Laporan Akhir Penelitian Sukuk Sebagai Alternatif Pembiayaan Infrastruktur Dalam Rangka Perluasan Dan Percepatan Pembangunan.

18 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR PENELITIAN ANDALAN

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN TAHUN 2012

SUKUK SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR DALAM RANGKA PERLUASAN DAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN

Oleh : *

Dr. Lastuti Abubakar, S.H.,M.H Dr. Nyulistyowati, S.H.,M.H

Tri Handayani, S.H.,M.H C. Sukmadilaga, S.E.,Ak.,MBA

Andri Febrian, S.H

Dibiayai oleh Dana BLU Universitas Padjadjaran Nomor : 1407/UN6.A/KP/2012

Tanggal 1 Juni 2012

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN FAKULTAS HUKUM

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan infrastruktur merupakan kebutuhan mendesak bagi

percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Untuk

mewujudkan visi Indonesia sebagaimana tertuang dalam Master Plan

Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yakni transformasi

ekonomi Indonesia menjadi Negara maju yang diakui oleh komunitas

dunia melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif dan

berkesinambungan. 1 Diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada

tahun 2025 pendapatan per kapita adalah USD14,250 - USD15,500

dengan GDP total USD4.0 - 4,5 Triliun. Pertumbuhan ekonomi ini juga

diharapkan dapat menurunkan tingkat inflasi dari dari 6, 5 % pada tahun

21011-2014 menjadi 3,0 % pada tahun 2025. Kombinasi tingkat

pertumbuhan ekonomi dan rendahnya inflasi merupakan ciri Negara maju.

Sebagai pusat ekonomi global. Asia Timur, termasuk Asia Tenggara

memiliki total populasi 50 % dari populasi dunia. Dengan potensi

pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan populasi yang besar, Indonesia

memperoleh keuntungan secara geografis. Posisi Indonesia yang

(3)

menguntungkan inilah yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam MP3EI

dengan menetapkan visi dengan 3 tujuan, yakni :

1. Meningkatkan pertambahan nilai dan rantai perluasan nilai untuk

proses produksi, dan meningkatkan efisiensi jaringan distribusi,

disamping itu meningkatkan kemampuan industry untuk memiliki

akes dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya

manusia.

2. Mendorong efisisensi produksi dan improvisasi upaya

pemasaran sebagai upaya memasuki pasar domestic untuk

menekan persaingan dan penguatan ekonomi nasional.

3. Mendorong penguatan sistem inovasi national utnuk produksi,

proses dan pemasarandengan penguatan penguatan kompetisi

global yang berkesinambungan ekonomi berbasis inovasi.

Diharapkan dengan posisi Indonesia yang strategis dan tingkat

konsumsi Negara-negara yang semakin tinggi, Indonesia dapat

memanfaatkan peluang. Strategi Indonesia untuk mendorong percepatan

dan perluasan ekonomi merupakan strategi yang dianggap dapat

menciptakan peluang utnuk mewujudkan visi tersebut.

Salah satu strategi yang dicanangkan adalah koneksitas antara

koridor ekonomi untuk memudahkan akses barang jasa di dalam negeri

sekaligus membuka dan memudahkan jalur barang jasa masuk dan keluar

(4)

menjadi salah satu penyebab produk barang dan jasa dalam negeri tidak

mampu bersaing dengan produk luar. Faktanya agribisnis Indonesia

semakin sulit bersaing dengan produk luar yang lebih murah dan lebih

berkualitas. Mahalnya harga jual produk agribisnis Indonesia tidak terlepas

dari buruknya infrastruktur transportasi. Ekspor buah-buahan dari china

misalnya jauh lebih murah daripada biaya angkut jeruk Medan atau

Pontianak. Melalui MP3EI, Indonesia berpotensi sebagai salah satu

Negara penyuplai hasil pertanian, perikanan dan sumber daya alam pada

tahun 2025. Oleh karena itu, strategi membangun infrastruktur yang

menghubungkan pusat-pusat ekonomi di koridor ekonomi, pusat ekonomi

dengan daerah terpencil menjadi urgen untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Permasalahan mendasar dari pembangunan infrastruktur adalah

