TUGAS AKHIR
TATA KELOLA PERUSAHAAN
ANALISA PENERAPAN PRINSIP CORPORATE GOVERNANCE
DAN PENERAPAN PRAKTEK CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY PADA PT EXPRESS TRANSINDO UTAMA
KELOMPOK 6
Abdillah Rafi 1006695601
Ahmad Syaifuddin 1006662704
Ade Bimi Malidianti 1006662673
Audi Muhammad Rafie 1006695835
Dimas Luhung Prakoso 1006695942
M. Bhayuta Yudhi Putera 1006712425
Nadya Restu Mayestika 1006696535
STATEMENT OF AUTHORSHIP
“Saya/kami yang bertandatangan diba wah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan
menggunakannya.”
Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan
atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”
Mata Ajaran : Tata Kelola Perusahaan
Judul Makalah/Tugas : Analisa Penerapan Prinsip Corporate Governance dan Penerapan Corporate Social Responsibility pada PT Express Transindo Utama Tanggal : 19 Juni 2013
Dosen : Purwatiningsih Lisdiono S.E., Ak., MBA., DEA
No. Nama NPM Ttd
1 Abdillah Rafi 1006695601
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Perusahaan operator transportasi PT Express Transindo Utama Tbk. atau Express Group merupakan perusahaan taxi pertama di Indonesia yang melakukan listing di bursa saham. PT Express Transindo Utama Tbk. melepas saham ke publik sebanyak 1,05 miliar lembar atau 48,99% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Pernyataan jadwal efektif jatuh pada 23 Oktober 2012, masa penawaran dilakukan pada 25, 29 dan 30 Oktober 2012, penjatahan dilakukan pada 1 November 2012, sedangkan pencatatan saham pada di Bursa Efek Indonesia pada 5 November 2012.
Sebagai perusahaan yang baru saja listing di bursa saham dan merupakan perusahaan taxi pertama di Indonesia yang listing di bursa saham, menarik untuk ditelaah bagaimana penerapan corporate governance di perusahaan Express Group ini.
Prinsip corporate governance perusahaan di Indonesia mengacu pada prinsip yang dibuat oleh KNKG dan beberapa peraturan hukum yang lain. Prinsip yang menurut KNKG adalah transparansi, akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, Kewajaran dan Kesetaraan. Sedangkan berdasarkan hukum, untuk perusahaan terbuka yang listing dibursa efek harus mengikuti peraturan yang diterbitkan oleh Bapepam LK dan untuk Bank harus sesuai dengan Peraturan BI dan Basel III. Karena adanya peraturan hukum ini maka penerapan good corporate governance harus di terapkan oleh perusahaan. Sebagai perusahaan yang listing di bursa saham, Express Group harus mematuhi aturan good corporate governance yang sesuai dengan peraturan Bapepam LK.
Meskipun di Indonesia telah ada aturan mengenai corporate governance, dalam praktiknya, secara umum perusahaan di Indonesia masih lemah atau kurang optimal dalam menjalankan good corporate governance. Ada empat kelemahan CG di Indonesia, hal tersebut yaitu:
1. Commitment and enforcement
Indonesia telah mempunyai aturan tentang penerapan tatakelola perusahaan yang baik, namun enforcement atau hukum untuk yang melanggar aturan tersebut masih belum keras
Di Indonesia hak pemegang saham sudah ada dan diakui, namun ketika RUPS pemegang saham tidak bisa mengajukan agenda untuk di bahas dalam RUPS
3. Disclosure and Transparancy
Pengungkapan perusahaan di Indonesia sudah cukup baik namun saat ini yang diungkapkan masih sebatas hal-hal yang wajib saja, pengungkapan yang tidak wajib dan bermanfaat untuk stakeholder masih belum diungkapkan secara baik
4. Company Oversight
Komisaris Independen sudah ada dalam struktur dewan komisaris, namun peran komisaris independen masih belum terlalu berfungsi dengan baik.
Sebagai perusahaan taxi pertama di Indonesia yang melakukan listing dibusa saham bagaimanakah penerapan corporate governance di Express Group, apakah penerapan
corporate governance Exspress group telah sesuai dengan prinsip KNKG, apakah kelemahan yang dialami oleh perusahaan di Indonesia tersebut juga dialami oleh Express Group. Berlatar belakang inilah kami ingin melakukan analisa penerapan CG dan CSR di Express grup.
