1
Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia sekarang ini sangat pesat, hal ini ditandai dengan berdirinya Lembaga Jasa Keuangan Syariah (LJKS) seperti Lembaga Keuangan Mikro, BMT (Baitul Maal Wa Tamwil), KJKS (Koperasi Jasa Keuangan syariah), UJKS (Unit Jasa Keuangan Syariah), Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Reksadana Syariah, dan lembaga keuangan lainnya (Madjid, 2018:121)
Koperasi merupakan lembaga ekonomi untuk membangun kesejahteraan bersama. Hususnya koperasi syariah yang dibangun atas dasar persaudaraan dan keadilan sehinga memiliki peranan dan kepedulian yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi anggotanya yang menjalankan usaha (Lindawatie, 2018: 4). Berdasarkan data terakhir tahun 2020 yang diperoleh dari Kemenkop UKM, Koperasi yang aktif untuk daerah Kalimantan sebesar 2.633 untuk daerah Kalimantan Tengah, 2.904 Kalimantan Barat, 1.824 Kalimantan Selatan, 3.036 Kalimantan Timur, dan 558 Kalimantan Utara (Komenkop dan UKM, 2020). Berdasarkan Data tersebut Koperasi di Kalimantan Selatan masih banyak yang tidak aktif dibandingkan dengan Kalteng, Kalbar dan Kaltim yang jauh lebih aktif diakibatkan adanya persaingan modal, kredit yang dikeluarkan kepada anggota terjadi macet alias gagal bayar yang dikarenakan dari manajemen pengurusnya. Sehingga saling berkaitan antara modal dengan SDM pengurus koperasi (Febriankan, 2016).
Dengan adanya koperasi yang masih banyak tidak aktif maka akan dapat mengganggu kinerja koperasi secara keseluruhan, seperti mengurangi kepercayaan terhadap koperasi baik dari masyarakat maupun pihak lain, dan akan sulit melakukan kerjasama dalam rangka membangun kinerja koperasi. Melihat hal tersebut, Koperasi simpan pinjam pembiayaan syariah agar dapat
menjadi salah satu alternatif pembiayaan untuk kesejahteraan anggota yang dapat dimanfaatkan anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dan memajukan koperasi yang aktif agar nama baik koperasi yang sedang aktif tidak ikut terpengaruh dan tidak merugikan.
Negara Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam. Maka dari itu, banyak lembaga keuangan yang menerapkan prinsip-prinsip Islam seperti bank syariah, asuransi syariah, termasuk juga koperasi syariah (Sofian, 2018:752).
Koperasi syariah salah satu dari lembaga keuangan mikro yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Kegiatan dari koperasi syariah adalah menghimpun dana dan menyalurkannya dari anggota untuk anggota (Djoko, 2012: 40). Penyaluran dana yang diberikan tentu harus memperhatikan kualitas pembiayaan agar dapat mengantisipasi timbulnya risiko pembiayaan. Pembiayaan bermasalah pada dasarnya sebagai kredit macet atau risiko yang timbul akibat kegagalan debitur untuk memenuhi kewajibannya kepada koperasi (Isih Akhmiatun, 2017: 203). Pembiayaan bermasalah perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi tingkat kesehatan Koperasi syariah (Kasmir, 2014 : 100)
Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat pembiayaan bermasalah yaitu dengan Non Performing Finance (NPF) merupakan perbandingan antara total pembiayaan bermasalah dengan total pembiayaan yang diberikan koperasi kepada debitur, semakin kecil NPF semakin kecil risiko pembiayaan bermasalah yang ditanggung pihak koperasi(Abdullah, 2014: 65). Pada dasarnya pembiayaan bermasalah terjadi dari beberapa faktor, baik dari faktor internal yang memberikan pembiayaan maupun dari faktor eksternal (Madjid, 2018: 225).
