• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN HASIL PENELITIAN"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

i

Unggul DalamIPTEK Kokoh Dalam IMTAQ

LAPORAN HASIL PENELITIAN

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGENDALIAN BERAT BADAN PADA PASIEN CKD YANG MENJALANI HEMODIALISA DI

RSUD KOTA BEKASI TAHUN 2013

OLEH:

ASNAWATI 2011727007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2013

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITA S MUHAMMADIYAH JAKARTA

Riset Keperawatan, Maret 2013 Asnawatti

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013

VII Bab + 44Halaman + 5 Tabel + 1Bagan + 5Lampiran ABSTRAK

Ginjal merupakan salah satu dari sistem detoksifikasi dimana hasil penyaringanya dibuang melalui urine.CKD merupakan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible sehingga memerlukan terapi pengganti yang disebut hemodialisa.Pada pasien CKD yang menjalankan haemodialisis tatalaksana dan pengaturan diet menjadi prioritas untuk mencegah kerusakan organ yang lebih lanjut dengan mengendalikan beratba dan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengen dalian berat badan pasien CKD yang menjalani hemodialisa di RSUD Kota Bekasi tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen. Sample dalam penelitian ini sebanyak 13 pasien CKD yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang disusun mengacu pada tinjauan teoritis.

Selanjutnya, data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan tarafsignifikasi 0,05 dan dilakukan uji statistic menggunakan uji Paired t-Test. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan pengendalian beratba dan pre pendidikan kesehatan dengan pengendalian berat badan post pendidikan kesehatan dengan nilai p Value < 0,05 yaitu 0,002. Disarankan kepada seluruh perawat hemodilaisis selalu memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjalankan hemodialisis di ruang hemodialisis di RSUD Kota Bekasi.

Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan, Pengendalian Berat Badan, Hemodialisa Daftar Pustaka : 15 (1997-2010)

(5)

v

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta nikmat sehat, iman, ilmu dan waktu sehingga saya dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian ini. Adapun penelitian ini berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013” yang dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan di Program StudiI lmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Peneliti menyadari bahwa penyusunan hasil penelitian ini tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. PasienCKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi sebagai responden dalam penelitian di RSUD Kota Bekasi.

2. Pimpinan RSUD Kota Bekasi, yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian di RSUD Kota Bekasi.

3. Ibu Hj. Tri Kurniati, S.Kp., M. Kes, selaku dosen pembimbing yang senantiasa membimbing dan mengarahkan peneliti selama proses menyusun laporan penelitian.

4. Bapak Muhammad Hadi, SKM, M.Kes selaku Ka. Program Studi Ilmu Keperawatan FKK-UMJ, sekaligus dosen pembimbing II yang telah banyak memberi bimbingan

(6)

vi

dan pengarahan selama proses penyusunan laporan penelitian ini sehingga dapat selesai pada waktu yang telah ditentukan.

5. Suami dan anak-anak ku, yang telah mendo’akan dan memberikan begitu banyak dukungan kepada peneliti selamaproses penyusunan laporan penelitian.

6. Teman-teman sejawat PSIK program B yang senantiasa memberikan dukungan selama proses penyusunan laporan penelitian ini.

Akhir kata, Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu selama proses penyusunan laporan penelitian ini semoga Allah senantiasa membalas semua kebaikan yang telah diberikan. Amien. Peneliti berharap semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat untuk semua orang.Amien.

Wassalam, Jakarta, 25Maret2013

Asnawati

(7)

vii

LEMBAR PERSETUJUAN….. ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ...iii

KATA PENGANTAR…. ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR BAGAN ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB IPENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Peumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

1. Tujuan Umum ... 5

2. Tujuan Khusus ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB IITINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP CKD (Chronic Kidney Diseas) 1. Pengertian ... 7

2. Klasifikasi ... 7

3. Etiologi ... 8

4. Penanganan CKD ... 9

(8)

viii B. Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian ... 15

2. Tujuan ... 15

3. Cara pengukuran perubahan prilaku ... 16

4. Perubahan Perilaku ... 20

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku ... 22

6. Pengendalian Berat Badan Pasien CKD ... 24

BAB IIIKERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep ... 26

B. Hipotesis ... 27

C. Definisi Operasional ... 27

BAB IVMETODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 29

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 29

C. Populasi dan Sampel... 29

D. Alat Pengumpulan Data ... 32

E. Cara Pengumpulan Data ... 32

F. Etika Penelitian ... 33

G. Pengelolahan Data ... 33

H. Analisa Data ... 34

(9)

ix

A. Analisa Univariat ... 36 B. Analisa Bivariat ... 36

BAB VI PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian ... 40 B. Hasil Penelitian ... 40 BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan ... 43 B. Saran…..… ... 44 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

x

DAFTAR TABEL

NamaTabel JudulTabel Halaman

Tabel2.1 Klasifikasi Penyakit Ginjal 8

Tabel3.1 Definisi Operasional 27

Tabel5.1 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Data Demografi Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013

35

Tabel5.2 Distribusi Responden berdasarkan Pengendalian Berat Badan pada Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013

37

Tabel 5.3 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013

38

(11)

xi Nama

Bagan

Judul Bagan Halaman

Bagan 3.1 Hubungan Pengendalian Berat Badan Pre dan Post Pendidikan Kesehatan

26

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permintaan Kesediaan Menjadi Responden Lampiran 2 Lembar Kesediaan Menjadi Responden

Lampiran 3 Format Penelitian

Lampiran 4 Surat Permohonan Izin Pengambilan Data dan Penelitian Lampiran 5 Lembar Konsultasi

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Chronic Kidney Diseas (CKD) atau penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal, yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible, dimana akan memerlukan terapi pengganti ginjal, yaitu Haemodialisa (Aru,dkk.2007).

Haemodialisa (HD) adalah suatu periodeterapi dialysis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh secara akut ataupun progresif dimana ginjal tidak mampu melakukan proses tersebut. Biasanya pasien harus menjalani HD sepanjang hidupnya 2-3 kali dalam seminggu, 4-5 jam setiap tindakan HD (Suharyanto T, 2006).

Padapasien CKD yang menjalankan haemodialisis tatalaksana dan pengaturan diet tentu menjadi prioritas untuk mencegah kerusakan organ yang lebih lanjut.

Misalnya saja ginjal yang berperan penting menyaring racun. Dari uraian tersebut diatas bahwa ginjal merupakan salah satu dari system detoksifikasi (pembersih atau penyaring racun) untuk banyak toksin yang telah dilarutkan dalam air oleh hati, untuk dibuang melalui urine. Jika fungsi ginjal 100% baik, maka tidak terjadi gangguan dalam tubuh, jika salah satu ginjal tidak berfungsi maka salah satu ginjal lainya akan mengambil alih pungsi penyaringanya. Ketika fungsi

(13)

kedua ginjal masih 25% kemampuanya manusia masih bisa hidup normal, namun ketika tinggal 15%, maka sesorang dikatakan mengalami gagal ginjal terminal / tahap akhir.