regulasi terkait pembiayaan dan investasi disektor infrastructure yang tidak

optimal. Saat ini regulasi atau hokum positif yang berlaku terkait

pembiayaan masih bersifat parsial, dan tidak terintegrasi satu sama

lainnya. Pembiayaan infrastruktur yang banyak menggunakan dana

pemerintah tunduk pada sistem keuangan negara. Hal ini banyak

menimbulkan permasalahan hokum seperti penentuan besaran, proses

penunjukan, jangka waktu dan petanggungjawaban. Selain itu,

pemerintah perlu mencari alternatif lain dalam pembiayaan infrastruktur

dengan melihat perkembangan dalam praktik pembiayaan internasional.

(5)

syariah, perlu dilihat salah satunya adalah penggunaan instrument surat

berharga syariah yang saat ini sedang booming. 2

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas, dapat

diidentifikasi beberapa permasalah yang akan diteliti, dikaji dan dianalisis

dari aspek hukum ekonomi, yakni:

1. Bagaimanakah konsep regulasi yang mengatur sukuk sebagai

alternatif pembiayaan infrastruktur?

2. Bagaimana Sukuk Sebagai alternatif pembiayaan infrastrktur terkait

percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia?

3. Bagaimana Penerapan praktik penerbitan sukuk dibeberapa

negara?

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengkaji, menganalisis , dan menginventarisasi apakah

regulasi yang ada terkait sukuk sebagai alternatif pembiayaan

(6)

infrastruktur dapat memberikan kepastian dan perlindungan

hukum bagi investor.

b. Untuk mengkaji serta menganalisis sukuk sebagai alternatif

pembiayaan infrastruktur dapat mendorong percepatan dan

perluasan pembangunan ekonomi Indonesia.

c. Untuk mengkaji, menganalisis dan membandingkan prkatik

penerbitan sukuk dibeberapa negara.

2. Luaran dan Manfaat Penelitian

Luaran dari penelitian ini berupa desain regulasi dan model

pembiayaan infrastruktur dalam rangka percepatan dan perluasan

pembangunan ekonomi Indonesia

Manfaat Penelitian :

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara teoretis

maupun praktis sebagai berikut :

a. Secara teoritis :

1) Hasil penelitian berupa desain regulasi dan model

pembiayaan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

untuk mengembangkan teori hukum pembiayaan di

Indonesia.

2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

(7)

pembiayaan dan investasi pembangunan infrastruktur di

Indonesia.

b. Secara praktis :

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh para

pengambil keputusan untuk melakukan penataan regulasi

pembiayaan infrastruktur.

2) Hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat

dipergunakan untuk menguji penerbitan sukuk sebagai

pembiayaan infrastruktur.

D. KONTEKS PENELITIAN

Salah satu dasar bagi perekonomian nasional adalah sebagaimana

diamanatkan dalam Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 (Amandemen ke IV)

bahwa:

“Perekonomian Nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi

ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,

berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan

menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”

Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 (Amandemen ke IV) di atas

mengisyaratkan agar pembangunan ekonomi di bangun atas dasar

kemandirian untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, termasuk di

(8)

pembangunan. Oleh karena itu, terkait dengan MP3EI, khususnya untuk

pembangunan infrastruktur perlu dikembangkan alternatif pembiayaan

berbasis investasi.

