LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG
ANALISIS USAHA INTEGRASI AQUAPONIC TECHNOLOGY PADA BUDIDAYA LELE (Clarias sp.) DALAM PENGUATAN USAHA
SKALA UMKM DI MASA PANDEMI COVID-19
NIDN SINTA 1D Muhiddin Sirat, S.E., M.P. 0002015802 6682597 Darma Yuliana, S.Kel., M.Si. 0008078905 6718960 Deny Sapto Chondro Utomo, S.Pi., M.Si. 0031078404 38288
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMPUNG
2021
i
HALAMAN PENGESAHAN
PENELITIAN DASAR UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Penelitian : Analisis Usaha Integrasi Aquaponic Technology pada Budidaya Lele (Clarias sp.) dalam Penguatan Usaha Skala UMKM di Masa Pandemi Covid-19
Manfaat sosial ekonomi : Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Muhiddin Sirat, S.E., M.P.
b. SINTA ID : 6682597
c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
d. Program Studi : Ekonomi Pembangunan
e. Nomor HP : 0811723834
f. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1)
a. Nama Lengkap b. NIDN
: Darma Yuliana, S.Kel., M.Si.
: 0008078905
c. SINTA ID : 6718960
d. Program Studi : Sumberdaya Akuatik Anggota Peneliti (2)
a. Nama Lengkap b. NIDN
: Deny Sapto Chondro Utomo, S.Pi., M.Si.
: 0031078404
c. SINTA ID : 38288
d. Program Studi : Budidaya Perikanan Jumlah mahasiswa yang terlibat : 4 orang
1. Doni Bilga Komara Sakti (1954111005) 2. Sesar Dermawan (1954111008)
3. Aulia Hamidah (1954111007)
4. Nurfadila Maulana Hikmah (1914111020) Jumlah alumni yang terlibat : -
Jumlah staf yang terlibat : -
Lokasi kegiatan : Unit Kolam Budidaya Ikan di Desa Marga Agung, Kec.
Jati Agung, Kab. Lampung Selatan, Provinsi Lampung
Lama kegiatan : 6 bulan
Biaya penelitian : Rp. 20.000.000
Sumber dana : DIPA BLU Unila Tahun 2021
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
RINGKASAN ... 1
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan ... 2
1.2 Tujuan Khusus Penelitian... 3
1.3 Urgensi (Keutamaan) penelitian... 3
1.4 Luaran penelitian ... 3
1.5 Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas... 4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budidaya ikan lele (Clarias sp.) ... 5
2.2 Implementasi teknologi aquaponik ... 6
2.3 Analisis usaha ... 7
2.4 Roadmap penelitian ... 8
BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Materi Penelitian ... 9
3.2 Metode Penelitian ... 9
3.3 Jenis dan sumber data ... 11
3.4 Pertumbuhan Ikan Lele ... 11
3.5 Analisis usaha ... 12
3.6 Fishbone Diagram Metode Penelitian ... 16
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Aspek Teknis Budidaya Ikan Lele ... 17
4.2 Pertumbuhan Ikan Lele ... 19
4.3 Kualitas Air ... 19
4.4 Input Biaya Produksi Budidaya Akuaponik ... 24
4.5 Aspek Kelayakan Usaha ... 25
BAB. 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
v
DAFTAR PUSTAKA ... 31
LAMPIRAN
1 RINGKASAN
Usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.) dapat digolongkan pada skala usaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) karena usaha tersebut dijalankan secara individu,
rumah tangga, atau badan usaha ukuran kecil. Permasalahan utama pada budidaya ikanyaitu sisa pakan, bahan organik, dan senyawa nitrogen toksik, penumpukan kandungan amonia dan limbah bahan organik dalam air kolam. Implementasi aquaponic technology yang merupakan teknologi integrasi budidaya ikan dan pemeliharaan tanaman dengan sistem simbiosis mutualisme dalam satu wadah budidaya ikan. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi mengurai limbah organik dalam kolam sehingga tidak berbahaya bagi ikan, dan memberikan suplai oksigen pada air untuk kehidupan ikan. Tujuan penelitian ini menganalisis usaha implementasi integrasi teknologi aquaponik pada budidaya ikan kovensional. Penelitian dilakukan selama 6 bulan (Mei – Oktober 2021) di unit kolam budidaya ikan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian eksperimental dengan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif terhadap dua perlakuan yaitu analisis kelayakan usaha budidaya ikan lele yang belum terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P0) dan yang sudah terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P1). Setiap kolam perlakuan dengan kepadatan ikan lele 2.000 ekor dengan ukuran tebar 5-7 cm/ekor dipelihara selama selama 3 bulan untuk panen.
Integrasi teknologi aquaponik pada kolam perlakuan (P1) dengan jumlah kepadatan bibit sayuran jenis selada yaitu 100 bibit per kolam perlakuan. Metode kuantitatif dilakukan dengan analisis usaha untuk mengetahui kegiatan usaha budidaya ikan Lele (Clarias sp.) memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan dilihat dari parameter Analisis Biaya Usaha, Penyusutan, Analisis Penerimaan, Arus Kas Bersih (Net Cash Flow), R/C ratio, B/C ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period. Dilihat dari kriteria usaha menguntungkan atau sangat layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C rasio yaitu 1,12 yang artinya setiap penambahan Rp1 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar 1,12 dan nilai keuntungan sebesar Rp.
346.536/siklus.
Kata kunci: Aquaponic technology, Analisis usaha, Ikan Lele, Integrasi, Pandemi
Covid-19
2 BAB 1.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang dan Permasalahan
Usaha budidaya ikan lele dapat digolongkan pada skala usaha UMKM (Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah) karena usaha tersebut dijalankan secara individu, rumah tangga, atau badan usaha ukuran kecil. UMKM adalah salah satu penggerak ekonomi bangsa, sehingga keberadaan mereka sangat penting karena sifatnya yang fleksibel dan tidak menuntut modal besar membuatnya cocok sebagai alternatif usaha, terutama di tengah situasi sulit seperti masa pandemik Covid-19 saat ini. Permasalahan utama padabudidaya ikan yaitu sisa pakan, bahan organik, dan senyawa nitrogen toksik, penumpukan kandungan amonia dan limbah bahan organik dalam air kolam. Sehingga jika air kolam dibuang setelah panen maka akan menjadi cemaran lingkungan. Solusi awal dengan implementasi aquaponic technology. Teknologi Aquaponik merupakan teknologi integrasi budidaya ikan dan pemeliharaan tanaman dengan sistem simbiosis mutualisme dalam satu wadah budidaya ikan. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi mengurai limbah organik dalam kolam sehingga tidak berbahaya bagi ikan, dan tanaman juga memberikan suplai oksigen pada air untuk kehidupan ikan. Usaha budidaya ikan dengan teknologi aquaponik dapat dinilai kelayakan keberlanjutan usaha dengan melakukan integrasi business feasibility analysis.
Tim penelitian bertujuan ingin menganalisis kelayakan usaha untuk mengetahui kegiatan usaha budidaya ikan lele (clarias sp.) memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan untuk membantu pembudidaya lele mendapatkan transfer teknologi budidaya lele terintegrasi dengan teknologi aquaponik serta informasi kelayakan keberlanjutan kegiatan usaha budidaya lele yang dapat menjadi dasar perencanaan pengembangan usaha ke tingkat usaha lebih tinggi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan melalui peningkatan pendapatan.
1.2. Tujuan Khusus Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yaitu :
3 1. Mengimplementasikan teknologi aquaponik pada kolam budidaya lele dari berbasis
konvensional menjadi berbasis sustainable technology;
2. Menganalisis kegiatan usaha budidaya ikan lele (Clarias sp.) apakah memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan.
