• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMANFAATAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN Steinernema sp. (Rhabditida:Steinernematidae)ISOLAT LOKAL

SEBAGAI AGENS HAYATI KUMBANG TANDUK Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera:Scarabaeidae)DI

LABORATORIUMDAN LAPANGAN

TESIS

Tumpal Panjaitan 117001004/AET

PROGRAM MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

PEMANFAATAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN Steinernema sp. (Rhabditida:Steinernematidae)ISOLAT LOKAL

SEBAGAI AGENS HAYATI KUMBANG TANDUK Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera:Scarabaeidae)DI

LABORATORIUMDAN LAPANGAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister dalam Program Magister Agroekoteknologi

Pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Oleh

Tumpal Panjaitan 117001004/AET

PROGRAM MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

LEMBARAN PENGESAHAN

Judul Tesis : PEMANFAATANNEMATODA ENTOMOPATOGENS Steinernema sp. (Rhabditida:Steinernematidae) ISOLAT LOKAL SEBAGAI AGENS HAYATI KUMBANG TANDUK Oryctesrhinoceros L. (Coleoptera:

Scarabaeidae) DI LABORATORIUM DAN LAPANGAN

Nama Mahasiswa : Tumpal Panjaitan Nomor Pokok : 117001004

Program Studi : Magister Agroekoteknologi

Menyetujui : Komisi Pembimbing

Ketua A n g g o t a Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MSDr. Lisnawita, SP, M.Si

Ketua Program Studi Dekan

Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MS Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS

Tanggal lulus : 27 Januari 2015

(4)

Telah diuji pada :

Tanggal :27 Januari 2015

Panitia Penguji Tesis

Ketua : Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS Anggota : 1. Dr. Lisnawita, SP, M.Si

2. Prof . Dr. Ir. Darma Bakti, MS 3. Dr. Ir. Hasanuddin, MS

4. Dr. Ir. Marheni, M.Si

(5)

PERNYATAAN

Judul Tesis

PEMANFAATAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN Steinernema sp.

(Rhabditida:Steinernematidae) ISOLAT LOKAL SEBAGAI AGENS HAYATI KUMBANG TANDUK Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera:Scarabaeidae) DI

LABORATORIUMDAN LAPANGAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Pertanian pada Program Studi Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Medan, 31 Januari 2015 Penulis

Tumpal Panjaitan

(6)

i ABSTRACT

TUMPAL PANJAITAN, 2015. Utilization of Entomopathogenic Nematodes Steinernema sp. ((Rhabditida ; Steinernematidae) Local Isolates as Biological Control of Rhinoceros Beetle Oryctesrhinoceros (Coleoptera ; Scarabaeidae) in Laboratory and Field. Supervised by Maryani Cyccu Tobing and Lisnawita.

Rhinoceros beetle (Oryctes rhinoceros) are a major pest in oil palm plantation and the control has been done in various methodes, as physic, mecanic, biology, chemical, etc. Entomopathogenic nematodes (NEPs) Steinernema sp. is one of alternative for O. rhinoceros controlling because have fast power killing and no effects for environment and human.

NEPs has been taken from eight location, four from mineral soil and four from organic soil on oil palm plantation and then makes screening test to get isolate virulance for larvae of O. rhinoceros and dosage of Steinernema sp. more effective to O. rhinoceros control in laboratory and field.

Result of NEPs screening known NEPs from Bahilang Estate has the highest virulence and included of Steinernema sp. genera. Result of laboratory research known the highest mortality with dose of 8.000 ji/108 cm3, L1 (100%) at 8 DAT, L2 (100%) at 10 DAT and L3 (83.3%) at 11 DAT.

Result of field research using wooden box in the shaded areas shown mortality L1 (100%) at 9 DAT with dose of 60.000 and 120.000 ji/0.1 m3, L2 (100%) at 10 DAT with all dose and L3 (81.7%) at 10 DAT with dose of 120.000 ji/0.1 m3. Result of field reseach using wooden box in the open areas shown maximum mortality L1 (63.3%), L2 (46.7%) with dose of 60.000 ji/0.1 m3 and L3 (25%) with dose of 120.000 ji/0.1 m3.

Result of field research in trunk of oil palm shown the highest mortality (54%) with dose of 500.000 ji/4.1 m3 with once application. Result of mortality based of larvae instar shown mortality L1 (90%) with dose of 1.000.000 ji/4.1 m3 with once application. The higher of mortality L2 (34,1%) with dose of 500.000 ji/4.1 m3 with twice application and L3 (16.7%) with dose of 500.000 ji/4.1 m3 with fourth application.

Steinernema sp. population result in laboratory known the highest population of Steinernema sp (308 ji/larvae) on L2 with dose of 8.000 ji/108 cm3. Steinernema sp population in the field research on shaded areas shown the highest population (264.4 ji/larvae) on L2 with dose of 30.000 ji/0.1 m3. Steinernema sp.

population in the field research on open areas shown the highest population (181.5 ji/larvae) on L1 with dose of 120.000 ji/0.1 m3.

Keywords: oil palm, Oryctes rhinoceros, Steinernema sp., mortality

(7)

ii ABSTRAK

TUMPAL PANJAITAN, 2015. Pemanfaatan Nematoda Entomopatogen Steinernema sp. (Rhabditida ; Steinernematidae) Isolat Lokal sebagai Agens Hayati Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera ; Scarabaeidae) di Laboratorium dan Lapangan. Dibimbing oleh Maryani Cyccu Tobingdan Lisnawita.

Kumbang tanduk O. rhinoceros merupakan salah satu hama utama pada tanaman kelapa sawit dan berbagai pengendalian telah dilakukan baik fisik, mekanik, biologi, kimiawi dan lain lain. Salah satu pengendalian biologi adalah penggunaan nematoda entomopatogen (NEP) Steinernema sp. yang mempunyai daya bunuh yang cepat dan tidak menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan dan manusia.

NEP diambil dari delapan lokasi masing masing 4 tanah mineral dan 4 tanah organik) dari perkebunan kelapa sawit. Selanjutnya dilakukan penapisan untuk mendapatkan isolat yang paling virulen terhadap larva O. rhinoceros dan dosis Steinernema sp. yang paling efektif untuk mengendalikan larva O.

rhinoceros berdasarkan instar di laboratorium dan lapangan.

Hasil penapisan diperoleh NEP dari Kebun Bahilang memiliki virulensi tertinggi dan masuk ke dalam genus Steinernema. Hasil penelitian di laboratorium diperoleh mortalitas tertinggi terdapat pada dosis 8.000 ji/108 cm3, dimana L1 mencapai 100% pada 8 hari setelah aplikasi (hsa), L2 mencapai 100% pada 10 hsa dan L3 hanya mencapai 83,3% pada 11 hsa.

Hasil penelitian di lapangan menggunakan kotak kayu di areal ternaungi diperoleh mortalitas L1 mencapai 100% pada 9 hsa pada dosis 60.000 dan 120.000 ji/0,1 m3, L2 mencapai 100% pada 10 hsa untuk seluruh dosis dan L3

hanya mencapai 81,7% pada 11 hsa dengan dosis 120.000 ji/0,1 m3. Hasil penelitian di lapangan menggunakan kotak kayu di areal terbuka diperoleh mortalitas L1 mencapai 63,3% dengan dosis 60.000 ji/0,1 m3, L2 mencapai 46,7%

dengan dosis 60.000 ji/0,1 m3 dan L3 mencapai 25,0% dengan dosis 120.000 ji/0,1 m3.

Hasil penelitian di lapangan pada rumpukan batang kelapa sawit diperoleh mortalitas tertinggi (54,0%) pada dosis 500.000/4,1 m3 dengan aplikasi satu kali.

Pengamatan mortalitas larva berdasarkan instar diperoleh mortalitas L1 tertinggi (90,0%) terdapat pada dosis 1.000.000 ji/4,1 m3 dengan aplikasi sebanyak satu kali, mortalitas L2 tertinggi (34,1%) terdapat pada dosis 500.000 ji/4,1 m3 dengan aplikasi sebanyak dua kali dan mortalitas L3 tertinggi (16,7%) terdapat pada dosis 500.000 ji/4,1 m3 dengan aplikasi sebanyak empat kali.

Pengamatan populasi Steinernema sp. di laboratorium diperoleh populasi tertinggi (308 ji/larva) pada L2 dengan dosis 8.000 ji/108 cm3. Pengamatan populasi Steinernema sp. pada kotak kayu di areal ternaungi diperoleh populasi tertinggi (264,4 ji/larva) pada L2 dengan dosis 30.000 ji/0,1 m3 sedangkan pada kotak kayu di areal terbuka diperoleh populasi Steinernema sp. tertinggi (181,5 ji/larva) pada L1 dengan dosis 120.000 ji/0,1 m3.

