• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG

ANALISIS USAHA INTEGRASI AQUAPONIC TECHNOLOGY PADA BUDIDAYA LELE (Clarias sp.) DALAM PENGUATAN USAHA

SKALA UMKM DI MASA PANDEMI COVID-19

NIDN SINTA 1D Muhiddin Sirat, S.E., M.P. 0002015802 6682597 Darma Yuliana, S.Kel., M.Si. 0008078905 6718960 Deny Sapto Chondro Utomo, S.Pi., M.Si. 0031078404 38288

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG

Judul Penelitian : Analisis Usaha Integrasi Aquaponic Technology pada Budidaya Lele (Clarias sp.) dalam Penguatan Usaha Skala UMKM di Masa Pandemi Covid-19

Manfaat sosial ekonomi : Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Muhiddin Sirat, S.E., M.P.

b. SINTA ID : 6682597

c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

d. Program Studi : Ekonomi Pembangunan

e. Nomor HP : 0811723834

f. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1)

a. Nama Lengkap b. NIDN

: Darma Yuliana, S.Kel., M.Si.

: 0008078905

c. SINTA ID : 6718960

d. Program Studi : Sumberdaya Akuatik Anggota Peneliti (2)

a. Nama Lengkap b. NIDN

: Deny Sapto Chondro Utomo, S.Pi., M.Si.

: 0031078404

c. SINTA ID : 38288

d. Program Studi : Budidaya Perikanan Jumlah mahasiswa yang terlibat : 4 orang

1. Doni Bilga Komara Sakti (1954111005) 2. Sesar Dermawan (1954111008)

3. Aulia Hamidah (1954111007)

4. Nurfadila Maulana Hikmah (1914111020) Jumlah alumni yang terlibat : -

Jumlah staf yang terlibat : -

Lokasi kegiatan : Unit Kolam Budidaya Ikan di Desa Marga Agung, Kec.

Jati Agung, Kab. Lampung Selatan, Provinsi Lampung

Lama kegiatan : 6 bulan

Biaya penelitian : Rp. 20.000.000

Sumber dana : DIPA BLU Unila Tahun 2021

(3)
(4)

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

RINGKASAN ... 1

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan ... 2

1.2 Tujuan Khusus Penelitian... 3

1.3 Urgensi (Keutamaan) penelitian... 3

1.4 Luaran penelitian ... 3

1.5 Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas... 4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budidaya ikan lele (Clarias sp.) ... 5

2.2 Implementasi teknologi aquaponik ... 6

2.3 Analisis usaha ... 7

2.4 Roadmap penelitian ... 8

BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Materi Penelitian ... 9

3.2 Metode Penelitian ... 9

3.3 Jenis dan sumber data ... 11

3.4 Pertumbuhan Ikan Lele ... 11

3.5 Analisis usaha ... 12

3.6 Fishbone Diagram Metode Penelitian ... 16

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Aspek Teknis Budidaya Ikan Lele ... 17

4.2 Pertumbuhan Ikan Lele ... 19

4.3 Kualitas Air ... 19

4.4 Input Biaya Produksi Budidaya Akuaponik ... 24

4.5 Aspek Kelayakan Usaha ... 25

BAB. 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 30

(5)

v

DAFTAR PUSTAKA ... 31

LAMPIRAN

(6)

1 RINGKASAN

Usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.) dapat digolongkan pada skala usaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) karena usaha tersebut dijalankan secara individu,

rumah tangga, atau badan usaha ukuran kecil. Permasalahan utama pada budidaya ikan

yaitu sisa pakan, bahan organik, dan senyawa nitrogen toksik, penumpukan kandungan amonia dan limbah bahan organik dalam air kolam. Implementasi aquaponic technology yang merupakan teknologi integrasi budidaya ikan dan pemeliharaan tanaman dengan sistem simbiosis mutualisme dalam satu wadah budidaya ikan. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi mengurai limbah organik dalam kolam sehingga tidak berbahaya bagi ikan, dan memberikan suplai oksigen pada air untuk kehidupan ikan. Tujuan penelitian ini menganalisis usaha implementasi integrasi teknologi aquaponik pada budidaya ikan kovensional. Penelitian dilakukan selama 6 bulan (Mei – Oktober 2021) di unit kolam budidaya ikan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian eksperimental dengan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif terhadap dua perlakuan yaitu analisis kelayakan usaha budidaya ikan lele yang belum terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P0) dan yang sudah terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P1). Setiap kolam perlakuan dengan kepadatan ikan lele 2.000 ekor dengan ukuran tebar 5-7 cm/ekor dipelihara selama selama 3 bulan untuk panen.

Integrasi teknologi aquaponik pada kolam perlakuan (P1) dengan jumlah kepadatan bibit sayuran jenis selada yaitu 100 bibit per kolam perlakuan. Metode kuantitatif dilakukan dengan analisis usaha untuk mengetahui kegiatan usaha budidaya ikan Lele (Clarias sp.) memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan dilihat dari parameter Analisis Biaya Usaha, Penyusutan, Analisis Penerimaan, Arus Kas Bersih (Net Cash Flow), R/C ratio, B/C ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period. Dilihat dari kriteria usaha menguntungkan atau sangat layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C rasio yaitu 1,12 yang artinya setiap penambahan Rp1 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar 1,12 dan nilai keuntungan sebesar Rp.

346.536

/siklus.

Kata kunci: Aquaponic technology, Analisis usaha, Ikan Lele, Integrasi, Pandemi

Covid-19

(7)

2 BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

Usaha budidaya ikan lele dapat digolongkan pada skala usaha UMKM (Usaha

Mikro, Kecil, dan Menengah) karena usaha tersebut dijalankan secara individu, rumah tangga, atau badan usaha ukuran kecil. UMKM adalah salah satu penggerak ekonomi bangsa, sehingga keberadaan mereka sangat penting karena sifatnya yang fleksibel dan tidak menuntut modal besar membuatnya cocok sebagai alternatif usaha, terutama di tengah situasi sulit seperti masa pandemik Covid-19 saat ini. Permasalahan utama pada

budidaya ikan yaitu sisa pakan, bahan organik, dan senyawa nitrogen toksik, penumpukan kandungan amonia dan limbah bahan organik dalam air kolam. Sehingga jika air kolam dibuang setelah panen maka akan menjadi cemaran lingkungan. Solusi awal dengan implementasi aquaponic technology. Teknologi Aquaponik merupakan teknologi integrasi budidaya ikan dan pemeliharaan tanaman dengan sistem simbiosis mutualisme dalam satu wadah budidaya ikan. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi mengurai limbah organik dalam kolam sehingga tidak berbahaya bagi ikan, dan tanaman juga memberikan suplai oksigen pada air untuk kehidupan ikan. Usaha budidaya ikan dengan teknologi aquaponik dapat dinilai kelayakan keberlanjutan usaha dengan melakukan integrasi business feasibility analysis.

Tim penelitian bertujuan ingin menganalisis kelayakan usaha untuk mengetahui kegiatan usaha budidaya ikan lele (clarias sp.) memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan untuk membantu pembudidaya lele mendapatkan transfer teknologi budidaya lele terintegrasi dengan teknologi aquaponik serta informasi kelayakan keberlanjutan kegiatan usaha budidaya lele yang dapat menjadi dasar perencanaan pengembangan usaha ke tingkat usaha lebih tinggi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan melalui peningkatan pendapatan.

1.2. Tujuan Khusus Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan yaitu :

(8)

3 1. Mengimplementasikan teknologi aquaponik pada kolam budidaya lele dari berbasis

konvensional menjadi berbasis sustainable technology;

2. Menganalisis kegiatan usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.) apakah memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan.

