30
SUPERVISI DAN PENGAWASAN PENDIDIKAN (STUDI DESKRIPTIF DI SDIT RAFLESIA, DEPOK)
Endang Sri Budi Herawati FKIP UNU Cirebon
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan supervisi akademik di SDIT Raflesia Depok. Supervisi pendidikan adalah kegiatan pengawasan akademik untuk meningkatkan kinerja guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Pelaksanaan kegiatan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dilakukan secara formal dan terjadwal. Supervisi secara mendadak dilakukan kondisional (jika dibutuhkan). (2) Pelaksanaan supervisi yang dilakukan meliputi aspek: a) Administrasi persiapan mengajar (program tahunan, program semester, silabus, RPP/ lesson plan, KKM, daftar nilai; b) proses pembelajaran (Kegiatan pembukaan, kegiatan inti, kegiatan penutup); c) Penggunaan media pembelajaran; dan d) Proses penilaian sedangkan pada kegiatan tindak lanjut, pelaksanaan supervisi diarahkan pada pembimbingan dan pelatihan kompetensi guru. (3) Teknik-teknik supervisi yang dilakukan adalah: teknik diskusi kelompok, teknik kunjungan kelas/ lapangan, teknik pembicaraan individual, dan teknik simulasi pembelajaran. (4) Kendala yang dialami oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan supervisi adalah terbatasnya waktu, kadangkala jadwal supervisi berubah.
Kata Kunci: Supervisi Pendidikan, Supervisi, Pendidikan, Guru.
ABSTRACT
The purpose of this research is to know the implementation of academic supervision in Integrated Islamic Elementary school (SDIT) Raflesia Depok. Supervision of education is academic supervision activities to improve teacher performance. This research used qualitative approach with descriptive method. The data was collected through interview, observation, and documentation.
The result of the research shows that: (1) The implementation of academic supervision by principal, is one of efforts to improve the education quality. It’s conducted formally and schedully.
Unschedule supervision is conducted conditionally if needed. (2) The implementation of supervision including aspects: a) Preparation of teaching administration (Annual program, Semester program, syllabi, lesson plans, KKM, score); b) Learning process (opening, main activities, closing); c) Teaching media; and d) assessment process. The follow up of implementation supervison is directed to coaching and training of teacher competence. (3) The techniques of supervision is: group discussion, classroom visits, individual discussion, and learning simulation.
(4) The problem in conducting academic supervision is limited time and sometimes the schedule of supervision is change.
Keywords: Supervision of Education, Supervision, Education, Teacher.
31 I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui pendidikan diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan secara terus menerus.
Sebagai tenaga kependidikan guru merupakan individu sekolah yang selalu berhadapan dengan berbagai masalah yang bisa jadi tidak mampu diselesaikan sendiri sehingga membutuhkan bantuan. Guru selalu berhadapan dengan situasi yang berubah setiap saat, seperti kurikulum, tuntutan masyarakat, pemenuhan kebutuhan hidupnya, dll. Menurut Prof. Dr.
Veithzal Rivai, MBA dalam bukunya Education Management: Analisis Teori dan Praktik, terjadinya gangguan ini bisa saja karena faktor yang berasal dari guru itu sendiri seperti motivasi, pemahaman tugas pokok, niat, tuntutan kebutuhan rumah tangga, dll. Selain faktor dari dalam, terdapat juga faktor di luar guru yang bisa berupa iklim dan kultur sekolah, gaya kepemimpinan kepala sekolah, penerapan reward dan punishment, undang-undang dan peraturan tenaga kependidikan, mitos tentang guru, dll. Situasi seperti ini tidak kondusif bagi pelaksanaan tugas guru, apalagi jika diperburuk oleh lemahnya pembinaan guru maupun faktor pribadi guru itu sendiri.
Pembentukan profesi guru sebenar-nya dapat dilaksanakan melalui program pendidikan pra- jabatan maupun program dalam jabatan. Namun demikian tidak semua guru yang dididik dalam kegiatan tersebut, terlatih dengan baik dan qualified. Potensi sumber daya guru itu perlu terus tumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara potensial. Untuk itulah dibutuhkan adanya pengawas yang akan melakukan kegiatan supervisi dalam proses pendidikan.
Argumentasinya bahwa ketika perencanaan pendidikan dikerjakan, struktur organisasi sekolah yang akan memfasilitasi pencapaian tujuan pendidikan pun telah disusun dengan baik, serta semua stakeholders pendidikan (baik guru atau karyawan) dipimpin dan dimotivasi untuk men- sukseskan pencapaian tujuan secara rutin, tidak selamanya menjamin bahwa semua kegiatan akan berlangsung sebagaimana yang direncanakan. Dalam siklus tersebut dibutuhkan adanya pengawasan/supervisi untuk memastikan bahwa seluruh sistem telah berfungsi dan berjalan
32
dengan baik sebagaimana mestinya. Pengawasan/supervisi sekolah itu penting karena merupakan mata rantai terakhir dan kunci dari proses manajemen. Kunci penting dari proses manajemen sekolah yaitu nilai fungsi pengawasan sekolah yang terutama terletak pada hubungannya terhadap perencanaan dan kegiatan-kegitan yang didelegasikan (Robbins, 1997).
