PRAGMATISME DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA:
KRITIK DAN RELEVANSINYA
Mohamad Topan
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Ihsan Baleendah Jl. Adipati Agung No. 40 Baleendah Bandung Jawa Barat Telp (022) 5949227 Email: [email protected]
ABSTRAK
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan, baik sebagai fungsi sosial maupun sebagai arah bagi tumbuh kembangnya manusia menuju keadaan yang lebih baik. Pendidikan juga bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga mencakup persoalan etis juga teologis yang saling melengkapi satu sama lain. Pendidikan juga mempunyai nilai-nilai bagi jangka panjang, bahkan bagi kehidupan akhirat.
Akan tetapi dalam praktiknya, nilai-nilai itu tidak dapat dicapai karena beberapa hal sehingga tujuan pendidikan hanya menjadi angan-angan saja. Artikel ini membahas konsep pendidikan pragmatis yang dapat dijadikan sebagai solusi melawan kebuntuan dalam dunia pendidikan yang hanya berkutat pada hal- hal konseptual semata. Pendidikan pragmatis memfokuskan pada solusi praktis dan konkret terhadap permasalahan yang ada dan langsung dapat dirasakan manfaatnya. Melalui analisis filosofis, tulisan ini berupaya menekankan aspek teoretis dan praktis dalam pendidikan di Indonesia. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif, sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Artikel ini menyimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus direncanakan dengan lebih baik, didasarkan pada kebutuhan tenaga kerja dan potensi wilayah. Dengan begitu di harapkan antara pendidikan dan kebutuhan masyarakat serta kondisi lingkungan menjadi link dan match, sehingga penyerapan angkatan kerja dapat terjadi dengan baik.
Kata Kunci: Pendidika;, Pragmatisme; Indonesia
ABSTRACT
Education is very necessary in human life, as social function as well as direction for human development to better life. Education is not merely technical matters, it covers also ethical and theological matters so that one can support another. In addition, education is of long term values and even for afterworldly life.
However, in practice, those values can only be imagined without any realization because of a number of problems. This article discusses the pragmatic concept education that can be considered a solution to stagnation in educational world that is replete with conceptual matters. It is also concerned with practical and real solution to the present problem and its benefit can be experienced in short future. Through philosophical analysis, this article attempts at emphasizing on theoretical and practical aspects of education in Indonesia. The development of theoretical aspect will provide the students with ethics and norms, while practical aspect will prepare professional teachers in accordance to the needs of society. The conclusion of this article is that education should be planned in better way on the basis of the needs of educators and potentials of certain districts. It is through this way that there is link and match between education and the needs of society as well as areal situation, so that the working force can be absorbed in maximum degree.
Kewywords: Education; Pragmatism; Indonesia
PENDAHULUAN
Secara umum, pendidikan diartikan sebagai upaya mengembangkan kualitas pribadi manusia dan membangun karakter bangsa yang dilandasi nilai-nilai agama, filsafat, psikologi, social budaya, dan ipteks yang bermuara pada pembentukan pribadi manusia bermoral dan berakhlak mulia serta berbudi pekerti luhur. Pendidikan diartikan juga sebagai upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki idealisme nasional dan keunggulan profesional, serta kompetensi yang dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa dan Negara.1
Pendidikan dipahami sebagai pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.
Disini dapat kita ketahui bahwa pendidikan bukan hanya persoalan teknis akan tetapi mencakup persoalan etis juga teologis yang tentu saja semua itu saling melengkapi satu sama lain.
Pendidikan bertujuan mengembangkan manusia agar memiliki kualias pribadi terintegrasi, bermoral dan berakhlak mulia serta mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki pribadi, ilmu dan profesionalisme yang tinggi. Tujuan tersebut dirinci oleh Ibrahim dan Sukmadinata (2005) yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja (2008)2 sebagai berikut:
1Rochman dkk., Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan (Bandung:
UPI Press, 2007), 3.
2Rochman, Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan, 4.
(1) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia dengan kualitas pribadi yang terintegrasi, bermoral, berakhlak mulia, berbudi luhur dan berilmu.
