BAB II TINJAUAN PUSTAKA

14  Download (0)

Full text

(1)BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kemuning Kemuning (Murraya paniculata L. Jack), pada umumnya dikenal sebagai Orange Jessamine, merupakan tumbuhan yang tumbuh pada daerah tropis yang memiliki wujud seperti pohon dengan rata-rata pohon dapat tumbuh 3-7 meter. Batang berkayu, beralur, dan berwarna kecokelatan. Memiliki daun yang majemuk dengan anak daun 4-7 selebaran, dengan permukaan daun yang cukup licin, ujung serta pangkal daun yang runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, serta berwarna hijau sepanjang musim. Tumbuhan eksotis ini memiliki bunga berwarna putih dan buah berwarna putih yang apabila berumur tua akan menjadi berwarna merah dengan diameter kurang lebih 1 cm (Permenkes RI, 2016). Berikut spesifikasi tanaman kemuning: (Dalimartha, 2014) Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Species. : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Sapindales : Rutaceae : Murraya : Murraya paniculata (L.) Jack. Secara geografis, tumbuhan kemuning berasal dari daratan India, Asia Selatan. Kemuning bersosok perdu dengan tinggi mencapai 8 meter. Selain tumbuh liar di semak belukar, kemuning juga ditanam orang sebagai tanaman hias. Tempat tumbuhnya dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Daun tumbuhan ini dapat digunakan sebagai penurun kadar kolesterol dalam darah dengan kandungan kimia berupa tannin, flavanoid, steroid, dan alkaloid (Dalimatha Setiawan, 1999).. 3.

(2) Gambar 2. 1 Tanaman Kemuning (Materia Medika, Batu) 2.1.1 Kandungan Senyawa Kimia Daun kemuning mengandung senyawa flavonoid, turunan flavonoid yaitu 3,3’,4’,5,5’,7-heksametoksiflavon, kumarin, alkaloid dan memiliki sifat antioksidan. Senyawa golongan flavonoid yang memiliki kandungan dominan pada daun kemuning tergolong senyawa flavon (Sayar et al., 2014). Selain itu, daun kemuning mengandung senyawa kimia antara lain kadinen, metil-antranilat, bisabolen, ß-karyofilen, geraniol, karen-3, eugenol, sitronelol, metilsalisilat, s-guiazulen, ostol, panikulatin, tanin dan kumurayin. Kulit batangnya mengandung. meksotioin,. 5-7-dimetoksi-8-(2,3-dihidroksiisopentil). kumarin.. Sedangkan, bunga kemuning mengandung skopoletin, dan buahnya mengandung semia-karotenom (Depkes RI, 2016). Alkaloid dan flavonoid merupakan kandungan lain yang terdapat dalam daun kemuning. Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang beracun dan adapula yang dapat berfungsi sebagai obat. Senyawa flavonoid adalah salah satu senyawa yang terkandung dalam daun kemuning. Flavonoid adalah senyawa fenol terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa ini berwarna ungu, merah, biru dan sebagian berwarna kuning dan ditemukan diberbagai tumbuh-tumbuhan (Lenny, 2006). Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol, telah terdeteksi dalam lebih dari 90 tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis. 4.

(3) sel darah. Sifat dari saponin adalah berasa pahit dan tidak beracun pada ternak berdarah panas (Lenny, 2006). Tanin merupakan substansi yang tersebar luas dalam tanaman, seperti daun, buah yang belum matang, batang dan kulit kayu. Tanin merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada beberapa tanaman. Tanin mampu mengikat protein, sehingga protein pada tanaman dapat resisten terhadap degradasi oleh enzim protease (Kondo dkk., 2004). 2.1.2 Khasiat Kemuning Daun kemuning telah terbukti secara ilmiah aman dan mempunyai manfaat yang baik untuk kesehatan, salah satunya adalah mengatasi gangguan nutrisi seperti obesitas (Depkes RI, 2016). Senyawa tanin pada daun kemuning berkhasiat untuk menurunkan kadar lemak daging dengan cara melapisi dinding usus halus, sehingga dapat menurunkan penyerapan zat-zat makanan termasuk lemak (Arief dkk, 2011). Tabel II. 1 Manfaat tanaman kemuning (Amanda et al., 2019): Bagian Tanaman. Manfaat Melancarkan haid, mengobati radang pernafasan, infeksi. Daun. saluran kemih, keputihan, hepatitis, analgesik, diare, obesitas, antidiabet, antimikroba, antiinflamasi. Kulit batang Akar. Sakit gigi, mengobati nyeri karena luka Analgesik, inflamasi, gigitan serangga, bisul, batuk, rematik. 2.2 Penggolongan Obat Tradisional Badan Pengawasan Obat dan Makanan (2004) mengelompokkan obat herbal menjadi tiga bentuk sediaan yaitu sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan sediaan fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda yaitu untuk jamu pemakaiannya secara empirik berdasarkan pengalaman, sediaan herbal tersandar bahan bakunya harus distandarisasi dan sudah diuji farmakologi secara eksperimen, sedangkan sediaan. 5.

(4) fitofarmaka sama dengan obat modern, bahkan harus distandarisasi dan harus melalui uji klinik (BPOM, 2004).. (a). (b). (c). Gambar 2. 2 Logo dan Penandaan Obat Tradisional : (a) Jamu, (b) Obat Herbal Terstandar, (c) Fitofarmaka 2.2.1 Jamu Pengertian jamu dalam Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan serian (generik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (Biofarmaka IPB, 2013). 2.2.2 Obat Herbal Tradisional (OHT) Obat herbal terstandar merupakan hasil penelitian sedian baru maupun pengembangan jamu yang khasiat dan keamanannya telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji pre-klinik (Depkes RI, 2008). 2.2.3 Fitofarmaka Fitofarmaka adalah bentukan obat tradisional dari bahan alam yang bisa disetarakan dengan obat modern karena proses pada pembuatannya yang telah terstandarisasi, hal ini terbukti dengan sudah dilakukannya bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia. Sehingga dengan pengujian uji klinik ini akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal yang akan dugunakan di sarana pelayanan kesehatan (BPOM, 2017). 2.3 Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang. 6.

(5) telah dikeringkan. Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan (DepKes RI, 2000). 2.4 Tinjauan Ekstrak Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (DepKes RI, 2014). Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibedakan menjadi dua cara yaitu: cara dingin dan cara panas. Cara dingin terbagi mejadi dua yaitu: maserasi dan perkolasi, sedangkan cara panas terbagi menjadi empat jenis yaitu: refluks, soxhlet, digesti, infus, dan dekok (Depkes RI, 2000). 2.4.1 Metode Ekstraksi Metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan adalah maserasi dan perkolasi. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan serbuk simplisia dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel., 2012). 2.4.1.1 Maserasi Maserasi merupakan salah satu jenis ekstraksi padat cair yang paling sederhana. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara merendam sampel pada suhu kamar menggunakan pelarut yang sesuai sehingga dapat melarutkan analit dalam sampel. Sampel biasanya direndam selama 3-5 hari sambil diaduk sesekali untuk mempercepat proses pelarutan analit. Ekstraksi dilakukan berulang kali sehingga analit terekstraksi secara sempurna. Kelebihan ekstraksi adalah alat dan cara yang digunakan sangat sederhana, dapat digunakan untuk analit yang tahan terhadap pemanasan atau yang. 7.

(6) tidak tahan terhadap pemanasan. Kelemahannya adalah menggunakan banyak pelarut (Leba, 2017). Pada pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi dilakukan pada suhu kamar 150-200 C. Serbuk simplisia yang akan di ekstrak direndam dalam cairan penyari yang sesuai pada suhu kamar sambil diaduk, kemudian diambil filtratnya dan ditambahkan cairan penyari lagi dan diaduk serta disraing kembali hingga diperoleh sari 100 bagian. Sari yang diperoleh disimpan pada suhu kamar terlindung dari cahaya matahari dan dipekatkan (Ditjen POM, 1986). 2.4.1.2 Perkolasi Perkolasi adalah salah satu jenis ekstraksi padat cair yang dilakukan dengan jalan mengalirkan pelarut secara perlahan pada sampel dalam suatu pelokator. Pada ekstraksi jenis ini, pelarut ditambahakan terus menerus, sehingga proses ekstraksi selalu dilakukan dengan pelarut yang baru. Pola penambahan pelarut yang dilakukan adalah menggunakan pola penetesan pelarut dari bejana terpisah disesuaikan dengan jumlah pelarut yang keluar atau dilakukan dengan penambahan pelarut dalam jumlah besar secara berkala. Proses ekstraksi dilakukan hingga analit dalam sampel terekstraksi sempurna. Indikasi bahwa semua analit telah terekstraksi secara sempurna adalah pelarut yang tidak berwarna (Leba, 2017). 2.5 Tinjauan Granul Granul adalah gumpalan partikel-partikel yang lebih kecil. Umumnya terbentuk tidak beraturan, tetapi dapat membentuk partikel tunggal yang lebih besar. Rentang ukuran biasanya berkisar antara ayakan 4 sampai 12. Meskipun terdiri dari berbagai ukuran lubang ayakan, granul dapat dibuat berdasarkan tujuan penggunaannya. Granul biasanya dikempa menjadi tablet atau sebagai pengisi kapsul, dengan atau tanpa bahan tambahan (Ansel, 2011).. 8.

(7) 2.5.1 Metode Granulasi Basah Metode granulasi basah merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam pembuatan tablet. Beberapa tahapan yang dilakukan dengan metode ini, yaitu menimbang bahan aktif dengan bahan pengisi dan bahan penghancur sesuai kebutuhan, kemudian dilakukan pencampuran ketiga bahan diatas sampai homogen. Tahap kedua yaitu pembuatan granulasi basah. Pada tahap ini perlu dilakukan proses granulasi yaitu mengubah campuran serbuk menjadi granula yang bebas mengalir dalam cetakan, dengan menambahkan cairan pengikat ke dalam campuran serbuk. Penambahan cairan pengikat tidak boleh terlalu basah karena akan sulit terbentuk granul. Sedangkan jika kurang terbasahi, tablet yang dihasilkan terlalu lembut, dan akan hancur selama pelumasan (Sahoo, 2007). Kemudian dilakukan pengayakan adonan yang lembab menggunakan pengayak sesuai dengan ukuran granul yang diinginkan. Selanjutnya granul dikeringkan, lalu dilakukan pengayakan lagi dengan ukuran yang lebih kecil. Tahap berikutnya yaitu pengeringan granul dalam mesin pengering yang menggunakan system sirkulasi udara dan pengendalian temperature. Metode fluid bed dryer merupakan metode pengeringan granul terbaru yang sedang digunakan. Granul akan dikeringkan dalam keadaan tertutup dan diputar-putar sambil dialirkan udara hangat. Namun efektifitas bahan pengikat menjadi pertimbangan dalam proses ini, dimana adanya uap air dalam jumlah kecil akan menyebabkan ketidak sempurnaan pada proses pengeringan granul. Kelebihan jumlah uap air yang tertinggal dapat menyebabkan pecahnya penyalut saat tablet dikompresi. Tahap terakhir yaitu pengayakan kering. Granul dilewatkan melalui ayakan dengan lubang yang lebih kecil dari biasanya. Derajat kehalusan granul tergantung pada tablet yang akan diproduksi. Semakin kecil tablet yang akan diproduksi, maka semakin halus ukuran granul. Kemudian granul dapat dicampurkan dengan bahan tambahan fase eksternal sampai homogen, lalu dikompresi (Ansel, 2012). 2.5.2 Mutu Fisik Granul Mutu fisik granul dilakukan sebagai bahan pembentuk tablet yang memiliki persyaratan dalam kualitas dan mutu yang baik. 9.

(8) 2.5.2.1 Keceptan Alir dan Sudut Diam Aliran granul merupakan persyaratan utama dalam proses manufaktur farmasi. Sifat alir granul dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti sifat fisik granul dan desain peralatan yang digunakan (Parikh, 2005). Parameter ini dapat dilakukan dengan memasukkan sejumlah granul ke dalam corong sampai penuh, kemudian diratakan. Waktu yang dibutuhkan seluruh granul untuk melewati corong adalah waktu alirnya. Laju alir dinyatakan sebagai jumlah gram granul yang melewati corong per detik (Juheini, 2004). Sudut diam adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan dasar bidang horizontal dengan tumpukan patikel yang berbentuk kerucut. Dalam penetapannya, dilakukan dengan menggunakan corong. Corong harus dalam keadaan tetap, dengan jarak 2,5 cm diatas bidang dasar. sebanyak 50 g sampel dilewatkan dalam corong dan akan membentuk timbunan granul seperti kerucut (Shah, 2008). Sudut istirahat dihitung dengan persamaan dibawah ini: ℎ 𝜃 = 𝑡𝑎𝑛−1 ( ) 𝑟 Keterangan: h = ketinggian butiran yang membentuk kerucut r = jari – jari yang diukur dari dasar kerucut 𝜃= Sudut istirahat (Shah, 2008). Hasil perhitungan dari persamaan diatas dinyatakan valid bila kerucut yang terbentuk simestris (Shah, 2008). Apabila kerucut yang terbentuk datar, maka sudut kemiringannya semakin kecil, sehingga sifat alir serbuk semakin baik (Voight, 1994). Tabel II. 2 Hubungan Sudut Diam dan Daya Alir (Aulton, 2002). Sudut Diam. Daya Alir. < 20. Sangat Baik. 20 – 30. Baik. 30 – 34. Cukup Baik. > 40. Sangat Buruk. 10.

(9) 2.5.2.2 Kandungan Lengas Kandungan lengas yang terlalu rendah meningkatkan kemungkinan terjadinya capping (permukaan tablet pecah atau retak atau timbul garis pada tablet) sedangkan kandungan lengas yang terlalu tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya picking (adanya granul tablet yang menempel pada dinding die atau mesin cetak tablet). Persyaratan granul yang baik memiliki kandungan lengas 1-2% (Aulton, 2002). Untuk itu, diperlukan perhitungan kandungan lengas pada suatu sediaan tablet. 2.5.2.3 Kadar Fines Berdasarkan ukurannya, granul dan serbuk memiliki rentang ukuran diameter yang bervariasi. Mulai dari yang sangat kasar yaitu dengan diameter 10 mm (1 mm) hingga ukuran fines lolos pada mesh 120. Tujuan pemeriksaan distribusi ukuran partikel ini adalah untuk mendapatkan data kuantitatif ukuran, distribusi, dan bentuk obat serta komponen lain yang digunakan dalam formulasi. Ukuran partikel granul akan mempengaruhi laju disolusi, bioavailabilitas, dan distribusi bahan obat yang menjamin keseragaman kandungan dosis (Ansel., 2012). Metode yang digunakan dalam menentukan kadar fines granul ini adalah pengayakan dengan menggunakan alat shieve shaker. Metode ini dilakukan dengan menggetarkan partikel secara mekanik melewati suatu deret pengayak yang telah diketahui ukurannya semakin kecil dan proporsi serbuk yang lewat atau tertinggal pada masing-masing pengayak ( Ansel, 2014). Distribusi ukuran granul dilakukan untuk mengetahui jumlah fines yang terdapat dalam granul. Fines adalah pertikel yang memiliki ukuran kurang dari mesh 100. Jumlah fines tidak boleh terlalu banyak (< 20%) agar tidak terjadi masalah saat mencetak tablet (Ansel., 2012). 2.5.2.4 Kompresibilitas Kemampuan serbuk membentuk massa kompak dengan pemberian tekanan tergantung pada karakteristik kompresibilitas serbuk tersebut. Kompresibilitas serbuk tersebut. Kompresibilitas serbuk dapat segera diketahui dengan menggunakan penekanan hidrolik. Serbuk yang dapat membentuk tablet yang keras tanpa. 11.

(10) menunjukkan kecenderungan "capping" dapat dianggap kompresibel (Siregar, 2010). Dalam ukuran granul dan bentuk granul yang dipengaruhi oleh kompresibilitas, jika semakin kecil kerapatan bulk yang diperoleh maka akan semakin baik sifat alirnya (Alfenjuni & Gusmayadi, 2012). Tabel II. 3 Hubungan Indeks Kompresibilitas dan Kemampuan Alir (Aulton,2002) % Kompresibilitas. Kemampuan Alir. 5-10. Sangat baik. 12-16. Baik. 18-21. Cukup baik. 23-28. Cukup. 28-35. Jelek. 35-38. Sangat jelek. >40. Sangat jelek sekali. 2.5.2.5 Kompaktibilitas Uji kompaktibilitas berfungsi untuk mengetahui kemampuan suatu serbuk atau granul yang akan dikempa untuk membentuk massa yang kompaktibel setelah diberikan tekanan tertentu (Siregar, 2010). Kompaktibilitas sendiri adalah kemampuan serbuk membentuk massa kompak dengan pemberian tekanan tergantung pada karakteristik kompresibilitas serbuk tersebut. Kompresibilitas serbuk dapat segera diketahui dengan menggunakan penekanan hidrolik. Serbuk yang dapat membentuk tablet yang keras tanpa menunjukkan kecendrungan “capping” dapat dianggap kompresibel. 2.6 Tinjauan Tablet Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan (DepKes RI, 2014). Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang paling. 12.

(11) banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan. (Depkes RI, 2014). Dalam formulasi tablet, selain bahan aktif obat, bahan tambahan juga memiliki peran penting. Eksipien atau bahan tambahan ini berperan sebagai agen pelindung dan meningkatkan bioavailabilitas obat. Bahan tambahan yang digunakan tidak boleh memiliki interaksi dengan bahan aktif. (Chaudari, 2012). Beberapa bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan tablet adalah sebagai berikut: 2.6.1 Bahan Pembawa Tablet Pada dasarnya bahan pembantu tablet harus bersifat netral, tidak berbau, tidak berasa dan sepadat mungkin tidak berwarna. Komposisi umum dari tablet adalah zat berkhasiat, bahan pengisi, bahan pengikat atau perekat, bahan pengembang dan bahan pelicin. Kadang-kadang dapat ditambahkan bahan perasa (flavoring agent), bahan pewarna (coloring agent) dan bahan-bahan lainnya (Ansel, 1989). Penambahan bahan tambahan dimaksudkan untuk membantu agar dihasilkan tablet yang memenuhi persyaratan. Bahan tambahan sebaiknya dapat meningkatkan sifat aliran dan memungkinkan pencetakan menjadi bentuk tablet yang kompak. 2.6.1.1 Bahan Pengisi Bahan pengisi ditambahkan pada formulasi jika jumlah zat aktif sedikit atau bahan sulit dikempa, dengan tujuan yakni untuk memperbesar volume dan juga berat tablet. Bahan pengisi tablet yang umum digunakan adalah laktosa, pati, kalsium fosfat dibasa, dan selulosa mikrokristal (Depkes RI, 2014) Bahan pengisi berfungsi untuk menambah bulk (bobot) bila dosis obat tidak cukup untuk membentuk bulk. Bahan pengisi diperlukan untuk memperbaiki daya. 13.

(12) kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu sifat alir (Sulaiman, 2007). 2.6.1.2 Bahan Penghancur Bahan penghancur merupakan bahan yang membantu dalam menghancurkan tablet dalam saluran cerna. Bahan penghancur ini akan mendorong hancurnya massa padat menjadi partikel yang lebih kecil, sehingga mudah terdispersi. Contoh superdisintegran: primogel, poliplasdon dan Acdisol. (Ansel, 2012). 2.6.2 Mutu fisik tablet Setelah tablet dikompresi, kemudian pemeriksaan mutu fisik tablet meliputi kekerasan tablet, kerapuhan tablet, dan waktu hancur tablet. 2.6.2.1 Kekerasan Tablet Dalam formulasi tablet, perlu dilakukan uji kekerasan untuk menjamin tablet tidak patah selama proses distribusi dan cukup lunak untuk dapat hancur dan memiliki kekerasan yang cukup agar proses pelepasan baik setelah masuk kedalam tubuh. Kekerasan tablet dipengaruhi oleh tekanan yang diberikan selama proses pencetakan. Semakin besar tekanan yang diberikan, maka tablet yang dihasilkan pun semakin keras. Dalam mengukur kekerasan tablet, biasanya digunakan alat bernama hardness tester. Kekerasan sekitar 4-8 kg merupakan persyaratan minimal untuk tablet yang baik (Ansel, 2014). 2.6.2.2 Kerapuhan Tablet Uji kerapuhan merupakan metode yang digunakan untuk menentukan kekuatan fisik tablet setelah terpapar tekanan mekanis dan gesekan selama proses manufaktur, distribusi, sampai pada diterima konsumen (Saleem, et al., 2014). Kerapuhan tablet dapat ditentukan dengan menggunakan alat friabilator atau friability tester. Alat tersebut bekerja dengan membiarkan tablet berputar dan jatuh dalam drum. Tablet ditimbang sebelum dan sesudah putaran tertentu, kemudian dihitung bobot tablet yang hilang selama proses pengujian (Ansel, 2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi kerapuhan tablet antara lain tekanan mesin pada saat penabletan (Sulaiman, 2007). Tablet cetak konvensional yang kehilangan bobot maksimum kurang. 14.

(13) dari 1% dari berat awal dapat dianggap telah memenuhi persyaratan uji kerapuhan (Saleem, et al., 2014) 𝐹(𝑘𝑒𝑟𝑎𝑝𝑢ℎ𝑎𝑛) =. 𝑊2 − 𝑊1 𝑥 100 % 𝑊2. Keterangan: W1 = bobot mula – mula dari 10 tablet W2 = bobot setelah pengujian 2.6.2.3 Waktu Hancur Tablet Waktu hancur tablet ini bertujuan agar komponen obat dapat diabsorbsi dalam saluran pencernaan. Oleh karena itu tablet harus hancur dan melepaskan obatnya dalam cairan tubuh. Waktu hancur tablet yang baik adalah sekitar 15 menit, untuk tablet bersalut gula dan selaput memiliki waktu hancur yang baik sekitar 60 menit (Depkes RI, 2014). Proses pengujian waktu hancur dilakukan dengan memasukka tablet kedalam keranjang yang diisi 1 L air, sebagai cairan lambung atau usus dengan suhu 37±2ºC. Keranjang akan naik turun dalam cairan perendam dengan frekuensi 28-32 siklus per menit dengan jarak 5-6cm. Tablet harus hancur pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan monografi (Depkes RI, 2014). 2.7 Tinjauan Bahan Penelitian 2.7.1 Laktosa Laktosa memiliki ciri-ciri yaitu serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa agak manis. Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih, sukar larut dalam etanol (95%) dan praktis tidak larut dalam kloroform dan eter (Depkes RI, 2014). Laktosa dengan rumus kimia C12H22O11 dengan bobot molekul 342,30. Merupakan sediaan serbuk berwarna putih atau hampir putih. Mudah larut dalam air namun sedikit larut dalam etanol 95%. Stabilitas saat penyimpanan kurang baik, karena dapat berubah warna menjadi coklat. Pada kondisi lembab (RH > 80%) dapat mempercepat pertumbuhan jamur. Umumnya laktosa digunakan sebagai bahan. 15.

(14) pengisis dalam sediaan tablet cetak langsung. Efek samping laktosa adalah intoleransi laktosa (Rowe, 2015).. Gambar 2. 3 Struktur Laktosa 2.7.2 Primogel Primogel merupakan derivat amilum kentang yang memiliki sifat seperti carboxymethyl cellulose. Nama lain dari primogel adalah sodium starch glycolate atau sodium carboxymethyl starch, merupakan serbuk putih atau hampir putih, mudah mengalir dan serbuk higroskopis. Bahan ini stabil meskipun sangat higroskopis, harus disimpan dalam wadah tertutup baik untuk melindungi dari kelembaban agar tidak menyebabkan penggumpalan (Rowe et al., 2015). Primogel merupakan salah satu dari superdisintegrant yang efektif digunakan dalam pembuatan tablet secara granulasi basah maupun cetak langsung. Primogel efektif pada kadar 2-8% dan kadar diatas 8%, umumnya menambah waktu hancur tablet. Kemampuan Primogel sangat baik karena kemampuan mengembangnya yang cukup. besar. dengan. tetap. mempertahankan. keutuhan. tabletnya. sehingga. pengembangan tersebut dapat memberikan dorongan ke daerah sekitarnya sehingga membantu proses pecahnya tablet. Keuntungan penggunaan primogel adalah dapat dengan cepat terjadi penyerapan air. Primogel menyebabkan waktu hancur cepat yaitu sekitar 2 menit, efektif dalam hal ketersediaan serta murah dan ekonomis. Namun, primogel memiliki kekurangan yaitu tidak dapat digunakan dengan kadar yang tinggi atau lebih dari 8%. Hal tersebut dikarenakan pada penggunaan yang tinggi dapat menyebabkan desintegrasi meningkat sehingga efek viskositas juga akan meningkat (Priyanka dan Vandana, 2013) .. 16.

(15)

Figure

Tabel II. 1 Manfaat tanaman kemuning (Amanda et al., 2019):

Tabel II.

1 Manfaat tanaman kemuning (Amanda et al., 2019): p.3
Tabel II. 2 Hubungan Sudut Diam dan Daya Alir (Aulton, 2002).

Tabel II.

2 Hubungan Sudut Diam dan Daya Alir (Aulton, 2002). p.8
Tabel II. 3 Hubungan Indeks Kompresibilitas dan Kemampuan Alir (Aulton,2002)

Tabel II.

3 Hubungan Indeks Kompresibilitas dan Kemampuan Alir (Aulton,2002) p.10
Gambar 2. 3 Struktur Laktosa  2.7.2 Primogel

Gambar 2.

3 Struktur Laktosa 2.7.2 Primogel p.14

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in