• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risalah Kebijakan. Sistem Penjaminan Mutu Pembelajaran Jarak Jauh di Perguruan Tinggi pada Masa Pandemi COVID-19. Ringkasan. Nomor 17, September 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Risalah Kebijakan. Sistem Penjaminan Mutu Pembelajaran Jarak Jauh di Perguruan Tinggi pada Masa Pandemi COVID-19. Ringkasan. Nomor 17, September 2021"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Sistem Penjaminan Mutu

Pembelajaran Jarak Jauh di Perguruan Tinggi pada Masa Pandemi COVID-19

Sebelum pandemi COVID-19, selain melalui perkuliahan di Universitas Terbuka, pemerintah juga menginisiasi sistem Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) pada 2013, serta Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) pada 2014 untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Untuk PJJ di masa pandemi, lima tahapan siklus penjaminan mutu (penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan atau PPEPP) tidak berubah, tetapi mengalami adaptasi dalam pelaksanaannya. Perguruan tinggi melakukan penguatan evaluasi dan pengendalian mutu, menyempurnakan strategi monitoring dan evaluasi (monev) dengan mempercepat dan menambah frekuensi monev, serta berupaya mengurangi kesenjangan mutu pembelajaran.

Perlu dilakukan upaya penguatan implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) maupun Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) PJJ di perguruan tinggi, seperti melalui peningkatan kapasitas literasi digital, kualitas SDM, optimalisasi pemanfaatan perangkat dan aplikasi pembelajaran, serta kolaborasi antarperguruan tinggi dan mitra eksternal.

Ringkasan

Nomor 17, September 2021

Risalah Kebijakan

(2)

Konteks

Pandemi COVID-19 berdampak pada berbagai aspek kehidupan di banyak negara termasuk Indonesia. Dampak tersebut antara lain mencakup kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan kesehatan. Dampak perubahan di bidang pendidikan telah direspons oleh berbagai negara terdampak. UNESCO mencatat, sejak 1 April 2020 sekurang-kurangnya 1,5 milyar warga negara usia sekolah terdampak COVID-19 yang tersebar di 188 negara, dan 60 juta di antaranya berada di Indonesia (Liston, 2020). Akibat kondisi tersebut, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak warga negaranya agar tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak selama pandemi COVID-19, termasuk layanan pendidikan di jenjang pendidikan tinggi.

Kemendikbudristek telah melakukan berbagai upaya agar pembelajaran di perguruan tinggi selama pandemi dapat tetap berlangsung sesuai target yang ditetapkan. Upaya tersebut, di antaranya: (a) mitigasi pandemi dengan melibatkan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) di bawah Kemendikbudristek untuk memfasilitasi dan berkontribusi dalam penanganan COVID-19; (b) pemberian fleksibilitas dan otoritas yang luas kepada pimpinan perguruan tinggi untuk mengambil kebijakan dalam pembelajaran, dan (c) negosiasi dengan penyedia layanan internet guna meringankan beban biaya pembelajaran daring, perluasan akses dan platform pembelajaran daring, serta memperluas insentif pengembangan pembelajaran daring (Belawati dan Nizam, 2020). Kemendikbud juga telah menyempurnakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) di perguruan tinggi melalui Permendikbud Nomor 24 Tahun 2012 dan Nomor 109 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Tinggi.

Pusat Penelitian Kebijakan melakukan penelitian untuk memahami proses dan penjaminan mutu pembelajaran daring yang dilakukan oleh perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kajian ini didasarkan pada kondisi bahwa setelah adanya pandemi COVID-19, beberapa kebijakan terkait PJJ dan penjaminan mutu PJJ di perguruan tinggi telah dikeluarkan. Kajian ini diharapkan memberikan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat pembelajaran daring, serta dapat menampilkan contoh praktik baik implementasi pembelajaran daring di perguruan tinggi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mana pengumpulan data dilakukan melalui dua cara. Pertama, analisis data sekunder dilakukan terhadap hasil penelitian terdahulu, produk hukum dan kebijakan terkait, berita di media massa, data dari aplikasi pembelajaran daring, serta informasi lain yang relevan. kedua, diskusi kelompok terpumpun (DKT) dengan pimpinan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud, serta pimpinan lembaga penjaminan mutu di perguruan tinggi.