(2) Mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki idealism nasional dan keunggulan profesional serta memiliki kompetensi bermakna untuk dimanfaatkan bagi kepentingan bangsa dan Negara.
(3) Mengembangkan ilmu, teknologi, dan seni dalam disiplin ilmu pendidikan, pendidikan disiplin ilmu dan disiplin ilmu lainnya.
(4) Memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan sosial, politik, ekonomi, dan budaya dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri.
(5) Meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif kelembagaan.
(6) Mewujudkan peran aktif dalam pembangunan masyarakat yang religius, demokratis, adil dan makmur, cinta damai, cinta ilmu dan bermanfaat dalam keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan penjelasan diatas, pendidikan mempunyai nilai-nilai yang diperuntukkan jangka panjang serta nan jauh disana (akhirat) akan tetapi pada prakteknya nilai-nilai itu tidak dapat dicapai karena sesuatu dan lain hal sehingga tujuan dari pendidikan hanya angan-angan saja karena ketidak mampuan untuk mencapainya. Kritik keras terhadap situasi semacam itu dilakukan oleh pendidikan yang beraliran pragmatisme yang lebih menekankan kepada hasil kongkrit secepat mungkin sesuai dengan tuntutan pemecahan masalah yang dihadapi.
Konsep pragmatisme sendiri merupakan gerakan yang berasal dari Amerika yang memiliki pengaruh mendalam dalam kehidupan intelektual di Amerika bagi kebanyakan rakyat Amerika, pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran, asal dan tujuan, hakekat serta hal-hal metafisis yang menjadi pokok pembahasan dalam filsafat Barat dirasakan amat teoritis.
Rakyat Amerika umumya
menginginkan hasil yang kongkrit.
Sesuatu yang penting harus pula kelihatan dalam kegunaannya. Oleh karena itu, pertanyaan “what is” harus dieliminir dengan “what for”.
Pemahaman pragmatisme yang lebih menekankan kepada kemanfaatan lambat laun mulai diadopsi dalam dunia pendidikan, dimana dunia pendidikan berupaya menyelaraskan antara eksplorasi pikiran manusia dengan solusi tindakan bersama perangkatnya untuk mencapai puncak temuan.
Inti dari filsafat pendidikan yang berwatak pragmatis melihat bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang berguna, dan hasil dari pendidikan adalah berfungsi bagi kehidupannya. Karena itu, pendidikan harus didesain secara fleksibel dan terbuka. Maksudnya pendidikan tidak boleh mengurung kebebasan berkreasi anak didik, lebih-lebih membunuh kreatifitas anak didik.
Menurut pragmatisme, pendidikan bukan semata-mata membentuk pribadi anak tanpa memperhatikan potensi yang ada dalam diri anak, juga bukan beranggapan bahwa anak telah memiliki kekuatan laten yang memungkinkan untuk berkembang dengan sendirinya sesuai tujuan. Namun, pendidikan merupakan suatu proses reorganisasi dan
rekonstruksi dari pengalaman- pengalaman individu.3
Konsep Pendidikan
Pragmatisme dikatakan sebagai solusi melawan kebuntuan dalam dunia pendidikan yang telah keliru karena hanya berkutat pada hal-hal abstrak di tataran konsep. Di kalangan aliran idealis, filsafat hanya ditujukan untuk mencari hal-hal mutlak yang tetap.
Sementara di kalangan empiris, filsafat hanya berputar-putar pada problem- problem alam yang berubah.
Pragmatisme menolak filsafat yang model demikian dan memfokuskan kepada solusi praktis dan kongkrit yang langsung dapat dirasakan manfaatnya.4
Sejalan dengan
perkembangannya, pragmatisme mendapat kritikan keras karena lebih menekankan kepada manfaat kongkrit sesaat (situasional) dan relatif tergantung kepada siapa yang menggunakannya sehingga terkesan bahwa pola pendidikan hanya mengejar solusi jangka pendek dan terbatas.
Kiranya, dengan permasalahan pendidikan pragmatisme diatas ketika diterapkan dalam kontek pendidikan ke Indonesia akan menjadi bahan pertimbangan serius seperti seberapa porsi pendidikan pragmatisme yang paling sesuai dan dibagian manakah (usia berapa) yang paling sesuai dengan konsep pendidikan pragmatisme jika di terapkan Indonesia.
