KARAKTERISTIK PERAIRAN DARAT
dari aspek biologi
Nurmawat
Alfin Amanatus Sa’adah
-Sifat Biologi-
Sifat biologi yang paling banyak berpengaruh dalam perairan air tawar meliputi
1. plankton 2. alga
3. tanaman air
4. bentos
Plankton
Jasad renik yang melayang di dalam perairan, tidak bergerak atau bergerak sedikit dan selalu mengikuti arus. Plankton dibagi menjadi fitoplankton (plankton nabati) dan zooplankton (plankton hewani). Berdasarkan ukurannya, plankton dibagi menjadi 4,yaitu:
makroplankton : 200-2000µ
mikroplankton : 20-200µ
nannoplankton : 2-20µ
ultra nannoplankton : <2µ
1.Fitoplankton
Fitoplankton mempunyai klorofil yang dapat membuat makanan sendiri dengan mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosintesa.
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
• Fitoplankton hidup pada lapisan perairan yang masih terdapat sinar matahari sampai pada suatu lapisan
perairan yang disebut garis kompensasi .
Zooplankton umumnya bersifat fototaksis negatif sehingga dapat hidup di lapisan perairan yang tidak terjangkau sinar matahari.
Zooplankton merupakan konsumen primer atau kelompok yang memakan fitoplankton. Dengan sifat yang
fototaksis negatif, zooplankton akan banyak terdapat di dasar perairan pada siang hari dan akan ke
permukaan perairan pada malam hari atau pada siang hari.
2.Zooplankton
Baik fitoplankton maupun zooplankton merupakan pakan alami ikan.
Keperluan pakan alami bagi pembenihan ikan sangat penting karena larva ikan sangat menyukai pakan tersebut, mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi untuk pertumbuhan larva dan sesuai bukaan mulut larva.
Dalam kemudahan pengambilan sampel plankton di permukaan air, untuk fitoplankton dapat dilakukan setiap waktu sedangkan zooplankton hanya diambil pada malam atau pagi hari.
Pada pemeliharaan larva dan benih ikan, nilai optimal jumlah plankton adalah 100.000 sel/ml dengan memperhatikan ukuran benih;
1. Umur 1 – 15 hari (1 – 3 cm) warna air hijau/hijau tua
2. Umur 16 – 25 hari (3 – 5 cm) warna air cokelat-kemerahan
Pada pemeliharaan larva dan benih ikan, nilai optimal jumlah plankton adalah 100.000 sel/ml dengan memperhatikan ukuran benih;
1. Umur 1 – 15 hari (1 – 3 cm) warna air hijau/hijau tua
2. Umur 16 – 25 hari (3 – 5 cm) warna air cokelat-kemerahan
Alga
Alga merupakan organisme autotrof yang tidak
memiliki akar, batang,dan daun.
Alga Hijau (kelompok Viridiplantae, filum Chlorophyta dan Charophyta)
Alga merah (kelompok Rhodophyceae)
Alga coklat (kelompok Chromalveolata, kelas Phaeophyceae)
Alga pirang (kelompok Chromalveolata, kelas Xanthophyceae)
Alga keemasan (kelompok Chromalveolata, kelas Chrysophyceae)
Alga biru hijau (kelompok Cyanobakteria)
Tanaman air
• Berdasarkan cara hidupnya di dalam
ekosistem, tanaman air dikelompokkan ke dalam tiga jenis:
1. Mengapung
2. Melayang
3. Timbul
Jenis tanaman air, diantaranya adalah:
Eichornia crassipes (Eceng gondok),
• hidup mengapung-apung di dalam air dan terkadang berakar dalam tanah.
• Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 m, dan tidak memiliki batang.
• Daunnya tunggal dan berbentuk oval.
• Ujung dan pangkal meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung.
• Permukaan daun licin dan berwarna hijau.
• Bijinya berbentuk bulat dan hitam dan akarnya berserabut.
• Berkembang biak secara generatif dan pembentukan stolon.
• Tumbuh pada kolam-kolam dangkal, tanah basah, rawa, danau, aliran air lambat, tempat penampungan air, dan sungai.
• Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ekstrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrient, pH, temperatur, dan racun-racun.
Salvinia cuculata
– merupakan tanaman air yang berbentuk bulat dan berakar panjang.
– Berkembang biak dengan membentuk spora
– Berfungsi menjernihkan air
dan dapat meningkatkan
unsure hara melalui
pengikatan N bebas dari udara.
Bentos
• Bentos merupakan organisme yang hidup baik di lapisan atas dasar perairan (epifauna)
maupun di dalam dasar perairan (infauna) dan dapat menjadi
pakan alami bagi ikan atau
sebaliknya apabila dalam jumlah banyak menjadi penyaing atau predator bagi ikan.
• Secara ekologi bentos yang berperan penting di perairan adalah zoobentos.
Berdasarkan ukurannya zoobentos digolongkan atas empat jenis yaitu
1. megalobentos ukuran < x4,7 mm
2. makrobentos ukuran antara 4,7 mm – 1,4 mm 3. meiobentos ukuran antara 1,3 – 0,59 mm
4. mikrobentos ukuran antara 0,5 mm – 0,15 m.
Berdasarkan keberadaannya di dasar perairan, maka makrozoobentos dibagi menjadi 2 kelompok yaitu (Barnes and Hughes, 1999;
Nybakken, 1997) :
1. -yang hidupnya di dasar perairan disebut epifauna (seperti Crustacea dan larva serangga)
2. -makrozoobentos yang hidup terpendam di dalam dasar perairan disebut infauna (seperti Bivalva dan Polychaeta).
PERAN BENTOS PERAN BENTOS
Menurut Ardi (2002), hewan bentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik. Hewan bentos terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan.
Adapun organisme yang termasuk makrozoobentos antara lain adalah : 1. - larva Plecoptera (“stonefly”) - larva Diptera
2. - larva Trichoptera (“caddisfly”) - Decapoda
3. - larva Ephemeroptera (“mayfly) - Mollusca (siput dan kerang) 4. - Plathyhelminthes (cacing pipih) - Isopoda
5. - larva Odonata (capung) - Nematoda
6. - Crustacea (udang-udangan) - Pelecypoda 7. - Hydracarina (laba-laba air) - Polychaeta 8. - larva Hemiptera (kepik), - Hirudinae (lintah) 9. - Coleoptera (kumbang) - Oligochaeta (cacing)
• Hasil pengamatan terhadap makrozoobenthos pada masing- masing stasiun diperoleh jumlah spesies yang kecil, yaitu
berkisar 1 – 5 jenis dengan kepadatan rata-rata 60 individu/m2 keadaan ini menunjukkan adanya jenis makrozobenthos yang dominan. Hal ini sesuai dengan pendapat Paez-Ozuna et al., (l998) mengemukakan bahwa apabila dalam suatu lingkungan terjadi penurunan keragaman secara tajam sampai hanya
sebagian kecil saja populasi yang dominan, maka lingkungan tersebut telah mengalami tekanan akibat pencemaran dan
populasi tersebut yang disebut sebagai indikator pencemaran.
• Berdasarkan hasil analisis indeks keseragaman (E)
makrozoobenthos pada masingmasing stasiun pengamtana menujukkan sebaran jenis relatif merata.
DAFTAR PUSTAKA
Rustam. (2010). Analisis Parameter Fisik, Kimia, Biologi, dan Daya Dukung Lingkungan Perairan Pesisir Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Udang Windu di Kabupaten Barru. Jurnal Natur Indonesia, 13(1): 33-40