1 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada beberapa setting tempat. Lokasi penelitian secara lengkap dapat diuraikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Pelaksanaan Penelitian
2. Pengkodingan untuk Reduksi Data a. Penandaan Sumber Asal Data
Sumber penelitian ini berasal hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan terhadap responden. Data hasil wawancara dalam penelitian ini diberi kode WA.
b. Penandaan Responden
Dalam penelitian ini, subjek atau responden diberi kode SU. Subjek pada penelitian ini berjumlah 2 orang. Untuk informan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang dan diberi kode IF. Untuk memudahkan dalam membedakannya, peneliti menggunakan kode SU.1 untuk subjek 1 dan SU.2 untuk subjek 2.
c. Penandaan Letak Baris Dalam Verbatim
Penandaan letak baris dalam verbatim digunakan untuk memudahkan peneliti dalam menjelaskan dari mana asal pernyataan data-data tertentu yang digunakan untuk membahas hasil penelitian. Pada penelitian ini, wawancara digunakan sebagai sumber atau acuan utama dalam membahas hasil penelitian. Contoh penandaan letak baris pada verbatim dari wawancara adalah sebagai berikut:
1) WA.SU.1:1-5
Hal tersebut menunjukkan bahwa wawancara dilakukan terhadap subjek 1 yang dikutip dari baris 1 sampai 5 pada transkip wawancara.
2) WA.SU.2:20-23
No Nama Waktu Penelitian Lokasi Penelitian 1 SU.1/PW Jumat, 1 Oktober
2021
Rumah keluarga Ibu PW, Gulon, RT 02 RW 19, Jebres, Surakarta.
2 SU.2/TI Senin, 4 Oktober 2021
Rumah keluarga Ibu TI, Sekar Bird Farm, Sukoharjo.
2
Hal tersebut menunjukkan bahwa wawancara dilakukan terhadap subjek 2 yang dikutip dari baris 20 sampai baris 23 pada transkip wawancara.
3. Gambaran Umum Subjek Penelitian a. Profil Subjek 1
Subjek pertama pada penelitian ini adalah PW seorang ibu berusia 36 tahun. PW beragama Islam dan merupakan lulusan SD. PW merupakan seorang tunanetra (low vision). PW memiliki suami bernama DR yang juga seorang tunanetra (low vision) yang berumur 40 tahun. PW dan DR bertemu di salah satu dinas sosial tunanetra di Surakarta.
Kegiatan sehari-hari PW dan DR ini menjual es batu dan membuka jasa pijit di rumah atau home service. PW memiliki 4 orang anak, 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.
Anak pertama PW dan DR bernama MA juga mengalami tunanetra (low vision).
b. Profil Subjek 2
Subjek kedua dari penelitian ini yaitu TI. TI berusia 51 tahun. TI beragama Islam dan merupakan lulusan SMK. Sehari-hari TI bekerja sebagai buruh pabrik yang bernama Konimex. Pada pandemi saat ini, jam kerja TI tidak teratur, jika TI mendapatkan jadwal siang hari TI kerja mulai pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Jika mendapatkan jadwal malam hari TI kerja mulai pukul 4 sore hingga pukul 11 malam. TI memiliki suami bernama TO yang berumur 53 tahun dan merupakan lulusan SD. TI dan TO memiliki 2 orang anak perempuan. TI dan TO sudah memiliki 3 orang cucu dari anak pertamanya.
Setiap hari TI ikut merawat cucunya. Selain itu TI juga memenuhi kebutuhan anak kedua yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan bernama DA yang berumur 14 tahun.
Setiap hari TI menyiapkan segala keperluan DA mulai dari sarapan, pakaian hingga keperluan tugas yang harus dikerjakan.
4. Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini memfokuskan pada pembahasan pandangan orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja tunanetra, peran orang tua dalam pedidikan seks untuk remaja tunanetra dan kendala yang dihadapi orang tua dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja tunanetra. Data penelitian diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi.
a. Pandangan Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks Remaja Tunanetra
Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa orang tua remaja tunanetra belum memahami secara penuh mengenai pendidikan seks. Subjek 1 (PW) mengaku pernah mendengar istilah pendidikan seks, PW menjelaskan pemahamannya mengenai pendidikan seks remaja tunanetra.
“Mmmm… pernah ketoke mba (nada bingung)”(WA.SU.1:17-18)
3
“Opo yo mba, hehehe… Yoo seperti nasehatke nak wedok ojo pacaran sek, terusan pie carane nutup aurat niku mba. Yoo wis tau mba. Biasane kan enek acara neng tv niku mba. Opo yo mba. Lali mbak hehehe” (WA.SU.1: 20-24)
PW menjelaskan bahwa PW belum pernah mendapat pengetahuan mengenai pendidikan seks baik dari lingkungan tempat tinggal atau dari sekolah MA. Ia mendapatkan informasi mengenai pendidikan seks melalui acara televisi, namun ketika ditanyakan apa acaranya ia mengatakan lupa. PW menjelaskan bahwa penting untuk memberikan pendidikan seks pada MA yang sudah beranjak remaja. Namun ketika ditanyakan kembali, PW mengatakan belum perlu untuk mengajarkan pendidikan seks lebih dalam kepada MA.
“Opo yo mba. Lali mbak hehehe “ (WA.SU.1:21-24)
“Belum ada I mba, Ketok e belum sih mba, belum pernah dapat” (WA.SU.1: 25-28)
“Yo penting no mba, wong yo iki walaupun tunanetra tapi kan yo butuh ho untuk pengetahuan kan iku. La njih mba. Supaya tau remaja ki yo harus iso jogo awak dewe dari bahaya pelecehan seksual ngono kan wedi yo mba.” (WA.SU.1:29-33)
Menurut PW, MA yang sudah memasuki usia remaja diajarkan dan dikenalkan hukum antara perempuan dan laki-laki, diajarkan pendidikan agamanya. Namun PW menjelaskan jika pendidikan seks belum perlu dipahami lebih dalam di umur MA yang sudah memasuki usia remaja yaitu 14 tahun.
“laa iki oog mba, mergone kan iki sing penting kan kenalke iku hokum hokum antara ne opo iku… laki dan perempuan iku hukume pie. Selain iku se sing ora makhrom niku kan bedo mba, sing penting pendidikan agamane niku. Nek pendidikan seksual sing ke dalam urung anu mba, tapi ki yen rung perlu mba, usia segitu yan og. Untuk hp barang kano ra begitu anu mba, ora tak cekeli hp dewe mba. Sing penting kan iku pengetahuan agama ne antara ne lawan jenis dan hukum e pie kan yang penting iku mba.” (WA.SU.1:40-42)
Gambar 4.1. Kegiatan Wawancara Subjek 1 (PW)
4
Berdasarkan hasil dokumentasi gambar 4.1 di atas dapat dilihat di rumah sederhana tersebut berjejer 3 kulkas besar yang berisi es batu untuk dijual. Selain itu, di sudut lain terdapat ruangan untuk tempat pijit. PW menyebutkan bahwa sehari-hari hanya mengandalkan usaha tersebut untuk menghidupi anak-anaknya.
Berdasarkan hasil observasi, PW menjawab pertanyaan peneliti dengan santai sambil menggendong anaknya yang paling kecil. PW merupakan seorang tunanetra sehingga tidak ada kegiatan kontak mata dengan peneliti. Subjek menjawab pertanyaan satu per satu sesekali memberi tawa. Pada pertanyaan awal, subjek menunjukkan ekspresi bingung dan menjawab pertanyaan dengan ragu-ragu.
Begitu juga dengan TI, ketika peneliti bertanya mengenai apa yang ia ketahui tentang pendidikan seks remaja, TI mengaku belum mengetahui apa itu pendidikan seks remaja. Pada pertanyaan awal, TI cenderung diam sebentar mencerna pertanyaan yang diajukan peneliti. Peneliti berusaha menjelaskan secara singkat apa itu pendidikan seks.
TI menjelaskan ia takut jika di jalan DA mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
“Belum, gak tau hehehe... Oiya mba. Iku lho mba, dijalan takut, kejadian yang ga diinginkan”(WA.SU.2:17-24)
Menurut TI pendidikan seks penting diberikan kepada DA, namun TI mengaku belum memberikan pendidikan seks pada DA. TI jarang berada di rumah, DA ditemani oleh bapak dan kakak perempuannya.
“Yo penting. Belum mba. Karna saya kerja kan mba. Biasanya bu leknya yang ngasih tau.” (WA.SU.2: 43-46)
Selaras dengan jawaban PW dan TI, guru kelas DA yang sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah SLB YKAB Surakarta saat wawancara mengatakan bahwa sekolah belum pernah melakukan penyuluhan pada orang tua mengenai pendidikan seks.
Namun untuk siswa remaja tunanetra sekolah menyediakan penyuluhan pendidikan seks setiap tahunnya. Tidak hanya penyuluhan, sekolah juga menyediakan buku materi pendidikan seks dan juga media pembelajaran seperti boneka untuk membedakan laki- laki dan perempuan.
“Selama saya di sini dulu pernah mba, ada dari puskesmas itu, apa untuk anak SMP, anak SMP itu seperti pelatihan, untuk pendidikan seks ada beberapa anak yang diikutkan kemudian mereka dilatih disana. Kalo ke sekolahan langsung belum ada. Kalau secara anu mungkin secara informal mba jadi hanya memberi tahu memberitahu seperti itu mba. Misalnya guru-guru hanya sifatnya hanya memberitahukan seperti apa wajarnya
5
seorang laki laki atau seorang perempuan seperti itu. Kalau untuk orang tua mungkin belum ada mbak ya.”(IF.EW: 4-9).
Gambar 4.2. Konfirmasi dengan Guru Kelas
Berdasarkan hasil dokumentasi pada gambar 4.2 di atas, guru kelas yang juga sebagai Kepala SLB A YKAB Surakarta menjelaskan media pembelajaran seperti boneka yang jika disentuh atau diraba, anak tunanetra dapat membedakan, baik bagian luar maupun dalam tubuh yang sensitif. Media boneka tersebut cukup lengkap, mulai dari boneka kecil, maupun boneka yang memiliki ciri-ciri memasuki usia remaja. Beliau juga menjelaskan dengan menggunakan media boneka tersebut, remaja tunanetra dapat mengetahui pakaian yang sebaiknya digunakan, jika perempuan menggunakan rok dan laki-laki menggunakan celana panjang yang dapat menutup aurat mereka.
“Sebenarnya ada mbak, kita juga menyediakan boneka yang untuk membedakan laki- laki dan perempuan iu seperti apa. Dulu dipake juga og. Kalau perempuan rambunya panjang, pakai rok laki pakai celana kemudian secara fisik perumbuhannya apa saja, ada bagian kumis apa namanya ini jambang, laki laki menggunakan celana panjang. Ini juga ada alat kelaminnya ini ada. Harus pakek celana dalam untuk menjaga bagian sensitif itu tadi. Jadi anak kalau misalnya di pegang ini alat kelamin seperti ini, merawatnya bagaimana, kamu harus merawatnya bagaimana diperkenalkan. Hoo manusia harus berkembang biak diprkenalkan. Jadi pas pembelajaran kita bawa ini sebagai media pembelajaran. Perempuan juga sama kan ini pertumbuhannya apa seperti itu.” (IF.EW:39)
EW juga menjelaskan bahwa sebenarnya orang tua DA sudah memahami apa itu pendidikan seks, hanya saja mereka tidak tahu apakah yang mereka terapkan tersebut termasuk bagian dari pendidikan seks atau tidak.
6
”Saya kira mereka sudah paham, hanya saja mereka menerapkannya itu kan apakah iu pendidikan seks apa tidak, secara norma di dalam masyarakat mereka sudah menerapkan. Woo kalau anak perempuan kalau misalnya sore hari ya harus masuk ke dalam rumah seperti itu. Itu kan juga sebagian perlindungan pada dirinya juga. Kalau wanita harus menggunakan pakaian yang tertutup misalnya kan iu jua sebenarnya juga termasuk pendidikan seks to walaupun mereka belum paham apa itu pendidikan seks seperti itu.” (IF.EW: 34-35)
b. Peran Orang Tua Dalam Memberikan Pendidikan Seks Remaja Tunanetra Kedua orang tua yang menjadi subjek penelitian ini diketahui sangat dekat dengan anaknya. PW menyebutkan bahwa MA adalah anak yang baik dan mandiri. Ketika orang tua pergi, MA yang menjaga adiknya di rumah. Tak jarang MA dinasehati baik dalam hal pembelajaran ataupun kehidupan sehari hari. PW juga menyebutkan ayah MA juga sering menasehati MA agar bergaul dengan baik di sekolah.
PW mengatakan ia sudah mulai mengajarkan pendidikan seks kepada MA namun hanya yang dasar-dasar saja tanpa menjelaskan secara rinci. PW menjelaskan pada MA kalau ia sudah memasuki usia remaja yang harus bisa menjaga diri dari bahaya pelecehan seksual. PW menjelaskan bahwa MA sudah paham mengenai perubahan-perubahan yang dialami dalam dirinya yang sudah memasuki usia remaja.
Dalam memberikan pendidikan seks, PW memberikan nasehat kepada MA mengenai bagaimana cara memasang pembalut jika sedang menstruasi, PW menyebutkan MA sudah bisa menggunakan dan membersihkan pembalut secara mandiri, selain itu PW juga mengajarkan bagaimana cara bersikap, bagaiamana cara menggunakan pakaian yang menutup aurat dan larangan antara laki-laki dan perempuan.
“La njih mba. Supaya tau remaja ki yo harus iso jogo awak dewe dari bahaya pelecehan seksual ngono kan wedi yo mba. Yaaa.... diajarke mba MA wis tau juga og. Seperti tadi tu lo mba dikasi tau koe wis gedhe, cara pakaian ne, pie ke lawan jenis ojo deket deket ngono. (WA.S1: 31-34)
”Mmm... (diam sebentar). Belum i mba, cuman pie carane pemakaian pembalut, terus pie laki dan perempuan ki hukume pie ngono mba. Kalau ke dalam dalam e belum e mba”. (WA.SU.1: 36)
“laa iki oog mba, mergone kan iki sing penting kan kenalke iku hokum hokum antara ne opo iku… laki dan perempuan iku hukume pie. Selain iku se sing ora makhrom niku kan bedo mba, sing penting pendidikan agamane niku. Nek pendidikan seksual sing ke dalam urung anu mba, tapi ki yen rung perlu mba, usia segitu yan og. Untuk hp barang kano
7
ra begitu anu mba, ora tak cekeli hp dewe mba. Sing penting kan iku pengetahuan agama ne antara ne lawan jenis dan hukum e pie kan yang penting iku mba”. (WA.SU.I: 40)
Ketika ditanyakan kembali, di usia MA yang sudah memasuki usia remaja yaitu 14 tahun, PW menyebutkan belum perlu untuk mengetahui pendidikan seks secara mendalam. Namun PW mengaku jika MA menstruasi, ia mengajarkan bagaimana memasang pembalut di celana, sekali dua kali diajarkan MA sudah bisa memasang pembalut secara mandiri.
“Yoo urung mba”. (WA.SU.1: 41-42)
“Cuma yo nek menstruasi wes diajarke pie, yoo awal awale diajari pasang di celana ne, diajare pembalute diajari pemasangane, diajari pemakaian e sekali dua kali udah, selanjutnya udah bisa sendiri. Awal awale kan yo belum tau to mba belum kepikiran”.
(WA.SU.1:43-44)
PW, ibu dari MA mengajarkan pendidikan seks dengan cara menasehati MA, menjelaskan hukum dalam Islam bagaimana cara berpakaian dan berperilaku dengan lawan jenis. DO (Ayah MA) juga memiliki hubungan yang baik dengan MA. Ia selalu mengajarkan bahwa remaja perempuan itu harus sesuai dengan ajaran Agama.
“Ya sama mbak. Ya karna sudah gedhe ki pie. Pie carane wong wedok ki. Karo sing lanang ki pie. Ya sama sih mbak sama opo sing kulo nasehatke. Lha iya mbak. Supaya kan biar tau bahaya”. (WA.SU.I:55-60)
Berdasarkan hasil wawancara dengan anak PW, MA adalah seorang perempuan remaja yang berumur 14 tahun yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan atau yang biasa disebut low vision. MA memiliki orang tua yang juga memiliki keterbatasan seperti dirinya. MA dekat dengan kedua orang tuanya. Pada saat melakukan wawancara, MA terkesan malu-malu saat menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti.
MA menuturkan pendidikan seks penting untuk diajarkan kepadanya yang sudah memasuki usia remaja. Ketika peneliti memberikan pertanyaan mengenai pendidikan seks, MA menjawab dengan ragu dan hanya menjawab dengan satu kata yaitu menstruasi. MA mengatakan jika yang mengajarinya hal tersebut adalah ibu (PW). MA mengatakan jika ia sudah bisa menggunakan pembalut secara mandiri.
“Penting. Hehehehe (tertawa) mmmm... kayak menstruasi (ragu-ragu). Udah (sambil mengangguk).Ibuk. (IF.MA: 5-20)
8
Gambar 4.3. Konfirmasi dengan MA (Anak PW)
Berdasarkan hasil observasi, ketika peneliti melakukan tanya jawab dengan MA, MA cenderung menjawab dengan singkat. MA mengaku ayahnya sering memberikan larangan atau nasehat seperti tidak diperbolehkan pacaran, jika duduk harus bersikap dan berpakaian yang sopan. Selain itu, MA juga telah mengetahui jika ada orang asing atau lawan jenis yang berusaha melakukan tindakan pelecehan ia harus melarikan diri.
“Melarikan diri, Ibu sama ayah. Bu Yuni juga ngajarin gak boleh. Gak boleh pacaran.
Kalau duduk yang sopan itu terus bajunya yang sopan.” (IF.MA: 25-34).
Menurut guru kelas MA sangat penting untuk memberikan pendidikan seks bagi tunanetra. Ia menjelaskan jika di sekolah dilakukan pendekatan pada remaja tunanetra dengan menanyakan apakah sudah mengalami menstruasi atau belum, selain itu juga memberikan arahan dalam bergaul dengan lawan jenis.
“Eee.. kalau di sekolah kan ada namanya UM ada ADM itu pendekatan ditanya kamu sudah mens atau belum, diajari apa namane itu lo mbak, memakai pembalut. Terus kalok kamu sudah mens terus carane misalne buang cara makai ne bagaimana, setelah itu harus bagaimana, terus bar kui seandainya kamu pergaulanmu bagaimana, akibatnya bagaimana itu dari sekolah udah mba”. (IF.MY: 32).
Sebagai guru kelas, MY mengaku tidak mengetahui bagaimana cara orang tua MA dalam memberikan pendidikan seks, namun ia menjelaskan bahwa MA sudah memahami jika sedang menstruasi tidak boleh sholat. MY menambahkan bahwa di sekolah juga menyediakan celana dalam, seragam, hingga pembalut.
“Kalau dari orang tua saya tidak tau. Saya tidak tau kalo orang tua memberi atau tidaknya pada M kan. Tapi kalok apa itu MA mulai dari mens, kan kalo kita sholat berjamaah kan ayo sholat. Bu aku enggak og buk sedang halangan katanya. Di sekolah juga menyediakan celana dalam, terus seragam, seragam untuk darura terus itu
9
pembalut. Jadi kan waktu waktu anak itu dapat jadi langsung minta saya atau siapa itu kan sudah ada”.(IF.MY: 36)
Berdasarkan hasil dokumentasi diketahui bahwa di sekolah juga mengadakan pelatihan dokter kecil yang didalamnya ada materi pendidikan seks berupa kesehatan reproduksi remaja.
Gambar 4.4. Materi Pendidikan Seks
MY juga menjelaskan bahwa di sekolah menyediakan media belajar berupa boneka yang bentuknya disesuaikan dengan ciri ciri remaja, di bagian kemaluan tumbuh rambut halus, perempuan yang sudah beranjak remaja payudaranya membesar dan ciri lainnya.
Gambar 4.5. Media Boneka
10
Berdasarkan hasil dokumentasi pada gambar 4.5 di atas, diketahui media boneka digunakan dalam pembelajaran pendidikan seks anggota tubuh remaja, dilengkapi dengan pakaian dalam, bentuk tubuh yang sesuai dengan ciri-ciri remaja perempuan sehingga remaja tunanetra dapat meraba dan bisa membayangkan bagian sensitif yang dimaksud.
Berbeda dengan MA, DA adalah anak yang dimanjakan oleh orang tuanya. Setiap hari ibunya (TI) tidak lupa menyiapkan kebutuhan DA mulai dari baju jika ingin mandi, sarapan ataupun buku untuk persiapan DA mengerjakan tugas sekolah. Selain ibunya, bapak DA juga masih sering menyuapi jika sedang makan. DA dekat dengan kedua orang tuanya, tetapi karena TI (ibu DA) setiap hari bekerja, sehingga DA lebih sering dengan bapak TO dan kakak perempuannya.
“Yaaa sama saya juga deket sama bapaknya juga deket. Tapi yang sering di rumah kan bapaknya, saya kerja kan. Kalau masuk malam pulang jam 11 malam mbak. Lha iya mba. Kalo siang si ya masi ketemu.” (WA.SU.2: 11-14)
TI menjelaskan bahwa DA sudah mengalami menstruasi. TI menceritakan bagaimana pertama kali DA mengalami menstruasi dan ia menjelaskan apa itu menstruasi. TI juga mengajari DA bagaimana cara menggunakan pembalut.
“Sudah tau. Pertama itu gini lo mba, DA:“bu aku kayak pipis deh bu, trus kayak e perutku sakit buk, opo aku datang bulan yo buk yo?”Tak cubo. “Hoo i nduk wis ngeflek yo udah ndak papa” gitu mba. Iya. Cuma kalo itu lo mba, kalo make itu (pembalut) kadang kan gak bisa. Tak benahi kadang ndak mau. Ndak enak ndak enak. takut tembus, kan aku kasih yang panjang panjang yang malem itu lho. Takut, ketakutan. Enggko nek neng kasur pie buk, gak popo. Di rumah juga takut. Ndak papa iki kan panjang. Kok nek wis rodo berapa hari ganti yang kecil buk katanya, kan tinggal sedikit aku bilang, kalau satu dua hari itu tak kasih yang panjang terus. Sudah tingal sedikit dikasih yang kecil.”
(WA.S2:35-38).
Selain menggunakan pembalut, TI mengajarkan DA mengenai membuang pembalut setelah dipakai. TI juga menjelaskan bahwa ia yang mencuci pakaian DA.
Setelah mandi TI juga yang menyiapkan baju yang akan dikenakan DA.
“Ya kalau sudah mau mandi, pembalutnya dilepas, terus dibuang ke sampah, udah, pakaiannya gak usah di cuci aku yang cuci, mau di cuci tapi aku ndak bolehin.
Dibungkus to bu? Nek enek kertas dibungkus sek. Iya. Tapi kalau pake baju kadang kadang kebalik, tak siapin baju. Tapi ngak suka og mba, pakai baju ini gak suka ganti, gak enak ganti. Anak anak itu kan kalo pake baju ya sudah kalo ini kalo celana nya gak
11
kenceng ndak mau. Ngono sitik ndak mau, aku ngene ki lo mba, mesakne iki cilik cilik ki jik apik apik dia ga mau. Enaknya yang kenceng kenceng kayak baru gitu lho mba”.
(WA.SU.2: 47-50).
TI memberi tahu kalau DA tidak mau memakai pakaian yang longgar. Ia menjelaskan kalau DA sudah dajarkan untuk menutup aurat. Selain itu, TI juga sudah mengajarkan bagaimana cara membersihkan alat kelamin. TI juga menyebutkan bapak DA sering menasehati agar hati-hati jika di sekolah, agar bisa menjaga diri dari pelecehan seksual
“Sudah mba, ndak mau yang meloro lorot gitu. Isin katane. Yoo itu udah mba carane pie harus resik ngono”(WA.SU.2: 57-58)
Gambar 4.6. Kegiatan Wawancara Subjek 2 (TI)
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, TI menjawab pertanyaan peneliti dengan suara pelan. Beberapa pertanyaan awal subjek menjawab pertanyaan peneliti dengan nada datar dan singkat. Di tengah wawancara, subjek mulai menjelaskan walaupun terbata bata dan menunjukkan ekspresi kebingungan. Pada saat menjawab pertanyaan, subjek melakukan kontak mata dengan peneliti. Di beberapa pertanyaan terakhir, subjek menjawab pertanyaan dengan serius sambil melihat sesekali ke arah anak subjek. Subjek juga memberikan ekspresi yang terlihat sangat menyayangi anaknya yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan DA (anak TI), DA sudah mengetahui bahwa dirinya tidak diperbolehkan pacaran, selain itu ia juga diajarkan guru untuk menjaga diri.
DA juga mengetahui berita kasus pencabulan dari radio dan televisi yang ia dengar.
Orang tua DA hanya mengajarkan bagian sensitif, cara melindungi diri dari orang jahat, cara membersihkan pembalut walaupun yang sering membersihkan adalah ibunya “Tau dari radio,”Iya banyak kasus pencabulan gitu”. (IF.DA: 39-45)
12
“Kadang yang bersihin mama. Penting. Iya... belum. Ya gak nasehatin nasehatin.
Kadang cuma bercanda gitu”. (IF.DA: 50-66).
Gambar 4.7. Konfirmasi dengan DA (Anak TI)
Berdasarkan hasil observasi, Ketika peneliti meminta DA untuk menunjukkan bagian tubuh mana yang sensitif dan tidak boleh dipegang oleh orang lain, DA tahu dan dapat menunjuk dengan benar. Saat peneliti berbicara dengan DA, DA cenderung menggerak-gerakkan tangannya dan sesekali memegang matanya.
Menurut EW sebagai guru kelas DA, komunikasi antara DA dengan orang tuanya berjalan dengan baik sebagaimana mestinya anak dan orang tuanya. Menurut EW, secara informal orang tua DA sudah memberikan pendidikan seks seperti bagaimana cara berpakaian yang sopan dan jika sudah datang bulan telah diajarkan. Menurut EW orang tua mengajarkan pendidikan seks kepada DA masih secara umum.
“Secara informal mungkin iya mba, jadi hanya misalnya cara berpakaian, kalau misalnya seorang wanita ya dia memakai rok, sewajarnya sebagai wanita bagaimana, kalau laki-laki ya seperti apa, kalau laki laki ya harus pakai celana. Kalau wanita kan kalau SMP kan wanita biasanya kan sudah mulai mengalami datang bulan. Kalau datang bulan biasanya sudah diajarkan. Eee dari mana ya mba. Mungkin belum dapat penyuluhan gitu ya tapi orang tuanya sudah tau la harus gimana gitu. Lagian juga kan di rumah ada mbak e DA juga mbak. Iya mba masi yang umum umum saja”. (IF.EW:
16-21)
5. Analisis Hasil Penelitian Berdasarkan Wawancara Observasi dan Dokumentasi Tabel 4.2. Analisis Pandangan Orang Tua terhadap Pendidikan Seks Remaja Tunanetra
Aspek PW TI
13
Pandangan orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja tunanetra
• Subjek pernah mendengar kata pendidikan seks.
• Subjek belum pernah mendapat informasi mengenai pendidikan seks remaja baik di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal.
• Menurut subjek penting memberikan pendidikan seks kepada remaja tunanetra, namun tidak secara mendalam.
• Subjek menuturkan bahwa remaja tunanetra juga membutuhkan pendidikan seks.
• Subjek belum pernah mendengar kata pendidikan seks.
• Subjek belum pernah mendapat informasi mengenai pendidikan seks remaja baik di sekolah maupun tempat tinggal.
• Menurut subjek penting memberikan pendidikan seks kepada remaja tunanetra.
Tabel 4.3. Analisis Peran Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Remaja Tunanetra
Aspek PW TI
Peran orang tua dalam pendidikan seks untuk remaja tunanetra
• Subjek telah memberikan pendidikan seks pada anak.
• Materi pendidikan seks yang diberikan subjek seperti penggunaan pembalut saat menstruasi, bahaya pelecehan seksual, cara menutup aurat dan hukum antara laki-laki dan perempuan.
• Subjek memberikan pendidikan seks melalui nasehat.
• Subjek pernah memberikan pendidikan seks pada anak.
• Subjek mengaku jarang memberikan pendidikan seks.
• Subjek telah mengajarkan kepada anak bagaimana cara menggunakan pembalut dengan benar.
• Subjek memberikan pendidikan seks dengan memberikan nasehat.
14 B. Pembahasan
Orang tua memiliki peran penting pada pendidikan anaknya. Pendidikan pertama kali yang diperoleh anak adalah pendidikan orang tua. Termasuk pendidikan seks, orang tua sebagai guru pertama dalam menyampaikan hal tersebut kepada anak. Ketika orang tua memberikan pendidikan seks kepada remaja khususnya remaja tunanetra, hal ini merupakan suatu bentuk perlindungan terbaik orang tua dan anaknya.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi mengenai pandangan orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja tunanetra, pandangan serta peran orang tua dalam pendidikan seks untuk remaja tunanetra hingga hambatan yang mereka hadapi dalam memberikan pendidikan seks kepada remaja tunanetra diringkas di bawah ini:
1. Pandangan orang tua terhadap pendidikan seks bagi remaja tunanetra
Sebagaimana hasil penelitian ini ditemukan jawaban dari orang tua yang mengaku belum memahami pendidikan seks secara mendalam Pemahaman itu terlihat dari sejauh mana orang tua tahu dan mengerti mengenai pendidikan seks. Orang tua remaja tunanetra menganggap bahwa pendidikan seks belum sepenuhnya untuk diberikan kepada remaja tunanetra (WA.SU.1: 40). Orang tua remaja tunanetra mengaku belum pernah mendapat penyuluhan atau sosialisasi mengenai pendidikan seks baik melalui lingkungan hingga sekolah dimana anak menuntut ilmu (WA.SU.1 25-28). Dalam penelitian ini diketahui, secara konten orang tua remaja tunanetra memahami, namun secara konsep dan pengertian pendidikan seks tersebut masih memerlukan arahan. Orang tua penting untuk menerima sosialisasi pendidikan seks yang nantinya akan diberikan untuk anak.
Hal yang menarik yang ditemukan peneliti, ada orang tua yang menganggap bahwa pendidikan seks merupakan bahasan yang belum penting meskipun sudah memasuki usia remaja (WA.SU.2 : 17-20). Sedangkan menurut Wahyuni (2018) anak khususnya di usia remaja memiliki rasa keingintahuan terhadap masalah seks, sehingga orang tua dibutuhkan dalam memberikan informasi dan pendidikan seks kepada mereka. Dengan memperlihatkan minat seks di dalam diri remaja tunanetra, perlu untuk orang tua memberi pendidikan sebagai bentuk usaha perlindungan dari ajaran seks yang salah di lingkungannya (Lestari, 2015).
Masyarakat umum masih menganggap bahwa pendidikan seks adalah suatu ajaran yang tabu untuk didiskusikan pada remaja, dan masih berpikir bahwa pendidikan seks hanya diperlukan untuk orang dewasa saja ketika ingin menikah padahal hal tersebut perlu disampaikan di usia remaja untuk menghindari kasus yang telah terjadi. Pelecehan yang
15
terjadi pun pelakunya bahkan dari orang terdekat korban sehingga orang tua harus waspada (Artanto, 2014). Anak-anak dan remaja sangat rentan menerima informasi yang salah mengenai seks. Mereka akan terpengaruh oleh mios yang berkembang jika mendapat pendidikan seks yang benar. Informasi seputar seks harus diberikan langsung oleh orang tua (Safita, 2013).
Peran orang tua dirasakan penting, karena orang tua wajib untuk mengarahkan secara bijaksana informasi yang benar dan tepat sesuai dengan kebutuhan remaja termasuk di dalamnya pendidikan seks (Wiendijarti, 2011). Pendidikan seks sangat kompleks, sebagai usaha dalam memberikan pemahaman mengenai perubahan fisik, biologis psikologis serta psikososial yang muncul akibat tumbuh kembang manusia (Wahyuni, 2018). Pendidikan seks pada dasarnya diberikan sebagai informasi yang benar tentang seksualitas serta kesehatan reproduksi manusia. Dari pendidikan seks ini diharapkan anak berkebutuhan khusus khususnya tunanetra akan memahami seluk beluk anatomi dan fungsi alat reproduksinya sehingga bisa memikirkan lebih jauh resiko yang akan diperoleh ketika berperilaku seksual yang menyimpang.
2. Peran orang tua dalam pendidikan seks untuk remaja tunanetra
Diketahui bahwa orang tua memiliki hubungan yang dekat dengan masing-masing anaknya. Dalam hal pendidikan seks, subjek mengaku sudah memberikan informasi dan nasehat seperti menggunakan pembalut saat menstruasi, menggunakan pakaian sopan yang menutup aurat, melarang untuk berpacaran dan berperilaku berlebihan dengan lawan jenis ( WA.SU.1 35-44). Sebagai orang tua, mereka sudah memberikan apa yang diperlukan di usia remaja, namun masih banyak pendidikan seks yang belum dijelaskan lebih dalam kepada remaja tunanetra yang mereka menganggap belum cukup umur dalam mengetahui hal tersebut.
Sejalan dengan hal di atas, orang tua pendidik seks utama bagi anak harus memiliki kerjasama yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan seks. Adapun tujuan pendidikan seks antara lain (Rasyid 2013).
a. Memberik pemahaman yang benar mengenai materi pendidikan seks pada anak yang diantaranya memahami fungsi organ reproduksi, dapat mengidentifikasi tanda kedewasaan, kehamilan, perkawinan dan lain sebagainya.
b. Pemahaman terhadap materi pendidikan seks pada dasarnya adalah memahami ajaran agama yang dianut.
c. Menepis pandangan miring yang menganggap pendidikan seks tabu untuk dibicarakan.
16
d. Pemberian materi yang sesuai usia anak yang bisa menempatkan umpan dan papan e. Dapat mengantisipasi dampak akibat penyimpangan seksual.
Berdasarkan tujuan pendidikan seks di atas, orang tua remaja tunanetra sudah memberikan materi pendidikan seks, namun masih ada yang tertinggal seperti pemahaman organ reproduksi, kehamilan dan perkawinan. Orang tua sudah memahami bahwa materi pendidikan seks pada dasarnya berasal dari ajaran agama. Orang tua masih belum memberikan sepenuhnya materi pendidikan seks sesuai usia anak dan beranggapan belum penting untuk diketahui lebih dalam.
Orang tua harus bersikap aktif dalam memberikan pendidikan seks bahkan sejak usia dini kepada anak. Pendidik sentral dalam pemberian pendidikan seks pada anak adalah orang tua, maka pemahaman orang tua terhadap seks akan menjadi faktor penentu keberhasilan (Wahyuni, 2018). Peran orang tua dalam pendidikan seks (Lestari, 2015) diantaranya:
a. Peran kerja sama orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak remaja.
Pembagian antara ibu dan ayah sebagai pendidik dalam keluarga adalah suatu hal yang sangat penting. Dari didikan tersebut anak dapat mengetahui aspek-aspek seksualitas dan akan berkembang dalam kehidupannya. Mengembangkan pemikiran tentang seksualitas secara lengkap dan seimbang akan membuat anak berpikiran positif tentang seksualitas Clone (Lestari, 2015).
Berdasarkan hasil penelitian, orang tua masih belum melakukan kerja sama dalam memberikan pendidikan seks pada remaja tunanetra. hal ini dilihat dari ibu dari DA yang mengatakan bahwa belum memberikan pendidikan seks (WA.SU.2 : 17-20), sementara itu ketika melakukan konfirmasi terhadap DA, DA mengaku yang sering memberikan arahan mengenai pendidikan seks adalah tantenya(IF.DA: 12-15).
b. Sebagai evaluator dalam pendidikan seks.
Dalam pengajaran pendidikan seks harus ada evaluasi di dalamnya. Evaluasi ini tidak hanya untuk melakukan pengecekan sejauh mana pemahaman anak terhadap materi yang telah diberikan , namun juga hal ini berkaitan dengan sikap mereka dalam merespon informasi dari luar. Dalam pendidikan seks, harus ada evaluasi. Ketika peneliti melakukan konfirmasi terhadap anak subjek dengan memberi perintah untuk menunjuk bagian sensitif dari tubuh, MA dan DA tahu dan paham akan hal tersebut.
c. Pendamping
17
Orang tua bertanggung jawab untuk mendampingi anak remaja. Pada awalnya akan bergantung dengan orang tua, masa ini penting untuk memperhatikan anak dengan memasukkan norma dan nilai keluarga serta masyarakat.
d. Pendidik remaja dalam masalah seks.
Orang tua harus menjelaskan pendidikan seks secara lengkap dan disesuaikan dengan usianya. Orang tua berperan sebagai pemantau terhadap remaja terkait seks. Orang tua berusaha menjadi teman curhat dengan remaja dalam persoalan seks, sehingga anak berani mengungkapkan dan berbagi cerita mengenai seks dengan orang tuanya. Dalam hasil penelitian ini, diketahui bahwa orang tua belum sepenuhnya menjelaskan pendidikan seks secara lengkap dengan remaja.
e. Pemantau dalam pendidikan seks.
Sebagai pemantau dan kontrol yang baik sehingga tujuan pendidikan seks untuk remaja dapat tercapai dengan baik.
Dalam melalukan pembicaraan seks dengan remaja harus dilakukan dengan sikap yang sopan. Berikut beberapa sikap yang disarankan dalam berbicara dengan anak, antara lain (Wahyuni, 2018).
a. Memberi waktu khusus untuk berdiskusi mengenai seks b. Penyampaian pendidikan seks terbuka dengan anak.
c. Menyampaikan materi disesuaikan dengan usia anak.
d. Untuk memudahkan anak dalam menyerap informasi yang diberikan, orang tua sebaiknya menggunakan contoh konkret seperti boneka, gambar atau media yang membantu anak menyerap informasi.
e. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang tinggi dalam menjawab pertanyaan anak.
f. Sebagai contoh yang nyata, sebaiknya menggunakan tubuh remaja tunanetra itu sendiri untuk mereka mengetahui bentuk dan gambaran tubuhnya.
g. Meyakinkan diri sebagai orang tua bahwa edukasi tentang seks pada anak remaja penting.
Jika dikaitkan dengan hasil penelitian, orang tua remaja tunanetra belum sepenuhnya terbuka dalam memberikan pendidikan seks. Orang tua belum meluangkan waktu khusus untuk membicarakan hal tersebut kepada anak. Hal ini juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua mengenai pendidikan seks sehingga pemberian informasi kepada remaja tunanetra menjadi terhambat.
Bagi remaja, figur orang tua merupakan salah satu figur yang dianggap penting, disamping teman sebaya, guru dan lain lain. Interaksi antara anak dengan orang tua merupakan determinan utama sikap anak, dimana masing-masing mempunyai hak dalam
18
keluarga (Wiendijarti, 2011). Termasuk masalah pendidikan seks, orang tua sangat berperan penting dalam mengenalkan pendidikan seks pada remaja.
Pendidikan seks pada remaja tunanetra sebaiknya diberikan dari usia dini. Sejalan dengan itu, strategi yang dapat diterapkan orang tua dalam melaksanakan pendidikan seks dalam keluarga (Qusdsy, 2015) sebagai berikut:
a. Memperkuat ilmu agama b. Dimulai dari usia dini
c. Sesuai dengan kebutuhan anak d. Dilakukan secara bertahap
e. Dibicarakan secara terbuka antara anak dan orang tua
f. Jangan menunggu atau bahkan lari dari pertanyaan yang diajukan remaja
g. Menjawab pertanyaan anak dengan kalimat yang mudah untuk dimengerti di usianya.
Materi pendidikan seks bagi remaja tunanetra pada prinsipnya sama dengan yang diberikan untuk anak normal. Secara khusus penyediaan materi pendidikan seks untuk anak tunanetra lebih disesuaikan dengan kondisi fisik, psikologis dan tingkat usia anak yang bersangkutan (Aziz, 2014). Materi pendidikan seks bagi remaja berkebutuhan khusus khususnya tunanetra diantaranya (Aziz, 2014).
a. Menutup aurat
Pengajaran ini dilakukan karena organ vital di usia remaja semakin membesar dan semakin menarik untuk dipandang. Dalam hal ini orang tua sudah memberikan pengajaran kepada remaja tunanetra.
b. Pendidikan keimanan
Remaja akan mempunyai bekal dalam berpikir dan menerima informasi seksual dari pendidikan keimanan. Di dalamnya remaja diajarkan untuk tidak boleh menghayal dan membayangkan sesuatu hal yang dilarang oleh agama.
c. Pengetahuan dan perkembangan organ seksual serta merawatnya
Dalam hal ini remaja tunanetra dapat mengetahui bagaimana cara menjaga kebersihan organ vital yang berkeringat dan setelah selesai buang hajat. Remaja tunanetra juga harus mengetahui tentang menstruasi, cara kerja menstruasi, siklus yang dialami selama menstruasi, gangguan yang dialami saat menstruasi serta bagaimana cara membersihkan organ vital pada saat menstruasi. Selain itu, bagi anak laki-laki mereka harus mengenal mimpi basah dan bagaimana cara merawat organ vital dengan mandi besar dan
19
sebaginya. Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan dalam merawat dan membersihkan organ seksual telah diajarkan oleh orang tua, anaknya pun mampu merawat dengan baik.
d. Berperilaku dan berpenampilan sederhana.
Dalam hal ini remaja diharapkan bisa berpakaian yang sopan dan sederhana sehingga tidak mengundang pandangan hawa nafsu dari lawan jenis.
e. Etika memandang teman sejenis dan lawan jenis
Secara konseptual remaja tunanetra memang tidak dapat dilakukan sempurna, namun pendidikan seks bebas dapat diberikan. hal ini berguna untuk menghindari ajakan teman sebaya yang berusaha mempengaruhi untuk melakukan suatu penyimpangan.
f. Kekerasan dan pelecehan seksual
Usia remaja merupakan usia yang sangat rentan menjadi korban kasus pelecehan seksual.
Remaja tunanetra dituntut untuk waspada dalam menghadapi berbagai jenis sikap, perilaku yang mencurigakan dari orang lain.
g. Proses penciptaan dan pembuahan manusia
Pemberian informasi ini pada remaja tunanetra untuk mengantisipasi atas perbuatan yang mereka lakukan, bahwa jika melakukan hubungan diluar nikah akan menghasilkan hasil yang tidak baik.
h. Perlindungan hukum pada kekerasan seksual
Perlindungan hukum harus diberikan kepada remaja tunanetra agar mereka terhindar dan mampu secara terbuka mengungkapkan perlakuan perlakuan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat. Sebagian dari mereka bahkan berpotensi menjadi korban dengan keterbatasan yang dimiliki, oleh sebab itu penting memberikan informasi perlindungan hukum pada remaja tunanetra.
Dari penjelasan di atas pendidikan seks bagi remaja tunanetra sebagian sudah diajarkan oleh orang tua, namun masih banyak memerlukan pendekatan lebih dalam mengenai materi pendidikan seks yang harus diajarkan lebih dalam seperti pelecehan seksual yang sering terjadi, pembuahan di masa subur, akibat dari seks bebas hingga perlindungan hukum kekerasan seksual. Memasuki usia remaja, anak biasanya senang mengeksplorasi nafsu karena kondisi hormonal yang mudah muncul. Sebagai pendidik, orang tua harus mampu mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan positif yang berguna untuk mengalihan pikiran anak dalam melawan nafsu atau godaan.
Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja tunanetra diantaranya; metode ceramah, cerita atau kisah, diskusi, metode peringatan, dan metode pengikatan. Namun pada kenyataannya orang tua menggunakan
20
nasehat, ceramah maupun peringatan tanpa memberikan kesempatan anak dalam bertanya mengenai pendidikan seks.