1.3. Urgensi (Keutamaan) penelitian
Penelitian ini memiliki berbagai manfaat meliputi :
1. Peneliti menguji untuk mengetahui keuntungan implementasi teknologi aquaponik pada kolam budidaya lele dari berbasis budidaya ikan lele konvensional menjadi budidaya lele berbasis sustainable technology;
2. Peneliti mendapatkan informasi kelayakan usaha budidaya ikan lele dengan implementasi integrasi teknologi aquaponik.
3. Pembudidaya ikan lele mengetahui perbandingan pendapatan antara usaha budidaya ikan lele yang dijalani secara konvensional dan berbasis integrasi teknologi aquaponik untuk peningkatan pengembangan usaha skala UMKM, pertambahan jumlah lapangan pekerjaan, peningkatan perekonomian dan kesejahteraan keluarga.
1.4. Luaran penelitian
Penelitian ini berada pada Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 1 sampai 3 dengan indikator capaian sebagai berikut :
TKT 1 berupa formulasi pertanyaan riset atau hipotesis penelitian terkait analisis
kelayakan usaha budidaya lele (Clarias sp.) terintegrasi dengan aquaponic technology sudah ada;
TKT 2 berupa studi literatur tentang prinsip dasar terkait penelitian analisis
kelayakan usaha budidaya lele (Clarias sp.) terintegrasi dengan aquaponic technology sudah dilakukan;
TKT 3 berupa produk budidaya lele (Clarias sp.) terintegrasi dengan aquaponic
technology yang diteliti dan akan dikembangkan sudah ada dan memiliki peluang keberhasilan.
Luaran wajib penelitian yaitu :
4 1. Satu artikel ilmiah di jurnal terindeks SCOPUS Q3 yaitu Biodiversitas, Journal of
Biological Diversity (p-ISSN 1412-033X dan e-ISSN 2085-4722)
2. Satu artikel yang dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah yang diselenggarakan LPPM Unila
1.5. Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas
Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Susunan organisasi tim pengusul dan pembagian tugas
No Tim Penelitian Tugas
1. Ketua a. Mengkoordinasikan tim penelitian
b. Membuat jadwal kerja tim penelitian c. Survei lokasi
d. Monitoring proses penelitian e. Koleksi data
f. Analisis kelayakan usaha
g. Membuat laporan akhir penelitian
2. Angoota 1 a. Survei lokasi
b. Mempersiapkan alat dan bahan penelitian c. Aplikasi teknologi aquaponik
d. Membuat publikasi artikel ilmiah a. Membuat laporan keuangan penelitian
3. Anggota 2 a. Survei lokasi
b. Monitoring mahasiswa dan staf yang terlibat dalam penelitian
c. Aplikasi teknologi aquaponik d. Membuat publikasi artikel ilmiah e. Membuat presentasi hasil penelitian
Keterlibatan mahasiswa Universitas Lampung pada kegiatan penelitian melibatkan nama mahasiswa Prodi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan FP Unila sebagai berikut.
1. Doni Bilga Komara Sakti (1954111005) 2. Sesar Dermawan (1954111008)
3. Aulia Hamidah (1954111007)
4. Nurfadila Maulana Hikmah (1914111020)
5 BAB 2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Budidaya ikan lele (Clarias sp.)
Ikan lele (Clarias sp.) merupakan jenis komoditas ikan unggulan dengan nilai ekonomi tinggi dan pengembangan usaha dilakukan mulai dari benih hingga ukuran konsumsi (Rochaeni, 2009). Lele mempunyai kebiasaan beraktivitas dan mencari makanan saat malam hari (nocturnal). Saat siang hari lele cenderung berdiam diri dan berlindung di daerah yang tenang. Lele dapat memakan zat-zat renik seperti daphnia, moina, copepoda, dan cladocera. Lele juga dapat memakan hewanhewan air yang lebih besar, bahkan memakan bangkai. Oleh sebab itu, lele digolongkan ke dalam ikan karnivora (pemakan daging) (Saparinto dan Susiana, 2014).
Permasalahan utama pada budidaya ikan yaitu sisa pakan, bahan organik, dan senyawa nitrogen toksik, penumpukan kandungan amonia dan limbah bahan organik dalam air kolam. Sehingga jika air kolam dibuang setelah panen maka akan menjadi cemaran lingkungan (Gunadi dan Hafsaridewi, 2008).
Gambar 1. Alat kelamin ikan betina dan jantan (De Graaf dan Janssen, 1996).
6
Ikan lele ditemukan di berbagai jenis perairan, akan tetapi paling sering ditemukan di perairan yang keruh, berlumpur, dan rawa (Courtenay et al., 1974). Ikan lele dapat hidup di perairan dengan salinitas rendah hingga cukup tinggi. Courtenay (1970) melaporkan bahwa ikan lele ditemukan di daerah pesisir dengan salinitas 18 ppt.Tabel 1. Kondisi lingkungan yang baik untuk ikan lele
Parameter Nilai
DO CO2
pH
Temperatur NH4
5-5,69 ppm 11,06-11,7 ppm
6,5-7,5 24-30,2° C 147,29-157,56 ppm Sumber: Handojo et al., 1986.
2.2. Implementasi teknologi aquaponik
Teknologi aquaponik merupakan teknologi yang membudidayakan tanaman dan ikan dalam satu tempat. Teknik ini mengintegrasikan budidaya ikan secara tertutup (resirculating aquaculture) yang dipadukan dengan tanaman. Dalam proses ini tanaman memanfaatkan unsur hara yang berasal dari kotoran ikan. Bakteri pengurai akan mengubah kotoran ikan menjadi unsur nitrogen, kemudian unsur tersebut akan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi pada tanaman (Fathulloh dan Budiana, 2015).
Teknologi Aquaponik merupakan teknologi integrasi budidaya ikan dan pemeliharaan tanaman dengan sistem simbiosis mutualisme dalam satu wadah budidaya ikan. Tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi mengurai limbah organik dalam kolam sehingga tidak berbahaya bagi ikan, dan tanaman juga memberikan suplai oksigen pada air untuk kehidupan ikan. Pembudidaya ikan yang mengaplikasikan akan menguntungkan, karena lahan yang dipakai tidak akan terlalu luas. Ikan adalah kunci dalam teknologi aquaponic dengan menyediakan nutrisi bagi tanaman. Jenis ikan ini tergantung pada iklim lokal dan jenis yang tersedia di pasaran. Aquaponik tidak hanya baik untuk sayuran hijau. Aquaponik akan menumbuhkan hampir semua jenis sayuran (Fatmawati, 2018). Ikan yang dibudidayakan dengan metode akuaponik sebaiknya yang dapat dikonsumsi, mempunyai nilai ekonomis, dan memiliki keindahan misalnya ikan lele dan ikan nila (Lingga, 1999).
Beberapa manfaat dari budidaya dengan sistem aquaponik antara lain adalah 1)
kotoran ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang baik bagi
7 pertumbuhan tanaman; 2) produk yang dihasilkan merupakan produk organik karena hanya menggunakan pupuk dari kotoran ikan yang telah melalui proses biologis; 3) menghasilkan dua produk sekaligus; yaitu sayur dan ikan, dari satu unit produksi; 4) dapat menghasilkan sayuran segar dan ikan sebagai sumber protein pada daerah-daerah kering dan ketersediaan lahan terbatas; 5) bersifat berkelanjutan dengan perpaduan tanaman dan ikan dan siklus nutrient; 6) selain untuk aplikasi komersial, aquaponik telah menjadi tempat pembelajaran yang populer bagi masyarakat maupun siswa-siswa kejuruan perikanan tentang biosistem terpadu; 7) populasi tanaman organik yang dapat ditanam 10 kali lipat lebih banyak dan setiap akar tanaman selalu mendapat pasokan air yang kaya akan zat hara; dan 8) pemeliharaan yang mudah, tidak memerlukan penyiangan, terbebas dari hama tanah dan tidak memerlukan penyiraman dan jika pertumbuhannya baik, tanaman akan tumbuh lebih cepat (Fatmawati, 2018).