Keywords: kelapa sawit, kumbang tanduk, Steinernema sp., kematian

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Allah Bapa di Surga, atas berkat dan lindunganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.Tesis ini diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi pada Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dan kelemahan yang ditemukan dalam penulisan tesis ini dan semoga hasil penelitian di dalam tesis ini berguna dan bermafaat bagi industri kelapa sawit dalam mengendalikan Oryctes rhinoceros dan khususnya di perkebunan kelapa sawit Asian Agri Group tempat penulis bekerja.

Penulis juga menyadari banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan studi. Untuk itu pada kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis ijinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pembimbing Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS sebagai Ketua dan Dr. Lisnawita, SP, M.Sisebagai Anggota, atas bimbingan dan saran selama penelitian dan penyusunan tesis dilakukan. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Tim Penguji Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS, Dr. Ir. Hasanuddin, MS dan Dr. Ir. Marheni, M.Si, atas kritik, koreksi dan saran dalam perbaikan tesis ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada management Asian Agri Group, Bapak Kelvin Tio selaku Managing Director AA Group, Bapak Dr.

Mukesh Sharma selaku Head R&D RGE Group dan Bapak Manjit Sidhu selaku Head R&D Oil Palm, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh gelar Magister Pertanian. Penulis juga mengucapkan terima kasih

(9)

iv

kepada Bapak Ir. Ikom Widiasa, selaku Head Regional Office - Asahan, Ibu Rita Tambunan selaku Asisten Kepala Kebun Bahilang, Bapak Andy Prasetyo selaku Manager Kebun Tanah Datar, Bapak Jeni Gunanti selaku Asisten Afdeling Kebun Tanah Datar yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh temanku di Program Magister Agroekoteknologi khususnya Taufik Hidayat, Ida Roma Uli Siahaan, Mulia Hutapea dan Suprianto Siddik yang banyak memberi dukungan dan semangat selama penyusunan tesis.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ibu Sri Purwanti atas bantuannya dalam mengolah data percobaan serta Bapak Dedek Haryadi, David Sinambela, Albertus Prasetyadi, Teuku Elmondo dan seluruh tim Pest and Diseases (P&D) yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini dari awal sampai selesai.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibundaku Else Nainggolan beserta ayah mertua Bangun Sitompul dan ibu mertua Yosephine Tambunan dan seluruh abang dan kakakku atas dukungan semangat, motivasi dan bimbingannya selama ini. Terima kasih yang tak terhingga juga disampaikan kepada istriku tercinta Febe Trivosa Sitompul, STP dan anakku Jessica Panjaitan atas segala pengertian, pengorbanan, pengharapan dan kesabarannya selama penulis melanjutkan studi ini yang telah banyak menyita waktu dan kesempatan kalian. Kepada seluruh rekan rekan yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang banyak membantu perkuliahan, penelitian dan penyusunan tesis ini penulis mengucapkan terima kasih.

(10)

v

KiraNya Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan balasan atas segala kebaikan bapak dan ibu yang membantu sehingga tesis ini dapat penulis selesaikan dan semoga tesis ini bermanfaat kepada semua umat manusia, amin.

Medan, 31 Januari 2015

Penulis

Tumpal Panjaitan

(11)

vi

RIWAYAT HIDUP

TUMPAL PANJAITAN dilahirkan pada tanggal 30 Januari 1972 di Pematang Siantar, Propinsi Sumatera Utara, dari ayah bernama Mangara Panjaitan (alm) dan ibu bernama Else Nainggolan. Anak kelima dari lima bersaudara dan sudah menikah dengan istri bernama Febe Trivosa Sitompul, STP serta dikarunia seorang putri bernama Jessica Panjaitan.

Lulus Sekolah Dasar (SD) Negeri 060912 Medan pada tahun 1983, lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kenangan Medan pada tahun 1986, lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Medan pada tahun 1989 dan lulus dari Jurusan Hama Penyakit Fakultas Pertanian, Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung pada tahun 1994. Pada bulan September 2011 tercatat sebagai Mahasiswa di Program Studi Agroekoteknologi Sekolah Pasca Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.

Sejak tahun 2000 sampai sekarang bekerja di Research and Development (R&D) Asian Agri Group dan saat ini menjabat sebagai Head of Pest and Diseases Section.

Penulis

(12)

vii DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 3

1.3.Tujuan Penelitian ... 4

1.4.Hipotesis ... 4

1.5.Manfaat Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Tanaman Kelapa Sawit ... 6

2.2.Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros) ... 6

2.2.1. Biologi O. rhinoceros ... 8

2.2.2. Kerusakan akibat serangan O. rhinoceros ... 9

2.2.3. Pengendalian O. rhinoceros ... 11

2.2.3.1. Pengendalian secara fisik ... 12

2.2.3.2. Pengendalian dengan perangkap ... 12

2.2.3.3. Pengendalian secara kimia ... 13

2.2.3.4. Pengendalian hayati ... 13

2.3.Nematoda Entomopatogen (NEP) ... 14

2.3.1. Biologi nematoda Steinernema sp. ... 17

2.3.2. Morfologi nematoda Steinernema sp. ... 17

2.3.3. Ekologi nematoda Steinernema sp. ... 20

2.3.4. Mekanisme menginfeksi nematoda Steinernema sp. ... 20

III. BAHAN DAN METODE ... 22

3.1.Waktu dan Tempat Penelitian ... 22

3.2.Alat dan Bahan Penelitian ... 22

3.3. Pelaksanaan Penelitian ... 23

3.3.1. Pengambilan sampel tanah ... 23

3.3.1.1. Eksplorasi nematoda Steinernema sp. secara in-vivo ... 24

3.3.1.2. Perbanyakan nematoda Steinernema sp. ... 26

3.3.1.3. Pengumpulan larva O. rhinoceros... 27

3.3.2. Penapisan nematoda entomopatogen ... 27

3.3.3. Identifikasi nematoda Steinernema sp. ... 28

(13)

viii

3.3.4. Penelitian nematoda Steinernema sp. di laboratorium ... 29

3.3.5. Penelitian nematoda Steinernema sp. di lapangan pada kotak kayu ... 31

3.3.6. Penelitian nematoda Steinernema sp. di lapangan pada rumpukan batangkelapa sawit ... 34

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38

4.1. Penapisan Nematoda Entomopatogen ... 38

4.2. Identifikasi Nematoda Entomopatogen ... 41

4.3.Mortalitas Larva O. rhinoceros di Laboratorium ... 43

4.4. Mortalitas Larva O.rhinoceros di Lapangan Kotak Kayu pada Areal Ternaungi ... 47

4.5. Mortalitas Larva O.rhinoceros di Lapangan Kotak Kayu pada Areal Terbuka ... 51

4.6.Mortalitas Larva O.rhinoceros di Lapangan pada Rumpukan BatangKelapa Sawit ... 54

4.7. Hubungan Dosis terhadap Populasi Steinernema sp. pada Tubuh Larva O.rhinoceros di Laboratorium ... 61

4.8. Hubungan Dosis terhadap Populasi Steinernema sp. pada Tubuh Larva O.rhinoceros di Penelitian Lapangan Kotak Kayu di Areal Ternaungi ... 63

4.9. Hubungan Dosis terhadap Populasi Steinernema sp. pada Tubuh Larva O.rhinoceros di Penelitian Lapangan Kotak Kayu di Areal Terbuka ... 64

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1.Kesimpulan ... 66

5.2.Saran ... 67

VI. DAFTAR PUSTAKA ... 68

(14)

ix

DAFTAR TABEL

No Judul Tabel Halaman

1. Hasil eksplorasi NEP dari dalam tanah berdasarkan sumber lokasi ... 38 2. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros pada penelitian penapisan ... 40 3. Perubahan warna kutikula larva O. rhinoceros yang terinfeksi NEP ... 42 4. Persentase mortalitas larva O.rhinoceros pada penelitian

di laboratorium ... 44 5. Ketebalan kutikula O. rhinoceros berdasarkan instar ... 46 6. Persentase mortalitas larva O.rhinoceros pada penelitian lapangan

kotak kayu di areal ternaungi ... 49 7. Persentase mortalitas larva O.rhinoceros pada penelitian lapangan

kotak kayu di areal terbuka ... 52 8. Persentase mortalitas larva O.rhinocerospada penelitian lapangan

di rumpukanbatang kelapa sawit ... 54 9. Persentase mortalitas larva O.rhinoceros berdasarkan instar pada

penelitian lapangan di rumpukan batang kelapa sawit ... 58

(15)

