• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KEADILAN PROSEDURAL PADA KOMITMEN AFEKTIF, DISCRETIONARY SERVICE BEHAVIOR, DAN KEPUASAN ATAS LAYANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KEADILAN PROSEDURAL PADA KOMITMEN AFEKTIF, DISCRETIONARY SERVICE BEHAVIOR, DAN KEPUASAN ATAS LAYANAN"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PENGARUH KEADILAN PROSEDURAL PADA KOMITMEN AFEKTIF,

DISCRETIONARY SERVICE BEHAVIOR, DAN KEPUASAN ATAS

LAYANAN

(Studi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar)

Skripsi

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat

untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Disusun oleh:

ABDUL KADIR SALIM A F0207025

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii ABSTRAK

PENGARUH KEADILAN PROSEDURAL PADA KOMITMEN AFEKTIF,

DISCRETIONARY SERVICE BEHAVIOR, DAN KEPUASAN ATAS LAYANAN

(Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar) Oleh:

ABDUL KADIR SALIM A F0207025

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Keadilan Prosedural pada Komitmen Afektif, Discretionary Service Behavior, dan Kepuasan atas layanan. Peneliti melihat pada era sekarang ini, sektor publik menjadi pusat perhatian masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya keluhan yang timbul dari masyarakat akibat ketidakpuasan mereka atas layanan yang ditunjukkan aparatur Pemerintahan khususnya pada Pemerintah Daerah. Peneliti merasa layanan yang diberikan oleh aparatur daerah masih perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja aparatur daerah yaitu melalui proses menumbuhkembangkan perilaku prososial Discretionary Service Behavior.

Penelitian ini merupakan penelitian replikasi dengan metode survey. Target populasi penelitian ini adalah karyawan pada Pemerintah Daerah Karanganyar. Sampel diambil sebanyak 130 responden dimana sampel adalah karyawan pada Pemerintah Daerah Karanganyar. Teknik samping yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling.

Berdasarkan hasil analisis model struktural (SEM) yang menguji hipotesis dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa Keadilan prosedural berpengaruh pada Komitmen Afektif. Komitmen Afektif berpengaruh pada kepuasan atas layanan. Komitmen Afektif juga berpengaruh pada Discretionary Service Behavior. Sedangkan Discretionary Service Behavior tidak terbukti berpengaruh pada kepuasan atas layanan.

Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan adalah agar pemimpin selalu memantau terwujudnya keadilan prosedural karena keadilan prosedural terbukti berpengaruh pada perilaku kerja karyawan. Selain itu pimpinan Pemerintah Daerah Karanganyar perlu berupaya mendorong terwujudnya perilaku Discretionary Service Behavior agar karyawan bersedia melakukan pelayanan yang optimal pada masyarakat..

(3)

commit to user

(4)

commit to user

(5)

commit to user

v KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kuasa-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Pengaruh Keadilan Prosedural pada Komitmen Afektif, Discretionary Service Behavior, dan Kepuasan atas Layanan (Studi pada

Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar)” dapat diselesaikan oleh penulis

sebagai syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Berhasilnya penulisan skripsi ini adalah berkat bantuan dari berbagai pihak yang dengan ketulusannya telah memberikan semangat, dorongan, serta pengarahan kepada penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Dra. Endang Suhari, Msi. selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Reza Rahardian, S.E., Msi, selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(6)

commit to user

vi 4. Sinto Sunaryo, S.E, M.Si selaku pembimbing yang telah memberikan

bimbingan dan saran sampai terselesaikannya penulisan skripsi ini.

5. Mama dan Abahku yang selalu memberikan dukungan dan do’anya hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini

6. Adikku Adni dan Lamia yang memberi semangat penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.

7. Kakek dan nenek yang selalu memberi dukungan dan bantuan hingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

8. Paman dan bibi yang memberi banyak bantuan hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini.

9. Ustad Alwi Al-Habsyi yang memberikan bantuan do’a dan segala nasehatnya pada penulis.

10. Bunda Fatimah yang selalu memberi masukan untuk membantu proses penyelesaian penulisan skripsi ini.

11. Fatimah yang selalu memberi dukungan dan semangat agar penulis segera menyelesaikan penulisan skripsi ini.

12. Teman-teman Majlis Ta’lim yang selalu memberikan semangat agar penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini

13. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen yang banyak membantu hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini

(7)

commit to user

vii Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun guna kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata, Penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Surakarta, 23 Desember 2010

(8)

commit to user

viii

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ...……….... ii

HALAMAN PENGESAHAN ...……….. .... iii

KATA PENGANTAR………...……….. iv

DAFTAR ISI…………...………. vii

DAFTAR TABEL………...……….… xi

DAFTAR GAMBAR………...……….. xii

BAB I. PENDAHULUAN………...…...…... 1

A. Latar Belakang Masalah………...……… 1

B. Rumusan Masalah………....……….. 7

C. Tujuan Penelitian………...….……….. 8

D. Manfaat Penelitian………....………… 8

1. Manfaat Praktis………. 8

2. Manfaat Akademis……….. 8

BAB II. LANDASAN TEORI………...… 10

A. Telaah Teoritis...………... 10

1. Keadilan Organisasional... 10

2. Komitmen Organisasional... 12

(9)

commit to user

ix

B. Penelitian Terdahulu…………...………...………….….…... 16

C. Kerangka Pemikiran………...……….……... 17

D. Perumusan Hipotesis……… 18

BAB III. METODE PENELITIAN……….... 21

1. Desain Penelitian………..…………...…………. 21

a. Jenis Riset……….. 21

b. Dimensi Waktu Riset………. 21

c. Setting Riset……….. 21

d. Unit Analisis……….. 21

2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling…………..………. 22

a. Populasi Penelitian……… 22

b. Sampel dan Teknik Sampling……… 22

3. Jenis Data……….. 24

4. Definisi Operasional Variabel... 24

5. Teknik Analisis Data………..……. 26

a. Uji Validitas ... … 26

b. Uji Reliabilitas ... 26

c. Analisis SEM ... 27

1. Uji Normalitas……… 27

2. Uji Outliers……… 28

3. Uji Multikolinearitas………. 29

(10)

commit to user

x

A. Gambaran Umum Objek Penelitian………..……... 33

a. Pernyataan Visi Kabupaten Karanganyar Tahun 2009-2013... 34

b. Pernyataan Misi Kabupaten Karanganyar Tahun 2009-2013... 35

c. Tujuan dan Sasaran... 36

1. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu... 42

2. Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan masyarakat…….. 44

3. Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi……… 46

4. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil……….. 48

5. Dinas Pekerjaan Umum……….. 51

6. Badan Kepegawaian Daerah………. 54

B. Analisis Deskriptif ... 56

1.Profil dan Tingkat Pendidkan Responden………. 57

2.Tanggapan Responden Mengenai Keadilan Prosedural... 60

3.Tanggapan Responden Mengenai Komitmen Afektif ... 62

4. Tanggapan Responden Mengenai Discretionary Service Behavior… 64 5. Tanggapan Responden Mengenai Kepuasan Layanan Publik…... 67

C. Uji Instrumen Penelitian... 70

1. Uji Validitas ……….. 70

2. Uji Reliabilitas……… 72

D. Analisis SEM…. ... 73

(11)

commit to user

xi

a. Normalitas Data……….. 73

b. Evaluasi Outliers……….. 76

c. Evaluasi Multikolinearitas……… 80

2. Uji Kesesuaian Model Goodness of Fit……… 81

3. Modifikasi Model………. 83

4. Analisis Koefisien Jalur dan Uji Hipotesis………...……… 85

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN....…...………..……...…….. 90

A. Simpulan………..……...………... 90

B. Keterbatasan Penelitian... 92

C. Saran...………..………. 92

a. Saran Akademis……….. 92

b. Saran Praktis……… 93

(12)

commit to user

xii

DAFTAR TABEL

Tabel IV.1 Profil Responden……... 57

Tabel IV.2 Tingkat Pendidikan Responden……….. 59

Tabel IV.3 Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap Keadilan Prosedural 61 Tabel IV.4 Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap Komitmen Afektif 63 Tabel IV.5 Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap Discretionary Service Behavior... 65