2.3. Analisis usaha
Menurut Soekartawi (2016) pendapatan usaha adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Penerimaan usaha adalah perkalian antara produksi dengan harga jual.
Penerimaan usaha, yaitu penerimaan dari semua sumber usahatani yang meliputi jumlah penambahan investasi, nilai penjualan hasil, nilai penggunaan rumah dan barang yang dikonsumsi. Untuk menghitung penerimaan, data mengenai jenis dan jumlah produk serta harga dari masing-masing jenis produk yang dijual harus diketahui. Sedangkan pengeluaran usahatani adalah semua biaya operasional dengan tanpa memperhitungkan bunga dari modal usahatani dan nilai kerja pengelola usahatani. Pengeluaran ini meliputi pengeluaran tunai, penyusutan benda fisik, pengurangan nilai inventaris, dan nilai tenaga kerja yang tidak dibayar.
Soekartawi (2016) juga menjelaskan bahwa pendapatan usahatani dibedakan
menjadi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Dimana pendapatan
atas biaya tunai merupakan pendapatan yang diperoleh atas biaya-biaya yang benar-benar
dikeluarkan oleh petani, sedangkan pendapatan atas biaya total merupakan pendapatan
setelah dikurangi biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Selain itu untuk menganalisis
biaya dan pendapatan usaha, umumnya disertai analisis seperti analisis rasio penerimaan
atas biaya (R/C Ratio), analisis rasio keuntungan atas biaya (B/C Ratio), dan analisis titik
impas (break even point).
8 ROADMAP PENELITIAN
Produksi Hortikultura Organik (DIPA BLU UNILA, 2019)
Implementasi Teknologi Polikultur Ikan Kakap Putih dan
Kerang Hijau (DIPA BLU UNILA, 2020)
ANALISIS USAHA INTEGRASI AQUAPONIC TECHNOLOGY
PADA BUDIDAYA LELE (CLARIAS SP.) DALAM PENGUATAN USAHA SKALA UMKM DI MASA PANDEMI
COVID-19
Feasibility Analysis Of Freshwater Fish Farming Business Development In
Pringsewu District (Jurnal Aquasains, Vol 8(2)
Maret 2020)
Optimalisasi Penggunaan Sumberdaya Usahatani Sayuran (Hortikultura) Pola Tumpangsari
(Studi di Desa Rulung Sari Kecamatan Natar Kabupaten
Lampung Selatan
(Jurnal Ekonomi Pembangunan, 7(3) November 2018)
Performa Pertumbuhan, Karakteristik Seksual , Dimorfisme dan Histologi Pertumbuhan Gonad Ikan Gabus dengan Penambahan
Hormon Rekombinan (DIPA BLU UNILA, 2020)
Analisis Pertumbuhan Udang Vaname pada Salinitas Rendah
(DIPA FP UNILA, 2017)
9 BAB 3.
METODE PENELITIAN
3.1. Materi penelitian
Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pot tanam, batu kerikil, batu apung, sabut kelapa, pipa paralon 3/4", pipa paralon 1/2", elbow 3/4", tutup pipa 3/4", submersible pump, benih lele, TDS meter, benih tanaman selada, pakan ikan, baki semai benih, waring, alat tulis dan kertas.
3.2. Metode penelitian
Penelitian dilakukan selama 6 bulan (Mei – Oktober 2021) di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Penelitian eksperimental dengan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif terhadap dua perlakuan yaitu analisis kelayakan usaha budidaya ikan lele yang belum terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P0) dan yang sudah terintegrasi dengan teknologi aquaponik (P1). Setiap kolam perlakuan dengan kepadatan ikan lele 150 ekor/m
2dengan ukuran tebar 5-7 cm/ekor dipelihara selama selama 3 bulan untuk panen.
Integrasi teknologi aquaponik pada kolam perlakuan (P1) dengan jumlah kepadatan bibit sayuran jenis selada yaitu 100 bibit per kolam perlakuan. Metode kuantitatif dilakukan dengan analisis usaha untuk mengetahui kegiatan usaha budidaya ikan Lele (Clarias sp.) memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan dilihat dari parameter Analisis Biaya Usaha, Penyusutan, Analisis Penerimaan, Arus Kas Bersih (Net Cash Flow), R/C ratio, B/C ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period.
3.2.1. Instalasi teknologi aquaponik
a. Tahap Persiapan. Tahap ini terbagi menjadi dua jenis kegiatan yaitu sosialisasi kepada kelompok mitra serta persiapan perlengkapan dan survey.
b. Tahap Pelaksanaan. Setelah terbentuk kesepakatan antara diseminator dan mitra
mengenai program kerja dan jadwal kegiatan, maka program dapat segera
dilaksanakan. Program yang akan dilakukan berupa penerapan teknologi aquaponik
terdiri dari kegiatan pemasangan instalasi teknologi akuaponik, proses penebaran
10 ikan, penyemaian, pemeliharaan dan perawatan ikan dan sayuran, pemanenan, pengemasan, hingga pemasaran.
Langkah kerja budidaya ikan lele terintegrasi dengan teknologi aquaponik adalah sebagai berikut:
1) Persiapan instalasi akuaponik.
Instalasi akuaponik berbeda dengan instalasi pemeliharaan ikan pada umumnya. Kolam budidaya yang dimiliki oleh akan sedikit dimodifikasi sehingga akan ada ruang umtuk pemeliharaan sayuran. Oleh karena itu, akan dibuat sirkulasi air yang khusus menggunakan pipa paralon guna mengalirkan air budidaya ke media penanaman sayuran. Air yang telah dilewatkan ke media penanaman sayuran (dimana kandungan nitrogen berkurang karena telah dimanfaatkan oleh sayuran) akan dikembalikan ke dalam kolam budidaya ikan. Hal yang perlu diperhatikan pada teknologi akuaponik ini adalah, mempertahankan sirkulasi air tetap berjalan dengan lancar. Media tanam sayuran yang digunakan terdiri dari 3 lapisan yaitu serabut kelapa, batu kerikil dan arang. Media tersebut berfungsi untuk menangkap bahan organik yang berasal dari air kolam agar dapat dimanfaatkan oleh sayuran. Sebelum digunakan bahan-bahan yang digunakan sebagai media tanam dibersihkan terlebih dahulu sehingga tidak ada kontaminan yang dapat mencemari air kolam.
2) Penyemaian sayuran dan penebaran ikan lele
Sayuran yang ditanam pada akuaponik antara lain Selada, Sawi, Kangkung, Cabai merah keriting, cabai rawit, tomat, dan terong. Sebelum sayuran ditempatkan pada media akuaponik, benih terlebih dahulu disemai di tempat terpisah. Setelah bibit berusia sekitar sebulan (tinggi 10 cm), baru dapat ditanam di media akuaponik. Sembari menunggu bibit berusia satu bulan masa penyemaian, ikan sudah mulai dipersiapkan di kolam budidaya. Tujuannya adalah agar saat dipindahkan ke media akuaponik nutrisi yang ada pada air budidaya sudah cukup untuk kebutuhan pertumbuhan sayuran.
