• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pada bab pertama ini, peneliti akan memberikan paparan mengenai latar belakang permasalahan dan fenomena yang terkait. Selanjutnya, peneliti akan memaparkan rumusan masalah berupa pertanyaan penelitian yang akan diuji dalam penelitian ini, serta tujuan dari dilakukannya penelitian ini.

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara demokrasi, oleh sebab itu peran serta rakyat dalam bentuk aspirasi merupakan hal dasar dalam proses pembangunan negara ke arah yang lebih baik (Soekarno, 1959). Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemilu tidak hanya dilihat dari keikutsertaannya dalam memberikan suara. Masyarakat juga harus terlibat dalam proses pengawasan pemilihan calon kandidat sampai dengan mengawasi penghitungan suara pemilihan. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 2 ayat (1) dijelaskan bahwa rakyat memiliki kedaulatan, tanggung jawab, hak, dan kewajiban untuk secara demokratis memilih pemimpin yang akan membentuk pemerintahan (Pasalbessy, 2009). Hal ini dilakukan agar tercipta sistem pemilihan yang transparan dan bebas dari manipulasi beberapa pihak yang tidak diinginkan. Sayangnya, saat ini semakin banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap keterlibatan mereka dalam pemilu. Masyarakat cenderung tidak memberikan suaranya atau yang biasa kita dengar dengan golput (golongan putih). Golput merupakan salah satu tanda ketidakikutsertaan mereka dalam kegiatan politik di dalam negaranya sendiri (Subanda, 2009).

Golongan putih atau golput bisa diartikan sebagai protes atau penolakan terhadap mekanisme atau sistem yang sedang berjalan ditandai dengan penurunan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan politik (Subanda, 2009). Fenomena golput sangat nyata dalam Pemilihan Presiden (pilpres) 2014 dimana angka golongan putih (golput) pada pilpres 2014 meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada gelaran Pilpres 2014 angka golput mencapai nilai terendah, yaitu dengan persentasi 29,8 % dibandingkan Pilpres 2004 yang hanya mencapai 24% (Angga, 2014). Berdasarkan peningkatan angka golput tersebut, pemerintah wajib mengkaji fenomena ini lebih mendalam. Fenomena seperti

(2)

ini sering disebut apatisme politik, yang merupakan ketidakpedulian individu dimana mereka tidak memiliki minat atau tidak adanya perhatian terhadap aspek-aspek tertentu seperti kehidupan sosial maupun aspek fisik dan emosional (Sarfaraz & Khalid, 2012).

Apatisme politik yang terjadi juga tidak terlepas dari kalangan muda. Berindra (2013, dalam Juneman & Viatrie, 2013), memaparkan sejumlah contoh tindakan apatisme mahasiswa di dalam dunia politik, antara lain “mahasiswa tidak berminat belajar ilmu politik, mahasiswa menganggap “bikin pusing saja”menjadi anggota senat atau badan eksekutif mahasiswa, mahasiswa yang sudah tergabung dalam senat atau badan eksekutif mahasiswa pun menarik diri dari organisasi tersebut karena “bosan”

terhadap perdebatan, serta mahasiswa kurang berminat mengubah kondisi masyarakat melalui organisasi kemahasiswaan” (hal. 110). Pendapat ini didukung oleh penelitian Garcia-Albacete (2006) yang mengatakan bahwa generasi muda memiliki tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap pemerintah. Fenomena mengenai mahasiswa yang melakukan tindakan golput juga kerap terdengar di masyarakat. Sebagai contoh, Mendroga (2012) menjelaskan bahwa Serikat Mahasiswa Medan Indonesia mendukung kegiatan golput dengan cara bersepakat untuk tidak memberikan suara mereka dalam pemilukada 2013. Serikat Mahasiswa Medan Indonesia percaya bahwa pemilukada tersebut hanya mementingkan kepentingan kaum borjuis setempat.

