• Tidak ada hasil yang ditemukan

Presisi Produk

N/A
N/A
Riinda Aulia Utami

Academic year: 2022

Membagikan "Presisi Produk"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MANDIRI PORTOFOLIO IKGM V

OLEH KELAS B

DEPARTEMEN IKGM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2017

(2)

DAFTAR ISI

BAB I PENGERTIAN UPAYA PELAYANAN KESEHATAN...1

BAB II STUDI KELAYAKAN PENDIRIAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI...12

BAB III PERSYARATAN PENDIRIAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI...24

BAB IV PENGELOLAAN LOGISTIK...37

BAB V KERJASAMA DENGAN PIHAK LAIN...44

BAB VI PENETAPAN TARIF...52

BAB VII COST EFFECTIVENESS ANALYSIS...60

BAB VIII PENYUSUNAN ANGGARAN...69

BAB IX ANALISIS BREAK EVEN POINT...79

BAB X PELAYANAN KESEHATAN GIGI DI ERA JKN...89

DAFTAR PUSTAKA...101

(3)

BAB I

PENGERTIAN UPAYA PELAYANAN KESEHATAN

Upaya kesehatan gigi dan mulut adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Setiap upaya pelayanan kesehatan gigi ini dilakukan oleh tenaga kerja kesehatan profesional yang dapat berupa praktek pribadi, klinik dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).

A. Rumah Sakit Gigi dan Mulut

Menurut PerMenKes Nomor 159b/MEN.KES/PER/II/1988, Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Berdasarkan bentuk pelayanannya, Rumah Sakit dapat dibedakan :

- Rumah Sakit Umum - Rumah Sakit Khusus

Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) tergolong rumah sakit khusus. Menurut KepMenKes Nomor 1173/MENKES/PER/2004 pada pasal 1 RSGM adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut perorangan untuk pelayanan pengobatan dan pemulihan tanpa mengabaikan pelayanan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilaksanakan melalui pelayanan rawat jalan, gawat darurat dan pelayanan tindakan medik. Fungsi RSGM adalah menyelenggarakan :

1. Pelayanan medik gigi dasar, spesialistik dan subspesialistik 2. Pelayanan penunjang; seperti pelayanan kefarmasian,

laboratorium,

radiologi gigi, pelayanan anastesi.

(4)

3. Pelayanan rujukan;

4. Pelayanan gawat darurat kesehatan gigi dan mulut;

5. Pendidikan;

6. Penelitian dan pengembangan.

RSGM Pendidikan adalah RSGM yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, yang juga digunakan sebagai sarana proses pembelajaran, pendidikan dan penelitian bagi profesi tenaga kesehatan kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya, dan terikat melalui kerjasama dengan fakultas kedokteran gigi. Penyelenggaraan Rumah Sakit Gigi dan Mulut bertujuan menyediakan sarana untuk meningkatkan mutu pelayanan, pendidikan, penelitian di bidang kesehatan gigi dan mulut dari tingkat dasar sampai spesialistik sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan IPTEK Kedokteran dan Kedokteran Gigi, serta menjadi sarana upaya rujukan.

RSGM dapat diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan atau swasta. Penyelenggaraan RSGM bersifat sosial ekonomi.

RSGM harus berbentuk Badan Hukum, dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut harus memiliki prinsip dasar kemandirian profesi dan kewirausahaan. RSGM harus mempunyai struktur organisasi dan tata kerja, organisasi yang dimaksud sekurang-kurangnya meliputi bidang :

a. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut b. Administrasi dan keuangan

c. Pelayanan penunjang d. Pendidikan

e. Penelitian dan pengembangan f. Rekam medik dan komite klinik g. Satuan medik fungsional dan instalasi.

Berdasarkan fungsinya Rumah Sakit Gigi dan Mulut dibedakan menjadi RSGM Pendidikan dan Non Pendidikan. RSGM Pendidikan harus menyediakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang meliputi pelayanan

(5)

medik gigi dasar, spesialistik dan atau subspesialistik. RSGM Pendidikan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Kebutuhan akan proses pendidikan;

b. Fasilitas dan peralatan fisik untuk pendidikan;

c. Aspek manajemen umum dan mutu pelayanan rumah sakit;

d. Aspek keuangan dan sumber dana; dan

e. Memiliki kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Gigi dan Kolegium Kedokteran Gigi.

Fungsi dan Tipologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Menurut PerMenKes Nomor 159b/MEN.KES/PER/II/1988, pada bab 3 mengenai klasifikasi rumah sakit umum pemerintah terdapat 5 kelas rumah sakit yang terdiri dari :

a. Kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik dan sub-spesialistik luas.

b. Kelas B-II mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan sub-spesialistik terbatas.

c. Kelas B-I mempunyai mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurang-kurangya 11 jenis spesialistik.

d. Kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik sekurang-kurangnya spesialistik 4 dasar lengkap.

e. Kelas D mempunyai fasilitas dan kemampuan sekurang- kurangnya pelayanan medik dasar.

Rumah Sakit Kelas A dan B-II dapat berfungsi sebagai Rumah Sakit Pendidikan. Rumah Sakit Pendidikan sendiri secara umum berfungsi sebagai pusat pelayanan dan pusat pendidikan, disamping itu dapat juga dijadikan pusat penelitian dan pengembangan teknologi kedokteran.

Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) tergolong ke dalam tipologi bangunan pelayanan kesehatan (Health Care), Namun di dalamnya terdapat unsur bangunan pendidikan atau sekolah. Dua fungsi

(6)

utama RSGMP sebagai pusat pelayanan dan pusat pendidikan mengharuskan Rumah Sakit tipe ini mengintegrasikan dua tipologi bangunan kesehatan dan pendidikan agar menjadi satu bangunan yang senergi sesuai dengan dua fungsi utama tersebut.

Peraturan MenKes Nomor 1173/MENKES/PER/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut menjadi sebuah standar keharusan minimal yang harus dipenuhi setiap RSGM yang akan dibangun ataupun yang sudah terbangun. Berikut beberapa tinjauan penting dari isi PerMenKes yang perlu diperhatikan :

1. Persyaratan sarana dan prasarana bangunan serta peralatan RSGM a. Ruang Rawat Jalan;

b. Ruang Gawat Darurat;

c. Ruang pemulihan/Recovery room d. Ruang Operasi;

e. Farmasi dan Bahan Kedokteran Gigi;

f. Laboratorium Klinik;

g. Laboratorium Teknik Gigi;

h. Ruang Sentral Sterilisasi;

i. Radiologi;

j. Ruang Tunggu;

k. Ruang Administrasi;

l. Ruang Toilet; dan Prasarana yang meliputi tenaga listrik, penyediaan air bersih, instalasi pembuangan limbah, alat komunikasi, alat pemadam kebakaran dan tempat parkir.

2. Ketentuan persyaratan minimal peralatan RSGM yaitu : a. Jumlah Dental Unit : 50

b. Jumlah Dental Chair 50 unit c. Jumlah Tempat Tidur 3 buah d. Peralatan Medik meliputi :

1) 1 unit Intra Oral Camera 2) 1 unit Dental x-ray

(7)

3) 1 unit Panoramic x-ray 4) 1 unit Chepalo Metri x-ray

5) 1 unit Autoclave / 7 unit Sterilisator 6) 1 Camera

7) 1 Digital Intra Oral

8) RSGM dapat memiliki peralatan medik khusus lainnya yaitu 1 unit laser dan 1 radiografi (Radio Visio Graphi).

3. RSGM harus mempunyai tenaga yang meliputi : a. Tenaga medis kedokteran gigi :

1) Dokter Gigi

2) Dokter Gigi Spesialis yang meliputi:

a) Bedah Mulut;

b) Meratakan Gigi (Orthodonsi);

c) Penguat Gigi (Konservasi);

d) Gigi Tiruan (Prosthodonsi);

e) Kedokteran Gigi Anak (Pedodonsi);

f) Penyangga Gigi (Periodonsi); dan g) Penyakit Mulut;

a. Dokter/Spesialis lainnya :

1) Dokter dengan pelatihan PPGD 2) Dokter Anestesi

3) Dokter Penyakit Dalam 4) Dokter spesialis anak b. Tenaga Keperawatan :

1) Perawat Gigi 2) Perawat

c. Tenaga Kefarmasian:

1) Apoteker 2) Analis farmasi 3) Asisten apoteker

d. Tenaga Keteknisisan Medis :

(8)

1) Radiografer 2) Teknisi Gigi 3) Analis kesehatan 4) Perekam medis e. Tenaga Non Kesehatan :

1) Administrasi.

