SKRIPSI
OLEH :
FENI ANASTASIA NIM. 111000034
`
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
FENI ANASTASIA NIM. 111000034
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
PERILAKU IBU RUMAH TANGGA TERHADAP PENGGUNAAN MINYAK GORENG BERULANG KALI DI DESA SERBELAWAN KECAMATAN DOLOK BATU NANGGAR KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2017” beserta isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, April 2018 Yang Membuat Pernyataan
(Feni Anastasia)
GAMBARAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA TERHADAP PENGGUNAAN MINYAK GORENG BERULANG KALI
DI DESA SERBELAWAN KECAMATAN DOLOK BATU NANGGAR KABUPATEN SIMALUNGUN
TAHUN 2017
Yang disiapkan dan dipertahankan oleh : FENI ANASTASIA
NIM. 111000034
Disahkan oleh :
Komisi Pembimbing Skripsi
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Drs. Eddy Syahrial, MS Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM NIP. 19590713 198703 1 001 NIP. 19671219 199303 1 003
Medan, April 2018 Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara Dekan
Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si NIP.19680320 199308 2 001
signifikan. Masyarakat yang mengkonsumsi diet tinggi lemak mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita penyakit degeneratif seperti penyakit hati dan penyakit kardiovaskuler. Salah stau faktor resiko ialah penggunaan minyk goreng secara berulang kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku ibu rumah tangga terhadap penggunaan minyak goreng berulang di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey bersifat deskriptif menggunakan metode penelitian kuantitatif yang dilaksanakan di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 354 ibu rumah tangga, dengan jumlah sampel sebanyak 78 orang yang diambil melalui metode Simple Random Sampling. Metode pengumpulan data dilaksanakan dengan pengisian kuesioner melalui wawancara langsung dengan responden. Analisis data dilaksanakan dengan analisis unvariat yang hasilnya digambarkan dalam tabel distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiiliki pengetahuan dalam kategori kurang sebanyak 38 orang (48,7%), kemudian memiliki sikap dalam kategori kurang sebanyak 33 orang (42,3%), dan memiliki tindakan terhadap penggunaan minyak goring berulang kali dalam kategori kurang sebanyak 47 orang (60,3%).
Disarankan kepada petugas kesehatan di Puskesmas Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun untuk bekerjasama dengan perangkat desa Serbelawan dalam melakukan upaya penyuluhan kesehatan mengenai penggunaan minyak goreng yang baik dan sehat, sehingga ibu rumah tangga tidak menggunakan minyak goreng secara berulang lebih dari 2 kali penggunaan untuk menggoreng makanan.
Kata Kunci : Perilaku, Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Ibu Rumah Tangga, Minyak Goreng Berulang
patterns. People who consume high-fat diets have a higher risk of developing degenerative diseases such as liver disease and cardiovascular disease. One of the risk factors is the repeated use of minicraft. The purpose of this research was to determine the description of the behavior of housewives to the use of repeated cooking oil in the Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun in 2017.
The method used in this research was a descriptive survey using quantitative research methods implemented in the Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun. The population in this research amounted to 354 housewives, with a total sample of 78 people taken through the Simple Random Sampling method. Methods of data collection was done by filling out the questionnaire through direct interviews with respondents. The data analysis was performed by unvariat analysis which results are described in the frequency distribution table
The results showed that most of the respondents had knowledge in the category of less than 38 people (48,75), then had the attitude in the category less as much as 33 people (42,3%), and had action on the use of goring oil repeatedly in the category less as much 47 persons (60,3%).
It was suggested to health officer at Puskesmas Serbelawan Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun to cooperate with village officers of Serbelawan in doing health counseling about the use of good and healthy cooking oil, so housewife did not use cooking oil repeatedly more than 2 times use for frying food.
Keywords: Behaviour, Knowledge, Attitude, Practice, Housewife, Repetitive Cooking Oil
memberikan kesehatan, keselamatan, rezeki serta semangat dalam kehidupan untuk senantiasa berusaha menyelesaikan tanggung jawab menyelesaikan studi sebagaimana mestinya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Gambaran Perilaku Ibu Rumah Tangga terhadap Penggunaan Minyak Goreng Berulang di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017”. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendpatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak sekali mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Lita Sri Andayani, SKM, M.Kes., selaku Ketua Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM USU dan Dosen Penguji II atas segala masukan dan saran yang telah diberikan dalam penyusunan skripsi ini.
4. Drs. Eddy Syahrial, MS selaku Dosen Pembimbing I atas segala bimbingan, arahan dan bantuan yang telah diberikan untuk penyusunan skripsi ini.
6. Drs. Alam Bakti Keloko M.Kes., selaku Dosen Penguji I atas segala bantuan, masukan dan saran yang diberikan dalam penyempurnaan skripsi ini.
7. Dr. Yusniwarti Yusad, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik atas segala bimbingan dan arahan akademik yang diberikan selama masa perkuliahan.
8. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh civitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara atas segala pengetahuan dan pengalaman yang telah diberikan.
9. Bapak dan ibu pegawai di lingkungan FKM USU, terutama kepada Bapak Warsito yang telah banyak membantu keperluan administrasi dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Kepala Puskesmas Serbelawan, Kepala Desa Serbelawan, dan ibu rumah tangga yang menjadi responden penelitian yang telah memberikan ijin penelitian dan membantu penulis selama proses penelitian.
11. Keluarga besar tercinta Ibu tercinta (Enny Roniida Simatupang,S.Pd), tulang (Ronald Simatupang, S.Pd) dan seluruh keluarga besar atas segala dukungan dan semangat yang diberikan.
12. Sahabat-sahabat terbaik penulis. Ridho Angga Amalona, Novrin Lubis, Yususf Siregar, Risa Mawardika, Latifah Hanum, dan adik terbaik Akhmad
dukungan dan bantuan yang diberikan.