Padat tebar ikan dan sayuran yang akan digunakan dalam teknologi akuaponik
disesuaikan dengan jenis ikan yang akan dipelihara. Pada kegiatan ini akan dipelihara
ikan lele dengan padat tebar 2.000 ekor dengan ukuran tebar 5-7 cm/ekor. Sementara
11 sayuran yang akan dipelihara adalah dari jenis selada dengan kepadatan yaitu 100 bibit per kolam.
3) Pemeliharaan dan perawatan
Tahap pemeliharaan ini sama seperti pemeliharaan ikan pada umumnya yaitu pemberian pakan, pengecekan kualitas air, dan kontrol kesehatan ikan. Yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah kelancaran sirkulasi air ke media penanaman sayuran.
Teknologi akuaponik yang mengutamakan prinsip penghematan air memungkinakan pembudidaya tidak lagi perlu melakukan pergantian air secara berkala. Yang perlu dilakukan hanyalah penambahan air ketika air berkurang akibat adanya penguapan.
Selain itu, karena pada teknologi akuaponik ini mengutamakan hasil panen berupa sayuran organik maka sayuran tidak perlu lagi diberi pupuk dan juga tidak menggunakan pestisida. Guna mencegah timbulnya hama pada tanaman, maka kami mensiasatinya dengan penyelingan jenis tanaman.
4) Pemanenan
Pemanenan sayuran dapat dilakukan setelah 1,5 bulan pemeliharaan dalam sistem akuaponik. Sedangkan ikan lele dapat dipanen setelah dipelihara selama 3 bulan.
Sehingga dalam waktu 3 bulan dapat dilakukan dua siklus penanaman/pemanenan sayuran.
3.3. Jenis dan sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Sumber data primer dari penelitian ini adalah data biaya produksi, data j umlah produksi, data harga jual, dan data penerimaan usaha, serta informasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian.
3.4. Pertumbuhan Ikan Lele
3.4.1. Pertumbuhan Bobot Mutlak
Laju pertumbuhan bobot mutlak ikan dapat dihitung dengan menggunakan rumus
Effendie (1979), yaitu:
12 Wm = Wt − Wo
Dimana:
Wm = pertumbuhan bobot mutlak (g) Wt = bobot akhir (g) Wo = bobot awal (g) 3.4.2. Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (2004):
Lm = L
1- L
nDimana:
Lm = Pertumbuhan panjang mutlak (cm)
L
1= Panjang akhir ikan (cm) L
n= Panjang awal ikan (cm) 3.4.3. Tingkat Kelulushidupan
Jumlah ikan yang hidup pada awal dan akhir penelitian memberikan informasi tingkat kelulushidupan ikan. Menurut Effendie (2002), tingkat kelulushidupan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
SR =
100 %No
SR = Kelulushidupan (%)
Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian (ekor) No = Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian (ekor)
3.5.Analisis usaha
3.5.1. Analisis Biaya Usaha
Mengacu kepada Soekartawi (2016), analisis biaya usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan menjumlahkan biaya tetap dan biaya tidak tetap.
Perhitungan analisis biaya usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dapat dirumuskan sebagai berikut:
TB = BT + BV Keterangan
TBL : total biaya budidaya lele
13 BTL : biaya tetap budidaya lele
BVL : biaya variabel budidaya lele
3.5.2. Penyusutan
Mengacu kepada Padangaran (2013), metode yang digunakan untuk perhitungan penyusutan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang adalah metode garis lurus (straight line method). Dalam metode ini nilai penyusutan sama besarnya dari tahun ke tahun atau dari bulan ke bulan, tergantung satuan waktu yang digunakan. Rumus yang digunakan untuk menghitung penyusutan dengan metode garis lurus adalah sebagai berikut.
Penyusutan = NBi – Nsi UEi Keterangan :
NBi : Nilai Beli Barang ke i NSi : Nilai Sisa Barang ke i UEi : Umur Ekonomis Barang ke i
3.5.3. Analisis Penerimaan
Mengacu kepada Soekartawi (2016), analisis penerimaan usaha dapat dilakukan dengan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Hal tersebut dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut
TPL = JBL x HBL Keterangan :
TPL : total penerimaan budidaya lele JBL : jumlah benih budidaya lele HBL : harga benih budidaya lele
3.5.4. Arus Kas Bersih (Net Cash Flow)
Mengacu kepada Halim (2007), selama proyek investasi beroperasi selama itu pula akan terjadi arus kas keluar (cash outflow), misalnya untuk membayar biaya-biaya operasional.
Di sisi lain juga akan terjadi arus kas masuk (cash inflow), misalnya dari penjualan produk.
14 Bila arus kas masuk melebihi arus kas keluar, maka akan terdapat arus kas bersih (Net Cash Flow). Perhitungan Net Cash Flow dapat dijelaskan pada rumus sebagai berikut.
KBL = LSPL + PAT Keterangan :
KBL : kas bersih budidaya lele
LSPL : laba setelah pajak usaha budidaya lele PAT : penyusutan aset tetap
3.5.5. Analisis Rasio Peneriman atas Biaya (R/C Rasio)
Mengacu kepada Soekartawi (2016: 85), analisis R/C rasio merupakan analisis yang membandingkan antara penerimaan dan biaya. Analisis ini digunakan untuk melihat perbandingan total penerimaan dengan total biaya. Secara sistematis R/C Rasio dapat dirumuskan sebagai berikut.
R/C Ratio = TPL
TBL Keterangan:
TPL : total penerimaan budidaya lele TBPL : total biaya budidaya lele Dengan kriteria hasil sebagai berikut.
1) R/C Rasio > 1 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang menguntungkan dan layak untuk dijalankan.
2) R/C Rasio < 1 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dijalankan.
3) R/C Rasio = 1 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang yang dijalankan dalam kondisi titik impas
3.5.6. Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Rasio)
Mengacu kepada Soekartawi (2016), analisis B/C rasio merupakan analisis perbandingan
antara kas bersih dan biaya. B/C rasio adalah perbandingan nilai selisih biaya manfaat
yang positif dan negatif. Suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat apabila
B/C Ratio lebih besar dari nol. Semakin besar nilai rasio B/C Ratio, maka semakin besar
pula manfaat yang akan diperoleh dari usaha tersebut. Secara sistematis B/C Rasio dapat
dirumuskan sebagai berikut/
15
B/C Ratio = KBLTBL Keterangan:
KBL : Kas bersih budidaya lele TBL : total biaya budidaya lele Dengan kriteria hasil sebagai berikut:
1) B/C Rasio > 0 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang menguntungkan dan layak untuk dijalankan
2) B/C Rasio < 0 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang tidak menguntungkan dan tidak layak untuk dijalankan
3) B/C Rasio = 0 berarti usaha pembenihan ikan lele sangkuriang yang dijalankan dalam kondisi titik impas
3.5.7. Analisis Break Even Point (BEP)
Mengacu kepada Padangaran (2013), analisis break even point atau bisa juga disebut analisis titik pulang pokok adalah suatu teknik analisis yang digunakan untuk menghitung jumlah volume produksi, sebuah usaha akan mencapai titik di mana penerimaan persis sama dengan total modal yang digunakan. Ada dua jenis perhitungan BEP yaitu, BEP volume dan BEP harga produksi. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut.
BEP Volume = TBL HBL Keterangan:
TBL : Total biaya budidaya lele HBL : Harga lele
BEP Harga = TBL VBL
Keterangan:
TBL : Total biaya budidaya lele HBL : Volume penjualan lele
BEP Produksi bertujuan untuk mengetahui volume produksi yang dibutuhkan untuk
mencapai titik impas dalam usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Sedangkan BEP
harga digunakan untuk mengetahui berapa harga yang dibutuhkan untuk mencapai titik
impas dalam usaha budidaya ikan lele.