2) Kebersihan.

4. Jenis-jenis Komponen Pelayanan RSGM a. Konsultasi medis;

b. Administrasi rumah sakit;

c. Penunjang Diagnostik;

d. Tindakan Medik Operatif;

e. Tindakan Medik Non Operatif;

f. Radiologi;

g. Farmasi;

h. Ambulans dan jasa rumah sakit i. Bahan dan alat habis pakai j. Laboratorium klinik;

k. Laboratorium teknik gigi;

l. Pelayanan untuk pendidikan dan penelitian, bagi RSGM Pendidikan.

5. Pelayanan penunjang pada Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) meliputi :

a. Pelayanan kefarmasian

b. Pelayanan laboratorium yang meliputi laboratorium klinik dan laboratorium teknik gigi

c. Pelayanan radiologi gigi d. Pelayanan anastesi.

6. Setiap RSGM dalam memberikan pelayanan mempunyai kewajiban :

(9)

a. Melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan RSGM dan standar profesi kedokteran gigi yang ditetapkan b. Memberikan pertolongan pertama kepada pasien gawat

darurat tanpa memungut biaya pelayanan terlebih dahulu c. Menyelenggarakan pelayanan selama 24 (dua puluh empat)

jam

d. Melaksanakan fungsi rujukan.

RSGM dalam memberikan pelayanan harus menjamin hak-hak pasien dan setiap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan wajib menghormati hak-hak pasien. Setiap tindakan kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan tindakan medik (informed consent). Setiap tenaga kesehatan di RSGM berhak mendapat perlindungan hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

RSGM wajib membuat dan memelihara rekam medis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta wajib melaksanakan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

B. Klinik

Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan dan menyediakan pelayanan medis dasar dan atau spesialistik, diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang tenaga medis (Permenkes RI No.9, 2014) .

Menurut Peraturan Menteri Republik Indonesia Nomor 028/Menkes/Per/I/2011, klinik berdasarkan pelayanannya dibagi menjadi 2 yaitu:

 Klinik Pratama Klinik yang melayani pelayanan medik dasar.

 Klinik Utama Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.

Klinik gigi menurut peraturan menteri nomor 920/Menkes/Per/XIII/1986 merupakan sarana pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan kepada masyarakat (Utoyo, 2008). Klinik adalah

(10)

sarana atau tempat yang dibangun untuk melakukan pelayanan perawatan kesehatan pada seluruh masyarakat. Klinik gigi adalah sarana atau tempat yang dibangun untuk melakukan perawatan gigi pada seluruh masyarakat yang meliputi usaha-usaha pencegahan, pengobatan dan pemulihan (Depkes RI, 1996). Menurut Utoyo, S. (2008) klinik gigi dibagi menjadi 6 jenis yaitu:

1. Klinik Gigi Orthodonti

Merupakan klinik gigi yang menangani pasien dengan masalah pertumbuhan, perkembangan, variasi wajah, rahang dan gigi dan abnormalitas dari hubungan gigi dan wajah serta perawatan perbaikannya. Secara garis besar ada dua macam alat orthodonti yang sering disebut dengan bracket atau behel, yaitu alat orthodonti lepasan dan cekat. Selain beda cara pemakaiannya, kedua alat ini juga memiliki fungsi yang berbeda. Pada umumnya alat orthodonti lepasan digunakan pada anak-anak dengan kasus mudah, sedangkan alat orthodonti cekat digunakan untuk pasien dewasa atau anak-anak dengan kasus yang lebih sulit atau kompleks (Indriati, 2010).

2. Klinik Gigi Pedodonti

Merupakan klinik gigi yang menangani masalah pertumbuhan dan perkembangan pada gigi dan mulut pasien anak.

Hal tersebut dibedakan dengan pasien dewasa karena pasien anak memiliki jenis gigi yang berbeda dengan gigi orang dewasa, dimana pasien anak masih memiliki gigi susu sedangkan pasien dewasa memiliki gigi tetap. Pada anak-anak, berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan perhatian khusus (Fajarrid, 2011).

3. Klinik Gigi Prosthodonti

Merupakan klinik gigi yang menangani penggantian satu atau beberapa gigi asli dan jaringannya yang hilang dengan gigi tiruan. Secara umum gigi tiruan dibagi menjadi dua bagian, yaitu gigi tiruan lepas dan gigi tiruan cekat (Fajarrid, 2011).

(11)

4. Klinik Gigi Bedah Mulut

Merupakan klinik gigi yang menangani pasien yang membutuhkan tindakan bedah, termasuk disini tindakan cabut gigi (ekstraksi) sehingga didalam bagian klinik ini ada yang disebut bagian eksodonti. Mulai dari cabut gigi sampai operasi gigi dan mulut dilakukan di dalam klinik gigi ini (Fajarrid, 2011).

5. Klinik Gigi Konservasi

Merupakan klinik gigi yang menangani perawatan restorasi gigi (misalnya tambalan gigi, pembuatan mahkota buatan) tiap-tiap gigi. Terdapat bagian Endodontik yaitu perawatan saluran akar gigi. Segala upaya yang ditujukan untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam mulut, yang salah satunya dengan membuatkan restorasi pada tiap-tiap gigi yang membutuhkan (Fajarrid, 2011).

6. Klinik Gigi Periodonti

Merupakan klinik gigi yang menangani pasien dengan perawatan jaringan penyangga gigi, termasuk diantaranya gusi, tulang rahang, dll. Misalnya bila gusi terlihat gelap dan mudah berdarah, ini merupakan salah satu tanda adanya penyakit pada gusi tersebut. Dari pembersihan karang gigi (skalling) sampai operasi Flap, kuret, dilakukan di klinik gigi ini (Fajarrid, 2011).

C. Praktek Pribadi (Praktik perorangan)

Menurut Pasal 1 ayat (1) UUPK, “Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan”. Tempat praktik dokter disebut sebagai sarana pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan tersebut diantaranya. (UURI No. 29 tahun 2004)

Praktik perorangan/praktik mandiri adalah praktik swasta yang dilakukan oleh dokter, baik umum maupun spesialis. Dokter mempunyai tempat praktik yang diurusnya sendiri, dan biasanya memiliki jam praktik.

Adakalanya dokter dibantu oleh tenaga administrasi yang mengatur

(12)

pasien, kadang juga dibantu oleh perawat, ada juga yang benar-benar sendiri dalam memberikan pelayanan, sehingga dokter tersebut menangani sendiri semua prosedur pelayanan kesehatan yang diberikannya. (Ali, 2006)

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Permenkes No.

2052/MenKes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran, “Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan”. Pada penyelenggaraan praktik kedokteran, dokter yang membuka praktik kedokteran atau layanan kesehatan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Kendatinya dokter telah mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) atau telah resmi menyandang profesi dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dokter gigi spesialis. Setelah mempunyai STR seorang dokter yang hendak menyelenggarakan praktik kedokteran wajib mempunyai Surat Izin Praktik (SIP). Kewajiban mempunyai SIP tertuang pada Permenkes No. 2052/MenKes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. (Suryani, 2013)

Dokter praktek pribadi, berdasarkan fatwa fatwa IDI dalam SK No.315/PB/A.4/88, yang menekankan bahwa praktek profesi kedokteran harus membuat rekam medis. Peraturan tersebut dipertegas oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI no. 749.a/Menkes/per/XII/1989 tentang rekam medis. Rekam medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pengobatan, pemeriksaan, tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu.

Keuntungan dari rekam medis yaitu sebagai alat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan dokter lainya, dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan, sebagai bukti tertulis atas semua perkembangan penyakit serta tindakan ke pasien, melindungi kepentingan hukum pasien, dan sebagai bahan pertanggung jawaban serta laporan kepada pihak yang memerlukan masa mendatang (Hanafiah dan Amri, 1999).

(13)

Undang-undang No. 29 Tahun 2004 mengharuskan untuk memasang papan praktik pada tempat praktik kedokteran masing-masing. Pada pasal 41 ayat (1) yang berbunyi: dokter atau dokter gigi yang telah mempunyai surat izin praktik dan menyelenggarakan praktik kedokteran sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 wajib memasang papan nama praktik kedokteran. Adapun ketentuan dalam membuat papan nama praktik dokter dalam Kode etik Kedokteran Indonesia yaitu papan praktik maksimum berukuran 60x90 cm, dengan dasar putih dan huruf hitam, mencantumkan nama, jenis spesialis, nomor SIP, waktu praktik, nomor rekomendasi IDI, dan mengunakan penerangan sewajarnya.