14. Pihak-pihak dan sahabat-sahabat yang lainnya yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu, semoga tak mengurangi rasa hormat dan rasa terima kasih saya atas segala semangat, bantuan, dan dukungan yang diberikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat saya butuhkan untuk penyempurnaan penulisan skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Medan, April 2018 Penulis
Feni Anastasia
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ………...` xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
RIWAYAT HIDUP PENULIS ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 11
1.3 Tujuan Penelitian ... 11
1.3.1 Tujuan Umum ... 11
1.3.2 Tujuan Khusus ... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1 Karakteristik Individu ... 13
2.1.1 Defenisi Karakteristik Individu ... 13
2.1.2 Dimensi Karakteristik Individu ... 14
2.2 Perilaku ……….. ... 16
2.2.1 Defenisi Perilaku ... 16
2.2.2 Determinan Perilaku ……… 18
2.2.3 Domain Perilaku ……….. 20
2.2.4 Pembentukan Perilaku……….. 22
2.2.5 Teori Terjadinya Perilaku ……… 23
2.2.6 Perilaku dalam Bentuk Pengetahuan ... 25
2.2.7 Perilaku dalam Bentuk Sikap ... 27
2.2.8 Perilaku dalam Bentuk Tindakan ... 31
2.3 Perilaku Kesehatan ……….……….…. 32
2.3.1 Pengertian Perilaku Kesehatan ... 32
2.3.2 Klasifikasi Perilaku Kesehatan ... 32
2.4 Minyak Goreng ... 34
2.4.1 Pengertian Minyak Goreng ... 34
2.4.2 Jenis-Jenis Minyak Goreng ... 35
2.4.3 Sifat-sifat Minyak Goreng ... 37
2.4.4 Penyaringan Minyak Goreng ... 39
2.4.5 Penggunaan dan Mutu Minyak Goreng ... 40
2.4.6 Proses Menggoreng ... 41
2.4.7 Faktor-faktor Pemanasan yang Dapat Menyebabkan Kerusakan Minyak ... 41
BAB III METODE PENELITIAN ... 48
3.1 Jenis Penelitian ……….. ... 48
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ……….. 48
3.2.1 Lokasi Penelitian ……….…….. 48
3.2.2 Waktu Penelitian ……… 49
3.3 Populasi dan Sampel ... 49
3.3.1 Populasi ... 49
3.3.2 Sampel ... 49
3.4 Metode Pengumpulan Data………...………... 50
3.4.1 Data Primer ... 50
3.4.2 Data Sekunder ... 51
3.5 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional ... 51
3.6 Metode Pengukuran ... 53
3.6.1 Metode Pengukuran Pengetahuan ... 53
3.6.2 Metode Pengukuran Sikap ... 54
3.6.3 Metode Pengukuran Tindakan ... 54
3.7 Metode Pengolahan dan Analisa Data ... 55
3.7.1 Metode Pengolahan Data ... 55
3.7.2 Metode Analisa Data ... 56
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 57
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 57
4.2 Gambaran Umum Karakteristik Responden ... 57
4.3 Gambaran Pengetahuan Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ... 61
4.4 Gambaran Sikap Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ... 67
4.5 Gambaran Tindakan Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ... 71
BAB V PEMBAHASAN ... 76
5.1 Karakteristik Responden ... 76
5.1.1 Umur ... 76
5.1.2 Tingkat Pendidikan ... 77
5.1.3 Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga ... 79
5.1.4 Jumlah Anggota Keluarga ... 81
5.1.5 Sumber Informasi ... 82
5.2.3 Pengetahuan Responden terhadap Bahaya Penggunaan Minyak
Goreng Berulang Kali ………. 93
5.3 Gambaran Sikap Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ... 96
5.3.1 Sikap Responden terhadap Penggunaan Minyak Goreng Baru .. 100
5.3.2 Sikap Responden terhadap Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ……… 101
5.4 Gambaran Tindakan Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ... 103
5.4.1 Tindakan Responden terhadap Penggunaan Minyak Goreng Baru ………. 106
5.4.2 Tindakan Responden terhadap Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ……….. 108
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 113
6.1 Kesimpulan ... 113
6.1 Saran ... 114
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kategori Pengetahuan Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ………. 66 Tabel 4.4 Distribusi Frekunesi Gambaran Sikap Responden tentang Penggunaan
Minyak Goreng Berulang Kali ……….. 67 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Kategori Sikap Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ……….. 71 Tabel 4.6 Distribusi Frekunesi Gambaran Tindakan Responden tentang Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ………..……72 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Kategori Tindakan Responden tentang
Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali ………. 75
Lampiran 2 : Surat Ijin Penelitian
Lampiran 3 : Surat Keterangan Selesai Penelitian
Beragama Islam, anak pertama dari pasangan Ayahanda Drs. Bachtiar Effendi, BA., dan Enny Roniida Simatupang, S.Pd. Penulis bertempat tinggal di alamat Perluasan Barat Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun.
Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan dasar di SD Negeri 091617 Dolok Batu Nanggar pada tahun 1999-2005, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Dolok Batu Nanggar pada tahun 2005-2008, kemudian pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Dolok Batu Nanggar pada tahun 2008-2011.
Penulis kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara pada peminatan Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Meningkatnya penyakit degeneratif menurut studi epidemiologi yang dilakukan menunjukkan keterkaitan antara pola konsumsi dan gaya hidup secara signifikan. Masyarakat yang mengkonsumsi diet tinggi lemak mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita penyakit degeneratif seperti penyakit hati dan penyakit kardiovaskuler (Mesink, 2012).
Menurut data yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian manusia nomor satu di negara maju dan berkembang dengan menyumbang 30% atau sekitar 17 juta kasus dari seluruh kematian di dunia. Dari angka ini, diperkirakan 7,3 juta disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Organisasi Stroke Dunia mencatat hampir 85%
orang yang mempunyai faktor resiko dapat terhindar dari stroke bila menyadari dan mengatasi faktor resiko tersebut sejak dini. Badan kesehatan dunia memprediksi bahwa kematian akibat stroke akan meningkat seiring dengan kematian akibat penyakit jantung dan kanker kurang lebih 6 juta pada tahun 2010 menjadi 8 juta di tahun 2030 (WHO, 2011).
Di Indonesia menyatakan bahwa penderita stroke di Indonesia jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 penelitian di sejumlah rumah sakit menemukan pasien rawat inap karena stroke jumlahnya sekitar 23.000 orang (Yayasan Stroke Indonesia, 2011). Di Indonesia, tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta
penduduk, ada sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap tahunnya. Sejalan dengan itu, data empiris juga menunjukkan bahwa kematian akibat kanker dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, sekitar 5,7 % kematian semua umur disebabkan oleh kanker ganas. Menurut Tjandra Yoga, di Indonesia prevalensi tumor/kanker adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan DM (Riskesdas, 2011).
Perkembangan teknologi informasi pangan dan perubahan gaya hidup mengakibatkan sebagian besar masyarakat merubah pola makan dengan konsumsi lebih banyak lemak, antara lain berupa makanan yang digoreng. Masyarakat Indonesia pada umumnya sangat menyukai makanan yang digoreng (Oeij, 2012).
