21 BAB II
PERSEPSI PERAJIN SAPU DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANAK
A. Persepsi
1. Pengertian Persepsi
Secara bahasa, kata persepsi berasal dari bahasa Inggris perception yang artinya penglihatan, perasaan dan penangkapan.
Sementara dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia popular, persepsi memiliki pengertian sebagai tanggapan dari sesuatu yang dilihat atau didengar, atau dapat pula bermakna sebagai proses pengamatan tentang sesuatu objek dengan menggunakan panca indera.
1Dalam kamus istilah konseling dan terapi, persepsi dimaknai sebagai hal yang menunjuk pada suatu kesadaran tunggal yang timbul dari proses pengindraan saat tampilnya suatu stimulus.
2Menurut Mulyana, persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian-balik (decoding) dalam proses komunikasi.
3Menurut De Vito, seperti yang dikutip Alex bahwa persepsi adalah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra
1 Bambang Mardjianto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Populer (Surabaya: Bintang Timur, 1996), hlm. 481.
2 Andi Mappiare, Istilah Konseling dan Terapi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 239.
3Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar cet VII (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 179.
kita.
4Kemudian menurut Shaleh, istilah persepsi biasanya digunakan untuk mengungkapkan tentang penglaman terhadap sesuatu benda ataupun sesuatu kejadian yang dialami. Dalam kamus standar dijelaskan bahwa persepsi dianggap sebagai sebuah pengaruh ataupun sebuah kesan oleh benda yang semata-mata menggunakan pengamatan pengindraan.
Persepsi ini didefinisikan sebagai proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data indra kita (pengindraan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari disekeliiling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri.
5Persepsi dititik beratkan pada tanggapan berdasarkan panca indera dan persepsi didefinisikan sebagai proses yang mengorganisir data-data indera kita untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari sekeliling kita, termasuk sadar akan dirinya sendiri.
6Persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan mereka.
7Persepsi adalah “bagaimana kita melihat dunia sekitar kita’. Secara formal, persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses, dengan cara seseorang menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan stimulus dalam suatu gambaran dunia yang berarti
4 Alex Sobur, Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 446.
5 Abdul Rahman Shaleh, Psikologi : Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam (Jakarta:
Kencana, 2009), hlm. 110.
6 Miftah Thoha, Perilaku Organisasi : Konsep Dasar dan Aplikasinya cet VI (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2000), hlm 232.
7 Stephen P. Robbins, Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi (Jakarta: Erlangga, 2002), Cet ke 5 hlm. 46.
dan menyeluruh.
8Persepsi adalah suatu proses aktif, setiap orang memperhatikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan semua pengalamannya secara selektif.
9Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
10Dalam buku Ilmu Komunikasi karangan Deddy Mulyana dijelaskan tentang beberapa makna Persepsi yakni seperti yang dikutip dari Brian Fellows “Persepsi adalah proses yang memungkinkan suatu organisme menerima dan menganalisis informasi. Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken: “Persepsi adalah sarana yang memungkinkan kita memperoleh kesadaran akan sekeliling lingkungan kita. Philip Goodacre dan Jennifer Follers; “Persepsi adalah proses mental yang digunakan untuk mengenali rangsangan.
11Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman.
Kunci utama memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa
8 Bilson Simamora, Panduan Riset Perilaku Konsumen (Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2002), hlm. 102.
9Stewart L. Tubbs dan Sylvia Mass, Human Communication, Prinsip-Prinsip Dasar Cet.
III Penerjemah : Deddy Mulyana (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 59.
10 Udai Pareek, Perilaku Organisasi (Jakarta PT. Ikrar Mandiri, 1996), hlm. 13
11 Deddy Mulyana, op. cit., hlm 180.
persepsi itu merupakan sebuah penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.
12Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang pertama : Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek- objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.
13Dalam bukunya yang berjudul perilaku Organisasi, Udai Pareek mengemukakan bahwa dalam menyeleksi berbagai gejala untuk persepsi dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis, latar belakang, pengalaman, kepribadian sikap, dan kepercayaan serta penerimaan diri.