x

DAFTAR GAMBAR

No Judul Gambar Halaman

1. Oryctes rhinocerosberdasarkan stadia ... 10

2. SEM Steinernemasp. betina ... 18

3. SEM Steinernemasp. jantan ... 19

4. Pembersihan sampel tanah yang diambil dari lapangan ... 24

5. Eksplorasi nematoda Steinernema sp. dari tanah ... 25

6. White trap nematoda Steinernema sp. ... 25

7. Biakan nematoda Steinernema sp. ... 26

8. Perbanyakan nematoda Steinernema sp. secara in-vivo ... 26

9. Tata letak kotak plastik pada penelitian penapisan ... 29

10. Tata letak kotak plastik pada penelitian di laboratorium ... 31

11. Tata letak kotak kayu pada penelitian lapangan kotak kayu di areal ternaungi ... 33

12. Tata letak kotak kayu pada penelitian lapangan kotak kayu di areal terbuka ... 34

13. Tata letak plot pada penelitian lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 36

14. Hasil penghitungan LD50 pada penelitian penapisan ... 41

15. Perubahan warna kutikulaO.rhinoceros yang terinfeksi Steinernema sp. ... 42

16. Hasil penghitungan LD50 penelitian di laboratorium ... 47

17. Hasil penghitungan LD50 penelitian lapangan kotak kayu diareal ternaungi ... 51

18. Hasil penghitungan LD50 penelitian lapangan kotak kayu diareal terbuka ... 53

(16)

xi

19. Hasil penghitungan LD50 pada penelitian lapangan dirumpukan

batang kelapa sawit ... 56 20. Hasil penghitungan LD50 pada L1 di penelitian lapangan di rumpukan

batang kelapa sawit ... 58 21. Hasil penghitungan LD50 pada L2 di penelitian lapangan

dirumpukan batang kelapa sawit ... 60 22. Hasil penghitungan LD50 pada L3 pada penelitian lapangan

dirumpukan batang kelapa sawit ... 61 23. Regresi populasi Steinernemasp. berdasarkan instar pada penelitian

di laboratorium ... 62 24. Regresi populasi Steinernemasp. berdasarkan instar pada penelitian

lapangan kotak kayu diareal ternaungi ... 64 25. Regresi populasi Steinernemasp. berdasarkan instar pada penelitian

lapangan kotak kayu di areal terbuka ... 65

(17)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Lampiran Halaman

1. Tata letak kotak plastik pada penelitian di laboratorium ... 76

2. Tata letak kotak kayu pada penelitian lapangan di areal ternaungi dan terbuka ... 77

3. Tata letak plot penelitian lapangan dirumpukan batang kelapa sawit .... 78

4. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 1 HSA pada penelitian penapisan ... 79

5. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 2 HSA pada penelitian penapisan ... 80

6. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 3 HSA pada penelitian penapisan ... 81

7. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 4 HSA pada penelitian penapisan ... 82

8. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 5 HSA pada penelitian penapisan ... 83

9. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 1 HSA di laboratorium ... 84

10. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 2 HSA di labortaorium ... 85

11. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 3 HSA di laboratorium ... 86

12. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 4 HSA di laboratorium ... 87

13. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 5 HSA di laboratorium ... 88

14. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 6 HSA di laboratorium ... 89

15. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 7 HSA di laboratorium ... 90

16. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 8 HSA di laboratorium ... 91

17. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 9 HSA di laboratorium ... 92

18. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 10 HSA di laboratorium ... 93

(18)

xiii

19. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 11 HSA di laboratorium ... 94 20. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 1 HSA pada penelitian

lapangan kotak kayu di areal ternaungi ... 95 21. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 2 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 96 22. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 3 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 97 23. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 4 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 98 24. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 5 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 99 25. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 6 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 100 26. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 7 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 101 27. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 8 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 102 28. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 9 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 103 29. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 10 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi... 104 30. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 11 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal ternaungi ... 105 31. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 1 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal terbuka ... 106 32. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 2 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal terbuka ... 107 33. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 3 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal terbuka ... 108 34. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 4 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal terbuka ... 109

(19)

xiv

35. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 5 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal terbuka ... 110 36. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 6 HSA pada penelitian

lapangankotak kayu di areal terbuka ... 111 37. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 1 MSA pada penelitian

lapangandi rumpukan batang kelapa sawit ... 112 38. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 2 MSA pada penelitian

lapangandi rumpukan batang kelapa sawit ... 113 39. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 3 MSA pada penelitian

lapangandi rumpukan batang kelapa sawit ... 114 40. Persentase mortalitas larva O. rhinoceros 4 MSA pada penelitian

lapangandi rumpukan batang kelapa sawit ... 115 41. Persentase mortalitas L1O. rhinoceros pada 1 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 116 42. Persentase mortalitas L1O. rhinoceros pada 2 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 117 43. Persentase mortalitas L1 O. rhinoceros pada 3 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 118 44. Persentase mortalitas L1O. rhinoceros pada 4 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 119 45. Persentase mortalias L2O. rhinoceros pada 1 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 120 46. Persentase mortalitas L2O. rhinoceros pada 2 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 121 47. Persentase mortalitas L2O. rhinoceros pada 3 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 122 48. Persentase mortalitas L2O. rhinoceros pada 4 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 123 49. Persentase mortalitas L3O. rhinoceros pada 1 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 124 50. Persentase mortalitas L3O. rhinoceros pada 2 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 125

(20)

xv

51. Persentase mortalitas L3O. rhinoceros pada 3 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 126 52. Persentase mortalitas L3 O. rhinoceros pada 4 MSA pada penelitian

lapangan dirumpukan batang kelapa sawit ... 127 53. Populasi NEP pada tubuh larva O. rhinoceros yang mati di penelitian

laboratorium ... 128 54. Populasi NEP pada tubuh larva O. rhinoceros yang mati di penelitian

lapangan kotak kayu diareal ternaungi ... 128 55. Populasi NEP pada tubuh larva O. rhinoceros yang mati di penelitian

lapangan kotak kayu diareal terbuka ... 129 56. Data suhu dan kelembaban pada penelitian di laboratorium ... 130 57. Data curah hujan, suhu dan kelembabanpada penelitian lapangan

kotak kayu diareal ternaungi ... 131 58. Data curah hujan, suhu dan kelembaban pada penelitian lapangan

kotak kayu diareal terbuka ... 132 59. Data curah hujan pada penelitian lapangan dirumpukan batang

kelapa sawit ... 133

(21)

i ABSTRACT

TUMPAL PANJAITAN, 2015. Utilization of Entomopathogenic Nematodes Steinernema sp. ((Rhabditida ; Steinernematidae) Local Isolates as Biological Control of Rhinoceros Beetle Oryctesrhinoceros (Coleoptera ; Scarabaeidae) in Laboratory and Field. Supervised by Maryani Cyccu Tobing and Lisnawita.

Rhinoceros beetle (Oryctes rhinoceros) are a major pest in oil palm plantation and the control has been done in various methodes, as physic, mecanic, biology, chemical, etc. Entomopathogenic nematodes (NEPs) Steinernema sp. is one of alternative for O. rhinoceros controlling because have fast power killing and no effects for environment and human.

NEPs has been taken from eight location, four from mineral soil and four from organic soil on oil palm plantation and then makes screening test to get isolate virulance for larvae of O. rhinoceros and dosage of Steinernema sp. more effective to O. rhinoceros control in laboratory and field.

Result of NEPs screening known NEPs from Bahilang Estate has the highest virulence and included of Steinernema sp. genera. Result of laboratory research known the highest mortality with dose of 8.000 ji/108 cm3, L1 (100%) at 8 DAT, L2 (100%) at 10 DAT and L3 (83.3%) at 11 DAT.

Result of field research using wooden box in the shaded areas shown mortality L1 (100%) at 9 DAT with dose of 60.000 and 120.000 ji/0.1 m3, L2 (100%) at 10 DAT with all dose and L3 (81.7%) at 10 DAT with dose of 120.000 ji/0.1 m3. Result of field reseach using wooden box in the open areas shown maximum mortality L1 (63.3%), L2 (46.7%) with dose of 60.000 ji/0.1 m3 and L3 (25%) with dose of 120.000 ji/0.1 m3.

Result of field research in trunk of oil palm shown the highest mortality (54%) with dose of 500.000 ji/4.1 m3 with once application. Result of mortality based of larvae instar shown mortality L1 (90%) with dose of 1.000.000 ji/4.1 m3 with once application. The higher of mortality L2 (34,1%) with dose of 500.000 ji/4.1 m3 with twice application and L3 (16.7%) with dose of 500.000 ji/4.1 m3 with fourth application.

Steinernema sp. population result in laboratory known the highest population of Steinernema sp (308 ji/larvae) on L2 with dose of 8.000 ji/108 cm3. Steinernema sp population in the field research on shaded areas shown the highest population (264.4 ji/larvae) on L2 with dose of 30.000 ji/0.1 m3. Steinernema sp.

population in the field research on open areas shown the highest population (181.5 ji/larvae) on L1 with dose of 120.000 ji/0.1 m3.

