• Tidak ada hasil yang ditemukan

Microsoft Word Pidato Pengukuhan Prof SUBAGYO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Microsoft Word Pidato Pengukuhan Prof SUBAGYO"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

MANIFESTASI KLINIS

COW’S MILK PROTEIN ALLERGY

PADA SALURAN GASTROINTESTINAL,

DIAGNOSIS DAN TALAKSANA PADA ANAK

Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Pada Fakultas Kedokteran

Universitas Sebelas Maret

Disampaikan pada Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret

Tanggal 24 Maret 2009

Oleh:

Prof. Dr. H. B. Subagyo, dr., Sp.A(K)

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)

Bismillahirrahmanirrahiim

Yang saya hormati,

Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta

Para Guru Besar Tamu Para Pejabat Sipil dan Militer

Para Dekan/Pimpinan Fakultas, Direktur Pascasarjana

Kepala Biro, Kepala UPT, Kepala Jurusan, Kepala Bagian serta Kepala Program Studi, Dosen/Staf pengajar, Staf Administrasi dan Mahasiswa serta seluruh pejabat di lingkungan Univer-sitas Sebelas Maret Surakarta

Teman sejawat, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis, dan mahasiswa Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta Para Direktur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Surakarta

dan sekitarnya, Para Ketua Lembaga, Para Tamu Undangan, wartawan media masa yang meliput acara ini, sanak keluarga, handai taulan, serta hadirin sekalian yang saya muliakan,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,

(3)

MANIFESTASI KLINIS COW’S MILK PROTEIN ALLERGY

PADA SALURAN GASTROINTESTINAL, DIAGNOSIS DAN TALAKSANA PADA ANAK

Diare merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang menempati 3 besar pada anak kelompok umur 2-3 tahun. Penyebab utama diare pada anak di bawah usia 2 sampai 3 tahun adalah virus rota. Etiologi diare lainnya adalah malabsorpsi, infeksi bakteri, infeksi parasit, virus. Penyebab yang sering dilupakan adalah adalah alergi makanan khususnya alergi air susu sapi.

Saat ini hangat dibicarakan tentang alergi susus sapi atau CMPA ( Cow’s Milk Protein Allergy). Ada beberapa hal mengapa CMPA, perlu dibicarakan. Ada kesan kejadian CMPA meningkat. Beberapa alasan mengapa CMPA meningkat. Diantaranya bahwa adanya teori higiene dimana manifestasi atopi meningkat sejalan meningkatnya sikap perilaku hidup sehat pada sebagian kelompok masyarakat. Di satu sisi kelompok anak sampai usia 2 sampai 3 tahun merupakan kelompok konsumen susu sapi. Pada kelompok usia tersebut enterosit belum matur, lapisan mukus mukosa yang juga belum sempurna. Jumlah SIgA belum cukup. Peran lain adalah faktor genetik (Damayanti W, 2007; Vandenplas, 2007). Pemahaman ilmu alergi imunologi semakin bertambah.

(4)

Angka kejadian

Di negara Barat, diperkirakan atopi pada anak menempati sekitar 30% dari populasi (Vandenplas, 2007) Angka kejadian CMPA 1,1%-5,2% (Saarinen dkk, 1999; Egesbo dkk, 2001). Pada usia 2 tahun pertama, alergi makanan terjadi kurang lebih 6%. Empat puluh persen diantaranya adalah alergi non-IgE mediated. Alergi makanan dapat melibatkan berbagai organ target, baik di traktus gastrointestinal maupun diluar traktus gastrointestinalis (Wood, 2003)

Alergi makanan terjadi pada 0,5-1,6% anak yang minum ASI dan 2-5% pada yang minum susu sapi formula (CM). Penelitian Marzuki dkk (2004) menunjukkan prevalensi diare akibat CMPA sebesar 3%, sebenarnya sangat kecil apabila dibandingkan dengan diare akibat virus Rota pada usia yang sama, yang dapat mencapai lebih dari 60%.

Di sisi lain untuk mengurangi kejadian alergi, pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (EBM= exclusive breast feeding) merupakan nutrisi hipoalergenik yang dianjurkan. ASI khususnya kolustrum memacu maturasi sel mukosa saluran cerna. ASI mengandung SIgA yang berfungsi menghalangi absorpsi antigen atau alergen.

Definisi alergi protein susu sapi (CMPA)

Istilah alergi protein susu sapi (CMPA) adalah reaksi dap susu sapi yang diperantarai respon imunologis. Respon terha-dap susu sapi yang tidak diperantarai respon imun disebut intole-ransi susu sapi.

(5)

Respon imunologis susu sapi atau disebut CMPA, terdiri dari dua kelompok yaitu; pertama IgE-mediated, reaksi yang diperanta-rai IgE yang terjadi sesaat atau beberapa jam setelah paparan dengan makanan. Kedua reaksi non-IgE mediated, tidak diperanta-rai IgE, terjadi lebih lama, mungkin sehari atau beberapa hari setelah paparan dengan makanan (Atkins, 2007; Sampson dan Leung, 2004). IgE-mediated CMPA, merupakan reaksi hipersensi-tivitas tipe I, sedangkan respon imun yang tidak diperantarai IgE adalah reaksi hipersensitivitas tipe III (immun mediated) dan hipersensitivitas tipe IV (cell-mediated).

Imunopatologi hipersensitivitas 1. Reaksi hipersensitivitas tipe I

Pada individu yang mempunyai predisposisi genetik, paparan antigen makanan menyebabkan produksi IgE. Pada usia penya-pihan, apabila supresor sel T tidak berkembang, atau produksi IgA defisien pada saat lahir, maka terjadi proses lebih lanjut yang diawali ikatan IgE spesifik pada sel mast atau basofil. Pemaparan antigen spesifik berikutnya, maka sel mast atau sel basofil akan mengikat antigen kemudian mengeluarkan berbagai macam media-tor. Penyebab utama reaksi tipe I adalah protein susu sapi atau protein telur. Protein susu sapi dapat berada di dalam ASI dalam jumlah sedikit, sehingga kasus alergi CMPA pada anak yang minum EBF lebih jarang (Mac Donald dalam Pitono, 2003)

2. Reaksi hipersensitivitas tipe III

(6)

Reaksi gastrointestinal dapat terjadi 6 jam setelah pemaparan berupa muntah, diare dan kolik, serta peningkatan lokal dari IgM dan sel plasma IgA. Dalam jangka 24 jam berikutnya akan terlihat sembablokal,reaksiendotel,penebalanmembran dasar, penimbunan serat kolagen dan infiltrasi lekosit polimorf. Terjadi pula pening-katan lokal IgG dan C3 di dalam jaringan ikat subepitelial yang menunjukkan adanya reaksi kompleks imun. Pada tahap ini mulai terlihat kerusakan enterosit yaitu mikrovili yang menjadi tidak teratur,peningkatanlisosomdanpembengkakanmitokondrial. Selain penimbunan lokal, kompleks imun yang mengandung antigen makanan dan imunoglobulin (IgG dan IgE) terlihat pula dalam serum penderita alergi makanan (Mac Donald dalam Pitono, 2003)

