ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Konsep Perancangan
Berdasarkan analisa yang telah dibahas pada BAB III, maka citra ruang yang akan diangkat pada Japan Foundation ini adalah citra yang dapat / mampu menopang kegiatan di dalam sebuah pusat kebudayaan. Dengan penerapan era meiji pada interior Japan Foundation di harap dapat menceritakan sendiri kebudayaan Jepang.
Gambar 4.1 Mood Board Konsep Sumber: penulis
4.2 Citra Ruang
Dalam kebudayaan jepang, bentuk bentuk geometris sangat kental terasa.Bentuk persegi dan lingkaran terutama banyak di terapkan di dalam banyak elemen baik dari segi Interior maupun Arsitektur. Bangunan geometris akan mmembentuk citra ruang yang tegas, unik, tajam namun tetap
elegan.permainan bentuk geometris akan menghasilkan keunikan desain, sedangkan kesan elegan akan ditampilkan melaui pencahayaan dan pemanfaatan material.
Dengan tampilan interior traditional jepang dan dengan pengaplikasian furniture yang modern akan menghasilkan bentuk interior yang terispirasi dari zaman meiji.
Gambar 4.2 Ritz Carlton Kyoto Sumber: www.google.com
4.3 Konsep Material Lantai, Dinding dan Ceiling 1. Material Lantai
• Marmer
Marmer merupakan batuan sejenis batu alam yang memiliki ragam jenis, marmer dapat dikombinasikan dan dibentuk motif sesuai yang diinginkan.
Gambar 4.3 marmer Sumber: www.google.com
Ruang : lobby/ receptionist,gallery, kelas bahasa jepang, ruang tunggu kursus bahasa jepang,dan ruang tunggu.
Pemeliharaan : dipoles dengan cairan khusus.
Kelebihan : daya tahan tinggi, keras, tahan cairan,dan tahan sirkulasi tinggi.
Kekurangan : mahal, memantulkan suara dan butuh perawatan khusus.
• Carpet Tiles
Carpet dengan modular ini biasanya memiliki dua ukuran yaitu 50x50cm dan 60x60cm.carpet jenis ini juga memiliki motif beragam.
Gambar 4.4 Carpet Sumber: www.google.com
Ruang : ruang tunggu khusus, kantor, hall, kantor perpus,perpustakaan,dan ruang guru.
Kelebihan : menyerap bunyi, tidak licin, bentuk tiles mempermudah pemasangan.
Kekurangan : tidak tahan noda, tidak tahan basah dan lembab.
• Laminate Parquet
Laminate Parquetmerupakan serbuk kayu yang di press dan dilaminating dengan plastik motif kayu.Laminate parquet memiliki banyak motif pilihan.
Gambar 4.5 Laminate Parquet Sumber:www.google.com
Ruang : perpustakaan. Pemeliharaan : divacum atau disapu.
Kelebihan : tidak terlalu memantulkan bunyi. Kekurangan : tidak tahan basah atau lembab.
• Tatami
Merupakan material lantai yang berasal dari jepang yang sampai saat ini masih digunakan masyarakat jepang, bahan traditional pembuatan tatami adalah rajutan jerami.
Gambar 4.6 Tatami Sumber: www.google.com
Ruang : perpustakaan,dan workshop.
Pemeliharaan : dilap dengan kain basah yang sudah diperas kering dan dianginkan
Kelebihan : berkesan natural dan tidak memantulkan bunyi. Kekurangan : tidak tahan basah atau lembab dan mudah berjamur.
2. Material Dinding
• Gypsum Board
Merupakan material kalsium sulfat yang ditimbang dari tanah, berisi Kristal air sekitar 20%.
Gambar 4.7 Gypsum Board Sumber: www.google.com
Ruang : semua ruang di japan foundation. Pemeliharaan : dicat atau dilapis.
Kelebihan : memantulkan suara, ringan, mudah dibentuk atau dipasang, murah, padat dan kering, tahan api.