Keywords: oil palm, Oryctes rhinoceros, Steinernema sp., mortality

(22)

ii ABSTRAK

TUMPAL PANJAITAN, 2015. Pemanfaatan Nematoda Entomopatogen Steinernema sp. (Rhabditida ; Steinernematidae) Isolat Lokal sebagai Agens Hayati Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros L. (Coleoptera ; Scarabaeidae) di Laboratorium dan Lapangan. Dibimbing oleh Maryani Cyccu Tobingdan Lisnawita.

Kumbang tanduk O. rhinoceros merupakan salah satu hama utama pada tanaman kelapa sawit dan berbagai pengendalian telah dilakukan baik fisik, mekanik, biologi, kimiawi dan lain lain. Salah satu pengendalian biologi adalah penggunaan nematoda entomopatogen (NEP) Steinernema sp. yang mempunyai daya bunuh yang cepat dan tidak menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan dan manusia.

NEP diambil dari delapan lokasi masing masing 4 tanah mineral dan 4 tanah organik) dari perkebunan kelapa sawit. Selanjutnya dilakukan penapisan untuk mendapatkan isolat yang paling virulen terhadap larva O. rhinoceros dan dosis Steinernema sp. yang paling efektif untuk mengendalikan larva O.

rhinoceros berdasarkan instar di laboratorium dan lapangan.

Hasil penapisan diperoleh NEP dari Kebun Bahilang memiliki virulensi tertinggi dan masuk ke dalam genus Steinernema. Hasil penelitian di laboratorium diperoleh mortalitas tertinggi terdapat pada dosis 8.000 ji/108 cm3, dimana L1 mencapai 100% pada 8 hari setelah aplikasi (hsa), L2 mencapai 100% pada 10 hsa dan L3 hanya mencapai 83,3% pada 11 hsa.

Hasil penelitian di lapangan menggunakan kotak kayu di areal ternaungi diperoleh mortalitas L1 mencapai 100% pada 9 hsa pada dosis 60.000 dan 120.000 ji/0,1 m3, L2 mencapai 100% pada 10 hsa untuk seluruh dosis dan L3

hanya mencapai 81,7% pada 11 hsa dengan dosis 120.000 ji/0,1 m3. Hasil penelitian di lapangan menggunakan kotak kayu di areal terbuka diperoleh mortalitas L1 mencapai 63,3% dengan dosis 60.000 ji/0,1 m3, L2 mencapai 46,7%

dengan dosis 60.000 ji/0,1 m3 dan L3 mencapai 25,0% dengan dosis 120.000 ji/0,1 m3.

Hasil penelitian di lapangan pada rumpukan batang kelapa sawit diperoleh mortalitas tertinggi (54,0%) pada dosis 500.000/4,1 m3 dengan aplikasi satu kali.

Pengamatan mortalitas larva berdasarkan instar diperoleh mortalitas L1 tertinggi (90,0%) terdapat pada dosis 1.000.000 ji/4,1 m3 dengan aplikasi sebanyak satu kali, mortalitas L2 tertinggi (34,1%) terdapat pada dosis 500.000 ji/4,1 m3 dengan aplikasi sebanyak dua kali dan mortalitas L3 tertinggi (16,7%) terdapat pada dosis 500.000 ji/4,1 m3 dengan aplikasi sebanyak empat kali.

Pengamatan populasi Steinernema sp. di laboratorium diperoleh populasi tertinggi (308 ji/larva) pada L2 dengan dosis 8.000 ji/108 cm3. Pengamatan populasi Steinernema sp. pada kotak kayu di areal ternaungi diperoleh populasi tertinggi (264,4 ji/larva) pada L2 dengan dosis 30.000 ji/0,1 m3 sedangkan pada kotak kayu di areal terbuka diperoleh populasi Steinernema sp. tertinggi (181,5 ji/larva) pada L1 dengan dosis 120.000 ji/0,1 m3.

Keywords: kelapa sawit, kumbang tanduk, Steinernema sp., kematian

(23)

1

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) saat ini merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting di sektor perkebunan. karena tanaman ini banyak menghasilkan minyak atau lemak yang mempunyai nilai ekonomi terbesar/hektarnya. Pada tahun 2014 Indonesia menargetkan produksi minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil) sebanyak 30 juta ton (Supriyono, 2014).

Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus mengalami peningkatan yang cukup pesat, tahun 2012 luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah mencapai 9.572.715 ha dan meningkat menjadi 10.010.824 di tahun 2013 (Ditjenbun, 2014). Tercapainya target pemerintah atau perusahaan kelapa sawit apabila tanaman kelapa sawit dikelola dengan baik, seperti melakukan pemupukan secara berimbang, pengendalian gulma yang tepat dan mencegah terjadinya serangan hama. Pesatnya perluasan perkebunan kelapa sawit akan menimbulkan berbagai masalahgangguan hama dan penyakit. Beberapa hama penting yang menyerang tanaman kelapa sawit antaran lain hama babi, tikus, ulat api, ulat kantong, kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) dan lain lain.

Serangan O. rhinoceros menjadi lebih berat di areal penanaman baru pada generasi kedua atau ketiga (Turner dan Gillbaks, 2003). Hal ini disebabkan banyak terdapat tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses dekomposisi pada areal peremajaan kelapa sawit. Tumpukan bahan organik tersebut menjadi tempat berkembang biakan (breeding site) O. rhinoceros(Buana et al., 2006).

(24)

2 Pengendalian O. rhinoceros secara konvensional masih dilakukan hingga saat ini yaitu dengan cara pengutipan kumbang pada lubang gerekan di tanaman, mengumpulkan larva dan kepompong di tempat perkembangbiakan dan penggunaan insektisida kimiawi. Penggunaan insektisida kimiawi selain harganya mahal juga mengandung residu yang dapat membunuh serangga bukan sasaran serta terhadap manuasia (Dongoran et al., 2010). Pengutipan kumbang dapat dilakukan apabila tanaman masih pendek dan akan mengalami kesulitan bila tanaman sudah tinggi, selain itu pengendalian dengan penggunaan feromon juga telah dilakukan (Susanto et al., 2010) tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga perlu dicari alternatif pengendalian yang lebih efektif, efisien dan ramah lingkungan.

Sesuai dengan prinsip Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) point 4.5 tentang pengendalian hama penyakit yang menerapkan konsep PHT secara berkesinambungan, maka diharapkan pengendalian O. rhinocerossebaiknya dilakukan secara hayati, karena ramah terhadap lingkungan dan tidak membunuh organisme bukan sasaran. Musuh alami O. rhinocerosjumlahnya sangat banyak, baik dari golongan serangga, jamur Metarhizium sp., virus dan nematoda Steinernema sp. (Novilih, 2010). Nematoda entomopatogen merupakan salah satu alternatif untuk mengendalikan serangga hama tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (Sulistyanto, 2010).Salah satu nematoda yang banyak digunakan sebagai agens hayati untuk mengendalikan hama adalah Steinernema sp. Nematoda Steinernema sp. mempunyai keunggulan sebagai agens hayati serangga hama dibandingkan dengan virus dan jamur Metarhizium sp karena memiliki daya bunuhyang cepat, kisaran inang yang cukup luas dan aktif mencari

(25)

3 inang sehingga lebih efektif mengendalikan serangga dalam jaringan tanaman dan tidak menimbulkan resistensi serta mudah diperbanyak (Mahar et al., 2007).

Penelitian nematoda untuk mengendalikan O. rhinocerosumumnya terbatas pada aplikasi di laboratorium sehingga perlu dilakukan penelitian nematoda Steinernema sp. yang berkesinambungan untuk mengendalikan O. rhinoceros mulai dari laboratorium sampai ke lapangan.

1.2. Perumusan Masalah

Budidaya tanaman kelapa sawit sering kali mengalami gangguan dari serangan hama, khususnya O. rhinoceros. Masalah O. rhinoceros saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi janjang kosong (jankos) kelapa sawit pada tanaman maupun sistem lubang besar. Sudharto et al. (2006) mengatakan bahwa aplikasi mulsa tandan kosong kelapa sawit yang kurang tepat dapat mengakibatkan timbulnya masalah O. rhinoceros di areal tanaman kelapa sawit.

Pada sistem lubang tanam besar tujuan yang sebenarnya adalah untuk memperbaiki struktur tanah pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas kelapa sawit. Namun jankos yang diaplikasikan ke lapangan akan menjadi tempat berkembangnya O. rhinoceros dan dapat menyerang tanaman kelapa sawit muda hasil peremajaan. Selama ini pengendalian O. rhinoceros dilakukan dengan menggunakan bahan kimia. Secara teknis penggunaan insektisida kimiawi cukup sederhana, tetapi memiliki dampak negatif sehingga perlu dicari alternatif pengendalian lainnya. Penggunaan perangkap feromon juga memiliki kelemahan yaitu kumbang yang datang tidak hanya berasal dari kebun tersebuttetapi juga datang dari tempat lain, sehingga kumbang semakin banyak yang datang serta

(26)

4 tidak semua kumbang dapat tertangkap karena sebagian akan jatuh ke areal pertanaman dan merusak tanaman.