Tabel IV.6 Deskripsi Tanggapan Responden Terhadap Kepuasan Layanan Publik... 67

Tabel IV.7 Uji Validitas... 71

Tabel IV.8 Uji Reliabilitas... 73

Tabel IV.9 Uji Normalitas... 75

Tabel IV.10 Mahalanobis Distance Square... 77

Tabel IV.11 Revisi Uji Normalitas... 79

Tabel IV.12 Revisi Mahalanobis Distance Square……… 80

Tabel IV.13 Kriteria Goodness of Fit... 82

Tabel IV.14 Revisi Kriteria Goodness of Fit... 85

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR GAMBAR

(14)

commit to user ABSTRAK

PENGARUH KEADILAN PROSEDURAL PADA KOMITMEN AFEKTIF,

DISCRETIONARY SERVICE BEHAVIOR, DAN KEPUASAN ATAS LAYANAN

(Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar) Oleh:

ABDUL KADIR SALIM A F0207025

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Keadilan Prosedural pada Komitmen Afektif, Discretionary Service Behavior, dan Kepuasan atas layanan. Peneliti melihat pada era sekarang ini, sektor publik menjadi pusat perhatian masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya keluhan yang timbul dari masyarakat akibat ketidakpuasan mereka atas layanan yang ditunjukkan aparatur Pemerintahan khususnya pada Pemerintah Daerah. Peneliti merasa layanan yang diberikan oleh aparatur daerah masih perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja aparatur daerah yaitu melalui proses menumbuhkembangkan perilaku prososial Discretionary Service Behavior.

Penelitian ini merupakan penelitian replikasi dengan metode survey. Target populasi penelitian ini adalah karyawan pada Pemerintah Daerah Karanganyar. Sampel diambil sebanyak 130 responden dimana sampel adalah karyawan pada Pemerintah Daerah Karanganyar. Teknik samping yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling.

Berdasarkan hasil analisis model struktural (SEM) yang menguji hipotesis dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa Keadilan prosedural berpengaruh pada Komitmen Afektif. Komitmen Afektif berpengaruh pada kepuasan atas layanan. Komitmen Afektif juga berpengaruh pada Discretionary Service Behavior. Sedangkan Discretionary Service Behavior tidak terbukti berpengaruh pada kepuasan atas layanan.

Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan adalah agar pemimpin selalu memantau terwujudnya keadilan prosedural karena keadilan prosedural terbukti berpengaruh pada perilaku kerja karyawan. Selain itu pimpinan Pemerintah Daerah Karanganyar perlu berupaya mendorong terwujudnya perilaku Discretionary Service Behavior agar karyawan bersedia melakukan pelayanan yang optimal pada masyarakat..

(15)

commit to user ABSTRACT

EFFECT OF PROCEDURAL JUSTICE TO AFFECTIVE

COMMITMENT,DISCRETIONARY SERVICE BEHAVIOR, AND THE SERVICE SATISFACTION

(Studies in Karanganyar District Government) By:

Abdul Kadir SALIM A F0207025

The purpose of this study to investigate the influence of Procedural Justice on Affective Commitment, Discretionary Service Behavior, and Satisfaction of service. Researchers looked at this present era, the public sector into the public limelight. This is evident from the number of complaints arising from the public due to their dissatisfaction over the service apparatus shown particularly in Local Government Administration.

Researchers feel the services provided by local officials still need to be improved. One way to improve the performance of the officers is through a process to develop the prosocial behavior of Discretionary Service Behavior. This study is a replication of the survey method. The target population of this study are employees of the Local Government Karanganyar. Samples taken as many as 130 respondents in which the sample is an employee of the Local Government Karanganyar. Side technique used in this study was purposive sampling.

Based on the analysis of structural models (SEM), which tested the hypothesis in this study, it was concluded that procedural justice affects the Affective Commitment.Affective Commitment effect on satisfaction with the service. Affective commitment also affects the Discretionary Service Behavior. Discretionary Service Behavior While no proven effect on satisfaction with the service.

Based on these findings, the advice can be given is for a leader always monitor the realization of procedural justice because procedural justice proved influential on employee behavior. In addition, local government leaders should attempt to promote the establishment Karanganyar Discretionary Service Behavior of behavior for employees willing to perform an optimal service to the community.

(16)

commit to user 1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintahan dalam wujud pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab telah menjadikan Pemerintah Daerah sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saat ini, kinerja layanan publik menjadi perhatian utama dari masyarakat. Kondisi masyarakat yang mengalami perkembangan dinamis, tingkat kehidupan masyarakat yang semakin baik, mengakibatkan masyarakat semakin sadar akan apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam hidup bermasyarakat, mengajukan tuntutan, keinginan dan aspirasinya kepada pemerintah. Masyarakat semakin kritis dan semakin berani untuk melakukan kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintahnya. Kenyataan yang ada mengisyaratkan hal yang kurang melegakan, hal tersebut terkait dengan kepuasan masyarakat yang belum terpenuhi dengan kata lain pelayanan yang diberikan selama ini masih belum memenuhi harapan pelanggan atau masyarakat, dimana masih banyak dirasakan kelemahan-kelemahan yang dampaknya sering merugikan masyarakat. Kelemahan tersebut dapat dilihat dari banyaknya keluhan masyarakat terhadap layanan publik yang diberikan di berbagai organisasi sektor publik.

(17)

commit to user 2 pelayanan publik. Sebagai konsekuensi dari perubahan tersebut maka perlu adanya penataan ulang berbagai elemen dalam sistem penyelengggaraan pemerintahan dalam rangka manifestasi pelaksanaan otonomi daerah. Perlunya penataan ulang tersebut tidak lepas dari tujuan pelaksanaan otonomi daerah yang pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam rangka mewujudkan tata kelola sistem penyelenggaraan pemerintah diperlukan upaya pembinaan aparatur pemerintah, sehingga dapat bekerja secara profesional dan manajemen pelayanan umum (public service) dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Hal ini terkait dengan fungsi dasar pemerintahan yang pada hakikatnya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintahan diadakan tidak untuk melayani diri sendiri tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai tujuan bersama. Karenanya Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan layanan publik yang baik dan professional. Pelayanan publik bisa dikatakan baik (profesionalisme) bila masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan pelayanan dan dengan prosedur yang tidak panjang, biaya murah, waktu cepat dan hampir tidak ada keluhan yang diberikan kepadanya.

(18)

commit to user 3 kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.

Penyelenggaraan pelayanan publik (Public Service) dapat terwujud bilamana organisasi publik didukung oleh sumber daya manusia yakni aparatur pemerintah yang mumpuni baik dari kualitas maupun kuantitas, di samping juga adanya sumber daya peralatan dan sumber daya keuangan yang memadai. Aparatur pemerintah memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik karena hasil kinerja dari aparatur pemerintah akan menentukan tingkat kepuasan masyarakat sebagai pengguna layanan publik. Kepuasan masyarakat tersebut akan menentukan penilaian masyarakat terhadap keberhasilan dari organisasi sektor publik.

(19)

commit to user 4 Menurut Klendauer dan Deller (2008)istilah keadilan organisasi umumnya mencakup tiga komponen yang berbeda, yaitu : (1) keadilan distributif, (2) keadilan prosedural, (3) keadilan interpersonal. Penelitian Simons dan Roberson (2003) menyebutkan bahwa keadilan organisasional di tempat kerja berpengaruh penting pada sikap individu setiap karyawan, seperti kepuasan dan komitmen, dan juga berpengaruh pada perilaku individu seperti absensi dan citizenship behavior. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan Colquit, et.al (dalam Simons dan Roberson, 2003) membuktikan adanya hubungan antara keadilan organisasional pada kinerja individu.