Menilik sejarahnya, PJJ di Indonesia telah diinisiasi sejak pertengahan 1950 yang kemudian secara masif diterapkan oleh Universitas Terbuka (UT) pada 1984. Implementasi tersebut berhasil memperluas layanan pendidikan tinggi dan dapat meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi secara nasional. Penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh UT menjadi model penyelenggaraan pendidikan luring dan daring dengan kualitas yang sama baiknya. Selanjutnya pemerintah memperkuat penyelenggaraan pembelajaran daring secara nasional antara lain dalam bentuk Program Hylite (Hybrid Learning for Indonesian Teachers) dan Program D-III Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yang melibatkan 69 PT pada 2006. Kemudian Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) mulai dirintis pada 2013, dan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dikembangkan pada 2014. SPADA merupakan platform penyedia materi pembelajaran terbuka (Open Educational Resourses/OER) yang menjadi cikal bakal perkuliahan model terbuka secara daring (Massive Open Online Courses/MOOCs) di Indonesia.

Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) menyediakan fleksibilitas belajar bagi peserta

didik. Agar optimal, sistem ini perlu didukung oleh standar penjaminan mutu

pembelajaran.

(3)

PJJ menganut prinsip pembelajaran yang terbuka, sehingga menyediakan fleksibilitas belajar bagi peserta didik lintas ruang dan waktu, serta mendorong prinsip keterpaduan penyelenggaraan pembelajaran, terutama melalui moda daring. PJJ yang dilakukan secara daring seharusnya tetap memerhatikan standar penjaminan mutu pembelajaran sebagaimana dilakukan dalam pembelajaran tatap muka (luring). Penjaminan mutu PJJ sebelum pandemi COVID-19 telah dikembangkan dan diatur dalam standar operating procedure (SOP) yang mengacu pada Permenristekdikti No. 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Dalam peraturan tersebut, implementasi pembelajaran daring diatur dan distandardisasi, mulai dari rancangan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, strategi penyampaian, media dan teknologi pembelajaran yang digunakan, serta layanan bantuan belajar terkait dengan pembelajaran daring. Ketentuan tersebut juga termuat dalam Panduan Ditjen Dikti tahun 2016 tentang Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran Daring.

Model penjaminan mutu yang diterapkan, baik sebelum dan selama masa pandemi COVID-19 adalah siklus penjaminan mutu yang terdiri dari lima tahapan, yaitu penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan (PPEPP) (Gambar 1). Perbedaan sebelum dan ketika pandemi hanya pada moda implementasi dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. Hal tersebut terungkap dalam focused group discussion (FGD) dengan Ditjen Dikti dan beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Bina Nusantara, Universitas Pasir Pengaraian Riau, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor (Subijanto dkk., 2020).

Tabel 1 Peta Jalan Pembelajaran Daring Indonesia Sejak Dirintisnya SPADA

Gambar 1 Siklus Penjaminan Mutu PJJ Sumber: Ditjen DIKTI Kemendikbud (2020) Tahun

2014 2015 2016 2017 2018 2019/2020

Rintisan Uji Coba Awal

Implementasi Diseminasi

Ekspansi Ekspansi

30 68 25 130 26 797 SPADA + 131 Online

Courses

6 8 6 48

18 54+201 PT Mitra

4.200 1.746

981 10.575 17.347 98.138 Tahap

Mata Kuliah PT Peserta

Penetapan SN-Dikti dan Standar yang ditetapkan

oleh PT

Perbaikan SN-Dikti dan Standar yang ditetapkan

oleh PT

Analisis penyebab dan koreksi pencapaian SN-Dikti dan Standar yang ditetapkan oleh PT Pemenuhan SN-Dikti dan

Standar yang ditetapkan oleh PT

Penetapan Pelaksanaan Evaluasi

Pengendalian Peningkatan

Pembandingan antara SN-Dikti dan Standar yang ditetapkan oleh PT dengan

yang telah dicapai

1 2 3

4 5

Jumlah

(4)

Di samping hasil FGD tersebut, beberapa kajian terkait dengan penjaminan mutu PJJ mengindikasikan bahwa persoalan mutu PJJ perlu menjadi perhatian khusus. Perubahan strategi pembelajaran dan perluasan inovasi sesuai dengan kaidah-kaidah PJJ dan kebijakan yang ada telah dilakukan oleh perguruan tinggi dalam merespons pandemi COVID-19.