Nematoda patogen serangga (NEP) menjadi salah satu kandidat yang potensial untuk dikembangkan sebagai bioinsektisida, karena efektifitasnya relatif sama dengan insektisida kimia tetapi lebih aman sehingga merupakan salah satu alternatif dalam mengendalikan O. rhinoceros.

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendapatkan Steinernema sp. yang paling virulen terhadap larva O.

rhinoceros.

2. Untuk mendapatkan dosis Steinernema sp. yang paling efektif mengendalikan larva O. rhinoceros berdasarkan instar di laboratorium dan lapangan.

3. Untuk mendapatkan rotasi aplikasi nematoda Steinernema sp. yang terbaik terhadap larva O. rhinoceros pada rumpukan batang kelapa sawit.

1.4. Hipotesis

1. Ada perbedaan virulensi nematoda Steinernema sp. berdasarkan sumber inokulum.

2. Ada perbedaan persentase mortalitas larva O. rhinoceros berdasarkan instar dan dosis Steinernema sp.

3. Ada perbedaan mortalitas larva O. rhinoceros berdasarkan jumlah aplikasi.

1.5. Manfaat Penelitian

(27)

5 Penelitian ini akan berguna bagi dunia perkebunan kelapa sawit dalam hal pengendalian hama O. rhinoceros dengan cara hayati yang berpola pada spesifik lokasi dengan menggunakan nematoda Steinernema sp.

(28)

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Kelapa Sawit

Kebutuhan masyarakat dunia yang terus meningkat akan minyak kelapa sawit menjadikan pembangunan industri kelapa sawit di Indonesia semakin pesat.

Pada tahun 2012 perkebunan kelapa sawit di Indonesia seluas 9.572.715 ha, yang mayoritas dimiliki perkebunan swasta dan pemerintah. Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dipengaruhi banyak faktor, seperti lingkungan, genetis dan teknis agronomi. Ketiga faktor tersebut saling terkait didalam menunjang pertumbuhan tanaman. Untuk mengharapkan produksi kelapa sawit melalui CPO yang maksimal, maka ketiga faktor tersebut harus selalu dalam kondisi optimal. Faktor teknis (budidaya) merupakan salah satu faktor yang biasanya menjadi titik lemah dari pencapaian produksi CPO. Hal ini disebabkan pola tanam, pemupukan yang tidak berimbang dan adanya serangan hama penyakit. Pesatnya penambahan luas perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan cara penambahan areal melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi. Program intensifikasi dilakukan melalui pergantian tanaman dan peremajaan tanaman tua yang menyebabkan adanya gangguan hama (khususnya kumbang tanduk) akan semakin meningkat seiring dengan tersedianya bahan organik sebagai media hidup dari kumbang (Turner dan Gillbanks, 2003).

2.2. Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros)

O. rhinocerosmerupakan salah satu hama utama pada perkebunan kelapa sawit. Hal ini disebabkan oleh adanya peremajaan tanaman (khususnya dengan sistem under planting), pohon mati akibat serangan penyakit busuk pangkal

(29)

7 batang (BPB) yang disebabkan oleh Ganoderma boninense dan adanya aplikasi jankos pada areal tanaman kelapa sawit baik di TBM maupun di TM (Dongoran et al., 2010). Serangan O. rhinoceros dapat terjadi pada areal tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) dan serangan berat dapat menyebabkan tanaman menjadi rusak atau menimbulkan kematian (Cahyasiwi et al., 2010 ; Dongoran et al., 2010).

Kumbang Oryctes aktif mulai senja sampai malam hari guna mencari makan(sampai dengan pukul 21.00). Tanaman yang banyak mengalami serangan ialah tanaman yang baru dipindah tanam, terutama pada areal yang dekat perkampungan dan bersemak atau banyak tanaman kelapa (Sudharto et al.,2006).

Kumbang hinggap pada pelepah daun yang agak muda, kemudian mulai menyerang bakal daun muda dan titik tumbuhmelalui pelepah. Kumbang menggerek ke dalam kumpulan daun yang akan tumbuh yang menyebabkan daunmenjadi rusak (Cahyasiwi et al., 2010). O. rhinoceros utamanya menyerang atau memakan titik tumbuh tanaman dan dapat menimbulkan kematian tanaman dengan gejala serangan sebagai berikut :

1. Adanya lubang bekas gerekan kumbang pada bagian pangkal pelepah muda tanaman.

2. Tunas tanaman di pembibitan menjadi kering karena gerekan dibagian pangkalnya.

3. Pelepah terlihat terpuntir sehingga posisinya tampak tidak beraturan.

4. Pelepah muda yang baru tumbuh daunnya terlihat seperti kipas.

5. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM), pelepah muda mengering diantara daun tua yang menghijau.

(30)

8 Serangan O. rhinoceros dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) pada tahun 1 mencapai 60% dan menimbulkan kematian tanaman muda hingga 25% (Buana et al., 2006).Serangan pada tanaman muda sangat berbahaya jika serangan mencapai titik tumbuh. Areal tanaman yang banyak terserang dapat mengurangi produksi sebesar 0,2-0,3 ton/ha selama 18 bulan panen tahun pertama (Sudharto et al.,2006).

Pengendalian O. rhinoceros berpusat pada tindakan preventif denganmenghilangkan tempat breeding site,mengumpulkan larva dan pupa serta mengeluarkan kumbang dari lubang gerekan (Cahyasiwi et al., 2010 ; Susanto et al., 2010).

2.2.1. Biologi O. rhinoceros

O. rhinoceros meletakkan telurnya pada batang kelapa sawit, pupuk kandang, kompos, dan bahan organik yang sedang membusuk atau melapuk.Telur yang baru diletakkan berbentuk lonjong dan berubah menjadi bentuk oval, saat telur berumur satu minggu memiliki ukuran panjang 4,75-5,80 mm dan lebar 2,95-3,25 mm serta berdiameter 3-4 mm. Telur berwarna putih dan menjelang menetas berubah menjadi keabu-abuan, periode telur berlangsung selama 11-13 hari (Bedford, 1976 dalam Marheni, 2012).

Larva berupa uret yang baru menetas berwarna putih kemudian berubah menjadi kuning dan menjelang pergantian kulit menjadi kuning kecoklatan. Larva instar satu (L1) berukuran panjang 7-8 mm dan larva instar tiga (L3) memiliki panjang mencapai 60-105 mm dengan lebar 25 mm. Pada pakan tankos stadia L1 berumur rata-rata 16,0±3,37 hari, L2 20,67±2,97 hari dan L3 65,95±2,76 hari.Sedangkan pada pakan batang kelapa sawit L1 berumur rata-rata 23,43±2,62

(31)

9 hari, L2 33,60±3,70 hari dan L3 94,10±4,33 hari (Marheni, 2012). Lamanya fase larva sangat bervariasi tergantung pada kualitas makanan, namun secara umum stadia larva pada batang kelapa sawit berkisar 82-207 hari (Norman et al., 2004).

Pupa berwarna kuning coklat dengan panjang ± 5 cm dan lebar ± 2.5 cm. Pada pupa sudah tampak bakal kepala, sayap, pronotune, abdomen dan tungkai dengan lama stadia pupa antara 20-25 hari (Sudharto et al.,2006).

Kumbang O. rhinoceros yang baru keluar dari pupa tidak segera aktif tetapi masih tetap tinggal di dalam kokon selama 15-21 hari tanpa makan. Kumbang yang masih belum aktif ini disebut praimago. Kumbang berwarna coklat hitam dengan permukaan sayap depan kasar dan tidak mengkilap. Panjang tubuh kumbang 3-5 cm dan lebar ± 2 cm. Setelah kumbang keluar dari rumah kepompong, langsung terbang menuju pucuk kelapa sawit untuk mencari pakan.

Kumbang jantan dan betina dapat dibedakan dengan melihat ujung abdomennya.

Kumbang jantan mempunyai ujung abdomen yang relatif halus,sedangkan kumbang betina ujung abdomennya mempunyai rambut yang lebih banyak dan lebih panjang dibandingkan dengan jantan(Norman et al., 2004) serta kumbang betina memiliki antena lebih panjang dari jantan, yakni 8.962±1.642 sensillum/mm2 dan 8.665±1.254 sensillum/mm2 untuk kumbang jantan (Renou et al. 1998 dalam Marheni, 2012). Fase siklus hidup O. rhinoceros dapat dilihat pada Gambar 1.