Karyawan akan merasa tenang jika karyawan diperlakukan adil terkait prosedur yang diterapkan pada suatu organisasi. Hal ini berhubungan langsung dengan salah satu dimensi dari keadilan organisasional yaitu keadilan prosedural. Keadilan prosedural berkaitan dengan proses pembuatan suatu keputusan. Karyawan yang merasa prosedur yang diterapkan memperlakukan mereka dengan hormat, akan mempermudah mereka untuk menerima suatu keputusan. Hal ini dilihat oleh Mossholder, et.al (dalam Suliman, 2006) sebagai salah satu faktor penting di tempat kerja saat ini. Menurut Lin dan Tyler (dalam Suliman, 2006) organisasi yang mengabaikan keadilan prosedural akan memunculkan resiko negatif pada sikap karyawan dalam organisasi diantaranya, ketidakpuasan dengan hasil keputusan organisasi, tidak mematuhi prosedur, dan kinerja yang lebih rendah dari standar kerja. Kebijakan yang diambil dalam suatu organisasi menjadi sangat penting karena hal ini berkaitan langsung dengan prosedur kerja organisasi yang diterapkan dan pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku kerja karyawan.

(20)

commit to user 5 menyebutkan bahwa keterbukaan prosedur sebagai bagian dari keadilan organisasional dapat memperkuat komitmen individu pada organisasi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang karyawan yang merasa diperlakukan secara adil terkait prosedur yang diterapkan organisasi melalui unsur keterbukaan akan memperkuat komitmen karyawan pada organisasi. Komitmen tersebut akan mengarah pada komitmen afektif.

Menurut Allen dan Meyer (1990), komitmen afektif adalah keterikatan emosional karyawan, dan keterlibatannya dalam organisasi. Komitmen afektif berkaitan dengan keinginan individu untuk terikat pada organisasi karena kesesuaian antara nilai pribadinya dengan nilai-nilai organisasi. Komitmen ini menggambarkan keinginan karyawan untuk tetap berada dalam organisasi melalui keterikatan emosional karyawan pada organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen afektif yang tinggi cenderung ingin mempertahankan keberadaannya dalam organisasi berdasarkan keinginan mereka sendiri bukan karena faktor lain seperti pendapatan yang mereka dapatkan atau pada peran yang telah ditentukan bagi mereka.

(21)

commit to user 6 (DSB). Perilaku ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan atas pelayanan yang diterimanya. Dengan demikian terlihat bahwa komitmen afektif karyawan yang tinggi akan mampu mendorong terwujudnya perilaku DSB yang pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Perilaku DSB menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya untuk meningkatkan kualitas layanan. Untuk mendorong terwujudnya perilaku DSB, maka organisasi dituntut untuk selalu memperhatikan faktor yang mengarahkan pada perilaku kerja karyawan. Faktor yang mengarahkan pada perilaku kerja karyawan tersebut diantaranya adalah keadilan prosedural dan komitmen afektif. Untuk itu, organisasi harus menjamin terciptanya prosedur kerja yang adil bagi karyawan melalui perumusan kebijakan-kebijakannya. Dengan jaminan keadilan prosedural tersebut maka komitmen afektif akan tumbuh dalam individu seorang karyawan sehingga perilaku DSB dapat terwujud.

(22)

commit to user 7 Daerah Karanganyar. Hal ini dapat dilakukan dengan menjamin penyusunan kebijakan terkait prosedur kinerja organisasi yang mempengaruhi persepsi karyawan terhadap keadilan prosedural. Karyawan yang merasa diperlakukan secara adil terkait prosedur yang diterapkan organisasi akan memperkuat komitmen afektif karyawan pada organisasi. Komitmen afektif karyawan yang tinggi pada organisasi akan mendorong terwujudnya perilaku DSB.

Dari uraian di atas penelitian ini menarik untuk diteliti, sehingga peneliti mengambil judul ” Pengaruh Keadilan Prosedural pada Komitmen Afektif, Discretionary Service Behavior, dan Kepuasan atas Layanan Publik ”.

(Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah keadilan prosedural berpengaruh pada komitmen afektif?

2. Apakah komitmen afektif berpengaruh pada Discretionary Service Behavior?

3. Apakah komitmen afektif berpengaruh pada kepuasan atas layanan publik bagi masyarakat?

(23)

commit to user 8 C. Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh keadilan prosedural pada komitmen afektif.

2. Untuk mengetahui pengaruh komitmen afektif pada Discretionary Service Behavior.

3. Untuk mengetahui pengaruh komitmen afektif pada kepuasan atas layanan publik bagi masyarakat.

4. Untuk mengetahui pengaruh Discretionary Service Behavior pada kepuasan atas pelayanan bagi masyarakat.

D. Manfaat penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: 1. Manfaat Praktis

Bagi Pemerintah Daerah Karanganyar, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan masukan untuk meningkatkan kualitas layanan terutama di sektor publik, dengan meningkatkan perilaku prososial dalam bentuk Discretionary Service Behavior melalui upaya mewujudkan keadilan prosedural yang dirasakan karyawan dan komitmen afektif karyawan.

2. Manfaat Akademis

(24)

commit to user 9 Discretionary Service Behavior dalam kaitannya dengan keadilan prosedural, komitmen

afektif, dan kepuasan atas pelayanan publik.

(25)

commit to user 10 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Telaah Teoritis

1. Keadilan Organisasional

Keadilan organisasi muncul sebagai upaya untuk menjelaskan peran keadilan dalam tempat kerja. Dessler (2005) mengemukakan bahwa suatu organisasi adalah adil, bila di antaranya, dapat disetarakan, imparsial dan tidak bias dalam berbagai cara mereka melakukan banyak hal. Klendauer dan Deller (2008) menyimpulkan dari berbagai pendapat bahwa istilah keadilan organisasi umumnya mencakup tiga komponen yang berbeda, yaitu:

1. Keadilan Distributif

Sebagian besar didasarkan pada teori keadilan yang dikemukakan oleh Stacy Adams pada tahun 1965 dan mengacu pada keadilan yang dirasakan inidividu sebagai hasil dari penerimaan atas suatu keputusan .

2. Keadilan Prosedural

Keadilan yang dirasakan atas prosedur yang diterapkan pada organisasi.

3. Keadilan Interaksional

Berkaitan dengan keadilan yang dirasakan atas komunikasi interpersonal antara atasan dan bawahan.

(26)

commit to user 11 adalah persepsi keadilan yang digunakan oleh pihak yang berwenang untuk menilai kinerja karyawan dan untuk menentukan rewards mereka, seperti promosi dan kenaikan gaji. Senada dengan pengertian tersebut, McDowall dan Fletcher (dalam Suliman, 2006) mengungkapkan bahwa keadilan distributif mengacu pada keadilan yang dirasakan atas imbalan yang didistribusikan pada suatu organisasi, sedangkan keadilan prosedural mengacu pada keadilan yang dirasakan dari prosedur yang digunakan dalam membuat keputusan mengenai pembagian hadiah.

(27)

commit to user 12 meliputi variabel seperti komitmen organisasi, kepercayaan, kepuasan, sesuai dengan keputusan dan kinerja

2. Komitmen Organisasional

Pandangan mengenai komitmen organisasional telah banyak dipaparkan oleh para ahli melalui berbagai sudut pandang. Robbins (2005) memberikan pengertian komitmen pada organisasi sebagai suatu keadaan yang menggambarkan sampai tingkat mana seorang karyawan memihak pada organisasi tertentu, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi. Suliman (2006) mengungkapkan bahwa komitmen organisasi merupakan akibat dari tiga faktor yaitu:

(1)Penerimaan terhadap tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang dimiliki organisasi, (2)Kemauan untuk membantu organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya, dan (3)Hasrat atau keinginan untuk tetap berada dalam organisasi.

