Dicetak Januari 2012.
Pengantar 6 Tahapan Pengembangan BOSDA Berbasis Formula 9 Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA 9 Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula 10 Langkah 2.1:Mengidentifikasi tema/variabel dalam penyusunan formula 11
Langkah 2.2: Memilih cakupan geografis 12
Langkah 2.3: Menetapkan kelompok sasaran penerima BOSDA 13 Langkah 2.4: Menyepakati variabel, kriteria kelayakan dan proporsi 15
BOSDA Berbasis Formula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran 17 Langkah 3.1: Rencana alokasi tiap kelompok sasaran 19
Langkah 3.2: Verifikasi tabel alokasi 21
Langkah 4: Berkoordinasi dengan pemangku kepentingan kabupaten / 26 kota
Langkah 5: Persiapan dokumen untuk memasukkan alokasi anggaran 27 BOSDA Berformula di dalam APBD/DPA
Langkah 5.1: Menyiapkan alokasi BOSDA untuk APBD/DPA 27 Langkah 5.2: Menyiapkan petunjuk teknis BOSDA 28 Langkah 5.3: Menyiapkan dasar hukum pelaksanaan BOSDA 28
Daftar Isi
Daftar Tabel
Tabel 1: Contoh Estimasi Alokasi BOSDA 2012 10 Tabel 2: Contoh Materi Diskusi Identifikasi Variabel 11 Tabel 3: Bahan dan topik diskusi yang disarankan (LANGKAH 2.2) 13 Tabel 4: Materi dan topik diskusi yang disarankan (Langkah 2.3) 14 Tabel 5: Persentase proporsi BOSDA berdasarkan variabel 16 Tabel 6: Tinjauan BOSDA Berformula – Hasil dari Langkah 2 [CONTOH] 18
Tabel 7: Langkah 3.1 dalam Excel 20
Tabel 8: Sebelum dan Sesudah BOSDA 22
Tabel 9: Contoh aturan pendanaan pada BOSDA Berformula 24 Tabel 10: Jadwal yang disarankan untuk proses membangun konsensus
Gambar 1. Alur Pengembangan BOSDA Berbasis Formula 4 Gambar 2. Perbandingan BOSDA per Siswa dengan BOSDA berbasis
Formula 5
Gambar 3. Perbandingan sebelum dan sesudah BOSDA
Berbasis Formula 23
Daftar Gambar
Biaya Operasional Sekolah Dana Pendamping BOS Bantuan Biaya Pendidikan Dana Rutin
Bantuan Biaya Pendidikan Gratis Hibah Kegiatan BOS Bantuan Operasional
Pendidikan Daerah (BOPD) Program Insentif Kesejahteraan Guru Belanja Operasional Sekolah Pelaksanaan Operasional
Biaya Operasional PAUD Pelayanan Administrasi Perkantoran Biaya Operasional Pendidikan Pendidikan Gratis
Biaya Operasional
Pendukung Kegiatan Belajar Mengajar Pendidikan Murah
Biaya Pembebasan SPP Peningkatan Kualitas Pendidikan
dan Insentif Guru Menengah Umum
Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) Penyediaan BOS
BOS Daerah Penyelenggaraan Operasional Sekolah BOS kabupaten PPAP (Program Pelayanan
Administrasi Perkantoran)
BOSDA Program Administrasi Perkantoran
Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan
Diniyah dan Guru Swasta (BPPDGS) Program Beasiswa Miskin Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan
Madrasah Diniyah dan Guru Swasta
(BPPMDGS) Program Wajib Belajar
Dana Bantuan Pendidikan Subsidi Pendidikan gratis
Dana Operasional Pendidikan Tambahan dana pendidikan gratis Dana Pemeliharaan Rutin Tambahan BOS
Variasi nama BOSDA
Gambar 1: Alur Pengembangan BOSDA Berbasis Formula Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran
Menempatkan alokasi BOSDA berbasis formula dalam APBD
Menetapkan target / fokus BOSDA berbasis formula
Koordinasi dengan pemangku kepentingan di kabupaten /kota
Langkah 2.1:
Mengidentifikasi tema/variabel dalam penyusunan formula
Langkah 3.1:
Rencana alokasi tiap kelompok sasaran
Langkah 5.1: Menyiapkan alokasi BOSDA pada APBD Langkah 5.2: Menyusun petunjuk teknis BOSDA
Langkah 5.3: Menetapkan dasar hukum pelaksanaan BOSDA Langkah 3.2:
Verifikasi tabel alokasi Langkah 2.2:
Memilih cakupan geografis
Langkah 2.3:
Menetapkan kelompok sasaran penerima BOSDA
Langkah 2.4:
Menyepakati variabel, kriteria dan proporsi BOSDA berbasis formula
1
3 5
2 4
Bagan BOSDA
Gambar 2: Perbandingan BOSDA per Siswa dengan BOSDA berbasis Formula
0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 14000000 16000000
SDN 1 SDN 3 SDN 4 SDN 7 SDN 10 SDN 12 SDN 20
BOSDA berbasis Formula
25000000 20000000 15000000 10000000 5000000 0
SDN 1 SDN 3 SDN 4 SDN 7 SDN 10 SDN 12 SDN 20
BOSDA per Siswa
Sebelum BOSDA Berformula
Sesudah BOSDA Berformula
Dengan menerapkan BOSDA Berbasis Formula, diharapkan pengalokasian dana BOSDA lebih adil dan mendorong peningkatan mutu pendidikan.
Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) adalah bantuan operasional sekolah yang berasal dari anggaran pemerintah daerah (APBD) yang ditujukan untuk mendukung dana BOS yang berasal dari pemerintah pusat. Penyediaan BOSDA oleh pemerintah daerah ini merupakan amanat dari berbagai Peraturan Perundangan yang ada.UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan salah satu urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah, dan ditegaskan oleh PP No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan. Dalam menyelenggarakan otonomi, pemerintah daerah berkewajiban meningkatkan pelayanan dasar pendidikan (UU No. 32, 2004), seperti juga yang dinayatakan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dimana “Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara….”Dalam PP No. 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan dinyatakan bahwa “Pemerintah daerah,..dapat membantu pendanaan biaya nonpersonalia satuan atau program pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah dan masyarakat.”
Dengan adanya BOS dan BOSDA diharapkan dapat menjadi dukungan tercapainya Standar Pelayanan Minimum (SPM) sehingga dapat meningkatkan akses dan kualitas pendidikan.
Pendahuluan
Sebagian besar BOSDA disalurkan dengan menggunakan formula yang sama yang digunakan oleh BOS nasional, yaitu per siswa per tahun. Dengan formula ini, maka sekolah yang mempunyai siswa yang banyak – biasanya berada di wilayah perkotaan – akan mendapatkan dana BOS dan BOSDA yang besar. Sebaliknya, sekolah dengan siswa sedikit – biasanya terletak di wilayah pinggiran atau terpencil, akan mendapat alokasi BOS dan BOSDA sedikit. Hal ini berpotensi menyebabkan kesenjangan antarsekolah di wilayah yang berbeda.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, diperkenalkan pengembangan BOSDA berbasis formula dimana dalam perhitungan pengalokasian BOSDA mempertimbangkan berbagai karakteristik wilayah termasuk kondisi geografis, profil pendidikan, serta hasil pendidikan yang ingin dicapai.
Buku ini adalah panduan teknis bagi pemerintah daerah untuk menyusun secara bertahap pengembangan BOSDA berbasis formula.Dengan buku ini, pemerintah daerah diharapkan dengan mudah dapat melakukan uji coba pengembangan BOSDA sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
Panduan ini juga dilengkapi dengan perangkat lunak (software) yang akan memudahkan pengguna melakukan uji coba.
Tahapan Pengembangan BOSDA Berbasis Formula
Pengembangan rancangan BOSDA Berbasis Formula terdiri dari 5 langkah. Masing-masing langkah akan dijelaskan pada tahapan berikut.
Langkah 1 untuk mengidentifikasi berapa besar anggaran BOSDA yang dialokasikan oleh kabupaten/kota. Angka ini dapat berupa angka tahun berjalan atau angka estimasi untuk tahun berikutnya.
Nama BOSDA bervariasi di masing-masing kabupaten/kota. Program ini tidak dimaksudkan untuk mengubah nama menjadi BOSDA, meski hal itu dimungkinkan untuk dilakukan. Lampiran A berisi daftar nama-nama BOSDA yang telah ada di beberapa kabupaten/kota saat ini.
Menghitung Jumlah Anggaran BOSDA
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
1
Tabel 1: Contoh Estimasi Alokasi BOSDA tahun 2012 Kabupaten / kota XXXXX
Menetapkan target/fokus BOSDA
Berbasis Formula
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula Langkah 2.1: Mengidentifikasi Tema/Variabel Dalam
Penyusunan Formula Langkah 2.2: Memilih Cakupan Geografis
Langkah 2.3: Menetapkan Kelompok Sasaran Penerima BOSDA Langkah 2.4: Menyepakati variabel, kriteria kelayakan, dan
proporsi BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
2
Nama Program Tahun Jumlah
Tingkat Sekolah Dasar (SD)
BOSDA 2011 Rp.3,400 juta
BOPP 2011 Rp.5,200 juta
Kemungkinan jumlah total BOSDA untuk tingkat SD 2012 Rp.8,600 juta Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
BOSDA 2011 Rp.2,400 juta
BOPP 2011 Rp.4,200 juta
Kemungkinan jumlah total BOSDA untuk tingkat SMP 2012 Rp.6,600 juta
Tabel 2: Contoh Materi Identifikasi Variabel diskusi
Langkah 2 untuk menentukan variabel, penerima manfaat dan definisi kelayakannya melalui serangkaian diskusi dengan Tim dinas pendidikan di kabupaten/kota. Langkah ini meliputi 4 tahap yang dimulai dengan mengidentifikasi hal-hal yang ingin dikembangkan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.
Peserta diskusi adalah para pengambil keputusan dan orang-orang yang mempunyai informasi tentang pendidikan di lingkungan dinas pendidikan.
Tim dapat terdiri dari Kepala Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Kepala bagian yang bertanggungjawab terhadap pendidikan dasar dan menengah, keuangan, manajemen data, dan para pengawas pendidikan.
Diskusi dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan pendidikan yang dihadapi daerah dan hasil yang diharapkan. Permasalahan pendidikan biasanya berhubungan dengan aksesibilitas, kualitas dan manajemen pengembangan sekolah. Contoh materi dan topik diskusi tercantum dalam tabel berikut:
2.1
Mengidentifikasi Variabel Dalam Penyusunan Formula
Hasil Keluaran: Variabel yang akan dimasukkan dalam formula BOSDA Materi diskusi: Profil pendidikan di kabupaten/kota: akses, kualitas dan
tata kelola
Topik diskusi: • Analisis mengenai apa yang “baik” and “buruk”pada penerapan BOSDA saat ini
• Apa prioritas pembangunan di bidang pendidikan di kabupaten/kota
• Apa indikator sekolah yang kurang beruntung/perlu dibantu?
• Apakah prestasi / hasil pendidikan yang ingin diraih?
Langkah 2.2 untuk mengidentifikasi dan memutuskan apakah BOSDA akan didistribusikan ke seluruh area atau hanya area tertentu dalam wilayah kabupaten/kota yang lebih membutuhkan.
Kondisi dan situasi sekolah di berbagai kecamatan di dalam sebuah kabupaten/kota sering kali beragam sehingga perlu untuk mengangkat masalah kesenjangan wilayah ini sebagai bahan pertimbangan, untuk didiskusikan dan dicari solusi bagaimana BOSDA seharusnya mengatasi permasalahan ini.
Indikator yang disarankan untuk didiskusikan sehubungan kesenjangan ini adalah APK/APM di kecamatan. Berikut ini contoh sederhana unutk diskusi.
2.2
Memilih Cakupan Geografis
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula Langkah 2.1: Mengidentifikasi Tema/Variabel Dalam Penyusunan Formula
Langkah 2.2: Memilih Cakupan Geografis Langkah 2.3: Mengidentifikasi Penerima BOSDA
Langkah 2.4: Menyepakati variabel, kriteria kelayakan, dan proporsi BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
Langkah 2.3 untuk menentukan kelompok sekolah yang akan menerima BOSDA.
2.3
Menetapkan Kelompok Sasaran Penerima BOSDA
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula Langkah 2.1: Mengidentifikasi Tema/Variabel Dalam Penyusunan Formula
Langkah 2.2: Memilih Cakupan Geografis
Langkah 2.3: Menetapkan Kelompok Sasaran Penerima BOSDA
Langkah 2.4: Menyepakati variabel, kriteria kelayakan, dan proporsi BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
Hasil / keluaran: Wilayah yang akan didanai BOSDA – semua atau sebagian
Materi diskusi: Rencana / profil pengembangan pendidikan di kabupaten / kota
APK/APM kecamatan, Identifikasi 5 kecamatan yang terendah
Topik diskusi Kesenjangan apa yang terlihat di antara kecamatan sehubungan dengan APK/APM?
Apakah BOSDA Berformula mentargetkan kecamatan atau semua?
Apakah dampak jika dialokasikan ke semua kecamatan atau hanya sebagain saja?
Tabel 3: Contoh materi diskusi cakupan geografis
Ruang lingkup penerima BOSDA sangat beragam, yang salah satunya dipengaruhi oleh besarnya dana BOSDA yang tersedia. Terdapat daerah yang hanya mengalokasikan BOSDA untuk sekolah negeri, namun ada juga yang mengaloaksikan untuk sekolah negeri dan swasta, bahkan madrasah serta semua jenjang pendidikan. Selain itu, ada juga BOSDA yang ditujukan untuk kelompok sekolah seperti MGMP, KKG, dan lain sebagainya.
Penentuan ruang lingkup penerima dapat mengacu pada penerima tahun sebelumnya.Namun juga sangat dimungkinkan untuk dikembangkan pada lingkup yang lebih luas agar kemanfaatan BOSDA dapat dinikmati oleh lingkup pendidikan yang lebih luas.
Hasil / keluaran: Kelompok sasaran penerima BOSDA Materi diskusi: Dokumen BOSDA tahun terakhir
Topik diskusi: Sekolah mana yang akan didanai BOSDA Berformula?
SD/MI (negeri/swasta)?
SMP/MTs (negeri/swasta)?
Kelompok sekolah: MKKS, KKG, MGMP, dll?
Jenis sekolah lainnya ( (SLB, pondok pesantoren, PKBM, dll,)
Tabel 4: Contoh materi diskusi kelompok sasaran
LANGKAH 2.4 untuk membuat kesepakan tentang variabel, kriteria dan proporsi, berdasarkan hasil diskusi di langkah sebelumnya. Langkah ini akan memberikan arahan mengenai rincian, teknis dan kalkulasi yang tepat dari alokasi sekolah di Langkah 3.
Komponen dalam penyusunan BOSDA berbasis formula pada umumnya mencakup 3 hal: (i) alokasi dasar, (ii) alokasi karakteristik sekolah, dan (iii) alokasi penghargaan.
Alokasi dasar adalah alokasi yang sama untuk semua sekolah. Alokasi ini untuk menjamin bahwa semua sekolah baik sekolah besar maupun kecil mendapat alokasi BOSDA.Pembedaan jumlah alokasi dasar dapat didasarkan pada perbedaan jenjang atau lokasi.Sebagai contoh, alokasi SD berbeda dengan SMP, atau alokasi SD di kecamatan dengan APM rendah, berbeda dengan APM tinggi.
Alokasi karakteristik sekolah adalah alokasi yang didasarkan pada berbagai variable yang menjadi karakteristik sekolah seperti letaknya yang terpencil, jumlah siswa sedikit, sekolah satu atap, rasio siswa-guru, dan lain- lain yang ditentukan dan disepakati bersama.
2.4
Menyepakati variabel, kriteria dan proporsi BOSDA Berformula
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula Langkah 2.1: Mengidentifikasi Tema/Variabel Dalam Penyusunan Formula
Langkah 2.2: Memilih Cakupan Geografis
Langkah 2.3: Menetapkan Kelompok Sasaran Penerima BOSDA Langkah 2.4: Menyepakati variabel, kriteria kelayakan,
dan proporsi BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
Alokasi penghargaan adalah alokasi yang ditujukan untuk memberikan insentif bagi sekolah yang mempunyai pencapaian tertentu sehingga memberikan dorongan bagi sekolah untuk meningkatkan prestasinya.
Alokasi ini misalnya untuk sekolah yang meningkat nilai ujian nasionalnya, menurun drop outnya, meningkat tinggi tingkat kelulusannya, danprestasi lainnya.
Beberapa saran yang dapat dipertimbangkan:
Jangan takut untuk melakukan uji coba. Cobalah untuk inovatif dalam
•
memberikan alokasi bagi sekolah-sekolah yang berkondisi buruk dan berprestasi bagus untuk mempersempit kesenjangan antarsekolah dan antar kecamatan di kabupaten / kota dan untuk mendorong prestasi di sekolah.
Cobalah untuk tidak mengalokasikan dana lebih banyak bagi sekolah
•
yang sudah mendapat banyak dana misalnya karena siswanya banyak atau merupakan sekolah unggulan.
Jangan gunakan terlalu banyak variabel (disarankan 3-5 saja) – karena
•
akan membuat rancangan menjadi terlalu rumit sehingga sulit diaplikasikan.
Gunakan informasi/data yang terbaru, yang tersedia, dan mudah.
•
JANGAN hapuskan alokasi dana untuk siswa yang miskin.
•
Tabel 5: Contoh Materi Diskusi Variabel, Kriteria, Proporsi
Proporsi
30%
40%
20%
10%
100%
Kriteria per sekolah 0 – 10 km 11 – 20 km 21 – 30 km
< 0 0,1 – 0,5 0,6 – 1,0 Variabel
Jarak Sekolah ke pusat kota/kabupaten
Peningkatan Nilai UN Alokasi Dasar
Alokasi Karakteristik Sekolah
Alokasi Penghargaan
Monev Total
Disarankan untuk tidak menggunakan daan BOSDA yang mendorong
•
penambahan guru karena saat ini jumlahnya telah melebihi kebutuhan di Indonesia.
Perhatian! BOSDA Berformula adalah sebuah cara untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk sekolah-sekolah dengan kondisi buruk dan/atau yang berprestasi bagus, tetapi BOSDA Berformula ini tidak mengikat peruntukannya oleh sekolah masing-masing. Sekolah dapat merancang peruntukan BOSDA Berformula sesuai dengan prioritas masing-masing.
Setelah langkah 2, Dinas Pendidikan Kabupaten / Kota akan melakukan uji coba BOSDA Berbasis formula di mana contohnya seperti terlihat di bawah ini:
Uji coba
pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran
Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
3
Tabel 6: Contoh Alokasi BOSDA Berbasis formula
Jumlah Anggaran BOSDA tahun 2012
Cakupan Geografis
Rp 5 Miliar (SD/MI) Rp. 5 Miliar (SMP/MTs) (BOPP di APBD 2011)
Semua kecamatan
1
2.2 2
2.3-4
Tema/variabel yang teridentifikasi untuk diatasi dalam BOSDA Berbasis Formula
Persentasi proporsi BOSDA menurut variabel
Sekolah agar:
Menurunkan angka DO sampai 0 %,
• 100% tingkat melanjutkan dari sekolah dasar
• ke sekolah menengah pertama Prestasi belajar yang lebih baik
• Lebih banyak sumber daya keuangan untuk
• sekolah di daerah miskin
[CONTOH]
Variabel Alokasi dasar
Alokasi karakteristik sekolah Alokasi Prestasi
Kelompok sekolah Monitoring dan evaluasi Total BOSDA Berformula
SD/MI (swasta/negeri)
Alokasi dasar Rp. 2 Miliar
• (40%)
Tambahan alokasi dasar
• untuk sekolah di kecamatan yang APM nya meningkat Rp. 500 juta (10%)
Alokasi dasar Rp. 2 Miliar
• (40%)
Tambahan alokasi dasar
• untuk sekolah di kecamatan yang APM nya meningkat Rp. 500 juta (10%) Jarak: Rp. 1 Miliar (20%)
• Rombel/Guru Rp. 500 juta
• (10 %)
Jarak: Rp. 1 Miliar (20%)
• Rombel/Guru Rp. 500 juta
• (10 %) DO menurun Rp. 250 million
• (5%)
Kenaikan UN Rp. 250 juta
• (5%)
DO menurun Rp. 250 juta
• (5%)
Kenaikan UN Rp. 250 juta
• (5%) MKKS Rp. 350 juta (7%)
• • MKKS Rp. 350 juta (7%)
Rp. 150 juta (3%)
Rp.5 Miliar (100%) Rp.5 Miliar (100%) Rp. 150 juta (3%) SMP/MTs (swasta/negeri)
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran
Langkah 3.1: Rencana alokasi tiap kelompok sasaran Langkah 3.2 Verifikasi tabel alokasi
Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
Berawal dari tabel di atas, Langkah 3 akan melibatkan lebih banyak pekerjaan yang lebih rincidengan menggunakan Excel dalam tabel alokasi BOSDA (Langkah 3.1) dan verifikasi tabel alokasi (Langkah 3.2), untuk memfinalisasi dan mengalokasikan BOSDA Berbasis Formula:
Langkah 3.1 untuk membuat tabel rencana alokasi BOSDA yang akan diterima oleh setiap sekolah.Terdapat lima tahapan yang dapat diikuti:
a. Mempersiapkan data yang dibutuhkan untuk menghitung BOSDA Berbasis Formula
b. Mengidentifikasi jumlah sekolah yang sesuai untuk setiap variabel c. Menghitung alokasi BOSDA per sekolah untuk setiap variabel
d. Melakukan pembulatan angka pada alokasi BOSDA per sekolah untuk setiap variabel agar lebih praktis
e. Selisih antara total alokasi sekolah dengan jumlah total anggaran BOSDA dapat ditambahkan atau dikurangkan dengan alokasi untuk Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Tabel berikut ini menggambarkan bagaimana langkah-langkah tersebut bisa dilakukan, menggunakan contoh yang sangat sederhana dari BOSDA Berbasis Formula dengan hanya dua variabel untuk 9 sekolah.
