2. LANDASAN TEORI
Pada bagian ini beberapa teori yang akan diuraikan adalah mengenai Inovasi Produk, Inovasi Proses, Komitmen Management dan Kinerja Perusahaan.
2.1. Manajemen Produksi
Dalam pelaksanaan produksi suatu perusahaan, diperlukan manajemen yang berguna untuk menetapkan keputusan dalam upaya mengatur dan mengkoordinasian penggunaan sumber daya. Kemampuan dari kegiatan produksi tersebut dikenal sebagai manajemen produksi atau manajemen operasional. Definisi manajemen operasi dan produksi menurut Jay Heizer dan Barry Render manajemen operasi adalah serangkaian kegiatan yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. Menurut Pangestu Subagyo, manajemen operasi adalah penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien. Menurut Eddy Herjanto manajemen operasi dan produksi dapat diartikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan dan efektif menggunakan fungsi fungsi manajemen untuk mengintegrasikan berbagai sumber daya secara efisien dalam rangka mencapai tujuan. Dari definisi definisi yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen operasi dan produksi merupakan serangkaian proses dalam menciptakan barang dan jasa atau kegiatan mengubah bentuk dengan menciptakan atau menambah manfaat suatu barang dan jasa yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
2.2. Inovasi
Inovasi dapat ditelaah lewat berbagai macam prespektif sesuai penjabaran berbagai peneliti, dari prespektif yang luas seperti proses yang membawa sesuatu yang batu, atau penyelesaian permasalahan yang dapat digunakan (Kanter 1983: 20).
Prespektif yang mengarah kepada hasil akhir seperti Inovasi adalah proses untuk memperoleh ide baru untuk dirubah dengan aktifitas ekonomi untuk memperoleh value bagi perusahaan (Livingstone 2000).
Kebanyakan penelitian mengenai inovasi berasal dari pembelasjaran pada divisi Research and Development (R&D) atau perubahan teknologi. Dalam R&D focus knowledge berpusat pada kreasi knowledge yang baru dan penggunaan knowledge yang sudah ada (Matthews, & H, J 2003) Menurut Heffner, M. C. 2006 kesuksesan perusahaan yang dibangun dari inovasi, adaptasi dan perluasan dari resource dan kapabilitas perusahaan terutama teknologi dan R&D.
Menurut Ibrahim dan Burcu (2009) inovasi adalah pengenalan kombinasi baru yang penting dalam factor produksi ke dalam system produksi. Inovasi capital adalah kompetensi perusahaan dan inmplementasi R&D dalam membawa teknologi baru, dan produk baru untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar. Dimana semua itu termasuk produk baru, teknologi baru, pasar baru, material yang baru dan kombinasi yang baru.
Menurut Gloet dan Teriovski (2004) inovasi dapat dijelaskan sebagai implementasi dari penemuan dan intervensi dan proses yang menjadikan hasil yang baru baik produk, system atau proses menjadi nyata. Menurut Plessis, M. d. 2007 menjelaskan inovasi sebagai kreasi knowledge baru dan ide untuk memfasilitasi hasil bisnis yang baru, bertujuan untuk meningkatkan internal proses bisnis perusahaan dan struktur perusahaan dan untuk membuat market yang tertuju pada produk dan service.
2.2.1. Inovasi Produk
Inovasi Produk adalah suatu proses dalam membawa teknologi baru untuk digunakan. Inovasi produk menunjuk pada pengembangan dan pengenalan inovasi produk atau pengembangan yang berhasil di pasaran. Inovasi produk dapat berupa perubahan desain, komponen dan arsitektur produk (Galbraith 1973).
Menurut Hurley dan Hult (1998) mendefinisikan inovasi produk sebagai mekanisme perusahaan untuk dapat beradaptasi dalam lingkungan yang dinamis. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk mampu menciptakan pemikiran-pemikiran baru
dan menawarkan produk yang inofatif serta meningkatkan pelayanan yang memuaskan konsumen.
Menurut studi empiris dalam pengembangan inovasi produk, misal: Cooper (1983, 1992), Edgett, Shipley dan Forbes (1992), memberikan beberapa bukti bahwa keunggulan inovasi produk membawa pada kinerja perusahaan yang lebih baik. Inovasi produk berarti kemampuan perusahaan dalam memenuhi apa yang menjadi keinginan konsumen. Hal tersebut sejalan dengan bukti empiris, bahwa perusahaan yang ingin secara berkesinambungan melakukan proses dan mengembangkan inovasi adalah dengan tetap mengedepankan orientasi pasar sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas inovasi perusahaan terutama produk ataupun jasa yang dihasilkan perusahaan.