Kekurangan : tidak terlalu kuat, tidak tahan tekanan, tidak tahan basah dan lembab.
• Busa Akustik
Gambar 4.8 Busa Akustik Sumber: www.google.com Ruang : ruang hall.
Pemeliharaan : tidak ada perawatan khusus.
Kelebihan : gampang dipasang, ringan, banyak pilihan ketebalan. Kekurangan : mahal, dapat berjamur jika lembab.
• Beton
Material bangunan komposit, terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen.
Gambar 4.9 Beton Sumber: www.google.com Ruang : dinding permanen.
Pemeliharaan : diplaster dan dicat.
Kelebihan : sangat kuat, tidak memantulkan cahaya, tahan basah dan lembab, tahan api, perawatan mudah, bisa di-expose, permukaan rata dan halus, datar dan tegak.
Kekurangan : memantulkan suara, tidak mampu menahan gaya tarik, dapat menyusut dan mengembang, bersifat getas.
3. Material Ceiling
• Gypsum Board
Merupakan material kalsium sulfat yang ditimbang dari tanah, berisi Kristal air sekitar 20%.
Gambar 4.10 Gypsum Board Sumber: www.google.com
Ruang : semua ruang di japan foundation. Pemeliharaan : dicat atau dilapis.
Kelebihan : memantulkan suara, ringan, mudah dibentuk atau dipasang, murah, padat dan kering, tahan api.
Kekurangan : tidak terlalu kuat, tidak tahan tekanan, tidak tahan basah dan lembab.
• Acoustic Board
Gambar 4.11 Accoustic Board Sumber: www.google.com
Ruang : ruang hall Pemeliharaan : dicat atau dilapis.
Kelebihan : menyerap suara, ringan, mudah dipasang, murah, jenis beragam.
Kekurangan : tidak bisa dibentuk,tidak kuat, tidak tahan tekanan, tidak tahan basah dan lembab.
4.4 Konsep Warna
Warna yang digunakan untuk perancangan ini adalah warna-warna nertal dan natural seperti putih, hitam,abu-abu dan coklat sedangkan warna ungu muda yang berasal logo Japan Foundation dan menggunakan ungu tua sebagai aksen.
Gambar 4.12 Colour Scheme Sumber: Penulis
Akromatik hitam-putih dipilih karena dapat mewakili sisi modern dan elegandari sebuah desain. Warna-warna ini juga tergolong netral dan akan menjadi lataryang baik untuk aksen-aksen yang diberikan pada ruangan, selain itu warna ini dapatmenciptakan efek-efek psikologis dan ilusi mata.
Warna coklat dipilih karena warna coklat merupakan warna alam seperti kayu atau tanah dan merupakan salah satu warna netral sehingga ketika diaplikasikan ke interior ruangan akan menciptaka kesan natural.
Warna ungu dipilih sebagai aksen warna karena selain berasal dari logo Japan Foundation warna ungu juga memiliki arti elegan, mewah, dan kebangsawanan.
4.5 Konsep Furniture
Furniture pada ruangan perpustakaan terdapat loose furniture dan buit in furniture dimana furniture yang build in kebanyakan berupa lemari-lemari buku. Sedangkan loose furniture kebanyakan berupa kursi dan meja baca.
Pada ruang lain seperti kelas, gallery, hall, kantor dan lain-lain banyak menggunakan loose furniture. Pada ruang servis seperti back stage juga banyak
menggunakan loose furniture. Tujuan penggunaan loose furniture ini adalah agar ruangan tersebut lebih leluasa ketika ingin di pindah penataannya.
4.6 Konsep Pencahayaan
Pencahayaan merupakan salah satu hal yang penting di dalam gedung Japan Foundation.Selain untuk penerangan, pencahayaan berperan penting dalam membangun suasana ruang.
Pencahayaan yang digunakan disetiap ruang Japan Foundation berupa pencahayaan alami dan buatan.Pencahayaan alami berasal dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela sedangkan pencahayaan buatan berasal dari bola lampu. Lampu yang digunakan seperti lampu TL, downlight, lampu LED, danSpotlight. Selain itu digunakan juga indirect lighting yang bertujuan untuk memberikan kesan estetik di dalam ruangan.