Pendidikan di Indonesia yang mengadopsi pola pendidikan pragmatisme seperti di Barat (Amerika), tentu saja tidak dapat
3Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2003), 125.
4 Harol Titus Smith dkk., Persoalan- Persoalan Filsafat, terjemahan M. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 340.
diterapkan secara seratus persen, karena seperti kita ketahui situasi di Indonesia memiliki penduduk heterogen dan terdapat beraneka ragam warna kehidupan masyarakat, baik wilayah geografis, tradisi, bahasa daerah, suku, profesi dan sebagainya.
Masing-masing keadaan memiliki ciri- ciri tertentu serta satu dengan yang lain berbeda-beda. Dari semua perbedaan itu, tentu saja penerapan pola pendidikan pragmatis tidak serta merta pukul rata, karena tujuan pendidikan menurut pragmatisme mengarah kepada kekhususan, bersifat nisbi serta tidak pasti.
Dari situasi seperti itu, hendaknya kita lebih kritis terhadap aliran pragmatisme serta dapat mengambil manfaat untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia supaya hasil kongkrit dapat dicapai dan dirasakan disisi lain nilai dan budaya tetap dapat dipertahankan sebagai identitas bangsa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pragmatisme,5 Kelahiran dan Perkembangannya
Pragmatisme merupakan suatu gerakan filsafat abad ke-19 dan ke-20, yang menekankan intrepetasi ide-ide melalui konsekuensi-konsekuensinya. Konsep pragmatisme sendiri merupakan
5Pragmatisme berasal dari bahasa Inggris; pragmatism, dari bahasa Yunani Pragma (fakta, benda, materi, sesuatu yang dibuat, kegiatan, pekerjaan, menyangkut akibat), dari Prassein (membuat, melakukan) isme diartikan sebagai paham. Nilai dalam pragmatism ditentukan berdasarkan kegunaan praktisnya. Lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), 676-877. Kaitannya dengan pendidikan, aliran pragmatisme memahami pendidikan sebagai suatu tindakan dari teori yang berimplikasikan langsung pada hasil yang kongkrit dan dirasakan manfaatnya.
gerakan yang berasal dari Amerika yang memiliki pengaruh mendalam dalam kehidupan intelektual di Amerika bagi kebanyakan rakyat Amerika, pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran, asal dan tujuan, hakekat serta hal-hal metafisis yang menjadi pokok pembahasan dalam filsafat Barat dirasakan amat teoritis.
Rakyat Amerika umumya menginginkan hasil yang kongkrit, sesuatu yang penting harus pula kelihatan dalam kegunaannya. Kendati pragmatisme merupakan filsafat Amerika, metodenya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, Socrates sebenarnya ahli dalam hal ini, dan Aristoteles telah menggunakannya secara metodis.
John Locke (1632-1704), George Berkeley (1685-1753), dan Dayid Hume (1711-1776) mempunyai sumbangan yang sangat berarti dalam pemikiran pragmatis ini.6
Istilah ini diangkat dari Kant oleh C.S.Peirce (1839-1914). Kant membedakan yang praktis – yang berkaitan dengan kehendak dan tindakan dari yang pragmati – yang bertalian dengan akibat-akibat. Peirce mengasalkan teori mungkin mempunyai sangkut-paut praktis yang dapat dibayangkan, maka kita membayangkan objek yang akan dimiliki oleh konsep kita. Nah, konsep kita tentang akibat-akibat ini merupakan keseluruhan konsepsi kita tentang objek itu”. Dia menjadikan teori ini sentral filsafatnya.7
Dalam hal ini, Pierce ingin menegaskan bahwa, pragmatisme tidak hanya sekedar ilmu yang bersifat teori
6 Frederick Copleston, A History of Philosophy (London: Burns and Dates Ltd., 1966), 342.
7 Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), 878.
dan dipelajari hanya untuk berfilsafat serta mencari kebenaran belaka, juga bukan metafisika karena tidak pernah memikirkan hakekat dibalik realitas, tetapi konsep pragmatisme lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia.
