BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gurah Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Alasan dilakukan penelitian di Wilayah tersebut adalah karena pencapaian ASI eksklusif diwilayah tersebut sebesar 51.75% dan angka balita dengan pertumbuhan berat badan tidak sesuai dengan usia sebesar 45.05% dan belum pernah dilakukan penilaian tumbuh kembang di Posyandu.
Waktu Pengambilan data penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 04 April 2016 sampai dengan tanggal 07 Mei 2016.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah anak usia 7 sampai dengan 24 bulan yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Gurah Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri, dengan kriteria :
60
1. Kriteria retriksi a. Kriteria inklusi
1). Anak usia 7 sampai dengan 24 bulan 2). Ibu bersedia menjadi responden 3). Ibu bisa membaca dan menulis 4). Ibu sehat jasmani dan rohani
5). Orang tua yang memperbolehkan anaknya untuk dijadikan responden
6). Anak mau mengikuti seluruh prosedur b. Kriteria eksklusi
1). Anak terdiagnosa menderita kelainan tertentu atau penyakit kronis pada saat dilakukan penelitian
D. Teknik Sampling
Pengambilan subjek penelitian menggunakan teknik sampling dengan pendekatan probability sampling dengan metode pengambilan sampel simple random sampling. Perkiraan ukuran sampel yang dibutuhkan dalam analisis
multivariat melibatkan 3 variabel independen adalah 15-20 subjek penelitian per sebuah variabel independen. Jadi dalam penelitian ini minimal membutuhkan 3 x 15 subjek = 45 subjek penelitian (Murti,2010).
E. Variabel Penelitian
Penelitian ini melibatkan 6 variabel endogen, masing – masing dianalisis dengan menggunakan analisis jalur.
No Variabel Endogen Variabel Eksogen
1. Pendapatan setelah hamil
Motorik halus ASI Pendapatan selama hamil
Stimulasi psikososial 2. Pendapatan setelah
hamil
Motorik kasar ASI Pendapatan selama hamil
Stimulasi psikososial 3. Pendapatan setelah
hamil
Personal sosial ASI Pendapatan selama hamil
Stimulasi psikososial 4. Pendapatan setelah
hamil
Bahasa ASI Pendapatan selama hamil
Stimulasi psikososial 5. Pendapatan setelah
hamil
Berat badan ASI Pendapatan selama hamil
Stimulasi psikososial 6. Pendapatan setelah
hamil
Lingkar kepala
ASI Pendapatan selama hamil
Stimulasi psikososial
F. Definisi Operasional Variabel 1 ASI eksklusif
a. Definisi : Pemberian ASI saja kepada bayi tanpa makanan / minuman lain kecuali obat – obatan, sampai bayi berusia 6 bulan.
b. Alat ukur : Kuesioner
c. Skala data : Kategorik, dengan nilai 0 : tidak eksklusif dan 1 : eksklusif
2 Pendapatan
a. Definisi : Jumlah seluruh pendapatan tetap dan sampingan dari suami dan istri dalam setiap bulannya yang diukur dengan nilai mata uang rupiah. Tingkat pendapatan perkapita keluarga pada tiap rumah tangga dinilai
berdasarkan standar Upah Minimum Kabupaten Kediri tahun 2013
b Alat ukur : Kuesioner
c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 0 : Tingkat Pendapatan Rendah (<Rp.
1.089.950,-/bulan) dan nilai 1 : Tingkat Pendapatan Tinggi (≥ Rp. 1.089.950,-/bulan)
3 Stimulasi psikososial
a. Definisi : Rangsangan dari peristiwa-peristiwa sosial atau psikologis yang diberikan pengasuh berupa respon terhadap emosi dan ucapan dalam mengasuh sehari - hari, menghindari adanya pembatasan dan hukuman, dorongan terhadap lingkungan fisik, menyediakan mainan yang sesuai, keterlibatan orang tua dengan anak, serta memberikan stimulasi yang bervariasi.
b. Alat ukur : Kuesioner Early Childhood Home Observation for Measurement of the Environment Inventory (EC-
HOME Inventory).
c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 0 : stimulasi psikososial lemah (apabila skor <
50% dari jumlah kuesioner) dan 1 : stimulasi
psikososial kuat (apabila skor ≥ 50% dari jumlah kuesioner)
3 Berat badan sesuai dengan umur
a. Definisi : Berat badan merupakan suatu hasil dari pengukuran antropometri yang digunakan untuk mengetahui keadaan gizi anak (berat badan terhadap umur).
