42
PEKALONGAN TERHADAP URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Profil Taman Mataram Kota Pekalongan
Lapangan Mataram terletak di Kelurahan Podosugih, Kota Pekalongan, tepatnya di depan Kantor DPRD dan Kantor Walikota Pekalongan. Mungkin, nama Mataram ini diambil dari nama jalan yang ada di depan lapangan tersebut, yaitu Jalan Mataram. Ada banyak hal yang membuat Lapangan Mataram menjadi menarik. Lapangan Mataram ini tidaklah berfungsi sebagai alun-alun, melainkan sebagai pusat aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Luas Lapangan Mataram sangat memadai untuk bermain sepak bola, hingga sanggup menampung beberapa tim sepakbola sekaligus dengan sepasang gawang yang berada di sisi utara dan selatan. Selain itu, Lapangan Mataram juga dikelilingi oleh paving lebar yang digunakan oleh masyarakat untuk jogging, terutama pada sore hari.
Lapangan Mataram juga merupakan titik pertemuan dari empat jalan besar, di antaranya adalah Jalan Kurinci (jalan dimana Pasar Podosugih berlokasi) dan jalan yang menuju Perumahan Bina Griya. Jalan menuju Universitas Pekalongan dan Jalan menuju jalur utama pantura. Salah satu alasan pembangunan lapangan ini adalah untuk memecah arus kendaraan yang
melintas, sehingga tidak akan terjadi kemacetan. Apabila tidak ada Lapangan Mataram dan jalan tersebut hanya merupakan simpang empat biasa, maka dikhawatirkan akan terjadi kekacauan maupun kepadatan kendaraan pada pertemuan jalan-jalan tersebut.1
B. Jumlah Anak Jalanan Taman Mataram Kota Pekalongan
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, anak jalanan yang berada di taman mataram Kota Pekalongan berasal dari beberapa desa diantaranya yaitu desa Podosugih, Medono, pakumbulan, sorogenen.
Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan di taman mataram, peneliti melihat ada sekitar 15 anak.2 Dari pernyataan salah satu anak jalanan yang bernama IR menyebutkan jumlah anak jalanan yang ada di taman mataram Kota Pekalongan ada sekitar kurang lebih 20 orang. Pada malam jum’at atau malam minggu jumlah mereka bisa lebih dari 20 orang. Mereka yang masih berstatus sebagai pelajar ada 5 anak.3
Tabel 1 Data Anak Jalanan (Berstatus sebagai pelajar)
No. Nama L/P Usia Alamat
1 IR L 16 Medono
2 AN L 15 Medono
1Suharyono, Kepala Desa Podosugih, Wawancara Pribadi, Podosugih, 7 Maret 2016. 2
Observasi yang dilakukan peneliti di taman Mataram Kota Pekalongan pada tanggal 9 Maret 2016.
3
3 IS L 15 Wonoyoso
4 AD L 15 Pakumbulan
5 WB L 16 Pakumbulan
Data tersebut adalah data anak jalanan taman mataram Kota Pekalongan yang masih berstatus sebagai pelajar. Jenjang usia mereka berkisar antara 15–16 tahun.
