• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah tempat yang mengelola transaksi jual beli modal di Indonesia. Pasar modal yang diselenggarakan oleh BEI meliputi transaksi saham dan transaksi surat hutang (obligasi swasta dan obligasi pemerintah). BEI memiliki sebelas jenis indeks harga saham, salah satu diantaranya adalah indeks sektoral. Indeks sektoral terbagi menjadi tiga, yaitu sektor utama (industri penghasil bahan baku), sektor kedua (industri manufaktur), dan sektor ketiga (industri jasa) (www.sahamok.com).

Sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi tergolong dalam sektor ketiga.

Sektor ini merupakan sektor yang bergerak dalam bidang pembangunan dan penyediaan sumber energi, transportasi, telekomunikasi, serta konstruksi non bangunan. Pada akhir periode tahun 2014, perusahaan yang termasuk dalam sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi berjumlah 47 yang terbagi dalam lima subsektor, yaitu subsektor energi (lima perusahaan), subsektor jalan tol, pelabuhan, bandara dan sejenisnya (tiga perusahaan), subsektor telekomunikasi (enam perusahaan), subsektor transportasi (29 perusahaan), dan subsektor konstruksi non bangunan (enam perusahaan) (www.sahamok.com).

Menurut Suryamin (Kepala Badan Pusat Statistik), pada tahun 2015 diharapkan perencanaan proyek infrastruktur dapat terealisasikan dan dapat memperbaiki pertumbuhan ekonomi di Indonesia karena dengan terealisasinya proyek infrastruktur dapat memicu sektor transportasi sehingga proses distribusi barang akan menjadi lebih lancar dan dapat meningkatkan PMTB (pembentukan modal tetap bruto) dari sisi pengeluarannya. Jika proyek infrastruktur terlambat maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi ke depannya dan PMDB sektor-sektor lain (www.br-online.co). Sebagai salah satu mesin pertumbuhan, pembangunan infrastruktur membutuhkan dukungan anggaran yang besar. Indonesia sebagai negara yang sangat luas dengan ribuan

(2)

2 pulau membuat biaya perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur menjadi sangat besar (www.republika.co.id). Dengan besarnya biaya perencanaan, pembangunan dan pemeliharan, perusahaan yang bergerak pada sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi memerlukan modal untuk melaksanakan kegiatan bisnisnya. Investor menjadi salah satu penyedia dana dalam kegiatan bisnis perusahaan.

Tabel 1.1 Daftar Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014

No. Nama Perusahaan No. Nama Perusahaan 1. PT. Leyand International Tbk 25. PT. Indo Straits Tbk 2. PT. Perusahaan Gas Negara

(Persero) Tbk 26. PT. Logindo Samudramakmur Tbk

3. PT. Rukun Raharja Tbk 27. PT. Mitra International Resources Tbk

4. PT. Citra Marga Nusaphala

Persada Tbk 28. PT. Mitrabahtera Segara Sejati Tbk

5. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk 29. PT. Panorama Transportasi Tbk

6. PT. Nusantara Infrastructure

Tbk 30. PT. Pelayaran Nasional Bina

Buana Raya Tbk

7. PT. Bakrie Telecom Tbk 31. PT. Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk

8. PT. Indosat Tbk 32. PT. Pelayaran Tempuran Emas Tbk

9. PT. Inovisi Infracom Tbk 33. PT. Rig Tenders Indonesia Tbk 10. PT. Smartfren Telecom Tbk 34. PT. Samudera Indonesia Tbk 11. PT. Telekomunikasi Indonesia

(Persero) Tbk 35. PT. Sidomulyo Selaras Tbk 12. PT. XL Axiata Tbk 36. PT. Steady Safe Tbk 13. PT. Adi Sarana Armada Tbk 37. PT. Tanah Laut Tbk 14. PT. Arpeni Pratama Ocean