1.2Perumusan Masalah
1.2.1 Apakah penerapan prinsip Corporate Governance Express Group secara keseluruhan sudah mengikuti prinsip-prinsip Corporate Governance berdasarkan KNKG?
1.2.2 Bagaimanakah praktek pelaksanaan Corporate Social Responsibility di Express Group?
1.3Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan prinsip corporate govenance dan penerapan corporate social responsibility di Express Group. Penulisan makalah ini juga dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk melengkapi nilai tugas mata kuliah Tatakelola Perusahaan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Metode yang penulis gunakan adalah studi kepustakaan. Sumber-sumber informasi didapat dari buku , laporan tahunan, sustainability report, dan website perusahaan Express Group.
1.5Sistematika Penulisan
Makalah diawali dengan Bab I, yaitu bab Pendahuluan yang memberikan gambaran mengenai detail penulisan makalah. Dilanjutkan Bab II tentang landasan teori terkait prinsip corporate governance berdasarkan KNKG dan teori corporate social responsibility. Selanjutnya disampaikan Bab III mengenai pembahasan yang merupakan bagian utama dari makalah ini. Penulis memaparkan hasil analisa pelaksanaan dari penerapan prinsip CG oleh Express Group dan penilaian terhadap penerapannya dan Pelaksanaan CSR serta klasifikasinya berdasarkan teori. Pada Bab IV penulis memberikan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1Asas Corporate Govenance Berdasarkan KNKG
Berdasarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, Corporate Governance memiliki 5 Asas, yang dimana setiap perusahaan harus memastikan bahwa prinsip GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan untuk mencapai kesinambungan usaha perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan. Prinsip GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan.
2.1.1 Transparansi (Transparency)
2.1.1.1 Prinsip Dasar
penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
2.1.1.2 Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.1. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
1.2. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada, visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya, sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
1.3. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
1.4. Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.
2.1.2 Akuntabilitas (Accountability)
2.1.2.1 Prinsip Dasar
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
2.1.2.2 Pedoman Pokok Pelaksanaan
2.2. Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua karyawan mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan perannya dalam pelaksanaan GCG.
2.3. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif dalam pengelolaan perusahaan.
2.4. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi
(reward and punishment system).
2.5. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
2.1.3 Responsibilitas (Responsibility)
2.1.3.1 Prinsip Dasar
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
2.1.3.2 Pedoman Pokok Pelaksanaan
3.1. Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran dasar dan peraturan perusahaan (by-la ws). 3.2. Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain peduli terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
2.1.4 Independensi (Independency)
2.1.4.1 Prinsip Dasar
Untuk melancarkan pelaksanaan prinsip GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
4.1. Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari benturan kepentingan
(conflict of interest) dan dari segala pengaruh atau tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.
4.2. Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang lain.
2.1.5 Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
2.1.5.1 Prinsip Dasar
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan prinsip kewajaran dan kesetaraan.
2.1.5.2 Pedoman Pokok Pelaksanaan
5.1. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan perusahaan serta membuka akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip transparansi dalam lingkup kedudukan masing-masing.
5.2. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan.
5.3. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, gender, dan kondisi fisik.
2.2Corporate Social Responsibility
laba material, telah merusak keseimbangan kehidupan dengan cara menstimulasi pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki manusia secara berlebihan yang tidak memberi kontribusi bagi peningkatan kemakmuran mereka tetapi justru menjadikan mereka mengalami penurunan kondisi sosial [Galtung & Kada (1995) dan Rich (1996) dalam Anggraini (2006)]
Banyak perusahaan swasta kini mengembangkan apa yang disebut Corporate Sosial Responsibility (CSR). Penerapan CSR tidak lagi dianggap sebagai cost, melainkan investasi perusahaan (Erni, 2007 dalam Sutopoyudo, 2009). Dalam konteks global, istilah corporate social responsibility pertama kali dikemukakan tahun 1953 oleh Howard Botton dalam
bukunya yang berjudul ”The Social Responsibilities of A Businessman” yang menjelaskan tentang tanggung jawab apa yang dapat diharapkan dalam sebuah perusahaan (Garriga & Mele, 2004 dalam Simon & Fredrik, 2009) dan mulai digunakan sejak tahun 1970-an. The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), corporate social responsibility merupakan komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.