C. Kegiatan Keagamaan Anak Jalanan Taman Mataran Kota Pekalongan
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan anak jalanan taman mataram Kota Pekalongan, kegiatan keagamaan yang pernah mereka ikuti diantaranya adalah pengajian, yasinankalau ada orang meninggal, sholat, dan mereka juga setiap tahunnya ketika bulan ramadhan melakukan kegiatan sosial keagamaan yaitu menyedekahkan barang yang mereka miliki, kemudian disumbangkan ke panti asuhan atau orang yang membutuhkan. Seperti yang mereka katakan sebagai berikut:
IR: “Aku nek setahun pisan karo konco-konco biasane ngumpulke klambi, kaos, clono nggo disumbangke neng panti mas. Biasane nek pas wulan poso.”4 (Saya setahun sekali bersama teman-teman biasanya mengumpulkan baju, kaos, celana untuk disumbangkan ke panti mas. Biasnya pada bulan puasa)
AN: “Biasane neng kene nek wulan poso bocah-bocah podo ngumpulke klambi-klambi bekas meh disumbangke neng panti asuhan mas.”5 (Biasanya disini kalau bulan puasa anak-anak mengumpulkan baju-baju bekas untuk disumbangkan ke panti asuhan mas)
4
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
5
IS: “Biasane setahun pisan nek wulan poso ngumpulke pakaian bekas ngko disumbangke neng panti asuhan mas.”6 (Biasanya satu tahun sekali kalau bulan puasa mengumpulkan pakaian bekas nanti disumbangkan ke panti asuhan mas)
AD: “Nek wulan poso karo konco-konco ngumpulke pakaian bekas tapi seng igek layak pakai nggo disumbangke mas.”7 (Kalau bulan puasa sama teman-teman mengumpulkan pakaian bekas tapi yang masih layak pakai untuk disumbangkan mas)
WB: “Nek setahun pisan ono acara umpul-umpu klambi opo clono bekas meh nggo disumbangke neng panti mas.”8
(Kalau setahun sekali ada acara mengumpulkan baju atau celana bekas untuk disumbangkan ke panti asuhan mas)
Menurut penuturan IR, kegiatan amal ini diadakan pada bulan puasa dan sudah berlangsung sekitar 4 tahun yang lalu.9 Mereka bersama dengan anak-anak jalan lainnya mengumpulkan pakaian bekas, dan mereka juga mencari teman atau orang lain untuk diajak menyumbangkan pakaian mereka yang sudah tidak dipakai untuk disumbangkan.
Berdasarkan pengamatan peneliti, sesama anak jalanan mereka saling memberi ketika ada temannya yang membutuhkan. Anak jalanan taman mataram juga sering memberi uang kepada orang yang meminta-minta, walaupun jumlahnya tidak banyak.10 IR juga menuturkan bahwa dia dan teman-temannya sering memberi kepada orang yang meminta-minta jika ada uang, karena di taman mataram juga banyak orang yang meminta-minta.
Selain kegiatan sosial keagamaan tahunan yaitu menyumbangkan pakaian bekas untuk orang yang membutuhkan, mereka juga terkadang
6
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
7AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016. 8
WB, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
9
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
10
mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian. Walaupun mereka tidak rutin mengikuti pengajian, tetapi ketika ada pengajian mereka kadang mengikutinya. Seperti yang mereka katakan sebagai berikut:
IR: “Aku kadang-kadang melu pengajian mas, nek neng ndesoku ono pengajian.”11
(Saya kadang-kadang ikut pengajian mas, kalau di desa ku ada pengajian)
AN: “Sering melu pengajian mas nek pedek ngomah, nek pas adoh yo kadang melu karo konco-konco”12 (Sering ikut pengajian mas kalau dekat rumah, kalau jauh kadang ikut sama teman-teman)
IS: “Melu pengajian sering mas, nek pas pengajiane neng ndeso dewe pedek omah.”13
(Ikut pengajian kadang-kadang mas, kalau pengajiannya di desa ku dekat dari rumah)
AD: “Kadang-kadang melu pengajian mas nek pas neng ndeso dewe, tapi nek orak neng ndesone dewe jarang, kadang melune nek pas bareng ono koncone.”14 (Kadang-kadang ikut pengajian mas kalau di desa sendiri, tapi kalau tidak di desa sendiri jarang, ikutnya kalau pas bareng teman-teman)
WB: “Sering mas, nek neng ndeso ngadake pengajian aku sering melu.”15 (Sering mas, kalau di desa ku mengadakan pengajian saya sering ikut)
Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan di Desa Wonoyoso pada tanggal 8 April 2016 tepatnya pada malam Sabtu, IS, AD, dan WB terlihat mengikuti pengajian yang diadakan di Desa Wonoyoso.16 Ketika peneliti menanyakan kepada kakak IS, dia menuturkan bahwa memang IS sering mengikuti pengajian yang ada di kampungnya. Biasanya IS mengikuti
11
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
