8 BAB III
PELAKSANAAN KERJA MAGANG
3.1. Kedudukan dan Koordinasi
Selama melaksanakan kerja magang di 7per8 Studio, penulis berada dalam posisi graphic design intern yang berkoordinasi dibawah pembimbing lapangan, art director dan senior graphic designer. Penulis diberikan tugas dan dilibatkan dalam real project mulai dari proses research, ideation, moodboard, perancangan grafis, hingga finalisasi. Setiap pekerjaan yang dilakukan penulis diarahkan dan dibimbing sesuai dengan brief yang telah diberikan.
1. Kedudukan
Selama kerja magang di 7per8, penulis diberikan posisi sebagai junior graphic designer intern. Dalam mengerjakan tugas yang diberikan penulis bekerjasama dengan para senior graphic designer, production executive maupun intern yang lain.
2. Koordinasi
Alur koordinasi dimulai dari brief klien dan dimulailah pengaturan timeline kerja yang dibutuhkan untuk mengerjakan project tersebut. Kemudian brief tersebut akan diberikan kepada art director yang akan menentukan designer yang akan ikut mengerjakan project tersebut dan brief akan langsung diberikan. Setelah itu penulis akan mengerjakan brief dan melakukan asistensi kepada art director maupun senior graphic designer, setelah mendapatkan feedback, akan dilakukan revisi hingga didapatkan hasil yang terbaik. Seluruh rangkaian ini merupakan proses internal, sebelum desain dipresentasikan kepada klien. Berikut ini merupakan struktur koordinasi dalam 7per8:
Gambar 3.1. Alur Koordinasi di 7per8
9 3.2. Tugas yang Dilakukan
Selama proses kerja magang di 7per8, penulis melakukan berbagai tugas dan pekerjaan sesuai dengan brief. Berikut ini merupakan uraian pekerjaan yang dilakukan penulis selama praktik kerja magang di 7per8.
Tabel 3.1. Uraian Pekerjaan Yang Dikerjakan Penulis
Minggu Proyek Keterangan
Minggu 1 LUVA Moodboard bundle packaging, giftcard and invitation design references
OTSS Moodboard branding
Minggu 2 LUVA Bundle packaging sketches
OTSS Logo sketches
Minggu 3 LUVA
Moodboard bundle packaging, bundle packaging sketches, giftcard and invitation design references
OTSS Moodboard branding, logo sketches
Minggu 4
LUVA Bundle packaging sketches
OTSS Logo sketches
Far East Chicken Brief, ideation, logo sketches, moodboard
Minggu 5
OTSS Presentation design
Far East Chicken Collaterals design Bartega Initial research Minggu 6
Far East Chicken Collaterals design ideation LUVA Bundle packaging references &
packaging material
Minggu 7
Far East Chicken Collaterals & presentation design LUVA Bundle packaging sketches, references,
layout, measurements, materials Bartega Brief, research, case study, positioning,
brand strategy, moodboard,
10 presentation design
Minggu 8
LUVA Grafis bundle packaging
Bartega Moodboard
OTSS New moodboard
Far East Chicken Presentation design
Minggu 9
OTSS New brand direction, moodboard, logo, collaterals design
Far East Chicken Layout menu, collaterals Phillip Morris
Indonesia
Magnum, Sampoerna, SRC:
moodboard & design references
Minggu 10
OTSS Collaterals design
Phillip Morris
Indonesia Sampoerna: copywriting
Environmental Defense Fund
Brief, research, case study, positioning, brand strategy, moodboard,
presentation design Far East Chicken Menuboard layout
Minggu 11
Environmental
Defense Fund Presentation design Dompet Aman Instagram feed revision
OTSS Collaterals design
Far East Chicken Logo revision
LUVA Packaging layout & bottle cap alternative colours
Minggu 12
Far East Chicken FA & GSM
LUVA Packaging measurements & materials Dompet Aman Photo asset for Instagram feed
OTSS Environmental collaterals Minggu 13 Barito Pacific Company profile
11 LEMONDISCOFISH Packaging design
Far East Chicken FA & GSM
OTSS Collaterals
3.3. Uraian Pelaksanaan Kerja Magang
Selama menjalani kerja magang di 7per8 Studio, penulis mengerjakan berbagai macam proyek. Namun, penulis tetap diarahkan dan dibimbing, tugas yang diberikan sesuai dengan kapasitas penulis, namun beberapa diantaranya mengharuskan penulis untuk mempelajari sesuatu terlebih dahulu, hal ini membuat penulis belajar banyak hal selama praktik kerja magang. Cakupan pekerjaan yang penulis lakukan antara lain branding, collaterals design, environmental design, packaging design, layout design, icon design, dan digital imaging. Terdapat 3 proyek utama yang penulis kerjakan selama kerja magang yaitu: OTSS, Far East Chicken, dan LUVA.