Dalam pengolahan bahan makanan yang digoreng, masyarakat Indonesia sering sekali menggunakan minyak goreng (Fransiska, 2011).
Minyak goreng merupakan medium penggoreng bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat luas. Kurang lebih 290 juta ton minyak dikonsumsi setiap tahunnya. Ia sering kali ditambahkan ke bahan makanan dengan berbagai tujuan, salah satunya sebagai media penghantar panas atau untuk menggoreng seperti minyak goreng. Fungsi minyak goreng selain sebagai media penghantar panas, juga untuk menambah nilai kalori, memperbaiki tekstur dan cita rasa dari bahan pangan (Winarno, 2012).
Minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu minyak juga merupakan sumber energi yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak dapat menghasilkan 9
kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram. Minyak, khususnya minyak nabati, mengandung asam-asam lemak esensial seperti asam linoleat, lenolenat, dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol. Minyak juga berfungsi sebagai sumber dan pelarut bagi vitamin-vitamin A, D, E dan K. Tujuan penambahan lemak dalam bahan pangan ialah untuk memperbaiki rupa dan struktur fisik bahan pangan, menambah nilai gizi dan kalori, serta memberikan cita rasa yang gurih pada bahan pangan (Ketaren 2011). Oleh karena itu penggunaan minyak sering kali digunakan dalam pengolahan bahan makanan yang digoreng.
Di negara-negara yang sedang berkembang, minyak goreng adalah satu kebutuhan pokok masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan ia sebagai sumber utama lemak (fat). Jenis dan jumlah minyak goreng yang kita konsumsi sehari-hari sangat erat kaitannya dengan kesehatan. Minyak goreng yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah yang berbahan baku minyak sawit (>70%), diikuti dengan minyak kelapa (Winarno, 2012).
Pada tahun 2013, angka konsumsi minyak goreng sawit menurut SUSENAS sebesar 8,92 liter/kapita/tahun. Prediksi konsumsi minyak goreng sawit di tingkat rumah tangga tahun 2014, yaitu sebesar 9,21 liter/kapita/tahun. Konsumsi ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2013, begitu juga dengan tahun 2015 dan 2016 memperlihatkan bahwa konsumsi minyak goreng sawit mengalami peningkatan. Konsumsi minyak goreng sawit tahun 2015 dan 2016 diprediksi masing-masing sekitar 9,44 liter/kapita/tahun dan 9,66 liter/kapita/tahun (SUSENAS, 2013).
Ibu rumah tangga memengang peranan yang sangat penting dalam pemenuhan makan keluarga. Seluruh asupan makanan anggota keluarga diolah oleh ibu rumah tangga. Pengolahan makanan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga biasanya dilakukan dengan menggoreng, merebus, menumis dan olahan lainnya.
Dalam menggoreng, penggunaan minyak goreng sangat memegang peranan penting.
Harga minyak goreng yang semakin membumbung tinggi telah menyebabkan sebagian besar para ibu rumah tangga berupaya hemat dalam penggunaan minyak goreng. Kenaikan harga bahan sembako setiap tahunnya membuat ibu rumah tangga berpikir ulang untuk mengelolah keuangan keluarga.
Salah satu cara yang digunakan oleh ibu rumah tangga untuk menghemat pemakaian minyak goreng adalah melalui penghematan penggunaan minyak goreng tanpa mempertimbangkan kualitas minyak dan tanpa mengetahui akibat yang akan di timbulkan. Minyak goreng dalam rumah tangga akan dimanfaatkan untuk beberapa kali dalam penggorengan. Minyak goreng berulang kali ini sering disebut dengan minyak jelantah.
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang dipanaskan atau digunakan berulang kali dan mengalami perubahan baik secara fisik atau kimia yakni dengan adanya perubahan warna dari bening menjadi berwarna gelap dan berbau tengik, serta secara kimiawi mengalami perubahan reaksi hidrolis, oksidasi termal dan polimerasi termal (Rustika, 2012).
Secara komersial, Masyarakat Indonesia biasanya menggunakan cara deep frying dalam menggoreng bahan makanan, yaitu dengan merendam seluruh bahan
makanan dalam minyak panas. Dengan cara tersebut, akan diperoleh minyak goreng bekas. Minyak goreng bekas tersebut biasanya akan digunakan kembali dalam menggoreng bahan makanan yang lain atau dengan tanpa menambah sedikit minyak goreng yang baru pada minyak goreng bekas (Lin, 2014).
Kebanyakan ibu-ibu rumah tangga sering melakukan penggorengan bahan makanan dengan cara terputus-putus, artinya minyak yang sudah terpakai didinginkan dan kemudian digunakan lagi untuk menggoreng bahan pangan lainnya. Penggorengan terputus ini mengakibatkan kerusakan minyak semakin cepat karena terjadi penambahan hidroperoksida selama pendinginan yang diikuti dengan dekomposisi jika minyak dipanaskan lagi (Khomsan, 2013).
Proses pemanasan minyak goreng yang lama ataupun berulang akan menyebabkan perubahan fisik kimiawi minyak goreng berupa peningkatan kejenuhan asam lemak minyak yang digunakan, mempercepat terjadinya dekomposisi asam lemak yang terkandung dalam minyak goreng yang pada batas tertentu mengakibatkan minyak menjadi tidak layak digunakan (minyak jelantah), karena telah terjadi kerusakan rantai karbon akibat oksidasi dan polimerisasi asam lemak yang akan menghasilkan radikal bebas senyawa peroksida (Danowska and Karpinska, 2013).
Kerusakan minyak jelantah ditunjukkan melalui bilangan peroksida.
Pemanasan minyak goreng pada suhu yang tinggi menyebabkan ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh terurai, dan kemudian akan teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, sehingga tersisa asam lemak jenuh dalam bentuk asam lemak bebas yang tinggi (Winarno, 2012). Berdasarkan syarat mutu
bilangan peroksida pada minyak goreng menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 01- 3741-2002 maksimal sebesar 1 mgO2/100 gram minyak (10 meq/1 kg minyak).
Penggunaan minyak goreng berulang dalam rumah tangga menghasilkan bilangan peroksida 20-40 meq/kg (Thadeus, 2012).
Minyak jelantah sebagai radikal bebas dapat memicu terjadinya kerusakan oksidatif di dalam tubuh, maka konsumsi minyak jelantah dapat menimbulkan kerusakan DNA, protein, peroksidasi lipid, dan kerusakan membran sel. Kerusakan oksidatif yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan timbulnya penyakit- penyakit yang bersifat kronis dan degeneratif (Dorffman, 2012).
Dalam kehidupan kita sehari-hari makanan yang mengandung kolesterol yaitu seperti minyak goreng. Proses pemakaian yang berulang kali dapat merubah kandungan dalam minyak, asam lemak jenuh yang terdapat di dalamnya akan hilang dan yang tersisa hanya lemak jenuh saja. Jika minyak digunakan berulang kali minyak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi dapat menyebabkan terbentuknya kolesterol. Misalnya menggunakan minyak jelantah/minyak yang digunakan lebih dari 2 kali (Lipoeto, 2011).
Penggunaan minyak goreng secara berulang kali tidak dianjurkan dan berbagai penelitian telah banyak dilakukan oleh para peneliti, yang membukitkan dampak negatif dari minyak goreng jelantah. Walaupun demikian, masih banyak orang yang belum tahu cara menggunakan minyak goreng yang baik dan benar termasuk ibu rumah tangga. Tidak hanya pedagang-pedagang kaki lima yang sering menggunakan minyak goreng jelantah, bahkan dalam dapur keluarga pun sering
tanpa sadar kita menggunakan minyak goreng secara berulang. Alasan mereka sangat beragam namun umumnya karena penghematan.
Menurut hasil kajian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan, serta kajian dari pakar kesehatan terhadap penggunaan minyak goreng berulang kali dapat memberikan dampak pada gangguan kesehatan. Pemanasan minyak goreng yang berulang kali (lebih dari 2 kali) pada suhu tinggi 160° C sampai dengan 180°
C akan mengakibatkan hidrolisis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, misalnya: kerusakan liver, ginjal, saluran cerna maupun sel endothelial aorta (Takeoka, 2011).
Menurut Lindarto (2013), pemakaian minyak goreng berulang kali tersebut dapat menimbulkan kolestrol dan penyakit lainnya bagi masyarakat. Selama ini banyak ibu rumah tangga menggunakan minyak goreng bekas itu bahkan sebanyak enam hingga tujuh kali dan baru diganti dengan yang baru. Cara-cara seperti ini adalah salah dan dapat menimbulkan penyakit kolesterol. Menurut Sartika (2012), minyak goreng bekas berpotensi menimbulkan penyakit jantung koroner.
Walaupun jelantah yang diperoleh telah melalui penyaringan beberapa kali, namun proses ini tidak menghilangkan zat yang timbul setelah minyak goreng dipanaskan dengan suhu tinggi berulang kali. Pemakaian minyak yang berulang, akan timbul asam lemak trans. Selanjutnya, zat ini akan mempengaruhi metabolisme profil lipid darah yakni HDL kolesterol, LDL kolesterol dan total kolesterol yang kemudian menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah atau disebut atherosklerosis yang dapat memicu terjadinya hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner.
Penelitian oleh Jonarson (2014) tentang analisa kadar asam lemak minyak goreng yang digunakan penjual makanan jajanan gorengan di padang menyebutkan bahwa terdapat rata-rata perbedaan jumlah asam lemak jenuh dan tidak jenuh pada minyak goreng yang belum digunakan hingga 3 kali pemakaian. Penelitian dilakukan untuk melihat perbedaan rata-rata kadar asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh pada minyak goreng yang belum digunakan hingga pemakaian ketiga. Dimana, semakin sering digunakan minyak goreng tersebut digunakan, maka semakin tinggi kandungan asam lemak jenuhnya yaitu pada minyak yang belum dipakai (45,96%), 1 kali pakai (46,09%), 2 kali pakai (46,18%), 3 kali pakai (46,32%). Semakin sering minyak goreng tersebut digunakan maka kandungan asam lemak tidak jenuh minyak goreng tersebut akan semakin berkurang.
Kandungan asam lemak tidak jenuh pada minyak yang belum dipakai (53,95%), 1 kali pakai (53,78%), 2 kali pakai (53,69%), 3 kali pakai (53,58%).
Penggunaan minyak goreng secara berulang kali (>2 kali) tidak dianjurkan dan berbagai penelitian telah banyak dilakukan oleh para peneliti, yang membukitkan dampak negatif dari minyak goreng jelantah. Walaupun demikian, masih banyak orang yang belum tahu cara menggunakan minyak goreng yang baik dan benar.
Penggunaan minyak goreng yang lama dan berkali-kali dapat menyebabkan ikatan rangkap teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomner siklik.
Selain itu, penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan pula pecahnya ikatan trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak bebas yang disebut free fatty acid (FFA) yang dapat menaikan kolesterol darah.
Minyak goreng yang sudah digunakan berulang kali menyebabhan nilai gizinya (vitamin dan asam lemak esensial) sangat rendah akibat oksidasi minyak pada suhu tinggi, sehingga tidak baik dikonsumsi (Rustika, 2012).
Pengetahuan merupakan komponen predisposing yang penting, walaupun peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan perilaku.
Seperti, pengetahuan ibu mengenai kolesterol dengan penggunaan minyak jelantah akan memengaruhi kejadian penyakit, begitu pula dengan kolesterol pengetahuan tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan dapat memengaruhi motivasi dalam melaksanakan tindakan dalam pencegahan (Efendi, 2011). Meskipun pengetahuan bukan merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit degeneratif namun pengetahuan merupakan domain yang tetap, sangat penting untuk tindakan seseorang.
Di Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan data yang diperoleh dari data Surveilans Terpadu Penyakit (STP) tahun 2015 terlihat kasus yang paling banyak adalah penyakit kardiovaskuler seperti penyaki jantung koroner (PJK) dan hipertensi dengan kasus mencapai 7211 pasien yang ada di 112 rumah sakit di 33 kota/kabupaten seluruh provinsi Sumatera Utara terkhususnya Kabupaten Simalungun dengan prevalensi penyakit kardiovaskuler mencapai 2,7%, dan prevalensi untuk Sumatera Utara 1,98% (Profil Kesehatan Provinsi Sumtera Utara, 2015).
Menurut Data Dinkes yang di peroleh dari Kabupaten Simalungun, pada tahun 2014 jumlah kasus hipertensi sebanyak 1.792 kasus, tahun 2015 meningkat menjadi 2.142 kasus, lalu pada tahun 2016 yang sedang berjalan pada periode
Januari–September sudah 1.890 kasus. Di Kabupaten Simalungun, penyakit kardiovaskuler seperti PJK dan hipertensi menempati urutan pertama dalam tabel penyakit yaitu diatas penyakit diiabetes mellitus. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang mencatatkan angka penderita terbanyak dan jumlahnya terus meningkat jika dibandingkan dengan jumlah pasien diabetes mellitus atau penyakit yang lainnya (Profil Kesehatan Provinsi Sumtera Utara, 2015).
Berdasarkan data yang didpatkan dari Puskesmas Serbelawan pada tahun 2015 dri 125 kunjungan pasien ke Puskesmas, diketahui bahwa ada 38 pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi dan penyakit jantung koroner, kemudian pada tahun 2016 dari 148 kunjungan pasien ke Puskesmas Serbelwan di ketahui bahwa sebanyak 46 pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi dan penyakit jantung koroner (Laporan Kesehatan Puskesmas Serbelawan, 2016).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di desa Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun dengan metode wawancara pada 7 (tujuh) orang ibu rumah tangga, diketahui bahwa ibu rumah tangga yang tinggal di desa tersebut lebih sering memasak dengan menggunakan minyak goreng jenis sawit, dan 5 (lima) orang diantaranya untuk alasan penghematan, sering kali para ibu rumah tangga tersebut menggunakan minyak goreng secara berulang kali sebanyak lebih dari 2 kali penggunaan.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana gambaran perilaku ibu rumah tangga terhadap penggunaan minyak goreng berulang
kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah mengenai “Bagaimana Gambaran Perilaku Ibu Rumah Tangga terhadap Penggunaan Minyak Goreng Berulang Kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Tahun 2017?”
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku ibu rumah tangga terhadap penggunaan minyak goreng berulang kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui karakteristik ibu rumah tangga (umur, pendidikan, pendapatan, pengeluaran, jumlah anggota rumah tangga dan sumber informasi) terhadap penggunaan minyak goring berulang kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
2. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu rumah tangga tentang penggunaan minyak goreng berulang kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
3. Mengetahui gambaran sikap ibu rumah tangga tentang penggunaan minyak goreng berulang kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
4. Mengetahui gambaran tindakan ibu rumah tangga tentang penggunaan minyak goreng berulang kali di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu :
1. Bahan masukan bagi ibu rumah tangga di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun agar tidak menggunakan minyak goreng secara berulang kali karena membahayakan bagi kesehatan.
2. Bagi Universitas Sumatera Utara sebagai literatur kepustakaan di bidang penelitian mengenai gambaran perileaku ibu rumah tangga tentang penggunaan minyak goreng berulang kaeli di Desa Serbelawan Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun tahun 2017.
3. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat digunakan sebagai perbandingan atau bahan referensi bagi penelitian dengan objek yang sama di masa mendatang.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Individu
2.1.1 Defenisi Karakteristik Individu
Karakteristik individu adalah orang yang memandang berbagai hal secara berbeda akan berperilaku secara berbeda, orang yang memiliki sikap yang berbeda akan memberikan respon yang berbeda terhadap perintah, orang yang memiliki kepribadian yang berbeda berinteraksi dengan cara yang berbeda dengan atasan, rekan kerja dan bawahan. Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang memperoleh dari pengaruh lingkungan.
Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis (Ivancevich, 2012).
Karakteristik individu adalah perilaku atau karakter yang ada pada diri seorang individu baik yang bersifat positif maupun negatif (Thoha, 2012).
menyatakan bahwa karakteristik individu adalah ciri-ciri khusus, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membedakannya dengan orang lain (Rivai, 2012). Karakteristik individu merupakan sifat pembawaan seseorang yang dapat diubah dengan lingkungan atau pendidikan (Hasibuan, 2013).
2.1.2 Dimensi Karakteristik Individu
Menurut Robbins (2013), dimensi karakteristik individu secara biografis terdiri dari: umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama, status perkawinan, status sosial ekonomi, dan pendidikan yang merupakan sesuatu yang objektif dan mudah diperoleh dari catatan pribadi. Semua dimensi ini dapat menimbulkan perbedaan perilaku terhadap tindakan individu dalam menghadapi sesuatu hal (Badeni 2013).
Penjelasan dari masing-masing karakteristik individu dipandang dari segi biografis yaitu :
1. Umur/usia
Umur/usia menentukan kemampuan seseorang untuk bertindak, termasuk bagaimana dia merespon stimulus yang dilancarkan individu/pihak lain. Semakin tinggi usia seseorang semakin rendah kemampuan fisik tetapi sebaliknya pengalaman dan kestabilan emosi dapat semakin tinggi. Artinya semakin tinggi usia seseorang akan semakin tinggi kesediaan untuk menerima kenyataan semakin sikap positif terhadap pekerjaan dan semakin memiliki kepuasan kerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk memimpin suatu kelompok kerja, usia yang lebih tua akan dapat lebih produktif karena memiliki kepuasan kerja
2. Jenis kelamin
Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki oleh mahluk hidup, dalam hal ini manusia. Jenis kelamin sering dibagi ke dalam dua kategori, dengan menggunakan istilah masing-masing; laki-laki dan perempuan atau pria dan wanita. Secara fisik dan emosional laki-laki dan perempuan berbeda dalam menanggapi suatu permasalahan dan respon terhadap stimulus yang diberikan.
3. Suku Bangsa
Suku bangsa seseorang akan mempengaruhi pribadinya dalam bertindak dan bertingkah laku. Suku bangsa erat kaitannya dengan kebudayaan, dalam kebduayaan terdapat norma adat yang tidak tertulis yang menjadi pembatas perilaku individu yang terikat dengan norma adat tersebut untuk memilah mana perilaku yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.
4. Agama
Menurut Az-Zamawi (2012) agama memang mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntutan hidup bagi penganutnya. Agama akan membatasi perilaku seseorang dalam bertindak, karena dalam ajaran agama ada pembatasan antara tindakan yang boleh dilakukan dan tindakan yang tidak boleh dilakukan.
5. Status perkawinan
Status perkawinan akan mempengaruhi perilaku individu dalam bertindak dan perilaku. Proses perkawinan merupakan proses pengikatan individu yang sakral secara fisik, sosial, dan emosional. Individu yang telah menikah akan terbatas dalam berperilaku dikarenakan adanya pasangan perkawinan yang menjadi pembatas dalam bertindak dan bertingkah laku dibandingkan dengan individu yang belum menikah.
6. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan mempengaruhi sikap dan tindakan individu. Seseorang dengan status sosial ekonomi yang tinggi di masyarakat serta di hormati dalam lingkungan sosialnya dituntut untuk memiliki perilaku yang lebih baik dan bijaksana dalam kesehariannya.
7. Pendidikan
Koentjaraningrat (2013) mengatakan pendidikan adalah kemahiran menyerap pengetahuan atau meningkatkan sesuai dengan pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan seseorang yang diserapnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah untuk menyerap pengetahuan. Pendidikan akan mempengaruhi perilaku seseorang, karena seseorang yang telah memiliki pendidikan yang tinggi bertanggung jawab untuk memiliki sikap dan tindakan yang lebih baik.
2.2 Perilaku
2.2.1 Defenisi Perilaku
Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan) (Sarwono, 2007).
Dipandang dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bisa dilihat, sedangkan perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain berjalan, berbicara, menangis, tertawa, membaca dan sebagainya, sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).
Setiap manusia akan bertindak dan bertingkah laku untuk berinteraksi dengan makhluk lain, hakikat manusia sebagai makhluk sosial akan selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Perilaku manusia ditujukan sebagai tanda pengenal dirinya sebagai makhluk sosial yang senantiasa ingin berhubungan dengan orang lain. Perilaku manusia yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamakan, karena pribadi manusia merupakan hal yang sangat unik dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya masing-masing.
Karakteristik perilaku menurut Purwanto (2009) dibedakan menjadi 2 yaitu perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku tertutup (covert behavior) adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu misalnya berpikir, berkhayal, sedih, bermimipi, dan takut. Sedangkan perilaku terbuka (overt behavior) adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat bantu misalnya seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anggotanya ke puskesmas untuk diimunisasi, atau seseorang yang melakukan pengobatan penyakit ke fasilitas kesehatan yang tersedia.
Bentuk operasional dari perilaku dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu : 1. Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi dan
rangsangan.
2. Perilaku dalam bentuk sikap, yaitu tanggapan perasaan terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri si subjek sehingga alam itu sendiri akan mencetak perilaku manusia yang hidup di dalamnya, sesuai dengan sifat keadaan alam tersebut (lingkungan fisik) dan keadaan lingkungan sosial budaya yang bersifat
non fisik tetapi mempunyai pengaruh kuat terhadap pembentukan perilaku manusia. Lingkungan ini merupakan keadaan masyarakat dan segala budidaya masyarakat itu lahir dan mengembangkan perilakunya.
3. Perilaku dalam bentuk tindakan, yang sudah konkret berupa perbuatan terhadap situasi dan rangsangan dari luar (Notoadmodjo, 2010).
2.2.2 Determinan Perilaku
Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan, faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi 2 macam yakni:
1. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
2. Determinan atau faktor eksternal yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa perilaku adalah merupakan totalitas penghayatan dan aktifitas seseorang, yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.
Bloom (1998) sebagaimana dikutip oleh Notoatmodjo (2010) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku manusia itu kedalam 3 karakteristik, ranah atau kawasan yakni kognitif, afektif, dan psikomotor.
Perilaku manusia menurut Purwanto (2009) terdapat banyak macamnya yaitu:
1) Perilaku refleks
Perilaku refleks merupakan perilaku yang dilakukan manusia secara otomatik.
Contohnya : mengecilkan kelopak mata, menaikkan bahu ketika bernafas, menganggukan kepala ketika menandakan persetujuan, dan menggelengkan kepala ketika menunjukkan penolakan.
2) Perilaku refleks bersyarat
Merupakan perilaku yang muncul karena adanya rangsangan tertentu.
3) Perilaku yang mempunyai tujuan Disebut juga perilaku naluri.
Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi perilaku negatif seseorang dapat dilakukan dengan :
1. Peningkatan peranan keluarga terhadap perkembangan dari kecil hingga dewasa.
2. Peningkatan status sosial ekonomi keluarga.
3. Menjaga keutuhan keluarga.
4. Mempertahankan sikap dan kebiasaan sesuai dengan norma yang disepakati.
5. Pendidikan keluarga yang disesuaikan dengan status anggota keluarga baik itu anggota tunggal, anggota tiri, dan lain-lain.
Menurut Skinner seorang ahli psikologi yang dikutip Notoatmodjo (2010) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsang dari luar). Dalam teori Skinner ada 2 (dua) respon, yaitu:
1. Respondent respon atau flexive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus tertentu). Stimulus semacam ini disebut eleciting stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap.
2. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu.
Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer karena memperkuat respon.
2.2.3 Domain Perilaku
Lawrence Green dalam Mandy (2010) menganalisis bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu:
a. Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain sikap, pengetahuan, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai tradisi, persepsi berkenaan dengan motivasi seseorang untuk bertindak.
b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)
Faktor pemungkin mencakup berbagai keterampilan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perilaku kesehatan. Sumber daya itu meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, personalia atau petugas yang tersedia, klinik atau sumber daya yang hampir sama. Faktor pemungkin ini juga menyangkut keterjangkauan
berbagai sumber daya, biaya, jarak, ketersediaan transportasi, jam buka dan sebagainya.
c. Faktor Penguat/Pendorong (Reinforcing Factors)
Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja bergantung pada tujuan dan jenis program atau kegiatan yang dilakukan. Di dalam pendidikan pasien, penguat berasal dari perawat, dokter, pasien lain, dan sebagainya. Apakah penguat itu positif atau negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan. Misalnya pada pendidikan kesehatan sekolah di tingkat sekolah lanjutan tingkat atas, yang penguatnya datang dari teman sebaya, guru, dan pejabat sekolah.
Penelitian tentang perilaku remaja menunjukkan bahwa perilaku penggunaan obat di kalangan remaja sangat dipengaruhi oleh dorongan teman-teman, terutama teman dekat. Begitupun dengan anggota komunitas perilaku yang mudah ditiru ialah perilaku dari orang terdekat, seperti anggota komunitas yang lain, teman sebaya, dan sebagainya.
Seorang LSL yang tidak mau melaksanakan VCT HIV di fasilitas kesehatan disebabkan karena orang tersebut tidak atau belum mengetahui manfaat dari pemeriksaan VCT HIV (Predisposing Factors). Tetapi barangkali juga karena rumahnya jauh dari fasilitas kesehatan tempat pelayanan VCT HIV atau peralatan yang tidak lengkap (Enabling Factors). Sebab lain mungkin karena para petugas kesehatan atau stakeholder lain disekitarnya tidak pernah memberikan contoh ataupun penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan VCT HIV (Reinforcing Factors).
Cara mengukur perilaku ada 2 cara (Notoatmodjo, 2010) yaitu:
1. Perilaku dapat diukur secara langsung yakni wawancara terhadap kegiatan- kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall).
2. Perilaku yang diukur secara tidak langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
2.2.4 Pembentukan Perilaku
Pembentukan perilaku menurut Ircham (2005) ada beberapa cara, diantaranya :
1. Kebiasaan (Conditioning)
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan conditioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan akhirnya akan terbentuklah perilaku.
2. Pengertian (Insight)
Pembentukan perilaku yang didasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai dengan adanya pengertian
3. Menggunakan Model
Cara ini menjelaskan bahwa domain pembentukan perilaku pemimpin dijadikan model atau contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory oleh Bandura (1977).
Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam (Dewi, 2010) yakni:
1. Bentuk Pasif
Respons internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.
2. Bentuk Aktif
Perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung, oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata disebut overt behavior.
2.2.5 Teori Terjadinya Perilaku
Perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada. Perilaku manusia didorong oleh motif tertentu sehingga manusia berperilaku (Ircham, 2005).
Teori perilaku menurut Ircham, antara lain:
1. Teori Insting
Menurut Mc Dougal (2008) perilaku itu disebabkan karena insting. Insting merupakan perilaku yang innate atau perilaku bawaan dan akan mengalami perubahan karena pengalaman.
2. Teori Dorongan (Drive Theory)
Teori ini bertitik tolak pada pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan itu berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong organisme berperilaku.
3. Teori Insentif (Incentive Theory)
Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku organisme itu disebabkan karena adanya insentif, dengan insentif akan mendorong organisme berperilaku.
Insentif atau reinforcement ada yang positif dan ada yang negatif. Reinforcement yang positif adalah berkaitan dengan hadiah dan akan mendorong organisme berbuat atau berperilaku.
4. Teori Atribusi
Teori ini menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku seseorang. Apakah itu disebabkan oleh disposisi internal (misal motif, sikap) atau oleh keadaan eksternal.
2.2.6 Perilaku dalam Bentuk Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, di dapat dari buku, surat kabar, atau media massa, elektronik. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour).
Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapi. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui penyuluhan baik secara individu maupun kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga, dan masyarakat dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan optimal.
Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau informan. Menurut Notoatmodjo (2010), ada enam tingkat pengetahuan seseorang, yakni :
1. Tahu (Know); Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (Comprehension); Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi secara benar.
3. Aplikasi (Application); Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4. Analisis (Analysis); Analisis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis); Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2.2.7 Perilaku dalam Bentuk Sikap
Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap tidak langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 2010).
Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk merespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu.
Sikap mengandung suatu penelitian emosional/afektif (senang, benci, sedih, dan sebagainya). Selain bersifat positif dan negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman
yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dan sebagainya). Sikap itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang.
Sebab sering kali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak langsung dapat dilihat, tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2010), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen pokok yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
Sikap ini terdiri dari 4 (empat) tingkatan, yaitu : 1. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperlihatkan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap BPJS dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap promosi kesehatan mengenai penggunaan BPJS.
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya. Mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya : seorang ibu pasien yang tidak menggunakan minyak goreng secara berulang karen tahu akan menimbulkan dampat negatif pada kesehatan, adalah suatu bukti bahwa ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap penggunaan minyak goreng secara berulang.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
Ciri-ciri sikap adalah :
1. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis seperti lapar, haus, atau kebutuhan akan istirahat.
2. Sikap dapat berubah-ubah karena sikap dapat dipelajari dan karena itu pula sikap dapat berubah-ubah pada orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat- syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
3. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek. Dengan kata lain, sikap itu dibentuk, dipelajari atau berubah senantiasa.
4. Objek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu tetapi juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
5. Sikap mempunyai segi motivasi dari segi-segi perasaan. Sifat ilmiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang (Purwanto (1999) dalam Notoatmodjo, 2010).
Fungsi sikap dibagi menjadi empat golongan, yakni :
1. Sebagai alat untuk menyesuaikan diri. Sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable artinya sesuatu yang mudah menjalar sehingga mudah pula menjadi milik bersama.
2. Sebagai alat pengatur tingkah laku. Seseorang tahu bahwa tingkah laku anak kecil atau binatang umumnya merupakan aksi-aksi yang spontan terhadap sekitarnya. Antara perangsang dan reaksi tidak ada pertimbangan tetapi pada orang dewasa dan yang sudah lanjut usianya, perangsang itu pada umumnya tidak diberi reaksi secara spontan akan tetapi terdapat adanya proses secara sadar untuk menilai perangsang-perangsang itu. Jadi antara perangsang dan reaksi terhadap sesuatu yang disisipkannya yaitu sesuatu yang berwujud pertimbangan-pertimbangan atau penilaian-penilaian terhadap perangsang itu sebenarnya bukan hal yang berdiri sendiri tetapi merupakan sesuatu yang erat hubungannya dengan cita-cita orang, tujuan hidup orang, peraturan-peraturan kesusilaan yang ada dalam bendera, keinginan-keinginan pada orang itu dan sebagainya.
3. Sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman. Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa manusia di dalam menerima pengalaman-pengalaman dari
dunia luar sikapnya tidak pasif tetapi diterima secara aktif artinya semua pengalaman yang berasal dari luar itu tidak semuanya dilayani oleh manusia tetapi juga manusia memilih mana-mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dilayani. Jadi semua pengalaman ini diberi penilaian lalu dipilih.
4. Sebagai pernyataan kepribadian. Sikap sering mencerminkan kepribadian seseorang. Ini sebabnya karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya. Oleh karena itu dengan melihat sikap-sikap pada objek-objek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi orang tersebut. Jadi sikap sebagai pernyataan pribadi. Apabila kita akan mengubah sikap seseorang, kita harus mengetahui keadaan sesungguhnya dari sikap orang tersebut. Dengan mengetahui keadaan sikap itu, kita akan mengetahui pula mungkin tidaknya sikap tersebut dapat diubah dan bagaimana cara mengubah sikap-sikap tersebut (Purwanto, 2009).
2.2.8 Perilaku dalam Bentuk Tindakan
Suatu sikap belum optimis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung/suatu kondisi yang memungkinkan (Notoatmodjo, 2010). Tindakan terdiri dari empat tingkatan, yaitu :
1. Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
2. Respon Terpimpin (Guided Response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat dua.
3. Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara optimis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.
4. Adopsi (Adoption)
Adopsi adalah praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.
Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
2.3 Perilaku Kesehatan
2.3.1 Pengertian Perilaku Kesehatan
Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner, perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan.
2.3.2 Klasifikasi Perilaku Kesehatan
Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok (Notoatmodjo, 2010).
1) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance)
Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance) adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit
dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek yaitu
a. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Perlu dijelaskan di sini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut.
2) Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behaviour)
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan keluar negeri.
Menurut Suchman dalam Muzaham (2005), memberikan batasan perilaku sakit sebagai tindakan untuk menghilangkan rasa tidak enak (discomfort) atau rasa sakit sebagai akibat dari timbulnya gejala tertentu. Suchman menganalisa pola proses pencarian pengobatan dari segi individu maupun pola proses pencarian pengobatannya, terhadap lima macam reaksi dalam proses mencari pengobatan.
Shoping adalah proses mencari alternatif sumber pengobatan yang menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa atau pengobatan sesuai dengan harapan si sakit.
a. Figmentation adalah proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang sama. Contoh : Berobat ke dokter, sekaligus ke sinse dan dukun.
b. Procrastination adalah proses penundaan pencarian pengobatan meskipun gejala penyakitnya sudah dirasakan.
c. Self medication ialah pengobatan sendiri dengan menggunakan berbagai ramuan atau obat – obatan yang dinilainya tepat baginya.
d. Discontinuity adalah penghentian proses pengobatan.
Dalam menentukan reaksi/tindakan sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut suchman individu berproses melalui tahap-tahap yaitu, tahap pengenalan gejala, tahap asumsi peran sakit, tahap kontak dengan pelayanan kesehatan, tahap ketergantungan si sakit, tahap penyembuhan atau rehabilitasi.
3) Perilaku kesehatan lingkungan
Bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Dengan perkataan lain, bagaimana seseorang mengelola lingkungannya sehingga tidak mengganggu kesehatannya sendiri, keluarga atau masyarakatnya. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para
petugas terutama petugas kesehatan dan diperlukan juga undang-undang kesehatan untuk memperkuat perilaku tersebut (Notoatmodjo, 2010).
2.4 Minyak Goreng
2.4.1 Pengertian Minyak Goreng
Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai pengantar panas, penambah rasa gurih, dan penambah nilai kalori bahan pangan (Ketaren, 2011).
Minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu minyak juga merupakan sumber energi yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak dapat menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram. Minyak, khususnya minyak nabati, mengandung asam-asam lemak esensial seperti asam linoleat, lenolenat, dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol. Minyak juga berfungsi sebagai sumber dan pelarut bagi vitamin-vitamin A, D, E dan K. Tujuan penambahan lemak dalam bahan pangan ialah untuk memperbaiki rupa dan struktur fisik bahan pangan, menambah nilai gizi dan kalori, serta memberikan cita rasa yang gurih pada bahan pangan (Ketaren 2011).
2.4.2 Jenis-Jenis Minyak Goreng
Minyak goreng dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan (Ketaren, 2011) yaitu :
Berdasarkan sifat fisiknya, dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Minyak tidak mengering (non drying oil)
a) Tipe minyak zaitun, yaitu minyak zaitun, minyak buah persik, inti peach dan minyak kacang.
b) Tipe minyak rape, yaitu minyak biji rape, dan minyak biji mustard.
c) Tipe minyak hewani, yaitu minyak babi, minyak ikan paus, salmon, sarden, menhaden jap, herring, shark, dog fish, ikan lumba-lumba, dan minyak purpoise.
2. Minyak nabati setengah mengering (semi drying oil), misalnya minyak biji kapas, minyak biji bunga matahari, kapok, gandum, croton, jagung, dan urgen.
3. Minyak nabati mengering (drying oil), misalnya minyak kacang kedelai, biji karet, safflower, argemone, hemp, walnut, biji poppy, biji karet, perilla, tung, linseed dan candle nut.
Berdasarkan sumbernya dari tanaman, diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Biji-bijian palawija, yaitu minyak jagung, biji kapas, kacang, rape seed, wijen,
kedelai, dan bunga matahari.
2. Kulit buah tanaman tahunan, yaitu minyak zaitun dan kelapa sawit.
3. Biji-bijian dari tanaman tahunan, yaitu kelapa, cokelat, inti sawit, cohume.
Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan ganda dalam struktur molekulnya, yakni :
1. Minyak dengan asam lemak jenuh (saturated fatty acids)
Asam lemak jenuh antara lain terdapat pada air susu ibu (asam laurat) dan minyak kelapa. Sifatnya stabil dan tidak mudah bereaksi/berubah menjadi asam lemak jenis lain.
2. Minyak dengan asam lemak tak jenuh tunggal (mono-unsaturated fatty acids/MUFA) maupun majemuk (poly-unsaturated fatty acids).
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan atom karbon rangkap yang mudah terurai dan bereaksi dengan senyawa lain, sampai mendapatkan komposisi yang stabil berupa asam lemak jenuh. Semakin banyak jumlah ikatan rangkap itu (poly- unsaturated), semakin mudah bereaksi/berubah minyak tersebut.
3. Minyak dengan asam lemak trans (trans fatty acid)
Asam lemak trans banyak terdapat pada lemak hewan, margarin, mentega, minyak terhidrogenasi, dan terbentuk dari proses penggorengan. Lemak trans meningkatkan kadar kolesterol jahat, menurunkan kadar kolesterol baik, dan menyebabkan bayi-bayi lahir premature.
2.4.3 Sifat-sifat Minyak Goreng
Sifat-sifat minyak goreng dibagi ke sifat fisik dan sifat kimia (Ketaren, 2011), yakni:
1. Sifat Fisik
a) Warna; terdiri dari 2 golongan, golongan pertama yaitu zat warna alamiah, yaitu secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstrasi. Zat warna tersebut antara lain α dan β karoten (berwarna kuning), xantofil, (berwarna kuning