b. Alat ukur : Timbangan (berdasarkan grafik BB terhadap umur) c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu
tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 0 : tidak sesuai dengan umur dan nilai 1 : sesuai dengan umur
4 Lingkar kepala
a. Definisi : Lingkar kepala merupakan suatu hasil dari pengukuran antropometri yang digunakan untuk mengetahui keadaan gizi anak.
b. Alat ukur : Meteran (berdasarkan grafik LK terhadap umur) c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu
tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 0 : tidak sesuai dengan umur dan nilai 1 : sesuai dengan umur
5 Motorik halus
a. Definisi : Motorik halus atau gerak halus merupakan aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak
melakukan gerakan yang melibatkan bagian– bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot – otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
b. Alat ukur : Lembar observasi dari Denver II
c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 1 : status perkembangan anak sesuai dengan tahapannya (normal) apabila tidak terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T), dan nilai 0: status perkembangan anak tidak sesuai dengan tahapannya (terganggu) apabila terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T).
6 Motorik kasar
a. Definisi : Motorik kasar / gerak kasar merupakan aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak dalam melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot – ototnya sendiri.
b. Alat ukur : Lembar observasi dari Denver II
c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 1 : status perkembangan anak sesuai dengan tahapannya (normal) apabila tidak terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T), dan
nilai 0: status perkembangan anak tidak sesuai dengan tahapannya (terganggu) apabila terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T) 7 Bahasa
a. Definisi : Bahasa merupakan aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah.
b. Alat ukur : Lembar observasi dari Denver II
c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 1 : status perkembangan anak sesuai dengan tahapannya (normal) apabila tidak terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T), dan nilai 0: status perkembangan anak tidak sesuai dengan tahapannya (terganggu) apabila terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T).
8 Personal sosial
a. Definisi : Personal sosial merupakan aspek yang berhubungan dengan sosialisasi dengan lingkungan sekitar.
b. Alat ukur : Lembar observasi dari Denver II
c. Skala data : Kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 1 : status perkembangan anak sesuai dengan
tahapannya (normal) apabila tidak terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T), dan nilai 0: status perkembangan anak tidak sesuai dengan tahapannya (terganggu) apabila terdapat skor
“Peringatan” (P) maupun skor “Terlambat” (T).
G. Instrumen Penelitian
1. Timbangan dan meteran beserta grafik BB dan LK
2. Alat peraga : Benang wol merah, kismis atau manik manik, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan pensil.
3. Lembar formulir DDST
4. Buku petunjuk referensi yang menjelaskan tentang DDST
5. Kuesioner instrumen HOME inventory digunakan untuk menilai stimulasi psikososial yang diberikan oleh keluarga kepada anaknya.
H. Teknik Pengumpulan Data
1. Pendidikan terakhir ibu, pendapatan rata rata perbulan pre-natal dan post- natal, jenis kelamin anak, ASI eksklusif dan stimulasi psikososial. Data
tersebut didapat dengan pengisian kuesioner.
2. Pertumbuhan
Usia bayi didapat dari perhitungan tanggal lahir bayi hingga tanggal pemeriksaan. Patokan usia bayi dalam satu bulan adalah 30 hari. Bila
dalam perhitungan usia ≤ 15 hari, maka dibulatkan kebawah, dan bila ≥ 15 hari dibulatkan keatas.
Berat badan (BB) bayi diukur dengan menggunakan infant baby scala yang sudah dipastikan sebelumnya bahwa jarum ada pada angka nol dan alat tersebut bebas dari pemberat seperti pengalas. Saat bayi dilakukan penimbangan, terlebih dahulu meminimalkan atau menanggalkan berat tambahan seperti mainan atau sepatu bayi. Setelah didapatkan angka yang menunjukkan BB bayi kemudian angka tersebut dimasukkan ke dalam grafik BB terhadap umur dan diintrepretasikan dengan nilai 0 : tidak sesuai dengan umur dan nilai 1 : sesuai dengan umur.
Lingkar kepala (LK) bayi diukur dengan menggunakan meteran dengan cara melingkarkan meteran pada daerah glabella (frontalis) menuju oksiput pada bagian posterior. Setelah didapatkan angka yang menunjukkan LK bayi kemudian angka tersebut dimasukkan ke dalam grafik LK terhadap umur dan diintrepretasikan dengan nilai 0 : tidak sesuai dengan umur dan nilai 1 : sesuai dengan umur.
3. Perkembangan
Pada lembar DDST ditarik garis vertikal sesuai dengan usia bayi sehingga memotong kotak – kotak tugas perkembangan formulir DDST.