1.3. Urgensi (Keutamaan) penelitian

Penelitian ini memiliki berbagai manfaat meliputi :

1. Peneliti menguji untuk mengetahui keuntungan implementasi teknologi aquaponik pada kolam budidaya lele dari berbasis budidaya ikan lele konvensional menjadi budidaya lele berbasis sustainable technology;

2. Peneliti mendapatkan informasi kelayakan usaha budidaya ikan lele dengan implementasi integrasi teknologi aquaponik.

3. Pembudidaya ikan lele mengetahui perbandingan pendapatan antara usaha budidaya ikan lele yang dijalani secara konvensional dan berbasis integrasi teknologi aquaponik untuk peningkatan pengembangan usaha skala UMKM, pertambahan jumlah lapangan pekerjaan, peningkatan perekonomian dan kesejahteraan keluarga.

1.4. Luaran penelitian

Penelitian ini berada pada Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 1 sampai 3 dengan indikator capaian sebagai berikut :

 TKT 1 berupa formulasi pertanyaan riset atau hipotesis penelitian terkait analisis

kelayakan usaha budidaya lele (Clarias sp.) terintegrasi dengan aquaponic technology sudah ada;

 TKT 2 berupa studi literatur tentang prinsip dasar terkait penelitian analisis

kelayakan usaha budidaya lele (Clarias sp.) terintegrasi dengan aquaponic technology sudah dilakukan;

 TKT 3 berupa produk budidaya lele (Clarias sp.) terintegrasi dengan aquaponic

technology yang diteliti dan akan dikembangkan sudah ada dan memiliki peluang keberhasilan.

Luaran wajib penelitian yaitu :

(9)

4 1. Satu artikel ilmiah di jurnal terindeks SCOPUS Q3 yaitu Biodiversitas, Journal of

Biological Diversity (p-ISSN 1412-033X dan e-ISSN 2085-4722)

2. Satu artikel yang dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah yang diselenggarakan LPPM Unila

1.5. Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas

Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas

No Tim Penelitian Tugas

1. Ketua a. Mengkoordinasikan tim penelitian

b. Membuat jadwal kerja tim penelitian c. Survei lokasi

d. Monitoring proses penelitian e. Koleksi data

f. Analisis kelayakan usaha

g. Membuat laporan akhir penelitian

2. Angoota 1 a. Survei lokasi

b. Mempersiapkan alat dan bahan penelitian c. Aplikasi teknologi aquaponik

d. Membuat publikasi artikel ilmiah a. Membuat laporan keuangan penelitian

3. Anggota 2 a. Survei lokasi

b. Monitoring mahasiswa dan staf yang terlibat dalam penelitian

c. Aplikasi teknologi aquaponik d. Membuat publikasi artikel ilmiah e. Membuat presentasi hasil penelitian

Keterlibatan mahasiswa Universitas Lampung pada kegiatan penelitian melibatkan nama mahasiswa Prodi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan FP Unila sebagai berikut.

1. Doni Bilga Komara Sakti (1954111005) 2. Sesar Dermawan (1954111008)

3. Aulia Hamidah (1954111007)

4. Nurfadila Maulana Hikmah (1914111020)

(10)

5 BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Budidaya ikan lele (Clarias sp.)

Ikan lele (Clarias sp.) merupakan jenis komoditas ikan unggulan dengan nilai ekonomi tinggi dan pengembangan usaha dilakukan mulai dari benih hingga ukuran konsumsi (Rochaeni, 2009). Lele mempunyai kebiasaan beraktivitas dan mencari makanan saat malam hari (nocturnal). Saat siang hari lele cenderung berdiam diri dan berlindung di daerah yang tenang. Lele dapat memakan zat-zat renik seperti daphnia, moina, copepoda, dan cladocera. Lele juga dapat memakan hewanhewan air yang lebih besar, bahkan memakan bangkai. Oleh sebab itu, lele digolongkan ke dalam ikan karnivora (pemakan daging) (Saparinto dan Susiana, 2014).

Permasalahan utama pada budidaya ikan yaitu sisa pakan, bahan organik, dan senyawa nitrogen toksik, penumpukan kandungan amonia dan limbah bahan organik dalam air kolam. Sehingga jika air kolam dibuang setelah panen maka akan menjadi cemaran lingkungan (Gunadi dan Hafsaridewi, 2008).

Gambar 1. Alat kelamin ikan betina dan jantan (De Graaf dan Janssen, 1996).

(11)

6

Ikan lele ditemukan di berbagai jenis perairan, akan tetapi paling sering ditemukan di perairan yang keruh, berlumpur, dan rawa (Courtenay et al., 1974). Ikan lele dapat hidup di perairan dengan salinitas rendah hingga cukup tinggi. Courtenay (1970) melaporkan bahwa ikan lele ditemukan di daerah pesisir dengan salinitas 18 ppt.

Tabel 1. Kondisi lingkungan yang baik untuk ikan lele

Parameter Nilai

DO CO2

pH

Temperatur NH4

5-5,69 ppm 11,06-11,7 ppm

6,5-7,5 24-30,2° C 147,29-157,56 ppm Sumber: Handojo et al., 1986.

2.2. Implementasi teknologi aquaponik

Teknologi aquaponik merupakan teknologi yang membudidayakan tanaman dan ikan dalam satu tempat. Teknik ini mengintegrasikan budidaya ikan secara tertutup (resirculating aquaculture) yang dipadukan dengan tanaman. Dalam proses ini tanaman memanfaatkan unsur hara yang berasal dari kotoran ikan. Bakteri pengurai akan mengubah kotoran ikan menjadi unsur nitrogen, kemudian unsur tersebut akan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi pada tanaman (Fathulloh dan Budiana, 2015).

Teknologi Aquaponik merupakan teknologi integrasi budidaya ikan dan pemeliharaan tanaman dengan sistem simbiosis mutualisme dalam satu wadah budidaya ikan. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi mengurai limbah organik dalam kolam sehingga tidak berbahaya bagi ikan, dan tanaman juga memberikan suplai oksigen pada air untuk kehidupan ikan. Pembudidaya ikan yang mengaplikasikan akan menguntungkan, karena lahan yang dipakai tidak akan terlalu luas. Ikan adalah kunci dalam teknologi aquaponic dengan menyediakan nutrisi bagi tanaman. Jenis ikan ini tergantung pada iklim lokal dan jenis yang tersedia di pasaran. Aquaponik tidak hanya baik untuk sayuran hijau. Aquaponik akan menumbuhkan hampir semua jenis sayuran (Fatmawati, 2018). Ikan yang dibudidayakan dengan metode akuaponik sebaiknya yang dapat dikonsumsi, mempunyai nilai ekonomis, dan memiliki keindahan misalnya ikan lele dan ikan nila (Lingga, 1999).

Beberapa manfaat dari budidaya dengan sistem aquaponik antara lain adalah 1)

kotoran ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang baik bagi

(12)

7 pertumbuhan tanaman; 2) produk yang dihasilkan merupakan produk organik karena hanya menggunakan pupuk dari kotoran ikan yang telah melalui proses biologis; 3) menghasilkan dua produk sekaligus; yaitu sayur dan ikan, dari satu unit produksi; 4) dapat menghasilkan sayuran segar dan ikan sebagai sumber protein pada daerah-daerah kering dan ketersediaan lahan terbatas; 5) bersifat berkelanjutan dengan perpaduan tanaman dan ikan dan siklus nutrient; 6) selain untuk aplikasi komersial, aquaponik telah menjadi tempat pembelajaran yang populer bagi masyarakat maupun siswa-siswa kejuruan perikanan tentang biosistem terpadu; 7) populasi tanaman organik yang dapat ditanam 10 kali lipat lebih banyak dan setiap akar tanaman selalu mendapat pasokan air yang kaya akan zat hara; dan 8) pemeliharaan yang mudah, tidak memerlukan penyiangan, terbebas dari hama tanah dan tidak memerlukan penyiraman dan jika pertumbuhannya baik, tanaman akan tumbuh lebih cepat (Fatmawati, 2018).

2.3. Analisis usaha

Menurut Soekartawi (2016) pendapatan usaha adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Penerimaan usaha adalah perkalian antara produksi dengan harga jual.

Penerimaan usaha, yaitu penerimaan dari semua sumber usahatani yang meliputi jumlah penambahan investasi, nilai penjualan hasil, nilai penggunaan rumah dan barang yang dikonsumsi. Untuk menghitung penerimaan, data mengenai jenis dan jumlah produk serta harga dari masing-masing jenis produk yang dijual harus diketahui. Sedangkan pengeluaran usahatani adalah semua biaya operasional dengan tanpa memperhitungkan bunga dari modal usahatani dan nilai kerja pengelola usahatani. Pengeluaran ini meliputi pengeluaran tunai, penyusutan benda fisik, pengurangan nilai inventaris, dan nilai tenaga kerja yang tidak dibayar.

Soekartawi (2016) juga menjelaskan bahwa pendapatan usahatani dibedakan

menjadi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Dimana pendapatan

atas biaya tunai merupakan pendapatan yang diperoleh atas biaya-biaya yang benar-benar

dikeluarkan oleh petani, sedangkan pendapatan atas biaya total merupakan pendapatan

setelah dikurangi biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Selain itu untuk menganalisis

biaya dan pendapatan usaha, umumnya disertai analisis seperti analisis rasio penerimaan

atas biaya (R/C Ratio), analisis rasio keuntungan atas biaya (B/C Ratio), dan analisis titik

impas (break even point).

(13)

8 ROADMAP PENELITIAN

Produksi Hortikultura Organik (DIPA BLU UNILA, 2019)

Implementasi Teknologi Polikultur Ikan Kakap Putih dan

Kerang Hijau (DIPA BLU UNILA, 2020)

ANALISIS USAHA INTEGRASI AQUAPONIC TECHNOLOGY

PADA BUDIDAYA LELE (CLARIAS SP.) DALAM PENGUATAN USAHA SKALA UMKM DI MASA PANDEMI

COVID-19

Feasibility Analysis Of Freshwater Fish Farming Business Development In

Pringsewu District (Jurnal Aquasains, Vol 8(2)

Maret 2020)

Optimalisasi Penggunaan Sumberdaya Usahatani Sayuran (Hortikultura) Pola Tumpangsari

(Studi di Desa Rulung Sari Kecamatan Natar Kabupaten

Lampung Selatan

(Jurnal Ekonomi Pembangunan, 7(3) November 2018)

Performa Pertumbuhan, Karakteristik Seksual , Dimorfisme dan Histologi Pertumbuhan Gonad Ikan Gabus dengan Penambahan

Hormon Rekombinan (DIPA BLU UNILA, 2020)

Analisis Pertumbuhan Udang Vaname pada Salinitas Rendah

(DIPA FP UNILA, 2017)

(14)

9 BAB 3.

METODE PENELITIAN

3.1. Materi penelitian

Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pot tanam, batu kerikil, batu apung, sabut kelapa, pipa paralon 3/4", pipa paralon 1/2", elbow 3/4", tutup pipa 3/4", submersible pump, benih lele, TDS meter, benih tanaman selada, pakan ikan, baki semai benih, waring, alat tulis dan kertas.

3.2. Metode penelitian

Penelitian dilakukan selama 6 bulan (Mei – Oktober 2021) di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Penelitian eksperimental dengan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif terhadap dua perlakuan yaitu analisis kelayakan usaha budidaya ikan lele yang belum terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P0) dan yang sudah terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P1). Setiap kolam perlakuan dengan kepadatan ikan lele 150 ekor/m

2

dengan ukuran tebar 5-7 cm/ekor dipelihara selama selama 3 bulan untuk panen.

Integrasi teknologi aquaponik pada kolam perlakuan (P1) dengan jumlah kepadatan bibit sayuran jenis selada yaitu 100 bibit per kolam perlakuan. Metode kuantitatif dilakukan dengan analisis usaha untuk mengetahui kegiatan usaha budidaya ikan Lele (Clarias sp.) memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan dilihat dari parameter Analisis Biaya Usaha, Penyusutan, Analisis Penerimaan, Arus Kas Bersih (Net Cash Flow), R/C ratio, B/C ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period.

3.2.1. Instalasi teknologi aquaponik

a. Tahap Persiapan. Tahap ini terbagi menjadi dua jenis kegiatan yaitu sosialisasi kepada kelompok mitra serta persiapan perlengkapan dan survey.

b. Tahap Pelaksanaan. Setelah terbentuk kesepakatan antara diseminator dan mitra

mengenai program kerja dan jadwal kegiatan, maka program dapat segera

dilaksanakan. Program yang akan dilakukan berupa penerapan teknologi aquaponik

terdiri dari kegiatan pemasangan instalasi teknologi akuaponik, proses penebaran

(15)

10 ikan, penyemaian, pemeliharaan dan perawatan ikan dan sayuran, pemanenan, pengemasan, hingga pemasaran.

Langkah kerja budidaya ikan lele terintegrasi dengan teknologi aquaponik adalah sebagai berikut:

1) Persiapan instalasi akuaponik.

Instalasi akuaponik berbeda dengan instalasi pemeliharaan ikan pada umumnya. Kolam budidaya yang dimiliki oleh akan sedikit dimodifikasi sehingga akan ada ruang umtuk pemeliharaan sayuran. Oleh karena itu, akan dibuat sirkulasi air yang khusus menggunakan pipa paralon guna mengalirkan air budidaya ke media penanaman sayuran. Air yang telah dilewatkan ke media penanaman sayuran (dimana kandungan nitrogen berkurang karena telah dimanfaatkan oleh sayuran) akan dikembalikan ke dalam kolam budidaya ikan. Hal yang perlu diperhatikan pada teknologi akuaponik ini adalah, mempertahankan sirkulasi air tetap berjalan dengan lancar. Media tanam sayuran yang digunakan terdiri dari 3 lapisan yaitu serabut kelapa, batu kerikil dan arang. Media tersebut berfungsi untuk menangkap bahan organik yang berasal dari air kolam agar dapat dimanfaatkan oleh sayuran. Sebelum digunakan bahan-bahan yang digunakan sebagai media tanam dibersihkan terlebih dahulu sehingga tidak ada kontaminan yang dapat mencemari air kolam.

2) Penyemaian sayuran dan penebaran ikan lele

Sayuran yang ditanam pada akuaponik antara lain Selada, Sawi, Kangkung, Cabai merah keriting, cabai rawit, tomat, dan terong. Sebelum sayuran ditempatkan pada media akuaponik, benih terlebih dahulu disemai di tempat terpisah. Setelah bibit berusia sekitar sebulan (tinggi 10 cm), baru dapat ditanam di media akuaponik. Sembari menunggu bibit berusia satu bulan masa penyemaian, ikan sudah mulai dipersiapkan di kolam budidaya. Tujuannya adalah agar saat dipindahkan ke media akuaponik nutrisi yang ada pada air budidaya sudah cukup untuk kebutuhan pertumbuhan sayuran.

Padat tebar ikan dan sayuran yang akan digunakan dalam teknologi akuaponik

disesuaikan dengan jenis ikan yang akan dipelihara. Pada kegiatan ini akan dipelihara

ikan lele dengan padat tebar 2.000 ekor dengan ukuran tebar 5-7 cm/ekor. Sementara

(16)

11 sayuran yang akan dipelihara adalah dari jenis selada dengan kepadatan yaitu 100 bibit per kolam.

3) Pemeliharaan dan perawatan

Tahap pemeliharaan ini sama seperti pemeliharaan ikan pada umumnya yaitu pemberian pakan, pengecekan kualitas air, dan kontrol kesehatan ikan. Yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah kelancaran sirkulasi air ke media penanaman sayuran.