12
AN, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
13IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016. 14
AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
15
WB, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
16
pengajian bersama teman di kampungnya dan teman sekolahnya yang biasa bersama yaitu AD dan WB.17
Kegiatan keagamaan lainnya yang sering dilakukan bersama-sama anak jalalanan taman mataram adalah mengadakan acara yasinan dan do’a bersama. Ketika ada teman mereka yang meninggal, ataupun orangtuanya, mereka sama melayat, dan kemudian malamnya mereka bersama-sama berkumpul untuk melakukan yasinan dan do’a berbersama-sama. Hal tersebut seperti yang mereka sampaikan sebagai berikut:
IR: “Yasinan nek pas ono konco opo wong tuone orak ono mas, biasane bocah-bocah ngadake acara yasinan.”18 (Yasinan kalau ada teman atau orangtuanya meninggal, biasanya anak-anak mengadakan acara yasinan)
AN: “Biasane yasinan nek pas ono konco nek orak wong tuone orak ono mas, bareng karo bocah-bocah kene.”19 (Biasanya yasinan kalau ada teman atau orangtuanya meninggal mas, sama teman-teman disini)
IS: “Nek acara keagamaan bareng karo bocah-bocah kene ki biasane yasinan mas nek pas ono konco seng meninggal.”20 (Kalau acara keagamaan bareng sama anak-anak sini biasanya yasinan mas kalau ada teman yang meninggal)
AD: “Yasinan seringe mas nek pas ono konco meninggal, karo do’a bersama nopo.”21
(Yasinan mas yang sering kalau ada teman meninggal, sama do’a bersama juga)
WB: “Nek pas ono konco meninggal mesti konco-konco do ngadake yasinan bareng-bareng mas.”22 (Kalau ada teman meninggal selalu teman-teman mengadakan yasinan bersama-sama mas)
Diakhir acara yasinan dan do’a bersama, seperti yang dikatakan oleh IR, mereka biasanya mengumpulkan uang seikhlasnya untuk kemudian
17
IZ, Kakak IS, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 8 April 2016.
18
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
19AN, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016. 20
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
21
AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
22
diberikan kepada keluarga yang meninggal. Biasanya uang tersebut dikumpulkan setelah acara yasinan dan do’a bersama telah selesai dan sebelum mereka pulang.23
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan SP, teman anak jalanan taman mataram Kota Pekalongan, dia menuturkan bahwa dulu ketika ayahnya meninggal banyak teman-temannya anak jalanan melayat ke kuburan, dan pada malamnya juga menghadiri acara yasinan dan do’a bersama di rumahnya.24
Selain melakukakan kegiatan keagamaan seperti yang disebutkan diatas, mereka juga menjalankan kewajibannya sebagai orang Islam yaitu sholat. IR, AN, IS, AD, dan WB walaupun mereka anak jalanan, mereka juga mengerjakan sholat walaupun tidak selalu 5 waktu yang disebabkan oleh berbagai alasan. Seperti yang mereka katakan sebagai berikut:
IR: “Nek neng ngomah sholat, opo maneh nek dikon wongtuo mas, tapi nek pas metu kadang klalen orak sholat.”25 (Kalau di rumah sholat, apalagi kalau disuruh orangtua mas, tapi kalau lagi keluar kadang lupa tidak sholat)
AN: “Nek neng ngomah sholat mas, tapi nek igek metu kadang orak sholat klalen.”26 (Kalau di rumah sholat mas, tapi kalau lagi keluar kadang tidak sholat lupa)
IS: “Nek neng ngomah sholat mas, orak sholate ki nek kadang awan metu tekan sore klewat ashar mangkiye orak sholat ashar.”27 (Kalau di rumah
23
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
24
SP, Teman Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Kedungwuni, 11 April 2016.
25
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
26
AN, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
27
sholat mas, tidak sholat kalau terkadang siang keluar sampai sore kelewat ashar jadi tidak sholat ashar)
AD: “Sholat tapi kadang orak mas asale cok metu malese kae mas.”28 (Sholat tapi kadang tidak mas karena kadang keluar malasnya)
WB: “Nek neng ngomah sholat mas, tapi nek pas metu kadang meh sholat males mas.”29
(Kalau di rumah sholat mas, tapi kalau keluar kadang mau sholat malas mas)
Saat peneliti melakukan pengamatan di rumah IS, memang ketika pulang sekolah dia mengerjakan sholat dzuhur. Dia juga mengerjakan sholat Ashar dan maghrib.30 Saat peneliti bertanya kepada IZ, kakak IS juga mengatakan kalau di rumah IS sholat, tapi kalau diluar dia tidak tahu.