Menurut Li dan Calantone (1998), Inovasi produk adalah suatu inovasi yang dilakukan dengan melakukan perubahan pada produk mereka yang didahului dengan proses penelitian dan pengembangan di dalam perusahaan. Sedangkan menurut Edgett, Shipley dan Forbes (1992), inovasi produk adalah suatu inovasi yang melakukan perubahan pada produk dan jasa mereka secara radikal maupun mengembankan produk maupun jasa yang sudah ada.
Adapun indikator dalam inovasi produk dapat dinilai dari beberapa hal seperti adanya kepuasan dengan adanya perpindahan dari teknologi lama ke teknologi baru yang saat ini digunakan, dalam artian adanya peningkatan kemampuan teknologi tersebut dalam sebuah perusahaan seperti dapat memberikan perubahan yang berarti dalam hasil produksi akhir, seperti hasilnya lebih bersih dari pasir ataupun bentuknya lebih baik. Kemudian adanya keterlibatan tenaga kerja untuk menghasilkan produk baru. Pengenalan proses baru yaitu, bahwa pekerja dikenalkan kepada sebuah proses yang diharapkan menghasilkan produk lebih baik dari sebelumnya.
2.2.2. Inovasi Proses
Inovasi proses adalah implementasi dari sesuatu yang baru, atau peningkatan produk dan metode pengiriman (termasuk perubaan teknik, metode dan atau software).
Perubahan atau perbaikan yang meningkatkan produk atau service dari proses manufaktur atau system logistic yang sesuai dengan metode yang sudah digunakan, pemberhentian proses yang sudah ada, atau penggantian yang simple atau perpanjangan yang memberikan hasil berupa harga produk atau jasa, kostumisasi, kebiasaan musiman, dan perubahan-perubahan lain (European Commision 2006).
Menurut Joseph Schumpeter (1997) inovasi proses adalah pengenalan proses baru dalam pembuatan atau pengiriman produk atau jasa dengan tujuan akhir mengurangi costu produksi atau pengiriman, meningkatkan kualitas membuat atau mengirim produk yang lebih baik. Menurut (Popadiuk, S., & Choo, C. W. 2006) inovasi proses berpusat dengan pengenalan elemen baru dalam operasi perusahaan baik mesin, material, tugas-tugas pekerjaan dan flow informasi dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi barang atau jasa.
Inovasi proses adalah suatu invoasi yang melakukan perubahan cara dimana mereka memproduksi barang dan mengirimkan barang-barang tersebut. Inovasi proses mengarahkan perusahaan kepada metode baru pada operasi dengan membeli teknologi baru atau memperbaiki yang sudah ada. Hal itu pun dapat membantu perusahaan untuk mencapai economy of scope atau scale yang dapat menekan biaya dan harga dan membantu untuk meningkatkan kualitas.
Adapun indikator yang dapat digunakan untuk mengukur inovasi proses adalah dengan adanya kepuasan dalam pengenalan proses baru dalam proses produksinya dengan adanya kepuasan dalam peningkatan teknologi yang mereka gunakan untuk memproduksi barang. Kemudian adanya pengenalan cara penyampaian dalam proses baru, misalnya biasanya perusahaan menunggu manajer untuk memberitahu, ini diubah menjadi inisiatif sendiri, atau semua diubah menjadi input data kedalam mesin hal ini tentu saja akan mempengaruhi bagai penyampaian hasil akhir produk yang diharapkan, sehingga sesuai dengan peningkatan yang diharapkan
2.3. Komitmen Management
Definisi umum untuk komitmen digunakan dalam literature SPI adalah yang didefinisikan dalam CMM (Capability Maturity Model by Software Engineering Institute) adalah suatu perjanjian yang dapat diasumsikan, tidak terlihat dan diharapkan dapat ditetapi oleh berbagai pihak dimana partisipasi langsung oleh eksekutif tingkat tertinggi dalam aspek tertentu dan penting atau program dari suatu organisasi. Menurut ISO 9000 komitmen management adalah tanggung jawab management perusahaan untuk menetapkan sasaran obyektif yang strategis dan sasaran mutu management.
Adapun definisi manajemen menurut Cooper (2006) dijabarkan sebagai keterlibatan dalam menetapkan kegiatan untuk membantu dalam pencapaian target. Menurut Wilkinson, A., Redman, T. dan Snape yang dikutip oleh Keith Goffin dan Marek Szwejczewski Komitmen Manajemen dipandang sebagai kondisi yang esensial dalam meunjang kesuksesan manajemen kualitas. Kerstin V. Siakasl dan Elli Georgiadou, (2002) mengatakan komitmen manajemen dan leadership adalah factor pengendali motivasi karyawan untuk terus meningkatkan improvisasi proses.