Hal ini menandakan juga bahwa filsafat pragmatisme dapat juga disebut sebagai filsafat aplikasi praktis, karena filsafat ini berpegang teguh pada praktek. Yakni penganut filsafat ini memberi perhatian khusus pada praktek dari sebuah entitas, mereka memandang bahwa kehidupan manusia ini tidak lebih sebagai suatu perjuangan untuk hidup secara kontinuitas yang terpenting didalamnya adalah konsekuensi-konsekuensi yang bersifat praktis.
Perkembangan lebih signifikan dikemukakan oleh William James (1842-1910), seorang psikolog asal Amerika yang menemukan doktrin yang ia sendiri sebut “empirisme radikal” dan ia adalah salah seorang dari tiga tokoh utama teori
“pragmatism” atau “intrumentalisme”.
Doktrin mengenai empirisme radikal James diterbitkan pada tahun 1904, dalam suatu esay yang berjudul “Does
‘Consciousness’ Exist?” maksud utama esai ini adalah menyangkal bahwa hubungan subjek-objek itu fundamental.8
William James dalam pragmatismenya menegaskan bahwa pengalaman dan fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari merupakan dasar realitas sesungguhnya, yakni realitas adalah suatu hal yang dialami. Karena itulah kebenaran dalam suatu realitas itu
8Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat (Kaitannya dengan Kondisi Sosio Politik Zaman Kuno hingga Sekarang) (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2007), 1055.
hanyalah sebatas nilai dari satu ide yang tidak dapat menekankan pada suatu pernyataan benar atau salah, melainkan ditentukannya suatu ide itu benar bilamana memberi petunjuk bagi tindakan yang praktis.9
Tokoh yang sejalan pemikirannya dengan William James adalah John Dewey (1859–1952).
Tokoh asal Amerika ini memiliki pengaruh yang sangat luas di bidang kajian ilmiah. Pandangan filosofis yang ketat yang cukup penting terutama karya Dewey mengenai kritiknya terhadap gagasan tradisional (Tuhan dan rasionalitas manusia) tentang tentang “kebenaran” yang dimasukan dedalam teori “intrumentalisme”, dimana Dewey dalam hal ini melihat semua realitas adalah sementara dan proses, evolusioner.10
Puncak kajiannya adalah revolusi di bidang pendidikan.
Berbagai program pendidikan yang dinilai Dewey sebagai kriteria pendidikan yang maju dan progressif adalah kesimpulan alami dari keseluruhan filsafatnya.
Pemikiran J.Dewey merupakan sintesis pemikiran-pemikiran Charles S. Pierce dan William James. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika, etika epistemologi, filsafat politik, dan pendidikan.
Pragmatismenya John Dewey yang lebih menekankan pada instrumental bahwa berpikir logis bergantung pada tujuan kehidupan praktis. Kehidupan yang dimaksud di sini adalah hubungan dengan situasi yang ada baik alamiah maupun sosial
9Harold Titus Smith dkk., Persoalan- PersoalanFilsafat, terjemahan M. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 345.
10Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat (Kaitannya dengan Kondisi Sosio Politik Zaman Kuno hingga Sekarang) (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2007), 1067-1068.
dan kebutuhan praktis ini sekaligus mengarahkan pikiran kita. Karena itu menurut Dewey, berpikir hanyalah muncul jika dibutuhkan situasi.
Dalam memberi patokan tentang kebenaran, Dewey mencantumkan ukuran yang sama dengan Peirce, yaitu bahwa suatu hipotesis itu benar bila bisa diterapkan dan dilaksanakan menurut tujuan kita.
Dengan hati-hati dan teliti, ia menekankan bahwa sesuatu itu benar bila berguna. Kegunaan di sini harus di tafsir dalam konteks Dewey yaitu proses transformasi situasi problematis real empiris yang bertitik tolak dari pengalaman dan kembali kepengalaman sebagai bagian dari penyelesaiannya.11
Kebenaran pragmatik merupakan kebenaran yang bersifat fungsional, berguna atau praktis, segala sesuatu dianggap benar jika ada konsekuensi yang bersifat manfaat bagi hidup manusia. Sebuah tindakan akan memiliki makna jika ada konsekuensi praktis atau hasil nyata yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Bagi Dewey, Instrumentalisme adalah berpikir logis bergantung pada tujuan kehidupan praktis. Kehidupan yang dimaksud di sini adalah hubungan dengan situasi yang ada baik alamiah maupun sosial dan kebutuhan praktis ini sekaligus mengarahkan pikiran kita.
Karena itu menurut Dewey, berpikir hanyalah muncul jika dibutuhkan situasi. Misalnya: Manusia adalah manusia yang selalu bertindak. Dalam situasi tertentu tindakannya itu bisa terhambat, maka manusia itu kemudian mulai merancang suatu pemikiran demi kebutuhan praktisnya dalam situasi tersebut. Rancangan itu adalah sesuatu yang belum terlaksana. Pemikiran
11F.X. Mudji Sutrisno, Pragmatisme (Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1977), 99.
tercipta karena ada stimulus yang merangsangnya.
Menurut Dewey, berpikir adalah mentransformasikan suatu situasi yang kacau – balau, situasi yang tidak menguntungkan, kegelapan, ke situasi yang lebih terang, tenang, dan harmonis. Jadi, pemikiran hanyalah sebuah alat untuk mengatasi suatu masalah atau menangani krisis dalam situasi konkret. Tugas dari pemikiran adalah menemukan alat atau sarana dalam lingkup konkret demi tujuan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan.12
Dewey tertarik pada penerapan filsafat atas persoalan-persoalan sosial termasuk pendidikan yang semakin nyata, rumit dan membingungkan yang dihadapi di Amerika pada waktu itu.
Berhadapan dengan persoalan- persoalan ini, metode instrumentalisme menjadi efektif untuk digunakan karena metodenya memperlakukan ide-ide untuk menyelesaikan persoalan- persoalan praktis. Penekanan Dewey dalam metode instrumentalismenya adalah pada praktek, yakni pada keterlibatan aktual atau partisipasi aktif dimana kita belajar dengan mengerjakannya (learning by doing).
Oleh karena itu, dengan teori yang demikian, ajaran Dewey disebut instrumentalisme yang baginya merupakan teori mengenai bentuk konsepsi penalaran umum yang merupakan kekhasan dalam pemikiran untuk memperkuat konsekuensi selanjutnya. Dewey sendiri mengartikan instrumentalisme sebagai usaha menyusun teori logis mengenai konsep-konsep, keputusan-keputusan dan kesimpulan-kesimpulan dalam penentuan eksperimental bagi
12kukuhsilautama.wordpress.com/2011/
03/31/filsafat-pendidikan pragmatisme/
{online}
kensekuensi-konsekuensi selanjutnya dalam praksis.
Berdasarkan penjelasan diatas, kiranya cukup jelas ketika filsafat pragmatisme diterapkan dalam dunia pendidikan, kata kunci dari aliran ini adalah pengalaman langsung yang harus dilewati oleh anak didik, dimana pengalaman dipahami sebagai keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi dan hidup dalam lingkungan baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.
Konsep learning by doing, melihat bahwa Sains tidak mesti diperoleh dari buku-buku melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna.
Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku, hal ini bukan berarti pragmatisme menyeru anti intelektual akan tetapi mengarahkan tentang pentingnya ada pembagian yang tepat antara teori dan praktek, dan mendorong manusia harus lebih aktif, penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi.
B. Pendidikan di Indonesia dalam Pendekatan Pragmatisme
Satu hal yang harus digaris bawahi bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak. Dalam menghadapi berbagai persoalan, baik bersifat psikologis, epistemologis, metafisik, religius dan sebagainya. Pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuensi praktisnya, yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia.
Kaum pragmatis selalu mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula. Kaum
pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak, tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi, melainkan secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit.
Karenanya, teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak, bukan untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. Teori yang tepat adalah teori yang berguna, yang siap pakai, dan yang dalam kenyataannya berlaku, memungkinkan manusia bertindak secara praktis.
Kebenaran suatu teori, ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak, melainkan didasarkan pada pengalaman, pada konsekuensi praktisnya, dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya. Pendeknya, ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut.