Visi Indonesia 2025 yakni” mengangkat Indonesia menjadi Negara

maju dan merupakan kekuatan 12 negara besar dunia du tahun 2025 dan

8 besar dunia pada tahun 2045melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi

yang inklusif dan berkelanjutan”. Untuk mewujudkan visi tersebut

dirancang kerangka kerja konektivitas nasional yang bertumpu pada

integrasi pembangunan regional, sistem transportasi nasional, sistem

logistic nasional dan Teknologi Informasi dan komunikasi. Melalui sinergi

dari ke 4 unsur konektivitass nasional tersebut diharapkan dapat

diwujudkan moto yang diusung oleh MP3EI yakni : Locally Integrated,

globally Connected”. Dimaksudkan dengan locally integrated adalah

sistem konektivitas yang mendukung pergerakan barang, jasa dan

informasi yang efektif dan efisien di dalam negeri, oleh karena itu integrasi

transportasi, konektivitas intermodal dan jaringan komunikasi merupakan

elemn penting utk memperkuatkonektiviats local maupun nasional.

Sedangkan yang dimaksud dengan Globally Connected adalah sistem

konektivitas yang bertujuan menghubungkan Negara dengan bagian dunia

lainnya melalui gerbang-gerbang internasional seperti pelabuhan dan

bandara yang didukung oleh kepabeanan dan fasilitas perdagangan.

(9)

diwujudkan melalui proses produksi dan pemasaran yang semakin efisien

dan mudah.

Presiden SBY dalam pidatonya terkait rencana aksi MP3EI sector

pertanian menengarai bahwa ada beberapa penyebab kegagalan

perekonomian Indonesia , yakni 3;

1. Birokrasi yang menghambat dan tidak sejalan.

2. Sikap pemerintah yang mempunyai kepentingan sendiri dan

cenderung menghambat jalannya perekonomian khususnya

MP3EI.

3. Investor/pengusaha yang ingkar janji terhadap komitmen

investasinya.

4. Adanya regulasi yang menghambat jalannya perekonomian dan

tidak segera diperbaiki.

5. Adanya kepentingan dan proses politik yang tidak sehat.

Selanjutnya, MP3EI mempunyai 3 strategi utama yang

dioperasionalisasikan dalam inisiatif strategis yakni :

1. Pengembangan potensi melalui 6 koridor ekonomi yang

dilakukan dengan cara mendorong investasi BUMN, swasta

nasional dan FDI dalam skala besar pada 22 kegiatan ekonomi

utama.4 Penyelesain berbagai hambatan akan diarahkan pada

(10)

kegiatan ekonomi utama sehingga diharapkan akan terjadi

realisasi investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi di 6

koridor ekonomi.

2. Memeperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana

aksi nasional un tuk merevitaslisasi kinerja sector ril.

3. Pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi.

Dalam hal ini akan didorong pengembangan SDM dan

IPTEKsesuai kebutuhan peningkatan daya saing.

Mengacu pada hambatan implementasi MP3EI sebagaimana

diuraikan di atas, dapat dilihat bahwa 2 hambatan yakni regulasi yang

belum kooperatif dengan MP3EI dan komitmen investor/pemilik dana untuk

berinvestasi, khususnya pada infrastruktur terkait dengan aspek hukum

dan ekonomi. Hambatan pertama hanya dapat dihilangkan dengan

melakukan pemetaan kembali seluruh regulasi yang terkait dan

selanjutnya melakukan deregulasi yang sejalan dengan MP3EI oleh

karena itu, inventarisasi, harmonisasi dan sinkronisasi hukum yang relevan

dengan MP3EI mendesak untuk dilakukan. Hal ini seharusnya bukan

menjadi permasalahan mengingat pemerintah, dalam hal ini Kementerian

Hukum dan HAM memiliki direktorat Harmonisasi Hukum, selain memiliki

Badan Pembinaan Hukum Nasional yang bewrtugas memikirkan dan

mengembangkan pembinaan hukum nasional. Hambatan lainnya adalah

(11)

dana besar. Pemerintah tidak dapat menggantungkan pada APBN yang

terbatas kemampuannya. Oleh karena itu perlu dicarikan alternatif

pembiayaan lainnya yang dapat digunakan.