Tujuan Hemodialisa selain untuk membuang sisa metabolism dan air adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, bagi pasien yang usia muda kualitas hidup yang terganggu adalah fungsi kehidupan social dan psikologis mereka. Bagi yang berusia lanjut dirasakan sebagai gangguan keadaan fisik dan fungsi organ tubuhnya, untuk mencapai kualitas hidup dan mandiri diperlukan terapi hemodalisis yang adekuat. Secara klinis dikatakan adekuat jika keadaan umum dan nutrisi pasien dalam keadaan baik, tidak ada gejala uremia dan aktifitas pasien normal seperti sebelum menjalankan haemodilisa yang terdiri dari penilaian subyektif dan obyektif. Penilaian subyektif seperti: Seberapa jauh symptom uremia pada pasien dapat dikendalikan (napsu makan, mual, rasa lelah, gatal). Penilain secara obyektif seperti: Pengendalian cairan tubuh pasien dan tekanan darah pasien, juga apakah kadar serum albumin normal? (sebagai indikator status nutrisi yang berhubungan kuat dengan survival pasien).

Saat salah satu organ tubuh kita mengalami gangguan serius, berbagai tatalaksana dan pengaturan diet tentu menjadi prioritas untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Bila fungsi ginjal terganggu maka zat sisa termasuk racun yang harusnya dibuang melalui urine akan menumpuk dan beredar bersama aliran darah. Sulitnya pengeluaran racun ini dapat menyebabkan berbagai gangguan fungsi tubuh lainya, sehingga salah satu cara menghindari

(14)

3

tertimbunya racuna dalah dengan mewaspadai jenis makanan dan asupan cairan yang dikomsumsi pasien.

Pada pasien CKD yang menjalankan haemodialisis mengontrol asupan cairan adalah masalah utama, hal ini dimaklumi karena dalam keadaan normal manusia tidak dapat bertahan lebih lama tanpa asupan cairan dibandingkan dengan makanan. Pada penyakit gagal ginjal yang menjalankan hemodialisis suka tidak suka harus membatasi asupan cairan, karena pada pasien CKD ginjal nya sudah tidak lagi bisa berfungsi menyaring racun dalam tubuhnya maka terapi dialysis lah yang menggantikan tugas tersebut. Kebanyakan pasien di Indonesia menjalani terapi selama 2x dalam seminggu antar 4-5 jam tiap tindakan, itu artinya tubuh harus menanggung kelebihan cairan diantara dua waktu terapi.

Apa bila pasien tidak dapat membatasi jumlah asupan cairan maka cairan akan menumpuk didalam tubuh dan akan menimbulkan pembengkakan di sekitar tubuh seperti tangan, kaki, dan muka. Banyak juga penumpukan cairan terjadi di rongga perut sehinga perut menjadi buncit yang disebut acites. Kondisi ini akan membuat tekanan darah meningkat dan memperberat kerja jantung, dan penumpukan cairan juga dapat terjadi di paru- paru sehingga pasien mengalami sesak napas. Karena itulah perlunya pasien mengontrol dan membatasi jumlah cairan yang masuk dalam tubuhnya, pembatasan ini penting sekali agar pasien tetap merasa nyaman pada saat dan sebelum juga selama dan sesudah terapi haemodialisis.

(15)

Penyebab peningkatan berat badan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis disebabkan karena kurangnya kepatuhan dan kedisiplinan pasien akan asupan cairan dan rata- rata pasien hanya menjalankan hemodialisis tanpa memperhatikan kenaikan berat badan yang berlebih. Pembatasan cairan sangatlah penting karena bila cairan menumpuk akan menimbulkan pembengkakan. Disini pasien dianjurkan untuk mengetahui pengaturan cairan, jumlah urine 24 jam. Kepatuhan dan kedisiplinan pasien sangatlah membantu dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dalam mengatur penatalaksanaan asupan makanan dan cairan setiap harinya.

Pasien CKD yang menjalankan hemodialisis di RSUD Kota Bekasi jumlah pasien CKD yang menjalankan hemodialisis tahun 2011 adalah 93 pasien tahun 2012 adalah 102 pasien rata- rata kenaikan berat badan mereka melebihi 3 kg dalam jangka waktu 3 hari, kenaikan berat badan pasien melebihi 3 kg ini merupakan masalah yang terpenting dikarenakan juga pada pasien tersebut tidak mengerti dan kurangnya pengetahuan tentang pendidikan kesehatan yang diberikan di ruang rawat inap juga ruang haemodialisa. Oleh karena itu penulis sangatlah tertarik untuk mengangkat kasus pada pasien CKD yang tidak bisa mengendalikan berat badanya selama menjalani hemodialisa, Dari hasil survey yang peneliti lakukan awal januari 2013 pada 30 pasien yang diwawancara dan pasien yang terdata tidak mengetahui pentingnya asupan cairan dan penatalaksanaan diet padapasien CKD ada 40% yang mengetahui pentingnya pengontrolan berat badan, sisanya 60% pasien tidak mengerti dan belum mengetahui akan pengendalian berat badan selama menjalankan hemodialisis.

(16)

5

1.2 Perumusan Masalah

Dengan meningkatnya jumlah pasien CKD yang menjalankan hemodialisis yang belum mengerti tentang pentingnya pengendalian berat badan maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan berat badan yang terkendali pada pasien CKD yang dilakukan tindakan hemodialisis.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dapat terjadi peningkatan pengetahuan mengenai pengendalian berat badan pada pasien CKD di ruang HD RSUD Kota Bekasi.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Teridentifikasi pengetahuan pasien tentang pengendalian berat badan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan.

1.3.2.2 Teridentifikasi pengetahuan pasien tentang pengendalian berat badan setelah dilakukan pendidikan kesehatan pada pasien CKD yang dilakukan hemodialisis.

1.3.2.3 Ada perbedaan tingkat pengetahuan pasien tentang pengendalian berat badan sebelum dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

(17)

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bidang Keperawatan

Untuk tenaga perawatan diharapkan dapat melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien CKD yang menjalankan haemodialisis agar berat badan dapat terkendali.

1.4.2 Institusi Pelayanan Kesehatan

Informasi pembatasan cairan diharapkan bisa menjadi masukan untuk pihak manajemen agar dapat dijadikan pedoman.

1.4.3 Bidang Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya, terutama dalam penelitian yang berkaitan dengan peningkatan berat badan pasien CKD.

(18)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Penyakit Ginjal Kronik atau CKD 2.1.1 Pengertian penyakit ginjal kronik

Penyakit ginjal kronik atau Chronic Kidney Disease (CKD) adalah suatu proses patofisisologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif ,pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal.(Aru,dkk.2007) Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialysis atau transflantasi ginjal.

2.1.2 Klasifikasi penyakit ginjal

Diklasifikasikan berdasarkan atas dua hal yaitu, atas dasar derajat ( stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologi. Klasifikasi atas dasar derajat penyakitnya dibuat atas dasar LFG, yang dihitung dengan rumus Kockcroft- Gault sebagai berikut:

LFG ( mI/ mnt/1,73 m2 ( 140- umur ) x berat badan *) 72 x kreatinin plasma ( mg/dl )

*) Pada perempuan dikalikan 0,85

(19)

Tabel 2.1 Klasifikasi Penyakit Ginjal

Derajat

Penjelasan LFG (ml/mnt/1,73 m2) 1 Kerusakan ginjal dengan LFG

normal atau

>90

2 Kerusakan ginjal dengan LFG 60 – 89

3 Kerusakan ginjal dengan LFG sedang

30 – 59

4 Kerusakan ginjal dengan LFG berat

15 – 29

5 Gagal ginjal < 15 atau dialysis

2.1.3 Etiologi

Etiologi penyakit ginjal kronik sangat bervariasi antara satu negara dengan negara lain di Amerika Serikat penyebab utama penyakit gagal ginjal kronik adalah penyakit diabetes militus tipe I (7%), tipe 2 (37%), hipertensi dan penyakit pembuluh darah besarglomerulonefritis, nefritis interstitialis, kista dan penyakit bawaan lainya, penyakit sistemik(lupus dan vaskulitis), neoplasma, penyakit lain. Sedangkan menurut pernefri tahun 2000 mencatat penyebab yang menjalani hemodialisis di Indonesia karena glomerulonefritis,diabetes militus, obstruksi dan infeksi, hipertensi dan sebab

