dijalankan jika model penghimpunan dana zakat dihimpun dan dikelola melalui lembaga pengelolaan zakat.30
4. Urgensi pendayagunaan
Untuk dapat mengembangkan strategi pendayagunaan yang unggul, yang pertama harus dipahami adalah makna hakiki atau intisari dari pendayagunaan zakat ini. Inti pendayagunaan zakat adalah proses atau upaya merubah mustahik menjadi muzakki.
Adapun pentingnya pemberdayaan adalah sebagai berikut :31 a. Menanamkan kesadaran akan harkat dan martabat pada
mustahik sebagai manusia, jangan sampai posisi keberadaannya sebagai mustahik membuat kehilangan martabat dan kehancuran derajat sebagai makhuk mulia.
b. Mewujudkan kualitas perubahan dalam kehidupan menuju kondisi yang lebih baik. Dengan pemberdayaan diharapkan
30 Lili Bariadi, Muhammad Zen, M. Hudri, Zakat dan Wirausaha, (Jakarta: CED,2005), Cet ke-1, hal. 35
31 Didin Hafidhudin dan Ahmad Juwaini, Membangun Peradaban Zakat, (2007), hal. 71
terjadi sebuah perubahan kondisi kehidupan mustahik menjadi lebih baik.
c. Menghindari eksploitasi dan dominan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sangat sering terjadi, kelemahan yang dialami mustahik dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan berbagai tindakakan atau aktifitas yang menyimpang, baik menurut agama maupun negara. Pada konteks ini, sering kali mustahik hanya dijadikan korban untuk memuaskan kepentingan seseorang atau segelintir orang.
d. Menanamkan nilai, cita-cita, dan perilaku kehidupan yang islami. Pemberdayaan adalah wahana untuk mentransfer nilai- nilai kebajikan kepada para mustahik. Proses pemberdayaan bisa dijadikan sebagai washilah untuk mewujudkan masyarakat yang islami.
5. Tinjauan Fikih Terhadap Pendayagunaan Zakat.
Mendayagunakan zakat secara produktif hingga benar- benar bisa menjadi upaya untuk menolong orang miskin dari keterpurukan bukanlah sebuah pemikiran yang bisa langsung diterima begitu saja di kalangan umat Islam. Dalam prakteknya, zakat produktif sepertinya masih jarang dilakukan oleh sebagian besar aghniyā atau bisa saja pemikiran seperti itu belum terlintas dalam pandangan mereka. Kebanyakan para aghniyā memberikan zakatnya secara tunai, diberikan secara langsung dalam bentuk uang. Secara tekstual memang para ulama terdahulu di atas tidak menyebutkan secara detail harta zakat yang diperoleh apakah dibagikan secara konsumtif atau
produktif. Hanya ulama fikih kontemporer saat sekarang ini yang lebih memfokuskan pembahasannya pada kebolehan dan larangan untuk mendayagunakan zakat. Diantara ulama fikih kontemporer yang agak ketat dalam melarang zakat produktif adalah, Abdullah Ulwan, Muhammad A‟ta al-Sayyid dan Muhammad Taqiyyuddin Usmani.32
Walaupun ulama terdahulu tidak menyebutkan pembahasan khusus mengenai zakat produktif dalam karya mereka namun dalam praktek pendistiribusian zakat ada indikasi yang mengarah kepada kebolehan untuk mendayagunakan zakat secara produktif, di mana ulama terdahulu ada yang membolehkan pemberian zakat kepada orang-orang miskin berupa alat pekerjaan yang sesuai dengan profesi orang tersebut, yang dapat dijadikan modal bagi mereka untuk pekerjaannya dan menekuni usahanya, agar hasilnya dapat mencukupi kebutuhan mereka dalam jangka waktu yang lama bukan hanya sesaat. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah :
1. Imam Muyiddin Nawawi
“Jika seorang fakir kebiasaannya adalah bekerja, maka baginya dibelikan sesuatu untuk memenuhi pekerjaannya atau membeli alat yang sesuai dengan pekerjaannya. Seorang pedagang, tukang roti, tukang bangunan diberikan zakat sesuai dengan profesi mereka, tukang jahit, tukang kayu, penatu dan sebagainya yang merupakan pekerja diberikan kepada mereka zakat yang dapat membeli alat-alat kerja
32 Majalah Majma‟ al-Fiqhu al-Islami, cet III, jil 1, hal. 335.
yang sesuai dengan pekerjaan mereka, Apabila seorang fakir itu tidak mampu bekerja, tidak bisa melakukan suatu perbuatan, berupa dagang dan jenis pekerjaan lainnya, maka atasnya diberikan zakat untuk seumur hidupnya menurut ukuran umum, Imam Mutawalli berpendapat dibelikan kepadanya bangunan rumah yang dapat mencukupi kebutuhannya, Imam Baghawi, Imam Ghazali dan sebagainya dari penduduk Khurasan berpendapat diberikan kepadanya zakat untuk kecukupan hidup setahun “.33
Dalam konteks kekinian pendapat Imam Nawawi di atas menyebutkan bahwa pembagian zakat itu terbagi dua, yaitu pembagian secara produktif dan konsumtif, hanya saja Imam Nawawi membatasi pembagian zakat secara produktif yaitu hanya kepada orang-orang fakir, miskin yang memang mampu untuk bekerja namun mereka tidak memiliki modal sebagai penunjang profesinya tersebut. Dari sini semakin nampak urgensi zakat produktif tersebut, orang-orang yang biasanya bekerja namun tidak memiliki modal untuk membeli alat-alat yang menjadi kebutuhannya dalam bekerja, dapat diberikan zakat berupa modal untuk membeli peralatannya.
Sedangkan zakat konsumtif itu menurut Imam Nawawi diberikan kepada golongan fakir, miskin yang memang sudah tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja disebabkan oleh faktor usia, jika dipaksakan bekerja maka akan memberikan efek yang berbahaya bagi dirinya seperti sakit atau bahkan
33 Muhyiddin Nawawi, al-Majmū‟ Syarah al-Muhażżab (Beirut : Dār al-Kutub Ilmiah, 2007), jil 7, hal. 237.
kematian. Dalam hal ini para ulama memberikan tiga opsi kepada orang yang tidak mampu bekerja. diberikan zakat untuk seumur hidupnya menurut ukuran umum, atau dibelikan kepadanya bangunan rumah yang dapat mencukupi kebutuhannya, atau diberikan kepadanya zakat untuk kecukupan hidup setahun.
Berbeda dengan pernyataan Imam Nawawi di atas, Imam Abu Ishaq al-Syirazi memberikan batasan dalam pendayagunaan zakat produktif. Artinya walaupun Imam Abu Ishaq membolehkan mendayagunakan zakat secara produktif namun ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sebelum zakat itu diproduktifkan. Adapun pernyataan Imam Abu Ishaq al-Syirazi yaitu sebagai berikut,
. “Tidak diperbolehkan bagi amil begitu juga penguasa (pemerintah) untuk mendayagunakan zakat yang merupakan suatu perbuatan fardhu sebelum sampai kepada orang yang berhak menerimanya, karena orang-orang fakir tersebut merupakan ahlu rusyd (orang yang pandai mendayagunakan zakatnya sendiri), mereka juga tidak boleh menguasai zakat tersebut, dengan demikian tidak boleh mendayagunakan harta zakat sebelum mendapat izin dari mereka”. 34
Pernyataan Imam Abu Ishaq al-Syirazi di atas sebenarnya tidak jauh berbeda dari Imam Nawawi, pada dasarnya keduanya membolehkan pendayagunaan zakat secara produktif, hanya saja Imam Abu Ishaq agak ketat dalam hal
34 Abu Ishaq al-Syirazi, al-Muhażżab (Beirut : Dār Hikmah, t.t.), jil 1, hal. 169.
ini, dia memberikan syarat agar harta zakat itu tidak diproduktifkan terlebih dahulu sebelum mendapatkan izin dari mustahik zakat. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat di tengah-tengah masyarakat Islam yang pandai mendayagunakan harta zakat yang merupakan haknya hanya saja, mungkin dia tidak memiliki modal untuk memenuhi kebutuhan pekerjaannya. Dengan harta zakat itu dia dapat mendayagunakannya sendiri. Selain itu juga menurut hemat penulis meminta izin untuk mendayagunakan zakat merupakan hal yang wajar, mengingat harta zakat itu merupakan hak mereka. Jadi mereka lebih berhak terhadap harta zakat itu.
Adapun ulama kontemporer yang membolehkan pendayagunaan zakat produktif yaitu syaikh Yusuf al- Qardhawi. Dia menyatakan bahwa Negara Islam boleh membangun pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, PT-PT dan sebagainya, kemudian dijadikan milik orang miskin seluruhnya atau sebagiannya. Dengan demikian usaha yang dimiliki dapat menghasilkan keuntungan dan dapat membiayai seluruh kebutuhan mereka. Akan tetapi jangan diberi hak menjual atau memindahkan hak miliknya kepada orang lain sehingga menyerupai harta wakaf bagi mereka.35
Pernyataan-pernyataan para ulama, pakar hukum Islam, cendikiawan, dan sebagainya yang telah penulis sebutkan di atas yang cenderung menganjurkan pengelolaan dan pendayagunaan
35 Yusuf al-Qardhawi, Fiqhu al-Zakat (Beirut : Muassasah Risalah, 1991), h. 567.