Pada 2016, pemerintah melalui Permenristekdikti No. 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi menetapkan Siklus Penjaminan Mutu Internal, yang terdiri dari lima hal, yaitu penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan (PPEPP) standar pendidikan tinggi. Berbeda dengan pembelajaran di SD-SMA, pembelajaran jarak jauh melalui daring sudah terbiasa dilakukan di PT. Untuk menjamin mutu pembelajaran daring, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti pada 2016 menetapkan panduan penjaminan mutu proses pembelajaran daring yang di dalamnya mencakup standar mutu pembelajaran daring. Standar mutu ini mencakup lima hal, yaitu rancangan dan kegiatan pembelajaran, strategi penyampaian/pengantaran pembelajaran, media dan teknologi pembelajaran, serta layanan bantuan belajar.

Untuk menjamin kualitas pelaksanaan PJJ di PT, maka perlu dilakukan evaluasi. Wibawanto (2017) dalam kajiannya terkait instrumen evaluasi menemukan setidaknya ada sembilan kriteria yang perlu diperhatikan dalam evaluasi PJJ di PT, yaitu kualitas konten, keselarasan dengan tujuan pembelajaran, umpan balik dan adaptasi, motivasi desain presentasi, usabilitas interaksi, aksesibilitas, reusabilitas, dan kepatuhan terhadap standar.

Dalam konteks yang lebih luas, penjaminan mutu pembelajaran daring di PT perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang tidak saja berkaitan dengan teknis pembelajaran, tetapi juga karakteristik aktor dalam pembelajaran. Elumalai, et. al (2020) dalam risetnya menemukan setidaknya ada tujuh faktor yang dapat dipertimbangkan dalam menjamin mutu pembelajaran daring di universitas, yaitu dukungan administratif, konten, desain, karakteristik dosen, karakteristik mahasiswa, dan dukungan teknis dan sosial.

Penjaminan mutu PJJ tetap dapat dilakukan selama pandemi COVID-19 dengan melakukan penyesuaian aplikasi pembelajaran yang mengacu pada standar operasional prosedur pelaksanaan PJJ di perguruan tinggi.

Pemerintah mengajak masyarakat untuk tinggal di rumah (stay at home) dan memanfaatkan waktu untuk berinovasi guna meningkatkan kualitas pendidikan di saat pandemi COVID-19 melanda (Syarifuddin, 2020). Di ranah pendidikan tinggi, selama pandemi COVID-19 telah dikeluarkan beberapa kebijakan terkait penjaminan mutu PJJ. Permendikbud Nomor 7 tahun 2020 misalnya, terutama pada Pasal 55 mengatur ketentuan penjaminan mutu PJJ, di antaranya:

perguruan tinggi penyelenggara PJJ harus melakukan penjaminan mutu internal, program studi diakreditasi secara periodik, melaporkan penyelenggaraan program studi PJJ sesuai dengan sistem pelaporan yang berlaku, serta proses pemantauan, evaluasi, dan pembinaan program studi PJJ dilakukan secara berkala.

Sebagai bagian dari peningkatan kualitas PJJ, evaluasi pelaksanaan pembelajaran daring menjadi penting. Ditjen Dikti pada 2020 menentukan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam evaluasi tersebut, meliputi: aplikasi e-learning, kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran daring, kemampuan dosen dan mahasiswa dalam TIK, respons atau umpan balik mahasiswa dan dosen, kualitas penyelenggaraan pembelajaran daring oleh dosen, dan kualitas aplikasi SIPDA dan LMS pembelajaran daring.

(5)

Dalam praktiknya, evaluasi pelaksanaan PJJ melalui pembelajaran daring di PT selama pandemi dapat juga menggunakan beberapa pendekatan. Studi yang dilakukan Yudiawan (2020) misalnya, menyatakan evaluasi dapat dilakukan dengan pendekatan context, input, process, dan product (CIPP). Dari segi context, perlu dipertimbangkan kondisi media dan sarana, kebutuhan, dan tujuan pembelajaran. Dari segi input, perlu diperhatikan ketersediaan fasilitas, kualitas materi, pemahaman mahasiswa, dan kompetensi dosen. Kemudian dari segi process, perlu dilihat adanya hambatan, pemanfaatan TIK, aktivitas dosen, dan pelaksanaannya. Sedangkan dalam dari segi product, maka yang diperhatikan adalah dampak pengetahuan dan hasil belajar mahasiswa.

Mengacu pada berbagai kebijakan dan hasil penelitian tersebut, ada tiga hal yang dapat disimpulkan. Pertama, penjaminan mutu PJJ dapat tetap dilakukan selama pandemi COVID-19 dengan melakukan penyesuaian aplikasi pembelajaran dengan mengacu pada standar operasional prosedur pelaksanaan PJJ di perguruan tinggi. Kedua, terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan PJJ yang dialami oleh perguruan tinggi sesuai dengan kesiapan dan keberadaan fasilitas dan infrastruktur. Ketiga, penjaminan mutu PJJ optimis dapat tetap dilakukan selama pandemi dengan melakukan penyesuaian di berbagai aspek aplikasi penjaminan mutu sesuai dengan aturan legal formal yang ditetapkan oleh Ditjen Dikti.

Perguruan tinggi sebagai lembaga yang kompeten mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul senantiasa berupaya untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi secara berkelanjutan.

Salah satunya melalui Permendikbud Nomor 50 Tahun 2014 tentang Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi dan Permenristekdikti Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Penjaminan mutu yang dimaksud meliputi semua aspek termasuk PJJ.

Sebagaimana dibahas di bagian sebelumnya, model penjaminan mutu yang diterapkan yakni siklus penetapan-pelaksanaan-evaluasi-pengendalian-peningkatan (PPEPP).

Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan dengan Ditjen Dikti dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, diperoleh gambaran tentang pelaksanaan penjaminan mutu PJJ selama pandemi COVID-19. Implementasi PJJ di masa pandemi sebagaimana diterapkan di perguruan tinggi tersebut dapat dipakai sebagai acuan pengembangan sistem PJJ. Model PJJ yang umum dilakukan yaitu blended-learning dan e-learning penuh. Model pembelajaran kombinasi yaitu blended-learning merupakan pembelajaran yang memadukan proses pembelajaran luring dan pembelajaran daring. Pembelajaran melalui moda e-learning penuh dilakukan ketika seluruh proses pembelajaran dilakukan secara daring.

Terkait dengan penjaminan mutu PJJ di masa pandemi, mayoritas perguruan tinggi mengalami penyesuaian namun tetap dilakukan dengan kerangka siklus PPEPP dalam upaya menyelenggarakan kegiatan akademik dan nonakademik. Hal tersebut dimaksudkan agar tatanan normal baru di masa pandemi tetap dapat diimplementasikan. Penetapan standar didasarkan pada kebijakan universitas melalui surat keputusan dan edaran rektor. Di samping itu, penetapan juga didasarkan pada visi, misi, tujuan, dan sasaran yang disesuaikan dengan sistem yang diterapkan agar mampu mengembangkan keterampilan peserta didik dan berguna untuk masa depan (Alruwais, et.al, 2018). Pada tataran pelaksanaan, perguruan tinggi mengimplementasikan seluruh perencanaan yang sudah ditetapkan dengan mengadakan pelatihan penggunaan pembelajaran daring untuk mendukung implementasi pembelajaran.

Evaluasi penjaminan mutu tetap dilakukan melalui program monitoring dan evaluasi secara elektronik (e-monev) terhadap program pembelajaran. Hasil evaluasi berupa informasi dari mahasiswa, karyawan, dan audit mutu internal menjadi masukan bagi perbaikan program.

Pengendalian standar perguruan tinggi kemudian dipertimbangkan pada rapat tinjauan mutu manajemen dalam rapat pimpinan baik di tingkat universitas (Rapim), rapat tingkat fakultas (RFK), dan rapat jurusan.

(6)

Dalam praktik pembelajaran, sebagian besar perguruan tinggi peserta FGD telah menggunakan LMS seperti BeSmart, atau Binusmaya, dan lain sebagainya yang digunakan oleh sebagian besar dosen dalam pembelajaran. Model pembelajaran PJJ yang dilakukan selama masa pandemi COVID-19 meliputi web-enhanced learning, blended-learning, maupun fully online learning yang merupakan e-learning sepenuhnya. Pelaksanaan PJJ di awal semester selama pandemi diakui masih bersifat darurat karena kondisi yang serba tiba-tiba. Untuk itu, pada semester berikutnya perguruan tinggi berusaha mendesain sistem PJJ yang lebih baik dengan melakukan penetapan tindakan khusus standar mutu dengan menggunakan peraturan dan surat edaran. Namun demikian, persyaratan untuk kuliah dengan moda PJJ masih relatif fleksibel.

Berdasarkan informasi dari perguruan tinggi yang mengikuti FGD, untuk menjamin implementasi penjaminan mutu saat pandemi COVID-19, kuncinya ada pada evaluasi. Siklus penjaminan mutu PPEPP yang merupakan pola untuk sistem manajemen disusun dengan berbasis risiko, termasuk untuk mengantisipasi pandemi. Setelah dilaksanakan evaluasi, maka ada tahap pengendalian melalui tinjauan mutu manajemen. Jika ada yang menghambat, maka disusun strategi untuk mengatasi kegagalan pencapaian tujuan. Selain itu, adanya pandemi ini tidak membuat perguruan tinggi terburu-buru merevisi tujuan, namun menyesuaikan strategi pembelajaran. Jika pada kondisi normal, evaluasi reguler dilakukan setiap bulan, maka pada saat pandemi frekuensi evaluasi dipercepat dan ditambah, namun dilakukan secara virtual. Hal tersebut dilakukan guna memperkuat monitoring dan evaluasi dengan mengantisipasi risiko yang ada.

Pada prinsipnya, sebelum pandemi COVID-19, pembelajaran di kelas di beberapa perguruan tinggi seperti UNY, UI, IPB, Binus, UAD telah menggunakan multi-channel learning meliputi pemanfaatan video-based learning, discussion forum, dan assignment, maupun fitur lainnya yang telah ada di LMS mereka. Di samping itu, kegiatan administrasi terkait dengan akademik atau pembelajaran dilakukan dengan menggunakan aplikasi seperti e-form, e-signature, e-mail dan lainnya sesuai dengan prinsip mengurangi hard copy semaksimal mungkin.

Adapun untuk praktikum yang tidak memungkinkan dilakukan secara virtual, maka dilakukan penjadwalan ulang. Untuk pelaksanaan ujian, dilakukan melalui aplikasi mulai dari pembuatan soal, pengumpulan soal, sampai pengumuman nilai. Evaluasi untuk memonitor proses pembelajaran juga dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi TIK. Pengendalian standar dilakukan dengan mengadakan kajian tinjauan mutu, pengendalian, laporan dan rapat pimpinan, dengan demikian diharapkan akan terjadi peningkatan standar. Perubahan standar penajminan mutu karena kondisi pandemi, dianggap belum diperlukan di perguruan tinggi. Hanya saja strategi penjaminan mutu dilakukan dengan cara berbeda, yaitu monitoring dan evaluasi dilakukan secara virtual dengan frekuensi pelaksanaan yang lebih sering sehingga kendala atau persoalan dapat segera ditangani.

(7)

Rekomendasi

Dari berbagai temuan di atas, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal.

Kemendikbudristek perlu memastikan penyelenggaraan PJJ memiliki mutu yang baik dengan melakukan beberapa hal berikut.

Melakukan penguatan terhadap implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) maupun Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) PJJ di perguruan tinggi.

Melakukan perbaikan standar mutu PJJ yang sesuai dengan konteks pembelajaran di era pandemi COVID-19.

Meningkatkan kapasitas literasi digital para penentu kebijakan, penyelenggara pembelajaran, maupun unsur penunjang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi.

Melakukan ekstensifikasi maupun diversifikasi bantuan pemerintah bagi perguruan tinggi dalam bentuk hibah inovasi, hibah kompetitif, hibah mandat, hibah langsung, dan lain sebagainya terkait dengan peningkatan mutu PJJ.

Mendorong kolaborasi antarperguruan tinggi, perguruan tinggi dengan mitra eksternal, dan perguruan tinggi dengan pemerintah.

1.

a.

b.

c.

d.

e.

Perguruan tinggi perlu selalu meningkatkan mutu PJJ. Beberapa hal dapat dilakukan.

Memperkuat implementasi PJJ dan Sistem Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi.

Meningkatkan kapasitas tanggap darurat akibat terdampak COVID-19.

Mengoptimalisasi sumber daya yang ada dan menjajaki berbagai sumber daya (SDM, finansial, sarana, dan prasarana) eksternal yang dapat membantu perguruan tinggi.

Meningkatkan kapasitas SDM agar dapat mengikuti perubahan paradigma pembelajaran akibat pandemi COVID-19.

Mengembangkan aplikasi yang dapat mendukung PJJ dan sistem penjaminan mutu internal.

2.

a.

b.

c.

d.

e.

Daftar Pustaka

Alruwais, N., Wills, G., & Wald, M. (2018). Advantages and challenges of using e-assessment.

International Journal of Information and Education Technology. 8(1), 34–37.

Aminudin. Z, Maria Rowena Del Rosario Raymundo, and Kamran Mir (2020). Implementing quality assurance system for open and distance learning in three Asian open universities: Philippines, Indonesia and Pakistan. Asian Association of Open Universities Journal. Vol. 15 No. 3, 2020 pp. 297-320. DOI 10.1108/AAOUJ-05-2020.

Belawati, T., & Nizam (Eds.). (2020). Potret Pendidikan Tinggi di Masa COVID-19. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2020). Evaluasi Pembelajaran Daring di Masa Pandemi.

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. (2016). Panduan Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran Daring.

Elumalai, K. V., Sankar, J. P., R, K., John, J. A., Menon, N., Alqahtani, M. S. N., & Abumelha, M.

A. (2020). Factors affecting the quality of e-learning during the COVID-19 pandemic from the perspective of higher education students. Journal of Information Technology Education: Research Volume 19 2020 pp. 731-753.

https://doi.org/10.28945/4628.

(8)

Liston, S. (2020). Pendidikan anak: Hampir 10 juta anak “berisiko putus sekolah permanen”

akibat pandemi COVID-19. https://www.bbc.com /indonesia/majalah-53385718 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2012 dan Nomor 109

Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Tinggi.

Peraturan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

Peraturan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Peraturan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 50 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Permenristekdikti Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Syarifudin, A. S. (2020). Implementasi Pembelajaran Daring untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan sebagai Dampak Diterapkannya Social Distancing. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Metalingua Vol 5, No 1 (2020).

Subijanto, Budi Kadaryanto, Nur Berlian Venus Ali, Ferdi Widiputera, Agus Amin Sulistiono,Darmawan Sumantri dan Asri Ika Dwi Martini. (2020). Laporan Teknis Penelitian Pola Penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Perguruan Tinggi pada Masa Pandemi COVID-19. Jakarta: Puslitjak Kemendikbud.

Wibawanto, H. (2017). Instrumen Evaluasi Kualitas Pembelajaran Daring dalam SPADA Indonesia. Makalah Dipresentasikan pada Semiloka Pembelajaran Daring di Perguruan Tinggi di Kota Banjarmasin (30 Agustus 2017) dan Surabaya (11 September 2017).

Yudiawan, A. (2020). Belajar Bersama COVID-19: Evaluasi Pembelajaran Daring Era Pandemi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, Papua Barat. Al-Fikr Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2020). DOI: https://doi.org/10.32489/alfikr.v6i1.64.

Risalah Kebijakan ini merupakan hasil dari penelitian/kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Pusat Penelitian Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Kompleks Kemdikbud-Ristek, Gedung E, Lantai 19 Jl. Jenderal Sudirman-Senayan, Jakarta 10270 Telp. 021-5736365, 5713827

Tim Penyusun Subijanto Budi Kadaryanto Nur Berlian Venus Ali Ferdi Widiputera Agus Amin Sulistiono Darmawan Sumantri Asri Ika Dwi Martini

Gambar

Gambar 1 Siklus Penjaminan Mutu PJJ Sumber: Ditjen DIKTI Kemendikbud (2020)Tahun201420152016201720182019/2020RintisanUji Coba Awal

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian analisis perkembangan proses pengajaran model jarak jauh (daring) praktik flute masa pandemi covid 19 yang dilakukan menghasilkan sebuah konsep dan metode

Artikel ini memberi hasil simpulan berupa lembar kegiatan literasi saintifik untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) topik penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) bagi

Seni pertunjukan merupakan sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19, sedangkan sektor industri kreatif yang terbiasa dengan platform digital sangat diuntungkan dengan

Pengawasan terhadap standar mutu pendidikan pada saat pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama pandemi covid 19 sulit dilakukan. Hal itu dikarenakan karena

Hasil penelitian ini menemukan bahwa penerapan kepemimpinan instruksional pembelajaran kepala sekolah/madrasah Muhammadiyah di DIY pada masa pandemi Covid- 19 dalam implementasi

Membantu guru dan/atau kepala satuan pendidikan dalam mendokumentasikan dan membagikan praktik baik Penyelenggaraan Pembelajaran PAUDDIKDASMEN di Masa Pandemi COVID-19 pada lingkup

Modul pembelajaran jarak jauh untuk jenjang SMP selama masa pandemi COVID-19 untuk mata pelajaran Seni Budaya di kelas VIII semester

Prinsip PJJ telah tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan NO.4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Virus Covid-19 yaitu: