• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Latar Belakang PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. Latar Belakang PENDAHULUAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20161

PENDAHULUAN

BAB I

1. Latar Belakang

Penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme harus berpedoman pada azas umum penyelenggaraan negara yang meliputi kepastian hukum, tertib penyelenggaraan negara, kepentingan Umum, Keterbukaan, Proporsionalitas dan Akuntabilitas.

Azas akuntabilitas adalah azas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapatdipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 mewajibkan setiap instansi pemerintah sebagai unsur penyelenggara negara pemerintahan termasuk Unit Pelaksana Teknis yang merupakan satuan kerja mandiri wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya serta kewenangan pengelolaan sumber daya dan kebijaksanaan yang dipercayakan kepadanya berdasarkan perencanaan strategi yang dirumuskan sebelumnya.

BBKPM Surakarta berdasar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 532/MENKES/PER/VII/2007 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 2354/MENKES/PER/XI/2011 merupakan Unit Pelaksana Teknis dibawah Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan yang mempunyai tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) yang dilakukan di dalam dan di luar gedung.Pelayanan UKM meliputi upaya promosi kesehatan paru, skrining kesehatan paru, surveilans, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan kesehatan paru. Pelayanan UKP yang dilakukan meliputi pelayanan rawat jalan, laboratorium, radiologi, farmasi, diagnostik paru, fisioterapi, gawat darurat, one day care (rawat inap) dan konseling kesehatan paru.

Tugas dan fungsi BBKPM Surakarta tersebut dijabarkan dalam Rencana

StrategisBBKPM Surakarta 2016-2019 dan dijabarkan lebih lanjut dalam Rencana

Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta 2016

(2)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20162 2. Maksud dan Tujuan

Penyusunan Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta tahun 2016ini mempunyai maksud dan tujuan, yaitu :

Maksud

 Sebagai perencanaan kegiatan tahunan yang akan dilaksanakan dan harus dicapai oleh BBKPM Surakarta tahun 2016.

Tujuan

 Tujuan penyusunan Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta tahun 2016 adalah sebagai pedoman seluruh pihak mengenai target yang harus dicapai BBKPM Surakarta tahun 2016.

3. Visi dan Misi a. Visi

Visi adalah gambaran tentang masa depan ( future ) yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Dalam rangka memberikan arah pandang kedepan terkait dengan kinerja dan peranannya serta untuk memberikan gambaran tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai oleh BBKPM Surakarta ditetapkan visi untuk periode 2016-2019 yaitu :

b. Misi

Sejalan dengan visinya untuk menjadi Rumah Sakit Paru kelas B unggulan pada tahun 2019, maka diperlukan rumusan mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi yang akan dicapai. Adapun misi untuk periode 2016-2019 adalah:

VISI

“MENJADI RUMAH SAKIT PARU KELAS B UNGGULAN PADA TAHUN 2019”

(3)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20163 4. Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi.

Berdasar Pasal 2 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 532/MENKES/PER/VII/2007 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor :2354/MENKES/PER/XI/2011, BBKPM Surakarta mempunyai tugas pokok melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, pelayanan kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan dan kemitraan serta pengembangan sumberdaya di bidang kesehatan paru masyarakat.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimanadiamanatkanpasal 2 tersebut, BBKPM Surakarta menyelenggarakan fungsi :

1. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat;

2. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru masyarakat;

3. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kemitraan dan pengembangan sumberdaya di bidang kesehatan paru masyarakat;

4. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru masyarakat;

5. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penelitian dan pengembangan kesehatan paru masyarakat;

6. Pelaksanaan urusan Tata Usaha.

MISI

1. Menyelenggarakan pelayanan medik kesehatan paru dan pernapasan yang terakreditasi;

2. Meningkatkan pelayanan Unggulan TB-HIV secara komprehensif;

3. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan paru;

4. Mendorong kemandirian hidup sehat dan menjalin kemitraan

dibidang kesehatan paru masyarakat.

(4)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20164 Susunan Organisasi BBKPM Surakarta terdiri atas :

1. Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan

Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan mempunyai tugas pokok : melaksanakan perencanaan dan evaluasi di bidang pemeriksaan, pengobatan dan pelayanan rehabilitasi kesehatan paru spesialistik dan subspesialistik yang berorientasi masyarakat serta rujukan dengan sarana pelayanan kesehatan.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan perencanaan dan evaluasi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan paru masyarakat;

b. Penyusunan perencanaan dan evaluasi pelayanan rehabilitasi kesehatan paru masyarakat;

c. Penyusunan perencanaan dan evaluasi pelayanan rujukan;

d. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penunjang kesehatan;

e. Penyusunan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan;

Bidang Pelayanan dan penunjang Kesehatan terdiri dari : a. Seksi Pelayanan Kesehatan

Seksi Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan evaluasi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan paru masyarakat, pelayanan rehabilitasi kesehatan paru masyarakat, serta pelayanan rujukan.

b. Seksi Penunjang Kesehatan

Seksi Penunjang Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penunjang kesehatan, serta pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan.

2. Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya.

Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya mempunyai

tugas pokok : melaksanakan perencanaan dan evaluasi penyuluhan kesehatan

dan konseling pemberdayaan masyarakat, kerjasama, serta pengembangan

sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat.

(5)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20165 Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan kesehatan dan konseling;

b. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan pemberdayaan masyarakat;

c. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kerjasama;

d. Penyusunanperencanaan dan evaluasi kegiatan pengembangan sumber daya.

Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya terdiri atas : a. Seksi Promosi Kesehatan

Seksi Promosi Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan kesehatan dan konseling, pemberdayaan masyarakat dan kerjasamaserta hubungan masyarakat.

b. Seksi Pengembangan Sumber Daya

Seksi Pengembangan Sumber Daya mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pengembangan sumber daya meliputi pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan paru masyarakat.

3. Bagian Tata Usaha

Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program, pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian, kerumahtanggaan, perlengkapan dan hubungan masyarakat.

Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Tata Usaha menyelenggarakan fungsi:

a. Pelaksanaan penyusunan rencana program dan anggaran, penyajian informasi, evaluasi dan laporan;

b. Pelaksanaan urusan kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan rumah tangga;

c. Pelaksanaan urusan keuangan.

Bagian Tata Usaha terdiri dari : a. Subbagian Umum

Subbagian Umum mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana

program dan anggaran, penyajian informasi, evaluasi dan laporan, urusan

kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan rumah tangga.

(6)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20166 b. Subbagian Keuangan

Subbagian keuangan mempunyai tugas melakukan urusan verifikasi, perbendaharaan dan akuntansi.

4. Struktur Organisasi

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 532/MENKES/PER/VII/2007 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor :2354/MENKES/PER/XI/2011 struktur organisasi BBKPM Surakarta terdiri dari:

a. Kepala

b. Kepala Bagian Tata Usaha 1) Kepala Sub Bagian Umum 2) Kepala Sub Bagian Keuangan

c. Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan 1) Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan

2) Kepala Seksi Penunjang Kesehatan

d. Kepala Bidang Promosi dan Pengembangan Sumber Daya Kesehatan membawahi:

1) Kepala Seksi Promosi Kesehatan

2) Kepala Seksi Pengembangan Sumber Daya Kesehatan e. Kepala Instalasi

f. Kelompok Jabatan Fungsional berangka kredit dan non angka kredit Gambar 1.

Struktur Organisasi BBKPM Surakarta berdasar Permenkes Nomor :

532/MENKES/PER/VII/2007

(7)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20167

(8)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20168

SASARAN STRATEGIS/PROGRAM

BAB II

BBKPM Surakarta telah menetapkan sasaran-sasaran strategis yang ingin dicapai oleh BBKPM Surakarta, yaitu :

1. Terwujudnya cost effectiveness bidang pelayanan kesehatan paru;

2. Terwujudnya kepuasan stakeholders;

3. Terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang;

4. Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi;

5. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru;

6. Terwujudnya Rumah Sakit Jejaring;

7. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru;

8. Terwujudnya kehandalan sarana dan prasarana;

9. Terwujudnya system informasi dan Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi;

10. Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja;

11. Terwujudnya SDM yang excellent.

DariDari sasaran strategis tersebut diatas, dijabarkan lebih lanjut mengenai indikator-

indikator sasaran sebagai berikut :

SASARAN STRATEGIS/PROGRAM INDIKATOR TARGET

1. Terwujudnya cost effectiveness bidang pelayanan kesehatan paru;

1. % Rasio pendapatan operasional disbanding biaya

operasional (POBO) 36%

2. Terwujudnya kepuasan stakeholders; 2. % Kepuasan Pasien 80%

3. % Kecepatan respon

terhadap complain 80%

4. RS Akreditasi Nasional - 3. Terwujudnya pengembangan jenis

pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang;

5. Jumlah jenis pelayanan

spesialistik 7

4. Terwujudnya transformasi mutu

pelayanan yang terakreditasi; 6. Waktu tunggu pelayanan 60 7. Jumlah laporan pengawasan

internal yang terlaksana 7 8. Kelengkapan rekam medic

kembali kurang dari 24 Jam 90%

(9)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 20169

SASARAN STRATEGIS/PROGRAM INDIKATOR TARGET

setelah selesai pelayanan 9. Kepatuhan penggunaan

formularium nasional 90%

10. Nett Death Rate ≤2 ‰

11. Emergency Response Time 1 < 5 Menit 5. Terwujudnya Rumah Sakit Paru

Surakarta unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru;

12. % Kasus TB HIV diobati 35%

13. % Implementasi penanganan

TB Paru sesuai ISTC 75%

6. Terwujudnya Rumah Sakit Jejaring;

14. Jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang

pelayanan paru 5

15. Jumlah kegiatan UKM

kesehatan paru 6

7. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru;

16. Jumlah institusi pendidikan yang bekerjasama dalam bidang pendidikan kesehatan paru

21

8. Terwujudnya kehandalan sarana dan prasarana;

17. % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai Rumah Sakit Paru Kelas B

70%

9. Terwujudnya system informasi dan Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi;

18. % Sistem Informasi

Kesehatan terintegrasi 40%

10. Terwujudnya budaya menolong dan

berkinerja; 19. % IMplementasi Sistem

Manajemen SDM 75%

11. Terwujudnya SDM yang excellent. 20. % Dokter dan perawat yang mendapat pelatihan ≥ 20

Jam dalam satu tahun 35%

(10)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201610

RENCANA KINERJA TAHUNAN

BAB III

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi BBKPM Surakarta tahun 2016, telah ditetapkan target yang ingin dicapai BBKPM Surakarta sebagaimana tertuang dalam Rencana Kinerja Tahunan sebagai berikut :

1. Terwujudnya cost effectiveness bidang pelayanan kesehatan paru

 Indikator Kinerja : % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional (POBO)

Rasio POBO merupakan perbandingan antara pendapatan PNBP dibagi dengan biaya operasional. Sedangakn pengertian dari pendapatan PNBP merupakan pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas barang/jasa yang diserahkan kepada masyarakat termasuk pendapatan yang berasal dari hibah, hasil kerjasama dengan pihak lain, sewa, jasa lembaga keuangan, dan lain-lain pendapatan yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelayanan BLU, tidak termasuk pendapatan yang berasal dari APBN.

Biaya Operasional merupakan seluruh biaya yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, yang terdiri dari belanja pegawai dan belanja barang, dan sumber dananya berasal dari penerimaan anggaran APBN dan pendapatan PNBP Satker BLU

Pada tahun 2016, BBKPM Surakarta menargetkan target POBO sebesar 36%.

2. Terwujudnya kepuasan stakeholders

 Indikator Kinerja : a. % Kepuasan pasien

Kepuasan pasien atau pelanggan merupakan salah satu indikator pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat diterima. Guna mengetahui kepuasan stakeholders BBKPM Surakarta utamanya pasien maka BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator % Kepuasan Pasien.

Target indikator % kepuasan pasien pada tahun 2016 telah ditetapkan sebesar 80%.

Penghitungan atas indicator % kepuasan pasien dilakukan 2 (dua) kali dalam

1 (satu) tahun.

(11)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201611 b. % Kecepatan respon terhadap complain

Kecepatan respon terhadap komplain adalah kecepatan Rumah sakit dalam menanggapi komplain baik tertulis, lisan atau melalui mass media yang sudah diidentifikasi tingkat risiko dan dampak risiko dengan penetapan grading/ dampak risiko berupa ekstrim (merah), Tinggi (kuning), Rendah (hijau), dan dibuktikan dengan data, dan tindak lanjut atas respon time komplain tersebut sesuai dengan kategorisasi/grading/dampak risiko.

Warna Merah : cenderung berhubungan dengan polisi, pengadilan, kematian, mengancam sistem/kelangsungan organisasi, poptensi kerugian material dll.

Warna Kuning : cenderung berhubungan dengan pemberitaan media, potensi kerugian in material, dll.

Warna Hijau : tidak menimbulkan kerugian berarti baik material maupun immaterial.

Metode Penilaian :

1. Melihat data rekapitulasi komplain yang dikategorikan merah, kuning, hijau

2. Melihat data tindak lanjut komplain setiap kategori yang dilakukan dalam kurun waktu sesuai standar

3. Membuat prosentase jumlah komplain yang ditindaklanjuti terhadap seluruh komplain disetiap kategori

a. Komplain kategori merah ditanggapi dan ditindaklanjuti maksimal 1x24 jam

b. Komplain kategori kuning ditanggapi dan ditindaklanjuti maksimal 3 hari

c. Komplain kategori hijau ditanggapi dan ditindaklanjuti maksimal 7 hari.

BBKPM Surakarta telah menetapkan target untuk indikator ini adalah sebesar 80%.

c. RS terakreditasi nasional

Dalam visinya sebagaimana tertuang dalam rencana strategis bisnis periode

2016-2019, BBKPM Surakarta telah menetapkan visinya untuk berubah

menjadi Rumah Sakit Khusus Paru Kelas B. Perubahan tersebut harus diikuti

seluruh pemenuhan perizinan dan persyaratan untuk dapat menjadi Rumah

Sakit Khusus Paru sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan

(12)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201612 nomor 56 tahun 2014 tentang Klarifikasi dan Perizinan Rumah Sakit serta Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan nomor 340 tahun 2010 tentang Kalsifikasi Rumah Sakit.

Dalam ketentuan peraturan menteri kesehatan tersebut mengamanatkan bahwa setiap Rumah Sakit harus terakreditasi. Akreditasi diberikan kepada rumah sakit yang telah berdiri selambat-lambatnya 2 tahun setelah berdiri.

Pada tahun 2016, BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator RS terakreditas nasional dengan target masih 0. Target 0 pada indikator tersebut dikarenakan capaian akreditasi Rumah Saikti Khusus Paru sebagai hasil perubahan BBKPM Surakarta dapat dicapai pada tahun 2019.

3. Terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang

 Indikator Kinerja : Jumlah jenis pelayanan spesialistik

Dalam rangka mewujudkan sasaran strategis Terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang, BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator Jumlah jenis pelayanan spesialistik dengan target pada tahun 2016 ditetapkan sebanyak 7 jenis pelayanan spesialistik. 7 Jenis pelayanan spesialistik yang telah ditargetkan pada tahun 2016 tersebut ialah :

- Pelayanan spesialistik Paru;

- Pelayanan spesialistik Radiologi;

- Pelayanan spesialistik Penyakit Dalam;

- Pelayanan spesialistik Kedoteran dan Rehab Medik;

- Pelayanan spesialistik Patollogi Klinik;

- Pelayanan spesialistik Mikrobiologi Klinik;

- Pelayanan spesialistik Anak.

4. Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi

 Indikator kinerja :

a. Waktu Tunggu Layanan (Rawat Jalan)

Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan rawat jalan pada hari kerja yang

mudah dan cepat di akses oleh pasien maka BBKPM Surakarta telah

menetapkan indikator waktu tunggu layanan (rawat jalan).

(13)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201613 Indikator waktu tunggu rawat jalan (WTRJ) adalah rata-rata waktu yang diperlukan mulai dari pasien yang sudah terdaftar tiba di poliklinik sampai dilayani dokter.

Indikator waktu tunggu rawat jalan pada tahun 2016 ditetapkan sebesar 60 menit atau kurang.

b. Jumlah Laporan Pengawasan Internal yang Terlaksana

BBKPM Surakarta merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Kesehatan berdasar Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 8/KMK.05/2011 tentang Penetapan BBKPM Surakarta pada Kementerian Kesehatan Sebagai Instansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Sebagai instansi yang telah menerapkan pengelolaan keuangan badan layanan umum, BBKPM Surakarta harus mengedepankan prinsip pengelolaan instansi yang baik melalui akuntabilitas dan transparansi. Untuk menjalankan fungsi tersebut maka dibentuklah Satuan Pemeriksaan Internal (SPI).

Dalam rangka meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, ditetapkanlah indikator kinerja berupa jumlah laporan pengawasan internal yang terlaksana.

Pada tahun 2016, target indikator tersebut telah ditetapkan sebesar 7 laporan.

c. Kelengkapan Rekam Medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan

Pada tahun 2016, BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan. Target untuk indikator tersebut ditetapkan sebesar 90%.

d. Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional

Mulai tanggal 1 Januari 2014 Pemerintah mulai memberlakukan pelayanan

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial (BPJS) Kesehatan. Dalam penyelenggaraan JKN Pemerintah wajib

menyediakan obat-obat yang dibutuhkan oleh pasien. Dalam penyediaaan

obat bagi pasien JKN maka disusunlah Daftar Formularium Nasional yang

harus ditaati seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka pemberian

pelayanan bagi pasien JKN, termasuk BBKPM Surakarta. Oleh sebab itu

ditetapkanlah indikator kepatuhan penggunaan formularium nasional dengan

target pada tahun 2016 sebesar 90%.

(14)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201614 e. Nett Death Rate

Nett death rate adalah kematian pasien setelah dirawat > 48 jam, penetapan indikator kinerja utama sebagai indikator kinerja utama BBKPM Surakarta guna mengendalikan angka kematian pasien setelah dirawat > 48 jam.

f. Emergency Response Time 1

Emergency Respon Time adalah waktu yang dbutuhkan pasien untuk sampai mendapatkan penanganan petugas UGD. Indikator tersebut digunakan untuk melihat kecepatan respon petugas di UGD dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam Perjanjian Kinerja tahun 2016, BBKPM Surakarta telah menetapkan target bagi indikator Emergency Response Time 1 yaitu dibawah 5 menit.

5. Terwujudnya Rumah Sakit Khusus Paru Surakarta Unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru

 Indikator kinerja :

a. % Kasus TB HIV diobati

Rencana strategis bisnis BBKPM Surakarta periode 2016-2019 telah menetapkan visinya untuk berubah menjadi rumah sakit khusus paru kelas B unggulan tahun 2019. Unggulan yang telah dipilih dalam rangka perubahan dari balai menjadi rumah sakit adalah TB-HIV.

Untuk mengukur unggulan BBKPM Surakarta tersebut dipilihlah indikator % Kasus TB-HIV diobati. Target indikator % Kasus TB-HIV diobati pada tahun 2016 adalah sebesar 35%.

b. % Implementasi penanganan TB Paru sesuai ISTC

Dalam rangka mencapai sasaran strategis terwujudnya rumah sakit khusus paru Surakarta unggulan sebagai pusat rujukan kesehatan paru, telah ditetapkan indikator Implementasi penanganan TB Paru sesuai ISTC adalah seluruh pasien TB yang ditangani sesuai ISTC (penegakan diagnosis dan evaluasi pengobatan).

6. Terwujudnya Rumah Sakit Jejaring

 Indikator kinerja :

a. Jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru

Dalam rangka mewujudkan transformasi BBKPM Surakarta menjadi Rumah

Sakit Khusus Paru, BBKPM Surakarta dituntut untuk menjalin kerjasama dengan

(15)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201615 jejaring fasilitas pelayanan kesehatan lain. Pada tahun 2016, BBKPM Surakarta menargetkan dapat menjalin kerjasama dengan 5 (lima) institusi dalam bidang pelayanan kesehatan paru. 5 (lima) institusi yang direncanakan dapat menjalin kerjasama dengan BBKPM Surakarta yaitu :

- Rumah Sakit Panti Waluyo;

- Klinik Pratama Nurifa, - Klinik Iis Medika;

- Praktek dokter keluarga Dr. Adiati;

- Klinik Ananda.

b. Jumlah kegiatan UKM kesehatan paru

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor532/MENKES/PER/VII/2007, BBKPM Surakarta mempunyai fungsi melaksanakan pelayanan kesehatan khususnya di bidang kesehatan paru yang berbasis masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan fungsi BBKPM Surakarta sesuai dengan amanat Permenkes tersebut, BKPM Surakarta telah menetapkan indikator jumlah kegiatan UKM kesehatan paru. Jumlah kegiatan UKM kesehatan paru yang ditargetkan pada tahun 2016 adalah sebanyak 6 kegiatan. 6 Kegiatan UKM yang ditargetkan pada tahun 2016 tersebut diantaranya adalah kegiatan visitasi kesehatan paru, sarasehan pelanggan, pemberdayaan masyarakat dll.

7. Terwujudnya Rumah Sakit Khusus Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru

 Indikator kinerja :

Jumlah institusi pendidikan yang bekerjasama dalam bidang pendidikan kesehatan paru

BBKPM Surakarta merupakan tempat bagi mahasiswa untuk melakukan

penelitian dan praktek kerja lapangan. Penelitian dan dan praktek kerja lapangan

tersebut dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai insitusi pendidikan baik dari

sekitar Kota Surakarta maupun dari luar Kota Surakarta. Pada tahun 2016,

BBKPM Surakarta telah menetapkan indicator jumlah institusi pendidikan yang

bekerjasama dalam bidang pendidikan kesehatan paru dengan target sebanyak

21 institusi.

(16)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201616 8. Terwujudnya kehandalan saran dan prasarana

 Indikator kinerja :

a. % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai Rumah Sakit Paru Kelas.

Dalam rangka mencapai visinya untuk berubah menjadi Rumah Sakit Khusus Paru diperlukan sarana dan prasarana minimal sebagai Rumah Sakit Khusus Paru Kelas B sesuai ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 serta Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 340 Tahun 2010.

Guna mencapai persyaratan atas sarana dan prasarana sebagai Rumah Sakit Khusus Paru Kelas B, maka ditetapkanlah indikator % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasaran sebagai RUmah Sakit Khusus Paru Kelas B. Pada tahun 2016, target atas indikator % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai Rumah Sakit Paru Kelas ditetapkan sebesar 70%.

9. Terwujudnya Sistem Informasi dan Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi

 Indikator kinerja :

a. % Sistem Informasi Kesehatan terintegrasi

Pasal 44 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 menyebutkan bahwa “Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit”. GUna melaksanakan pencatatan dan pelaporan tersebut dibutuhkan sistem informasi kesehatan yang handal guna mendukung pelayanan di Rumah Sakit.

Atas dasar itulah, BBKPM Surakarta dalam rangka perubahan menjadi Rumah

Sakit Khusus Paru menetapkan indikator terwujudnya sistem informasi dan

komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi. Target yang ditetapkan pada tahun

2016 untuk target tersebut adalah sebesar 40%, yang meliputi 5 unit/instalasi

yaitu Instalasi Rekam Medik, Kasir dan Poliklinik. Target selama 5 tahun periode

renstra 2016-2019 untuk indikator tersebut adalah 12 unit/instalasi.

(17)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201617 10. Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja

 Indikator kinerja :

% Implementasi Sistem Manajemen SDM

BBKPM Surakarta telah menetapkan Rencana Strategis Bisnis periode 2016-2019.

Dalam, dokumen rencana strategis bisnis BBKPM Surakarta tersebut terdapat indikator-indikator kinerja utama yang harus dicapai oleh BBKPM Surakarta.

Untuk mengukur pencapaian atas indicator-indikator tersebut, BBKPM Surakarta menetapkan indicator % implementasi sistem manajemen SDM. Target atas pencapaian indicator tersebut pada tahun 2016 adalah 75%.

11. Terwujudnya SDM yang excellent

 Indikator kinerja :

% Dokter dan perawat yang mendapat pelatihan ≥ 20 Jam dalam satu tahun

Perubahan yang telah ditetapkan oleh BBKPM Surakarta menjadi Rumah Sakit

Khusus Paru sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Bisnis BBKPM

Surakarta membawa konsekuensi tersedianya sumber daya manusia khususnya

dokter dan perawat yang handal dan berkompeten. Guna mewujudkan tenaga

dokter dan perawat yang hamdal dan kompeten maka peningkatan keterampilan

tenaga dokter dan perawat menjadi sesuatu yang mutlak harus terpenuhi. Salah

satunya dilakukan melalui pelatihan bagi dokter dan perawat lebih dari 20 Jam

dalam satu tahun.

(18)

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 201618

PENUTUP

BAB IV

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta Tahun 2016 merupakan suatu dokumen yang dipersyaratkan dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Dokumen ini merupakan salah satu komponen dari siklus akuntabilitas kinerja yang dimulai dari perencanaan strategis dan diakhiri dengan adanya Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).

Rencana Kinerja Tahunan BBKPM Surakarta berisi maksud, tujuan, visi, misi, struktur organisasi serta target-target yang akan dicapai pada tahun 2016.

Dengan disusunnya rencana kinerja tahunanTahun 2016 diharapkan dapat

dijadikan acuan dalam penyusunan perjanjian kinerja tahun 2016 dan sebagai dasar

pelaksanaan tugas dan fungsi BBKPM Surakarta guna mencapai tujuan dan sasaran

pembangunan kesehatan, khususnya kesehatan paru.

Referensi

Dokumen terkait

perpindahan panas yang paling besar seiring dengan pressure drop nya.Dari perhitungan koefisien konveksi maka didapatkan perhitungan nilai Overall Heat Transfer Coefficient zona

Gambar 4.4 Kurva hubungan antara kadar kumulatif β -carotene melewati mukosa palatum secara ex-vivo sebagai fungsi waktu yang ditetapkan pada λ = 461

Implementasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dipandang cukup penting, karena memfokus-kan pada masalah-masalah sosial dan budaya di dalam masyarakat. Nilai-nilai

Menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan atau pengurangan bilangan bulat Bersama siswa mendiskusikan cara penyelesaian soal cerita tentang penjumlahan

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi algoritma kriptografi aes dan steganografi dengan metode lbs cukup berhasil.

Semakin baik hubungan dan komunikasi medis dan paramedis dengan pasien, maka akan membuat pasien enggan untuk berpindah ke penyedia layanan kesehatan yang lain, hal

NO HARI/ TGL JAM PUKUL JURUSAN MATAKULIAH DOSEN PEMBINA PENGAWAS RUANG A Ma'rifatul Munjiyah,M.HI.,M.Pd. B Ma'rifatul Munjiyah,M.HI.,M.Pd C

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yang pertama adalah Apakah permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan keterampilan sosial anak di TK Aisyiyah