Pengawasan/supervisi pendidikan merupakan ujung tombak penjamin mutu pendidikan.
Oleh karenanya berbagai persoalan mendasar yang berkaitan dengan kinerja guru menjadi satu keprihatinan yang perlu disikapi dalam konteks pembelajaran. Rendahnya kinerja guru akan berdampak terhadap rendahnya disiplin dan hasil belajar siswa. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa supervisi/ pengawasan dalam pendidikan merupakan hal yang penting dan memiliki kontribusi nyata terhadap kinerja para guru. Penelitian yang dilakukan oleh Yati Ruhayati, H. Yudha M. Saputra, dan Ahmad Hamidi berjudul “Kontribusi Layanan Supervisi, Kepemimpinan Kepala Sekolah, dan Fasilitas Pembelajaran Terhadap Kinerja Guru Pendidikan Jasmani SMPN se-Kota Cimahi menjelaskan bahwa selain faktor kepemimpinan kepala sekolah dan ketersediaan fasilitas pembelajaran yang memadai, layanan supervisi juga menjadi fatkor yang cukup berpengaruh. Hal ini ditunjukkan dengan kontribusi layanan supervisi sebesar 73,45%, jauh lebih dominan dibandingkan kepemimpinan kepala sekolah (sebesar 31,36%) dan fasilitas pembelajaran (sebesar 33,2%) (Jurnal Penelitian UPI Vol 10, No. 2, Oktober, 2009).
Selain itu, dominasi kontribusi supervisi/pengawasan pendidikan juga dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Dalawi, Amrazi Zakso, dan Usman Radiana yang berjudul
“Pelaksanaan Supervisi Akademik Pengawas Sekolah sebagai Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru SMPN I Bengkayang”. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa
“Pelaksanaan Supervisi Akademik di SMPN 1 Bengkayang dinilai dapat meningkatkan kinerja/profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran. Dari penelitian-penelitian tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai manakala proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, berdayaguna dan berhasil guna, dibawah supervisi/pengawasan dari pengawas pendidikan (baik kepala sekolah maupun pengawas pendidikan).
Indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat pada setiap komponen pendidikan, antara lain: mutu lulusan, kualitas guru, kepala sekolah, staf sekolah (tenaga
33
administrasi, laboran dan teknisi, pustakawan), proses pembelajaran, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, implementasi kurikulum, sistem penilaian, dll. Ini berarti melalui pengawasan harus terlihat dampaknya terhadap kinerja sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Itulah sebabnya fungsi supervisi harus menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu pendidikan agar seluruh elemen dapat berkolaborasi membina dan mengembangkan mutu pendidikan sekolah seoptimal mungkin sesuai standar yang telah ditetapkan.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan pendekatan analitik-deskriptif dengan sifat kajian kualitatif. Pendekatan deskriptif digunakan karena penelitian ini memfokuskan kajian terhadap gejala-gejala, perilaku, sikap, pandangan atau persepsi dari peristiwa atau kejadian- kejadian yang dilakukan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Lokasi penelitian ini adalah di SDIT Raflesia, Depok. Pertimbangan pemilihan lokasi adalah karena peneliti pernah bertugas di sekolah tersebut sehingga lebih mudah untuk melakukan seluruh rangkaian kegiatan penelitian. Dengan alasan subyektif ini maka diharapkan penelitian ini dapat berjalan lancar, efektif, dan efisien.
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang utama adalah peneliti sendiri sehingga peneliti merupakan instrumen kunci. Sumber data dalam penelitian ini dibagi dua, yaitu: data kepustakaan dan data lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dokumentasi (data kepustakaan) dikategorikan sebagai data sekunder sedangkan data lapangan merupakan data primer. Dokumentasi (data kepustakaan) dianggap sebagai data sekunder karena penelitian ini bersifat praktis aplikatif sehingga penekanannya adalah pada data primer (data lapangan). Data sekunder diperoleh melalui studi dokumen berupa catatan kegiatan supervisi yang telah dilakukan baik catatan yang dimiliki oleh guru yang diobservasi maupun kepala sekolah sebagai supervisor. Melalui dokumen ini dapat diperoleh informasi pendukung mengenai pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan.