3. Reaksi hipersensitivitas tipe IV (Delayed type hypersensitivity reaction= DTH)

(7)

CMPA

Sebagian kecil penderita CMPA akan menetap, sebagian besar akan menjadi toleran. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan Radio allergosorbent test (RAST), Uji kulit, skin prict test (SPT). negatif, CMPA akan mengalami toleransi lebih awal apabila dibandingkan pada penderita dengan RAST dan SPT positif. Pada anak CMPA dengan riwayat IgE positif, akan lebih sering muncul gejala seperti asma, rinokonjungtivitis, atopi dermatitis, apabila dibandingkan pada anak dengan IgE negatif. Anak dengan IgE negatif kemungkinan menderita alergi berbagai macam makanan juga lebih kecil. Pada saat diagnosis CMPA ditegakkan dengan eliminasi diet dan uji provokasi, disarankan untuk memeriksa IgE (Vandenplas dkk, 1997).

Diketahui ada sekitar 40 macam protein penyebab alergi. Protein-protein tersebut yang menginduksi respon imun sehingga menyebabkan alergi. Komponen whey terdiri dari b-lactoglobulin,

a-laktalbumin, bovin imunoglobulin. Komponen kasein yaitu a-bovine serum albumin dan imunoglobulin. Komponen b

-lacto-globulin, a-laktalbumin dan imunoglobulin merupakan komponen yang paling alergenik (Wido, 2006; Mc Bean, 2006). Selain CMA sebagai penyebab, maka CMPA dipengaruhi faktor genetik. Bebe-rapa penelitian menunjukkan bahwa atopi terjadi pada anak 20-40% apabila salah satu orang tua atopi. Riwayat atopi pada saudara maka risiko atopi pada anak 25-35%. Apabila kedua orang tua ada riwayat atopi, anak akan mengalami atopi sekitar 40-60%. Apabila didalam keluarga tidak ada riwayat atopi, anak mengalami atopi 5-15% (Sawitri, 2007).

(8)

Pemberian EBF akan memperlambat terjadinya CMPA akan tetapi EBF tidak menurunkan kejadian atopi (Snijder, Thijs dkk, 2008).

Tidakada gejala CMPA yang patogpnomonik untuk diagnosis CMPA. Variasi gejala klinis meliputi; pada gastrointestinal men-capai 50-60%, kulit 50-60%, saluran nafas 20-30%. Gejala dapat ringan, sedang sampai berat yang dapat mengancam jiwa seperti anafilaksis, udem laring, asma berat. Diagnosis banding CMPA antara lain kelainan metabolisme, kelainan anatomis, penyakit celiac, enteropati, insufisiensi pankreatik (cystic fibrosis), reaksi non-imunologi terhadap makanan seperti malabsorpsi fruktose, intoleransi laktosa.

Perlu mendapat perhatian adanya gejala klinik yang mirip, misalnya refluk gastroesofagus pada CMPA yang dapat terjadi pada 15-21%. CMPA juga dapat terjadi kolik infantil.

Demikian juga hubungan antara CMPA dengan gejala derma-titis atopi. Semakin berat dermaderma-titis, semakin muda anak maka sangat mungkin ada kaitan antara CMPA dengan dermatitis atopi.

CMPA dapat bersamaan dengan alergi makanan lain seperti telur, ikan, kacang, sehingga pada saat diagnosis, perlu dipertim-bangkan untuk melakukan eliminasi bahan-bahan makanan tersebut (Vandenplas, 1997).

Gejala Klinik.

Organ target CMPA meliputi: kulit, saluran cerna, saluran nafas, sistim kardio vaskuler, mata. Gejala klinik pada kulit berupa eczema, rash, urticaria, swelling, dryness.

(9)

anemia defisiensi besi, berak berdarah dan berlendir, diare kronik, gangguan pertumbuhan. Muntah maupun diare kronik dapat me-nyebabkan gangguan tumbuh kembang, maupun diare akut berat.

Gejala di saluran nafas berupa batuk, rhinitis, wheezing, reaksi alergi yang berat dapat menyebabkan; asma berat, edema laring akut, dermatitis atopi disertai eksudasi, anafilaksis.

Diagnostik

Adanya riwayat atopi dalam keluarga (ayah & ibu, ayah saja, atau ibu saja, saudara, kakek, nenek, usia penderita). Gejala klinik atopi bervariasi misalnya adanya rhinitis, dermatitis atopi, asma, GER dan diare kronik. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis; eliminasi dan provokasi bahan yang diduga sebagai alergen.

Endoskopi, pemeriksaan biopsi yang dilanjutkan pemeriksaan patologi anatomi. Diagnostik lainnya adalah RAST, SPT. Pemerik-saan IgE total, IgE spesifik. Uji SPT menggunakan ekstrak komer-sial memberikan58,8% positif, sedangkan pemakaian alergen fresh fooddapatmemberikanpositifitas sebesar 91,7%. Hal ini menunjuk-kanfresh foodmemberikan hasil yang lebih baik daripada pemakian ektrak komersial. SPT dan RAST bermanfaat dalam penentuan progosis dan lama penyakit

Proporsi Eosinofil darah tepi lebih dari 3% dan jumlah eosi-nofil absolut lebih dari 300/mL.

Eliminasi dan provokasi merupakan baku emas diagnostik CMPA (Vandenplas, Bruiton dan Dupon, 2007).

Uji provokasi

(10)

Hendaknyaprovokasidilakukandi bawah pengawasan dokter, dapat dilakukan di luar rumah sakit, akan tetapi perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya reaksi berat seperti anafilaksis, hal ini mungkin terjadi setelah periode eliminasi. Dapat pula terjadi awal-nyamunculgejala klinis ringan diikuti gejala klinis berat. Sehingga provokasi hendaknya dilakukan di rumah sakit, dengan peralatan resusitasi, persiapan pemberian cairan intravena dan obat-obat lainnya. Langkah selanjutnya dilakukan pemeriksaan SPT dan IgE. Adanya dugaan gejala klinis berat, uji provokasi hendaknya diper-timbangkan untuk tidak dilakukan kecuali uji SPT atau IgE menunjukkan perbaikan. Prosedur provokasi dilakukan dalam dosis kecil, awalnya diteteskan susu formula pada bibir, timbul reaksi sekitar 15 menit. Kalau tidak ada reaksi maka dimulai pemberian CMP yang ditingkatkan bertahap selang waktu setiap 30 menit dari 0,5 ml sampai 100 ml yang diberikan secara bertahap. Lihat reaksi pada kulit atau saluran nafas. Setelah 2 jam tidak ada reaksi, anak boleh pulang. Orang tua dipesankan untuk melihat reaksi lambat yang mungkin timbul setelah anak diberikan CMP. CMP dari susu formula dapat diberikan sebanyak 250 ml/hari pada minggu berikutnya.