(20)

9

lainya.(Aru,dkk,2007).Ginjal merupakan organ pada tubuh manusia yang mempunyai banyak pungsi untukhomestatis.Ginjal terutama berfungsi sebagai organ ekskresi dan pengatur keseimbangan cairan, serta asam basa dalam tubuh.Sepasang ginjal tersebut dilengkapi dengan sepasang Ureter, sebuah vesika urinaria (buli-buli /kandung kemih) dan uretra yang menbawa urine kelingkungan luar tubuh. Ginjal merupakan salah satu organ utama sistem kemih atau Uriner ( tractus urinarius) yang bertugas menyaring dan membuang cairan sampah metabolisme dari dalam tubuh.Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa ginjal merupakan salah satu dari sistem detoksifikasi(

pembersih atau penyaring racun) untuk banyak toksin yang telah dilarutkan dalam air oleh hati, untuk dibuang melalui urine ( air kencing) ginjal memproses sekitar 200 liter darah untuk menyaring sekitar 2 liter produk limbah dan air ekstra. Limbah dan air ekstra menjadi urine yang mengalir ke kandung kemih melalui tabung yang disebut ureter.Selanjutnya kandung kemih menyimpan urine dan melepaskannya melalui BAK. Maka pada pasien CKD sangatlah dianjurkan untuk membatasi asupan cairan dikarenakan ginjal sudah tidak bisa lagi menyaring racun dalam tubuh(

Brenner& Rector’s The Kidney, 2005 ).

2.1.4 Penanganan pasien CKD yang tidak dilakukan HD 2.1.4.1 Hemodialisa

2.1.4.1.1 Pengertian

Hemodialisis berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis pemisahan atau filtrasi. Hemodialisis adalah suatu metode

(21)

terapi dialysis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Terapi dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi dengan membran penyaring semipermaebel (ginjal buatan).

Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau saat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Tujuan dari hemodialisis adalah untuk memindahkan produk- produk limbah yang terakumulasi dalam sirkulasi pasien dan dikeluarkan kedalam mesin dialysis.( Suharyanto , 2009 ).

Pada pasien CDK tindakan hemodialisis dapat menurunkan resiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi, tetapi tindakan hemodialisis tidak menyembuhkan atau mengembalikan pungsi ginjal secara permanen.Indikasi HD dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan beberapa kondisi seperti ensefalopati uremik, perikarditis, asidosis yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya, gagal jantung dan hiperkalemia.

(22)

11

2.1.4.1.1 Prinsip Hemodialisis

Seperti pada ginjal ada 3 prinsip yang mendasari kerja hemodialisis, yaitu difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.

a. Proses difusi adalah proses berpindahnya zat karena adanya perbedaan kadar didalam darah, makin banyak yang berpindah ke dialisat.

b. Proses osmosis adalah proses berpindahnya air karena tenaga kimiawi yaitu perbedaan osmolatitas dan dialisat.

c. Proses ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya zat dan air karena perbedaan hidrostatik di dalam darah dialisat.(Suharyanto, 2009)

Selama proses dialysis pasien akan terpajan dengan cairan dialisat sebanyak 120-150 liter setiap dialysis. Zat dengan berat molekul ringan yang terdapat dalam cairan dialisat akan dapat dengan mudah berdifusi kedalam darah pasien selama dialysis. Karena itu solute dalam cairan dialisat harus dalam batas-batas yang dapat ditoleransi oleh tubuh.Cairan dialisat tidak perlu steril karena membran dialiser dapat berperan sebagai penyaring kuman dan toksin, tetapi kuman harus tetap dijaga agar kurang dari 200 koloni/unit.

(23)

Dialiser dapat didaur ulang (reuse) untuk tujuan mengurangi biaya HD. Terdapat dua cairan dialisat yang sering digunakan yaitu cairan asetat dan bikarbonat.Penggunaan cairan asetat dapat mengurangi vasokonstriksi pembuluh darah karena cairan acetat bersifat asam, suasana asam dalam darah mengakibatkan vasodilatasi. Sedangkan cairan bikarbonat dapat memberikan bikarbonat kedalam darah yang akan menetralisir asidosis pada pasien dengan CKD dan tidak menimbulkan vasodilatasi.

Komplikasi akut HD adalah komplikasi yang terjadi selama proses HD berlangsung. Komplikasi yang sering terjadi diantaranya adalah hipotensi,kram, otot, mual dan muntah, sakit kepala, sakit dada, sakit punggung, gatal, demam dan menggigil (terjadi karena kekacauan fungsi kekebalan dan control suhu pada uremia, infeksi bakteri pada pasien HD, infeksi virus seperti hepatitis A, B, C, infulensa dll). Komplikasi yang jarang terjadi misalnya sindrom disekuilibrium, reaksi dialiser, aritma, tamponade jantung, pendarahan intracranial, kejang, hemolisis, anemia, emboli udara, neutropenia, serta aktivasi komplemen akibat dialysis dan hipoksemia (Aru,dkk.,2006 & daugirdas, dkk., 2007).

(24)

13

Pada umumnya HD dilakukan 2 kali seminggu dengan setiap HD dilakukan selama 5 jam.Ada juga dialisis yang dilakukan 3 kali seminggu dengan lama dialisis 4 jam.Pasien HD harus mendapatkan asupan nutrisi yang cukup agar tetap dalam gizi yang baik.Gizi yang kurang merupakan predictor yang penting untuk terjadinya kematian pada pasien HD.

2.1.4.2 Peritonial Dialisis

Pada pasien CKD yang tidak bisa melakukan hemodialisisdikarenakan kesibukan sehingga harus pergi ke pusat dialysis/rumah sakit maka pilihan metode dialysis peritoneal yang relatif lebih fleksibel.Continuous Ambulatory Peritonial Dialisis (CAPD) merupakan membran peritonium ( selaput yang melapisi perut dan pembungkus organ dalam perut)CAPD dilakukan setiap hari sebanyak 3-4 kali dengan cara memasukan cairan kedalam rongga peritoneum dan proses ini memerlukan waktu 4-6 jam.

Proses peritoneal ini tidak menimbulkan rasa sakit dan terdiri dari 3 langkah menurut ( NKF- K/DOQI Peritonial Dialisis Tahun 2006 ) 1. Masukkan cairan dialisat ke dalam rongga peritoneum 2000 cc 2. Cairan dibiarkan dalam rongga perut untuk selama periode

waktu tertentu ( biasanya 4-6 jam ).

(25)

3. Keluarkan cairan dari dalam peritoneum.

CAPD dapat dilakukan di rumah, di tempat kerja ataupun sedang dalam perjalanan.

2.1.4.3 Tranplantasi Ginjal

Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi inipenggantiginjaldengan cara memanfaatkan sebuah ginjal sehat yang berasal dari donor ginjal melalui prosedur pembedahan.

Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup ( donor hidup ) atau yang baru saja meninggal ( donor cadaver ). Ginjal cangkokan inilah yang kemudian akan mengambil alih pungsi kedua ginjal yang sudah rusak. Kedua ginjal lama, walaupun sudah tidak banyak berperan namun tetap berada pada posisinya semula, tidak dibuang, kecuali jika ginjal lama ini dapat menimbulkan komplikasi infeksi atau tekanan darah tinggi.Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 6 jam. Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah dekat daerah panggul agar terlindung oleh tulang panggul. Setelah transplantasi ginjal selesai dilakukan, biasanya akan terjadi reaksi penolakan terhadap ginjal baru tersebut, yaitu reaksi dimana sitem tubuh menyerang ginjal baru yang dicangkokan(NKF-K/DOQI Kidney Transplant 2009 ).

Oleh karena itu dokter akan memberikan obat imunosupresan

(26)

15

untuk mencegah reaksi penolakan tersebut. Obat imunosupresan harus diminum setiap hari. Keuntungan transplantasi ginjal adalah:

 Ginjal baru akan bekerja seperti halnya ginjal yang normal

 Rehabilitasi pasien sangat baik

 Pasien mempunyai resiko kesakitan dan kematian lebih sedikit dibandingkan dialysis.

 Kualitas hidup menjadi baik.

Kekurangan transplantasi ginjal adalah:

 Kesulitan mencari donor ginjal

 Penderita harus rutin minum obat imunosupresan.

2.2 Pendidikan Kesehatan

2.2.1 Pengertian pendidikan kesehatan

Perilaku merupakan diterminan kesehatan yang menjadi sasaran dari promosi atau pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengubah perilaku ( behavior change).

2.2.2 Tujuan dari promosi atau pendidikan kesehatan yaitu:

2.3.2.1 Mengubah perilaku negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif ( sesuai dengan nilai- nilai kesehatan ).

2.3.2.2 Mengembangkan perilaku positif (pembentukan atau pengembangan perilaku sehat ).

(27)

2.3.2.3 Memelihara perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan norma/nilai kesehatan ( perilaku sehat ). Dengan perkataan lain mempertahankan perilaku sehat yang sudah ada.

Perubahan perilaku kesehatan melalui carapendidikan kesehatan ini diawali dengan cara pemberian informasi- informasi kesehatan. Selanjutnya dengan pengetahuan- pengetahuan yang akan menyebabkan orang berperilaku sesuaidengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Diskusi partisipasi adalah salah satu cara yang baik dalam rangka memberikan informasi – informasi dan pesan- pesan kesehatan.

Benyamin Bloom ( 1908) seorang ahli psikologi pendidikan membedakan adanya 3 area, wilayah, ranah atau domain perilaku ini yakni kognitif, apektif,dan psikomotor. Dalam perkembanganya teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran pendidikan kesehatan.

2.2.3 Cara pengukuran perubahan prilaku (menurut Notoatmojo, 2007 ) 2.2.3.1 Pengetahuan ( Knowledge )

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Secara garis besarnya pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan yakni:

(28)

17

- Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan pasien tentang pembatasan cairan pada pasien yang menjalankan hemodialisis

- Memahami ( comprehension )

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan penjelasan tersebut secara benar.

- Aplikasi ( application )

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real ( sebenarnya ).

- Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen- komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan ada kaitanyasatu sama lain.

- Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan suatu kemampuan sesorang untuk meletakkan atau menghubungkan bagian- bagian dalam bentuk yang baru. Atau dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang ada.

(29)

- Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau dengan kriteria yang ada.

2.2.3.2. Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.Newcomb salah satu ahli psikologis sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.Akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku, sikap itu masih merupakan kesiapan bereaksi terhadap suatu objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

 Komponen pokok sikap

Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu:

- Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu objek.

(30)

19

- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

- Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen tersebut secara bersama- sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini,pengetahuan pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

 Berbagai tingkatan sikap

Seperti halnya dengan pengetahuan,sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan:

- Menerima (receiving) diartikan bahwa seseorang mau menerima stimulus yang diberikan.

- Merespon (responding) diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.

- Menghargai (valuing) diartikan seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus.

- Bertanggung jawab (responsible) sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apayang telah diyakininya.

(31)

2.2.3.3Praktik atau tindakan (Praktice)

Suatu sikap yang belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (0vert behaviour). Untuk mewujudkan suatu sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan factor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.

Disamping faktor fasilitas dukungan (support) dari pihak lain, misalnya dari orang terdekat praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:

- Persepsi (perception), yaitu mengenal dan memilih berbagaiobjek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

- Respon terpimpin (guided response), yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh.

- Mekanisme (meconism), melakukan sesuatu secara benar dan otomatis sehingga menjadi suatu kebiasaan.

- Adopsi (adoption), yaitu suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.2.4Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku mulai dipelajari pada perorangan melalui pendekatan ilmu kejiwaan (pskologis).Perilaku berubah karena adanya rangsangan dalam bentuk fisik, psikis dan sosial, yang dapat menyangkut satu

(32)

21

materiterbatas dan melibatkan banyak orang.Perubahan perilaku merupakan tujuan pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan lainya.

Arah perubahan bergantung pada besarnya pengaruh kekuatan-kekuatan pendorong dan penahan yang berarti dapat positif atau negatif.

Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan yang paling besar pengaruhnya dari proses interaksi dengan lingkungan.

2.2.4.1Prinsip perubahan perilaku

Menurut Kelmandari(Heri,2009) perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan kepatuhan, identifikasi,baru menjadi internalisasi. Tahap-tahap ini didasari alasan antara lain sebagai berikut.

- Keterpaksaan

Individu mematuhi anjuran atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan dan seringkali ingin menghindari hukuman atau sangsi jika tidak patuh atau memperoleh imbalan yang dijanjikan, sehingga mematuhi anjuran tersebut.Perubahan perilaku ini bersifat sementara.

- Keinginan untuk meniru

Kepatuhan karena terpaksa dapat menimbulkan jenis kepatuhan yang berbeda yaitu kepatuhan untuk menjaga hubungan baik. Proses ini disebut dengan identifikasi yaitu individu meniru tindakan tokoh tanpa memahami sepenuhnya

(33)

arti dan manfaat tindakan tersebut.Kepatuhan ini timbul karena merasa tertarik atau mengagumi tokoh tersebut.

- Menghayati manfaatnya

Perilaku mengalami internalisasi jika individu menganggap perilaku baru itu positif dan diselaraskan dengan nilai-nilai hidupnya.Hal ini dapat dicapai jika individu memahami arti dan manfaat perilaku bagi kehidupannya.

2.2.4.2Proses Perubahan Perilaku

Proses perubahan perilaku dapat terjadi dalam waktu pendek atau lama, bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal yang penting dikemukakan adalah bahwa tujuan akhir proses perubahan perilaku adalah perilaku baru yang berhasil diubah dalam masyarakat dapat terwujud menjadi budaya, yaitu budaya sehat.

2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku

 Motivasi

Perubahan perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh motivasi.Motivasi diartikan sebagai dorongan untuk bertindak untuk mencapai tujuan tertentu.Hasil dari dorongan dan gerakan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku.Motivasi sendiri dapat bersifat positif atau negatip .Bila motivasi tersebut positip dapat merubah perilaku seseorang kearah yang baik, sebaliknya jika motivasi itu

(34)

23

negatip dapat merubah perilaku seseorang menjadi tidak baik.Pada pasien CKD, perilaku untuk mengendalikan berat badan bersifat negatip dan dapat berasal dari kemauan dan kepatuhan pasien itu sendiri(Soekidjo Notoatmojo, 2007).

 Pengetahuan

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain (Soekidjo Notoatmojo, 2007). Pengetahuan sangat berpengaruh terhadap perilaku.

 Kepercayaan

Kepercayaan biasa diperoleh dari orang tua, kakek atau nenek.Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Banyak orang yang meninggal tambah parah penyakitnya setelah menghentikan pengobatan dan tidak menyadari bahwa faktor tersebut adalah akibat ketidakpatuhan pasien dalam mengendalikan berat badanya (Notoatmojo, 2007).

 Sikap

Sikap dapat menggambarkan suka tidak suka seseorang terhadap objek dan dapat membuat individu mendekati atau menjauhi objek tersebut dan sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan. Sikap tidak mau tahu terhadap pengendalian berat badanya maka akan memperburuk keadaan pasien dan juga kualitas hidup pasien.

(35)

2.3 Pengendalian berat badan pada pasien CKD 2.3.1 Pembatasan nutrisi

Standar diet pada penyakit CKD pre dialysis dengan terapi konservatif adalah sebagai berikut: ( instalasi Gizi Perjan RS dr. Cipto Mangun Kusumo dan Asosiasi Dietesien Indonesia, 2005 )

1. Syarat dalam menyusun diet

Energi 35 kkal/kg BB, pada geriatric dimana umur > 60 tahun cukup 30 Kkal/kg BB dengan ketentuan dan komposisi sebagai berikut : karbohidrat sebagai sumber tenaga, 50 – 60 % dari total kalori protein untuk pemeliharaan jaringan tubuh dan pengganti sel-sel yang rusak sebesar 0,6 g/kg BB. Apabila asupan energi tidak tercapai, protein dapat diberikan sampai dengan 0,75 g/kg BB. Protein diberikan lebih rendah dari kebutuhan normal, oleh karena itu ini biasa disebut diet rendah protein. Pada waktu yang lalu anjuran protein bernilai biologi tinggi atau hewani hingga ≥ 60 %, akan tetapi pada saat ini anjuran cukup 50 %. Saat ini protein hewani dapat disubstitusi dengan protein nabati yang berasal dari olahan kedelai sebagai lauk pauk untuk variasi menu.Lemak untuk mencukupi kebutuihan energi diperlukan ± 30 % diutamakan lemak tidak jenuh.

2.3.2 Pengendalian Cairan

Pada dasarnya program penyuluhan tentang asupan cairan pada pasien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa sudah diberikan oleh perawat, hal ini dilakukan agar setiap pasien dapat menbgatur asupan

(36)

25

cairan dan tidak mendapatkan kerugian yang diakibatkan karena kelebihan cairan( Neliya, Susti.,Utomo, Wasisto.,Misrawati, 2012 ).

Kebutuhan cairan disesuaikan dengan jumlah pengeluaran urine sehari ditambah IWL ± 500 ml. Garam disesuaikan dengan ada tidaknya hipertensi serta penumpukan cairan dengan dalam tubuh. Pembatasan garam berkisar 2.5 – 7.6 g/hari setara dengan 1000 – 3000 mg Na/hari.Kalium disesuaikan dengan kondisi tidaknya hiperkalemia 40 – 70 meq/hari.Fosfor yang dianjurkan ≤ 10 mg/kg BB/hari.Kalsium 1400 – 1600 mg/hari.

Kadar ureum darah (BUN) dan kreatinin meningkat, biasanya penderita akan mengalami kelelahan, hilang nafsu makan, mual dan muntah. Jika keadaan sudah demikian maka yang perlu dibatasi adalah cairan (maksimal 500 – 1000 ml/hari), protein (difokuskan pada protein dengan nilai bilologis tinggi), natrium dan kalium (Fatimah, 2008).

Cairan = urine dalam 24 jam +500 ml (dihitung setiap hari pre dialysis).

(37)

26

KERANGAKA KONSEP, HIPOTESA, DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Variabel independen yaitu berupa pendidikan kesehatan pada pasien CKD yang menjalankan hemodialisis. Bertujuan untuk tercapainya berat badan yang terkendali.

Sedangkan variabel dependen yaitu motivasi tentang pengendalian berat badan.

Kerangka konsep yang dibuat peneliti dalam pengendalian berat badan menggambarkan hubungan antara variable independen dan dependen sesuai dengan judul peneliti ambil, maka variable independen yaitu pendidikan kesehatan tentang pengendalian berat badan, v devenden yaitu pengetahuan pasien tentang pengendalian berat badan.

Pra Intervensi Post Intervensi

Pengetahuan pengendalian beratbadan

Pendidikan Kesehatan

Peningkatan pengetahuan pasien dalam pengendalian

berat badan

Demografi - Umur - Pendidikan - JenisKelamin

(38)

27

3.2. Hipotesis

Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kemampuan pasien dalam pengendalian berat badan pada pasien CKD yang menjalankan hemodialisis.

3.3. Definisi Operasional

1. Data Variabel Independen dan Demografi No Variabel

independen

Definisi operasional

Alatukur Cara Hasil ukur Skala ukur 1 Pendidikan

kesehatan

Proses perubahan perilaku pasien, pengetahuan, sikap yang terjadi melalui proses pemberian

pendidikan kesehatan tentang pembatasan cairan, jumlah cairan yang masuk setiap hari dan akibat yang terjadi bila tidak membatasi

cairan.

Leaflet Ceramah

2. Data Variabel Dependen No

Variabel dependen

Definisi operasional

Alat ukur Cara Hasil ukur Skala ukur 1 Pengetahuan

pengendalian berat badan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan

Hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek

mengenai cara mengendalikan

Kuesioner Mengisi kuesioner

0 = Pengendal ian Berat Badan>3 kg selama 3 hari 1=

Pengendal

Interval

(39)

2 Pengatahuan pengendalian berat badan setelah dilakukan pendidikan kesehatan

beratba dan pada pasien

CKD yang

menjalani proses hemodialisa sebelum dilakukan proses pemberian informasi berupa pendidikan kesehatan

Hasil daritahu, dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek

mengenai cara mengendalikan berat badan pada pasien

CKD yang

menjalani proses hemodialisa setelah dilakukan proses pemberian informasi berupa pendidikan kesehatan

Kuesioner Mengisi kuesioner

ian Berat Badan<3 kg selama 3 hari

0 = Pengendal ian Berat Badan>3 kg selama 3 hari

1=

Pengendal ian Berat Badan<3 kg selama 3 hari

Ordinal

(40)

29 BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian (Setiadi, 2007: 127).

Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen yaitu penelitian yang yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subyek selidik (Jack R. Fraenkel, Norman E. Wallendan John W. Creswell, 2008).

4.2 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang hemodialisa RSUD Kota Bekasi

4.3 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret minggu pertama tahun2013

4.4 Populasi dan Sampel 4.1.1. Populasi

Populasi dalam penelitian adalah setiap objek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003). Adapun populasi yang digunakan dalam

(41)

penelitian ini adalah seluruh pasien CKD yang menjalani hemodialiasis di ruang hemodialisis RSUD Kota Bekasi.

4.1.2. Sampel

Sampel adalah studi yang dilakukan pada sebagian kecil populasi target, karena keterbatasan ukuran, biaya, waktu atau ketidak terjangkauan membuat studi yang tidak mungkin dilakukan pada keseluruhan populasi (Demsey, 2002).