3.3.1. Branding OTSS
Awalnya penulis diberikan brief untuk mengerjakan branding OTSS, sebagai barbecue restaurant, yang memiliki konsep Californian dan quirky. OTSS merupakan akronim dari Only the Strong Survive. Penulis mengerjakan proyek ini bersama dengan salah satu senior graphic designer bernama Zaki Aryoseno.
Setelah diberikan brief, penulis bersama dengan rekan mulai melakukan research dengan membuat case study tentang restoran bbq secara umum, berikut ini hasil case study:
Gambar 3.2. Case Study Branding OTSS
Case study mengambil contoh branding restoran Holy Smokes, dan Good Union. Kedua restoran ini dikenal sebagai local pioneer dan top of mind restoran
12 bbq. Dari sisi desain keduanya pun memiliki distinct feature yang menjadi positioning dimasyarakat. Setelah dilakukan case study selanjutnya penulis dan rekan membuat diagram design inception. Diagram design inception penulis gunakan untuk memetakan kata kunci yang dapat dikembangkan menjadi konsep desain, berikut ini merupakan diagram design inception:
Gambar 3.3. Design Inception
Dari diagram tersebut penulis dan rekan membuat dua arahan grafis dengan masing-masing moodboard sebagai berikut:
Gambar 3.4. Moodboard Arahan Grafis Pertama
Brand Direction Only The Strong Will Survive
Design Inception
Visual Language Function
Mood quirky
brunch lunch
breakfast dinner
hierarchy white space negative space room to breathe
unorthodox
organic spontaneous
unpredictable black
white
1 shocking color sociable
mid century modern
playful experience
best bbq and diner
adventurous sleek Why
Color Space
Brand Direction Only The Strong Will Survive
Palm Springs Photography
13 Arahan grafis pertama membawa konsep vintage California, dan lebih menekankan konsep palm springs sebagai destinasi wisata, dan keseluruhan vibe barbecue diner. Sedangkan untuk arahan grafis kedua, diambil konsep mid- century design, yang bermain dengan banyak pattern serta typography.
Gambar 3.5. Moodboard Arahan Grafis Kedua
Setelah dilakukan brainstorming, dan exercise grafis, didapatkanlah kedua arahan dan identitas visual sebagai berikut:
Gambar 3.6. Moodboard Arahan Grafis Kedua
Brand Direction Only The Strong Will Survive
Mid-Century Design
Logo Comparison
Brand Direction Only The Strong Will Survive
14 Digunakan warna emas dengan font script sebagai aksen. Fotografi yang digunakan telah diproses dengan teknik digital imaging duotone.
Gambar 3.7. Detail Arahan Grafis Pertama
Arahan grafis pertama menggunakan font A2 yang dikombinasikan dengan script font yang ditulis tangan.
Gambar 3.8. Font A2
Untuk arahan grafis kedua, penulis menggunakan font BB Book yang memiliki karakteristik tajam diujungnya sehingga didapatkan kesan quirky dan menjadi aksen brand.
15 Gambar 3.9. Font BB Book
Selanjutnya sebagai supergrafis, penulis membuat pattern kotak-kotak untuk mengangkat konsep mid century, dengan permainan typography yang berani sebagai aksennya.