Setelah itu dinilai apakah bayi dapat melewati tugas perkembangan pada sektor motorik kasar, halus, psikososial dan bahasa. Kemudian di berikan penilaian per item dengan kategori “Lebih” (L), “OK/Normal” (N),
“Peringatan” (P), “Terlambat” (T) atau, “Tak ada kesempatan” (Tak) dan
didapatkan skala data kontinu. Untuk keperluan analisis data kontinu tersebut diubah menjadi skala data kategorik dengan nilai 1 : apabila terdapat skor “L” dan atau “N” dan tidak satupun terdapat skor “P”, “T”
dan “Tak”. Nilai 0 : apabila ada skor “P”, “T” dan “Tak”.
4. Stimulasi psikososial
Stimulasi psikososial dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner HOME inventory yang kemudian di interpretasikan dengan nilai 0 : stimulasi psikososial lemah (apabila skor < 50% dari jumlah kuesioner) dan 1 : stimulasi psikososial kuat (apabila skor ≥ 50% dari jumlah kuesioner)
I. Uji Validitas dan Reabilitas 1. Uji Validitas
Pada penelitian ini kuesioner untuk mengukur variabel pemberian ASI eksklusif dan stimulasi psikososial, kuesioner kuesioner tersebut merupakan kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti, oleh karena itu perlu dilakukan validitas dan reliabilitas agar alat ukur tersebut dapat digunakan.
Validitas yang digunakan adalah validitas muka, isi dan konstruk. Validitas muka dilakukan dengan memperbaiki tata bahasa, susunan item – item pertanyaan, sehingga masing – masing item pertanyaan dapat dipahami oleh subjek penelitian dengan baik. Validitas isi dinilai dengan cara memeriksa apakah item – item pertanyaan di
dalam kuesioner memang sudah sesuai dengan isi (content) dari masing – masing variabel yang diteliti. Isi masing – masing variabel tersebut dinilai kesesuaiannya dengan difinisi variabel sebagai hasil sintesis dari teori – teori yang relevan, yang umumnya digunakan oleh peneliti dalam penelitian serupa sebelumnya.
Validitas konstruk diuji dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment. Hasil perhitungan kemudian ditafsirkan dari indeks
korelasinya. Jika nilai r hitung > r tabel berarti valid, dan sebaliknya bila r hitung < r tabel berarti tidak valid (Hidayat,2007). Uji validitas dan reabilitas dilakukan pada 20 ibu balita di Wilayah Kerja Puskesmas Gurah di Desa Gurah Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri yang dipilih menjadi responden karena memiliki latar belakang dan karakteristik yang sama dengan sampel penelitian.
Hasil uji validitas didapatkan baik kuesioner tentang ASI eksklusif ataupun kuesioner tentang stimulasi psikososial dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk pengambilan data.
2. Uji Reabilitas
Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Uji reabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Spearmen – Brown. Instrumen dikatakan reliabel jika nilai cronbach’s alpha > 0,6, makin tinggi nilai alpha cronbach (mendekati 1,00),makin baik (konsisten) alat ukur. Hasil
uji reabilitas, kuesioner asi eksklusif dan stimulasi psikososial dinyatakan reliabel dengan nilai alpha cronbach sebesar 0,857.
J. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Teknik pengolahan data dan analisa data dilakukan dengan komputerisasi, dan langkah – langkah analisa data yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain : a. Pengeditan data (editing)
Tahapan ini dilakukan untuk memastikan kelengkapan, kejelasan pengisian relevansi, dan konsistensi jawaban pada instrumen (kuesioner) sehingga dapat meminimalkan kesalahan agar data yang diterima dapat diolah dan dianalisis dengan baik dan tepat.
b. Pemberian kode (coding)
Kegiatan memeberikan kode pada semua data. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan dalam pemasukan, pengolahan dan analisis data.
c. Pembersihan data (cleaning)
Kegiatan memeriksa data kembali dan dipastikan telah bersih dari kesalahan sehingga siap untuk diolah dan dianalisis.
d. Penetapan skor (scoring)
Kegiatan memberikan nilai / skor untuk setiap pertanyaan dalam kuesioner dengan kategori yang ditetapkan.
e. Pengolahan data (processing)
Kegiatan memasukkan data kekomputer untuk dilakukan pengolahan melalui program komputer.
2. Analisis Jalur
Analisis jalur digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh suatu variabel lainya baik pengaruh secara langsung maupun tidak langsung.
Besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat disebut koefisien jalur. Sedangkan koefisien jalur sendiri tidak memiliki satuan jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar koefisien jalur maka akan semakin besar pula pengaruh yang diberikan dari variabel itu. Syarat-syarat yang diperlukan adalah hubungan antara variabel merupakan hubungan linier, semua variabel residu tidak mempunyai korelasi satu sama lain, pola hubungan antar variabel adalah rekursif, data pengukuran baik variabel dependen maupun independen bisa menggunakan data dikotomi atau kontinu.
Menurut Murti (2015) langkah-langkah dalam melakukan analisis data dengan menggunakan analisis jalur, yaitu sebagai berikut:
1. Spesifikasi model
Didalam spesifikasi model digambarkan hubungan antara variabel- variabel yang akan diteliti. Variabel yang diteliti dibedakan menurut variabel eksogen, dan variabel endogen. Variabel eksogen adalah variabel yang di dalam model tidak dipengaruhi variabel lain. Penelitian ini terdiri dari tiga variabel eksogen yaitu ASI eksklusif, stimulasi psikososial dan pendapatan orang tua selama hamil. Variabel endogen adalah variable
yang dipengaruhi variabel lain. Variabel endogen dalam penelitian ini yaitu pertumbuhan (berat badan dan lingkar kepala) dan perkembangan (motorik kasar, halus, personal sosial dan bahasa). Dalam penelitian ini terdapat sepuluh variabel yang terukur (observed variable) yaitu ASI eksklusif, stimulasi psikososial dan pendapatan keluarga selama hamil dan setelah melahirkan, berat badan dan lingkar kepala, motorik kasar, motorik halus, personal sosial dan bahasa.
Model analisis jalur tersebut dispesifikasikan sesuai dengan teori Woo dan Mc Eneaney (2010); Price dan Wilson (2006); Perry dan Potter (2006);
Varney (2006); Mandhubala dan Jyoti (2012); Kordi et al. (2003), termasuk hubungan antara variabel yang mempengaruhi maupun variabel yang dipengaruhi, serta variabel yang berkorelasi atau berkovariasi.
2. Identifikasi model
Disini dilakukan identifikasi jumlah variabel yang terukur, jumlah variabel endogen, variabel eksogen, dan parameter yang akan diestimasi. Pada tahap ini dihitung degree of freedom (df) yang menunjukan analisis jalur bisa dilakukan.
Rumus degree of freedom sebagai berikut :
df = (jumlah variabel terukur x (jumlah variabel terukur + 1) / 2 – ( variabel endogen + variabel eksogen + jumlah parameter)
Analisis jalur bisa dilakukan apabila df ≥ 0, jika df = 0 maka model analisis jalur disebut identified. Sedangkan apabila df > 0 maka model analisis jalur
disebut over identified dan jika df < 0 maka dikatakan model analisis jalur tersebut under identified.
3. Kesesuaian model
Model analisis jalur yang dibuat oleh peneliti berdasarkan teori dicek/
dites kesesuaianya dengan model hubungan variabel yang terbaik menurut komputer (SPSS) disebut model saturasi, yang dibuat berdasarkan data sampel yang dikumpulkan peneliti. Jika tidak ada perbedaan yang secara statistik signifikan antara kedua model tersebut maka model yang dibuat oleh peneliti merupakan model yang sesuai dengan data yang mencerminkan realitas hubungan antara variabel. Indikator yang menunjukan kesesuaian model analisis jalur yang dibuat peneliti dan model saturasi sebagai berikut:
1). Chi kuadrat (CMIN) bernilai kecil, dengan p ≥ 0,05 2). GFI, NFI, CFI masing-masing bernilai ≥ 0,90 3). RMSEA bernilai ≤ 0,05
4. Estimasi parameter
Hubungan sebab akibat variabel ditunjukan oleh koefisien regresi (b), baik yang belum terstandarisasi (unstandardized) maupun yang sudah distandarisasi (standardized). Koefisien regresi yang belum terstandarisasi menunjukan hubungan variabel independen dan dependen dalam unit pengukuran yang asli. Koefisien regresi dengan standarisasi telah memperhitungkan standard error masing-masing sehingga besarnya estimasi koefisien regresi antara satu variabel independen dengan variabel yang lain bisa dibandingkan kepentingan relatifnya.
5. Respesifikasi Model
Jika model yang dibuat peneliti tidak sesuai dengan data sampel sebagai mana ditunjukan oleh model saturasi dan juga terdapat koefisien regresi yang bernilai sangat kecil mendekati nol serta secara statistik tidak signifikan, maka perlu dibuat ulang model analisis jalur sehingga diperoleh model yang sesuai dengan data sampel.