14Selain mempersepsi stimuli secara selektif, kita juga cenderung mengorganisasikan stimuli secara selektif, artinya stimuli diurutkan dan selanjutnya disajikan menjadi sebuah gambaran yang menyeluruh, lengkap dan dapat diindera.
15Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan (ekspektasi).
16Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses diterimanya rangsangan melalui panca indra yang didahului oleh perhatian sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan, menghayati tentang hal yang diamati, baik yang ada diluar maupun dalam dirinya.
12 Miftah Thoha, op. cit., hlm. 149.
13 Ibid., hlm. 56.
14 Udai Pareek, op. cit., hlm. 16-17.
15Stewart L. Tubbs, op. cit., hlm. 19.
16 Stephen P. Robin, op. cit., hlm. 124.
2. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi
Sejumlah faktor bekerja untuk membentuk dan kadang memutar balik persepsi. Faktor-faktor ini dapat berada pada pihak pelaku persepsi (perceiver), dalam objeknya atau target yang dipersepsikan, atau dalam
konteks dari situasi dalam mana persepsi itu dilakukan. Ketika seorang individu melihat suatu sasaran dan berusaha menginterpretasikan apa yang ia lihat, interpretasi itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu yang melihat. Karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi meliputi sikap, kepribadian, motif, kepentingan, pengalaman masa lalu dan harapan.
17Sementara Jalaludin Rakhmat dalam bukunya menyatakan bahwa faktor yang sangat memengaruhi persepsi adalah perhatian.
18Berbagai macam faktor-faktor perhatian yang berasal dari luar maupun dari dalam dapat memengaruhi proses seleksi persepsi. Sementara itu faktor-faktor dari luar yang terdiri dari pengaruh lingkungan luar antara lain intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan, gerakan dan hal-hal yang baru.
19Jalaludin Rakhmat menyatakan bahwa apa yang kita perhatikan ditentukan oleh faktor-faktor situasional dan personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perhatian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter). Stimuli diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain : gerakan, intensitas,
17 Stephen P. Robin, op. cit., hlm. 124.
18 Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 52.
19 Miftah Thoha, op. cit., hlm 149.
stimuli, kebaruan dan perulangan.
20Sementara itu faktor internal yang memengaruhi perhatian kita, yakni faktor-faktor biologis, faktor-faktor sosiopsikologis, dan juga motif sosiogenis, sikap, kebiasaan serta kemauan.
21Menurut Shaleh faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah :
a. Perhatian yang Selektif
Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali rangsang dari lingkunganya. Meskipun demikian ia tidak harus menanggapi semua rangsang yang diterimanya untuk itu individu harus memusatkan perhatian pada rangsang-rangsang tertentu saja, sehingga obyek gejala lain tidak akan tampil kemuka sebagai obyek pengamatan.
b. Ciri-ciri Rangsang
Rangsang yang bergerak diantara yang diam akan lebih menarik perhatian, demikian juga rangsang yang paling besar diantara yang kecil, yang kontras latar belakangnya dan intensitas rangsangnya paling kuat.
c. Nilai dan kebutuhan individu
Seorang seniman mempunyai pola dan cita rasa yang berbeda dalam pengamatannya dibanding yang tidak seniman,
20 Jalaluddin Rakhmat, op. cit., hlm 52.
21 Ibid. hlm 154.
anak-anak dari golongan ekonomi rendah melihat koin lebih besar dari pada anak anak orang kaya.
d. Pengalaman dahulu
Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan dunianya. Cermin bagi kita tentu bukan barang baru, akan tetapi lain halnya bagi orang-orang mentawai di pedalaman siberut atau saudara kita di pedalaman Irian.
223. Proses Terjadinya Persepsi
Proses terjadinya persepsi dimulai dari suatu objek yang menimbulkan stimulus dan stimulus tersebut mengenai alat indera atau resptor. Objek dan stimulus adalah sesuatu yang berbeda, tetapi ada kalanya objek dan stimulus itu menjadi satu.