Line Tbk 38. PT. Trada Maritime Tbk

15. PT. Berlian Laju Tanker Tbk 39. PT. Trans Power Marine Tbk 16. PT. Buana Listya Tama Tbk 40. PT. Wintermar Offshore

Marine Tbk

17. PT. Cardig Aero Services Tbk 41. PT. Zebra Nusantara Tbk 18. PT. Centris Multipersada

Pratama Tbk 42. PT. Indika Energy Tbk

(Bersambung)

(3)

3 (Sambungan)

No. Nama Perusahaan No. Nama Perusahaan 19. PT. Cipaganti Citra Graha Tbk 43. PT. Inti Bangun Sejahtera Tbk 20. PT. Express Transindo Utama

Tbk 44. PT. Sarana Menara Nusantara

Tbk 21. PT. Garuda Indonesia

(Persero) Tbk 45. PT. Solusi Tunas Pratama Tbk 22. PT. Humpuss Intermoda

Transportasi Tbk 46. PT. Tower Bersama Infrastructure Tbk

23. PT. ICTSI Jasa Prima Tbk 47. PT. Truba Alam Manunggal Engineering Tbk

24. PT. Indonesia Air Transport Tbk

1.2 Latar Belakang Penelitian

Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban dan penyampaian informasi keuangan dari suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan, baik pihak internal maupun eksternal. Pihak-pihak yang berkepentingan diantaranya pimpinan perusahaan, manajemen perusahaan, investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat umum (Jensen dan Meckling, 1976; dalam Setiawan dan Aryani, 2014).

Agar investor tetap mempertahankan investasinya di perusahaan, laporan keuangan harus disajikan dengan benar oleh pihak manajamen perusahaan sebagai gambaran dari prestasi kerja mereka. Mengingat banyaknya pengguna laporan keuangan tersebut, maka sudah seharusnya informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan bersifat wajar, dapat dipercaya, dan tidak menyesatkan pengguna sehingga kebutuhan-kebutuhan masing-masing pihak yang berkepentingan dapat terpenuhi. Untuk mengatasi adanya informasi yang tidak seimbang perlu dilakukan audit terhadap laporan keuangan oleh auditor independen (akuntan publik) (Sarasintya dan Aryani, 2014).

Menurut International Standard on Auditing (ISA) 240 No. 05 (2009:158), auditor bertanggung jawab untuk memperoleh keyakinan yang memadai

(4)

4 bahwa secara keseluruhan laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.

Auditor juga harus memiliki sikap independensi yang tinggi dalam melaksanakan audit untuk menjaga kepercayaan para pemakai yang mengandalkan laporan mereka (Arens et al., 2012:5). Independensi merupakan sikap mental yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mudah dipengaruhi dalam melaksanakan tugasnya (Agusti dan Pratiwi, 2013).

Independensi seorang auditor bisa terancam jika terjadi hubungan kerjasama yang lama antara auditor dengan klien seperti pendapat Flint (1988) dalam Nasser et al. (2006), independensi auditor akan hilang jika auditor terlibat dalam hubungan yang amat nyaman secara personal dengan perusahaan atau organisasi. Salah satu faktor yang dapat mengembangkan hubungan nyaman antara auditor dan klien adalah audit tenure. Audit tenure adalah keterikatan antara auditor dengan klien pada jangka waktu tertentu. Audit tenure yang panjang dapat menciptakan hubungan emosional antara auditor dan kliennya, yang berpotensi pada hilangnya independensi auditor.

Untuk mencegah hilangnya independensi auditor, pemerintah Indonesia mengatur kewajiban rotasi auditor melalui Keputusan Menteri Keuangan No.359/KMK.06/2003 yang menyatakan bahwa perusahaan diharuskan melakukan pergantian KAP yang sudah mendapatkan penugasan audit selama lima tahun berturut-turut. Kemudian kententuan mengenai akuntan publik diperbarui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang “Jasa Akuntan Publik”. Peraturan ini mengatur tentang pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP maksimal enam tahun buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik maksimal tiga tahun buku berturut-turut.