2.2.2. Kerusakan akibat serangan O. rhinoceros

Produktivitas kelapa sawit selain ditentukan oleh bahan tanaman yang unggul, kesesuaian lahan, iklim dan tindakan kultur teknis khususnya

(32)

10 pemupukan,serta adanya serangan hama dan penyakit. Serangan O. rhinoceros semakin berat karena media berkembangbiak yang sangat melimpah yaitu batang kelapa sawit hasil peremajaan yang telah membusuk pada ribuan hektar lahan peremajaan kelapa sawit dan jutaan ton tandan kelapa sawit di setiap tahunnya.

Serangan O. rhinoceros pada kelapa sawit tidak hanya menyerang pada tanaman belum menghasilkan (TBM) tetapi dapat juga menyerang tanaman menghasilkan (TM) (Hutauruk, 2002), yang secara langsung akan berpengaruh terhadap produksi kelapa sawit. Intensitas serangan bervariasi dari ringan sampai berat yang dapat menyebabkan kematian pada tanaman kelapa sawit menghasilkan sebesar 13% (Sudharto et al., 2006). Kerusakan O. rhinoceros pada tahap TBM dapat menyebabkan kehilangan hasil sebanyak 40-92% pada panen di tahun pertama (Chung et al., 1999).

Gambar1. Oryctes rhinoceros (A) Telur, (B) Larva, (C) Pupa dan (D) Imago

Serangan O. rhinoceros umumnya akan menimbulkan kerugian pada areal peremajaan walaupun kematian jarang ditemukan, akan tetapi akibat serangan tersebutmenyebabkan tanaman menjadi sangat terhambat pertumbuhannya

A B

D C

(33)

11 sehingga dapat menunda masa panen (Cahyasiwi et al., 2010). Kemunduran masa produksi ini berkorelasi dengan tingkat serangan, pada serangan ringan produksi mundur 5-6 bulan, serangan sedang mundur 1 tahun dan serangan berat mundur 2,5 tahun (Sudharto et al.,2006).

Tanaman dapat sembuh dari serangan pertama kali, akan tetapi setelah tiga kali serangan secara berturut-turut menyebabkan tanaman menjadi rusak dan akan menyebabkan kehilangan daun tombak dan biasanya tanaman tersebut harus diganti. Kerusakan seperti ini mengakibatkan saat berproduksi menjadi terlambat (Susanto et al., 2010).

Hutauruk (2002) mengatakan bahwa pada batang sawit yang sudah mengalami pembusukan terdapat 542-935 larva O. rhinocerospada areal tanpa penutup tanah dan 117-193 ekor/batang dengan penutup tanah. Jumlah larva yang begitu besar pada akhirnya merupakan sumber hama yang sangat besar terhadap tanaman disekitarnya. Penanaman kacangan penutup tanah dilakukan untuk mengurangi perkembangan O. rhinoceros pada batang kelapa sawit tua yang belum membusuk.

2.2.3. Pengendalian O. rhinoceros

Serangan O. rhinoceros dapat dikendalikan dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian, seperti pengendalian secara fisik atau manual, perangkap, hayati dan kimia (Susanto et al., 2010 ; Cahyasiwi, 2010).

(34)

12 2.2.3.1. Pengendalian secara fisik

Pengendalian secara fisik biasanya dilakukan dengan melakukan pengutipan larva dan imago O. rhinoceros. Pengutipan dilakukan dengan membongkar tumpukan batang kelapa sawit atau janjangan kosong tempat breedingsite sedangkan pengutipan imago dilakukan dengan mengambil kumbang yang lengket pada daun tanaman menggunakan pengait yang dibengkokkan ujungnya (Susanto et al., 2010). Pembongkaran tempat perkembangbiakan O.

rhinocerosdilakukan dengan pembelahan batang kelapa sawit yang sedang membusuk, pembongkaran sisa batang kelapa sawit yang telah dicincang bertujuan untuk mengumpulkan larva, pupa dan praimago. Pengendalian secara fisik menggunakan tenaga kerja yang sangat banyak sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar.

2.2.3.2. Pengendalian dengan perangkap

Pengendalian menggunakan perangkap biasanya dilakukan dengan menggunakan feromon dan cahaya. Feromon yang digunakan merupakan senyawa kimia dari ethyl-4-methyl oktanoat dan senyawa ini dapat bertahan hingga 3 bulan dilapangan (Susanto et al., 2007). Feromon ditempatkan diwadah perangkap yang terbuat dari seng, kemudian wadah tersebut ditempatkan di areal penanaman baru (TBM 1-3) dengan jarak 1 perangkap feromon/2 ha dan feromon dapat diganti setelah 3 bulan (Prasetyo et al., 2009). Pengendalian dengan perangkap cahaya dilakukan pada malam hariagar kumbang O. rhinoceros mendatangi lampu dan akhirnya tertangkap oleh jaring. Aplikasi perangkap cahaya dan jaring biasanya dilakukan pada saat populasi O. rhinoceros tinggi (Rozziansha et al., 2014).

(35)

13 Pengendalian denganmenggunakan perangkap jaring membutuhkan biaya yang sangat mahal, untuk biaya pembelian bahan dan tenaga kerja.

2.2.3.3. Pengendalian secara kimia

Pengendalian secara kimia dilakukan dengan cara menyemprot dan menaburkan insektisida pada daun atau pupus tanaman. Pengendalian ini selain membutuhkan biaya yang sangat besar juga dapat menyebabkan matinya serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus) dan serangga bermanfaat lainnya. Penggunaan insektisida kimia berbahan aktif diazinon, cypermetrin, karbofuran diketahui dapat mengendalikan O. rhinoceros(Dongoranet al., 2010), namun penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran maupun karbaril untuk mengendalikan O. rhinoceros dapat mengakibatkan tercemarnya lingkungan.

Chong et al. (2007) mengatakan aplikasi insektisida cypermetrin secara berturut turut selama 3 bulan dapat menurunkan serangan baru O. rhinoceros dari 8,9%

menjadi 4,4%. Negrisoli et al. (2010) mengatakan bahwa penggunaan insektisida berbahan aktif deltametrin, cypermetrin, klorpirifos, triazofos dapat mengakibatkan menurunnya keefektifan nematoda entomopatogen S. carpocapsae dan S. glaseri.

2.2.3.4. Pengendalian hayati

Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami dari O. rhinoceros, seperti predator,parasitoid dan patogen. Mikroorganisme alami (entomopatogen) yang dapat menyerang O. rhinocerosdiantaranya adalah jamur Metarhizium anisopliae,virus Baculovirus oryctes dan nematoda (Moslim, 2007 ;

(36)

14 Dongoran et al., 2010 ; Abidin et al., 2014). Baculovirus yang digunakan menyebabkan terjadinya pengurangan atau perpendekan umur kumbang O.

rhinoceros serta terjadinya penurunan populasi larva O. rhinoceros sebesar 24,3%

setelah 12 bulan diaplikasi (Prasad et al., 2008). Novilih, (2010) mengatakan di antara organisme menguntungkan tersebut yang banyak dipergunakan dalam pengendalian hayati adalah nematoda entomopatogens (NEP) dan NEP sudah dipergunakan untuk pengendalian serangga, tungau dan moluska pada tanaman pertanian, kehutanan dan kesehatan (Yeates, 2004) dan S. carpocapsae memiliki potensi yang besar sebagai entomopatogen untuk banyak serangga hama (Shahina dan Tabassum, 2010). Interaksi dan kompetisi antara nematoda entomopatogen dengan agens hayati lainnya (virus, bakteri, jamur) berlangsung secara langsung dan tidak langsung dalam hal berkompetisi di dalam mencari inang (Kaya, 2002).

2.3. Nematoda Entomopatogen (NEP)

Nematoda entomopatogen (NEP) adalah agens hayati dalam famili Steinernematidae dan Heterorhabditidae (Adam dan Nguyen, 2002 ; Nguyen dan Smart, 2004)yang memiliki virulensi sangat kuat terhadap berbagai serangga (Subagiya, 2005). NEP dapat diproduksi secara massal baik dengan cara in vivo maupun in vitro dan perbanyakan in vivo biasanya dilakukan pada larva Tenebrio molitor, Galerria mellonella (Ehlers dan Shapiro, 2005). Saat juvenil infektif (ji) menginfeksi serangga inang kemungkinan di dalam tubuh inang tersebut terdapat bakteri yang mematikan (Kaya, 2002). NEP membunuh serangga inang dengan bantuan bakteri simbiotik (Prabowo dan Indrayani, 2009) yang dibawa dalam saluran pencernaan (intestine) dan nematoda Steinernema berasosiasi dengan

(37)

15 bakteri Xenorhabdus (Kaya, 2002 ; Adam dan Nguyen, 2002 ; Boemare, 2002).

Tanpa bakteri simbion di dalam serangga inang nematoda tidak akan dapat bereproduksi karena bakteri simbion berfungsi sebagai makanan yang sangat diperlukan oleh nematoda (Ehlers, 2001). Bakteri Xenorhabdus menghasilkan enzim lechitinase, protease dan entomotoksin yang mempengaruhi proses kematian serangga (Boemare, 2002), dan ini berguna untuk pertumbuhan dan reproduksi Steinernema spp. sampai ketersediaan makanan berkurang dan saat itu nematoda menjadi juvenil infektif (Forst dan Clarke, 2002). Juvenil infektif yang hidup bebas (free living), masuk ke dalam tubuh inang melalui lubang alami, seperti mulut anus, spirakel dan kutikula (Dowds dan Arne, 2002 ; Tanada dan Kaya, 1993).

Stadia juvenil infektif (ji) menyimpan cadangan makan di dalam tubuhnya untuk melakukan mobilitas dan aktivitasnya serta menginfeksi inang. Selama belum menemukan inang, daya tahan tubuh nematoda tergantung kepada ketersediaan cadangan makanan yang dimilikinya. Penipisan cadangan makanan ini selain menyebabkan penurunan viabilitas juga dapat menurunkan efektivitas nematoda (Sulistyanto, 2010). Bakteri berkembang biak dengan cepat di dalam hemolimfa serangga inang dan membunuh inang dalam waktu 24-48 jam dengan septicaemia. Nematoda berubah menjadi JI3 kemudian JI4 dan menjadi nematoda jantan atau betina dari generasi pertama. Nematoda betina meletakkan telur di dalam tubuh induknya dan telur menetas serta berubah menjadi JI2 sampai JI4 pada generasi kedua. Reproduksi nematoda pada serangga inang biasanya dalam 2-3 generasi dan bila pasokan makanan terbatas maka telur yang dihasilkan langsung menjadi juvenil infektif dan dapat bertahan hidup beberapa bulan tanpa

(38)

16 ada makan (Adam dan Nguyen, 2002). Kumar et al. (2011) mengatakan ada 3 fungsi bakteri Xenorhabdus pada nematoda Steinernema, yaitu : membunuh serangga inang dengan cepat, memproduksi nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan nematoda dan kolonisasi pertumbuhan juvenil infektif nematoda

Strategi nematoda dalam mencari inang (foraging behaviour) berbeda beda, S. carpocapsae selalu berada di atas permukaan tanah dan menggunakan taktik sit and wait (ambusher) dan akan menginfeksi serangga inang yang umumnya aktif bergerak (Sulistyanto, 2010). Gaugler (2002) mengatakan kemampuan S.

carpocapsae yang secara aktif mencari serangga inang, memiliki potensi reproduksi yang tinggi serta dapat diproduksi secara massal, membuat nematoda sangat cocok untuk dikembangkan sebagai alternatif agens hayati yang ramah lingkungan. Sulistyanto dan Ehlers (1998) menyatakan bahwa patogenisitas nematoda dengan bakteri simbion seperti permainan musik instrumen dimana patogenisitas dimulai saat nematoda menemukan inang dan menaklukan pertahanan inang kemudian dilanjutkan pada penetrasi bakteri, namun banyak ji yang mencapai T. molitor gagal dalam menginfeksi inang.

Salah satu hal yang paling penting di dalam pengendalian hayati adalah keakuratan mengidentifikasi hama dan menguntungkan bagi manusia serta tidak mematikan organisme yang ada. Hal ini memiliki dampak langsung terhadap penentuan rentang geografis serta perizinan penggunaan agenshayati (Schauff danLaSalle, 1998). Penggunaan S. carpocapsae dengan dosis 800 ji/larva dapat mematikan L1 dan L2O.rhinoceros sebanyak 86.7% dan L3 sebanyak 100%setelah 144 jam diaplikasi (Novilih, 2010).

(39)

17 2.3.1. Biologi nematoda Steinernema sp.

Nematoda Steinernema sp. adalah agens hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pengendalian hama. Teknik pengendalian hama ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida karena memiliki inang yang luas serta mudah dikembangbiakkan dan memiliki kemampuan menginfeksi yang tinggi. Nguyen dan Smart (2004) mengatakan bahwa Steinernema sp. dapat menginfeksi lebih dari 250 spesies serangga yang berasal dari 75 famili.

Nematoda Steinernema sp. mempunyai siklus hidup yang sangat sederhana yakni dari telur, juvenil, dewasa. Juvenil instar pertama keluar dari telur dan menjadi ji yang dapat menginfeksi inangnya. Stadia juvenil terdiri dari tiga instar yaitu JI1, JI2dan JI3. Stadia infektif nematoda adalah pada JI3 yang secara morfologis dan fisiologis dapat hidup untuk waktu yang lama sebelum mendapat inang (Nguyen dan Smart, 2004).

2.3.2. Morfologi nematoda Steinernema sp.

Karakteristik dari NEP Steinernema sp. dapat dilihat pada kepala yang berbentuk sedikit bulat, memiliki 6 bibir (labial) dan setiap papilla labial tersebut memiliki perbedaan satu sama lainnya, memiliki 4 cephalic papila dan ukuran amphids kecil.Stoma berkurang,pendek dan lebardengan dinding sclerotic mencolok, oesophagus berada di usus. Saraf cincin biasanya berada di sekitar isthimus atau di bagian anteriorbasal. Ekskretoris pori pori terbuka dengan waktu yang berbeda (Boemare, 2002).

(40)

18 Steinernemasp. betina memiliki panjang tubuh 3.020-3.972 µm, lebar 153- 192 µm, panjang stomata 7-12 µm, lebar stomata 5,0-8,5 µm, panjang ekor 30-47 µm, lebar vulva 49-54 µm. Untuk stadia juvenil infentif, panjang tubuh 500-570 µm, lebar 15-25 µm, panjang ekor 47-54 µm (Stock, 1993).

Steinernemasp. betina memiliki ovari bertipe amphidelphic yang tumbuh dari arah anterior ke posterior, vulva terletak pada bagian tengah panjang tubuhnya. Dewasa betina dengan ovarium terbuka, vaginapendek, berotot. Vulva terletak didekattengah tubuh, dengan atau tanpa bibir menonjolbibir dan epiptyma bisa ada bisa tidak (Gambar 2).

Gambar 2. SEM Steinernemasp. betina. (A) muka (B) daerah vulva (C) daerah vulva menunjukkan epiptygma. (D) ekor.

(Dimodifikasi dari Nguyen dan Smart, 1996.) Sumber : Nguyen dan Smart, (2004).

Dewasa jantan monorchic dengan testis melipat spikula berbentuk simetris dan terdapat gubernakulum dengan midventral tunggal dan 10-14 pasang genital

(41)

19 papilla dan 7-10 precloacal serta ekor bulat atau digital mucronat (Gambar 3).

JI3dengan stoma terbuka, kutikula annual dengan 6-8 gundukan di punggungnya.

oesophagus berada di usus.

Gambar 3.SEM Steinernemasp. jantan (A) Kepala menunjukkan papila labial dan cephalic.(B) spikula. (C) Gubemaculum menunjukkan Y berbentuk cuneus. (D) Ventral pandanganekor jantan menunjukkan papila dan tips spikula. (E), (F) ekor jantan dengan tujuh dan sepuluhpreanal papila. (Dimodifikasi dari Nguyen dan Smart, 1996). Sumber : Nguyen dan Smart, (2004).

(42)

20 2.3.3. Ekologi nematoda Steinernema sp.

Lingkungan yang sesuai merupakan faktor utama bagi perkembangbiakan nematoda. Kemampuan nematoda untuk menyebar, mempertahankan diri, menemukan inang dan bereproduksi dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu tanah (Gaugler, 2001).

Kelembaban merupakan syarat penting untuk bertahan hidup dalam habitat mikro nematoda, pada kelembaban relatif 26-27%, suhu 22oC, ji hanya bertahan selama 3 jam. Pada kelembaban 70-80%, nematoda dapat bertahan hidup sampai 20 hari (Nguyen dan Smart, 2004).Nematoda yang terdapat di dalam tubuh inang akan beradaptasi secara biologi dan perilaku, Yeates (2004) mengatakan bahwa adaptasi perilaku nematoda berkaitan dengan kondisi lingkungan yang meliputi proses :

a. Habitat inang, terdiri dari makanan, air dan suhu.

b. Oksigen c. Media hidup

d. Perilaku habitat spesifik e. Perilaku biogeografis

2.3.4. Mekanisme menginfeksi nematoda Steinernema sp.

Nematoda patogen serangga menginfeksi inang dengan cara memasuki lubang alami seperti spirakel, mulut dan anus serta melakukan penetrasi langsung dengan menembus kutikula. Infeksi nematoda Steinernema sp. sebagian besar melalui serangga inangnya masuk ke dalam saluran pencernaan selanjutnya menuju hemosel. Selanjutnya bakteri (Xenorhabdus) dilepaskan melalui anus yang menyebabkan keracunan dan kematian inang (Subagiya, 2005). Mekanisme patogenisitas nematoda entomopatogen secara umum dilakukan melalui tiga

(43)

21 tahap, yaitu invasi, evasi dan toksikogenesis. Invasi merupakan proses terjadinya penetrasi nematoda entomopatogen ke dalam tubuh serangga inang melalui kutikula dan lubang alami, seperti mulut, anus, spirakel dan stigma. Evasi adalah tahap nematoda mengeluarkan baktei simbion di dalam tubuh serangga inang sedangkan toksikogenesis merupakan tahapan bakteri simbion menghasilkan toksin sehingga dapat menyebabkan kematian pada serangga inang (Sulistyanto, 2010). Bakteri Xenorhabdus menghasilkan enzim Lechitinase, Protease dan entomotoksin (hydrocyl dan acetoxyl) yang berfungsi merusak hemocel dan menghambat senyawa Prophenoloxidase yang berfungsi sebagai ketahanan internal serangga (Simoes dan Rosa, 1996). Bakteri juga akan menghasilkan toksin di dalam hemocel serangga yang dapat menyebabkan kematian pada serangga apabila mekanisme pertahanan tubuh serangga tidak berhasil dalam mengatasi kompleksitas simbiose nematoda-bakteri (Boemare, et al. 1996).

Nematoda diberi makan oleh bakteri dari jaringan inang dan berkembang dengan cepat hingga dewasa, kemudian nematoda memasuki masa reproduksi dan menghasilkan telur. Semua nutrient (sterol) yang ada dalam tubuh inang akan menjadi sumber makanannya (Bilgrami dan Gaugler, 2004), namun nematoda juga dapat membunuh serangga inang tanpa adanya bakteri meski sanagat lambat dan tidak akan dapat bereproduksi (Sulistyanto, 2010). Selanjutnya nematoda akan berkembang menjadi generasi kedua dan ketiga yang akan keluar lagi dari bangkai inang dan mencari inang baru (Yeates, 2004).Secara umum gejala atau tanda inang yang terinfeksi oleh nematoda entomopatogen adalah serangga akan berhenti bergerak dan makan serta terjadi perubahan warna kutikula.

(44)

22

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari – Juli 2014 di Laboratorium Hama, Pusat Penelitian dan Pengembangan Asian Agri Group, Tebing Tinggi Deli, Propinsi Sumatera Utara dan afdeling 1Kebun Bahilang, PT. Nusa Pusaka Kencana, Kabupaten Serdang Bedagai, Propinsi Sumatera Utara serta afdeling 1Kebun Tanah Datar, PT. Supra Matra Abadi, Kabupaten Batubara, Propinsi Sumatera Utara yang keduanya merupakan anak perusahaan dari Asian Agri Group.

3.2. Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari mikroskop binokuler, merk Olympus type CX – 31, higrotermometer, termometer, talam plastik merk twin pan ukuran 36 cm x 27 cm x 67,5 cm, kotak plastik ukuran 12x12 cm, cawan petri, mesin shaker merk Barnstead thermolyne Maxi Mix II type 37600 (100-300 rpm), mesin semprot merk Tanika seri TNK 900 kapasitas 25 liter, handsprayer merk Midari, tutup kontainer ukuran 4,71 cm, jarum pemancing nematoda, bor tanah, kotak kayu ukuran 1,0 x 0,5 x 0,25 m, hand counter dan kertas label.

Bahan - bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputisampel tanah yang diambil dari delapan lokasi yang terdiri dari empatlokasi tanah mineral dan empatlokasitanah organik pada areal perkebunan kelapa sawit, ulat hongkong (T.

molitor), nematoda Steinernema sp., larva O. rhinoceros, janjangan kosong kelapa sawit, rumpukan batang kelapa sawit, tip-ex, alkohol, akuades serta kertas tisue.

(45)

23 3.3. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini merupakan rangkaian pekerjaan dari eksplorasi atau mencari nematoda Steinernema sp. berdasarkaan sumber inokulum, penapisan nematoda entomopatogen yang paling virulen terhadap larva O. rhinoceros, identifikasi nematoda entomopatogen dan mencari dosis Steinernema sp. yang paling virulen terhadap larva O. rhinoceros di laboratorium dan di lapangan menggunakan kotak kayu pada areal ternaungi dan areal terbuka serta pada rumpukan batang kelapa sawit. Adapun tahap pelaksanaan penelitian ini dilakukan sebagai berikut :

3.3.1. Pengambilan sampel tanah

Sampel tanah mineral dan organik diambil dari perkebunan kelapa sawit.

Masing-masing sampel tanah diambil dariempat lokasi yang berbeda. Sampel tanah mineral diambil dari Kebun Bahilang (37 m dpl), Kabupaten Serdang Bedagai, Kebun Tanah Datar (16 m dpl),Kabupaten Batubara, Kebun Pulau Maria (49 m dpl),Kabupaten Asahan, dimana ketiga Kebun di atas masuk ke dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara, Kebun Bungo Tebo (65 m dpl), Kabupaten Muara Bungo, Propinsi Jambi dan sampel tanah organik diambil dari Kebun Tanjung Selamat (10 m dpl), Kebun Negeri Lama Selatan (5 m dpl), Kebun Aek Kuo (5 m dpl)yang ketiga masuk ke dalam Kabupaten Labuhan Batu, Propinsi Sumatera Utara Sumut dan Kebun Rantau Baru, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau (15 m dpl). Sampel tanah diambil dari tempat teduh dengan kedalaman 5-15 cm dari permukaan tanah (± 2,0 kg) menggunakan bor tanah. Pengambilan tanah sebanyak tiga tempat dan diambil secara acak pada blok yang sama, kemudian tanah diaduk hingga rata dan dibersihkan (Gambar 4).

(46)

24 Gambar 4. Pembersihan sampel tanah yang diambil dari lapangan

3.3.1.1. Eksplorasi nematoda Steinernema sp. secara in-vivo

Menangkap nematoda Steinernema sp. bertujuan untuk mengetahui apakah tanah dari sumber inokulum yang berbeda tersebut mengandung nematoda Steinernema spp. serta memiliki virulensi yang baik. Sampel tanah yang sudah bersih kemudian dibawa ke laboratorium, laludimasukkan ke dalam cawan petri (1/2 dari tinggi cawan petri atau ± 25 g), masing-masing sampel tanah dibuat sebanyak empat cawan petri dan ke dalam cawan petri yang telah berisi media tanah tersebut diinfestasikan sebanyak 10ekor T. molitorper cawan petri kemudian cawan petri ditutup rapat dan diletakkan ditempat yang sedikit terkena cahaya matahari (Gambar 5). Bila pada media tanah tersebut terdapat nematoda Steinernema sp. yang virulen, maka T. molitor akan mati ± 2 hari setelah terinfeksi. Pengambilan nematoda Steinernema sp. yang terdapat pada tubuh T.

molitor dilakukan dengan cara white-trap. White-trap dilakukan dengan mengambil T. molitor yang sudah terinfeksi nematoda Steinernema sp., dibersihkan dengan alkohol 95% selama 15 menit, kemudian dibilas sebanyak tiga kali dengan akuades steril dan dikeringkan dengan kertas saring steril.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Hujan Bulan Oktober 2014, Prakiraan Hujan Bulan Desember 2014, Januari dan Pebruari 2015 disusun berdasarkan hasil pantauan kondisi fisis atmosfer dan data yang

Fisiologi gagal jantung atau payah jantung peningkatan kebutuhan oksigen dan peningkatan konsumsi oksigen oleh jantung yang diakibatkan oleh peningkatan pengaruh simpatis

Dari gambaran awal masalah Peran public space sebagai upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan binaan kota yang dapat dijumpai di

Pengenalan alat-alat yang akan dipergunakan dalam laboratorium ini sangat penting guna kelancaran percobaan yang dilaksanakan diantaranya adalah menghindari kecelakaan kerja

Perihal Pedoman Penyusunan Peratur Daerah tentang RSREP dan RTUR Kabupaten Daerah Tingkat II (Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Daeerah Tingkat II Gresik (RTUR

Na znaczenie zaufania zwracał też uwagę Jan Paweł II w czasie homilii wygłoszonej 5 czerwca 1979 roku do pielgrzymów z Dolnego Śląska i Śląska Opolskiego.. Zaznaczając, że

Untuk meng-encrypt data, kita menggunakan cara sederhana dengan menambahkan kode ASCII suatu karakter dengan angka-angka dalam konstanta SEED setelah kata itu dibalik, untuk huruf

Abstrak: Pelajaran Geografi bagi siswa masih di anggap pelajaran sulit karna konsep teori yang selalu selalu ada pada setiap topik. Sala satunya adalah topik