23Proses stimulus mengenai alat indera merupakan proses kealaman atau proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini yang dinamakan dengan proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba. Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran inilah yang disebut dengan proses psikologis.
24Kemudian pada taraf terakhir dari proses terjadinya persepsi ialah individu menyadari tentang apa yang dilihat, atau apa yang didengar
22 Abdul Rahman Shaleh, op. cit., hlm 128-129.
23 Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Andi Ofset, 2004), hlm. 91.
24 Ibid., hlm. 91.
atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera. Proses tersebut merupakan proses terakhir dari persepsi dan merupakan persepsi sebenarnaya. Respon sebagai akibat dari persepsi yang diambil dari individu dalam berbagai macam bentuk.
25Tidak semua stimulus akan direspon oleh organisme atau individu. Respon yang diberikan oleh individu terhadap stimulus yang ada persesuaian atau yang menarik perhatian individu. Dengan demikian terjadi proses persepsi oleh individu tergantung kepada keadaan individu selain tergantung stimulusnya atau juga tergantung kepada keadaan individu yang bersangkutan.
26Proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi. Proses penginderaan akan berlangsung setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat indera, yaitu mata sebagai alat penglihatan, telinga sebagai alat pendengaran, hidung sebagai alat pembauan, lidah sebagai alat pengecapan, merupakan alat indera yang digunakan untuk menerima stimulus dari individu dengan dunia luarnya. Stimulus yang diindera itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera itu, dan proses ini disebut persepsi.
27B. Perajin Sapu
25 Ibid., hlm. 92.
26 Ibid., hlm. 92.
27 Ibid., hlm. 92.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia perajin adalah orang yang pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan.
28Sedangkan arti lain dari kerajinan adalah suatu usaha yang dilakukan secara terus menerus dengan penuh semangat ketekunan, kecekatan, kegigihan, berdedikasi tinggi dan berdaya maju yang luas dalam melakukan suatu karya.
Dari pengertian diatas dapat dikatakan, kerajinan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus yang berkaitan dengan perbuatan tangan atau kegiatan tangan yang menghasilkan suatu karya.
Berdasarkan pengertian tersebut, kerajinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kerajinan tangan yang menghasilkan sapu yang terbuat dari bahan baku bunga gelagah.
C. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama tidak dapat diartikan secara implisit dari kedua term tersebut, maka sebelum menguraikan lebih lanjut tentang pengertian pendidikan agama, penulis menjelaskan satu persatu pengertian
“Pendidikan” dan “Agama”.
Definisi pendidikan banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya Al Ghazali yang mengatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadian sampai akhir hayatnya melalui berbagi ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam
28Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka) hlm. 722.
bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna.
29Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian utama.
30Dalam Pandangan Islam, pendidikan merupakan proses yang suci untuk mewujudkan tujuan asasi hidup, yaitu beribadah kepada Allah dengan segala maknanya yang luas. Dengan demikian, pendidikan merupakan bentuk tertinggi ibadah dalam Islam dengan alam sebagai lapangannya, manusia sebagai pusatnya dan hidup beriman sebagai tujuannya.
31Adapun pengertian agama Islam menurut Mahmud Syaltut adalah agama wahyu berintikan tauhid atau ke-Esaan Tuhan yang diturukan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw sebagai utusan- Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, dimanapun dan kapanpun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
3229 Abidin Ibn Rusn, Pemikiran Al Ghazali Tentang Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 56.
30 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Ma’rif, 1989), hlm. 19.
31 Hery Nor Aly dan Munzier, Watak Pendidikan Islam cet II (Jakarta Utara: Friska Agung Insani, 2003), hlm. 55.
32 Syaikh Mahmud Syaltut, Kuliah al Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: Rajawali, 1992), hlm. 68.
Menurut Harun Nasution agama Islam adalah agama yang ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw sebagai Rasul.
33Dengan definisi-definisi tersebut diatas dapat dimengerti bahwa pengertian agama Islam adalah ketundukan seorang hamba kepada wahyu ilahi yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul khususnya Rasulullah Muhammad saw guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum atau aturan Allah swt yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hasan langgulung mendefinisikan bahwa pendidikan agama Islam adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
34Menurut Mustafa Al-Ghulayai seperti yang dikutip oleh Nur Uhbiyati, bahwa pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia didalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
3533 Harun Nasution, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 12.
34 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al.