Uji provokasi positif:

(11)

Uji provokasi negatif= bukan CMPA

Pada anak dengan uji provokasi negatif, selama 1 minggu diberikan diet normal dengan observasi kemungkinan timbulnya reaksi atopi. Orang tua dipesankan untuk melihat kemungkinan timbulnya reaksi atopi lambat, setelah beberapa hari.

Tatalaksana

Penatalaksanaan CMPA pada prinsipnya adalah eliminasi CMP dan makanan yang mengandung susu sapi.

Pada ibu hamil dan menyusui, disarankan untuk diet bebas CM dan produk makanan yang bebas CMP. Keluarga penderita seharusnya perlu diberitahu untuk dapat memilih produk makanan yang tidak mengandung CMP.

EBF sampai usia 4 bulan-6 bulan. Kejadian CMPA minimal pada bayi yang minum EBF apabila dibandingkan bayi minum CMP atau kombinasi ASI dan CMP. Sekitar 0,5% penderita CMPA pada bayi minum ASI eksklusif dan gejala klinik yang timbul ringan sampai sedang. Klinik CMPA berat seperti dermatitis atopi berat, hilang protein enteropati disertai gangguan tumbuh kembang, anemia akibat enterokolitis dan perdarahan rektum. Komponen protein ada pada ASI seperti susu sapi, telur, kacang yang dapat menyebabkan efek samping selama bayi minum ASI pada anak yang sensitif. Pada ibu yang menyusui, diet ibu bebas susu sapi.

(12)

Pemberian susu kedelai masih menjadi kontroversi, oleh karena anak yang alergi CMP, 17-47% juga alergi susu kedelai. Di sisi lain sudah diketahui susu kedelai mengandung fitat yang meng-hambat penyerapan zat besi dan zink. Pemberian susu kedelai men-jadi pertimbangan.

Air susu kambing (GMP= goat’s milk protein, atau sheep’s milk= SMP), susu unta dan susu kuda tidak dianjurkan, oleh karena komponen protein di dalam susu-susu tersebut juga mengandung komponen protein alergen, sehingga susu formula dari GMP tidak direkomendasikan sebagai pengobatan CMPA.

Proses pasteurisasi, pemanasan, evaporasi tidak menghilang-kantetapi hanya mengurangi efek antigen atau CMPA. Pada umum-nya CMPA akan menghilang pada usia 2-3 tahun, maka untuk menghindari diet bebas CMP berkepanjangan, serta pengobatan yang berlebihan, maka perlu dilakukan uji ulang terhadap reaksi alergi dari CMP pada usia 6-12 bulan. Uji ulang dilakukan selang 1-2 tahun setelah anak berusia diatas 3 tahun (Host, 1997).

Saat ini dikembangkan immunoterapi spesifik (ITS) atau “vaksinasi” alergen, untuk memicu desensitisasi alergen spesifik (dalam Rengganis I, 2008). Beberapa waktu ini prebiotik dan probiotik, dipergunakan mengurangi efek alergi (Bindels, 2008).

Algoritma diagnostik dan tatalaksana CMPA pada anak dengan EBF

(13)

Gejala klinis CMPA yang berat jarang terjadi pada anak yang minum ASI eksklusif. Kejadian anak dengan ASI eksklusif sekitar 0,5% dan umumnya akan mendapatkan CMPA ringan atau sedang. Perbedaan ini menyangkut masalah imunomodulator dan flora usus

Anak dengan CMPA berat dapat menyebabkan anemia oleh karena perdarahan rektum akibat kolitis ataupun adanya losing enteropathy. Kondisi ini jarang, tetapi perlu pemeriksaan yang lebih teliti.

Bayi dengan dermatitis atopi, cenderung mendapatkan alergi lebih sering akibat pemberian susu (Vance GH dkk, 2005) maupun telur pada ibu dari pada anak yang tidak menderita dermatitis atopi (Scoetzou dkk, 2002).

Potensi penyebab alergi susu sapi dan telur, pada anak ter-sebut cenderung juga mengalami alergi terhadap alergen lain seperti gandum atau ikan laut. Eliminasi diet pada dermatitis atopi atau kolitis hendaknya dilanjutkan sampai 2-4 minggu. Ibu diberi-kan kalsium 1000 mg/hari dan pemberiannya dibagi dalam bebe-rapa dosis, selama eliminasi diet. Apabila dengan diet makanan yang diduga sebagai penyebab alergi, maka makanan ibu kembali dapat diberikan seperti semula sebelum dilakukan eliminasi. Apabila dengan elimonasi diet, gejala tidak timbul, maka secara bertahan diet satu persatu diberikan setiap minggu, sampai semua diberikan seperti sebelum diperlakukan eliminasi diet.

(14)

Algoritma dan tatalaksana CMPA pada anak minum susu formula

Penderita alergi dengan gejala berat, seperti gejala saluran nafas atau anafilaksis/syok sebaiknya segera dirawat bagian gawat darurat rumah sakit. Diagnostik CMPA sama dengan penderita yang minum ASI eksklusif, mencari riwayat adanya alergi di dalam keluarga

Algoritma tergantung berat ringan gejala. Apabila gejalan ringan sedang, maka langkah awal untuk mendiagnosis CMPA adalah eliminasi diet CMP. Anak dengan angioudem pada bibir, mata, urtikaria, muntah terus menerus, cenderung akibat alergi tipe Ig-E. Pada bentuk ini pertama harus diberikan penanganan sebelum dilakukan provokasi. SPT yang positif, tampaknya akan memberi-kan reaksi positif pada provokasi, tidak memberiinformasi beratnya alergi. Penelitian Celic Belgili (dalam Vandeplas, 2005), reaksi RST, 60% menunjukkan provokasi klas 1, 50% klas 2, 30% provo-kasi klas 3 dan selebihnya 20% provoprovo-kasi negatif atau kelompok klas 4.

Diagnostik CMPA dengan gejala ringan sedang

(15)

Susu eHF merupakan pilihan utama, apabila eHF anak tidak mau oleh karena rasanya yang kurang enak maka pilihannya adalah AAF. Kegagalan pemberian eHF pada CMPA mencapai 10%. Kegagalan pemberian eHF dapat dijumpai juga bersamaan dengan kegagalan pemberian AAF. Akan tetapi ada laporan bahwa sisa alergen eHF dapat disebabkan reaksi IgE. Apabila pemberian AAF tidak memberikan hasil perlu dipikirkan diagnosis lainnya. Masalah yang lain yaitu harga AAF sangat mahal.

Uji diagnostik CMPA

Tidak ada diagnostik pasti yang memberikan bukti anak penderita CMPA. Eliminasi dan provokasi pada formula nutrien CMP, merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis CMPA baik yang ringan, sedang atau berat (Vandenplas dkk, 2007). Pada uji SPT, maka pemberian CMP segar akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada pemberian parsial CMP. Penelitian menunjuk-kan bahwa perbandingan antara hasil SPT antara alergen komersial dibandingkan dengan CMP segar 58,8 % dibanding 91,7%. Pada SPT pemberian alergen dengan makanan segar memberikan hasil yang lebih baik, seperti pada alergi telur, susu sapi, ikan dan kacang (Rance dkk, 1997).

(16)

Penderita CMPA berat

Pada penderita dengan CMPA yang berat dapat menimbulkan diare kronik yang berakibat malnutrisi. Adanya riwayat gejala klinis berat dan mengancam jiwa, merupakan kontraindikasi untuk dilakukan provokasi atau bila dilakukan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Penderita diberikan pemberian eHF atau diet AAF.

Proctitis/Proctocolitis

Anak kelihatan sehat. Gejala muncul pada usia beberapa bulan, sekitar 2 bulan. Di dalam tinja ditemukan bercakan darah dan mukus. Darah yang hilang minimal, jarang menyebabkan anemia. Pada umumnya anak masih minum ASI. Sebagai pemicu proctocolitis adalah CMP dan jarang susu kedelai. Gejala berasal dari diet ibu yang mengandung CMP. Pemeriksaan biopsy dan PA menunjukkan infiltrasi eosinofil dan hiperplasia limfonoduler. Mekanisme hipersensitivitas tidak berkaitan dengan IgE. Hasil PST negatif. Perdarahan pada umumnya akan berhenti dalam waktu 72 jam setelah CMP yang diduga sebagai penyebab di eliminasi. Pada umumnya gejala akan menghilang pada usia 1-2 tahun

Cow’s Milk Protein sensitive Enteropathy (CMPSE)

(17)

dapat menyebabkan edema, distensi abdomen, anemia, malnutrisi (dalam Hegar B, 2007). Tatalaksana yaitu eliminasi nutrisi alergen CMP, koreksi anemia dan malnutrisi.

Kolik infantile

Beberapa bukti menunjukkan hubungan CMPA dengan kolik infantile. CMP pada bayi mengalami kolik sekitar 44%. Pemberian eHF atau pHF, lebih memberikan efek daripada pemberian formula rendah laktosa.

Immediate Gastrointestinal Hypersensitivity

Gejalanya akut, mulai beberapa menit hingga 1-2 jam. Gejala berupa nausea, muntah, beberapa menit setelah makan/minum, akan timbul abdominal pain. Beberapa jam kemudian dapat disertai diare. Mekanisme imun terjadi akibat IgE-mediated. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi dehidrasi. dan eliminasi CMP.

Eosinophilic Gastroenteropathies

Terdiri dari; eosinophilic, Esophagitis dan Gastritis. Diagno-sis dan tatalaksana yang sulit adalah allergic eosinophylic esopha-gitis. Penyakit ini mirip dengan GER (gastroesophageal reflux), gastritis.PadaEsophagitis dan gastritis, sangat dianjurkan dilakukan endoskopi dan biopsi, selanjutkan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Eosinophilic primer merupakan 1% dari esophagitis. Pengobatan ditujukan pada reflux esophagitis memberikan respon pada pengobatan GER.

Konstipasi kronik

(18)

motorik, mengakibatkan konstipasi. Infiltrasi limfosit dan eosinofil pada lamina propria dan peningkatan eosinofil intraepithelial dan infiltrasi pada kripta, ditemukan pada CMP disertai konstipasi. Eliminasi CMP akan memperbaiki konstipasi kronik, dan apabila dilakukan provokasi akan memberikan relap.

Anafilaksis

CM sebenarnya jarang menimbulkan anafilaksis. Anafilaksis merupakan keadaan klinik, yang diakibatkan pelepasan secara men-dadak mediator aktif dari sel mast dan basofil yang mengakibatkan urtikaria kulit, angioedema, kulit memerah (flushing), spamus bronchus, edema laring, kardiovaskuler seperti hipotensi, disritmia iskemia miokardial dan gejala gastrointestinal seperti nausea, pain abdomen kolik, muntah, diare. Di USA diperkirakan kejadian ana-filaksis terjadi 30 kasus per 100.000 orang per tahun. Di Australia, 0,59% anak usia 3-17 tahun mengalami anafilaksis. Penyebab anafilaksis dapat disebabkan bahan makanan yang berasal dari kacang, telur, susu sapi, ikan, bahan makanan yang mengandung susu sapi seperti keju, yoghurd, es krim. Tatalaksana anafilaksis harus dilakukan secara agresif dengan pemberian epinefrin intra-muskuler atau antihistamin H1 dan H2 secara intravaskuler,

pem-berian oksigen, cairan intravena. Pada asma maka pempem-berian b-agonisdankortikosteroidinhalasialbuterol.Menghindari penyebab

(19)

Di bawah ini disalin algoritma diagnostik dan tatalaksana CMPA dari Vandenplas dkk (2007)

Suspecion of cow’ milk protein allergy (CMPA)

Clinical assessment *clinical findings *family history (risk factor) Suspecian of mild to moderate CMPA

One or more of the following symptoms:

· gastrointestinal: frequent regurgitation,

· vomiting, diarhoea, constipation (with/without perianal rash), blood in stool, iron deficiency anemia

· dermatological: atopic dermatitias

· general: persistent distress or colic (>=3 h per day wailing/irritable) at least 3 days/week over a period of >3 weeks

· other (rare)

Continue breastfeeding Elimination diet in mother, no CMP for 2 weeks (or up to 4 weeks in case of atopic eczema or allergic colitis) plus Ca supplement, and no egg

No Improvement

Reintroduce CMP Resume normal diet in mother and/or consider other (allergic) diagnosis*

Symptoms Maintain elimination diet in Mother (plus Ca

supplement) No symptoms Reintroduce egg and monitor

EHF after breast feeding, solid food free of CMP until 9-12 months of age, and at least 6 months

Algorithm for the diagnosis and management of cow’s milk protein allergy (CMPA) in exclusively brest-fed infants, eHF, extensively hydrolysed formula

Improvement

Suspician of severe CMPA

One or more of the following symptoms:

· Gastrointestinal: failure to thrive because of diarhhoea or regurgitation/vomiting; refusal to feed, moderate to large amounts of blood in stool with decreased haemoglobin; protein-losing enteropathy

· Dermatological: failure to thrive and severe atopic dermatitis

(20)

Suspician of cow’s milk allergy (CMPA)

Suspician of mild to moderate CMPA One or more of the following symptoms: *Gastrointestinal: frequent regurgitation, vomiting, diarhhea, constipation (with/without perianal rash), blood in stool, iron deficiency anemia

*Dermatological: atopic dermatitis *General: persistent distress or colic (>/= 3 h per day wailing/irritable) at least 3 days/week over period of > 3 weeks Resume CMP in diet and monitor