Menurut Setiawan dan Aryani (2014) auditor switching merupakan pergantian auditor atau KAP yang dilakukan oleh klien (perusahaan).

Pergantian auditor atau KAP ini dapat dibedakan menjadi pergantian auditor secara mandatory (wajib) dan pergantian auditor secara voluntary (sukarela).

Pergantian secara mandatory dilakukan perusahaan berdasarkan peraturan

(5)

5 pemerintah, sedangkan pergantian auditor secara voluntary dilakukan oleh perusahaan ketika tidak ada peraturan yang mewajibkannya untuk melakukan pergantian auditor. Terdapat dua kemungkinan perusahaan melakukan auditor switching secara voluntary, yaitu apabila auditor mengundurkan diri dari penugasan yang diterimanya atau klien mengganti auditor untuk jasa yang diberikan (Divianto, 2011; dalam Juliantari dan Rasmini, 2013).

Fenomena auditor switching secara sukarela telah dilaksankan oleh banyak perusahaan yang termasuk dalam sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi di Indonesia. Hal ini dapat diketahui dengan adanya data yang menunjukan bahwa dari 24 perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di BEI secara berturut-turut pada tahun 2007-2014, terdapat tujuh belas perusahaan yang telah melaksanakan auditor switching secara sukarela, dua perusahaan tidak melaksanakan auditor switching selama periode penelitian dan frekuensi pelaksanaan auditor switching lima perusahaan tidak dapat diketahui karena perusahaan tidak memberikan laporan keuangan auditnya. Hal yang menarik dari fenomena tersebut adalah perusahaan yang melakukan auditor switching secara sukarela diluar peraturan yang berlaku dan adanya perbedaan dalam menanggapi peraturan terkait dengan auditor switching. Berikut disajikan daftar perusahaan yang melakukan auditor switching secara sukarela.

Tabel 1.2 Daftar Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas Dan Transportasi yang Melakukan Auditor Switching Secara Sukarela

No. Nama Perusahaan

1. PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk 2. PT. Rukun Rahaja Tbk

3. PT. Citra Marga Nusaphala Persada Tbk 4. PT. Nusantara Infrastructure Tbk

5. PT. Bakrie Telecom Tbk 6. PT. Smartfren Telecom Tbk

7. PT. Telekomunikasi Indonesia (persero) Tbk (Bersambung)

(6)

6 (Sambungan)

No. Nama Perusahaan

8. PT. XL Axiata Tbk

9. PT. Arpeni Pratama Ocean Line Tbk 10. PT. Rimau Multi Pratama Tbk 11. PT. Icti Jasa Prima Tbk

12. PT. Indonesia Air Transport Tbk 13. PT. Pelayaran Tempuran Emas Tbk 14. PT. Samudera Indonesia Tbk 15. PT. Steady Safe Tbk

16. PT. Tanah Laut Tbk 17. PT. Zebra Nusantara Tbk

Sumber : www.idx.co.id

Pada Februari 2015, PT. Inovisi Infracom Tbk sebagai salah satu perusahaan Sektor Infrastruktur Utilitas dan Transportasi mendapat sanksi penghentian sementara perdagangan saham oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sanksi ini diberikan karena ditemukan banyak kesalahan di laporan kinerja keuangan perusahaan kuartal III-2014. Hal tersebut mengakibatkan perseroan menunjuk KAP yang baru untuk melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan tahun buku 2014. Menurut Sekretaris Perusahaan PT. Inovisi Infracom Tbk pergantian KAP dilakukan agar kualitas penyampaian laporan keuangan Perseroan dapat meningkat sesuai dengan ketentuan standar yang berlaku (www.detikfinance.com).

Hal lain yang menarik yaitu selama periode 2009-2013 PT. Inovisi Infracom Tbk telah melakukan auditor switching sebanyak dua kali. Pada tahun 2009 KAP Budiman, Wawan, Pamudji & Rekan merupakan KAP yang berikatan dengan PT. Inovisi Infracom Tbk dengan susunan manajemen perusahaan yaitu direktur utama, Jerry Djajasaputra bersama Rafli Bin Ridwan selaku direktur dan direktur independen Jan Adam Tangkilisan menetapkan kebijakan penyajian laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan

(7)

7 konsep biaya historis. Tahun 2010 PT. Inovisi Infracom Tbk berganti KAP menjadi Drs. Binsar B. Lumbanradja dengan susunan manajemen dan kebijakan penyajian laporan keuangan konsolidasian yang sama seperti tahun 2009. Selanjutnya tahun 2011, PT. Inovisi Infracom melakukan pergantian KAP menjadi Jamaludin, Ardi, Sukimto & Rekan dengan diikuti pergantian manajemen, yaitu direktur menjadi Jason Minos dengan kebijakan penyajian laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan konsep harga perolehan.

Pada tahun 2012 dan 2013 PT. Inovisi Infracom Tbk tidak melakukan pergantian KAP namun tahun 2012 melakukan pergantian manajemen, yaitu direktur menjadi Adrian Ooi Kock Aun dengan kebijakan penyajian laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan konsep biaya historis, serta tahun 2013 terjadi perubahan struktur manajemen, menjadi presiden direktur, direktur, dan direktur tidak terafiliasi dengan anggota Jerry Djajasaputra, Ooi Kock Aun, dan Jan Adam Tangkilisan yang menetapkan kebijakan penyajian laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan konsep harga biaya historis. Fenomena pergantian auditor secara sukarela memberikan pemahaman kepada peneliti bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan melakukan auditor switching, seperti pendapat Pratini dan Astika (2013) yang mengungkapkan bahwa auditor switching dipengaruhi oleh pergantian manajemen dan financial distress.

Berbagai faktor dapat menjadi penyebab perusahaan melakukan auditor switching, seperti penelitian menurut Pradhana dan Suputra (2015) yang berpendapat bahwa auditor switching dipengaruhi oleh audit fee, opini going concern dan pergantian manajemen. Sedangkan menurut Aprillia (2013) ukuran KAP menjadi faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan melakukan auditor switching.

Financial distress (kesulitan keuangan) merupakan kondisi perusahaan yang sedang dalam masa kesulitan keuangan. Financial distress terjadi ketika perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya dan terancam bangkrut. Bagi perusahaan yang terancam bangkrut, posisi keuangan mungkin memiliki dampak pada keputusan mempertahankan KAP. Keadaan

(8)

8 seperti ini mengakibatkan perusahaan cenderung melakukan pergantian KAP (Nasser et al.,2006). Dalam penelitian Hudaib dan Cooke (2005), Nasser et al.

(2006), Ismail et al. (2008), dan Pratini dan Astika (2013) berhasil membuktikan adanya pengaruh financial distress terhadap auditor switching.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Aprillia (2013), Salim dan Rahayu (2014), serta Pradhana dan Suputra (2015) tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh financial distress terhadap auditor switching.

Menurut Pratini dan Astika (2013) pergantian manajemen dalam sebuah perusahaan akan merubah kebijakan dalam bidang akutansi, keuangan dan pemilihan KAP. Dengan adanya pergantian manajemen memungkinkan klien untuk memilih auditor baru yang lebih berkualitas dan sepakat dengan kebijakan akuntansi perusahaan (Juliantari dan Rasmini, 2013). Dalam penelitian Aprillia (2013), Juliantari dan Rasmini (2013), dan Ismail et al.

(2008) menunjukkan bahwa pergantian manajemen tidak berpengaruh pada auditor switching. Sedangkan penelitian Hudaib dan Cooke (2005), Nazri et al.

(2012), Pratini dan Astika (2013), Salim dan Rahayu (2014), serta Pradhana dan Suputra (2015) berhasil membuktikan adanya pengaruh pergantian manajemen pada auditor switching.

Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) dapat mempengaruhi kualitas audit yang berakibat terjadinya auditor switching. KAP besar mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam melakukan audit, sehingga mampu menghasilkan kualitas audit yang lebih tinggi dibandingkan dengan KAP kecil (Aprillia, 2013). Menurut Nasser et al. (2006) KAP big four biasanya dianggap lebih mampu mempertahankan tingkatan independensi yang cukup daripada KAP yang lebih kecil, karena KAP big four biasanya menyediakan cakupan jasa-jasa ke sejumlah besar klien. Pemutusan perikatan antara auditor dan klien dapat berbeda saat klien berganti dari sebuah KAP big four ke KAP non big four, demikian juga sebaliknya. Misalnya, pergantian dari KAP big four ke KAP non big four terpicu hal terkait dengan fee. Dalam penelitian Nasser et al., (2006), Juliantari dan Rasmini (2013), Aprillia (2013), serta Malek dan Saidin (2014) berhasil membuktikan adanya pengaruh antara ukuran KAP

(9)

9 dengan auditor switching, lain halnya dengan penelitian Pratini dan Astika (2013) yang tidak dapat membuktikan adanya pengaruh ukuran KAP dengan auditor switching.

Adanya perbedaan hasil penelitian terdahulu dan fenomena auditor switching yang terjadi di Indoensia, membuat peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang dapat menyebabkan perusahaan melakukan auditor switching. Faktor-faktor tersebut, yaitu financial distress, pergantian manajemen, dan ukuran KAP. Penelitian ini mengacu pada penelitian Aprillia (2013), hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian Aprillia (2013), yaitu objek pada penelitian ini adalah perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2007-2014 dan penelitian ini tidak melibatkan kepemilikan publik sebagai variabel independen.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penelitian ini diberi judul “Pengaruh Financial Distress, Pergantian Manajemen¸ dan Ukuran KAP Terhadap Auditor Switching (Studi pada Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007 -2014)”.

1.3 Perumusan Masalah

Auditor Switching merupakan pergantian auditor atau KAP yang dilakukan oleh klien (perusahaan). Pergantian auditor atau KAP ini dapat dibedakan menjadi pergantian auditor secara mandatory (wajib) dan pergantian auditor secara voluntary (sukarela) (Setiawan dan Aryani, 2014).

Faktor – faktor yang mempengaruhi auditor switching pada perusahaan masih terus dikaji karena adanya inkonsistensi hasil penelitian terdahulu mengenai faktor tersebut. Hal ini dikarenakan ruang lingkup dan bentuk penelitian yang berbeda-beda. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan melakukan auditor switching yang akan dikaji pada penelitian ini adalah financial distress, pergantian manajemen, dan ukuran KAP.

(10)

10 1.4 Pertanyaan Penelitian

Dari rumusan masalah yang telah diuraikan, penelitian ini bermaksud menguji pengaruh financial distress, pergantian manajemen, dan ukuran KAP terhadap auditor switching. Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana financial distress, pergantian manajemen¸ ukuran KAP, dan auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014?

2. Apakah financial distress, pergantian manajemen¸ dan ukuran KAP berpengaruh secara simultan terhadap auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014?

3. Apakah financial distress, pergantian manajemen¸ dan ukuran KAP berpengaruh secara parsial terhadap auditor switching yaitu :

a) Apakah financial distress berpengaruh terhadap auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014?

b) Apakah pergantian manajemen berpengaruh terhadap auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014?

c) Apakah ukuran KAP berpengaruh terhadap auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014?

1.5 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pertanyaan penelitian di atas, penelitian ini bertujuan : 1. Untuk mengetahui financial distress, pergantian manajemen¸ ukuran

KAP, dan auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014.

2. Untuk menguji apakah financial distress, pergantian manajemen¸ dan ukuran KAP berpengaruh secara simultan terhadap auditor switching

(11)

11 pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014.

3. Untuk menguji apakah financial distress pergantian manajemen¸ dan ukuran KAP berpengaruh secara parsial terhadap auditor switching, yaitu :

a) Untuk menguji apakah financial distress berpengaruh terhadap auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 - 2014.

b) Untuk menguji apakah pergantian manajemen berpengaruh terhadap auditor switching pada perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 -2014.

c) Untuk menguji apakah ukuran KAP berpengaruh terhadap auditor switching pada sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007 - 2014.