Berpijak dari penjelasan diatas, maka tujuan pendidikan pun harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat dimana anak didik itu berada dalam hal ini di Indonesia.
Hakekatnya pendidikan berlangsung dalam kehidupan. Karena itu, tujuan pendidikan menurut pragmatisme harus pula disesuaikan dengan lingkungan tempat dilangsungkannya pendidikan itu. Menjadi sesuatu yang ironis jika sebuah pendidikan diterapkan dengan tanpa mempertimbangkan keadaan lingkungan kehidupan anak didik.
Pendidikan selalu dalam proses perkembangan yang menekankan perkembangan individu, masyarakat dan kebudayaan serta diharapkan mampu membentuk dalam arti membina kebudayaan baru yang dapat menyelamatkan mempersiapkan manusia bagi hari depan yang makin
kompleks dan menantang, dengan kata lain menurut pragmatisme pendidikan adalah suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman- pengalaman individu.13
Pengalaman disini lebih menekankan kepada pengalaman individu dan lingkungannya dimana pengalaman merupakan proses aktivitas individu yang selalu disempurnakan dari waktu kewaktu.
Dalam penyusunan program pendidikan, pragmatisme mengemukakan tiga kriteria seperti yang diungkapkan oleh Miler dan di kutip oleh As’ari Djohar, yaitu;
Pertama, tujuan pendidikan harus bersumber kepada situasi kehidupan yang sedang berlangsung. Kedua, tujuan pendidikan harus fleksibel.
Terakhir, tujuan pendidikan harus mencerminkan aktivitas bebas
“individuals with special needs are served through vocational education”.14 Sehingga tujuan menurut pragmatisme dipahami sebagai sesuatu yang bersifat temporer, yang berarti apabila suatu tujuan telah tercapai maka hasil dari tujuan tersebut menjadi alat untuk mencapai tujuan berikutnya.
Menurut pragmatisme, tidak ada tujuan pendidikan yang berlaku secara umum, dan tidak ada pula tujuan pendidikan yang bersifat tetap dan pasti. Yang ada hanyalah tujuan khusus, dan bersifat nisbi serta tidak pasti. Karena itu, mustahil tujuan pendidikan dapat ditetapkan untuk semua masyarakat.
Tujuan pendidikan menurut pragmatisme selalu bersifat temporer, dan tujuan merupakan alat untuk bertindak. Jika suatu tujuan telah
13Djohar As’ari Natawidjaja, Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Bandung:
UPI Press, 2007), 624.
14Djohar As’ari Natawidjaja, Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 624.
dicapai, maka hasil tujuan akan menjadi alat untuk mencapai tujuan berikutnya, demikian seterusnya, karena pragmatisme tidak mengenal tujuan akhir, dan yang ada adalah tujuan antara.
Pendidikan pragmatisme dalam kontek ke-Indonesiaan terlihat jelas dalam pendidikan yang berbasis kompetensi yang berorientasi pengembangan kemampuan sumber daya manusia, yaitu; pendidikan kejuruan, dimana pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang memiliki sifat untuk menyiapkan penyediaan tenaga kerja. Karena komitmennya yang tinggi untuk selalu berorientasi pada dunia kerja, pendidikan kejuruan mempunyai ciri berupa kepekaan atau daya sesuai (adaptasi) terhadap perkembangan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya, oleh karena itu perkembangan ilmu dan teknologi serta inovasi baru dalam bidang produksi dan jasa mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pendidikan kejuruan.
Proses belajar mengajar dalam pendidikan kejuruan sudah barang tentu membutuhkan peralatan penunjang yang sesuai dengan apa yang dihadapi di dunia kerja dikarenakan tuntutan seperti itu maka tidak aneh apabila dalam lembaga pendidikan kejuruan memiliki laboratorium atau tempat praktek, sarana, dan perbekalan logistik yang sesuai dan mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif. Hal ini membuat sekolah kejuruan memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga biaya penyelenggaraan pendidikan kejuruan relatif mahal.
Pendidikan kejuruan di Indonesia dianggap sebagai solusi dan terobosan tepat yang menghubungkan antara anak didik dengan dunia kerja,
dimana dalam pemahaman kebanyakan masyarakat melihat pendidikan sebagai jembatan menuju dunia kerja atau dengan kata lain anak yang telah terdidik sudah siap menjadi tenaga kerja.