CMPA symptoms Maitain CMP elimination diet until 9-12 months of

age, and least 6 months Repeat challenge

Suspician of severe CMPA One or more of the following symptoms:

Gastrointestinal: failure ti thrive due to chronic diarhhoea, and/or regurgitation/vomiting and/or refusal to feed; iron deficiency

Algorithm for the diagnosis & management of CMPA in formula-fed infantimfants

Improvement

Paediatric specialist Diagnostic procedures

(21)

Pencegahan

Pencegahan primer

Pencegahan primer dilakukan pada ibu berisiko alergi yang sedanghamil,dianjurkanuntukmenghindari makanan dan minuman seperti susu, telur, ikan laut, dan kacang-kacangan. Pemberian susu hipoalergenik, diharapkan terjadi respon toleransi pada bayi di kemudian hari. Pencegahan primer ini masih menjadi kontroversial (Wido, 2006; Mc Bean, 2006)

Pencegahan sekunder

Pada anak yang sudah diketahui terjadi CMPA. Diketahui dengan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah perifer atau tali pusat atau SPT. Menghindari CMP. Dengan pemberian pHF atau eHF atau susu kedelai akan menghindari sensitisasi lebih lanjut (Wido, 2006; Mc Bean, 2006).

Pencegahan tertier

Pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjuk-kan manifestasi alergi ringan seperti dermatitis, rhinitis pada anak usia 6 bulan sampai 4 tahun, diberikan eHF atau pHF. Bila gejala berat terjadi, maka anak diberikan susu AAF (Wido, 2006). Pem-berian susu soya masih merupakan kontroversi. Pengalaman beberapa pengamat, pemberian susu soya memberikan perbaikan klinis.

Prognosis

(22)

KESIMPULAN

Gejala klinis alergi makanan sangat bervariasi. Eliminasidan provokasi merupakan baku emas diagnostik. Untuk menegakkan diagnosis perlu secara cermat di telusuri adanya faktor risiko, adanya riwayat atopi di dalam keluarga. CMPA perlu mendapat perhatian khususnya pada usia dibawah 3 tahun, terutama lagi usia dibawah 1 tahun. Gejala klinik CMPA dari saluran cerna dapat berupa muntah, CMPSE, konstipasi, kolik infantil, proktitis, Immediate Gastrointestinal Hypersensitivity, eosinophilic gastro-enteropathy, diare kronik yang dapat menyebabkan malnutrisi dan anemia. Pada masa penyapihan, CMPA gejala ringan-sedang, pem-berian pHF, eHF maupun eliminasi CMP perlu dipertimbangkan. Penderita CMPA dengan anafilaksis jarang terjadi, dan bila terjadi tatalaksana sesuai tatalaksana anfilaksis pada umumnya, disertai eliminasi penyebab alergi. Perlu dilakukan pencegahan. Promosi pemberian EBF. Penderita penderita CMPA perlu dilakukan evaluasi berkala setiap 6 bulan sampai usia 3 tahun dengan melakukan provokasi CM, perlu dilakukan dengan hati-hati.

Ilustrasi Kasus

(23)

menunjuk-kan kelainan. Ditelusuri dari ayah dan ibu ada riwayat atopi yaitu rinitis alergika. Setelah pemberian pHF gejala tidak membaik, bahkan gejala muntah dan diare semakin memberat. Susu diganti dengan eHF, tetapi anak menolak. Kemudian diberikan susu soya, dan muntah dan diare mengalami per-baikan. Pada pemberian CM, anak mengalami muntah dan diare lagi. Diare dan muntah mengalami perbaikan setelah diberikan susu soya lagi.

2. Seorang anak perempuan, usia 2.5 tahun dengan berat badan 20 kg. Suhu 37,20C. RR 30 x/menit. Nadi 110 x/menit. CRT < 2 detik. Diagnosis klinis diare akut dehidrasi ringan. Anak minumASIsampaiusia2 tahun. AL 8.400/mm3, AE 5.000/mm3. Eosinofil 3%, basofil 0%, staf 2%, segment 61%, limfosit 30%, monosit 3%. Trombosit 360.000/mm3 Pemeriksaan tinja dan urin, tidak menunjukkan kelainan. Selama pemberian ASI, anak secara berselang mendapat susu formula. Beberapa bulan sudah ada gejala gatal dikulit, yang tidak hilang secara total. Pada suatu saat gatal meningkat disertai muntah dan diare cair berulang. Tanpa panas, tanpa lendir dan tanpa darah dalam tinja. Keluarga ibu, kakek, nenek ada riwayat atopi. Eliminasi susu formula segera menghentikan muntah dan diare, dermatitis atopi bertahap menghilang. Oleh karena itu CMP perlu di-eliminasi seterusnya, sedangkan kebutuhan nutrisi sudah ter-penuhi dari makanan yang lain karena anak mau makan dengan berbagai variasi makanan. Perlu dipikirkan untuk melakukan provokasi CM atau makanan yang mengandung CM untuk meyakinkan apakah anak masih menderita CMPA yang terdapat pada makanan yang mengandung CM.

(24)

adanya atopi pada anaknya meskipun dermatitis atopi sudah berlangsung lama. Dermatitis atopi dianggap akibat perubahan suhu tempat tinggal, dari daerah dingin ke daerah dengan suhu lebih panas. Kedua kasus diatas bila tidak terdiagnosis, dapat memberikan risiko diare kronik dan malnutrisi. Pemeriksaan RAST, SPT dan IgE bermanfaat untuk menentukan prognosis selanjutnya.

SesuaipenelitiandiEropa(Sneiyder dkk, 2008), penangguhan pemberian susu formula, tidak akan menurunkan kejadian CMPA.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan

Perkenankan sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, saya sampaikan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, atas tuntunan dan petunjuk serta karunia-Nya yang saya terima, sehingga saya masih diperkenankan untuk menerima jabatan ini. Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Teriring doa, semoga Allah SWT selalu memberikan pentunjuk dan bimbingan-Nya, agar saya dapat mengemban amanah sebagai Guru Besar... Amin

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,

Selanjutnya perkenan saya untuk menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus, kepada yang terhormat:

1. Pemerintah Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di lingkungan Fakultas Kedokteran Sebelas Maret.

(25)

Admadi Suroso, dr.,SpM selaku Dekan FK UNS, pada tahun 1997-1998 memberikan ijin pada saya untuk melanjutkan pendidikan S3.

3. Rektor Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Moch. Syamsul-hadi, dr., Sp.KJ (K). Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. AA.Subiyanto, dr., MS, anggota senat FK UNS dan para anggota senat UNS yang telah menyetujui pengangkatan saya sebagai Guru Besar.