16 3.5.8. Analisis Payback Period
Mengacu kepada Kasmir dan Jakfar (2005), metode payback period merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Perhitungan payback period dapat dilakukan secara sistematis dengan rumus sebagai berikut.
Payback Period = I x 1 tahun
PU Keterangan:
I : Investasi
PU : Pendapatan usaha budidaya lele
16
FISHBONE DIAGRAM METODE PENELITIAN17 BAB 4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Aspek Teknis Budidaya Ikan Lele
Budidaya aquaponik merupakan salah satu kombinasi antara budidaya tanaman dan budidaya ikan dalam satu wadah. berfungsi tanaman sebagai filter atau penyaring dari air limbah budidaya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk budidaya ikan (Firdaus dkk., 2018).
4.1.1. Persiapan Lahan
Kolam budidaya ikan nila berbasis teknologi aquaponik yang berada di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung berjumlah 1 (satu) petak dengan ukuran 2x 8 m. Kolam tersebut di sekat secara permanen menjadi 2 (dua) petak dengan ukuran masing – masing 2 x 4 m.
Gambar 3. Persiapan kolam
Dalam proses pembuatan kolam budidaya aquaponik tentunya menggunakan biaya selama pembuatan kolam. Biaya yang dimaksud adalah biaya tetap dan biaya variabel.
Langkah yang dilakukan dalam persiapan budidaya ikan Nila yaitu seperti 1) Memilih lokasi budidaya yang strategis dan aman, 2) Melakukan pembersihan dan pembuatan lantai dasar kolam budidaya 3) Pemasangan tempat pelindung ikan menggunakan paranet.
4.1.2. Penebaran Benih
Penebaran benih ikan lele dilakukan pada pagi hari saat sinar matahari dalam keadaan
tidak panas. Penebaran benih yang ditebar adalah 2.000 ekor benih.Harga benih ikan lele
Rp 170/ekor. Komponen biaya yang dipakai dalam proses penebaran benih yaitu biaya
18 variabel dan biayan tetap. Biaya variabel yang dimaksud adalah benih ikan yang ditebar sementara biaya tetap adalah wadah atau tempat benih ikan nila yang siap untuk ditebar.
Ikan ditebar setelah air kolam berumur satu minggu, hal ini dilakukan untuk menumbuhkan bakteri nitrifikasi yang dicirikan dengan air kolam menjadi lebih keruh.
Proses menumbuhkan bakteri nitrifikasi disebut dengan tank cycling.
3. Pemeliharaan
Proses pemeliharaan yang dilakukan yaitu dengan cara memperhatikan kondisi air, memperhatikan kondisi ikan, melakukan pergantian air kolam, perawatan kolam budidaya ikan nila dan pemberian pakan. Untuk pemberian pakan menggunakan pellet dan pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pagi (jam 06.00 – 08.00), siang (jam 12.00 –13.00) dan sore (16.00 – 17.00).
4. Pemanenan
Ikan lele dapat dipanen setelah masa pemeliharaan 2 sampai 3 bulan atau setelah mencapai ukuran konsumsi. Prosedur Pemanenan dilakukan dengan cara mengeringkan kolam hingga ketinggian air tinggal 20-30 cm atau ikan dipanen dengan cara menggunakan jaring. Pemanenan dilakukan sore hari dengan menggunakan alat tangkap jaring dan seser, hal tersebut dilakukan untuk mengurangi resiko kematian.
Proses pemanenan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu : (1) Pada saat sebelum panen ikan yang dibudidayakan tidak diberikan makan selama 6 jam. (2) Sebelum dilakukan pemanenan terlebih dahulu dilakukan pengeringan air kolam. (3) Sebelum panen alat yang digunakanan untuk menangkap ikan yaitu seser dan jaring agar mengurangi resiko kematian. (4) Ikan yang telah ditangkap disimpan ditempat yang sudah disediakan.
Gambar 4. Pemanenan
19 4.2. Pertumbuhan Ikan Lele
Pemeliharaan ikan lele percobaan dilakukan selama 2,5 bulan. Pakan yang diberikan adalah pakan komersil yang disesuaikan dengan bukaan mulut yaitu pakan yang berbentuk butiran dengan kadar protein ± 30%. Pakan di berikan sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari. Menurut Effendie (2002), pertumbuhan adalah penambahan ukuran panjang atau berat ikan dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh pakan, umur dan ukuran ikan.
Mudjiman 1998, menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan yang meliputi keturunan, kemampuan untuk memanfaatkan makanan dan ketahanan terhadap penyakit. Faktor eksternal merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat hidup ikan yang meliputi sifat fisika dan kimia air, ruang gerak dan ketersediaan makanan dari segi kualitas dan kuantitas (Huet 1971).
Pengukuran panjang dan berat awal menggunakan persediaan ikan dengan mengambil sampling ikan sebanyak 25 ekor masing – masing perlakuan. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan media yang berisi air dengan cara air di timbang terlebih dahulu kemudian menyetel timbangan keangka nol. Setelah itu ikan di masukkan kedalam media berisi air tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari stress dan kematian pada ikan uji.
Gambar 5. Pengukuran panjang dan berat ikan lele
20 Gambar 6. Bobot ikan lele selama pemeliharaan
Hasil penelitian menunjukkan pertambahan bobot per ekor lele hampir sama, namun berbeda pada pemeliharaan hari ke 28 dan seterusnya. Rata-rata pertambahan bobot ikan lele terendah diperoleh pada sistem non akuaponik (perlakuan NA) dan rata-rata pertambahan yang tertinggi terdapat pada perlakuan system akuaponik.
Gambar 7. Panjang ikan lele selama pemeliharaan
Pengukuran terhadap panjang ikan lele selama penelitian menunjukkan pertambahan panjang yang tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukan dengan sistem akuaponik pertambahan panjang tidak berbada dibandingkan dengan yang dipelihara pada media tanpa sistem akuaponik.
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00
H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49
Bobot Ikan (g)
Hari ke-
NA A
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00
H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49
Panjang Ikan (cm)
Hari ke-
NA A
21 Gambar 8. Pertumbuhan bobot mutlak ikan lele
Gambar 8. Pertumbuhan panjang mutlak ikan lele
Perlakuan sistem akuaponik (A) yang memberikan nilai terbaik berat dan panjang terhadap pertumbuhan ikan mutlak disbanding perlakuan non akuaponik (NA). Sistem akuaponik dimana tanaman diduga lebih efektif dalam memanfaatkan limbah budidaya menjadi nutrisi yang dibutuhkan tanaman yang berasal dari air yang mengalir dari pemeliharaan ikan lele. Pemanfaatan hara dalam air oleh tanaman diduga berpengaruh baik bagi pertumbuhan ikan.
Pertumbuhan benih ikan lele dapat terjadi apabila, jumlah nutrisi pakan yang dicerna dan diserap oleh ikan lebih besar dari jumlah yang diperlukan untuk pemeliharaan tubuhnya.
Ikan lele akan mengalami pertumbuhan lambat dan kecil ukurannya apabila pakan yang diberikan kurang memadai. Hal tersebut karena sumber nutrisi dalam bahan pangan tidak
75.00 76.00 77.00 78.00 79.00 80.00 81.00 82.00
NA A
Pertumbuhan Bobot Mutlak (g) PBM
Perlakuan
10.30 10.40 10.50 10.60 10.70 10.80 10.90 11.00 11.10 11.20
NA A
Pertumbuhan Panjang Mutlak (cm) PPM
Perlakuan
22 dapat diserap oleh benih lele, dan pakan yang diberikan tidak mengandung nutrien yang sesuai kebutuhan nutrisi benih lele.