Proses penyelesaian pembiayaan bermasalah pada koperasi harus mengikuti peraturan yang berlaku agar anggota dapat membayar kembali angsuran pokok sesuai dengan tempo yang telah ditentukan, sampai saat ini masih belum ada peraturan yang mengkhususkan terkait tentang penanggulangan pembiayaan bermasalah pada koperasi, sehingga untuk
peraturan koperasi akan merujuk pada peraturan perbankan sebagai acuan untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalah yang ada pada koperasi, yaitu pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/9/PBI/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/18/PBI/2008 tentang Restrukturisasi Pembiayaan bagi Bank Syariah dan unit Usaha Syariah yang berbunyi pembiayaan bermasalah dilakukan dengan mengidentifikasi, menilai, dan menentukan tingkat risiko yang terjadi akibat kegagalan debitur dan/ atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada perusahaan pembiayaan. Untuk penanganannya sendiri bisa dilakukan dengan cara restrukturisasi pembiayaan, Reschedulling (Penjadwalan Kembali), Restructuring (Penataan Kembali), dan Reconditioning (Persyaratan Kembali) (Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/9/PBI/2011).
Dari ketentuan Bank Indonesia di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pembiayaan bermasalah atau kredit bermasalah akan memberikan dampak yang kurang baik dalam hal operasional, dan untuk penanganan/ penyelesaian pembiayaan bermasalah pada koperasi dapat dilakukan dengan upayal danl langkah-langkahl restrukturisasil yangl dilakukan bankl dengan mengikutil ketentuan yangl berlaku agarl pembiayaanl tidak lancarl (golonganl kurangl lancar, diragukanl danl macet) dapatl menjadi golonganl lancar kembalil secaral bertahap.
Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah merupakan lembaga jasa keuangan non bank (LJKNB) yang berbadan hukuml koperasil berdasarkan keputusanl menteril koperasil dan usahal kecill menengahl No. 06/BH/XIX/III/2016 yang disahkan melalui Gubernur Kalimantan Selatan. Koperasi Arrahmah dalam menjalankan kegiatan jual beli kredit bertujuan untukl memberikan keuntunganl sebesar-besarnyal bagi anggotal denganl cara mengadakanl barang ataul jasa yangl murah, lberkualitas, danl mudahl didapat koperasil (Raihan, 2021). Dalam hal pembiayaan dengan penerapan transaksi yang bebas riba, tanpa denda dan tanpa sita, Koperasi Arrahmah didirikan agarl dapat memberikanl pelayananl kepada masyarakatl usaha kecill untuk
kesejahteraan anggotanya dan mengelola dengan mengedepankan nilai-nilai syariah.
Prosedur pembiayaan yang dilakukan oleh Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah adalah jika pembelian barang secara taqsit dengan harga dibawah Rp. 5.000.000,- maka pihak koperasi tidak meminta agunan dalam bantuk apapun kepada pemohon saat akad pembelian barang tersebut. Jika pemohon hanya bisa membayar angsuran dengan jumlah 20% dari total harga yang sudah diakadkan kemudian terjadi kredit macet, maka pihak koperasi akan mengalami kerugian sebesar 80% dari total angsuran sehingga untuk barang yang sudah diserahkan kepada pemohon maka akan dititipkan kembali ke pihak koperasi.
Menurut (Raihan, 2021), Pembiayaan bermasalah pada koperasi konsumen syariah arrahmah merupakanl suatu keadaanl saat nasabahl sudah tidakl sanggup membayarl sebagian ataul seluruh kewajibannyal kepadal pihak koperasi. Keadaanl ini jikal tidak segeral ditanganil dengan tepatl makal akan berdampakl pada penurunanl pendapatan, modall sertal menurunnya kepercayaanl terhadapl koperasi.
Pembiayaan pada koperasi konsumen syariah Arrahmah padatahun 2018 sebesar Rp 5.539.714.538 menurun pada tahun 2019 menjadi Rp 4.535.299.760 dan meningkat pada tahun 2020 sebesar Rp 4.756.591.612. Namun tingkat Non Performing Finance (NPF) tahun 2018 sebesar 3,9% menurun pada tahun 2019 sebesar 3,8% dan pada tahun 2020 sebesar 3,7%.