Ma’arif, 1980), hlm.145.
35 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam cet. III (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 10.
Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa pendidikan agama Islam dengan bimbingan jasmani-rohani, berdasarkan hukum- hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
36Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran Islam agar terwujud kehidupan manusia yang makmur dan bahagia dunia dan akhirat. Karena pendidikan agama Islam tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis, maka pendidikan agama Islam merupakan pendidikan iman sekaligus pendidikan amal.
Pendidikan Islam mencakup pendidikan akhlak, dimana akhlak merupakan alat kontrol, psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat.
Tanpa akhlak, masyarakat manusia tidak akan berbeda dari kumpulan binatang.
37Pendidikan akhlak dalam Islam yang tersimpul dalam prinsip
“berpegang pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran” berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan besar pendidikan Islam, yaitu ketakwaan, ketundukan, dan beribadah kepada Allah.
38Dalam rangka menyelamatkan dan memperkokoh akidah Islamiah anak, pendidikan anak harus dilengkapi dengan pendidikan akhlak yang memadahi. Dalam al-Qur’an sendiri banyak sekali ayat yang
36 Ahmad D. Marimba, op. cit., hlm. 154.
37 Hery Nor Aly dan Munzier, Op. cit, hlm. 89.
38 Ibid, hlm. 90.
memerintahkan atau menekankan pentingnya akhlak bagi setiap hamba Allah yang beriman. Maka dalam rangka mendidik akhlak kepada anak- anak, selain harus diberikan keteladanan yang tepat, juga harus ditunjukkan tentang bagaimana harus menghormati dan seterusnya.
Karena pendidikan akhlak sangat penting sekali, bahkan Rasul sendiri diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak.
39Pendidikan agama Islam mengandung pengertian yang sangat luas, yaitu kegiatan dalam bentuk arahan, bimbingan, pembinaan, perintah, peringatan, pemberian pengetahuan, penjelasan, pendalaman, pemahaman, pencerahan akal dan spritual, pencerdasan, pengajaran dan pensucian diri.
402. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar atau pondasi dari suatu bangunan adalah bagian dari bangunan itu, demikian pula fungsi dari dasar pendidikan agama Islam.
Fungsinya dalah menjamin, sehingga “bangunan”pendidikan itu teguh berdirinya agar usaha-usaha yang terlingkup didalam pendidikan mempunyai sumber keyakinan, agar jalan menuju tujuan dapat terlihat, dan tidak mudah disimpangkan oleh pengaruh-pengaruh lain.
41Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberi arah bagi
39 Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.117.
40 Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 10.
41 Ahmad D. Marimba, op. cit., hlm. 41.
pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan peserta didik ke arah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah al quran dan Sunnah Rasulullah (hadis), kemudian baru ra’yu.
Terdapat dalam al quran surat as-Syura ayat 52 :
Artinya :
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al quran)
dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al
kitab (al quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami
menjadikan al quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa
yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya
kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Hadits nabi Muhammad saw yang artinya : “Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta menasehati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia.” (Al-Ghazali, Ihya’Ulumudin hlm. 90).
Dari ayat al quran dan hadits Nabi diatas dapat diambil titik relevansinya dengan atau sebagai dasar pendidikan agama, mengingat : 1) Bahwa al quran diturunkan kepada umat manusia untuk memberi
petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan kearah jalan yang diridhai Allah swt.
2) Menurut hadis Nabi bahwa diantara sifat orang mu’min ialah saling menasehati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
3) al quran dan hadis tersebut menerangkan bahwa Nabi adalah benar- benar memberi petunjuk kejalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan dan pendidikan Islam.
423. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam secara umum adalah untuk mencapai tujuan hidup muslim, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk
42http://ukhuwahislah.blogspot.com/2014/01/makalah-dasar-dasar-pendidikan- islam.htmlv
Allah swt, agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya.