Menurut Babakus, et al (2003) komiten management berperan penting dalam kualitas service karena komitmen management menentukan service dari karyawan.
Menurut Phyanthamilkumaran, Zailani, S., & Fernando, Y (2008) komitmen management dapat diukur dari keterlibatan management dalam project dan kemampuan management dalam menyebarkan goal atau objective dari project kedalam perusahaan, memiliki komitmen dalam penerapannya, menyediakan sumber daya dan pelatihan, mengawasi pelaksanaanya di semua tingkat organisasi dan melakukan evaluasi dan revisi kebijakan dalam mencapai hasil yang ingin dicapai.
Menurut Yousaf, N (2006) komitmen management didapatkan dan dimaintain dari kerja keras, loyalty, komunikasi dan kinerja staff yang baik. Dimana komitmen menajemen merupakan factor yang penting dalam kesuksesan setiap program.
Ernst dan Young (1990) menerapkan konsep komitmen management dalam konteks konsumen, dimana komitmen management dapat bergerak sesuai dengan beberapa tahap, yaitu:
1. Cukup komitmen untuk mensponsori aktivitas baru 2. Komitmen terhadap waktu untuk memperoleh pengertian 3. Pengertian intelektual
4. Keinginan untuk bekerja pada permasalahan yang penting dan meningkatkan keterlibatan management
5. Keinginan untuk dapat merubah sikap seseorang
Menurut Business Dictionary, komitmen manajemen merupakan partisipasi langsung oleh manajemen baik top maupun middle pada aspek tertentu pada organisasi, meliputi:
1. Pengaturan dan melayani pada komite kualitas
2. Merumuskan dan menetapkan kebijakan mutu dan sasaran 3. Menyediakan sumber daya dan pelatihan
4. Mengawasi pelaksanaan di semua tingkat organisasi
5. Mengevaluasi dan merevisi kebijakan guna mencapai tujuan yang diinginkan
2.4. Kinerja Perusahaan
Menurut Rivai dan Basri (2004:16), pengertian performa atau kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan. Menurut Hyndman dan Anderson (1997) status perusahaan secara keseluruhan dibanding organisasi lain yang sejenis, atau terhadap suatu standar yang disepakati bersama. Mwita (2003) dan didukung oleh Bromwich (1990) yang mendukung bahwa kinerja perusahaan adalah output actual atau hasil dari suatu organisasi diukur berdasarkan output yang diinginkan (atau tujuan dan sasaran)
Selanjutnya Ferry (2005) menyatakan bahwa dalam organisasi yang terdiri dari individu-individu yang memiliki karakteristik yang berbeda berpengaruh terhadap output dan outcome yang akan diraih yang dapat diarahkan dan dimotivasi untuk mencapai tujuan. Selanjutnya Mulyadi (2006) menyatakan bahwa pengukuran kinerja merupakan salah satu upaya supaya dapat dilakukan sumberdaya secara efektif dan dapat memberikan arah pada pengambilan keputusan strategis yang menyangkut perkembangan suatu organisasi pada masa yang akan datang. Kinerja merupakan status perusahaan secara keseluruhan dibanding organisasi lain yang sejenis atau terhadap suatu standar yang disepakati bersama.
Menurut Bael (2000) bahwa belum ada consensus tentang ukuran kinerja yang paling layak dalam penelitian dan ukuran-ukuran obyektif kinerja yang selama ini digunakan dalam banyak penelitian masih memiliki banyak kekurangan. Misalnya ukuran ROI (Return on Investment) mempunyai kelemahan, karena terdapat berbagai macam metode pengukuran depresiasi, persediaan dan nilai fixed cost (Wright et al, 1995). Lebih jauh Sapienza et al (1998) mengemukakan bahwa ukuran kinerja perusahaan berbasis akutansi dan keuangan memiliki kekurangan selain disebabkan oleh bervariasinya metode akuntansi, juga disebabkan oleh adanya kencenderungan manipulasi angka dari pihak management sehingga pengukuran menjadi tidak valid.
Untuk mengantisipasi tidak tersedianya data-data kinerja objektif dalam suatu penelitian, maka dimungkinkan untuk menggunakan alat ukur subyektif yang berdasarkan pada presepsi manager (Bael 2000), Zahrra dan Das (1993) membuktikan bahwa ukuran kinerja subjektif memiliki tingkat rehabilitas dan validitas yang tinggi.