Hal lain yang menyebabkan kalangan muda bersikap apatis terhadap politik adalah mereka sendiri yang menganggap bahwa politik itu membosankan, serius, dan monoton. Selain itu, pengetahuan kalangan muda mengenai politik masih terbilang rendah dan juga kompleksitas yang tinggi dalam dunia politik. Hal ini kerap terjadi karena kurangnya peran pemerintah dalam melakukan sosialisasi politik pada kalangan muda. Figur politik juga mempengaruhi apatisme kalangan muda akan politik. Mereka menganggap bahwa para politikus hanya mengumbar janji semata dan bahkan gaya hidup mereka turut mempengaruhi sikap apatisme generasi muda (White, Bruce, Ritchie, 2000).

Fenomena apatisme politik seperti diatas juga terjadi pada kalangan muda di Indonesia. Surat harian Kompas menjelaskan angka golput di kalangan pemilih muda masih terbilang cukup tinggi. Hasil survei dari 1200 responden menunjukkan bahwa 30 persen diantaranya menyatakan belum menentukan sikap atau golput jika pemilu dilaksanakan hari ini (Prabowo, 2013). Sementara itu, peneliti memilih mahasiswa

(3)

psikologi Binus untuk menggambarkan fenomena tersebut. Subjek ini diambil karena peneliti memiliki kedekatan relasi, efisiensi waktu, serta keinginan untuk memberikan sumbangsih bagi komunitas terdekat peneliti. Oleh karena itu, peneliti melakukan wawancara pada mahasiswa psikologi Binus dan menemukan bahwa kepedulian mereka terhadap pemilu masih terbilang rendah. Dalam wawancara terhadap 15 mahawiswa psikologi Binus, penulis menemukan bahwa 12 dari 15 mahasiswa psikologi Binus mengaku tidak menyumbangkan suaranya pada gelaran Pilpres tahun 2014 lalu. Padahal selama ini aspirasi rakyat lebih sering disampaikan oleh anak muda, khususnya oleh mahasiswa. Berdasarkan UU Nomor 40 tahun 2009 kalangan muda masuk pada rentang usia 16-30 tahun, oleh karena itu mahasiswa masih masuk kedalam kategori kalangan muda (Kompas, 2009). Mahasiswa sendiri merupakan tingkat kesiswaan yang paling tinggi dalam tingkat pendidikan dan proses kuliah merupakan persiapan diri siswa dalam menghadapi dunia luar. Maka dari itu, mahasiswa diharapkan untuk bersikap kritis dalam menanggapi isu-isu yang terjadi di sekitarnya termasuk isu politik yang terjadi di negaranya sendiri.

Sikap apatis akan kondisi politik Indonesia yang semakin meningkat dari tahun ketahun diharapkan mampu diatasi dengan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia diharapkan mampu mengembalikan antusias rakyat Indonesia untuk kembali peduli dalam pembangunan bangsa. Sudjarwadi (2009) mengatakan bahwa Pancasila memiliki posisi penting dalam dunia politik, yaitu untuk menghadapi sikap sinis dan skeptis dengan cara membangun kredibilitas dari institusi politik, sehingga ketidakpercayaan akan politik yang nantinya dapat berujung pada apatisme dapat diatasi. Tetapi, untuk pemahaman dasar dari Pancasila sendiri ternyata belum dikuasai oleh kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa. Padahal, mahasiswa akan menjadi penerus generasi bangsa. Kompas (2008) mempubliksikan hasil survei mengenai pemahaman dasar pada masyarakat berusia 17-29 tahun mengenai Ideologi Pancasila. Survei tersebut menunjukkan 48,4% menyebutkan kelima sila Pancasila dengan salah atau tidak lengkap. Sementara itu, 47,3% dapat menyebutkan kelima sila Pancasila dengan lengkap dan benar (Kompas, 2008). Hal ini ditemukan juga oleh peneliti dalam wawancara kepada sampel penelitian, yaitu 15 mahasiswa psikologi Binus dimana 9 dari 15 mahasiswa tidak dapat menyebutkan kelima sila Pancasila dengan benar. Padahal, mahasiswa psikologi Binus telah dibekali dengan mata kuliah

(4)

istimewa dan berbeda dari universitas lainnya, yaitu Character Building Pancasila.

Mata kuliah tersebut mengajarkan mahasiswa untuk mengerti dasar, ideologi, filosofi, maupun pengaplikasian Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat (Binus, 2015). Maka dari itu, peneliti berasumsi bahwa setiap mahasiswa binus yang mampu

mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari memiliki kepedulian akan kemajuan pemerintah.