Teknologi akuaponik yang mengutamakan prinsip penghematan air memungkinakan pembudidaya tidak lagi perlu melakukan pergantian air secara berkala. Yang perlu dilakukan hanyalah penambahan air ketika air berkurang akibat adanya penguapan.

Selain itu, karena pada teknologi akuaponik ini mengutamakan hasil panen berupa sayuran organik maka sayuran tidak perlu lagi diberi pupuk dan juga tidak menggunakan pestisida. Guna mencegah timbulnya hama pada tanaman, maka kami mensiasatinya dengan penyelingan jenis tanaman.

4) Pemanenan

Pemanenan sayuran dapat dilakukan setelah 1,5 bulan pemeliharaan dalam sistem akuaponik. Sedangkan ikan lele dapat dipanen setelah dipelihara selama 3 bulan.

Sehingga dalam waktu 3 bulan dapat dilakukan dua siklus penanaman/pemanenan sayuran.

3.3. Jenis dan sumber data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Sumber data primer dari penelitian ini adalah data biaya produksi, data j umlah produksi, data harga jual, dan data penerimaan usaha, serta informasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian.

3.4. Pertumbuhan Ikan Lele

3.4.1. Pertumbuhan Bobot Mutlak

Laju pertumbuhan bobot mutlak ikan dapat dihitung dengan menggunakan rumus

Effendie (1979), yaitu:

(17)

12 Wm = Wt − Wo

Dimana:

Wm = pertumbuhan bobot mutlak (g) Wt = bobot akhir (g) Wo = bobot awal (g) 3.4.2. Pertumbuhan Panjang Mutlak

Pertumbuhan panjang mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (2004):

Lm = L

1

- L

n

Dimana:

Lm = Pertumbuhan panjang mutlak (cm)

L

1

= Panjang akhir ikan (cm) L

n

= Panjang awal ikan (cm) 3.4.3. Tingkat Kelulushidupan

Jumlah ikan yang hidup pada awal dan akhir penelitian memberikan informasi tingkat kelulushidupan ikan. Menurut Effendie (2002), tingkat kelulushidupan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

SR =

100 %

No

SR = Kelulushidupan (%)

Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian (ekor) No = Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian (ekor)

3.5.Analisis usaha

3.5.1. Analisis Biaya Usaha

Mengacu kepada Soekartawi (2016), analisis biaya usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan menjumlahkan biaya tetap dan biaya tidak tetap.

Perhitungan analisis biaya usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dapat dirumuskan sebagai berikut:

TB = BT + BV Keterangan

TBL : total biaya budidaya lele

(18)

13 BTL : biaya tetap budidaya lele

BVL : biaya variabel budidaya lele

3.5.2. Penyusutan

Mengacu kepada Padangaran (2013), metode yang digunakan untuk perhitungan penyusutan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang adalah metode garis lurus (straight line method). Dalam metode ini nilai penyusutan sama besarnya dari tahun ke tahun atau dari bulan ke bulan, tergantung satuan waktu yang digunakan. Rumus yang digunakan untuk menghitung penyusutan dengan metode garis lurus adalah sebagai berikut.

Penyusutan = NBi – Nsi UEi Keterangan :

NBi : Nilai Beli Barang ke i NSi : Nilai Sisa Barang ke i UEi : Umur Ekonomis Barang ke i

3.5.3. Analisis Penerimaan

Mengacu kepada Soekartawi (2016), analisis penerimaan usaha dapat dilakukan dengan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Hal tersebut dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut

TPL = JBL x HBL Keterangan :

TPL : total penerimaan budidaya lele JBL : jumlah benih budidaya lele HBL : harga benih budidaya lele

3.5.4. Arus Kas Bersih (Net Cash Flow)

Mengacu kepada Halim (2007), selama proyek investasi beroperasi selama itu pula akan terjadi arus kas keluar (cash outflow), misalnya untuk membayar biaya-biaya operasional.

Di sisi lain juga akan terjadi arus kas masuk (cash inflow), misalnya dari penjualan produk.

(19)

14 Bila arus kas masuk melebihi arus kas keluar, maka akan terdapat arus kas bersih (Net Cash Flow). Perhitungan Net Cash Flow dapat dijelaskan pada rumus sebagai berikut.

KBL = LSPL + PAT Keterangan :

KBL : kas bersih budidaya lele

LSPL : laba setelah pajak usaha budidaya lele PAT : penyusutan aset tetap

3.5.5. Analisis Rasio Peneriman atas Biaya (R/C Rasio)

Mengacu kepada Soekartawi (2016: 85), analisis R/C rasio merupakan analisis yang membandingkan antara penerimaan dan biaya. Analisis ini digunakan untuk melihat perbandingan total penerimaan dengan total biaya. Secara sistematis R/C Rasio dapat dirumuskan sebagai berikut.

R/C Ratio = TPL

TBL Keterangan:

TPL : total penerimaan budidaya lele TBPL : total biaya budidaya lele Dengan kriteria hasil sebagai berikut.

1) R/C Rasio > 1 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang menguntungkan dan layak untuk dijalankan.

2) R/C Rasio < 1 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dijalankan.

3) R/C Rasio = 1 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang yang dijalankan dalam kondisi titik impas

3.5.6. Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Rasio)

Mengacu kepada Soekartawi (2016), analisis B/C rasio merupakan analisis perbandingan

antara kas bersih dan biaya. B/C rasio adalah perbandingan nilai selisih biaya manfaat

yang positif dan negatif. Suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat apabila

B/C Ratio lebih besar dari nol. Semakin besar nilai rasio B/C Ratio, maka semakin besar

pula manfaat yang akan diperoleh dari usaha tersebut. Secara sistematis B/C Rasio dapat

dirumuskan sebagai berikut/

(20)

15

B/C Ratio = KBL

TBL Keterangan:

KBL : Kas bersih budidaya lele TBL : total biaya budidaya lele Dengan kriteria hasil sebagai berikut:

1) B/C Rasio > 0 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang menguntungkan dan layak untuk dijalankan

2) B/C Rasio < 0 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dijalankan

3) B/C Rasio = 0 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang yang dijalankan dalam kondisi titik impas

3.5.7. Analisis Break Even Point (BEP)

Mengacu kepada Padangaran (2013), analisis break even point atau bisa juga disebut analisis titik pulang pokok adalah suatu teknik analisis yang digunakan untuk menghitung jumlah volume produksi, sebuah usaha akan mencapai titik di mana penerimaan persis sama dengan total modal yang digunakan. Ada dua jenis perhitungan BEP yaitu, BEP volume dan BEP harga produksi. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut.

BEP Volume = TBL HBL Keterangan:

TBL : Total biaya budidaya lele HBL : Harga lele

BEP Harga = TBL VBL

Keterangan:

TBL : Total biaya budidaya lele HBL : Volume penjualan lele

BEP Produksi bertujuan untuk mengetahui volume produksi yang dibutuhkan untuk

mencapai titik impas dalam usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Sedangkan BEP

harga digunakan untuk mengetahui berapa harga yang dibutuhkan untuk mencapai titik

impas dalam usaha budidaya ikan lele.

(21)

16 3.5.8. Analisis Payback Period

Mengacu kepada Kasmir dan Jakfar (2005), metode payback period merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Perhitungan payback period dapat dilakukan secara sistematis dengan rumus sebagai berikut.

Payback Period = I x 1 tahun

PU Keterangan:

I : Investasi

PU : Pendapatan usaha budidaya lele

(22)

16

FISHBONE DIAGRAM METODE PENELITIAN

(23)

17 BAB 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Aspek Teknis Budidaya Ikan Lele

Budidaya aquaponik merupakan salah satu kombinasi antara budidaya tanaman dan budidaya ikan dalam satu wadah. berfungsi tanaman sebagai filter atau penyaring dari air limbah budidaya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk budidaya ikan (Firdaus dkk., 2018).

4.1.1. Persiapan Lahan

Kolam budidaya ikan nila berbasis teknologi aquaponik yang berada di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung berjumlah 1 (satu) petak dengan ukuran 2x 8 m. Kolam tersebut di sekat secara permanen menjadi 2 (dua) petak dengan ukuran masing – masing 2 x 4 m.

Gambar 3. Persiapan kolam

Dalam proses pembuatan kolam budidaya aquaponik tentunya menggunakan biaya selama pembuatan kolam. Biaya yang dimaksud adalah biaya tetap dan biaya variabel.

Langkah yang dilakukan dalam persiapan budidaya ikan Nila yaitu seperti 1) Memilih lokasi budidaya yang strategis dan aman, 2) Melakukan pembersihan dan pembuatan lantai dasar kolam budidaya 3) Pemasangan tempat pelindung ikan menggunakan paranet.

4.1.2. Penebaran Benih

Penebaran benih ikan lele dilakukan pada pagi hari saat sinar matahari dalam keadaan

tidak panas. Penebaran benih yang ditebar adalah 2.000 ekor benih.Harga benih ikan lele

Rp 170/ekor. Komponen biaya yang dipakai dalam proses penebaran benih yaitu biaya

(24)

18 variabel dan biayan tetap. Biaya variabel yang dimaksud adalah benih ikan yang ditebar sementara biaya tetap adalah wadah atau tempat benih ikan nila yang siap untuk ditebar.

Ikan ditebar setelah air kolam berumur satu minggu, hal ini dilakukan untuk menumbuhkan bakteri nitrifikasi yang dicirikan dengan air kolam menjadi lebih keruh.

Proses menumbuhkan bakteri nitrifikasi disebut dengan tank cycling.

3. Pemeliharaan

Proses pemeliharaan yang dilakukan yaitu dengan cara memperhatikan kondisi air, memperhatikan kondisi ikan, melakukan pergantian air kolam, perawatan kolam budidaya ikan nila dan pemberian pakan. Untuk pemberian pakan menggunakan pellet dan pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pagi (jam 06.00 – 08.00), siang (jam 12.00 –13.00) dan sore (16.00 – 17.00).

4. Pemanenan

Ikan lele dapat dipanen setelah masa pemeliharaan 2 sampai 3 bulan atau setelah mencapai ukuran konsumsi. Prosedur Pemanenan dilakukan dengan cara mengeringkan kolam hingga ketinggian air tinggal 20-30 cm atau ikan dipanen dengan cara menggunakan jaring. Pemanenan dilakukan sore hari dengan menggunakan alat tangkap jaring dan seser, hal tersebut dilakukan untuk mengurangi resiko kematian.

Proses pemanenan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu : (1) Pada saat sebelum panen ikan yang dibudidayakan tidak diberikan makan selama 6 jam. (2) Sebelum dilakukan pemanenan terlebih dahulu dilakukan pengeringan air kolam. (3) Sebelum panen alat yang digunakanan untuk menangkap ikan yaitu seser dan jaring agar mengurangi resiko kematian. (4) Ikan yang telah ditangkap disimpan ditempat yang sudah disediakan.

Gambar 4. Pemanenan

(25)

19 4.2. Pertumbuhan Ikan Lele

Pemeliharaan ikan lele percobaan dilakukan selama 2,5 bulan. Pakan yang diberikan adalah pakan komersil yang disesuaikan dengan bukaan mulut yaitu pakan yang berbentuk butiran dengan kadar protein ± 30%. Pakan di berikan sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari. Menurut Effendie (2002), pertumbuhan adalah penambahan ukuran panjang atau berat ikan dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh pakan, umur dan ukuran ikan.

Mudjiman 1998, menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan yang meliputi keturunan, kemampuan untuk memanfaatkan makanan dan ketahanan terhadap penyakit. Faktor eksternal merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat hidup ikan yang meliputi sifat fisika dan kimia air, ruang gerak dan ketersediaan makanan dari segi kualitas dan kuantitas (Huet 1971).

Pengukuran panjang dan berat awal menggunakan persediaan ikan dengan mengambil sampling ikan sebanyak 25 ekor masing – masing perlakuan. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan media yang berisi air dengan cara air di timbang terlebih dahulu kemudian menyetel timbangan keangka nol. Setelah itu ikan di masukkan kedalam media berisi air tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari stress dan kematian pada ikan uji.

Gambar 5. Pengukuran panjang dan berat ikan lele

(26)

20 Gambar 6. Bobot ikan lele selama pemeliharaan

Hasil penelitian menunjukkan pertambahan bobot per ekor lele hampir sama, namun berbeda pada pemeliharaan hari ke 28 dan seterusnya. Rata-rata pertambahan bobot ikan lele terendah diperoleh pada sistem non akuaponik (perlakuan NA) dan rata-rata pertambahan yang tertinggi terdapat pada perlakuan system akuaponik.

Gambar 7. Panjang ikan lele selama pemeliharaan

Pengukuran terhadap panjang ikan lele selama penelitian menunjukkan pertambahan panjang yang tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukan dengan sistem akuaponik pertambahan panjang tidak berbada dibandingkan dengan yang dipelihara pada media tanpa sistem akuaponik.

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00

H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49

Bobot Ikan (g)

Hari ke-

NA A

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00

H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49

Panjang Ikan (cm)

Hari ke-

NA A

(27)

21 Gambar 8. Pertumbuhan bobot mutlak ikan lele

Gambar 8. Pertumbuhan panjang mutlak ikan lele

Perlakuan sistem akuaponik (A) yang memberikan nilai terbaik berat dan panjang terhadap pertumbuhan ikan mutlak disbanding perlakuan non akuaponik (NA). Sistem akuaponik dimana tanaman diduga lebih efektif dalam memanfaatkan limbah budidaya menjadi nutrisi yang dibutuhkan tanaman yang berasal dari air yang mengalir dari pemeliharaan ikan lele. Pemanfaatan hara dalam air oleh tanaman diduga berpengaruh baik bagi pertumbuhan ikan.

Pertumbuhan benih ikan lele dapat terjadi apabila, jumlah nutrisi pakan yang dicerna dan diserap oleh ikan lebih besar dari jumlah yang diperlukan untuk pemeliharaan tubuhnya.

Ikan lele akan mengalami pertumbuhan lambat dan kecil ukurannya apabila pakan yang diberikan kurang memadai. Hal tersebut karena sumber nutrisi dalam bahan pangan tidak

75.00 76.00 77.00 78.00 79.00 80.00 81.00 82.00

NA A

Pertumbuhan Bobot Mutlak (g) PBM

Perlakuan

10.30 10.40 10.50 10.60 10.70 10.80 10.90 11.00 11.10 11.20

NA A

Pertumbuhan Panjang Mutlak (cm) PPM

Perlakuan

(28)

22 dapat diserap oleh benih lele, dan pakan yang diberikan tidak mengandung nutrien yang sesuai kebutuhan nutrisi benih lele.

Biofilter akuaponik merupakan sistem pada teknik budidaya yang mempertahankan kualitas air diatas ambang toleransi selama periode tertentu tanpa mengganggu pertumbuhan ikan yang dipadukan dengan sistem tanaman akuatik (Sagita et.al, 2014).

Menurut Rakocy et al. (1993) dalam DKP (2008) tanaman akuatik secara efektif dapat memanfaatkan unsur hara sehingga memiliki beberapa keuntungan dari efisiensi penggunaan air dan pengurangan pencemaran limbah hasil buangan ke perairan umum.

Keuntungan dari sistem ini adalah efiseien dalam pemanfaatan air dan lebih ramah lingkungan, karena kondisi air yang digunakan dapat terkontrol dengan baik (Lasordo, 1994).