Disamping itu penelitian Voss & Voss (2000) menunjukkan adanya korelasi yang erat antara ukuran kinerja subyektif dan ukuran kinerja obyektif.
Berdasarkan penelitian diatas maka dengan menggunakkan pengukuran subyektif yang berdasarkan presepsi manager perusahaan maka terbentuk tiga dimensi untuk pengukuran kinerja perusahaan, yaitu growth, profitability dan efisiensi (Murphy et al, 1996). Menurut Barkham et al (1996) pertumbuhan penjualan merupakan
indicator kinerja yang sudah sering digunakan dan menjadi consensus sebagai alat ukur kinerja perusahaan. Sedangkan untuk profit dan efisiensi digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan untuk mengetahui seberapa jauh perusahaan dikelola secara efektif.
2.5.Hubungan antara Variabel Penelitian
2.5.1.Hubungan antara Inovasi Produk dan Inovasi Proses dengan Kinerja perusahaan
Inovasi produk memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan, hal tersebut didukung oleh penelitian Michael C (2007), terutama pada bidang perhotelan dimana dengan meningkatkan service menjadi lebih baik akan meningkatkan kepuasan pelanggan yang menjadi pendapatan utama bagi bidang perhotelan. Menurut Henry Chesbrough (2003) inovasi produk jug memberikan dampak positif bagi kinerja perusahaan, dengan menggunakan perusahaan Xerox sebagai contoh dimana Xerox terus mengembangkan produk yang sudah ada menjadi produk yang lebih baik sehingga meningkatkan pendapatan perusahaan. Tetapi pada penelitian Buckley et al (2002) tidak terdapat pengaruh antara inovasi produk terhadap kinerja perushaan, terlihat dari riset yang dilakukan di Cina dimana dengan adanya inovasi produk tidak meningkatkan kinerja perusahaan hal ini disebabkan karena adanya perusahaan asing yang ikut bersaing dalam pasar Cina.
Inovasi proses terhadap kinerja perusahaan dihasilkan dampak positif berdasarkan penelitian Palaniswamy (2001). Hasil yang sama ditemukan dalam penelitian Fang and Tseng (2010), dengan mengingkatnya inovasi teknologi akan menjadi competitive advantage bagi perushaan. Akan tetapi pada penelitian James and Martina (2008) inovasi proses terhadap kinerja perushaan dihasilkan dampak negative, hal ini terutama dalam bidang kesehatan darimana
dari hasil penelitian dengan berkembangnya inovasi teknologi dapat menimbulkan terjadinya ketidak percayaan pasien dengan dokter karena terlalu mengandalkan teknologi yang ada. D’Angelo (2012) menggunakan sampel dari perusahaan Itali yang bergerak dengan high tech setting dalam industry manufaktur (HTSMEs), setelah pendekatan selama 3 tahun dan mencoba melakukan beberapa model regresi, dia menyimpulkan bahwa inovasi produk dan turnover yang disebabkan oleh aktivitas inovasi mempengaruhi intensitas ekspor dari perusahaan secara positif dan signifikan
2.5.2. Hubungan antara Inovasi Proses dan Inovasi Produk
Inovasi Proses berpengaruh positif terhadap inovasi produk, berdasar penelitian Andreas et al (2007), dengan meningatnya inovasi proses maka inovasi produk dapat meningkat karena tersedianya kemampuan dalam memproduksi produk baru. Hasil serupa juga didapatkan dari penelitian Fang dan Tseng (2010), terutama dibidang retail dimana dengan adanya inovasi teknologi dapat memeberikan service yang lebih baik bagi pelanggan. Tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Newell et al (2003) inovasi proses terhadap inovasi produk menghasilkan dampak negative, hal ini disebabkan pada saat inovasi proses diterapkan terdapat pemotongan supplier yang kurang memenuhi syarat tetapi menurut divisi R&D supplier-supplier yang kurang memenuhi syarat tersebut turut ambil bagian dalam inovasi produk baru sehingga dengan terjadinya pemotongan tersebut dapat mengurangi inovasi produk dalam perusahaan.