Sejalan dengan RPJMN yang lebih mengedepankan pembiayaan

pembangunan berbasis investasi daripada pinjaman, maka alternatif

investasi untuk pembiayaan infrastruktur harus dikembangkan, demikian

pula dengan instrumen investasi yang menarik bagi para investor. Pemilik

dana atau investor pada prinsipnya senantiasa tertarik menanaman

dananya pada investasi dengan return yang optimal. Hal ini sejalan

dengan sifat dana yakni mengalir ke tempat dengan return terbesar.5

Hambatan terkait dengan minat investor untuk berinvestasi pada proyek

infrastruktur sebenarnya sudah direspon oleh pemerintah dengan

menerbitkan beberapa regulasi terkait dengan kerjasama pemerintah

swasta. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No : 78 Tahun

2010 tentang Penjaminan Infrakstruktur Dalam Proyek Kerjasama

Pemerintah Dengan Badan Usaha Yang Dilakukan Melalui Badan Usaha

Penjaminan Infrastruktur6 yang memunculkan PT Perjaminan Infrastruktur

5 Lihat Lastuti Abubakar, Perdagangan Derivatif di Bursa Efek, Terrace Book & Co, Bandung, 2009. 6 Berdasarkan PP No : 35 Tahun 2009 Tentang Penyertaan Modal Negara RI untuk Pendirian

(12)

sebagai penjamin dalam kerangka Masterplan Percepatan dan Perluasan

Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.7

Keberadaan PT Penjaminan Infrastruktur ini diharapkan dapat

memmberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi para investor yang

tertarik berinvestasi pada proyek infrastruktur bahwa dana dan keuntungan

yang seharusnya mereka dapatkan dapat diperoleh. Hal ini perlu dilakukan

untuk mengatasi hambatan rendahnya komitmen investor. Namun dalam

praktiknya, PT Penjaminan infratstruktur ini pun dihadang oleh beberapa

masalah yuridis yakni keterbatasan penjaminan yang dapat diberikan serta

kedudukan hukum PT Penjaminan sebagai badan hukum yang lebih

mengarah pada personal guarantee.8.

Selanjutnya, terbitnya UU no : 19 tahun 2008 tentang Surat

Berharga Syariah Negara (SBSN) atau juga dikenal dengan istilah Sukuk

atau Islamic Bond 9, seharusnya memberikan keberagaman instrument

investasi yang menarik bagi investor asing. Namun dalam praktik, SBSN

yang lebih banyak digunakan sebagai instrument fiscal khususnya untuk

7 Berdasarkan PP No : 35 Tahun 2009 Tentang Penyertaan Modal Negara RI untuk Pendirian

Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Penjaminan Infrastruktur. Pembentukan PT Penjaminan Infrastruktur ini tidak dapat dipisahkan dari PP No : 13 tahun 2010 tentang Perubahan PP No : 67 tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.

8 Personal guarantee adalah perkembangan dari jaminan perorangan sebagaimana diatur dalam

Pasal 1820-1850 KUHPerdata, yang tidak menempatkan kreditor /investor sebagai kreditor preferen sehingga menyebabkan kreditor/investor merasa investasinya tetap kurang dilindungi secara hukum.

9 Sukuk yang lazim diperdagangkan adalah sukuk berbasis ijarah dimana hak manfaat atas asset

(13)