Selain data kepustakaan terdapat juga data lapangan yang diperoleh melalui tiga jenis alat pengumpul data yaitu: observasi, wawancara, dan kuesioner. Observasi yang dilakukan adalah observasi partisipasi dan observasi terang-terangan. Observasi dilakukan secara langsung untuk mengamati berbagai aktivitas supervisi dalam proses pembelajaran bagi guru kelas maupun guru
34
bidang studi. Selain itu observasi juga dilakukan untuk mengamati kegiatan supervisi kepala sekolah kepada tenaga administrasi dan pustakawan. Observasi dalam konteks ini dilakukan secara sistematis bukan sebagai sambilan atau kebetulan saja. Dalam observasi ini dilakukan pengamatan terhadap keadaan yang sebenarnya tanpa adanya usaha untuk mengatur, memengaruhi dan memanipulasi objek pengamatan yang sedang diobservasi. Teknik observasi ini menjadi teknik pengumpulan data terpenting dalam penelitian. Selain itu, teknik ini memberikan manfaat besar karena dapat menangkap dan memahami realitas kongkrit yang sebenarnya, baik yang bersifat material atau fisik.
Teknik pengumpulan data berikutnya adalah wawancara. Wawancara dilakukan terhadap narasumber yaitu kepala sekolah (sebagai supervisor) dan guru serta karyawan SDIT Raflesia.
Proses pengumpulan data dalam teknik ini dilakukan dengan pemberian angket kepada sejumlah informan yang dianggap mewakili populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru dan karyawan SDIT Raflesia. Berdasarkan hasil wawancara dan data dari bagian Tata Usaha SDIT Raflesia, jumlah guru di SDIT Raflesia adalah 38 orang, 2 orang Tata Usaha, 1 orang pustakawan, 3 orang cleaning service dan 2 orang tenaga keamanan sekolah. Seluruh tenaga pendidikan dan kependidikan di SDIT Raflesia akan menjadi responden dalam penelitian ini sedangkan untuk informan dipilih beberapa orang yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, koordinator level 1 – 6, kepala tata usaha, dan pustakawan. Dari responden dan informan yang dipilih diharapkan akan mampu memberi data dan informasi mengenai fenomena yang terjadi sesuai masalah penelitian dan dapat menjelaskan dengan baik masalah yang diteliti.
Dalam menganalisis data dilakukan pengorganisasian data ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Analisis menurut Moleong (2000) adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Sehubungan dengan hal ini, maka langkah-langkah pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut: a) Editing, yaitu mengklasifikasikan data- data hasil penelitian sesuai dengan teknik atau alat pengumpulan data yang digunakan seperti analisis dokumen, pengamatan/observasi, wawancara, dan angket; b) Koding, yaitu memberikan kode-kode khusus kepada masing-masing bentuk alat pengumpulan data dengan kategorinya masing-masing, dan jenis informasi yang didapat yang tujuannya untuk memudahkan analisis; c)
35
Analiting, yaitu proses akhir dari rangkaian kegiatan, berupa kegiatan mempelajari dan memahami masing-masing bentuk data dan informasi untuk menemukan jawaban terhadap masalah dan pertanyaan penelitian; d) Interpretating, yaitu proses untuk memaknai hasil analisis guna menyusun kesimpulan akhir dari penelitian.
Fokus pengamatan dilakukan pada tiga komponen utama, yaitu: space (ruang, tempat), actor (pelaku) dan activity (kegiatan). Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek yang dapat memberikan informasi terhadap masalah penelitian yaitu 1) Kepala Sekolah, 2) Guru dan karyawan SDIT Raflesia, 3) Dokumen yang relevan. Untuk menguji keabsahan data digunakan metode triangulasi (gabungan), yaitu triangulasi metode dan triangulasi sumber. Model triangulasi dalam penelitian ini terlihat pada gambar berikut:
Gambar 1.
Model Triangulasi Penelitian
III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan supervisi di SDIT Raflesia sebagai upaya peningkatan kinerja guru dan kualitas pembelajaran di sekolah tersebut. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru, kepala sekolah, tenaga administrasi dan pustakawan.
Tugas supervisi di SDIT Raflesia dilakukan sendiri oleh kepala sekolah. Perlu dipahami bahwa
Informan 1
Wawancara/
Kuesioner Informan 2
Wawancara/
Kuesioner
Informan 3, dst
Situasi Lapangan
Wawancara/
Kuesioner Observas i
Telaah dokumen
Dokumen/
Data
36
dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, kegiatan utama pendidikan di sekolah bertumpu pada kegiatan pembelajaran. Dengan demikian seluruh aktivitas organisasi bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Untuk itulah tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan SDIT Raflesia.
Kegiatan supervisi di SDIT Raflesia ditargetkan mampu memberikan pengawasan, pengendalian, dan peningkatan kinerja seluruh stakeholders. Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor juga merupakan upaya preventif dari berbagai kemungkinan tindakan penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan seluruh guru dan karyawan di lingkungan SDIT Raflesia.
Dalam melaksanakan supervisinya kepala SDIT Raflesia memperhatikan prisip-prinsip sebagai berikut:
a) Supervisi dilakukan berdasarkan hubungan konsultatif, kolegial, dan bukan hierarkis.
b) Supervisi dilakukan secara demokratis.
c) Supervisi berpusat pada pendidikan dan tenaga kependidikan.
d) Supervisi dilaksanakan berdasarkan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan.
e) Umpan balik dilakukan bedasarkan data hasil observasi.
f) Supervisi yang dilakukan merupakan bantuan pofesional.
Dalam melaksanakan tugas supervisi, kepala sekolah SDIT Raflesia juga fokus pada kegiatan negosiasi, kolaborasi dan nertworking. Negosiasi, dilakukan oleh kepala sekolah terhadap stakeholder pendidikan SDIT Raflesia yaitu orang tua murid. Selama ini kepala sekolah telah melakukan diskusi dan komunikasi terkait pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SDIT Raflesia, harapan orang tua terhadap kualitas lulusan, dan pelayanan (sarana prasarana yang tersedia di sekolah), serta sikap dan perlakuan guru dalam proses pembelajaran yang dirasakan oleh peserta didik.
Kolaborasi, yang merupakan inti kegiatan dari kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala sekolah melalui kerjasama yang sinergis dengan seluruh stakeholders SDIT Raflesia, khususnya guru dan tenaga kependidikan terkait dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal ini menjadi penting dan diprioritaskan oleh kepala sekolah karena muara terjadinya peningkatan mutu pendidikan ada pada sekolah.
37
Networking, merupakan kegiatan supervisi yang prospektif untuk dikembangkan terutama pada era globalisasi dan perkembangan teknologi seperti sekarang ini. Jejaring kerjasama telah dilakukan baik secara horisontal maupun vertikal. Kerjasama secara horizontal dilakukan dengan sesama sekolah yang ada di gugus VI Kelurahan Tugu Kecamatan Cimanggis yaitu SDN Tugu 10, SDN Tugu 6, SDN Tugu 8, SDN Tugu 5, SDIT Nurul Fikri, SDI Pondok Duta, SDS Semut-Semut, MI Sa’adatuddarain, dan SDN Palsigunung untuk saling bertukar informasi dan sharing pengalaman pengembangan mutu sekolah, melalui pertemuan KKG secara periodik sebulan sekali bagi para guru dan KKKS untuk kepala sekolah sedangkan kerjasama secara vertikal dilakukan dengan sekolah yang menjadi pemasok siswa baru, yaitu TK & PAUD terutama di wilayah kecamatan Cimanggis dan kecamatan lain di wilayah kota Depok. Selain itu, kepala sekolah juga mengadakan kerjasama dengan sekolah pada jenjang pendidikan di atasnya di wilayah kota Depok sebagai lembaga yang akan menerima siswa lulusannya, termasuk beberapa boarding school di luar kota Depok yang selama ini sudah menjalin kerjasama dengan SDIT Raflesia yaitu Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Lembang Bandung dan SMPIT As- Syifa Subang.
Dalam rangka mengembangkan program inovasi sekolah, kepala SDIT Raflesia menyusun program kerja supervisi sebagai berikut:
1) Menetapkan standar/kriteria untuk performansi sekolah berdasarkan evaluasi diri sekolah yang disusun setiap tahun pembelajaran.
2) Membandingkan hasil performasi tersebut dengan kriteria/benchmark yang telah direncanakan, kemudian menyusun program pengembangan sekolah.
3) Melakukan tindakan pengawasan dan pendampingan dalam implementasi program pengembangan sekolah yang telah direncanakan dengan melibatkan waka bidang kurikulum, waka bidang kesiswaan, dan para koordinator level (level 1 -3 dan level 4 -6).
Dalam rangka mengkondisikan agar kegiatan supervisi dapat berjalan efektif, maka kepala sekolah SDIT Raflesia memperhatikan beberapa prinsip, yaitu:
a) Trust, kegiatan supervisi dilakukan dalam pola hubungan kepercayaan antara guru yang disupervisi dengan kepala sekolah, sehingga guru yakin apa pun hasil supervisi tersebut bukanlah untuk menjatuhkan atau mencari kesalahan guru, tetapi untuk membantu guru dalam memperbaiki dan mempertahankan kinerjanya.
38
b) Realistic, artinya kegiatan supervisi dan pembinaan dilaksanakan berdasarkan data eksisting dari masing-masing guru.
c) Utility, artinya proses dan hasil supervisi bermuara pada manfaat bagi guru yang bersangkutan dalam rangka mengembangkan mutu pendidikan dan prestasi kerja seluruh stakeholders sekolah.
d) Testable, artinya supervisi yang dilakukan bersifat obyektif, dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan mampu menggambarkan kondisi sekolah dengan baik.
Dengan melaksanakan prinsip di atas, pada saat supervisi dilakukan guru betul-betul merasakan kehadiran kepala sekolah sebagai mitra, dan bukanlah pengawas yang mencari kesalahan kemudian menjatuhkan sanksi atas kekurangannya dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian secara bertahap kinerja guru akan semakin baik yang pada gilirannya akan tercapai cita-cita SDIT Raflesia menjadi sekolah yang efektif.
Kemampuan kepala sekolah SDIT Raflesia sebagai supervisor diwujudkan dalam bentuk kemampuannnya dalam menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya. Beberapa program yang disusun oleh kepala SDIT Raflesia tekait dengan kegiatan supervisi adalah:
1. Program supervisi kelas
2. Program supervisi untuk kegiatan ektra kurikuler 3. Program supervisi perpustakaan
4. Pogram supervisi ujian
1. Bentuk supervisi yang dilaksanakan di SDIT Raflesia.
Supervisi secara efektif oleh kepala SDIT Raflesia yang telah dilakukan adalah:
1) Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama guru-guru (bisa juga melibatkan tenaga administrasi) untuk memecahkan berbagai masalah di sekolah. Di antara masalah yang telah dipecahkan melalui diskusi kelompok diantaranya peningkatan kemampuan kinerja tenaga kependidikan dan masalah-masalah hasil temuan kepala sekolah pada kegiatan observasi di dalam atau di luar kelas. Diskusi kelompok ini biasanya dilakukan di ruang guru atau ruang kelas pada saat anak-anak sudah pulang sehingga tidak mengganggu kegiatan pembelajaran. Terkadang diskusi kelompok ini juga dilakukan di sela-sela rapat
39
rutin. Kepala sekolah senantiasa mengupayakan untuk tidak melakukan diskusi kelompok pada jam efektif. Seandainya terpaksa harus menggunakan jam efektif, maka guru harus memberikan tugas kepada peserta didik sesuai pokok bahasan yang dipelajari pada saat itu.
Tugas yang diberikan kepada peserta didik harus menarik sehingga tidak menjadi beban bagi mereka.
2) Kunjungan kelas
Kunjungan kelas digunakan kepala sekolah sebagai salah satu teknik untuk mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung. Melalui kegiatan kunjungan kelas ini, kepala sekolah mendapatkan informasi secara langsung mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok mengajarnya, terutama dalam pemilihan dan penggunakan metode pembelajaran, media yang digunakan dalam pembelajaran, dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, serta mengetahui secara langsung kemampuan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Berdasarkan hasil kunjungan kelas ini kepala sekolah bersama guru bisa mendiskusikan berbagai masalah yang ditemukan, mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi, serta menyusun program pemecahan masalah untuk masa yang akan datang, baik yang berkaitan dengan peningkatan profesionalisme guru maupun peningkatan proses pembelajaran. Pelaksanaan kunjungan kelas oleh kepala sekolah sebelumnya telah diinformasikan terlebih dahulu sesuai program kerja kepala sekolah tetapi dalam kondisi tertentu, kepala sekolah juga melakukan kunjungan secara mendadak atau berdasarkan kebutuhan.
3) Pembicaraan individual
Pembicaraan individual merupakan teknik bimbingan dan konseling yang digunakan oleh kepala SDIT Raflesia untuk memberikan konseling kepada guru, baik terkait masalah kegiatan pembelajaran maupun masalah yang menyangkut profesionalisme guru.
Pembicaraan individual ini menjadi strategi pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan di SDIT Raflesia. Meskipun demikian, ada sebagian guru yang menganggap negatif pembicaraan individual karena mereka merasa terusik privasinya.
4) Simulasi pembelajaran
40
Simulasi pembelajaran merupakan teknik supervisi berbentuk demonstrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah sehingga guru dapat menganalisa penampilan yang diamatinya sebagai bahan introspeksi diri, walaupun memang sebenarnya tidak ada cara mengajar yang paling baik. Kegiatan simulasi pembelajaran ini telah dilakukan secara terprogram oleh kepala SDIT Raflesia sebulan sekali secara bergantian ke semua kelas.
Selanjutnya, dalam melaksanakan supervisi akademik kepala SDIT Raflesia menggunakan pendekatan klinis (selanjutnya akan disebut dengan program supervisi klinis).
Program supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah dalam hal pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap guru. Supervisi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif.
Supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah ini merupakan bagian dari supervisi akademik sebagai bantuan profesional kepada guru. Supervisi dilakukan melalui siklus perencanaan yang sistematis, pengamatan yang cermat dan umpan balik yang obyektif dan segera. Dengan cara ini guru dapat menggunakan balikan tesebut untuk memperbaiki kinerjanya.
Tujuan utama dari kegiatan supervisi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatakan kualitas pembelajaran melalui pengajaran yang baik.
Sehubungan dengan supervisi klinis kebijakan kepala SDIT Raflesia adalah bahwa pada prinsipnya setiap guru dalam melaksanakan tugasnya harus disupervisi secara periodik.
Mengingat jumlah guru cukup banyak, maka kepala sekolah meminta bantuan wakil kepala sekolah atau guru senior untuk membantu melaksanakan supervisi. Dalam hal bidang studi guru yang terlalu jauh dengan keilmuan kepala sekolah (sehingga kepala sekolah sulit memahami materi), maka kepala sekolah meminta bantuan guru senior yang memiliki latar belakang bidang studi yang sama dengan guru yang akan disupervisi.
Beberapa hal yang dilakukan oleh kepala SDIT Raflesia dalam melaksanakan supervisi klinis adalah:
Supervisi yang diberikan berupa bantuan (bukan perintah) sehingga inisiatif tetap ada di tangan guru.
Aspek yang disupervisi berdasarkan usulan dari guru, kemudian dikaji bersama kepala sekolah (sebagai supervisor) untuk menjadi kesepakatan
41
Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah
Umpan balik diberikan segera oleh kepala sekolah setelah selesai pengamatan
Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru
Supervisi klinis dilakukan melalui tatap muka langsung dalam suasana terbuka
Supervisi klinis dijalankan dalam tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan, dan umpan balik
Kepala sekolah sebagai supervisor memberikan penguatan dan umpan balik terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan
Supervisi dilakukan secara ber-kesinambungan sehingga tercapai proses pembelajaran yang efektif, dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran.
Tahapan yang ditempuh kepala SDIT Raflesia dalam melakukan supervisi klinis:
a. Tahap pertemuan awal
Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
Kepala sekolah menciptakan suasana yang akrab dengan guru sehingga terjadi suasana kolegial. Dengan kondisi ini diharapkan guru dapat mengutarakan pendapatnya secara terbuka.
Kepala sekolah bersama guru membahas rencana pembelajaran yang dibuat guru untuk menyepakati aspek mana yang menjadi fokus perhatian supervisi, serta menyem- purnakan rencana pembelajaran tersebut.
Kepala sekolah bersama guru menyusun instrumen observasi yang akan digunakan, atau menggunakan instrumen yang telah ada, termasuk bagaimana cara menggunakan dan menyimpulkannya.
b. Tahap observasi kelas
Pada tahap ini guru mengajar di kelas, laboratorium atau lapangan, dengan menerapkan keterampilan yang disepakati bersama. Kepala sekolah melakukan observasi dengan meng- gunakan instrumen yang telah disepakati. Beberapa hal yang diperhatikan kepala sekolah dalam melakukan observasi ini adalah:
Kepala sekolah menempati tempat yang telah disepakati bersama.
Kepala sekolah membuat catatan observasi secara rinci dan lengkap.
Observasi yang dilakukan terfokus pada aspek yang telah disepakati sebelumnya.
42
Dalam hal tertentu, kepala sekolah membuat komentar yang sifatnya terpisah dengan hasil observasi.
Kepala sekolah melakukan pencatatan mengenai ucapan atau perilaku guru yang dirasa mengganggu selama proses pembelajaran.
c. Tahap pertemuan dan umpan balik
Pada tahap ini hasil observasi didiskusikan secara terbuka antara kepala sekolah dan guru.
Dalam tahap ini yang dilakukan kepala SDIT Raflesia adalah:
Kepala sekolah memberikan penguatan terhadap penampilan guru agar tercipta suasana yang akrab dan terbuka.
Kepala sekolah mengajak guru menelaah tujuan dan aspek pembelajaran yang menjadi fokus perhatian dalam supervisi.
Kepala sekolah menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran. Dalam hal ini pertanyaan diawali dari aspek yang dianggap berhasil terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan aspek yang dianggap kurang berhasil. Kepala sekolah tidak menyampaikan penilaian apa pun dan memberi kesempatan pada guru untuk menyampaikan pendapat terlebih dahulu terkait supevisi yang dilakukan.
Kepala sekolah menunjukkan data hasil observasi yang telah dianalisis dan diinterpretasikan. Selanjutnya kepala sekolah memberi kesempatan pada guru untuk mencermati data tersebut, kemudian menganalisisnya.
Kepala sekolah menanyakan kepada guru bagaimana pendapatnya terhadap data hasil observasi dan analisisnya. Kemudian dilanjutkan dengan mendiskusikan secara terbuka tentang hasil observasi tersebut. Dalam diskusi kepala sekolah senantiasa menghindari kesan “menyalahkan” guru. Kepala sekolah juga selalu mengupayakan agar guru menemukan sendiri kekurangannya.
Kepala sekolah bersama guru selanjutnya secara bersama menentukan rencana pembelajaran berikutnya. Dalam tahap ini kepala sekolah juga memberikan dukungan moral untuk memotivasi guru dalam memperbaiki kekurangannya.
Keberhasilan kepala SDIT Raflesia sebagai supervisor dalam melaksanakan supervisi klinis ditunjukkan oleh:
43
a) Meningkatnya kesadaan tenaga kependidikan (guru) untuk meningkatkan kinerjanya.
b) Meningkatnya keterampilan tenaga kependidikan (guru) dalam melaksanakan tugasnya.
Sebagai tindak lanjut hasil supevisi yang dilakukan oleh kepala SDIT Raflesia selama ini telah dimanfaatkan untuk:
Meningkatkan mutu dan kinerja tenaga kependidikan (guru).
Membuat penilaian kinerja guru.
Mengembangkan sekolah.
B. PEMBAHASAN
Peran pengawas dalam membina guru atau lebih dikenal dengan istilah supervisi pendidikan, memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam rangka meningkatkan kenerja guru khususnya dalam proses pembelajaran. Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins 1997).
Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki (Wagner dan Hollenbeck dalam Mantja, 2001). Dengan demikian, supervisi merupakan fungsi manajemen yang perlu diaktualisasikan, seperti halnya fungsi-fungsi manajemen yang lain. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan supervisi di sekolah, pengawas diharapkan mampu membimbing, membina, dan mendorong guru dalam memecahkan problematika kegiatan belajar mengajar yang dihadapi guru.
Supervisi mempunyai pengertian yang luas. Supervisi adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Supervisi dapat berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru, seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat- alat pelajaran dan metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis ter- hadap fase seluruh proses pengajaran, dll (Ngalim Purwanto, 76).
Pendapat lain tentang supervisi dikemukan oleh Piet A. Sahertian dan Frans Mataheru (1982:18), yaitu usaha-usaha yang dilakukan petugas sekolah dalam memimpin guru dan petugas
44
sekolah dalam hal memperbaiki pengajaran, menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan, dan perkembangan guru, serta merevisi tujuan pendidikan, bahan pengajaran serta metode mengajar.
Dari pengertian ini secara eksplisit menunjukkan beberapa komponen yang sangat memengaruhi proses pembelajaran seperti pertumbuhan dan perkembangan jabatan guru, adanya revisi tujuan pendidikan, bahan pengajaran serta metode mengajar. Komponen inilah yang menjadi sasaran atau obyek pelaksanaan supervisi.
Selain pendapat di atas, Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa supervisi adalah melihat bagaimana dari kegiatan di sekolah yang masih negatif diupayakan menjadi positif, dan melihat mana yang sudah positif untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih positif lagi, yang penting pembinaan. Dari pengertian tersebut jelas bahwa supervisi pada hakikatnya merupakan pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru dan staf sekolah lainnya agar mampu bekerja lebih baik. Supervisi yang baik pada dasar-nya lebih didasarkan pada upaya bagaimana membina para guru dalam rangka memperbaiki kinerjanya yang masih kurang, me- mecahkan hambatan dalam mengerjakan tugasnya serta meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh guru. Dalam pelaksanaan supervisi, kepala sekolah harus memperlakukan guru sebagai orang yang berpotensi untuk maju dan berkembang lebih baik sehingga tidak terkesan pelaksanaan supervisi hanya mencari kesalahan guru dalam melaksanakan tugas tetapi lebih diarahkan pada proses pembinaan.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa supervisi pendidikan merupakan aktivitas pembinaan yang dilakukan oleh atasan dalam hal ini kepala sekolah dalam rangka meningkatkan performasi atau kemampuan guru dalam menjalankan tugas mengajarnya sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran agar lebih efektif.
Pelaksanaan supervisi tidak hanya menilai penampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran melainkan esensinya yaitu bagaimana membina guru untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya yang berdampak pada peningkatan kualitas proses pembelajaran.
Melalui kegiatan supervisi tersebut diharapkan akan ada perbaikan dalam proses belajar mengajar yang didalamnya melibatkan guru dan siswa, melalui serangkaian tindakan, bimbingan, dan arahan. Melalui perbaikan pada proses belajar mengajar ini, maka diharapkan akan meningkatnya mutu/kualitas pendidikan.
45
Selanjutnya, dalam menjalankan perannya sebagai supervisor yang melakukan kegiatan supervisi akademik, kepala sekolah harus menghindarkan tindakan-tindakan yang bersifat menyuruh atau menggurui. Supervisi harus dilakukan dengan mengembangkan pola pendekatan kemitraan dengan jalan mendukung, membantu, dan membagi tugas dan pekerjaan kepada seluruh komponen pendidikan. Untuk itu, prinsip yang perlu dikembangkan dalam proses pelaksanaan supervisi sebagaimana dikatakan oleh Imam Wahyudi (2012:48) mencakup;
sistematis, objektif, realistik, antisipatif, konstruktif, kreatif, kooperatif, dan kekeluargaan.
Sistematis, artinya supervisi dikembangkan dengan perencanaan yang matang sesuai sasaran yang diinginkan. Objektif, artinya supervisi memberikan masukan sesuai dengan aspek yang terdapat dalam instrumen. Realistik, artinya supervisi didasarkan atas kenyataan sebenarnya, yaitu pada keadaan atau hal-hal yang sudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru di sekolah. Antisipatif, artinya supervisi diarahkan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin akan terjadi. Konstruktif, artinya supervisi memberikan saran-saran perbaikan kepada yang disupervisi untuk terus dikembangkan sesuai dengan ketentuan atau aturan yang berlaku.
Kreatif artinya supervisi mengembangkan proses pembelajaran. Kooperatif, artinya supervisi mengembangkan perasaan kebersamaan untuk menciptakan dan mengembangkan situasi pembelajaran yang baik. Kekeluargaan, artinya supervisi mempertimbangkan saling asah, asih dan asuh antar sesama warga sekolah.
Penerapan pola supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah SDIT Raflesia cukup bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah sebagai pelaksana supervisi memiliki pengetahuan dan keterampilan bagaimana menerapkan pola supervisi agar kegiatan supervisi yang dilakukan dapat menarik perhatian serta tidak membosankan bagi guru. Tahapan kegiatan supervisi, waktu yang dipilih untuk melakukan kegiatan supervisi, media atau alat yang digunakan dalam melakukan supervisi, maupun evaluasi kegiatan supervisi, secara keseluruhan dilakukan secara bervariasi. Kepala sekolah juga selalu melibatkan guru dalam membuat program pengawasan, selanjutnya program dan jadwal tersebut disosialisasikan kepada seluruh guru. Kegiatan tersebut berdampak dengan adanya respon positif dari para guru pada saat dilakukan kegiatan supervisi akademik. Hal ini disebabkan oleh terjalinnya komunikasi yang baik selama ini sehingga terbentuklah persepsi yang sama mengenai program supervisi dan tujuan dilaksanakannya supervisi.
46 IV. PENUTUP
Dari penelitian tentang pelaksanaan supervisi akademik di SDIT Raflesia maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) Pelaksanaan kegiatan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dilakukan secara formal dan terjadwal serta secara mendadak yang dilakukan kondisional (jika dibutuhkan). (2) Pelaksanaan supervisi yang dilakukan meliputi aspek: a) Administrasi persiapan mengajar (prota, prosem, silabus, RPP/ lesson plan, KKM, daftar nilai; b) proses pembelajaran (Kegiatan pembukaan, kegiatan inti, kegiatan penutup); c) Penggunaan media pembelajaran; dan d) Proses penilaian sedangkan pada kegiatan tindak lanjut, kegiatan supervisi diarahkan pada pembimbingan dan pelatihan kompetensi guru. (3) Teknik-teknik kegiatan supervisi yang dilakukan adalah teknik diskusi kelompok atau rapat supervisi, teknik kunjungan kelas/ lapangan, teknik pembicaraan individual, dan teknik simulasi pembelajaran. (4) Kendala yang dialami oleh kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan supervisi adalah terbatasnya waktu untuk menjalankan tugas supervisi akademik karena berbenturan dengan jadwa kegiatan lain sehingga kadangkala jadwal supervisi berubah. (5) Tidak ada supervisi yang dilakukan oleh pengawas sekolah.
Ada beberapa saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian yaitu: (1) Pelaksanaan kegiatan supervisi perlu terus dijaga keberlanjutannya sehingga pembinaan, pemantauan dan penilaian kinerja guru dapat berjalan dengan baik. (2) Menggunakan hasil supervisi sebagai bahan pertimbangan pengembangan karir guru (3) Kendala melaksanakan supervisi hendaknya dapat diatasi dengan berbagai cara, di antaranya: berkomitmen tinggi untuk mengatur penjadwalan dengan baik sehingga dapat melaksanakan supervisi akademik sesuai jadwal. (4) Hendaklah dilakukan pendekatan kepada Dinas Pendidikan setempat (UPT setempat) untuk mengkomunikasikan tentang pelaksanaan supervisi pendidikan oleh Pengawas Sekolah.
47
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Departemen Pendidikan Nasional (2006). Undang-Undang SISDIKNAS (UU RI No. 20 Th. 2003.
Jakarta, Sinar Grafika.
Direktorat Tenaga Kependidikan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2007). Naskah Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Untuk Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah. Jakarta, Depdiknas.
Imron, Ali (2011). Supervisi pembelajaran Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta, Bumi Aksara Mulyono (2009). Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Jogjakarta, Ar-Ruzz
Media.
Purwanto, Ngalim (2009). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Rivai, Veithzal (2009). Education Management, Analisis Teori dan Praktik. Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful (2010). Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan. Bandung, Alfabeta _________ (2012). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung, Alfabeta.
Sugiyono (2009). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung, Alfabeta.
Tsauri, Sofyan (2007). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jember: Centre for Society Study.
Jurnal:
Jurnal Penelitian UPI Vol 10, No. 2, Oktober 2009.