Biofilter akuaponik merupakan sistem pada teknik budidaya yang mempertahankan kualitas air diatas ambang toleransi selama periode tertentu tanpa mengganggu pertumbuhan ikan yang dipadukan dengan sistem tanaman akuatik (Sagita et.al, 2014).
Menurut Rakocy et al. (1993) dalam DKP (2008) tanaman akuatik secara efektif dapat memanfaatkan unsur hara sehingga memiliki beberapa keuntungan dari efisiensi penggunaan air dan pengurangan pencemaran limbah hasil buangan ke perairan umum.
Keuntungan dari sistem ini adalah efiseien dalam pemanfaatan air dan lebih ramah lingkungan, karena kondisi air yang digunakan dapat terkontrol dengan baik (Lasordo, 1994).
Gambar 9. Kelangsungan Hidup Ikan Lele
Tingkat kelangsungan hidup suatu organisme dapat terpengaruh oleh beberapa faktor, yaitu antara lain abiotik, kompetisi antar jenis, kekurangan pakan, penambahan populasi dalam ruang lingkup yang sama, predator atau parasit, penanganan manusia, umur organisme dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Effendie (1997) kelangsungan hidup suatu populasi ikan merupakan nilai persentase jumlah ikan yang hidup dalam suatu wadah selama masa pemeliharaan tertentu. Tingkat kelangsungan hidup ikan atau survival rate (SR) akan menentukan jumlah produksi yang diperoleh.
Tingkat kelangsungan hidup ikan lele yang tertinggi selama penelitian 2,5 bulan pemeliharaan yaitu 71,5% pada perlakuan sistem akuaponik (A), kemudian tingkat kelangsungan hidup terendah pada perlakuan non akuponik (NA) sebesar 66,8%,.
0 10 20 30 40 50 60 70 80
NA A
Kelangsungan Hidup (%)
Perlakuan
23 Menurut Amrial (2009). Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh kondisi fisika-kimia perairan jika perubahan lingkungannya terjadi di luar kisaran toleransi suatu hewan, maka cepat atau lambat hewan tersebut akan mati.
Pada perlakuan sistem akuaponik (A) ini diduga sebagai respon adaptasi terhadap lingkungan dan perlakuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Effendi et al.
(2015) bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan lele dengan perlakuan kangkung dengan sistem resirkulasi lebih tinggi.
4.3. Kualitas Air
Suhu pada kolam akuaponik dan konvensional tidak berbeda jauh hal ini diduga karena suhu kolam di pengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman badan air (Effendi, 2003). Suhu air berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan.
Ikan lele dapat hidup pada suhu air berkisar antara 20±30 C. Suhu air yang sesuai akan meningkatkan aktivitas makan ikan, sehingga menjadikan ikan lele cepat tumbuh.
Keasaman pH dapat menyebabkan ikan stress, mudah terserang penyakit , produktivitas dan pertumbuhan rendah Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya terdapat antara 7 sampai 8,5. Berdasarkan hasil pengukuran bahwa sistem akuaponik dan konvensional masih relatif sama dan perubahan lingkungan yang terjadi tidak terlalu signifikan, sehingga pH tidak mempengaruhi dikedua sistem tersebut.
Kandungan DO pada kolam konvensional lebih rendah di bandingkan dengan kolam biofilter akuaponik hal ini mengakibatkan ikan lebih banyak yang mati, hal ini sesuai dengan pernyataan Saptarini (2010) bahwa ikan akan saling berkompetisi dengan ikan yang lain untuk melakukan respirasi, selain itu ikan juga akan berkompetisi dengan bakteri aerob sehingga kondisi tersebut mengakibatkan konsentrasi oksigen terlarut di kolam menurun drastis. Pada kolam akuaponik kandungan oksigen lebih tinggi hal ini diduga karena adanya air yang keluar secara gravitasi pada wadah biofilter.
Dalam sistem akuaponik terdapat interaksi antara budidaya ikan, tanaman kangkung,
serta bakteri. Pada penelitian ini jumlah pakan yang diberikan pada ikan lele diduga ada
yang tidak termanfaatkan, selain itu sisa hasil metabolisme ikan lele berupa feses dan urin
yang masuk ke dalam media budidaya dapat menyebabkan menurunnya kualitas air
berupa peningkatan kadar amonia dan nitrit yang dapat membahayakan benih lele yang
24 dibudidayakan. Dengan sistem akuaponik, kualitas air media budidaya dapat dipertahankan akibat adanya interaksi antara ikan lele dan tanaman air dalam pemanfaatan nutrien dimana bakteri sebagai Protein yang berasal dari pakan akan dikonversi menjadi senyawa yang sederhana dengan adanya bakteri pengkonversi seperti Nitrosomonas yang mampu mengkonversi ammonia menjadi nitrit, dan Nitrobakter yang mampu mengkonversi nitrit menjadi nitrat ; nitrat ini akan digunakan oleh tanaman kangkung air sebagai nutrien sehingga dalam sistem akuaponik akan terjadi keseimbangan unsur nitrogen
4.4. Input Biaya Produksi Budidaya Aquaponik 4.4.1. Biaya Penyusutan (biaya tetap)
Beberapa biaya investasi yang digunakan pada usaha budidaya aquaponik adalah dilihat dalam Tabel 2 sebagai berikut;
Tabel 2. Biaya Investasi Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik
No Barang Harga Jumlah Satuan
Umur Ekonomis
(bulan)
Penyusutan (Rp/Siklus)
1 Rehab Kolam 2,000,000 1 Paket 36 125,000
2
Pipa paralon 3 Inc
68,000 4 Buah 36 5,250
3
Sambungan pipa L 3 Inc
15,000 8 Buah 36
833
4
Sambungan pipa T 3inc
18,000 4 Buah 36
1,083
5 Lem Pipa 10,000 4 Buah 2 22,500
6 Net Pot 25,000 24 Buah 24 2,500
7 Arang 50,000 5 Buah 3 112,500
8 Paranet 140,000 1 Ball 24 11,250
9 Meteran 80,000 1 Buah 36 5,833
10 Mesin Bor 210,000 1 Buah 36 13,333
11 Gergaji 125,000 2 Buah 36 6,250
12 Timbangan 150,000 2 Buah 36 8,333
13
Submersible
pump 400,000 1 Buah 36
26,667
Total 341,333
Sumber : Data primer setelah diolah, 2021 4.4.2. Biaya Tetap/siklus
Tabel 3. Biaya Tetap Usaha Budidaya Ikan Lele
25 Komponen Biaya Satuan Jumlah Harga (Rp) Biaya Tetap
(Rp/Siklus)
Penyusutan (A) Paket 1 341,333 341,333
Penyusutan (NA) Paket 1 151,667 151,667
Ket: (A) Sistem Akuaponik, (AN) Tanpa Sistem Akuaponik Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
4.4.3. Biaya Variabel
Tabel 4 Biaya Variabel Pada Usaha Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik
No Barang Jumlah Satuan Harga
Harga (Rp/Siklus)
1 Bibit Ikan 2000 Ekor 170 340,000
2
Pakan PF 1000 & Hipro
781 160 Kg 10,500 1,680,000
3 Benih sayur 1 Buah 17,000 17,000
4 Tenaga Kerja 1 Orang 500,000 500,000
Total 2,537,000
Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 5. Biaya Variabel Pada Usaha Ikan Lele
No Barang Jumlah Satuan Harga
Harga (Rp/Siklus)
1 Bibit Ikan 2000 Ekor 170 340,000
2
Pakan PF 1000 &
Hipro 781 160 Kg 10,500 1,680,000 4 Tenaga Kerja 1 Orang 500,000 500,000
Total 2,527,000
4.5. Aspek Kelayakan Usaha
Salah satu aspek yang digunakan analisis terhadap aspek kelayakan usaha yang dilakukan untuk mengetahuai layak atau tidaknya usaha budidaya akuaponik di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Dilakukan dengan menggunakan analisis biaya, penerimaan, keuntungan dan analisis R C rasio.
4.5.1. Analisis Biaya
Biaya adalah pengorbanan atau pengeluaran berupa uang selama proses produksi untuk
mendapatkan hasil produksi. Pengeluaran keseluruhan atau total cost merupakan hasil
penjumlahan antara keseluruhan biaya tetap atau total fixed cost (TFC) dengan biaya tidak
tetap atau total variabel (TVC). Total pengeluaran ini biasa disebut dengan total biaya
26 produksi. Biaya adalah pengorbanan atau pengeluaran berupa uang selama proses produksi untuk mendapatkan hasil produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyadi (2012) bahwa biaya adalah pengorbanan sumbeekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau mungkinterjadi untuk mencapai tujuan tertentu.
Tabel 6. Total Biaya Produksi Persiklus Usaha Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)
No Komponen Biaya Jumlah Biaya/Siklus
1 Biaya Tetap
341,3332 Biaya Variabel
2,537,000Jumlah TC = TFC+TVC
2,878,333Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 7. Total Biaya Produksi Persiklus Usaha Lele (NA)
No Komponen Biaya Jumlah Biaya/Siklus
1 Biaya Tetap 151,667
2 Biaya Variabel 2,520,000
Jumlah TC = TFC+TVC 2,671,667 Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
4.5.2. Penerimaan
Penerimaan merupakan hasil akhir proses produksi dari total semua kegiatan usaha yang diterima. Jumlah penerimaan pada usaha budidaya aquaponik berbasis teknologi aquaponik perproduksinya.
Tabel 8 Penerimaan Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A) No Komponen
Produksi
Volume
Produksi/Siklus (Kg)
Harga Penjualan (Rp/Siklus)
Penerimaan (Rp/Siklus)
1 Ikan Lele 133,69 23,000
3,074,8702 Sayur 6 25,000 150,000
Jumlah Penerimaan
3,224,870Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 9 Penerimaan Usaha Budidaya Ikan Lele (NA) No Komponen
Produksi
Volume
Produksi/Siklus (Kg)
Harga Penjualan (Rp/Siklus)
Penerimaan (Rp/Siklus)
1 Ikan Lele 129.744 23,000
2,984,122Jumlah Penerimaan
2,984,122Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Penerimaan hasil budidaya ikan lele dengan harga penjualan Rp.23.000/siklusnya di masa pandemi covid-19 merupakan harga jual yang didalamnya termasuk jasa pengiriman.
Keterbatasan mobilitas dimasa pandemi menyebabkan fasilitas jasa pengiriman menjadi
nilai tambah yang dapat menaikan harga jual.
27 4.5.3. Keuntungan
Tabel 10 Keuntungan Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)
No Komponen Analisis Keuntugan/Siklus (Rp)
1 Total Penerimaan (TR)
3,224,8702 Total Biaya (TC)
2,878,333Keuntungan = (TR-TC)
346,536Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 11 Keuntungan Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)
No Komponen Analisis Keuntugan/Siklus (Rp)
1 Total Penerimaan (TR) 2,984,122
2 Total Biaya (TC) 2,671,667
Keuntungan = (TR-TC) 312,445
Sumber : Data primer setelah diolah, 2021 4.5.4. Break Event Point (BEP)
BEP adalah suatu kondisi dimana perusahaan tidak mendapatkan keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian.
Tabel 12. Break Event Point (BEP) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)
No Komponen Analisis Nilai
1 BEP Produksi (Kg)
120.142 BEP Harga (Rp)
21,529.91Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 13. Break Event Point (BEP) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)
No Komponen Analisis Nilai
1 BEP Produksi (Kg)
116.162 BEP Harga (Rp)
20,591.83Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Dari perhitungan diatas dapat diketahui BEP produk dan BEP harga dengan sistem akuponik (A) yaitu 120,14 kg dan BEP harga sebesar Rp. 21.529,91 Sementara nilai produksi ikan lele adalah 133,69kg/siklus ditambah sayuran 6 kg/siklus dengan harga jual ikan lele Rp. 23.000,/kg. Dapat disimpulkan bahwa Jumlah tersebut lebih besar dari BEP produk dan BEP harga maka usaha ini dikatakan menguntungkan.
Begitu juga dengan non sistem akuponik (NA) jumlahnya lebih besar dari BEP produk
dan BEP harga, sehingga dapat dikatakan untung juga meskipun dalam besarannya lebih
rendah disbanding dengan sistem akuponik (A).
28 4.5.5. Return On Investment (ROI)
Return On Investment (ROI) merupakan suatu analisis untuk melihat seberapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari total modal yang ditanamkan pada suatu usaha.
Tabel 14. Return On Investment (ROI) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)
No Komponen Analisis Nilai
1 Laba Usaha (Rp)
346,5362 Modal Usaha (Rp)
2,878,333ROI= (laba usaha/modal usaha)*100%
12,04%Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 15. Return On Investment (ROI) Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)
No Komponen Analisis Nilai
1 Laba Usaha (Rp) 312,445
2 Modal Usaha (Rp)
2,671,667ROI= (laba usaha/modal usaha)*100%
8,5%Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Dari perhitungan ROI diatas, dapat dilihat bahwa nilai ROI yang diperoleh adalah sebesar 12,04 % (A) dan 8,5 (NA). Persentase tersebut menunjukkan bahwa usaha akuaponik hanya memperoleh 12,04 % keuntungan dari besarnya modal yang dikeluarkan selama 1 siklus, dan tanpa akuaponik hanya 8,5 % keuntungan.
4.5.6. Revenue Cost Rasio
Tabel 16. Revenue Cost Rasio Pada Usaha Budidaya Ikan Lele Berbasis Teknologi Aquaponik (A)
No Komponen Analisis Jumlah/Siklus (Rp)
1 Total Penerimaan (TR)
3,224,8702 Total Biaya (TC)
2,878,333R/C rasio = (TR/TC) 1,12
Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
Tabel 17. Revenue Cost Rasio Pada Usaha Budidaya Ikan Lele (NA)
No Komponen Analisis Jumlah/Siklus (Rp)
1 Total Penerimaan (TR) 2,984,122
2 Total Biaya (TC) 2,671,667
R/C rasio = (TR/TC) 1,11
Sumber : Data primer setelah diolah, 2021
R/C rasio dengan sistem akuponik (A) dan non akuponik (NA) dihasilkan dari
penerimaan dibagi dengan total biaya yang dikeluarkan. Hal ini dapat dilihat dari
perbadingan total penerimaan dengan total biaya yang lebih besar dari satu, yaitu (A)
29
memiliki angka 1,12> 1 dan (NA) 1.11>1. R/C rasio dengan system akuponik (A) lebih
besar disbanding non akuponik (NA). Dengan kata lain nilai R/C rasio sebesar 1,12
bermakna untuk setiap penambahan Rp1 biaya yang dikeluarkan maka pembudidaya
aquaponik memperoleh penerimaan sebesar 1,12. Hal ini sesuai dengan peryataan
Soekarwati (2000) bahwa R/C rasio adalah analisis yang menunjukan besar penerimaan
usaha yang diperoleh petani untuk setiap biaya yang dikeluarkan untuk suatu usaha,
semakin besar nilai R/C rasio maka semakin besar pula penerimaan usaha yang diperoleh
untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan.
