PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pembangunan di Indonesia menjadi salah satu hal yang penting dan fundamental serta bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peran pemerintah sebagai mobilisator pembangunan sangat strategis dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melihat hasil pembangunan yang telah dilakukan dan juga berguna untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. Pertumbuhan ekonomi yang positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian. Sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang negative menunjukkan adanya penurunan.
Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak akan luput dari pembangunan.
Pembangunan di Indonesia tentunya tidak berjalan dengan sendirinya. Melainkan perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah industri besi dan baja. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, industri besi dan baja merupakan pendukung utama dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, seperti pembangunan jalan, bandara, pelabuhan, dan rel kereta api. Menurutnya, industri besi dan baja merupakan salah satu industri prioritas yang memegang peranan penting bagi pengembangan industri lainnya.
Pada 2014 kebutuhan baja domestik terus meningkat dari 7,4 juta ton pada 2009 menjadi 12,7 juta ton pada 2014, dan akan meningkat terus seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, produsen maupun penyedia baja dalam negeri perlu meningkatkan kualitas dan kapasitas untuk memenuhi permintaan baja domestik dalam negeri. Dan salah satu perusahaan penyedia baja dalam negeri adalah PT. Wita Mandiri Jaya.
PT. Wita Mandiri Jaya adalah salah satu badan usaha swasta nasional yang bergerak di bidang trading dan stock steel plate yang berperan dalam pengadaan dan pendistribusian material berupa besi dan baja dari produsen dalam negeri. Dalam menjalankan usaha, PT. Wita Mandiri Jaya menjalin kerja sama dengan distributor PT. Krakatau Steel dan beberapa perusahaan coil service centre untuk proses
pemotongan Coil Shearing dan Slitting besi plat sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Salah satu produk yang disediakan oleh perusahaan adalah Hot Rolled Coil (HRC) atau yang disebut dengan “baja hitam”.
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas perusahaan juga harus berhati-hati dalam mengambil tindakan. Hal ini dikarenakan penjualan yang dialami perusahaan sangat bergantung kepada permintaan konsumen yang tidak menentu. Permintaan yang tidak menentu dapat di lihat dari rata-rata permintaan tahun 2012-2014 pada table 1.1.
Tabel 1.1 Rata-Rata Permintaan Konsumen Pada Produk HRC yang Berhasil Dijual Tahun 2012-2014
Tahun Coil
2012 46,92
2013 52,5
2014 36,92
Sumber : PT. Wita Mandiri Jaya
Dari table tersebut dapat diketahuin permintaan akan produk HRC tidak menentu setiap bulannya. Hal tersebut membuat perusahaan tidak bisa menentukan besar nya persediaan yang harus disediakan. Jika perusahaan melakukan pemesanan produk HRC terhadap distributor dibuat terlalu besar maka akan dapat merugikan perusahaan apabila tidak adanya permintaan barang. Hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya dana menganggur yang besar (yang tertanam dalam persediaan), meningkatnya biaya penyimpanan, dan risiko kerusakan barang yang lebih besar. Sebaliknya bila permintaan HRC terhadap distributor dibuat terlalu kecil maka perusahaan akan mengalami minimnya persediaan atau kekurangan persediaan (stockout) coil, karena seringkali barang tidak dapat didatangkan secara mendadak dan sebesar yang dibutuhkan. Hal itu dapat menyebabkan tertundanya penjualan bahkan dapat mengakibatkan hilangnya konsumen karena mencari barang ditempat lain. Dalam upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas, pengendalian persediaan juga merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dan dikelola
dengan baik untuk memenuhi kebutuhan konsumen agar sesuai dengan permintaan.
Oleh karena itu, diperlukan peramalan penjualan untuk periode berikutnya dan pengendalian persediaan yang baik sehingga tidak terjadi kekurangan barang ataupun penumpukkan barang, karena pada umumnya perusahaan seringkali mengalami kesulitan memprediksi, dan bahkan terkadang tidak mempunyai prediksi jumlah permintaan pelanggan pada periode-periode berikutnya, sehingga sangat berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan perusahaan.
Maka dari itu PT. Wita Mandiri Jaya perlu melakukan suatu peramalan permintaan guna menentukan berapa jumlah HRC yang harus disediakan, sehingga dapat memperkecil resiko kerugian. Metode sistem peramalan akan membantu perusahaan dalam membuat perencanaan mengenai perkiraan penjualan untuk periode-periode berikutnya dan untuk mengantsipasi pemesanan terhadap distributor agar tidak kekurangan atau kelebihan. Serta menganalisis bagaimana persediaan dari PT.Wita Mandiri Jaya sehingga persediaannya dapat disesuaikan dengan peramalan yang dilakukan agar tidak terjadi penumpukkan barang ataupun kekurangan barang.
Dengan latar belakang tersebut maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul : “Akurasi Peramalan Penjualan Dan Penerapan Metode EOQ Terhadap Produk Hot Rolled Coil (HRC) Pada PT. Wita Mandiri Jaya”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengidentifikasi masalah untuk dapat mengetahui:
1. Metode dari model Neural Network manakah yang tepat diantara Semi Linear, Sigmoid, Bipolar Sigmoid, dan Hyperbolic Tangent yang nilai akurasinya paling baik dalam meramalkan penjualan pada periode berikutnya untuk diterapkan pada PT. Wita Mandiri Jaya?