(14)

BAB II

STUDI KELAYAKAN PENDIRIAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI (PRAKTEK PRIBADI DAN KLINIK, RSGM)

Studi Kelayakan (Feasibility Study) adalah hasil analisis dan penjelasan kelayakan dari segala aspek yang akan mendasari pendirian atau pengembangan suatu Rumah Sakit, terkait dengan penentuan Rencana Kerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit yang baru akan dilakukan maupun lanjutan dari yang sudah ada dalam melakukan rencana pengembangan atau peningkatan kelas dari suatu Rumah Sakit. Pedoman Studi Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit ini dimaksudkan agar dalam mendirikan atau mengembangkan rumah sakit dapat mendeterminasi fungsi layanan yang tepat dan terintegrasi sehingga sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan (health needs), kebudayaan daerah setempat (cultures), kondisi alam daerah setempat (climate), lahan yang tersedia (;sites) dan kondisi keuangan manajemen RS (budget). Ruang Lingkup Studi Kelayakan (Feasibility Study) suatu Rumah Sakit meliputi pembahasan Analisis Lingkungan/ Situasi Kecenderungan Aspek Internal dan Eksternal, Analisis Permintaan terkait Kelayakan dari Aspek-aspek yang dapat mempengaruhinya, Analisis Kebutuhan dan Analisis Keuangan serta Rekomendasi Kelayakan dari Rencana Pendirian atau Pengembangan Rumah Sakit tersebut (Menkes RI, 2014).

2.1 Praktek Pribadi dan Klinik

2.1.1 Pengertian Praktek Pribadi dan Klinik

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 028/Menkes/Per/I/2011, pengertian klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan spesialistik, diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang tenaga medis (Menkes RI, 2001).

Klinik gigi menurut peraturan menteri nomor 920/Menkes/Per/XIII/1986 merupakan sarana pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan kepada masyarakat (Utoyo, 2008). Klinik gigi adalah sarana atau tempat yang dibangun

(15)

untuk melakukan perawatan gigi pada seluruh masyarakat yang meliputi usaha- usaha pencegahan, pengobatan dan pemulihan (Depkes RI, 1996).

2.1.2 Proses Studi Kelayakan Praktek

Studi kelayakan yang diterapkan pada praktek pribadi dokter gigi, di klinik, dan di rumah sakit gigi dan mulut memiliki perbedaan. Studi kelayakan pendirian praktek dokter gigi meliputi analisis situasional, kelengkapan proses perijinan, analisis eksternal internal, analisis kebutuhan dan administrasi.

1. Analisis situasional

Analisis situasi dalam kesehatan masyarakat meliputi proses menelaah kondisi kesehatan dan perkembangan penduduk di situasi wilayah tertentu.

a. Gambaran kondisi daerah b. Ability to pay

c. Willingness to pay d. Need and demand e. Desain praktek

f. Konsep kerja ruang praktek g. Organizing and directing 2. Kelengkapan proses perizinan

Kelengkapan berkas

a. Persyaratan Surat Tanda Registrasi (STR) b. Surat Rekomendasi Izin Praktek

c. Persyaratan Surat Izin Praktek (SIP) 3. Analisis eksternal internal

Analisis TOWS a. Ancaman / threat b. Peluang / opportunity c. Kelemahan / weaknesses d. Kekuatan / strength

4. Analisis kebutuhan dan administrasi

Proses administrasi dan finansial diatur dalam sistem informasi manajemen yang meliputi

(16)

a. Rekam medik

b. Catatan tindakan perawatan dan harga perawatan

c. Laporan keuangan (catatan pemasukan dan pengeluaran) d. Administrasi alat dan bahan (laporan alat bahan yang

digunakan)

Sebuah rencana pengembangan investasi dalam rangka peningkatan mutu layanan kesehatan gigi di klinik seharusnya diawali dengan studi kelayakan terhadap rencana tersebut. Studi kelayakan penting karena dapat membantu dalam menentukan apakah proyek tersebut layak untuk dilanjutkan atau dilaksanakan.

Studi kelayakan yang diterapkan di klinik meliputi:

1. Kelayakan Teknis

Penilaian kelayakan teknis dapat dinilai dari dua hal yaitu ketersediaan teknologi dan ketersediaan tenaga yang mengoperasionalkan.

a. Ketersediaan teknologi

Ketersediaan teknologi yang dinilai contohnya seperti komputer dan printer. Penerapan teknologi informasi dalam bidang kesehatan seringkali mengalami hambatan kultural, dimana penggunaan teknologi informasi belum dipandang sebagai suatu hal yang penting.

b. Ketersediaan tenaga

Sistem informasi dapat diterapkan bila tersedia tenaga yang dapat mengoperasikan sistem tersebut. Ketersediaan tenaga yang mampu menggunakan komputer maka penerapan sistem informasi klinik gigi yang menggunakan media komputer tidak menimbulkan permasalahan dalam pengoperasiannya.

2. Kelayakan Operasional

Kelayakan operasional digunakan untuk mengukur apakah sistem informasi klinik gigi yasng akan dikembangkan dapat dioperasikan dengan baik. Penilaian kelayakan operasional meliputi:

(17)

a. Kemampuan petugas

Kemampuan petugas dalam mengoperasikan komputer sangat diperlukan dalam penerapan sistem informasi berbasis komputer. Kemampuan petugas dalam mengoperasikan komputer pada umumnya tidak melalui pendidikan formal akan tetapi melalui sistem pendampingan. Sistem pendampingan dilakukan dengan cara petugas yang lebih mahir mendampingi petugas yang kurang mahir dalam penggunaan komputer.

Sehingga untuk mengembangkan sistem informasi klinik gigi, kemampuan petugas dalam menjalankan komputer tidak menjadi masalah.

b. Kemampuan sistem untuk menghasilkan informasi

Sistem informasi klinik gigi pada saat ini telah dapat menghasilan informasi keuangan, tenaga layanan serta alat dan bahan pelayanan namun informasi tersebut tidak dapat diperoleh secara cepat. Kemampuan sistem yang masih lambat dalam menghasilkan informasi disebabkan data keuangan, tenaga pelayanan serta alat bahan pelayanan belum terkomputerisasi dan penyimpanannya dalam buku maupun formulir yang ditulis tangan. Sistem informasi klinik gigi yang belum dapat menghasilkan informasi secara tepat waktu dikarenakan pencatatan data pelayanan menggunakan tulisan tangan dan disimpan pada beberapa buku ataupun formulir.

Teknik penulisan dan penyimpanan tersebut menyebabkan kesulitan dalam pencarian data pelayanan untuk menampilkan informasi yang dibutuhkan pengguna.

c. Efisiensi sistem

Sebelum terdapat pengembangan pada sistem pencatatan data, sistem informasi klinik gigi banyak mengalami pengulangan, penyimpanan data masih terpisah dan belum dapat direlasikan dan informasi yang dihasilkan belum akurat, relevan serta membutuhkan waktu yang lama. Hal tersebut

(18)

menunjukkan sistem informasi menjadi kurang efisien dalam pengoperasiannya karena belum menggunakan pendekatan manajemen basis data sehingga kesulitan dalam penggunaan data maupun informasi.

3. Kelayakan Jadwal

Kelayakan jadwal digunakan untuk menentukan pengembangan sistem dapat dikembangkan sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan.

2.1.3 Contoh Studi Kelayakan Pendirian Praktek Pribadi

Seorang dokter gigi akan mendirikan sebuah praktek pribadi di daerah sekitarnya. Tahap – tahap yang perlu dilakukan untuk mencapai keinginan dokter gigi tersebut untuk membuka praktik pribadi adalah:

1. Membuat tujuan dan target dalam pelaksaan praktik pribadi.

2. Melakukan studi kelayakan, meliputi tentang data masyarakat sekitar, penentuan sumber biaya pelaksanaan praktik maupun model pembiayaan yang diterapkan,jenis pelayanan yang diberikan, model praktik yang digunakan, mempersiapkan segala aspek hukum yang diperlukan dalam pelaksanaan praktik pribadi seperti STR (surat tanda registrasi) dan SIP (surat ijin praktek).

3. Melakukan analisa lingkungan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja selama melakukan praktik, seperti pengelolaan sampah biasa maupun sampah medis dan pengelolaan kontrol infeksi.

Mengevaluasi apakah semua aspek yang berhubungan dengan pendirian praktik pribadi tersebut telah sesuai dengan kode etik kedokteran gigi dan UU Praktik Kedokteran.