Gambar 9. Kelangsungan Hidup Ikan Lele

Tingkat kelangsungan hidup suatu organisme dapat terpengaruh oleh beberapa faktor, yaitu antara lain abiotik, kompetisi antar jenis, kekurangan pakan, penambahan populasi dalam ruang lingkup yang sama, predator atau parasit, penanganan manusia, umur organisme dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Effendie (1997) kelangsungan hidup suatu populasi ikan merupakan nilai persentase jumlah ikan yang hidup dalam suatu wadah selama masa pemeliharaan tertentu. Tingkat kelangsungan hidup ikan atau survival rate (SR) akan menentukan jumlah produksi yang diperoleh.

Tingkat kelangsungan hidup ikan lele yang tertinggi selama penelitian 2,5 bulan pemeliharaan yaitu 71,5% pada perlakuan sistem akuaponik (A), kemudian tingkat kelangsungan hidup terendah pada perlakuan non akuponik (NA) sebesar 66,8%,.

0 10 20 30 40 50 60 70 80

NA A

Kelangsungan Hidup (%)

Perlakuan

(29)

23 Menurut Amrial (2009). Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh kondisi fisika-kimia perairan jika perubahan lingkungannya terjadi di luar kisaran toleransi suatu hewan, maka cepat atau lambat hewan tersebut akan mati.

Pada perlakuan sistem akuaponik (A) ini diduga sebagai respon adaptasi terhadap lingkungan dan perlakuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Effendi et al.

(2015) bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan lele dengan perlakuan kangkung dengan sistem resirkulasi lebih tinggi.

4.3. Kualitas Air

Suhu pada kolam akuaponik dan konvensional tidak berbeda jauh hal ini diduga karena suhu kolam di pengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman badan air (Effendi, 2003). Suhu air berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan.

Ikan lele dapat hidup pada suhu air berkisar antara 20±30 C. Suhu air yang sesuai akan meningkatkan aktivitas makan ikan, sehingga menjadikan ikan lele cepat tumbuh.

Keasaman pH dapat menyebabkan ikan stress, mudah terserang penyakit , produktivitas dan pertumbuhan rendah Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya terdapat antara 7 sampai 8,5. Berdasarkan hasil pengukuran bahwa sistem akuaponik dan konvensional masih relatif sama dan perubahan lingkungan yang terjadi tidak terlalu signifikan, sehingga pH tidak mempengaruhi dikedua sistem tersebut.

Kandungan DO pada kolam konvensional lebih rendah di bandingkan dengan kolam biofilter akuaponik hal ini mengakibatkan ikan lebih banyak yang mati, hal ini sesuai dengan pernyataan Saptarini (2010) bahwa ikan akan saling berkompetisi dengan ikan yang lain untuk melakukan respirasi, selain itu ikan juga akan berkompetisi dengan bakteri aerob sehingga kondisi tersebut mengakibatkan konsentrasi oksigen terlarut di kolam menurun drastis. Pada kolam akuaponik kandungan oksigen lebih tinggi hal ini diduga karena adanya air yang keluar secara gravitasi pada wadah biofilter.

Dalam sistem akuaponik terdapat interaksi antara budidaya ikan, tanaman kangkung,

serta bakteri. Pada penelitian ini jumlah pakan yang diberikan pada ikan lele diduga ada

yang tidak termanfaatkan, selain itu sisa hasil metabolisme ikan lele berupa feses dan urin

yang masuk ke dalam media budidaya dapat menyebabkan menurunnya kualitas air

berupa peningkatan kadar amonia dan nitrit yang dapat membahayakan benih lele yang

(30)

24 dibudidayakan. Dengan sistem akuaponik, kualitas air media budidaya dapat dipertahankan akibat adanya interaksi antara ikan lele dan tanaman air dalam pemanfaatan nutrien dimana bakteri sebagai Protein yang berasal dari pakan akan dikonversi menjadi senyawa yang sederhana dengan adanya bakteri pengkonversi seperti Nitrosomonas yang mampu mengkonversi ammonia menjadi nitrit, dan Nitrobakter yang mampu mengkonversi nitrit menjadi nitrat ; nitrat ini akan digunakan oleh tanaman kangkung air sebagai nutrien sehingga dalam sistem akuaponik akan terjadi keseimbangan unsur nitrogen

4.4. Input Biaya Produksi Budidaya Aquaponik 4.4.1. Biaya Penyusutan (biaya tetap)

Beberapa biaya investasi yang digunakan pada usaha budidaya aquaponik adalah dilihat dalam Tabel 2 sebagai berikut;

Tabel 2. Biaya Investasi Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik

No Barang Harga Jumlah Satuan

Umur Ekonomis

(bulan)

Penyusutan (Rp/Siklus)

1 Rehab Kolam 2,000,000 1 Paket 36 125,000

2

Pipa paralon 3 Inc

68,000 4 Buah 36 5,250

3

Sambungan pipa L 3 Inc

15,000 8 Buah 36

833

4

Sambungan pipa T 3inc

18,000 4 Buah 36

1,083

5 Lem Pipa 10,000 4 Buah 2 22,500

6 Net Pot 25,000 24 Buah 24 2,500

7 Arang 50,000 5 Buah 3 112,500

8 Paranet 140,000 1 Ball 24 11,250

9 Meteran 80,000 1 Buah 36 5,833

10 Mesin Bor 210,000 1 Buah 36 13,333

11 Gergaji 125,000 2 Buah 36 6,250

12 Timbangan 150,000 2 Buah 36 8,333

13

Submersible

pump 400,000 1 Buah 36

26,667

Total 341,333

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021 4.4.2. Biaya Tetap/siklus

Tabel 3. Biaya Tetap Usaha Budidaya Ikan Lele

(31)

25 Komponen Biaya Satuan Jumlah Harga (Rp) Biaya Tetap

(Rp/Siklus)

Penyusutan (A) Paket 1 341,333 341,333

Penyusutan (NA) Paket 1 151,667 151,667

Ket: (A) Sistem Akuaponik, (AN) Tanpa Sistem Akuaponik Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

4.4.3. Biaya Variabel

Tabel 4 Biaya Variabel Pada Usaha Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik

No Barang Jumlah Satuan Harga

Harga (Rp/Siklus)

1 Bibit Ikan 2000 Ekor 170 340,000

2

Pakan PF 1000 & Hipro

781 160 Kg 10,500 1,680,000

3 Benih sayur 1 Buah 17,000 17,000

4 Tenaga Kerja 1 Orang 500,000 500,000

Total 2,537,000

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 5. Biaya Variabel Pada Usaha Ikan Lele

No Barang Jumlah Satuan Harga

Harga (Rp/Siklus)

1 Bibit Ikan 2000 Ekor 170 340,000

2

Pakan PF 1000 &

Hipro 781 160 Kg 10,500 1,680,000 4 Tenaga Kerja 1 Orang 500,000 500,000

Total 2,527,000

4.5. Aspek Kelayakan Usaha

Salah satu aspek yang digunakan analisis terhadap aspek kelayakan usaha yang dilakukan untuk mengetahuai layak atau tidaknya usaha budidaya akuaponik di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Dilakukan dengan menggunakan analisis biaya, penerimaan, keuntungan dan analisis R C rasio.

4.5.1. Analisis Biaya

Biaya adalah pengorbanan atau pengeluaran berupa uang selama proses produksi untuk

mendapatkan hasil produksi. Pengeluaran keseluruhan atau total cost merupakan hasil

penjumlahan antara keseluruhan biaya tetap atau total fixed cost (TFC) dengan biaya tidak

tetap atau total variabel (TVC). Total pengeluaran ini biasa disebut dengan total biaya

(32)

26 produksi. Biaya adalah pengorbanan atau pengeluaran berupa uang selama proses produksi untuk mendapatkan hasil produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyadi (2012) bahwa biaya adalah pengorbanan sumbeekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau mungkinterjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

Tabel 6. Total Biaya Produksi Persiklus Usaha Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)

No Komponen Biaya Jumlah Biaya/Siklus

1 Biaya Tetap

341,333

2 Biaya Variabel

2,537,000

Jumlah TC = TFC+TVC

2,878,333

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 7. Total Biaya Produksi Persiklus Usaha Lele (NA)

No Komponen Biaya Jumlah Biaya/Siklus

1 Biaya Tetap 151,667

2 Biaya Variabel 2,520,000

Jumlah TC = TFC+TVC 2,671,667 Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

4.5.2. Penerimaan

Penerimaan merupakan hasil akhir proses produksi dari total semua kegiatan usaha yang diterima. Jumlah penerimaan pada usaha budidaya aquaponik berbasis teknologi aquaponik perproduksinya.

Tabel 8 Penerimaan Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A) No Komponen

Produksi

Volume

Produksi/Siklus (Kg)

Harga Penjualan (Rp/Siklus)

Penerimaan (Rp/Siklus)

1 Ikan Lele 133,69 23,000

3,074,870

2 Sayur 6 25,000 150,000

Jumlah Penerimaan

3,224,870

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 9 Penerimaan Usaha Budidaya Ikan Lele (NA) No Komponen

Produksi

Volume

Produksi/Siklus (Kg)

Harga Penjualan (Rp/Siklus)

Penerimaan (Rp/Siklus)

1 Ikan Lele 129.744 23,000

2,984,122

Jumlah Penerimaan

2,984,122

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Penerimaan hasil budidaya ikan lele dengan harga penjualan Rp.23.000/siklusnya di masa pandemi covid-19 merupakan harga jual yang didalamnya termasuk jasa pengiriman.

Keterbatasan mobilitas dimasa pandemi menyebabkan fasilitas jasa pengiriman menjadi

nilai tambah yang dapat menaikan harga jual.

(33)

27 4.5.3. Keuntungan

Tabel 10 Keuntungan Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)

No Komponen Analisis Keuntugan/Siklus (Rp)

1 Total Penerimaan (TR)

3,224,870

2 Total Biaya (TC)

2,878,333

Keuntungan = (TR-TC)

346,536

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 11 Keuntungan Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)

No Komponen Analisis Keuntugan/Siklus (Rp)

1 Total Penerimaan (TR) 2,984,122

2 Total Biaya (TC) 2,671,667

Keuntungan = (TR-TC) 312,445

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021 4.5.4. Break Event Point (BEP)

BEP adalah suatu kondisi dimana perusahaan tidak mendapatkan keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian.

Tabel 12. Break Event Point (BEP) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)

No Komponen Analisis Nilai

1 BEP Produksi (Kg)

120.14

2 BEP Harga (Rp)

21,529.91

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 13. Break Event Point (BEP) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)

No Komponen Analisis Nilai

1 BEP Produksi (Kg)

116.16

2 BEP Harga (Rp)

20,591.83

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Dari perhitungan diatas dapat diketahui BEP produk dan BEP harga dengan sistem akuponik (A) yaitu 120,14 kg dan BEP harga sebesar Rp. 21.529,91 Sementara nilai produksi ikan lele adalah 133,69kg/siklus ditambah sayuran 6 kg/siklus dengan harga jual ikan lele Rp. 23.000,/kg. Dapat disimpulkan bahwa Jumlah tersebut lebih besar dari BEP produk dan BEP harga maka usaha ini dikatakan menguntungkan.

Begitu juga dengan non sistem akuponik (NA) jumlahnya lebih besar dari BEP produk

dan BEP harga, sehingga dapat dikatakan untung juga meskipun dalam besarannya lebih

rendah disbanding dengan sistem akuponik (A).

(34)

28 4.5.5. Return On Investment (ROI)

Return On Investment (ROI) merupakan suatu analisis untuk melihat seberapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari total modal yang ditanamkan pada suatu usaha.

Tabel 14. Return On Investment (ROI) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)

No Komponen Analisis Nilai

1 Laba Usaha (Rp)

346,536

2 Modal Usaha (Rp)

2,878,333

ROI= (laba usaha/modal usaha)*100%

12,04%

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 15. Return On Investment (ROI) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)

No Komponen Analisis Nilai

1 Laba Usaha (Rp) 312,445

2 Modal Usaha (Rp)

2,671,667

ROI= (laba usaha/modal usaha)*100%

8,5%

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Dari perhitungan ROI diatas, dapat dilihat bahwa nilai ROI yang diperoleh adalah sebesar 12,04 % (A) dan 8,5 (NA). Persentase tersebut menunjukkan bahwa usaha akuaponik hanya memperoleh 12,04 % keuntungan dari besarnya modal yang dikeluarkan selama 1 siklus, dan tanpa akuaponik hanya 8,5 % keuntungan.

4.5.6. Revenue Cost Rasio

Tabel 16. Revenue Cost Rasio Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)

No Komponen Analisis Jumlah/Siklus (Rp)

1 Total Penerimaan (TR)

3,224,870

2 Total Biaya (TC)

2,878,333

R/C rasio = (TR/TC) 1,12

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 17. Revenue Cost Rasio Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)

No Komponen Analisis Jumlah/Siklus (Rp)

1 Total Penerimaan (TR) 2,984,122

2 Total Biaya (TC) 2,671,667

R/C rasio = (TR/TC) 1,11

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

R/C rasio dengan sistem akuponik (A) dan non akuponik (NA) dihasilkan dari

penerimaan dibagi dengan total biaya yang dikeluarkan. Hal ini dapat dilihat dari

perbadingan total penerimaan dengan total biaya yang lebih besar dari satu, yaitu (A)

(35)

29

memiliki angka 1,12> 1 dan (NA) 1.11>1. R/C rasio dengan system akuponik (A) lebih

besar disbanding non akuponik (NA). Dengan kata lain nilai R/C rasio sebesar 1,12

bermakna untuk setiap penambahan Rp1 biaya yang dikeluarkan maka pembudidaya

aquaponik memperoleh penerimaan sebesar 1,12. Hal ini sesuai dengan peryataan

Soekarwati (2000) bahwa R/C rasio adalah analisis yang menunjukan besar penerimaan

usaha yang diperoleh petani untuk setiap biaya yang dikeluarkan untuk suatu usaha,

semakin besar nilai R/C rasio maka semakin besar pula penerimaan usaha yang diperoleh

untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan.

(36)

30 BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan penelitian ini adalah usaha budidaya ikan nila berbasis teknologi aquaponik di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung dilihat dari kriteria usaha menguntungkan atau sangat layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C rasio yaitu 1,12 yang artinya setiap penambahan Rp1 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar 1,12 dan nilai keuntungan sebesar Rp.

346.536

/siklus.

5.2. Saran

Kegiatan penelitian dapat menjadi dasar penerapan system akuponik di berbagai

kelompok pembudidaya. Sistem akuponik diharapkan akan menjadi trend baru di

kalangan pembudidaya agar output dari budidaya tidak hanya melalui ikan namun juga

hasil samping berupa tanaman.

(37)

31 DAFTAR PUSTAKA

Darsono. 2008. Hubungan Perceived Service Quality dan Loyalitas (Peran Trust dan tatisfaction Sebagai Mediator). The National Conference UKWMS. Surabaya.

Fathulloh A.S. dan N.S. Budiana. Akuaponik Panen Sayur Bonus Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka. Nusatama. Bogor.

Fathulloh A.S. dan N.S. Budiana. Akuaponik Panen Sayur Bonus Ikan. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Fatmawati. 2018. Sistem Budidaya Aquaponik. Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak.https://pertanian.pontianakkota.go.id/artikel/49-sistem-

budidayaaquaponik.html.Diakses pada 4 Maret 2021.

Gunadi, B. dan R. Hafsaridewi. 2008. Pengendalian Limbah Amonia Budidaya Ikan Lele dengan Sistem Heterotrofik Menuju Sistem Akuakultur Nir-Limbah. J. Ris.

Akuakultur, 3(3): 437-448.

Lingga, P. 1999. Hidroponik: Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta Losordo, T., Westers, H., 1994. Carrying Capacity and Flow Estimation. In: Timmons, M.B., Losordo, T.M. (Eds.), Aquaculture Water Reuse Systems: Engineering Design and Management. Elsevier, Amesterdam, The Netherland, pp. 9±60.

Mulyadi. 2012. Akuntansi Biaya. Edisi ke-5. Cetakan Kesebelas. STIM YKPN.

Yogyakarta.

Rochaeni, S. 2009. Kelayakan usaha pembesaran Lele Dumbo secara intensif pada kolam terpal. J. Agribisnis, 4(1): 1-6.

Rakocy J, Nelson RL, and Wilson G. 2005. Aquaponic is the Combination of Aquaculture (Fish Farming) and Hydroponic (Growing Plants without Soil). In: Question and answer by Dr. James Rakocy. Aquaponics Journal. 4 (1): 8-11

Sagita, A., S. N. Wicaksana, N. R. Primasaputri, K. Prakoso, F.N. Afifah, A. Nugraha, Dan S. Hastuti. 2014. Pengembangan Teknologi Akuakultur Biofilter- Akuaponik (Integrating Fish And Plant Culture) sebagai Upaya Mewujudkan Rumah Tangga Tahan Pangan. Prosiding Hasil-Hasil Penelitian dan Kelautan tahun ke IV. Universitas Diponegoro.

Saparinto, C. dan R. Susiana. 2014. Panduan Lengkap Budidaya Ikan dan Sayuran dengan Sistem Akuaponik. Lily Publisher. Yogyakarta.

Siang, R.D dan Asis, N. 2010. Pengantar Ekonomi Perikanan. Unhalu Press. Kendari.

(38)

32 Soekartawi. .2000. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. PT. Raja

Grafindo. Jakarta.

(39)

33

LAMPIRAN

(40)

34

Lampiran 1. Data Olah

Bobot H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49

NA 15.86 21.42 43.60 46.12 74.79 71.40 82.29 97.08 A 15.86 24.22 45.12 49.34 68.38 85.94 101.99 93.45

PBM NA A

1 119.64 79.94

2 119.74 57.74

3 106.34 78.44

4 125.54 72.14

5 84.94 45.34

6 159.54 52.74

7 108.34 77.04

8 75.64 66.24

9 65.64 47.14

10 87.14 71.74

11 82.44 105.94

12 73.44 103.74

13 83.74 140.04

14 86.44 78.14

15 81.44 53.14

16 77.54 108.44

17 59.04 59.44

18 123.34 63.24

19 146.74 92.94

20 155.04 59.64

21 104.64 118.44

22 113.44 159.34

23 169.34 115.34

24 121.54 59.54

25 56.64 95.54

26 51.14 55.14

27 68.04 65.14

28 92.14 66.54

29 56.34 114.64

30 83.74 57.04

31 61.54 106.64

32 66.34 50.54

33 42.54 96.54

34 54.54 45.04

(41)

35

PBM NA A

35 76.44 56.54

36 42.24 54.64

37 57.54 55.74

38 40.54 114.14

39 88.34 57.34

40 50.84 72.04

41 61.84 37.54

42 66.04 90.34

43 38.04 95.04

44 65.34 81.14

45 45.84 63.24

46 50.74 28.64

47 47.34 103.44

48 48.74 109.24

49 74.94 78.94

50 42.74 62.84

RATA-RATA 81.22 77.59

STDEV 33.33 27.48

Panjang H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49

NA 12.41 14.00 15.95 17.29 19.73 20.83 21.91 22.99 A 12.41 14.60 16.33 17.54 18.72 22.17 22.64 23.48

PPM NA A

1 12.69 12.59

2 12.59 9.69

3 12.09 11.89

4 13.29 10.69

5 10.09 8.19

6 15.09 9.59

7 11.89 10.49

8 9.29 10.39

9 8.09 9.69

10 10.59 9.89

11 9.59 11.79

12 8.79 11.79

13 9.89 13.19

14 9.29 9.09

15 9.89 8.79

(42)

36

PPM NA A

16 9.89 14.09

17 6.79 10.09

18 13.39 9.19

19 16.09 11.59

20 15.09 10.09

21 12.09 13.19

22 13.29 15.59

23 11.09 14.69

24 12.59 10.09

25 9.59 12.59

26 9.59 9.79

27 10.59 10.59

28 12.09 11.79

29 9.59 13.09

30 11.89 10.09

31 10.09 12.99

32 10.09 8.59

33 8.09 13.09

34 9.59 7.59

35 12.09 10.59

36 8.19 9.09

37 9.59 10.59

38 8.09 13.59

39 13.09 9.59

40 9.09 11.09

41 10.59 8.59

42 10.19 12.59

43 8.59 14.09

44 9.59 12.09

45 8.09 10.19

46 9.09 6.59

47 10.59 13.29

48 8.09 13.59

49 11.09 11.59

50 8.19 9.59

RATA-RATA 10.58 11.07

STDEV 2.05 1.97

(43)

37

Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan Penelitian

(44)

38

(45)

The 2nd Universitas Lampung International Conference on Science, Technology and Environment

Secretariat: Institute of Research and Community Service, Universitas Lampung

Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro, RW.No: 1, Gedong Meneng, Kec. Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Lampung 35141

Email: [email protected] Web: https://ulicoste.unila.ac.id/,

LETTER OF ACCEPTANCE

Dear Ms Darma Yuliana, et al Congratulations! your abstract titled:

"BUSINESS ANALYSIS OF INTEGRATION AQUAPONIC TECHNOLOGY IN CULTIVATION CATFISH (Clarias Sp.) IN STRENGTHENING MSMEs SCALE BUSINESSES "

has been accepted to be continue to the next step (full paper submission) at t The 2nd Universitas Lampung International Conference on Science, Technology and Environment (ULICoSTE) 2021 which is being held on August, 27 - 28 2021 at Bandar Lampung.

For educational fields, please add some analysis about the concept which are related to your fields.

Thank you and looking forward to your participation in this event.

Kind regards,

ULICoSTE 2021 Committee Website : https://ulicoste.unila.ac.id/

Email : [email protected]

Lampiran 3. LoA Abstrak Seminar Internasional ULICoSTE 2021

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, perlu diketahui dampak pandemi COVID-19 terhadap kunjungan imunisasi dasar dan faktor yang memengaruhinya agar dapat disusun rencana yang efektif

Kegiatan ini pertama-tama dimulai dengan pembagian resep nugget ikan lele kepada ibu-ibu peserta pengajian, diikuti dengan pelaksanaan demo masak nugget ikan lele oleh

Menyatakan materi muatan Pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, tertanggal 24 September 1960 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104)

Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila Gesit (Oreochromis niloticus) Pada Sistem Akuaponik Dengan Jenis Tanaman Yang Berbeda.. Jurnal Ilmiah Perikanan

Skrining rasio keuangan dari indeks Syariah dapat menunjukkan tata kelola perusahaan yang baik yang membantu dalam mengurangi insentif manajerial dalam manipulasi

Wawancara pada 10 orang penderita batu ginjal didapatkan bahwa sebanyak 6 orang (60%) mengatakan jarang minum air putih dalam kesehariannya, 3 orang (30%)

Kedua menteri yang diduga keras melakukan tindak pidana korupsi itu adalah Menteri Kelautan Perikanan (KKP) Eddy Prabowo dan dan Menteri Sosial Juliari Batubara. Eddy diduga

n Budidaya laut Inventarisasi potensi sumberdaya ikan dan non ikan yang dapat dibudidayakan dalam mendukung pangan daerah Pemetaan potensi sumberdaya ikan dan dan non ikan