Istilah corporate responsibility semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998), karya John Elkington. Dalam bukunya, ia mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity, yang digagas The World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987), dimana mengemas corporate social responsibility ke dalam tiga fokus: 3P, singkatan dari profit, planet dan people. 3P memiliki makna bahwa perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit), melainkan juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people) (Edi, 2008).
atas (ekonomi dan legal). Tanggung jawab sosial dari perusahaan merujuk pada semua hubungan yang terjadi antara sebuah perusahaan dengan semua stakeholder (Nugroho, 2007 dalam Dahli dan Siregar, 2008). Stakeholder atau pemangku kepentingandapat didefinisikan sebagai orang atau kelompok berbeda yang memiliki kepentingan tertentu dalam segala aspek kegiatan perusahaan. Ada dua tipe pemangku kepentingan yang menjadi perhatian perusahaan, yakni primary stakeholder (atau contractual stakeholder) dan secondary stakeholder (atau diffuse). Primary stakeholder merupakan pemangku kepentingan yang memiliki hubungan secara langsung atau hubungan kontraktual dengan perusahaan. Contohnya adalah karyawan dalam hubungannya dengan upah, lingkungan kerja, dana pensiun, maupun urusannya dengan serikat pekerja. Selain itu, juga terdapat primary stakeholder lainnya seperti pemegang saham, kreditur, pelanggan, dan pemasok. Secondary stakeholders adalah pemangku kepentingan yang terpengaruh oleh kegiatan perusahaan namun hanya memiliki hubungan kontraktual yang terbatas. Contohnya kompetitor, organisasi lingkungan hidup, warga sekitar, pemerintah, serta masyarakat lain yang terkena dampak dari keputusan perusahaan.
Kini perusahaan tidak lagi hanya mementingkan pemenuhan hak pemegang saham saja untuk mendapatkan profit, tapi juga pemangku kepentingan lainnya karena berdasarkan hasil dari survey yang dilakukan oleh McKinsey pada tahun 2009 mengenai CSR, mengindikasikan bahwa program-progaram terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola dapat menciptakan nilai bagi pemegang saham melalui penciptaan kesejahteraan dan pelestarian lingkungan. Sen dan Bhattacharya (2001) dalam Dewi (2007) menjelaskan bahwa terdapat enam hal pokok yang termasuk dalam corporate social responsibility yaitu ;
1. Community support, yaitu dukungan pada program pendidikan, kesehatan, kesenian, dan sebagainya.
2. Diversity, merupakan kebijakan perusahaan untuk tidak membedakan konsumen dan calon pekerja dalam hal gender, fisik, atau ras tertentu. 3. Employee support, berupa perlindungan kepada tenaga kerja, insentif dan
penghargaan serta jaminan keselamatan kerja.
4. Environment, menciptakan lingkungan yang sehat dan aman, mengelola limbah dengan baik, menciptakan produk-produk yang ramah lingkungan.
6. Product. Perusahaan berkewajiban untuk membuat produk yang aman bagi kesehatan, tidak menipu, melakukan riset dan pengembangan produk, dan menggunakan kemasan yang bisa didaur ulang (recycled).
