• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PENENTUAN BIAYA DAN TARIF LAYANAN (Studi Pada SMA Negeri di Kota Salatiga)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSES PENENTUAN BIAYA DAN TARIF LAYANAN (Studi Pada SMA Negeri di Kota Salatiga)"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

1 PROSES PENENTUAN BIAYA DAN TARIF LAYANAN

(Studi Pada SMA Negeri di Kota Salatiga)

Dhian Siwi Kusumaningtyas

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana [email protected]

PENDAHULUAN

Organisasi sektor publik telah mengalami perubahan manajemen yang semula terkesan kaku, birokratis dan hierarkis menjadi model manajemen sektor publik yang fleksibel dan lebih mengakomodasi pasar serta mengubah peran pemerintah dalam hubungan antara pemerintah dengan masyarakat. Paradigma tersebut merupakan pendekatan New Public Management (Mardiasmo 2002). New Public Management (NPM) dalam Groot dan Budding (2004) dinyatakan sebagai inovasi dari gaya dan teknik manajemen sektor swasta yang dikombinasikan dengan peningkatan penekanan pada permintaan pelanggan dan kualitas jasa yang disesuaikan dengan kebijakan tiap daerah. Penelitian Groot dan Budding (2004) menganalisis pengaruh praktek New Public Management terhadap keputusan pembiayaan produk dan penetapan tarif jasa pada kota-kota di Belanda. Hasil penelitian menunjukkan NPM berperan dalam akuntansi biaya dan mempengaruhi keputusan penetapan biaya dan tarif pada kota-kota di Belanda. NPM dilihat sebagai model yang disesuaikan dengan kondisi daerah tempat jasa diberikan untuk menentukan standar produk jasa tersebut.

New Public Management bertujuan untuk menjadikan sektor publik sebagai organisasi penyedia layanan publik yang efektif dan efisien (Subastian 2013). Disamping ekonomis, efektivitas dan efisiensi merupakan komponen dari value for money. Mardiasmo (2002) mengungkapkan ketiga komponen tersebut merupakan dasar pelaksanaan manajemen publik dewasa ini, yaitu ekonomis (hemat cermat) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya, efisien (berdaya guna) penggunaan sumber daya dalam arti penggunaan diminimalkan dan hasil dimaksimalkan, serta efektif (berhasil guna) dalam arti mencapai tujuan dan

(2)

2 sasaran. Prinsip value for money ini dapat diperkuat dengan implementasi akuntansi manajemen yang baik.

Salah satu komponen New Public Management (NPM) adalah pemecahan unit-unit kinerja di sektor publik atau dikenal dengan istilah desentralisasi (Hood 1995). Telah terjadi perubahan paradigma manajemen pendidikan di sekolah yang semula sentralistik yaitu diatur dan dikendalikan oleh pusat dan birokrasinya, kini menjadi pengelolaan yang desentralistik yaitu berdasar pada potensi atau kemampuan sekolah (Syaifudin 2007). Menurut Sujanto (2009), kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan oleh kantor wilayah atau dinas pendidikan, yang dapat didesentralisasikan di sekolah meliputi: a) perencanaan dan evaluasi program sekolah, b) pengelolaan kurikulum, c) pengelolaan proses belajar mengajar, d) pengelolaan ketenagaan, e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan dan f) pengelolaan biaya pendidikan.

Surat Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 186/MPN/KU/2008 Tahun 2008 menyatakan bahwa sejak Januari 2009 semua Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri harus membebaskan siswa dari biaya operasional sekolah, kecuali sekolah pada kategori Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Kebijakan ini tidak berlaku untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri, sehingga sampai saat ini SMA Negeri masih berkewenangan menarik tarif layanan berupa Sumbangan Operasional Pendidikan (SOP) yang terdiri dari iuran komite dan tabungan atau iuran lainnya, serta Sumbangan Pengembangan Institusi/Sumbangan Investasi Pendidikan (SPI/SIP) kepada orangtua atau wali siswa. Kota Salatiga memiliki 3 (tiga) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri yaitu SMA Negeri 1, SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3.

Ketiga SMA Negeri di Kota Salatiga mempunyai tarif layanan berbeda yang dibebankan kepada orang tua atau wali siswa. Kebutuhan SMA Negeri tersebut dalam melaksanakan kegiatan operasional dan penunjangnya berbeda, sehingga perbedaan tersebut menciptakan objek pembiayaan yang berbeda pula pada tiap- tiap sekolah. Sekolah dituntut membuat program sesuai kebutuhan dengan anggaran yang terbatas. Bastian (2006) mengatakan bahwa sekolah harus mengembangkan penerapan standar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan

(3)

3 yang dimiliki masing-masing sekolah, termasuk perhitungan dan pelaporan biaya.

Pelaporan biaya ini diharapkan menjadi dasar yang efektif bagi pertimbangan dan penilaian suatu entitas sekolah tertentu.

Sekolah merupakan entitas yang didukung oleh Pemerintah sebagai bentuk layanan publik dalam bidang pendidikan. Sebagai bentuk layanan publik, sekolah mempunyai Standar Pelayanan Minimal (SPM), seperti yang tertulis dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 129a/U/2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal menyebutkan bahwa Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan alat Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menjamin pemerataan akses dan mutu pelayanan dasar kepada masyarakat dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib. Kini, sekolah berpedoman pada 8 (Delapan) Standar Nasional Pendidikan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah diperbaharui pada tahun 2015.

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai entitas pendidikan, SMA Negeri perlu memberikan pelayanan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan SMA- SMA tersebut. Perlu dipastikan pula bahwa pembiayaan dan penentuan tarif layanan telah mencakup SNP yang diterapkan oleh sekolah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang bagaimana proses penentuan biaya dan tarif layanan publik, khususnya pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Salatiga secara ekonomis, efisien dan efektif (value for money) yang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan akuntansi manajemen dalam proses penentuan biaya dan tarif layanan publik pada masing-masing SMA Negeri di Kota Salatiga, dengan menggunakan pendekatan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah, kemudian menganalisis apakah penerapan konsep akuntansi manajemen tersebut telah mencerminkan prinsip value for money dalam proses penentuan biaya dan tarif layanan publik sekolah.

(4)

4 Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap ilmu akuntansi tentang bagaimana akuntansi manajemen diterapkan pada SMA Negeri terkait dengan penentuan biaya dan tarif layanan, yang didasarkan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) masing-masing sekolah. Dengan penelitian ini, pihak Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri mendapatkan referensi tentang penentuan biaya dan tarif layanan. Bagi pemerintah, penelitian dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan atau perubahan kebijakan terkait dengan penentuan biaya dan tarif layanan, serta sarana pemahaman bagi masyarakat, bagaimana biaya dan tarif layanan sekolah ditetapkan.

TINJAUAN PUSTAKA

New Public Management dalam Sektor Publik

Mardiasmo (2002) mengemukakan bahwa New Public Management merupakan paradigma baru dalam manajemen sektor publik yang fleksibel dan lebih mengakomodasi pasar. Dalam pelaksanaannya New Public Management menerapkan prinsip desentralisasi (Hood 1995). New Public Management mendorong reformasi dalam manajemen sektor publik seperti pembaharuan sistem keuangan agar pengelolaan uang rakyat dilakukan secara transparan dengan mendasarkan konsep value for money sehingga tercipta akuntabilitas publik (Sa’ud dan Makmun 2005). Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu:

1. Ekonomi

Ekonomi merupakan pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga terendah. Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalisir input resources yang digunakan, yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif (Mardiasmo 2002).