4. Prof. Dr. H. Soegeng Soegijanto, dr., SpA(K), DTM&H Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK UNAIR. Prof. Dr. Soewignjo Soemohardjo dr., SpPD, KGEH dari RSU Mataram NTB dan Prof. Widodo J. Pudjirahardjo,dr., MS, MPH, Dr. PH Guru Besar Kesehatan Masyarakat UNAIR yang masing masing telah bersedia menjadi Promotor dan Ko-Promotor serta sebagai guru saya. Ketiga beliau tersebut memberikan dorongan dan dukungan moril sehingga saya dapat melanjutkan langkah saya ke jenjang jabatan akademik. Saya ucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan oleh; Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr., MS. Drh. Widya Asmara, MS, PhD, Dr. Eddy Bagus Wasito, dr. SpMK, MS, Prof. Dr. Subijanto Marto Sudarmo, dr., SpA(K), Prof.. Purnomo Suryohudoro, dr. Prof. Dr. Soegeng Soekamto, dr., MS (alm), Prof. Dr. Pitono Suparto, dr. SpA(K) (alm), Prof. Marsetyawan HNE Soesatyo, dr. MSc, PhD.

5. Prof. Dr. Agus Firmansyah, dr., SpA(K) dari Ilmu Kesehatan Anak FK UI dan Prof. Srisupar Yati Soenarto, dr., SpA(K), Ph.D Guru Besar dari Ilmu Kesehatan Anak FK UGM, yang telah memberikan perhatian dan dorongan pada saya untuk melanjutkan ke jenjang jabatan akademik yang lebih tinggi. 6. Saya ucapkann terima kasih dan dengan segala hormat, saya

(26)

memberikan motifasi untuk terus belajar sehingga saya dapat mencapai ilmu yang lebih tinggi.

7. Terima kasih saya saya sampaikan Rektor UGM dan Dekan FK UGM, guru guru saya pada saat saya mengikuti kuliah di FK UGM Jogyakarta, seluruh civitas akademika Universitas Gajah Mada, tempat saya menuntut ilmu sampai memperoleh gelar dokter.

8. Terima kasih saya saya sampaikan Rektor UNDIP, Dekan FK UNDIP, guru saya dan seluruh civitas akademika UNDIP, tempat saya menuntut ilmu sampai memperoleh gelar Dokter Spesialis Anak. Kepada yang terhormat DR. RRY Sri Djoko-muljanto sebagai Dekan FK UNDIP, Direktur RSUP Dr. Kariadi Dr. Suraryo yang telah menerima saya mengikuti pendidikan di Bag.Lab IKA FK UNDIP/RSUP Dr Kariadi Semarang. Khususnya saya sampaikan ucapan terima kasih pada guru saya Prof. dr. Moeljono Trastotenojo, SpA(K) Kepala Bagian/Lab Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP/RSUP Dr.Kariadi, yangtelahmemberikan kesempatan untuk melanjut-kan pendidimelanjut-kan Dokter Spesialisasi Ilmu Kesehatan Anak di Lab/Bagian IKA FK UNDIP/RSUP DR. Kariadi. Demikian juga ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. dr.

(27)

Soetardji Notoatmodjo, dr., SpA(K), MPH, Dr. Tatty Ermin Setiadi, dr. Sp.A(K), dan seluruh staf medis dan nonmedis Lab/Bagian IKA FK UNDIP/RSUP Dr. Kariadi atas segala bantuan dan kerjasamanya selama saya mengikuti pendidikan. Seluruh civitas akademika FK UNDIP, tempat saya menuntut ilmu sampai memperoleh gelar Dokter Spesialis Anak.

9. Kepada yang terhormat Prof. Drs. Med Puruhito, Sp.BJP dan Prof. Dr. H. Soedarto, DTM&H, Ph.D, Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sudijono Tirtowidarto, dr.,Sp.THT sebagai direktur Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Prof. Dr. H. Muhammad Amin, dr., Sp.P sebagai direktur Program Pasca sarjana Universitas Airlangga Prof. Dr. Laba Mahaputra, drh. M.Sc Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana UNAIR. Prof. Dr. Juliati Hood Alsagaff, dr., MS, FIAC Ketua Program Studi Ilmu Kedokteran S3 Pascasarjana Iniversitas Airlangga. Atas segala perkenannya, saya dapat menyelesaikan pendidikan S3 di Unair Surabaya.

(28)

11.Direktur RSUD Dr. Muwardi saat itu M. Abdul Rasim, Dr., Sardjono, dr., Sudjoko, dr yang memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan S3 di UNAIR, saya ucapkan terima kasih. Yang saya hormati Isbandiyah Naharyeni. dr., Sp.A (alm), direktur RSUP Dr. Muwardi Sutrasno, dr., Sp.M (alm) yang telah berkenan menerima di Bagian Penyakit Anak RSUD Dr. Muwardi, demikian juga Faried Herman, dr. (alm) Sekretaris Dekan FK UII, Dekan FK UII Suroyo, dr. Sp.Rad (alm), Prof. Drs. Radioputro (alm) Dekan FK UII yang telah menerima saya di Bagian Penyakit Anak FK UII/RSUD Dr. Muwardi. Atas segala bantuannya, memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan Dokter Spesialis Anak.

12.Kepada rekan rekan sekerja, saya ucapkan terima kasih Sabdo-waluyo, dr., Sp.A (alm), Indrawarman, dr., Sp.A (alm). Dr. Suhadi, dr., Sp.A(K) (alm), Mustarsid, dr., SpA, Sunyataning-kamto, dr., Sp.A, Ngatrini, dr., Sp.A, Rosyid Ridho A,dr., Sp.A, Iskandar Zulkarnaen, dr., Sp.A(K), Prof. Dr. Harsono Salimo, dr., Sp.A(K), Yulidar Hafidz, dr., Sp.A(K), Syahrir Dullah, dr., Sp.A, Ganung Harsono, dr. Sp.A(K), Rustam Siregar, dr., Sp.A, Endang Tatar, dr., Sp.A(K), MPH, Dr. Pudjiastuti, SpA(K), Dr. Martuti, Sp.A, Mkes, Dr. Dwi Hidayah, Sp.A, Mkes, Muh.Riza, dr., Sp.A, Mkes, Annang Giri Moelyo, dr., Sp.A, Mkes dan seluruh staf dan paramedis di Lab.IKA /Unit Penyakit Anak FK UNS/RSUD Dr Moewardi yang tak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah bekerja sama saling mengisi kekosongan saat saya mengikuti pendi-dikan dan mengganti tugas tugas saya.

(29)

melimpahkan rahmat dan mengampuni segala dosanya dan diterima ibadahnya.

14.Kedua mertua saya, Bapak Wignjomartono (alm) dan Ibu Wignjomartono (alm) yang telah memberikan restu, dorongan moril kepada saya dan keluarga, kasih sayang pada para cucu dan keluarga, saya ucapkan terima kasih.

15.Kepada Pakde (alm), Bude Marsudi (alm) dan Paklik Murtedjo (alm) yang telah memberikan bimbingan dan dorongan moril sehingga saya dapat menapak sekolah lebih lanjut.

16.Kepada semua empat saudara saya dan saudara ipar saya atas dorongan dan doanya, saya ucapkan terima kasih.