2.5.3. Hubungan antara Komitmen Management dengan Inovasi Produk dan Inovasi Proses
Komitmen management terhadap inovasi produk menghasilkan dampak positif menurut peneliti Nuria et al (2008). Menurut penelitian Rogers et al (2005) juga memberikan hasil positif berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukan bahwa dengan terbentuknya komitmen management dapat
mensukseskan produk baru. Akan tetapi menururt penelitian Mvungi & Jay (2010) komitmen management tidak memberikan pengaruh terhadap inovasi produk, hal ini disebabkan pada saat top management membantu dalam inovasi produk berupa implementasi IT ternyata karyawan tidak dapat menggunakan dengan baik sehingga tidak memberikan hasil yang diharapkan oleh top management. David Arella (2011) juga mengatakan bahwa pengawasan dan komunikasi manajemen sangatlah diperlukan dalam berjalannya proses inovasi, guna mengatasi adanya kesalahan-kesalahan yang tidak diharapkan sehingga manaajemen dapat segera tanggap mengatasinya, karena tidak semua inovasi dapat langsung berjalan lancar pada eksekusi awal, manajemen juga perlu menjelaskan secara jelas tentang tujuan yang ingin mereka capai, juga mengawasi apakah hasil sudah sesuai keinginan ataukah belum.
Komitmen management terhadap inovasi proses menghasilkan dampak positif menurut pneliti Osama et al (2006), dengan dukungan top management dalam memberikan suasana pekerjaan yang aman dapat meningkatkan inovasi proses terlebih lagi dalam bidang konstruksi yang sangat rawan akan bahaya dan pekerjaan yang dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Hasil yang sama diteliti oleh Vedabrata (2002) juga memberikan hasil positif, dengan adanya dukungan top management akan meningkatkan kesuksesan penerapan IT yang mendukung meningkatnya inovasi proses dalam perusahaan. Didukung juga dari penelitian Daughtery et al (2001) untuk meningkatkan kapabilitas inovasi diperlukan alokasi sumber daya yang memadai, oleh karena itu komitmen manajemen dalam menyediakan sumber daya guna terlaksananya inovasi sangatlah penting, agar inovasi tersebut dapat terjadi. Akan tetapi menurut penelitian Robert (2003) komitmen management tidak memberikan pengaruh terhadap inovasi proses, dengan adanya dukungan top management saja tidak dapat menjamin adanya penintkatan inovasi proses tetapi juga dengan dukungan kerja sama
antar karyawan dan kesadaran individu sehingga dapat meningkatkan inovasi proses dalam perusahaan.
2.5.4. Hubungan Komitmen Manajemen terhadap Kinerja Perusahaan
Komitmen manajemen terhadap kinerja perusahaan bernilai positif menurut Nikookar et al (2010) lewat ERP (Enterprise Resource Planning) kemudian penelitian Hiras Pasaribu (2009) yang didukung oleh penelitian Bottorf (1997) menyatakan bahwa komitmen manajemen berpengaruh positif pada kinerja perusahaan dengan mendorong pengembangan pengukuran kinerja, di antaranya pengawasan kinerja manajer dalam memuaskan konsumen, menghasilkan produk yang bermutu tinggi, dan membuat desain produk yang lebih baik. Kinerja manajerial akan meningkat apabila ada perbaikan keefektifan pengendalian biaya kualitas secara terus-menerus.
Penelitian Aryo Kristiwardhana dan Dra Rini Nugraheni (2011) yang didukung oleh penelitian Darufitri Kartikandari (2002) mengatakan bahwa motivasi yang kuat kepada pegawai sangatlah penting agar kemampuan pegawai optimal untuk meningkatkan kinerjanya. Feng Yu Ni, Chin-Chun Su, Shao-Hsi Chung, dan Kuo-Chih Cheng (2005) menyatakan bahwa kepercayaan manager sangat diperlukan dalam meningkatkan performa perusahaan, supervisor disarankan agar menciptakan target yang menantang dan dapat dicapai dibandingkan dengan yang ketat untuk menciptakan efek partisipasi yang maksimal dalam kepercayaan dan performa perusahaanKaryawan dengan motivasi yang tinggi akan memberikan seluruh kemampuannya untuk memajukan perusahaan, oleh karena itu komitmen manajemen dalam memotivasi pegawainya sangatlah penting guna meningkatkan kinerja perusahaan.
2.6. Kerangka berpikir Teoritis
Gambar 2.7.1. Model Penelitian 2.8. Hipotesis Penelitian
H1: Komitmen Manajemen mempengaruhi adanya Inovasi Proses
H3: Komitmen Manajemen memberikan pengaruh positif pada inovasi produk H2: Komitmen Manajemen berpengaruh pada Kinerja Operasional
H4: Inovasi Proses memicu adanya Inovasi Produk H5: Inovasi Produk mempengaruhi Kinerja Operasional H6 : Inovasi Proses mempengaruhi Kinerja Operasional