2. Berapa jumlah pemesanan optimal, pemesanan per-periode dan titik pemesanan kembali untuk mengendalikan persediaan pada PT. Wita Mandiri Jaya?
1.3 Ruang Lingkup
Analisa permasalahan dilakukan hanya pada :
1. Jumlah penjualan dari tahun 2012-2015 (3 tahun, 2 bulan. 38 observasi).
2. Penelitian dilakukan pada PT. Wita Mandiri Jaya.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah:
1. Untuk memilih metode dari model Neural Network manakah yang tepat diantara Semi Linear, Sigmoid, Bipolar Sigmoid, dan Hyperbolic Tangent dalam meramalkan penjualan pada periode berikutnya untuk diterapkan pada PT. Wita Mandiri Jaya.
2. Untuk mengetahui berapa jumlah pemesanan optimal, pemesanan per-periode dan titik pemesanan kembali untuk mengendalikan persediaan pada PT. Wita Mandiri Jaya.
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat bagi perusahaan :
1. Sebagai masukan bagi perusahaan agar dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan persediaan.
2. Sebagai pedoman jika dikemudian hari perusahaan akan melakukan pengembangan sistem persediaan.
2. Manfaat bagi peneliti :
1. Penulis dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan yang telah dipelajari selama mengikuti perkuliahan.
2. Penulis mampu mengembangkan kemampuan dalam menganalisa kejadian dalam kehidupan ekonomi yang sebenarnya.
3. Manfaat bagi pembaca :
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan para pembaca dapat mendapat tambahan pengetahuan dan mendapat masukkan-masukkan yang berguna.
1.5 State of the art Tabel 1.2 State of the art
No. Tahun Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. 2010 Jose L. Gonzalez
and Daniel González
Analysis of an Economic Order Quantity and
Jurnal ini mengemukakan bahwa Economic
Tabel 1.2 State of the art
Reorder Point Inventory Control Model for Company XYZ
Order Quantity (EOQ) dan Reorder Point direkomendasikan bersama dengan dua teknik peramalan untuk membantu perusahaan mengurangi produk stock out dan membantu perusahaan mengurangi total biaya yang terkait dengan persediaan perusahaan.
2. 2013 Aju Mathew,
Prof.E.M.Somasekaran Nair, andAsst Prof.
Jenson Joseph E
Demand Forecasting For Economic Order Quantity in Inventory Management
Jurnal ini mengemukakan bahwa jika perusahaan menerapkan model persediaan yang
direkomendasikan, maka perusahaan akan mampu mengurangi total biaya dan memastikan produk dalam
Tabel 1.2 State of the art
persediaan, dimana akan mendorong penjualan produk sehingga
memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan keuntungan dengan peramalan yang sesuai. Dengan begitu isu-isu perusahaan yang dihadapi akan berkurang.
3. 2013 Christine Mekel, Samuel PD Anantadjaya, and Laura Lahindah
Stock Out Analysis: An Empirical Study on Forecasting, Re-Order Point and Safety Stock Level at PT.
Combiphar, Indonesia
Jurnal ini mengemukakan bahwa persediaan merupakan salah satu aset yang paling penting dalam perusahaan, terutama di perusahaan manufaktur.
Perusahaan dituntut untuk melakukan peramalan permintaan untuk menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan di masa mendatang.
Dengan menggunakan metode kuantitatif
Tabel 1.2 State of the art
seperti menentukan perhitungan
peramalan untuk menentukan tingkat permintaan,
menentukan titik re-order dan tingkat safety stock untuk mengetahui kapan perusahaan harus memesan dan berapa banyak persediaan diantisipasi, juga perhitungan EOQ untuk mengetahui berapa banyak pesanan bahan baku pada biaya terendah.
4. 2012 Sevenpri
Candra and Haryadi Sarjono
Forecasting for Inventory Control
Jurnal ini melakukan riset dengan metode peramalan dan EOQ untuk
menentukan jumlah efisien barang yang harus dipesan oleh perusahan,
sementara itu jurnal ini juga
menyatakan bahwa
Tabel 1.2 State of the art
metode peramalan yang terbaik adalah metode linear regression karena
menghasilkan MAD dan MSE yang terkecil dibanding metode peramalan
lainnya.
5. 2014 Dr. Angel
Raphella. S, Mr.
Gomathi Nathan. S, and Ms. Chitra. G
Inventory Management- A Case Study
Jurnal ini mengemukakan bahwa masalah persediaan dalam jumlah terlalu besar atau terlalu kecil di tangan dapat
menyebabkan kegagalan bisnis.
Jika sebuah organisasi mengalami stok- out, maka
produksi berhenti dapat terjadi.
Teknik manajemen persediaan lebih berguna dalam menentukan
Tabel 1.2 State of the art
tingkat optimal persediaan dan menemukan jawaban atas masalah safety stock dan lead time.
Sumber: Peneliti