17.Kepada ketiga anak saya, Wawan, Rosa, Riri, saya ucapkan terima kasih atas pengertiannya dan doanya. Saya doakan agar selalu mendapatkan khusnul khotimah dan semoga selalu mendapat lindungan dari Allah SWT.

18.Demikian juga ucapan terima kasih saya sampaikan istri tercinta Wuryantiningsih yang telah mendampingi saya selama 37 tahun di saat suka dan duka, menghantarkan anak-anak berkeluarga, selalu ikhlas, setia, memberikan dorongan selama saya mengikuti pendidikan S3. Semoga selalu mendapatkan rahmah dan barokahnya.

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Chong S, Sanderson I, Wright V, Walker Smith JA, 1984. Foot allergy and infantile colitis. Arch Dis Child; 59:690-1

Bindel J.G, 2008. Immune-modulatory effects of prebiotic oligosaccharides: new data from experimental and clinical studies. Immunity Breakthroug. Di Jogyakarta

Damayanti R.S, 2006. Seminar Alergi. IDAI Jakarta.

Damayanti W, 2007. Cow’s milk protein sensitive enteropathi. Kongres Nasional Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia (BKGAI), Surabaya. 59-65

Eggesbo M, Botten G, Halvoren R, Magnus P, 2001. The prevalence of CMA/CMPI in young children: the validity of parentally perceived reactions in population-based study. Allergy 56:393-402

Harjono K, 2008. Recent Treatment Of Atopic Dermatitis In Children. Pertemuan Simposium; One Day Simposium, Children’s Allergy in Clinical Perspective. Surakarta.

Hegar B, 2007. Cow’s Milk Protein Allergy and Clinical Aspect of Gastrointestinal. Seminar Alergi Anak, Semarang.

Host A, 1997. Cow’s milk allergy. Journal of The Royal Society of Medicine. Sup No 30, vol 90 p: 3436

Iskandar Z, 2008. Diagnosis dan tatalaksana asma pada anak. Pertemuan Simposium; One Day Simposium, Children’s Allergy in Clinical Perspective. Surakarta.

(31)

Mc Bean L, 2006. Cow’s milk allergy versus lactose intolerance. Dairy Council. Digest; 77,3

Pitono S, Subijanto MS, Suhartono TP, FM Judajana, 2003. Gangguan Sistem Imun Mukosa Intestinal. Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. RSUD Dr.Soetomo-Surabaya. Hal 336-353

Rance F, Juchet A, Breman F, et al, 1997. Comparison between skin prick tests with commercial extracts and fresh foods specific IgE and food challenges. 52: 1031-5

Rengganis I, 2007. Immunotherapy In Allergy. Pertemuan Simposium; One Day Simposium, Children’s Allergy in Clinical Perspective. Surakarta.

Saarinen KM, Juntunen-Backman K, Jarvenpaa AL,1999. Supplementary feeding in maternity hospitals and the risk of cow’s milk allergy: a prospective study of 6209 infants. J Allergy Clin Immunol; 104:457-461

Sampson HA and Leung DYM, 2004. Adverse Reaction to Foods. In Nelson Textbook of Paediatrics. Saunders 17th Ed. p; 789-790

Santosa H, 1989. Masalah alergi makanan pada anak. Disampaikan pada Simposium Alergi Makanan. Denpasar, 7 Februari.

Schoetzau A, Filipiak-Pittrof B, Frank K et al, 2002. German Infant Nutritional Intervention Study Group. Effect of axclusive breast-feeding and early solid food avoidance on the incidence of atopic dermatitis inhigh-risk infants at 1 year of age. Pediatr Allergy Immunol. 13:234-42

(32)

Siti Boedina Kresno, 1996. Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Fakultas Kedokteran Indonesia. Ed 3: hal 80-87

Snijders B.E.P, Thijs C, Ree R, and Brandt P, 2008. Age at First Introduction of Cow Milk Products and Other Food Products in Relation to Infant Atopic Manifestation in the First 2 years of Life: The KOALA Birt Cohort Study. American Academic of Pediatr. Diunduh dari http://www.pediatrics.org/cgi/ conten/full/ 122/1/e115 pada jam 20 12.12.2008

Vandenplas Y, 2007. Universitair Ziekenhuis Brussel, Brussels, Belgium. Effect of external enviroment on mucosal immune response.

Vance GH, Lewis SA, Grimshaw KE et al, 2005. Exposure the fetus and infant ti hens’s egg albumin via placenta and breast milk in relation to maternal intake of diatary egg. Clin.Exp Allergy. 35:1318-20

Vandenplas Y, Brueton M, Dupont C, Hill D, Isolauri E et al, 2007. Guideline for diagnosis and management of cow’s milk protein allergy in infant. Arch Dis Chil. 902:902-908. (Downloaded from adc-bmj.com on 4 November 2007)

(33)

RIWAYAT HIDUP

A. Data Pribadi

Nama : Prof. Dr. Bambang Subagyo, dr., Sp.A(K) NIP : 130 543 189

KAR.PEG.NEG.SIPIL : N 533803

Tempat/tgl lahir : Pacitan , 16 Desember 1943 Agama : Islam

Jabatan : Guru Besar bidang IKA,

Fakultas Kedokteran UNS Surakarta Alamat rumah : Jl. Prof. Dr. Supomo No 119 Surakarta Kantor : Jl. Ir. Sutami No 36A Surakarta

Nama Istri : Hj. Wuryantiningsih

Nama anak : 1. Yunianto Setiawan, dr., SpB 2. S Rosa Yulianawati.,SE.,MM 3. Ariadi Agus Triawan,S.Sn Nama Menantu : 1. Anisah Restu Wijayanti.SE 2. Luqman Hakim, SpD.,SE.,MSA 3. Tutik Frigiani, S.Sn

Nama Cucu : 1. Amanda S.Nurariani 2. Ayudya P.Rosemanty

B. Riwayat Pendidikan

Tahun 1957 lulus SR : Sekolah Dasar Taman Siswa di Jogyakarta

Tahun 1959 lulus SMP : SMP Negri V Jogyakarta

Tahun 1962 lulus SMA : SMA Paedagogik UGM Jogyakarta

Pendidikan Tinggi :

Tahun 1970 : Lulus Dokter Umum,

(34)

Tahun 1981 : Lulus Dokter Spesialis Anak

Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang Tahun 2004 : Lulus Program Doktor

bidang Ilmu Kedokteran,

Program Pascasarjana UNAIR Surabaya Tahun 2005 : Konsultan Gastroenterologi Anak,

Kolegium IKA, Jakarta.

C. Pendidkan Tambahan

1981 : Intercountry training on diaorhheal diseases

1982 : Traveling Seminar on Recent Development of Breast Feeding. Semarang

1982 : Short Course on Diarrheal Diasease, CDDRB,WHO, Dhaka, Bangladesh.