Gambar 3.10. Detail Arahan Grafis Kedua
Setelah dipresentasikan kepada klien, terdapat perubahan brief. Brief berubah menjadi restoran yang berkonsep “sport bar”, sebagai tempat orang-orang yang gemar berolahraga berkumpul, untuk makan. Terdapat perubahan menu dari barbecue menjadi burger sebagai menu utamanya. Oleh karena itu penulis bersama rekan membuat dua arahan grafis yang baru untuk menyesuaikan brief baru. Konsep baru akan dihubungkan dengan kesibukan kota Jakarta, sesuai dengan Namanya “Only the Strong Survive”. Dari
Brand Direction Only The Strong Will Survive Brand Direction Only The Strong Will Survive
16 konsep tersebut dikumpulkan keyword dari karakteristik kota Jakarta, dan didapatkanlah design characteristic.
Gambar 3.11. Design Characteristic
Arahan grafis yang pertama terinspirasi dari bentuk handle sepeda, sedangkan identitas kedua terinspirasi dari rantai sepeda. Berikut ini merupakan kedua alternatif identitas visual:
Gambar 3.12. Identitas Visual Alternatif Pertama dan Kedua
Setelah merancang identitas visual, kemudian dirancang collaterals sesuai dengan list yang dibutuhkan oleh klien, diantaranya menuboard, signage, t-shirt, apron, enamel plate, tray, napkin, packaging serta beberapa konten sosial media beserta photography. Karena terdapat 2 arahan grafis dengan 2 identitas visual, setiap collaterals terdapat juga 2 alternatif yang dapat dipilih oleh klien, berikut ini merupakan collaterals design:
Sleek Modern Different Dynamic Vibrant
Design Attitudes Active
Lively Positive Friendly Communal Enthusiastic
Emotional Expectations
7per8 Only The Strong Survive Brand Direction
7per8 Only The Strong Survive Brand Direction 7per8 Only The Strong Survive Brand Direction
17 Gambar 3.13. Collaterals Design
Setelah itu penulis dan rekan diminta untuk menyusun presentasi yang akan digunakan untuk menyampaikan desain kepada klien. Setelah dipresentasikan, akhirnya klien memilih logo alternatif pertama dengan pilihan warna kuning neon. Klien meminta beberapa perubahan grafis yang diletakkan pada beberapa collaterals menjadi lebih sederhana dan tidak terlalu playful.
Gambar 3.14. Logo Pilihan Klien
Selanjutnya, turunan grafis OTSS dengan arahan desain kedua akan menggunakan 2 jenis typeface, yang yaitu Compacta dan Acid Grotesk. Compacta
7per8 Only The Strong Survive Brand Direction
18 akan digunakan sebagai heading, sedangkan Acid Grotesk akan digunakan sebagai sub-heading dan bodycopy.
Gambar 3.15. Kedua typeface OTSS
Karena mayoritas collaterals sudah memiliki desain dan hanya perlu sedikit perubahan, penulis diberikan tugas untuk membuat desain wayfinding toilet dan wastafel, serta table number. Penulis membuat icon yang akan digunakan pada wayfinding. Awalnya penulis membuat icon sebagai berikut:
Gambar 3.16. Alternatif Icon Pertama
AaBbCc
Heading or Main Highlights
ABCDEFGHIJKLM NOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklm nopqrstuvwxyz 1234567890?!$%
Bold
ABCDEFGHIJKLM NOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklm nopqrstuvwxyz 1234567890?!$%
Regular
ABCDEFGHIJKLM NOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklm nopqrstuvwxyz 1234567890?!$%
Light
02.1Primary Typeface
Aa Bb Cc
Sub Headings & Body Texts
Acid Grotesk
ABCDEFGHIJKLM NOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklm nopqrstuvwxyz 1234567890?!$%
Bold
ABCDEFGHIJKLM NOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklm nopqrstuvwxyz 1234567890?!$%
Regular
ABCDEFGHIJKLM NOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklm nopqrstuvwxyz 1234567890?!$%
Light
02.2Secondary Typeface
19 Setelah melakukan asistensi kepada creative director, penulis mendapatkan feedback dan penulis membuat alternatif kedua yang hasilnya sebagai berikut:
Gambar 3.17. Alternatif Icon Kedua
Dari kedua alternatif tersebut akhirnya dipilih alternatif kedua untuk dikembangkan menjadi bentuk wayfinding. Penulis membuat beberapa alternatif wayfinding beragam dari bentuk maupun material yang akan digunakan. Berikut ini merupakan beberapa alternatif wayfinding:
Gambar 3.18. Alternatif wayfinding
Setelah itu penulis membuat mock up wayfinding, dan berikut ini merupakan hasil mock up wayfinding:
Gambar 3.19. Wayfinding dalam bentuk mock up
20 Setelah berdiskusi dengan rekan dan creative director, akhirnya ditentukanlah wayfinding yang akan dipresentasikan ke klien, berikut ini merupakan wayfinding yang terpilih:
Gambar 3.20. Wayfinding yang terpilih
Untuk table number penulis diminta membuat 2 alternatif, dengan bentuk yang berbeda, satu desain untuk table number berbentuk tent, dan yang kedua berbentuk table talker, berikut ini desain table number:
Gambar 3.21. Alternatif table number
Dalam mengerjakan proyek branding OTSS, penulis mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang konsep hingga produksi misalnya material bahan yang harus digunakan dan bagaimana teknik produksinya. Kendala yang dihadapi
21 adalah kurangnya referensi penulis sehingga saat awal diberikan brief penulis stuck dalam penyusunan moodboard dan konsep desain. Proyek OTSS masih berjalan pada saat ini.
3.3.2. Branding Far East Chicken
Far East Chicken merupakan proyek branding untuk sebuah restoran fried chicken di Kemang. Awalnya penulis tidak ditugaskan untuk mengerjakan proyek ini, namun karena rekan intern penulis jatuh sakit, akhirnya penulis diberikan tugas untuk menggantikan rekan penulis. Sama dengan proyek sebelumnya, penulis juga bekerja dengan senior graphic designer bernama Zaki Aryoseno. Awalnya penulis dan rekan melakukan exercise identitas visual Far East Chicken. Berikut ini exercise yang dilakukan penulis:
Gambar 3.22. Exercise Identitas Visual Far East Chicken
Kemudian penulis melakukan asistensi kepada creative director dan dipilihlah identitas visual berikut ini:
Gambar 3.23. Identitas Visual Far East Chicken
22 Penulis membuat beberapa alternatif logo dengan beberapa iliustrasi berbeda yaitu orang tua, anak muda, dan lucky cat. Pada akhirnya penulis memilih kucing karena mendapat inspirasi dari lucky cat yang sangat erat dengan budaya East Asia. Lucky cat ada dimana saja dan pada bidang usaha apa saja, sehingga sangat familiar bagi masyarakat.
Gambar 3.24. Moodboard Far East Chicken
Setelah itu penulis membuat supergrafis yang akan digunakan menjadi pattern yang akan diletakkkan pada beberapa collaterals Far East Chicken.
Setelah melakukan brainstorming dan exercise penulis membuat supergrafis sebagai berikut:
Gambar 3.25. Alternatif supergrafis
23 Namun menurut creative director, supergrafis ini terlalu biasa dan sangat disayangkan karena tidak seimbang dengan logo yang unik dan tidak biasa. Oleh karena itu penulis mengambil konsep Chinese stamp. Berikut ini hasil desain supergrafis alternatif kedua:
Gambar 3.26. Supergrafis Chinese Stamp 1
Penulis juga membuat bentuk kedua dari konsep Chinese stamp sebagai alternatif supergrafis, berikut ini merupakan bentuk kedua Chinese stamp:
Gambar 3.27. Supergrafis Chinese Stamp 2
Setelah identitas visual dan arahan grafis sudah terbentuk, creative director bersama dengan managing director melakukan presentasi ke klien,
24 dengan membawa 3 arahan grafis yang dikerjakan oleh penulis, rekan intern, serta senior graphic designer. Hasil presentasi klien masih bimbang memilih antara identitas visual yang dirancang penulis atau alternatif kedua. Klien meminta pada kucing yang penulis buat untuk ditambahkan mata dan ekspresi, berikut ini hasil revisi dari klien:
Gambar 3.28. Revisi Logo Permintaan Klien