Kenyataannya adalah kondisi saat ini menyatakan bahwa masih banyak remaja yang akan menjadi penerus generasi bangsa memiliki pemahaman yang terbilang rendah akan ideologi Pancasila dan hal tersebut dapat mengancam masa depan bangsa (Irhandayaningsih, 2012). Terlebih lagi ideologi Pancasila merupakan hasil buah pemikiran founding father, presiden yang juga pejuang tanah air bangsa Indonesia, Bung Karno. Pancasila pertama kali diperkenalkan oleh Bung Karno dalam pidatonya pada 1 Juli 1945 didepan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) (Soekarno, 1959). Pada akhir pidato, Bung Karno mengemukakan bahwa Pancasila akan menjadi sebuah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Pancasila lahir dengan lima pemikiran dasar, yaitu Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Atas dasar 5 (lima) sila diatas maka, terbentuklah apa yang namanya Pancasila. Bung Karno yang senang akan hal-hal berkaitan dengan simbol, dimana hal tersebut terinspirasi dari beberapa hal seperti rukun Islam ada lima, jari kita lima setangan, kita memiliki panca indera dan hal yang serupa berlaku atas 5 prinsip dasar mendirikan negara. Dengan demikian lahirlah Pancasila (Lima Sila) sebuah ideologi revolusioner yang berprinsip pada gotong royong.

Prinsip gotong royong dimana setiap lapisan masyarakat saling bahu membahu tanpa memikirkan suku, etnis, dan agama manapun demi kepentingan bersama. Ideologi independen tanpa menjiplak kiblat manapun (Daras, 2013).

Bung Karno dalam seruannya pernah melontarkan sebuah ungkapan, yaitu

‘Holopis Kuntul Baris’ sebuah peribahasa Jawa yang artinya bekerjasama untuk menangani hal besar. Gotong royong merupakan kunci utama dalam berbangsa dan bertanah air dibumi pertiwi ini (Soekarno, 1959). Bumi Indonesia yang terdiri dari hamparan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang beragam etnisnya yang dimana hanya dapat menjadi sumber pemersatu bangsa. Sebelum masa kolonial Belanda nilai tersebut sudah lahir dan menjadi ciri khas rakyat Indonesia. Filosofi gotong royong

(5)

tersebut didukung oleh tritunggal stabilitas, pertumbuhan, dan persamaan yang melambangkan visi perkembangan bangsa. Hal tersebut membuat banyak hal menjadi eksklusi tanpa melambangkan kebaratan, ketimuran, atau ideologi apapun itu (Snape, Fiona, 1999).

Dari beberapa paparan diatas, dapat terlihat bahwa apatisme politik yang terjadi pada kalangan muda, khususnya mahasiswa memiliki keterkaitan dengan pemahaman ideologi Pancasila. Nilamsari menegaskan bahwa pemahaman menjadi salah satu aspek yang mampu menjelaskan fenomena apatisme pada masyarakat. Berdasarkan

wawancara didapatkan mahasiswa/I BINUS banyak mendapatkan pemahaman mengenai pancasila melalui mata kuliah CB Pancasila. Sedangkan, di sisi lain, hasil wawancara terhadap 15 mahasiswa menunjukkan bahwa 9 dari 15 memilih golput dalam pemilihan presiden. Hubungan kedua variabel dapat terlihat dari paparan di atas meskipun masih belum diketahui kualitas dan arah dari hubungan keduanya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menkaji lebih dalam mengenai hubungan pemahaman ideologi Pancasila dan apatisme politik pada mahasiswa psikologi Bina Nusantara.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat hubungan antara pemahaman ideologi Pancasila dan apatisme politik pada mahasiswa psikologi Bina Nusantara?”

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara pemahaman ideologi Pancasila dan apatisme politik pada mahasiswa psikologi Bina Nusantara.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Logo merupakan lambang yang dapat memasuki alam pikiran/suatu penerapan image yang secara tepat dipikiran pembaca ketika nama produk tersebut disebutkan (dibaca),

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan