GUBERNUR SULAWESI TENGAH
PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH NOMOR
2
TAHUN 2015TENTANG
PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA SULAWESI TENGAH
Menimbang:
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGAH,
a.
bahwa Taman
Hutan
Raya sebagaisalah
satu
sumberalam hayati
dan
ekosistemnya
yang tinggi
dengan keanekaragg.r'_aannya merupakan kekayaan ar-am sebalai anugerahT\rhan
yang
Maha Esa
peilu
dike101""""ir"
aman,
terkendali
dan
terarah
untuk
kesejahteraan masyarakat;b.
bahwa perkembanganlingkungan
strategis yang berbasislokal
daerah berupa pemekaran wilayah-k."u.*atan
danperdesaan,
pesatnya
perkembangan
teknologitransportasi,
pesatnyapertumbuhan
jumlah
pendudu-kyang
berhubungan
dengan
meningkatnya
tekananterhadap sumber daya alam serta bergesernya paradigma
pengelolaan
konservasi
merupakan
kondisi
ylrrg
mengancam kele_starian pemanfaatan Taman
Hutan
it"y"
sulawesi
Tengah
untuk
kepentingan penelitian,
ihiu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya,
pariwisata dan rekreasi;
c.
bahwa dalam rangka melaksanakan kewenangan provinsidalam
perlindungan,
pengawetan
dan
pimanfaatansecara
lestari
taman
hutan
raya
lintas
daerahkabupaten/kota
pada
Taman
Hutan
Raya
sulawesi Tengah perludiatur
dengan peraturan Daerair;d. bahwa
berdasarkan pertimbangan
sebagaimanadimaksud dalam
huruf a, huruf
b
dan
hurufl
perlumenetapkan Peraturan
Daerah
tentang
pengelolaan Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah;1. Pasal 18 ayat (6) undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun
L94S;2.
Undang-Undang
Nomon
13 Tahun
1964
tentangPenetapan
Peraturan pemerintah pengganti
UndangrUndang Nomor
2
Tahun
1964 tentang
pembentukanDaerah
ringkat
I
Sulawesirengah dan Dlerah Tingkat
Isulawesi
Tenggaradengan mengubah
undang-Uia.rg
Nomor
47
PrpTahun
1960 tentang pembentukan Daeraf,Tingkat
I
sulawesi
Utara-Tengahdan
DaerahTingkat
Isulawesi
Selatan-Tenggara(Lembaran
Negara RepublikIndonesia
Tahun
1964 Nomor 7) menjadi undang-undang(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun tg6+
Nomoi94,
Tambahan Lembaran Negara
Republik
IndonesiaNomor 2687);
3.
undang-Undang
Nomor
2s rahun 2or4
tentangPemerintahan
Daerah
(Lembaran
Negara
RepublikIndonesia Tahun
2or4
Nomor244,
Tarnoahan LembaranNegara
Republik
IndonesiaNomor
55s7)
sebagaimanatelah
diubah_terakhir denganperaturan
0ndang--i-lndangNomor
9
Tahun
2ors
tentang perubahan Kedua
atasundang-undang
Nomor
23
Tahun
2ot4
tentangPemerintahan
Daerah
(Lembaran
Negara
RepubHfIndonesia
Tahun
2oLs
Nomor5g, Tamb.han
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 56T8)4.
undang-Undang
Nomor
4t rahun rggg
tentangKehutanan
(Lembaran NegaraRepublik
Indonesia Tahun 1999Nomor
146, Tambahan Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 3B8s) sebagaimana telah diubah dlngan
Undang-undang
Nomor
rg rahun
2oo4
tentlng
Penetapan
Peraturan pemerintah pengganti
undangrUndang Nomor
1
Tahun 2oo4 tentang perubahan
atasundang-Undang
Nomor
4r rahun- rggg
tentangKehutanan Menjadi undang-Undang
(Lembaran NegaraRepublik
IndonesiaTahun
2oo4
Nomor
g6,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a4L2);5.
Undang-Undang
Nomor
3T
Tahun
2ot4
tentang Konservasiranah
dan
Air
(Lembaran Negara RepublikIndonesia
Tahun
2ol4
Indonesia Nomor2gg,
TamtahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 560g);
6.
Peraturan Pemerintah Nomor
36
Tahun
2olo
tentangPengusahaan
Pariwisata
Alam
di
suaka
Margasatwal Taman Nasional, TamanHutan
Rayadan
Taman wisataAlam
(Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun
2olo
Nomor
44,
Tambahan
Lembaran Negara
RepubrikIndonesia Nomor 5116);
7.
Peraturan Pemerintah Nomor
2g
rahun
2olt
tentangPengelolaan
Kawasan
suaka
Alam dan
Kawasan PelestarianAlam
(Lembaran NegaraRepublik
IndonesiaTahun
2011
Nomor
56,
Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor S2lT).Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH
dan
GUBERNUR SULAWESI TENGAH
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
:
PERATURANDAERAH
TENTANG PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA SULAWESI TENGAH.BAB
I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah
ini,
yang dimaksud dengan:1.
TamanHutan
Rayayang
selanjutnyadisingkat
TAHURAadalah
kawasan pelestarianalam
untuk
tujuan
koleksitumbuhan danlatau
satwa yang alami atau buatan, jenisasli
dan/atau bukan
asli,
yang
dimanfaatkan
bagikepentingan penelitian,
ilmu
pengetahu.an, pendidikan,menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi di Sulawesi Tengah.
2.
KawasanHutan
adalah wilayahtertentu
yang ditetapkanoleh
pemerintah
untuk
dipertahankan
keberadaannya sebagaihutan
tetap.3.
Kawasan PelestarianAlam adalah
kawasan denganciri
khas
tertentu,
baik
di
darat maupun
di
perairan
yangmempunyai
fungsi
perlindungan
sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragamanjenis
tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.4.
Blok
Perlindungan adalah bagian kawasantaman
hutan raya yangmutlak dilindungi, tidak
diperbolehkan adanyaperubahan
apapun
oleh
aktifitas
manusia
danpengunjung
dilarang
memasuki
kecuali
untuk
kepentingan penelitian dan pengelolaan kawasan.
5.
Blok
Pemanfaatanadalah bagian
dari
kawasan
tamanhutan
raya yang dijadikan kegiatan wisata, pengusahaan, pengelolaan dan pengembangan.6.
Blok
Koleksiadalah
bagiandari
kawasantaman
hutanraya yang dijadikan
untuk tujuan
koleksi
tumbuhandanf
atau
satwa
yang alami
atau
buatan,
jenis
aslidan/atau
bukan asli, yang
dimanfaatkan
bagikepentingan penelitian,
ilmu
pengetahrran, pendidikan,menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
7.
Blok
tradisional adalah bagian
dari
kawasan
tamanhutan taya yang
ditetapkan
untuk
kepentinganpemanfaatan tradisional
oleh
masyarakat
yang
secaraturun-temurun
mempunyai
ketergantungan
dengan sumber daya alam.8. 9. 10. 11.
t2.
13. 17. 18.Blok
rehabilitasi adalah bagian
dari
kawasan TAHURAyang
mengalami kerusakan,
sehinggaperlu
dilakukan kegiatan pemulihankomunitas hayati dan
ekosistemnya yang mengalami kerusakan.Blok
religi,
budaya,
dan
sejarah
adalah
bagian
darikawasan TAHURA yang didalamnya
terdapat situs
religi,peninggalan
warisan budaya,
danfatau
sejarah
yangdimanfaatkan
untuk
kegiatan keagamaan, kegiatan adat-budaya, perlindungannilai-nilai
budaya, atau sejarah.Blok khusus
adalah bagiandari
kawasantaman hutan
raya yang
diperuntukan
bagi
pemukiman
kelompokmasyarakat
dan aktifitas
kehidupannya
dan/atau
bagikepentingan
pembangunansarana telekomunikasi
danlistrik,
fasilitas transportasi, dan lain-lain yang
bersifat strategis.Rencana
PengelolaanJangka Panjang adalah
rencanapengelolaan
makro yang bersifat
indikatif
disusunberdasarkan
kajian
aspek ekologi, ekonomi
dan
sosialbudaya
dengan
memperhatikan
partisipasi,
aspirasi,budaya masyarakat
dan
rencana pembangunan daerahf wilayah.Rencana
PengelolaanJangka
Pendek
adalah
rencanapengelolaan
yang bersifat
teknis
operasional,kualitatif
dan
kuantitatif, disusun
berdasarkan
dan
merupakan penjabaran dari rencana pengelolaan jangka menengah.Penelitian
adalah
kegiatan
yang
dilakukan
menurutkaidah
dan
metode
ilmiah
secara
sistematis untuk
memperoleh
informasi,
data dan
keterangan
yangberkaitan dengan
pemahaman
dan
pembuktian kebenaranatau
ketidakbenaransuatu
asumsidan/atau
hipotesisdi
bidangilmu
pengetahuan dan teknologi sertamenarik
kesimpulan
ilmiah
bagi
keperluan
kemajuanilmu
pengetahuan dan teknologi.14. Pengusahaan
Pariwisata
alam
adalah
suatu
kegiatanuntuk
menyelenggarakanusaha yang
menyediakanbarang dan/atau
jasa
wisata
alam bagi
pemenuhankebutuhan wisatawan, termasuk pengusahaan obyek dan
daya
tarik
serta usaha yangterkait
dengan wisata alamdi
suaka
margasatwa,taman
nasional,
taman
hutan
raya,
dan
taman wisata
alam
berdasarkan
rencana pengelolaan.15.
Wisata Alam adalah kegiatan pedalanan
atau
sebagiandari
kegiatan perjalanan yangdilakukan
secara sukarela dan bersifat sementara,untuk
menikmati gejala keunikandan keindahan alam.
16. Pengambilan
Gambar
adalah
karya seni
pengambilangambar terhadap obyek
baik
tetap
maupun
bergerakmelalui
rekaman
dalam
klise
maupun
digital
dengantujuan untuk
keterampilan
dalam
khalayak ramaidan latau memperolehnilai
ekonomi.Pemanfaatan
air
adalah pemanfaatan massa
air
yangterdapat
pada
permukaantanah
dandi
atas permukaantanah, yang berada dalam TAHURA.
Pemanfaatan energi
air
adalah
pemanfaatanjasa
aliranair
yang
terdapat pada permukaan
tanah
dan
diatas19.
Badan adalah
sekumpulanorang danlatau
modal yangmerupakan kesatuan
baik
yang
melakukan
usahamaupun yang
tidak
melakukan
usaha yang
meliputiperseroan
terbatas,
perseroan
komanditer,
perseroanlainnya,
Badan UsahaMilik
Negara (BUMN)atau
BadanUsaha
Milik
Daerah
(BUMD) dengannama
dan
dalambentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana
pensiun,persekutrlan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa,organisasi sosial
politik, atau
organisasiyang
1ainnya, Lembaga dalambentuk
badanlainnya
termasuk kontrakinvestasi, kolektif dalam bentuk usaha tetap.
20.
Pembinaan
adalah
segala
usaha
yang
mencakuppemberian
pengarahan,
petunjuk,
bimbingan
dan penyuluhan dalam pengelolaan Taman Hutan Raya.21.
Pengawasan
adalah
serangkaian
kegiatan
untuk
mengLrmpulkan,mengolah
data
danfatau
keteranganlainnya
untuk
menguji kepatuhan
dalam
pengelolaan Taman Hutan Raya.22.
Pengendalian
adalah
segala
usaha yang
mencakupkegiatan pengaturan,
penelitian dan
pemantauanuntuk
menjamin
terselenggaranya pengelolaanTaman
HutanRaya
Sulawesi
Tengah
yang
optimal
berdasarkanfungsinya,
dengan
tetap
memperhatikan
fungsi konservasi.23. Pengunjung
adalah setiap orang
danfatau badan
yangmelakukan kunjungan
dan/atau
penelitian
dan/atau
kegiatan-kegiatan
lainnya
di
dalam
kawasan
TamanHutan
Raya Sulawesi Tengah.24.
Retribusi
Daerah
yang
selanjutnya
disebut
retribusi
adalah
pungutan
daerah
yang
dikenakan
terhadappengunjung
dan/atau
usaha komersialdi
dalam kawasanTaman
Hutan
Raya Sulawesi TengahProvinsi
Sulawesi Tengah.25. Daerah adalah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah.
26.
Pernerintah Daerah
adalah Gubernur
sebagai unsur
penyelenggaraPemerintahan Daerah
yang
memimpinpelaksanaan
urusan
pemerintahan
yang
menjadi kewenangan daerah otonom27. Gubernur adalah Gubernur Sulawesi Tengah.
28. Dinas adalah Dinas Daerah yang mempunyai tugas pokok melaksanakan otonomi daerah
di
bidang kehutanan.29.Unit
Pelaksana Teknis Dinasyang
selanjutnya disingkat UPTDadalah
Unit
PelaksanaTeknis pada Dinas
yangmempunyai
tugas pokok
melaksanakan
sebagiankegiatan
teknis
operasional
danfatau
kegiatan
teknispenunjang Dinas
di
bidang
pengelolaanTaman
Hutan Raya.30.
Kementerian
adalah
Kementerian
yang
membidangiurusan
di bidang kehutanan. Pasal 2Ruang
lingkup
pengaturan
dalam
Peraturan Daerah ini
meliputi:a.
pengelolaan;b.
penzrnan;c.
kerjasama;d.
pendanaan;e.
pemberdayaan dan peran serta masyarakat; danf.
pembinaan, pengawasan dan pengendalian.BAB
II
PENGELOLAANBagian Kesatu Umum Pasal 3
(1)
TAHURA
terletak
pada
Kelompok
Hutan
Poboya,Kelompok
Hutan
Paneki
dan eks
Pekan
Penghijauan Nasional Ngatabaru.(2) TAHURA sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1) terletakdi:
a.
Kabupaten Sigi meliputi:1.
Desa Pombewe;2.
Desa Loru; dan3.
Desa Ngatabaru;b.
Kota Palu meliputi:1.
Kelurahan Kawatuna;2.
Kelurahan Lasoani;3.
Kelurahan Poboya;4.
Kelurahan Tondo; dan5.
Kelurahan Layana Indah.(3) TAHURA sebagaimana
dimaksud
pada
ayat (2)
seluas7.128 Ha (tujuh
ribu
seratusdua
puluh
delapan hekto are).(4)
Dalam
hal
terjadi
perubahan
administratif
desa
dankelurahan
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(2),perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Gubernur mengacu
pada Peraturan Daerah Kabupaten Sigi
danPeraturan Daerah Kota Palu.
(5) Dalam hal terjadi perubahan luas TAHURA sebagaimana
dimaksud
pada ayat (3)
mengacu
pada
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengahtentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi.Pasal
4
(1)
Pengelolaan TAHURA mencakup kegiatan:a.
perencanaan;b.
perlindungan;c.
pengawetan; dand.
pemanfaatan.(2)
Pengelolaan TAHURA sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan oleh UPTD.Bagian Kedua
Pengelolaan TAHURA
Paragraf 1
Perencanaan Pasal 5
(1) Perencanaan
TAHURA
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal4
ayat (1)huruf
a meliputi kegiatan:a. inventarisasi potensi kawasan; b. penataan kawasan; dan
c. penJrusunan rencana pengelolaan.
(2)
Inventarisasi
potensi kawasan
sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
huruf
a adalahuntuk
memperoleh data daninformasi berupa
aspek ekologi, ekonomi
dan
sosial budaya.(3) Penataan kawasan sebagaimana dimaksud ayat (1)
huruf
b
berupa
pen)rusunanblok
pengelolaandan
penataanwilayah kerja.
(4)
Penyusunan
rencana
pengelolaan
sebagaimanadimaksud ayat
(1)
huruf
c
meliputi
rencana
jangkapanjang dan rencanajangka pendek. Pasal 6
(1)
Inventarisasi potensi kawasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5huruf
adilakukan
oleh UPTD.(2) Ketentuan
lebih
lanjut
mengenaitata cara
pelaksanaaninventarisasi
potensi kawasandiatur
dengan PeraturanGubernur.
Pasal 7
(1)
Penataan kawasanhutan
sebagaimanadimaksud
dalamPasal
5
huruf
b
berupa kegiatan penataan
kawasan TAHURA ke dalam blok meliputi:a.
blok Perlindungan;b.
blok Pemanfaatan; danc.
blok Lainnya.(2)
Blok
lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat(1)
huruf
cterdiri
atas:a.
blok koleksi tumbuhandan/atau
satwa;b.
blok rehabilitasi;c.
blok tradisional;d.
blok religi, budaya dan sejarah; dane.
blok khusus.(3) Pembagian
Blok
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
Pasal 8
(1)
Pen5rusunan rencana pengelolaan TAHURA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) sebagai berikut:a.
Rencana pengelolaanjangka
panjang,disusun
untuk
jangkawaktu
10 (sepuluh)tahun;
danb.
Rencana pengelolaanjangka pendek, disusun untuk
(2\
Rencana pengelolaan sebagaimana dimaksudpada
ayat(1) disusun sebagai acuan pengelolaan dengan prioritas:
a.
penyediaan saranadan
prasarana serta kelembagaanpengelolaan yang memadai;
b.
peningkatankualitas
hutan
sebagai sistem penyangga kehidupan; danc.
pengawetan
tumbuhan
danfatau
satwa
langka,tumbuhan dan/atau
satwa yangmemiliki nilai
budayadan
kearifan
lokal
bagi
masyarakat,
khususnyamasyarakat Daerah
dan
tumbuhan yang
berpotensiuntuk
menunjang budidaya.(3) Ketentuan lebih
lanjut
mengenaitata
cara
pen5rusunanrencana
pengelolaanTAHURA
sebagaimana dimaksudpada
ayat
(1)diatur
dengan PeraturanGubernur
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Paragraf 2
Perlindungan
Pasal 9
Perlindungan TAHURA sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal4
ayat (1)huruf
b
diselenggarakanuntuk
menjaga kawasan TAHURA dan lingkungannya sebagai kawasan konservasi.Pasal 10
(1) Perlindungan TAHURA
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 9 diselenggarakan berdasarkan prinsip:a. mencegah
dan
mengatasi
kerusakan
kawasan TAHURAyang
disebabkanoleh perbuatan
manusia,ternak, kebakaran, daya alam, hama,
dan
penyakit; danb. mempertahankan
dan
menjaga
hak
Negara,masyarakat dan
peroranganatas
kawasan TAHURA, dan perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.(2)
Pelaksanaan
perlindungan
kawasan
TAHURA sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1) dilakukan
dalambentuk:
a.
sosialisasi;b.
pemberdayaan masyarakat sekitar hutan;c.
patroli pengamanan kawasan;d.
operasi;e.
pemeliharaan; danf.
pengenaan sanksi terhadap pelanggaran hukum.(3) Kegiatan
sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1)
dapatdilakukan di
semua blok.Pasal 11
Pemeliharaan
TAHURA
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 10 ayat (2)huruf
e meliputi kegiatan:a.
pemeliharaan batas kawasan; danb.
pembinaan dan pengawasan potensi kawasan.Kegiatan
sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1)
dapatdilakukan di
semua blok.(1)
(21
(1)
(2)
(3)
Pasal 12
Kegiatan
penebanganatau
pemangkasanpohon
untuk
kepentingan perlindungan
dan
penelitian,
serta pembangunan saranadan prasarana
pengelolaan dapatdilakukan
di TAHURA.Pelaksanaan penebangan
atau
pemangkasan
pohonsebagaimana
dimaksud pada
ayat
(1) dilakukan
sesuai d.engan ketentuan peraturan perundang-undangan.Hasil
penebangan
atau
pemangkasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dimanfaatkanuntuk
kepentingan sosial dan
tidak
diperdagangkan. Paragraf 3Pengawetan
Pasal
13pengawetan sebagaimana d"imaksud
dalam
Pasal4
ayat
(1)huruf
c meliputi:a. pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa beserta habitatnya; b. penetapan koridor hiduPan liar;
c. pemulihan ekosistem; dan d. penutupan kawasan.
Pasal 14
(1)
'
'
Pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa beserta habitatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13huruf
a meliputi:a.
identifikasi jenis tumbuhan dan satwa;b.
inventarisasi jenis tumbuhan dan satwa;c.
pemantauan;d.
pembinaan habitat dan PoPulasi;e.
penyelamatan jenis; danf.
penelitian dan Pengembangan.(2)
'
'sebagaimana
Pengelolaantumbuhan
dan
satwa
beserta
habitatnyadimaksud pada
ayat
(1) dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan'Pasal 15
(1) penetapan
koridor hidupan
liar
sebagaimana dimaksuddalam Pasal
13 huruf
b
dilakukan
untuk
mencegahterjadinya
konflik
kepentingan
antara
manusia
danhidupan
liar
serta memudahkan hidupan
liar
bergerak sesuai daerahjelajahnya
dari
satu
kawasanke
kawasan lain.(2) Penetapan
koridor hidupan
liar
sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
pada wilayah
bukan
kawasan
hutanditetapkan secara bersama
oleh
kepala UPTD
dengankepala satuan kerja perangkat daerah setempat.
(3) penetapan
koridor hidupan
liar
sebagaimana dimaksudpada
ayat
(1)
pada kawasan
hutan
ditetapkan
secaraL"t"r.*^
oleh
Kepala UPTD dengan
para
kepala
unit
pengelola
kawasan
yang
dihubungkan
oleh
koridor hidupan liar.Pasal 16
(1) Pemulihan ekosistem sebagaimana dimaksud dalam pasal
13
huruf
c dilakukanuntuk
memulihkanstruktur,
fungsi,dinamika
populasi,
serta
keanekaragamanhayati
J",
ekosistemnya.
(2) Pemulihan ekosistem sebagaimana dimaksud
pada
ayat(1)
dilakukan
melalui: a. mekanisme alam; b. rehabilitasi; dan c. restorasi.(3) Mekanisme
alam
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(2)huruf
a
dilakukan
dengan menjaga
dan
melindungiekosistem
agar
proses pemulihan
ekosistem
dapat berlangsung secara alami.(4) Rehabilitasi sebagaimana dimaksud
pada
ayat(21
huruf
b
dilakukan melalui
penanamanatau
pengkayaan jenistanaman.
(5) Restorasi sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(2)huruf
cdapat
dilakukan
melalui
kegiatan
pemeliharaan,perlindungan,
penanaman, pengkayaanjenis
tumbuhandan
satwa
liar,
atau
pelepasliaran
satwa
liar
hasilpenangkaran atau relokasi satwa
liar
dari lokasi lain.(6) Pemulihan ekosistem
pada
Kawasan TAHURA dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.Pasal 17
Dalam
hal
terdapat
kondisi
kerusakan
yang
berpotensimengancam kelestarian Kawasan Pelestarian
Alam
TAHURAdan/atau kondisi yang dapat
mengancam
keselamatanpengunjung
atau
kehidupan
tumbuhan
dan
satwa,
UPTDdapat
melakukan penghentian kegiatan
tertentu
danf ataumenutup
kawasan sebagianatau
seluruhnya
untuk
jangkawaktu
tertentu.Paragraf 4 Pemanfaatan
Pasal 18
Pemanfaatan TAHURA sebagaimana dimaksud
dalam
pasal 4 ayat(l)huruf
d dilakukanuntuk
keperluan:a.
penelitian
dan
pengembanganilmu
pengetahuan
dan teknologi;b.
pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi;c.
koleksi kekayaan keanekaragaman hayati;d.
penyimpanan danf atau penyerapan karbon;e.
pemanfaatan energi panas dan angin;f.
pemanfaatan air dan energi air;g.
pemanfaatan wisata alam;h.
pengambilan gambar;i.
pemanfaatan
tumbuhan
dan
satwa
liar
dalam
rangkamenunjang
budidaya
dalam bentuk
penyediaan plasmanutfah;
(1)
j.
pemanfaatan tradisional oleh masyarakat setempat;k.
pemanfaat religi, budaya, dan sejarah; dan1.
pembinaanpopulasi melalui
penangkarandalam
rangkapengembangbiakan
satwa
atau
perbanyakan
tumbuhan secara buatan dalam lingkungan yang semi alami.Pasal 19
(1)
Keperluan penelitian
dan
pengembangan
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
di
TAHURA
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
18 huruf
a
dapat
dilakukan penelitiandi
bidang:a.
perencanaan;b.
pengelolaan;c.
pengawasan;d.
perlindungan sistem penyangga kehidupan;e.
pengawetan keanekaragamanjenis
tumbuhan
dan satwa beserta ekosistemnya;f.
pen5rusunan rencana pengelolaanhutan;
dang.
pemanfaatan hutan.(2)
Kegiatan penelitian dan pengembanganilmu
pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapatdilakukan di
semua blok.Pasal 2O
Keperluan pendidikan
dan
peningkatan
kesadartahuankonservasidi TAHURA sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 18huruf
b
dapatdilakukan
kegiatan pelatihan dibidang:
a.
pengenalan dan peragaan ekosistem;b.
rehabilitasi dan reklamasi;c.
pemanfaatan hutan;d.
perlindungan hutan dan konservasi alam; dane.
bidang lainnya yang menunjang pembangunan.Kegiatan pelatihan sebagaimana
dimaksud
padaayat
(1)dapat
dilakukan di
semua blok. Pasal 21Keperluan
koleksi
kekayaan keanekaragaman
hayati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18huruf
c dilakukanmelalui
penanaman berbagai
jenis
tumbuhan
dan pelepasan satwa yang menjadiciri
khas
dan kebanggaan daerah.Keperluan
koleksi
sebagaimana
ayat
(1)
termasukmelakukan
introduksi
jenis
tumbuhan
untuk
dikembangkan di dalam kawasan.
Kegiatan koleksi
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)dan
(2) dilakukan
di
blok
koleksi
tumbuhan
danf atau satwa.Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
tata
cara
keperluankoleksi
sebagaimanaayat
(1)
diatur
dengan
PeraturanGubernur.
Pasal22
Keperluan penyimpanan
danfatau
penyerapan
karbon sebagaimanadimaksud
dalam Pasal
18
huruf
d
dapatdilakukan di
semua blok, kecuali blok perlindungan.(2) (1) (2) (3) (4) (1)
(2)
(3)
Keperluan
pemanfaatan
energi panas
dan
angin sebagaimanadimaksud dalam Pasal
18
huruf e
dapatdilakukan di
semua blok, kecuali blok perlindungan.Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai pemanfaatan kegiatanpenyimpanan danf
atau
penyerapankarbon
sebagaimanadimaksud
padaayat
(1),dan
pemanfaatan energi panasdan
angin
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(2)dilaksanakan
sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan.Pasal 23
(1)
Keperluan pemanfatan
air
dan
energi
air
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal
18 huruf
f
dilakukan
untuk
kegiatan:
a.
non komersil; ataub.
komersil.Pemanfaatan
air untuk
kegiatan
non
komersil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)huruf
a meliputi:a.
pemanfaatanair untuk
pemenuhankeperluan
rumahtangga masyarakat
di
sekitar lokasi pemanfaatan; ataub.
pemanfaatanair
untuk
kepentingan sosial yang beradadi
sekitar lokasi pemanfaatan.Pemanfaatan
air
untuk
kegiatan
komersil
sebagaimanadimaksud dalam ayat (1)
huruf
b
meliputi
pemanfaatanuntuk:
a.
air
minum dalam kemasan;b.
perusahaan daerah air minum; atauc.
menunjang kegiatan
industri
pertanian,
kehutanan,perkebunan, pariwisata dan
industr
lainnya.Kegiatan pemanfaatan
air
sebagaimanadimaksud
dalamayat
(1) dapat dilakukan
di
semua
blok,
kecuali
blok perlindungan.Pasal
24
Pemanfaatan
energi
air
sebagaimanadimaksud
dalamPasal
23
ayat
(1)
digunakan
untuk
pembangunanpembangkit
listrik
tenaga
mikrohidro
dan
pembangkitlistrik
tenaga minihidro.Pemanfaatan
energi
air
untuk
kegiatan
non
komersil sebagaimanadimaksud dalam
Pasal23
ayat (1)huruf
ameliputi
pemanfaatanuntuk:
a.
pemenuhanlistrik rumah
tangga masyarakatdi
sekitarlokasi pemanfaatan; atau
b.
kepentingan
sosial
yang
berada
di
sekitar
lokasi pemanfaatan.Pemanfaatan
energi
air untuk
kegiatan
komersilsebagaimana
dimaksud dalam Pasal
23
ayat
(1) huruf
bmeliputi
pemanfa atan untuk :a.
pemenuhan
listrik
rumah
tangga masyarakat
yang berada diluar
daerah penyangga; danb.
pemenuhan
listrik
industri
seperti
hotel,
restoran,pabrik,
rumah sakit, sekolah serta perkantoran.Kegiatan pemanfaatan energi
air
sebagaimana dimaksuddalam
ayat
(1) dapat dilakukan
di
semuablok,
kecualiblok perlindungan. (2) (3) (4) (1) (2) (3) (4)
t2
Pasal 25
(1)
Keperluan
wisata
alam di
TAHURA
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18huruf
g dapat diselenggarakan pengusahaan pariwisata alammeliputi
kegiatan:a.
usaha penyediaan jasa wisata alam; danb.
usaha penyediaan sarana wisata alam.(21
Usaha
penyediaan
jasa
wisata
alam
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
a dapat berupa:a.
jasa informasi pariwisata;b.
jasa pramuwisata;c.
jasa transportasi;d.
jasa perjalanan wisata;e.
jasa makanan dan minuman; danf.
jasa souvenir.(3)
Usaha
penyediaan
jasa
wisata
alam
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(1)
huruf
a
dapat dilakukan
disemua blok.
(4)
Usaha
penyediaan
sarana
wisata
alam
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
b dapat berupa:a.
wisatatirta;
b.
akomodasi; danc.
sarana wisata petualangan.(5)
Pembangunan saranawisata alam
untuk
tujuan
usahapenyediaan sarana
wisata alam
sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
huruf
b
harus memenuhi syarat
sebagai berikut:a.
luas
pemanfaatanuntuk
pembangunan sarana wisataalam paling
luas
107o (sepuluh persen)dari
luas areal yang ditetapkan dalamizin;
b.
bangunan
semi
permanen
dan
bergaya arsitektur
budaya setempat;
c.
tidak
mengganggu situs yang berada di TAHURA;d.
tidak
mengubah bentang alam yang ada; dane.
tidak
merusak sumber daya air yang ada.(6)
Usaha
penyediaan
sarana
wisata
alam
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)huruf
b
dapatdilakukan
di
blokpemanfaatan.
Pasal 26
Keperluan pengambilan gambar
di
TAHURA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18huruf h
dapatdilakukan
di
semua blok.Pasal2T
Keperluan pemanfaatan
tumbuhan dan
satwaliar
dalamrangka
menunjangbudidaya
dalam
bentuk
penyediaan plasmanutfah di
TAHURA sebagaimanadimaksud
dalamPasal
18
huruf
i
dilaksanakan
melalui
pemuliaan, penangkaran, dan budidaya flora, fauna, serta bagian daritumbuhan
dan satwa liar.Kegiatan pemuliaan, penangkaran,
dan
budidaya
flora,fauna, serta
bagian
dari
tumbuhan
dan
satwa
liar
sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1)dapat dilakukan
di blok pemanfaatan.(1)
(1)
Pasal 28
Keperluan
pemanfaatan
tradisional
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 hurufj
dapatberupa
kegiatanpemungutan
hasil hutan
bukan
kayu,
budidayatradisional, serta perburuan tradisional terbatas untuk
jenis yangtidak
dilindungi.Kegiatan pemanfaatan tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan di blok tradisional.
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenaitata
cara
pelaksanaanpemanfaatan
tradisional
sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)diatur
dengan Peraturan Gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 29
Keperluan pemanfaat
religi,
budaya,
dan
sejarah
di TAHURA sebagaimana dimaksud dalam Pasal18
huruf
k
dapat dilakukan
untuk
kegiatan keagamaan, kegiatanadat-budaya, perlindungan
nilai-nilai
budaya,
atau sejarah.Kegiatan
religi,
budaya,
dan
sejarah
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)dapat dilakukan
di
blok
religi, budaya, dan sejarah.Ketentuan lebih
lanjut
mengenaitata
cara pelaksanaanpemanfaatan
religi,
budaya,
dan
sejarah
sebagaimanadimaksud
pada ayat
(1)
diatur
dengan
PeraturanGubernur
sesuai
dengan
ketentuan
peraturanperundang-undangan.
Pasal 3O
Keperluan
pembinaan
populasi
melalui
penangkarandalam
rangkapengembangbiakan
satwa
atauperbanyakan
tumbuhan
secarabuatan
dalam lingkunganyang semi alami
sebagaimana
Pasal
18
huruf
1merupakan penangkaran terbatas yang
dilakukan
melaluikegiatan pengembangbiakan serta pembesaran tumbuhan
dan
satwaliar
dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.(2)
Kegiatan penangkaran terbatas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan di blok pemanfaatan.BAB
III
PERIZINAN Bagian Kesatulzin
Paragraf 1 Umum Pasal 31Kegiatan pemanfaatan TAHURA sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal
18
sampai dengan Pasal
30
dilakukansetelah memperoleh
izin dari
Gubernur atau pejabat yangditunjuk.
Pejabat yang
ditunjuk
sebagaimana dimaksudpada
ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.t4
(21 (3) (1) (2) (3) (1) (1) (2\Pasal 32
(1)
Kegiatan pemanfaatan TAHURA sebagaimana dimaksuddalam Pasal 31 ayat (1) dikenakan Retribusi.
(2) Retribusi
sebagaimanadimaksud
padaayat
(1) mengacu pada Peraturan Daerah tentang Retribusi.Paragraf 2
Izin
Kegiatan Penelitian
Pasal 33(1)
Izin
kegiatan
penelitian
di
TAHURA
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 19 dapatdiberikan
kepada orang pribadidan/atau
badan.(21
Izin
kegiatan penelitian
diberikan
untuk
jangka
waktusesuai dengan jenis penelitiannya.
(3)
Jangka
waktu
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(2)diberikan
paling lamauntuk
jangkawaktu
12 (dua belas)bulan.
Pasal
34
Pemegang
izin
kegiatan penelitian
di
TAHURA mempunyaihak
:a.
meminjam sarana dan prasarana
setelah mendapat izin dari Kepala UPTD; danb.
menggunakan
hasil
penelitiannya
untuk
kepentingan masyarakat dan kemajuanilmu
pengetahuan.Pasal 35
(1) Pemegangizin kegiatan penelitian di TAHURA wajib :
a.
melapor kepada Kepala
UPTD
mengenai
rencana penelitiannya;b.
melakukan
presentasihasil
pelaksanaanpenelitian
diUPID dan
menyerahkan
laporan
hasil
pelaksanaankegiatan kepada Kepala UPTD dengan
tembusan kepada Kepala Dinas;c.
bertanggungjawab
atas segala resiko yangterjadi
dantimbul
selama berada di lokasi penelitian; dand.
menandatangani
surat
pernyataan
tidak
merusaklingkungan
serta
bersedia
mematuhi
ketentuanperaturan perundang-undangan.
(2) Pengambilan spesimen
tumbuhan dan/atau
satwauntuk
kegiatan penelitianharus
memenuhi prosedurdan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.Paragraf 3
Izin
KegiatanPelatihan
Pasal 36(L)
Izin
kegiatan pelatihan
di
TAHURA
sebagaimana dimaksud dalam Pasal20
ayat (1) dapat diberikan kepada orang pribadidan/atau
badan.(2)
Izin
kegiatan pelatihan
diberikan
untuk
jangka
waktuPasal
37
Pemegang
izin
kegiatan pelatihan
di
TAHURA mempunyaihak
:a.
menggunakan
atau
meminjam sarana
dan
prasarana setelah mendapatizin dari Kepala UPTD; danb.
menggunakan hasil pelaksanaan pelatihannya. Pasal 38(1)
Pemegangizin kegiatan pelatihan di TAHURA wajib :a.
melapor kepada Kepala UPTD
mengenai
rencana pelatihan;b.
menyerahkan
laporan
hasil
pelaksanaan
kegiatan kepada Kepala UPTD dengan tembusan kepada Kepala Dinas;c.
bertanggung jawab atas segala resiko yang terjadi dantimbul
selama berada di lokasi pelatihan; dand.
menandatangani
surat
pernyataan
tidak
merusaklingkungan
serta
bersedia
mematuhi
ketentuanperaturan perundang-undangan.
(2) Pengambilan spesimen
tumbuhan
dan
satwa
untuk
kegiatan
pelatihan
harus
memenuhi prosedur
danketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf
4
Izin
PemanfaatanAir
dan EnergiAir
Pasal 39(71
lzin
pemanfaatanair
dan energiair
di
kawasan TAHURA sebagaimanadimaksud
dalam Pasal23
ayat (1)huruf
a dapat diberikan kepada :a.
instansi pemerintah;b.
kelompok masyarakat; atauc.
lembaga sosial.(2) Izin
pemanfaatanair dan
energiair di
kawasan TAHURA sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal23
ayat (1) huruf
bdapat diberikan kepada :
a.
perorangan;b.
koperasi;c.
badan usahamilik
negaraf daerah; ataud.
perusahaan swasta.(3) Izin
pernanfaatan air dan energi air diberikan selama:a.
3 (tiga) tahununtuk
kelompok masyarakat;b.
5
(lima)
tahun
untuk
lembaga
sosial
dan
instansi pemerintah; atauc.
1O
(sepuluh)
tahun
untuk
perorangan,
koperasi,badan usaha
miik
negarafdaerah,
dan
perusahaan swasta.(4)
Izin
pemanfaatan
air dan
energi
air
sebagaimanadimaksud
dalam ayat
(3)
dapat
diperpanjang untuk
jangkawaktu
:a.
2
(dua)tahun dan
dapat diperpanjang kembaliuntuk
kelompok masyarakat;
b.
C.
3
(tahun)
tahun dan
dapat
diperpanjang
kembaliuntuk
lembaga sosial dan instansi pemerintah; atau5
(lima)
tahun
untuk
perorangan, koperasi,
badan usahamilik
negaraf daerah, dan perusahaan swasta'd.
Pasal 4O
Pemegan
g
izin
pemanfaatanair
dan
energi
air di
TAHURAmempunyai
hak
:..
mLlakukan
pemanfaatanair
atau
energi
air
sesuai izin
yang diberikan; dan
b.
mendapatkan pelayanan
dan
pembinaan
dari
KepalaUPTD
dan
Kepala
Dinas dalam
rangka
pelaksanan kegiatan pemanfaatan air atau energi air yang dlizinkan.Pasal 41
pemegang
izin
pemanfaatanair
dan
energiair di
TAHURA,wajib
:a.
membuat dan menyerahkan rencana pemanfaatanair
dan energi air kepada Gubernur atau pejabat yangditunjuk;
b.
melaksanakan secara nyata kegiatan pemanfaatanair
danenergi
air
dalamwaktu
6 (enam)bulan
sejakizin
dlberikan""=rr.i
dengan rencana pengusahaan yang telah disahkan;c.
menjaga agar kegiatan usaha pemanfaatanair
atau energiair
lialt
menimbulkan kerusakan kawasan
konservasidan ekosistemnya;
merehabilitasi kerusakan
yang terjadi akibat
kegiatanpemanfaatan air atau energi air;
mempekerjakan tenaga
ahli
sesuai dengan jenis usaha;-e.tgikrrtsertakan
masyarakat
di
sekitar
kawasan TAHURA dalam kegiatan usaha;g.
menjaga, memelihara,dan
melestarikan kawasan tempat usaha;h.
melaksanakan perlindungan terhadap kawasan
tempatusaha;
i.
melaksanakan konservasisumber daya
air,
antara
lainmembangun bunker
air
dan melakukan perlindungan dan pelestarian sumber daYa air; danj.
membuat
dan
menyampaikan
laporan
secara
berkalapelaksanaan
kegiatan usaha kepada Kepala
UPTD dan ditembuskan kePada KePala Dinas.Paragraf 5
Izin
Pengusahaan PariwisataAlam
Pasal 42Izin
pengusahaanpariwisata
alam
sebagaimana dimaksud dalam Pasal25
ayat (1) dapat diberikan kepada:a.
perorangan;b.
koperasi;c.
badan usahamilik
negataf daerah; ataud.
perusahaan swasta.e.
Pasal
43
(1)
Izin
usaha
penyediaanjasa
wisata alam
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
25
ayat
(1)
huruf
a
diberikanuntuk
jangkawaktu
sebagai berikut:a.
2
(dua)
tahun
untuk
orang pribadi
dan
dapatdiperpanjang
untuk jangka waktu
2
(dua)tahun
dan dapat diperpanjang kembali; danb.
lima
(5)tahun
untuk
badan dan dapat
diperpanjanguntuk jangka waktu 3 tahun dan
dapat diperpanjang kembali.(2)
Izin
usaha
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(1)dievaluasi setiap tahun.
Pasal
44
(1) Izin usaha
penyediaan saranawisata alam
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
25
ayat
(1)
huruf
b
diberikanuntuk
jangka waktu
selama20
(dua puluh) tahun
dan dapat diperpanjang selama 10 (sepuluh) tahun.(2)
lzin
usaha
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(1)dievaluasi setiap 5 (lima) tahun. Pasal 45
Pemegang
izin
pengusahaanpariwisata
alam
di
TAHURA mempunyai hak:a.
melakukan usaha sesuai izin usahanya; danb.
menerima imbalan
dari
pengunjungyang
menggunakanjasa usahanya.
Pasal
46
(1)
Pemegangizin
usaha penyediaanjasa
wisatadi
TAHURAwajib
:a.
ikut
serta menjaga kelestarian alam;b.
melaksanakan pengamanan terhadap kawasan beserta potensinya dan setiap pengunjung yang menggunakan jasanya;c.
melakukan rehabilitasi kerusakan
yang
diakibatkan dari pelaksanaan kegiatan usaha;d.
menyampaikan laporan kegiatan usaha kepada Kepala UPTD dan di tembuskan kepada Kepala Dinas; dane.
menjaga kebersihan lingkungan.(2)
Pemegangizin
usaha
penyediaan
sarana
wisata
di TAHURA wajib :a.
membuat
dan
menyerahkan
rencana
karyapengusahaan
berdasarkan
rencana
pengelolaan kepada Gubernur;b.
melaksanakan secara
nyata
kegiatan
pengusahaanwisata alam
dalamwaktu
12 (dua belas)bulan
sejakizin
diberikan;c.
membangun
sarana
dan
prasarana
kepariwisataandan pengusahaan yang telah disahkan;
d.
mempekerjakan
tenaga
ahli
sesuai
dengan
jenisusaha;
e.
mengikutsertakan masyarakat
di
sekitar
TAHURA dalam kegiatan usaha; danf.
menjaga, memelihara,
dan
melestarikan
kawasan tempat usaha;g.
melaksanakan perlindungan terhadap kawasan tempat usaha;h.
melakukan rehabilitasi kawasan tempat usaha; dani.
membuatdan
menyampaikanlaporan
secara berkalapelaksanaan kegiatan usaha kepada Kepala UPTD dan ditembuskan kepada Kepala Dinas.
Paragraf 6
Izin
Pengambilan Gambar Pasal47
(1)
Izin
kegiatan
pengambilan
gambar
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
26
yang
bersifat komersial
di TAHURA dapat diberikan kepada orangpribadi
danf atau badan.(2)
lzin
kegiatan
pengambilan
gambar
diberikan
untuk
jangkawaktu
tertentu sesuai dengan kebutuhan.Pasal 48
Pemegang
izin
kegiatan pengambilan gambar
di
TAHURA, mempunyai hak:a.
meminjam
saranadan prasarana
setelah mendapat izindari
Kepala UPTD; danb.
menggunakan
hasil
pelaksanaan pengambilan
gambaruntuk
kepentingan pribadi atau komersial.Pasal 49
(1)
Pemegangizin
kegiatan pengambilan gambardi
TAHURAwajib
:a.
bertanggung jawab atas segala resiko yang terjadi dantimbul
selama beradadi
lokasi
pengambilan gambar; danb.
menandatangani
surat
pernyataan
tidak
merusaklingkungan
dan
bersedia mematuhi
ketentuanperaturan perundang-undangan.
(2)
Pengambilan
gambar
yang
memerlukan
spesimentumbuhan
dan
satwa
harus
memenuhi prosedur
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.Bagian Kedua
Pencabutan
Izin
Pasal 5O
Izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1), Pasal 36ayat
(1), Pasal39 ayat
(1), Pasal42, dan
Pasal47
ayat(ll
dapat dicabut apabila:
a.
habis masa berlakunya;b. melanggar
ketentuan
dalam
izin atau
peraturanperundang-undangan;
c.
menggunakan dokumen palsu; ataud.
izin
dikembalikan oieh
pemegangizin
sebelum berakhirBagian
Ketiga
LaranganPasal 51
Setiap pemegang
izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 danPasal42,
dilarang :a.
melakukan kegiatan usaha
yang
tidak
sesuai
denganrencana
pengelolaan
dan/atau
rencana
pengusahaanyang telah
mendapat persetujuan pejabat
yang berwenang;b.
mengagunkan kawasan yang diusahakan;c.
memindahtangankan
rjin
usaha
tanpa
persetujuanGubernur atau pejabat yang
ditunjuk;
ataud.
menelantarkan
kawasan
pemanfaatan
yang
telah mendapatijin.
BAB
IV
KERJASAMA Pasal 52
(1) Gubernur
dapat
melakukan kerjasama dengan
badan usaha, lembaga internasional dan pihak lainnya.(2)
Kerjasama sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)
dapatdilakukan untuk:
a. penguatan fungsi TAHURA;
b. kepentingan pembangunan strategis
yang
tidak
dapatdihindari;
atauc. pemanfaatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal
18yang bersifat non komersial.
(3)
Kerjasama
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(21dilaksanakan oleh Kepala Dinas melalui Kepala UPTD. (4)
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
tata
cara
kerjasamasebagaimana
dimaksud
pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Gubernur.BAB V PENDANAAN
Pasal 53
(1)
Pendanaan pengelolaan
TAHURA bersumber
pada Anggaran Pendapatandan
Belanja Negaraatau
AnggaranPendapatan
dan
Belanja Daerah Provinsi
danfatau
sumber
lain
yang sah
dan
tidak
mengikat
berdasarkanketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Sumber
lain yang sah dan
tidak
mengikat
sebagaimanadimaksud dalam ayat
(1)dapat
berasaldari
imbal
jasalingkungan terhadap pemanfaatan
air
dan
energi air
sebagaimana dimaksud dalam Pasal39
ayat (2).(3)
Ketentuan lebih
lanjut
mengenaiimbal jasa
lingkungan sebagaimanadimaksud
dalam
ayat
t2) diatur
dengan Peraturan Gubernur.(1)
(21
BAB
VI
PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal
54
Pemerintah
Daerahmelakukan
pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan TAHURA.Pemberd ayaarr masyarakat sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1) meliputi
pengembangankapasitas
masyarakat dan pemberian akses pemanfaatan TAHURA.Pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (21dilakukan melalui :
a.
pengembangan desa konservasi;b.
pemberian izinuntuk
memunguthasil hutan
bukankay,, di blok
pemanfaatan,
izin
pemanfaatantradisional, dan
izin
pengusahaanjasa wisata
alam; danc.
fasilitasi
kemitraan pemegangizin
pernanfaatan hutan dengan masyarakat.(4)
lzin
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(3) huruf
bditerbitkan
oleh Kepala UPTD sesuai dengan
rencana pengelolaan.Izin
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(4)
bukan
hak kepemilikan atas kawasan TAHURA.Ketentuan lebih
lanjut
mengenai tata cara pemberdayaandan
peran serta masyarakat
diatur
dengan
PeraturanGubernur.
Pasal 55
Masyarakat berhak :
a. mengetahui rencana pengelolaan TAHURA;
b.
memberi informasi,
saran,
serta
pertimbangan
dalam penyelenggaraan TAHURA;c.
melakukan
pengawasan
terhadap
penyelenggataar, TAHURA; dand. menjaga dan memelihara TAHURA. BAB
VII
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 55
Gubernur
melakukan
pembinaan, pengawasan
dan pengendalianterhadap
pelaksanaanPeraturan
Daerah ini.Pembinaan, pengawasan dan pengendalian sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(1)
dilaksanakan
oleh
Dinas bersama Instansi terkait lainnya.BAB
VIII
PENYIDIKANPasal 57
(1)
Pejabat Pegawai NegeriSipil
di
lingkungan
PemerintahDaerah
diberi
wewenangkhusus
sebagai Penyidikuntuk
melakukan penyidikan
tindak
pidana sebagaimanadiatur
dalam Peraturan Daerah ini.(3)
(s)
(6)
(1)
(2)
Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksudpada
ayat (1)adalah :
a.
menerima, mencari, mengumpulkan,
dan
menelitiketerangan
atau
laporan berkenaan dengan tindak
pidana
dibidang
kehutanan
agar keterangan
atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;b.
meneliti,
mencari,
dan
mengumpulkan
keteranganmengenai
orang
pribadi
atau
badan
tentangkebenaran perbuatan
yang dilakukan
sehubungan dengantindak
pidana dibidang kehutanan;c.
meminta keterangan
dan
bahan
bukti
dari
orangpribadi
atau
badan
sehubungan
dengan
tindak
pidana dibidang kehutanan;
d.
memeriksa
buku,
catatan,
dan
dokumen
lainberkenan dengan
tidak
pidana dibidang kehutanan;e.
melakukan
penggeledahan
untuk
mendapatkanbahan buktipembukuan, pencatatan,
dan
dokumenlain,
serta
melakukan penyitaan terhadap
bahanbukti
tersebut;f.
meminta bantuan tenaga
ahli
dalam
rangka pelaksanaan tugas penyidikantindak
pidana dibidangkehutanan;
g.
menyuruh berhenti
dan/atau
melarang
seseorangmeninggalkan
ruangan
atau
tempat pada
saatpemeriksaan sedang berlangsung
dan
memeriksaidentitas orang dan atau dokumen yang dibawa;
h.
memotret
seseorangyang
berkaitan dengan tindak
pidana dibidang kehutanan;
i.
memanggil oranguntuk
didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;j.
menghentikan penyidikan; danf atauk.
melakukan
tindakan
lain yang perlu
untuk
kelancaran penyidikan
tindak
pidana
dibidangkehutanan
sesuai
dengan ketentuan
peraturanperundang-undangan.
(3)
Penyidik
sebagaimana
dimaksud
pada ayat
(1)memberitahukan
dimulainya penyidikan
danmenyampaikan
hasil
penyidikannya
kepada
PenuntutUmum melalui Penyidik
PejabatPolisi
Negara RepublikIndonesia,
sesuai denganketentuan yang
diatur
dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.BAB
IX
KETENTUAN PIDANA Pasal 58
Setiap
orang
yang
melanggar
ketentuan
sebagaimanadimaksud
dalam
Pasal
51
dipidana
dengan
pidanakurungan
paling lama6
(enam)bulan atau
pidana denda paling banyak Rp 50.00O.O0O,O0 (lima puluhjuta
rupiah).Tindak
pidana
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1)adalah pelanggaran.
(1)
(2)
Diundangkan
di
Palu pada tanggal 8 Mei 2015AMDJAD LAV/ASA
LEMBARAN
DAERAH
PROVINSI SULA\MESI
TENGAH NOMOR : 72NOREG PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH :
Pasal 59
(U
Selain pidana
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
53,terhadap
pelaku tindak pidana
perusakan
kawasan TAHURA yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dankerusakan
fungsi
konservasi
dapat
dikenakan
pidanapenjara
dan
denda sesuai
denganketentuan
Peraturan Perundang-undangan.12)
Tindak
pidana
sebagaimanadimaksud
pada
ayat
(1)adalah kejahatan.
BAB
X
KETEIYTUAIT PTTIUTUP Pasal 6O
Peraturan Daerah
ini mulai
berlaku
pada
tanggal diundangkan.Agar setiap orang
mengetahuinya,
memerintahkanpengundangan Peraturan Daerah
ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tengah.Ditetapkan
di PaIu pada tanggal 8 Mei 2ALsGUBERNUR SULAWESI TENGAH,
ttd
LONGKI DJANGGOI/.TAHUN
2015{2lZolsl
S DAERAH PROVINSI TENGAH,PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH NOMOR
2
TAHUN 2015TENTANG
PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA SULAWESI TENGAH
I.
UMUMDalam rangka meningkatkan pembangllnan kehutanan
di
bidangkonservasi sumberdaya
alam dan
pengembanganekowisata, salah
satukebijakan Pemerintah Daerah adalah meningkatkan upaya pelestarian alam dan pengembangan wisata alam melalui pengelolaan Taman Hutan Raya.
Berdasarkan
Undang-Undang
Nomor
5
Tahun
1990
tentang KonservasiSumber
DayaAlam Hayati Dan
Ekosistemnya,Taman
Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkanuntuk
tujuan
koleksi
tumbuhan danlatau
satwayang alami atau
buatan, jenisasli atau bukan
asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian,ilmu
pengetahrran,pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata
dan rekreasi.Pengelolaan
Taman
Hutan
Raya
sebagai
salah
satu
Kawasan PelestarianAlam
merupakan
implementasidari
amanat
Undang-UndangNomor
5
Tahunlggo
untuk
menjamin terwujudnya
tujuan
konservasisumber
daya alam hayati
dan
ekosistemnya,
sehingga
dapat
lebihmendukung
upaya
peningkatan kesejahteraan masyarakat
dan
mutu
kehidupan manusia.Provinsi Sulawesi Tengah
memiliki
TamanHutan
Rayayang
secaraadministratif terletak
dalam2
(dua)kabupaten/kota, yakni
Kabupaten Sigidan
Kota
Palu.
Berdasarkan pembagian
urusan yang
terdapat
dalamUndang-Undang
Nomor
23
Tahun
2Ol4
tentang
Pemerintahan Daerah,bahwa
pelaksanaanperlindungan,
pengawetandan
pemanfaatan secaralestari Taman
Hutan
Raya
lintas
kabupaten/kota menjadi
kewenangan provinsimaka perlu dibentuk
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah tentang Pengelolaan Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah.II.
PASAL DEMI PASAL Pasal 1Cukup jelas. Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Berdasarkan
pembagianwilayah
pengelolaanhutan,
TAHURAterletak
pada Kelompok
Hutan
Poboyadan
Kelompok
Hutan Paneki.Berdasarkan
sejarah
pengelolaan
kawasan
hutan,
TAHURAmerupakan
penggabungandari
Cagar
Alam
Poboya,
HutanLindung
Paneki
dan
Lokasi
Eks
PPN
XXX
sesuai
denganKeputusan Menteri Kehutanan
RI
Nomor
:
461/Kpts-Illl995.
Selanjutnya
Menteri
Kehutanan
dan
Perkebunan
RI
melaluiKeputusan Nomor: 24
/Kpts-Il I
L999 menetapkan kawasan hutantersebut sebagai Taman Hutan Raya. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (a) Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Ayat (1)
Huruf
aDisusun oleh Dinas
dan
disahkan
oleh
Menteri
yang menanganiurusan
di bidang kehutanan atau pejabat yangditunjuk.
Rencana Pengelolaan Jangka Panjang dievaluasipaling sedikit sekali dalam 5 (lima) tahun.
Huruf
bDisusun oleh
Kepala
UPTDdan
disahkan
oleh
Kepala Dinas.Ayat (2)
Huruf
aYang dimaksud dengan "Penyediaan sarana dan prasarana
pengelolaan
yang
memadai"
adalah berupa
jalan,jembatan, perkantoran,
persemaian,
perpustakaan,gedung pertemuan/ruang
rapat,
laboratorium,
gedungpusat informasi, peralatan
gedungdan
kantor,
jaringankomunikasi,
jaringan
listrik,
papan informasi,
saranaperlindungan
hutan
dan sarana umum.Yang dimaksud
dengan "Kelembagaan pengelolaan yang memadai" adalah berupa organisasi pengelola,jumlah
dankualitas
sumber daYa manusia.Huruf
bPeningkatan
kualitas
hutan
sebagai sistem
penyangga kehidupan diupayakanmelaluli
rehabilitasi pada kawasan TAHURA yang mengalami kerusakanf degtadasi.Huruf
cT\rmbuhan
danfatau
satwayang memiliki
nilai
budayaadalah
tumbuhan
danfatau
satwa
yang
berdasarkankearifan lokal
dipercaya mengandungsuatu nilai
budaya,antara
lain nilai
spiritual,
mengandung
khasiat
untuk
pengobatan dan dimanfaatkan
untuk
upacara adat.T\rmbuhan yang
berpotensiuntuk
menunjang
budidayaadalah tumbuhan yang memiliki potensi
ekonomiuntuk
dikembangkan/dibudidayakan
oleh
masyarakat
guna menunjang kebutuhan hasil hutan.Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 1 1 Ayat (1)
Huruf
a Cukup jelas.Huruf
bPembinaan
dan
pengawasanpotensi merupakan
upayauntuk
meningkatkan
dan
menjaga
kualitas
potensikawasan
baik
berupatumbuhan,
satwadan
potensifisik
lainnya.Ayat (21
Cukup jelas.