3.1
Rencana alokasi tiap kelompok sasaran
Tabel 7: Rencana Alokasi BOSDA untuk sekolah Pembulatan 0 0 2,900,000 4,300,000 2,900,000 0 4,300,000 2,900,000 2,900,000 20,200,000 +200,000
N/S N N N N N S S S S
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Pengali 0 0 1.0 1.5 1.0 0 1.5 1.0 1.0 7.0
SMP NEGERI 1 SMP NEGERI 2 SMP NEGERI 3 SMP NEGERI 4 MTs NEGERI SMP Barata SMP Pancasila MTs harapan 1 MTs Padmow Total
Alokasi 0 0 2,857,143 4,285,714 2,857,143 0 4,285,714 2,857,143 2,857,143 20,000,000 Gap
Pengali 0 0 0 1 0 0 0 1 1 6
Alokasi 0 0 0 6,666,667 0 0 0 6,666,667 6,666,667 20,000,000 Gap
Pembulatan 0 0 0 6,700,000 0 0 0 6,700,000 6,700,000 20,100,000 +100,000
Variabel A Variabel B
STEP 3.1.c: Kalkulasi alokasi sekolah untuk tiap variabel
STEP 3.1.e: selisih ditambahkan
ke Monev
LANGKAH 3.1.a & b: Siapkan data yang diperlukan dan identifikasi sekolah yang sesuai untuk setiap variable
STEP 3.1.d: Pembulatan angka ke atas/bawah
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 3.1: Rencana alokasi tiap kelompok sasaran Langkah 3.2 Verifikasi tabel alokasi
Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
Langkah 3.2 untuk melakukan pengecekan sesuai angka pada tabel BOSDA Berbasis formula dan melihat apakah sudah sesaui dengan yang diharapkan.
Pengecekan dapat dilakukan dengan membuat grafik untuk membandingkan antara sebelum dan sesudah menggunakan BOSDA berbasis formula.
Tahapan dalam verifikasi ini adalah:
a. Mengkoreksi kesalahan penghitungan jika ada, dan mengecek apakah jumlah keseluruhan alokasi sekolah sama dengan total jumlah anggaran BOSDA
b. Membuat grafik perbandingan antara alokasi sebelum dan sesudah penerapan BOSDA berbasis formula. Grafik sebelum BOSDA biasanya mempunyai trend menurun dimana sebelah kiri merupakan sekolah besar dan semakin ke kanan adalah sekolah kecil. Setelah penerapan BSODA berbasis formula diharapkan grafiknya akan mempunyai kecenderungan untuk menaik. JIka grafik belum meningkatkan, maka perlu di cek kembali alokasi yang telah dilakukan.
3.2
Verifikasi Tabel Alokasi
SekolahSiswaBOSDA (20.000/siswa SMP NEGERI 161512.300.000 SMP NEGERI 260312..060.000 SMP NEGERI 356111.220.000 SMP NEGERI 44849.680.000 MTs NEGERI4709.400.000 SMP Barata1913.820.000 SMP Pancasila42840.000 MTs harapan 139780.000 MTs Padmow35700.000 Total60.800.000
Sebelum BOSDA Berformula
Sesudah BOSDA
Tabel 8: Sebelum dan Sesudah BOSDA Total 2.000.000 2.000.000 4.900.000 13.000.000 4.900.000 2.000.000 6.300.000 11.600.000 11.600.000 60.800.000
Variabel A 0 0 2.900.000 4.300.000 2.900.000 0 4.300.000 2.900.000 2.900.000 20.200.000
Variabel B 0 0 0 6.700.000 0 0 0 6.700.000 6.700.000 20.100.000
Monev 2.500.000
Alokasi dasar 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 18.000.000
Gambar 3: Perbandingan sebelum dan sesudah BOSDA Berbasis Formula
0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 14000000 16000000
SMP NE GERI 1
SMP NE GERI 2
SMP NE GERI 3
SMP NE GERI 4
MTs NE GERI
SMP Ba rata SMP
Pancasila MTs har
apan 1 MTs Padmow
BOSDA
0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 14000000
SMP NE GERI 1
SMP NE GERI 2
SMP NE GERI 3
SMP NE GERI 4
MTs NE GERI
SMP Ba rata SMP
Pancasila MTs har
apan 1 MTs Padmow
V BOSDA
Sebelum BOSDA Berformula
Sesudah BOSDA Berformula
Aturan Pendanaan BOSDA Berformula Alokasi Dasar Alokasi dasar (Tipe 1) Tetap: Rp. XX juta/sekolah
Alokasi dasar (Tipe 2)
Tetap: Rp. XXa juta / sekolah di Kecamatan A
Tetap: Rp. XXb juta / sekolah di Kecamatan B
Alokasi karakteristik sekolah
Tambahan untuk Sekolah terpencil* (tetap): Rp. XX juta
Tambahan untuk fasilitas/
peralatan yang buruk: Rp. XX juta
Tambahan untuk sekolah di wilayah miskin: Rp XX juta.
Tambahan untuk sekolah kecil:
Rp. XX juta
Alokasi untuk Rasio Guru/
Siswa: Rp. XX juta
Kriteria
Semua sekolah di kabupaten / kota
Variasi; jumlah yang berbeda untuk jenjang yang berbeda Semua sekolah di kabupaten / kota
Pro-miskin: mis. Jumlah alokasi dasar yang lebih besar untuk sekolah-sekolah di kecamatan dengan APM/APK yang rendah
Berorientasi pada prestasi: mis. Jumlah alokasi dasar yang lebih besar untuk sekolah-sekolah di kecamatan yang mencatatkan kenaikan APM/APK yang lebih besar (pendekatan untuk sekolah dengan kondisi buruk / input yang berbiaya tinggi)
(X km dari pusat kabupaten / kota ke pusat kecamatan) / (X km dari pusat kecamatan ke sekolah/desa)
(contoh)
Contoh: 10 juta / sekolah jika sekolah tidak memenuhi fasilitas dan peralatan SPM yang disyaratkan
Sekolah terletak di wilayah paling kemiskinan
Rp. 20 juta /sekolah jika sekolah jumlah siswa kurang dari XX (SD/MI), YY (SMP/MTs)
Jika rasio guru/siswa melebihi yang telah disarankan oleh SPM (termasuk untuk PNS dan guru GTT)
(contoh)
Jarak 0>5 km
>10 km
>20 km
>30 km
Pengalian 0.0 1.0 2.0 3,0
Jumlah Rp.0 Rp. 5 juta.
Rp. 10 juta.
Rp. 15 juta (contoh) Jumlah = (jarak (km)) x 2-5 juta / tahun / sekolah
Rasio Guru/
Siswa (SD)
=<32
>32
>40
>48
Jumlah
Rp.0 Rp. 5.0 juta.
Rp. 7.5 juta.
Rp. 10.0 juta Pengali
0 1.0 1.5 2,0
Rasio Guru/
Siswa (SD)
=<24
>24
>36
>48
Jumlah
Rp.0 Rp. 5.0 juta.
Rp. 7.5 juta.
Rp. 10.0 juta Pengali
0 1.0 1.5 2,0
Tabel 9: Contoh BOSDA Berbasis Formula
Aturan Pendanaan BOSDA Berformula Alokasi Rombel / guru:
Rp. XX juta
Sekolah Satu Atap: Rp. XX Sekolah Terbuka: Rp. XX Alokasi Penghargaan Tingkat kelulusan: Rp.XX juta/
sekolah
DO menurun: Rp.XX juta/
sekolah
Hasil akreditasi meningkat: Rp XX juta/ sekolah
Kenaikan untuk nilai UN Rp.
XX juta / sekolah
Alokasi kelompok sekolah Rp. XXX juta / KKG/MGMP
Kriteria
(contoh)
Contoh: 10 juta / sekolah jika sekolah tidak memenuhi fasilitas dan peralatan SPM yang disyaratkan
(Penghargaan untuk prestasi sekolah) 5-10 juta / sekolah
5-10 juta / sekolah hanya untuk sekolah yang baru diakreditasi. Hanya sekali untuk satu akreditasi (A, B, C, TT) Sekolah akan menerima tambahan dana untuk kenaikan nilai UN
(contoh)
Rp. -20 juta/kelompok
Rombel/guru
<1,0
=>1,0
=>2,0
=>3,0
=>4,0
Jumlah Rp.0 Rp. 5.0 juta.
Rp. 7.5 juta.
Rp. 10.0 juta.
Rp. 12.5 juta.
Pengali 0 1.0 1.5 2,0 2.5
Kenaikan UN 2010 -2011
<=0
>1,0
>1.5
>2.0
>2.5
Jumlah Rp.0 Rp. 5.0 juta.
Rp. 7.5 juta Rp. 10.0 juta Rp. 12.5 juta Pengalian
0 1.0 1.5 2,0 2.5
Alokasi per siswa (seperti dalam sistem BOS Nasional) juga bisa diterima, meskipun pedoman ini tidak merekomendasikannya.
(contoh) Jumlah = (jarak (km)) x 2-5 juta / tahun / sekolah
Langkah 4 adalah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan di kabupaten/kota dalam hal pendidikan dan penganggaran. Langkah ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan mendapatkan persetujuan untuk mencantumkan alokasi anggaran BOSDA Berbasis formula di APBD.
Lakukan serangkaian pertemuan untuk mencapai konsensus di antara para pemangku kepentinganuntuk meyakinkan para pembuat keputusan dan menetapkan kapan mulai melaksanakan BOSDA Berbasis formula, termasuk tahapan persiapan dalam penyusunan APBD mendatang.
Peserta: Peserta dapat meliputi perwakilan dari kantor dinas pendidikan kabupaten/kota (bertanggungjawab atas BOSDA Berbasis formula), BAPPEDA, Kantor Dinas Keuangan Kabupaten, SEKDA, Bupati/Walikota, Komisi Pendidikan di DPRD tingkat Kabupaten/Kota, dll. Untuk menjaga konsistensi diskusi, keterlibatan perwakilan dari lembaga yang berpartisipasi secara terus menerus sangat penting.
Agenda rapat dapat bervariasi, namun kurang-lebih akan berkisar pada::
Pengenalan dan meninjau kembali pemahaman mengenai konsep
•
BOSDA Berformula dengan pendekatan yang lebih sensitif atas karakteristik wilayah dan mekanisme insentif
Membuat kesepakatan untuk melanjutkan proses penyusunan BOSDA
•
Koordinasi dengan pemangku kepentingan kabupaten / kota
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkana lokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
4
Berformula dalam rancangan APBD/DPA mendatang.
Melaporkan kemajuan dari pengembangan BOSDA Berbasis formula
•
Melaporkan kemajuan dari proses administrasi dan dokumentasi
•
Frekuensi pertemuan tergantung pada kondisi kabupaten / kota. Umumnya pertemuan-pertemuan ini semestinya diadakan beberapa kali dengan mempertimbangkan jadwal penyusunan draft APBD/DPA.
Selain pekerjaan-pekerjaan teknis untuk membuat tabel alokasi sekolah BOSDA Berbasis formula (Langkah 3), ada beberapa dokumen yang harus disusun dan disiapkan untuk memastikan alokasi anggaran BOSDA Berbasis Formula tercantum di dalam APBD dan dapat dilaksanakan.
Siapkan sebuah dokumen APBD/DPA menggunakan template yang sudah ada, masukkan tabel alokasi sekolah yang sudah dibuat mengenai BOSDA Berbasis formula. Sangat disarankan untuk memasukkannya ke dalam satu pos anggaran sehingga memudahkan dalam proses penganggaran selanjutnya.
Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
Langkah 1: Menghitung jumlah anggaran BOSDA
Langkah 2: Menetapkan target / fokus BOSDA Berformula
Langkah 3: Uji coba pengalokasian BOSDA pada kelompok sasaran Langkah 4: Koordinasi dengan pemangku kepentingan
kabupaten / kota
Langkah 5: Menempatkan alokasi BOSDA Berbasis Formula dalam APBD
5.1
Menyiapkan alokasi BOSDA untuk APBD
5
Penting untuk membuat petunjuk teknis sebagai pedoman bagi dinas pendidikan dan pemangku kepentingan yang lain, termasuk sekolah dalam memahami BOSDA berbasis formula. Petunjuk teknis biasanya memuat landasan hukum, alokasi BOSDA berbasis formula beserta alasannya, serta penggunaan dana BOSDA di sekolah. Penyusunan petunjuk teknis dapat mengacu pada petunjuk teknis sebelumnya dan atau dari daerah lain.
Sebuah keputusan tentu saja membutuhkan dasar hukum yang kuat yang mendasari pelaksanaannya.Biasanya pelaksanaan BOSDA berbasis formula dilandasi dengan Peraturan Walikota/Bupati. Namun ada juga yang didasarkan pada Peraturan daearah (Perda), meski tentu saja proses akan lebih lama.