D. Pendidikan Agama Islam Anak Jalanan Taman Mataram Kota Pekalongan
Pemberian pendidikan agama Islam sejak dini sangatlah penting bagi anak agar mereka memahami dan mengerti tentang ajaran agama yang harus dilaksanakan oleh setiap individu. Dengan pendidikan agama sejak dini yang matang, dapat membantu perkembangan anak terutama dalam hal sikap dan tingkah laku. Orangtua berperan dalam memberikan pendidikan agama Islam pada anak-anaknya dirumah, kemudian pendidikan agama Islam anak dikembangkan lagi melalui lembaga formal maupun non formal.
Berdasarkan hasil wawancara dengan anak jalanan taman mataram Kota Pekalongan, pendidikan agama Islam yang mereka dapat tidak hanya
28AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016. 29
WB, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
30
Observasi yang dilakukan peneiti di rumah IS Desa Wonoyoso Buaran Pekalongan pada tanggal 21 Maret 2016.
dari rumah, tetapi juga dari lembaga sekolah. Kelima anak jalanan taman mataram yaitu IR, AN, IS, AD, dan WB semasa kecil pernah mendapatkan pendidikan agama Islam dari orangtua di rumah, mereka mendapatkan pendidikan agama Islam di rumah dari orangtuanya. Pendidikan agama Islam yang mereka dapatkan di rumah diantaranya tentang akhlak, tata cara sholat, bacaan sholat, dan membaca Al-Qur’an. Seperti yang mereka katakan sebagai berikut:
IR: “Aku mbiyen neng ngomah diajari sholat, ngaji areng bapak ku mas.”31
(Aku dulu di rumah diajarin sholat, membaca Al-Qur’an sama bapak saya mas)
AN: “Neng ngomah wongtuo ku dek mbiyen ngajari aku ben dedi wong apik, dolan karo konco seng bener, ojo melu-melu seng orak apik. Nek mbiyen igek cilik yo diajari sholat, ngaji mas.”32 (Kalau di rumah orangtua saya dari dulu mengajari saya agar menjadi orang baik, main sama teman yang benar, jangan ikut-ikut yang tidak benar. Kalau dulu waktu kecil diajari sholat, ngaji mas)
IS: “Pas igek cilik aku neng ngomah wes diajari wongtuo ku sholat karo ngaji mas.”33
(Masih kecil saya di rumah sudah diajarin orangtua saya sholat dan membaca Al-Qur’an mas)
AD: “Neng ngomah mbiyen diajari sholat karo ngaji mas.”34 (Di rumah dulu diajari sholat dan membaca Al-Qur’an mas)
WB: “Aku neng ngomah dek cilik diajari sholat karo ngaji mas.”35 (Saya di rumah dari kecil diajarin sholat dan membaca Al-Qur’an mas)
Setelah mendapatkan pendidikan agama Islam sejak kecil dari rumah, kemudian pendidikan agama Islam mereka kembangkan lagi di sekolah. IR dan AN mendapatkan pelajaran agama di MTS yang lebih dominan
31
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
32AN, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016. 33
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
34
AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
35
pendidikan agamanya dibanding di SMP, sedangkan IS, AD, dan WB mendapatkan pelajaran agama di SMP walaupun pelajaran pendidikan agama Islam tidak sebanyak seperti di MTS. Pendidikan agama Islam yang mereka dapatkan di sekolah bermacam-macam, seperti penidikan akhlak, fiqih, sampai sejarah tentang Islam yang didapat dari pelajaran SKI. Hal tersebut seperti yang mereka katakan sebagai berikut:
IR: “Yo nek neng sekolahan oleh pelajaran ilmu akhlak, fiqih, sejarah Islam do bae ono mas.”36 (Ya kalau di sekolah dapat pelajaran ilmu akhlak, fiqih, sejarah Islam juga ada mas)
AN: “Oleh pendidikan agama akeh mas neng sekolahan, yo koyo Al-Qur’an hadits, ilmu akhlak, fiqih, bahasa arab mas.”37
(Dapat pendidikan agama banyak mas di sekolahan, ya seperti Al-Qur’an Hadits, ilmu akhlak, fiqih, bahasa arab mas)
AD: “Neng sekolahan oleh pendidikan agama PAI mas, campur ono akhlak, fiqih, yo akeh mas.”38 (Di sekolahan dapat pendidikan agama PAI mas, campur ada akhlak, fiqih, ya banyak mas)
IS: “Akeh mas, koyo akhlak, sejarah-sejarah. Tapi kan nek neng SMP pendidikan agamane dadeke siji dedi PAI, orak didewe-dewe koyo neng MTS mas.”39
(Banyak mas, seperti akhlak, sejarah-sejarah. Tapi kalau di SMP pendidikan agamanya dijadikan satu jadi PAI, tidak sendiri-sendiri seperti di MTS mas)
WB: “Oleh pendidikan agama macem-macem mas koyoan akhlak, sejarah-sejarah Islam, fiqih mas.”40 (Dapat pendidikan agama macam-macam mas seperti akhlak, sejarah-sejarah Islam, fiqih mas)
Saat peneliti bertanya tentang keaktifan mengikuti pelajaran agama kepada TN teman sekolah dari IR dan AN, dia mengatakan bahwa IR dan AN merupakan anak yang sering berangkat sekolah. Menurut penuturan TNbahwa
36
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
37AN, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016. 38
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 Maret 2016.