Kemudian karena klien masih belum memutuskan identitas mana yang akan digunakan, akhirnya penulis bersama dengan rekan intern diminta untuk merancang collaterals design dan pitch deck yang nantinya akan dipresentasikan sebagai penentuan logo oleh klien. Penulis akhirnya Kembali mengembangkan supergrafis yang ada, dan Chinese pattern tidak jadi digunakan, berikut ini merupakan pattern Far East Chicken yang nantinya dapat digunakan sebagai aksen interior restoran:
Gambar 3.29. Pattern Far East Chicken
Far East Chicken | Design Collateral
25 Penulis kemudian membuat desain packaging, penulis terinspirasi dari Chinese proverbs yang berbunyi “Do not count your chickens before they hatched”, namun penulis ubah menjadi “Do not count your chickens before they fried” sesuai dengan branding Far East Chicken. Penulis juga membuat desain dari menu Far East Chicken, serta paperbag, setelah dikompilasi berikut ini merupakan collaterals design untuk Far East Chicken:
Gambar 3.30. Collaterals Far East Chicken
Setelah itu penulis diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi kepada klien ditemani oleh managing director dan rekan intern. Setelah presentasi dan diskusi panjang, diputuskanlah bahwa identitas yang telah dirancang akan diubah total sesuai dengan kemauan dan selera klien. Collaterals design yang akan digunakan juga berubah menyesuaikan perubahan identitas. Identitas yang telah dimerge dengan identitas yang didesain oleh rekan intern:
Gambar 3.31. Identitas Sesuai Dengan Kemauan Klien
Saat ini penulis masih mengerjakan proyek Far East Chicken, yang sedang berada dalam tahap perancangan GSM. Kendala yang dihadapi penulis selama
26 menerjakan proyek Far East Chicken adalah, kebingungan menyesuaikan dengan kemauan klien yang berubah-ubah setiap waktu. Terdapat satu titik dimana penulis juga merasa sedikit kesal. Namun penulis belajar bahwa desain adalah solusi dari suatu permasalahan. Apabila desainernya (dalam hal ini penulis), kalah dengan ego sendiri, maka tidak akan bertemu solusi. Oleh karena itu penulis mengikuti semua kemauan klien, dengan tetap berpegang pada prinsip desain yang baik dan benar.
3.3.3. Packaging LUVA
LUVA merupakan sebuah brand kosmetik, yang memiliki konsep sustainable dan ecofriendly. Penulis mendapatkan brief ini sebagai tugas pertama dalam praktik kerja magang. Awalnya penulis diminta untuk membuat suatu arahan grafis yang akan digunakan sebagai desain packaging. Penulis melakukan exercise untuk mendapatkan konsep arahan grafis. Berikut ini merupakan beberapa hasil exercise penulis terhadap packaging LUVA:
Gambar 3.32. Alternatif Packaging LUVA
Penulis melakukan asistensi kepada senior graphic designer, dan mendapatkan feedback bahwa desain tersebut belum menggambarkan
Earthy
Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
GLOSSY LIP SERUM
Botanical oil Vitamin C Peptide Hyaluronic acid ( ) ( ) ( ) ( )
Botanical oil Vitamin C Peptide Hyaluronic acid ( ) ( ) ( ) ( ) Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
Glossy Lip Serum
Botanical oil Vitamin C Peptide Hyaluronic acid ( ) ( ) ( ) ( )
Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
Glossy Lip Serum
( ) ( ) ( ) ( )
Earthy
Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
GLOSSY LIP SERUM
Botanical oil Vitamin C Peptide Hyaluronic acid ( ) ( ) ( ) ( )
Earthy
Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
GLOSSY LIP SERUM
Botanical oil Vitamin C
Peptide Hyaluronic acid ( ) ( )
( ) ( )
Botanical oil Vitamin C Peptide Hyaluronic acid ( ) ( ) ( ) ( ) Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
Glossy Lip Serum
Botanical oil Vitamin C
Peptide Hyaluronic acid ( ) ( )
( ) ( )
Earthy
Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
GLOSSY LIP SERUM
Botanical oil Vitamin C Peptide Hyaluronic acid
Specially crafted to nurture connections to the environment, each other and ourselves.
Glossy Lip Serum
27 karakteristik brand LUVA. Oleh karena itu penulis membuat alternatif lainnya, dengan menggunakan ingredients yang penulis gambarkan dengan sebuah bunga.
Berikut ini merupakan hasil alternatif packaging LUVA kedua:
Gambar 3.33. Alternatif Packaging LUVA Kedua
Setelah itu, penulis diminta untuk mengembangkan alternatif kedua dengan konsep botanical, dengan melakukan research lebih lanjut tentang bunga yang akan digunakan sebagai perwakilan ingredients. Setelah itu penulis melakukan digital imaging terhadap asset foto bunga, hingga didapatkanlah hasil sebagai berikut:
Gambar 3.34. Hasil Digital Imaging Aset Foto
20 ml 0.6 fl.oz Turning from a windy street onto an alley the wind can’t reach.
The meaning of sustainable thinking behind beauty.
Glossy Lip Serum
20 ml 0.6 fl.oz Turning from a windy street onto an alley the wind can’t reach.
The meaning of sustainable thinking behind beauty.
Glossy Lip Serum
20 ml 0.6 fl.oz
Turning from a windy street onto an alley the wind can’t reach.
The meaning of sustainable thinking behind beauty.
Glossy Lip Serum
28 Setelah creative director melakukan presentasi kepada klien. Akhirnya klien memilih alternatif packaging dengan arahan grafis yang berbeda. Oleh karena itu penulis diberikan tugas untuk membuat konsep bundle packaging menyesuaikan dengan grafis yang dipilih oleh klien. Dalam menentukan konsep bundle packaging, penulis menggunakan 5 variabel yaitu sustainable, rising cost, product protection, impression, dan recognition. Berikut ini merupakan hasil riset penulis terhadap bundle packaging:
Gambar 3.35. Hasil Research Penulis Terhadap Bundle Packaging
Berikut ini merupakan referensi bundle packaging yang penulis kumpulkan dilengkapi dengan 5 variabel yang penulis telah sebutkan sebelumnya:
Gambar 3.36. Referensi Bundle Packaging
Packaging Endorse influencer
Video unboxing Awareness Increasing sale
Pleasing to the eye Value excitement unboxing
Bundle Packaging Goal
Aftermath
Must
Serve a purpose Memorable
At least buangnya guilt-free (packaging kecil/compostable
material/so on)
Kept Disposed
- sedikit sampah yang dihasilkan, sesuai dengan value brand eco-friendly - harga lebih terjangkau
- ada kemungkinan jatuh saat diperjalanan - sedikit tempat menulis - tidak ‘wah’ jika dibandingkan dengan pr packaging lain yang lebih besar
Material
- yellowboard + linmaster/fine linen shoulder neck rigid box
- banyak tempat menulis - berbeda dengan packaging lain
- ada kemungkinan jatuh saat diperjalanan - banyak sampah yang dihasilkan
Material
- yellowboard + linmaster/fine linen two door open rigid box
- resiko produk jatuh/berantakan kecil - tempat menulis - berbeda dengan packaging lain
- harga lebih mahal - menghasilkan sampah
Material
- yellowboard + linmaster/fine linen flip top rigid box
- banyak tempat menulis - resiko produk jatuh/berantakan kecil
- banyak sampah yang dihasilkan - kurang unik dari cara membuka packaging
Material
- yellowboard + linmaster/fine linen book style rigid box
29 Kemudian penulis bekerjasama dengan production executive untuk membuat mock up 3D, bundle packaging LUVA. Berikut ini merupakan 3D bundle packaging LUVA:
Gambar 3.37. 3D Bundle Packaging Pertama Berikut ini merupakan 3D bundle packaging LUVA kedua:
Gambar 3.38. 3D Bundle Packaging Kedua
Selanjutnya penulis diminta untuk membuat layout penempatan teks dalam packaging satuan yang telah klien pilih arahan grafisnya. Penulis hanya melanjutkan apa yang telah ada sebelumnya. Penulis mendapat bagian untuk
Luva | Packaging Design Feb 2021
50% opened
Closed Fully opened
Luva | Packaging Design Feb 2021
Half side view
170 mm 80 mm
80 mm
20 mm 77 mm
20 mm77 mm 20 mm 20 mm
58 mm
Board 1.5 mm Magnet Magnet
Magnet
Magnet Magnet Magnet
Magnet Magnet
Board 1.5 mm Board 1.5 mm
Busa Ati
Measurements
Luva | Packaging Design Feb 2021
50% opened
Closed Fully opened
Luva | Packaging Design Feb 2021
210 mm 55 mm
145 mm
104 mm
136 mm 54 mm
20 mm 20 mm
171 mm 135 mm
144 mm
30 mm 10 mm 10 mm 10 mm
30 mm Board 1.5 mm
Top View Measurements
30 membuat layout sisi samping dan belakang. Typeface yang digunakan adalah Yandba yang di desain oleh Berton Habese.
Gambar 3.39. Typeface Yandba
Untuk layout packaging penulis membagi bidang desain yang berukuran 9,5x2,5cm menjadi dua bagian tidak sama besar, sehingga dapat menambahkan kontras dan tidak monoton.
Gambar 3.40. Grid Packaging LUVA
31 Berikut ini merupakan beberapa alternatif layout yang penulis ajukan kepada creative director:
Gambar 3.41. Layout Packaging LUVA
Setelah itu klien meminta alternatif warna tutup botol packaging. Oleh karena itu penulis melakukan digital imaging untuk membuat mock up tutup botol packaging LUVA, berikut ini hasil digital imaging yang dilakukan penulis:
Gambar 3.42. Alternatif Warna Tutup Botol LUVA
32 Setelah itu klien meminta ingredients utama produk LUVA digambarkan dalam bentuk icons. Penulis melakukan exercise icon untuk mendapatkan yang paling sesuai dengan karakteristik LUVA, berikut ini merupakan hasil exercise penulis terhadap icons ingredients LUVA:
Gambar 3.43. Exercise Penulis Terhadap Icons Ingredients LUVA
Berikut ini merupakan icons ingredients yang telah diletakkan dalam packaging LUVA:
Gambar 3.44. Icons Ingredients LUVA Pada Packaging
Sampai saat ini proyek LUVA masih terus berjalan dan belum diproduksi.
Selama mengerjakan proyek ini penulis mengalami beberapa kendala.
Diantaranya karena ini merupakan brief pertama penulis sehingga penulis masih perlu beradaptasi tentang budaya kerja di 7per8. Selain itu kendala datang dari diri
33 penulis, dimana penulis kurang melakukan komunikasi dengan baik, sehingga terdapat beberapa miskomunikasi dan proses update ke klien menjadi terhambat.
3.3.4. Kendala yang Ditemukan
Selama penulis menjalankan kerja magang di 7per8 Studio, terdapat beberapa kendala yang penulis kategorikan menjadi:
1. Kendala Pribadi
Kendala pribadi merupakan kendala yang datang dari dalam diri penulis sendiri. Kendala ini terjadi karena saat menjalani kerja magang penulis juga menjalankan beberapa aktivitas lain seperti menjadi private tutor, dan volunteer organisasi, sehingga terkadang penulis merasa beberapa pekerjaan menjadi tidak maksimal.
2. Kendala Eksternal
Kendala eksternal merupakan kendala yang datang dari lingkungan selama menjalani kerja magang. Penulis memiliki beberapa kendala saat diberikan brief, terkadang brief yang diberikan abstrak dikarenakan juga factor kurangnya pengetahuan penulis. Feedback yang diberikan klien pun terkadang keluar dari rencana maupun storytelling brand.
3.3.5. Solusi Atas Kendala yang Ditemukan
Solusi atas kendala yang telah penulis sampaikan yaitu:
1. Solusi Kendala Pribadi:
Penulis membuat jadwal sehingga waktu penulis dapat dialokasikan dengan baik serta hasil pekerjaan bisa menjadi maksimal.
2. Solusi Kendala Eksternal:
Penulis mengumpulkan banyak referensi dan membaca banyak buku untuk mengetahui gaya-gaya desain lain, serta berusaha mengikuti dan memahami apa yang menjadi keinginan klien.