2.2 RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) 2.2.1 Pengertian RSGM

Tujuan utama pendirian RSGM yaitu sebagai sarana pendidikan bagi peserta didik tahap profesi dan/ spesialis dan sebagai sarana pelayanan kesehatan

(19)

gigi dan mulut bagi masyarakat. Dalam penyelenggaraan pendidikan profesi kedokteran gigi, para peserta didik dibekali dengan ketrampilan motorik khusus, yang diawali di tahap akademik, pada phantom; yang kemudian di tingkat profesi dilakukan tindakan perawatan pada berbagai ragam variasi kasus yang tersedia di sebuah RSGM secara langsung (‘hands on’) pada pasien.

RSGM Sebagai Wahana Pendidikan Profesi Kedokteran Gigi:

a. Adanya pengawasan ketat oleh para pendidik klinik melalui pelaksanaan chair side teaching. Setiap tindakan pelayanan yang dilakukan harus mengacu pada standar prosedur operasional di RSGM, agar keselamatan pasien dapat tetap terjamin

b. Adanya kebutuhan peserta didik terhadap sejumlah besar dental chair unit sebagai sarana utama untuk melakukan pelayanan rawat jalan kesehatan gigi mulut. Pelayanan rawat inap umumnya dibutuhkan hanya untuk kasus one day care serta pra dan pasca tindakan bedah (fraktur rahang, tumor, trauma, kelainan maksilofasial, dll)

c. Peserta didik perlu dibekali pengetahuan dan pengenalan yang memadai tentang cedera dan penyakit gigi dan mulut akut, serta stabilisasi (Basic Life Support /Advance Traumatic Life Support ) yang dilakukan oleh para dokter/dokter gigi yang sudah mempunyai kualifikasi Pelatihan Kegawatdaruratan (PGD)

d. Daya tampung serta jumlah sarana prasarana yang dimiliki RSGM sebagai wahana pendidikan profesi kedokteran gigi harus sesuai dengan jumlah peserta didik yang akan menjalani proses pendidikan tersebut.

e. Standar fasilitas RSGM yang dimiliki sebuah institusi pendidikan kedokteran gigi harus sesuai dengan metode pembelajaran klinik yang digunakan

Berdasarkan standar pendidikan dokter gigi yang dikeluarkan oleh KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) tahun 2006 tentang keberadaan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan sebagai wahana pendidikan tahap profesi, rasio ideal antara fasilitas dental chair unit dan peserta didik di RSGM adalah 1: 2, dengan asumsi bahwa jika jam kerja adalah 8-10 jam/ hari, maka 1 dental chair unit yang

(20)

digunakan untuk 2 peserta didik setiap harinya, akan menyediakan alokasi waktu kerja yang memenuhi ketentuan SKS (1 SKS Klinik setara dengan 4 jam kegiatan praktikum)

RSGMP (Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan):

RSGM Pendidikan merupakan sebuah sarana pelayanan kesehatan mulai dari tingkat dasar sampai dengan spesialistik, sekaligus merupakan sarana pendidikan bagi dokter gigi dan dokter gigi spesialis, sehingga perlu memenuhi persyaratan sebagai rumah sakit pendidikan sesuai standar/peraturan yang berlaku agar kompetensi dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang dihasilkan dapat tercapai. RSGM dapat mengajukan permohonan untuk diakreditasi yang umumnya dilakukan oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit), 3 tahun sejak izin penyelenggaraan diterbitkan

2.2.2 Proses Studi Kelayakan RSGM

Proses penerapan studi kelayakan pendirian pelayanan kesehatan gigi meliputi proses pembahasan mengenai analisis lingkungan / situasi kecenderungan aspek internal dan eksternal, analisis permintaan terkait dari aspek-aspek yang dapat mempengaruhinya, analisis kebutuhan dan analisis keuangan serta rekomendasi kelayakan dari rencana pendirian pelayanan kesehatan gigi.

1. Persiapan

Sebelum dilakukan proses penerapan studi kelayakan rumah sakit, dilakukan persiapan yaitu kompilasi data dari pengumpulan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer meliputi observasi lapangan, kondisi serta potensi yang ada. Pengumpulan data sekunder meliputi standar, pedoman, dan ketentuan serta sasaran.

2. Analisis lingkungan/ situasi kecenderungan aspek internal dan eksternal

Analisis situasi kecenderungan meliputi aspek internal yaitu : a. Kebijakan

b. Geografi c. Demografi

(21)

d. Sosekbud

e. Ketenagakerjaan f. Kesehatan

Sedangkan aspek internal meliputi a. Sarana kesehatan

b. Pola penyakit di rumah sakit c. Teknologi

d. SDM rumah sakit e. Organisasi

f. Kinerja dan keuangan

3.Analisis permintaan terkait dari aspek - aspek yang dapat mempengaruhinya

Analisis permintaan akan membahas mengenai analisis posisi kelayakan rumah sakit menjadi 5 aspek. Dari analisis sebelumnya, dilakukan analisis yang bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman yang menjadi pertimbangan kelayakan rumah sakit.

a. Lahan dan lokasi

b. Klasifikasi kelas rumah sakit c. Kapasitas TT

d. Jenis layanan e. Produk unggulan 4. Analisis kebutuhan

Analisis kebutuhan merupakan analisis mengenai kebutuhan yang harus disediakan rumah sakit secara keseluruhan berdasarkan analisis permintaan yang telah dilakukan, dilihat dari aspek :

a. Kebutuhan lahan b. Kebutuhan ruang

c. Peralatan medis dan non medis d. Sumber daya manusia

e. Organisasi dan uraian tugas

(22)

5. Analisis keuangan

Analisis keuangan memberi gambaran rencana penggunaan sumber anggaran yang dimiliki sehingga dapat diketahui tingkat pengembalian biaya yang akan diinvestasikan. Aspek yang akan dianalisis terdiri dari :

a. Rencana investasi dan sumber dana b. Proyeksi pendapatan dan biaya c. Proyeksi cash flow

d. Analisis keuangan : Break event point (BEP) , internal rate of return (IRR) , dan net present value (NPV)

6. Kesimpulan dan rekomendasi kelayakan

Bagian kesimpulan dari studi kelayakan akan memberi perspektif dari 4 sudut pandang yaitu analisis situasi, analisis permintaan, analisis kebutuhan, dan analisis keuangan. Rekomendasi kelayakan memberi gambaran berupa rekomendasi langkah yang harus ditempuh berdasarkan hasil dari 4 analisis dan dapat pula dijadikan rencana strategi dari manajemen rumah sakit.

2.2.3 Contoh Studi Kelayakan Pendirian RSGM

Dalam tata aturan Permenkes No 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit sebagai dasar Dinas Kesehatan Kab/Kota memberikan izin operasional kelas C dan D Pasal 67 Ayat 1 “Pemilik atau pengelola yang akan mendirikan Rumah Sakit mengajukan permohonan Izin mendirikan kepada pemberi izin sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit yang akan didirikan, melampirkan b.Studi Kelayakan. Pada Ayat 2 disebutkan kaidah penyusunan studi kelayakan.

1. Kajian kebutuhan pelayanan Rumah Sakit yang meliputi:

● Kajian demografi yang mempertimbangkan luas wilayah dan kepadatan penduduk serta karakteristik penduduk yang terdiri dari umur, jenis kelamin, dan status perkawinan;

(23)

● Kajian sosio-ekonomi yang mempertimbangkan kultur/kebudayaan, tingkat pendidikan, angkatan kerja, lapangan pekerjaan, pendapatan domestik rata-rata bruto

● Kajian morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan sekurang- kurangnya sepuluh penyakit utama, angka kematian (GDR, NDR), dan angka persalinan;

● Kajian kebijakan dan regulasi, yang mempertimbangkan kebijakan dan regulasi pengembangan wilayah pembangunan sektor nonkesehatan, kesehatan, dan perumah sakitan.

● Kajian aspek internal Rumah Sakit merupakan rancangan sistem-sistem yang akan dilaksanakan atau dioperasionalkan, yang terdiri dari sistem manajemen organisasi termasuk sistem manajemen unit-unit pelayanan, system unggulan pelayanan, ariff teknologi peralatan, sistem tarif, serta rencana kinerja dan keuangan.

2. Kajian kebutuhan lahan, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, dan peralatan sesuai kriteria klasifikasi Rumah Sakit yang akan didirikan yang meliputi:

● Lahan dan bangunan Rumah Sakit harus dalam satu kesatuan lokasi yang saling berhubungan dengan ukuran, luas dan bentuk lahan serta bangunan/ruang mengikuti ketentuan tata ruang daerah setempat yang berlaku.