Adapun cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tehnik purposive sampling. Purposive sampling adalah suatu metode pemilihan sampel yang dilakukan berdasarkan maksud dan tujuan tertentu yang ditetapkan oleh peneliti (Kusuma, 2011).

Adapun criteria sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah:

4.1.2.1. Seluruh pasienCKD yang dilakukan hemodialisis di ruang hemodialisis RSUD kotaBekasi.

4.1.2.2. Seluruh pasien CKD yang dalam keadaan sadar penuh.

4.1.2.3. Seluruh pasien CKD yang kenaikan berat badanya meningkat lebih dari 3 kg saat menjalankan hemodialisis.

4.1.2.4. Seluruh pasien CKD dapat membaca dan menulis.

4.1.2.5. Bersedia menjadi responden secara tertulis tanpa ada unsure paksaan dari pihak manapun.

Dengan penghitungan sample sebagai berikut:

SD = √ n (Pxq)

= √ 29 (0.5x0.5)

(42)

31

= √ 29 x 0.25

= √ 7.25= 2,7

n

Keterangan :

n = Besarnya sampel

Zα = Nilai standar normal yang besarnya tergantung α bila α = 0,05 z = 1,96 β = Power test bila β = 0,9 z = 1,282

SD :Standar Deviasi = 2,7

D = Mean atau rata-rata deviasi penelitian terdahulu = 2,4

n =

n = 7,29 x 10,5 2,4²

n = 76,5

5,8

n = 13,1

= 13 orang

4.5 Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data dari responden, peneliti menggunakan instrument berupa kuesioner. Adapun kuisioner tersebut telah di uji sebelumnya.Uji validitas dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment. Pada uji kuesioner sudah memenuhi criteria yaitu nilai alpha Cronbach’s ( 0,961 ) pada tinggkatan

(43)

pemaknaan 5%. Nilai r hasil lebih besar dari r tablel. Maka pertanyaan tersebut valid dan layak untuk disebarkan.

4.8.1 AlatPengumpulan Data

Alat pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner terstruktur yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data.

4.8.2 Cara Pengambilan Data

- Mengurus perijinan penelitian dari institusi ( PSIK FKK UMJ ) kepada Direktur RSUD Kota Bekasi melalui bagian penelitian dan pengembangan.

- Dengan menggunakan surat pengantar dari bagian penelitian dan pengembangan RSUD Kota Bekasi, peneliti melakukan penelitian di ruangan hemodialisa RSUD Kota Bekasi.

- Menemui calon responden untuk membina trust serta menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kemudian meminta kesediaan responden dengan menandatangani surat pernyataan bersedia menjadi responden.

- Menjelaskan tentang tata cara pengisian kuesioner atau menanyakan langsung kepada responden, serta mendampingi responden saat pengisian.

- Menyebarkan kuisioner pre pendidikan kesehatan.

- Melakukan pendidikan kesehatan mengenai pengendalian berat badan pada pasien CKD.

- Menyebarkan kuisioner post pendidikan kesehatan setelah pertemuan ke 2 ( dua ).

(44)

33

4.6 EtikaPenelitian

Kode etik untuk riset yang bersubyek manusia sudah dikembangkan untuk memastikan adanya perlindungan martabat dan keselamatan subyek serta kelayakan riset yang melibatkan manusia sebagai subyek ( Patricia Ann Demsey, 2002 )

Adapun masalah etika yang harus diperhatikan adalah:

 Inform consent

Inform consent merupakan lembar persetujuan yang bertujuan melindungi hak- hak responden untuk mengambil keputusan sendiri. Ini berarti responden harus dalam keadaan sadar sepenuhnya terhadap studi dan setuju untuk berpartisipasi di dalamnya.

 Anonimitas ( tanpa nama )

Identitas subyek yang ikut serta dalam penelitian hanya menyebutkan intial.

4.7 Pengolahan Data

Setelah kuesioner dibagi kanpada responden dan telahdi isi oleh responden akan dilihat kelengkapannya, pengisiannya meliputi :

- Editing yaitu untuk melakukan pengecekan pengisian kuesioner apakah jawaban yang ada dalam kuesioner lengkap, jelas, relevan dan konsisten.

- Coding yaitu kegiatan merubah data berbentuk hurup menjadi data berbentuk angka atau bilangan.

- Processing yaitu pemerosesan data yang dilakukan dengan cara di entri data dari kuesioner kepaket komputer.

(45)

- Cleaning yaitu membersihkan data yang merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entri apakah ada kesalahan atau tidak.

4.8 Analisa Data

Analisa data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Dalam proses ini sering kali digunakan statistik. Salah satu fungsi pokok statistik adalah menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk dipahami (Sofian Effendi).

Analisa data ini dibuat untuk mengetahui hubungan dua variabel Independent dan Dependent

4.8.1 Analisa Univariat

Analisa Univariat digunakan dengan tujuan untuk memperoleh analisa distribusi frekuensi dari data demografi pasien seperti :pengetahuan, usia, jenis kelamin, pendidikan, pasien yang menjalankan hemodialisa di RSUD Kota Bekasi.

4.8.2 Analisa Bivariat

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel independent dan dependent. Adapun yang akan dipakai adalah uji t, guna mengetahui hubungan variable penelitian dengan nilai pemaknaan ( p value )

< 0,05 (5%). Bila hasil perhitungan statistik diperoleh nilai p < 0,05, maka hasil perhitungan statistik bermakna, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variable tersebut. Sedangkan apa bila dari perhitungan statistik diperoleh p > 0,05, maka hasil perhitungan statistik tidak bermakna

(46)

35 atau tidak ada hubungan yang signifikan antara dua variabel. Adapun perhitungan statistik tersebut dengan menggunakan komputer.

(47)

36

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini peneliti akan menyajikan hasil penelitian yang berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013”.

Adapun hasil penelitian tersebut disajikan dalam bentuk analisa univariat dan bivariat yang dijelaskan dalam bentuk distribusi frekuensi.

A. Analisa Univariat

Analisa univariat ini menjelaskan distribusi frekuensi yang terdiri dari data demografi. Adapun data tersebut yaitu:

1. Data Demografi

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Data Demografi Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013

No Variable Kategori Frekuensin=13 Persentase (%) 1 Usia >45 tahun

<45 tahun

7 6

53,8 46,2 2 JenisKelamin Laki-laki

Perempuan

8 5

61,5 38,5

3 Pendidikan

SD SMP SMA PT

1 1 7 4

7,7 7,7 53,8 30,8

4 Agama Katolik

Islam

1 12

7,7 92,3

(48)

37

a. Usia

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat karakteristik responden berdasarkan usia pada kelompok usia < 45 tahun sebanyak 6 orang (46,2%), sedangkan kelompok usia > 45 tahun sebanyak 7 orang (53,8

%). Hal ini menunjukkan bahwa usia responden yang terbanyak adalah responden dengan kelompok usia > 45 tahun.

b. Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat jumlah responden laki-laki sebanyak 8 orang (61,5%), sedangkan jumlah responden perempuan sebanyak 5 orang (38,5%). Hal ini menunjukan bahwa responden terbanyak adalah responden berjenis kelamin laki-laki.

c. Pendidikan Terakhir

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat karakteristik responden berdasarkan pendidikan terahir dengan jumlah responden dengan pendidikan terakhir SD sebanyak 1 orang (7,7%), jumlah responden dengan pendidikan terakhir SMP sebanyak 1 orang (7,7%), jumlah responden dengan pendidikan terakhir SMA sebanyak7 orang (53,7 %), jumlah responden dengan pendidikan terakhir Perguruan Tinggi sebanyak 4 orang (30,8 %). Hal ini menunjukan bahwa pendidikan terakhir responden terbanyak adalah SMA.

(49)

d. Agama

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat jumlah responden beragama katolik sebanyak 1 orang (7,7%), sedangkan jumlah responden yang beragama Islam sebanyak 12 orang (92,3%). Hal ini menunjukan bahwa responden terbanyak adalah responden beragama Islam.

2. Pengendalian Berat Badan

Tabel5.2

Distribusi Responden berdasarkan Pengendalian Berat Badan pada Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun

2013

No Variabel Kategori Frekuensi

n=13

Persentase (%) 1 Pengendalian

BB Pre Pendidikan

Kesehatan

Peningkatan<3kg Peningkatan>5 kg

4 9

30,8 69,2

2 Pengendalian BB Post Pendidikan

Kesehatan

Peningkatan<3kg Peningkatan>3 kg

9 4

69,2 30,8

(50)

39 a. Pre Pendidikan Kesehatan

Berdasarkan tabel di atas menunjukan jumlah responden yang pengendalian berat badan pre pendidikan kesehatanya mengalami peningkatan BB < 3kg sebanyak 4 orang (30,8%), dan responden yang penurunan berat badan pre pendidikan kesehatanya mengalami peningkatan BB > 3kg sebanyak 9 orang (69,2%). Hal ini menunjukan bahwa jumlah terbanyak adalah responden yang pengendalian berat badanya mengalami peningkatan BB > 3 kg.

b. Post Pendidikan Kesehatan

Berdasarkan tabel di atas menunjukan jumlah responden yang pengendalian berat badan post pendidikan kesehatanya mengalami peningkatan BB < 3kg sebanyak 9 orang (69,2%), dan responden yang pengendalian berat badan post pendidikan kesehatan mengalami peningkatan BB > 3kg sebanyak 4 orang (30,8 %). Hal ini menunjukan bahwa jumlah terbanyak adalah responden yang pengendalian berat badanya mengalami peningkatan BB < 3kg.

B. Analisa Bivariat

a. Pengendalian Berat Badan Pre Pendidikan Kesehatan dengan Post Pendidikan Kesehatan

(51)

Tabel 5.3

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun

2013

Variable Mean SD SE pValue N

Pengendalian BB Pre Pendidikan

Kesehatan

57,69 9,013 2,500

0,002 13

Pengendalian BB Post Pendidikan

Kesehatan

56,62 8,996 2,495

Berdasarkan tabel 5.3 di atas maka pengendalian berat badan pre pendidikan kesehatana dalah 57,69 gr % dengan standar deviasi 9,013, sedangkan pengendalian berat badan post pendidikan kesehatan adalah56,62 gr % dengan standar deviasi 8,996. Terlihat nilai mean perbedaan antara penilaian pre pendidikan kesehatan dan penilaian post pendidikan kesehatana dalah 1,07 dengan standar deviasi 0,017. Hasil uji statistic didapatkan nilai pValue 0,002, maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara pengendalian berat badan pre pendidikan kesehatan dan pengendalian berat badan post pendidikan kesehatan.

(52)

41

BAB VI PEMBAHASAN

Dalam bab ini peneliti akan membahas hasil penelitian tentang “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013”.

A. Keterbatasan Penelitian

Adapun keterbatasan yang dialami peneliti selama penelitian sebagai berikut : 1. Keterbatasan waktu dalam melakukan penelitian.

2. Alat penelitian yang digunakan berupa kuisioner yang tidak baku karena disusun sendiri oleh peneliti dan merupakan hasil modifikasi yang mengacu pada landasan teoritis dan sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

3. Keterbatasan waktu dalam proses pengambilan data pada saat penelitian sehubungan dengan proses dialysis.

4. Keterbatasan dalam pengaturan jadwal pertemuan untuk melakukan evaluasi hasil intervensi sehubungan dengan jadwal aktivitas responden maupun peneliti.

B. Hasil Penelitian Hasil Analisa Bivariat

Setelah dilakukan penelitian pada 13 responden diperoleh jumlah responden terbanyak pengendalian BB pre pendidikan kesehatan dengan peningkatan BB > 3 kg adalah sebanyak 9 orang (69,2 %), sedangkan jumlah jumlah responden

(53)

terbanyak pengendalian BB post pendidikan kesehatan dengan peningkatan BB <

3kg sebanyak 9 orang (69,2 %).

Berdasarkan hasil uji statistic didapatkan hasil mean pengendalian berat badan pre pendidikan kesehatanadalah 57,69 gr % dengan standardeviasi 9,013, sedangkan mean pengendalian berat badan post pendidikan kesehatan adalah 56,62 gr % dengan standar deviasi 8,996. Terlihat perbedaan nilai mean antara penilaian pre pendidikan kesehatan dan penilaian post pendidikan kesehatan adalah 1,07 dengan standar deviasi 0,017. Hasil uji statistic didapatkan nilai pValue 0,002, maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara pengendalian berat badan pre pendidikan kesehatan dan pengendalian berat badan post pendidikan kesehatan.

Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Teori yang dinyatakan di atas membuktikan pelaksanaan pendidikan kesehatan dapat mempengaruhi sikap seseorang untuk berubah, dan hal yang penting adalah bahwa tujuan akhir proses perubahan perilaku adalah perilaku baru yang berhasil diubah. Perubahan Perilaku atau sikap terjadi karena adanya respon yang terjadi setelah pemberian stimulus, sesuai yang diungkapkan Notoatmodjo (2007) yang mengatakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

(54)

43 Menurut Newborn sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.Akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku, sikap itu masih merupakan kesiapan bereaksi terhadap suatu objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (dalamNotoatmodjo, 2007). Hal ini sejalan dengan pernyataan Allport (dalamNotoatmodjo, 2007) dimana sikap memiliki 3 komponen pokok, yaitu kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek, dan kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Proses perubahan perilaku dapat terjadi dalam waktu pendek atau lama, bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Walaupun demikian perubahan perilaku maupun sikap dapat terjadi tidak begitu saja seperti halnya diungkapkan oleh Kelman (dalamHeri,2009) bahwa perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan kepatuhan, identifikasi, baru menjadi internalisasi.

Walaupun demikian perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh berbagai factor seperti motivasi, kepercayaan, pengetahuan, sikap (Notoatmodjo, 2007).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan salah satu factor predisposisi yang merupakan stimulus untuk merubah sikap seseorang dengan membentuk 3 komponen pokok secara bersama-sama sehingga membentuk sikap yang utuh (total attitude).

(55)

44

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengendalian Berat Badan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Bekasi Tahun 2013. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap 13 responden dapat disimpulkan bahwa :

1. Univariat

Didapatkan gambaran data demografi responden, yaitu: reponden terbanyak kelompok usia > 45 tahun sebanyak 7 orang (53,8 %), jenis kelamin laki-laki sebanyak 8 orang (61,5%), pendidikan terakhir SMA sebanyak 7 orang (53,7

%), agama Islam sebanyak 12 orang (92,3%).

2. Bivariat

Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengendalian berat badan pasien CKD yang menjalani hemodialisa di RSUD Kota Bekasi tahun 2013 dengan nilai p Value < alpha (0,05), yaitu 0,002.

(56)

45 B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti dapat menyampaikan saran sebagai berikut :

1. Bidang Pelayanan Kesehatan

Bagi institusi kesehatan diharapkan dapat meningkatkan media informasi dan melakukan pendidikan kesehatan mengenai cara pengendalian berat badan untuk pasien CKD yang menjalani hemodialisa di RSUD Kota Bekasi tahun 2013.

2. Bidang Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya, terutama dalam penelitian yang berkaitan dengan peningkatan berat-badan pada pasien CKD.

(57)

Brunner & Suddart. 2003. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. EGC:

Jakarta

Easter, Gayl and Sue Moore. Education Booklet For Dialysis Patient : Diet and Dialysis. 1993.

ABBOTT: Singapore

Heri, Purwanto. 1998. Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan (Prinsio-prinsip Dasar).

Klinik Cipta: Jakarta

Moore, Mary. 1997. Buku Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi. EGC: Jakarta

National Kidney Foundation’s Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF-K/DOQl):

Nutrition and Hemodialysis. 2002. Minneapolis: United Dtate of America

National Kidney Foundation’s Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF-K/DOQl):

Kidney Transplant. 2009. www.kidney.org

National Kidney Foundation’s Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF-K/DOQl).

Peritoneal Dialysis : What You Need To Know. 2006. Minneapolis: United State of America

Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. EGC:

Jakarta

Nursalam.2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan). Salemba Medika: Jakarta

Notoatmodjo S. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-prinsip Dasar). Klinik Cipta: Jakarta Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi Cetakan Kedua. Rineka Cipta:

Jakarta

Suharjo. 2010. Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam. FKUI RSCM: Jakarta

Suyono. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 3 Jilid 2. EGC: Jakarta

http://www.ydgi.org/_patientinfo.php.com. Diunduh pada tanggal 12 Februari 2013.

(58)

PENDIDIKAN KESEHATAN PADA PASIEN CKD YANG MENJALANKAN HEMODIALISIS DI

RUANG HD RSUD KOTA BEKASI Oleh:

Nama : Asnawatti Npm: 2011727007

Program studi imu keperawatan UMJ

TUJUAN UMUM

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dapat terjadi peningkatan pengetahuan mengenai pengendalian berat badan pada pasien CKD di ruang HD RSUD Kota Bekasi

TUJUAN KHUSUS

1. Untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh.

2. Untuk menghindari terjadinya penumpukan cairan kedalam tubuh

3. Untuk menjaga berat badan tetap seimbang APA ITU GAGAL GINJAL??

Gagal ginjal kronik adalah: Suatu keadaan dimana fungsi ginjal mengalami gangguan, untuk

mempertahankan keseimbanagan cairan dan elektrolit,terjadi secara bertahap dan dalam waktu lama..

APA PENYEBABNYA??

1. Diabetes mellitus 2. Tekanan darah tinggi

3. Penyumbatan saluran kemih ( Batu ginjal ) 4. Mengkonsumsi obat- obat pengurangi rasa nyeri

yang dibeli di warung tanpa anjuran dokter.

BAGAIMANA TANDA DAN GEJALANYA??

1. Anemia / kurang darah

2. Tekanan darah tinggi

3. Bengkak pada kaki

4. Lemas dan tak bergairah

APA AKIBAT LANJUTANYA???

1. Anemia ( kurang darah ) 2. Hipertensi ( darah tinggi ) 3. Penyakit tulang

4. Hiperkalemi 5. Gagal jantung

APA SAJA PENYEBAB KELEBIHAN CAIRAN????

1. Banyak makan makanan yang mengandung air diantaranya: susu, the, sirup, madu, jelly, yoghurt, dan buah- buahan.

2. Kelebihan makanan yang mengandung tinggi garam diantaranya: makanan kaleng, ikan asin, ikan yang diasap, saus tomat, sambal botol, kecap, keripik kentang / singkong, kuah, mie instan.

3. Minum yang berlebihan/ minum melebihi batas yang dianjurkan.

(59)

BAGAIMANA TANDA- TANDA KELEBIHAN CAIRAN???

1. Edema/ bengkak mulai dari pergelanangan kaki dan menyebar keseluruh tubuh 2. Sesak / sulit bernafas

3. Berat badan meningkat 5% dari berat badan setelah HD dengan cepat.

4. Tekanan darah tetap tinggi walaupun sudah minum obat.

5. Tidak nafsu makan dan lemas.

BAGAIMANA CARA MENCEGAH KELEBIHAN CAIRAN DALAM TUBUH?????? UNTUK MENJAGA BERAT BADAN TETAP SEIMBANG/

TERKONTROL 1. Batasi jumlah cairan yang diminum.

2. Ukur urine dalam 1 hari, dan minum sesuai dengan jumlah urine perhari yang dikeluarkan, ditambah 500 cc.

3. Kurangi makanan yang tinggi garam.

banyak air, seperti : apel, semangka, jeruk, melon, dll.

6. Kurangi makan sayuran yang berkuah, seperti:

sup, sayur asem, soto, dll.

7. Minum minuman dengan cara menyeruput untuk menimbulkan sensasi cairan dalam mulut lebih lama.Gunakan juga gelas yang lebih kecil

yang tinggi akan meningkatkan rasa haus.

9. Makanan yang terlalu asin dan pedas akan membuat haus, untuk itu batasi konsumsi makanan yang mengandung terlalu banyak sodium dan pedas.

(60)

DATA RESPONDEN

No Initial Pasien BB/Kg Pre Penkes

BB/Kg Post

Penkes DialisisPertama

1 Ny. Mr 73 73 6 Januari 2010

2 Tn. Ag 64 63 18 Agustus 2009

3 Tn. S 64 62 17 Maret 2008

4 Tn. Dsp 57 56 19 Mei 2011

5 Tn. Sm 65 62 5 November 2010

6 Tn. St. B 69 69 11 Januari 2008

7 Ny. Ms 48 48 7 Agustus 2009

8 Tn. Mrks 60 58 25 September 2010

9 Tn. Ms 54 52 4 September 2008

10 Ny. Y 45 44 22 April 2009

11 Ny. BST 53 53 04 Januari 2008

12 Tn. Jmr 45 44 10 Februari 2009

13 Ny. RF 53 52 10 Maret 2009

Referensi

Dokumen terkait

Tabel Hasil Uji Independent Samples T-Test Kadar Air Bagian Paha.. Independent

 Infrastruktur teknologi informasi terdiri dari sekumpulan perangkat dan aplikasi piranti lunak yang dibutuhkan untuk menjalankan manajemen sistem informasi suatu. perusahan

Berdasarkan gambar tabel di atas dapat dipahami bahwa momen torsi yang dibangkitkan dari hasil pembakaran mesin diesel berbahan bakar campuran antara minyak jarak dan

Kegiatan yang berlangsung pada hari Rabu (21/3/2012) di Desa Kaye Kunyet ini dihadiri oleh kepala desa, perwakilan dari Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Besar, serta 15

Apabila sudah memenuhi maka alokasi selanjutnya adalah mengalokasikan ke sebuah sel fisibel (sel layak) yang berbatasan. Perhatikan kapasitas yang tersedia pada permintaan

Bila tidak ada penambahan harga masuk (Rp 0,-) diduga jumlah kunjungan per tahun sebesar 409 orang dengan nilai total ekonomi ekowisata di kawasan TNDS adalah nilai yang

Peserta mampu membuat perencanaan keuangan sederhana, sekaligus dapat memperkirakan program- program yang akan dilakukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga sehingga

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat ditarik kesimpulan; analisa limbah lindi TPA kota Banda Aceh dengan menggunakan metode AAS terhadap parameter