Tabel 1.1 Perhitungan Rasio NPF (Non Perfoming Finance) Per 31 Desember 2018 - Per 31 Desember 2020
Tahun Total Pembiayaan
Bermasalah/macet (Dalam Rp) Total Pembiayaan yang diberikan (Dalam Rp) NPF% 2018 Rp 216.048.867 Rp 5.539.714.538 3,9% 2019 Rp 173.148.727 Rp 4.535.299.760 3,8% 2020 Rp 175.674.675 Rp 4.756.591.612 3,7% Sumber : Laporan Keuangan Kopsyah Arrahmah (2018,2019,2020)
Dalam ketentuan Bank Indonesia tingkat NPF tidak boleh melebihi angka 5%. Berdasarkan tabel 1.1 diatas dapat diketahui bahwa tingkat NPF (Non Porfaming Finance) Koperasi Arrahmah pada tahun 2018 sampai 2020 mengalami penurunan sebesar 3,9% pada tahun 2018, 3,8% pada tahun 2019, dan 3,7% pada tahun 2020. Angka ini memang tidak melampaui ketentuan BI, namun jika terus dibiarkan akan mengakibatkan pendapatan Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah berkurang dan akan berdampak pada kesehatan koperasi. Pembiayaan tanpa denda yang dijalankan oleh Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah dijadikan sebagai jalan keluar untuk para anggota yang mengalami kredit macet dan bukan pula sebagai alternatif bagi anggota untuk sengaja memperlambat pembayaran angsuran. Dalam hal ini, pihak Koperasi Arrahmah memiliki cara tersendiri agar nantinya Koperasi Arrahmah tidak mendapat kerugian yang cukup besar bukan sekedar untuk memanfaatkan keadaan. Maka dibutuhkan strategi untuk penanganan atau penyelesaian pembiayaan bermasalah tersebut.
Dari latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh lagi tentang pembiayaan bermasalah pada Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah, yang dituangkan dalam sebuah skripsi dengan judul ”Pembiayaan Bermasalah Pada Koperasi Konsumen Syariah
Arrahmah Banjarmasin (Faktor-Faktor dan Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah)”.
B. Permasalahan
Penyelesaian pembiayaan bermasalah suatu lembaga keuangan non bank merupakan sebuah solusi untuk menanggulangi kredit bermasalah dengan melihat tingkat Non Perfoming Finance (NPF). Semakin tinggi NPF suatu koperasi sangat berdampak buruk terhadap kesehatan serta kinerja koperasi itu sendiri. Non Performing Finance (NPF) Koperasi Konsumen Syariah arrahmah dari tahun 2018-2020 bagus dan cenderung menurun sehingga bisa menjadi referensi untuk koperasi syariah yang lain yang masih kurang aktif, dan dapat menjadi solusi untuk banyaknya koperasi yang berstatus tidak
aktif. Oleh karena itu maka perlu diketahui faktor-faktorl yangl menyebabkan pembiayaanl bermasalahl sertal penanganan/penyelesaianl untuk dapat meminimalkan terjadinya pembiayaan bermasalah.
C. Rumusan Masalah
1. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya Pembiayaaan Bermasalah di Koperasi Konsumen syariah Arrahmah Banjarmasin ? 2. Bagaimana penanganan dan Penyelesaian pembiayaan bermasalah di
Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah Banjarmasin ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang di rumuskan di atas, maka tujuan penelitian yang dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya pembiayaan bermasalah pada Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah Banjarmasin .
2.
Untuk Mengetahui Bagaimana penanganan pembiayaan bermasalah pada Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah Banjarmasin.E. Manfaat Penelitian
Adapunl Manfaat hasill Penelitianl yang bisal di ambill antaral lain:
1. Bagil Penulis, Secaral teoritis, penelitianl ini dapatl menambahl informasi, wawasanl pemikiranl dan pengetahuanl dalam hall menanganil pembiayaan bermasalahl di Koperasil Konsumenl Syariahl Arrahmahl Banjarmasin . 2. Bagil Koperasi Konsumenl Syariahl Arrahmah, Sebagail pemberil solusi
kepadal masyarakat untukl menyelesaikanl pembiayaan bermasalahl sesuai prinsipl syariah.
3. Bagil D4 Akuntansil Lembagal Keuanganl Syariah, Sebagail tambahan referensil dan Untukl memperkayal pengetahuan pembacal mengenai faktorl penyebabl terjadinyal pembiayaanl bermasalah.
4. Bagil Masyarakat, Sebagail informasi bagil masyarakatl tentangl penyebab terjadinyal pembiayaanl bermasalah danl penangananl pembiayaan bermasalahl di Koperasil Konsumenl Syariahl Arrahmahl Banjarmasin.