Senada dengan pendapat tersebut, Mowday, et.al (dalam Wang, Indridarson, dan Saunders, 2010) menjelaskan bahwa komitmen organisasional dicirikan oleh:

(a)Penerimaan dan keyakinan yang kuat terhadap nilai dan tujuan organisasi, (b)Kesediaan untuk mengerahkan usaha atas nama organisasi, dan

(c)Keinginan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi.

(28)

commit to user 13 Allen dan Meyer (dalam Wang, Indridarson, dan Saunders, 2010) ada tiga dimensi komitmen organisasi, yaitu :

1. Komitmen afektif

Komitmen afektif berkaitan dengan keinginan individu untuk terikat pada organisasi karena kesesuaian antara nilai pribadinya dan nilai-nilai organisasi. Komitmen ini menggambarkan keinginan karyawan untuk tetap berada dalam organisasi melalui keterikatan emosional karyawan pada organisasi yang terbentuk dari keinginan dan kesesuaian karyawan dalam organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen afektif yang tinggi cenderung ingin mempertahankan keberadaannya dalam organisasi berdasarkan keinginan sendiri bukan karena faktor lain seperti investasi yang mereka keluarkan atau pada peran yang telah ditentukan bagi mereka

2. Komitmen continuence

(29)

commit to user 14 3. Komitmen normatif

Komitmen normatif berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi berdasarkan kesetiaan pada organisasi atau kewajiban moral untuk tetap berada dalam organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen normatif yang tinggi cenderung akan mempertahankan keanggotaan dalam organisasi karena memang sebaiknya hal tersebut dilakukan.

Menurut Allen dan Meyer (1990), komponen afektif, continuance, dan normatif dipandang sebagai komponen yang dapat dibedakan. Hal ini berarti bahwa karyawan mengalami tahapan psikologis dalam berbagai tingkatan pada setiap komponen tersebut. Beberapa karyawan dapat merasakan kebutuhan dan keharusan yang kuat untuk tetap tinggal pada organisasi, meskipun pada dasarnya mereka tidak ada keinginan. Sedangkan karyawan yang lain mungkin tidak merasakan kebutuhan dan keharusan, namun memiliki keinginan yang kuat untuk tetap tinggal pada organisasi.

(30)

commit to user 15 3. Discretionary Service Behavior

Van Dyne, Cummings dan Parks (dalam Simons dan Roberson, 2003) menjelaskan bahwa perilaku karyawan yang terkait dengan keanggotaan dalam organisasi akan berbeda-beda tergantung pada ketentuan yang disyaratkan pada deskripsi pekerjaan. Konteks pekerjaan yang menentukan perilaku kerja karyawan tersebut memunculkan discretionary. Menurut Blancero dan Johnson (1997) konteks dan dimensi perilaku Discretionary Service Behavior dapat diketahui melalui pengamatan pada lingkungan pelayanan dan perilaku yang ditunjukkan karyawan. Simons dan Roberson (2003) mengemukakan bahwa dalam industri jasa, karyawan memperlihatkan perilaku kerja yang melebihi perannya untuk memenuhi permintaan pelanggan, yang disebut dengan Discretionary Service Behavior (DSB).

Senada dengan pernyataan tersebut Blancero dan Johnson (dalam Simons dan Roberson, 2003) menjelaskan DSB sebagai rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari Organizational Citizenship Behavior (OCB) yang berfokus pada interaksi karyawan dengan pelanggan.

(31)

commit to user 16 Blancero dan Johnson (1997) memberikan contoh perilaku Discretionary Service Behavior yang ditunjukkan karyawan, diantaranya Customer Service dapat memilih sikap dan nada bicara dengan pelanggan misalnya ekspresi yang datar dan suara yang monoton atau ekspresi dengan senyuman dan suara yang riang. Pilihan sikap yang ditunjukkan karyawan tersebut akan mempengaruhi kepuasan pelanggan atas pelayanan yang diterimanya. Dengan demikian, perilaku Discretionary Service Behavior yang ditunjukkan karyawan dapat mendorong munculnya kepuasan pelanggan atas pelayanan yang diterimanya.

B. Penelitian Terdahulu

Sebuah penelitian yang mengkaji hubungan antara keadilan organisasional, komitmen organisasional, dan Discretionary Service Behavior yang berdampak pada kepuasan atas pelayanan telah dilakukan oleh Simon dan Roberson (2003). Objek dari penelitian ini adalah karyawan pada industry perhotelan di Amerika Serikat dan Kanada. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa keadilan organisasional, komitmen organisasional, dan cara karyawan bersikap terhadap pelanggan dapat menentukan tingkat kepuasan pelanggan. Jika karyawan merasa diperlakukan adil dalam organisasi, karyawan akan lebih menguatkan komitmennya pada organisasi tersebut sehingga akan mendorong terwujudnya perilaku Discretionary Service Behavior yang pada akhirnya akan mewujudkan kepuasan pelanggan.

(32)

commit to user 17 Penelitian yang dilakukan oleh Hosmer (dalam Simons dan Roberson, 2003) membuktikan adanya pengaruh komitmen afektif pada terwujudnya perilaku Discretionary Service Behavior oleh karyawan. Senada dengan hasil penelitian ini, Shore dan Wayne

(dalam Simons dan Roberson,2003) membuktikan bahwa komitmen afektif dapat mempengaruhi perilaku Organizational Citizenship Behavior.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa komitmen afektif dapat mendorong terwujudnya perilaku prososial yang mencerminkan pengorbanan yang dilakukan karyawan pada organisasi dalam bentuk perilaku ekstra dalam memberikan pelayanan demi kemajuan organisasi. Perilaku ekstra inilah yang disebut dengan Discretionary Service Behavior.

C. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan unsur pokok dalam sebuah penelitian. Kerangka teoritis memberikan penjelasan hubungan antar variabel. Penelitian ini merupakan replikasi parsial dari penelitian Simons dan Roberson (2003). Oleh karena itu, kerangka pemikiran dalam penelitian ini diadaptasi dari model yang dikembangkan oleh Simons dan Roberson (2003). Kerangka pemikiran dalam penelitian ini disusun sebagai berikut:

(33)

commit to user 18

1 3

2 4

Gambar II.1 Kerangka Pemikiran

Sumber : Simons and Roberson (2003)

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, keadilan procedural dapat berpengaruh pada komitmen afektif. Seorang karyawan yang merasa diperlakukan secara adil terkait prosedur yang diterapkan organisasi melalui unsur keterbukaan akan memperkuat komitmen afektif karyawan pada organisasi. Komitmen afektif dapat berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan atas layanan, dan juga berpengaruh tidak langsung pada kepuasan atas layanan melalui perilaku Discretionary Service Behavior.Komitmen afektif yang dimiliki karyawan akan mendorong karyawan untuk melakukan pekerjaannya dengan lebih baik bahkan melebihi tuntutan formal dari pekerjaannya demi kemajuan organisasi. Perilaku inilah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat kepuasan atas layanan.

Keadilan Prosedural

Komitmen Afektif

Discretionary Service Behavior

(34)

commit to user 19 D. Perumusan Hipotesis

Menurut Sekaran (2003) hipotesis merupakan jawaban sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya di dalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) atau praktek (implementation). Dengan demikian hipotesis merupakan anggapan sementara yang bersifat sebagai pedoman untuk mempermudah jalannya penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan berdasarkan hasil-hasil dari penelitian terdahulu.

Menurut Lin dan Tyler (dalam Simons dan Roberson, 2003) keadilan prosedural mempengaruhi komitmen individu dalam sebuah kelompok, dimana prosedur yang dirasa adil bagi individu dapat memperkuat komitmen individu dalam sebuah kelompok. Penelitian yang dilakukan oleh Simons dan Roberson (2003) membuktikan bahwa persepsi mengenai keadilan prosedural telah memperkuat komitmen karyawan pada organisasi. Selain itu Konovsky, Folger, dan Kropanzano (dalam Simons dan Roberson,2003) menemukan bahwa prosedur organisasi yang diterapkan secara adil terhadap karyawan dapat meningkatkan keterikatan individu pada organisasi. Berdasarkan penelitian tersebut, maka hipotesis 1 dirumuskan sebagai berikut :

H1: Keadilan prosedural berpengaruh pada komitmen afektif.

(35)

commit to user 20 Johnson (dalam Simons dan Roberson,2003) mengidentifikasi perilaku Discretionary Service Behavior merupakan bentuk dari Organizational Citizenship Behavior yang berfokus pada interaksi karyawan dengan pelanggan. Dalam penelitian Simons dan Roberson (2003) membuktikan bahwa komitmen afektif pada karyawan akan mempengaruhi perilaku karyawan yang mengarah pada Discretionary Service Behavior. Selain itu penelitian Shore dan Wayne (dalam Simons dan Roberson,2003) membuktikan bahwa komitmen afektif dapat mengarahkan Organizational Citizenship Behavior pada karyawan. Dalam industri jasa, karyawan bersedia melakukan peran di luar tuntutan formal pekerjaan mereka untuk memenuhi permintaan pelanggan dan perilaku ini berperan penting menunjang kinerja organisasi.

H2: Komitmen afektif berpengaruh pada Discretionary Service Behavior

Penelitian Hosmer (dalam Simons dan Roberson,2003) menunjukkan bahwa komitmen afektif dapat mempengaruhi keinginan karyawan untuk meningkatkan perilaku Discretionary Service Behavior untuk mencapai kemajuan organisasi yang pada akhirnya

perilaku tersebut akan meningkatkan kepuasan atas layanan yang diterima pelanggan. Simon dan Roberson (2003) berpendapat bahwa Discretionary Service Behavior dapat berpengaruh pada kepuasan atas layanan. Di samping itu, Simons dan Roberson (2003) juga berpendapat bahwa komitmen afektif dapat berpengaruh langsung pada kepuasan atas layanan yang diterima pelanggan. Berdasarkan hasil dari penelitian tersebut, maka dirumuskan hipotesis 3 dan 4 sebagai berikut :

H3: Komitmen afektif berpengaruh langsung pada kepuasan atas layanan.

(36)

commit to user 21 BAB III

METODE PENELITIAN

1. Desain Penelitian

a. Jenis Riset

Penelitian ini merupakan Descriptive dan Explanatory Research. Menurut Jogiyanto (2004), descriptive research merupakan riset yang bertujuan untuk menggambarkan suatu peristiwa, siapa yang terlibat, apa yang dilakukan, kapan dilakukan, di mana, dan bagaimana melakukannya. Adapun explanatory research merupakan riset yang mencoba menjelaskan fenomena yang ada.

b. Dimensi Waktu Riset

Dilihat dari dimensi waktunya, penelitian ini adalah penelitian cross-sectional. Jogiyanto (2004) mengemukakan bahwa penelitian cross-sectional melibatkan satu waktu tertentu dengan banyak sample.

c. Setting Riset

Berdasarkan setting-nya, penelitian ini melibatkan lingkungan non contrived setting, yaitu lingkungan riil (field setting).

d. Unit Analisis

(37)

commit to user 22 2. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling

a. Populasi Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain survey, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data pokok. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang tersebar di berbagai unit kerja dalam lingkup Pemerintah Daerah Karanganyar dan seluruh masyarakat yang menerima layanan dari Pemerintah Daerah Karanganyar.

b. Sampel dan Teknik Sampling

(38)

commit to user 23 Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling. Menurut Sekaran (2006) Purposive sampling merupakan pengambilan sampel dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang dibutuhkan bagi penelitiannya. Penelitian ini meneliti perilaku karyawan dalam memberikan layanan publik pada masyarakat, oleh karena itu sampel yang dipilih sebagai responden adalah karyawan yang memberikan layanan publik pada masyarakat dan masyarakat yang menerima layanan dari Pemerintah Daerah Karanganyar. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka teknik pengambilan sampel yang dipilih dalam penelitian ini adalah purposive sampling.

Objek penelitian dalam penelitian ini diambil melalui rekomendasi yang diberikan BAPPEDA Kabupaten Karanganyar. Untuk menentukan objek penelitian, peneliti meminta izin untuk melakukan penelitian pada badan yang mengurus tentang perizinan untuk melakukan penelitian di Kabupaten Karanganyar yaitu BAPPEDA. Peneliti memaparkan bahwa karyawan yang akan diambil menjadi sampel adalah karyawan yang memberikan layanan publik pada masyarakat. Berdasarkan data yang dibutuhkan peneliti maka BAPPEDA memberikan rekomendasi untuk melakukan penelitian pada 6 unit kerja dalam lingkup Pemerintah Daerah Karanganyar.

Adapun berdasarkan izin yang diberikan, unit-unit kerja dalam lingkup Pemerintah Daerah Karanganyar yang dijadikan objek penelitian adalah sebagai berikut :

1) Badan Pelayanan Perijinan Terpadu : 28 responden

(39)

commit to user 24 3) Badan Kesbang, Pol dan Linmas : 6 responden

4) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil : 24 responden

5) Dinas Pekerjaan Umum : 20 responden

6) Badan Kepegawaian Daerah : 22 responden

3. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

a. Data Primer

Data primer diperoleh dari responden penelitian melalui kuisioner sebagai alat pengumpulan data. Data yang dikumpulkan ini mencakup karakteristik responden penelitian serta tanggapan responden mengenai keadilan procedural, komitmen afektif, Discretionary Service Behavior, dan Kepuasan atas layanan.

b. Data Sekunder

Jenis data ini meliputi data tambahan yang diperlukan dari objek penelitian, seperti profil organisasi, struktur organisasi, data kepegawaian, dan sebagainya.

4. Definisi Operasional Variabel

a. Keadilan Prosedural

(40)

commit to user 25 procedural dilakukan dengan 5 item pertanyaan yang diadopsi dari Niehoff dan Moorman’s (dalam Schepers dan Van den Berg,2006).

b. Komitmen Afektif

Komitmen afektif berkaitan dengan keinginan individu untuk terikat pada organisasi karena kesesuaian antara nilai pribadinya dan nilai-nilai organisasi. Komitmen ini menggambarkan keinginan karyawan untuk tetap berada dalam organisasi melalui keterikatan emosional karyawan pada organisasi yang terbentuk dari keinginan dan kesesuaian karyawan dalam organisasi. Pengukuran komitmen afektif dilakukan dengan 8 item pertanyaan yang diadopsi oleh Allen dan Meyer (1990).

c. Discretionary Service Behavior

Discretionary Service Behavior didefinisikan sebagai perilaku kerja karyawan yang

melebihi tuntutan formal yang disyaratkan untuk memberikan kepuasan pada pelanggan. Discretionary Service Behavior diukur dengan 6 item pertanyaan yang dikembangkan dari

dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh Blancero dan Johnson (1997).

d. Kepuasan atas Layanan

(41)

commit to user 26 5. Teknik Analisis Data

a. Uji Validitas

Uji validitas menurut Sekaran (2006) menunjukkan seberapa baik sebuah instrument yang digunakan untuk mengukur sebuah konsep tertentu. Instrument dapat dikatakan valid jika instrument tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur oleh peneliti. Uji validitas dalam penelitian ini akan dijalankan dengan Confirmatory factor analysis (CFA) akan dilakukan peneliti terhadap konstruk dalam penelitian ini secara terpisah dengan

bantuan program Amos 18.00. Menurut Ferdinand (2002), factor loading lebih besar ± 0.30

dianggap memenuhi level minimal, factor loading ± 0.40 dianggap lebih baik dan sesuai

dengan rules of thumb yang dipakai para peneliti, dan factor loading ³ 0.50 dianggap signifikan. Jadi semakin besar nilai absolut factor loading, semakin penting loading tersebut menginterpretasikan konstruknya.