Pendidikan kejuruan di Indonesia, dalam pemahaman penulis terbagi kedalamdua kelompok yaitu kelompok pendidikan kejuruan formal dan pendidikan kejuruan non formal.
C. Pendidikan Kejuruan Sebagai Pola Pendidikan Pragmatisme Pendidikan kejuruan sebagai pendidikan yang berorientasi kepada hasil kongkrit sebenarnya cukup jelas terlihat sebagai pola pendidikan yang menerapkan pola pendidikan pragmatisme, kejuruan sendiri pada prakteknya terbagi kedua kelompok pendidikan, yaitu pertama, pendidikan kejuruan forma dan kedua, pendidikan kejujuran non formal. Kelompok pendidikan kejuruan formal ini ditujukan bagi kelompok pendidikan kejuruan yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah menengah Ekonomi Administrasi (SMEA), Sekolah Menengah Kejuruan Ketatabogaan (SMKK) dan sekolah sejenisnya. Pendidikan spesialisasi yang lebih tinggi (kebidanan, keperawatan, kedokteran, psikologis, pengacara, perhotelan, dll), sekolah- sekolah yang disebutkan diatas dan sejenisnya itu semua diciptakan supaya ada kesinambungan antara apa yang didapat selama mengikuti pendidikan dengan apa yang akan diterapkan di dunia kerja, dalam hal ini sesuai dengan konsep keterhubungan dan ketepatan kegunaan antara pendidikan dan dunia kerja.
Kelompok kedua berupa Pendidikan kejuruan non-formal, di Indonesia pendidikan seperti ini diadakan melalui lembaga-lembaga pelatihan berupa kursus-kursus keterampilan seperti kursus computer, montir, memasak dan lain-lain. Kursus- kursus seperti yang tadi disebutkan diperuntukkan sebagai penunjang keterampilan untuk memasuki dunia kerja.
Dalam pemahaman
pragmatisme yang lebih luas, penerapan konsep pragmatisme dalam pendidikan, bertindak tidak hanya tertuju pada sekolah kejuruan tetapi dapat di terapkan pada tingkat pendidikan dari mulai yang lebih rendah sampai tingkat pendidikan yang lebih tinggi tentu saja dengan porsi yang tidak sebanyak dalam pendidikan kejuruan. Penerapan itu dapat dilakukan selama pemecahan masalah dalam tingkat-tingkat pendidikan selalu berorientasi kepada tindakan yang memiliki kemanfaatan saat itu.
SIMPULAN
Pragmatisme memandang bukan keindahan suatu konsepsi yang paling penting melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. Sebagai prinsip pemecahan masalah, pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada, mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa, sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. Dalam ke dua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya.
Pragmatisme, misalnya, mengabaikan peranan diskusi. Justru di sini muncul masalah, karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban
yang diambil sebagai pemecahan atas masalah tertentu. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis, pertarungan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan, demi sesegera mungkin mengambil tindakan langsung.
Dalam kaitan dengan dunia pendidikan di Indonesia, pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif, sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat, sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi, tidak memiliki konsekuensi praktis. Pendidikan tidak boleh stagnan, apalagi berhenti dan bahkan mundur, baik dalam arti teori maupun praksisnya.
Perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan sangat diperlukan guna mengimbangi perkembangan zaman yang semakin pesat. Perkembangan pemanfaatan teknologi memacu pertumbuhan IPTEKS secara amat cepat. Karenanya perlu pembenahan dari waktu ke waktu secara sistemik, terbuka, multimakna.
Kebijakan pendidikan harus pragmatis menuju proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Walaupun pembangunan pendidikan nasional yang dilaksanakan selama ini
telah mencapai berbagai keberhasilan, namun masih menghadapi masalah dan tantangan yang cukup komplek.