Haigh dan Jones (2006) mengungkapkan bahwa terdapat enam faktor yang mempengaruhi praktik corporate social responsibility oleh perusahaan. Keenam faktor tersebut adalah internal pressures on business managers, pressures from business competitors, investors and consumers, and regulatory pressures coming from governments and non-governmental organizations. Sedangkan pendukung CSR berargumen bahwa penggerak yang utama dari tren CSR adalah hal-hal berikut:
globalisasi, ekspansi bisnis dan perekonomian di seluruh dunia
kekuatan yan lebih besar dari perusahaan global harus diisi dengan aktivitas yang sebelumbya diserahkan kepada pemerintah
tekanan dari aktivis sosial
peningkatan gerakan pelestarian lingkungan
peningkatan keinginan pasar modal untuk menghukum perusahaan yang tidak memenuhi standar etika
Di beberapa negara, praktik CSR sudah bukan bersifat voluntarily melainkan diwajibkan. Untuk Indonesia, terdapat tekanan dari pemerintah bagi beberapa perusahaan untuk peduli terhadap pemangku kepentingan terkait dengan usaha yang dijalankan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UU PT), yang disahkan pada 20 Juli 2007. Pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas menyatakan :
(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
(2) TJSL merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
Dengan adanya ini, perusahaan khususnya perseroaan terbatas yang bergerak di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam harus melaksanakan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat. Sanksi pidana mengenai pelanggaran CSR pun terdapat didalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) Pasal 41
ayat (1) yang menyatakan: “Barangsiapa yang melawan hukum dengan sengaja melakukan
perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh 3 tahun dan denda paling banyak lima ratus juta
rupiah”. Selanjutnya, Pasal 42 ayat (1) menyatakan: “Barangsiapa yang karena kealpaannya
melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak
seratus juta rupiah” (Sutopoyudo, 2009).
Archie Carroll membuat empat bagian taksonomi CSR. Sebuah perusahaan harus menjalankan bisnisnya dengan memenuhi ekspektasi ekonomi, hukum, etika, dan
philanthropy.
Level I: Ekonomi – tanggung jawab sosial yang pertama dan paling utama dari perusahaan. Perusahaan harus dapat bertahan dengan memproduksi barang dan jasa pada tingkat yang menguntungkan.
Level II: Hukum – masyarakat berharap agar perusahaan mengoperasikan bisnisnya sesuai dengan hukum yang berlaku.
Level III: Etika – tanggung jawab ini di atas hukum dan disesuaikan dengan norma serta adat istiadat yang ada dalam masyarakat. Hal ini diharapkan, meskipun tidak dibutuhkan, oleh masyarakat meskipun tidak jelas, termasuk juga environmental ethics.
Level IV: Philantropy – perusahaan memberikan sumbangan secara sukarela kepada masyarakat. Hal ini merupakan hal yang diskresioner, meskipun terus permintaannya terus meningkat.
menyatakan bahwa tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang baik memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya.
Terkait dengan corporate social responsibility, perusahaan dapat melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan yang sering juga disebut sebagai social disclosure, corporate social reporting, atau corporate social responsibility (Hackston dan Milne, 1996) yang merupakan proses pengkomunikasin efek-efek sosial dan lingkungan atas tindakan-tindakan ekonomi perusahaan pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat secara keseluruhan (Gray et.al., 1987 dalam Waryanto, 2010). Faktor yang mempengaruhi implementasi dan pengungkapan corporate social responsibility diantaranya adalah political economy theory, legitimacy theory, dan stakeholder theory (Deegan 2002). Sedangkan menurut Roberts (1992), bahwa political theory dan social contexts merupakan faktor penting yang mempengaruhi keputusan untuk mengungkapkan informasi corporate social responsibility. Dengan mengungkapan informasi-informasi mengenai operasi perusahaan sehubungan dengan lingkungan diharapkan perusahaan bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat bahwa dalam melaksanakan aktivitasnya, perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan semata melainkan perusahaan juga memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Hal tersebut juga memperluas tanggung jawab organisasi (khususnya perusahaan), di luar peran tradisionalnya untuk menyediakan laporan keuangan kepada pemilik modal, khususnya pemegang saham.
BAB III PEMBAHASAN
3 Pelaksanaan Penerapan Prinsip GCG Express Group dan Praktik CSR di Express Group
3.1. Pelaksanaan Penerapan Prinsip GCG Express Group
Secara umum, komitmen Express Group terhadap penerapan corporate governance yang baik cukup kuat dan eksplisit, hal ditunjukkan melalui pernyataan visi dan misi perusahaan yang sarat akan prioritas untuk melindungi kepentingan stakeholdersnya.
Visi :
“To become a major Indonesia's land transportation company that gives maximum added
value to its stakeholders (government, shareholders, business partners, drivers, employees,
customers, and the surrounding society)”
Misi :
“To provide professional integrated land transportation based on company values and good corporate governance that holds high business ethics and benefits the stakeholders.”
Selanjutnya, akan dianalisis penerapan corporate governance Express Group menurut prinsip Good Corporate Governance yang dirancang oleh KNKG.
1. Transparansi
Gambar 1 : Halaman Investor Relation
Dalam kolom “Share Price”, Express Group menyediakan informasi mengenai data
historis harga saham perusahaannya dalam dua tahun terakhir, terlihat pada Gambar 2. Hal ini menunjukkan upaya transparansi yang baik, namun sayangnya ada beberapa data bulanan yang tidak muncul informasinya.
Gambar 2 : Kolom “Share Price”
Gambar 3 : Kolom “Prospectus and Others”
Dalam kolom laporan tahunan, Express Group menyediakan informasi annual report serta sustainability report, dapat dilihat di Gambar 4. Hal ini menunjukkan bahwa Express Group sudah selangkah lebih maju dalam penerapan corporate governance, mengingat belum banyak perusahaan di Indonesia yang menerbitkan sustainability report.
Gambar 4: Kolom “Annual Report”
Mengenai laporan keuangan, Express Group mengumumkan laporan keuangan dua tahun terakhir yang sudah diaudit, dilihat di Gambar 5. Hal ini juga menunjukkan upaya transparansi yang tinggi, mengingat menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit artinya menerbitkan evaluasi kinerja laporan keuangan oleh akuntan publik.
2. Akuntabilitas
Prinsip akuntabilitas diterapkan oleh Express Group salah satunya lewat pengungkapan informasi mengenai profil direktur dan dewan komisaris, sehingga pengunjung dapat menilai kinerja dan mengetahu siapa yang bertanggung-jawab. Hal ini dapat dilihat di Gambar 6 dan Gambar 7.
Gambar 6: Profil CEO dan COO Express Group
Selain itu, lewat kolom “Success Story” di halaman “Customer Area”, Express Group
mengungkapkan informasi mengenai kisah sukses mitra bisnis Express Group, terutama supir taksi Express Group. Secara tidak langsung, Express Group ingin menunjukkan bukti kinerjanya dalam memberdayakan karyawannya. Bahkan salah satu ceritanya disajikan dengan bahasa Inggris seperti yang dapat dilihat di Gambar 8. Dalam cerita tersebut, diungkapkan bahwa karyawan mendapat beberapa manfaat dari pekerjaannya di Express Group seperti pelatihan mengemudi yang aman dan bahasa Inggris.
Gambar 8: Kolom “Success Story”
3. Responsibilitas
Prinsip ini mengandung makna bahwa perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihar kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
Dalam pelaksanaan prinsip ini, Express Group melakukan hal-hal sebagai berikut :
b) Mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan menerbitkan Sustainability Report dan pelaksanaan Program Beasiswa Pendidikan untuk anak-anak dari karyawan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, belum banyak perusahaan yang menerbitkan Sustainability report
Gambar 9 : Annual Report, Bagian CSR
4. Independensi
Prinsip ini mengungkapkan bahwa perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
Gambar 10 : Komisaris Independen
5. Kewajaran dan Kesetaraan
Dalam prinsip ini dijelaskan bahwa perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Dalam realisasinya, Express Goup telah menlaksanakan prinsip tersebut melalui hal-hal berikut
a) Memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan informasi tentang keuangan perusahaan melalui websitenya yang dapat secara mudah kepada seluruh investor, tanpa memperhatikan apakah investor tersebut mayoritas atau minoritas (seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1).
Selain itu kolom Customer Area (Gambar 1) dalam websitenya menunjukkan Express Group memperhatikan dan memberikan kesempatan bagi pemangku kepentingan, dalam hal ini customer, untuk menyampaikan pendapat dan memberi masukan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai kolom untuk mengungkapkan pendapat dalam situs resmi webnya, yang diberi tajuk “Customer Area”. Salah satu
kolom dalam halaman ini berjudul “What They Say”, dimana konsumen dapat
besar berisi apresiasi konsumen terhadap kinerja dan kejujuran supir taksi Express Group, terutama terkait barang yang tertinggal. Hal ini dapat dilihat di Gambar 11.
Gambar 11: Halaman Customer Area, “What They Say”
Selain itu, disediakan pula halaman untuk memberikan pertanyaan atau keluhan
kepada Express Group melalui kolom “Any Question or Input?” yang dapat dilihat di
Gambar 12. Hal ini menunjukkan bahwa Express Group memiliki budaya demokrasi dimana konsumen dapat ikut andil dalam memahami dan mengevaluasi kinerja perusahaan.
b) Memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi. Pada tahun 2012, Express Group membagikan dividen sebesar Rp 21 Miliar atau 27% dari Laba Bersih Perseroan. Selain kepada pemegang saham, Express Group juga memberikan imbalan kerja (Employee Benefit) sebagai wujud perlakuan setara dan wajar sesuai kontribusi terhadap karyawan.
Gambar 13 : Annual Report, Bagian Imbalam Kerja
Selain memberikan imbalan kerja, Express Group juga memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk berkarya dan berkarir secara profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar golongan. Hal ini dicantumkan dalam websitenya dalam salah satu kolom bagian karir. Hal ini mengindikasikan bahwa Express Group benar-benar ingin memaksimalkan value dari stakeholder, dalam hal ini karyawan, sejalan dengan tujuan GCG.
c) Memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan. Hal ini dilakukan dengan memberikan informasi melalui websitenya, yang bias diakses semua orang, mengenai lowongan pekerjaan yang sedang dibutuhkan oleh Express Group. Selain itu, pendaftarannya juga secara online melalui website. Hal ini untuk mencegah adanya tindakan kecurangan dalam penerimaan karyawan. Bukti lain bahwa Express Group berkomitmen terhdap pelaksanaan GCG.
Gambar 15 : Info Career
3.2. Praktik CSR di Express Group
Menurut data yang diambil dari Sustainability Report dari Express Group pada tahun 2012, Express Group menjalankan beberapa kegiatan sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka. Hal tersebut diwujudkan melalui program sosial Express Care yang diantaranya :
1. Layanan antar-jemput gratis dengan Express Taksi bagi anak-anak penderita kanker di Yayasan Kasih Anak Indonesia (YKAKI) dan Yayasan Kasih Anak Kanker Bali (YKAKB)
Network (ICGN). Bantuan diberikan sebagai bentuk kepedulian karena para nelayan tak bisa melaut akibat cuaca buruk
3. Bantuan donasi kepada Sekolah Darurat Kartini di Kampung Bandan, Jakarata Utara, bersama-sama dengan Rajawali Foundation. Bantuan donasi deberikan selanjutnya dimanfaatkan untuk membiayai pelaksanaa ujian nasional sekolah tersebut.
4. Bantuan perjalanan siswa SMP Islam Tugasku ke Turki untuk mengikuti International Children Folklore Festival, untuk mebawakan tarian Indonesia di festial tersebut
Selain program sosial Express Care, Express Group juga melakukan tanggung jawab sosial mereka kepada penduduk sekitar dan para mitra (pengemudi taksi).
Untuk para penduduk sekitar, Express Group menyediakan pekerjaan lepas sebagai pencuci taksi di tiap pool mereka. Selain itu Express Group juga tidak membuka jenis usaha di pool mereka yang usahanya sudah dijalankan warga sekitar seperti warung makan, toko kelontong, dll. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan UMKM di wilayah sekitar pool dari Express Group. Selain itu keterlibatan masyarakat setempat sebagai pekerja juga dilakukan Express Group melalui keberadaan perusahaan lokal dan nasional yang menjadi pemasok barang maupun jasa. Hingga akhir tahun 2012 hanya ada 1 perusahaan internasional yang menjadi pemasok kebutuhan perusahaan, sementara 299 lainnya adalah perusahaan lokal dan nasional dengan nilai pembayaran kontrak pekerjaan sebesar Rp 886.294 miliar.
sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan besaran bantuan beasiswa yang diberikan pada tahun 2012 sebesar Rp 354,6 juta untuk 271 anak dari mitra.
Apabila kita lihat dari penjabaran diatas, dapat dikatakan bahwa Express Group telah menjalankan beberapa kegiatan sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka dengan cukup baik. Disini perusahaan telah dapat melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan yang sering juga disebut sebagai social disclosure, corporate social reporting, atau corporate social responsibility yang terangkum di dalam Sustainability Report yang Perusahaan buat pada tahun 2012 lalu.
BAB IV PENUTUP
4.1Kesimpulan
Secara umum, Express Group memiliki komitmen yang cukup kuat terhadap penerapan good corporate governance, hal ditunjukkan melalui pernyataan visi dan misi perusahaan. Dalam hal transparansi, Express Group telah menyediakan halaman khusus hubungan investor (Investor Relation), dimana pengunjung dapat mengakses beragam info seperti harga saham, laporan tahunan, laporan keuangan, serta prospectus. Namun sayangnya ada beberapa data bulanan yang tidak muncul informasinya. Dalam hal akuntabilitas, prinsip akuntabilitas telah diterapkan oleh Express Group salah satunya lewat pengungkapan informasi mengenai profil direktur dan dewan komisaris. Selain itu, lewat kolom “Success Story” di halaman
“Customer Area”, Express Group mengungkapkan informasi mengenai kisah sukses mitra bisnis Express Group, terutama supir taksi Express Group. Dalam hal Resposibilitas, Express Group telah memenuhi peraturan Perundang-undangan, Bapepam, dan peraturan lainnya. Hal ini dibuktikan bahwa sampai saat ini, tidak terdapat perkara hokum, baik administrative maupun arbitrase, yang dihadapi Express Group ataupun anggota Dewan Komisaris dan Dewan Direksi. Dalam hal independensi, Express Group telah menerapkan fungsi ini melalui pendapat independen yang diberikan komisaris dan direksi dalam setiap pengambilan keputusan. Express Group memiliki dua orang komisaris independen disaat kebanyakan perusahaan lain. Dalam hal Kewajaran dan Kesetaraan, Express Goup telah melaksanakan prinsip tersebut melalui pemberian kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat melalui website, memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi, memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan.
(pengemudi taksi). Untuk para penduduk sekitar, Express Group menyediakan pekerjaan lepas sebagai pencuci taksi di tiap pool mereka, Selain itu keterlibatan masyarakat setempat sebagai pekerja juga dilakukan Express Group melalui keberadaan perusahaan lokal dan nasional yang menjadi pemasok barang maupun jasa, Sementara itu Express Group juga berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga para mitra. Hal ini dilakukan melalui sejumlah program/kegiatan, diantaranya pemberian bantuan biaya pendidikan bagi anak mitra yang berprestasi.
4.2Saran
Sebagai perusahaan yang baru saja listing di bursa saham dan merupakan perusahaan taxi di Indonesia pertama yang listing di bursa saham, Express group telah menjalankan corporate governance dengan baik. Prinsip-prinsip corporate governance seperti transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kewajaran dan kesetaraan telah dilakukan dengan baik. Dan hal tersebut telah diungkapkan baik di laporan tahunan,
Daftar Pustaka
Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, KNKG, tahun 2006
OECD. 2004. OECD Principles of Corporate Governance.
Anggraini, Fr. R. R. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan. Simposium Nasional Akuntansi IX. Padang. 23-26 Agustus.
Dahli, L. dan Siregar, V. S. 2008. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2005 dan 2006). Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak.
Suharto, Edi. 2007. Corporate Social Responsibility: What is and Benefit for Corporate. http://www.policy.hu/suharto. Diakses tanggal 16 Juni 2013.
_____________. “Tentang Sustainability Reporting”.
http://lingkarlsm.com/2011/09/tentangsustainability-reporting/. (Diakses tanggal 16 Juni 2013).
Hartanti, Dwi. “Perceptons on Corporate Social and Enviromental Reporting: A Study in
Capturing Public Confidence”
http://staff.ui.ac.id/internal/060603525/publikasi/PerceptionsonCorporateSocial.pdf. (DIakses tanggal 16 Juni 2013).
Kim, K.A., Nofsinger, J.R., & Mohr, D.J., 2009, Corporate Governance, 3rd Edition, Pearson McKinsey Global Survey Results, 2008. Valuing corporate social responsibility. McKinsey Quarterly.
Ratnasari, Yunita, Andri Prastiwi. “Pengaruh Corporate Governance terhadap Luas
Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di dalam Sustainability Report”.
http://eprints.undip.ac.id/28629/2/yunita_c2c007141.pdf. (Diakses tanggal 16 Juni 2013). Kusumadilaga, Rimba. “PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PROFITABILITAS SEBAGAI
VARIABEL MODERATING”.