b. Uji Reliabilitas

(42)

commit to user 27 lain atau mengukur korelasi antar jawaban. Dalam pengukurannya, one shot akan dilakukan dengan analisis Cronbach’s Alpha. Triton, P.B (2005) mengklasifikasi nilai cronbach’s alpha, sebagai berikut :

a) Nilai Cronbach’s Alpha antara 0,00 - 0,20 dikategorikan kurang reliabel. b) Nilai Cronbach’s Alpha antara 0,21 - 0,40 dikategorikan agak reliabel. c) Nilai Cronbach’s Alpha antara 0,41 - 0,60 dikategorikan cukup reliabel.

d) Nilai Cronbach’s Alpha antara 0,61 - 0,80 dikategorikan reliabel.

e) Nilai Cronbach’s Alpha antara 0,81 - 1,00 dikategorikan sangat reliabel.

c. Analisis Structrual Equation Modelling (SEM)

Model SEM merupakan sekumpulan teknik-teknik statistical yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian secara simultan (Hair et.al dalam, Ferdinand,2002). Hubungan tersebut dapat dibangun antara satu atau beberapa variable dependen dengan satu atau beberapa variable independen. Analisis dengan menggunakan SEM harus memenuhi beberapa asumsi berikut :

1. Uji Normalitas

(43)

commit to user 28 Sebaran data harus dianalisis untuk melihat apakah asumsi normalitas dipenuhi sehingga data dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Normalitas dapat diuji dengan melihat gambar histogram data atau dapat diuji dengan metode statistik. Uji normalitas ini perlu dilakukan baik untuk normalitas univariat dan multivariate dimana beberapa variabel digunakan sekaligus dalam analisis akhir. Caranya menentukan normalitas data adalah dengan membandingkan nilai Critical ratio skewness dan kurtosis dengan nilai kritis pada tingkat signifikansi tertentu. Rules of thumb yang digunakan adalah bila nilai Critical ratio

skewness dan kurtosis lebih dari ± 2.58 pada level 0.01 berarti distribusi data tidak normal.

Dalam output Amos 18.00, uji normalitas dilakukan dengan membandingkan nilai C .r

dengan nilai kritis ± 2.58 pada level 0.01. Jika terdapat nilai C. r yang lebih besar dari nilai

kritis maka distribusi datanya adalah tidak normal (Ferdinand, 2002).

2. Uji Outliers

Uji outliers adalah data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat sangat jauh dari obseravasi-observasi lainnya dan muncul dalam bentuk nilai ekstrim. Outliers merupakan hasil-hasil observasi yang menunjukkan nilai-nilai ekstrim dalam distribusinya. Menurut Hair et.al (dalam Ferdinand, 2002) outliers terjadi karena adanya kombinasi unik dan nilai-nilai yang dihasilkan dari observasi tersebut sangat berbeda dari observasi-observasi lainnya. Outliers dalam bentuk ekstrim dapat muncul dalam suatu variabel tunggal (univariate outlier) maupun dalam kombinasi beberapa variabel (multivariate outlier).

(44)

kasus-commit to user 29 kasus atau observasi-observasi dengan nilai z ≥ 3.0 dianggap sebagai outlier univariat. Untuk mengidentifikasi univariate outlier dilakukan dengan bantuan program Amos 18.00.

Sedangkan evaluasi outliers multivariate perlu dilakukan karena meski pada tingkat univariate tidak terjadi outliers, tetapi observasi-observasi itu dapat menjadi outliers bila sudah dikombinasikan. Uji outliers multivariate dilakukan dengan kriteria Jarak Mahalanobis pada tingkat p < 0,001 (Ghozali, 2004). Jarak Mahalanobis (Mahalanobis

Distance) ini dievaluasi dengan menggunakan c2 pada derajat bebas sebesar jumlah

indikator variabel yang digunakan dalam penelitian. Jika dalam penelitian digunakan 25 indikator variabel, maka semua kasus yang mempunyai Jarak Mahalanobis lebih besar dari

c2 (25, 0,001) = 52,61966 adalah outliers multivariat.

Terdapat dua pendapat yang menyatakan alasan mengapa outliers harus dibuang atau tidak. Kalau peneliti memilih untuk tidak membuang data yang terjadi outliers, hal itu dikarenakan peneliti memilih untuk menampilkan data yang benar-benar merepresentasikan data populasi. Pertimbangannya adalah observasi yang termasuk dalam outliers tersebut merupakan representasi dari segmen tertentu dalam populasi sehingga harus dipertahankan karena menyangkut kemampuan generalisasi hasil penelitian ke seluruh populasi. Sedangkan alasan mengapa outliers sebaiknya dibuang adalah kekhawatiran nantinya outliers tersebut akan berakibat pada penyimpangan hasil penelitian.

3. Uji Multikolinearitas

(45)

commit to user 30 sementara nilai yang melebihi 0,8 dapat menjadi indikasi adanya multikolineritas (Ghozali, 2005). Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dari multikolinearitas. Multikolinearitas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.

SEM memiliki dua tujuan utama dalam analisisnya. Tujuan pertama adalah untuk menentukan apakah model tersebut fit berdasarkan data yang dimiliki. Sedangkan tujuan kedua adalah menguji berbagai hipotesis yang telah dibangun sebelumnya (Ghozali, 2005). Dalam konteks penilaian model fit, Ghozali (2005) menjelaskan bahwa secara keseluruhan goodness of fit dari suatu model dapat dinilai berdasarkan beberapa ukuran fit, yaitu :

1. Chi-Square dan Probabilitas

Chi Square adalah ukuran goodness of fit yang dapat dilihat spesifikasinya. Nilai χ2 yang signifikan artinya matrik yang diobservasi berbeda secara signifikan dengan matrik yang

diestimasi. Sebaliknya, χ2

(46)

commit to user 31 2. Goodness of Fit Indices (GFI)

GFI merupakan derajat kesesuaian secara keseluruhan yaitu residual yang dikuadratkan

(R2) dari data yang diprediksi dibandingkan dengan data aktual namun tidak disesuaikan dengan degree of freedom-nya. Semakin tinggi nilai GFI mengindikasikan fit yang semakin baik. Model dikatakan fit yang baik jika nilai GFI ≥ 0,90 (Ferdinand, 2002).

3. Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI)

AGFI adalah GFI yang disesuaikan dengan rasio antara degree of freedom dari model yang diusulkan dan degree of freedom dari null model. Nilai AGFI yang direkomendasikan adalah

≥ 0,90 (Ghozali, 2004).

4. Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA)

RMSEA digunakan untuk mengoreksi kecenderungan statistik chi square untuk menolak model yang dispesifikasi jika menggunakan sampel yang cukup besar. Nilai RMSEA yang dapat diterima ≤ 0,08 (Ferdinand, 2002).

5. Expected Cross Validation Index (ECVI)

(47)

commit to user 32 6. Akaike’s Information Criterion AIC dan CAIC

AIC dan CAIC digunakan dalam perbandingan dari dua atau lebih model, di mana nilai AIC dan CAIC yang lebih kecil dari AIC model satured dan independence berarti memiliki model fit yang lebih baik.