Untuk mengatasi situasi tersebut, selain kebijakan pendidikan yang tepat sebagai usaha mengatasi permasalahan pendidikan yang ada, yang lebih penting tindakan atau implementasi dari kebijakan pendidikan tersebut yang harus cepat dilakukan karena seperti kita ketahui, kran Globalisasi yang telah dibuka oleh Pemerintah Republik Indonesia menuntut masyarakatnya harus siap bersaing dengan masyarakat yang lingkupnya lebih luas. Sebagai contoh;
Kebijakan BOS, bantuan sarana prasarana, USB, RKB, perluasan akses
PAUD, perluasan akses
SMA/SMK/PT, Pendidikan
Keterampilan Hidup, merupakan kebijakan yang sarat dengan beban investasi ketimbang aktivitas pendidikan. Sehingga sangat sulit diharapkan adanya perbaikan mutu pendidikan. Bila tidak hati-hati dan implementasinya cepat dan tepat guna, maka sangat mungkin terjadi tindak korupsi pada pelaksana kebijakan pendidikan tersebut.
Kebijakan mutu dan relevansi dengan mengimplementasikan dan menyempurnakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan BSNP digunakan sebagai dasar penataan berbagai aspek perbaikan mutu.
Pada kenyataannya
permasalahan pendidikan saat ini adalah masih kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan.
Program-studi yang ada kebanyakan untuk memenuhi keperluan tenaga kerja di bidang industri (industrialisasi) yang notabene hanya mengadopsi dari Barat, dan tidak berpijak pada situasi lingkungannya.
Ini terbukti tidak banyak program-program studi seperti
pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Padahal Indonesia adalah negara agraris, kelautan, kehutanan, dan kaya akan sumber daya alam.
Bidang-bidang tersebut belum tergarap dengan optimal, yang semestinya potensi-potensi yang ada harus digarap dan dikembangkan. Mestinya di daerah pedesaan harus dikembangkan sekolah pertanian yang baik, di daerah pantai juga dikembangkan sekolah kelautan.
Wilayah yang mempunyai hutan harus dikembangkan sekolah kehutanan yang baik. Wilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam tertentu juga harus dikembangkan sesuai dengan potensi wilayahnya.
Penyelenggaraan pendidikan kurang dilakukan dengan perencanaan yang baik, tidak didasarkan pada asesmen tentang kebutuhan tenaga kerja dan asesmen tentang potensi wilayah. Sebagai akibatnya antara pendidikan dan kebutuhan masyarakat serta kondisi lingkungan tidak link dan match, banyak pengangguran, masalah urbanisasi, karena banyak tenaga kerja yang mencari kerja di kota sebagai basis industri. Akibat urbanisasi juga menyebabkan pergeseran nilai. Dengan demikian akan berakibat kepada masalah sosial yang kompleks.
Dalam kaitannya dengan relevansi, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia harus sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan. Hal ini sesuai dengan sifat pragmatisme yaitu salah satunya dapat memecahkan permasalahan yang ada.
Dengan demikian
penyelenggaraan pendidikan harus direncanakan dan dilaksanakan dengan benar dan sebaik mungkin dengan melibatkan semua komponen dan seluruh warga masyarakat. Sangat disadari bahwa pembangunan pendidikan nasional akan dapat mencapai hasil yang diharapkan
apabila ada komitmen yang kuat dari semua pemangku kepentingan baik di tingkat pusat, daerah dan terutama peran serta dari seluruh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Loren. Kamus Filsafat. Jakarta; PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Copleston, Frederick. A History of Philosophy. London: Burns and Dates Ltd., 1966.
Dewey, John. Democracy and Education.
Pennsylvania: The Free Press, 2001.
Natawidjaja, Djohar As’ari. Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Bandung:
UPI Press, 2007.
Rochman.dkk. Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan.
Bandung,Universitas Pendidikan Indonesia Press, 2007.
Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat (Kaitannya dengan Kondisi Sosio Politik Zaman Kuno hingga Sekarang). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Penerbit Alfabeta, 2003.
Sutrisno, F.X. Mudji. Pragmatisme.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1977.
Titus, H., Smith, M, Nolan, R. Persoalan- PersoalanFilsafat, terjemahan M.
Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
http://kukuhsilautama.wordpress.com/2011 /03/31/filsafat-pendidikan
pragmatisme/{Online diakses 10 Januari 2018