Pencahayaan buatan yang digunakan di ruang hall dan gallery adalah spotlight yang didukung dengan menggunakan downlight. Pada ruangan kantor, perpustakaan, ruang rapat banyak menggunakan lampu TL sebagai penerangan. Sedangkan untuk ruang ganti menggunakan lampu meja rias dan lampu downlight untuk penerangan. Ruang servis yang lain juga menggunakan lampu downlight sebagai sumber penerangan.
4.7 Konsep Penghawaan
Sistem penghawaan pada setiap ruang Japan Foundation menggunakan AC central. Terdapat juga exhaust fan yang berfungsi sebagai menarik udara yang sebelumnya dengan begitu ruangan akan lebih sehat dan memiliki pertukaran udara yang baik.
4.8 Konsep Akustik Ruang
Persyaratan pada akustik ruang telah dijelaskan pada BAB 2 dan BAB 3. Hall merupakan ruangan yang paling membutuhkan penanganan akustiksecara khusus. Akustik erat kaitannya dengan bentuk ruang serta pemilihan materialinterior.Lantainya dibuat menanjak dan menggunakan karpet yang dapat menyerapsuara.Dinding dan ceiling dibuat berlayer dan menggunakan material
khusus untuk akustik.Suara bising dari luar juga tidak boleh sampai masuk ke dalam hall.
Untuk ruangan lainnya seperti ruang kelas, kantor, perpustakaan, gallery, dan workshop, akustik tidak terlalu menjadi sorotan, yang penting tidakmenimbulkan kebisisngan parah yang dapat mengganggu aktivitas yang sedang berlangsung.
4.9 Konsep Signage
Japan Foundation merupakan sebuah pusat kebudayaan Jepang yang didalam nya terdapat koleksi kesenian seperti beberapa bentuk kesenian Jepang, ornamen-ornamen Jepang, serta koleksi buku-buku Jepang yang terdapat di dalam perpustakaan.Untuk menghindari tindak pencurian dan kejahatan di perlukan security system pada area-area tertentu.Selain berfungsi untuk melindungi benda-benda koleksi sistem keamaan juga di perlukan untuk melindungi para pengunjung dan pengelola Japan Foundation agar terhindar dari segala tindak kejahatan ataupun jika terjadi kebakaran dan gempa. Untuk itu terdapat beberapa syarat yang perlu di penuhi, syarat-syarat tersebut, yaitu :
1. Sistem Keamanan terhadap Kebakaran a.Keamanan aktif 1) Sprinkler 2) Smoke detector 3) Fire extinguisher 4) Hydrant 5) Fire alarm b. Keamanan pasif
Keamanan kebakaran pasif dengan menggunakan tangga darurat untuk mengevakuasi pengunjung dan pengelola Japan Foundation dari kebakaran yang terjadi.Space sirkulasi pada tangga darurat ini harus cukup luas sehingga sirkulasinya dapat berjalan dengan lancar.
2. Sistem Keamanan terhadap Pencurian a.Kamera dan monitor CCTV
b. Radio Frequency Indentification (RFID)
RFID tags dilekatkan pada setiap buku/majalah yang berfungisu sebagaitag pengaman sekaligus sebagai piranti produktivitas perpustakaan untuksirkulasi materi perpustakaan. RFID tags tidak memerlukan penyinaran langsung seperti barcode , dapat membaca dan mengisi memory, dapat diprogram berulang kali, dapat membaca secara multiple dan membantu mengatur tata letak (shelf management).
c. Security Gate dengan menggunakan teknologi EAS (Electronic Article Surveillance)
Perangkat security ini akan mendeteksi secara otomatis jika terdapat buku yang dibawa keluar tanpa melalui prosedur peminjaman buku yang telah ditetapkan maka alarm pada security gate tersebut akan berbunyi.
d. Door contact