● Rencana cakupan, jenis pelayanan kesehatan, dan fasilitas lain;

o Jumlah, spesialisasi, dan kualifikasi sumber daya manusia

o Jumlah, jenis, dan spesifikasi peralatan mulai dari peralatan sederhana hingga peralatan canggih.

3. Persyaratan lokasi meliputi :

● Tidak berada di lokasi area berbahaya (di tepi lereng, dekat kaki gunung yang rawan terhadap longsor, dekat anak sungai atau badan air yang dpt mengikis pondasi, dekat dengan jalur patahan aktif/gempa,

(24)

rawan tsunami, rawan banjir, berada dalam zona topan/badai, dan lain- lain).

● Harus tersedia infrastruktur aksesibilitas untuk jalur transportasi.

● Ketersediaan utilitas publik mencukupi seperti air bersih, jaringan air kotor, listrik, jalur komunikasi/telepon.

● Ketersediaan lahan parkir.

● Tidak berada di bawah pengaruh SUTT dan SUTET.

4. Kajian kemampuan pendanaan/pembiayaan yang meliputi:

● Prakiraan jumlah kebutuhan dana investasi dan sumber pendanaan;

● Prakiraan pendapatan atau proyeksi pendapatan terhadap prakiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat tidur;

● Prakiraan biaya atau proyeksi biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap prakiraan sumber daya manusia;

● Proyeksi arus kas 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun

● Proyeksi laba atau rugi 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka proses penyusunan studi kelayakan membutuhkan kualifikasi SDM sebagai berikut :

1. Team Leader Dokter dengan S2 Perumahsakitan 2. Ahli Landscape

3. Ahli Arsitektur 4. Ahli Geologi 5. Ahli Kesehatan 6. Ahli Kesehatan 7. Ahli Sosial Budaya 8. Ahli Pengukuran

(25)

Pada proses pengerjaan studi kelayakan menggunakan metodologi sebagai berikut:

1. Survey Instansi meliputi :

● BPS (Badan Pusat Statistik)

● BPN (Badan Pertanahan Nasional)

● Dinas Kesehatan Kota/Kab dan Provinsi

● Dan institutisi lainnya

2. Survey Rumah Sakit Existing sekitar meliputi data :

● Kunjungan Pasien IGD

● Kunjungan Pasien Rawat Inap

● Laporan Keuangan Rumah Sakit

● Dan data lainnya

3. Survey Masyarakat meliputi :

● Survey Harapan Masyarakat

● Survey Kecenderungan Kesehatan Wilayah

● Dan jenis survey lainnya 4. Survey dan Ukur Lokasi meliputi :

● Pengukuran Kontour Tanah

● Pengukuran Elevasi Tanah Dan Pengukuran tanah lainnya

(26)

BAB III

PERSYARATAN PENDIRIAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI 1. Praktik Pribadi Dokter Gigi

1.1 Pengertian

Menurut PERMENKES Republlik Indonesia No.

1419/MENKES/PER/X/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi; Praktik Kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan dokter gigi terhadap pasien dalam upaya kesehatan. Dokter Gigi yang dimaksud adalah dokter gigi, dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Seorang dokter dan dokter gigi harus memenuhi berbagai persyaratan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum bisa mendirikan praktik pribadi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 1419/MENKES/PER/X/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi dalam penyelenggaraan praktik pribadi terdapat dua garis besar persyaratan yaitu syarat izin praktik dan syarat dalam pelaksanaan praktik.

1.2 Persyaratan Praktik Pribadi

1. Setiap dokter gigi yang akan melakukan praktik kedokteran perorangan wajib memiliki Surat Izin Praktik (SIP) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kota dokter gigi bersangkutan. SIP berlaku sepanjang Surat Tanda Registrasi masih berlaku dan tempat praktik masih sama dengan yang tercantum pada SIP.

2. Praktek tenaga kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh seorang tenaga kesehatan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Mempunyai surat registrasi dan surat izin kerja/izin praktik tenaga kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(27)

b. Mempunyai tempat praktik yang menetap dan terdiri dari ruang periksa minimal 3x4 m2, ruang tunggu, dan ruangan kamar mandi / WC yang memenuhi persyaratan kesehatan;

c. Memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi serta pengelolaan limbah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku;

d. Mempunyai peralatan kedokteran dan atau peralatan/perbekalan kesehatan sesuai dengan kompetensinya;

e. Melaksanakan praktik dan memberikan pelayanan yang aman, bermutu dengan mengutamakan kepentingan terbaik pasien sesuai standar kompetensi dan standar profesi;

f. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya;

g. Melaksanakan fungsi sosial sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan;

h. Menyelenggarakan rekam medis;

i. Melaksanakan sistem rujukan;

j. Memasang papan nama praktek sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

k. Dalam melaksanakan praktik tenaga kesehatan dapat menyimpan obat-obatan untuk kepentingan gawat darurat dalam jumlah terbatas sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya.

l. Tenaga kesehatan dapat menyimpan obat-obatan tertentu yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan praktiknya dalam jumlah terbatas sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya.

m. Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dokter gigi spesialis, bidan dan perawat sesuai ketentuan peraturan yang berlaku

n. Untuk medirikan sebuah praktek pribadi, seorang dokter gigi wajib memenuhi kriteria tersebut dan menyediakan fasilitas sesuai ketentuan. Hal ini diatur agar praktek pribadi seorang dokter gigi dapat memberikan pelayanan semaksimal mungkin dan terstandar.

(28)

1.3 Contoh Penerapan Persyaratan Pendirian Praktik Pribadi Dokter Gigi Seorang dokter gigi ingin mendirikan praktik pribadi setelah menyelesaikan pendidikan dari FKG Unair. Praktek pribadi tersebut rencananya akan didirikan di daerah Lakarsantri.

Langkah pertama, dokter gigi tersebut harus mengurus SIP dan papan nama untuk praktek pribadinya. Dokter gigi tersebut juga harus meminta izin pada sejawat yang menyelenggarakan praktek di tempat tersebut. Dokter harus bertanggung jawab terhadap sanitasi serta pengolahan limbah medis dan nonmedis yang dihasilkan dari praktik pribadinya.

Setelah praktek pribadinya berhasil didirikan, dokter gigi tersebut dalam melaksanakan praktiknya harus mengindahkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, seperti peraturan terkait kesepakatan antara dokter gigi dengan pasien sebelum tindakan, proses pemberian kewenangan terhadap tenaga kesehatan tertentu, pembuatan rekam medis, penjelasan pada pasien sebelum pemberian pelayanan, rahasia kedokteran, SIP, papan nama, dokter gigi pengganti, dan kegawatdaruratan.

Persiapan seperti peralatan medis dasar serta penunjang sesuai ketentuan yang telah ditentukan pada tempat praktek pribadi harus disediakan. Selain itu dokter gigi tersebut juga perlu mempersiapkan biaya untuk penyelenggaraan klinik atau praktek pribadi, seperti biaya listrik, air, asisten dan pajak.

2. Klinik Dokter gigi 2.1 Pengertian

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 028/Menkes/Per/I/2011, pengertian klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan spesialistik, diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang tenaga medis. Sehingga dapat diartikan bahwa klinik adalah suatu tempat yang mempunyai fasilitas dan beberapa tenaga medis yang mumpuni untuk menyediakan pelayanan medis dan yang menjadi

(29)

pimpinan adalah seorang tenaga medis (dokter atau dokter gigi untuk Klinik Pratama dan dokter atau dokter gigi spesialis untuk Klinik Utama).Menurut Peraturan Menteri Republik Indonesia Nomor 028/Menkes/Per/I/2011, klinik berdasarkan pelayanannya dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Klinik Pratama : Klinik yang melayani pelayanan medik dasar.

2. Klinik Utama : Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik. Sehingga pada pelaksanaannya, klinik utama wajib menyediakan pelayanan dokter/dokter gigi spesialis.

Klinik gigi menurut peraturan menteri nomor 920/Menkes/Per/XIII/1986 merupakan sarana pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan kepada masyarakat. Klinik adalah sarana atau tempat yang dibangun untuk melakukan pelayanan perawatan kesehatan pada seluruh masyarakat. Klinik gigi adalah sarana atau tempat yang dibangun untuk melakukan perawatan gigi pada seluruh masyarakat yang meliputi usaha-usaha pencegahan, pengobatan dan pemulihan.

2.2 Proses Penerapan Persyaratan Pendirian Klinik Dokter Gigi

Menurut Persyaratan Berdasarkan Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1295/Menkes/Per /XII/2007: Pasal 1, Klinik Kedokteran Gigi merupakan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kedokteran gigi yang dilaksanakan oleh lebih dari satu orang dokter gigi, dengan persyaratan sebagai berikut:

1. Dipimpin oleh seorang dokter gigi /dokter gigi spesialis yang mempunyai Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik sebagai penanggung jawab pelayanan.

2. Masing-masing dokter gigi /dokter gigi spesialis mempunyai Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik (SIP) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Bangunan/ruangan sebagai berikut:

(30)

a. Mempunyai bangunan fisik yang permanen dan tidak bergabung dengan tempat tinggal.

b. Mempunyai ruang pendaftaran /ruang tunggu, ruang konsultasi kedokteran gigi minimal 3x4 m2 dengan fasilitas tempat cuci tangan dengan air yang mengalir, ruang administrasi, ruang emergency, kamar mandi/WC dan ruang lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan.

c. Memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi.

d. Ventilasi yang menjamin peredaran udara yang baik dilengkapi dengan mekanis (AC, kipas angin, exhaust fan) dan penerangan yang cukup.

e. Mempunyai sarana pembuangan limbah dan limbah harus dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

f. Memiliki Peraturan Internal, Standar Prosedur Operasional dan Peraturan Disiplin yang tidak bertentangan dengan Standar Kompetensi, Standar Profesi dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

g. Memiliki izin fasilitas pelayanan kesehatan, izin penyelenggaraan dan izin peralatan kedokteran sesuai dengan ketentuan peratuan perundang-undangan yang berlaku.

h. Memasang papan nama fasilitas pelayanan kesehatan dan daftar nama dokter yang berpraktik di klinik tersebut.

2.3 Contoh Penerapan Persyaratan Pendirian Klinik Dokter Gigi

Sebuah klinik bersama di daerah Rungkut, Surabaya ingin didirikan oleh sekelompok dokter gigi spesialis yang berbeda. Syarat pertama dibutuhkan untuk membuat sebuah klinik adalah dibutuhkan seorang pemimpin untuk mengelola klinik tersebut yang mana seorang dokter gigi/

dokter gigi spesialis yang mempunyai Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Praktik sebagai penanggung jawab pelayanan. Masing-masing dokter gigi /dokter gigi spesialis mempunyai Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin

(31)

Praktik (SIP) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Syarat lain yang harus dipenuhi adalah sarana dan fasilitas penunjang untuk mendirikan klinik tersebut. Bangunan/ruangan meliputi bangunan fisik yang permanen dan tidak bergabung dengan tempat tinggal, ruang pendaftaran /ruang tunggu, ruang konsultasi kedokteran gigi minimal 3x4 m2 dengan fasilitas tempat cuci tangan dengan air yang mengalir, ruang administrasi, ruang emergency, kamar mandi/WC dan ruang lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan. Memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi.

Ventilasi yang menjamin peredaran udara yang baik dilengkapi dengan mekanis (AC, kipas angin, exhaust fan) dan penerangan yang cukup. Mempunyai sarana pembuangan limbah dan limbah harus dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Klinik tersebut harus memiliki Peraturan Internal, Standar Prosedur Operasional dan Peraturan Disiplin yang tidak bertentangan dengan Standar Kompetensi, Standar Profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, izin fasilitas pelayanan kesehatan, izin penyelenggaraan dan izin peralatan kedokteran sesuai dengan ketentuan peratuan perundang- undangan yang berlaku, serta memasang papan nama fasilitas pelayanan kesehatan dan daftar nama dokter yang berpraktik di klinik tersebut.

3. Rumah Sakit Pendidikan Gigi dan Mulut 3.1 Pengertian

Dalam Pasal 1 BAB I PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1173/MENKES/PER/X/2004 TENTANG RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT menyatakan bahwa Rumah Sakit Gigi dan Mulut, selanjutnya disingkat RSGM adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut perorangan untuk pelayanan pengobatan dan pemulihan tanpa mengabaikan pelayanan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilaksanakan melalui pelayanan rawat jalan, gawat darurat dan

(32)

pelayanan tindakan medik. Dalam Pasal 1 nomor 2 juga menyatakan bahwa RSGM Pendidikan adalah RSGM yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, yang juga digunakan sebagai sarana proses pembelajaran, pendidikan dan penelitian bagi profesi tenaga kesehatan kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya, dan terikat melalui kerjasama dengan fakultas kedokteran gigi. Salah satu RSGM Pendidikan adalah RSGM Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Unair.

3.2 Proses Penerapan Persyaratan Pendirian Rumah Sakit Pendidikan Gigi dan Mulut

Berdasarkan PERMENKES Republik Indonesia No.

1173/MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut, pendirian RSGM harus memenuhi syarat yang diatur dalam pasal 10-20, sebagai berikut:

PASAL 10

1) Rumah Sakit Gigi dan Mulut harus memenuhi persyaratan bangunan, sarana dan prasarana serta peralatan sesuai dengan peruntukannya.

2) Persyaratan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi :

a. Lokasi atau letak bangunan dan prasarana harus sesuai dengan rencana umum tata ruang.

b. Bangunan dan prasarana dan harus memenuhi persyaratan keamanan, keselamatan kerja, dan analisis dampak lingkungan RS dan sarana kesehatan lain.

c. Peralatan harus memenuhi persyaratan kalibrasi, standar kebutuhan pelayanan, keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja.

3) Ketentuan persyaratan minimal sarana dan prasarana RSGM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

a. Ruang Rawat Jalan;

b. Ruang Gawat Darurat

c. Ruang pemulihan/Recovery room ; d. Ruang Operasi;

(33)

e. Farmasi dan Bahan Kedokteran Gigi;

f. Laboratorium Klinik;

g. Laboratorium Teknik Gigi;

h. Ruang Sentral Sterilisasi;

i. Radiologi;

j. Ruang Tunggu;

k. Ruang Administrasi;

l. Ruang Toilet; dan

m. Prasarana yang meliputi tenaga listrik, penyediaan air bersih, instalasi pembuangan limbah, alat komunikasi, alat pemadam kebakaran dan tempat parkir.

4) Ketentuan persyaratan minimal peralatan RSGM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

a. Jumlah Dental Unit 50 b. Jumlah Dental Chair 50 unit c. Jumlah Tempat Tidur 3 buah d. Peralatan Medik meliputi :

1) 1 unit Intra Oral Camera;

2) 1 unit Dental X – ray;

3) 1 unit Panoramic x-ray;

4) 1 unit Chepalo Metri x-ray;

5) 1 unit Autoclave / 7 unit Sterilisator;

6) 1 Camera; dan 7) 1 Digital Intra Oral

5) RSGM dapat memiliki peralatan medik khusus lainnya meliputi : a. 1 unit Laser.

b. 1 Radiografi (Radio Visio Graphi).

1)

1. Tenaga medis kedokteran gigi : a. Dokter Gigi

b. Dokter Gigi Spesialis yang meliputi:

(34)

1) Bedah Mulut;

2) Meratakan Gigi (Orthodonsi);

3) Penguat Gigi (Konservasi);

4) Gigi Tiruan (Prosthodonsi)

5) Kedokteran Gigi Anak (Pedodonsi);

6) Penyangga Gigi ( Periodonsi ); dan 7) Penyakit Mulut;

2. Dokter/Spesialis lainnya :

a. Dokter dengan pelatihan PPGD b. Dokter Anestesi

c. Dokter Penyakit Dalam d. Dokter spesialis anak 3. Tenaga Keperawatan :

a. Perawat Gigi b. Perawat 4. Tenaga Kefarmasian:

a. Apoteker b. Analis farmasi c. Asisten apoteker 5. Tenaga Keteknisisan Medis:

a. Radiografer b. Teknisi Gigi c. Analis kesehatan d. Perekam medis 6. Tenaga Non Kesehatan ;

a. Administrasi b. Kebersihan

2) Tenaga dokter gigi, dokter gigi spesialis dan perawat gigi yang bekerja di RSGM 50% atau lebih bekerja secara purna waktu.

3) Bagi RSGM Pendidikan, selain 7 dokter gigi spesialis tersebut diatas dalam memenuhi kurikulum pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menyediakan dokter gigi spesialis

(35)

lainnya meliputi bidang kesehatan gigi masyarakat (dental public health), dental material, oral biologi dan dental radiologi.

Pasal 12

Setiap RSGM harus menyediakan berbagai jenis, bahan dan obat- obatan sekurang-kurangnya sama dengan yang ditetapkan dalam Daftar Obat Esensial Nasional ( DOEN).

Bagian Kedua Pelayanan Pasal 13

1) Setiap RSGM dalam memberikan pelayanan mempunyai kewajiban: a. melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan RSGM dan standar profesi kedokteran gigi yang ditetapkan. b. memberikan pertolongan pertama kepada pasien gawat darurat tanpa memungut biaya pelayanan terlebih dahulu. c.

menyelenggarakan pelayanan selama 24 (dua puluh empat) jam. d.

melaksanakan fungsi rujukan.

2) Evaluasi penerapan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit yang bersifat independen.

Pasal 14

1) RSGM dalam memberikan pelayanan harus menjamin hak-hak pasien.

2) Setiap tenaga kesehatan di RSGM yang memberikan pelayanan kesehatan wajib menghormati hak-hak pasien.

3) Setiap tindakan kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan tindakan medik ( informed consent).

4) Setiap tenaga kesehatan di RSGM berhak mendapat perlindungan hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pasal 15

1) RSGM wajib membuat dan memelihara rekam medis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(36)

2) RSGM wajib melaksanakan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 16

1) RSGM wajib membantu program Pemerintah di bidang pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

2) RSGM yang tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang ditanganinya wajib merujuk pasien yang dimaksud ke rumah sakit lain yang lebih mampu dalam memberikan pelayanan kesehatan.

3) RSGM dapat bekerjasama dengan rumah sakit lainnya dalam rangka rujukan medik.

Pasal 17

RSGM wajib menyelenggarakan peningkatan mutu pelayanan secara berkesinambungan dan mengikuti kegiatan peningkatan mutu pelayanan yang diselenggarakan Pemerintah.

Pasal 18

RSGM harus menyelenggarakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 19

RSGM harus memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 20

RSGM wajib memiliki peraturan internal RSGM (Dental Hospital Bylaws) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3.3 Contoh Penerapan Persyaratan Pendirian Rumah Sakit Pendidikan Gigi dan Mulut

(37)

Dalam rangka menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, Perusahan Pelayanan Kesehatan Swasta ignin mendirikan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) di Juono, Nganjuk.

Langkah awal persiapan sebelum pembangunan RSGM dengan melakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah di kota Nganjuk serta Perusahaan Swasta lainnya untuk bersama-sama membangunan RSGM yang berkualitas. Langkah selanjutnya yaitu menentukan Direktur Rumah Sakit dari seorang dokter gigi/dokter gigi spesialis yang kemudian direktur tersebut menunjuk beberapa orang untuk mengatur manajemen rumah sakit gigi dan mulut yang meliputi bagian pelayanan kesehatan gigi dan mulut, administrasi dan keuangan, pelayanan penunjang, pendidikan, penelitian, pengembangan, rekam medik dan komite klinik, satuan medik fungsional dan instalasi.

Kemudian pembangunan sarana dan prasarana telah disiapkan lebih dulu dengan mempertimbangkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi yang diatur dalam pasal 10 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1173/MENKES/PER/X/2004 Tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut meliputi lokasi, keamanan dan keselamatan kerja, peralatan sesuai standart kebutuhan pelayanan, prasarana minimal yang harus dimiliki RSGM tersebut meliputi ruang rawat jalan, ruang gawat darurat, ruang pemulihan/recovery room, ruang operasi, farmasi dan bahan kedokteran gigi, laboratorium klinik, laboratorium teknik gigi;, ruang sentral sterilisasi, radiologi, ruang tunggu, ruang administrasi, ruang toilet dan prasarana yang meliputi tenaga listrik, penyediaan air bersih, instalasi pembuangan limbah, alat komunikasi, alat pemadam kebakaran dan tempat parkir.

Adapun untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja medis yang mengacu pada pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1173/MENKES/PER/X/2004 Tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut meliputi dokter gigi, dokter gigi spesialis, dokter/spesialis lainnya, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga keteknisian medis. Tenaga dokter

(38)

gigi, dokter gigi spesialis dan perawat gigi yang bekerja di RSGM 50%

atau lebih bekerja secara purna waktu.

RSGM harus menyediakan berbagai jenis, bahan dan obat-obatan sekurang-kurangnya sama dengan yang ditetapkan dalam Daftar Obat Esensial Nasional ( DOEN) serta memeuhi persyaratan minimal peratalatan untuk RSGM meliputi dental unit 50, dental chair 50 unit, tempat tidur 3 buah, peralatan medik; 1 unit Intra Oral Camera, 1 unit Dental X – ray, 1 unit Panoramic x-ray, 1 unit Chepalo Metri x-ray, 1 unit Autoclave / 7 unit Sterilisator, 1 Camera dan 1 Digital Intra Oral

(39)

BAB IV

PENGELOLAAN LOGISTIK 4.1 Pengertian Logistik

Logistik adalah bahan untuk kegiatan operasional yang sifatnya habis pakai. Logistik adalah salah satu subsistem di rumah sakit yang memiliki tugas untuk menyediakan barang dan bahan dalam jumlah , kualitas, dan waktu yang tepat sesuai kebutuhan dengan harga yang efisien untuk kegiatan operasional rumah sakit (Djojodibroto, 1997). Menurut Subagya MS (1994), logistik merupakan ilmu pengetahuan dan seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan pemeliharaan, serta penghapusan material/ alat-alat (Aditama, 2003).

Manajemen logistik adalah suatu ilmu pengetahuan, seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material/alat. (Subagya, 1994), sehingga manajemen logistik mampu menjawab tujuan dan bagaimana cara mencapai tujuan dengan ketersediaan bahan logistik setiap saat bila dibutuhkan dan dipergunakan secara efisien dan efektif.

Secara umum, logistik memiliki tiga tujuan, yaitu:

a. Tujuan operasional, adalah agar barang tersedia dengan jumlah yang tepat dan mutu yang memadai.

b. Tujuan keuangan, adalah agar tujuan operasional dapat terlaksana dengan biaya yang serendah-rendahnya.

c. Tujuan pengamanan, adalah agar persediaan tidak terganggu ioleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian, dan nilai persediaan yang sesunguhnya dapat tercermin dalam sistem akuntansi.

Menurut Imron, 2009 logistik sebuah rumah sakit adalah suatu perbekalah dari rumah sakit untuk dapat beroperasi. Tidak hanya barang inventaris saja, tetapi lebih kepada seluruh sumber daya yang digunakan guna kepentingan beroperasinya sebuah rumah sakit tersebut. Manajemen logistik juga harus mampu mengantisipasi kejadian darurat, membuat skala prioritas serta melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk pencapaian tujuan umum rumah sakit.

(40)

Manajemen logistik juga harus mencapai efisiensi dan efektivitas. Manajemen logistik memiliki kemampuan untuk mencegah atau meminimalkan pemborosan, kerusakan, kadaluarsa, kehilangan alat yang akan memiliki dampak kepada pengeluaran ataupun biaya operasional rumah sakit. Menurut pemanfaatannya, bahan atau alat yang harus disediakan rumah sakit dikelompokkan menjadi persediaan farmasi (obat, bahan kimia, gas medik, peralatan kesehatan), persediaan makanan, persediaan logistik umum dan teknik.

Logistik dalam rumah sakit bermula dari perolehan (procurement) dan berakhir dengan dokumen penuh dari usaha pembedahan dan pengobatan.

Sehingga dapat dikatakan bahwa manajemen logistik dalam lingkungan rumah sakit adalah suatu proses pengolahan secara strategis terhadap pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, serta pemantauan persediaan barang (stock, material, supplies, inventory, etc) yang diperlukan bagi produksi jasa rumah sakit.

Logistik di rumah sakit memiliki fungsi-fungsi yang membentuk suatu siklus yang terdiri dari:

1. Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan

Perencanaan merupakan langkah awal dalam melaksanakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit. Perencanaan adalah proses menetapkan sasaran, pedoman, dan dasar ukuran untuk penyelenggaraan pengelolahan barang logistik dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan perencanaan ini mempengaruhi kelancaran pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada pasien (Bowersox, 2002).

2. Fungsi penganggaran (budgetting)

Penganggaran merupakan kegiatan untuk merumuskan rincian penentuan kebutuhan. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam penganggaran yaitu penyesuaian rencana pembelian dengan dana yang tersedia dan mengenali adanya kendala dan keterbatasan agar tercipta reliable budgeting.

3. Fungsi pengadaan

Pengadaan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan barang berdasarkan perencanaan, penentuan kebutuhan, dan penganggaran

(41)

yang telah dibuat sebelumnya. Sasaran dalampengadaan yaitu pemenuhan kebutuhan dengan kualitas terbaik dan harga yang minimal, serta pengiriman barang dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

4. Fungsi penyimpanan

Penyimpanan dilakuan agar persediaan dalam keadaan stabil, mudah dicari, mudah diawasi, dan terjaga keamanannya.