pengelolaan portofolio utang Negara daripada sebagai sumber

pembiayaan pembangunan, khususnya pembiayaan infrastruktur.10. Dalam

perkembangan investasi di seluruh dunia, penggunaan sukuk sebagai

alternatif pembiayaan infrastruktur yang menarik bagi investor

menunjukkan perkembangan yang pesat. Negar-negara Timur tengah

sepeerti Uni Emirates Arab secara progresif menggunakan Sukuk untuk

membangun infrastruktur. Demikina juga dinegara lainnya seperti Bahrain

dan Qatar. Bahkan Negara tetangga Malaysia pun menggunakan sukuk

sebagai instrument pembiayaan. Sukuk sebagai surat berharga lazimnya

diperdagangkan di Islamic International Financial Market. Berdasarkan

data pada tahun 2008 telah mengeluarkan 6 jenis Islamic Bond yakni : 11

1. USD 600 Million Malaysian Global Sukuk

2. USD 400 Million Solidarity trust Services Limited Trust

Certificates

3. USD 700 Million Qatar Global Sukuk

4. USD 250 Million Bahrain Monetary Agency International Sukuk

5. USD 100 Million Tabreed Finance Corporation Trust Sertificates

6. USD 120 million Durrat Bahrain Sukuk Company BSC.

10 Khairunnisa Musari, SPN Syariah : Sukuk Sebagai Instrumen Moneter, Majalah Sharing, Outlook

Keungan Syariah Indonesia, Edisi 60 Thn V Desember 2011.

11 Sudin Haron & Wan Nursofiza Wan Azmi, Islamic Finance And Banking System, Mc Graw Hill,

(14)

Melihat perkembangan investasi dunia yang bergerak dari barang

menjadi instrument keuangan, sudah saatnya Indonesia mulai

mempertimbangkan alternatif atau model investasi yang berkembang di

Negara lain. Dukungan kesiapan infrastruktur legal dan analisa ekonomi

terhadap kemungkinan model investasi tersebut tentu perlu dikaji secara

teliti.

Surat Berharga Syariah Negara (sukuk) yang diterbitkan berdasarkan

UU No : 19 tahun 2008 belum menjadi alternatif yang menarik, mengingat

SBSN merupakan surat berharga yang diterbitkan berdasarkan akad

ijarah, dimana pemerintah wajib menyediakan asset yang haris dialihkan

pada para pemegang sukuk. Kendala yuridis yang dihadapi adalah Aset

Negara yang mana yang dialihkan, selanjutnya benturan penerbitan SBSN

justru datang dari sistem Keuangan Negara yang mengatur bahwa asset

Negara tidak dapat dialihkan. 12 Yang diperlukan adalah bagaimana

Indonesia mengatur secara harmonis dan sinkron semua regulasi yang

terkait dengan MP3EI. Selain itu, diperlukan keberanian untuk mencari

alternatif-alternatif yang tersedia untuk menarik investor agar berinvestasi

pada pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Selain mempertimbangkan alternative model pembiayaan yang

berkembang di beberapa negara, maka Indonesia perlu secara matang

12 Lihat UU No : 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara dan UU No : 1 Tahun 2004 Tentang

(15)

menentukan model pembiayaan, mengingat seharusnya pembangunan

dan pengeloaan infrastruktur merupakan focus pemerintah dengan tetap

mengacu pada ketentuan undang-undang yang berlaku, khususnya

amanat UUD 1945 tentang penguasaan hajat hidup orang banyak.

(16)

Diskusi penyusunan laporan

a) Nama Lengkap a) Gelar Kesarjanaan a)Pria/ Wanita a) Unit Kerja

No. b) Bidang Keahlian dan

2 Nyulistiowati Suryanti

(17)

3 Tri Handayani

a) Nama Lengkap a) Gelar Kesarjanaan a)Pria/ Wanita a) Unit Kerja

(18)

G. LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN

Penelitian kepustakaan dilakukan antara lain :

a. Perpustakaan Fakultas Hukum dan Perpustakaan Pusat

Universitas Padjadjaran.

b. Perpustakaan di Perguruan Tinggi di Negara yang akan menjadi

lokasi penelitian.

c. Perpustakaan National University Of Singapore (NUS)

d. Badan Pembinaan Hukum Nasional ( BPHN ).

e. Perpustakaan lain yang menyediakan data yang diperlukan dalam

penelitian.

Penelitian lapangan akan dilakukan di :

a. Kementerian Keuangan RI

b. Badan Perencanaan dan Pengawasan pembangunan

c. Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian

d. Malaysia, yakni Pemerintah dan swasta yang mengelola

pembangunan infrastruktur serta melakukan studi banding ke

Universiti Science Islam Malaysia (USIM)

e. Singapura, yakni Peneltitian studi kepustakaan ke NUS library

f. Swasta yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur di lokasi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...