39
AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, PWonoyoso, 11 Maret 2016.
40
IR dan AN juga mengikuti pelajaran seperti anak yang lain, baik itu pelajaran umum maupun pelajaran agama. Walaupun terkadang berangkatnya telat, tetapi mereka tetap masuk kelas. Jarang TL melihat IR dan AN bolos sekolah.41
Hampir sama dengan TN, saat peneliti bertanya kepada HN, teman sekolah bahkan satu kelas dengan IS, AD, dan WB, dia mengatakan bahwa ketiga temannya tersebut juga sering masuk sekolah, saat ada pelajaran PAI mereka juga masuk, hanya saja terkadang mereka tidak mengerjakan PR di rumah, kadang berangkatnya telat, tetapi mereka tetap masuk. HN mengatakan selama satu kelas dengan mereka pernah satu kali mengetahui WB tidak masuk sekolah tanpa izin.42
Mereka tidak hanya memperolehpendidikan agama Islam dari rumah dan sekolah saja, tetapi terkadang mereka juga memperoleh pendidikan agama Islam dari mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian yang mereka ikuti walaupun tidak rutin. Ilmu pendidikan agama Islam yang mereka peroleh juga bermacam-macam. Seperti yang mereka katakan sebagai berikut:
IR: “Akeh mas, sesuai seng dibahas neng pengajiane, koyo bongsone ilmu-ilmu akhlak biasane mas.”43 (Banyak mas, kan menyesuaikan yang dibahas di pengajiannya, seperti ilmu-ilmu akhlak biasanya mas)
AN: “Akeh mas, kan biasane nek pengajian kadang seng dibahas bedo-bedo, seringe tentang bongsone akhlak mas.”44 (Banyak mas, kan
41
TN, Teman Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Medono, 12 April 2016.
42HN, Teman Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 11 April
2016.
43
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
44
biasanya kalau pengajian terkadang yang dibahas berbeda-beda, yang sering tentang akhlak mas)
IS: “Biasane nek neng pengajian oleh ilmu bongsone akhlak-akhlak mas.”45
(Biasanya kalau mengikuti pengajian dapat ilmu seperti akhlak-akhlak mas)
AD: “Yo nek neng pengajian ki asline oleh ilmu akeh mas, bongsone akhlak-akhlak, ibadah, yo akeh mas.”46 (Ya kalau dari mengikuti pengajian itu sebenarnya dapat ilmu banyak mas, seperti ilmu akhlak, ibadah, ya banyak mas)
WB: “Macem-macem mas, koyo akhlak, sifat-sifat seng apik ki priye, koyo ngononan mas.”47
(Macam-macam mas, seperti akhlak, sifat-sifat yang baik itu bagaimana, seperti itu mas)
Anak-anak jalanan taman mataram mengatakan bahwa mereka mendapat banyak pelajaran pendidikan agama Islam, seperti akhlak, fiqih, Al-Qur’an Hadits, dan lainnya. Pendidikan agama Islam yang mereka dapatkan berasal dari orangtua di rumah, dari sekolahan, maupun dari kegiatan keagamaan yang mereka ikuti seperti pengajian.
E. Persepsi Anak Jalanan Taman Mataram Kota Pekalongan Terhadap Urgensi Pendidikan Agama Islam
Walaupun mereka adalah anak jalanan, tetapi mereka memperoleh dan mengetahui pendidikan Islam. Berdasarkan hasil wawancara dengan anak jalanan taman mataram, mereka menuturkan bahwa pendidikan agama Islam itu pendidikan yang membahas tentang agama Islam. Tidak hanya itu, mereka juga merasakan manfaat dari pendidikan agama Islam yang mereka peroleh dari rumah, sekolahan, maupun dari mengikuti kegiatan keagamaan di luar rumah. Hal tersebutseperti yang mereka katakan:
45
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
46
AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 11 Maret 2016.
47
IR: “Manfaate mangkiye aku reti sholat, ngaji, koyo ngono mas.”48 (Manfaatnya membuat saya jadi mengerti sholat, membaca Al-Qur’n, seperti itu mas)
AN: “Manfaate dedine aku reti seng kepriye pendidikan agama Islam kuwi, dedi reti ndi seng apik ndi seng orak apik mas.”49 (Manfaatnya menjadikan saya tahu yang bagaimana pendidikan agama Islam itu, jadi tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik mas)
IS: “Dedi reti mas opo bae pendidikan agama Islam kuwi.”50 (Jadi tahu mas apa saja pendidikan agama Islam itu)
AD: “Gawe aku luweh reti tentang agama Islam mas.”51
(Membuat saya lebih tahu tentang agama Islam mas)
WB: “Ndadeke aku reti tentang agama Islam, reti sholat, ngaji, reti akhlak seng apik mas.”52 (Membuat saya mengetahui tentang agama Islam, mengetahui tata cara sholat, membaca Al-Qur’an, mengetahui akhlak yang baik mas)
Berdasarkan hasil wawancara dengan anak jalanan taman mataram, mereka sadar akan pentingnya pendidikan agama Islam bagi mereka. Mereka mengatakan bahwa pendidikan agama Islam itu penting. Saat ditanya tentang pentingnya mempelajari pendidikan agama Islam, mereka menjawab dengan alasan yang hampir sama.
IR: “Pendidikan agama Islam kuwi penting mas, asale pendidikan agama Islam kuwi orak mung ilmu neng dunia tok, tapi dobae nyangkut ilmu nggo neng akhirat.”53
(Pendidikan agama Islam itu penting mas, karena pendidikan agama Islam itu tidak hanya ilmu dunia saja, tetapi juga menyangkut ilmu untuk di akhirat)
AN: “Penting mas, kan kuwi ilmu nggo bekal mbesok nek wes meninggal.”54
(Penting mas, kan itu ilmu untuk bekal nanti kalau sudah meninggal)
48IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 13 Maret 2016. 49
AN, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 13 Maret 2016.
50
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 13 Maret 2016.
51AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 13 Maret 2016. 52
WB, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 13 Maret 2016.
53
IR, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Podosugih, 13 Maret 2016.
54
IS: “Pendidikan kuwi penting mas, pendidikan umum penting, opo maneh pendidikan Islam luweh penting. Aku kan wong Islam dedine yo kudu reti pendidikan Agama Islam ra mas.”55
(Pendidikan itu penting ms, pendidikan umum penting, apalagi pendidikan Islam lebih penting. Saya kan orang Islam jadi ya harus tahu pendidikan agama Islam mas)
AD: “Pendidikan agama Islam kuwi penting mas, asale yo ono manfaate nggo bekal aku mbesok neng akhirat.”56
(Pendidikan agama Islam itu penting mas, karena ya ada manfaatnya untuk bekal saya nanti di akhirat)
WB: “Penting mas, asale yo aku wong Islam yo kudu reti pendidikan agama Islam.”57
(Penting mas, karena ya saya kan orang Islam ya harus tahu pendidikan agama Islam)
55
IS, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 13 Maret 2016.
56
AD, Anak Jalanan Taman Mataram, Wawancara Pribadi, Wonoyoso, 13 Maret 2016.
57