Jika kita berbicara tentang tujuan Pendidikan Islam, berarti berbicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah swt sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Apabila perumusan tersebut dikaitkan dengan ayat-ayat al quran maka tujuan pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a. Tujuan pertama adalah menumbuhkan dan mengembangkan ketakwaan kepada Allah swt sebagaimana firman Allah swt :
artinya :
“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam”. (Q.s. Ali Imran: 102)
43b. tujuan pendidikan Islam adalah membina dan menumbuhkan sikap dan jiwa yang selalu beribadah kepada Allah, sebagai mana firman- Nya :
artinya :
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Q.s. Ad-Dzariyaat: 56).
44Apabila diambil kesimpulan sesuai pendapat Dr. M.Athiyah al- Abrasi seperti yang dikuti oleh Abudun Nata tujuan Pendidikan Islam bukan hanya sekedar memahami otak murid-murid dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya, ialah mendidik akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek mempersiapkan manusia menjadi anggota masyarakat. Suatu moral yang tinggi adalah tujuan utama dan tertinggi dari Pendidikan Islam dan bukan sekedar mengajarkan kepada anak- anak apa yang tidak diketahui mereka, tetapi lebih jauh dari itu menanamkan fadhilah, membiasakan bermoral tinggi, sopan santun,
43 Departemen Agama , Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Departemen Agama, 2001), hlm. 498.
44 Ibid., hlm. 862.
Islamiyah, tingkah perbuatan yang baik sehingga hidup ini menjadi suci, kesucian yang disertai keikhlasan.
45Tujuan Pendidikan Islam secara universal yakni pendidikan harus ditujukan untuk menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal pikiran, perasaan dan fisik manusia. Dengan demikian, pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia, baik yang bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasa, baik secara perorangan maupun kelompok dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak pada terlaksananya pengabdian yang penuh kepada Allah, baik pada tingkat perseorangan, kelompok maupun kemanusiaaan dalam arti seluas-luasnya.
46Kemudian tujuan pendidikan Islam secara nasional membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, sehat jasmani dan rohani, memiliki rasa seni, serta bertanggung jawab bagi masyarakat, bangsa dan negara.
47Jadi, dalam Islam tujuan pendidikan sangat penting ditetapkan dengan dasar ikhlas semata-mata karena Allah, dan dicapai secara bertahap, mulai dari tujuan yang paling sederhana hingga tujuan yang paling tinggi, tujuan pendidikan diarahkan pada terbinanya seluruh bakat
45 Abudin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 211-213.
46 Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Op. Cit., hlm. 62.
47 Ibid., 64.
dan potensi manusia sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam, sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka pengabdiannya kepada Tuhan, keberhasilan pendidikan bukan semata-mata ditentukan oleh usaha guru, lembaga pendidikan atau usaha peserta didik, melainkan juga karena petunjuk dan bantuan dari Tuhan.
484. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Secara makro ada beberapa fungsi pendidikan agama Islam diantaranya :
a. mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya, dan mengenai kebesaran Ilahi sehingga tumbuh kreativitas yang benar
b. mensucikan diri manusia dari syirik dan barbagai sifat hidup dan perilaku yang dapat mencemari fitrah kemanusiaannya, dengan menginternalisasikan nilai-nilai insane dan Ilahi pada subjek didik c. mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan
kehidupan baik individu maupun sosial.
49Sedangkan Hasan Langgulung menyebutkan fungsi pendidikan agama Islam sebagai berikut :
a. menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang
48 Ibid., 70-71.
49 Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 334.
b. memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan peradaban.
50Dapat dikatakan bahwa fungsi pendidikan agama Islam adalah memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya insan yang ada pada peserta didik menuju kepada terbentuknya menusia seutuhnya, yaitu yang dapat mengembangkan wawasannya, jati dirinya, kreativitasnya, menginternalisasikan nilai-nilai insaniyah dan imaniyah yang dapat menopang dan memajukan kehidupannya baik individu maupun sosial di dunia dan akhirat.
D. Anak
1. Pengertian Anak
Anak adalah manusia yang masih kecil.
51Anak (jamak: anak- anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, dimana kata “anak” merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun telah dewasa.
52Dalam Islam, anak adalah sebagai rahmat Allah, amanat Allah, penguji iman, media beramal, bekal di akhirat, unsur kebahagiaan, tempat
50 Hasan Langgulung, op. cit., hlm. 92.
51 WJS Poerwadharminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia cet. XV (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm. 38.
52 Bambang Wicahyo, Fase-Fase Perkembangan Manusia (Surabaya: Usaha Nasional, 2009), hlm. 3.
bergantung di hari tua, penyambung cita-cita, dan sebagai makhluk yang harus dididik.
53Menurut ilmu psikologi, anak adalah periode perkembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun-tahun sekolah dasar.
542. Hak-hak Anak
Anak sebagai bagian dari masyarakat harus mendapatkan hak- haknya secara utuh dan benar sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Berikut adalah hak-hak anak yang wajib dipenuhi.
55a. Hak untuk mendapatkan nafkah
Merupakan hak untuk mendapatkan nafkah secara ma’ruf, tanpa adanya sikap berlebihan atau meremehkan. Hal ini merupakan hak anak yang wajib ditunaikan dan sebagai bentuk rasa syukur orang tua atas nikmat harta yang telah Allah karuniakan kepadanya.
56b. Hak untuk mendapatkan jaminan keamanan
Merupakan kewajiban orang tua untuk melindungi anaknya, menjaganya dari berbagai gangguan dan memberikannya rasa aman.
53 Supeno, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 9.
54 Hana Soraya, Psikologi Perkembangan Anak (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2002), hlm. 1.
55 Abu Ahmad Said, Hak-Hak Anak dalam Islam (Bandung: Citra Media, 2001), hlm. 2.
56 Muhammad bin Shalih, 10 Hak Fitrah Sebagaimana yang Ditetapkan Oleh Syari’at (Solo: Rumah Dzikir, 2001), hlm. 38.
Orang tua juga harus terus memantau keadaan anaknya dan mencarinya jika dia hilang.
c. Hak untuk mendapatkan pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu hak anak yang harus diberikan, dalam setiap kondisi anak. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhatikan kondisi anak dan sistem pendidikan yang tepat untuk mereka.
57Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan dasar sebagaimana kebutuhan terhadap makan, minum, pakaian, rumah, kesehatan dan sebagainya. Negara wajib menjamin pendidikan yang bermutu bagi seluruh warga negaranya. Negara juga harus memastikan apakah setiap orang tua mampu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya dengan baik.
d. Hak untuk sehat
Secara umum, anak memiliki hak mendapatkan pelayanan kesehatan yang murah dan bermutu. Pandangan Islam tentang kesehatan jauh melampaui pandangan dari peradaban manapun.
Dalam hal ini, islam telah menyandingkan kesehatan dengan keimanan.
58Selain itu, orang tua wajib memperhatikan kebersihan anaknya. Secara tidak disadari, hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental sang anak. Begitupula sudah sepantasnya orang tua mengajarkan cara menjaga kebersihan, mulai dari kebersihan
57 Eni Purwati, Pendidikan Berbasis Pemenuhan Hak Anak (Bandung: Kaifa Publishing, 2011), hlm. 39.
58 Ali Manshur, Anak dan Masa Depan (Yogyakarta: CV. Firdaus, 2009), hlm 2.
badan, tempat tinggal, hingga lingkungan sekitar, agar anak kesehatannya selalu terjaga.
59Jelasnya, anak-anak merupakan amanat yang berada di atas pundak kedua orang tua, dan keduanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak pada hari kiamat. Dengan memberikan pendidikan agama dan akhlak kepada mereka, beban pertanggungjawaban orang tua akan lebih ringan.
Selain itu, pendidikan juga memberikan perbaikan kepada anak-anak sehingga mereka menjadi penyejuk kedua orang tuanya didunia dan akhirat.
59 Eva Ryani, Ibu Cerdas; Anak Berprestasi (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 56.