1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Aspek Teoritis

a) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi peneliti selanjutnya, khususnya mengenai auditor switching dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

b) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para akademisi dibidang audit, khususnya mengenai auditor switching di Indonesia.

1.6.2 Aspek Praktis

a) Bagi perusahaan go public, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengambilan keputusan dalam melakukan auditor switching.

(12)

12 b) Bagi investor atau calon investor, penelitian ini diharapkan dapat

memberikan informasi sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan investasi pada perusahaan.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan auditor switching sebagai variabel dependen.

Sedangkan variabel independen yang digunakan, yaitu financial distress, pergantian manajemen, dan ukuran KAP. Penelitian ini akan mengkaji pengaruh antar variabel tersebut baik secara simultan maupun parsial.

1.7.2 Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih adalah Bursa Efek Indonesia (BEI) karena BEI memiliki catatan historis yang lengkap dan panjang mengenai laporan keuangan audited perusahaan yang sudah go public. Data penelitian diambil dari website resmi Bursa Efek Indonesia, yaitu www.idx.co.id. Objek penelitian ini adalah perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.7.3 Waktu dan Periode Penelitian

Penelitian ini dimulai pada bulan Agustus 2015 hingga Desember 2015.

Periode objek penelitian adalah delapan tahun, yaitu tahun 2007 sampai dengan 2014.

1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Pembahasan dalam skripsi ini akan dibagi dalam lima bab yang terdiri dari beberapa sub bab. Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan penjelasan secara umum dan ringkas yang menggambarkan dengan tepat isi penelitian. Dalam bab ini peneliti mengemukakan mengenai gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah,

(13)

13 pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan tugas akhir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN

Bab ini mengemukakan dengan jelas dan ringkas hasil tinjauan kepustakaan yang terkait dengan topik dan variabel penelitian sebagai dasar penyusunan kerangka pemikiran dan perumusan hipotesis penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi karakteristik penelitian, alat pengumpulan data, tahapan pelaksanaan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan dan sumber data, serta teknik analisis data dan pengujian hipotesis.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas deskripsi penelitian berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan pembahasan hasil dari analisis penelitian, serta pengujian dan analisis hipotesis.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini memuat mengenai kesimpulan hasil penelitian serta saran dari peneliti dilihat dari aspek teoritis dan aspek praktis.

(14)

14 Halaman ini sengaja dikosongkan

Gambar

Tabel 1.1 Daftar Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi  yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014
Tabel 1.2 Daftar Perusahaan Sektor Infrastruktur, Utilitas Dan Transportasi  yang Melakukan Auditor Switching Secara Sukarela

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan itu, kajian ini nanti adalah satu kajian maklumbalas dari penghuni-penghuni yang tinggal di rumah kos rendah dan berjiran dengan rumah- rumah yang

Hasil pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi pegagan dan perlakuan perbandingan CMC dengan maizena berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap warna

Fisiologi sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya

Dengan adanya sumber bahan baku yang belum banyak dimanfaatkan untuk papan serat seperti rumput gelagah dan TKKS, serta bambu yang memiliki keunggulan sebagai pengganti kayu,

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori inovasi produk yang dikemukakan oleh Avanti Fontana (2011) dimana inovasi produk merupakan perubahan yang mencakup Bungkus

Berdasarkan paparan pada paragraf-paragraf sebelumnya, maka peneliti berminat untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Keterampilan Berbicara

Pemerintah daerah memiliki tugas, hak, dan wewenang untuk mengolah kekayaan serta pertumbuhan daerahnya sendiri setelah adanya otonomi daerah yang pemerintahan nya bersifat

Bandara Internasional Adi Sumarmo merupakan bandara terdekat dengan Bandara Adi Sutjipto yang saat ini memungkinan untuk dioptimalkan agar dapat menampung lonjakan pergerakan