5. Fungsi pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar sarana/barang logistik selalu dalam kondisi daya guna yang baik dan untu mempertahankan kondisi ekonomis dari barang tersebut.

6. Fungsi pendistribusian

Pendistribusian adalah keiatan pengurusan, penyelenggaraan, dan pengaturan pemindahan barang logistik dari tempat penyimpanan ke tempat pemakai sehingga menjamin kelancaran pelayanan yang bermutu.

7. Fungsi penghapusan

Penghapusan merupakan kegiatan pembebasan barang dari pertanggungjawaban secara fisik. Usaha untuk menghapus kekayaan (aset) karena kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi, dinyatakan sudah tua dari segi ekonomis maupun teknis, kelebihan, hilang, susut, dan karena hal-hal lain menurut perundang-undangan yang berlaku.

8. Fungsi pengendalian

Pengendalian merupakan fungsi inti dari pengelolaan logistik yaitu meliputi usaha untuk memonitor dan mengamankan keseluruhan pengelolaan logistik. Pengendalian ialah tindakan untuk memastikan pelaksanaan logistik sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dengan menggunakan umpan balik sehingga tujuan rumah sakit dapat tercapai.

Menurut barang yang harus disediakan di rumah sakit, peran logistik dapat dikelompokkan menjadi :

a. Logistik Obat

(42)

Meliputi aktivitas logistik yang terkait dengan obat yang digunakan dalam proses pelayanan kesehatan di rumah sakit. Obat merupakan salah satu komponen utama pendapatan rumah sakit. Tantangan dalam melaksanakan logistik obat di rumah sakit secara baik tergolong tinggi.

Berbagai pihak terlibat dalam logistik obat di rumah sakit.

b. Logistik Alat Kesehatan

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan alat kesehatan yang digunakan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Masalah utama yang sering terjadi adalah manajemen inventaris yang kurang baik, sehingga mengakibatkan alat kesehatan yang disimpan berlebihan.

c. Logistik Food and Baverages

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan pelayanan gizi, baik untuk pasien atau untuk karyawan rumah sakit. Masalah yang sering muncul adalah barang hilang atau berkurang dan mutu proses yang bervariasi.

d. Logistik Bahan Habis Pakai

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan bahan-bahan yang dikategorikan sebagai bahan habis pakai. Masalah yang paling sering dihadapi adalah sediaan bahan habis pakai yang berlebihan.

e. Logistik Barang Kuasi

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan barang kelengkapan administrasi rumah sakit. Masalah yang sering terjadi adalah sediaan barang kuasi yang terlalu banyak.

f. Logistik Peralatan Medis dan Non Medis

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan peralatan medis dan non medis yang digunakan dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Masalah yang sering dihadapi adalah penyimpanan alat dan persediaan suku cadang.

g. Logistik Sarana dan Prasarana Gedung

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan sarana dan prasarana gedung rumah sakit. Nilai sarana dan prasarana gedung rumah sakit

(43)

dapat mencapai sekitar 40% dari nilai aset total rumah sakit. Masalah yang sering muncul :

1. Pembangunan sarana dan prasarana yang tidak efisien

2. Pemeliharaan saran dan prasarana yang tidak sesuai standar yang tidak ditentukan.

h. Logistik Linen

Adalah kegiatan logistik yang terkait dengan bahan kelompok linen.

Masalah yang dihadapi adalah sediaan yang berlebihan dan proses yang bervariasi.

4.2 Proses Penerapan Logistik

Pelaksanaan pengelolaan logistik cenderung semakin kompleks sehingga harus didasari oleh perencanaan yang baik supaya mudah dalam pengendaliannya.

Perencanaan yang baik menuntut adanya sistem monitoring, evaluasi dan reporting yang memadai dan berfungsi sebagai umpan balik untuk tindakan pengandalian terhadap devisi yang terjadi. Suatu rencana harus didukung oleh semua pihak, karena bila suatu rencana dipaksakan maka akan sulit untuk mendapat dukungan sehingga akan mengganggu kelancaraan pelaksanaan.

Pada umumnya, dalam tahapan perencanaan logistik dapat menjawab dan menyimpulkan pernyataan sebagai berikut:

a. Apakah yang di butuhkan (what) untuk menentukan jenis barang yang tepat

b. Berapa yang di butuhkan (how much, how many) untuk menentukan jumlah yang tepat

c. Bilamana dibutuhkan (when) untuk menentukan waktu yang tepat d. Dimana dibutuhkan (where) untuk menentukan tempat yang tepat e. Siapa yang mengurus atau siapa yang menggunakan (who) untuk

menentukan orang atau unit yang tepat

f. Bagaimana diselenggarakan (how) untuk menentukan proses yang tepat

g. Mengapa dibutuhkan (why) untuk memeriksa apakah keputusan yang diambil sudah tepat.

(44)

Selain itu, pengaturan keuangan juga harus diperhatikan. Pengaturan keuangan yang jelas, sederhana dan tidak rumit akan sangat membantu kegiatan.

Sumber anggaran di suatu rumah sakit beragam, tergantung rumah sakit tersebut milik pemerintah atau swasta. Pada Rumah sakit Pemerintah, sumber anggaran dapat berasal dari Dana Subsidi (Bappenas, Depkes, Pemda) dan dari penerimaan rumah sakit. Sedangkan pada rumah sakit swasta sumber anggaran berasal dari Dana Subsidi (Yayasan dan Donatur), Penerimaan rumah sakit dan dana dari pihak ketiga (Mustikasari).

Setelah itu, melakukan proses pengadaan barang yang semula tidak ada atau habis menjadi ada, yang kemudian diikuti dengan proses penyimpanan.

Rumah sakit harus memikirkan dimana dan bagaimana cara menyimpan suatu alat atau barang tersebut.

4.3 Contoh Penerapan

Pengelolaan logistik sangat berpengaruh terhadap berjalannya sistem operasional suatu rumah sakit atau instansi pelayanan kesehatan, karena dengan adanya pengelolaan logistik yang baik maka dapat menunjukkan manajemen bahan dan barang yang baik pula. Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen logistik yang sangat penting dan saling terkait, prosesnya dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan, penarikan, dan pengendalian, serta kelengkapan administrasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian dalam penyediaan pelayanan kesehatan secara keseluruhan, karena ketidakefisienan dan ketidaklancaran pengelolaan obat akan memberi dampak negatif terhadap rumah sakit, baik secara medik, sosial maupun secara ekonomi (Novianne et al, 2015). Pengontrolan dan evaluasi dari manajemen rumah sakit sangat penting untuk masalah logistik obat- obatan, karena beberapa rumah sakit terkadang memiliki kendala meliputi fasilitas gudang farmasi dan instalasi farmasi yang belum memadai sehingga terjadi penumpukan obat. Pelaporan untuk pemusnahan dan penarikan obat-obatan yang sudah rusak maupun expired date harus dilakukan dengan standar yang telah ditetapkan, begitu pula untuk penerimaan dan penggunaan obat juga harus dilaporkan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Tujuannya agar administrasi

Referensi

Dokumen terkait

Itu dapat terlihat dari hasil penelusuran pustaka yang peneliti lakukan terhadap penelitian yang berkaitan dengan kontribusi sumber-sumber PAD dalam mendukung kemandirian

Banyak guru mengalami kesulitan dalam mengajar anak bagaimana memecahkan permasalahan (sering disebut soal cerita) sehingga banyak anak juga kesulitan

Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa praktik ibu dalam stimulasi perkembangan anak usia 2-3 tahun di Desa Podosoko Sawangan Magelang tahun 2012, responden

Front Office night report : Laporan rangkuman seluruh transaksi kamar, total tamu yang menginap, total kamar terjual, total tamu checkin, total tamu checkout dan informasi

Gaol, M.Si Doddy Wihardi, S.I.P, M.I.Kom Doddy Wihardi, S.I.P, M.I.Kom Jeanie Annissa, S.I.P, M.Si Jeanie Annissa, S.I.P, M.Si Muhammad Shaufi, M.Pd.I Muhammad Shaufi, M.Pd.I

(1) Hasil analisa kondisi sosial ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 dikecualikan bagi Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang telah

Pembahasan univariat berdasarkan penurunan skala nyeri pada tabel 4 skala nyeri sebelum dilakukan terapi diketahui dari responden total berjumlah 17 orang dengan

Gambar 4.11 Hasil Perhitungan Fk Pada Lokasi Pengamatan Dengan Perencanaan Dinding Penahan Dengan Menggunakan Software Slide 6.0