7. Comparatif Fit Index (CFI)

CFI adalah merupakan perbandingan antara model yang diestimasi dengan null model.Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0-1 dimana semakin mendekati

nilai 1 maka mengindikasikan tingkat fit yang paling tinggi (a very good fit) (Arbuckle dalam Ferdinand, 2002). Keunggulan dari indeks ini adalah indeksi ini besarannya tidak dipengaruhi oleh ukuran sampel karena itu sangat baik untuk mengukur tingkat penerimaan sebuah model (Hulland et al dan Tanaka dalam Ferdinand,2002). Sehingga CFI cocok digunakan untuk sampel kecil, nilai yang direkomendasikan adalah > 0,95 (Ferdinand, 2002).

8. Normed Fit Index (NFI)

(48)

commit to user 33 BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Pemerintah Kabupaten Karanganyar dibentuk berdasarkan Undang Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Karanganyar adalah salah satu dari 29 Kabupaten dan 6 Kota di wilayah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

(49)

commit to user 34 meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah.

Penyelenggara Pemerintahan Kabupaten Karanganyar dipimpin oleh seorang Bupati yang dibantu seorang Wakil Bupati. Asas penyelengaraan pemerintahan berpedoman pada asas umum penyelenggaraan Negara yang terdiri dari atas : asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, asas akuntabilitas, asas efisiensi dan asas efektivitas. Bupati dan Wakil Bupati dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

a. Pernyataan Visi Kabupaten Karanganyar Tahun 2009-2013

Visi merupakan gambaran menantang tentang keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar. Visi merupakan pandangan ke depan yang menyangkut kemana Kabupaten Karanganyar akan dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif serta produktif.

Berdasarkan kondisi nyata Kabupaten Karanganyar dengan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan saat ini, dan yang akan datang, serta dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki. Maka VISI pembangungan Kabupaten Karanganyar sebagaimana Visi tahun 2009 – 2013 adalah sebagai berikut:

TERWUJUDNYA KARANGANYAR YANG TENTERAM, DEMOKRATIS DAN

(50)

commit to user 35 Tenteram, mengandung arti terciptanya suasana aman di lingkungan masyarakat dan terbebas dari ancaman dan gangguan ketertiban.

Demokratis, mengandung maksud terciptanya kesadaran dan kedewasaan berpolitik, sehingga mampu mendorong demokrasi yang lebih transparan dan bertanggung jawab serta mampu menciptakan iklim tata pemerintahan yang baik.

Sejahtera, diartikan sebagai terciptanya kondisi kehidupan dan tatanan kemasyarakatan, dimana aspek kebutuhan materiil dan sprituil dapat terpenuhi secara optimal, adil dan merata.

b. Pernyataan Misi Kabupaten Karanganyar Tahun 2009-2013

Misi adalah adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. MISI pembangunan Kabupaten Karanganyar sebagaimana Misi Tahun 2009 – 2013 adalah sebagai berikut:

1. Menciptakan keamanan, ketertiban dan kepatuhan hukum melalui penegakan peraturan perundang-undangan,

2. Memperkuat kehidupan demokrasi melalui pemberdayaan partisipasi rakyat untuk pemerintahan daerah yang demokrastis,

3. mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan yang bertumpu pada kemandiran, peningkatan kualitas SDM dan penyetaraan gender,

(51)

commit to user 36 5. Meningkatkan kualitas kehidupan dan kerukunan antar umat beragama dengan

penguatan kesadaran moral dan etika serta kehidupan berbudaya di masyarakat.

c. Tujuan dan Sasaran

Tujuan adalah pernyataan tentang apa yang perlu dicapai untuk mencapai / mewujudkan visi, misi dan mengatasi isu yang dihadapi. Idealnya tujuan dirumuskan berasaskan pendekatan spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis dan berorientasi hasil dan jangka waktu pencapaian yang jelas.

Perumusan tujuan diharapkan dapat menciptakan iklim yang kondusif untuk mengoptimalkan kinerja pemerintah daerah dan dapat mencerminkan arah dan prioritas; memberikan indikasi ke arah perumusan sasaran, kebijakan dan program; berorientasi ke depan; serta mudah dipahami.

Untuk merealisasikan pelaksanaan Misi Pemerintah Kabupaten Karanganyar, perlu ditetapkan tujuan pembangunan daerah (goal) yang akan dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Tujuan pembangunan daerah ini ditetapkan untuk memberikan arah terhadap pembangunan kabupaten secara umum. Di samping itu, juga dalam rangka memberikan kepastian operasionalisasi dan keterkaitan terhadap peran misi yang telah ditetapkan.

Adapun tujuan pada masing-masing misi sebagai berikut:

1. Menciptakan keamanan, ketertiban dan kepatuhan hukum melalui penegakan peraturan perundang-undangan.

(52)

commit to user 37 b. Meningkatnya penerapan dan penegakan hukum,

c. Terwujudnya supremasi hukum dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM)

2. Memperkuat kehidupan demokrasi melalui pemberdayaan partisipasi rakyat untuk pemerintahan daerah yang demokrastis.

a. Berkembangnya sistem politik di Daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan terbuka,

b. Meningkatnya partisipasi masyarakat dan lembaga sosial dalam pembangunan,

c. Meningkatnya pendidikan politik secara intensif kepada masyarakat,

d. Terciptanya hubungan kerjasama yang kondusif antara eksekutif dan legislatif.

3. Mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan yang bertumpu pada kemandiran, peningkatan kualitas SDM dan penyetaraan gender.

a. Meningkatnya kualitas pendidikan dan derajat kesehatan,

b. Meningkatnya minat baca dan berkembangnya pengetahuan masyarakat,

c. Semakin terbuka-luasnya kesempatan kerja dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat,

(53)

commit to user 38 e. Meningkatnya ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pelayanan KB,

f. Meningkatnya kualitas penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial,

g. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD),

h. Terciptanya wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi,

i. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata dan pertanian,

j. Meningkatnya pertumbuhan sektor industri yang ramah lingkungan,

k. Terbangunnya ekonomi kerakyatan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK),

l. Tersedianya sarana prasana lingkungan perumahan dan permukiman dengan memperhatikan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRW),

m. Tersedianya lahan hijau yang memadai dan kawasan lindung serta kawasan strategis daerah yang berwawasan lingkungan,

n. Meningkatnya ketertiban pengaturan penggunan lahan,

o. Meningkatnya kualitas pengelolaan lingkungan,

p. Terwujudnya pemerataan pembangunan melalui pengembangan sarana prasarana wilayah yang memadai,

(54)

commit to user 39 4. Meningkatakan pola pelayanan birokrasi dengan mengutamakan kepuasan

masyarakat secara pasti, cepat dan murah.

a. Terwujudnya birokrasi pemerintahan yang akuntabel dan efisien melalui pelaksanaan sistem pengawasan yang efektif dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang baik (Good Governance) dan bersih (Clean Governance),

b. Meningkatnya kemampuan teknis dan managerial perencana; termasuk integrasi, koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan,

c. Meningkatknya peran dan fungsi Pemerintah Daerah, yaitu fungsi pelayanan, regulasi dan pemberdayaan,

d. Meningkatnya penyelenggaraan diklat, baik teknis maupun fungsional,

e. Terwujudnya pelayanan masyarakat yang prima, cepat, murah dan tepat serta bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN),

f. Meningkatnya kualitas pelayanan perijinan penanaman modal,

g. Meningkatnya manajemen pengelolaan administrasi kependudukan dan Catatan Sipil,

h. Meningkatnya penyediaan dan penguasaan teknologi di bidang komputer dan jaringan,

i. Meningkatnya manajemen data dan informasi pembangunan daerah,

j. Meningkatnya manajemen pengelolaan fungsi dan pemanfaatan arsip.

(55)

commit to user 40 a. Meningkatnya kualitas dan kuatnya kelembagaan pengajaran dan pendidikan

agama,

b. Meningkatnya pelaksanaan ibadah bagi semua umat beragama, terciptanya kesemarakan kehidupan keagamaan dan meningkatnya kerukunan umat beragama demi kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa.

(56)
(57)

commit to user 42 Selain itu, secara khusus berikut kami paparkan gambaran umum masing-masing bidang yang kami teliti, yaitu :

1. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu merupakan unsur pendukung tugas Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang pelayanan perizinan terpadu, yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu mempunyai tugas membantu Bupati dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di bidang pelayanan perizinan terpadu.

Dalam menyelenggarakan tugas Badan Pelayanan Perizinan Terpadu mempunyai fungsi :

a Perumusan kebijakan teknis di bidang pelayanan perizinan terpadu;

b Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang pelayanan perizinan terpadu yang meliputi informasi, pendaftaran dan penanganan pengaduan, penelitian, administrasi, perhitungan dan pelaporan, penanaman modal serta kesekretariatan;

c Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pelayanan perizinan terpadu yang meliputi informasi, pendaftaran dan penanganan pengaduan, penelitian, administrasi, perhitungan dan pelaporan, penanaman modal serta kesekretariatan;

(58)

commit to user 43 e Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan

fungsinya.

Susunan Organisasi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, terdiri dari :

a. Kepala Badan;

b. Sekretariat, membawahkan :

1. Sub Bagian Perencanaan;

2. Sub Bagian Keuangan;

3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.

c. Bidang Informasi, Pendaftaran dan Penanganan Pengaduan, membawahkan :

1. Sub Bidang Informasi dan Pendaftaran;

2. Sub Bidang Penanganan Pengaduan.

d. Bidang Penelitian dan Administrasi, membawahkan :

1. Sub Bidang Koordinasi dan Penelitian Lapangan;

2. Sub Bidang Administrasi Perizinan.

e. Bidang Perhitungan dan Pelaporan, membawahkan :

1. Sub Bidang Perhitungan;

2. Sub Bidang Pelaporan.

f. Bidang Penanaman Modal, membawahkan :

1. Sub Bidang Pengendalian Penanaman Modal;

(59)

commit to user 44 g. Unit Pelaksana Teknis;

h. Kelompok Jabatan Fungsional.

2. Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan masyarakat

Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat merupakan unsur pendukung tugas Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat mempunyai tugas membantu Bupati dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di bidang kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat.

Dalam menyelenggarakan tugas Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat mempunyai fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat;

b. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat yang meliputi kesatuan bangsa, politik dan kemasyarakatan dan perlindungan masyarakat serta kesekretariatan;

(60)

commit to user 45 d. Pembinaan terhadap Unit Pelaksana Teknis dalam lingkup Badan Kesatuan

Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat;

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Susunan Organisasi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat, terdiri dari:

a. Kepala Badan;

b. Sekretariat, membawahkan :

1. Sub Bagian Perencanaan;

2. Sub Bagian Keuangan;

3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.

c. Bidang Kesatuan Bangsa, membawahkan :

1. Sub Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan;

2. Sub Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama dan Aliran Penghayat Kepercayaan.

d. Bidang Politik dan Kemasyarakatan, membawahkan :

1. Sub Bidang Kelembagaan dan Hubungan Antar Lembaga;

2. Sub Bidang Demokratisasi dan Masalah Aktual.

e. Bidang Perlindungan Masyarakat, membawahkan :

1. Sub Bidang Peningkatan Perlindungan Masyarakat;

(61)

commit to user 46 f. Unit Pelaksana Teknis;

g. Kelompok Jabatan Fungsional.

3. Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar Nomor 2 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Karanganyar, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan unsure pelaksana Pemerintah Daerah di bidang sosial, tenaga kerja dan transmigrasi yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekertaris Daerah.

Tugas pokok Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karanganyar sesuai dengan Peraturan Bupati Karanganyar Nomor 30 Tahun 2009 tentang uraian tugas pokok dan fungsi jabatan structural adalah membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang social, tenaga kerja dan transmigrasi berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

Fungsi Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi adalah :

a. Perumusan kebijakan teknis penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang social, tenaga kerja dan transmigrasi yang meliputi kesejahteraan social, penempatan tenaga kerja, hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan, pelatihan, perluasan kesempatan kerja dan transmigrasi serta kesekretariatan.

(62)

commit to user 47 social, penempatan tenaga kerja, hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan, pelatihan, perluasan kesempatan kerja dan transmigrasi serta kesekretariatan.

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang social, tenaga kerja dan transmigrasi yang meliputi kesejahteraan social, penempatan tenaga kerja, hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan, pelatihan, perluasan kesempatan kerja dan transmigrasi serta kesekretariatan.

d. Pembinaan terhadap unit pelaksana teknis dalam lingkup Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Susunan Organisasi Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi adalah :

a. Kepala Dinas

b. Sekretariat, membawahkan :

1. Sub Bagian Perencanaan

2. Sub Bagian Keuangan

3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

c. Bidang Kesejahteraan Sosial, membawahkan :

1. Seksi Pemberdayaan Sosial

(63)

commit to user 48 3. Seksi Bantuan Sosial

d. Bidang Penempatan Tenaga Kerja, mambawahkan :

1. Seksi Pendaftaran Pencari Kerja dan Informasi Pasar Kerja

2. Seksi Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri

3. Seksi Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri

e. Bidang Hubungan Industri dan Pengawasan Ketenagakerjaan, membawahkan:

1. Seksi Hubungan Industrial dan Persyaratan Kerja

2. Seksi Pengawasan Ketenagakerjaan

3. Seksi Perselisihan Ketenagakerjaan

f. Bidang Pelatihan Perluasan Kesempatan Kerja dan Transmigrasi:

1. Seksi Pelatihan dan Perluasan Kesempatan Kerja

2. Seksi Pembinaan Lembaga Pelatihan Kerja dan Produktivitas

3. Seksi Transmigrasi

g. Unit Pelaksana Teknis

h. Kelompok Jabatan Fungsional.

4. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

(64)

commit to user 49 Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Karanganyar dipimpin oleh seorang Kepala dan membawahai langsung 1 (satu) Sekretariat dan 3 (tiga) Bidang yaitu :

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat, membawahi; 1. Sub Bagian Perencanaan; 2. Sub Bagian Keuangan;

3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian c. Bidang Kependudukan, membawahi;

1. Seksi Identitas Penduduk; 2. Seksi Mutasi Penduduk 3. Seksi Registrasi Penduduk; d. Bidang Pencatatn Sipil, membawahi;

1. Seksi Pencatat Kematian dan Kelahiran; 2. Seksi Pencatatat Perkawinan dan Perceraian;

3. Seksi Pengangkatan, Pengakuan dan Pengesahan Anak; e. Bidang Pengelolaan Data dan Dokumen Penduduk, membawahi;

1. Seksi Pengumpulan Data dan Informasi; 2. Seksi Pengelolaan Data;

Gambar

Gambar IV.1      Struktur Organisasi ..………………………….......................
Gambar II.1
gambar histogram data atau dapat diuji dengan metode statistik. Uji normalitas ini perlu
Tabel IV.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria melakukan transaksi pembelian minimal 3(tiga) kali setahun. Perhitungan sampel menggunakan rumus

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai komitmen organisasi yang bersifat multidimensional telah dilakukan oleh beberapa peneliti, misalnya, penelitian pareke

Pengambilan sampel menggunakan metode purposive-convenience sampling yang dilakukan pada konsumen The Body Shop yang langsung ditemui sesuai dengan kriteria

Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu pemilihan sampel dengan kriteria tertentu, sehingga didapat sampel dalam penelitian ini sebanyak 36

PLN (Persero) Wilayah SulSelRaBar yang berjumlah 150 karyawan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara, teknik pengambilan sampel adalah purposive

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan penyebaran kuesioner yang dibagikan kepada 73 responden mahaiswa semester akhir

Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria-kriteria tertentu dan Penelitan ini menggunakan teknik analisis data

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai komitmen organisasi yang bersifat multidimensional telah dilakukan oleh beberapa peneliti, misalnya, penelitian pareke