1994 : Akta Mengajar V

1994 : Departemen IKA Sub. Bag Gastroenterohepatologi FK UI/RSUP Dr. Tjiptomangunkusumo, Jakarta 1995 : JIECC Jakarta International Epidemiology Course for

Clinicians, FK UI, UICC, Jakarta

Beberapa tahun: PMPD, Jakarta, Surakarta, Surabaya, Jogyakarta 1996 : Studi banding NUS Medical Faculty, Singapura 2008 : Sertifikasi Dosen

D. Peserta/Pembicara Kongres

1992 : Peserta, KONIKA ke IX, Semarang

1996 : Peserta, Pembicara, KONIKA ke X, Bukittinggi

(35)

1998 : Peserta, 4th National Congres of The Indonesian Society for The Study of Tropical Medicine and Infections Disease for The Study of Tropical Medicine and Infections Diseases. Semarang

1999 : Peserta, pembicara, PGD V, Surakarta

2000 : The Third Western Pacific Helicobacter Congress, Bali 2003 : Peserta APASL, Bali

2003 : Peserta, Pembicara, BKGAI, , Bandung

2005 : Peserta, 15th Asian Pacific Association for the Study of the Liver, Bali

2005 : Peserta, Pembicara KONIKA ke XIII, Bandung 2006 : Pesrta, Pembicara, Peralmuni, Nasional, Surakarta 2006 : Peserta, Pembicara Pertemuan Ilmiah Nasional

BKGAI, , Surabaya

2007 : Peserta, PIT IKA ke III, IDAI, Jogyakarta 2008 : Peserta, ACPID Surabaya

2008 : Peserta, KONIKA XIV, Surabaya

2008 : Peserta, Pembicara. Peralmuni Nasional, , Surakarta

E. Keanggotaan profesi

1. 1971-sekarang : Anggota IDI-sekarang 2. 1981-sekarang : Anggota IDAI

3. 1981-sekarang : Anggota IDAI Jawa Tengah 4. 1984-sekarang : Anggota UKK Gastroenterologi 5. 1984-1987 : Anggota UK Gastroenterologi, IDAI

Jawa Tengah

6. 1987-1990 : Pengurus ADAI Jawa Tengah

7. 1999-2001 : Member Asian Pan Pacific Society of

Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition

8. 1996-1999 : Anggota MPPDS-IDAI

(36)

F. Riwayat Pekerjaan

Tahun 1971-1976 : Bag. Penyakit Anak FK UII/RSUD Dr Muwardi

Tahun 1976 : Capeg/Gol IIIa

Tahun 1981 : Asisten Ahli Madya/Penata Muda/Gol. IIIb Tahun `1984 : Asisten Ahli/Penata Muda Tk I/Gol.IIIc Tahun 1988 : Lektor Muda/Penata/Gol.IIId

Tahun 1994 : Lektor/ Pembina/Gol.IVa

Tahun 2006 : Lektor Kepala Madya/Pembina TK.I/Gol IVb

F. Riwayat Jabatan Struktural

Tahun 1993-1997 : Ketua Lab IKA/SMF Anak FK UNS/RSUD Dr Muwardi

Tahun 2007-2008 : Sekretaris Lab IKA/SMF Anak FK UNS/RSUD Dr. Muwardi

G. Penelitian/ Karya Ilmiah/Jurnal/Buku

1. Gambaran Mikrobiologi dan Pemeriksaan Virologi Pada Tinja Penderita Diare Anak di Kabupaten Karanganyar Surakarta 1984.

2. Penatalaksanaan Diare Akut tanpa Antibiotika di Unit Penyakit Anak RSUD Dr. Muwardi/Lab IKA FK UNS 1992

3. Status Gizi Penderita yang Dirawat di Bangsal Perawatan Anak RSUD Dr Muwardi Surakarta, 1993

4. Survei HbSAg dan anti HBS Pada Siswa Sekolah Dasar Negri I Jebres Surakarta, 1996

(37)

6. Pola pemberian ASI pada anak yang lahir di RS Swasta Surakarta, 2004.

7. Water Sources as the Risk Factors of H pylori Infection in Children aged 0-5 Yrs in Sub Urban Area of Surakarta. Folia Medica Indonesiana, vol 41, 2005.

8. Reduksi test dan limfosit dalam darah sebagai alat tapis pada penderita diare virus Rota, 2007 (penulis II)

9. Survei Seroepidemiologi Infeksi H pylori-Sari pad Siswa Sekolah Dasar Negri Jebres Surakarta. Sari Pediatri vol 7, 2005. 10. Buku Ajar Diare, BPK 1998, Penulis. UNS Press

11. Infeksi Helicobacter pylori: 2007, Penulis-UNS Press

H. Pembicara pada Pertemuan Ilmiah:

1. Epidemiologi Infeksi Helicobacter pylori Pada Anak, KONIKA XI, Jakarta, 1999

2. Simposium Nasional Pediatri Gawat Darurat, Surakarta, 1999. 3. Terapi Infeksi Helicobacter pylori Pada Anak, Kongres

Nasional II. Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak, Bandung, (BKGAI) 2003

4. Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi H pylori, pertemuan IDAI Jateng dan DIY, 2005

5. Infeksi Helicobacter pylori dan Alergi. Simposium Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Surakarta 2006

6. Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Helicobacter pylori Pada Anak. Kongres Nasioanal III. Badan Koordinasi Gastro-enterologi Anak Indonesia (BKGAI), 2007

(38)

I. Penghargaan:

Satyalancana Karya Satya 20 tahun, 2001

Bhakti Sosial Terpadu Gempa di JaTeng dan DIJ, 2006 Bhakti Sosial Terpadu Pasca Banjir, 2008

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bayi usia 6-24 bulan yang mengalami status gizi lebih, lebih banyak yang diberikan jenis MP-ASI pertama berupa makanan

Para ibu harus terus menyusui anak-anak mereka lebih dari usia enam bulan, sampai mereka berusia dua tahun atau lebih, pada saat yang sama mereka diberikan makanan pendamping

8 Frekuensi makanan tambahan diberikan dalam sehari kepada bayi usia 6- 8 bulan sebanyak 44 responden (88%) menjawab 1-3 kali, ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam

Pada penelitian ini, rata-rata anak balita telah menerima MP-ASI dengan baik dimana saat usia 4-6 bulan jenis atau tekstur makanan yang diberikan adalah bubur

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bayi usia 6-24 bulan yang mengalami status gizi lebih, lebih banyak yang diberikan jenis MP-ASI pertama berupa makanan

masker essensial oil diatas, ada beberapa kriteria yang harus dilakukan sebelumnya, seperti: perawatan diberikan pada usia setengah baya 30-40 tahun, jenis kulit

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

54-59 ISSN: 2721-4877 │54 HUBUNGAN LAMA PEMBERIAN ASI DAN JENIS MAKANAN PERTAMA KALI DIBERIKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 6-24 BULAN INDEKS BB/U DI KELURAHAN LASIANA PUSKESMAS