2. Efisiensi

Efisiensi merupakan pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input terendah untuk mencapai output tertentu, yang dinyatakan melalui perbandingan output dan input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.

(5)

5 3. Efektivitas

Efektivitas merupakan tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan yang dinyatakan melalui perbandingan antara outcome dengan output.

Input, output dan outcome dalam value for money dijelaskan sebagai berikut:

1. Input

Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kebijakan, program dan aktivitas. Input dinyatakan secara kuantitatif atau dapat pula dinyatakan dengan nilai uang. Dalam dunia pendidikan, Nordiawan (2010) mengemukakan input yang dinyatakan dengan nilai uang sebagai input primer berupa kas dan input yang dinyatakan secara kuantitatif sebagai input sekunder berupa guru, sarana dan prasarana, alat habis pakai dan lainnya yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Input primer dapat diubah menjadi input sekunder, untuk menunjukkan berapa input primer yang diperlukan untuk membeli sumber daya input sekunder.

Sedangkan Mulyasa (2009) menyatakan bahwa indikator input meliputi karakteristik guru, fasilitas, perlengkapan dan materi pendidikan serta kapasitas manajemen.

2. Output

Output merupakan hasil yang dicapai dari suatu program, aktivitas dan kebijakan. Output menurut Mulyasa (2009) merupakan hasil-hasil dalam bentuk perolehan peserta didik dan dinamikanya sistem sekolah, hasil-hasil yang berhubungan dengan prestasi belajar dan hasil-hasil yang berhubungan dengan perubahan sikap, serta hasil- hasil yang berhubungan dengan keadilan dan kesamaan.

3. Outcome

Outcome merupakan dampak yang ditimbulkan dari suatu aktivitas tertentu. Dalam penentuan outcome sangat perlu untuk

(6)

6 mempertimbangkan dimensi kualitas. Mulyasa (2009) menyatakan indikator outcome meliputi jumlah lulusan ke tingkat pendidikan berikutnya, prestasi belajar di sekolah yang lebih tinggi dan pekerjaan, serta pendapatan.

Menurut Mardiasmo (2002), value for money dapat tercapai apabila organisasi telah menggunakan biaya input paling kecil untuk mencapai output yang optimum dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Sebagai jaminan dialokasikannya sumber daya input secara ekonomis, efisien dan efektif, maka diperlukan informasi akuntansi manajemen yang akurat, relevan dan handal untuk menghitung besarnya biaya program, aktivitas atau proyek.

Value for money dapat tercipta ketika dalam organisasi menggunakan analisis biaya dan manfaat (cost and benefit analysis) dalam menentukan perencanaan program beserta anggaran biaya yang akan dikeluarkan untuk merealisasikan program tersebut. Perencanaan yang efektif dapat tercipta bila hasil atau manfaatnya lebih besar dari biaya perencanaan dan implementasinya (Handoko 1995).

Peranan Akuntansi Manajemen dalam Organisasi Sektor Publik

Mardiasmo (2002) menyatakan peran utama akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik adalah memberi informasi akuntansi yang relevan dan handal kepada manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Peran akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik meliputi:

1. Perencanaan strategik

Pada tahap perencanaan strategik, manajemen organisasi membuat beberapa alternatif program yang dapat mendukung strategi organisasi, kemudian program tersebut akan diseleksi dan dipilih yang sesuai dengan skala prioritas dan sumber daya yang dimiliki. Akuntansi manajemen berperan memberikan informasi dalam menentukan biaya program dan biaya suatu aktivitas, sehingga melalui informasi tersebut dapat dijadikan dasar oleh manajer dalam menentukan anggaran yang dibutuhkan, dikaitkan dengan sumber daya yang dimiliki. Akuntansi manajemen sektor publik sangat erat dengan proses pemilihan program, penentuan biaya dan

(7)

7 manfaat program serta penganggaran dan berfungsi memfasilitasi dihasilkannya anggaran sektor publik yang efektif, efisien dan ekonomis.

Sallis (2012) menyatakan perencanaan strategis memungkinkan formulasi prioritas-prioritas jangka panjang dan perubahan institusional berdasarkan pertimbangan rasional.

2. Pemberian informasi biaya

Biaya (cost) dalam konteks organisasi sektor publik, dikategorikan sebagai:

a. Biaya input, merupakan sumber daya yang dikorbankan untuk memberikan pelayanan. Biaya input bisa berupa biaya tenaga kerja dan biaya bahan baku.

b. Biaya output, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mengantarkan produk hingga sampai ke tangan pelanggan.

c. Biaya proses, diukur dengan mempertimbangkan fungsi organisasi, seperti biaya departemen dan biaya dinas.

Peran akuntansi manajemen dalam pemberian informasi biaya meliputi klasifikasi biaya. Proses penentuan biaya terdiri dari 5 (lima) tahap aktivitas, yaitu:

a. Cost Finding, pemerintah atau organisasi sektor publik mengakumulasi data mengenai biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau jasa pelayanan.

b. Cost Recording, meliputi kegiatan pencatatan data ke dalam sistem akuntansi organisasi.

c. Cost Analyzing, mengidentifikasi jenis dan perilaku biaya, perubahan biaya dan volume kegiatan. Manajemen organisasi harus dapat menentukan pemicu biaya (cost driver) agar dapat dilakukan strategi efisiensi biaya.

d. Strategic Cost Reduction, menentukan strategi penghematan biaya agar tercapai value for money. Pendekatan strategik dalam pengurangan biaya (manajemen biaya strategik) memiliki karakteristik sebagai berikut:

 Berjangka panjang

(8)

8

 Berdasarkan kultur perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) dan berfokus pada pelayanan masyarakat.

 Manajemen harus bersifat proaktif dalam melakukan penghematan biaya.

 Keseriusan manajemen puncak merupakan penentu efektivitas program pengurangan biaya, karena pada dasarnya manajemen biaya strategik merupakan tone from the top.

e. Cost Reporting, merupakan pemberian informasi biaya secara lengkap kepada pimpinan dalam bentuk internal report yang kemudian dikumpulkan ke dalam satu laporan yang akan disampaikan kepada pihak eksternal.

3. Penilaian investasi

Akuntansi manajemen diperlukan dalam penilaian investasi. Untuk dapat menilai investasi, diperlukan identifikasi biaya, risiko dan manfaat atau keuntungan dari suatu investasi. Penilaian investasi dalam organisasi dilakukan dengan menggunakan analisis biaya manfaat (cost benefit analysis), namun pada kenyataannya penilaian sulit dilakukan. Untuk memudahkan, kemudian digunakan analisis efektivitas biaya (cost- effectiveness analysis). Penilaian investasi dengan menggunakan analisis efektivitas biaya menekankan seberapa besar dampak (outcome) yang dicapai dari suatu proyek atau investasi dengan biaya tertentu.