30 BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah usaha budidaya ikan nila berbasis teknologi aquaponik di Kolam Budidaya Ikan di Desa Negara Ratu Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung dilihat dari kriteria usaha menguntungkan atau sangat layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C rasio yaitu 1,12 yang artinya setiap penambahan Rp1 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar 1,12 dan nilai keuntungan sebesar Rp.
346.536/siklus.
5.2. Saran
Kegiatan penelitian dapat menjadi dasar penerapan system akuponik di berbagai
kelompok pembudidaya. Sistem akuponik diharapkan akan menjadi trend baru di
kalangan pembudidaya agar output dari budidaya tidak hanya melalui ikan namun juga
hasil samping berupa tanaman.
31 DAFTAR PUSTAKA
Darsono. 2008. Hubungan Perceived Service Quality dan Loyalitas (Peran Trust dan tatisfaction Sebagai Mediator). The National Conference UKWMS. Surabaya.
Fathulloh A.S. dan N.S. Budiana. Akuaponik Panen Sayur Bonus Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka. Nusatama. Bogor.
Fathulloh A.S. dan N.S. Budiana. Akuaponik Panen Sayur Bonus Ikan. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Fatmawati. 2018. Sistem Budidaya Aquaponik. Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak.https://pertanian.pontianakkota.go.id/artikel/49-sistem-
budidayaaquaponik.html.Diakses pada 4 Maret 2021.Gunadi, B. dan R. Hafsaridewi. 2008. Pengendalian Limbah Amonia Budidaya Ikan Lele dengan Sistem Heterotrofik Menuju Sistem Akuakultur Nir-Limbah. J. Ris.
Akuakultur, 3(3): 437-448.
Lingga, P. 1999. Hidroponik: Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta Losordo, T., Westers, H., 1994. Carrying Capacity and Flow Estimation. In: Timmons, M.B., Losordo, T.M. (Eds.), Aquaculture Water Reuse Systems: Engineering Design and Management. Elsevier, Amesterdam, The Netherland, pp. 9±60.
Mulyadi. 2012. Akuntansi Biaya. Edisi ke-5. Cetakan Kesebelas. STIM YKPN.
Yogyakarta.
Rochaeni, S. 2009. Kelayakan usaha pembesaran Lele Dumbo secara intensif pada kolam terpal. J. Agribisnis, 4(1): 1-6.
Rakocy J, Nelson RL, and Wilson G. 2005. Aquaponic is the Combination of Aquaculture (Fish Farming) and Hydroponic (Growing Plants without Soil). In: Question and answer by Dr. James Rakocy. Aquaponics Journal. 4 (1): 8-11
Sagita, A., S. N. Wicaksana, N. R. Primasaputri, K. Prakoso, F.N. Afifah, A. Nugraha, Dan S. Hastuti. 2014. Pengembangan Teknologi Akuakultur Biofilter- Akuaponik (Integrating Fish And Plant Culture) sebagai Upaya Mewujudkan Rumah Tangga Tahan Pangan. Prosiding Hasil-Hasil Penelitian dan Kelautan tahun ke IV. Universitas Diponegoro.
Saparinto, C. dan R. Susiana. 2014. Panduan Lengkap Budidaya Ikan dan Sayuran dengan Sistem Akuaponik. Lily Publisher. Yogyakarta.
Siang, R.D dan Asis, N. 2010. Pengantar Ekonomi Perikanan. Unhalu Press. Kendari.
32 Soekartawi. .2000. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. PT. Raja
Grafindo. Jakarta.
33
LAMPIRAN
34
Lampiran 1. Data Olah
Bobot H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49
NA 15.86 21.42 43.60 46.12 74.79 71.40 82.29 97.08 A 15.86 24.22 45.12 49.34 68.38 85.94 101.99 93.45
PBM NA A
1 119.64 79.94
2 119.74 57.74
3 106.34 78.44
4 125.54 72.14
5 84.94 45.34
6 159.54 52.74
7 108.34 77.04
8 75.64 66.24
9 65.64 47.14
10 87.14 71.74
11 82.44 105.94
12 73.44 103.74
13 83.74 140.04
14 86.44 78.14
15 81.44 53.14
16 77.54 108.44
17 59.04 59.44
18 123.34 63.24
19 146.74 92.94
20 155.04 59.64
21 104.64 118.44
22 113.44 159.34
23 169.34 115.34
24 121.54 59.54
25 56.64 95.54
26 51.14 55.14
27 68.04 65.14
28 92.14 66.54
29 56.34 114.64
30 83.74 57.04
31 61.54 106.64
32 66.34 50.54
33 42.54 96.54
34 54.54 45.04
35
PBM NA A
35 76.44 56.54
36 42.24 54.64
37 57.54 55.74
38 40.54 114.14
39 88.34 57.34
40 50.84 72.04
41 61.84 37.54
42 66.04 90.34
43 38.04 95.04
44 65.34 81.14
45 45.84 63.24
46 50.74 28.64
47 47.34 103.44
48 48.74 109.24
49 74.94 78.94
50 42.74 62.84
RATA-RATA 81.22 77.59
STDEV 33.33 27.48
Panjang H0 H7 H14 H21 H28 H35 H42 H49
NA 12.41 14.00 15.95 17.29 19.73 20.83 21.91 22.99 A 12.41 14.60 16.33 17.54 18.72 22.17 22.64 23.48
PPM NA A
1 12.69 12.59
2 12.59 9.69
3 12.09 11.89
4 13.29 10.69
5 10.09 8.19
6 15.09 9.59
7 11.89 10.49
8 9.29 10.39
9 8.09 9.69
10 10.59 9.89
11 9.59 11.79
12 8.79 11.79
13 9.89 13.19
14 9.29 9.09
15 9.89 8.79
36
PPM NA A
16 9.89 14.09
17 6.79 10.09
18 13.39 9.19
19 16.09 11.59
20 15.09 10.09
21 12.09 13.19
22 13.29 15.59
23 11.09 14.69
24 12.59 10.09
25 9.59 12.59
26 9.59 9.79
27 10.59 10.59
28 12.09 11.79
29 9.59 13.09
30 11.89 10.09
31 10.09 12.99
32 10.09 8.59
33 8.09 13.09
34 9.59 7.59
35 12.09 10.59
36 8.19 9.09
37 9.59 10.59
38 8.09 13.59
39 13.09 9.59
40 9.09 11.09
41 10.59 8.59
42 10.19 12.59
43 8.59 14.09
44 9.59 12.09
45 8.09 10.19
46 9.09 6.59
47 10.59 13.29
48 8.09 13.59
49 11.09 11.59
50 8.19 9.59
RATA-RATA 10.58 11.07
STDEV 2.05 1.97
37
Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan Penelitian
38
The 2nd Universitas Lampung International Conference on Science, Technology and Environment
Secretariat: Institute of Research and Community Service, Universitas Lampung
Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro, RW.No: 1, Gedong Meneng, Kec. Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Lampung 35141
Email: [email protected] Web: https://ulicoste.unila.ac.id/,
LETTER OF ACCEPTANCE
Dear Ms Darma Yuliana, et al Congratulations! your abstract titled:
"BUSINESS ANALYSIS OF INTEGRATION AQUAPONIC TECHNOLOGY IN CULTIVATION CATFISH (Clarias Sp.) IN STRENGTHENING MSMEs SCALE BUSINESSES "
has been accepted to be continue to the next step (full paper submission) at t The 2nd Universitas Lampung International Conference on Science, Technology and Environment (ULICoSTE) 2021 which is being held on August, 27 - 28 2021 at Bandar Lampung.
For educational fields, please add some analysis about the concept which are related to your fields.
Thank you and looking forward to your participation in this event.
Kind regards,
ULICoSTE 2021 Committee Website : https://ulicoste.unila.ac.id/
Email : [email protected]