4. Penganggaran

Akuntansi manajemen memiliki peran untuk memfasilitasi terciptanya anggaran publik yang efektif. Terkait dengan tiga fungsi anggaran, yaitu sebagai alat alokasi sumber daya publik, alat distribusi dan stabilisasi, maka akuntansi manajemen merupakan alat yang vital untuk proses pengalokasian dan pendistribusian sumber dana publik secara ekonomis, efisien, adil dan merata.

(9)

9 5. Penentuan biaya pelayanan (cost of services) dan penentuan tarif layanan

(charging for services)

Akuntansi manajemen digunakan untuk menentukan berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk memberikan pelayanan tertentu dan berapa tarif yang akan dibebankan kepada pemakai jasa pelayanan publik, termasuk menghitung subsidi yang diberikan. Penentuan biaya pelayanan dan penentuan tarif layanan merupakan satu rangkaian yang keduanya membutuhkan informasi akuntansi. Dengan informasi akuntansi manajemen, sumber-sumber in-efisiensi organisasi dapat dideteksi dan dihilangkan.

6. Penilaian kinerja

Penilaian kinerja yang merupakan bagian dari pengendalian, dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Akuntansi manajemen berperan dalam pembuatan indikator kinerja kunci (key performance indicator) dan satuan ukur untuk masing-masing aktivitas yang dilakukan.

Penelitian ini berfokus pada peran akuntansi manajemen dalam penentuan biaya dan tarif layanan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri, dimana dalam menentukan biaya dan tarif layanan tersebut, tidak terlepas dari peran akuntansi manajemen lainnya.

Tarif layanan dapat ditentukan setelah total biaya ditentukan. Salah satu cara untuk menentukan biaya adalah dengan menggunakan target costing. Target cost merupakan perbedaan antara harga jual yang dibutuhkan untuk mencapai pangsa pasar yang diproyeksikan dan laba per unit yang diinginkan (Hansen dan Mowen 2011). Mulyadi (2003) mendefinisikan target costing sebagai suatu metode penentuan biaya produk atau jasa yang didasarkan pada harga (target price) yang diperkirakan dapat diterima oleh konsumen. Sejalan dengan hal tersebut, Mahmudi (2010) menyatakan dalam penentuan tarif pelayanan publik terdapat metode target pricing yaitu penentuan harga barang atau pelayanan publik yang sudah ditentukan terlebih dahulu, sehingga biayanya harus ditekan melalui efisiensi.

(10)

10 Mahmudi (2010) menyatakan sekolah sebagai salah satu organisasi sektor publik memiliki karakteristik yaitu tidak adanya motif mengejar laba, namun memaksimalkan pelayanan publik dalam rangka kesejahteraan sosial.

Untuk memberikan pelayan publik yang berkualitas diperlukan biaya, oleh karena itu pemerintah dibenarkan untuk memungut tarif layanan, bukan untuk mengejar surplus namun sebagai pemulihan biaya (cost recovery) penyedia layanan. Prinsip cost recovery dalam menentukan penetapan harga pelayanan publik perlu mempertimbangkan keadilan dan kemampuan masyarakat dalam membayar.

Subsidized Cost Pricing merupakan penentuan harga jual dengan mempertimbangkan seluruh biaya dikurangi dengan subsidi yang diberikan (Mahmudi 2010). Sekolah sebagai unit pelayanan pendidikan mendapatkan subsidi dari pemerintah melalui pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sehingga tarif yang dibebankan kepada masyarakat dikurangi dengan subsidi tersebut terlebih dahulu.

Penentuan Biaya dan Tarif Layanan pada Sekolah Menengah Atas Biaya pada Sekolah Menengah Atas Negeri

Biaya (cost) merupakan nilai kas atau setara kas yang digunakan untuk memperoleh barang dan jasa yang diperkirakan untuk membawa manfaat di masa sekarang atau masa depan pada organisasi (Hansen dan Mowen 2011). Sedangkan Bastian (2007) mendefinisikan biaya sebagai suatu bentuk pengorbanan ekonomis yang dilakukan untuk mencapai tujuan entitas. Biaya merupakan cerminan aktivitas yang dilakukan entitas bersangkutan, sehingga rincian biaya merupakan rincian aktivitas dan prasarana pendukung aktivitas yang dibutuhkan. Biaya dikelompokkan berdasarkan sifatnya menjadi dua, yaitu (1) Biaya langsung, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai hasil dan tujuan suatu organisasi dan (2) Biaya tidak langsung, merupakan komponen biaya penunjang dari biaya langsung.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan Pasal 3 dicantumkan bahwa biaya pendidikan meliputi (1) Biaya satuan pendidikan, terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, bantuan biaya pendidikan dan beasiswa. Biaya investasi terdiri atas

(11)

11 biaya investasi lahan dan biaya investasi selain lahan pendidikan, biaya operasi terdiri dari biaya personalia dan nonpersonalia, (2) Biaya penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan, meliputi biaya investasi dan biaya operasi. Biaya investasi terdiri dari biaya investasi lahan pendidikan dan biaya investasi selain lahan pendidikan. Biaya operasi terdiri dari (a) Biaya personalia satuan pendidikan, yang terdiri dari gaji pokok bagi pegawai pada satuan pendidikan dan berbagai macam tunjangan seperti tunjangan struktural, tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan khusus dan tunjangan tambahan, (b) Biaya personalia penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan, yang terdiri atas gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan struktural bagi pejabat struktural dan tunjangan fungsional bagi pejabat fungsional dan (c) Biaya non personalia satuan pendidikan, serta (3) Biaya pribadi peserta didik. Mulyasa (2009), membagi dimensi pengeluaran di sekolah menjadi dua yaitu biaya rutin yaitu biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun, meliputi gaji pegawai, biaya operasional, biaya pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat- alat pelajaran habis pakai, serta biaya pembangunan seperti biaya pembelian atau pengembangan tanah, pembangunan atau perbaikan gedung, serta biaya atau pengeluaran lain untuk barang-barang tidak habis pakai.

Biaya-biaya yang dikeluarkan tiap sekolah dalam jenjang yang sama dapat berbeda satu sama lain, hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti sistem pendidikan, tujuan pendidikan, pendekatan yang digunakan, serta materi yang disajikan (Arikunto dan Yuliana 2012).

Sekolah diminta memperkirakan biaya-biaya yang akan muncul dalam mendukung terlaksananya program-program yang ditetapkan. Sekolah juga perlu memperhatikan sumber pemasukan yang akan digunakan untuk mendanai biaya-biaya tersebut. Biaya-biaya pendidikan tidak semuanya dibebankan kepada siswa, tetapi terdapat beberapa biaya yang didanai oleh masyarakat, Pemerintah Pusat maupun Daerah seperti yang tercantum dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Petunjuk Teknis dan Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SMA Tahun 2016, disampaikan bahwa

(12)

12 beberapa komponen biaya operasional non personalia, seperti biaya pengadaan buku pelajaran dan buku bacaan, pembiayaan pengelolaan sekolah, serta pengadaan alat habis pakai praktikum pembelajaran, dibiayai oleh BOS. Sedangkan biaya personalia berupa gaji dan tunjangan pengajar serta karyawan yang telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), langsung dibayarkan oleh Pemerintah (UU No 20 Tahun 2003, Sujanto 2009).

Sujanto (2009) mengemukakan bahwa proses pengelolaan dan pengalokasian biaya pendidikan ini dimulai dari perencanaan biaya yakni penetapan jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan oleh sekolah dan perkiraan besaran biaya setiap kegiatan. Setelah jenis-jenis kegiatan ditetapkan dan perkiraan jumlah biaya yang dibutuhkan, maka langkah selanjutnya adalah memilih sumber-sumber dana yang memungkinkan untuk digali dan ditetapkan sebagai sumber dana pendidikan. Hal ini menjadi tantangan bagi sekolah untuk mewujudkan program-program yang telah ditetapkan dengan sumber dana yang terbatas. Kepala sekolah harus memikirkan dan merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan di waktu mendatang, kemudian merencanakan langkah-langkah operasional yang mungkin dilakukan sesuai dengan sumber dana dan daya yang tersedia.

Tarif Layanan pada Sekolah Menengah Atas Negeri

Sumber pendanaan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) berasal dari pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat (PP No.

48/2008). Sumber dana dari Pemerintah Pusat berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang digunakan untuk membiayai pengeluaran operasional non personalia. Sedangkan pemerintah daerah mengalokasikan pendanaan pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Selain itu pendanaan bersumber dari masyarakat yaitu orang tua atau wali murid yang memberikan Sumbangan Operasional Pendidikan (SOP) dan Sumbangan Pengembangan Institusi/Sumbangan Investasi Pendidikan (SPI/SIP).

Asmani (2012) menyatakan manajemen dana pendidikan dimulai dari pembuatan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah

(13)

13 (RAPBS) yang disusun sekolah dengan memanfaatkan dana yang tersedia dan diproyeksikan akan diterima secara rutin dari pemerintah. Kekurangan dana yang dialokasikan dari dana yang diterima dari pemerintah didiskusikan dengan dewan sekolah dan pihak orang tua untuk menutupi kekurangannya. Sekolah dapat merancang berbagai alternatif besarnya biaya yang ditawarkan kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa memilih sesuai dengan kesanggupannya. Kartikasari (2010) menyatakan bahwa RAPBS kini menggunakan istilah Rancangan Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).

Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) adalah sumbangan untuk keperluan penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan yang dikenakan kepada wajib bayar yaitu orang tua kandung, orang tua tiri atau angkat atau wali siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah menengah, dibayar secara bulanan selama 12 bulan dalam satu tahun. Besarnya uang SPP tidak didasarkan atas kemampuan wajib bayar secara perseorangan tetapi kemampuan rata-rata wajib bayar tersebut dan dinyatakan dalam bentuk kategori (Arikunto dan Yuliana 2012). Saat ini SPP dikenal sebagai Sumbangan Operasional Pendidikan (SOP) yang terdiri dari iuran komite dan tabungan atau iuran lainnya.

Standar Pelayanan Minimal

Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan alat Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk menjamin pemerataan akses dan mutu pelayanan dasar kepada masyarakat dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib. SPM bersifat sederhana, konkrit, mudah diukur, terbuka, terjangkau dan dapat dipertanggungjawabkan serta mempunyai batas waktu pencapaian. SPM disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, prioritas dan kemampuan keuangan nasional, daerah dan kelembagaan bidang yang bersangkutan (PP No.65/2005).

Pada tahun 2004, Kementerian Pendidikan telah mengeluarkan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan yang tercantum pada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 129a/U/2004 yang di dalamnya telah mengatur SPM untuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama

(14)

14 (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta pendidikan lain. Pada tahun 2010 dan 2013, terdapat amandemen pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan namun hanya pada pendidikan dasar saja yaitu SD dan SMP/MTs (Permendikbud no. 23/2013).

Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa Standar Nasional Pendidikan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang dilansir dalam website resmi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), “Delapan Standar Nasional Pendidikan” terdiri dari: (1) Standar Kompetensi Lulusan, (2) Standar Isi, (3) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (4) Standar Pengelolaan, (5) Standar Penilaian, (6) Standar Sarana dan Prasarana, (7) Standar Proses dan (8) Standar Biaya.

Fungsi dan Tujuan Standar:

Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu

Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.

Penentuan Tarif Layanan yang Telah Memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) memiliki komponen pembiayaan yang berbeda-beda didasarkan pada kegiatan operasional dan investasi dari masing-masing SMAN. Setiap rancangan kegiatan dan penganggarannya selama satu tahun ajaran dituangkan dalam Rancangan Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).

(15)

15 Sebagai entitas pelayanan publik di bidang pendidikan, dalam membuat Rancangan Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) sekolah harus mendasarkan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diterapkan oleh masing-masing sekolah, yang nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan tarif layanan.

Standar Pelayanan Minimal Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Salatiga mengacu pada Standar Nasional Pendidikan sehingga dalam penyusunan RKAS, program-program dan belanja sekolah disesuaikan dengan Delapan Komponen Standar Nasional Pendidikan.

Tabel 1

Matriks Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah

No.

Kode Uraian Kegiatan Jumlah

Penggunaan dana per sumber dana Rutin

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Bantuan Lain

Sumber Pendapatan

Lainnya Pusat Provinsi Kab/Kota

A Penerimaan terdiri dari:

Total Penerimaan B Penggunaan Dana:

I Program Sekolah 1

Pengembangan Kompetensi Lulusan 2 Pengembangan

Standar Isi 3 Pengembangan

Standar Proses

4

Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan 5

Pengembangan Sarana dan Prasarana Sekolah 6

Pengembangan Standar Pengelolaan 7

Pengembangan Standar Pembiayaan 8

Pengembangan dan Implementasi Sistem Penilaian Total Penggunaan Dana

Sumber: Data Internal Sekolah, 2016

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM), disampaikan bahwa SPM disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, prioritas dan kemampuan

(16)

16 keuangan nasional, daerah dan kelembagaan bidang yang bersangkutan, sehingga SPM yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah, akan menghasilkan komponen biaya yang bervariasi. Dengan komponen biaya yang bervariasi tersebut, peneliti perlu melihat biaya apa saja yang timbul dan dengan sumber pendanaan apa biaya tersebut akan didanai. Hal ini diperlukan untuk melihat iuran komite yang akan ditentukan, karena pada komponen biaya tertentu, seperti beberapa komponen biaya non personalia akan didanai oleh Pemerintah Pusat, seperti yang tertulis dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 69 tahun 2009 tentang Standar Biaya. Besaran tarif layanan yang dibebankan kepada orang tua/wali siswa yaitu iuran komite dan Sumbangan Pengembangan Institusi/Sumbangan Investasi Pendidikan diperoleh dari total semua biaya yang telah dikurangi oleh pendanaan dari Pemerintah Pusat maupun Daerah.

METODA PENELITIAN

Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif deskriptif, dimana penelitian menggambarkan Implementasi Penentuan Biaya dan Tarif Layanan pada SMA Negeri di Kota Salatiga. Penelitian dilakukan di 3 (tiga) SMA Negeri yang ada di Kota Salatiga yaitu SMA Negeri 1, SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3.

Tabel 2 Objek Penelitian

Sumber: Data Primer, 2016

Data penelitian menggunakan data primer berupa informasi mengenai proses penentuan biaya dan tarif layanan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Salatiga, yang diperoleh dari wawancara mendalam kepada pihak-pihak yang berkepentingan seperti Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Bendahara Sekolah. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumen pendukung berupa komponen program atau kegiatan dalam Rancangan Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) masing-masing sekolah.

No Nama Sekolah Alamat

1 SMA Negeri 1 Jalan Kemiri No. 1 Salatiga 2 SMA Negeri 2 Jalan Tegalrejo No. 79 Salatiga 3 SMA Negeri 3 Jalan Kartini No. 34 Salatiga

(17)

17 Tahap Penelitian

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:

a. Tahap pertama

Peneliti melakukan wawancara kepada pihak yang ditunjuk oleh SMAN, seperti Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Bendahara Sekolah, untuk mengetahui proses penentuan biaya dan tarif layanan melalui pembentukan Rancangan Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) beserta pertimbangan-pertimbangannya.

b. Tahap kedua

Peneliti mendeskripsikan dan menganalisis penerapan value for money dalam penentuan biaya dan tarif layanan pada masing-masing SMA Negeri.

Tahap Analisis

Tahapan analisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi proses serta pertimbangan-pertimbangan pada penentuan tarif layanan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Salatiga.

b. Mengidentifikasi manfaat yang ingin diberikan oleh masing- masing sekolah kepada siswanya.

c. Mengidentifikasi input, output, serta outcome yang menjadi dasar pengukuran value for money dalam penentuan tarif layanan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Salatiga.

d. Mengidentifikasi komponen value for money yaitu ekonomi, efisien dan efektif dalam penentuan biaya dan tarif layanan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Salatiga.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum SMA Negeri 1 Salatiga

Berawal dari pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Salatiga di bidang pendidikan, maka pada 1 Juli 1954 oleh beberapa tokoh peduli pendidikan yang berada dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Salatiga, didirikan Yayasan SMA B Salatiga (Program Ilmu

(18)

18 Alam) sebagai sekolah swasta di Salatiga. Setelah semua persyaratan terpenuhi, berdirilah SMA B pada 1 Agustus 1954. SMA B Salatiga kemudian diperjuangkan untuk menjadi Sekolah Negeri dengan pertimbangan bahwa sebagai Kotapraja, Salatiga belum memiliki Sekolah Negeri. Melalui konsolidasi kepada Pejabat Negara yang saat itu berkunjung ke Salatiga, maka pada tanggal 1 Agustus 1956, SMA B Salatiga resmi menjadi SMA Negeri 1 Salatiga. SMA Negeri 1 Salatiga telah memiliki banyak prestasi baik nasional maupun internasional dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak termasuk sekolah-sekolah di luar negeri (sisters schools). Mulai tahun pelajaran 2016/2017, SMA Negeri 1 Salatiga ditunjuk oleh Kementerian Pendidikan Indonesia sebagai Sekolah Rujukan.

Saat ini SMA Negeri 1 Salatiga menggunakan kurikulum 2013 yang memberi kesempatan siswanya untuk memilih jurusan yang diminati melalui tes bakat dan minat sesaat setelah siswa tersebut dinyatakan diterima di sekolah.

SMA Negeri 1 Salatiga juga menerapkan sistem kredit semester (SKS) sebagai sistem pembelajarannya sejak tahun ajaran 2012/2013. SKS memungkinkan siswa dapat lulus lebih cepat, siswa-siswa yang tergabung dalam kelas percepatan (akselerasi) dapat lulus dalam kurun waktu 2 (dua) tahun. Berikut merupakan informasi mengenai jumlah siswa SMA Negeri 1 Salatiga Tahun Pelajaran 2016/2017:

Tabel 3

Data Jumlah Siswa SMA Negeri 1 Salatiga Tahun Pelajaran 2016/2017

No Program Pengajaran

Kelas X Kelas XI Kelas XII Jumlah

Rombel* Siswa Rombel Siswa Rombel Siswa Rombel Siswa

1 Percepatan

(akselerasi) 1 23 1 29 - - 2 52

2 MIPA 9 221 7 190 10 254 26 665

3 IPS 2 47 3 70 3 60 8 177

4 Bahasa 1 18 1 26 1 8 3 52

Jumlah 13 309 12 315 14 322 39 946

Sumber: Buku Profil SMA Negeri 1 Salatiga, 2017

*ket: Rombel = Rombongan Belajar

(19)

19 Berikut merupakan data jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang bekerja di SMA Negeri 1 Salatiga.

Tabel 4

Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMA Negeri 1 Salatiga

No Guru/Staf Jumlah Keterangan

1 Guru Tetap PNS 70

2 Guru Tidak Tetap (Non PNS) 14

3 Guru PNS Dipekerjakan 1 Mengajar di Sekolah Indonesia di Moskow, Rusia

4 Tenaga Kependidikan (PNS) 5 5 Tenaga Kependidikan (Non

PNS) 19

Jumlah 109

Sumber: Buku Profil SMA Negeri 1 Salatiga, 2017

SMA Negeri 1 Salatiga membentuk visi, misi dan tujuan yang mengacu pada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang nantinya akan menjadi dasar dalam pembuatan program-program di sekolah tersebut. Berikut merupakan visi, misi dan tujuan SMA Negeri 1 Salatiga yang berlaku pada Tahun Pelajaran 2016/2017.

Tabel 5

Visi, Misi dan Tujuan SMA Negeri 1 Salatiga Visi

Beriman, berkarakter, berbudaya, berdaya saing dan berwawasan lingkungan.

Misi

 mewujudkan insan yang bertaqwa melalui pendidikan dengan melaksanakan ajaran agama,

 mewujudkan insan berakhlak mulia melalui keteladanan

 Mewujudkan insan berkarakter melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler dan kegiatan organisasi sekolah

 Mewujudkan insan yang gemar meneliti dan cinta lingkungan

 mewujudkan insan yang menjunjung tinggi kebersamaan, kekeluargaan dan kegotongroyongan

 Mewujudkan insan yang aktif, kreatif, inovatif dan kompetitif secara nasional dan internasional

 Mewujudkan insan yang berperilaku hidup bersih dan sehat

 Mewujudkan insan yang peduli dan berupaya dalam pengelolaan lingkungan hidup Tujuan

 Mampu melaksanakan Kurikulum 2013 dan Program Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI)

 Mampu memperoleh medali dalam olimpiade Matematika, Sains dan prestasi non akademik tingkat Nasional dan Internasional

 Mampu melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan inovatif untuk semua mata pelajaran

 Mampu memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional

 Mampu memiliki sarana prasarana pembelajaran yang memadai serta berbasis Information Communication Technology (ICT)

 Mampu memiliki layanan manajemen berbasis Information Communication Technology (ICT) dan manajemen mutu ISO 9001 tahun 2008

 Mampu menjalin kerjasama dengan stakeholder untuk menggali dana yang memadai,

(20)

20 Tujuan

 Wajar dan berkeadilan untuk meningkatkan kemajuan sekolah

 Mampu memiliki perangkat penilaian yang relevan

 Mampu mewujudkan nilai-nilai keagamaan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya global sesuai jati diri bangsa

 Mampu berperilaku hidup bersih dan sehat

 Mampu mengelola lingkungan dan mengendalikan pencemaran lingkungan

 Mampu memiliki lingkungan yang hijau, bersih, indah dan nyaman.

Sumber: Data Internal Sekolah, 2016

SMA Negeri 1 Salatiga dipimpin oleh Kepala Sekolah dengan dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah yang terbagi dalam beberapa bidang. Kepala Sekolah berkoordinasi dengan Komite dalam penentuan kebijakan sekolah termasuk dalam penentuan biaya dan tarif layanan. Berikut merupakan struktur organisasi yang diterapkan SMA Negeri 1 Salatiga.

Gambar 1

Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Salatiga

Berikut merupakan sedikit dari banyak prestasi yang telah berhasil diraih oleh SMA Negeri 1 Salatiga dalam berbagai tingkat:

Koordinator Tata Usaha Kepala Sekolah

Wakil Manajemen Mutu

Komite

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan

Masyarakat

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana

Prasarana

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan

Guru / Wali Kelas Urusan Pengendali Dokumen

(21)

21 Tabel 6

Daftar Prestasi SMA Negeri 1 Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2016-2017

No Prestasi Tingkat Waktu

Perolehan 1 Juara I Lomba Paduan Suara Komsos Kreatif

KODIM 0714 Salatiga

Kota Agustus 2016 2 Juara 1 Anchor Competition CEC Festival IAIN

Salatiga 2016

Kota Oktober 2016 3 Juara 1 Speech Competition CEC Festival IAIN

Salatiga 2016

Kota Oktober 2016 4 Juara I Lomba Kamisibhai di UNDIP Jawa

Tengah

Oktober 2016 5 Juara II Lomba Paduan Suara Makodam Karesidenan Oktober 2016

6 Juara II LCC Kebumian di UGM Oktober 2016

7 Juara I Lomba Video Edukasi Publik UNS Oktober 2016 8 Juara I Lomba Nasyid dalam Festival Seni dan Sains

Islami III UNISSULA

November 2016 Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

Gambaran Umum SMA Negeri 2 Salatiga

SMA Negeri 2 Salatiga berdiri sejak tahun 1983, merupakan SMA Negeri tertua kedua di Salatiga. SMA Negeri 2 pada awalnya bertempat di gedung SMA Negeri 1 Salatiga sampai kemudian pada tahun 1984 memulai pembangunan di Jalan Tegalrejo Raya No. 79. Setelah menempati gedung sekolah sendiri walaupun baru 3 kelas, SMA Negeri 2 Salatiga terus mengalami perkembangan baik mengenai jumlah siswa, guru maupun prestasinya.

Saat ini SMA Negeri 2 Salatiga menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006. Pada tahun 2013, SMA Negeri 2 Salatiga memperoleh predikat Sekolah Adiwiyata (Berwawasan Lingkungan) Tingkat Jawa Tengah, kemudian pada tahun 2016, SMA Negeri 2 Salatiga telah memperoleh predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Perolehan predikat ini tidak terlepas dari kerja sama seluruh warga sekolah termasuk guru, karyawan dan siswa. Berikut merupakan data jumlah siswa SMA Negeri 2 Salatiga.

Tabel 7

Data Jumlah Siswa SMA Negeri 2 Salatiga Tahun Pelajaran 2016-2017 No Program

Pengajaran

Kelas X Kelas XI Kelas XII Jumlah

Rombel* Siswa Rombel Siswa Rombel Siswa Rombel Siswa

1 Umum 11 351 - - - - 11 351

2 IPA - - 5 146 4 114 9 260

3 IPS - - 5 148 6 167 11 315

4 Bahasa - - 1 16 1 25 2 41

Jumlah 11 351 11 310 11 306 33 967

Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

*ket: Rombel = Rombongan Belajar

(22)

22 Berikut merupakan data jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang bekerja di SMA Negeri 2 Salatiga.

Tabel 8

Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMA Negeri 2 Salatiga

No Guru/Staff Jumlah Keterangan

1 Guru Tetap (PNS) 49

2 Guru Tidak Tetap (Non PNS) 10

3 Guru Luar 5 Guru Tetap (PNS) dari sekolah lain yang mengajar untuk memenuhi jam mengajar.

4 Tenaga Kependidikan (PNS) 6 5 Tenaga Kependidikan

(Non PNS) 14

Jumlah 84

Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

SMA Negeri 2 Salatiga membentuk visi, misi dan tujuan yang mengacu pada delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang nantinya akan menjadi dasar dalam pembuatan program-program di sekolah tersebut. Berikut merupakan visi, misi dan tujuan SMA Negeri 2 Salatiga yang berlaku pada Tahun Pelajaran 2016/2017.

Tabel 9

Visi, Misi dan Tujuan SMA Negeri 2 Salatiga Visi

Bertaqwa, berkarakter, berwawasan Lingkungan dan berdaya saing di era global.

Misi

 Mewujudkan insan yang beriman dan bertaqwa

 Menerapkan peraturan sekolah secara konsisten

 Menciptakan sekolah yang berbudaya literasi

 Meningkatkan rasa cinta tanah air

 Melibatkan orang tua/wali untuk menciptakan peserta didik yang berkarakter

 Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menumbuhkan rasa kepedulian sosial pada peserta didik

 Menciptakan budaya sekolah yang mencintai lingkungan

 Melaksanakan kegiatan akademik dan non akademik sebagai wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi diri secara optimal

 Mengadakan koordinasi dengan orang tua, masyarakat, perguruan tinggi dan instansi pemerintah maupun swasta

 Mampu bersaing di era global.

Tujuan

 Menjaga kerukunan antar umat beragama di lingkungan sekolah

 Membiasakan ibadah sebelum proses kegiatan belajar mengajar

 Membudayakan 7 S (Senyum, salam, sapa, Sopan, Santun, Silaturohim, Sedekah)

 Menciptakan kedisiplinan, budi pekerti dan kepedulian sosial untuk seluruh warga sekolah

 Menjalin kerjasama sekolah dengan stakeholder,

 Mewujudkan kepedulian lingkungan bagi warga sekolah

 Mewujudkan kegiatan belajar mengajar efektif dan efisien

 Mencetak lulusan yang memiliki kecakapan hidup

(23)

23 Tujuan

 Membentuk sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing di era global

 Mewujudkan stakeholder yang mampu bersaing secara Nasional dan Internasional.

Sumber: Data Internal Sekolah, 2016

SMA Negeri 2 Salatiga dipimpin oleh Kepala Sekolah dengan dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah yang terbagi dalam beberapa bidang. Pembagian bidang di SMA Negeri 2 ini serupa dengan pembagian bidang di SMA Negeri 1 Salatiga. Kepala Sekolah berkoordinasi dengan Komite dalam penentuan kebijakan di sekolah termasuk dalam penentuan biaya dan tarif layanan. Berikut merupakan struktur organisasi yang diterapkan di SMA Negeri 2 Salatiga.

Gambar 2

Struktur Organisasi SMA Negeri 2 Salatiga

Banyak prestasi telah ditorehkan SMA Negeri 2 Salatiga, berikut merupakan rekapan prestasi yang diperoleh dalam Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017:

Koordinator Tata Usaha

Wali Kelas Wakil Kepala Sekolah Bagian Manajemen Mutu

Kepala Sekolah Komite

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana

Prasarana

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan

Masyarakat

Dewan Guru Koordinator Bimbingan

dan Konseling

(24)

24 Tabel 10

Daftar Prestasi SMA Negeri 2 Salatiga Semester 1 Tahun Pelajaran 2016-2017

No Prestasi Tingkat Waktu

Perolehan 1 Juara 3 Lomba Diversifikasi Pangan Science Tech Award Provinsi Oktober 2016 2 Juara 3 Lomba Peneliti Belia Bidang Komputer Provinsi November

2016 3 Juara 2 Lomba Peneliti Belia Bidang Matematika Provinsi November

2016 4 Penampilan Terbaik 2 Festival Olah Raga Tradisional Bagi

Pelajar

Kota November 2016

5 Juara 1 Lomba Sesorah/Pidato Putra Kota November

2016 6 Grand Finalist Lomba Peneliti Belia Bidang Komputer Nasional November

2016 7 Juara 2 Kelas 50 kg Gaya Bebas Putra Kejuaraan Daerah

Gulat Senior “Gubernur Cup”

Provinsi November 2016

8 Juara 3 Olimpiade Bahasa Jerman Provinsi November

2016 9 Juara 2 Kejuaraan Menembak Kota Semarang Provinsi Desember

2016 10 Juara 2 Kejuaraan Menembak Remaja Jawa Tengah Provinsi Desember

2016 11 Juara 3 Kelas 46 kg Gaya Bebas Putra Kejuaran Daerah

Gulat Yunior “Piala Kajati” Provinsi Desember

2016 Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

Gambaran Umum SMA Negeri 3 Salatiga

Sejarah berdirinya SMA Negeri 3 Salatiga bermula pada jaman penjajahan Jepang. Pada jaman tersebut didirikan Sihang Gakko yaitu Sekolah Guru Jepang. Pada tahun 1945-1947 digunakan untuk Sekolah Guru Laki-laki (SGL), lalu pada tahun 1948-1950 digunakan oleh tentara Belanda.

Setelah tentara Belanda pergi digunakanlah oleh Tentara Nasional selama 1 tahun. Semenjak tahun 1951 digunakan untuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG/SGB) hingga tahun 1960 dengan nama SGB Negeri 1. Pada tahun 1959 dipakai bersama oleh SGB Negeri 1 dan SGTK Negeri. Pada tahun 1964, SGA dan SGTK diintegrasikan menjadi SPG hingga tahun 1991. Akhirnya sejak tahun 1991 SPG Negeri Salatiga dialih fungsikan menjadi SMA Negeri 3 Salatiga, hingga sekarang. Kini SMA Negeri 3 Salatiga telah menghasilkan banyak prestasi, salah satunya pada tahun 2016, SMA Negeri 3 Salatiga menerima penghargaan Adiwiyata (Berwawasan Lingkungan) Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, SMA Negeri 3 Salatiga juga telah banyak menoreh prestasi bidang olah raga, karena selain menerima sekolah umum, SMA Negeri 3 Salatiga juga ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kota Salatiga untuk menerima atlit. SMA Negeri 3 Salatiga menggunakan Kurikulum 2013

(25)

25 mulai Tahun Pelajaran 2016/2017 untuk kelas X. Kurikulum 2013 memberi kesempatan siswanya untuk memilih jurusan yang diminati sejak kelas X melalui tes bakat dan minat. Berikut merupakan data jumlah siswa SMA Negeri 3 Salatiga:

Tabel 11

Data Jumlah Siswa SMA Negeri 3 Salatiga Tahun Pelajaran 2016-2017 No Program

Pengajaran

Tingkat I Tingkat II Tingkat III Jumlah Rombel Siswa Rombel Siswa Rombel Siswa Rombel Siswa

1 MIPA/IPA 6 215 6 190 5 176 17 581

2 IPS 4 115 4 130 4 134 12 379

3 Bahasa 1 19 1 11 1 21 3 51

Jumlah 11 349 11 331 10 331 32 1011

Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

*ket: Rombel = Rombongan Belajar

Berikut merupakan data jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang bekerja di SMA Negeri 3 Salatiga:

Tabel 12

Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMA Negeri 2 Salatiga

No Guru/Staff Jumlah Keterangan

1 Guru Tetap (PNS) 53 -

2 Guru Tidak Tetap (Non PNS) 8 -

3 Tenaga Kependidikan (PNS) 6 -

4 Tenaga Kependidikan

(Non PNS) 16 -

Jumlah 83

Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

SMA Negeri 3 Salatiga membentuk visi, misi dan tujuan yang mengacu pada delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang nantinya akan menjadi dasar dalam pembuatan program-program di sekolah tersebut. Berikut merupakan visi, misi dan tujuan SMA Negeri 3 Salatiga yang berlaku pada Tahun Pelajaran 2016/2017:

(26)

26 Tabel 13

Visi, Misi dan Tujuan SMA Negeri 3 Salatiga Visi

Unggul prestasi, serasi dalam budi pekerti, berwawasan lingkungan dan berdaya saing global Misi

 Menjadi Sekolah Standar Nasional

 Meningkatkan prestasi akademik dan non-akademik serta pengembangan kreativitas siswa (Multiple Intelegence/Keterbakatan Majemuk)

 Melakukan inovasi dalam proses pembelajaran

 Meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan

 Meningkatkan kemampuan berbahasa asing

 Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

 Mewujudkan lingkungan sekolah yang menunjang suasana pembelajaran menyenangkan (joyful learning) yang demokratis

 Melaksanakan manajemen berbasis sekolah dan menggalang partisipasi masyarakat

 Mewujudkan tata karma dalam hubungan antar warga sekolah

 Membentuk peserta didik yang berakhlak dan berbudi pekerti luhur

 Mewujudkan sekolah hijau (green school) yang nyaman

 Menyukseskan peserta didik yang berkualitas dan berprestasi

 Menghindarkan warga sekolah dari penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

Tujuan

 Sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri menuju Sekolah Bertaraf Internasional.

 Invasi Pembelajaran Bervariasi sesuai Kompetensi (Problem Based Learning, Inquiry Based Learning, Project Based Learning, Contextual Teaching and Learning).

 Peningkatan prestasi akademik (MIO, IPHO, IBO, Komputer, Astronomi, Debat Bahasa Inggris, Layanan Anak berbakat) dan non akademik (seni, olahraga, pramuka).

 Peningkatan profesionalisme Pendidik dan Tenaga Kependidikan menyonsong sertifikasi pendidik serta penataan administrasi sekolah berbasis computer (TIK)

 Peningkatan profesionalisme Pendidik dan Tenaga Kependidikan, serta kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris.

 Pemantapan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 Terciptanya kondisi peserta didik yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia.

 Lingkungan Sekolah yang menyenangkan, “hidup sehat ramah lingkungan” yang menunjang “Joyfull Learning” yang demokratis.

 School Based Management, dalam berbagai aspek kehidupan warga sekolah serta pemberdayaan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan.

 Terciptanya hubungan antar warga sekolah yang santun dan ramah.

Sumber: Data Internal Sekolah, 2016

SMA Negeri 3 mempunyai struktur yang sedikit berbeda dari kedua SMA Negeri di Salatiga dalam pembagian bidang yang dikepalai oleh Wakil Kepala Sekolah. Kepala Sekolah berkoordinasi dengan Komite dalam penentuan kebijakan di sekolah termasuk dalam penentuan biaya dan tarif layanan. Berikut merupakan struktur organisasi yang diterapkan di SMA Negeri 3 Salatiga.

(27)

27 Gambar 3

Struktur Organisasi SMA Negeri 3 Salatiga

Sebagai sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kota Salatiga untuk menerima atlit sebagai siswanya, banyak prestasi yang telah diraih dalam bidang olah raga. Namun prestasi lain juga diraih oleh siswa-siswa SMA Negeri 3 Salatiga seperti berikut:

Tabel 14

Daftar Prestasi SMA Negeri 3 Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2016-2017

No Prestasi Tingkat Waktu

Perolehan 1 Belajar Bersama Maerstro Keroncong Sundari Soekotjo Nasional Juli 2016 2 Belajar Bersama Maestro Seni Tari Temu Mesthi Nasional Juli 2016 3 Juara III Lomba Penulisa Opini Pelajar Tingkat Jateng Provinsi Juli 2016 4 Juara I Kategori Catur Klasik Tingkat Provinsi Jateng Provinsi Juli 2016 5 Juara II Kategori Catur Cepat Tingkat Provinsi Jateng Provinsi Juli 2016 6 Juara III Kategori Catur Kilat Tingkat Provinsi Jateng Provinsi Juli 2016 7 Juara I Pencak Silat POPDA Tingkat Provinsi Jawa

Tengah

Provinsi Agustus 2016 8 Juara I Lari 800 meter POPDA Tingkat Provinsi Jawa

Tengah

Provinsi Agustus 2016 9 Juara I Lari 1500 meter POPDA Tingkat Provinsi Jawa

Tengah

Provinsi Agustus 2016 10 Juara Harapan I Paduan Suara Komsos Kreatif KODIM

0714 Salatiga Tahun 2016

Kota Agustus 2016 Kepala

Sekolah Komite

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum

Wakil Kepala Sekolah Bidang

Hubungan Masyarakat

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana

Prasarana

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan

Dewan Guru

Koordinator Tata Usaha

Siswa

(28)

28

No Prestasi Tingkat Waktu

Perolehan 11 Juara I Lomba Tari Perjuangan Tingkat SMA/sederajat

Korem 073 Makutarama Tahun 2016

Kota September 2016 12 Juara II Lomba Baca Puisi Putra Komsos Kreatif

KODIM 0714 Salatiga Tahun 2016

Kota September 2016 13 Juara II Lomba Baca Puisi Putri Komsos Kreatif

KODIM 0714 Salatiga Tahun 2016

Kota September 2016 14 Harapan I Lomba Paduan Suara Tingkat

SMA/MA/SMK Kota Salatiga Tahun 2016

Kota September 2016 15 Juara III Tarian Perjuangan Daerah Tingkat Jateng dan

DIY yang dilaksanakan oleh KODAM IV Diponegoro Dalam Rangka Peringatan Ke-71 Hari TNI

Jateng dan DIY

Oktober 2016

16 Juara III Paskibra Danton Terbaik se-kota Salatiga yang diselenggarakan oleh IAIN Salatiga

Kota Oktober 2016 17 Juara Harapan II Lomba PBB Kota Salatiga yang

diselenggarakan oleh IAIN Salatiga

Kota Oktober 2016 18 Juara I Lomba Dance Lab Cup 8 Se-Jawa Tengah yang

diselenggarakan oleh SMA Laboratorium Salatiga

Provinsi Oktober 2016 19 Juara Suporter Terluar Biasa Lab Cup 8 Se-Jawa

Tengah yang diselenggarakan oleh SMA Laboratorium Salatiga

Provinsi Oktober 2016

20 Juara II Video Edukasi Kanker Serviks Tingkat Nasional di UNS

Provinsi Oktober 2016 21 Juara II Turnamen Basket Pelajar Putri Tingkat

SMA/SMK Se-Karesidenan Semarang

Karesidenan November 2016 22 Juara III Lomba Band Sounducation Fest Sens Artion - Desember

2016 Sumber: Data Internal Sekolah, 2017

Penentuan Biaya Layanan

Penentuan biaya layanan SMA Negeri di Kota Salatiga diawali dengan melakukan perencanaan strategis yaitu meninjau kembali visi, misi dan tujuan sekolah, serta melakukan evaluasi dan analisis serta rencana tindak lanjut, yang tercermin dari hasil wawancara berikut:

“Kita pasti secara annual (tahunan) ada evaluasi, tentunya dari hasil evaluasi itu kita bisa melihat kembali visi misi, khususnya visi masih relevan akan tetap saja, misi-misi untuk mewujudkan visi akan ada pembenahan, mana-mana yang belum maksimal untuk mewujudkan visi itu.” – SMAN 1

“Kita analisis kebutuhan sekolahan itu apa saja, sesuai dengan analisis SWOT. Jadi kan ada peluangnya apa, tantangannya apa, berdasarkan yang sebelumnya dianalisis dulu jadi kebutuhannya apa, yang belum dapat dilaksanakan kemarin dapat dilaksanakan di periode ini, kemudian dibicarakan kepada orangtua”- SMAN 2

“Berubahnya kalau sudah ada yang tercapai, termasuk perkembangan kalau dulu kan budaya, yang terakhir kan karakter, kita mengikuti tren Negara, masing-masing pemerintahan kan punya tren sendiri-sendiri. Visi misi dari Kementerian Pendidikan ada, visi misinya Pemkot dipertimbangkan, mengikuti perkembangan dunia juga. Seperti sekarang itu kan karakter,

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Selanjutnya akan dikonstruksi homomorfisma RDPT. Ribemboim 7) telah membuktikan bahwa pemetaan tersebut merupakan homomorfisma ring. Langkah terakhir, mempelajari konstruksi

Praktek kartel menguasai komoditas pangan nasional sudah berlangsung lama dan sangat merugikan produksi pangan nasional. Praktek kartel dianggap sebagai salah satu game dalam

Edukasi pada klien tentang pentingnya penggunaan kondom baik pada tamu untuk mencegah penularan penyakit infeksi menular seksual atau HIV/AIDS sekiranya ingin

Rencana dan target itu didasarkan pada tren kinerja tahun lalu serta memperhatikan keadaan anggaran dan garis kebijakan yang ditetapkan.13 Salah satu lembaga pengelola zakat

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran value clarification technique terhadap civic disposition siswa pada

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Empirik yaitu penelitian yang langsung dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan serta

S = Sale pisang dengan perlakuan bleaching menggunakan Sodium Metabisulfit B = Sale pisang dengan perlakuan blanching.. Konversi

alam penelitian kualitatif, peneliti adalah ujung tombak sebagai pengumpul data +instrumen#. eneliti terjun secara langsung ke lapangan untuk mengumpulkan sejumlah informasi